0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan302 halaman

Spektek IPLT Kab - Tegal Edit

Spektek

Diunggah oleh

azixkun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan302 halaman

Spektek IPLT Kab - Tegal Edit

Spektek

Diunggah oleh

azixkun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SPESIFIKASI TEKNIS

Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT


Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

COVER

i
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

1 BAGIAN 1
SPESIFIKASI TEKNIS
UMUM

1.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang dilaksanakan adalah “REVIEW DED IPLT KABUPATEN TEGAL,
JAWA TENGAH”. Lokasi pekerjaan ini berada di di Desa Dukuh Jati Kidul, Kec. Pangkah yang
merupakan bangunan IPLT secara fungsi sudah tidak optimal, IPLT ini dibangun pada tahun 1994.
Kondisi lokasi berupa bangunan IPLT yang kondisi bangunan dan bak-baknya sebagian besar
rusak. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa/Pemborong meliputi bagian-bagian
pekerjaan yang dinyatakan dalam Gambar Kerja serta Buku Rencana Kerja dan Syarat- syarat
Teknis ini.
Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka
Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT Kabupaten Tegal adalah:

I. PEKERJAAN PERSIAPAN
II. SMKK (SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI)
III. PEKERJAAN PENATAAN LAHAN
IV. PEKERJAAN OPTIMALISASI IPLT

A. PEKERJAAN DEWATERING DAN BONGKARAN

B. PEKERJAAN TANAH

C. PEMBANGUNAN BAK SSC DAN ATAP PENUTUP

D. PEMBANGUNAN BAK PENGERING LUMPUR (DRYING AREA)


REHAB BAK ANAEROBIK (BERFUNGSI MENJADI BAK AN
E.
AEROBIK 1)
REHAB BAK FAKULTATIF (BERFUNGSI MENJADI BAK AN
F.
AEROBIK 2)
REHAB BAK MATURASI (BERFUNGSI MENJADI BAK
G.
FAKULTATIF)
H. PEMBANGUNAN BAK MATURASI

I. PEMBANGUNAN BAK WETLAND

1
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
J. PEMBANGUNAN BAK DESINFEKSI DAN BAK BIOPOD

K. PEKERJAAN BAK KONTROL

L. PEMBANGUNAN BAK SDB

M. PEMBANGUNAN JALAN OPERASIONAL

N. PEMBANGUNAN BUFFER LINGKUNGAN

O. PEMBANGUNAN SUMUR MONITORING

PEMBANGUNAN PAGAR BRC KELILING KOLAM IPLT DAN


P.
JALAN PAVING KAWASAN
PEKERJAAN LAIN-LAIN (TEST OPERASIONAL, KEBOCORAN
Q.
DAN ALIRAN)

V. ME DAN PERALATAN
VI. PEKERJAAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG
A. PEMBANGUNAN POS JAGA
B. PENGADAAN DAN PEMASANGAN LAMPU JALAN

Uraian secara lengkap setiap item pekerjaan akan dituangkan dalam Daftar Kuantitas
(BoQ) dalam buku tersendiri.

1.2 Uraian Umum


Berikut ini merupakan hal-hal umum yang harus diperhatikan sehubungan dengan
rencana pekerjaan pembangunan Optimalisasi IPLT Kabupaten Tegal.
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, pemborong wajib mempelajari dengan seksama
gambar kerja dan syarat pelaksanaan serta Berita Acara (BA) penjelasan pekerjaan. Selain itu
pemborong wajib pula membuat metode kerja, jadwal pelaksanaan kerja (time schedule), daftar
peralatan yang dimiliki serta personil yang terlibat dan harus mengikuti seluruh peraturan yang
masih berlaku di Indonesia.
b. Setelah pekerjaan selesai dilaksanakan, pemborong harus menyerahkan as built drawing
(digambar pada kertas kalkir berukuran A1) kepada direksi.
c. Pemborong diwajibkan melaporkan kepada direksi jika terjadi hal-hal berikut:
- Ada perbedaan ukuran diantara gambar-gambar,
- Ada perbedaan antara gambar kerja dan spesifikasi teknis untuk mendapatkan keputusan

2
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Tidak dibenarkan sama sekali bagi pemborong untuk memperbaiki sendiri perbedaan tersebut di
atas. Akibat-akibat dari kelalaian pemborong dalam hal ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab
pemborong.
d. Daerah kerja (construction area) akan diserahkan kepada pemborong (selama pelaksanaan)
dalam keadaan seperti diwaktu pemberian kerja dan dianggap bahwa pemborong benar-benar
mengetahui mengenai hal-hal berikut:
- Letak bangunan yang akan dibangun.
- Batas-batas persil/kaveling maupun keadaannya pada waktu itu.
- Keadaan kontur tanah.
e. Pemborong wajib menyerahkan pekerjaannya hingga selesai dan lengkap, yaitu:
- Membuat (menyuruh membuat) memasang serta memesan maupun menyediakan bahan-
bahan bangunan alat-alat kerja dan pengangkutan.
- Membayar upah kerja dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan.
f. Pemborong wajib menyediakan sekurang-kurangnya 1 (satu) salinan gambar-gambar dan
spesifikasi teknis di tempat pekerjaan untuk dapat digunakan setiap saat oleh pemilik proyek
dan direksi.
g. Atas perintah direksi, kepada pemborong dapat dimintakan membuat gambar-gambar penjelasan
dan perincian membuat bagian-bagian khusus, semuanya atas beban pemborong. Gambar
tersebut setelah disetujui oleh direksi secara tertulis membuat gambar pelengkap dari
pelaksanaan.
h. Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang dilaksanakan,
pemborong diwajibkan berhubungan dengan direksi, untuk ikut menyaksikan sejauh tidak
ditentukan lain, untuk mendapatkan pengesahan/persetujuan.
i. Setiap usul perubahan dari pemborong ataupun persetujuan pengesahan dari direksi dianggap
berlaku, sah serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.
j. Persyaratan bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini,
antara lain:
- Bahan harus benar-benar baru dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang
disesuaikan standar peraturan-peraturan yang dipergunakan di dalam SPESIFIKASI
TEKNIS ini.
- Semua bahan-bahan harus mendapat pengesahan/persetujuan dari direksi sebelum akan
dimulai pelaksanaannya.
k. Ketelitian dan kerapihan kerja dan sangat dinilai (bobotnya tinggi) oleh direksi, terutama yang
menyangkut pekerjaan penyelesaian maupun perapihan (finishing woSpesifikasi Teknis).

3
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
l. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanaan penyelesaian/perapihan, harus dilakukan oleh
tenaga-tenaga dari pihak pemborong yang benar-benar ahli.
m. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan harus dikeluarkan
dari lapangan pekerjaan.
n. Cara menimbun bahan-bahan di lapangan maupun di gudang harus memenuhi syarat teknis, dan
dapat dipertanggungjawabkan.

1.3 Pekerjaan Persiapan


1.3.1 Kantor Direksi, Kantor Pemborong dan Gudang
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pekerjaan persiapan untuk kantor direksi,
kantor pemborong dan gudang diantaranya adalah:
a. Setiap pemborong wajib menyediakan kantor direksi, tempat para staf direksi melakukan
tugasnya, yang biasanya menjadi tanggungan pemborong.
b. Letak kantor direksi harus cukup dekat dengan kantor pemborong tetapi terpisah dengan tegas
c. Kantor direksi ini merupakan bangunan sementara dengan spesifikasi sebagai berikut:
1. Lantai rabat beton diplester,
2. Konstruksi rangka kayu,
3. Dinding multipleks,
4. Penutup atap asbes semen gelombang,
5. Pintu dan jendela secukupnya untuk pengawasan dan pencahayaan.
d. Deskripsi kantor
Deskripsi adalah sebagai berikut:
1. Dengan luas 9 x 6 m2 yang terbagi:
a) Ruang rapat
b) Ruang Direksi
c) Gudang
d) KM dan WC
2. Perlengkapan Kantor Direksi
Dalam Tabel I.1 berikut diberikan informasi jenis perlengkapan untuk kantor direksi

TABEL I. 1
PERLENGKAPAN KANTOR DIREKSI
No Jenis Peralatan Jumlah
1 Meja rapat ukuran 1,2 x 2 m diplitur 1 unit

4
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No Jenis Peralatan Jumlah
2 Kursi lipat 12 unit
3 Filling cabinet 3 rak 1 unit
Lemari kayu dari multipleks ukuran 50 x 1 unit
4 210 cm (panjang sesuai kebutuhan untuk
penyimpanan)
White board ukuran 1,2 x 2,4 m (untuk 2 unit
5
ruang rapat dan ruang direksi)
6 Kamera foto 1 unit
Meja gambar ukuran A1 dari kayu yang 1 unit
7 dapat dilipat (dilengkapi dengan kursi
putar)
8 Lampu petromaks 3 unit
Mesin tik portable 1 unit
9
Alat Theodolite 1 unit
10 Alat waterpass 1 unit
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

3. Perlengkapan Personil dan Tamu Proyek


Dalam Tabel 1.2 berikut disajikan perlengkapan personil dan tamu proyek yang dibutuhkan.

TABEL I. 2
PERLENGKAPAN PERSONIL DAN TAMU PROYEK
Jenis Perlengkatan Jumlah
Jangka sorong 1 set
Teropong 1 set
Sumber: Analisis tim penyusun, 2022

e. Hal-hal lain yang perlu dilakukan oleh pemborong, yaitu:


1. Menyediakan kantor untuk pemborong sendiri, dengan luas ruangan minimal 6x4 m2.
2. Membuka/menyediakan fasilitas ruangan untuk para pemborong atau kontraktor-kontraktor
khusus yang akan melaksanakan pekerjaan di luar lingkup pekerjaan.
f. Gudang bahan-bahan serta tempat penimbunan material yang harus terlindung seperti pasir, besi
beton, dan lain-lain dibuat secukupnya dan dapat dikunci. Khusus untuk gudang semen agar
lantainya dibuat bebas dari kelembaban udara, minimal 30 cm di atas permukaan lantai
plesteran.

1.3.2 Papan Nama Proyek


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait papan nama proyek diantaranya adalah:
a. Pemborong diwajibkan memasang papan nama proyek ditempat lokasi proyek dan
dipancangkan di tempat yang mudah dilihat umum.
b. Pemasangan papan nama proyek dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan proyek dan
dicabut kembali setelah mendapat persetujuan pemilik proyek.
c. Bentuk, ukuran, dan isi papan nama proyek akan ditentukan kemudian oleh direksi.

5
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Pemborong diwajibkan memasang pagar di sekeliling lokasi pekerjaan.
e. Pemasangan pagar proyek dilakukan pada saat dimulainya pelaksanaan proyek dan dicabut
kembali sebelum penyerahan pertama.
f. Batas-batas pemindahan barang-barang tersebut di atas dikerjakan oleh pemborong atas
biayanya.

1.3.3 Pengukuran dan Pematokan


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengukuran dan pematokan diantaranya
adalah:
a. Pemborong harus mengerjakan pematokan dan pengukuran untuk menentukan batas-batas
pekerjaan serta garis-garis kemiringan tanah sesuai dengan gambar rencana.
b. Pengukuran dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap.
c. Dari pengukuran ini dibuat gambar kerja yang memuat tentang pembagian lokasi/area kerja
untuk disetujui direksi, sehingga jadwal pelaksanaan pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan.
Bilamana ada perbaikan dari direksi, maka Pemborong harus melaksanakan pengukuran ulang.
Dalam pengukuran ini harus ada patok referensi tetap yang tidak boleh diganggu. Patok-patok
yang ada akan digunakan terdiri dari 2 macam patok:
- Patok utama yang terbuat dari beton dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 70 cm,
- Patok-patok yang lain digunakan untuk pembatas site, terbuat dari pipa PVC pralon dan
diberi tulang besi bergaris tengah 12 mm, dicor beton 1:2:3 dan diberi tanda koordinat.
d. Sebelum dimulainya pekerjaan tersebut, pemborong harus memberitahukan kepada direksi
dalam waktu tidak kurang dari 48 (empat puluh delapan) jam sebelumnya, secara tertulis.
e. Pekerjaan pematokan yang telah selesai diukur oleh pemborong, dimintakan persetujuan
Direksi. Hanya hasil pengukuran yang telah disetujui oleh direksi yang dapat digunakan sebagai
dasar pekerjaan selanjutnya.
f. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari gambar pelaksanaan, pemborong harus
mengajukan 3 (tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok itu.
g. Direksi akan membubuhkan tanda tangan persetujuan pada satu lembar gambar tersebut dan
mengembalikannya kepada pemborong, gambar ini merupakan gambar pelengkap dan
merupakan satu kesatuan dengan gambar nyata.
h. Apabila terdapat revisi, maka setelah diperbaiki pemborong mengajukan kembali kepada direksi
untuk dimintakan persetujuan.
i. Gambar tersebut (butir g di atas) harus digambar di atas kertas kalkir dengan 3 lembar hasil
reproduksinya. Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar harus sesuai dengan ketentuan
direksi dan dijadikan gambar pelaksanaan pengganti gambar lama.

6
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1.3.4 Pembersihan dan Penebangan Pohon
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pembersihan dan penebangan pohon
diantaranya adalah:
a. Pembersihan di luar batas lapangan pekerjaan ini tidak diberikan pembayaran kepada
pemborong, kecuali pekerjaan semacam itu di atas permintaan direksi. Penebangan pohon
dilakukan seperlunya, pohon-pohon rindang atau tanaman ornamen tertentu dipertahankan dari
penebangan.
b. Semua pohon-pohon, batang-batang pohon, akar-akar dan lain sebagainya yang ditebang harus
dibongkar sampai kedalaman 50 cm di bawah permukaan lahan seperti tripping dan permukaan
akhir (ditentukan oleh permukaan mana yang lebih rendah) dan bersama-sama dengan segala
bentuknya harus dibuang pada tempat-tempat yang tampak dari tempat pekerjaan, menurut cara
yang praktis yang telah disetujui direksi.
c. Seluruh kerusakan, termasuk kerusakan pagar milik orang lain yang terjadi pada saat
pembersihan harus diperbaiki oleh pemborong atas tanggung jawab sendiri. Pada pelaksanaan
pembersihan, pemborong harus hati-hati untuk tidak mengganggu setiap patok-patok pengukur,
atau tanda-tanda lainnya.
d. Pekerjaan pembersihan terdiri dari pembersihan segala macam tumbuh-tumbuhan, pohon-
pohon, semak-semak, tanaman lain, sampah-sampah dan bahan-bahan lain yang menggangu,
termasuk pencabutan akar-akar, sisa-sisa konstruksi, sisa-sisa material dari sisa-sisa pekerjaan,
dan hal-hal lainnya sehubungan dengan persiapan pelaksanaan pekerjaan berikutnya, kecuali
bila direksi menentukan lain.

1.3.5 Pembuangan Tanah dan Sampah


Material-material yang tidak dikehendaki (seperti sampah, sisa-sisa bahan, akar-akar dan
lain-lain) atau tanah yang tidak diizinkan Direksi untuk dipakai, harus disingkirkan/dibuang keluar
daerah lokasi proyek, sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalannya pekerjaan atau
lingkungan sekitarnya.

1.4 Syarat- Syarat Teknis Pekerjaan Pembongkaran Dan Pembersihan


1.4.1 Lingkup Pekerjaan.
1. Lingkup Pekerjaan.
Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu
lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini, yaitu dan tidak terbatas pada :
• Pekerjaan pembongkaran bangunan existing dan pembersihan sebelum pelaksanaan,
• Stripping dan penebangan tanaman yang tidak diperlukan

7
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Persiapan Pelaksanaan.
Sebelum pelaksanaan pekerjaan ini, Kontraktor/Pemborong harus mempelajari dengan
seksama Gambar Kerja. Kontraktor/Pemborong harus sudah memperhitungkan segala kondisi
di lapangan yang meliputi dan tidak terbatas pada bangunan existing, trench, saluran drainase,
pipa-pipa, instalasi existing lainnya, tiang listrik dan penangkal petir. Kontraktor/Pemborong
harus mengamankan/melindungi hasil paket pekerjaan sebelumnya maupun yang sedang
berjalan, bahan/komponen/ instalasi existing yang dipertahankan agar tidak rusak atau cacat.
Rencana pengamanan, baik berupa penyangga, penopang atau konstruksi khusus sebagai
penahan atau pelindung bagian yang tidak dibongkar, harus dilaporkan kepada Konsultan
Pengawas terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan.
3. Pelaksanakan

• Stripping atau pengupasan lahan dilakukan dengan bantuan alat Buldozer, kedalaman
stripping minimal 15 cm
• Pemotongan tanaman dilakukan dengan bantuan alat gergaji mesin
• Sebelum melakukan pemotongan tanaman, Pelaksana harus membuat site yang berisi
rencana titik tanaman yang akan dipotong, site ini diajukan ke Konsultan Pengawas dan
Direksi Pekerjaan.
• Tanaman baru boleh dipotong setelah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas dan
Direksi Pekerjaan
1.4.2 Pembongkaran Dan Pembersihan

1. Pekerjaan pembongkaran dan pembersihan mencakup pembongkaran / pembersihan /


pemindahan konstruksi keluar dari dalam tapak / site terhadap semua hal yang dinyatakan
oleh Konsultan Pengawas / Perencana dan Direksi tidak akan digunakan lagi, maupun yang
dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan diantaranya :
 Pembongkaran dan pembersihan bangunan existing.
 Pembersihan material yang ada di lokasi.

2. Setiap pembongkaran harus dilakukan sedemikian rupa sehingga siap untuk dapat
dilaksanakan pemasangan baru sesuai dengan Gambar Kerja.

3. Barang hasil bongkaran dan pembersihan harus dikeluarkan dari tapak / site konstruksi dan
dikumpulkan di tempat / lokasi tertentu yang ditunjukkan oleh Konsultan Pengawas.Pada
dasarnya, barang-barang bongkaran tersebut tidak dapat dipakai lagi dalam pekerjaan, kecuali
apabila dinyatakan lain oleh Konsultan Pengawas.

8
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1.4.3 Perlindungan Instalasi Existing

1. Pekerjaan ini adalah perlindungan untuk semua instalasi existing yang berada di dalam tapak /
site konstruksi dan dinyatakan oleh Konsultan Perencana / Konsultan Pengawas masih
berfungsi dan akan digunakan lagi.Untuk instalasi existing tersebut di atas, Kontraktor /
Pemborong harus menjaga dan memeliharanya dari gangguan / cacat.

2. Kabel dan pipa existing yang masih berfungsi harus dilindungi memakai buis beton ∅ 30 cm.
Khusus pada bagian yang diperkirakan akan mendapat beban, maka pada dasar atau pipa yang
bersangkutan harus diberi alas dasar terbuat dari pasangan batu bata minimal 1 (satu) lapis,
lebar 30 cm sepanjang pembebanan tersebut.

3. Apabila karena satu dan lain sebabsehingga jalur instalasi existing yang masih berfungsi harus
dipindah, maka Kontraktor / Pemborong harus melakukan pekerjaan ini sesuai dengan
petunjuk dari Konsultan Pengawas.

1.5 Pelaksanaan Peil, Ukuran Tinggi dan Ukuran Dasar


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pelaksanaan peil, ukuran tinggi dan ukuran
dasar diantaranya adalah:
a. Sebelum pelaksanaan dimulai, pemborong diwajibkan mempelajari dengan seksama gambar-
gambar, uraian dan syarat dan lain-lainnya.
b. Pemborong diwajibkan melaporkan kepada direksi pelaksanaan, setiap ada perbedaan-
perbedaan ukuran diantara gambar-gambar dan uraian dan syarat-syarat untuk mendapatkan
keputusan. Tidak dibenarkan sama sekali bagi pemborong untuk memperbaiki sendiri
perbedaan-perbedan tersebut di atas. Akibat-akibat dari kelalaian pemborong dalam hal ini,
sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemborong.
c. Pemborong bertanggungjawab penuh atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut peil-peil dan
ukuran-ukuran yang ditetapkan dalam gambar-gambar dan uraian dan syarat-syarat pelaksanaan
ini.
d. Setiap akan memulai suatu bagian pekerjaan, pemborong harus memberitahu direksi
pelaksanaan, untuk diperiksa terlebih dahulu ketepatan peil, ukuran dan sebagainya.
e. Mengingat setiap kesalahan baik peil maupun ukuran pada satu bagian pekerjaan akan selalu
dapat mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan selanjutnya, maka ketepatan peil dan ukuran
tersebut mutlak perlu diperhatikan sungguh-sungguh.
f. Kelalaian Pemborong dalam hal ini tidak akan ditolerir dan direksi pelaksanaan berhak
memerintah untuk memperbaiki/membongkar pekerjaan yang telah dilakukan atas beban
pemborong.

9
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
g. Pemborong diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lainnya dalam tiap
bagian pekerjaan dan segera melaporkan kepada direksi pelaksanaan setiap terdapat
selisih/perbedaan ukuran. Pemborong tidak dibenarkan untuk membetulkan sendiri kekeliruan
tersebut tanpa persetujuan direksi pelaksanaan
h. Sebagai peil dasar/induk pekerjaan ini adalah peil setempat yang telah dibuat oleh konsultan.
i. Penetapan titik/peil dilakukan pemborong di lapangan dengan alat teropong waterpass atau
theodolite yang baik dan ditera kebenarannya terlebih dahulu.
j. Ketidakcocokan antara gambar dan keadaan di lapangan harus segera dilaporkan kepada direksi
pelaksana untuk diperiksa.
k. Kebenaran hasil pengukuran sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemborong. Adanya
pengawasan dari direksi tidak mengurangi tanggung jawab tersebut. Pengukuran sudut siku
hanya dilakukan dengan pesawat Theodolite dan Waterpass. Pengukuran siku dengan benang
secara azas segitiga pytagoras hanya dilakukan untuk bagian-bagian ruang yang kecil menurut
pertimbangan direksi pelaksanaan.
l. Papan bangunan (bowplank) harus dipasang pada patok-patok kayu yang nyata dan kuat
bertancap di dalam tanah, sehingga tidak bisa bergerak-gerak ataupun berubah-ubah. Setelah
pemasangan papan bangunan selesai, harus dilaporkan kepada direksi untuk diperiksa sebelum
pekerjaan selanjutnya dilakukan.

1.6 Pekerjaan Jalan Masuk


Jalan masuk ke lokasi pekerjaan, termasuk pada sarana pelengkap lain harus disiapkan
oleh pemborong. Pemborong wajib memelihara semua sarana tersebut dan semua biaya yang
dikeluarkan untuk pemeliharaan tersebut menjadi tanggungjawab pemborong. Pada akhir
pekerjaan, atas perintah Direksi Pekerjaan maka segala sarana tersebut kalau tidak dipergunakan
lagi, harus dibongkar, dirapihkan kembali seperti semula, atau seperti yang disyaratkan oleh
Direksi.
Apabila jalan masuk merupakan jalan eksisting yang kondisinya masih baik, maka setelah
selesai pekerjaan, Kontraktor bertanggung jawab untuk memperbaiki jalan tersebut seperti kondisi
semula sebelum digunakan oleh Kontraktor. Semua perbaikan jalan masuk tersebut menjadi
tanggungjawab Kontraktor tanpa biaya tambahan.

1.7 Dewatering

Dewatering (pekerjaan pengeringan) adalah pekerjaan sipil yang bertujuan untuk dapat
mengendalikan air (air tanah/permukaan) agar tidak mengganggu/menghambat proses pelaksanaan
suatu pekerjaan konstruksi, terutama untuk pelaksanaan bagian struktur yang berada dalam tanah
dan di bawah muka air tanah.

10
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Pengaruh air tanah yang tidak dipertimbangkan pada proyek konstruksi dapat
mengakibatkan suatu problem yang besar. Kondisi air tanah yang semula kurang diketahui atau
tidak diperhitungkan, dapat mengubah proses pelaksanaan dan bahkan dapat mengubah desain
struktur dan terakhir akan mempengaruhi biaya keseluruhan bangunan. Sering dijumpai, bahwa
masalah air tanah yang tidak diharapkan dapat menyebabkan terlambatnya penyelesaian proyek
konstruksi, dan bahkan dapat mengakibatkan perubahan desain konstruksi secara drastis.

Agar dapat menghindari masalah-masalah di atas, kita harus dapat memahami dan
mengerti hal-hal tentang air tanah. Pada dasarnya ada 2 hal yang perlu diketahui tentang air tanah,
ditinjau dari pengaruhnya terhadap proses pelaksanaan bangunan, yaitu:
a. Bagaimana air tersebut bergerak di dalam tanah sekitarnya.
b. Bagaimana pengaruh air tersebut terhadap tanah sekitarnya.

Dengan mempelajari kedua faktor pokok tersebut, kita dapat melakukan berbagai usaha
untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan.Jadi maksud dan tujuan Dewatering/pekerjaan
pengeringan adalah untuk dapat mengendalikan air tanah, supaya tidak mengganggu/menghambat
proses pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi bangunan sipil.

Metode yang dapat dipakai untuk pekerjaan dewatering antara lain:


a. Open Pumping;
b. Predrainage;
c. Cut Off;
d. Compressed Air.

Untuk pelaksanaan Dewatering pada pekerjaan Optimalisasi IPLT Tegal Kabupaten Tegal
menggunakan sisem pompa. Pengoperasian per hari selama 24 jam pompa air, diesel daya 7,5 KW
dengan suction head maks. 10 m dan discharge head maks. 10m (kapasitas 50 liter/detik pada
suction head 1m dan discharge head 10m). Pengoperasian pompa diasumsikan akan beroperasi 24
jam dan disediakan 20% pompa cadangan (misalkan untuk 5 buah pompa dioperasikan dan 1
cadangan), maka biaya operasi per 1 buah pompa.

Pelaksanaan Dewatering harus seizin tertulis dari Pengawas Lapangan dan Konsultan
Pengawas. Setiap pelaksanaan dewatering harus dicatat jam pengoperasian dan disetujui oleh
Pengawas Lapangan dan Konsultan Pengawas.

11
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

2 BAGIAN 2
PENYELENGGARAAN SMKK
KONSTRUKSI

2.1 Umum
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi yang selanjutnya disingkat K3 Konstruksi
adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada pekerjaan
konstruksi.
2. Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat SMKK adalah bagian
dari sistem manajemen pelaksanaan pekerjaan konstruksi dalam rangka menjamin
terwujudnya Keselamatan Konstruksi.
3. Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian kegiatan yang meliputi pembangunan,
pengoperasian, pemeliharaan, pembongkaran, dan pembangunan kembali suatu bangunan.
4. Ahli K3 Konstruksi adalah tenaga ahli yang mempunyai kompetensi khusus di bidang K3
Konstruksi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi SMKK yang dibuktikan
dengan sertifikat pelatihan yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi atau instansi yang
berwenang sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

5. Petugas Keselamatan Konstruksi adalah orang atau petugas K3 Konstruksi yang memiliki
sertifikat yang diterbitkan oleh unit kerja yang menangani Keselamatan Konstruksi di
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan/atau yang diterbitkan oleh lembaga
atau instansi yang berwenang sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

6. Potensi bahaya adalah kondisi atau keadaan baik pada orang, peralatan, mesin, pesawat,
instalasi, bahan, cara kerja, sifat kerja, proses produksi dan lingkungan yang berpotensi
menimbulkan gangguan, kerusakan, kerugian, kecelakaan, kebakaran, peledakan,
pencemaran dan penyakit akibat kerja.

7. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan,
proses maupun lingkungan kerja.

12
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
8. Risiko Keselamatan Konstruksi adalah risiko konstruksi yang memenuhi satu atau lebih kriteria
berupa besaran risiko pekerjaan, nilai kontrak, jumlah tenaga kerja, jenis alat berat yang
dipergunakan dan tingkatan penerapan teknologi yang digunakan.

9. Manajemen Risiko adalah proses manajemen terhadap risiko yang dimulai dari kegiatan
mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan mengendalikan risiko.

10. Biaya Penerapan SMKK adalah biaya SMKK yang diperlukan untuk menerapkan SMKK
dalam setiap Pekerjaan Konstruksi.

11. Penilaian Risiko Keselamatan Konstruksi adalah perhitungan besaran potensi berdasarkan
kemungkinan adanya kejadian yang berdampak terhadap kerugian atas konstruksi, jiwa
manusia, keselamatan publik, dan lingkungan yang dapat timbul dari sumber bahaya tertentu,
terjadi pada Pekerjaan Konstruksi dengan memperhitungkan nilai kekerapan dan nilai
keparahan yang ditimbulkan.
12. Pemantauan dan Evaluasi Keselamatan Konstruksi adalah kegiatan pemantauan dan evaluasi
terhadap kinerja penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi yang meliputi pengumpulan data,
analisis, kesimpulan dan rekomendasi perbaikan penerapan Keselamatan Konstruksi.

13. Rencana Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat RKK adalah dokumen lengkap
rencana penerapan SMKK dan merupakan satu kesatuan dengan dokumen kontrak, yang dibuat
oleh Penyedia Jasa dan disetujui oleh Pengguna Jasa, untuk selanjutnya dijadikan sebagai
sarana interaksi antara Penyedia Jasa dengan Pengguna Jasa dalam penyelenggaraan SMKK
Konstruksi.

2.2 Kegiatan SMKK Konstruksi


Kegiatan Penyelenggaraan SMKK Konstruksi mencakup :

a. Penyiapan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K), terdiri dari :
- Pembuatan Manual, Prosedur< instruksi Kerja< ijin Kerja dan Formulir;

b. Alat pelindung kerja;


- Tali Keselamatan (Life Line);
- Berfungsi sebagai pelindung diri ketika bekerja/berada di atas ketinggian
- Pembatas Area (Restricted Area).

c. Alat pelindung diri;


- Topi Pelindung (Safety Helmet);
Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung
- Sepatu pelindung (Safety Shoes);

13
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena Benda tajam atau
berat, benda panas, cairan kimia dan sebagainya.
- Sepatu karet (Safety Shoes);
Berfungsi untuk pekerja yang melakukan pekerjaan yang berada di area Basah agar pekerja
tidak terpleset atau tergelincir (becek atau berlumpur).
- Pelindung Pernafasan dan Mulut (Masker);
Berfungsi sebagai penyaring udara yang di hirup saat bekerja di tempat dengan kualitas
udara buruk (misal berdebu, beracun,dsb).
- Sarung Tangan (Safety Gloves);
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan padda saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat
mengakibatkan cedera tangan
- Pelindung Jatuh (Fall Arrester).
Berfungsi sebagai alat melindungi para pekerja dari posisi saat kehilangan keseimbangan
atau saat terjatuh pada saat bekerja di ketinggian.

d. Rambu-rambu; dan
- Rambu Larangan;
- Rambu Peringatan;
- Rambu Informasi;

e. Lain-lain terkait pengendalian resiko K3.


- Bendera K3;
- Jalur Evakuasi (Escope Route);
- Program Inspeksi dan Audit Internal Pelaporan dan Penyelidikan Insiden.

2.3 Ketentuan Pelaksanaan K-3


2.3.1 Ketentuan Administrasi
Kewajiban umum yang dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa
Konstruksi, yaitu:
a. Penyedia Jasa berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja, peralatan, lingkungan kerja
dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja terlindungi dari resiko
kecelakaan.
b. Penyedia Jasa menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat lain yang akan
digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan kerja, selanjutnya barang-
barang tersebut harus dapat dipergunakan secara aman.
c. Penyedia Jasa turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja, agar tenaga kerja tersebut
dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat.

14
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Penyedia Jasa menunjuk petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di dalam organisasi
Penyedia Jasa, bertanggung jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang dilakukan untuk
menghindarkan resiko bahaya kecelakaan.
e. Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai dengan keahlian,
umur, jenis kelamin dan kondisi fisik/kesehatannya.
f. Sebelum pekerjaan dimulai Penyedia Jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja telah diberi
petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masing-masing dan usaha pencegahannya, untuk
itu Penyedia Jasa dapat memasang papan-papan pengumuman, papan-papan peringatan serta
sarana-sarana pencegahan yang dipandang perlu.
g. Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua tempat kerja,
peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan kerja dan cara-cara pelaksanaan
kerja yang aman.
h. Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan keselamatan dan
kesehatan kerja menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.

Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Penyedia Jasa Konstruksi harus menugaskan secara khusus Ahli K3 dan tenaga K3 untuk
setiap proyek yang dilaksanakan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam struktur organisasi
pelaksanaan konstruksi setiap proyek, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (full-time) untuk mengurus
dan menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja.
b. Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan pekerja dengan
jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang memerlukan, diwajibkan
membentuk unit pembina K3.
c. Panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit struktural dari
organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia jasa.
d. Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia pembina
keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi pengurus atau Penyedia Jasa,
serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
e. Penyedia jasa harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Memberikan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas-fasilitas dalam
melaksanakan tugas mereka.
2. Berkonsultasi dengan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam segala hal
yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam proyek.
3. Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari panitia
pembina keselamatan dan kesehatan kerja.

15
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
f. Jika 2 (dua) atau lebih Penyedia Jasa bergabung dalam suatu proyek mereka harus bekerja sama
membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja.

Laporan kecelakaan
Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait
dengan K3, dimana:
a. Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan kepada Instansi
yang terkait.
b. Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1. Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masing-masing dan
2. Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya.

Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan


Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus dibuat
sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama pada
kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur transportasi, dimana:
a. Tenaga kerja harus diperiksa kesehatannya.
1. Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali (pemeriksaan
kesehatan sebelum masuk kerja dengan penekanan pada kesehatan fisik dan kesehatan
individu),
2. Secara berkala, sesuai dengan risiko-risiko yang ada pada pekerjaan tersebut.
b. Tenaga kerja di bawah umur 18 tahun harus mendapat pengawasan kesehatan khusus, meliputi
pemeriksaan kembali atas kesehatannya secara teratur.
c. Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan untuk referensi.
d. Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus dilakukan oleh
Dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama pada kecelakaan
(PPPK).
e. Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat kerja dan
dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain.
f. Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk kompres,
perban, antiseptik, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
g. Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-alat PPPK
yang diperlukan dalam keadaan darurat.
h. Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan-keterangan/instruksi yang mudah
dan jelas sehingga mudah dimengerti.

16
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
i. Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga supaya
tetap berisi (tidak boleh kosong).
j. Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu) harus selalu tersedia.
k. Jika tenaga kerja dipekerjakan di bawah tanah atau pada keadaan lain, alat penyelamat harus
selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja.
l. Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempat-tempat yang menyebabkan adanya risiko tenggelam
atau keracunan, alat-alat penyelematan harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja.
m. Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat, jika
diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit atau tempat
berobat lainnya.
n. Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang
memberitahukan antara lain:
o. Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK, ambulans, tandu
untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3.
p. Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan nama
orang yang bertugas dan lain-lain.
q. Nama, alamat, nomor telepon Dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang dapat segera
dihubungi dalam keadaan darurat.

Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi
sejak dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya
suatu proyek jalan dan jembatan.
Sehingga pada saat pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi
bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang. Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan
prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana,
sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh
karena itu baik Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan
kesehatan kerja ini agar dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya.

2.3.2 Ketentuan teknis


Aspek lingkungan
Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan,
Penyedia Jasa harus mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya

17
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Pemantauan Lingkungan (UPL), bila dokumen tersebut tidak ada maka perencanaan dan
pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan harus mendapatkan persetujuan dari
direksi pekerjaan.

Tempat Kerja dan Peralatan


Ketentuan teknis pada tempat kerja dan peralatan pada suatu proyek terkait dengan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut:
a. Pintu masuk dan keluar
1. Pintu masuk dan keluar darurat harus dibuat di tempat-tempat kerja.
2. Alat-alat/tempat-tempat tersebut harus diperlihara dengan baik.
b. Lampu/penerangan
1. Jika penerangan alam tidak sesuai untuk mencegah bahaya, alat-alat penerangan buatan yang
cocok dan sesuai harus diadakan di seluruh tempat kerja, termasuk pada gang-gang.
2. Lampu-lampu harus aman dan terang.
3. Lampu-lampu harus dijaga oleh petugas-petugas bila perlu mencegah bahaya apabila lampu
mati/pecah.
c. Ventilasi
1. Di tempat kerja yang tertutup, harus dibuat ventilasi yang sesuai untuk mendapat udara
segar.
2. Jika perlu untuk mencegah bahaya terhadap kesehatan dari udara yang dikotori oleh debu,
gas-gas atau dari sebab-sebab lain; harus dibuatkan ventilasi untuk pembuangan udara kotor.
3. Jika secara teknis tidak mungkin bisa menghilangkan debu, gas yang berbahaya, tenaga kerja
harus disediakan alat pelindung diri untuk mencegah bahaya-bahaya tersebut di atas.
d. Kebersihan
1. Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke tempat
yang aman.
2. Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan untuk mencegah
terjadinya kecelakaan.
3. Peralatan dan benda-benda kecil tidak boleh dibiarkan karena benda-benda tersebut dapat
menyebabkan kecelakaan, misalnya membuat orang jatuh atau tersandung (terantuk)
4. Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan bertumpuk di tempat kerja.
5. Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab lain harus dibersihkan
atau disiram pasir, abu atau sejenisnya.
6. Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus dikembalikan pada tempat
penyimpanan semula.

18
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Pencegahan terhadap Kebakaran dan Alat Pemadam Kebakaran
Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat
dilakukan pencegahan sebagai berikut:
a. Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia:
1. Alat-alat pemadam kebakaran.
2. Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar.
b. Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat pemadam
kebakaran.
c. Orang-orang yang terlatih dan tahu cara mengunakan alat pemadam kebakaran harus selalu siap
di tempat selama jam kerja.
d. Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yang
berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya.
e. Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat dipindah-
pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu dipelihara.
f. Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan dicapai.
g. Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di tempat-tempat sebagai
berikut:
1. Di setiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan.
2. Di tempat-tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas.
3. Pada setiap tingkat/lantai dari suatu gedung yang sedang dibangun dimana terdapat barang-
barang dan alat-alat yang mudah terbakar.
h. Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus disediakan:
1. Di tempat yang terdapat barang-barang/benda-benda cair yang mudah terbakar.
2. Di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang menggunakan api.
3. Di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal.
4. Di tempat yang terdapat bahaya listrik/bahaya kebakaran yang disebabkan oleh aliran listrik.
i. Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan-kerusakan teknis.
j. Alat pemadam kebakaran yang berisi chlorinated hydrocarbon atau karbon tetro clorida tidak
boleh digunakan di dalam ruangan atau di tempat yang terbatas (ruangan tertutup, sempit).
k. Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu gedung, pipa tersebut
harus:
1. Dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan.
2. Dibuatkan suatu katup pada setiap ujungnya.
3. Dibuatkan pada setiap lubang pengeluaran air dari pipa dengan sebuah katup yang
menghasilkan pancaran air bertekanan tinggi.

19
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4. Mempunyai sambungan yang dapat digunakan Dinas Pemadam Kebakaran.

Perlengkapan Keselamatan Kerja


Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam melaksanakan
tugasnya antara lain sebagai berikut:
a. Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama
mengoperasikan atau memelihara AMP.
b. Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi
kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
c. Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan
yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
d. Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat,
masker ini dianjurkan tetap dipakai.
e. Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan
yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.

GAMBAR 2. 1
PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA

2.3.3 Pedoman untuk Pelaku Utama Konstruksi


Pedoman untuk manajemen puncak
Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya
karena kecelakaan kerja, antara lain:
a. Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan. Informasi ini
digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap program keselamatan kerja yang telah
diterapkan.

20
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja dengan cara
yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan pengendalian mengenai biaya
dan rencana penjadualan pekerjaan.
c. Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan mengalokasikan biaya
kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan.
d. Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan jaminan
bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan dalam kondisi
aman.
e. Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan
memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing masing divisi (bagian) untuk
program keselamatan kerja.

Pedoman untuk Manajer dan Pengawas


Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi
kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanan pekerjaan bidang konstruksi:
a. Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi
sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk meningkatkan K3, juga harus
mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap K3 melalui komunikasi
yang baik, organisasi yang baik, persuasi dan pendidikan, menghargai pekerja untuk tindakan-
tindakan aman, serta menetapkan target yang realistis untuk K3.
b. Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerjaan seperti dengan
memasukkan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan dan
memberikan dukungan yang positif.
c. Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang erat
dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi kecelakaan dan
permasalahan dalam proyek konstruksi. Manajer dapat melakukannya dengan cara:
1. Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar mereka
berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya memberikan
perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru, terutama pada hari-harinya yang pertama.
2. Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena dengan
mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai titik sudut pandang pari pekerja.
Cara ini bukanlah mempunyai maksud untuk merusak (“merongrong”) kewibawaan pihak
mandor, tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak pekerja itu telah diperlakukan
secara adil (wajar).
3. Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga harus
mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai manusia) dapat membuat

21
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
kesalahan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para mandor untuk memilih
para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan yang tunggal untuk
memberhentikan pekerja).

Pedoman untuk Mandor


Mandor dapat mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan
pekerjaan bidang konstruksi dengan :
a. Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda, misalnya dengan tidak
membiarkan pekerja yang baru itu bekerja sendiri secara langsung atau tidak menempatkannya
bersama-sama dengan pekerja yang lama dan kemudian membiarkannya begitu saja.
b. Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya, misalnya dengan tidak memberikan target
produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerjanya.
Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk mengurangi
kecelakaan kerja dengan cara berikut ini:
a. Secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari keselamatan kerja
melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang formal dengan para mandor di
lapangan.
b. Memberikan penekanan mengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran perusahaan.

Pedoman untuk Pekerja


Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan
kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah
a. Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja.
b. Tidak melakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung.
c. Taat pada aturan yang telah ditetapkan.
d. Memahami program keselamatan dan kesehatan kerja.
e. Memahami lingkup kerja yang diberikan.

22
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3 BAGIAN 3
SPESIFIKASI TEKNIS
PEKERJAAN SIPIL

3.1 Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan Sipil meliputi:
a. Bangunan Utama IPLT Kabupaten Tegal meliputi, pembangunan : bak SSC, bak Drying Area,
bak Maturasi, bak Wetland dan Desinfektan, bak Biopod, dan bak SDB serta Jaringan
Perpipaan. Disamping itu juga dilakukan optimalisasi bak yang ada, yaitu : Optimalisasi Bak
Anaerobik, Bak Fakultatif menjadi Bak Anaerobik 2 dan optimalisasi Bak Maturasi menjadi
Bak Fakultatif;

b. Bangunan Pendukung IPLT Tegal meliputi, pembangunan : Pos Jaga, Pagar Depan dan Portal,
Gudang Kompos, Kanopi Parkir, Jalan Operasional, Lampu Penerangan Jalan dan Saluran
Drainase, Pagar BRC dan Jalan Paving Area Kawasan Kolam IPLT, Ground Tank kap. 5 m³,
Menara Air kap. 3 m³, Sumur Monitoring, penataan Landscape dan Buffer Lingkungan,
pembangunan pagar batas kepemilikan tanah : Pagar Kawat Duri, Peningkatan Jalan Akses ke
IPLT, Rehab Knator dan Garasi Truck Tangki.

3.2 Galian Tanah


3.2.1 Lingkup Pekerjaan.
a. Galian struktur merupakan penggalian tanah untuk bangunan struktur, sesuai dengan batasan
pekerjaan sebagaimana dijelaskan disini atau sebagaimana tampak pada gambar. Pekerjaan
galian yang dijelaskan dengan pasal-pasal lain dalam spesifikasi ini tidaklah digolongkan
sebagai galian struktur.
b. Galian struktur disini tidak dibatasi hanya pada galian / pengeboran struktur pondasi, tapi
termasuk pekerjaan galian untuk poer, sloof dan batu kali.
c. Pekerjaan galian ini mencakup pengurugan kembali dengan material yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas, berikut pembuangan bahan-bahan sisa, dan semua bahan serta peralatan
lainnnya untuk menghindarkan galian dari genangan air tanah dan air permukaan.

23
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Penyediaan tenaga kerja, bahan, fasilitas pelaksanaan dan kebutuhan- kebutuhan lainnya yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tanah yang sesuai dengan gambar-gambar dan
spesifikasi.
e. Termasuk dalam lingkuo ini adalah galian lumpur pada bak-bak eksisting yang ada.

3.2.2 Persyaratan Pekerjaan.

a. Tata letak.

Kontraktor/Pemborong bertanggung jawab atas tata letak yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan. Sebelum penataan, Kontraktor / Pemborong harus menyerahkan rencana tata letak
untuk mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas. Bench mark yang bersifat tetap maupun
sementara harus dijaga dari kemungkinan gangguan atau pemindahan.

b. Pengawasan.

Selama pelaksanaan pekerjaan tanah ini, Kontraktor / Pemborong harus diwakili oleh seorang
pengawas ahli yang sudah berpengalaman dalam bidang pekerjaan penggalian/ pengurugan,
yang mengetahui semua aspek pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai kontrak.

c. Pekerjaan pembersihan dan pembongkaran.

Semua benda di permukaan seperti pohon, akar dan tonjolan, serta rintangan-rintangan dan lain-
lain yang berada di dalam batas daerah pembangunan yang tercantum dalam gambar, harus
dibersihkan dan atau dibongkar, kecuali untuk hal-hal di bawah ini :
1. Sisa-sisa pohon yang tidak mengganggu dan akar-akar serta benda-benda yang tidak mudah
rusak, yang letaknya minimal 1 (satu) meter di bawah dasar poer.
2. Pembongkaran tiang-tiang, saluran-saluran dan selokan-selokan hanya sedalam yang
diperlukan dalam penggalian di tempat tersebut.
3. Kecuali pada tempat-tempat yang harus digali, lubang-lubang bekas pepohonan dan lubang-
lubang lain, harus diurug kembali dengan bahan- bahan yang baik dan dipadatkan.
4. Kontraktor / Pemborong bertanggung jawab untuk membuang sendiri tanaman-tanaman dan
puing-puing ke tempat yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.
5. Kontraktor / Pemborong harus melestarikan semua benda-benda yang ditentukan tetap
berada pada tempatnya.
6. Galian konstruksi / obstacle.

Kriteria obstacle adalah berupa konstruksi beton, pasangan batu kali, pasangan dinding
tembok, besi-besi tua dan lain-lain bekas konstruksi bangunan lama, dimana cara melakukan
pembongkarannya memerlukan metoda khusus dengan menggunakan peralatan yang lebih

24
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
khusus pula (misalnya pemecah beton / concrete breaker, compressor, mesin potong)
dibandingkan peralatan yang digunakan pada pekerjaan galian tanah. Semua brangkal dan
kotoran dari bekas pembongkaran konstruksi existing harus segera dikeluarkan dari site dan
dibuang ke tempat yang ditentukan oleh Direksi / Konsultan Pengawas. Semua peralatan
yang diperlukan pada paket pekerjaan ini, harus tersedia di lapangan dalam keadaan siap
pakai. Batasan pembongkaran obstacle adalah sebagai berikut :
 Pada daerah titik galian pondasi sampai mencapai kedalaman yang masih memungkinkan,
obstacle tersebut bisa dibongkar / digali sesuai dengan kondisi dan sifat tanah pada daerah
tersebut.
 Pada jalur yang akan dibuat poer dan sloof, mulai dari permukaan tanah existing sampai
dengan di bawah permukaan dasar urugan pasir dari konstruksi beton poer dan sloof.

7. Pembuangan humus.

Sebelum mulai pekerjaan penggalian, lapisan humus dan rumput harus dibersihkan, harus
bebas dari sisa-sisa tanah bawah (sub soil), bekas- bekas pohon, akar-akar, batu-batuan,
semak-semak atau bahan lainnya. Humus yang didapat dari pengupasan tersebut harus
dibuang ke tempat yang sudah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan / Konsultan Pengawas.

3.2.3 Penggalian.

a. Sebelum memulai pekerjaan galian, Kontraktor / Pemborong harus :


• Dengan inisiatif sendiri mengambil tindakan untuk mengatur drainase alamiah dari air yang
mengalir pada permukaan tanah, untuk mencegah galian tergenang air.
• Memeriksa segala pembongkaran dan pembersihan di tempat itu sudah dilaksanakan sesuai
dengan spesifikasi ini.
• Memberitahu Konsultan Pengawas sebelum memulai suatu galian apapun, agar elevasi
penampang melintang dan pengukuran dapat diketahui dan dilakukan pada tanah yang belum
terganggu. Tanah yang berdekatan dengan struktur tidak boleh diganggu tanpa ijin
Konsultan Pengawas.

b. Parit-parit atau galian pondasi untuk struktur atau alas struktur, harus mempunyai ukuran yang
cukup sehingga memungkinkan perletakan atau alas pondasi sesuai dengan ukurannya. Bagian-
bagian dinding / sisi parit harus selalu ditopang. Elevasi dasar alas sebagaimana tampak pada
gambar merupakan perkiraan, sehingga secara tertulis Konsultan Pengawas dapat
memerintahkan perubahan ukuran dan elevasi jika diperlukan untuk menjamin pondasi yang
kokoh.

25
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Penggunaan mesin untuk penggalian diperbolehkan, kecuali untuk tempat- tempat dimana
penggunaan mesin-mesin itu dapat merusak benda-benda yang berada didekatnya, bangunan-
bangunan ataupun pekerjaan yang telah rampung. Dalam hal ini metoda pekerjaan secara
manual / dengan menggunakan tenaga buruh yang harus dilakukan.

d. Bila diperlukan, Kontraktor / Pemborong harus membuat turap sementara yang cukup kuat
untuk menahan lereng-lereng tanah galian supaya tidak ambruk, dan agar tidak mengganggu
pekerjaan. Turap sementara tersebut harus dapat menjaga bangunan-bangunan yang berada
didekat lereng galian tetap stabil.

e. Apabila terjadi kerusakan bangunan (roboh) yang diakibatkan oleh pekerjaan galian, maka
Kontraktor/Pemborong harus bertanggung jawab terhadap kerusakan bangunan tersebut dan
harus menggantinya / memperbaikinya atas biaya Kontraktor / Pemborong.

f. Kontraktor/Pemborong harus melakukan perlindungan dan perawatan yang cukup untuk bagian-
bagian pekerjaan di atas maupun di bawah tanah, drainase, saluran-saluran pembuang dan
rintangan-rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan. Semua biaya yang ditimbulkan
menjadi tanggung jawab Kontraktor.

g. Kemiringan galian harus dibuat maksimal dengan perbandingan 1 (satu) horizontal dan 1 (satu)
vertikal, kecuali diperlihatkan lain dalam gambar.

h. Batu-batu, kayu-kayu dan bahan-bahan lain dalam lubang galian yang tak berguna harus
dibuang dan tidak boleh digunakan untuk pengurugan.

i. Setiap kali galian selesai dikerjakan, Kontraktor/Pemborong harus memberitahu Konsultan


Pengawas mengenai hal itu dan pembuatan Lapisan Sirtu, Lantai Kerja atau penempatan
material apapun tidak boleh dilakukan sebelum Konsultan Pengawas menyetujui kedalaman
pondasi dan karakter tanah dasar pondasi.

j. Bila tanah dasar pondasi lembek, berlumpur atau tidak memenuhi syarat, maka bila
diperintahkan oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor / Pemborong harus menggantinya dengan
material berbutir atau kerikil sebagaimana disyaratkan pada SPESIFIKASI TEKNIS ini.
Material penggganti tersebut harus diurugkan dan dipadatkan lapis demi lapis dengan tebal tiap
lapis 15 cm, sampai mencapai elevasi dasar pondasi dengan kepadatan sesuai petunjuk
Konsultan Pengawas.

k. Kepadatan tanah dasar harus mencapai minimal CBR 3%, bila menurut Konsultan Pengawas
tanah dasar pondasi tidak memenuhi syarat semata-mata karena kesalahan Kontraktor/
Pemborong dalam mengerjakan kewajibannya, maka Kontraktor / Pemborong harus membuang

26
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
dan mengganti tanah dasar pondasi atas tanggungan biaya sendiri, atau menangguhkan
pekerjaan galian itu sampai kondisi tanah dasar pondasi tersebut memenuhi syarat.

l. Semua material hasil galian bila memenuhi syarat, harus dimanfaatkan sebagai material urugan
atau timbunan, dan bila ternyata berlebihan maka harus dibuang.

3.2.4 Air Tanah.

a. Bila air tanah muncul ketika sedang dilakukan galian struktur, maka Kontraktor / Pemborong
harus segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah air menggenangi
galian dan alas struktur.

b. Bila galian terjadi pada tanah yang mengandung air permukaan, maka air ini tidak dianggap
sebagai air tanah dan merupakan kewajiban Kontraktor / Pemborong untuk menanggulanginya
sesuai spesifikasi ini, sehingga tidak akan ada tambahan pembayaran. Penilaian apakah air itu
merupakan air permukaan atau air tanah adalah mutlak wewenang Konsultan Pengawas. Jika air
dapat dihalangi memasuki galian dengan menggunakan cofferdam terbuka, maka air ini tidak
dinilai sebagai air tanah.

c. Bila tinggi muka air di atas elevasi dasar galian, maka harus digunakan cofferdam yang kedap
air. Bila diminta, Kontraktor/Pemborong harus menunjukkan gambar mengenai metoda
pembuatan cofferdam yang dipakainya kepada Konsultan Pengawas untuk disetujui. Cofferdam
atau palung untuk pembuatan pondasi, secara umum harus dibuat di bawah dasar alas pondasi
dan dibuat sedapat mungkin kedap air. Umumnya dimensi cofferdam itu harus sedemikian rupa
sehingga memberikan cukup kebebasan/ keleluasaan untuk pembuatan acuan (form) dan
pemeriksaannya serta memudahkan proses pemompaan air keluar.

Bila menurut Konsultan Pengawas keadaannya tidak memungkinkan untuk mengeringkan


galian sebelum membuat alas pondasi, maka Konsultan Pengawas dapat memerintahkan
pembuatan lapisan beton penutup dengan ukuran tertentu, dan lapisan tersebut harus diletakkan
sebagaimana tampak pada gambar atau mengikuti petunjuk Konsultan Pengawas. Lalu galian
harus dikeringkan dan alas pondasi diletakkan. Bila digunakan palung berbeban, dan beban
tersebut dipakai untuk menanggulangi tekanan hidrostatik yang bekerja terhadap dasar lapisan
pondasi penutup, maka harus digunakan penyemat (jangkar) khusus untuk mentransfer seluruh
berat palung terhadap lapisan pondasi. Bila lapisan pondasi penutup dibuat di bawah air, maka
cofferdam harus dibuat pada muka air yang rendah. Cofferdam dibuat untuk melindungi beton
dari kerusakan karena naiknya muka air dan erosi. Di dalam cofferdam tidak boleh ditinggalkan
kayu-kayuan dan lain-lain tanpa ijin Konsultan Pengawas. Bila pekerjaan memompa air

27
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
diijinkan dilakukan dari bagian galian pondasi, maka harus dicegah agar jangan ada bahan beton
yang ikut terbawa keluar.

Setiap pekerjaan memompa yang dibutuhkan selama perletakan beton, atau selama waktu
sekurang-kurangnya 24 jam sesudahnya harus menggunakan pompa yang sesuai dan air
diletakkan di luar acuan beton. Pemompaan air untuk mengeringkan ini tidak boleh dikerjakan
sebelum lapisan cukup keras dan kuat untuk melawan tekanan hidrostatik. Kecuali bila
ditentukan lain, cofferdam atau palung dengan segala kelengkapannya, harus dibongkar oleh
Kontraktor / Pemborong segera setelah selesai pekerjaan sub-struktur. Pemindahannya harus
sedemikian rupa sehingga tidak merusak pekerjaan yang telah diselesaikan.

d. Pemeliharaan saluran.

Bila tak diijinkan, penggalian tak boleh dikerjakan di luar caisson, palung, cofferdam atau sheet
piling, dan saluran air yang berdekatan dengan pondasi tidak boleh terganggu tanpa ijin
Konsultan Pengawas. Jika ada pekerjaan galian atau pengerukan yang dilakukan sebelum
caisson, palung dan cofferdam terpasang pada tempatnya, maka setelah selesai pembuatan dasar
pondasi, Kontraktor / Pemborong harus mengurug kembali galian-galian itu sesuai dengan
muka tanah semula, dengan memakai bahan yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas.
Bahan-bahan yang tertinggal pada daerah aliran air akibat dari pembuatan pondasi atau galian
lainnya harus dibuang agar saluran itu bersih dari segala macam halangan.

3.3 Urugan Dan Pemadatan


3.3.1 Umum
a. Pekerjaan tanah meliputi pekerjaan yang berhubungan dengan pengupasan dan penimbunan atau
pembuangan tanah, batu-batu atau material lain dari atau ke tempat proyek, atau pembongkaran
dan pembersihan bekas-bekas saluran air, selokan parit dan pembuangan bekas-bekas tanah
longsor dan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi,
menurut gambar pelaksanaan atau petunjuk direksi.
b. Pada lokasi yang akan diurug, pemborong harus melakukan stripping terlebih dahulu, sehingga
mendapatkan permukaan tanah asli yang bebas dari segala bentuk kotoran, humus, akar-akar
atau sisa-sisa material lain yang dapat membusuk.
c. Bila yang akan didirikan bangunan kontraktor harus melakukan pengupasan, ketebalan
pengupasan ini minimum 30 cm dari permukaan tanah asli untuk tanah yang cukup baik tetap
memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas. Tanah bekas stripping ini harus dibuang/
disingkirkan sesuai dengan petunjuk direksi.

28
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Untuk semua pekerjaan urugan yang tidak memakai pasir urug, harus menggunakan tanah yang
baik dan bersih dari tanaman, akar-akaran, brangkal-brangkal, puing-puing dan segala macam
kotoran lainnya.
e. Pekerjaan pengurugan terdiri dari pekerjaan mengurug tanah, sesuai dengan syarat-syarat serta
ketentuan-ketentuan pada SPESIFIKASI TEKNIS ini dan gambar-gambar pelaksanaan yang
disetujui direksi. Gambar pelaksanaan menunjukkan antara lain gambar-gambar profil melintang
memanjang, kemiringan dan dimensi-dimensi dengan jelas.

3.3.2 Pekerjaan Urugan.


Pekerjaan pengurugan dan pemadatan tanah ini untuk :
 Semua galian sampai permukaan yang ditentukan dengan kepadatan CBR 2% atau sesuai
Gambar Kerja.
 Semua tanah lantai bangunan sampai permukaan yang ditentukan dengan kepadatan CBR 3%
atau sesuai Gambar Kerja.
 Terkecuali untuk tempat tertentu / khusus (kawasan IPLT), kepadatan tanahnya seperti
tercantum dalam Gambar Kerja atau petunjuk Konsultan Pengawas / Konsultan Perencana.

3.3.3 Sumber Penggunaan Material

Bahan urugan yang dipakai adalah :


1. Sisa dari tanah galian (harus bebas dari tanah humus, ranting, akar-akaran dan kotoran lainnya).
Sisa galian yang sudah di bersihkan dari humus dan sisa ranting serta sudah disetujui Direksi
Pekerjaan diangkut dengan tenaga manusia dengan jarak angkut 50 m ke kawasan IPLT yang
akan diurug.
2. Tanah urugan biasa dari luar yang memenuhi persyaratan sebagai bahan urugan.

Tanah bekas galian pada umumnya tidak boleh dipakai lagi untuk bahan urugan, kecuali apabila
tanah tersebut memenuhi persyaratan sebagai bahan urugan dan mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas. Sumber bahan urugan ini harus mempunyai jumlah yang cukup untuk
menjamin penyediaan bahan urugan yang bisa mencukupi kebutuhan seluruh proyek.

Semua bahan urugan harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas, baik mengenai kualitas
bahan maupun sumber bahan itu sendiri sebelum dibawa atau digunakan di dalam lokasi pekerjaan.
Bahan urugan yang mengandung tanah organis, akar-akaran, sampah dan lain-lain, tidak boleh
dipergunakan untuk urugan. Bahan-bahan seperti ini harus dipindahkan dan ditempatkan pada
daerah pembuangan yang disetujui atau ditunjuk oleh Konsultan Pengawas. Daerah yang akan
diurug harus dibersihkan dari humus dengan cara stripping setebal + 30 cm. Bahan-bahan urugan

29
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
yang sudah ditempatkan di lokasi pengurugan tetapi tidak memenuhi standar, harus dibuang dan
diganti oleh Kontraktor / Pemborong atas biaya sendiri.
Beberapa hal yang terkait sumber penggunaan material diantaranya adalah:
a. Material untuk timbunan site/lokasi terdiri dari material-material yang sesuai untuk keperluan
itu dan disetujui oleh direksi.
b. Apabila tanah untuk pengurugan harus diambil dari luar site, maka tanah yang diambil harus
dari satu sumber dan harus dilakukan test laboratorium meliputi: compactor (standar proctor)
kandungan bahan-bahan organik, plastisitas dan harus mendapat persetujuan direksi.
c. Material lebih atau material yang tidak dapat dipakai harus dibuang sesuai dengan ketentuan
yang telah dicantumkan dalam SPESIFIKASI TEKNIS ini atau menurut petunjuk direksi.
Material yang ada dalam keadaan basah, dimana dalam keadaan kering dapat dipakai harus
dikeringkan lebih dahulu/sampai mencapai kadar air optimum baru kemudian digunakan untuk
timbunan.
d. Material penimbunan dari tanah asli yang didatangkan dengan memenuhi persyaratan material
penimbunan jalan, standar Bina Marga antara lain:
1. Bukan termasuk tanah lempung (clay)
2. Memenuhi persyaratan plastisitas
3. Bersih dari bahan-bahan organik
4. CBR rendaman laboratorium minimal 4%.
e. Kepadatan yang harus dicapai di lapangan
1. CBR minimal 1-4%
2. Kepadatan lapangan 95% dari kepadatan standard proctor laboratorium pada kadar air yang
optimum.

Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, direksi dapat memerintahkan untuk pemadatan permukaan
yang telah dibersihkan itu dengan kepadatan yang telah dicantumkan dalam SPESIFIKASI
TEKNIS ini.

3.3.4 Bahan Urugan Dari Luar

a. Bahan untuk urugan, untuk pekerjaan urugan kembali bekas galian, urugan untuk perbaikan
kualitas tanah maupun reklamasi laut menggunakan material yang didatangkan dari lokasi lain,
lokasi sumber material ini harus diberitahukan kepada Konsultan Pengawas.

b. Karakteristik fisik dan mekanik tanah urugan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

 Kekuatan geser yang tinggi


 Kompresibilitas dan elastisitas yang rendah

30
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Indek elastisitas/plastisitas < 12
 Sensitifitas rendah
 Batas cair < 35 %
 Koefisien keseragaman > 6
 Ukuran butir tanah dasar tidak boleh lebih besar dari 7,5 mm maksimum 40% dari butiran
harus lewat saringan standar No. 4 dan sekurang-kurangnya 2% harus lewat saringan standar
No. 300.
 Tanah pilihan yang akan digunakan untuk material urugan harus dilakukan uji
laboratorium di Laboratorium Meknaika Tanah yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
Hasil dari Analisa Laboratorium harus memunculkan rekomendasi bahwa material urugan
tersebut memenuhi syarat sebagai tanah urug pilihan, yg digunakan untuk pematangan
lahan pada areal IPLT Tegal.

c. Bahan urugan harus bebas dari akar tumbuhan, kotoran sampah, bahan-bahanorganik dan
kotoran-kotoran lain.

d. Terlebih dahulu dilakukan tes di laboratorium independen yang ditentukan atau disetujui oleh
Direksi/Konsultan Pengawas. Hasil tes secara tertulis diserahkan kepada Direksi/Konsultan
Pengawas untuk mendapatkan persetujuan sebelum pelaksanaan pengurugan.

e. Bila dalam pelaksanaannya, Kontraktor menggunakan bahan urugan yang tidak memenuhi
persyaratan, Direksi/Konsultan Pengawas berhak untuk menghentikan pekerjaan pengurugan
dan mewajibkan Kontraktor untuk menggali kembali urugan dengan bahan yang tidak
memenuhi syarat tersebut diatas dan Kontraktor harus menggantinya dengan bahan urugan yang
memenuhi syarat atas biaya sendiri.

f. Test di Laboratorium

Test terhadap material urugan tersebut antara lain meliputi :

1. Berat jenis
2. Kadar air
3. Analisis pembagian butir
4. Batas plastis
5. Batas cair
6. Pemadatan (Standard Proctor)
7. Tes-tes lain yang dianggap perlu.

Biaya tes ditanggung oleh Rekanan/Kontraktor. Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas berhak


menolak material yang tidak memenuhi persyaratan.

31
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
g. Persyaratan Bagi Lokasi yang akan diurug Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur,
kotoran-kotoran dan air. Bila ada genangan air, maka Rekanan harus mengeringkannya terlebih
dahulu, misalnya dengan bantuan pompa air agar pengurugan bisa dilakukan dalam keadaan
kering.

3.3.5 Pengurugan.
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan ini, seluruh area pembangunan harus sudah bersih dari humus,
akar tanaman, benda-benda organis, sisa-sisa bongkaran dan bahan lain yang dapat mengurangi
kualitas pekerjaan ini.
b. Urugan harus bebas dari segala macam bahan yang dapat membusuk, sisa bongkaran, dan atau
yang dapat mempengaruhi kepadatan urugan. Tanah urugan dapat diambil dari bekas galian atau
tanah yang didatangkan dari luar yang tidak mengandung bahan-bahan seperti tersebut di atas
dan atau telah disetujui Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas.
c. Penghamparan tanah urugan dilakukan lapis demi lapis dan langsung dipadatkan sampai
mencapai permukaan/peil yang diinginkan. Ketebalan perlapis setelah dipadatkan tidak boleh
melebihi 20 cm. Setiap kali penghamparan harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Pengawas yang menyatakan bahwa lapisan di bawahnya telah memenuhi kepadatan yang
disyaratkan, dan seluruh prosedur pemadatan ini harus ditulis dalam Berita Acara yang disetujui
Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas.
1. Lapisan tanah lunak (lumpur) yang ada harus dihilangkan dengan dikeruk, sebelum
pekerjaan pengurugan dimulai. Pada saat pengerukan dan pengurugan, daerah ini harus
dikeringkan.
2. Pemampatan dan pemadatan harus dilakukan sesuai dengan artikel yang bersangkutan di
bawah ini dalam bab ini.
3. Tidak boleh dilakukan pengurugan atau pemadatan selama hujan deras. Jika permukaan
lapisan yang sudah dipadatkan tergenang oleh air, Kontraktor / Pemborong harus membuat
alur-alur pada bagian teratas untuk mengeringkannya sampai mencapai kadar air yang
benar dan dipadatkan kembali.
4. Ketinggian pengurugan setelah dipadatkan harus mencapai elevasi sesuai yang tercantum
dalam Gambar Kerja.
d. Pengurugan untuk halaman yang tidak dibangun, jalan dan perkerasan, tidak perlu dipadatkan
dengan mesin pemadat, cukup ditimbris dengan tangan.

32
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.3.6 Pemadatan.
a. Setiap lapisan harus diarahkan pada kepadatan yang dibutuhkan dan diperiksa melalui pengujian
lapangan yang memadai, sebelum dimulai dengan lapisan berikutnya. Lapisan berikutnya tidak
boleh dihampar sebelum hasil pekerjaan lapisan sebelumnya mendapat persetujuan dari
Pengawas Lapangan.
b. Pekerjaan pemadatan tiap lapis urugan dilakukan dengan kadar air yang diusahakanselalu
mendekati kadar air optimum. Kadar air optimum ditetapkan melalui percobaan laboratorium.
c. Untuk mencapai kepadatan yang optimal, bahan harus ditest di laboratorium, untuk mendapat
nilai standard proctor. Laboratorum yang memeriksa harus laboratorium resmi atau
laboratorium yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan/Pengawas Lapangan.
d. Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Perencana/ Pengawas Lapangan. Semua
hasil-hasil pekerjaan diperiksa kembali terhadap patok-patok referensi untuk mengetahui sampai
dimana kedudukan permukaan tanah tersebut.
e. Bagian permukaan tanah yang telah dinyatakan padat sesuai hasil pengetesan, harus
dipertahankan dan dijaga jangan sampai rusak, akibat pengaruh luar dan tetap menjadi tanggung
jawab kontraktor s/d masa pemeliharaan.
f. Pekerjaan pemadatan telah dianggap cukup, setelah mendapat persetujuan Direksi
Pekerjaan/Pengawas Lapangan.

3.3.7 Test Kepadatan


a. Setelah urugan tanah selesai dipadatkan, dilakukan tes kepadatan di lapangan (yang disaksikan
oleh Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas) maupun di laboratorium.
b. Untuk tes di lapangan, dapat digunakan sand cone method atau cara lain yangdisetujui oleh
Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas. Alat yang digunakan telah ditera dandisediakan oleh
Rekanan.
c. Lokasi dan jumlah titik yang dites ditentukan oleh Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas.
d. Hasil tes harus tertulis dan diserahkan kepada Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas untuk
memperoleh persetujuan.
e. Bila hasil tes menunjukkan tingkat kepadatan yang belum memuaskan, maka dengan atau tanpa
perintah Direksi Pekerjaan, Rekanan harus melakukan langkah-langkah perbaikan atas biaya
Rekanan sendiri.
f. Jadwal pengujian akan ditentukan / ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan/Pengawas Lapangan.
Pengujian diadakan minimum setiap 1.000 m2 dan maksimum setiap 3.000 m2 , pengujian
dilaksanakan setiap layer pemadatan. Biaya pengujian ditanggung oleh Kontraktor. Setelah

33
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
pemadatan selesai, kelebihan tanah urugan harus dipindahkan ketempat yang ditentukan oleh
Pengawas Lapangan. Ketinggian (peil) disesuaikan dengan gambar.
g. Kontraktor tidak diperbolehkan melaksanakan pengurugan pada layer berikutnya, kalua layer
sebelumnya belum diuji kepadatan dan hasilnya sudah sesuai standard dengan persetujuan
Konsultan Pengawas/Direksi Pekerjaan.
h. Sarana-sarana darurat : Kontraktor harus mengadakan drainage yang sempurna setiap saat,
apabila perlu harus membangun saluran-saluran, memasang parit-parit, memompa dan atau
mengeringkan drainage.

3.3.8 Tingkat Kepadatan

Tingkat kepadatan lapangan yang disyaratkan adalah :


a. 90 % dari kepadatan kering maksimum menurut ketentuan ASTM D-698 atau peraturan Bina
Marga BPB-0111-76 yang berlaku untuk semua urugan umum, urugan di bawah pondasi, di
belakang pangkal jembatan, pembuatan badan jalan dan lain-lain.
b. 95 % kepadatan kering maksimum untuk lapisan tanah setebal 15 cm dari subgrade/ dasar balas
pada pembuatan jalan/dasar bangunan.

3.3.9 Urugan Khusus untuk Perbaikan Tanah

Apabila terjadi perbaikan keadaan tanah dengan maksud memperbaiki daya dukungtanah maka
sebagian dari tanah semula akan digali sedemikian hingga tebalnya tanah pengganti memenuhi
syarat dalam gambar rencana dan mengusahakan seminim mungkin terjadinya gangguan terhadap
tanah asli yang diakibatkan oleh penggaliantersebut. Tanah ini dipadatkan dengan baik sesuai
dengan ketentuan-ketentuan tentang pemadatan tanah urugan seperti yang disebutkan dalam (sub)
pasal-pasal terdahulu.

3.3.10 Penanaman/Gebalan Rumput

Pada permukaan tanah lunak yang miring harus ditanami rumput sesuai dengan petunjukKonsultan
Pengawas. Jenis rumput akan dipilih oleh Konsultan Pengawas dari jenis rumputsetempat yang
tersedia di lokasi dan harus terdiri dari bibit rumput yang di tanam dengan jarak masing-masing
250 mm arah permukaan tanah. Sesudah penanaman Kontraktor harus memelihara rumput tersebut
selama masa pemeliharaandan harus mengganti rumput-rumput yang tidak tumbuh.Sebagian dasar
pembayaran penanaman rumput dihitung pada luas meter persegi, termasuk penyediaan bibit
rumpur, buruh, perawatan dan beberapa pekerjaan sementara diperlukan

34
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.3.11 Pekerjaan Perataan Tanah.
Bila terdapat bagian-bagian yang lebih tinggi dari permukaan tanah yang direncanakan, perataan
pada bagian ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga kelebihan tanah tersebut dapat diangkut
ke tempat lain yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

3.3.12 Urugan Pasir Urug


Beberapa hal yang berhubungan dengan urugan pasir urug dan perlu diperhatikan diantaranya
adalah:
a. Urugan pasir harus disirami semua lantai atau plat dasar dengan tebal 5-10 cm.
b. Urugan pasir dilakukan di bawah semua lantai atau plat dasar dengan tebal urugan sesuai
dengan gambar, termasuk lantai rabat, sehingga diperoleh peil-peil yang dikehendaki.
c. Urugan pasir dilakukan juga pada bekas galian pondasi sebelah dalam bangun dengan ketebalan
sesuai dengan gambar rencana, dan di bawah pondasi, pipa dan lain-lain sesuai dengan gambar.

3.3.13 Urugan Sirtu


Beberapa hal yang terkait urugan sirtu diantaranya adalah:
a. Urugan sirtu harus disirami semua lantai atau plat dasar sesuai arahan Direksi Pekerjaan.
b. Urugan sirtu dilakukan di bawah rencana jalan operasional dengan tebal 20 cm, dan di bawah
rencana jalan kawasan IPLT dengan tebal 15 cm, sehingga diperoleh peil-peil yang dikehendaki.
c. Pemadatan urugan sirtu dilaksanakan dengan bantuan alat stamper.
d. Pemadatan dilaksanakan lapis per lapis dengan maksimal tebal lapisan 20 cm.
e. Sebelum dilaksanakan pengujian test dengan cara sand cone, dilakukan pengamatan secara
visual terhadap kepadatan urugan sirtu. Pengamatan visual bisa dilakukan dengan menaruh batu
kerikil dia. 5-10 cm di atas hamparan sirtu, apabila kerikil tsb tidak masuk dalam hamparan sirtu
maka secara visual bisa dilaksanakan test sand cone sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan.
f. Setiap lapisan dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan field density test untuk
mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta moisture content. Dapat dilakukan satu test
untuk setiap 2.000 m2 per lapis field density test dengan cara sand cone.

3.4 Pekerjaan Beton


3.4.1 Umum
Pekerjaan beton harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang
tercantum di dalam Peraturan Beton Inonesia (PBI NI-2 1971). Pemborong harus melaksnakan
pekerjaannya dengan ketepatan dan ketelitian yang tinggi menurut spesifikasi gambar kerja dan
instruksi-instruksi dari Direksi Pelaksanaan. Direksi Pelaksanaan berhak untuk

35
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
memeriksa/mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh pemborong. Direksi pelaksanaan
berhak untuk melakukan pemeriksaan dan setiap kegagalan direksi pelaksanaan tidak
membebaskan pemborong dari tanggungjawabnya. Semua pekerjaan-pekerjaan yang jelek atau
tidak memenuhi uraian dan syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) harus dibongkar dan diganti dari
yang ditentukan (contoh) dan harus disetujui direksi pelaksanaan sebelum dipakai. Direksi
pelaksanaan akan menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui sebagai standar untuk memeriksa
selanjutnya. Semua material yang tidak disetujui direksi harus segera dikeluarkan dari tempat
pekerjaan atas biaya pemborong.

3.4.2 Material
Semua material harus mempunyai kualitas yang terbaik dan memenuhi syarat PBI 1971.
Pemborong harus menyediakan contoh dari material-material yang akan digunakan untuk
menghasilkan beton, untuk dimintakan persetujuan dari direksi, dan tidak boleh
memesan/mengirim dahulu sebelum persetujuan diberikan. Direksi akan menyimpan contoh-
contoh yang telah disetujui sebagai standar, dengan maksud untuk memeriksa/mencocokkan
pengiriman-pengiriman selanjutnya. Pemborong tidak diizinkan mengirimkan material-material
dengan perbedaan yang besar dari standar sampel tanpa persetujuan dari direksi. Semua material
yang ditolak oleh direksi harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas biaya pemborong.

3.4.3 Semen
Beberapa hal yang terkait material semen diantaranya adalah:
a. Untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), seperti : Bak SSC, Bak
Anaerob, Bak Fakultatif, Bak Aerobik, Bak Sedimentasi, Bak Desinfektan, Bak Biopod, Drying
Area, Bak SDB termasuk bak kontrol dan lain-lain, Semen yang digunakan adalah jenis
Portland Cement type V (Hight Sulphate Resisten) yang memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam SNI 2049:2015, ASTM C150/C 150M-12, N.I.8 1972 dan Standard Industri
Indonesia (SII 0013-81). Sedang untuk rehab bangunan pendukung seperti Pembangunan Pos
Jaga, Kantor Pengelola dan Gudang Kompos, dan lain-lain semen yang digunakan adalah jenis
Portland Cement type I yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam N.I.8 1972 dan
Standard Industri Indonesia (SII 0013-81). Semen harus diperoleh dari satu pabrik yang telah
disetujui direksi dan dikirimkan ke tempat pekerjaan dengan kantong tersegel dan utuh. Bila
karena sesuatu hal terpaksa menggunakan semen dari pabrik lain, harus mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari direksi, merk semen tersebut : Gresik, Dynamix/Holcim, Tiga Roda.
b. Bila direksi menganggap perlu pemborong harus mengirimkan surat pernyataan dari pabrik
yang menyetakan tipe, kualitas dari semen beserta manufacture's test certificate yang

36
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
menyatakan memenuhi semua syarat-syarat yang ditentukan N.I.8. Semen yang menggumpal,
sweeping atau kantong yang robek/rusak ditolak untuk disegel.
c. Semen harus disimpan dalam gudang/silo dengan ventilasi yang cukup dan tidak bocor, serta
diletakkan di atas lantai yang ditinggikan minimal 30 cm dari tanah. Kantong-kantong semen
tidak diperbolehkan ditumpuk/ditimbun melebihi 2 (dua) meter dan setiap pengiriman diberi
tanda pengenal sehingga dapat dipakai sesuai dengan tanggal pengiriman.
d. Pemborong harus mengirimkan laporan dari pengujian-pengujian semen di laboratorium kepada
direksi secara rutin. Laboratorium yang ditunjuk untuk pengetesan tersebut, terlebih dahulu
harus disetujui direksi.

3.4.4 Agregat Halus (Pasir)


Beberapa hal yang terkait dengan material agregat halus diantaranya adalah:
a. Agregat halus untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada proyek ini harus sesuai dengan
persyaratan pada PBI atau ASTM.
b. Klasifikasi dan gradasi agregat halus.
Klasifikasi dan gradasi agregat halus ditampilkan dalam Tabel III.1.

TABEL III. 1
KLASIFIKASI DAN GRADASI AGREGAT HALUS
Ukuran ayakan
Lolos, %
(US standard sieve)
No. 4 100%
No. 8 92 – 100 %
No. 16 65 - 85 %
No. 30 35 – 55 %
No. 50 15 – 30 %
No. 100 0 – 12 %
No. 200 %

c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap kering) dan
yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 mm atau
ayakan No. 200 bila test sesuai dengan ASTM C 117.
d. Agregat halus harus bersih dan bebas dari segala macam kotoran baik dalam organis lumpur,
tanah, karang, garam dan sebagainya. pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunakan.
e. Pemborong harus mengajukan contoh agregat halus yang akan dipergunakan untuk
mendapatkan persetujuan direksi. Test-test yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa:
1. Test gradasi sesuai dengan ASTM C 136;
2. Test abrou-holder (larutan NaOH);
3. Test-test lainnya bila memang dianggap perlu oleh Direksi.

37
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
f. Bahan agregat halu harus disimpan di tempat bersih, keras permukaannya dan dicegah supaya
tidak terjadi pengotoran dan pencampuran satu sama lain.
g. Persyaratan-pesyaratan agregat halus di atas dari ayat a s/d f berlaku juga untuk beton ready
mix.

3.4.5 Agregat Kasar (Kerikil atau Koral)


Beberapa hal yang terkait agregat kasar seperti kerikil atau koral diantaranya adalah:
a. Agregat kasar untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada proyek ini harus sesuai dengan
persyaratan pada PBI 1971 atau ASTM.
b. Klasifikasi dan gradasi agregat kasar sebagai berikut
Klasifikasi dan gradasi agregat kasar ditampilkan dalam Tabel III.2 dan Tabel III.3

TABEL III. 2
AGREGAT KASAR TYPE A1 : (BESAR)
Ukuran ayakan
(US standard Lolos, %
sieve)
1 Inch 100%
3/4 Inch 90 - 98 %
1/2 Inch 30 - 45 %
3/8 Inch 0 - 10 %
No. 4 0-5%

TABEL III. 3
AGREGAT KASAR TYPE A2 : (MEDIUM)
Ukuran ayakan
(US standard Lolos, %
sieve)
1/2 Inch 100%
3/8 Inch 90 - 98 %
No. 4 30 - 45 %
No. 8 0 - 10 %

c. Agregat tersebut tidak mengandung lumpur melebihi dari 1% (ditentukan terhadap berat
kering). yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat lolos melalui ayakan
0,063 mm atau ayakan No. 200 bila ditest sesuai dengan ASTM C 117. Apabila kadar lumpur
melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci.
d. Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tidak berpasir. Agregat kasar
yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai bila butir-butir pipih tersebut tidak
melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya.
Yang dimaksud butir agregat pipih adalah perbandingan antara lebar dengan tebalnya lebih
besar dari pada 3 (tiga). Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau
hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.

38
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Pemborong harus mengajukan contoh agregat kasar yang akan dipergunakan untuk dapat
persejutuan direksi. Tes-tes yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa:
1. Test dengan mesin sesuai dengan ASTM C 131 Resistance to abrasion of small size coarse.
2. Test gradasi sesuai dengan ASTM A 136.
3. Test gradasi untuk kadar lumpur sesuai dengan ASTM C 117.
4. Test-test lainnya bila dianggap perlu dan semuanya menjadi tanggungjawab pemborong.
f. Agregat tersebut harus disimpan di tempat yang saling terpisahkan di permukaan tanah yang
bersih, padat serta kering dan harus dicegah terhadap pengotoran dan pencampuran.
g. Persyaratan-persyaratan agregat kasar di atas dari ayat a s/d g berlaku juga untuk beton ready
mix.

3.4.6 Baja Tulangan


Beberapa hal yang terkait tentang baja tulangan diantaranya adalah:
a. Bahan
Baja tulangan yang dipakai adalah minimal harus sesuai dengan PBI-1971. Mutu, ukuran dan
jenis tersebut ditampilkan dalam Tabel III.4.

TABEL III. 4
MUTU UKURAN DAN JENIS TULANGAN
Diameter JenisBatang Mutu  au (0,2)
Lebih kecil atau sama dengan (<) 12 Polos U.24 2.400 kg/cm2
mm
Lebih besar atau sama dengan (>) 12 Profil U.39 3.900 kg/ cm2
mm

Keterangan:
 au = Tegangan lelah karakteristik
0,2 = Tegangan karakteristik yang memberikan tegangan tetap 0,2%.
Baja tulangan yang dipakai adalah produksi : Krakatau Steel, Master steel, Lautan Steel.
Kawat beton: Kawat pengikat baja tulangan harus terbuat dari baja lunak dengan diameter
minimal 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu, dan tidak bersepuh seng.

b. Penggantian diameter
1. Penggantian dengan diameter lain, hanya diperkenankan atas persetujuan tertulis dari
Direksi.
2. Bila penggantian disetujui maka luas penampang yang diperlukan tidak boleh kurang dari
yang tercantum dalam gambar atau perhitungan.
3. Biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan terhadap yang ada gambar sejauh bukan
kesalahan gambar adalah tanggungan pemborong.

39
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Pelaksanaan
1. Baja dan kawat seperti dimaksud di atas harus bebas dari kotoran-kotoran, karat, cat, kulit
giling serta bahan lain yang akan mengurangi daya lekat terhadap beton.
2. Membengkok akan meluruskan baja tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin serta
dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar.
3. Semua tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat sehingga tidak berubah tempat atau
bergeser sebelum dan selama pengecoran. Selimut tulangan minimum 3 cm.
4. Sambungan dan panjang lawatan baja tulangan harus sesuai buku pedoman perencanaan
untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk gedung 1983.
5. Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari lapangan dalam
waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari direksi.
6. Penyambungan tulangan dengan diameter lebih besar atau sama dengan 20 mm baik untuk
kolom maupun balok, setiap panjang 6 m selang seling dilakukan sesuai dengan buku
pedoman perencanaan untuk struktur tembok bertulang untuk gedung 1983.
d. Penyimpanan
Penyimpanan besi beton dimaksudkan untuk mencegah terjadinya karat, dengan cara
meletakkannya di atas papan atau balok kayu sehingga tidak langsung di atas tanah, untuk
penyimpanan waktu lama maka besi beton harus disimpan di bawah atap.
e. Test dan sertifikat
1. Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja tulangan sesuai dengan
SPESIFIKASI TEKNIS ini, maka pada saat pemesanan baja tulangan pemborong harus
menyerahkan sertifikat resmi dari laboratorium.
2. Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan test periodik minimal 3
contoh untuk setiap diameter batang baja tulangan. Pengambilan contoh baja tulangan akan
ditentukan oleh direksi.
3. Semua pengetesan tersebut di atas, harus dilakukan di laboratorium Lembar Uji Konstruksi
di Laboratorium yang direkomendasi oleh direksi dan minimal sesuai dengan
standar/peralatan lain yang setaraf.
4. Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung oleh pemborong.

3.4.7 Pekerjaan Pengisi Dilatasi (Bila Diperlukan)


Bahan untuk pengisisan dilatasi dipergunakan bahan setaraf sikaflexla atau feabseal 2
part dengan spesifikasi teknis sebagai berikut:
a. Bahan untuk pengisian delatasi (joint delatation)
Warna: Abu-abu
Elastisitas: Permanen

40
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Kekerasan: Shore A durometer 28 kurang lebih 5 Sifat perekatan pada beton tetap baik dalam
jarak suhu 20 sampai 60 derajat celcius. Tahan terhadap asam, alkali, lemak dan bahan yang
berasal dari Hydrocarbon.
Memenuhi standar: DIN 18540 BS 4252 : 1967, BS 5 : 1980 JIS A 5757
b. Setelah plat lantai beton maupun plat atap menjadi kering, maka lobang delatasi segera
dibersihkan dari segala macam kotoran
c. Pasang back up material(stirr up foam);
d. Pasang masking tape pada sisi beton;
e. Priming dengan sika primer;
f. Selanjutnya bahan delatasi ini dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan mengikuti petunjuk
dari pabriknya.
g. Disarankan agar pemasangan dikerjakan oleh licenced applicator.

3.4.8 Bahan Campuran Tambahan


Beberapa bahan campuran tambahan yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:
a. Penggunaan bahan campuran beton hanya seizin direksi dan harus sesuai dengan pasal 3.8 bab 2
PBI 1971 dan ASTM C 494 Chemical Admixtures for Concrete
b. Bahan campuran beton yang dipakai hanya type A dan D dan sesuai ASTM C 494.

3.4.9 Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali,
garam-garam, bahan-bahan organis dan bahan-bahan lain yang merusak beton atau baja tulangan.
Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.

3.4.10 Mutu Beton


Mutu beton yang dipergunakan adalah:
a. Bangunan IPLT : Beton mutu f'c 21,7 Mpa (setara K-250)
b. Jalan Operasional : Beton mutu f'c 31,2 Mpa (setara K-350)
c. Bangunan Penunjang : Beton mutu f'c 19,3 Mpa (setara K-225), untuk pondasi Footplat,
Kolom, Balok
d. Kolom, Balok praktis dan teras : Beton mutu f'c 14,5 Mpa (setara K-175)
e. Lantai kerja : Beton mutu f'c 7,4 Mpa (setara K-100)
Untuk menjamin kestabilan mutu beton, untuk mutu beton ≥ f'c 19,3 Mpa (setara K-225)
dianjurkan memakai beton ready mixed.

3.4.11 Rencana Campuran Beton (Concrete Mix Design)


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait rencana campuran beton diantaranya adalah:

41
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. Lima minggu sebelum pekerjaan pengecoran beton dimulai, pemborong harus membuat design
procedure dan prelimary test atas biaya sendiri untuk mendapatkan mutu seperti yang
disyaratkan. Campuran harus menggunakan perbandingan berat antara semen, pasir, kerikil, dan
air.
b. Perencanaan campuran hendaknya mengikuti persyaratan PBI ayat 4.6. dan dievaluasi kekuatan
karakteristiknya menurut ayat 4.5.
c. Bilamana karena sesuatu hal sumber atau kualitas dari semen dan/atau agregat diganti, maka
harus dicari lagi campuran yang baru sehingga tetap memenuhi syarat, sesuai ayat-ayat di atas.
Jumlah semen yang dipakai 340 kg per m³ beton, dan pada pondasi, pipa caps dan luifel atap
jumlah minimum tersebut adalah 375 kg/m³ beton.
d. Dalam hal dipakai beton beton ready mix, maka semua syarat-syarat dalam standard
spesification for ready mixed concrete AASHTO designation H. 157-74 harus dipenuhi.

3.4.12 Pengujian Beton dan Peralatannya


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengujian beton dan peralatannya adalah:
a. Pemborong harus menyediakan alat-alat yang diperlukan dan tempat untuk melakukan
percobaan berikut:
1. Slump test;
2. Test specimens;
3. Cetakan-cetakan baja untuk membuat kubus-kubus beton;
4. Test kadar lumpur.
Pemborong juga menyediakan peralatan untuk menentukan moisture content dari agregat halus,
timbangan dan alat lain. Alat yang perlu untuk melakukan percobaan-percobaan berikut.
b. Pengujian slump dilakukan segera setelah beton keluar dari mixer minimum 5 cm dan
maksimum 10 cm untuk campuran koral beton dan maksimum 12 cm untuk campuran dengan
crushed stones.
c. Atas biaya sendiri pemborong harus membuat, merawat dan mengangkut semua test specimens
ke laboratorium yang ditentukan/disetujui oleh direksi pelaksanan untuk dilakukan compresion
test pada 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.
d. Setiap kubus test harus bersih dan ditandai secara tetap dengan nomor kode dan hari pembuatan,
bersama-sama dengan tanda dari bagian pekerjaan mana sample diambil. Sistem dari
pengukuran dan penandaan dari kubus akan ditentukan oleh direksi pelaksanaan.
e. Pemborong harus memberikan material untuk pembuatan sampel, dari semua test yang
diperlukan pada bagian ini dalam spesifikasi. Kontraktor harus menyampaikan semua hasil test
tersebut kepada direksi secara rutin. Segala hal biaya yang menyangkut pengetesan tersebut
adalah biaya kontraktor.

42
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3.4.13 Beton Bertulang


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait beton bertulang diantaranya adalah:
a. Kekuatan dan Penggunaan Beton
1. Beton struktural
Meliputi beton konstruksi IPLT, jalan operasional dan saluran drainase. Untuk mencapai
mutu K. 250, Pemborong wajib membuat adukan sesuai dengan proporsi trial mix yang
disetujui.
2. Beton non struktural
a) Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl
Meliputi beton lantai kerja, tebal 5 cm, tidak dicor ke dalam cetakan
b) Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl
Meliputi rabat beton, sesuai dengan gambar kerja
c) Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl
Meliputi kolom atau beton bertulang yang mempunyai ukuran maksimal 15 cm, kanstin,
neut kaki kusen kayu, pengisi lubang angker dan sudut-sudut beton dan lain-lain.
d) Beton mortal dengan adukan 1 pc + 2 ps + 5 krl
K adalah tegangan tekan hancur karakteristik untuk kubus beton 15 cm x 15 cm x 15 cm
pada usia 28 hari. Evaluasi penentuan karakteristik ini digunakan ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam PBI 1971.
b. Campuran Tambahan
Dalam SPESIFIKASI TEKNIS ini, bahan campuran lainnya yang digunakan hanya jika
disetujui oleh direksi secara khusus dan tertulis.
c. Pengadukan
Semua pengadukan beton harus dilakukan dengan mesin pengaduk yang berkapasitas tidak
kurang dari 600 liter dan dilengkapi dengan alat timbangan berat.
1. Bahan
a) Untuk penyelesaian beton exposed harus dibuat dari plywood dengan tebal 12 mm dan
dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton. Plywood ini diberi perkuatan kaso 5/7 untuk
menjaga kestabilan dari bekisting tersebut.
b) Lain-lain jenis tersebut di atas harus dengan persetujuan direksi
c) Untuk acuan beton yang tertutup finishing harus dibuat dari kayu klas II tebal sesuai
kebutuhan dan dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton, acuan ini diberi penguat kaso
5/7 untuk menjaga kestabilan dari bekisting tersebut.
d) Untuk perkerasan bekisting (acuan) tersebut, apabila diperlukan direksi dapat meminta
kontraktor menghitungnya dan kemudian disetujui direksi.

43
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Konstruksi
a) Bekisting-bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku mencegah pergeseran atau
perubahan/kelongsoran penyangga. Permukaan bekisting halus halus dan rata, tidak boleh
melendut atau cekung. Sambungan-sambungan bekisting harus diusahakan agar lurus dan
rata dalam arah horisontal dan vertikal
b) Tiang penyangga anti lendutan (cambres) harus dibuat sebaik mungkin dan mampu
menunjang seperti yang dibutuhkan, tanpa adanya kerusakan atau overstress ataupun
pergeseran tempat pada bagian konstruksi yang dibebani.
c) Struktur dari tiang-tiang penyangga harus ditempatkan pada posisi sedemikian rupa,
sehingga konstruksi ini benar-benar kuat dan kaku untuk menunjang berat sendiri dan
beban-beban yang berada di atasnya selama pelaksanaan
d) Kecuali detail-detail yang berlainan pada gambar, bekisting untuk semua balok dan pelat
lantai dilaksanakan dengan mengikuti anti lendut ke atas
e) Semua balok atau/dan pelat lantai 0,2% lebar bentang pada tengah-tengah bentang.
Semua balok cantilever dan pelat lantai 0,4% dari bentang, dihitung dari ujung bebas.
3. Baut
Baut-baut tie rod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus diatur sedemikian
rupa sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan akan berada 4 cm
dari permukaan beton. Kawat pengikat tidak diizinkan pada beton exposed yang akan
berhubungan langsung dengan keadaan alam, dimana dapat menimbulkan warna yang tidak
merata. Semua bekisting harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan paku
tanpa merusak beton.
4. Pembersihan
Semua bekisting harus dibersihkan sebelum dipergunnakan. Pekerjaan harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kemungkinan adanya beton yang keropos dan
lain-lain kerusakan/cacat pada beton. Segera sebelum beton dicor pada beberapa bagian dari
bekisting, bagian dalam dari bagian itu harus dibersihkan dari semua material lain, termasuk
air. Tiap-tiap bagian dari bekisting, bagian-bagian yang struktural harus diperiksa oleh
direksi pelaksanaan segera sebelum beton dicor di bagian itu. Khusus untuk acuan kolom
dan dinding beton atau balok-balok tinggi, pada tepi bawahnya harus dibuat bukaan atau dua
sisinya untuk mengeluarkan kotoran yang mungkin terdapat pada dasar kolom/dinding
tersebut. Bukaan ini boleh ditutup setelah diperiksa dan disetujui oleh direksi pelaksanaan.
5. Pelapisan (coating)
Sebelum pemasangan besi beton bertulang bekisting yang dipergunakan untuk beton yang
tidak diplester lagi (exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak yang tidak

44
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
meninggalkan bekas pada beton. Bekisting untuk beton biasa (yang perlu diplester lagi
permukaannya) harus dibasahi air dengan seksama sebagai pengganti minyak sebelum beton
dicor.
6. Pembongkaran
Bangunan tidaak boleh mengalami perubahan bentuk, kerusakan atau pembebanan yang
melebihi beban dengan rencana pembongkaran bekisting pada beton. Pertanggungjawaban
atas keselamatan pada waktu pembongkaran tiap bagian bekisting atau penyangga berada
dipihak pemborong.
7. Waktu minimum untuk pembongkaran bekisting.
Waktu minimum dari saat selesainya pengecoran beton sampai dengan pembongkaran
bekisting dari bagian-bagian struktur ditentukan dari percobaan kubus benda uji yang
memberikan kuat desak minimum. Hasil kuat desak maksimum ditampilkan dalam Tabel
III.5.

TABEL III. 5
KUAT DESAK MAKSIMUM
Waktu minimum pembongkaran
Bagian struktur bekisting
(hari)
- Sisi balok dan dinding 1
- Penyanggah pelat 21
lantai
- Penyanggah balok 21

3.4.14 Pembuatan Beton dan Peralatannya


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pembuatan beton dan peralatannya adalah:
a. Pemborong bertanggungjawab seluruhnya atas pembuatan campuran beton yang baik/unform
dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Untuk memenuhi syarat-syarat ini, pemborong
atas biaya sendiri harus menyediakan dan menggunakan, mesin pencampur beton (beton molen)
yang baik, volumetric system untuk mengukur air dengan tepat yang disetujui direksi.
b. Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan pencampuran material-material harus
dengan persetujuan direksi.
c. Mencampur beton dengan tidak menggunakan perbandingan berat (timbangan), tidak
diperbolehkan.
d. Mixer harus betul-betul kosong sebelum menampung/menerima material untuk adukan
selanjutnya, harus dibersihkan dan dicuci bila mixer tidak dipakai lebih lama dari 30 menit dan
pada setiap akhir pekerjaan. Mixer juga harus dibersihkan dan dikosongkan lebih dulu, bila
beton yang akan dibuat berbeda mutunya.

45
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Pencampuran kembali dari beton yang sebagian sudah terjatuh/mengeras tidak diizinkan.
Demikian juga penambahan air pada adukan beton yang sudah jadi (dari hasil mixer) dengan
tujuan memudahkan pengerjaan dan sebagainya tidak diizinkan.
f. Diutamkan menggunakan beton ready mix.

3.4.15 Penolakan Pekerjaan Beton


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penolakan pekerjaan beton diantaranya
adalah:
a. Direksi berhak menolak pekerjaan yang tidak memenuhi syarat. Pemborong harus mengganti
atau memperbaiki/membongkar pekerjan beton yang tidak memenuhi syarat, atas biaya sendiri,
sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh direksi pelaksanaan.
b. Percobaan compressive strength dari pengujian kubus harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Sr adalah deviasi standard rencana.
2. Tidak boleh lebih dari 1 (satu) nilai diantara 20 nilai hasil pemeriksaan benda uji berturut-
turut, terjadi kurang dari ' bk.

3. Tidak boleh satupun rata-rata dari 4 hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut, terjadi
kurang dari (' bk + 0,82 Sr).

4. Selisih antara nilai tertinggi dan terendah diantara 4 (empat) hasil pemeriksaan benda uji
berturut-turut tidak boleh lebih besar dari 4,3 Sr.

5. Dalam segala hal, hasil pemeriksaan 20 benda uji berturut-turut harus memenuhi ('bk = '

bm - 1,64 Sr).
c. Bila compressive strength test dari kelompok kubus test gagal memenuhi syarat di atas, maka
direksi pelaksanaan akan menolak semua pekerjaan-pekerjaan beton dari kubus-kubus tersebut
diambil.

3.4.16 Pengangkutan dan Pengecoran Beton


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengangkutan dan pengecoran beton
diantaranya adalah:
a. Pengecoran beton tidak boleh dimulai sebelum direksi memeriksa dan menyetujui cetakan,
bekisting (formwork), tulangan, angker-angker dan lain-lain, dimana beton akan
dituangkan/dicor. Tempat dimana beton akan dituangkan harus bebas dari segala macam
kotoran, puing-puing, potongan-potongan, kayu, air dan sebagainya.
b. Air (genangan) harus dibuang dari tempat/ruangan yang akan diisi/dicor beton. Air yang
mengalir ke dalam galian harus dikontrol/dibuang dengan cara yang disetujui direksi
pelaksanaan.

46
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Isi dari mixer yang dikeluarkan pada suatu operasi continous harus diangkut tanpa menimbulkan
degradasi. Beton harus diangkut dalam gerobak yang bersih dan kedap air. Metode yang
digunakan harus disetujui direksi pelaksanaan, setelah pemborong mengajukan proposal/usulan
cara-cara pengangkutan.
d. Alat-alat dan tempat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus diberikan dan dicuci bila
pekerjaan terhenti lebih lama dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan. Semua campuran
beton di tempat pekerjaan harus diletakkan/dicor dan dipadatkan pada tempatnya dalam waktu
40 menit setelah penuangan air ke dalam mixer.
e. Beton pada umumnya tidak boleh dijatuhkan bebas/dituangkan dari ketinggian lebih besar dari
1,5 m. pengecoran harus dilaksanakan dengan menghindari timbulnya degradasi dan menjamin
suatu pengecoran yang tidak terputus. Beton harus diletakkan dalam lapisan tidak lebih dari 60
cm tebalnya dan dipadatkan sesuai ketentuan di bawah ini tanpa timbulnya
degradasi/pemisahan. pengecoran dari satu unit atau bagian dari pekerjaan harus dilaksanakan
dengan satu operasi yang continous atau sampai construction joint tercapai.
f. Beton, acuan atau penulangan tidak boleh diganggu selama minimal 24 jam setelah pengecoran,
kecuali dengan izin direksi pelaksanaan. Semua pengecoran harus dilaksanakan di siang hari
dan pengecoran beton dari suatu bagian pekerjaan jangan dimulai apabila tidak dapat
diselesaikan pada siang hari, kecuali atas izin Direksi Pelaksanaan boleh dikerjakan pada malam
hari. Izin ini tidak boleh diberikan, bila sistem penerangan yang dipersiapkan Pemborong belum
disetujui Direksi Pelaksanaan.
g. Dalam hal dinding, kolom beton atau bagian-bagian yang dianggap tinggi, tidak boleh dicor dari
atas, tetapi harus dari samping melalui satu bukaan pada ketinggian yang disetujui. Saluran
curah untuk pengecoran tidak boleh dipergunakan, kecuali jaraknya dekat dan hanya dengan
persetujuan direksi pelaksanaan. Bila hal ini disetujui direksi pelaksanaan, maka saluran itu
harus dibuat dari logam (metal) atau bahan dihaluskan, agar dapat mengalirkan adukan beton
dengan lancar, sedangkan kemiringan saluran/talang tersebut tidak lebih curam dari
perbandingan 1 (satu) tegak dan 2 (dua) mendatar.
h. Siar pelaksanaan harus ditempatkan sedemikian sehingga tidak banyak mengurangi kekuatan
konstruksi. Bila siar-siar pelaksanaan tidak ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana, maka
tempat-tempatnya harus disetuji oleh direksi.
i. Penyimpanan tempat siar daripada yang dinyatakan dalam gambar harus disetujui direksi.
j. Penempatan air (penyambungan pengecoran) pada dinding yang berfungsi menampung air,
harus dipasang waterstop dari tipe yang terlebih dahulu disetujui direksi.

3.4.17 Pemadatan Beton


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pemadatan beton diantaranya adalah:

47
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. Beton harus dipadatkan keseluruhan dengan mechanical vibrator yang dikerjakan oleh orang-
orang yang berpengalaman dan telah mendapatkan training untuk pekerjaan tersebut. Pekerjaan
beton yang telah selesai harus merupakan suatu massa yang bebas dari lubang-lubang degradasi
atau kropos-kropos (honey combing).
b. Vibrator yang dipakai harus dari type rotary out of balance dengan frekuensi tidak kurang dari
6.000 cycles per menit. harus diperhatikan agar pemadatan/penggetaran semua bagian beton
tidak menyebabkan degradasi dari material-material akibat over vibration. Vibration tidak boleh
dipergunakan pada tulang-tulang, terutama tulang-tulangan yang telah masuk pada beton yang
mulai mengeras.
c. Banyaknya vibrator yang dipergunakan harus disesuaikan dengan volume dan kecepatan
pengecoran. Pemborongan juga harus menyediakan paling sedikit 1 vibrator
tambahan/cadangan untuk mengganti yang rusak pada waktu yang sedang dipakai.

3.4.18 Perlindungan Terhadap Cuaca Alam


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perlindungan terhadap cuaca alam diantaranya
adalah:
a. Cuaca Panas
Bila perlu dipergunakan rangkaian instalasi penahanan angin, naungan, fog spraying, memerciki
dengan air, menggenangi dengan air ataupun menutup dengan penutup basah yang berwarna
muda dapat dibuat bagian yang telah selesai dicor, dan tindakan perlindungan yang sedemikian
harus segera diambil setelah pengecoran dan pekerjaan akhir selesai dikerjakan.
b. Musim Hujan
1. Tidak diperbolehkan mengecor selama turun hujan lebat, dan beton yang baru dicor harus
segera dilindungi dari curahan hujan. Sambungan harus dilindungi seperti yang dijelaskan
dalam spesifikasi ini.
2. Sebelum pengecoran berikutnya dikerjakan maka seluruh beton yang terkena hujan/aliran air
hujan harus diperiksa, diperbaiki dan dibersihkan dulu dari beton-beton yang
tercampur/terkikis air hujan. Pengecoran selanjutnya harus mendapat izin direksi
pelaksanaan terlebih dahulu.

3.4.19 Perawatan
Dalam melakukan perawatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Beton baru harus dilindungi dari hujan lebat, aliran dan dari kerusakaan yang disebabkan oleh
alat-alat. Semua beton hendaknya selalu dalam keadaan basah, selama paling sedikit 7 hari,
dengan cara menyiramkan air pada pipa yang berlubang atau cara lain yang menjadikan bidang
permukaan beton itu selalu dalam keadaan basah.

48
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Bekisting kayu dibiarkan tinggal agar beton itu tetap basah selama perawatan untuk mencegah
retak pada sambuungan dan penegringan beton yang terlalu cepat. Air yang dipergunakan untuk
perawatan harus bersih dan sama sekali bebas dari unsur-unsur kimia yang dapat menyebabkan
kerusakan atau perubahan warna pada beton.

3.4.20 Cacat pada Beton


Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, pemberi tugas mempunyai
wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti berikut:
a. Konstruksi beton yang sangat keropos.
b. Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisinya tidak seperti
yang ditunjukkan oleh gambar.
c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang direncanakan.
d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.

3.5 Pekerjaan Waterstop


3.5.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini termasuk tenaga kerja, bahan–bahan, peralatan, dan alat alat bantu lainnya
termasuk pengangkutan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan yang
dinyatakan dalam gambar serta petunjuk Direksi Lapangan. Pekerjaan ini dilaksanakan antara lain
pada:
a. Sambungan lantai dan dinding IPLT.
b. Tempat–tempat lain di setiap pemberhentian beton kedap air.

3.5.2 Persyaratan Bahan


Bila tidak ditentukan lain, maka pekerjaan pengecoran beton yang tidak menerus dan
harus kedap air dipakai bahan Waterstop dari Polyvinnyl Chloride yang tahan terhadap bahan
kimia, alkali, minyak, dan acids. Persyaratan bahan tersebut adalah
a. Nama Bahan : PVC Waterstop
b. Type : WSA 250
c. Tebal : 6 mm
d. Lebar : 200 mm
e. Warna : Biru
f. Kemasan : 25 m/Roll
Persyaratan Pelaksanaan Pemasangan Water Stop harus mengikuti petunjuk dari
pabriknya. Water Stop dipasang disetiap pemberhentian pekerjaan pengecoran beton kedap air
sesuai dengan gambar kerja atau usulan dari Kontraktor yang sudah disetujui Pengawas.

49
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3.6 Pekerjaan Konstruksi Besi dan Baja


3.6.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Bak SSC.
b. Pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Drying Area.
c. Pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Bak SDB.
d. Pembuatan grill besi penutup bak bar screen.
e. Pembuatan dudukan bar screen.
f. Pembuatan bar screen.
g. Struktur Bangunan Garasi Truck Tinja
h. Struktur Bangunan Kanopi Parkir
i. Struktur Bangunan Gudang Kompos
j. Portal Jalan Masuk
k. Dan lain-lain pekerjaan besi sesuai dengan gambar dan RAB.

3.6.2 Bahan
a. Bahan-bahan material yang dipergunakan terdiri:
1. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk kerangka atap bangunan penutup Bak SSC terdiri
dari : besi IWF 150.75.5.7, profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording
dia.10, Tracstang ø 16 mm, Handle Tracstang.
2. Pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Drying Area terdiri dari : besi IWF
150.75.5.7, profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording dia.10, Tracstang
ø 16 mm, Handle Tracstang.
3. Pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Bak SDB terdiri dari : besi IWF
150.75.5.7, profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording dia.10, Tracstang
ø 16 mm, Handle Tracstang.
4. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk grill penutup bak bar screen terdiri dari: besi siku
steinless 50.50.5 dan plat strip steinless 30.6.
5. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk dudukan bar screen: besi baja UNP 100.50.5.
6. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk bar screen: besi siku steinless 50.50.5 dan plat strip
steinless 30.5.
7. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan struktur bangunan Garasi Truck Tinja
terdiri dari : besi IWF 200.100.5,5.8, besi IWF 150.75.5.7, profil besi CNP 125.50.20.2,3
(single), sagord (jarum gording dia.10, Tracstang ø 16 mm, Handle Tracstang.

50
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
8. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan struktur bangunan Garasi Truck Tinja
terdiri dari : besi IWF 200.100.5,5.8, profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum
gording dia.10, Tracstang ø 16 mm, Handle Tracstang.
9. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan struktur bangunan Gudang Kompos
terdiri dari : besi IWF 150.75.5.7, profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum
gording dia.10, Tracstang ø 16 mm, Handle Tracstang.
10.Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pembuatan Portal Jalan Masuk, terdiri dari : Pipa
GIP medium B diameter 4”, 3” dan 2” dengan masing-masing ketebalannya 2,8 mm.
Semua material besi produk : KS (krakatau Steel), MS (Master Steel), LS (LautanSteel)
b. Bahan besi beton tulangan ini harus memenuhi standard SII:
1. Bahan besi ini, kecuali ditunjukkan atau dipersyaratkan lain, harus sesuai dengan N1.3-1970.
2. Baja Profile dengan ukuran sesuai gambar dengan memakai Jenis Baja BJ 37
dengan kuat tarik minimal, fu = 370 MPa, Kuat Lelah minimal 240 MPa dengan
peregangan 20%
3. Mur dan Baut harus memenuhi ketentuan yang berlaku.
4. Kualitas besi tulangan untuk polos (semua tulangan < Ø12) menggunakan U24 Sedang untuk
ulir (semua tulangan > Ø 12) menggunakan U39.
5. Bahan-bahan tersebut harus dalam keadaan baru, tanpa cacat.
6. Penyimpanan bahan sebelum terpasang, harus ditempat yang terlindung dan berada di atas
tanah sehingga terlindung dari karat.

3.6.3 Uraian Pelaksanaan


a. Gambar Kerja
Sebelum pekerjaan konstruksi baja dimulai, kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan
gambar kerja lengkap kepada Konsultan untuk mendapat persetujuan.
b. Pembuatan dan Pemasangan
1. Perencanaan, pembuatan konstruksi baja dimulai, Kontraktor harus menyiapkan dan
menyerahkan gambar kerja lengkap kepada Konsultan untuk mendapatkan persetujuan.
2. Sambungan las hanya diperbolehkan jika dinyatakan pada gambar yang telah disetujui.
Semua las harus terdiri dari komposisi yang merata, halus, rapih, berkekuatan penuh, harus
bebas dari ”porosity” dan ”tahi logam” dan harus dibuat dengan teknik kerja yang menjamin
pembebanan muatan yang merata pada seluruh potongan las disertai pencegahan
kemungkinan terjadinya eksentrisitas. Pengelasan harus dilakukan secara terus menerus
sepanjang garis singgung,kecuali jika diisyaratkan untuk pelaksanaan dengan cara
”intermitten weld” atau ”tack weld” pada spesifikasi.

51
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Semua pengelasan harus dilaksanakan oleh tukang las yang telah lulus ujian sesuai dengan
apa yang diisyaratkan pada peraturan JIS 2 3801 mempunyai sertifikasi tanda lulus ujian
sesuai peraturan setempat.
c. Baut Pengikat
1. Lubang-lubang baut harus betul-betul tepat sesuai dengan diameternya. Kontraktor tidak
boleh merubah atau membuat lubang baru di lapangan tanpa seizin pengawas.
2. Permukaan lubang baut harus memakai bor dan membuat lubang baut dengan api sama
sekali tidak diperkenankan.
3. Baut penyambung harus berKualitas baik dan baru dengan kualitas St.49.
4. Jumlah dan diameter baut, panjang ulir harus sesuai dengan pada yang ada gambar kerja
5. Pengencangan baut harus dengan kunci torsi, menurut standard baut.
d. Pemotongan Besi
Semua bekas pemotongan besi harus rapih dan rata. Pemotongan hanya boleh dilaksanakan
dengan brender atau gergaji besi. Pemotongan dengan mesin las sekali-kali tidak
diperkenankan.
e. Pengecatan
a. Semua baja konstruksi harus dicat sesuai dengan SPESIFIKASI TEKNIS, kecuali bila
ditentukan lain pada gambar atau SPESIFIKASI TEKNIS ini, sebelum dicat, semua baja
harus dibersihkan dan dicat dasar dibengkel sebelum dikirim ke lapangan. Bagian baja
konstruksi yang tidak perlu diberi cat dasar akan ditentukan kemudian. Untuk cat ini
digunakan 2 lapis Quick Drying Metal Primer Red Lead setebal 80 mikron drf (dry Film
thickness)
b. 1 Lapis Undercoat Weather Resistant Alumunium Pain setebal 33 mikron dR.
f. Erection
1. Sebelum erection dimulai, kontraktor harus memeriksa kembali kedudukan angker-angker
baja pada kolom dan memberitahukan kepada pengawas/Direksi metode dan urutan
pelaksanaan erection. Perhatian khusus dalam pemasangan angker-angker untuk kolom
dimana jarak-jarak/kedudukan angker-angker harus tepat dan akurat untuk mencegah ketidak
cocokan dalam erection, untuk itu harus dijaga agar selama pengecoran angker-angker
tersebut tidak bergeser, misalnya dengan mengelasnya pada tulangan kolom.
2. Semua peralatan dan stager yang diperlukan untuk pemasangan konstruksi baja harus
disediakan oleh kontraktor dalam keadaan cukup dan dalam kondisi baik di lapangan.
3. Kontraktor bertanggung jawab atas keselamatan pekerjanya di lapangan. Untuk itu
kontraktor harus menyediakan ikat penggang-pengaman safety belt, sarung tangan dan
pemadam kebakaran.

52
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4. Untuk pekerjaan erection di lapangan. Kontraktor harus menyediakan tenaga ahli dalam
bidang konstruksi baja yang senantiasa mengawasi dan bertanggung jawab atas pekerjaan
erection. Tenaga ahli untuk mengawasi pekerjaan erection tersebut harus dapat persetujuan
konsultan pengawas. Penempatan konstruksi baja di lapangan harus diatur demikian
sehingga memudahkan pekerjaan erection, kontraktor harus memberitahukan pengawas
sebelum pengiriman baja dan menjamin bahwa setelah di lapangan. Konstruksi baja tersebut
tetap tidak rusak dan kotor, bilamana ternyata yang dikirim rusak dan bengkok kontraktor
harus mengganti dengan yang baru.

3.7 Pekerjaan Rangka Atap Konstruksi Baja Ringan


3.7.1 Lingkup Pekerjaan

a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya untuk melaksanakan
pekerjaan rangka atap baja ringan pada Gedung Kantor Pengelola dan Rumah Jaga dengan hasil
yang baik dan diterima oleh Pemberi Tugas.

b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan konstruksi kuda–kuda penutup atap termasuk reng
sampai dengan siap dipasangi penutup atap seperti yang ditunjukkan dalam gambar atau sesuai
dengan petunjuk dari Direksi/Konsultan Pengawas.

3.7.2 Persyaratan Bahan

Material baja ringan terbuat dari baja mutu tinggi bentuk profil Z ketebalan minimal 0,8 mm,
dimana mempunyai spesifikasi kekuatan lebih tinggi dari pada baja biasa. Spesifikasi minimum
baja ringan yang dipakai adalah Steel Grade (G550) dengan mechanical properties sebagai berikut:
a. Kekuatan Leleh Minimum : 550 Mpa
b. Tegangan Maksimum : Modulus Geser : 80.000 Mpa
c. Modulus Elastisitas : 200.000 Mpa

3.7.3 Spesifikasi Lapisan Anti Karat:

Berikut ini spesifikasi lapisan anti karat yang digunakan:

a. Komposisi Lapisan 95% zinc Zinc (Galvanis);


b. Memakai Coating Spesifikasi Z220 (220 gr/m2).

3.7.4 Persyaratan Pra-Konstruksi

Beberapa persyaratan pra konstruksi adalah sebagai berikut:

53
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. Kontraktor wajib melampirkan:
1. Surat Dukungan ASLI dari produsen baja ringan.
2. Brosur ASLI.

b. Kontraktor wajib memberikan pemaparan produk sebelum pelaksanaan pemasangan rangka atap
baja ringan, sesuai dengan SPESIFIKASI TEKNIS (Rencana Kerja dan Syarat) seperti pada
pasal di atas. Produk yang dipaparkan sesuai dengan surat dukungan dan brosur yang
dilampirkan pada dokumen tender.

c. Kontraktor wajib menyerahkan gambar kerja yang lengkap berserta detail dan bertanggung
jawab terhadap semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar kerja. Dalam hal ini
meliputi dimensi profil, panjang profil dan jumlah alat sambung pada setiap titik buhul.

d. Perubahan bahan/detail karena alasan apapun harus diajukan ke Konsultan Pengawas,


Konsultan Perencana dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) untuk mendapatkan
persetujuan secara tertulis.

3.7.5 Jaminan Struktural dan Laporan Kerja

Penjelasan terkait jaminan struktural dan laporan kerja adalah sebagai berikut:

a. Jaminan yang dimaksud adalah jika terjadi deformasi yang melebihi ketentuan terjadi pada
struktur rangka atap baja ringan, meliputi; kuda-kuda, struktur pengaku dan reng.

b. Program perencanaan dan perhitungan rangka baja ringan telah di desain untuk mampu
menahan beban sesuai dengan standar peraturan
- Peraturan Muatan Indonesia 1970;
- Peraturan Bangunan Nasional 1984;
- AS/NZS 4600-2005-S;
- BS 5950-5-1998.

c. Peraturan atau design code


- Pembebanan sesuai dengan Peraturan Pembebanan Indonesia 1981
- Mengacu pada persyaratan steel” (Australian Standard/New Zealand Standart 4600:2005)
- Desain kekuatan struktural mengacu pada “Dead and Live Loads and Load Combinations”
(Australian Standard 1170.1 Part 1) dan
- “Wind Loads” (Australian Standard 1170.2 Part 2) sesuai dengan peraturan pembebanan
angin
- Menggunakan screw berdasarkan ketentuan “Screw-Self drilling-for the building and
construction industries” (Australian Standard 3566).

54
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Pada akhir proyek, kontraktor harus dapat melaporkan Technical Report yang menunjukkan
semua pembebanan sistem rangka atap yaitu termasuk di dalamnya:
- Pembebanan Joint;
- Bending Moment Diagram;
- Shear Force Diagram;
- Normal Force Diagram.
Pada akhir proyek, harus diserahkan surat garansi yang dikeluarkan oleh pemberi dukungan
dalam hal baja ringan yang berlaku selama 10 (sepuluh) tahun.

3.8 Pekerjaan Pondasi Sumuran


Pondasi yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah pondasi Sumuran yang disatukan dengan poer
plat beton bertulang. Kontraktor harus memberikan detail dari pondasi sumuran sesuai dengan
permintaan Direksi Pekerjaan. Pondasi sumuran adalah suatu bentuk peralihan antara pondasi
dangkal dan pondasi tiang. Pondasi ini digunakan apabila tanah dasar terletak pada kedalaman yang
relatif dalam.
Jenis pondasi dalam yang dicor ditempat dengan menggunakan material beton dan batu belah
sebagai pengisinya.

3.8.1 Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan yang termasuk meliputi:
- Penentuan titik-titik posisi pondasi sumuran di lapangan sesuai dengan Gambar Rencana.
- Mobilisasi dan demobilisasi alat.
- Penyediaan peralatan.
- Pengadaan tenaga kerja.
- Penyerahan semua data seperti yang telah ditetapkan.
3.8.2 Spesifikasi Material Pondasi Sumuran

Material Spesifikasi material untuk pondasi sumuran harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Diameter tiang : 100 cm.
- Bentuk: Lingkaran.
- Kedalaman sumuran : disesuaikan dengan gambar rencana.
- Mutu beton: Beton cyclop
- Pembesian: Tulangan stek 4D13

3.8.3 Standar dan Referensi


Semua bahan-bahan dan kecakapan kerja harus sesuai dengan edisi terakhir standar-
standar berikut:

55
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. PBI 1971 : Peraturan Beton Indonesia
b. SNI 03-2847-2002 : Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung
c. SII 0192-83 : Mutu dan Cara Uji Elektroda Las Terbungkus Baja Karbon Rendah
d. ASTM A-82 : Standard Specification for Cold Drawn Steel Wire for Concrete Reinforcement
e. ASTM D-1143 : Standard Test Method for Piles Under Axial Compression Load.
f. ASTM D-3966.90 : Standard Test Method for Piles Under Lateral Loads
g. ASTM D-3989.90 : Standard Test Method for Individual Pile Under Static Axial Tensile Load.
h. ACI 212.12-63 : Admixture for Concrete, Part 1
i. ACI 212.22-71 : Guide for Use Admixture in Concrete, Part 1.

3.8.4 Pelaksanaan
Tahapan pengerjaan atau pelaksanaan pondasi sumuran haruslah mengikuti urutan berikut:

1. Buatlah galian tanah dengan ukuran sesuai diameter buis beton di lokasi yang akan dibangun
pondasi dengan menggunakan cangkul. Untuk mempermudah pekerjaan penggalian tanah,
pakai cangkul yang memiliki pegangan lebih pendek.
2. Setelah galian tanah telah mencapai kedalaman sekitar 80-100 cm, masukkan buis beton yang
pertama ke dalamnya. Hati-hati saat memindahkan buis beton ini dan pastikan tepat masuk ke
dalam lubang galian tanah.
3. Lanjutkan kembali penggalian tanah di tempat rencana pembuatan pondasi tersebut. Ingat,
lakukan pekerjaan ini dengan lebih hati-hati mengingat sudah ada buis beton di dalamnya.
Jangan khawatir, selama Anda meneruskan penggalian tanah, buis beton akan turun levelnya
sesuai dengan kedalaman permukaan tanah di dalam lubang galian.
4. Pekerjaan penggalian tanah dihentikan setelah mencapai lapisan tanah yang keras. Biasanya
lapisan tanah ini berada di kedalaman yang berkisar antara 2-3 meter.
5. Setelah itu, masukkan buis beton kedua ke dalam lubang galian tepat di atas buis beton yang
pertama. Masukkan lagi buis berikutnya hingga ketinggian susunan bus beton setara dengan
level yang ditentukan Gambar Rencana. Cek sekali lagi untuk memastikan buis-buis beton
tersebut tersusun dengan benar.
6. Agar susunan buis-buis beton terangkai kuat, Anda bisa menambal celah-celahnya dengan
adukan semen dan pasir. Biarkan tambalan ini selama beberapa saat agar mengering sebelum
Anda benar-benar menutup sumuran.
7. Buat adukan beton sebagai pengisi pondasi sumuran yang terdiri atas semen, pasir, kerikil, dan
air. Pastikan semua bahan-bahan ini tercampur rata sebelum digunakan.

56
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
8. Masukkan batu kali terlebih dahulu ke dalam sumuran hingga ketinggiannya mencapai 50 cm.
Tuangkan adukan beton di atasnya. Atur sedemikian rupa agar adukan beton ini bisa masuk ke
celah-celah tumpukan batu kali dan mengikatnya.
9. Masukkan lagi batu-batu kali ke dalam sumuran tadi sampai ketinggiannya bertambah 50 cm.
Jangan lupa tuangkan lagi adukan beton di atas gundukan batu kali tersebut. Demikian
langkah-langah seterusnya hingga seluruh volume sumuran terisi penuh oleh batu kali dan
adukan beton.
10. Di bagian atas pondasi sumuran ini, dipasang stek besi D13 panjang 50 cm sebanyak 4 buah
untuk mengikat pile cap siatasnya.
11. Semua pekerjaan diatas harus selalu dalam control Konsultan Pengawas dan Direksi
Pekerjaan.

3.9 Pekerjaan Pondasi Strous Pile


3.9.1 Lingkup Pekerjaan
Yang termasuk dalam pekerjaan pondasi ini adalah :
1. Pembuatan pondasi Strous pile sesuai dengan gambar.
2. Pondasi poer dimensi dan penulangannya disesuaikan dengan gambar.

3.9.2 Persyaratan Umum


1. Semua bahan-bahan yang dipergunakan harus memenuhi peraturan- peraturan atau normalisasi-
normalisasi yang berlaku di Indonesia
2. Batu kali/batu pecah yang digunakan dari jenis yang keras, tidak berpori, tidak berkulit dengan
minimal tiga (3) muka pecahan.
3. Pasir untuk bahan adukan adalah pasir beton.

3.9.3 Persyaratan pelaksanaan pekerjaan


1. Penggalian
a. Penyedia barang dan jasa harus melakukan pengukuran untuk menetapkan lokasi dan elevasi
lubang-lubang pondasi sesui dengan gambar kerja, hasil pengukuran harus disetujui oleh
Pengawas sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.
b. Pergeseran as pondasi yang direncanakan maksimum 5 cm ke segala arah. Dasar pondasi
harus horisontal. Deviasi maksimum 5 cm.
c. Penggalian lubang pondasi harus dikerjakan secara terus menerus sampai mencapai elevasi
yang dipersyaratkan dan harus mendapat persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh
Konsultan Pengawas.

57
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Material lepas dan lumpur harus dibersihkan dan dalam lubang pondasi lubang harus bersih
setiap saat.

2. Pengendalian mutu pondasi strous pile


Kondisi tanah
Pengendalian mutu pondasi strous pile harus dimulai dengan pengetahuan kontraktor yang
cukup baik mengenai tanah di mana konstruksi hendak dilaksanakan. Kondisi tanah mudah
longsor seperti adanya pasir lepas atau medium mengharuskan kontraktor untuk memobilisasi
peralatan ekstra. Penyimpangan yang jauh dari kondisi tanah yang diharapkan harus dilaporkan
oleh Konsultan Pengawas, karena berarti dapat saja terjadi perbedaan dalam daya dukung tanah
yang dapat mempengaruhi kinerja pondasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Konsultan
Pengawas dan khususnya kontraktor adalah :
a) Adanya lapisan tanah pasir di bawah muka air tanah.
b) Adanya kerikil dan boulder
c) Muka air tanah.

3. Pengendalian galian strous pile


Konsultan Pengawas mutu yang diperlukan untuk lubang galian adalah pemeriksaan alignment
yang terakhir, jenis tanah yang diperoleh dan pembersihan dasar strous pile. Konsultan
Pengawas wajib mengadakan klarifikasi keadaan lapangan dalam bentuk format pemeriksaan
tersendiri dan harus dilaporkan dalam forum rapat pengendalian dan koordinasi proyek

4. Pemeriksaan mutu beton


a) Beton untuk pondasi strous pile harus menggunakan campuran dengan nilai slump tertentu.
Campuran yang terlalu kental akan mengakibatkan penggumpalan dan dapat membentuk
lubang sehingga daya dukung pondasi berkurang.
b) Pengisi pondasi strous pile menggunakan campuran mutu beton K-250.

5. Penggalian strous pile


a) Penyedia barang dan jasa harus melakukan pengukuran untuk menentukan lokasi dan
elevasi lubang strous pile sesuai dengan gambar kerja, hasil pengukuran ini harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
b) Penyedia barang dan jasa harus melakukan penggalian dengan alat berat. Penggalian secara
terus menerus sampai mencapai lapisan tanah yang dipersyaratkan oleh Perencana yang
sesuai dengan hasil penyelidikan tanah. Penghentian penggalian harus mendapat persetujuan
tertulis dan ditandatangi oleh Konsultan Pengawas.
c) Penyedia barang dan jasa diwajibkan menjaga dinding strous pile dari kelongsoran selama
pekerjaan Penyedia barang dan jasa berlangsung. Penggalian harus menggunakan casing

58
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
dengan diameter sesuai dengan diameter pondasi strous pile. Casing diambil kembali ketika
pengecoran pondasi strous pile sudah selesai, dan campuran beton masih dalam keadaan
basah. Segala akibat kelongsoran dinding lubang strous pile menjadi tanggungjawab
Penyedia barang dan jasa sepenuhnya.
d) Penyedia barang dan jasa harus menjaga agar lubang strous pile yang terjadi harus tegak
lurus vertikal, pergeseran titik pusat strous pile dari yang direncanakan maksimum 5 cm
sebagai arah deviasi terhadap ketegak lurusan maksimum 2 cm pada kedalaman 3 m pertama
dan selanjutnya maksimum 1 cm tiap tambahan kedalaman 3 m.
e) Besar diameter dan kebersihannya akan diperiksa oleh Konsultan Pengawas. Bila syarat-
syarat tersebut sudah terpenuhi, maka ijin tertulis untuk pengecoran dapat diberikan oleh
Konsultan Pengawas.
f) Dasar pondasi strous pile yang direncanakan terletak pada elevasi yang disesuaikan dengan
tipe pondasi. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kegagalan geser tanah. Penyedia barang
dan jasa harus melakukan pemeriksanaan terhadap contoh galian tanah dari hasil penggalian
untuk mengontrol kondisi leyer tanah.

6. Persyaratan-persyaratan pekerjaan poer dan plat


a) Semua pekerjaan beton tumbuk antara lain untuk lantai kerja.
b) Semua pekerjaan beton bertulang yang menurut sifat konstruksinya merupakan struktur
utama antara lain: poer, plat, dan tie beam.
c) Semua pekerjan yang dilakukan sebelum, selama dan sesudah penggalian yaitu pekerjaan:
- pembuatan cetakan,
- persiapan dan pemasangan penulangan/stek-stek
- pengecoran
- pemeliharaan & pembukaan cetakan

7. Pengecoran
a) Pengecoran baru boleh dimulai setelah ada persetujuan tertulis dan ditandatangani oleh
Konsultan Pengawas.
b) Campuran beton harus diaduk dengan mesin pengaduk (beton mollen) sekurangkurangnya 5
menit setelah semua bahan-bahan dimasukkan ke dalam drum pengaduk. Setelah
pengadukan selesai, adukan beton harus memperlihatkan susunan dan warna seragam.
c) Perbandingan campuran harus sesuai dengan yang diperlukan untuk menghasilkan mutu
beton yang dipersyaratkan.
d) Angka dalam perbandingan adukan menyatakan takaran dalam isi yang ditakar dalam
keadaan kering tanpa digetarkan.

59
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e) Kapasitas mesin pengaduk dan material yang tersedia di lokasi pekerjaan harus cukup untuk
dapat melaksanakan pengecoran terus menerus untuk satu lubang pondasi.
f) Penuangan adukan beton ke dalam lubang, di mana terdapat muka air tanah yang cukup
tinggi, maka air tersebut harus dipompa keluar hingga kering. Setelah itu dilakukan
pengecoran melalui corong (tremie pipe) secara terus menerus sambil menjaga agar ujung
corong selalu berada di dalam beton.
g) Campuran beton selalu dibuat untuk memenuhi sifat-sifat yang minimum compressive
strngth dari mutu beton (untuk pondasi strous pile) = K-250.
h) Penyedia barang dan jasa harus selalu menjaga agar pengecoran dapat dilakukan terus
menerus dan mengisi seluruh rongga yang ada dengan padat sehingga menjamin keutuhan
bentuk dari pondasi strous pile tersebut.
i) Persyaratan-persyaratan lainnya untuk penggalian harus mengikuti persyaratan pengecoran.

8. Baja Tulangan
a) Mutu baja yang digunakan adalah fy 390 mpa untuk diameter > 13 mm dan fy 240 untuk
diameter < 13mm.
b) Untuk setiap pengiriman baja dilakukan pengujian diameter dan mutu dengan hasil yang
ditandatangani oleh Konsultan Pengawas sebagai dasar penerimaan material.
c) Pemasangan dan pengikatan dari baja dilakukan pada keadaan normal.
d) Pemotongan dan pengikatan sesuai dengan kondisi yang ada pada gambar.
e) Penyedia barang dan jasa harus membuat detail shop drawing dengan skala untuk disetujui
oleh Konsultan Pengawas dalam pelaksanaannya.
f) Semua baja pada pekerjaan beton ini permukaannya harus bersih dari larutan-larutan, bahan-
bahan atau material yang dapat memberikan akibat pengurangan ikatan antara beton dan
baja.
g) Tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga selama dan sebelum pengecoran
tulangan baja tidak berubah tempat.
h) Penahan-penahan jarak pembentuk balok-balok persegi atau gelang- gelang untuk menjaga
ketebalan tebal penutup (selimut) beton harus dipasang sebanyak minimum 4 buah tiap m2
cetakan atau lantai kerja.
i) Jumlah luas, jenis/tipe maupun mutu dari baja tulangan harus sesuai dengan gambar rencana.

9. Penyelesaian.
a) Penyedia barang dan jasa harus membersihkan kembali daerah yang telah selesai dikerjakan
terhadap segala kotoran, sampah bekas adukan, bobokan, tulangan dan lain-lain.

60
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b) Kelebihan tanah bekas galian pondasi dan bobokan maupun material yang tidak diperlukan
lagi harus dibawa ke luar proyek atau ke tempat lain dengan persetujuan Konsultan
Pengawas.
c) Penyedia barang dan jasa harus tetap menjamin susunan tanah pada daerah sekitar pondasi
terhadap kepadatannya maupun terhadap peil semula.
d) Pada pelaksanaan pembersihan, Penyedia barang dan jasa harus berhati-hati untuk tidak
mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau tanda-tanda lainnya

3.10 Pekerjaan Jalan Operasional dan Saluran Drainase


3.10.1 Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan meliputi :
a. Optimalisasi jalan masuk ke area IPLT
b. Pembangunan jalan operasional dalam kawasan area IPLT
c. Pembangunan saluran drainase kawasan

3.10.2 Umum
Pekerjaan yang meliputi:
a. Prosedur galian;
b. Bahan-bahan;
c. Penempatan dan pemadatan timbunan;
d. Jaminan kualitas;
e. Prosedur pengerjaan;
f. Subbase;
g. Base;
h. Pekerjaan pelebaran badan jalan masuk (konstruksi beton K-250);
i. Pekerjaan perkerasan jalan operasional (konstruksi beton K-350);
j. Pekerjaan perkerasan jalan masuk (konstruksi perkerasan aspal);
k. Saluran drainase.

3.10.3 Prosedur Galian


Galian memiliki prosedur yang harus dilakukan, yaitu:
a. Galian harus dilaksanakan sampai kelandaian, garis dan ketinggian yang ditentukan dalam
gambar atau diperintahkan oleh direksi dan harus meliputi pembuangan semua bahan-bahan
yang ditemukan, termasuk tanah, batuan, batu bata, batu beton, pasangan batu dan bahan-bahan
perkerasan jalan lama.

61
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan yang seminimal mungkin hadap bahan-
bahan di bawah dan diluar batas galian.
c. Apabila batuan, lapisan keras atau bahan-bahan keras lainnya ditemukan pada jalur selokan atau
pada ketinggian tanah dasar untuk perkerasan dan bahu jalan, atau pada dasar parit pipa atau
galian pondasi struktur maka bahan-bahan tersebut harus digali lebih dari 150 mm sampai suatu
permukaan yang rata halus dan mantap. Tidak boleh ada tonjolan batuan ditinggalkan dari
permukaan yang terbuka dan semua pecahan batu yang berdiameter lebih besar dari 150 mm
harus dibuang. Profil galian yang ditentukan harus dicapai dengan bahan-bahan urugan kembali
yang dipadatkan dan disetujui oleh direksi.
d. Peledakan tidak boleh digunakan untuk pekerjaan galian.
e. Galian batuan dilaksanakan sampai kedalaman sesuai perencanaan yang dinyatakan pada
gambar kerja atau yang ditetapkan oleh direksi. Permukaan harus datar, dengan 50 mm
maksimum gelombang permukaan. Batuan lepas dengan ukuran lebih dari 150 mm harus
disingkirkan.
f. Permukaan dasar batuan harus dibersihkan menggunakan kompresor air bertekanan tinggi.
g. Jika diperlukan, kontraktor harus memasang landasan beton tanpa tulang belulang sebelum
pekerjaan beton struktur.
h. Parit atau pipa, gorong kecil dan saluran beton, pasangan batu atau pasangan batu adukan encer
harus berukuran cukup untuk memungkinkan pemasangan yang layak dari bahan-bahan,
pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah dan disekeliling pekerjaan
yang ditempatkan.
i. Jika gorong-gorong atau parit lainnya digali pada embankmen baru, embankmen harus
dibangun sampai tinggi permukaan yang disyaratkan dengan suatu jarak pada masing-masing
sisi lokasi parit tidak kurang dari 5 kali ukuran lebar parit, dan setelahnya parit digali dengan
sisi-sisi hampir vertikal sebagaimana kondisi tanah mengijinkan.
j. Setiap pemompaan dari galian harus dikerjakan denngan cara yang cermat untuk menghindari
kemungkinan setiap bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan dapat terbawa
keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan selama penempatan beton atau suatu perioda
sekurang-kurangnya 24 jam sesudahnya, harus dilaksanakan dari suatu bak yang tepat, dan
terletak diluar acuan beton, dan aliran air yang dipompa masuk ke dalam sistim drainasi yang
telah ditetapkan.

3.10.4 Bahan-Bahan
Beberapa hal yang terkait bahan-bahan adalah sebagai berikut:
a. Sumber bahan-bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetujui direksi.

62
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Timbunan biasa
1. Timbunan yang digolongkan sebagai timbunan biasa akan terdiri dari tanah atau bahan-
bahan batuan yang disetujui oleh direksi.
2. Bahan-bahan juga akan diseleksi sejauh mingkin, tidak termasuk penggunaan tanah liat yang
sangat plastis, diklasifikasikan sebagai A-7-6 oleh AASHTO M 145 atau sebagian CH pada
Unified or Cassagrande Siol Classification System. Dimana penggunaan tanah-tanah yang
plastis berkadar tinggi tidak dapat dihindari secara layak, maka bahan-bahan tersebut hanya
kan digunakan dibagian dasar timbunan atau dalam urugan kembali yang tidak memerlukan
daya dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tidak ada tanah plastis berkadar tinggi yang
akan digunakan sama sekali pada lapisan bahan-bahan 400 mm di bawah setiap tanah dasar
perkerasan atau bahu jalan. Sebagai tambahan, maka timbunan dalam daerah ini bilamana
diuji sesuai dengan AASHTO T-193 harus mempunyai suatu nilai CBR tidak kurang dari 6%
setelah terendam empat hari bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum
sebagaimana ditentukan sesuai AASHTO T-99.
3. Bila digunakan situasi pemadatan dengan kondisi jenuh atau banjir tidak dapt dihindari,
maka timbunan dengan bahan-bahan terpilih harus terdiri dari pasir atu kerikil atau bahan-
bahan butiran bersih lainnya dengan suatu Indeks Plastisitas maksimum 6%.
4. Bila digunakan pada pekerjaan stabilisasi timbunan atau lereng atau dalam situasi lainnya
dimana kekuatan geser adalah penting, tetapi berlaku kondisi pemadatan normal, maka
timbunan dengan bahan-bahan terpilih dapat merupakan timbunan batuan atau kerikil
berlempung yang bergradasi baik atau tanah liat berpasir atau tanah liat yang memiliki
plastisitas rendah. Jenis bahan-bahan yang terpilih dan disetujui oleh direksi akan bergantung
pada kecuraman dari lereng yang akan dibangun atau ditimbun atau pada tekanan tanah yang
harus dipikul.

3.10.5 Penempatan dan Pemadatan Timbunan


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penempatan dan pemadatan timbulan
diantaranya adalah:
a. Penempatan Timbunan
1. Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang dipersiapkan dan disebarkan merata
serta bila dipadatkan akan memenuhi toleransi ketebalan lapisan tertentu.
2. Timbunan tanah harus dipindahkan segera dari daerah galian ke permukaan yang
dipersiapkan dalam keadaan cuaca kering. Penumpukan tanah timbunan tidak akan diizinkan
selama musim hujan, dan pada waktu lainnya hanya dengan izin tertulis dari Direksi
3. Dalam penempatan timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan-bahan drainase
porous lainnya, maka harus diperhatikan untuk menghindari pencampuran adukan dari kedua

63
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
bahan-bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal, maka suatu pemisah yang
luas antara kedua bahan-bahan tersebut harus dijamin dengan menggunakan acuan sementara
dari lembaran baja tipis yang secara bertahap akan ditarik sewaktu penempatan timbunan
dan bahan drainase porous dilaksanakan.
4. Penimbunan kembali di atas pipa atau di belakang struktur harus sesuai dengan galian dan
urugan kembali untuk struktur.
5. Dimana timbunan akan diperlebar, maka lereng timbunan yang ada harus dipersiapkan
dengan mengeluarkan semua tumbuh-tumbuhan permukaan dan harus dibuat terasering
sebagaimana diperlukan sehingga timbunan yang baru terikat pada timbunan yang ada
hingga memuaskan direksi. Timbunan yang diperlebar kemudian harus dibangun dalam
lapisan horizontal sampai pada ketinggian tanah dasar. Tanah dasar harus ditutup dengan
sepraktis dan secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah sampai ketinggian permukaan
jalan yang ada untuk mencegah pengeringan dan kemungkinan peretakan permukaan.
6. Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh rumput dan tumbuh-tumbuhan harus
dibuang dari permukaan atas di mana timbunan tersebut ditempatkan dan permukaan yang
sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan atau pengupasan selajutnya akan
dipadatkan kembali, sesuai dengan jenis pemadatan yang ditentukan untuk timbunan jalan
raya selanjutnya. Jika permukaan asli di atas mana timbunan yang akan ditempatkan adalah
jalan lama, permukaan tersebut harus dibajak, dikupas, atau dihancurkan tanpa
menghiraukan tinggi dari timbunan yang kan ditempatkan. Dalam tiap-tiap kasus tidak ada
pembayaran terpisah yang akan dilakukan untuk pekerjaan ini sebagaimana hal tersebut
dipertimbangkan sebagai tambahan pada item lain-lain di dalam bill of quantities.
b. Pemadatan
1. Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan maka setiap lapisan harus
dipadatkan secara menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan layak serta disetujui
oleh direksi sampai suatu kepadatan yang memenuhi persyaratan.
2. Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan hanya bila kadar air bahan-bahan berada dalam
batas antara 3% kurang daripada kadar air optimum sampai 1% lebih daripada kadar air
optimum. Kadar air optimum tersebut harus ditentukan sebagai kadar air dimana kepadatan
kering maksimum diperoleh bila tanah tersebut dipadat sesuai dengan AASTHO T99.
3. Semua timbunan batuan harus ditutup degan sebuah lapisan atau lapisan dengan tebal 200
mm dari bahan-bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak lebih besar dari 50
mm dan mampu mengisi semua sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan penutup ini
harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk timbunan tanah.

64
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4. Setiap lapisan timbunan yang ditempatkan harus dipadatkan sebagaimana ditentukan, diuji
untuk kepadatan diterima oleh direksi, sebelum lapisan berikut ditempatkan.
5. Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan ke arah sumbu jalan
dengan suatu cara yang sedemikian sehingga setiap bagian menerima jumlah pemadatan
yang sama. Dimana mungkin lalu lintas alat konstruksi harus dilewatkan di atas pekerjaan
timbunan dan jalur yang digunakan diubah secara terus menerus untuk menyebar pengaruh
pemadatan dari lalu-lintas.
6. Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimasuki oleh alat pemadat yang biasa, harus
ditempatkan dalam lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih dari 150 mm tebal
dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat tangan mekanis (mechanical
temper) yang disetujui. Perhatian khusus harus diberikan guna menjamin pemadatan yang
memuaskan di bawah dan di tepi pipa untuk menghindari rongga-rongga dan guna menjamin
bahwa pipa ditunjang sepenuhnya.
c. Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan Tanah
1. Lapisan yang lebih dari 300 mm di bawah ketinggian tanah dasar harus dipadatkan sampai
95% dari standar maksimum kepadatan kering yang ditentukan sesuai AASTHO T99. Untuk
tanah yang mengandung lebih dari 10% bahan-bahan yang tertahan pada ayakan 3/4 inch,
kepadatan kering maksimum yang dipadatkan harus disesuaikan untuk bahan-bahan yang
berukuran lebih besar sebagaimana diarahkan oleh direksi.
2. Lapisan 300 mm atau kurang di bawah ketinggian tanah harus dipadatkan sampai 100% dari
kepadatan kering maksimum yang ditentukan AASTHO T99.
3. Pengujian kepadatan harus dibuat setiap lapisan timbunan yang dipadatkan sesuai dengan
AASTHO T191 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan bahwa kepadatan kurang
daripada kepadatan yang disyaratkan maka kontraktor harus membetulkan pekerjaan tersebut
sesuai dengan ketentuan di atas. Pengujian harus dibuat sampai kedalaman lapisan
sepenuhnya pada lokasi yang diarahkan oleh direksi, tetapi satu dengan yang lainnya tidak
terpisah lebih 50 cm. Untuk urugan kembali disekeliling struktur atau pada parit gorong-
gorong, sekurang-kurangnya satu pengujian untuk satu lapisan urugan kembali yang
ditempatkan harus dilaksanakan. Pada timbunan, sekurang-kurangnya satu pengujian harus
dilaksanakan pada setiap 150 meter kubik timbunan yang ditempatkan.
4. Kriteria untuk timbunan batuan
a) Penampatan dan pemadatan timbunan batuan harus dilaksanakan dengan menggunakan
mesin gilas atau mesin pemadat bergetar atau sebuah traktor beroda rantai yang berbobot
sekurang-kurangnya 20 ton atau peralatan konstrukasi berat yang serupa. Pemadatan
harus dikerjakan dalam arah memanjang sepanjang timbunan, dimulai dari tepi luar dan

65
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
dilanjutkan menuju ke arah sumbu, dan harus diteruskan sampai tak ada gerakan yang
nampak di bawah peralatan tersebut. Setiap lapisan harus terdiri dari batuan bergradasi
yang cukup baik dan semua rongga permukaan harus terisi dengan pecahan kecil sebelum
lapisan berikutnya ditempatkan.
b) Batuan tidak boleh digunakan pada 150 mm lapisan atas timbunan dan tidak ada batu
dengan suatu ukuran melebihi 100 mm boleh dimasukkan ke dalam lapisan atas ini.
5. Percobaan pemadatan
a) Kontraktor harus bertanggungjawab untuk pemilihan peralatan dan metoda untuk
mencapai kepadatan yang diisyaratkan, maka pemadatan berikutnya harus menyusul.
b) Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan jumlah lintasan alat pemadat dan
kadar air harus diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan tercapai sehingga
memuaskan direksi. Hasil percobaan lapangan ini kemudian harus digunakan untuk
menentukan jumlah lintasan yang diisyaratkan, jenis alat pemadat dan kadar air untuk
semua pemadatan yang selanjutnya.

3.10.6 Prosedur Pengerjaan


Prosedur pengerjaan untuk berbagai jenis pekerjaan dijelaskan sebagai berikut:
a. Galian untuk struktur
1. Parit untuk struktur dan telapak struktural digali menurut garis, kelandaian dan ketinggian
yang terlihat pada gambar atau sebagaimana diarahkan oleh direksi. Ketinggian dasar telapak
yang terlihat pada gambar adalah hanya perkiraan saja dan direksi boleh menginstruksikan
perubahan pada ukuran atau ketinggian telapak sebagaimana dianggap perlu untuk menjamin
hasil yang memuaskan. Batu besar bulat, balok kayu dan bahan-bahan lain yang di bawah
dan di sekitar pekerjaan yang ditempatkan.
2. Parit harus berukuran cukup untuk memungkinkan pemasangan bahan-bahan yang layak,
pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah dan di sekitar pekerjaan
yang ditempatkan.
3. Bila gorong-gorong atau parit lainnya akan digali ada timbunan baru, maka timbunan
tersebut harus dibangun hingga setinggi permukaan yang diperlukan suatu jarak sisi lokasi
parit tidak kurang 5 kali ukuran lebar parit tersebut, sesudah itu parit tersebut akan digali
dengan sisi-sisi yang vertikal sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.
4. Setiap pemompaan galian harus dikerjakan dengan cara tertentu untuk menghindari
kemungkinan setiap bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan terbawa keluar.
Setiap pemompaan yang diperlukan selama penempatan beton, atau untuk suatu periode
sekurang-kurangnya 24 jam setelah itu, harus dikerjakan dari tempat penampungan air yang
terletak di bagian luar acuan beton.

66
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Urugan kembali pada standar
1. Daerah yang digali disekitar struktur harus diurug kembali dengan bahan-bahan yang
disetujui dalam pelapisan horisontal dengan kedalaman tidak lebih dari 150mm sampai
setinggi permukaan tanah asal atau setinggi permukaan tanah dasar dan dipilih yang lebih
rendah. Setiap lapisan harus dibasahi atau dikeringkan sampai kadar air optimum
sebagimana diisyartkan dan dipadatkan seluruhnya. Urugan kembali yang membentuk
bagian timbunan harus dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering maksimum yang
ditentukan sesuatu dengan AASTHO T99. Urugan kembali di luar daerah jalan dan
timbunan harus dipadatkan sampai suatu kepadatan sekurang-kurangnya setinggi bahan-
bahan yang berdampingan dan tak terganggu.
c. Pengendalian lalu lintas
1. Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan persyaratan pengaturan dan pengendalian lalu
lintas.
2. Kontraktor harus bertanggungjawab untuk semua akibat dari lalu lintas yang diizinkan
melewati tanah dasar. Semua lalu lintas selain mesin-mesin konstruksi yang langsung
terlibat dalam penempatan lapisan di atasnya harus dicegah melewati tanah dasar setelah
penyelesaian dan penerimaan.
d. Bahan-bahan
Tanah dasar dibentuk pada timbunan biasa, timbunan dengan bahan-bahan terpilih, agregat
lapisan pondasi atau drainase porous, atau pada tanah asli dengan merapikan atau memotong
dengan menggunakan galian biasa atau galian batuan. Bahan-bahan yang akan digunakan pada
setiap contoh harus sebagaimana diarahkan oleh direksi. Sifat bahan-bahan untuk digunakan
dalam pembentukan tanah dasar harus sesuai dengan sifat bahan-bahan khusus yang sedang
digunakan sebagaimana diberikan di bagian lain dalam spesifikasi ini.
e. Pemadatan tanah dasar
Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang relevan dari spesifikasi ini.
Persyaratan pemadatan dan persyaratan jamian kualitas untuk tanah dasar harus sesuai dengan
ketentuan spesifikasi ini

3.10.7 Lapisan Pondasi (Agregat Kelas A)


a. Umum
1. Uraian
Pekerjaan ini harus meliputi pengadaan, pemrosesan, pengangkutan, penghamparan,
pembasahan dan pemadatan agregat (batu pecah) yang telah digradasi di atas permukaan
yang telah disiapkan dan telah diterima sesuai dengan perincian yang telah ditunjukkan
dalam Gambar atau sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas, dan

67
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
memelihara lapis pondasi yang telah selesai sesuai dengan yang disyaratkan. Pemrosesan
harus meliputi, bila perlu pemecahan, pengayakan, pemisahan, pencampuran dan operasi lain
yang perlu untuk menghasilkan suatu bahan yang memenuhi persyaratan dari spesifikasi ini.
Tebal dari Lapisan Pondasi Atas (Agregat Kelas A) adalah 20 cm.
2. Toleransi dimensi
a) Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan gambar rencana. Nilai toleransi ini
ditampilkan dalam Tabel III.12.

TABEL III. 6
TOLERANSI TINGGI PERMUKAAN
Material dan Lapis Pondasi Agregat Toleransi Tinggi
Permukaan
Permukaan-permukaan agregat Kelas A untuk Lapis + 1 cm
Resap Pengikat atau Pelaburan (Perkerasan atau Bahu) - 1 cm

b) Pemukaan-permukaan lapis pondasi agregat dari semua konstruksi tidak boleh ada yang
tidak rata yang dapat menampung air dan semua punggung permukaan-permukaan itu
harus sesuai dengan yang tercantum di Gambar rencana
c) Tebal total untuk lapis Pondasi Agregat tidak boleh kurang dari tebal yang disyaratkan
kurang satu sentimeter.
d) Untuk permukaan lapis Pondasi Agregat Kelas A untuk lapisan resap pengikat atau
pelaburan permukaan, apabila semua bahan yang terlepas dibuang dengan penyiakat
keras, deviasi maksimum yang diijinkan untuk kerataan permukaan harus satu sentimeter
dengan mistar penyipat berukuran 3 meter, diletakkan pararel atau melintang as jalan.
3. Standard Rujukan (AASTHO)
T 89 – 69 Penentuan Batas Cair dari tanah
T 90 – 70 Penentuan Batas Plastis dan Indeks Plastisitas tanah
T 96 – 74 Ketahanan terhadap abrasi dari agregat kasar berukuran kecil dengan
menggunakan mesin Los Angeles
T 112 – 78 Bongkahan lempung dan partikel yang dapat hancur dalam agregat
T 180 – 74 Hubungan kepadatan dengan kelembapan dari tanah menggunakan Palu 4,5
kg dan tinggi jatuh 457 mm.
T 191 – 61 Kepadatab tanah ditempat dengan menggunakan metoda kerucut pasir.
T 193 – 72 “The California Bearing Ratio”
4. Pelaporan
a) Kontraktor harus menyerahkan kepada Korwas/Pengawas Lapangan hal-hal sebagai
berikut paling sedikit 15 hari sebelum tanggal yang diusulkan untuk penggunaan yang

68
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
pertama kalinya dari material yang diusulkan untuk digunakan sebagai lapis Pondasi
Agregat:
1) Dua contoh dari masing-masing 50 kg dari bahan, satu ditahan oleh Korwas/Pengawas
Lapangan sebagai rujukan selama masa kontrak.
2) Pernyataan perihal dan komposisi dari bahan yang diusulkan, bersamaan dengan hasil
pengujian laboratorium yang membuktikan bahwa sifat bahan yang ditentukan
terpenuhi.
b) Kontraktor harus mengirim hal berikut dalam bentuk bertulis kepada Korwas/Pengawas
Lapangan segera setelah selesainya bagian dari pekerjaan dan sebelum persetujuan Rapat
diberikan untuk penempatan bahan lain di atas lapis Pondasi Agregat.
5. Pembatasan oleh Cuaca
Lapis Pondasi Agregat tidak boleh dipasang, dihampar, atau dipadatkan sewaktu turun hujan,
dan pemadatan tidak boleh dilakukan setelah hujan.
6. Perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tidak memuaskan
a) Tempat yang permukaannya berkembang menjadi tidak rata baik selama
konstruksi/setelah konstruksi, harus diperbaiki dengan menggarpu permukaan dan
membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan, yang selanjutnya dibentuk
dan dipadatkan kembali.
b) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu kering atau seperti yang diperintahkan
Korwas/Pengawas Lapangan, harus diperbaiki dengan menggaruk bahan tersebut yang
dilanjutkan dengan penyiraman sejumlah air yang cukup dan mencampurnya dengan
baik.
c) Lapis Pondasi Agregat yang terlalu basah untuk pemadatan, atau seperti yang
diperintahkan oleh Korwas/Pengawas Lapangan, harus diperbaiki dengan menggaruk
bahan tersebut yang dilanjutkan dengan pengerjaan berulang-ulang peralatan yang
disetujui dengan selang waktu istirahat dalam cuaca kering. Cara lain bila pengeringan
yang memadai tidak dapat diperoleh dengan cara tersebut di atas, Korwas/Pengawas
Lapangan dapat memerintah bahan tersebut, dibuang dan diganti seperti bahan kering
yang memenuhi.
d) Perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tidak memenuhi kepadatan atau sifat bahan
yang dibutuhkan dalam Spesifikasi ini harus seperti yang diperintahkan oleh
Korwas/Pengawas Lapangan dan dapat meliputi pemadatan tambahan, penggarukan yang
dilanjutkan oleh pengaturan kadar air dan pemadatan kembali, pemindahan dan
penggantian bahan, atau menambah tebal bahan itu.
7. Pengembalian bentuk menyusul pengujian

69
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Seluruh lubang pada pekerjaan yang telah selesai yang diakibatkan oleh pengujian kepadatan
atau yang lainnya harus segera diurug kembali dengan bahan Lapis Pondasi Agregat oleh
Kontraktor setelah diperiksa Korwas/Pengawas Lapangan dan dipadatkan sehingga
persyaratan kepadatan dan toleransi permukaan memenuhi Spesifiaksi ini.
8. Pengendalian Lalu Lintas
Pengendalian lalu lintas harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu pemakai jalan.
b. Material
1. Sumber Material
Material Lapis Pondasi harus dipilih dari sumber yang disetujui Direksi Pekerjaan.
2. Kelas Lapis Pondasi Agregat
Untuk LPA umumnya kelas Pondasi Lapis Agregat kelas A adalah mutu Lapis Pondasi
untuk permukaan di bawah lapisan bitumen.
3. Fraksi Agregat kasar
Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri partikel yang keras, awet
atau pecahan dari padas atau pecahan dari kerikil. Bahan yang pecah bila berulang-ulang
dibasahi dan dikeringkan harus tidak boleh digunakan.
4. Fraksi Agregat Halus
Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami atau pasir
pecah serta bahan material harus lainnya.
5. Sifat Material yang Disyaratkan
Seluruh Lapis Pondasi Agregat harus bebas dari benda-benda organis dan gumpalan
lempung atau benda yang tidak berguna lainnya dan harus memenuhi kebutuhan gradasi
yang diberikan dalam Tabel III.13 setelah pemadatan dan menggunakan pengujian
pengayakan basah dan sifat yang diberikan dalam III.14

TABEL III. 7
GRADASI LAPIS PONDASI AGREGAT
Macam Ayakan Persen Berat Lolos (%), Agregat
(mm) Kelas A
63 100
37,5 100
19,0 65 – 81
9,5 42 – 60
4,75 27 – 45
2,36 18 – 33
1,18 11 – 25
0,425 6 – 16
0,075 0–8

TABEL III. 8
SIFAT PONDASI AGREGAT

70
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Sifat Kelas A
Abrasi dari agregat kasar (AASTHO T96–74) 0–40%
Indeks Plastisitas (AASTHO T90–70) 0–6%
Hasil kali indeks plastisitas dg persentase lolos 75 micron 25 maks
Batas Cair (AASTHO T89–68) 0–35%
Bagian yang lunak (AASTHO T112–78) 0–5%
CBR (AASTHO T193) 80 min
Rongga dalam Agregat mineral pada kepadatan maksimum 14 min

6. Pencampuran Material Lapis Pondasi Agregat


Pencampuran material untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan harus dikerjakan di unit
pemecah atau unit pencampur yang disetujui, menggunakan pengumpan mekanis yang telah
dikalibrasi dengan aliran menerus dari komponen campuran dengan proporsi yang benar.
Dalam keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.
c. Pemasangan dan Pemadatan Lapis Pondasi Agregat
1. Penyiapan Formasi untuk Lapis Pondasi
a) Apabila Lapis Pondasi akan dipasang perkerasan atau bahu yang ada, semula kerusakan
pada perkerasan atau bahu harus diperbaiki.
b) Apabila Lapis Pondasi akan dipasang pada permukaan tanah dasar atau pondasi bawah
yang ada atau yang baru disiapkan, lapisan harus selesai sepenuhnya.
c) Pada tempat yang telah disediakan untuk pekerjaan bahan Lapis Pondasi Agregat, sesuai
dengan ayat (a) dan (b) di atas, harus disiapkan dan mendapatkan persetujuan dari
Korwas/Pengawas Lapangan untuk sekurang-kurangnya 100 meter ke depan pemasangan
dari pemasangan pondasi. Untuk perbaikan tempat-tempat yang kurang dari 100 meter
panjangnya, seluruhnya formasi itu harus disiapkan dan disetujui sebelum pondasi baru
dipasang.
d) Dimana Lapis Pondasi Agregat dipasang langsung di atas perkerasan jalan aspal yang
ada, maka penggarukan biasanya tak diperlukan atau diperkenankan.
2. Penghamparan
a) Lapis Pondasi Agregat harus dibawa ke tempat pada bahu jalan sebagai campuran yang
merata dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang disyaratkan. Kelembaban
dalam bahan harus tersebar secara merata.
b) Masing-masing lapisan harus dihampar pada satu operasi pada satu tingkat yang merata
yang akan menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi yang disyaratkan.
Bila lebih dari satu lapis akan dipasang, lapis-lapis tersebut harus diusahakan sama
tebalnya.
c) Lapis Pondasi Agregat harus dihampar dan dibentuk dengan salah satu metoda yang
disetujui yang tidak menyebabkan segregasi dari partikel agregat kasar dan partikel

71
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
agregat halus. Material yang disegregasi harus diperbaiki atau dibuang dan diganti
dengan bahan bergradasi baik.
d) Tebal minimum lapis gembur yang untuk setiap lapisan konstruksi harus dua kali lipat
ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal maksimum lapis gembur tidak boleh
melebihi 15 cm, kecuali diperintahan lain oleh Korwas/Pengawas Lapangan.
3. Pemadatan
a) Segera setelah pencampuran dan pembentukan akhir, masing-masing lapis harus
dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadat yang cocok dan memadai yang
disetujui oleh Korwas/Pengawas Lapangan, hingga kepadatan paling sedikit 100% dari
kepadatan kering maksimum “modified” seperti yang ditentukan oleh AASTHO T180,
metode D.
b) Korwas/Pengawas Lapangan boleh memerintahkan bahwa mesin gilas beroda karet
digunakan untuk pemadatan akhir, bila mesin statik beroda baja dianggap mengakibatkan
kerusakan atau degradasi berlebihan dari pondasi agregat.
c) Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3%
kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari kadar air optimum, dimana kadar air
optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum “modified”
yang ditentukan oleh AASTHO T180, metode D.
d) Operasi penggilasan harus dimulai sepanjang tepidan bergerak sedikit demi sedikit ke
arah sumbu jalan, dalam arah memanjang. Pada bagian yang ber“super elevasi”
penggilasan harus dimulai pada bagian rendah dan bergerak sedikit demi sedikit kearah
bagian yang tinggi. Operasi penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas mesin
gilas menjadi tidak tampak dan lapis tersebut terpadatkan merata.
e) Material sepanjang kerb, batu tepi, tembo, dan pada tempat-tempat yang tidak terjangkau
mesin gilas harus dipadatkan dengan tembris mekanis atau pemadat lainnya yang
disetujui.
4. Pengujian
a) Jumlah dari data pendukung pengujian yang diperlukan untuk persetujuan awal dari
bahan akan seperti yang diperintahkan Korwas/Pengawas Lapangan atau paling sedikit
tiga contoh yang mewakili dari sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih untuk
mewakili mutu rentang/sebaran bahan yang cenderung akan diperoleh dari sumber
tersebut.
b) Menyusul persetujaun mutu dari bahan Lapis Pondasi Agregat yang diusulkan, seluruh
rentang pengujian yang dilakukan selanjutnya harus diulang atas pertimbangan

72
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Korwas/Pengawas Lapangan, dalam hal tampak perubahan dalam bahan atau dari
sumbernya, atau dalam metoda produksinya.
c) Kepadatan dan kadar air dari bahan yang dipadatkan harus secara rutin ditentukan,
menggunakan AASTHO T191. Pengujian harus dilakukan sampai kedalaman menyeluruh
dari lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh Korwas/Pengawas Lapangan, tetapi
tidak boleh berselang lebih dari 200 m.
d) Setiap kelipatan volume mencapai 1.000 m³ harus dilaksanakan uji laboratorium untuk
semua jenis agregat yang dikirim.
d. Pengukuran dan Pembayaran
1. Cara Pengukuran
a) Pondasi Agregat harus diukur sebagai jumlah meter kubik dari bahan yang dibutuhkan
dalam keadaan padat, lengkap ditempat dan diterima. Volume yang diukur harus
didasarkan atas penampang melintang yang ditunjukkan pada Gambar bila tebal yang
diperlukan merata dan pada penampang melintang yang disetujui Korwas/Pengawas
Lapangan bila tebal yang diperlukan tidak merata, dan panjangnya diukur secara
mendatar sepanjang sumbu jalan.
b) Pekerjaan penyiapan dan pemeliharaan tanah dasar yang baru atau perkerasan yang ada
dan bahu jalan dimana Lapis Pondasi Agregat harus dipasang tidak diukur atau dibayar
menurut seksi ini, tetapi harus dibayar terpisah dari harga penawaran yang sesuai untuk
penyiapan permukaan jalan dan pengembalian Kondisi Perkerasan atau Bahu yang ada.
2. Pengukuran dari pekerjaan yang diperbaiki
Bila perbaikan dari Lapis Pondasi Agregat yang tidak memuaskan telah diperintahkan oleh
Korwas/Pengawas Lapangan, kuantitas yang akan diukur untuk pembayaran haruslah
kuantitas yang akan dibayar seandainya pekerjaan semula telah diterima. Tidak ada
pembayaran tambahan akan dilakukan untuk pekerjaan extra tersebut atau juga kuantitas
yang diperlukan untuk perbaiakan tersebut. Bila penyesuaian kadar air telah diperintahkan
olehKorwas/Pengawas Lapangan sebelum pemadatan, tidak ada pembayaran tambahan akan
dilakukan untuk penambahan air atau pengeringan bahan atau untuk pekerjaan lainnya yang
diperlukan untuk mendapatkan kadar air yang memuaskan.
3. Dasar Pembayaran
Kwantitas yang ditentukan, sebagaimana diuraikan di atas, harus dibayar pada Harga Satuan
Kontrak per satuan pengukuran untuk masing-masing. Mata Pembayaran yang terdaftar di
bawah ini dan termasuk dalam Daftar Penawaran, yang harganya serta pembayarannya harus
merupakan kompensasi penuh untuk pembuatan, pengadaan, penempatan, pemadatan,
pengadaan lapis permukaan sementara dan pemeliharaan permukaan untuk lalu lintas, dan

73
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
biaya lain yang perlu atau lazim untuk penyelesaian pekerjaan yang benar dari pekerjaan
yang diuraikan dalam Pasal ini.

TABEL III. 9
DASAR PEMBAYARAN LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS A
No. Mata pembayaran Uraian Satuan Pengukuran
2.3.7. Lapis Pondasi Agregat Kelas A Meter kubik

3.10.8 Pekerjaan Perkerasan Optimalisasi Jalan Masuk


Untuk perkerasan pelebaran jalan masuk adalah memakai konstruksi perkerasan aspal (fleksibel),
dengan susunan perkerasan terdiir lapisan AC-BC dengan tebal 6 cm, dan lapisan aus AC-WC
dengan tebal 4 cm. Jalan eksisting dengan lebar rata-rata 3 m, dilebarkan menjadi lebar rata-rata 4
m. Pelebaran memanfaatkan bahu jalan kanan kiri dengan struktur pondasi atas beton K-250,
secara detail susunan konstruksi bisa dilihat pada Gambar Rencana.
Secara lengkap spesifikasi teknis untuk pekerjaan aspal dapat dilihat : Buku Spesifikasi Umum
2018 Untuk pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan, Divisi 6 : Perkerasan Aspal.

3.10.9 Pekerjaan Perkerasan Jalan Operasional


Untuk perkesaran jalan operasional adalah memakai Konstruksi Beton Bertulang dengan mutu
beton f’c 31,2 Mpa atau setara K-350 dengan ketebalan. Untuk persyaratan pekerjaan beton bisa
dilihat di sub bab 3.2.

Pada arah segmen memanjang dipasang dowel bars pada setiap jarak segmen 6 m. Dowel yang
dipakai besi polos dia.28 mm panjang 45 cm. Sedang pada sisi melintang karena lebar jalan
rencana 4 m maka dibuat 1 segmen sehingga tidak membutuhkan tie bars.

GAMBAR 3. 1
DENAH LETAK DOWEL
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

74
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 3. 2
DETAIL DOWER BARS

3.10.10 Saluran Drainase


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait saluran drainase diantaranya adalah:
a. Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari galian dengan kemiringan dan kedudukan seperti yang tercantum pada
Gambar Rencana dan Petunjuk Direksi, urugan pasir urug dan lantai kerja beton K-100.
b. Material
- Untuk saluran keliling bangunan menggunakan saluran beton U-20
- Material saluran drainase kawasan adalah saluran Uditch 30.30 (pabrikasi), Uditch 50.50
(pabrikasi) dengan mutu beton K.350 sesuai Gambar Rencana.
- Material tutup saluran Uditch 30.30 (pabrikasi) dan tutup saluran Uditch 50.50 (pabrikasi)
untuk beban berat dengan mutu beton K.350, lokasi pemasangan menyesuaikan Gambar
Rencana.
c. Pelaksanaan
1. Lubang galian dibuat sesuai dengan bentuk kemiringan dan kedudukan seperti yang
diisyaratkan pada gambar rencana. Apabila dinding-dinding dan dasar lubang galian
tersebut masih dalam keadaan gembur harus dilakukan pemadatan seperlunya agar didapat
suatu permukaan yang stabil dan keras.
2. Setelah dasar galian dipadatkan maka dihamparkan pasir urug setebal 5 cm dan dipadatkan.
Di atas pasir urug dipasang lantai kerja dari Beton K.100 setebal 5 cm.
3. Di atas lantai kerja dipasang Uditch 30.30 (pabrikasi), Uditch 50.50 (pabrikasi)) dengan
mutu beton K.350 sesuai Gambar Rencana.
4. Khusus Boxculvert, setelah dasar galian dipadatkan dihampar urugan sirtu setebal 20 cm
dipadatkan. Di atas urugan sirtu dipasang lantai kerja dari Beton K.100 setebal 10 cm, baru
dipasang Boxculvert 80.100 (pabrikasi), K-350.

75
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.11 Perbaikan Sumur Eksisting
Dalam area IPLT ada sumur eksisting yang selama ini digunakan untuk kebutuhan operasional
IPLT Kabupaten Tegal. Dari hasil pengecekan pada tanggal 14 Desember 2022, dari informasi
petugas yang ada di IPLT disampaikan bahwa sumur eksisting masih berfungsi.

3.11.1 Lingkup Pekerjaan


Untuk mengoptimalkan sumur eksisting yang ada, ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan,
yaitu :
1. Menambah kedalaman sumur eksisting minimal 2 m
2. Membersihkan dalam sumur dari semua kotoran baik lumpur, sampah, lumut, dan lain-lain.
3. Melakukan pengecekan debit yang keluar

3.11.2 Pelaksanaan
1. Kedalaman sumur yang ada ditambah minimal 2 m atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan
2. Galian dilakukan dengan manual
3. Kontraktor harus berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan galian
4. Setelah galian sudah mencapai 2 m atau sesuai arahan Direksi Pekerjaan dinyatakan cukup,
dilanjut dengan pekerjaan membersihkan dalam sumur dari semua kotoran baik lumpur,
sampah, lumut, dan lain-lain.
5. Setelah sumur bersih dari semua kotoran dilanjut dengan pekerjaan pengurasan.
6. Kontraktor wajib memasang instalasi perpipaan dari sumur ke ground reservoar.
7. Pekerjaan dianggap selesai setelah dilakukan pengetesan dengan menyedot air dalam sumur dan
dimasukkan ke dalam ground reservoar. Apabila ground reservoar penuh dan air dalam sumur
tidak habis maka pekerjaan dinyatakan berhasil berdasarkan persetujuan Direksi Pekerjaan.

3.11.3 Pembayaran
Kontraktor akan dibayar setelah test yang dilaksanakan sesuai poin 7 diatas dinyatakan berhasil
oleh Direksi Pekerjaan.

76
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
BAGIAN 4
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN ARSITEKTUR

3.12 Umum
Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi persyaratan -
persyaratan teknis dalam persyaratan Persyaratan Normalisasi Indonesia (NI), Standar Industri
Indonesia (SSI) dan Peraturan - Peraturan Nasional maupun Peraturan - peraturan setempat lainnya
yang berlaku alas jenis - jenis pekerjaan yang bersangkutan antara lain
a. NI – 2 (1971) : Peraturan Beton Bertulang Indonesia
b. NI – 3 (1970) : Peraturan Umum Untuk Bahan Bangunan Indonesia
c. NI – 8 (1971) : Peraturan Semen Portland Indonesia
d. NI – 2 (1961) : Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia
Untuk pekerjaan yang belum terrnasuk dalam standar-standar diatas, maka diberlakukan
Standar-standar Nasional ataupun Internasional yang berlaku atas pekerjaan-pekerjaan tersebut atau
setidak-tidaknya berlaku standar-standar Persyaratan Teknis dari negara-negara asal
bahan/pekerjaan yang bersangkutan.
Kecuali ditentukan lain, maka nama-nama atau merek -merek dagang dari bahan yang
disebutkan dalam Persyaratan teknis ini ditujukan untuk maksud-maksud perbandingan terutama
dalam hal mutu, model, bentuk, jenis dan sebagainya. Pemborong boleh mengusulkan merek-
merek dagang lainnya yang setaraf dalam mutu, model, bentuk, jenis dan sebagainya setelah
mendapat persetujuan pengawas.
Bilamana pemborong mengusulkan bahan dengan merek lain, maka diusulkan adalah
setaraf atau lebih baik, melalui data teknis bahan, pengujian bahan dari Lembaga Pengujian Bahan
yang disetujui Pengawas, referensi, dan lain–lain yang dapat meyakinkan Pengawas. Dalam hal
dimana disebutkan 1 (satu) merek dagang atau lebih untuk jenis bahan/pekerjaan yang sama, maka
pemborong diharuskan untuk dapat menyediakan salah satu dari padanya sesuai dengan
Persetujuan Pengawas.

3.13 Pekerjaan Adukan dan Campuran


3.13.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
a. Pekerjaan adukan pasangan batu kali.
b. Pekerjaan adukan pasangan batu bata.
c. Pekerjaan adukan lain seperti tercantum dalam gambar kerja.

77
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3.13.2 Persyaratan Bahan


a. Semen Portland
Sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Buku Spesifikasi Teknis Struktur.

b. Pasir
Pasir yang digunakan adalah jenis pasir pasang dengan butir-butir yang tajam, bersih dari tanah
dan lumpur, dan tidak mengandung bahan-bahan organis.

c. Air
Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, garam, bahan organik dan
kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak.

3.13.3 Persyaratan Pelaksanaan


a. Campuran adukan yang dimaksud adalah campuran dalam volume. Cara pembuatannya
menggunakan mixer selama 3 (tiga) menit.
b. Jenis adukan
1. Adukan biasa adalah campuran 1pc: 4ps dan 1pc: 5ps.
Adukan ini untuk pasangan batu bata dan batu tempel serta untuk menutup semua
permukaan dinding pasangan bagian dalam bangunan, yang dinyatakan tidak kedap air
seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
2. Adukan kedap air adalah campuran 1pc : 3ps.
Adukan plesteran ini untuk:
- Menutup semua permukaan dinding pasangan pada bagian luar/tepi luar bangunan.
- Semua bagian dan keseluruhan permukaan dinding pasangan yang disyaratkan harus
kedap air seperti tercantum dalam Gambar Kerja hingga ketinggian 150 cm dari
permukaan lantai.
- Semua pasangan bata di bawah permukaan tanah hingga ketinggian sampai 20 cm dari
permukaan lantai, kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
c. Semua jenis adukan tersebut di atas harus disiapkan sedemikian rupa sehingga selalu dalam
keadaan masih segar dan belum mengering pada waktu pelaksanaan pemasangan.
d. Kontraktor harus mengusahakan agar tenggang waktu antara waktu pencampuran adukan
dengan pemasangan tidak melebihi 30 menit, terutama untuk adukan kedap air.

3.14 Pekerjaan Pondasi Batu Kali


3.14.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pasangan batu kosong/aanstamping dibawah pondasi batu kali

78
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Pasangan Batu belah 1 Pc : 5 Ps

3.14.2 Bahan
a. Batu yang digunakan adalah batu yang berwarna hitam/abu-abu, tidak berupa batu glondong,
bersisi pecahan minimum 3 (tiga) sisi.
b. Setiap batu yang digunakan harus berukuran antara  10 cm sampai  30 cm atau dengan
berat 6 kg s/d 20 kg, akan tetapi batu yang lebih kecil dapat dipakai atas persetujuan Direksi,
ukuran maksimum batu harus memperhatikan tebal pondasi, harus pula memperhatikan
batasan seperti tercantum di atas.

3.14.3 Uraian Pelaksanaan


Semua pekerjaan pasangan pondasi baru boleh dikerjakan atau dimulai apabila galiannya
telah diperiksa dan disetujui ukurannya/kedalamannya serta kedudukan as-asnya oleh Direksi.
a. Alas dan Sambungan
1. Sebelum dipasang setiap batu untuk pasangan harus dibasahi lebih dahulu dan dipasang
dengan alasnya tegak lurus kepada arah tegangan pokok.
2. Setiap pasangan batu harus diberi alas adukan, semua sambungan diisi padat dengan adukan
pada waktu pekerjaan berlangsung. Tebal adukan tidak lebih dari 50 mm, serta tidak boleh
ada batu yang berhimpit satu sama lain.
3. Semua pekerjaan batu pada permukaan yang kelihatan harus disiar.
4. Batu-batu harus dipilih dan diletakkan dengan hati-hati sehingga tebalnya adukan tidak
kurang dari 10 mm.
5. Tidak diperkenankan pemasangan batu yang menempatkan seluruh batu pada kedudukannya
baru kemudian menuangkan adukan dan ditusuk-tusuk karena pasti akan menyebabkan
adanya rongga yang mengurangi kekuatan pondasi.
b. Pipa Peresapan
1. Tembok-tembok penahan, pasangan miring dan tembok-tembok kepala harus dilengkapi
dengan suling-suling. Suling-suling dipasang apabila saluran terletak dalam galian (untuk
saluran dalam timbunan suling-suling tak perlu dipasang). Suling-suling harus dibuat dari
pipa PVC dengan diameter 50 mm dan paling tidak satu buah untuk setiap 2 m2 permukaan.
2. Setiap ujung pemasukan dari suling-suling harus dilengkapi dengan saringan. Saringan ini
bisa terbuat dari kerikil dan pasir serta pada bagian terluar ditutup dengan ijuk.

3.14.4 Perlindungan dan Perawatan


a. Pekerjaan pasangan batu kali tidak boleh dilaksanakan pada saat hujan deras atau hujan yang
cukup lama sehingga mengakibatkan adukan larut. Adukan yang dipasang yang larut karena

79
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
hujan harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan pasangan selanjutnya diteruskan.
b. Pekerja tidak dibolehkan berdiri di atas pasangan batu atau pasangan batu kosong yang belum
mantap.
c. Jika pemasangan pondasi batu belah terpaksa dihentikan maka ujung penghentian pondasi harus
bergigi agar pada penyambungan berikutnya terjadi ikatan yang kokoh dan sempurna.
d. Pondasi batu kali didasari dengan lantai kerja/aanstamping dari pemasangan batu kosong diurug
pasir dan siram air/dipadatkan.
e. Sebagai adukan pasangan batu kali dipakai 1 Pc : 5 Ps.
f. Pondasi batu kali yang terletak pada tanah urugan harus didasari dengan lapisan pasir sampai
benar-benar stabil, kemudian diberi aanstamping dari batu kosong diurug dengan pasir dan
disiram air/dipadatkan setebal sesuai gambar.

3.15 Pekerjaan Pasangan Bata


3.15.1 Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan pasangan bata meliputi : pasangan bata kedap air (trassram), pasangan
bata biasa untuk dinding dan pasangan rollag bata seperti yang tertera pada gambar-gambar.
Pelaksanaan pemasangan bata harus benar-benar mengikuti garis-garis ketinggian, bentuk-bentuk
seperti yang terlihat dalam gambar-gambar dan peryaratan di sini.

3.15.2 Pengendalian Pekerjaan


Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan pasangan bata ini tertera pada:
a. PUBI – 1982
b. NI – 3 – 1910
c. NI – 10 – 1973
d. SSII – 0021 – 78

3.15.3 Bahan-bahan
a. Batu – Bata
Digunakan bata yang terbakar matang berwarna merah, utuh, tidak keropos, tidak boleh pecah-
pecah. Bata pecahan tidak boleh melebihi 5 % dari total penggunaan pasangan. Penggunaan
batu-bata ini harus mendapatkan persetujuan dari pengawas. Tidak diperkenankan
mempergunakan bata bekas/basil bongkaran.
Batu bata harus diambil dari satu sumber yang memiliki karakteristik dan mutu bahan yang
sejenis. Ukuran bata 11 x 23 cm dengan tebal 5 cm. Produksi lokal di sekitar kawasan lokasi
pekerjaan.
b. Bahan Adukan

80
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. Pasir
Digunakan pasir beton, bebas lumpur, kotoran dan bahan organik lainnya. Pasir diayak
dengan ayakan 2 mm.
2. Semen
Digunakan Porland Cement dari satu merk. Semen harus memenuhi Standar N I- 8/1964.
Disarankan produk Semen Gresik, Semen Padang, Semen Indonesia.
3. Air
Digunakan air tawar, bersih tidak mengandung minyak, garam-garaman dan bebas dari zat-
zat organik. Air harus memenuhi standar NI-2/1970. Pemakaian air harus mendapatkan
persetujuan Pengawas.

3.15.4 Contoh-contoh
Contoh-contoh yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan kepada pengawas dan
persetujuan atas bahan-bahan tersebut harus sudah didapat sebelum bahan yang dimaksud dibawa
ke lapangan kerja untuk dipasang. Pengambilan contoh atas bahan - bahan yang telah berada di
lapangan akan dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Pengawas guna keperluan
pengujian. Bahan yang tidak sesuai akan ditolak dan harus segera disingkirkan dari lapangan.

3.15.5 Campuran Adukan Pasangan


Perbandingan adukan yang digunakan untuk pasangan dan plesteran sebagai berikut
(adukan volume):
a. Adukan biasa : 1 Pc : 3 Ps , 1 Pc : 5 Ps
b. Adukan Khusus : Perbandingan diatas ditambah dengan bahan addictive sesuai dengan
rencana penggunaan/pasangan.

3.15.6 Pemasangan
a. Pasangan batu bata digunakan bata yang utuh, tidak retak atau cacat lainnya untuk membuat
dinding pasangan sesuai dengan yang direncanakan.
b. Tidak diperkenankan mempergunakan bahan yang patah, hanya keadaan tertentu seperti pada
sudut atau perpotongan dengan bahan/pekerjaan lain, dengan bahan yang patah tetapi tidak
melebihi 5%.
c. Sebelum dipasangkan batu bata harus direndam air sampai jenuh, demikian pula terlebih dahulu
dibasahi agar dapat dihindari penyerapan air semen dari adukan secara berlebihan.
d. Bagian eksisting yang akan dipasang dinding baru harus terlebih dahulu dibebaskan dari debu
atau mortar yang rapuh, kemudian disiram air hingga jenuh.

81
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Sebelum menambahkan/melanjutkan pasangan baru diatas pasangan lama, yang terhenti
sekurang-kurangnya selama 12 jam maka pasangan lama harus dibersihkan dahulu, kedudukan
bata yang longgar/lepas harus diganti dan mortar yang lepas agar ditambal.
f. Spesi datar dan tegak harus penuh dan padat. Spesi pasangan dibuat dengan tebal 2 cm untuk
spasi datar dan 1,5 cm untuk spesi tegak, kecuali jika ditentukan lain.

3.15.7 Perlindungan & Pembersihan


a. Seluruh lajur pasangan batu bata yang belum selesai, harus ditutup (dilindungi) dengan kertas
semen, atau dengan cara-cara lain yang, disetujui oleh pengawas.
b. Bersihkan bagian-bagian yang terkena adukan dengan segera, kemudian berikan perlindungan
atau hindari pasangan dari benturan-benturan keras selama sekurang-kurangnya 3 hari setelah
seluruh sebuah bidang kerja selesai terpasang.

3.16 Pekerjaan Beton Non Struktural


3.16.1 Lingkup Pekerjaan
A. Pekerjaan Beton Bertulang
Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
a. Pembuatan kolom praktis 11 x 11 cm.
b. Pembuatan balok praktis/balok lintel, ring balok ukuran 10x15 cm.
c. Pekerjaan kolom praktis, balok praktis/lintel dan ring balok lainnya seperti tercantum
dalam Gambar Kerja.
B. Pekerjaan Beton Tumbuk
Pekerjaan yang dimaksud meliputi: Pembuatan lantai kerja beton tumbuk pada lantai
dasar sesuai Gambar Kerja.

3.16.2 Persyaratan Bahan


a. Besi Beton
1. Besi beton yang dipakai adalah dari mutu U-24 untuk diameter lebih kecil dari ∅ 13 mm.
2. Besi harus bersih dari lapisan minyak, lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih.
3. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan NI-2.
4. Diameter besi beton yang dipasang harus sesuai dengan Gambar Kerja.
5. Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari lapangan kerja dalam
waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari Konsultan Pengawas.
6. Kawat pengikat besi beton adalah dari baja lunak dan tidak disepuh/dilapis seng. Diameter
kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi beton harus memenuhi
syarat-syarat dalam NI-2 (PBI-1971).

82
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Semen
Sesuai dengan Pasal 2 butir 2.2.1.
c. Pasir
Sesuai dengan Pasal 2 butir 2.2.2. Pasir yang dipakai harus Pasir Beton.
d. Koral beton/Spleet.
1. Koral beton/spleet harus bersih, bersudut tajam, tidak berpori serta mempunyai gradasi
kekerasan sesuai dengan syarat-syarat NI-2.
2. Penyimpanan/penimbunan koral beton dengan pasir harus dipisahkan satu sama lain, hingga
kedua bahan tersebut dijamin mendapatkan perbandingan adukan beton yang disyaratkan.
e. Air
Sesuai dengan Pasal 2 butir 2.2.3.
f. Acuan/bekisting dan perancah
1. Papan acuan/bekisting dibuat dari multiplex tebal 9 mm.
2. Balok-balok pengaku dan pengikat papan acuan dari kaso 5/7.
3. Perancah disyaratkan memakai perancah besi, tidak diperkenankan menggunakan balok kaso
5/7 atau bambu.

3.16.3 Pelaksanaan
Beton Bertulang
a. Campuran dan mutu beton
1. Campuran adalah 1pc : 2ps : 3Kr.
2. Mutu beton yang disyaratkan dalam pekerjaan beton bertulang non struktural ini adalah K-
175 atau (F’c =14,5 Mpa).
b. Pembesian
1. Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang dibengkokkan, sambungan, kait-
kait dan sengkang (ring) persyaratannya harus sesuai NI-2 (PBI-1971).
2. Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus sesuai dengan Gambar Kerja.
3. Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi tulangan tersebut tidak
berubah tempat selama pengecoran, dan harus bebas dari papan acuan/bekisting atau lantai
kerja dengan memasang selimut beton dan bantalan beton (beton decking) sesuai dengan NI-
2 (PBI-1971).
c. Acuan/bekisting.
1. Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan dalam
Gambar Kerja.
2. Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-perkuatan, sehingga cukup kokoh
dan dijamin tidak berubah bentuk dan kedudukannya selama pengecoran berlangsung.

83
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Acuan harus rapat (tidak bocor), permukaannya licin, bebas dari kotoran tahi gergaji,
potongan kayu, tanah, lumpur dan sebagainya.
d. Cara pengadukan.
1. Cara pengadukan harus menggunakan beton molen.
2. Takaran untuk semen portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan
Pengawas.
3. Beton harus dilindungi dari sinar matahari langsung, hingga tidak terjadi penguapan terlalu
cepat.
4. Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan, harus diperhatikan.
e. Pengecoran Beton.
1. Sebelum pelaksanaan pengecoran, Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan
dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-
ukuran dan ketinggian, pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
2. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuanKonsultan Pengawas.
3. Pengecoran harus dilakukan dengan menggunakan alat penggetar beton untuk menjamin
beton cukup padat, dan harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan
sarang-sarang koral spleet yang dapat memperlemah konstruksi.
4. Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari berikutnya, maka tempat
perhentian tersebut harus disetujui Konsultan Pengawas.
5. Penyambungan beton lama dengan beton baru harus memakai Bonding Agent NITOBOND
PVA merk FOSROC.
6. Permukaan beton lama yang akan diteruskan pengecorannya harus dikasarkan, dilapis
dengan Bonding Agent NITOBOND PVA yang pelaksanaannya sesuai persyaratan pabrik
pembuat, selanjutnya langsung dilakukan pengecoran beton baru.
f. Pekerjaan pembongkaran acuan/bekisting.
Pekerjaan pembongkaran acuan/bekisting hanya boleh dilakukan dengan izin tertulis dari
Konsultan Pengawas. Setelah bekisting dibuka, tidak diizinkan mengadakan perubahan apapun
pada permukaan beton tanpa persetujuan Konsultan Pengawas.
g. Pekerjaan pembuatan kolom praktis.
Pemasangan kolom praktis untuk:
1. Setiap pertemuan dinding pasangan batu bata.
2. Dinding pasangan batu bata ½ batu pada bagian dalam bangunan setiap seluas 9 m2.
3. Dinding pasangan batu bata ½ batu pada bagian luar/tepi luar bangunan setiap seluas 9 m2.
4. Ukuran kolom praktis adalah 11 x 11 cm.
5. Dan atau seperti tercantum dalam Gambar Kerja.

84
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
h. Pekerjaan pembuatan balok praktis/lintel dan ring balok.
Pemasangan balok praktis/lintel dan ring balok:
1. Di tepi atas/akhir dari dinding pasangan batu bata yang bebas sebagai ring balok setiap luas 9
m2 pasangan dinding bata yang tinggi.
2. Ukuran balok pratis adalah 10 x 15 cm, sloof praktis 15 x 20 cm, atau sesuai Gambar Kerja.
3. Dan atau seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
i. Penulangan beton kolom dan balok praktis sesuai Gambar Kerja dan atau seperti terurai dalam
pekerjaan beton di Bab lain dalam Buku ini.
j. Pemasangan kolom praktis dan balok praktis/lintel seperti tercantum dalam Butir 6.3.1.g. dan
6.3.1.h. di atas, terlepas apakah pekerjaan tersebut tergambar atau tidak dalam Gambar Kerja.
k. Pada setiap pertemuan dinding pasangan batu bata dengan kolom praktis, ring balok beton
maupun beton lainnya seperti tercantum dalam Gambar Kerja harus diperkuat angker ∅ 8 mm.
setiap jarak 50 cm. yang terlebih dahulu telah ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan
kolom dan balok praktis ini. Bagian yang tertanam dalam pasangan bata minimal sedalam 30
cm. kecuali ditentukan lain.

3.17 Pekerjaan Plesteran, Acian dan Sponengan


3.17.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi plesteran dan acian seluruh muka dinding; plesteran bata merah
dan plesteran beton. Serta sponengan kolom, balok, dinding dll sesuai gambar. Bagian ini meliputi
pengadaan bahan, peralatan, tenaga dan pelaksanaan pekerjaan plesteran dan adukan pada dindang-
dinding dan bagian-bagian lain bangunan serta pekerjaan, seperti yang tertera pada gambar-
gambar.

3.17.2 Pengendalian Pekerjaan


Seluruh pekerjaan plesteran dan adukan harus disesuaikan dengan persyaratan-
persyaratan yang tertera pada standar-standar sebagai berikut:
a. NI – 2 (1971)
b. NI – 3 (1970)
c. NI – 8 (1971)
d. NI – 2 (1961)

3.17.3 Bahan-Bahan
a. Pasir
Pasir yang dipakai harus kasar, tajam, bersih dan bebas dari tanah liat, lumpur atau campuran-
campuran lain sesuai dengan:

85
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. NI - 3 Pasal 14
2. NI - 2 Bab 3.3
b. Portland Cement
Digunakan Porland Cement dari satu merk. Semen harus memenuhi Standar N I- 8/1964.
Disyarankan produk Semen Gresik, Semen Padang, Semen Indonesia.
c. Air
Digunakan air tawar, berih tidak mengandung minyak, garam-garaman dan bebas dari zat-zat
organik. Air harus memenuhi standar NI-2/1970. Pemakaian air harus mendapatkan persetujuan
pengawas. Pemborong harus menyediakan air kerja atas biaya sendiri.

3.17.4 Perencanaan
a. Campuran plesteran
Pengetesan untuk mendapatkan perbandingan campuan plesteran dapat dilaksanakan dalam
waktu 1 minggu sebelum pelaksanaan dimulai, dan tidak ada penambahan waktu lagi untuk itu.
b. Plesteran dengan campuran 1Pc : 5Ps. Digunakan pada daerah-daerah seluruh dinding bata,
campuran 1Pc : 4Ps digunakan pada kolom, balok dan plat/dinding beton seperti ditunjukkan
dalam gambar.
c. Plesteran dengan campuran 1Pc :4Ps digunakan pada daerah-daerah basah untuk kedap air
seperti daerah kamar mandi dengan tinggi 220 cm dan daerah lainnya setinggi 50 cm dari lantai
atau sebagaimana ditunjukkan dalam gambar kerja.
d. Plesteran boleh dicampur dengan bahan additive untuk mencegah keretakan yang tidak
diinginkan.
e. Untuk dapat menggunakan bahan tersebut. Pemborong terlebih dulu harus mengajukan kepada
Pengawas agar mendapatkan persetujuan.

3.17.5 Pelaksanaan
a. Plesteran
Campuran adukan untuk plesteran harus dilakukan dengan mesin (molen).
Masukkan setengah dari jumlah air dan pasir untuk adukan lebih dahulu kedalam molen,
kemudian tambahan semen dan setengah bagian sisa dari air dan pasir. Pengadukan dalam
molen dilaksanakan dalam waktu ± 3 menit, Pengadukan tanpa rnesin tidak boleh dilakukan.
Adukan harus selalu plastis. Aduk-ulung (retempering) dengan penambahan air boleh dilakukan
sebagaimana diperlukan. Adukan yang berumur lebih lama dari pada 1½ jam sejak
percampurannya, tidak boleh dipergunakan lagi.
b. Pelaksanaan Plesteran

86
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. Plesteran ke dinding
Bersihkan permukaan dinding bata dari noda-noda debu, minyak, cat dan bahan-bahan lain
yang dapat mengurangi daya ikat plester.
2. Plesteran sambungan
Untuk mendapatkan permukaan yang merata dan ketebalan sesuai dengan yang disyaratkan,
maka dalam memulai pekerjaan plesteran harus dibuat terlebih dahulu “kepala” plesteran.
3. Plesteran permukaan beton:
Bersihkan permukaan beton dari sisa begesting, debu, minyak-minyak, cat dan bahan yang
dapat mengurangi daya ikat plesteran. Basahi beton dengan air sehingga jenuh. Tunggu
sampai aliran air berhenti.
c. Pelaksanaan Acian
Pasangan plesteran setebal 15 mm yang telah kering dimulai dengan mengasarkan
permukaannya, kemudian dibasahi hingga jenuh tunggu sampai air berhenti. Laksanakan acian
dengan campuran semen dan air secukupnya dan tunggu sampai acian macak-macak menuju
kering. Gosok acian dengan kertas semen hingga rata dan permukaannya sampai halus.
d. Pelaksanaan Sponengan
Pelaksanaan sponengan harus menngunakan jalon bahan aluminium untuk mendapatkan
sponengan atau tali air yang betul-betul siku dan lurus.

3.18 Pekerjaan Pasangan Lantai (Keramik/Flowcrete)


3.18.1 Lingkup Pekerjaan
a. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, peralatan, dan alat
bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
b. Meliputi pemasangan ubin keramik pada lantai bangunan yang dinyatakan dalam gambar
sebagai lantai keramik, kecuali dinyatakan lain dalam gambar berita acara.
c. Melapisi lantai beton dengan pelapis lantai tanpa sambungan dan anti bakteri sesuai spesifikasi
konsultan.

3.18.2 Pengendalian Pekerjaan


Seluruh pekerjaan harus sesuai standar-standar yang ditetapkan atau rekomendasi dari
pabrik pembuat dan dengan persetujuan Pengawas.
- NI-2-1971
- NI-3-1970
- NI-8-1972
- S11- 0241-1970

87
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.18.3 Material
a. Ubin Keramik biasa tipe polos sesuai persetujuan Konsultan Pengawas ukuran 30 x 30 cm, 40 x
40 cm, 30 x 60 cm sesuai gambar rencana. Merk : Platinum, Asia, Milan.
b. Ubin keramik biasa tipe motif kasar ukuran 20 x 20 cm, 40 x 40 cm. Merk : Platinum, Asia,
Milan.
c. Semen Portland jenis I.
d. Pasir pasang.
e. Grout pengisi Nat Keramik berwarna Merk AM, Jatimra, MU.
f. Pelapis lantai tipe Flowfresh RT ex Flowcrete (UK) atau merk lain yang disetujui konsultan
(bila ada), warna ditenntukan dalam rapat lapangan.

3.18.4 Alat Kerja


a. Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan dan juga perlengkapan kerja untuk
keperluan pekerja pelaksananya.
b. Selain peralatan kontraktor pelaksana juga harus menyediakan semua sarana yang diperlukan
untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

3.18.5 Persiapan
a. Contoh Bahan
Guna persetujuan Pengawas proyek, Kontraktor harus menyerahkan contoh-contoh semuai
bahan yang akan dipakai; ubin keramik, bahan-bahan addtive untuk adukan dan bahan untuk tile
grouts.
b. Mock Up
Sebelum memulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan yang
memperlihatkan dengan jelas pola pemasangan, metode pelekatan pada struktur, dan warna
groutingnya.
Mock-up yang telah disetujui akan dijadikan standard minimal untuk pemasangan keramik juga
pelapis lantai jenis lainnya.
c. Brosur
Untuk keperluan Pengawas Proyek, Kontraktor harus menyediakan brosur bahan guna
pemilihan jenis bahan yang dipakai.
1. Kontraktor pelaksana wajib meneliti gambar-gambar dan kesesuaian kondisi lapangan
sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan. Apabila terjadi ketidak sesuaian ukuran, elevasi,
ukuran lebar, dan posisi terhadap keseluruhan disain, maka Kontraktor Pelaksana wajib
menuangkannya dalam shop drawing dan melaporkannya kepada Pengawas proyek.
2. Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan pabrik.

88
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Penyimpanan bahan material ditempat yang rata dan diberi perlindungan yang memadai
untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.
4. Tile yang masuk ke tapak harus diseleksi, agar berkesesuaian dengan ukuran, bentuk dan
warna yang ditentukan.
5. Kontraktor pelaksana harus menyerahkan kepada Pengawas proyek untuk kemudian
diteruskan kepada pemberi tugas minimal 5 doos tiap jenis dan motif ubin keramik yang
dipakai. Ubin keramik dalam doos-doos tersebut harus dalam keadaan baru dan
mencantumkan dengan jelas identitas ubin keramik yang ada didalamnya. Ubin-ubin
keramik ini akan dipakai sebagai cadangan untuk perawatan oleh pemberi tugas.

3.18.6 Pelaksanaan
a. Bagian-bagian lantai yang terpaksa harus menggunakan lempeng ubin yang tidak penuh,
pemotongannya harus menggunakan mesin potong dan harus menghasilkan tepian potongan
yang lurus dan halus.
b. Spesi perekat terhadap lantai strukturnya menggunakan mortar campuran 1PC: 3Ps, kecuali
untuk daerah basah digunakan campuran 1PC : 2Ps.
c. Sebelum pemasangan dimulai ubin harus dibasahi. Pakai benang untuk menentukan lay out ubin
yang telah ditentukan dan pasang sebaris ubin guna jadi patokan untuk pemasangan selanjutnya.
d. Pelaksanaan pemasangan harus sedemikian rupa hingga:
1. Seluruh bagian di bawah ubin terisi penuh dengan mortar spesi hingga tidak terdapat rongga
udara terjebak di bawah ubin.
2. Menghasilkan bidang lantai yang benar-benar datar dan rata air, kecuali untuk bagian-bagian
lantai pada daerah basah yang dikehendaki miring harus menghasilkan bidang miring
sempurna yang dapat mengalirkan air hingga kering ke lubang-lubang lantai (avour).
3. Nat antar ubin adalah 3 mm dan menghasilkan garis nat yang lurus sejajar garis dinding yang
melingkupinya.
e. Setelah spesi pasangan mengering, siar antara (nat) harus diisi penuh dengan adukan Grout
pengisi Nat dan dikeruk halus hingga menghasilkan permukaan nat yang sama dengan garis
tepian ubin.
f. Noda adukan Grout pengisi Nat yang mengenai permukaan ubin harus segera dibersihkan
dengan lap basah dan dikeringkan seketika dengan lap kering.
g. Badan pengawas berhak memerintahkan pembongkaran dan pembenahan kembali tanpa biaya
tambah bila persyaratan pada butir c, d, dan e di atas tidak dapat dipenuhi.
h. Pada pemasangan di area yang luas, harus dilaksanakan secara kontinyu. Dan harus disediakan
guide line course pada interval 2,0m-2,5m, pemasangan tile lainnya berpedoman pada quide
line ini.

89
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
i. Elevasi lantai ruang-ruang dalam toilet cubicle harus dibuat 2 cm lebih rendah daripada lantai
area toilet di sekitar ruang toilet cubicle.
j. Expansion Joint untuk area lantai yang luas (tiap 5,7 x 5,7 m² atau 6 x 6 m²).
k. Pelapis lantai ruang produksi harus dilaksanakan sesuai syarat-syarat yang ditentukan pabrik
sehingga didapat hasil seperti yang diharapkan. Karena sifatnya yang khusus, kontraktor
bertanggung jawab penuh atas perlindungan terhadap pelapis lantai ruang produksi, sampai
pekerjaan itu diserah terimakan kepada pengguna jasa.

3.18.7 Perlindungan Dan Pembersihan


a. Perlindungan.
1. Kontraktor harus melindungi ubin yang telah terpasang maupun harus mengganti, atas biaya
sendiri setiap kerusakan yang terjadi. Penyerahan pekerjaan dilakukan dalam keadaan bersih.
2. Setelah pemasangan, kontraktor harus melindungi tile lantai yang telah terpasang. Jika
mungkin dengan mengunci area tersebut. Batasi lalu lintas diatasnya hanya untuk yang
penting saja.
b. Pembersihan
Secara prinsip, permukaan tile dibersihkan dengan air, menggunakan sikat, kain lap, dan
sebagainya. Tetapi jika area-area yang tidak dibersihkan dengan air, pembersihan memakai
campuran air dengan hydrochloric acid (HCL), perbandingan 30 : 1. Sebelum pembersihan
dengan asam ini, lindungi semua bagian yang memungkinkan akan berkarat atau rusak oleh
asam. Setelah dibersihkan dengan asam ini, bersihkan area ini dengan air biasa, sehingga tidak
ada campuran asam yang tersisa.

3.19 Pekerjaan Batu Andesit dan Batu Tempel/Batu Alam


3.19.1 Lingkup Pekerjaan
Ini meliputi pengadaan dan pemasangan dinding Batu Andesit dan lantai Batu Tempel yang
pemasanganya disesuaikan dengan rencana gambar kerja.

3.19.2 Pengendalian Pekerjaan


a. Pemborong diwajibkan memberitahukan kepada Direksi setiap kali suatu bagian pekerjaan akan
dimulai untuk dicek terlebih dahulu ketetapan peil-peil dan ukurannya.

b. Sebelum pekerjaan pengukuran dimulai, pemborong wajib membuat serta memasang patok-
patok ukur yang dibuat dari Kayu Kalimantan yang kuat dengan ukuran 5 x 7 cm panjang di
atas permukaan tanah minimal 30 cm, dicat dengan warna merah. Patok-patok tersebut harus

90
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
ditanam kuat dan tidak boleh berubah selama pekerjaan berlangsung dan sampai dengan
pekerjaan selesai..

c. Sebelum memenuhi yang disyaratkan oleh pengawas, kontraktor wajib memperbaiki semua
pekerjaan-pekerjaan yang belum sempurna sesuai dengan perintah Pengawas.

d. Pemasangan beton sikat harus level, lurus dan rapi.

3.19.3 Persyaratan Bahan


 Semen, pasir dan air persyaratan lihat pekerjaan beton

 Lapisan batu tempel yang digunakan:

 Jenis: batu andesit, batu tempel

 Ukuran: sesuai gambar

 Bahan Perekat: perekat semen PC

 Bahan pengisi siar: nat semen pc


 Warna : abu-abu tua

3.19.4 Persyaratan pelaksanaan


a. Awal pemasangan batu alam tempel harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Direksi Pekerjaan
(Tim Teknis) sebelum pemasangan dimulai.

b. Batu alam tempel yang perlu dipotong harus menggunakan alat pemotong khusus.

c. Batu alam direkatkan, dengan menggunakan perekat PC Semen. Penggunaaan produk lain harus
sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.

d. Penempelan adukan ke bidang dinding harus menggunakan scraf khusus (gigi serok) hingga
didapat alur alur adukan

e. Batu alam ditempelkan dan ditekan dengan mengguakan palu karet sampai permukaan rata

f. Siar-siar batu tempel harus diisi dengan grouting nat sesuai yang disyaratkan.

g. Semua pemasangan harus dilakukan oleh seorang ahli yang berpengalaman dalam pemasangan
batu alam tempel.

h. Batu alam tempel yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala noda-noda yang melekat,
sehingga mencapai pekerjaan yang rapi dan sempurna.

i. Finishing batu alam dilakukan coating anti lumut (vernish) dipermukaannya dengan warna
clear.

j. Beton lantai kerja yang digunakan adalah beton dengan mutu beton K 100 setebal sesuai dengan

91
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
peil yang ditentukan dalam gambar.

k. Bentuk, penempatan dan cara pelaksanaan sesuai gambar kerja dan harus sesuai dengan syarat-
syarat yang telah ditentukan dalam PBI 1971 dan sesuai dengan petunjuk dari Direksi Pekerjaan
(Tim Teknis).

3.20 Pekerjaan Kaca


3.20.1 Umum
a. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, peralatan, dan alat
bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi fabrikasi dan instalasi seluruh kaca pintu dan jendela, serta cermin, pada bagian
bangunan yang dalam gambar rencana ditunjukkan menggunakan bahan kaca dan atau
cermin.
b. Pekerjaan lain yang berhubungan:
1. Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela Alumunium.
2. Pekerjaan penerangan atas.

3.20.2 Material
a. Bahan yang digunakan untuk kaca pintu dan jendela adalah kaca Rayben tebal 5 mm merk :
Asahimas, Mulia Glass.
b. Warna kaca buram.
c. Cermin adalah clear float glass tebal 5 mm yang salah satu sisinya dilapisi dengan bahan
chemical deposited silver merk Danta mirror, Miralux, Deco mirror.

3.20.3 Pengendalian Pekerjaan


- N I - 3 - 1970
- S 110190-81
- F G M A : Glazing manual
- Keterangan Produsen dan Persyaratan teknis ini.
3.20.4 Alat Kerja
Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan yang diperlukan untuk
pemasangan komponen dan juga perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.

3.20.5 Persiapan
a. Contoh Bahan :

92
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Kontraktor harus menyerahkan 3 set contoh semua bahan kaca dengan ukuran 10 x 10 cm yang
memperlihatkan warna, ketebalan, dan akhiran tepi kaca dan cermin, untuk memperoleh
persetujuan penggunaan bahan dari Pengawas proyek.
b. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, pelaksana harus selalu berkoordinasi dengan pelaksanaan
pekerjaan lain yang berkaitan seperti pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela.
c. Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan pabrik.
d. Penyimpanan bahan material ditempat yang rata dan diberi suport dan perlindungan yang
memadai untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.

3.20.6 Pelaksanaan
a. Semua pekerjaan baru boleh dilaksanakan pada tahap kemajuan pekerjaan pembangunan
gedung keseluruhan telah mencapai kondisi tertentu yang tidak akan membahayakan kaca yang
akan dipasang.
b. Semua pekerjaan harus dilakukan oleh tukang-tukang dengan standart pengerjaan yang telah
disetujui oleh Pengawas proyek.
c. Pemasangan kaca harus tepat, celah antara kaca dengan frame alumunium harus di tutup dengan
gasket. Khusus untuk sisi kaca luar bangunan harus diisi dengan backer rod dan sealant.
Tumpuan sisi bawah kaca harus diberi material setting block. Untuk Kaca Frameless
sambungan antara kaca dan ke konstruksi harus ditutup sealant struktural.
d. Untuk frame kayu harus diberi lis kayu yang sesuai dengan tipe kusen atau pintu / jendelanya.
e. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan persyaratan teknis yang
benar.
f. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam galvanized.
g. Kaca yang sudah terpasang harus diberi penanda yang mudah dibersihkan dengan ukuran cukup
besar supaya mudah diketahui, dan untuk mencegah kerusakan kaca dan kecelakaan kerja akibat
terbentur kaca.
h. Sisi cermin yang tampak akibat pemotongan harus dihaluskan hingga membentuk tembereng.

3.20.7 Perlindungan
Pada waktu pengiriman dari pabrik kelokasi harus terlindung dari goresan dan abrasi. Kontraktor
bertanggung jawab atas semua kaca yang terpasang. Sampai penyerahan pekerjaan. Kerusakan
harus diperbaiki diganti atas biaya kontraktor.

3.21 Kusen, Daun Pintu dan Daun Jendela Alumunium


3.21.1 Umum
a. Lingkup Pekerjaan:

93
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, peralatan, dan alat
bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi pabrikasi dan instalasi seluruh kusen, daun pintu, dan daun jendela yang dinyatakan
dalam gambar menggunakan bahan alumunium.
b. Pekerjaan lain yang berhubungan:
1. Pekerjaan Kaca, Rolling door
2. Pekerjaan Penggantung dan Pengunci
3. Pekerjaan Joint Sealant

3.21.2 Material
a. Bahan yang dipakai untuk kusen alumunium maupun Daun pintu / jendela aluminium
menggunakan alumunium extrusion, tebal 1,2 mm, merk : Alkasa, Super Ex, Alexindo.
b. Lebar profil: 3 x 1.25 inch atau sesuai dengan gambar, warna coklat.
c. Kelengkapan sambungan :
1. Neoprene Gasket
2. Sealant setara DOW CORNING DC 793, atau GE
d. Angkur plat baja tebal 2 – 3 mm dengan dynabolt M8.

3.21.3 Alat Kerja


a. Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan yang diperlukan untuk fabrikasi
komponen dan juga perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.
b. Selain peralatan kontraktor pelaksana juga harus menyediakan semua sarana yang diperlukan
untuk pelaksanaan pekerjaan ini terutama yang dipergunakan untuk menjalankan peralatan
kerjanya.

3.21.4 Persiapan
a. Shop Drawing
Sebelum pekerjaan kusen, pintu, dan jendela alumunium dilaksanakan, Kontraktor Pelaksana
harus menyerahkan gambar-gambar pelaksanaan/shop drawing kepada Pengawas proyek.
Sebelum gambar shop drawing tersebut disetujui oleh Pengawas proyek, Kontraktor Pelaksana
tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan. Shop drawing yang dibuat Kontraktor Pelaksana
harus memenuhi :
1. Harus memperlihatkan dengan jelas dimensi, sistem konstruksi, hubungan antar komponen,
cara dan letak pengangkuran, penempatan hardware, dan detail-detail pemasangan.
2. Harus berkesesuaian dengan gambar rencana dan spesifikasi bahan.

94
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Harus memperlihatkan detail-detail pemasangan bahan pengisi pintu/jendela serta gasket dan
sealantnya.
4. Harus memperlihatkan metode perkuatan pemasangan engsel dengan menggunakan klos-
klos kayu didalam kusen alumunium.
b. Contoh Bahan
1. Kontraktor harus menyerahkan 3 set contoh semua bahan yang memperlihatkan tekstur,
finishing, dan warna.
2. Kontraktor juga menyerahkan seluruh contoh-contoh profil yang akan dipergunakan dengan
diberi keterangan mengenai jenis bahan, ketebalan, dan penggunaan profil tersebut pada
komponen kusen, daun pintu, dan daun jendela.
c. Mock Up (Standard Pengerjaan)
1. Sebelum memulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan yang
memperlihatkan dengan jelas pola pemasangannya.
2. Mock-up yang telah disetujui akan dijadikan standard minimal untuk fabrikasi dan
pemasangan Kusen Pintu dan Jendela Alumunium.
d. Rongga-rongga tempat pintu dan jendela yang akan dipasang sudah harus dalam keadaan
selesai/finish walaupun belum dalam kondisi finishing akhir.
e. Kontraktor pelaksana wajib meneliti gambar-gambar dan kesesuaian kondisi lapangan sebelum
memulai pelaksanaan pekerjaan. Apabila terjadi kekurang-rataan kondisi permukaan, kurang
waterpass, ataupun ketidak sesuaian ukuran, elevasi, ukuran lebar, dan posisi terhadap
keseluruhan disain, maka Kontraktor Pelaksana wajib memperbaikinya terlebih dahulu.
f. Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan pabrik, lengkap
dengan instruksi-instruksi pemasangannya.
g. Penyimpanan bahan material ditempat yang rata dan diberi suport dan perlindungan yang
memadai untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.

3.21.5 Pelaksanaan
a. Semua pekerjaan harus dilakukan oleh tukang-tukang dengan standard pengerjaan yang telah
disetujui oleh Pengawas proyek.
b. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah.
c. Semua detail pertemuan harus runcung (adu manis) halus dan rata bersih dari goresan-goresan
serta cacat-cacat yang mempengaruhi permukaan.
d. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan persyaratan teknis yang
benar.
e. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam galvanized.

95
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
f. Pemasangan engsel pada kusen alumunium harus diberi tambahan klos-klos kayu di bagian
dalam profil kusen alumunium sebagai perkuatan.
g. Angkur dipasang setiap jarak 600 mm.
h. Sekeliling tepi kusen yang berbatasan dengan dinding harus diberi backer rod dan sealant untuk
kekedapan terhadap air dan suara.
i. Ketika pelaksanaan pekerjaan plesteran, pengecatan dinding dan bila kusen telah terpasang
maka kusen tersebut harus dilindungi agar kusen tetap terjamin kebersihannya.
j. Tepi bawah ambang kusen yang berhubungan dengan eksterior harus dilengkapi dengan
flashing penahan air hujan.

3.22 Pekerjaan Plafond


3.22.1 Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi pengadan dengan bahan-bahan, peralatan tenaga dan pemasangan
pekerjaan rangka, langit-langit PVC, dan List Profil PVC.

3.22.2 Pengendalian Pekerjaan


a. N1 – 3 – 1970
b. NI – 5 – 1961

3.22.3 Bahan-Bahan
a. Plafond PVC
Ukuran 20 x 8 mm, panjang per lembar variasi, dengan produk : Sundha, Wifon, Denta.
b. List Plafond PVC
Jenis Lis Plafon PVC dan Fungsinya:
Fungsi dari lis plafon untuk menjaga dinding dan langit rumah hunian supaya tetap kokoh tanpa
retakan. Selain itu, menjaga langit-langit tetap stabil dan tidak mudah runtuh. Berikut jenis list
plafon yang memiliki motif material beragam cocok untuk rumah :

1. List untuk Tepian Plafon


Penggunaan lis plafon jenis PVC diaplikasikan pada tepian plafon yang berhubungan dengan
tembok atau dinding. Dikenal juga dengan sebutan nama bingkai plafon. Ada beberapa
desain atau motif, bentuk, dimensi ukuran untuk jenis List PVC pinggiran ini yang bisa
dipilih.
List PVC motif warna ada krem, putih, merah, dan lainnya berbentuk seperti L, motif kayu
bentuk seperti L motif polos dengan bentuk seperti segitiga bermuda Ada banyak jenis motif
List PVC untuk plafon lainnya dan fungsi dari lis pinggir ini sebagai bingkai untuk pinggir

96
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
plafon.

2. List untuk Sambungan Plafon


Fungsi dari List PVC sambung plafon untuk menyambung plafon atau papan PVC yang
masih kurang. Motif List PVC warna berbentuk seperti capung terbang mempunyai dimensi
ukuran lebar 2.2 cm + 2,5 cm + 3.5 cm + 3.6 cm. Ukuran panjang dari List PVC ini adalah 3
meter, 4 meter, dan 5 meter.

3. List untuk Plafon Drop atau Trap atau Siku


List PVC jenis plafon drop atau trap dibutuhkan dalam pembuatan plafon dengan desain
drop atau bertingkat atau sebagai plafon trap. Dimensi ukuran, motif, dan bentuk dari List
PVC untuk plafon drop atau trap adalah lebar 2.2 cm + 2.5 cm + 3.5 cm + 3.6 cm dengan
motif polos. Ukuran panjang dari List PVC drop atau trap adalah 3 meter, 4 meter, dan 5
meter.
4. List PVC Sederhana untuk Interior Minimalis
Motif dari List PVC sederhana memang simpel, tetapi mempunyai daya yang menawan.
Desain atau motif sederhana ini tidak banyak lekukan atau monokrom supaya dapat serasi
dengan ruangan rumah, memiliki bentuk segitiga dengan pola garis-garis memanjang.
Ukuran panjang 4 meter, 5 meter, dan 6 meter dan lebar 1.5 cm, 2.5 cm, 3 cm, 4 cm.
5. List PVC Motif Kayu
Beragam motif dari beberapa model ini dapat menjadi inspirasi dengan hologram wood,
hologram liner, silver hybrid, dan red peach hybrid hasilkan motif menarik. Bisa
dikombinasikan dengan beberapa warna. dapat digunakan juga dalam sambungan setelah
perakitan.
Ukuran bervariasi, dengan produk Sundha, Wifon, Denta.
c. Rangka
Rangka punggantung memakai hollow gavallum 40 x 40 dan 20 x 40 tebal 0,4 mm.
d. Sekrup/Paku.
Memakai paku/sekrup PVC yang direkomendasi pabrik pembuat plafond PVC atau dengan
persetujuan pengawas.

3.22.4 Gambar Rencana Pemasangan


Serahkan gambar rencana pemasangan kepada Pengawas dalam skala 1: 50 dan detail skala 1:5,
memperlihatkan detail-detail pemasangan langit-langit yang berhubungan dengan lampu-lampu,
pinggiran-pinggiran dan sebagainya untuk disetujui.

97
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.22.5 Pemasangan
a. Rangka Plafond PVC
Rangka Utama: Pasangan rangka plafond agar mengikuti gambar rencana. Penggantungan
rangka utama menggunakan besi penggantung setiap jarak maksimal 60 cm.
b. Plafond PVC
1. Gunakan tipe yang telah disetujui oleh Perencana/pengawas.
2. Rangka Pengikat (Carrier)
3. Pasangan rangka pengikat setiap jarak 60 cm

3.22.6 Pemeriksaan Akhir dan Pembersihan


a. Perbaiki semua pekerjaan-pekerjaan yang belum sempurna sesuai dengan perintah Pengawas.
b. Bilamana “touching-up” tidak dapat memperbaiki permukaan-permukaan langit-langit tersebut
diganti dengan bahan- bahan baru sampai sempurna.
c. Pemasangan ceiling harus rata dan tanpa nat (jarak /antara), dan diberi List PVC profil.

3.22.7 Syarat Pemasangan


a. Langit-langit PVC hanya boleh dipasang setelah semua pekerjaan yang akan ditutupi selesai
dipasang.
b. Langit-langit yang dipasang, akan tetapi harus dibuka untuk memperbaiki pekerjaan-pekerjaan
yang berada di dalamnya, maka perbaikan-perbaikan/penggantian-penggantian tersebut harus
ditanggung Pemborong, yang memperbaiki pekerjaan tersebut.

3.23 Pekerjaan Pengecatan dan Finishing


3.23.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
a. Pekerjaan pengecatan permukaan dinding pasangan batu bata dan beton, kayu, plafond
Pekerjaan Pengecatan Permukaan Dinding Pasangan Batu Bata dan Beton Semua permukaan
dinding pasangan batu bata dan permukaan beton, plafond yang tampak (exposed) seperti
tercantum dalam Gambar Kerja.
b. Pekerjaan pengecatan permukaan logam seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
Semua pekerjaan logam yang terpasang seperti tercantum dalam Gambar Kerja dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Semua bagian/permukaan yang tampak (exposed) dicat sampai dengan cat finish.
2. Semua bagian/permukaan yang tidak ditampakkan (un-exposed) dicat hanya sampai dengan
cat dasar.
3. Termasuk pengecatan dasar (plamuur, menie dan lain-lain).

98
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Pelapisan batu alam

3.23.2 Pengendalian Pekerjaan


Seluruh pekerjaan harus scsuai dengan standar sebagai berikut :
a. NI-3- 1970
b. Nl-4-1972

3.23.3 Persyaratan Bahan


a. Cat Tembok Exterior
Bahan dari jenis acrylic emulsion kualitas baik, tahan terhadap udara dan garam. Tipe exterior
matt emulsion. Produk : Mowilex, Dulux, Jotun.
b. Cat Tembok Interior
Bahan dari jenis acrylic emulsion kualitas baik, tipe interior matt emulsion. Produk : Mowilex,
Dulux, Jotun..
c. Cat Logam & Kayu
Bahan dari jenis synthetic enamel super gloss kualitas utama, tipe interior dan eksterior gloss
paint. Produk : SEIV, Dulux, Kansai Ftalit.
d. Lapisan dasar/meni
Cat meni sendiri berbahan dasar dari alkyd yang mengandung red lead dan berfungsi untuk
menahan getah kayu dan serangan rayap, serta untuk mencegah karat pada permukaan besi,
produk : Nippont, EMCO.
e. Lapisan batu alam
Coating batu alam andesit adalah finishing terakhir dari proses pemasangan berbagai jenis batu
andesit, produk : Propan, Glass Stone, AM.
f. Kontraktor wajib membuktikan keaslian cat dari produk tersebut di atas mengenai kemurnian
cat yang akan dipergunakan.
Pembuktian berupa:
1. Segel kaleng
2. Test BD
3. Test laboratorium
4. Hasil akhir pengecatan
Biaya untuk pembuktian ini dibebankan kepada Kontraktor. Hasil tes kemurnian ini harus
mendapat rekomendasi tertulis dari produsen dan diserahkan ke Konsultan Pengawas untuk
persetujuan pelaksanaan.
g. Kontraktor harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada bidang-bidang
transparan ukuran 30 x 30 cm.

99
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Pada bidang-bidang tersebut harus dicantumkan dengan jelas warna, formula cat, jumlah lapisan
dan jenis lapisan (dari cat dasar sampai dengan lapisan akhir).
h. Semua bidang contoh tersebut harus disampaikan kepada Konsultan Pengawas. Jika contoh-
contoh tersebut telah disetujui secara tertulis oleh Perencana dan Konsultan Pengawas, barulah
Kontraktor melanjutkan dengan pembuatan “mock-up”.
i. Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas, untuk kemudian akan diteruskan
ke Pemberi Tugas, minimal 5 galon tiap warna dan jenis cat yang dipakai.
Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencantumkan dengan jelas identitas cat
yang ada di dalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai cadangan oleh Pemberi Tugas untuk
perawatan.

3.23.4 Persyaratan Pelaksanaan


a. Lakukan dengan cara terbaik yang umum dilakukan kecuali apabila dispesifikasikan lain
Tebal minimum dari tiap lapisan jadi (finish) minimum sama dengan syarat yang
dispesifikasikan pabrik. Pengecatan harus rata, tidak bertumpuk, tidak bercucuran atau ada
bekas yang menunjukkan tanda-tanda sapuan, roller maupun semprotan.
b. Apabila dari cat yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar beracun atau membahayakan
kesehatan manusia, maka Kontraktor harus menyediakan peralatan pelindung, misalnya:
masker, sarung tangan dan sebagainya yang harus dipakai pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
c. Tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini dalam keadaan cuaca yang lembab atau hujan
atau dalam keadaan angin berdebu bertiup. Terutama untuk pelaksanaan di dalam ruangan bagi
cat dengan bahan dasar beracun atau membahayakan manusia. Maka ruangan tersebut harus
mempunyai ventilasi yang cukup atau pergantian udara berlangsung lancar. Di dalam keadaan
tertentu misalnya untuk ruangan tertutup, Kontraktor harus memakai kipas angin (fan) untuk
memperlancar pergantian/aliran udara.
d. Peralatan seperti kuas, roller, sikat kawat, kape, pompa udara tekan (vacuum cleaner),
semprotan dan sebagainya harus tersedia dari kualitas/mutu terbaik dan jumlahnya cukup untuk
pekerjaan ini.
e. Khusus untuk semua cat dasar harus disapukan dengan kuas. Penyemprotan hanya boleh
dilakukan bila disetujui Konsultan Pengawas.
f. Pemakaian ampelas, pencucian dengan air maupun pembersihan dengan kain kering terlebih
dahulu harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas, terkecuali disyaratkan
lain dalam spesifikasi ini.
g. Pelaksanaan pekerjaan ini khususnya pengecatan cat dasar untuk komponen bahan/material
logam, harus dilakukan sebelum komponen tersebut terpasang.
h. Standar Pengerjaan (“Mock-Up”).

100
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Sebelum pengecatan dimulai, Kontraktor harus melakukan pengecatan pada satu bidang untuk
tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang tersebut akan dijadikan contoh pilihan
warna, tekstur, material dan cara pengerjaan. Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai “mock-
up” ini akan ditentukan oleh Konsultan Pengawas. Jika masing-masing bidang tersebut telah
disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Perencana, maka bidang-bidang ini akan dipakai
sebagai standar minimal keseluruhan pekerjaan pengecatan.
i. Hasil pekerjaan yang tidak disetujui Konsultan Pengawas harus diulang dan diganti. Kontraktor
harus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasar atau cat finish yang kurang menutupi
atau lepas sebagaimana ditunjukkan oleh Konsultan Pengawas.
j. Biaya untuk hal ini ditanggung Kontraktor, dan tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah.
k. Pelaksanaan pekerjaan harus dilaksanakan oleh aplikator yang direkomendasikan oleh pihak
pabrik untuk mendapatkan garansi bahan dan pekerjaan dari pabrik.
l. Pekerjaan Pengecatan Permukaan Dinding Pasangan Bata dan Beton
1. Sebelum Pelaksanaan
Seluruh permukaan harus dibersihkan dari debu, minyak, lemak, kotoran atau noda lain,
bekas-bekas cat yang terkelupas bagi permukaan yang pernah dicat dan dalam kondisi
kering.
2. Pelaksanaan Pekerjaan dengan Roller
Pemakaian kuas hanya untuk permukaan dimana tidak mungkin menggunakan roller.
3. Permukaan Interior.
a) Lapisan Pertama:
- Cat dasar jenis Alkali
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
- Ketebalan lapisan 25–40 micron atau daya sebar per liter 13–15 m2
- Tunggu selama minimum 24 jam sebelum pelaksanaan pelapisan berikutnya.
- Warna bening (transparan)
b) Lapisan Kedua dan Ketiga:
- Cat jenis Interior Setara Dulux.
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
- Ketebalan lapisan 25-40 micron atau daya sebar per liter 11-17 m2 per lapis.
- Tenggang waktu antara pelapisan minimum 12 jam.
- Warna ditentukan kemudian.
4. Permukaan Exterior
a) Lapisan Pertama:
- Cat dasar jenis Alkali

101
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
- Ketebalan lapisan 25–40 micron atau daya sebar per liter 13–15 m2.
- Tunggu selama minimum 24 jam sebelum pelaksanaan pelapisan berikutnya.
- Warna bening (transparan).
b) Lapisan Kedua dan Ketiga:
- Cat jenis Exterior .
- Pelaksanaan pekerjaan dengan roller.
- Ketebalan lapisan 25-40 micron atau daya sebar per liter 11-17 m2 per lapis.
- Tenggang waktu antara pelapisan minimum 12 jam.
- Warna ditentukan kemudian.
m. Pekerjaan Pengecatan Logam Yang Ditampakkan.
1. Persiapan Sebelum Pengecatan.
Bersihkan permukaan dari kulit giling (kerak/millscale), karat, minyak, lemak dan kotoran
lain secara teliti, seksama dan menyeluruh sehingga permukaan yang dimaksud
menampilkan tampak logam yang halus dan mengkilap. Pekerjaan ini dilaksanakan dengan
sikat kawat mekanik (Mechanical Wire Brush). Akhirnya permukaan dibersihkan dengan
vacuum cleaner atau sikat yang bersih.
Sebelum dilakukan pengecatan, semua permukaan logam harus mendapat “solvent
treatment” untuk menghilangkan lemak dan kotoran.
2. Pelaksanaan pengecatan.
a) Lapisan Pertama:
Pekerjaan cat primer/dasar dilaksanakan sebelum komponen bahan/material logam
terpasang. Cat primer SEIV, tunggu selama minimum 6 jam sebelum pelaksanaan
pelapisan berikutnya. Pelaksanaan pekerjaan dengan kuas.
b) Lapisan Kedua:
Cat dasar jenis Undercoat.
Tunggu selama minimum 6 jam sebelum pelaksanaan pelapisan berikutnya. Pelaksanaan
pekerjaan dengan kuas.
c) Lapisan Ketiga dan Keempat: Cat akhir (“finish”), SEIV.
Pelaksanaan dengan kuas, tenggang waktu antara pelapisan minimum 16 jam. Warna
ditentukan kemudian.
n. Pekerjaan Pengecatan Logam Yang Tidak Ditampakkan
Semua pengecatan permukaan logam yang tidak ditampakkan hanya cat dasar SEIV 1 (satu)
lapis. Pelaksanaan dengan kuas.
o. Cara pelapisan batu alam :

102
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. Bersihkan Batu Alam
Langkah utama sebelum proses coating adalah memastikan bahwa batu alam benar-benar
bersih, bebas dari kotoran, debu, jamur atau lumut yang menempel. Bersihkan permukaan
batu menggunakan sikat, bila perlu gunakan sabun untuk kotoran yang sulit dibersihkan.
Sikat secara halus kemudian bilas dengan cara disemprot air bertekanan besar.

2. Keringkan Batu Alam


Setelah batu alam dibersihkan, pastikan bahwa batu alam benar-benar kering. Lap dengan
kain halus agar batu alam lebih cepat kering. Hal ini berguna untuk menghindari timbulnya
bercak atau noda putih jika batu dibiarkan kering dengan sendirinya. Disarankan proses
coating batu alam dilakukan pada musim panas, karena batu alam akan cepat kering dan
coating/pelapis batu alam juga akan menempel sempurna.

3. Aplikasikan Coating Batu Alam


Setelah permukaan batu alam benar-benar kering, selanjutnya adalah proses aplikasi batu
alam. Proses aplikasi coating batu alam pun cukup mudah, gunakan kuas atau alat semprot
dan aplikasikan secara merata. Ulangi proses pengecatan/coating sebanyak 2 kali untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Berikan jarak pengecatan untuk aplikasi selanjutnya
sekitar 2 jam.

3.24 Pekerjaan Waterproofing


3.24.1 Lingkup Pekerjaan
Meliputi penyediaan bahan dan pemasangan waterproofing pada
1. Lantai dan dinding bak SSC;
2. Lantai dan dinding bak Drying Area;
3. Lantai dan dinding bak Anaerob;
4. Lantai dan dinding bak Fakultatif;
5. Lantai dan dinding bak Maturasi;
6. Lantai dan dinding bak Wetland;
7. Lantai dan dinding bak Desinfektan;
8. Lantai dan dinding bak Biopod;
9. Lantai dan dinding bak SDB;
10. Atap Pos Jaga;
11. Sesuai dengan gambar kerja dan BoQ.

3.24.2 Pengendalian Pekerjaan


Seluruh pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan dalam :

103
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. NI – 3
b. ASTM 828
c. ASTME – 154
d. ASTMD – 146
e. TAPP 1803 dan 407

3.24.3 Bahan
1. Ada 2 jenis material yaitu Jenis Coating digunakan pada bak SSC, bak Anaerob, bak
Fakultatif, bak Aerob, bak Sedimentasi, bak Desinfektan, bak Drying Area dan Bak SDB.
Sedang Jenis Membran digunakan padak atap Pos Jaga dan Atap Teras Kantor Pengelola.
2. Semua material waterproofing yang digunakan harus dari produk yang telah mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas.

Bahan Waterproofing yang dipakai adalah dari jenis :


 Cementitious Coating merk SIKA, Fosroc
 Cementitious Membran tebal 3 mm merk SIKA
 Kontraktor tidak dibenarkan merubah standar dengan cara apapun tanpa ijin dari
Konsultan Pengawas.
3. Pengujian
a) Bila diperlukan Kontraktor wajib mengadakan test bahan sebelum dipasang, pada
laboratorium yang ditunjuk pengawas. Dan sebelum dimulai pemasangannya Kontraktor
harus menunjukkan sertifikat keaslian barang dari supplier disertai data-data teknis
komposisi unsur material pembentuknya.
b) Sewaktu penyerahan hasil pekerjaan, kontraktor wajib memberikan jaminan atas produk
yang digunakan terhadap kemungkinan bocor, pecah dan cacat lainnya, selama 10
(sepuluh) tahun termasuk mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi.
Jaminan yang diminta adalah jaminan dari pihak pabrik untuk mutu material, serta jaminan
dari pihak pemasang (applicator) untuk mutu pelaksanaan pemasangannya.
c) Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan/pengujian dengan melakukan penyemprotan
langsung dengan air serta menggenanginya dengan air di atas permukaan yang diberi
lapisan/additive kedap air.
4. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan
a) Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan tertutup (belum dibuka) dan
masih tersegel dan berlabel sesuai pabriknya.
b) Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup, tidak lembab, kering dan bersih.

104
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c) Kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan bahan-bahan yang disimpannya, baik
sebelum atau selama pelaksanaan.
5. Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan tertutup (belum dibuka) dan
masih tersegel dan berlabel sesuai pabriknya.
6. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup, tidak lembab, kering dan bersih.
7. Kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan bahan-bahan yang disimpannya, baik sebelum
atau selama pelaksanaan.
8. Pengujian
a) Bila diperlukan Kontraktor wajib mengadakan test bahan sebelum dipasang, pada
laboratorium yang ditunjuk pengawas. Dan sebelum dimulai pemasangannya Kontraktor
harus menunjukkan sertifikat keaslian barang dari supplier disertai data-data teknis
komposisi unsur material pembentuknya.
b) Sewaktu penyerahan hasil pekerjaan, kontraktor wajib memberikan jaminan atas produk
yang digunakan terhadap kemungkinan bocor, pecah dan cacat lainnya, selama 10
(sepuluh) tahun termasuk mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi.
Jaminan yang diminta adalah jaminan dari pihak pabrik untuk mutu material, serta jaminan
dari pihak pemasang (applicator) untuk mutu pelaksanaan pemasangannya.
c) Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan/pengujian dengan melakukan penyemprotan
langsung dengan air serta menggenanginya dengan air di atas permukaan yang diberi
lapisan/additive kedap air.

3.24.4 Syarat-Syarat Pelaksanaan


1. Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkkan kepada Konsultan Pengawas dan Direksi
Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuannya, lengkap dengan ketentuan/persyaratan dari
pabrik yang bersangkutan. Bahan-bahan yang tidak disetujui harus diganti atas tanggungan
Kontraktor.
2. Apabila dianggap perlu diadakan penukaran/penggantian, maka bahan-bahan pengganti harus
disetujui Konsultan Pengawas dan Direksi Pekerjaan berdasarkan contoh yang diajukan oleh
Kontraktor.
3. Sebelum pekerjaan dimulai di atas suatu permukaan, permukaan harus bersih, pengerjaannya
harus sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Direksi Pekerjaan. Peil- peil dan ukuran
harus sesuai dengan gambar.
4. Cara-cara pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan ketentuan dari pabrik yang
bersangkutan dan atas petunjuk Konsultan Pengawas dan Direksi Pekerjaan.
5. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan pada suatu tempat apabila ada

105
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
kelainan/perbedaan di tempat itu, sebelum kelainan tersebut diselesaikan.
6. Kontraktor harus memperhatikan serta menjaga pekerjaan yang berhubungan dengan
pekerjaan lain, jika terjadi kerusakan akibat kelalaiannya, maka Kontraktor tersebut harus
mengganti tanpa biaya tambahan.
7. Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang berpengalaman (aplikator resmi
produk tersebut) dan terlebih dahulu harus mengajukan “metode pelaksanaan” sesuai dengan
spesifikasi dari pabriknya untuk mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi
Pekerjaan.
8. Permukaan beton dimana waterproofing akan dipasang harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut.
1) Halus dan rata bebas dari tonjolan tajam dan rongga-rongga.
2) Bersih dari segala kotoran, debu, batuan kecil dan minyak.
9. Beton minimum harus berumur 7 (tujuh) hari, dan dalam kondisi kering (tidak ada air yang
terlihat di permukaan beton.
10. Metode pelaksanaan untuk sistem ”coating” dengan dioles ke dinding atau lantai, sedang
sistem”membran” dengan dibakar.

3.25 Pekerjaan Pelengkapan Pintu & Jendela/Penggantung dan Pengunci


3.25.1 Umum
a. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, peralatan, dan alat
bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan pemasangan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi instalasi seluruh peralatan penggantung dan pengunci pada pintu dan jendela, serta
pada bagian bangunan yang dalam gambar rencana ditunjukkan menggunakan penggantung
dan atau pengunci.
b. Pekerjaan lain yang berhubungan
Pekerjaan Kusen, Pintu, dan Jendela Alumunium.

3.25.2 Pengendalian Pekerjaan


Sesuai alat perlengkapan pintu dan jendela yang akan dipakai, harus sesuai dengan
persyaratan NI–3 1970 pasal 48, PU131-1982 pasal 88 serta instruksi pabrik/produsen.

3.25.3 Material
a. Pengunci

106
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
1. Bila tidak disebutkan lain dalam gambar maka semua peralatan kunci adalah dari merk
Dekson, Yale, Royal.
2. Masing-masing pengunci berbeda jenisnya sesuai jenis bahan Kusen, Pintu, dan Jendelanya.
b. Pegangan Pintu
1. Bila tidak disebutkan lain dalam gambar maka semua pekerjaan handel dan pegangan pintu
adalah dari bahan aluminium yang sama dengan rangka daun pintu merk Dexson.
2. Masing-masing handel atau pegangan pintu berbeda jenisnya sesuai jenis bahan Kusen dan
Pintu.
c. Engsel
1. Bila tidak disebutkan lain dalam gambar maka semua peralatan engsel adalah dari bahan
stainless steel, merk Dekson.
2. Masing-masing engsel berbeda jenisnya dan kekuatannya sesuai besarnya beban yang harus
dipikul.
d. Door Closer
Bila tidak disebutkan lain dalam gambar maka semua peralatan door closer/floor hinge adalah
dari merk Dekson, UNION/DORMA.
e. Winhaak.
Bila tidak disebutkan lain dalam gambar maka semua peralatan winhaak (pengait jendela)
adalah dari merk UNION, SESS, DEXSON.

3.25.4 Alat Kerja


Kontraktor pelaksana harus menyediakan seluruh peralatan yang diperlukan untuk
pemasangan komponen dan juga perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.

3.25.5 Persiapan
a. Contoh Bahan
Kontraktor harus menyerahkan 3 set contoh semua bahan alat penggantung dan pengunci
kepada Pengawas proyek untuk mendapat persetujuan penggunaan bahan dari Pengawas
proyek.
b. Brosur
Untuk keperluan Pengawas proyek, Kontraktor harus menyediakan brosur bahan guna
pemilihan jenis bahan yang dipakai.
c. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, pelaksana harus selalu berkoordinasi dengan pelaksanaan
pekerjaan lain yang berkaitan seperti pekerjaan Kusen, Daun Pintu dan Daun Jendela, serta
pekerjaan Kaca.

107
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan pabrik.
e. Penyimpanan bahan material ditempat yang bersih, aman, diberi perlindungan yang memadai
untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.

3.25.6 Pelaksanaan
a. Semua pekerjaan harus dilakukan oleh tukang-tukang dengan standard pengerjaan yang telah
disetujui oleh Pengawas proyek.
b. Pemasangan dan penyetelan harus tepat, tidak meninggalkan celah.
c. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan persyaratan teknis yang
benar.
d. Engsel untuk pintu dipasang sebanyak 3 buah untuk masing-masing daun pintu, kecuali
disebutkan lain dalam gambar. Engsel atas dan bawah dipasang 28 cm dari ambang atas/bawah
pintu, sedangkan engsel tengah dipasang di tengah-tengah di antara kedua engsel tersebut.
e. Engsel untuk jendela dipasang sebanyak 3 buah untuk masing-masing daun jendela kecuali
disebutkan lain dalam gambar.
f. Handel pintu dan pengunci dipasang 90 cm (as) dari permukaan lantai dibawahnya.
g. Tanda pengenal anak kunci harus dipasang sesuai dengan pintunya.

3.25.7 Pengujian
Seluruh perangkat kunci harus bekerja dengan baik, untuk itu harus dilakukan pengujian
secara kasar.

3.26 Pekerjaan Penutup Atap dan Talang


3.26.1 Pekerjaan Penutup Atap
a. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan material penutup atap dengan menggunakan :
1. Untuk Garasi Truck Tanki, Gudang Kompos dan Kanopi Parkir, memakai penutup atap jenis
Spandek Zincalume (Plat baja lapis seng aluminium) berwarna yang diprofil secara roll
dingin membentuk lembar seng gelombang (sesuai gambar perencana. Produksi : Utomo,
Fumira.
2. Untuk Kantor Pengelola dan Rumah Jaga, memakai penutup atap jenis Metal (Plat baja lapis
seng aluminium) berwarna yang diprofil secara roll dingin membentuk lembar seng
gelombang (sesuai gambar perencana. Produksi : Surya Roof, Sakura Roof, Multi Roof.
3. Untuk penutup Bak SC, Bak Drying Area dan bak SDB, memakai penutup atap jenis
Spandek Bening/Transparan yang diprofil secara roll dingin membentuk lembar seng
gelombang (sesuai gambar perencana. Produksi : Utomo, Fumira

108
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Material
1. Baja mutu tinggi lapis paduan Seng dan Aluminium, dengan komposisi minimal aluminium
sebesar 55% dan 43% Zinc. Tebal 0,3 mm.
2. Berat bahan material bila dihitung tiap m2 bidang atap 4,7 kg/m2.
3. Kuat Tarik material 500-550 Mpa
4. Density material 7400 kg/m³.
c. Alat Kerja
1. Penyedia jasa harus menyediakan seluruh peralatan yang diperlukan untuk fabrikasi
komponen dan juga perlengkapan kerja untuk keperluan pekerja pelaksananya.
2. Selain peralatan penyedia jasa juga harus menyediakan semua sarana yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan ini terutama yang dipergunakan untuk menjalankan peralatan
kerjanya.
d. Persiapan Shop Drawing
Sebelum pekerjaan penutup atap metal sheet Zincalume dilaksanakan, penyedia jasa harus
menyerahkan gambar-gambar pelaksanaan/shop drawing kepada Pengawas proyek. Sebelum
gambar shop drawing tersebut disetujui oleh Pengawas proyek, Penyedia jasa tidak
diperkenankan melaksanakan pekerjaan.
Shop drawing yang dibuat Penyedia jasa harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1. Harus memperlihatkan dengan jelas dimensi, sistem konstruksi, hubungan antar komponen,
cara penyambungan, dan detail-detail pemasangan.
2. Harus berkesesuaian dengan gambar rencana dan spesifikasi bahan.
Mock – Up
Sebelum memulai pekerjaan, penyedia jasa harus membuat contoh pemasangan yang
memperlihatkan dengan jelas pola dan metode pemasangan, perletakan, pelekatan bahan,
serta kaitannya dengan komponen bangunan lainnya. Mock-up yang telah disetujui akan
dijadikan standard minimal untuk pemasangan penutup atap.
3. Pekerjaan Konstruksi Rangka Atap tempat penutup atap akan dipasang sudah harus dalam
keadaan selesai/finish.
4. Penyedia jasa wajib meneliti gambar-gambar dan kesesuaian kondisi lapangan sebelum
memulai pelaksanaan pekerjaan. Apabila terjadi kekurang rataan kondisi permukaan, kurang
waterpass, ataupun ketidak sesuaian ukuran, elevasi, ukuran lebar, dan posisi terhadap
keseluruhan disain, maka Kontraktor Pelaksana wajib menyesuaikannya dengan membuat
shop drawing.
5. Seluruh bahan yang didatangkan di lapangan harus masih dalam kemasan pabrik, lengkap
dengan instruksi-instruksi pemasangannya.

109
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
6. Penyimpanan bahan material ditempat yang rata dan diberi suport dan perlindungan yang
memadai untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.
e. Pelaksanaan
1. Semua pekerjaan harus dilakukan oleh tenaga berpengalaman sesuai rekomendasi produsen
pembuat bahan zincalume penutup atap, dan dengan standard pengerjaan yang telah disetujui
oleh Pengawas proyek.
2. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah.
3. Semua detail pertemuan harus rata dan bersih dari cacat-cacat yang mempengaruhi
permukaan.
4. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan persyaratan teknis
yang benar.
5. Clip-clip pemegang harus dipasang dengan jarak sesuai yang direkomendasikan produsen
penutup atap.
6. Semua sambungan antar bahan penutup atap harus dikunci dan saling dilekatkan sesuai
rekomendasi produsen penutup atap.
7. Setiap kali selesai pemasangan penutup atap dalam 1 hari, Penyedia jasa harus
membersihkan permukaan bidang atap yang sudah terpasang dari semua kotoran sisa
pelaksanaan pekerjaan maupun dari kotoran-kotoran lain yang melekat.

3.26.2 Talang
a. Lingkup Kerja
1. Termasuk dalam lingkup pekerjaan ini penyediaan tenaga, bahan material, peralatan, dan alat
bantu lainnya sehingga dicapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi pelaksanaan pengadaan dan pemasangan Talang-talang beserta perlengkapan
lainnya.
b. Material
1. Pipa tegak PVC tipe AW merk : Wavin, Pralon, Maspion.
2. Talang datar PVC kotak RG140 RG 140 lebar 14 cm tinggi kedalaman 10 cm, nerk : Intilon,
Maspion.
3. Klem Besi Strip 2 x 40 x 2 mm.
4. Rangka talang datar konstruksi besi siku 50 x 50 mm.
c. Alat Kerja
1. Penyedia jasa harus menyediakan seluruh peralatan dan juga perlengkapan kerja untuk
keperluan pekerja pelaksananya.

110
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Selain peralatan penyedia jasa juga harus menyediakan semua sarana yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan ini.
d. Persiapan
1. Contoh Bahan
Guna mendapat persetujuan Pengawas proyek, Penyedia jasa harus menyerahkan contoh-
contoh semuai bahan yang akan dipakai.
2. Penyedia jasa wajib meneliti gambar-gambar dan kesesuaian kondisi lapangan sebelum
memulai pelaksanaan pekerjaan. Apabila terjadi ketidak sesuaian ukuran, elevasi, dan posisi
terhadap keseluruhan disain. Maka Penyedia Jasa wajib menuangkannya dalam shop
drawing dan melaporkannya kepada Pengawas proyek.
3. Penyimpanan bahan material ditempat yang rata dan diberi perlindungan yang memadai
untuk melindungi material dari perubahan bentuk ataupun dari kerusakan.
e. Pelaksanaan
1. Talang di pasang pada bangunan dengan menggunakan klem-klem yang telah diberi lapisan
Galvanis. Klem dipasang 4 buah untuk setiap lonjor pipa.
2. Pemasangan pipa tegak talang harus sejajar dengan garis vertikal bangunan.
3. Talang-talang datar dari metal sheet zincalume dibentuk sesuai gambar rencana dengan
kedalaman dasar talang dari bibir talang terendah sedalam sesuai gambar.
4. Pemasangan talang harus menghasilkan hasil akhir yang rapi dan teratur.
5. Sambungan antara pipa satu dengan yang lain adalah sesuai gambar rencana.
6. Sebelum pelaksanaan finishing cat, permukaan bidang yang berkarat pada sambungan pipa
harus dibersihkan dari karat atau harus dimatikan sifat karatnya dengan sand blasting SA 2½
atau cairan penutup karat setara ROST X eks PT Propan Raya.

3.27 Pekerjaan Paving Block dan Kanstein


3.27.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan paving dan kansteen beton untuk Kasawan IPLT
Kabupaten Tegal dengan menggunakan material permukaan paving blok dengan ketentuan jenis,
ukuran dan kekuatan seperti dalam gambar dan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

Pemasangan paving block dan kansteen harus dilakukan oleh Aplikator yang direkomendasikan
Pabrikan Paving Block. Produk : ABC, ALDAS, MASTER BETON.

3.27.2 Persyaratan Bahan


 Paving Block 21 x 10,50 cm, tebal 6 cm K-225 abu-abu
 Paving Block 21 x 10,50 cm, tebal 8 cm K-300 abu-abu

111
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Warna paving harus monolit (menyeluruh pada keseluruhan paving block), tidak boleh
permukaannya saja.
 Kerb A K-225, 10/15x30x50 cm
 Kanstein 10.20.50 cm, K-200
 Mengacu SNI 03-0691-1996

3.27.3 Toleransi Dimensi


 Perbedaan ukuran paving rata – rata tidak lebih dari 2 mm setiap paving.
 Kerataan permukaan masing – masing paving tidak lebih dari 0,3 mm.
 Kemiringan permukaan untuk keperluan drainage dibuat rata – rata max. 2 % kearah
pembuangan kecuali pada tikungan menyesuaikan gambar.
 Alur paving sesuai standar pabrik.
 Ketebalan rata – rata minimal 8 cm.
 Paving yang tidak memenuhi standar toleransi tidak diterima (ditolak).
 Ukuran paving menyesuaikan dengan gambar rencana.

3.27.4 Pengujian Contoh Paving Block


 Contoh paving block yang akan dipasang kuat tekannya harus diuji terlebih dahulu
dilaboratorium yang direkomendasikan oleh Direksi Pekerjaan.
 Pengujian dilaksanakan untuk uji kuat tekan dan uji abrasi/keausan
 Contoh Paving dan Kansteen yang diuji adalah yang akan dipasang di lapangan di ambil secara
acak.
 Setiap kurang lebih 50-100 m2 paving block yang akan dipasang harus diwakili 1 buah benda
uji untuk pengetesan kuat tekan.
 Jumlah benda uji paving keseluruhan minimal 10 buah.
 Setiap kurang lebih 100 m1 Kansteen yang akan dipasang harus diwakili 1 buah benda uji untuk
pengetesan kuat tekan.
 Jumlah benda uji Kansteen keseluruhan minimal 10 buah
 Paving block dan kansteen cetak yang tidak memenuhi persyaratan kuat tekan berdasarkan hasil
pengujian di laboratorium, tidak akan diterima (ditolak).

3.27.5 Persyaratan Pasir


 Pasir Perata :
Sebagai lapis perata yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan Paving block memposisikan
diri terutama dalam proses penguncian.

112
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Pasir Pengisi :
Pasir pengisi ini diisikan pada celah–celah diantara Paving block dengan fungsi utama
memberikan kondisi kelulusan air, menghindarkan bersinggungannya.

Baik pasir perata dan pasir pengisi, spesifikasinya adalah Pasir Beton.

3.27.6 Urutan Pekerjaan Pemasangan Paving Block


a. Pekerjaan ”mock up” dan pengukuran/penetapan peil - peil.

 Sebelum melaksanakan pemasangan paving block secara keseluruhan, Kontraktor Pelaksana


harus melaksanakan contoh pemasangan paving block ”Mock Up” sesuai dengan gambar
perencanaan, dengan luas minimal 4 m2. Kontraktor Pelaksana baru bisa melanjutkan
pekerjaan pemasangan Paving Block, setelah hasil pelaksanaan pemasangan paving block
”Mock Up” disetujui secara tertulis oleh Konsultan Pengawas dan Pemberi Pekerjaan.
 Pemborong diwajibkan memberitahukan kepada Direksi setiap kali suatu bagian pekerjaan
akan dimulai untuk dicek terlebih dahulu ketetapan peil-peil dan ukurannya.
 Sebelum pekerjaan pengukuran dimulai, pemborong wajib membuat serta memasang patok-
patok ukur yang dibuat dari Kayu Kalimantan yang kuat dengan ukuran 5 x 7 cm panjang di
atas permukaan tanah minimal 30 cm, dicat dengan warna merah. Patok-patok tersebut harus
ditanam kuat dan tidak boleh berubah selama pekerjaan berlangsung dan sampai dengan
pekerjaan selesai.

b. Pekerjaan tanah dan lapisan pondasi dasar

Pekerjaan Tanah dan Lapisan Pondasi dimaksud adalah pekerjaan dasar sebelum pemasangan
lapisan permukaaan (paving blok), pemadatan tanah sesuai dengan peil yang telah ditentukan
sehingga didapatkan lapis dasar yang kuat sesuai dengan rencana.

c. Pekerjaan pemasangan paving block


 Pasir alas seperti yang dipersyaratkan segera digelar diatas lapisan base. Kemudian diratakan
dengan jidar kayu sehingga mencapai kerataan yang seragam dan harus mengikuti
kemiringan yang sudah dibentuk sebelumnya pada lapisan base.
 Pemasangan paving harus kita mulai dari satu titik/garis diatas lapisan pasir alas.
 Tentukan kemiringan dengan menggunakan benang yang kita tarik tegang dan kita arahkan
melintang sebagai pedoman garis A dan memanjang sebagai garis B, kemudian kita buat
pasangan kepala masing-masing diujung benang tersebut.
 Pemasangaan paving harus segera kita lakukan setelah penggelaran pasir alas. Hindari
terjadinya kontak langsung antar block dengan membuat jarak celah/naat dengaan spasi 2-3
mm untuk pengisian pasir halus.

113
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Memasang paving harus maju, dengan posisisi pekerja diatas block yang sudah terpasang.
 Pengisian pasir halus harus segera kita lakukan setelah pamasangan paving dan segera
dilanjutkan dengan pemadatan paving.
 Pemadatan paving dilakukan dengan menggunakan alat plat compactor yang mempunyai
plat area 0,35 s/d 0,50 m2 dengan17 gaya sentrifugal sebesar 16 s/d 20 kN dan getaran
dengan frekwensi 75 s/d 100 MHz. Pemadatan hendaknya dilakukan secara simultan
bersamaan dengan pemasangan paving dengan minimal akhir pemadatan meter dibelakang
akhir pasangan. Jangan meninggalkan pasangan paving tanpa adanya pemadatan, karena hal
tersebut dapat memudahkan terjadinya deformasi dan pergeseran garis joint akibat adanya
sesuatu yang melintas melewati pasangan paving tersebut.Pemadatan sebaiknya kita lakukan
dua putaran, putaran yang pertama ditujukan untuk memadatkan pasir alas dengan
penurunan 5 - 15 mm (pasir yang dipakai). Pemadatan putaran kedua, disertai dengan
menyapu pasir pengisi celah/naat block, dan masing-masing putaran dilakukan paling sedikit
2 lintasan.

3.27.7 Hasil Akhir

 Bidang pasang paving rata atau tidak bergelombang, padat , tidak cacat, (pecah / patah terbagi).
 Alur –alur harus lurus dengan ukuran yang sama.
 Siar terisi penuh dengan pasir halus / mortar.
 Air mengalir lancar kesaluran drainage jalan dengan kemiringan maximal 2 %.
 Permukaan paving harus bersih dari bekas – bekas semen dan kotoran lainnya.

3.27.8 Pekerjaan Kanstein


Persyaratan pemasangan Kanstein :

a. Pemasangan Kanstein harus dilakukan sesuai dengan gambar dan digali kemudian antar
kanstein diisi dengan spesi dengan perbandingan 1 Pc : 4 Ps.
b. Sebelum kanstein dipasang, dibawah kanstein harus dipasng urugan pasir setebal 5 cm dan
lantai kerja beton f’c 7,4 Mpa setebal 5 cm, baru diatasnya dipasang kanstein.
Kanstein dari beton pra cetak harus merupakan jenis/tipe yang diperlihatkan pada Gambar dan
dari kualitas baik yang dapat diperoleh secara lokal dan dapat diterima oleh Direksi
c. Kanstein yang dibuat di luar tempat proyek, maka Kontraktor harus mengajukan pada Direksi
Teknik contoh-contoh dari produk bersama dengan sertifikat pengujian dari pabrik yang
membuktikan mutu sebelum bahan-bahan semacam itu digunakan dalam Pekerjaan. Dalam hal
dimana pabrik tidak melaksanakan pengujian dengan memuaskan bagi Direksi maka Kontraktor
harus menguji jenis-jenis tersebut, sebagaimana diarahkan oleh Direksi

114
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Jalur-jalur yang diperlukan untuk pekerjaan ini harus dibersihkan dan dileveling sampai bentuk
dan kedalaman yang diperlukan, dan pondasi di atas mana Kanstein tersebut akan ditempatkan
harus dipadatkan sampai suatu permukaan yang rata. Semua bahan yang lunak dan tidak sesuai
harus dikeluarkan dan diganti dengan bahan yang sesuai yang harus dipadatkan secara
menyeluruh.
e. Kanstein dibuat dengan teliti sesuai dengan Gambar Detail, garis-garis dan ketinggian
sebagaimana terlihat pada Gambar atau sebagaimana diarahkan oleh Direksi Teknik. Semua
Kanstein yang harus dibuat pada suatu lengkungan sampai suatu radius kurang dari pada 20
meter harus dibuat dengan menggunakan cetakan-cetakan lengkung atau unit-unit Pracetak yang
melengkung.
f. Kanstein dan jenis-jenis pra-pabrikasi lainnya harus diletakkan dengan sambungan-sambungan
yang serapat mungkin.
g. Setelah pekerjaan pemasangan paving dan blok-blok kanstein telah dipasang menurut ketetapan
dari Direksi Teknik, maka setiap daerah galian yang tersisa harus diurug dengan bahan yang
disetujui.
h. Pengecatan Kanstein dilakukan dengan menggunakan cat khusus untuk kansteen / cat luar
dengan warna dan pola sesuai dengan petunjuk Direksi.

3.28 Pekerjaan Perlindungan


3.28.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi
a. Pekerjaan sealant.
Semua celah pada sambungan unit saniter dan “accessories”nya terhadap dinding, lantai
maupun antara pipa. Semua celah pada kaca dengan rangka dan dinding. Semua celah pada
kusen aluminium.
b. Pekerjaan grouting.
Semua pekerjaan penutup celah yang terjadi pada bahan/material metal yang tertanam dalam
beton maupun pasangan bata.
c. Pekerjaan floor hardener.
Pelapisan dengan bahan/material floor hardener untuk permukaan lantai beton pada: Garasi
Truck Tinja, Ruang Genset, Gudang Kompos, Kanopy Parkir, dan atau sesuai Gambar Kerja.

3.28.2 Persyaratan Bahan


a. Pekerjaan Sealant
Bahan sealant harus sesuai dengan kegunaan, fungsi dan bahan/material, tahan cuaca, kedap air,
tahan terhadap garam dan alkali, bersifat elastis untuk menghadapi perubahan temperatur, tahan

115
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
benturan dan berdaya lekat tinggi dan bahann dasar dari Poly Urethan.
b. Pekerjaan grouting
Bahan grouting dari jenis non-shrink dan non-metallic dengan pemakaian dicampur semen.
Bahan grouting untuk penutup/pengisi keretakan beton dari jenis epoxy dengan pemakaian
diinjeksikan kedalam retakan. Pekerjaan harus dilaksanakan oleh aplicator dengan garansi.
c. Pekerjaan Floor Hardener
Bahan floor hardener dari jenis non-metallic siap pakai, tahan gesek, tahan aus, tahan benturan,
tahan minyak dan oli, anti slip dan memiliki ketahanan terhadap beban 5–10 kg/m2. Merk :
Sikka, Fosroc, Faricon.
Dosis : 5 kg/m2
Warna : Ditentukan kemudian.
d. Penyerahan bahan/material di tempat pekerjaan harus dalam keadaan masih utuh, tertutup baik
dan tersegel dalam kemasannya serta berlabel seperti waktu diterima dari Distributor / Pabrik.
Jika dalam keadaan cacat atau rusak, maka bahan/material tersebut tidak diperkenankan untuk
dipakai.

3.28.3 Persyaratan Pelaksanaan.


a. Sebelum pelaksanaan, permukaan dari semua bahan/material yang termasuk dalam pekerjaan
harus bersih dan bebas dari debu, minyak, air dan noda maupun kotoran lainnya. Peil atau
elevasi permukaan tersebut sudah disetujui Konsultan Pengawas. Apabila dari bahan/material
yang dipakai ada yang mengandung bahan dasar yang beracun atau membahayakan kesehatan
dan keselamatan manusia, maka Kontraktor harus menyediakan peralatan pelindung misalnya:
masker, sarung tangan dan sebagainya yang harus dipakai pada waktu pelaksanaan pekerjaan.
Selama pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus diawasi oleh Tenaga Ahli/Supervisi dari
pabrik pembuat. Biaya untuk hal ini ditanggung oleh Kontraktor, dan tidak dapat diklaim
sebagai pekerjaan tambah. Prosedur pelaksanaan harus sesuai dengan spesifikasi pabrik.

b. Pekerjaan Sealant
Sepanjang permukaan yang akan diberi sealant harus benar-benar kering, bersih dan bebas dari
debu, minyak, lemak, pecahan atau bubuk adukan, partikel bahan/material yang terlepas
maupun noda dan kotoran lainnya. Permukaan material harus sudah di-finish. Tidak
diperkenankan melaksanakan pekerjaan ini di dalam ruangan tertutup karena sealant
memerlukan kelembaban atmosfir untuk mengeras. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
Kontraktor harus memperhatikan cara pemasangan dan jenis sealant yang dibedakan
berdasarkan macam/jenis material yaitu:
1. Material keramik/kaca/almunium.

116
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Material metal.
3. Material kayu.
4. Material beton.
5. Permukaan aduk plesteran dan lain-lain.
Kontraktor harus mengikuti semua persyaratan/spesifikasi pabrik.

c. Pekerjaan Grouting
1. Persiapan Permukaan.
Metal yang tertanam telah diberi cat dasar atau cat anti karat. Terkecuali untuk baja stainless
steel, persyaratan ini tidak berlaku. Permukaan lubang pada beton maupun pasangan batu
bata harus bersih dan bebas dari debu, minyak, lemak, pecahan atau bubuk adukan/semen,
partikel bahan/material yang terlepas maupun noda dan kotoran lainnya. Sebelum pemberian
grouting, permukaan lubang harus dibasahkan terlebih dahulu tetapi tidak diperkenankan ada
butiran air di atas permukaan tersebut pada waktu pelaksanaan grouting.
2. Pelaksanaan
Aduk grouting diisikan dari satu arah menerus hingga seluruh celah/lubang tertutup padat,
tidak ada rongga, rata permukaan agar tidak terbentuk rongga udara. Apabila celah/lubang
berukuran kecil, pengisian aduk grouting dapat mempergunakan corong atau alat lain.
3. Perawatan (curing) dan perbaikan
Permukaan aduk grouting harus dilindungi dari pengeringan dan pengerasan yang terlalu
cepat yaitu dengan ditutup oleh kain basah.

d. Pekerjaan Floor Hardener


1. Persiapan Permukaan
Bidang permukaan lantai harus rata, tidak terdapat retak-retak, tidak ada lubang dan celah-
celah. Jika ada retak, lubang atau celah, harus ditutup dengan adukan kedap air (trasraam)
sampai rata terhadap permukaan sekelilingnya.
2. Pelaksanaan
Pekerjaan lapisan floor hardener dilaksanakan setelah ada persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan lapisan floor hardener dengan
mengikuti persyaratan dari pabrik pembuat.
3. Pemeliharaan
Lapisan floor hardener yang telah selesai terpasang harus dihhindarkan dari terjadinya
kerusakan dan cacat akibat adanya pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan lain. Kerusakan-
kerusakan yang terjadi pada permukaan lapisan floor hardener harus diperbaiki oleh
Kontraktor hingga mencapai mutu pekerjaan seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi ini
tanpa adanya biaya tambahan.

117
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3.29 Pagar BRC


Pagar BRC (Galvanized Fence) adalah pagar siap pasang terbuat dari material besi U-50
yang sangat praktis dan berpenampilan menarik. Lembaran pagar ini dibentuk dahulu, kemudian
dilapisi galbani dengan cara hot dip (celup panas 465ºC) atau electroplating, sehingga terjamin
ketahanannya terhadap bahaya korosi/karat. Anda tidak perlu melakukan perawatan maupun
pengecatan ulang untuk jangka waktu yang lama karena kualitas galbaninya yang unggul.
Keunggulan (Advantages):
a. Tahan karat (Bebas perawatan);
b. Praktis (Pemasangan mudah);
c. Ekonomis (Harga produk dan pemasangan relatif lebih murah);
d. Aman (Kuat dan berfungsi sebagai security fence dengan baik);
e. Fleksible (Dapat direlokasi ke area lain tanpa merusak pagar);
f. Desain minimalis (Penampilan yang menarik, simple, dan minmalis.
Finishing Galvanized, tersedia dalam 2 pilihan galvanized/galbani, yaitu:
a. Hot Dip Galvanized (permukaan lebih kasar; ketahanan terhadap korosi 8-10 tahun);
b. Electroplating/UCP Galvanized (permukaan lebih halus;ketahanan terhadap korosi 2-4 tahun).
TABEL IV. 1
TEBAL GALBANI-HOT DIP
Keterangan Teknis Pagar BRC Tebal Galbani-Hot Dip
(Mikron)
Pagar 75
Tiang/Rangka pintu
75
Tebal p[ipa baja min 2 mm dan max 2,3 mm
Tutup Tiang Baja
75
Terbuat dari Pelat Baja setebal 2 mm
U Clip
50-75
Terbuat dari Pelat Baja Setebal 1,2 mm
Mur/Baut 50-75
Angkur/Jeruji
75
Terbuat dari Baja Mutu U-50, diameter 6 mm dan 7 mm

Pagar BRC yang dipakai adalah : pagar BRC 90 x 240 cm, diameter 8
Uantuk tiang yang dipakai : Tiang pagar BRC dia. 2", tebal 2 mm - pjg. 120 cm
Tiang tertanam pada sloof beton, sedang sloof beton dipasang diatas talud yang mengelilingi
kolam. Dimensi sloof 15/20 dengan mutu beton K-175 dan pembesian polos.
Keuntungan Galvanizing:
a. Melindungi besi atau baja (pagar) terhadapkarat dalam jangka waktu yang lama .
b. Tidak memerlukan biaya pemeliharaan.
c. Tidak memerlukan pengecatan (pengecatan bisa dilakukan jika menginginkan warna tetentu,
selera).

118
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Melindungi permukaan besi atau baja (pagar, tiang dan pintu) terhadap goresan.
Proses instalasi cepat, praktis, dan ekonomis

3.30 Pagar Rooster Minimalis

Untuk pondasi, sloof dan kolom disesuaikan Gambar Rencana dan BOQ yang ada. Untuk rooster
memakai bahan beton dengan spesi menggunakan mortar semen.
Spesifikasi Roster Beton Minimalis :
- Ukuran : 20 x 20 x 10 cm
- Berat sesungguhnya 3,5 Kg
- 1 Meter persegi isi : 25 Pcs
Warna :
- Abu Beton
- Putih
- Merah

GAMBAR 4. 1
CONTOH ROOSTER BETON
Struktur dari pagar rooster minimalis adalah pondasi foot plat, sloof beton dan kolom beton dengan
mutu beton K-175 (f’c = 14,5 Mpa)

3.31 Pagar Kawat Duri


3.31.1 Spesifikasi Teknis

Spesifikasi teknis standar pagar duri kolom precast yang tersedia :

 Kolom beton cor on site 15x15 cm mutu beton K-175 f'c=14,5 Mpa)., tinggi terpasang 200cm
dari permukaan dasar anah asli (opsional).

 Tulangan kait besi beton diameter 8mm atau 10mm SNI (opsional).

119
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Pondasi beton cor ditempat (site mix), mutu beton K-175 (f'c=14,5 Mpa).

 Kawat duri light galvanized 2mm atau hot deep galvanized, diameter kawat 2,6 mm).

3.31.2 Cara Memasang


Secara umum terdapat 4 tahapan yang harus dilakukan dalam pemasangan kawat duri pada pagar.
Berikut adalah tahapan pemasangan kawat duri untuk pagar :
1. Pengecoran pondasi dan kolom
2. Pemasangan kait
3. Penarikan kawat
Sambil menunggu pengecoran kering, kita bisa mulai menarik kawat duri yang sudah kita
siapkan. Penarikan kawat duri dimulai dari bagian ujung pagar.
Tempatkan ujung kawat duri pada tempat tatakan yang kuat agar saat kita tarik kawat duri
tersebut tidak lepas. Tarik kawat duri secara perlahan jangan terlalu keras karena bisa merusak
kawat duri.
Dalam proses penarikan kawat duri selalu gunakan kayu/besi/bambu di tengah gulungan kawat
agar proses penarikan kawat bisa lebih mudah.
4. Pengikatan kawat
Setelah cor benar-benar kering maka kita bisa melakukan pengikatan kawat duri pada tiang
penyangga. Dalam proses pengikatan kawat pada tiang ini kita perlu menyiapkan tali baja,
jangan gunakan bendrat karena pada ruang trebuka jenis kawat ini akan cepat mengalami korosi.
Setiap tiang penyangga umumnya memiliki lubang untuk tempat pengikat kawat. Jumlah lubang
tersebut mengikuti jumlah lajur kawat duri yang kita inginkan.
Umumnya jumlah lajur kawat yang ada di pasaran adalah 4 lajur, 5 lajur dan 6 lajur. Namun kita
bisa memesan jumlah lajur tersebut sesuai keinginan kita kepada pemborong. Lakukan
pengikatan kawat dengan hati-hati dan menggunakan tang atau alat bantu lainnya agar
pengikatan tersebut lebih kuat. Hindari pengikatan kawat pada tiang dengan menggunakna
tangan secara langsung atau tanpa alat bantu.

3.32 Pekerjaan Buffer Lingkungan dan Taman/Lansekap


3.32.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan bahan, peralatan dan
alat bantu Iainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini secara Iengkap, meliputi:
Pekerjaan Taman/Lansekap, meliputi semua pekerjaan yang tertera dalam gambar kerja dan sesuai
petunjuk Direksi Pekerjaan (Tim Teknis)/Konsultan Pengawas, yaitu :

120
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. Pembongkaran tanaman dengan tidak merusak akar tanaman, kemudian dipindahkan ke tempat
lainnya
b. Pekerjaan Penanaman
Buffer Lingkungan berupa tanaman peneduh sedang Taman/Lansekap berupa tanaman hias dan
ground cover/rumput-rumputan.
c. Pekerjaan Perawatan I Pemeliharaan Tanaman seperti penyiraman, penyiangan, penggantian
tanaman, pemangkasan pemupukan dan pemberantasan hama.

3.32.2 Persyaratan Bahan


Bahan Untuk Pekerjaan Landscape/Taman.
Jenis tanah yang dipakai adalah tanah merah untuk urugan dan tanah subur yang dihamparkan
dengan ketebalan minimum 10 cm. Untuk Jenis tanaman adalah sebagai berikut:
a. Jenis Pohon Peneduh
1) Pohon Trembesi dan Tabebuya Bunga Kuning;
2) Sesuai dengan gambar dan Bill of Quantity.
b. Jenis Ground Cover
1) Rumput Gajah Mini;
2) Sesuai dengan gambar Bill of Quantity.
c. Jenis Semak dan Tanaman Hias
1) Pohon Bougenvile varigata merah
2) Pohon Pucuk merah
3) Pohon Puring Kura-kura Besar
4) Tanaman Rombusa;
5) Sesuai dengan gambar Bill of Quantity.

TABEL IV. 2
DAFTAR TANAMAN
No Jenis Tanaman Diameter Tinggi
1 Pohon Tabebuya Bunga Kuning 5-8 cm 3-4 m
2 Pohon Trembesi 7-10 cm 3-4 m
3 Bougenvile varigata merah 50-60 cm
4 Pohon Pucuk merah 50-60 cm
5 Pohon Puring Kura-kura Besar 40-60 cm
6 Pohon Rombusa 15-20 cm

3.32.3 Persyaratan Penanaman

1. Syarat Tanaman pada saat Di Tanam

Tanaman terlihat sehat dengan batang segar dengan warna kehijauan, daun berwarna

121
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
hijau segar. Semua jenis tanaman harus bebas dan segala penyakit dan hama, daun/cabang jangan
sampai cacat dan tumbuh sehat. Pembungkusan Ball Root tanaman harus dengan karung goni dan
diikat dengan erat untuk mencegah pecahnya akar dalam pengangkutan.
Untuk penampungan sementara dilapangan dipilih tempat yang arnan dan segala
kerusakan, teduh dan dekat daerah penanaman. Dibuatkan peneduh dengan membuat atap anyaman
Kayu Dolken atau daun kelapa agar dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Tanaman
dijaga agar mendapat panas matahari langsung 50%. Waktu penyesuaian adalah 2 sampal 4 minggu
di tempat penampungan dengan menanamkan dalam tanah setempat tanpa melepas Ball Root untuk
tanaman hias. Semua jenis tanaman yang tertanam harus disetujui Direksi Pekerjaan (Tim
Teknis)/Konsultan Pengawas.

2. Bahan Untuk Pekerjaan Pemeliharaan.

Jenis Pupuk yang dipakal adalah pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang
dipilih dan kotoran sapi yang telah kering dan matang, bersih dan gumpalan akar rumput dan
tanaman liar serta sudah datam keadaan hancur (ada bongkahan). Pupuk buatan yang diberikan
adalah pupuk buatan yang mengandung unsur unsur N, P, K yaitu NP Krustica Complete Yellow
(15:15:15). Untuk tanaman rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15 gram/N.

3. Persyaratan Pelaksanaan

Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk petunjuk dan syarat-syarat


pekerjaan landscape, standard spesifikasi dan bahan yang dipergunakan dan sesuai petunjuk yang
diberikan Direksi Pekerjaan (Tim Teknis)/Konsultan Pengawas. Sebelum melaksanakan pekerjaan
di lapangan harus diperhatikan koordinasi kerja dengan pekerjaan lain yang menyangkut pekerjaan
Arsitektur, Elektrikal dan Sanitasi. Terutama dalam melakukan pekerjaan pembentukan tanah dan
penyelesaian tanah agar tidak terjadi kesalahan, pembongkaran, perusakan yang tidak diinginkan
terhadap pekerjaan lain yang telah selesai maupun yang sedang dilaksanakan.
Pembentukan dan penyelesaian tanah harus mengikuti bentuk kemiringan/kontur/peil
yang tertera dalam gambar kerja. Kemiringan-kemiringan yang dibuat harus cukup kuat untuk
mengalirkan air hujan menuju ke selokan yang ada di sekitarnya serta rnengikuti persyaratan-
Persyaratan yang tertera dalam gambar kerja. Tidak dibenarkan adanya genangan air di atas tanah.
Untuk pekerjaan penanaman, diperlukan pengupasan tanah yang mengandung bahan organis
sedalam kedalaman tanah setempat sampai mendapatkan tanah subur, serta penyediaari tanah subur
untuk urugari, bekas galian tanah tersebut.
Tanah yang dipersiapkan untuk pekerjaan penanaman harus benar benar dibersihkan dan
batu, kerikil, aduk, kapur dan segala bekas bahan bangunan, bahan plastik dan bahan-bahan
organis. Tanah yang dipakal untuk urugan dan pelapisan tanah (top soil) untuk rumput adalah tanah

122
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
subur dan gernbur. Tanah urug yang dipakai pada saat penanaman dicampur dengan pupuk
kandang dengan perbandingan jumlah yang sama (1:1) atau sesuai persyaratan untuk jenis tanaman
maupun rumput.

4. Pekerjaan Penanaman

Pemasangan patok-patok berikut dengan keterangan koordinat posisi perlu dilaksanakan


terutama untuk patokan penanaman awal setiap jenis tanaman. Patokan diambit berdasarkan
pengukuran bangunan yang terdekat/patokan-patokan yang ada dalam tapak. Perbedaan antara
gambar dengan keadaan harus dilaporkan pada Direksi Pekerjaan (Tim Teknis) untuk diambil
keputusan pemecahan perihal perbedaan setempat. Peil perrnukaan rumput dan tanaman hias yang
terpasang disesuaikan gambar.
Jenis rumput gajah ditanam berupa rumpun-rumpun pada setiap jarak 10cm secara teratur
dan lurus dengan pola zig zag, ditanam dengan cara mundur. Semua penanaman sebaiknya
dilakukan pada sore hari atau setelah pukul 15.30 agar tidak banyak terjadi penguapan dan
kekeringan yang terlampau cepat bagi tumbuh-tumbuhan tersebut kecuali penanaman yang
dilakukan ditempat yang terlindung dan panas matahari Iangsung dapat dilakukan setiap saat.
Bila setiap kali pelaksanaan penanaman jenis rumput yang telah disebutkan dan tanarnan
hias selesai dilaksanakan, harus segera dilakukan penyiraman dengan air yang bebas dan bahan/zat
yang dapat mematikan tanaman. Penyiraman ini harus dilakukan secara teratur pagi dan sore setiap
hari agar dapat tumbuh cepat dan baik. Penyiraman dilakukan pagi sebelum pukul 10.00 dan sore
hari sesudah pukul 15.00.

3.32.4 Persyarata Pemeliharaan


1. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman harus diperhatikan oleh Penyedia Jasa Konstruksi setelah selesai
penanaman sampai berakhirnya masa pemeliharaan. Selama masa itu, Penyedia Jasa Konstruksi
diwajibkan secara teratur memelihara tanaman dan mengganti setiap kali ada yang rusak/mati.
Semua penggantian tanaman menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi. Pemeliharaan
tanaman ini disesuaikan dengan sifat dan jenis tanaman yang tertanam. Bahan dan peralatan yang
dipergunakan dalam setiap jenis pekerjaan pemeliharaan ini harus benar-benar baik, memenuhi
persyaratan kerja yang dibutuhkan dan jangan sampai merusak tanaman.
2. Penyiraman Tanaman
Penyiraman dilakukan dengan air bersih yang bebas dan segala bahan organis/zat
kimia/bahan lain yang dapat mengganggu dan merusak pertumbuhan tanaman.
a. Cara Penyiraman:

123
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Memakai alat khusus untuk menyirami tanaman yang berlubang banyak pada tempat ujung air
ke luar sehingga air keluar dapat menyebar dan merata ke seluruh permukaan tanah yang
disiram. Menggunakan selang air yang terbuat dan plastik dihubungkan dengan kran/sumber air
yang terdekat. Penyiraman dilakukan dengan cara memancarkan air melalui sprayer di ujung
selang. Penyiraman dilakukan secara teratur terutama di musim kemarau dan bagi tanam-
tanaman dan rumput yang baru ditanam dan juga bagi tanam-tanaman dalam tempat
penampungan. Hal ini harus benar benar diperhatikan.
b. Penyiraman tanaman dilakukan:
Dua kali sehari secara teratur bagi semua jenis tanaman dan rumput yang baru ditanam dan
semua jenis tanaman dalam penyimpanan sementara sebelum pukul 10.00 dan sore han sesudah
pukul 15.30, sampai tanam-tanaman tersebut tumbuh sehat dan kuat. Untuk semua jenis
tanaman dan rumput yang sudah terlihat tumbuh baik dan kuat disiram satu kali sehari pada sore
hari setelah pukul 15.30. Banyaknya air penyiraman harus cukup sampai membasahi bawah
permukaan tanah.
Bagi tanaman yang masih terlihat cukup basah tanahnya pada sore hari untuk penyiraman pada
saat itu tak perlu dilakukan. Tidak diperkenankan tanah bekas siraman terlihat tergenang air. Air
harus dapat terserap baik oleh tanah di sekitar tanaman.
3. Penyiangan Tanaman
Penyiangan ini harus dilakukan secara teratur tiap satu bulan Sekali bagi tanaman pohon
dan rumput yang tertanam. Untuk tanaman rumput, penyiangan ml perlu dilakukan untuk mencabut
segala tanaman liar dan jenis rumput yang berbeda dengan jenis rumput yang ditanam. Alat yang
dipakai adalah pancong atau cangkul garpu kecil.
4. Penggantian Tanaman dan Rumput
Penyedia Jasa Konstruksi wajib mengganti setiap kali ada tanaman dan rumput yang
rusak atau mati. Semua penggantian dengan tanaman dan rumput baru, menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa Konstruksi sampal masa pemeliharaan yang ditentukan berakhir. Penggantian
tanaman harus sesuai dengan jenis/bentuk/warna daun dan bunga dengan apa yang telah ditentukan
dan tertanam.
Penggantian tanaman dan rumput harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin jangan
sampai merusak tanaman dan rumput lain di sekitarnya pada saat mencabut dan menanam yang
baru. Penggantian tanaman dan rumput dilaksanakan pada sore hari antara pukul 15.00-18.00 dan
sesudah dilakukan penanaman baru harus segera disiram air.
5. Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan pada cabang/ranting yang tumbuh tidak teratur/liar, atau untuk
mendapatkan/mempertahankan bentuk pertumbuhan cabang yang diinginkan. Membuang ranting

124
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
dan cabang yang sakit dengan memotongnya. Semua pekerjaan pemangkasan ml dilakukan dengan
gunting pangkas dengan memangkas cabang dan ranting arah miring dan bawah ke atas dengan
sudut 30°-40°.
Tidak dibenarkan pemangkasan dilakukan dengan mematahkan ranting/cabang tanpa alat
yang baik dan cukup tajam, sehingga ranting/batang pecah atau rusak. Untuk bekas pemotongan
ranting/cabang yang permukaannya terpotong lebar, penampang yang terpotong tersebut ditutup
ter. Pemangkasan ini dilakukan secara teratur tiap satu bulan sekali.
6. Pemupukan
Pupuk maupun obat anti hama yang dipergunakan sesuai dengan persyaratan penggunaan
pupuk bagi masing-masing jenis tanaman. Pupuk kandang dipakai pada saat penanaman sebagai
pencampur tanah urug yang diperlukan sesuai persyaratan untuk jenis tanaman mau pun rumput.
Pupuk buatan diberikan kepada tanaman setelah melampaui masa tanam tiga bulan.
Pupuk NPK diberikan sebanyak 25 gram/tanaman. (NPK ini mendorong pembentukan
akar, pembuangan dan pembuahan). Pemupukan ini dilakukan dengan menanamkannya di dalam
tanah sekitar batang tanaman sedalam 10 cm. Diameter lingkar akhir pemupukan selebar rimbun
daun pohon yang bersangkutan. Pemupukan ini diulang tiga (3) bulan kemudian. Untuk tanaman
rumput dipakai pupuk buatan ZA atau Urea sebanyak 15 gram/m2. Pemupukan dilakukan sebulan
sekali. Caranya pupuk dilarutkan dengan air kemudian disemprotkan dengar sprayer ke permukaan
rumput.
7. Pemberantasan Hama Penyakit
Pemberantasan untuk Hama (serangga dan ulat) dilakukan dengan cara penyemprotan ke
seluruh permukaan daun, batang dan cabang. Bahan yang dipakai adalah Peptisida campuran
Basudin/Diazofla 60% EC (obat tersebut dicampur air, dengan perbandingan 2 cc obat: I liter Air).
Untuk pemberantasan jamur dan sejenisnya, dipakai fungisida Dithane M-45 yang
dicampur air (2 gr/liter air). Pemberantasan dilakukan dengan penyemprotan ke seluruh permukaan
daun, batang dan cabang. Untuk memberantas Penggerek Batang dipakai BHC. Untuk
memberantas siput darat dipakai Metodex yang disebarkan di sekitar pohon. Penyemprotan hama
dan jamur:
a. Untuk rumput, dilakukan 2 bulan sekali.
b. Untuk tanaman, dilakukan satu bulan sekali.
Penyemprotan Hama dan Jamur dilakukan secara borgantian. Untuk penyemprotan dan
jenis obat yang berbeda jangan dilakukan sekaligus tetapi beda waktu selang 2 minggu.

125
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3.32.5 Penanaman Pohon
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penanaman pohon peneduh di area IPLT
Tegal, Kabupaten Tegal diantaranya adalah:
a. Jenis pohon yang ditanam adalah Trembesi dan Ketapang Kencana dan atau sesuai dengan
instruksi Tim Teknis/Konsultan Pengawas.
b. Tinggi bibit pohon yang ditanam minimal 2,50 m.
c. Untuk penanaman pohon harus dilindungi/diperkuat dengan bronjong bambu sesuai dengan
Gambar Rencana.
d. Lubang penanaman minimal berukuran 60 cm x 60 cm x 60cm dan diberikan pupuk kandang
yang cukup untuk setiap lubang penanaman.
e. Sebelum melaksanakan penanaman pohon, Kontraktor Pelaksana harus konsultasi terlebih
dahulu dengan Tim Teknis/Konsultan Pengawas.
f. Pohon ditanam pada median jalan dan sisi luar trotoar atau sesuai dengan instruksi Tim
Teknis/Konsultan Pengawas.
g. Kontraktor bertanggung jawab terhadap penanaman pohon dengan merawat dan menyiram
sampai pohon tersebut tumbuh atau minimal sampai masa pemeliharaan konstruksi berakhir.
h. Sebelum melaksanakan penanaman pohon Kontraktor harus membuat izin tertulis kepada Tim
Teknis/Konsultan Pengawas.
i. Kontraktor baru bisa melaksanakan penanaman pohon setelah mendapat izin tertulis dari Tim
Teknis/Konsultan Pengawas.

126
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

4 BAGIAN 5
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN
MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL
BANGUNAN
4.1 Persyaratan Teknis Umum
4.1.1 Uraian Umum

1. Pekerjaan
a. Pekerjaan ini adalah meliputi Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing pada
Bangunan Gedung di kawasan IPLT Kabupaten Tegal.
b. Istilah “Pekerjaan” mencakup Pengadaan semua tenaga kerja (tenaga ahli, tukang, buruh dan
lainnya), bahan bangunan dan peralatan/perlengkapan yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan termaksud.
c. Pekerjaan harus dilaksanakan dan diselesaikan seperti yang dimaksud dalam SPESIFIKASI
TEKNIS, Gambar-gambar Rencana, Bill of Quantity (BoQ), Berita Acara Rapat Penjelasan
Pekerjaan serta Addenda yang disampaikan selama pelaksanaan.
d. Termasuk dalam lingkup pekerjaan Penyedia Jasa adalah pekerjaan Persiapan, Pekerjaan Air
Kerja, Listrik Kerja , Pagar Proyek/Barier, Direksi kit, Gudang , Papan nama proyek, K3,
(termasuk hal hal yang belum tercantum didalam list/uraian tetapi diperlukan untuk perijinan)
untuk itu Penyedia Jasa dalam penawaran biaya totalnya sudah harus memperhitungkan
pekerjaan tersebut .
e. Akibat pekerjaan Untuk perlatan atau system yang harus dilakukan pengetesan, uji coba
sampai dengan dinyatakan baik dan berfungsi sehingga bisa diterima oleh owner atas
biaya/tanggung jawab Penyedia Jasa.

2. Batasan/Peraturan

Dalam melaksanakan pekerjaannya Penyedia Jasa harus tunduk kepada :


a. Undang – Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
b. Undang – Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
c. Undang - Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
d. Undang – Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi;

127
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Undang – Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan;
f. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 4 Tahun 2015 tentang Pengadaan Barang / Jasa
Pemerintah;
g. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 5/ MENAKER/ 1996 tentang Sistem Manajemen K3;
h. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Jasa Konsultasi No. 07/PRT/M/2011 tentang Standar
dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi;
i. Peraturan Menteri ESDM RI No. 36 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan standar Nasional
Indonesia 0225:2011 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2011 (PUIL 2011) dan
Standar Nasional Indonesia 0225:2011/Amd:2013 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2011 (PUIL 2011) Amandemen I Sebagai Standar Wajib;
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 22/PRT/M/2018 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
k. SNI-03-6390-2000 Konservasi Energi Sistem Tata Udara.
l. SNI-03-6572-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi Dan Pengkondisian Udara Pada
Bangunan Gedung.
m. SNI 03-6481-2000 Sistem plumbing.
n. SNI 03-7065-2005 Tata cara perencanaan sistem plumbing.
o. SNI 8153-2015 Sistem plumbing pada bangunan gedung.
p. SNI 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan.
q. SNI 2398-2017 Tangki septik dengan pengolahan lanjutan.
r. SNI 03-2453-2002 Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan.
s. SNI 8456-2017 Sumur dan parit resapan air hujan.

3. Dokumen Kontrak

a. Dokumen Kontrak yang harus dipatuhi oleh Penyedia Jasa terdiri atas :
 Surat Perjanjian Pekerjaan
 Surat Penawaran Harga dan Perincian Penawaran
 Gambar-gambar Kerja/Pelaksanaan
 Rencana Kerja dan Syarat-syarat
 Bill of Quantity (BoQ)
 Addendum (bila ada) yang disampaikan ke Pejabat Pembuat Komitmen oleh Konsultan
Pengawas selama masa pelaksanaan

b. Penyedia Jasa wajib untuk meneliti gambar-gambar, SPESIFIKASI TEKNIS dan dokumen
kontrak lainnya yang berhubungan. Apabila terdapat perbedaan/ketidak-sesuaian antara
SPESIFIKASI TEKNIS dan gambar-gambar pelaksanaan, atau antara gambar satu dengan

128
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
lainnya, Penyedia Jasa wajib untuk memberitahukan/melaporkannya kepada Konsultan
Pengawas.

Persyaratan teknik pada gambar dan SPESIFIKASI TEKNIS yang harus diikuti adalah :

1) Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dengan gambar detail, maka gambar detail
yang diikuti.

2) Bila skala gambar tidak sesuai dengan angka ukuran, maka ukuran dengan angka yang
diikuti, kecuali bila terjadi kesalahan penulisan angka tersebut yang jelas akan
menyebabkan ketidaksempurnaan/ketidaksesuaian konstruksi, harus mendapatkan
keputusan Konsultan Pengawas lebih dahulu.

3) Bila tedapat perbedaan antara SPESIFIKASI TEKNIS dan gambar, maka SPESIFIKASI
TEKNIS yang diikuti kecuali bila hal tersebut terjadi karena kesalahan penulisan, yang
jelas mengakibatkan kerusakan/kelemahan konstruksi, harus mendapatkan keputusan
Konsultan Pengawas.
4) SPESIFIKASI TEKNIS dan gambar saling melengkapi bila di dalam gambar menyebutkan
lengkap sedang SPESIFIKASI TEKNIS tidak, maka gambar yang harus diikuti demikian
juga sebaliknya.

5) Yang dimaksud dengan SPESIFIKASI TEKNIS dan gambar di atas adalah SPESIFIKASI
TEKNIS dan gambar setelah mendapatkan perubahan/penyempurnaan di dalam berita
acara penjelasan pekerjaan.

6) Bila terjadi hasil perencanaan tidak dapat dilakukan akibat faktor lapangan maka Penyedia
Jasa wajib mengajukan usulan perubahan berupa softdrawing dan hitungan RAB kepada
Konsultan Pengawas terlebih dahulu

c. Bila akibat kekurangtelitian Penyedia Jasa dalam melakukan pelaksanan pekerjaan, terjadi
ketidaksempurnaan konstruksi atau kegagalan struktur bangunan, maka Penyedia Jasa harus
melaksanakan pembongkaran terhadap konstruksi yang sudah dilaksanakan tersebut dan
memperbaiki/ melaksanakannya kembali setelah memperoleh keputusan Konsultan Pengawas
tanpa ganti rugi apapun dari pihak-pihak lain.

4.1.2 Lingkup Pekerjaan Persiapan


1. Keterangan Umum

Lingkup Pekerjaan MEP Bangunan Gedung Penunjang IPLT Kabupaten Tegal ini secara umum
meliputi pekerjaan yang terdiri dari:

a. Pekerjaan Persiapan, meliputi :

129
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Penyediaan air dan daya kerja
 Pembongkaran dan Pengukuran
 Direksi Keet, Gudang (Bila diperlukan)
 Pembatas Proyek/ Area pekerjaan
 Penyediaan Sarana Dan Prasarana Kerja Termasuk Sarana K3
 Mobilisasi dan Demobilisasi
 Sewa Transportasi
 Sewa Alat
 Dan lain-lain.

b. Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing, meliputi :


 Pekerjaan Mekanikal meliputi :
- Pekerjaan plumbing air bersih dan air kotor
 Pekerjaan Elektrikal meliputi :
- Sambungan baru Daya Listrik
- Pengadaan Genset dan Panel
- Pengadaan dan Pemasangan Panel Panel Listrik seperti PHBTR, SDP
- Pengadaan dan Pemasangan Kabel Listrik
- Pengadaan dan Pemasangan Lampu Penerangan beserta outlet outlet daya.
- Pengadaan dan Pemasangan Sistem CCTV

c. Pekerjaan lain-lain
Pekerjaan yang jelas terkait langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa dipisahkan
dengan pekerjaan utama sesuai dengan gambar dan SPESIFIKASI TEKNIS

2. Sarana Dan Cara Kerja


a. Penyedia Jasa wajib memeriksa kebenaran dari kondisi pekerjaan meninjau tempat pekerjaan,
melakukan pengukuran-pengukuran dan mempertimbangkan seluruh lingkup pekerjaan yang
dibutuhkan untuk penyelesaian dan kelengkapan dari proyek.
b. Penyedia Jasa harus menyediakan tenaga kerja serta tenaga ahli yang tepat dan terampil sesuai
dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan. Penyedia Jasa harus selalu menjaga disiplin dan
aturan yang baik diantara pekerja/karyawannya.
c. Penyedia Jasa harus menyediakan alat-alat kerja dan perlengkapan yang diperlukan untuk
pekerjaan ini. Peralatan dan perlengkapan itu harus dalam kondisi baik.
d. Penyedia Jasa wajib mengawasi dan mengatur pekerjaan dengan perhatian penuh dan
menggunakan kemampuan terbaiknya. Penyedia Jasa bertanggung jawab penuh atas seluruh
cara pelaksanaan, metode, teknik, urut-urutan dan prosedur, serta pengaturan semua bagian
pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak.

130
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Shop Drawing (gambar kerja) harus dibuat oleh Penyedia Jasa paling lambat 7 hari setelah
SPMK turun atau sehari sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan.
f. Shop Drawing harus sudah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas dan Konsultan
Perencana sebelum elemen konstruksi yang bersangkutan dilaksanakan.
g. Untuk persetujuan material Penyedia Jasa harus memberikan daftar list material yang akan
digunakan beserta contoh materialnya.
h. Sebelum penyerahan pekerjaan kesatu, Penyedia Jasa sudah harus menyelesaikan gambar
sesuai pelaksanaan yang terdiri atas :
 Gambar yang tidak mengalami perubahan dalam pelaksanaannya.
 Shop drawing sebagai penjelasan detail maupun yang berupa gambar-gambar perubahan.
i. Penyelesaian yang dimaksud pada point h. harus diartikan telah memperoleh persetujuan
Konsultan Pengawas setelah dilakukan pemeriksaan secara teliti.
j. Gambar sesuai pelaksanaan dan buku penggunaan dan pemeliharaan bangunan merupakan
bagian pekerjaan yang harus diserahkan pada saat penyerahan kesatu, kekurangan dalam hal
ini berakibat penyerahan pekerjaan kesatu tidak dapat dilakukan.
k. Pembenahan/perbaikan kembali yang harus dilaksanakan Penyedia Jasa, bila :
 Komponen-komponen pekerjaan pokok/konstruksi yang pada masa pemeliharaan
mengalami kerusakan atau dijumpai kekurangsempurnaan pelaksanaan.
 Komponen-komponen konstruksi lainnya atau keadaan lingkungan diluar pekerjaan
pokoknya yang mengalami kerusakan akibat pelaksanaan konstruksi (misalnya jalan,
halaman, dan lain sebagainya).
l. Pembenahan lapangan yang berupa pembersihan lokasi dari bahan-bahan sisa-sisa
pelaksanaan termasuk bowkeet dan direksi keet harus dilaksanakan sebelum masa kontrak
berakhir, kecuali akan dipergunakan kembali pada tahap selanjutnya.

3. Pembuatan Rencana Jadwal Pelaksanaan


a. Penyedia Jasa berkewajiban menyusun dan membuat jadwal pelaksanaan dalam bentuk
barchart yang dilengkapi dengan grafik prestasi yang direncanakan berdasarkan butir-butir
komponen pekerjaan sesuai dengan penawaran.
b. Pembuatan rencana jadwal pelaksanaan ini harus diselesaikan oleh Penyedia Jasa selambat-
lambatnya 3 hari setelah dimulainya pelaksanaan di lapangan pekerjaan. Penyelesaian yang
dimaksud ini sudah harus dalam arti telah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas.
c. Bila selama 7 hari setelah pelaksanaan pekerjaan dimulai, Penyedia Jasa belum menyelesaikan
pembuatan jadwal pelaksanaan, maka Penyedia Jasa harus dapat menyajikan jadwal
pelaksanaan sementara minimal untuk 1 minggu sampai 2 minggu pertama dari pelaksanaan
pekerjaan.

131
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Selama waktu sebelum rencana jadwal pelaksanaan disusun, Penyedia Jasa harus
melaksanakan pekerjaannya dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan mingguan yang
harus dibuat pada saat dimulai pelaksanaan. Jadwal pelaksanaan 2 mingguan ini harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4.1.3 Situasi Dan Persiapan Pekerjaan


1. Situasi/Lokasi

a. Lokasi proyek adalah di Desa Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Tegal. Lokasi
proyek akan dijelaskan kepada Penyedia Jasa sebagaimana keadaannya waktu Rapat
Penjelasan. Penyedia Jasa hendaknya mengadakan penelitian dengan seksama mengenai
kondisi struktur dan dinding gedung tersebut.

b. Kekurang-telitian atau kelalaian dalam mengevaluasi keadaan lapangan, sepenuhnya menjadi


tanggung jawab Penyedia Jasa dan tidak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan
klaim/tuntutan.

2. Air Dan Daya

a. Penyedia Jasa harus menyediakan air atas tanggungan/biaya sendiri yang dibutuhkan untuk
melaksanakan pekerjaan ini, yaitu Air kerja untuk pencampur atau untuk keperluan sehari-hari
seperti minum, mandi/buang air dan kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan
untuk keperluan tersebut harus cukup terjamin.

b. Penyedia Jasa harus menyediakan sarana prasarana penyaluran daya listrik atas
tanggungan/biaya sendiri yang dibutuhkan untuk memperlancar pekerjaan dan penerangan
serta keperluan lainnya dalam melaksanakan pekerjaan ini. Pemasangan sarana penyaluran
daya listrik untuk pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan yang berlaku dan atas seijin
pengawas, Tim Teknis dan pejabat terkait. Penyedia Jasa harus mengatur dan menjaga agar
jaringan dan peralatan listrik tidak membahayakan para pekerja di lapangan.

3. Kantor, Gudang Dan Fasilitas Umum (OPSIONAL)


Penyedia Jasa harus menyediakan:
a. Direksi Keet:
Ruang kantor sementara untuk pengawas dan ruang rapat dan fasilitas umum beserta
seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan lemari. Kualitas dan peralatan yang
harus disediakan. Penyedia Jasa harus selalu membersihkan dan menjaga keamanan kantor
tersebut beserta peralatannya
b. Gudang:
Digunakan untuk menyimpan material dan alat-alat kerja

132
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4. Pembatas Area Pekerjaan
Penyedia Jasa harus menyediakan/memasang pembatas dan pengaman secukupnya disekeliling
lokasi pekerjaan untuk mencegah aktivitas lain disekitar pekerjaan.
5. Papan Nama Proyek
Penyedia Jasa wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan lokasi
pekerjaan sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan nama tersebut 60 x 120 cm
sesuai ketentuan atau petunjuk dari direksi.
6. Pengukuran
a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pengukuran / garis yang ditentukan dalam Gambar
Kerja dan / yang ditentukan Pengawas dan termasuk Pengadaan team ukur yang
berpengalaman dan peralatan pengukuran lengkap dan akurat yang memenuhi ketentuan
spesifikasi ini.
b. Prosedur Umum Persyaratan Pengukuran
Penyedia Jasa harus melaksanakan perhitungan pengukuran dan pemeriksaan untuk
mendapatkan lokasi yang tepat sesuai Gambar Kerja dan harus disetujui Pengawas.
c. Tim Pengukur dan Peralatan
Penyedia Jasa harus menyediakan tim ukur, dan mereka bertanggung jawab memberikan
informasi dan data yang berkaitan dengan pengukuran kepada Pengawas.
d. Pelaksanaan Pekerjaan Perhitungan dan Catatan Pengukuran
Catatan lengkap harus mencakup semua pengukuran lapangan, rapih dan teratur. Pengukuran
harus dengan jelas menyebutkan nama proyek, lokasi, tanggal, nama.
7. Pekerjaan Galian atau Pembobokan dinding
Pekerjaan Galian ataupun Bobokan untuk akses kabel merupakan bongkaran untuk jalur
masuknya kabel atau pembongakaran lainnya dilakukan dengan rapi ditutup plastik/ barrier
sehingga tidak menggangu. Sisa dari galian/bobokan dibuang keluar.
8. Mobilisasi Dan Demobilisasi
a. Pekerjaan mobilisasi dan demobilisasi yaitu transportasi peralatan dan material pekerjaan
MEP yang berdasarkan daftar alat konstruksi dan material yang diajukan bersama saat
pernawaran, dari tempat pembongkarannya ke lokasi dimana alat dan material tersebut
digunakan.
b. Penyedia Jasa harus menjaga ketertiban dan kelancaran selama perjalanan alat dan material
yang menggunakan jalan umum agar tidak mengganggu pelayanan.
c. Bila pekerjaan telah selesai Penyedia Jasa diwajibkan segera menyingkirkan alat dan material,
memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya dan membersihkan bekas-bekasnya

133
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
9. Sewa Alat
Sewa Alat meliputi:
a. sewa transportasi yaitu sewa alat berat tranportasi untuk mengangkut material dan
kelengkapan unit Mekanikal dan Elektrikal
b. Penyedia Jasa sebelum memulai pekerjaan telah memesan/ membeli material beserta
penyiapkan transportasi sehingga tidak ada keterlambatan kedatangan material yang dapat
menggangu kelancaran pekerjaan.
c. Sewa alat bantu yang dimaksud adalah Penyedia Jasa menyewa segala macam peralatan kerja
yang diperlukan untuk membantu segala pekerjaan
 Pick up
 Alat ukur (grounding, Amper meter, Volt meter, Merger)
 Tangga, dll.
10. Pengadaan Sarana Dan Prasarana Kerja K3
a. Fasilitas Umum
1) Ada tempat istirahat dan tempat makan serta jumlah toilet yang memadai bagi pekerja
2) Ada tersedia fasilitas untuk cuci tangan demi menjaga kebersihan
b. PersiapanKontruksi
1) Menyediakan jalur keluar masuk kendaraan peralatan serta area dropsite material yang
digunakan selama proses konstruksi, hal – hal yang harus diperhatikan :
 Barikade atau papan pembatas proyek
 Pemasangan bendera, poster – poster dan spanduk K3
 Rambu peringatan
 Pengaturan lalu lintas jalan orang
2) Pemasangan safety net, bila ada pekerjaan di ketinggian lebih dari 2 meter (Permenaker
no 09 tahun 2016)
3) Alat pelindung Diri berupa Helm Safety, Sepatu Safety, Rompi Safety, masker dan Body
Harness
4) Menyiapkan fasilitas P3K dan tabung pemadam kebakaran
5) Semua pekerja harian lepas atau borongan telah mendapat perlindungan Jaminan
Kesehatan (pada pekerjaan dengan jangka waktu 2 bulan)
6) Bila ada pekerjaan dimalam hari, diperlukan penerangan tambahan untuk area dropsite
c. Kontruksi
1) Pekerja konstruksi dapat teridentifikasi (ID Card/Seragam) dan menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD) yang sesuai dan disediakan oleh Penyedia Jasa pelaksana
2) Penyedia Jasa memastikan keamanan sumber listrik yang digunakan dalam proses
konstruksi

134
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3) Area proyek bebas dari asap dan puntung rokok

4.1.4 Pembersihan Lokasi Pekerjaan


1. Ruang Lingkup
Penyedia Jasa setelah menyelesaikan pekerjaan mempunyai tanggungjawab untuk membersihkan
area pekerjaan tersebut kepada pihak Pengelola IPLT Kabupaten Tegal dalam keadaan bersih dan
rapi.
2. Tata Kerja
Pengertian clearing, grubbing :
a. Clearing : Membersihkan semua sampah-sampah dan barang-barang yang tidak perlu.
b. Grubbing : Menyingkirkan dan membuang semua sampah dari tempat kerja.
3. Pelaksanaan
Mengingat area pekerjaan merupakan area yang memiliki aturan yang baik tentang kebesihan
a. Penyedia Jasa membersihkan setiap hari selama atau setelah pekerjaan berlangsung pada hari
itu sehingga area pekerjaan tidak terjadi timbunan sampah dan bongkaran pekerjaan (apabila
ada)
b. Sisa bongkaran dan sampah dimasukan ke dalam karung/plastik agar debu pekerjaan/ sisa
pekerjaan tidak mengganggu pelayanan
c. Sisa bongkaran dan sampah area pekerjaan di taruh dan ditimbun sementara ke tempat yang
tidak menggangu pelayanan yang di sepakati bersama dengan konsultan pengawas, maksimal
1 minggu harus dibuang keluar area.

4.1.5 Serah Terima Pekerjaan

1. Testing Dan Commissioning


a. Pelaksana Pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua testing dan commissioning yang
dianggap perlu untuk mengetahui apakah keseluruhan instalasi dapat berfungsi dengan baik
dan dapat memenuhi semua persyaratan yang diminta, sesuai dengan prosedur testing dan
commissioning dari pabrik pembuat dan instansi yang berwenang
b. Semua bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk mengadakan testing tersebut
merupakan tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan termasuk daya listrik untuk testing.
2. Masa Pemeliharaan Dan Serah Terima Pekerjaan
a. Peralatan dan sistem instalasi ini harus digaransi selama 1 (satu) tahun terhitung sejak saat
penyerahan pertama.
b. Masa pemeliharaan untuk instalasi ini adalah selama 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak
saat penyerahan pertama, bila Konsultan Pengawas / Pemberi Tugas menentukan lain, maka
yang terakhir ini yang akan berlaku.

135
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Selama masa pemeliharaan, seluruh instalasi yang telah selesai dilaksanakan masih
merupakan tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan sepenuhnya.
d. Selama masa pemeliharaan ini, untuk seluruh instalasi ini Pelaksana Pekerjaan diwajibkan
mengatasi segala kerusakan yang akan terjadi tanpa adanya tambahan biaya.
e. Selama masa pemeliharaan ini, apabila Pelaksana Pekerjaan instalasi tidak melaksanakan
teguran dari Konsultan Pengawas atas perbaikan / penggantian / penyetelan yang diperlukan,
maka Konsultan Pengawas berhak menyerahkan perbaikan / penggantian / penyetelan
tersebut kepada pihak lain atas biaya Pelaksana Pekerjaan instalasi ini.
f. Selama masa pemeliharaan ini, Pelaksana Pekerjaan instalasi harus melatih petugas- petugas
yang ditunjuk oleh Pemilik dalam teori dan praktek sehingga dapat mengenali sistem instalasi
dan dapat melaksanakan pengoperasian dan pemeliharaannya.
g. Serah terima pertama dari instalasi ini baru dapat dilaksanakan setelah ada bukti pemeriksaan
dengan hasil yang baik yang ditandatangani bersama oleh Pelaksana Pekerjaan dan Konsultan
Pengawas.
h. Pada waktu unit-unit mesin tiba di lokasi, maka Pelaksana Pekerjaan harus menyerahkan
daftar komponen / part list seluruh komponen yang akan dipasang dan dilengkapi dengan
gambar detail / photo dari masing-masing komponen tersebut, lengkap dengan manualnya.
Daftar komponen tersebut diserahkan kepada Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas
masing-masing 1 (satu) set.
i. Serah terima setelah masa pemeliharaan instalasi ini baru dapat dilaksanakan setelah :
 Berita acara serah terima kedua yang menyatakan bahwa instalasi ini dalam keadaan baik,
ditandatangani bersama oleh Pelaksana Pekerjaan dan Konsultan Pengawas.
 Semua gambar instalasi terpasang (As Built Drawing) beserta Operating Instruction,
Technical dan Maintenance Manuals rangkap 5 (lima) terdiri atas 1 (satu) set aslidan 4
(empat) copy telah diserahkan kepada Konsultan Pengawas
3. Garansi
Setiap sertifikat pengetesan harus diserahkan oleh pabrik pembuatnya. Bila peralatan mengalami
kegagalan dalam pengetesan-pengetesan yang disyaratkan didalam spesifikasi teknis ini, maka
pabrik pembuat bertanggung jawab terhadap peralatan yang diserahkan, sampai peralatan
tersebut memenuhi syarat-syarat, setelah mengalami pengetesan ulang dan sertifikat pengetesan
telah diterima dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4. Training
Sebelum penyerahan pertama pekerjaan, Pelaksana Pekerjaan harus menyelenggarakan semacam
pendidikan dan latihan serta petunjuk praktis operasi kepada orang yang ditunjuk oleh Pemberi

136
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Tugas tentang operasi dan perawatan lengkap dengan 3 copies buku Operating Maintenance,
Repair Manual dan As-built drawing, segala sesuatunya atas biaya Pelaksana Pekerjaan.

4.2 Persyaratan Teknis Pekerjaan Elektrikal


4.2.1 Spesifikasi Teknis Pekerjaan Listrik Arus Kuat
1. Umum
a. Setiap Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari seluruh
Dokumen Kontrak dengan teliti untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh pada pekerjaan
ini.
b. Pelaksana Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik
dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan dan
peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada spesifikasi ini.
c. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang dengan
spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Pelaksana Pekerjaan
untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut, sehingga sesuai dengan ketentuan pada
SPESIFIKASI TEKNIS ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.
2. Lingkup Pekerjaan
a. Pengadaan, pemasangan dan pengaturan dari perlengkapan dan bahan yang disebutkan dalam
gambar atau spesifikasi teknis ini, antara lain:
 Sistim penerangan secara lengkap termasuk di dalamnya pengkawatan dan konduit, titik
nyala lampu, armature, saklar dan seluruh stop-kontak.
 Kabel feeder untuk panel penerangan dan panel-panel tenaga
 Panel-panel penerangan, Panel-panel tenaga, Panel Distribusi Utama (PDTR) secara
lengkap.
 Pengadaan dan pemasangan peralatan kontrol berikut panelnya.
 Pekerjaan pentanahan / grounding
b. Pengadaan, pemasangan dan mengecek ulang atas design, baik yang telah disebutkan dalam
gambar / spesifikasi teknis maupun yang tidak disebutkan namun secara umum / teknis
diperlukan untuk memperoleh suatu sistim yang sempurna, aman,siap pakai dan handal.
c. Menyelenggarakan pemeriksaan, pengujian, dan pengesahan seluruh instalasi listrik yang
terpasang.
d. Menyerahkan gambar instalasi yang terpasang (As-built drawings).

137
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

3. Ketentuan Bahan Dan Peralatan


1) Panel Tegangan Rendah
a. Panel-panel daya dan penerangan lengkap dengan semua komponen yang harus ada
seperti yang ditunjukkan pada gambar. Panel-panel yang dimaksud untuk beroperasi
pada 220 V, 1 phasa, 3 kawat, 50 Hz dan solidly grounded dan harus dibuat mengikuti
standard PUIL, IEC, VDE/DIN, BS, NEMA dan sebagainya.
b. Panel-panel harus dibuat dari plat besi setebal 2 mm dengan rangka besi dan seluruhnya
harus di zinchromate dan di duco 2 kali dan harus di cat dengan cat bakar, warna dan cat
akan ditentukan kemudian oleh pihak Owner. Pintu panel- panel harus dilengkapi dengan
master key.
c. Konstruksi dalam panel-panel serta letak dari komponen-komponen dan sebagainya harus
diatur sedemikian rupa sehingga perbaikan-perbaikan, penyambungan-penyambungan
pada komponen dapat mudah dilaksanakan tanpa mengganggu komponen-komponen
lainnya.
d. Ukuran dari tiap-tiap unit panel harus disesuaikan dengan keadaan dan keperluannya dan
telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Spare space harus disediakan seusai gambar.
e. Body / badan panel harus ditanahkan secara sempurna.
f. Komponen panel :

Accessories

Bus bar, terminal terminal, isolator switch dan perlengkapan lainnya harus buatan pabrik dan
berkualitas dan dipasang di dalam panel dengan kuat dan tidak boleh ada bagian yang
bergetar.

Busbar

 Setiap panel harus mempunyai 3 busbar copper terdiri dari 1 busbar phase, 1 busbar
netral dan 1 busbar untuk grounding. Besarnya busbar harus diperhitungkan dengan
besar arus yang mengalir dalam busbar tersebut tanpa menyebabkan kenaikkan suhu
lebih besar dari 65° C.

Untuk itu penampang busbar harus sesuai ketentuan dalam PUIL.

 Setiap busbar copper harus diberi warna sesuai peraturan PLN, dimana lapisan warna
busbar tersebut harus tahan terhadap panas yang timbul.
 Bus bar adalah batang tembaga murni dengan minimum conduktivitas 98%, rating amper
sesuai gambar.
 Bus bar harus dicat sesuai dengan kode warna dalam PUIL sebagai berikut :

138
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Phasa : Merah, Kuning dan Hitam
Netral : Biru
Ground : Hijau / Kuning

Circuit breaker

 Penggunaan MCCB untuk :


- Outgoing pada PDTR
- Incoming pada panel beban sampai dengan minimal 20A 1 phase
- Breaking capasity sesuai dengan gambar perencanaan.

 Penggunaan MCB :
Outgoing pada :

- Circiuit breaker harus dari tipe automatic trip dengan kombinasi thermal dan
instantaneouse magnetic unit
- Main Circuit Breaker dari setiap panel emergensi harus dilengkapi shunt trip
terminal.

Alat Ukur

Alat ukur yang dipergunakan adalah jenis semi flush mounting dalam kotak tahan getaran.
Untuk Ampermeter dan Voltmeter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan skala linier dan
ketelitian 1% dan bebas pengaruh induksi serta bersertifikat tera dari LMK / PLN ( minimum
1 buah untuk setiap jenis alat ukur). Komponen-komponen pengukuran yang dipakai :
 KW meter
 Ampermeter
 Voltmeter
 Frequency Meter
 Cos Phi Meter
2) Panel Kontrol Genset ( PKG )
a. Umum

Panel tegangan rendah harus mengikuti standard VDE / DIN dan juga harus mengikuti
peraturan IEC dan PUIL 2000. Panel-panel harus dibuat dari plat besi tebal 2 mm dengan
rangka besi dan seluruhnya harus di Zinchromate dan di duco 2 kali dan harus dipakai cat
dengan powder coating, warna abu - abu Kanzai atau akan ditentukan kemudian oleh
pihak Perencana / Pemberi Tugas.

Pintu dari panel-panel tersebut harus dilengkapi dengan master key. Konstruksi dalam
panel-panel serta letak dari komponen-komponen dan sebagainya harus diatur sedemikian

139
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
rupa, sehingga bila perlu dilaksanakan perbaikan - perbaikan, penyambungan -
penyambungan pada komponen- komponen dapat mudah dilaksanakan tanpa
mengganggu komponen - komponen lainnya.

Setiap panel harus mempunyai 5 busbar copper terdiri dari 3 busbar phase R-S- T, 1
busbar netral dan 1 busbar untuk grounding, besarnya busbar harus diperhitungkan untuk
besar arus yang akan mengalir dalam busbar tersebut tanpa menyebabkan suhu yang lebih
dari 65°C. Setiap busbar copper harus diberi warna sesuai peraturan PLN, lapisan yang
dipergunakan untuk memberi warna busbar dan seluruh harus spasi dari jenis yang tahan
terhadap kenaikan suhu yang diperbolehkan.

Alat ukur yang dipergunakan adalah jenis semiflush mounting dalam kotak tahan getaran,
untuk Ampere meter dan Volt meter dengan ukuran 96 x 96 mm dengan skala linier dan
ketelitian 1% dan bebas dari pengaruh induksi serta ada sertifikat tera dari LMK/PLN
(minimum 1 buah untuk setiap jenis alat ukur).

Panel control dilengkapi dengan peralatan proteksi seperti :


- Short circuit
- Over current
- Under voltage dan Over voltage
- Ground fault (earth fault current)
- Over load
- Reverse power relay
- Gangguan lain sesuai standard pabrik pembuat
- Emergency shut-down system

Ukuran dari tiap-tiap unit panel harus disesuaikan dengan keadaan dan keperluan, sesuai
dengan yang telah disetujui oleh Konsultan pengawas / Perencana. PKG harus mampu
melayani dan mengontrol genset seperti yang dijelaskan pada spesifikasi teknis diesel
genset. Start Blocking pada saat terjadi kebakaran atau AMF setelah menerima sinyal
general alarm dari sistem MCFA gedung.

Main CB outgoing / beban PKG tidak akan bekerja atau ON pada saat terjadi kebakaran
atau AMF setelah menerima sinyal general alarm dari system MCFA gedung.
b. Fungsi Operasi PKG + AMF
Untuk pengaturan diesel genset secara manual baik untuk keperluan operasi ataupun
pengetesan berkala. Untuk pengaturan diesel genset secara otomatik, auto synchron, auto
load sharing, pada waktu PLN padam dan auto stop pada saat PLN sudah hidup kembali.
Untuk fungsi engine shutt-down pada saat terjadi kelainan operasi mesin.

140
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

c. Sistem Operasi PKG


PKG harus dapat mengontrol unit genset, seperti dijelaskan dalam lingkuppekerjaan
diesel generating set .
PKG terdiri atas beberapa cubicle paling kurang sebagai berikut :
 1 Cubicle Incoming G1
 1 Cubicle Outgoing G1
d. Instalasi
Panel-panel harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya dan harus
rata (horizontal). Setiap kabel yang masuk / keluar dari panel harus dilengkapi dengan
gland dari karet atau penutup yang rapat tanpa adanya permukaan yang tajam. Semua
panel harus ditanahkan.
e. Ketentuan Teknis Bahan dan peralatan
Panel Kontrol Generator ( PKG ), AMF, Automatic load sharing
Type : Free standing, front operated
Tegangan : 380 - 415 V
Protection device : Circuit breaker minimum 24 kA dengan over current Short
circuit, under voltage dan over voltage relay, earth fault relay
dan reserve power relay.
Protection : IP 23
Measuring Device :
• Ammeter c/w current transformator
• Voltmeter c/w 7 step selector switch
• Frequency meter
• Power factor meter
• KWH meter
• KW meter
• Hours meter
• DC Volt meter
• DC Ampere meter
Signal Lamps :
• Main CB "ON"
• Main Failure
• Genset Running
• Genset on Load
• Alarm Enable
• Battery On
• Low Oil Pressure

141
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
• Over Temperatur
• Engine Over Speed
• Start Failure
• Under Voltage
• Charge Failure
• Reverse Power
• Emergency Stop
• CB Tripped
Push But t on :
• Signal Lamp Test
• Signal Reset
• Emergency Stop
• CB " Closed"
• CB " Open"

3) Kabel Tegangan Rendah


a. Sebelum dipergunakan, kabel dan peralatan bantu lainnya harus mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas.
b. 10. Pada prinsipnya kabel-kabel yang dipergunakan adalah jenis NYY, NYM, NYA,
NYFGbY, FRC, NYMHY, BCC. Untuk kabel feeder / power dari jenis NYY, kabel
penerangan dipergunakan kabel NYM sedangkan untuk kabel grounding dari jenis BCC
c. Kabel-kabel yang dipakai harus dapat dipergunakan untuk tegangan min. 0,6 KV dan 0,5
KV untuk kabel NYM
d. Kabel FRC (kabel tahan api) harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
- Fire Resistance
- Fire Retardant
- Low Smoke
- Halogen Free
- Low toxicity
- Low corrosivity
- Ambient Temperature : 20 - 60ºC
e. Penampang kabel minimum yang dapat dipakai 2,5 mm2
4) Lighting Fixtures
a. Lampu Tabung ( Down Light )
• Lighting fixtures harus dilengkapi dengan reflector alluminium tebal minimal 1.2
mm.
• Braket penggantung terbuat dari plat baja tebal 0.8 mm finishing
• Lamp holder menggunakan standard E - 27.

142
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
• Diameter dari kap lampu minimal 150 mm.
• Lampu yang dipakai dari jenis lampu incandescent dan PLC atau sesuai gambar.
Contoh harus disetujui oleh Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas.
b. Lampu Taman
• Casing luar terbuat dari acrylic opal tebal 3 mm.
• Tiang terbuat dari pipa baja diameter 1 1/4" - 1 % " dengan cat khusus.
• Braket tiang terbuat dari plastik pabrikan.
• Fitting lampu standard E-27.
• Lampu yang digunakan jenis Inscandescesnt Lamp.
c. Lampu Emergency
Sesuai dengan gambar perencanaan yang dilengkapi dengan nicad battery dengan
kapasitas mem back-up lampu minimal sampai dengan 2 jam.
5) Kotak- Kontak dan Saklar
a. Kotak-kontak dan saklar yang akan dipasang pada dinding tembok bata adalah tipe
pemasangan masuk / inbow ( flush mounting ).
b. Kotak-kontak biasa (inbow) yang dipasang mempunyai rating 13 A dan mengikuti
standard VDE, sedangkan kotak-kontak khusus tenaga (outbow) mempunyai rating 15 A
dan mengikuti standard BS (3 pin) dengan lubang bulat.
c. Flush-box ( inbow doos ) untuk tempat saklar, kotak-kontak dinding dan push button
harus dipakai dari jenis bahan blakely atau metal.
d. Kotak-kontak dinding yang dipasang 300 mm dari permukaan lantai kecuali ditentukan
lain dan ruang-ruang yang basah / lembab harus jenis water dicht (WD) sedang untuk
saklar dipasang 1,500 mm dari permukaan lantai atau sesuai gambar
6) Konduit
Konduit instalasi penerangan yang dipakai adalah dari jenis PVC High Impact. Factor
pengisian konduit harus mengikuti ketentuan pada PUIL.
7) Rak kabel / cable Tray
a. Rak kabel terbuat dari plat digalvanis dan buatan pabrik, ukurannya disesuaikan dengan
kebutuhan.
b. Penggantung dibuat dari Hanger Rod, jarak antar penggantung maximum 1 meter.
Penggantung harus rapi & kuat sehingga bila ada pembebanan tidak akan berubah
bentuk. Penggantung harus dicat dasar anti karat sebelum dicat akhir dengan warna abu-
abu.
c. Bahan bahan untuk rak kabel dan penggantung harus buatan pabrik.

143
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

4. Perlengkapan Instalasi
a. Perlengkapan instalasi yang dimaksud adalah material-material untuk melengkapi instalasi
agar diperoleh hasil yang memenuhi persyaratan, handal dan mudah perawatan.
b. Seluruh klem kabel yang digunakan harus buatan pabrik.
c. Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam junction box/ doos, warna kabel harus
sama.
d. Juction box / doos yang digunakan harus cukup besar dan dilengkapi tutup pengaman.
5. Persyaratan Teknis Pemasangan
1) Panel- panel
a. Sebelum pemesanan/pembuatan panel, harus mengajukan gambar kerja untuk
mendapatkan persetujuan perencana dan Konsultan Pengawas.
b. Panel-panel harus dipasang sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuat dan harus rata (
horizontal ).
c. Letak panel seperti yang ditunjukan dalam gambar, dapat disesuaikan dengan kondisi
setempat.
d. Untuk panel yang dipasang tertanam ( inbow ) kabel - kabel dari / ke terminal panel harus
dilindungi pipa PVC High Impact yang tertanam dalam tembok secara kuat dan teratur
rapi. Sedangkan untuk panel yang dipasang menempel tembok ( outbow ), kabel-kabel
dari / ke terminal panel harus melalui tangga kabel.
e. Penyambungan kabel ke terminal harus menggunakan sepatu kabel (cable lug) yang
sesuai.
f. Ketinggian panel yang dipasang pada dinding (wall-mounted) = 1,600 mm dari lantai
terhadap as panel.
g. Setiap kabel yang masuk / keluar dari panel harus dilengkapi dengan gland dari karet atau
penutup yang rapat tanpa adanya permukaan yang tajam.
h. Semua panel harus ditanahkan.
2) Kabel - Kabel
a. Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan kabel mark yang jelas dan tidak
mudah lepas untuk mengindentifikasikan arah beban.
b. Setiap kabel daya pada ujungnya harus diberi isolasi berwarna untuk mengidentifikasikan
phasenya sesuai dengan ketentuan PUIL.
c. Kabel daya yang dipasang horizontal / vertical harus dipasang pada tangga kabel, diklem
dan disusun rapi.
d. Setiap tarikan kabel tidak diperkenankan adanya sambungan, kecuali pada T- doos untuk
instalasi penerangan.

144
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Untuk kabel dengan diameter 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu kabel
untuk terminasinya.
f. Pemasangan sepatu kabel yang berukuran 70 mm2 atau lebih harus mempergunakan alat
press hidraulis yang kemudian disolder dengan timah pateri.
g. Kabel yang ditanam dan menyeberangi selokan atau jalan atau instalasi lainnya harus
ditanam lebih dalam dari 50 cm dan diberikan pelindung pipa galvanis dengan penampang
minimum 2 ½ kali penampang kabel.
h. Semua kabel yang akan dipasang menembus dinding atau beton harus dibuatkan sleeve
dari pipa galvanis dengan penampang minimum 2 ½ kali penampang kabel
i. Semua kabel yang dipasang di atas langit-langit harus diletakkan pada suatu rak kabel.
j. Kabel penerangan yang terletak di atas rak kabel harus tetap di dalam konduit.
k. Penyambungan kabel untuk penerangan dan kotak-kontak harus di dalam kotak terminal
yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan konduitnya dan dilengkapi dengan skrup
untuk tutupnya dimana tebal kotak terminal tadi minimum 4 cm. Penyambungan kabel
menggunakan las doop.
l. Setiap pemasangan kabel daya harus diberikan cadangan kurang lebih 1 m disetiap
ujungnya.
m. Penyusunan konduit di atas rak kabel harus rapih dan tidak saling menyilang.
n. Kabel tegangan rendah yang akan dipasang harus mempunyai serifikat lulus uji dari PLN
yang terutama menjamin bahan isolasi kabel sudah memenuhi persyaratan.
o. Pengujian dengan Megger harus tetap dilaksanakan dengan nilai tahanan isolasi minimum
500 kilo ohm.

• Instalasi Kabel Bawah Tanah

Semua kabel yang ditanam harus pada kedalaman 100 cm minimum, dimana
sebelum kabel ditanam ditempatkan lapisan pasir setebal 15 cm dan di atasnya
diamankan dengan batu bata press sebagai pelindungnya. Lebar galian minimum
adalah 40 cm yang disesuaikan dengan jumlah kabel.

Kabel yang ditanam dan menyeberangi selokan atau jalan atau instalasi lainnya harus
ditanam lebih dalam dari 50 cm dan diberikan pelindung pipa galvanis dengan
penampang minimum 2 ½ kali penampang kabel.

Pada route kabel setiap 25 m dan disetiap belokan harus ada tanda arah jalannya
kabel. Penanaman kabel harus memenuhi peraturan yang berlaku dan persyaratan
yang ditunjukan dalam gambar / SPESIFIKASI TEKNIS. Kabel tidak boleh
terpuntir dan diberi label yang menunjukan arah disetiap jarak 1 meter.

145
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Tidak diperkenankan melakukan pengurugan sebelum Konsultan Pengawas memeriksa
dan menyetujui perletakan kabel tersebut. Setelah pengurugan selesai setiap 15 meter
harus dipasang patok beton 20 x 20 x 60 cm dan bertuliskan "KABEL TANAH".
Patok-patok ini dicat kuning dan bertulisan merah.

Kabel-kabel yang menembus dinding atau lantai harus menggunakan pipa sleeve, pipa
ini minimal dari Metal ( Pipa GIP ). Penyambungan kabel feeder tidak diperbolehkan.
Kabel harus utuh menerus tanpa sambungan.

Kabel tidak boleh dibelokan dengan radius kurang dari 15 x diameternya. Di atas
belokan tersebut diletakan patok beton bertuliskan "KABEL TANAH" dan arah belok.
Penanaman tidak boleh dilakukan di malam hari.

• Instalasi Kabel Tenaga

Letak pasti dari peralatan atau mesin-mesin di sesuaikan dengan gambar dan kondisi
setempat apabila terjadi kesukaran dalam menentukan letak tersebut dapat meminta
petunjuk Konsultan Pengawas.

Pelaksana Pekerjaan wajib memasang kabel sampai dengan peralatan tersebut, kecuali
dinyatakan lain dalam gambar. Tarikan kabel yang melalui trench harus diatur dengan
baik / rapi sehingga tidak saling tindih dan membelit.

Tarikan kabel yang menuju peralatan yang tidak melalui trench atau yang menelusuri
dinding ( outbow ) harus dilindungi dengan pipa pelindung. Agar diusahakan pipa
pelindung tidak bergoyang maka harus dilengkapi dengan klem-klem dan
perlengkapan penahan lainnya, sehingga nampak rapi. Pada setiap sambungan ke
peralatan harus menggunakan pipa fleksibel.

Pada setiap belokan pipa pelindung yang lebih besar dari 1 inchi harus menggunakan
pipa fleksibel, belokan harus dengan radius min. 15 x diameter kabel. Kabel yang ada
di atas harus diletakkan pada rak kabel dan warna kabel harus disesuaikan dengan
phasanya. Semua kabel di kedua ujungnya harus diberi tanda dengan kabel mark yang
jelas dan tidak mudah lepas untuk mengindentifikasikan arah beban.

Setiap kabel daya pada ujungnya harus diberi isolasi berwarna untuk
mengidentifikasikan phasenya sesuai dengan PUIL. Kabel daya yang dipasang di shaft
harus dipasang pada tangga kabel (cable ladder), diklem dan disusun rapi.

Setiap tarikan kabel tidak diperkenankan adanya sambungan. Untuk kabel dengan
diameter 16 mm2 atau lebih harus dilengkapi dengan sepatu kabel untuk terminasinya.

146
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Pemasangan sepatu kabel yang berukuran 70 mm2 atau lebih harus mempergunakan
alat press hidraulis yang kemudian disolder dengan timah pateri.

Untuk kabel feeder yang dipasang didalam trench harus mempergunakan kabel support
minimum setiap 50 cm. Setiap pemasangan kabel daya harus diberikan cadangan
kurang lebih 1 m disetiap ujungnya.

3) Kotak - Kontak dan Saklar


a. Kotak-kontak dan saklar yang akan dipakai adalah tipe pemasangan masuk dan dipasang
pada ketinggian 300 mm dari level lantai untuk kontak - kontak dan 1.500 mm untuk
saklar atau sesuai gambar detail.
b. Kotak-kontak dan saklar yang dipasang pada tempat yang lembab / basah harus dari tipe
water dicht (bila ada).
c. Kotak-kontak yang khusus dipasang pada kolom beton harus terlebih dahulu dipersiapkan
sparing untuk pengkabelannya disamping metal doos tang harus terpasang pada saat
pengecoran kolom tersebut
4) Pentanahan ( Grounding)
a. Sistem pentanahan harus memenuhi peraturan yang berlaku dan persyaratan yang
ditunjukan dalam gambar / SPESIFIKASI TEKNIS.
b. Seluruh panel dan peralatan harus ditanahkan. Penghantar pentanahan pada panel-panel
menggunakan BCC dengan ukuran min. 6 mm? dan max. 95 mm?, penyambungan ke
panel harus menggunakan sepatu kabel (cable lug).
c. Dalamnya pentanahan minimal 12 meter dan ujung elektroda pentanahan harus mencapai
permukaan air tanah, agar dicapai harga tahanan tanah (ground resistance) dibawah 2
(dua) ohm, yang diukur setelah tidak hujan selama 3 (tiga) hari berturut-turut.
d. Pengukuran Pentanahan tanah dilaksanakan oleh Pelaksana Pekerjaan setelah mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas. Pengukuran ini harus disaksikan Konsultan
Pengawas.
6. Pengujian
1) Sebelum semua peralatan utama dari system dipasang, harus diadakan pengujian secara
individual. Peralatan tersebut baru dapat dipasang setelah dilengkapi dengan sertifikat
pengujian yang baik dari pabrik pembuat dan LMK / PLN serta instansi lainnya yang
berwenang untuk itu. Setelah peralatan tersebut dipasang, harus diadakan pengujian secara
menyeluruh dari system untuk menjamin bahwa system berfungsi dengan baik. Semua biaya
yang timbul dari pelaksanakan pengujian menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan.
2) Test meliputi :
 Test Beban Kosong ( No Load Test )

147
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Test Beban Penuh ( Full Load Test )
a. NO LOAD TEST

Test ini dilakukan tanpa beban artinya peralatan di test satu per satu seperti misal
pengujian Instalasi 0,6/1 KV (Kabel Tegangan Rendah):
• Pengukuran tahanan isolasi dengan megger 1,000 Volt
• Pengukuran tahanan instalasi dengan megger 1,000 Volt
• Pengukuran tahanan pentanahan

Dan harus diberikan hasil test berupa Laporan Pengetesan / hasil pengujian
pemeriksaan. Apabila hasil pengujian dinyatakan baik, maka test berikutnya harus
dilaksanakan secara keseluruhan (Full Load Test).

b. FULL LOAD TEST ( TEST BEBAN PENUH)

Test beban penuh ini harus dilaksanakan Pelaksana Pekerjaan sebelum penyerahan
pertama pekerjaan. Test ini meliputi :
• Test nyala lampu-lampu dengan nyala semuanya.
• Test pompa-pompa seluruhnya, yang dilaksanakan bersama-sama sub pekerjaan
pompa pompa.
• Test peralatan (beban) lainnya.
Lamanya test ini harus dilakukan 3 x 24 jam non stop dengan beban penuh, dan
semua biaya dan tanggung jawab teknik sepenuhnya menjadi beban Pelaksana
Pekerjaan, dengan schedule / pengaturan waktu oleh Konsultan Pengawas.
Hasil test harus mendapat pengesahan dari Perencana dan Konsultan Pengawas.
Selesai test 3 x 24 jam harus dibuatkan Berita Acara test jam untuk lampiran
penyerahan pertama pekerjaan.

4.2.2 Spesifikasi Teknis Diesel Generating Set


A. UMUM
1. Lingkup pekerjaan ini akan meliputi pengadaan, pemasangan, pengujian, garansi, sertifikasi,
service, pemeliharaan, penyediaan gambar terinstalasi (As-built Drawing), petunjuk operasi
dan pemeliharaan serta latihan petugas instalasi ini dari pihak Pemilik bangunan.
2. Pelaksana Pekerjaan harus bertanggung jawab untuk mengenali dengan baik semua
persyaratan yang diminta didalam spesifikasi ini, termasuk gambar-gambar, perincian
penawaran ( Bills of Quantity ), standard dan peraturan yang terkait, petunjuk dari pabrik
pembuat, peraturan setempat dan perintah dari Konsultan pengawas selama masa pelaksanaan
pekerjaan.

148
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Klaim yang terjadi atas pengabaian hal-hal di atas tidak akan diterima. Bila ternyata terdapat
perbedaan antara spesifikasi peralatan dan material yang dipasang dengan spesifikasi yang
dipersyaratkan, merupakan kewajiban Pemorong untuk penggantinya tanpa ada penggantian
biaya

B. SISTEM KERJA GENSET


1. 1 (satu) Unit Diesel Generating set kapasitas 5 KVA Prime Power disediakan sebagai sumber
daya cadangan bila PLN padam.
2. Bila PLN padam, maka Genset akan start secara otomatis (Auto Start) dalam waktu 10 15
detik (adjustable).
3. Ketika PLN sudah hidup kembali, maka Genset masih akan terus melayani beban untuk waktu
tidak kurang dari 15 menit, setelah itu baru terjadi pemindahan beban kembali ke PLN dan
Genset akan mati setelah melalui waktu pendinginan/cooling down time sekitar 300 detik
(adjustable), dengan pertimbangan agar rectifier perangkat tidak mengalami perubahan catu
daya dalam waktu pendek.

C. LINGKUP PEKERJAAN
1. Lingkup Pekerjaan Utama
 Pengadaan, pemasangan dan pengujian 1 (satu) unit Diesel Generating Set kapasitas 5
KVA Prime Power, single operation, Silent type.
 Pengadaan dan Pemasangan kabel feeder dari Genset ke PKG lengkap dengan kabel
ladder / tray termasuk terminasi.
 Pekerjaan sipil ( bobokan dan perapihan kembali dll.)
2. Lingkup Pekerjaan INSTALASI Operasi Sistem Genset
 Pengadaan, pemasangan dan pengujian kabel daya dan kontrol dari unit Genset ke PKG
 Pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem pentanahan unit Genset dan PKG
 Melakukan testing dan commissioning instalasi tersebut
 Mengadakan pelatihan operator.
 Membuat As-built Drawing
 Membuat buku petunjuk operasi dan pemeliharaan serta trouble shooting
 Menyerahkan Tools Kit
3. Lingkup Pekerjaan Terminasi
 Menyediakan kontrol terminal untuk sensor PLN ke PKG
 Melaksanakan terminasi kabel feeder dari Genset ke PKG
 Koordinasi dengan Pelaksana Pekerjaan lain maupun Instalasi terkait untuk menjamin
bahwa instalasi tersebut sudah lengkap, benar dan memenuhi persyaratan

149
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4. Lingkup Pekerjaan Yang Terkait
 Handling Genset di atas pondasi
 Setting dan aligment kedudukan Genset, termasuk anchor
 Setting dan aligment peredam getaran (Anti Vibration Mounting).
 Pekerjaan sipil dan finishing yang diperlukan dan perapihan kembali yang diakibatkan
oleh instalasi ini.
 Mengurus perijinan ke Instansi Depnaker dan Ditjen Pertambangan & Energi sehubungan
dengan pekerjaan ini (biaya perizinan dan pengurusannya termasuk lingkup Pelaksana
Pekerjaan ini).
5. Lingkup Pekerjaan Pemilik
Menyediakan surat yang diperlukan untuk perizinan ke Instansi terkait (bila dipersyaratkan)

D. DIESEL GENERATOR
1. Umum
 Mesin Diesel Generator yang dipergunakan harus mampu menghasilkan suatu daya listrik
dengan kapasitas tidak kurang seperti yang ditunjukkan dalam Gambar Rencana untuk tipe
pemakaian secara terus-menerus pada kondisi kerja setempat, dimana tempratur keliling tidak
melebihi 45° C dan rata-rata temperature keliling adalah 40° C, sesuai standard DIN 6270 A.
 Mesin Diesel Generator harus dilengkapi dengan suatu dudukan yang terbuat dari bahan baja,
dimana antara mesin dengan dudukan dan antar dudukan dengan pondasi mesin yang akan
disediakan oleh Pelaksana Pekerjaan, harus disediakan bahan peredam getaran tipe gabungan
pegas dan karet perdam getaran.
 Pelaksana Pekerjaan harus menghitung kembali system peredam suara, ventilasi ruangan,
saluran udara buang dan saluran asap sehubungan dengan spesifikasi mesin Diesel Generator
set yang diusulkan.
 Pelaksana Pekerjaan harus menghitung kembali system saluran udara buangdan saluran asap
sehingga tidak akan mengurangi kapasitas mesin untuk membangkitkan daya sesuai yang
diminta.
 Perhitungan system peredam suara, ventilasi ruangan, saluran udara buang dan saluran asap
harus dilampirkan pada surat penawaran, serta harus dilengkapidengan brosur / manual asli
dari pabrik sebagai dasar perhitungan.
 Mesin Diesel Generator yang dipergunakan harus merupakan peralatan yang selalu siap
dipergunakan pada setiap saat, untuk itu mesin ini harus mempunyai perlengkapan berupa
pompa sirkulasi minyak pelumas otomatis dan manual, peredam suara pada saluran gas buang
( max 65 dB ± 5 dB ), alat pengisi muatan battery dengan catu daya yang berasal dari
Generator dan yang berasal dari PLN.

150
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Mesin Diesel harus dilengkapi dengan peralatan yang dapat mengatur putaran mesin secara
otomatis sehingga mesin akan selalu bekerja pada putaran nominalnya pada kondisi beban
antara beban nol dan beban penuh dengan toleransi tidak lebih dari 2 %.
 Mesin Diesel harus dilengkapi dengan filter bahan bakar dan filter udara pembakaran.
 Mesin Diesel harus dilengkapi dengan alat pengaman guna menghentikan operasi mesin dan
atau memberikan indikasi adanya gangguan untuk setiap gangguan sebagai berikut :
- Putaran kerja melebihi 110 % putaran nominal.
- Tekanan kerja minyak pelumas lebih kecil dari nilai nominalnya (tidak kurang dari 3
kg/cm²)
- Temperatur kerja air pendingin melebihi nilai nominalnya (tidak kurang dari 75 °C).
- Dan lain-lain pengaman yang dinilai perlu dan sesuai dengan rekomendasi pabrik
 Generator yang dipergunakan harus mampu membangkitkan
 tegangan
 tanpa bantuan sumber daya lain, dimana rangkaian medan magnitnya mendapatkan catu daya
dari terminal Generator melalui suatu rangkaian elektronik dengan tidak mempergunakan sikat
komutator.
 Rangkaian elektronik yang dimaksud dalam butir di atas harus mampu
 mengatur tegangan Generator secara terus-menerus pada tegangan nominal sebesar 220/380
Volt dengan toleransi tidak lebih dari 1,5 %.
 Generator yang dipergunakan harus mampu menghasilkan daya
 listrik
 sesuai dengan kondisi terpasang yang ditunjukkan didalam Gambar Rencana secara terus-
menerus pada putaran nominal mesin Diesel dan pada tegangan nominal
 Generator yang dipergunakan harus dibuat untuk pemakaian dalam
 ruangan
 dengan kelas pengamanan tidak kurang dari IP 23 dan dapat menahan kelebihan beban 10 %
selama 1 jam dalam selang waktu 12 jam.
 Hubungan kumparan stator Generator hendaknya hubungan bintang
 Dimana reaktansi hubung singkatnya tidak lebih 15 %.
 Mesin Diesel Generator secara keseluruhan harus mampu
 dioperasikan dari Panel Kontrol Generator.
 PKG harus mempunyai bagian yang dapat mengoperasikan mesin
 Secara otomatis pada saat terjadi gangguan pada sumber daya yang berasal dari PLN, dimana
untuk selanjutnya akan disebut Automatic Main Failure ( AMF ) type Digital. AMF module

151
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
ini bisa disuplai oleh Pelaksana Pekerjaan Genset yang pemasangannya dilakukan oleh Panel
Maker atau pengadaannya oleh panel maker dan pemasangan oleh Pelaksana Pekerjaan
 AMF Digital yang dipergunakan harus dapat memberikan indikasi
 Mengenai keadaan - keadaan berikut :
- Alat penghubung beban tersambung / terputus
- Kegagalan start
- Gangguan pada rangkaian pengisi battery
- Kapasitas battery lemah
- Gangguan operasi lainnya
 AMF Digital harus dilengkapi dengan fasilitas peralatan sebagai berikut:
- Saklar pemilih operasi manual / otomatis
- Tombol penghenti bunyi bel
- Tombol reset
- Tombol penghenti operasi mesin
- Tombol penguji lampu indicator dan bel
- Dan lain-lain
 AMF Digital harus mampu menjalankan Diesel Genset pada waktu tegangan PLN mencapai
batas 80 % dari tegangan nominalnya tanpa kelambatan waktu operasi. Waktu start Diesel
Genset adalah sekitar 10 - 15 detik kemudian.
 AMF harus dapat menghentikan pelayanan Diesel pada waktu pelayanan dari PLN telah
normal kembali dan kemudian menghentikan Diesel dengan kelambatan waktu operasi tidak
kurang dari 10 menit.
 Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan titik pentanahan bagi mesin Diesel Generator, titik
netral Generator, PKG dan semua bagian logam didalam Ruang Diesel, termasuk rak dan
tangga kabel dan pintu-pintu ruangan yang terbuat dari logam sesuai dengan ketentuan ini.
2. Instalasi
 Diesel Genset harus didudukan di atas pondasi dengan Mempergunakan spring atau
rubber mounting yang direkomendasikan oleh pabik pembuat.
 Spring anti vibration mounting harus mempunyai effisiensi tidak Kurang dari 95%.
 Posisi Diesel Genset harus lurus baik secara vertical maupun horizontal.
 Anchor dari Diesel Genset harus benar-benar tepat pada lubang pondasi yang telah
ditetapkan dan dicek dengan baik dan kuat.
 Pipa exhaust dan Silencer harus diisolasi dengan Rockwool 2"density 60 kg/m³ dan
dibungkus dengan galvanized sheet di sepanjang pipa ( jacketing ).
 Sambungan pipa ke mesin harus mempergunakan flexible joint.

152
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
3. Pengujian
1) Test pabrik pembuat harus dilakukan menurut standard pabrik dan minimal meliputi
testing :
 Insulation level
 Squence
 Protection device
 Operation
 Full load running ( Load Bank / Building Load )
 Temperature rise
 Governour control
 Sound pressure level
2) Test lapangan harus dilakukan minimal meliputi :
 Squence
 Protection device
 Operation
 Sound pressure level
 Load running ( Load Bank / Building Load ) :
- 0% selama 15 menit tanpa interupsi.
- 25% selama 1 jam tanpa interupsi.
- 50% selama 1 jam tanpa interupsi dan rejection & sudden load test
- 75% selama 2 jam tanpa interupsi
- 100% selama 1 jam tanpa interupsi
- 110% selama 1 jam tanpa interupsi
- 100% selama 3 jam tanpa interupsi dan rejection & sudden load test
 Setelah lulus uji dengan load bank, akan dilakukan uji beban nyataselama 2 hari ( 2 x
24 jam)

Ketentuan Teknis Bahan dan Peralatan


1. Diesel Engine (Single Operation)
Type : Silent Type
Kapasitas Prime : 5 KVA Prime Power
Putaran : 1500 RPM
Pendinginan : Radiator
Aspiration : Turbocharger + Intercooler
Starting : Electric
Jumlah Silinder :8

153
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Type of engine : In-Line
Governor : Electronic
Fuel System : Direct Injection
Konsumsi Bahan bakar : Maksimum ± 5 liter / jam pada beban 75%.
Country of Origin : Complete Built up, by Manufacture Warranty
Measuring Device : - Oil Pressure Gauge
- Oil Temperatur Gauge
- Water Temperatur Gauge
- Charging Ammeter
- Tachometer
- Fuel Oil Pressure Gauge
- Thermometer untuk discharge gas di turbo charger
2. Safety Device : - Low Oil Pressure
- High Water Temperatur
- Over Speed
- Lampu Indikator dan horn pada panel generator
3. Perlengkapan : - Exhaust muffler Critical type with counter flange
- Battery dan charger – nya
- Droop Kit
4. Jumlah Unit : 1 ( satu )
5. Alternator
 Output kontinyu : Minimum 25% - 30% Load
 Tegangan : 380 - 415 V
 Frekwensi : 50 Hz
 Power Factor : 0,8
 Connection : Star dan Netral Grounded - 4 terminal
 Protection : IP 21
 Insulation : Class H
 Overload capacity : 10% selama 1 jam dalam setiap 12 jam kerja
 Voltage regulation : +/- 0,5 % rated solid state type with rotating silicon Controlled
rectifier ( brush – less ), three phase sensing.

A. Sistem Bahan Bakar


1. Umum

154
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a) Tangki penyimpanan bahan bakar harian harus mempunyai kapasitas minimum tidak
kurang dari 500 liter. Tangki ini harus terbuat dari bahan Mild Steel Plate melalui proses
anti karat.
b) Tangki penyimpanan bahan bakar harus mempunyai sarana penyambungan pipa pengisian
dari tangki bahan bakar mingguan, pipa pemakaian (supply), pipa pengembalian (return)
bahan bakar, pipa pembuangan gas ( ventilasi ), alat pengukur isi tangki dan pengatur
operasi pompa bahan bakar alasan sebagai indicator low level lengkap dengan alarm /
buzzer.
c) Pelaksana Pekerjaan wajib memberikan lapisan anti karat Zinchromate buatan ICI atau
setara sebanyak 2 lapis dan cat akhir berwarna coklat pada dudukan tanki di atas.
d) Pompa bahan bakar adalah jenis Gear Pump yang sesuai untuk pemakaian bahan bakar
berkapasitas tidak kurang dari yang ditunjukkan dalam Gambar Rencana ( 50 liter / menit
), dan digerakkan oleh motor listrik sesuai dengan kebutuhan serta dilengkapi dengan
panel kontrol operasi otomatis dan manual.
e) Pelaksana Pekerjaan membongkar dan memasang kembali pompa bahanbakar manual
existing dengan pemipaan secara parallel dilengkapi Gate Valve dan Check Valve.
f) Pipa bahan bakar yang dipergunakan adalah pipa baja hitam, medium class, dengan
penyambungan pipa ulir, kecuali pada tempat penyambungan tangki penyimpanan bahan
bakar, pompa bahan bakar dan peralatan-peralatan lainnya. Untuk hubungan dengan
peralatan tersebut dipergunakan tipe penyambungan Flange. Penyambungan Flange juga
diharuskaan pada pemipaan yang panjangnya lebih dari 12 m.
g) Diameter pipa bahan bakar yang dipergunakan harus sama seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar Rencana dan mempunyai perlengkapan katub operasi seperti tertera dalam
Gambar Rencana.
h) Pipa bahan bakar secara keseluruhan harus dilapis dengan lapisan anti karat Zinchromate
dari ICI sebanyak 2 lapis dan cat finishing. Warna cat akan ditentukan kemudian.
i) Katup operasi yang diameter lebih bedar dari 50 mm harus terbuat dari bahan besi cor
dengan sambungan-sambungan jenis Flange
j) Check Valve yang dipergunakan harus dapat menahan aliran balik dari bahan bakar.
Diameter alat ini ditunjukkan dalam Gambar Rencana sesuai dengan ukuran pipanya.
k) Setiap hubungan pipa dengan pompa harus dilengkapi dengan pipa flexible, yang terbuat
dari bahan karet khusus untuk bahan bakar, dimana penyambungannya dengan system
flange. Ukuran alat ini harus sesuai dengan pipa yang terhubung.
B. Sistem Gas Buang
1. Pipa pembuangan gas buang adalah jenis pipa baja hitam kelas medium berdiameter yang
cukup untuk tidak mengakibatkan terjadinya back pressure yang akan mempengaruhi

155
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
terjadinya pengurangan kapasitas mesin pada pemasangan seperti ditunjukkan dalam Gambar
Rencana.
2. Pipa pembuangan gas buang harus diisolasi untuk menahan radiasi panas yang mungkin
timbul dengan Rockwool berbentuk Preform (setengah pipa) setebal tidak kurang dari 50 mm
dan kepadatan tidak kurang dari 60 kg/m³ dan dilapis lagi dengan alumunium Jacketing tahan
temperature sampai dengan 1000° C.
3. Isolasi tersebut harus dipasang mulai dari pipa flexible penghubung mesin dengan peredam
suara sampai 50 cm dari ujung pipa gas buang.
4. Hubungan pipa gas buang antara mesin dan peredam suara (Silincer), harus dilengkapi dengan
penghubung flexible seperti yang telah direncanakan oleh pabrik pembuatnya. Penghubung
flexible ini tidak perlu diisolasi.
5. Peredam suara (Silincer) yang dipergunakan hendaknya tidak menimbulkan kebisingan
sehingga mengganggu operasi bangunan dan disyaratkan tidak melebihi batas 65 dB diukur
pada jarak 3 meter dari ujung pipa gas buang pada kondisi beban mesin nominal.
C. Sistem Pendingin
1. Pelaksana Pekerjaan wajib menyediakan cerobong udara bebas pendingin mesin dengan bahan
plat baja galvanis kelas BJLS 100, berbentuk sama seperti yang ditunjukkan dalam Gambar
Rencana lengkap dengan penghubung flexible dan pengarah aliran udara serta diisolasi sesuai
dengan ketentuan ini.
2. Ujung cerobong saluran udara ini harus dilengkapi dengan wiremesh sebagaimana tertera di
Gambar Rencana.
D. Sistem Peredam Suara
1. Bahan peredam suara yang dipergunakan pada dinding ruangan adalah rockwool dengan
ketebalan tidak kurang dari 50 mm dan kepadatan tidak kurang dari 60 kg/m³ .
2. Pada permukaan bahan peredam suara, Pelaksana Pekerjaan wajib menempatkan lapisan
Glasscloth.
3. Apabila tidak ditentukan lain oleh Konsultan pengawas, maka Pelaksana Pekerjaan wajib
mempergunakan baja strip berukuran 1 x 3/8" sebagai penahan peredam suara ke dinding
ruangan dimana pemasangan bagian harus mempergunakan Fisher tipe S-10.
4. Khusus untuk pemasangan peredam yang akan ditempatkan pada ruang peredam suara,
Pelaksana Pekerjaan harus mempergunakan baja siku 40 x 40 x 4 mm sebagai rangka
dudukannya.
5. Lubang ventilasi ( Intake air maupun Exhaust air ) harus dilengkapi dengan sound attenuator
sehingga kebisingan di sisi-sisi tersebut tidak lebih dari 60 dB, 3 meter dari jarak dinding
perimeter.

156
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
6. Pelaksana Pekerjaan diwajibkan membuat perhitungan kembali system peredaman suara ini
untuk menentukan ukuran sound attenuator berdasarkan noise level yang telah ditentukan
tersebut di atas.
7. Untuk kelengkapan system peredaman suara ini maka pintu-pintu ruang Genset haruslah
memiliki Transmission loss ( TL ) 40 dB.
E. Sistem Ventilasi Ruang
1. Sistem ventilasi ruangan ( Intake air dan Exhaust air ) harus sedemikian rupa sehingga dalam
keadaan semua mesin beroperasi maka rata-rata temperature keliling tidak melebihi 40 °C atau
batas temperature yang akan mengganggu operasi mesin.
2. Sistem ventilasi ruangan mengandalkan Intake air louver yang akan memasukkan udara ke
dalam ruangan Genset.
3. Sistem exhaust ventilasi Ruang Genset untuk sirkulasi udara didalam ruangan pada kondisi
Genset stand by dan system exhaust ventilasi tidak beroperasi saat generator operasi.

Produk Instalasi Genset


Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana Pekerjaan
dimungkinkan untuk mengajukan alternative lain yang setaraf dan Pelaksana Pekerjaan baru dapat
menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan tertulis dari Konsultan Pengawas dan Pemberi
Tugas.

4.2.3 Spesifikasi Teknis Pekerjaan Penangkal Petir


1. Umum
a. Yang dimaksud dengan sistem penangkal petir dalam pekerjaan ini ialah semua penyediaan
dan pemasangan sistem penangkal petir, termasuk disini air terminal, penghantar down
conductor, electroda pentanahan dan peralatan lainnya seperti yang ditunjukan dalam gambar
rencana.
b. Setiap Pelaksana Pekerjaan yang menangani pekerjaan ini, haruslah mempelajari seluruh
Dokumen Kontrak dengan teliti, untuk mengetahui kondisi yang berpengaruh pada pekerjaan
ini.
c. Pelaksana Pekerjaan harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik
dalam spesifikasi ataupun yang tertera dalam gambar-gambar, dimana bahan-bahan dan
peralatan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada spesifikasi ini.
d. Bila ternyata ada perbedaan antara spesifikasi bahan atau peralatan yang dipasang dengan
spesifikasi yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Pelaksana Pekerjaan
untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut, sehingga sesuai dengan ketentuan pada
SPESIFIKASI TEKNIS ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

157
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Lingkup Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah pengadaan dan pemasangan instalasi penangkal
petir jenis non radioaktif, termasuk air terminal (batang penerima), down conductor
pentanahan/ grounding dan bak kontrolnya serta peralatan lain yang berkaitan dengannya
sebagai suatu sistem keseluruhan maupun bagian-bagiannya seperti yang tertera pada
gambar-gambar maupun yang dispesifikasikan.
b. Termasuk didalam pekerjaan ini adalah pengadaan barang/material, instalasi dan testing
terhadap seluruh material, serah terima dan pemeliharaan selama 12 bulan.
c. Ketentuan-ketentuan yang tidak tercantum didalam gambar maupun pada spesifikasi/syarat-
syarat teknis tetapi perlu untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi secara keseluruhan harus juga
dimasukkan kedalam pekerjaan ini.
d. Secara umum pekerjaan yang harus dilaksanakan pada proyek ini adalah pengadaan dan
pengangkutan ke lokasi proyek, pemasangan bahan, material, peralatan dan perlengkapan
sistem penangkal petir sesuai dengan peraturan/standar yang berlaku seperti yang ditunjukkan
pada syarat-syarat umum untuk menunjang bekerjanya sistem/peralatan, walaupun tidak
tercantum pada syarat-syarat teknis khusus atau gambar dokumen.
3. Air Terminal
a. Air terminal dari jenis non rdioaktif dengan radius minimal 70 meter
b. Air terminal harus tidak mengalami korosi pada atmosfir normal.
c. Secara keseluruhan air terminal harus terisolasikan dari bangunan yang dilindunginya pada
seluruh kondisi.
d. Dilengkapi dengan FRP Support Mast.
4. Batang Peninggi
Sistem penangkal petir dipasang setinggi 5 (satu) meter dari atap bangunan, sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuatnya, dan harus di sesuaikan dengan gambar arsitek.
5. Saluran / Penghantar
a. Saluran / penghantar haruslah memenuhi test standard IEC 60 - 1 : 1989 dari kabel high
voltage shielded 50 mm?. Saluran penghantar ini mampu mencegah terjadinya side flashing
dan electrification building. Penghantar dari batang peninggi / tiang ke bak kontrol
pentanahan seperti gambar rencana.
b. Seluruh saluran penghantar, harus diusahakan tidak ada sambungan baik yang horizontal
maupun yang vertical / jalur menara, dengan kata lain kabel tersebut harus menerus dan utuh
tanpa sambungan.
6. Sambungan Pada Bak Kontrol

158
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Sambungan pada bak kontrol harus menjamin suatu kontak yang baik antar penghantar yang
disambung dan tidak mudah lepas. Sambungan harus diusahakan agar dapat dibuka untuk
keperluan pemeriksaan atau pengetesan tahanan tanah (ground resistance).
7. Penambat / Klem
Kabel yang turun kebawah vertikal harus diklem agar kuat, lurus dan rapi dan ditambatkan
pada rangka/dinding bangunan.
8. Pentanahan
Tahanan tanah harus lebih kecil dari 2 Ohm. Ground rod harus terbuat dari tembaga seperti
gambar rencana, ditanamkan kedalam tanah secara vertikal sedalam minimal 12 (dua belas)
meter dan harus mencapai air tanah.
9. Bak Kontrol
Pada setiap ground road harus dibuatkan bak pemeriksaan (bak kontrol). Sambungan dari
Down Conductor ke elektroda Pentanahan harus dapat dibuka untuk keperluan pemeriksaan
tahanan tanah. Bak kontrol banyaknya sesuai gambar rencana. Sambungan/klem
penyambungan harus dari bahan tembaga.
10. Pemasangan Air Terminal/Penangkal Petir
Pemasangan air terminal (head) dipasang sesuai gambar rencana.
11. Surat Ijin
a. Pelaksana Pekerjaan harus mempunyai ijin khusus dan berpengalaman dalam pemasangan
penangkal petir dan dibuktikan dengan memberikan daftar proyek-proyek yang sudah pernah
dikerjakan.
b. Pelaksana Pekerjaan berkewajiban dan bertanggung jawab atas pengurusan perijinan instalasi
sistem penangkal petir oleh instalasi Depnaker wilayah setempat hingga memperoleh
sertifikasi / rekomendasi pengujian / pengetesan. Untuk mengetahui baik atau tidaknya sistem
penangkal petir yang dipasang, maka harus diadakan pengetesan terhadap instalasinya
maupun terhadap sistem pentanahannya.
Pengetesan yang harus dilakukan :
• Grounding Resistant test :
Ukuran tahanan dari pentanahan dengan mempergunakan metode standard.
• Continuity test :
Pelaksana Pekerjaan harus memberikan laporan hasil testing tersebut.
12. Produk Instalasi Penangkal Petir
Peralatan, bahan dan material yang dipergunakan harus memenuhi spesifikasi. Pelaksana
Pekerjaan dimungkinkan untuk mengajukan alternatif lain yang setaraf dan Pelaksana
Pekerjaan baru dapat menggantinya bila sudah ada persetujuan resmi dan tertulis dari
Konsultan Pengawas dan Pemberi Tugas.

159
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
4.2.4 Spesifikasi Lampu PJU
a. Regulasi Teknis Terkait Pju
Telah diterbitkan 11 Peraturan Menteri ESDM tentang pemberlakukan SNI Wajib untuk produk
ketenagalistrikan. Standar yang diwajibkan berikut yang terkait dengan sistem PJU harus menjadi
acuan dalam perancangan sistem PJU:
Pemberlakuan Standar wajib SNI, terdiri dari:
 13 SNI peralatan dan pemanfaat tenaga listrik (MCB, Saklar, Tusuk-kontak & Kotak-kontak,
Kipas Angin, Ballas Elektronik(2), RCCB(2) dan Luminer (5)
 SNI 0225:2011, PUIL 2011
 SNI 1922:2002, Frekuensi 50 hertz sistem tenaga listrik
 SNI 6659:2002, Tanda Keselamatan (Safety mark)
 SNI IEC 60335-1:2009, Keselamatan untuk pemanfaat tenaga listrik (appliances)
 SNI 04-6973.2.3-2005, Luminer – Bagian 2-3 : Persyaratan Khusus – Luminer untuk
pencahayaan jalan

b. Acuan Standar Kualitas Pencahayaan Jalan


Di Indonesia, belum ada regulasi teknis terkait kualitas pencahayaan jalan. Kementerian Pekerjaan
Umum telah menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) 7391-2008 - Spesifikasi Penerangan
Jalan di Kawasan Perkotaan. Standar ini merupakan penyempurnaan dan pengembangan dari
Spesifikasi LampuPenerangan Jalan Kota No. 12/S/BNKT/1991 yang disusun oleh Direktorat
Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum. Standar ini termasuk untuk penerangan jalan
persimpangan jalan layang, jembatan dan jalan di bawah tanah/terowongan. Berikut adalah acuan
kualitas pencahayaan dalam SNI 7391-2008:

TABEL VI. 1
RASIO KEMERATAAN PENCAHAYAAN
Lokasi Penempatan Rasio Maksimum
Jalur Lalu Lintas:
- Daerah Pemukiman 6:1
- Daerah komersil/pusat kota 3:1
Jalur Pejalan Kaki:
- Daerah Pemukiman 10 : 1
- Daerah komersil/pusat kota 4:1
Terowongan 4:1
Tempat peristirahatan (Rest Area) 6:1

TABEL VI. 2
KUALITAS PENCAHAYAAN NORMAL

160
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

Khusus untuk penerapan teknologi lampu LED di PJU, dapat mengacu standar minimum kualitas
sebagaimana dirumuskan dalam SNI 7391-2008 sesuai dengan kelas/karakteristik/penempatan
jalan. Dapat juga mempertimbangkan usulan dari Asosiasi Industri Luminer dan Kelistrikan
Indonesia (AILKI) bekerjasama dengan Japan Lighting Manufacturers Association (JLMA) tentang
kualitas pencahayaan LED untuk PJU sebagai berikut:

161
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
TABEL VI. 3
KUALITAS PENCAHAYAAN PJU DENGAN TEKNOLOGI LED
Kuat Pencahayaan
Luminasi Batasan Silau
(lluminasi)
Jenis/Klasifikasi Jalan E rata-rata Kemerataan L rata-rata Kemerataan TJ
G
(lux) (Uniformity) (cd/m2) (Uniformity) (%)
g1 VD VI
National Expressway 20 1.00 0.70 10
National Highway
- Major Arterial Road 20 1.00 0.50 15
- Arterial Road /
15 - 20 0.70 0.40 15
Collector Road
Sumber: ‘JLMA Ref. Guidelines for LED Road Lighting’

Perbedaan jenis permukaan jalan juga mempengaruhi kualitas iluminasi yang dihasilkan.
AILKI memberikan rekomendasi agar dapat dilakukan konversi iluminasi untuk jenis
permukaan jalan yang berbeda dalam hal ini aspal dan beton sebagai berikut:

TABEL VI. 4
FAKTOR KONVERSI ILUMINASI RATA-RATA (UNIT: LX/CD/m²)
Faktor Konversi lluminasi
Tipe Paving
Rata-rata
Aspal 15
Kongkret 10
Sumber: ‘JLMA Ref. Guidelines for LED Road Lighting’

c. Acuan Standar Peralatan/Komponen Sistem PJU


Acuan standar lainnya terkait sistem peralatan/komponen PJU dapat mengacu pada beberapa
standar berikut ini:
1) Spesifikasi Teknis Luminer
Referensi Standardisasi (SNI/IEC/JIS/EN/dll.) yang memenuhi persyaratan kondisi di
Indonesia untuk jenis luminer adalah :
 SNI 6973.2.3:2005 Luminer – Bagian 2-3: Persyaratan khusus – Luminer untuk
pencahayaan jalan umum yang telah diregulasikan wajib oleh Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral c.q. Ditjen Ketenagalistrikan.
 IEC 60598-2002 Luminaires
 IEC 61347-1 Lamp control gear
2) Struktur umum lampu LED
Bentuk, dimensi, dan berat dari Luminair:
Tidak ada literatur spesifik yang menerangkan mengenai struktur dari Luminair. Tetapi,
mengacu kepada SNI 7391:2008 mengenai bentuk dan konstruksi lampu jalan adalah
sebagai berikut:

162
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 5. 1
BENTUK DAN KONSTUKSI LAMPU TANPA TIANG

GAMBAR 5. 2
TIPIKAL DAN DIMENSI TIANG LAMPU LENGAN TUNGGAL

163
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 5. 3
TIPIKAL DAN DIMENSI TIANG LAMPU LENGAN TUNGGAL

3) Perlindungan terhadap debu, air, dan kelembapan


 Perlindungan terhadap Luminer,
 sesuai dengan yang tertera pada IEC G0598 - Luminaires: Part 1 – General
Requirement and Tests adalah minimal memiliki IP 23 dan tidak ada efek berbahaya
dikarenakan debu, air, dan kelembapan. Bagian luminer yang terdapat modul LED,
plat reflektor, lensa, dan jenis lain yang tersimpan harus memiliki minimal IP 54 atau
lebih tinggi, terutama untuk control gear, agar melindungi berkurangnya faktor
pemeliharaan fluks cahaya yang disebabkan oleh debu atau objek lainnya.
 Landasan Baut (grounding bolt) ➔ Landasan baut harus sesuai dengan ukuran
penguncian pada tiang.
 Tanda Penguncian Baut (counter mark) ➔ Tanda ’Penguncian’ ditempatkan pada
bagian penyatuan antara baut dan badan tiang untuk mengindikasikan posisi kunci
yang sesuai.
 Metode Pemasangan Luminer ➔ Pemasangan luminer disesuaikan bentuk tiang, lurus
atau melengkung, dan menggunakan lebih dari satu baut sebagai pengunci.
 Struktur Pencegahan terhadap Jatuh ➔ Luminer dan tiang harus memiliki

164
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 struktur penahan untuk pencegahan terhadap jatuh. Struktur pencegahan jatuh ini
termasuk baut penahan yang menembus satu sisi tiang adaptor dengan lubang sebesar
MG atau lebih, pencegahan jatuh untuk kabel penghubung tiang dan luminer, dan baut
khusus (MG atau lebih) untuk memperbaiki kawat.d. Material dan bagian dari
Luminer
Perlu diperhatikan untuk material dan bagian dari Luminer antara lain:
 Unit utama LED Luminer
 Tutup kaca
 Plat reflektor dan Lensa
 Kemasan
 Kabel internal
 Blok terminal
4) Kinerja (Per/ormance)
Pemeriksaan fisik dan fungsi perlu dilakukan untuk memastikan kinerja dari luminer yang
terjamin. Beberapa parameter berikut dapat menjadi kunci kinerja dari luminer secara
keseluruhan:
 Kinerja optikal
 Hambatan insulasi
 Tegangan hambat
 Hambatan thermal shock
 Properti anti-getar
5) Standar penandaan di badan lampu.
6) Dalam pemilihan lampu untuk PJU, perlu diperhatikan penandaan pada permukaan badan
Luminer harus tertera jelas dan di mudah luntur sebagai salah satu metode sederhana
dalam melakukan kontrol kualitas/spesifikasi teknis yang terdiri dari:
 Jenis
 Nilai tegangan input (V)
 Nilai konsumsi daya (W)
 Untuk penggunaan di luar ruangan
 Tahun dan Produksi bulan atau kode
 Produsen atau kode
 Nomor IP
 Informasi yang diperlukan lainnya
7) Untuk penggunaan teknologi LED
a) Persyaratan modul LED

165
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Referensi umum untuk tipe dan standar aplikasi
Spesifikasi ini diterapkan sesuai dengan modul LED untuk fasilitas penerangan jalan.
- IEC 61347-1 Lamp control gear: Part 1 – General and safety requirement
- IEC 61347-2-13 Lamp controlgear: particular requirement for d.c or a.c supplied
electronic control gear for LED modules
- IEC 62031 LED Modules for general lighting – safety specifications
- SNI IEC/PAS 62612:2013 Lampu swa-balast LED untuk pelayanan pencahayaan
umum – persyaratan kinerja
 Kinerja modul LED
 Kinerja dari modul LED harus dapat memenuhi spesifikasi fluks pencahayaan
untuk jangka waktu yang panjang dan memiliki ketahanan terhadap panas yang
baik.
- Warna LED 5000 – 7000 K (putih)
- Rata-rata waktu hidup modul LED tipe putih adalah 50.000 jam
- Color Rendering Index (CRI) 60 atau lebih
b) Kinerja keamanan dan metode uji
Untuk metode pengujian keamanan dan ketahanan, sinari LED luminer terus menerus
dibawah suhu ambien 30oC. Saat suhu sudah stabil, hitung suhu casing LED luminer,
lalu hitung junction temperature. Konfirmasi hasil perhitungan suhu terhadap nilai
manajemen dari desain hidup berdasarkan karakteristik waktu hidup dari modul LED
yang diberikan oleh manufaktur pembuat LED (biasanya menggunakan arus operasi
sebagai parameter).
8) Referensi Lebih Lanjut
Dalam perancangan sistem PJU yang efisien energi, dapat mengacu pada referensi-
referensi lain yang sudah menjadi acuan standar baik secara internasional maupun
nasional sebagai berikut:
a) Guidelines for Introducing LED Luminaires for Road Lighting (Draft). 2011.
b) Japan Lighting Manufacturers Association (JLMA). Japan
c) IEC 60598 Luminaires
d) IEC 60598-2-3:2002 - Luminaires for Public Road Lighting
e) AASHTO:2001 - A Informational Guide for Roadway Lighting
f) CIE 115:2010 - Lighting of Roads for Motor and Pedestrian Traffic
g) SNI 0225:2011 - Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2011 (PUIL 2011)
h) SNI 6973.2.3:2005 Luminer – Bagian 2-3: Persyaratan khusus – Luminer
i) untuk pencahayaan jalan umum

166
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
j) SNI 6959.2.3:2003 Perlengkapan kendali lampu – Bagian 2-3: Persyaratan khusus
ballas elektronik disuplai a.b. untuk lampu fluoresen
k) SNI 04-0225-2000 (PUIL) Sebagai standar acuan wajib, sesuai Kepmen
l) 2046.K/40/MEM/2001 dan Permen ESDM 008/2007
m) SNI 7391:2008 - Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan
n) SNI 04-6262-2000 - Rekomendasi untuk pencahayaan jalan bagi kendaraan bermotor
dan pejalan kaki
Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan :
Lampu Jalan - PJU 84Watt MULTI LED
- Merk Chips LED : Epistar
- Daya Maksimal : 84Watt (84x1W)
- Input Tegangan : AC 85 - 265 Volt
- Kuat Cahaya : 100 Lm/W
- Warna Cahaya : Putih
- Sudut Cahaya : 180 Degree
- Standart Proteksi : IP65
- Massa Pakai LED : 40.000 Jam
- Travo Led posisi luar

4.3 Persyaratan Teknis Pekerjaan Mekanikal


4.3.1 Pekerjaan Plambing
1. Umum
Yang dimaksud disini dengan pekerjaan instalasi mekanikal plambing secara keseluruhan adalah
pengadaan, transportasi, pembuatan, pemasangan, peralatan-peralatan bahan- bahan utama dan
pembantu serta pengujian, sehingga diperoleh instalasi yang lengkap dan baik sesuai dengan
spesifikasi, gambar dan bill of quantity.
2. Uraian Pekerjaan
Lingkup pekerjaan secara garis besar sebagai berikut :
a. Instalasi Sistem Air Bersih
b. Instalasi Sistem Air Limbah
c. Instalasi Sistem Pengolahan Air Limbah
3. Gambar Kerja
Sebelum kontraktor melaksanakan suatu bagian pekerjaan lapangan, akan menyerahkan gambar
kerja antara lain sebagai berikut:
 Denah tata ruang dan detail pemasangan dari peralatan utama, perlengkapan dan fixtures.
 Detail denah perpipaan
 Detail denah perkabelan

167
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Detail penempatan sparing, sleeve yang menembus lantai, atap, tembok dll.Detail lain yang
diminta oleh Pemberi Tugas.
4. Gambar Instalasi Terpasang
Setiap tahapan penyelesaian pekerjaan, kontraktor akan memberi tanda sesuai jalur terpasang
pada Re-Kalkir gambar tender maupun gambar kerja, sehingga pada akhir penyelesaian
pemasangan sudah tersedia gambar terpasang yang mendekati keadaan sebenarnya.

4.3.2 Sistem Perpipaan

1. Spesifikasi Perpipaan
1) Umum

Lingkup pekerjaan sistem perpipaan meliputi :


a. Pipa
b. Sambungan
c. Katup
d. Strainer
e. Sambungan fleksibel
f. Penggantung dan penumpu
g. Sleeve
h. Lubang pembersihan
i. Galian
j. Pengecatan
k. Pengakhiran
l. Pengujian
m. Peralatan Bantu
2) Spesifikasi dan gambar menunjukkan diameter minimal dari pipa dan letak serta arah dari
masing- masing sistem pipa.
3) Seluruh pekerjaan, terlihat pada gambar dan atau spesifikasi dipasang terintegrasi dengan
kondisi bangunan dan menghindari gangguan dengan bagian lainnya.
4) Bahan pipa maupun perlengkapan harus terlindung dari kotoran, air karat dan stress sebelum,
selama dan sesudah pemasangan. Untuk pipa baja dibawah tanah diberi lapisan anti karat
densotape dengan ketebalan 2-3 mm.
5) Khusus pipa dan perlengkapan dari bahan plastik, selain disebut diatas harus juga terlindung
dari cahaya matahari.
6) Semua barang yang dipergunakan harus jelas menunjukkan identitas pabrik pembuat.

168
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
2. Spesifikasi Bahan Perpipaan
1) Daftar spesifikasi bahan perpipaan
KODE TEK. TEK. STD. TEK. SPESIFI- SPESIFIKA-
SISTEM
SISTEM KERJA BAHAN UJI KASI PIPA SI ISOLASI
Air dingin dalam
AB 10 12,5 15 PN.10 IA
gedung
Air limbah
ABK 5 10 15 PV-10 IA
pengaliran gravitasi
Air hujan AH 5 10 15 PV-10 IA
Air limbah gravitasi
AK 5 10 15 PV-10 IA
toilet
Vent VT - - Rendam PV-5 IA
Pipa header Pompa
HD/ABK/
dan Pipa air limbah 10 10 15 GIP IA
AK
Luar
Catatan :
IA = tidak diisolasi
IB = diisolasi
GRV = Gravitasi
Tekanan uji tidak terbatas pada tabel ini, namun juga harus mengacu pada tekanan actual pompa

2) Spesifikasi PN 10
Penggunaan : Air dingin didalam Gedung
Tekanan standard 12,5 bar.
Uraian Keterangan
Pipa : Polypropelene Random Copolymer.
Type : 3 DIN 16928, ONORM B.5174
Temp : 95 - 100° L-PN.10
Sambungan/fitting : Electric Welding.
Polypropelene Random Copolymer.
Type : 3 DIN 16928, ONORM B.5174
PN : PN.10
Flange : Dia 40 mm kebawah black malleable cast iron RF class 150
lb, screwed
Dia 50 mm keatas Forged steel RF class 150 lb, welding
joint.
Valve & Strainer : Dia 40 mm kebawah, bronze atau strainer A- metal body class
150 lb dengan sambungan ulir, BS 21/ ANSI B 2.1.
Dia 50 mm keatas,cast iron body class 150 lb dengan
sambungan flanges.
3) Spesifikasi PV 10.
Penggunaan : Air Limbah pengaliran gravitasi.
Tekanan standard 10 bar
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar.

169
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Elbow & Junction : PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius, Solvent
Cement joint type.
Reducer : PVC injection moulded sanitary fitting concentric, Solvent
Cement Joint Type.
Solvent Cement : Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
4) Spesifikasi PV 10.
Penggunaan : Air hujan
Tekanan Standard 10 bar.
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar
Elbow & Junction : PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius atau
Factory Made Fabricated fitting, Solvent Cement Joint atau
Rubber Ring type.
Reducer : Seperti diatas, model concentric.
Solvent Cement : Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
5) Spesifikasi PV 10
Penggunaan: - Air Limbah Grafitasi Toilet
Tekanan Standard 10 bar.
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 10 bar
Elbow & Junction : PVC Injection Moulded Sanitary fitting large radius atau
Factory Made Fabricated fitting, Solvent Cement Joint atau
Rubber Ring type.
Reducer : Seperti diatas, model concentric.
Solvent Cement : Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
6) Spesifikasi PV
Penggunaan : Pipa Venting
Tekanan standard 5 bar (klas AW).
Uraian Keterangan
Pipa : Polyvinyl chloride (PVC) klas 5 bar.
Fitting : PVC Injection Moulded pressure fitting, Solvent Joint type.
Reducer : Seperti diatas, model concentric.
Solvent Cement : Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
7) Spesifikasi GIP
Penggunaan : Header pada Pompa dan Pipa Air limbah
Tekanan standard 10 Bar
Uraian Keterangan
Pipa : Galvanized Steel pipe BS 1387/1967 class medium.
Fitting dan sambungan : Dia 40 mm kebawah malleable iron ANSI B 16,3 class 150
lb, screwed end. Dia 50 mm keatas, wrought steel butt
weld fitting ANSI B 16.9, sch 40

170
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Flange : Dia 40 mm kebawah Galvanized malleable cast iron RF
class 150 lb. Screwed Dia 50 mm keatas forged steel RF
class 150 lb. Welding joint.
Valve&strainer : Dia 40 mm ke bawah, bronze atau A-metal body class 150
lb dengan sambungan ulir BS 21/ANSI B 2.1.
Dia 50 mm keatas, cast iron body class 150 lb dengan
sambungan flanges.
8) Schedule Katup
Katup Isolasi Katup Pengatur Katup Searah
PEMAKAIAN < 40 mm 50 mm < 40 mm 50 mm < 40 mm 50 mm
dia ke atas dia ke atas dia ke atas
Air bersih di dalam Gate Butterfly Globe Butterfly Swing Guided
gedung membrane

Air panas di Gate Butterfly Globe Butterfly Swing Guided


dalam gedung membrane
Drain Gate Butterfly Globe Butterfly Swing Double
disc

9) Persyaratan jenis peralatan

Jenis peralatan yang boleh dipergunakan di sini adalah sebagai berikut :


Fungsi peralatan Ukuran & Joint W.O & G Steam
(stop valve) screwed Butterfly Gate
Diaphargm
50 mm ke atas flanged Butterfly Gate Globe

Katup pengatur s/d 40 mm screwed Globe Butterfly Globe


(Regulating valve) Diaphargm
50 mm ke atas flanged Butterfly Globe Globe

Non return valve s/d 40 mm screwed Swing check

50 mm ke atas swing check double swing


Flanged check disk
Strainer "Y" type
Bucket" type
Pressure Reducer Die and flow type
Pressure Indicator Dial type
Dial dia 100 mm
Note : W = water, O = Oil, G = Gas.

3. Persyaratan Pemasangan
1) Umum
a. Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan,
kerapihan, ketinggian yang benar minimum 250 mm dari lantai, serta memperkecil
banyaknya penyilangan.
b. Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang dari 50 mm di
antara pipa-pipa atau dengan bangunan & peralatan.

171
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
c. Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum dipasang,
membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam/ runcing serta penghalang lainnya.
d. Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang diperlukan antara
lain katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya, sesuai dengan fungsi sistem
dan yang diperlihatkan dalam gambar.
e. Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi dengan water
mur atau flens.
f. Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan cabang pada
pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.
g. Kemiringan menurun dari pekerjaan perpipaan air limbah harus seperti berikut, kecuali
seperti diperlihatkan dalam gambar.
a) Di bagian dalam toilet
Garis tengah 50 mm2 - 100 mm2 atau lebih kecil : 1 % - 2 %

b) Di bagian dalam bangunan


Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1 %

c) Di bagian luar bangunan


 Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1 %
 Garis tengah 200 mm atau lebih besar : 1 %
h. Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun ke arah titik buangan.
i. Pipa pembuangan dan ven harus disediakan guna mempermudah pengisian maupun
pengurasan. Untuk pembuatan vent pembuangan hendaknya dicari titik terendah dan
dibuat cekung.
j. Katup (valves) dan saringan (strainers) harus mudah dicapai untuk pemeliharaan dan
penggantian. Pegangan katup (valve handled) tidak boleh menukik.
k. Sambungan-sambungan fleksibel pada sistem pemipaan harus dipasang sedemikian rupa
dan angkur pipa secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan pada pipa atau
alat-alat yang dihubungkan oleh gaya yang bekerja ke arah memanjang.
l. Pekerjaan perpipaan ukuran jalur penuh harus diambil lurus tepat ke arah pompa dengan
proporsi yang tepat pada bagian-bagian penyempitan. Katup-katup dan fittings pada
pemipaan demikian harus ukuran jalur penuh.
m. Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angkur-angkur pipa dan pengarah-pengarah pipa
harus secukupnya disediakan agar pemuaian serta perenggangan terjadi pada alat-alat
tersebut, sesuai dengan permintaan & persyaratan pabrik.
n. Selubung pipa harus disediakan di mana pipa-pipa menembus dinding, lantai, balok,
kolom atau langit-langit. Di mana pipa-pipa melalui dinding tahan api, celah kosong di
antara selubung dan pipa-pipa harus dipakai dengan bahan rock-wool atau bahan tahan
api yang lain, kemudian harus ditambahkan sealant agar kedap air. Selama pemasangan,
bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam pekerjaan perpipaan yang tersisa pada
setiap tahap pekerjaan, harus ditutup dengan menggunakan caps atau plugs untuk
mencegah masuknya benda-benda lain.

172
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
o. Untuk setiap pipa yang menembus dinding harus menggunakan pipa flexible untuk
melindungi dari vibrasi akibat terjadinya penurunan struktur gedung.
p. Semua galian, harus juga termasuk pengurugan serta pemadatan kembali sehingga
kembali seperti kondisi semula.
 Kedalaman pipa air minum minimum 60 cm di bawah permukaan tanah.
 Semua pipa diberi lapisan pasir yang telah dipadatkan setebal 15-30 cm untuk bagian
atas dan bagian bawah pipa dan baru diurug dengan tanah tanpa batu-batuan atau
benda keras yang lain.
 Untuk pipa di dalam tanah pada tanah yang labil, harus dibuat dudukan beton pada
jarak 2 - 2,5 m dan pada belokan-belokan atau fitting-fitting.
q. Instalasi pekerjaan pipa jaringan luar diletakkan pada struktur bangunan.
r. Pekerjaan perpipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik
s. Setiap perubahan arah aliran untuk perpipaan air kotor yang membentuk sudut 90 °,
harus digunakan 2 buah elbow 45 ° dan dilengkapi dengan clean out serta arah dan jalur
aliran agar diberi tanda.

2) Penggantung dan Penumpu Pipa


a. Pemipaan harus ditumpu atau digantung dengan hanger, brackets atau sadel dengan tepat
dan sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan pemuaian atau perenggangan pada
jarak yang tidak boleh melebihi jarak yang diberikan dalam tabel berikut ini :

Batas Maximum Ruang (mm)


Jenis Pipa Ukuran Pipa Interval mendatar Interval tegak (m)
(m)
Pipa GIP Sampai 20 1,8 2
25 s/d 40 2,0 3
50 s/d 80 3,0 4
100 s/d 150 4,0 4
200 atau lebih 5,0 4
Pipa PVC 50 0,6 0,9
80 0,9 1,2
100 1,2 1,5
150 1,8 2,1

Catatan :
Bila dalam suatu kelompok pipa yang terdiri dari bermacam-macam ukuran, maka jarak
interval yang dipergunakan harus berdasarkan jarak interval pipa ukuran terkecil yang ada.
b. Penunjang atau Penggantung tambahan harus disediakan pada pipa berikut ini :
a) Perubahan perubahan arah Titik percabangan.
b) Beban-beban terpusat karena katup, saringan dan hal-hal lain yang sejenis.
c. Ukuran baja bulat untuk penggantung pipa datar adalah sebagai berikut :
a) Diameter Batang

173
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Ukuran Pipa Batang
Sampai 20 mm 6 mm
25 mm s/d 50 mm 9 mm
65 mm s/d 150 mm 13 mm
200 mm s/d 300 mm 15 mm
300 mm atau lebih besar dihitung dengan faktor keamanan 5.
Gantungan ganda 1 ukuran lebih kecil dari tabel diatas
Penunjang pipa lebih dari 2 dihitung dengan faktor keamanan 5
terhadap kekuatanpuncak.

b) Bentuk gantungan.
 Untuk air dingin : Split ring type atau Clevis type.
d. Penggapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
e. Semua pipa dan gantungan, penumpu sebelum dicat, harus memakai dasar zinchromat
dan pengecatan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

No. Jenis Cairan Warna Pipa


1. Air Bersih Biru
2. Air Kotor Hitam
3. Air Bekas Coklat
4. Air Pemadam Kebakaran Merah
5. Pipa Gas Kuning

3) Cara pemasangan pipa dalam tanah.


a. Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
b. Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda- benda keras/ tajam.
c. Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 2 meter pada dasar galian dengan adukan
semen.
d. Urugan pasir sekeliling dasar pipa dan dipadatkan.
e. Pipa yang telah tersambung diletakkan di atas dasar pipa.
f. Dibuat blok beton setiap interval 2 meter.
g. Pipa yang melintasi jalan kendaraan, pada urugan pipa bagian atas harus dilindungi plat
beton bertulang setebal 10 cm yang dipasang sedemikian rupa sehingga plat beton tidak
bertumpu pada pipa dan tidak mengganggu konstruksi jalan, kemudian baru ditimbun
dengan baik sampai padat.

4) Pemasangan Katup-katup.

Katup-katup harus disediakan sesuai yang diminta dalam gambar, spesifikasi dan untuk
bagian- bagian berikut ini :
a. Sambungan masuk dan keluar peralatan.
b. Sambungan ke saluran pembuangan pada titik- titik rendah.

174
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Di ruang Mesin
Ukuran Pipa Ukuran Katup
Sampai 75 mm 20 mm
100 mm s/d 200 mm 40 mm
250 mm atau lebih besar 50 mm

 Lain-lain, ukuran katup 20 mm


c. Katup by-pass.
5) Pemasangan Katup-katup Pengaman.
 Katup - katup Pengaman harus disediakan di tempat-tempat yang dekat dengan sumber
tekanan.
6) Pemasangan sambungan fleksibel.
 Sambungan fleksibel harus disediakan untuk menghilangkan getaran dan menghindari
terjadinya retak/patah pipa akibat penurunan tanah dan struktur bangunan.
7) Pemasangan Pengukur Tekanan.

Pengukur tekanan harus disediakan dan di tempatkan pada lokasi dimana tekanan yang ada
perlu diketahui :
a. Katup-katup pengurang tekanan.
b. Katup-katup pengontrol.
c. Setiap pompa
d. Setiap bejana tekan

Diameter pengukur tekanan minimum Dia. 75 dengan pembagian skala ukur maksimum 2
kali tekanan kerja.

8) Sambungan ulir
a. Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir berlaku untuk
ukuran sampai dengan 40 mm.
b. Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada pipa dengan
diputar tangan sebanyak 3 ulir.
c. Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat Henep dan zink white dengan
campuran minyak.
d. Semua pemotongan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.
e. Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas cutter dengan reamer.
f. Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat sambungan.
9) Sambungan Las
a. Sistem sambungan las hanya berlaku untuk saluran bukan air minum.
b. Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fittinglas. Kawat las atau elektrode yang
dipakai harus sesuai dengan jenis pipa yang dilas.
c. Sebelum pekerjaan las di mulai Pemborong harus mengajukan kepada Direksi contoh
hasil las untuk mendapat persetujuan tertulis.

175
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Tukang las harus mempunyai sertifikat dan hanya boleh bekerja sesudah mempunyai
surat ijin tertulis dari Direksi.
e. Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat khusus untuk itu.
f. Alat las yang boleh dipergunakan adalah alat las listrik yang berkondisi baik menurut
penilaian Direksi.
10) Sambungan lem
a. Penyambungan antara pipa dan fitting PVC, mempergunakan lem yang sesuai dengan
jenis pipa, sesuai rekomendasi dari pabrik pipa.
b. Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, maka untuk ini harus dipergunakan alat press
khusus. Selain itu pemotongan pipa harus menggunakan alat pemotong khusus agar
pemotongan pipa dapat tegak lurus terhadap batang pipa.
c. Cara penyambungan lebih lanjut dan terinci harus mengikuti spesifikasi dari pabrik pipa.
11) Sambungan yang mudah dibuka

Sambungan ini dipergunakan pada alat- alat saniter sebagai berikut :


□ Antara Lavatory Faucet dan Supply Valve
□ Pada waste fitting dan Siphon.

Pada sambungan ini kerapatan diperoleh dengan adanya paking dan bukan seal threat.

12) Pemasangan katup-katup Pelepasan Tekanan.

Katup-katup Pelepasan Tekanan harus disediakan di tempat-tempat yang mungkin timbul


kelebihan tekanan.

13) Pemasangan Ven Udara Otomatis.

Ven udara otomatis harus disediakan di tempat- tempat tertinggi dan kantong udara, serta
ditempatkan yang bebas untuk melepaskan udara dari dalam.

14) Pemasangan sambungan expansi.

Sambungan expansi harus disediakan pada penyambungan antara pipa dari luar bangunan
dengan pipa dari dalam bangunan untuk menghindari terjadinya patah ataupun bengkok
akibat terjadinya penurunan tanah ataupun struktur bangunan.

15) Pemasangan Ven Udara Otomatis.

Ven udara otomatis harus disediakan ditempat- tempat tertinggi dan kantong udara.

16) Selubung Pipa.


a. Selubung untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik setiap kali pipa tersebut menembus
konstruksi beton.
b. Selubung harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan kelonggaran di luar
pipa ataupun isolasi.
c. Selubung untuk dinding dibuat dari pipa besi tuang ataupun baja. Untuk yang mempunyai
kedap air harus digunakan sayap.

176
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Untuk pipa-pipa yang akan menembus konstruksi bangunan yang mempunyai lapisan
kedap air ( water proofing ) harus dari jenis "Flushing Sleeves".
e. Rongga antara pipa dan selubung harus dibuat kedap air dengan rubber sealed atau
"Caulk"
17) Katup Label (Valve Tag)
a. Tags untuk katup harus disediakan di tempat-tempat penting guna operasi dan
pemeliharaan.
b. Fungsi-fungsi seperti "Normally Open" atau "Normally Close" harus ditunjukkan di tags
katup.
c. Tags untuk katup harus terbuat dari plat metal dan diikat dengan rantai atau kawat.
18) Pembersihan

Setelah pemasangan dan sebelum uji coba pengoperasian dilaksanakan, pemipaan di setiap
service harus dibersihkan dengan seksama, menggunakan cara- cara/ metoda-metoda yang
disetujui sampai semua benda- benda asing disingkirkan.

Desinfeksi :
 Dari 50 mg/l chlor selama 24 jam setelah itu dibilas atau dari 200 mg/l chlor selama 1 jam
setelah itu dibilas.
 Untuk bak air dipoles dengan cairan 200 mg/l chlor selama 1 jam dan setelah itu dibilas.
4. Pengujian
1) Sebelum dilakukan testing dilakukan dahulu :
a. Pemeriksaan sebagian- Sebagian
b. Pemeriksaan setelah pemasangan.
2) Tujuannya untuk mengetahui apa konstruksi dan fungsinya serta sistem sudah memenuhi dan
sesuai dengan rencana.
a. Pemborong harus melakukan pengujian terhadap setiap jenis alat.
b. Pipa yang akan ditanam atau dipasang di luar harus dites terlebih dahulu sebelum diurug,
dengan bagian perbagian, dengan tekanan 1 1/2 x tekanan kerja selama 1 jam tanpa ada
penurunan tekanan (antara 10 kg/cm2) dan dilanjutkan pengujian per sistem.
c. Setelah alat plambing dipasang, dites selama ± 2 menit tanpa penurunan tekanan, berlaku
untuk umum kecuali untuk monoblock dan faucet dan ditentukan oleh pengawas.
d. Tangki air setelah dibersihkan harus diuji selama 24 jam tanpa ada penurunan tinggi air.
e. Setelah pipa dan tangki diuji, dibersihkan dan dilakukan desinfeksi sesuai PPI dengan sisa
kadar chloor 0,2 ppm atau lebih, baik yang di pipa atau di tangki.
f. Setelah itu dibersihkan ( dibilas ) dengan air bersih.
g. Pengisian pipa dengan air dilakukan sedikit demi sedikit dengan pompa khusus untuk
pengetesan.
h. Untuk mengetahui setiap alat berfungsi sesuai perencanaan, dilakukan pengujian sistem
aliran sampai tercapai pengukuran yang diminta dalam perencanaan seperti kapasitas
pompa, kebisingan pompa ( ± 60 dB ), tekanan air keluar kran dia.0,3 kg/cm2 ) dan lain-
lain.

177
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
i. Semua pengetesan disaksikan oleh Pemberi Tugas dan akan dikeluarkan sertifikat oleh
Pemberi Tugas.

5. Pengecatan
1) Umum

Barang-barang yang harus dicat adalah sebagai berikut:


 Pipa servis
 Support pipa dan peralatan Konstruksi besi
 Flens
 Peralatan yang belum dicat dari pabrik
 Peralatan yang catnya harus diperbarui
 Pengecatan pada pipa air bersih dan air panas hanya di beri tanda arah panah jalur pipa
tersebut.
 Untuk pipa pemadam pengecatan harus berwarna merah dan harus dapat memberi
indikasi adanya Instalasi Peadam Kebakaran.

6. Testing Dan Commissioning


1) Pemborong pekerjaan instalasi akan melakukan semua testing pengukuran secara partial dan
secara system, untuk mengetahui apakah seluruh instalasi yang sudah dilaksanakaan
berfungsi dengan baik dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
2) Semua tenaga, bahan, perlengkapan yang perlu untuk testing merupakan tanggung jawab
pemborong, sehingga semua persyaratan test yang dianjurkan oleh pabrik hingga dapat
dilakukan dan diketahui hasil test sesuai persyaratan yang ditentukan.

4.3.3 Sistem Air Bersih


1. Lingkup Pekerjaan
Uraian singkat lingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :
a. Tangki Persediaan Air Bersih
b. Pompa Suplai
c. Pemipaan
d. Pengkabelan
e. Panel Listrik
f. Peralatan Instrument dan pengendalian
g. Penyambungan ke peralatan penunjang
h. Penyambungan ke peralatan plambing.

2. Peraturan Dan Referensi


Peraturan & Referensi yang dipergunakan dalam melaksanakan pekerjaan ini antara lain adalah :
a. Pedoman Plambing Indonesia tahun 1975

178
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing (Soufyan & Moimura)
c. National Plumbing Code Handbook ,1975.
d. PU
e. Depnaker
f. Depkes.

3. Peralatan Utama
1) Tangki Persediaan Air Bersih
a. Tangki persediaan air bersih terletak di area service Basement (Ground Water Tank).
Tangki air bawah berfungsi untuk menyediakan air untuk kebutuhan cadangan selama 2
(dua) hari, dengan kualitas sesuai standart Depkes RI tahun 1990.
b. Tangki air harus dibuat dari konstruksi higenis dengan ketentuan sebagai berikut :
 Membuat kemiringan pada lantai, sehingga terjadi aliran air minimum selama 20
menit.
 Tanpa sudut tajam
 Mempunyai bak pengurasan pada dasar tangka
 Mencegah air tanah dan air hujan masuk ke dalam tangka
 Permukaan dinding licin dan bersih
c. Sumur Hisap. Untuk memperkecil volume air mati pada pipa isap pompa, maka harus
dibuat sumur hisap pada tangki air.
d. Tangki air bawah dapat dibuat dari beton berlapis fiberglass reinforced plastic, atau
dengan konstruksi beton yang kedap air.
e. Tangki air harus mempunyai perlengkapan sebagai berikut :
 Manhole
 Tangga
 Pipa Vent penghubung maupun vent ke udara luar
 Pipa peluap dan pipa penguras
 Indicator muka air
 Selubung untuk laluan pipa masuk, pipa isap, pipa penguras, kabel dsb.
f. Sistem Pengendalian
 Muka air dalam tangki air atas mengendalikan pompa pemindah.
 Pompa akan hidup pada saat air turun mencapai muka air tertentu
 Pompa akan mati bila muka air sudah mendekati tepi pipa peluap

2) Pompa Transfer
a. Pompa pemindah berfungsi untuk memindahkan air dari tangki air bawah ke tangki air
atas
b. Sistem pompa pemindah sekurang-kurangnya terdiri dari 2 ( dua ) pompa.
c. Pompa pemindah akan bekerja otomatis oleh level switch yang dipasang di tangki bawah
maupun tangki atas.

179
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Setiap pompa pemindah antara lain terdiri dari :
 Pompa Centrifugal End Suction lengkap dengan motor
 Inlet dan Outlet headers.
 Katup - katup inlet dan outlet
 Check valve anti pukulan air
 Inlet Strainers.
 Panel daya dan Pengendalian
 Level switch untuk ON / OFF.
 Level switch untuk proteksi pompa
 Pengkabelan
 Penunjuk tekanan pada inlet dan outlet pompa
 Dudukan pompa.
e. Pengaturan pompa adalah sebagai berikut :
 Pompa bekerja apabila muka air di tangki atas turun mencapai level L dan akan stop
apabila muka air naik sampai level H.
 Semua pompa akan tiba-tiba berhenti apabila muka air di tangki bawah turun sampai
level LL.

3) Skedul Peralatan Air Bersih


a. Groundtank
 Type : Tangki Air Tanam
 Kapasitas : 5 m³
 Tekanan : -
 Bahan : Poli Etilene Kepadatan Tinggi
 Spesifikasi : Panjang: 325,4 cm Diameter body: 150 cm Tinggi keseluruhan:
168,4 cm Fitting: 1 1/2 inch Diameter mainhole: 40 cm.
 Merk : Penguin, EXCEL

b. Roof Tank ( RT ) Menara air


 Type : Tandon air
 Kapasitas : 3 m³
 Material : Serat fiber
 Spesifikasi : Volume isi : 3100 liter • Diameter : 144cm (1440 mm) • Tinggi :
214cm (2140mm)
 Merk : Penguin, EXCEL

c. Pompa Transfer
 Type : Centrifugal Positif Suction Pump
 Kapasitas : 30 l / menit

180
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
 Tekanan : 35 m.
 Motor Rated : 0.3 kw ; 220 V/I Phase/50 Hz
 Shaft Seal : Mechanical
 Casing : Cast Iron/Standard Manufacturer
 Base Frame : Cast Iron or Steel
 Efisiensi : Minimum 80%
 Impeler : Bronze / Stainless Stell

4.3.4 Sistem Air Limbah

1. Lingkup Pekerjaan
Uraian singkat lingkup pekerjaan dalam sistem air limbah disini antara lain adalah sbb :
a. Perpipaan
b. Penyambungan dengan peralatan Plambing
c. Floor Drain
d. Clean Out
e. Roof Drain

2. Perpipaan
a. Umum
 Macam perpipaan air limbah adalah, Air Hujan, Air Limbah Saniter, Limbah Dapur.
 Jenis pipa lihat "Spesifikasi Perpipaan".
b. Limbah Saniter
Perpipaan Limbah Saniter mulai dari Alat Saniter antara lain Kloset, Urinal, Lavatory, dan
Floor Drain, sampai saluran halaman melalui septik tank.
c. Limbah Air Hujan
Perpipaan air hujan mulai dari roof drain dan kanopy drain diatap dialirkan kedalam sumur
resapan sebelum dialirkan kesaluran kota. Khusus fitting air hujan mempergunakan cast iron.

3. Sumur Resapan
a. Rembesan yang dimaksud disini adalah untuk memasukkan air hujan yang berasal dari pipa
riser sebelum dialirkan over flow nya ke selokan kota.
b. Air yang akan dimasukkan dalam rembesan adalah air hujan.
c. Jenis rembesan yang dimaksud disini adalah sumur rembesan, pekerjaan sumur rembesan akan
merupakan pekerjaan divisi sipil/ konstruksi.
d. Konstruksi sumur rembesan antara lain sbb :
 Dasar sumur berupa batu kerikil
 Dinding sumur berupa dinding berlubang yang dibuat dari beton atau beton blok berlubang.
 Tutup dibuat dari plat beton/ plat baja
 Diantara tanah dan dinding luar harus diisi koral dan ijuk sesuai gambar.

181
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
e. Rembesan hanya dapat berfungsi dengan baik didaerah yang mempunyai lapisan pasir kasar,
maka bidang rembesan harus berada dilapisan pasir kasar.

4. Floor Drain
a. Floor drain yang dipergunakan disini harus jenis Bucket Trap, Water Prooved type dengan
50mm Water Seal dan dilengkapi dengan U trap.
b. Floor Drain terdiri dari:
 Chromium plated bronze cover and ring.
 PVC neck
 Bitumen coated cast iron body screw outlet connection and with flange for water prooving.
c. Floor Drain harus mempunyai ukuran utama sbb.:
Outlet diameter Cover diameter
2" 4"
3" 6"
4" 8"

5. Floor Clean Out


a. Floor Clean Out yang dipergunakan disini adalah Surface Opening Waterprooved Type
b. Floor Clean Out terdiri dari:
 Chromium plated bronze cover and ring heavy duty type
 PVC neck
 Bitumen coated cast iron body, screw outlet connection with flange for waterprooving.
c. Cover and ring harus dengan sambungan ulir dilengkapi perapat karet sehingga mudah dibuka
dan ditutup.

6. Roof Drain
a. Roof Drain yang dipergunakan harus dibuat dari Cast Iron dengan konstruksi waterproove.
b. Luas laluan air pada tutup roof drain ialah sebesar dua kali luas penampang pipa bangunan.
c. Roof Drain harus terdiri atas 3 bagian sebagai berikut :
 Bitumen Coated Cast Iron Body dengan water prooved flange.
 Bitumen Coated Neck for adjustable fixing.
 Bitumen Coated cover dome type

7. P" Trap

P" TRAP yang digunakan disini harus jenis single inlet. Tinggi Air minimum pada Trap 8 cm. P"
TRAP yang digunakan disini harus dibuat dari PVC class 5 kg/cm2.

Pemasangan P" TRAP pada setiap FD kamar mandi dan pada jalur utama pipa buangan air
limbah yang menuju bak sewage.

8. Sewage Treatment Plant


a. Septik tank menggunakan system pengolahan dengan menggunakan bakteri pengurai.

182
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Bahan septic tank dapat terbuat dari fiber glass ataupun beton concrete.
c. Sistem kerja septik tank yaitu air limbah yang masuk harus dapat diurai dengan menggunakan
bakteri pengurai sehingga air yang dihasilkan dari dalam septic tank tersebut layak untuk
untuk dibuang ke saluran kota (tidak berbau)

9. Jenis Peralatan Yang Dipakai

No Uraian Merk/Produk
1 Pipa PVC Class AW 12,5 Kg/ Cm Rucika
2 Fitting Pipa PVC Rucika
3 Safety Valve Socla
4 Flow Switch Potter
5 Gate Valve Class 20 K Class 10 K Kitz
6 Globe Valve Class 20 K Class 10 K Kitz
7 Air Vent Valve Fushiman
8 Flexible Joint Class 10 K Tosen
9 Level Switch Fanal
10 Pressure Gauge Nagano
11 Roof Drain Antasan
12 "P" Trap Rucika
13 Water meter Kimco
14 Ground tank dan Roof tank Penguin, EXEL

4.4 Penutup

Setelah pekerjaan selesai, Penyedia Jasa harus menyerahkan pekerjaan dengan Berita Acara, dan
dalam berita acara agar melampirkan :
1. Surat keterangan direksi yang menyatakan instalasi beroperasi dengan baik
2. Berita acara pengetesan
3. Gambar Instalasi terpasang ( As Built Drawing ) sebanyak 4 set
4. Semua surat garansi dari peralatan yang terpasang
5. Daftar petunjuk kerja (manual operation ) dari peralatan – peralatan yang terpasang
6. Daftar maintenance

Penyedia Jasa memberikan masa pemeliharan selama satu tahun untuk membuktikan bahwa sistem
berjalan dengan sempurna.

Apabila diperlukan oleh direksi, Penyedia Jasa diharuskan mengurus pemeriksaan instalasi oleh
pejabat yang berwenang

Penyedia Jasa diwajibkan melakukan latihan ( training ) kepada team teknisi/operator yang
nantinya memelihara dan merawat sarana dan prasarana pada bangunan (pengelola gedung).

183
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

5 BAGIAN 6
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN
INSTALASI PENGOLAHAN
LUMPUR TINJA

5.1 Lingkup Pekerjaan


5.2 Umum
Kontraktor harus menyediakan semua pipa-pipa dan kelengkapannya seperti yang ditentukan
dalam daftar material yang harus disediakan oleh Kontraktor termasuk semua baut-baut, mur, packing
karet, ring, seal, lem, pelumas, penumpu dan sebagainya yang ditentukan dalam pekerjaan tersebut.
Semua bahan tersebut harus cocok untuk dipakai pada iklim tropis dimana suhu rata-rata mencapai 30°
C.
Kontraktor harus menyerahkan semua spesifikasi teknis pipa dan kelengkapannya dari
pabrik asal bahan yang sudah disusun dalam bentuk rekomendasi yang harus dilakukan oleh
Kontraktor. Rencana Sistem pengolahan lumpur tinja Kabupaten Tegal yang berada di Desa Hariara
Pintu, Kecamatan Harian memiliki beberapa unit pengolahan, diantaranya:
a. Bak SSC;
b. Bak Anaerobik;
c. Bak Fakultatif;
d. Bak Maturasi;
e. Bak Drying Area;
f. Bak SDB;
g. Bak Desinfeksi dan;
h. Bak Biopod.

5.3 Standar
Semua pekerjaaan harus dilakukan dengan baik dan penuh keahlian sesuai dengan spesifikasi
teknis dan gambar perencanaan. Pelaksanaannya harus mentaati semua standar untuk hal yang relevan
yang berlaku di Indonesia.

184
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
5.4 Pekerjaan IPLT Tegal Kabupaten Tegal
Kabupaten Tegal belum memiliki memiliki satu unit IPLT, saat ini telah disiapkan lokasi
rencana pembangunan IPLT yang terletak di Desa Hariara Pintu, Kec. Harian. Lokasi rencana IPLT
ini memiliki luas sekitar sebesar 20.000,00 m2. Untuk itu dalam pekerjaan ini akan dilaksanakan
pembangunan IPLT Tegal sehingga diharapkan dapat mengolah lumpur tinja dengan optimal.

5.5 Pekerjaan Solid Separation Chamber (SSC)


Kolam Solid Separation Chamber (SSC) merupakan pengolahan fisika-biologis yang
termasuk pengolahan primer pada lumpur tinja. Kolam SSC mempunyai fungsi memisahkan air
limbah (zat padat terlarut, dissolved solids/TDS) dari padatannya (zat padat tersuspensi/TSS), agar
cairan yang masih mengandung bahan pencemar organik dapat diolah secara khusus dengan
menggunakan sistem pengolahan air limbah.
Lumpur tinja yang dihamparkan secara merata di atas media SSC akan mengalami
pemisahan, antara padatan di bagian bawah dan cairan di bagian atas. Lumpur tinja yang masuk ke
IPLT Tegal setelah melewati grease trap/unit penerima, masuk ke dalam unit Solid Separation
Chamber (SSC). Lapisan perkolasi yang lama dengan urutan dari bawah adalah sebagai berikut urugan
gravel berdiameter 15-30 mm dengan ketebalan 20 cm, pasir dengan ketebalan 20 cm, rencana
ketinggian lumpur 50 cm dan rencana ketebalan supernatan 30 cm.

GAMBAR 6. 1
POTONGAN SSC IPLT TEGAL
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

Konstruksi SSC berupa kolam dari bahan beton bertulang, dengan mutu beton K.250 dengan
tebal 25 cm. Terdapat 4 bak Kolam SSC dengan masing-masing total panjang bersih 13,6 m dan lebar
bersih 3 m tinggi 2,5 m. Dari Kolam SSC menuju Kolam Anaerobik dihubungkan dengan pipa PVC
dengan diamater 6 inch. Pada penerima lumpur Kolam SSC dilengkapi dengan grease trap yang

185
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
berfungsi sebagai selain sebagai peyaring minyak dan/atau lemak dan juga sebagai penyaring
sampah/kotoran yang terbawa bersama lumpur tinja. Di dalam unit penerima lumpur terdapat bar
screen memiliki panjang 1,1 m, jarak 1 cm dengan ketebalan plat 0,5 cm dengan bahan stainless steel.
Bar screen dipasang dengan kemiringan 600. Sedang material dari Bar screen stainless (plat strip
stainless 30.5, dengan rangka besi siku steinless 50.50.5, jarak bersih antar plat strip 1 cm).

GAMBAR 6. 2
POTONGAN MELINTANG SSC
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 3
DETAIL BARSCREEN
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

Bahan-bahan yang dipergunakan untuk kerangka atap bangunan penutup Bak SSC terdiri
dari : Tiang kolom besi berupa Profil besi IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Kuda-kuda
berupa profil besi IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Konsol berupa profil besi IWF
150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Ring balk/Regel berupa profil besi UNP 100 50.5 dengan
sambungan las penuh, Gording berupa profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording)
ø 10, Tracstang (ikatan angin) ø 16 mm, Handle Tracstang, Plat landas kolom 25 x 25 cm, t = 10 mm
(double) dan Angkur M 16, L = 30 cm. Atap penutup SSC terbuat dari spandex transparan/bening
dengan tebal 1,20 mm. Semua profil besi diatas difinishing cat besi anti karak sebanyak 3 (tiga) lapis.

186
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 6. 4
DENAH ATAP SSC
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 5
POTONGAN ATAP SSC
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

Sistem operasional pintu air di SSC memakai pintu sorong stang tunggal. Sistem
operasionalnya terbalik dari biasanya, yaitu sewaktu stang pintu air dibuka/diputar, maka daun pintu
akan menuju bawah sehingga air akan mengalir di atas daun pintu sorong. Sehingga untuk daun pintu
menuju ke bawah memerlukan ruang yang perlu diberi sill (lihat di detail Gambar Rencana) untuk
mencegah lumpur masuk dan dibuat belakangnya kosong karena untuk pembersihan lumpurnya.

5.6 Pekerjaan Bak Anaerobik


Bak anaerobik berfungsi mengolah air limbah dengan proses anaerobik, sehingga
kedalaman muka air bak anaerobik direncanakan 2,4 m. Panjang bak anaerobik sebesar 13,87 m dan
lebar 9,98 m. Konstruksi bak anaerob menggunakan konstruksi bangunan eksisting yang ditinggikan
sesuai dimensi rencana. Bak anaerob eksisting ditambah dinding penyekat sesuai dimensi rencana.

187
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 6. 6
DENAH BAK ANAEROBIK RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 7
POTONGAN BAK ANAEROBIK RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.7 Pekerjaan Bak Fakultatif


Bak fakultatif berfungsi mengolah lumpur tinja dengan bantuan proses anaerobik pada dasar
bak, dan proses aerobik pada permukaan bak pengolah. Sedangkan pada tengah-tengah bak terjadi
proses pengolahan dengan memanfaatkan bakteri yang hidup pada keadaan fakultatif. Yaitu jika
terdapat udara akan mengalami proses aerobik dan sedangkan jika tidak ada oksigen atau oksigen
tidak mencukupi maka akan melakukan proses pengolahan limbah dengan anaerobik. Bak fakultatif
berjumlah 2 unit bak yang dapat berjalan secara pararel, dengan kedalaman dasar kolam 1,75 m untuk
bak fakultatif 1 dan 1,9 m untuk bak fakultatif 2. Panjang bak sebesar 11,94 m untuk bak fakultatif 1
dan 15,06 m untuk bak fakultatif 2. Lebar bak sebesar 7,68 m untuk bak fakultatif 1 dan 9,88 m untuk
bak fakultatif 2. Konstruksi bak fakultatif 1 menggunakan konstruksi bangunan eksisting yang
ditinggikan sesuai dimensi rencana. Bak fakultatif eksisting ditambah dinding penyekat sesuai dimensi
rencana. Untuk konstruksi bak fakultatif 2 menggunakan konstruksi bangunan bak maturasi eksisting
yang dialihkan menjadi bak fakultatif 2. Dinding bak maturasi eksisting ditinggikan sesuai dimensi
rencana. Bak maturasi eksisting ditambah dinding penyekat sesuai dimensi rencana.

188
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 6. 8
DENAH BAK FAKULTATIF 1 RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 9
DENAH BAK FAKULTATIF 2 RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

189
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
GAMBAR 6. 10
POTONGAN BAK FAKULTATIF 1 RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2020

GAMBAR 6. 11
POTONGAN BAK FAKULTATIF 2 RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2020

5.8 Bak Maturasi


Bak maturasi berfungsi mengolah limbah cair, terutama secara aerobik karena sebagian besar
zat organik telah terambil pada unit-unit anaerobik dan fukultatif, sehingga beban organik pada kolam
pematangan menjadi rendah. Kolam pematangan menerima efluen yang berasal dari kolam fukultatif
dan bertanggung jawab terhadap kualitas dari efluen akhir. Kolam maturasi juga berfungsi untuk
mengurasi bakteri coliform dan patogen dengan paparan sinar matahari. Terdapat 1 bak maturasi
dengan panjang 23 m dan lebar 12 m tinggi 1 m.

GAMBAR 6. 12
DENAH BAK MATURASI RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.9 Wetland
Bak wetlands memiliki ukuran panjang 18 m, lebar 9 m dan memiliki kedalaman total 0,6 m.
Dalam kolam tersebut diberi urugan gravel 1-2 cm dengan ketebalan 0,7 m pada urugan gravel diberi
tanaman jenis Canna Sp. Dimensi dan detail kolam basah / wetland sesuai gambar rencana.

190
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

Gambar 6. 13
Tanaman Canna Sp

GAMBAR 6. 14
DENAH BAK WETLAND RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.10 Drying Area


Bak Drying Area berfungsi untuk mengeringkan kembali lumpur dari SSC. Lumpur
dihamparkan pada drying area yang telah dilapisi pasir dan gravel. Urutan dari bawah adalah sebagai
berikut urugan gravel 7-15 mm dengan ketebalan 10 cm, gravel berdiameter 15-30 mm dengan
ketebalan 20 cm, pasir dengan ketebalan 10 cm dan rencana ketebalan lumpur 30 cm. Drying Area
terbagi menjadi 4 unit bak dengan masing-masing panjang 9,12 m dan lebar 2,83 m. Air yang tersaring
dari lumpur, selanjutnya akan dialirkan kembali bak fakultatif untuk diolah kembali. Dari bak

191
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
pengering lumpur menuju bak fakultatif dihubungkan dengan pipa PVC dengan diamater 6 inch.
Konstruksi Drying area adalah berupa kolam dari bahan beton bertulang, dengan mutu beton K-250
dengan ketebalan 15 cm.
Sedangkan pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup Drying Area terdiri dari: Tiang
kolom besi berupa Profil besi IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Kuda-kuda berupa profil
besi IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Konsol berupa profil besi IWF 150.75.5.7 dengan
sambungan las penuh, Ring balk/Regel berupa profil besi UNP 100 50.5 dengan sambungan las penuh,
Gording berupa profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording) ø 10, Tracstang
(ikatan angin) ø 16 mm, Handle Tracstang, Plat landas kolom 25 x 25 cm, t = 10 mm (double) dan
Angkur M 16, L = 30 cm. Atap penutup Drying Area terbuat dari spandex transparan/bening dengan
tebal 1,20 mm.

GAMBAR 6. 15
POTONGAN DRYING AREA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.11 Sludge Drying Bed (SDB)


Sludge Drying Bed (SDB) merupakan bak pengering lumpur dari endapan lumpur yang
terbentuk di bak anaerobik, fakultatif dan sedimentasi. Pengunaan SDB dilakukan bergantian untuk
tiap pengurasan di bak anaerobik, fakultatif dan sedimentasi. Lumpur dihamparkan pada SDB yang
telah dipalisi pasir dan gravel. Urutan dari bawah adalah sebagai berikut urugan gravel 7-15 mm
dengan ketebalan 10 cm, gravel berdiameter 15-30 mm dengan ketebalan 20 cm, pasir dengan
ketebalan 10 cm dan rencana ketebalan lumpur 30 cm. SDB terbagi menjadi 2 unit bak dengan
masing-masing panjang 9,2 m dan lebar 5 m. Air yang tersaring dari lumpur, selanjutnya akan
dialirkan kembali bak fakultatif untuk diolah kembali. Dari bak pengering lumpur menuju bak
fakultatif dihubungkan dengan pipa PVC dengan diamater 6 inch. Konstruksi SDB adalah berupa
kolam dari bahan beton bertulang, dengan mutu beton K-250 dengan ketebalan 15 cm.

192
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Sedangkan pembuatan kerangka atap baja bangunan penutup SDB terdiri dari : Tiang kolom
besi berupa Profil besi IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Kuda-kuda berupa profil besi
IWF 150.75.5.7 dengan sambungan las penuh, Konsol berupa profil besi IWF 150.75.5.7 dengan
sambungan las penuh, Ring balk/Regel berupa profil besi UNP 100 50.5 dengan sambungan las penuh,
Gording berupa profil besi CNP 125.50.20.2,3 (single), sagord (jarum gording) ø 10, Tracstang
(ikatan angin) ø 16 mm, Handle Tracstang, Plat landas kolom 25 x 25 cm, t = 10 mm (double) dan
Angkur M 16, L = 30 cm. Atap penutup SDB terbuat dari spandex transparan/bening dengan tebal 1,20
mm.

GAMBAR 6. 16
DENAH SDB
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 17
POTONGAN SDB
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.12 Pekerjaan Bak Desinfeksi


Konstruksi bak desinfeksi adalah berupa kolam dari bahan beton bertulang, dengan mutu
beton K.250 dengan ketebalan 15 cm. Bak klorinasi memiliki ukuran panjang bersih 1,8 m, lebar 2 m

193
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
yang disekat menjadi 3 bagian agar aliran menjadi lebih panjang, dan memiliki kedalaman muka air
0,7 m.

5.13 Pekerjaan Bak Kontrol/Biopod Ponds


Bak Kontrol berfungsi sebagai tempat pengambilan sampel outlet IPLT, tempat kontrol
efflunet dan proses deklorinasi sebelum dibuang ke sungai. Konstruksi bak kontrol adalah berupa
kolam dari bahan beton bertulang, dengan mutu beton K.250 dengan ketebalan 15 cm. Bak kontrol
memiliki ukuran panjang bersih 2 m, lebar 2 m.

GAMBAR 6. 18
DENAH BAK DISINFEKSI DAN BAK KONTROL RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

GAMBAR 6. 19
DENAH BAK DISINFEKSI DAN BAK KONTROL RENCANA
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

5.14 Pekerjaan Sumur Uji/Sumur Pantau.


Sumur uji/pantau berfungsi sebagai indikator pencemaran di sekitar areal IPLT.
DIrencanakan terdapat 3 sumur uji/pantau. Lokasi sumur uji sesuai dengan gambar perencanaan.

194
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

GAMBAR 6. 20
POTONGAN SUMUR UJI/PANTAU
Sumber: Analisis Tim Penyusun, 2022

Struktur dari sumur pantau adalah dari buis beton bertulang dengan diameter dalam 100 cm
dan tebal dinding buis beton 12 cm. Untuk tulangan pokok (vertikal) memakai dia.12-200 (tulangan
tunggal), dan tulangan bagi (horisontal) memakai dia. 8-200 (tulangan tunggal).

195
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

6 BAGIAN 7
PERSYARATAN KHUSUS
PEKERJAAN PLUMBING

6.1 Pengadaan Pipa dan Accessories


Pemborong harus melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut di atas sesuai
dengan dokumen pelelangan yang tidak tercantum dalam syarat-syarat ini akan ditentukan
kemudian oleh Direksi/Pengawas lapangan. Pepipaan dan perlengkapan yang digunakan adalah
pipa PVC yang memenuhi standar SNI 06-0162-1987 tentang Pipa PVC untuk saluran air buangan
di dalam dan di luar bangunan. Diantaranya sebagai berikut:
a. Bahan utama pembautan pipa PVC adalah polivinil klorida tanpa platisizer dengan kandungan
PVC murni minimum 92,5%. Produk harus serba sama, tahan terhadap air dan tidak boleh
terekstraksi oleh air.
b. Sifat tampak
1. Warna pipa adalah coklat kecuali bila ada permintaan khusus, permukaan luar dan dalam
harus licin/halus dan rata, dan tidak terdapat cacat yang berbahaya seperti retak, guratan-
guratan, gumpalan dan cacat-cacat lainnya
2. Pipa harus lurus dan berpenampang bulat bidang ujung pipa harus tegak lurus terhadap
sumbu pipa.
3. Titik pelunakan minimum adalah 790
c. Acessories harus berkualitas baik berdasarkan persetujuan Direksi/Panitia pemeriksa
pekerjaan/pengawas lapangan.
d. Ukuran dan Jumlah barang harus sesuai dengan Kontrak. Bila ada perubahan harus atas
persetujuan Direksi.

196
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

Gambar 7. 1
CONTOH PIPA AIR LIMBAH
Sumber: Indoteknik, 2017

6.2 Pengiriman dan Penempatan Pipa


a. Semua Pipa yang sudah diadakan sebelum dikirim, pemborong harus memberitahu kepada
direksi mengenai hari, tanggal berapa pipa akan dikirim.
b. Pemborong harus menyediakan gudang sementara untuk penempatan pipa yang telah dikirim ke
lokasi dan harus memperhatikan beberapa aspek:
1. Keamanan harus terjaga;
2. Kemudahan dalam mobilisasi;
3. Tidak jauh dari lokasi jaringan pipa yang akan dipasang.
c. Penempatan Pipa:
1. Pada saat Pipa dikirim harus diperiksa oleh Direksi/Konsultan Pengawas tentang ukuran dan
kualitas barang dan diterangkan dalam Berita acara.
2. Pipa harus terlindung dari sengatan matahari.
3. Tumpukan pipa harus teratur rapi dan tidak boleh terlalu tinggi (sesuai petunjuk direksi).
4. Penumpukan pipa harus dikelompokkan jenis dan diameter, pipa tidak boleh dicampur.
5. Setelah pipa tersusun, pipa akan diperiksa oleh Direksi pada hari dan tanggal
pengiriman/penerimaan barang.

6.3 Pekerjaan Pembersihan


a. Jalur pipa harus dibersihkan dan dikupas sebelum melakukan penggalian atau melakukan
pengurugan
b. Pembersihan dan pengupasan berupa membersihkan akar-akar, tonggak, tumbuhan, perkerasan,
jalur pejalan kaki dan hambatan apapun di permukaan yang perlu disingkirkan secara permanen
atau untuk sementara waktu dan semua itu terdapat di area yang akan digali.
c. Tidak boleh ada pohon yang ditebang, dirusak atau diganggu oleh penyedia jasa konstruksi
tanpa persetujuan direksi.

197
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
d. Semua kotoran, buangan, tumbuhan, dan bahan bongkaran, seluruhnya harus disingkirkan dari
lokasi pekerjaan dan dibuang oleh penyedia jasa konstruksi dengan cara yang baik, kecuali bagi
bahan atau bangunan yang akan disingkirkan untuk sementara waktu dan nantinya akan
diperbaiki kembali seperti semula harus disimpan dan dijaga dengan baik.

6.4 Pekerjaan Galian


a. Penggalian mencakup penyingkiran semua bahan apapun yang ditemui termasuk pula semua
hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Penyingkiran
bahan ini harus sesuai dengan jalur dan kemiringan yang diperlihatkan gambar rencana ataupun
yang diminta oleh direksi.
b. Batu dan bahan galian lainnya yang diklasifikasikan oleh direksi sebagai bahan yang tidak
sesuai untuk pengurugan harus disingkirkan dari lokasi pekerjaan.
c. Penyedia jasa konstruksi harus menyediakan, memasang dan memelihara semua pendukung dan
penopang yang mungkin diperlukan untuk dinding sisi galian dan semua pemompaan,
pengeringan atau cara lain yang disetujui untuk menyingkirkan atau mengeringkan air, termasuk
penanganan terhadap air hujan dan air buangan yang berasal dari berbagai sumber guna
mencegah terjadinya kerusakan pada pekerjaan mamupun kepemilikan yang berada di dekatnya.
d. Pada bagian-bagian yang dianggap mudah longsor Penyedia Jasa Konstruksi harus mengadakan
tindakan pencegahan dengan memasang papan-papan penahan atau cara lain. Kerusakan-
kerusakan yang terjadi akibat gugurnya tanah, dengan alasan apapun menjadi tanggungan
Penyedia Jasa Konstruksi.
e. Penyedia Jasa Konstruksi tidak diperkenankan menggali di luar jalur dan ketinggian yang
ditunjukkan dalam gambar, kecuali diperintahkan oleh direksi.
f. Lebar galian harus cukup agar memungkinkan pipa dapat diletakkan dan disambung dengan
baik, dan pengurugan serta pemadatan dapat dilakukan sebagaimana yang telah ditentukan.
g. Galian terbuka bagi suatu pemasangan pipa tidak boleh melebihi panjang yang diijinkan
Direksi. Galian harus diselesaikan paling sedikit 10 (sepuluh) meter di depan perletakkan pipa
terakhir.
h. Galian harus digali sampai kedalaman yang ditentukan sebagaimana yang diperlihatkan dalam
gambar standar agar memberi dukungan yang menerus dan seragam dan menopang pipa pada
tanah yang padat dan tidak terganggu pada setiap titik di antara lubang sambungan. Dan apabila
ditemukan batu, harus disingkirkan agar memberikan jarak bebas paling sedikit 15 cm di bawah
dari setiap pipa dan fitting untuk pipa diameter 600 mm atau lebih kecil, dan jarak 20 cm untuk
pipa dan fitting dengan diameter lebih besar dari 600mm.

198
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
6.5 Pekerjaan Urugan
a. Urugan mencakup menyediakan, menempatkan dan memadatkan semua bahan untuk
mengisi/mengurug galian pemasangan pipa dan galian untuk bangunan lainnya.
b. Urugan tidak boleh dijatuhkan langsung pada pipa atau bangunan lainnya. Kecuali ditentukan
lain, bahan yang digunakan untuk pengurugan harus berupa bahan yang terpilih.
c. Urugan harus dikerjakan setelah semua pipa terpasang diperiksa dan disetujui oleh direksi.
d. Pipa harus didasari dan dialasi hingga kedalaman minimum sebagaimana diperlihatkan dalam
gambar. Bahan bagi lapisan alas ini harus pasir, ditempatkan dalam bentuk lapisan dengan
ketebalan tidak lebih 15 cm dan dipadatkan dengan tongkat pemadat atau cara lain yang
disetujui pada kepadatan kering maksimal 95%.
e. Pada pengurugan pipa PVC, galian harus diurug dengan cara konvensional atau cara mekanis
yang telah disetujui, pada kedalaman 30 cm di atas puncak pipa PVC dan tidak merusak pipa
sampai pada permukaan.

6.6 Pekerjaan Pemasangan Pipa


a. Cara pemasangan pipa dan penggunaan perkakas serta peralatan harus sesuai dan memahami
petunjuk dari pabrik atau mengikuti pengarahan Direksi.
b. Semua pipa, aksesoris dan fitting, harus diturunkan ke dalam galian satu persatu, dengan
menggunakan derek, tambang, atau dengan perkakas atau peralatan lainnya yang sesuai,
sedemikian rupa untuk mencegah kerusakan pada bahan tersebut maupun lapisan pelindung luar
dan dalamnya. Jika terjadi kerusakan pada pipa, fitting atau perlengkapan lainnya dalam
penanganannya, harus diberitahukan kepada Direksi. Direksi harus menetapkan perbaikan atau
penolakan bahan yang rusak tersebut.
c. Pipa, aksesoris dan fitting harus diperiksa dengan seksama dari kerusakan pada saat sebelum,
selama dan sesudah pemasangan. Pipa dan fitting yang rusak harus diletakkan terpisah untuk
pemeriksaan oleh direksi.
d. Semua lepuhan, gumpalan, dan bahan lain yang tidak berguna harus disingkirkan dari ujung
spigot setiap pipa dan bagian luar ujung spigot. Sebelum dipasang, bagian dalam bell harus
diseka sampai bersih, kering dan bebas dari minyak dan lemak.
e. Pipa harus diletakkan agar diperoleh peletakkan yang seragam dan menerus sesuai dengan jalur
dan gradien yang diperlihatkan dalam gambar dan sesuai dengan jadwal peletakan yang
ditentukan bagi pemasangan. Pada saat tidak dilakukan penyambungan, ujung terbuka pipa
harus ditutup dengan cara memadai yang disetujui Direksi. Khusus di musim hujan, pengguna
jasa konstruksi harus melakukan tindakan untuk mencegah air hujan dan benda lainnya yang
tidak diperlukan masuk ke pipa yang telah dipasang dan jangan sampai pipa tersebut terapung.

199
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
f. Sebelum meletakkan pipa dan aksesoris, di cek elevasi galian harus sesuai dengan Gambar
Rencana.
g. Pemotongan pipa diusahakan seminimum mungkin. Bila memang perlu pemotongan harus
dilakukan tegak lurus terhadap sumbu pipa dan rata. Pemotongan harus dilakukan dengan
peralatan yang sesuai dengan rekomendasi dari pabrik.
h. Jenis sambungan pipa PVC yang dipakai adalah sambungan push on rubber ring untuk pipa
diameter 50 mm sampai 300 mm dan sambungan solvent cement untuk pipa diameter 20 sampai
40 mm. Semua bahan pelicin (lubricant) untuk sambungan harus disediakan oleh pengguna jasa
konstruksi.
i. Jenis aksesoris dan jumlahnya digunakan disesuaikan dengan pada gambar seperti end cape,
bend 450, tee, dan sebagainya.

6.7 Penyambungan (Fitting)


a. Persyaratan Umum
Pekerjaan pemasangan pipa harus dimulai setelah beton untuk landasan dicor. Kecuali disetujui
lain oleh direksi, pipa harus ditanam dalam dinding bak. Perlengkapan pipa lainnya harus diset
dan dipasang pada pipa seperti yang disyaratkan pada bagian sebelumnya mengenai
pembersihan, perletakan dan penyambungan pipa.

200
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

7 BAGIAN 8
PEKERJAAN COMMISIONING
DAN START UP

7.1 Umum
Penyedia jasa berkewajiban melakukan kegiatan pengujian kebocoran, commisioning,
start up dan menjamin sistem berfungsi dengan baik selama masa pemeliharaan. Semua kegiatan
yang dilakukan sesuai dengan spesifikasi yang terdapat pada penjelasan bab. VIII.

7.2 Pengujian Kebocoran Unit Bangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja


7.2.1 Umum
Pengujian unit-unit bangunan pengolahan lumpur tinja perlu dilakukan untuk
membuktikan kekedapan air dari pertemuan antara pipa dengan beton, dilakukan terhadap SSC,
Bak Anaerobik, Bak Fakultatif, Bak Maturasi, Bak Disinfeksi klorin, Wetland, dan Biopod ponds.
Sedangkan untuk pengolahan lumpur terdiri dari Bak Drying Area dan Sludge Drying Bed (SDB).

7.2.2 Cara Pengujian


Setelah selesai dikerjakan, semua dinding harus dibersihkan dari bekas tanah urugan
sehingga setiap kebocoran dinding dapat terlihat. Semua bagian bangunan selama pengujian harus
diisi dengan air dengan menutup semua katup atau tempat keluar air dan ditahan sekurang-
kurangnya selama 48 jam. Pengisian dilaksanakan secara bertahap mulai dari sepertiga volume
kolam pengolahan dari unit SSC, Bak Anaerobik, Bak Fakultatif, Bak Maturasi, Bak Disinfeksi
klorin, Wetland, , Biopod ponds, SDB dan Drying Area. Pada pengujian kebocoran SSC, SDB dan
Drying area belum diisi dengan gravel dan sejenisnya. Ketinggian permukaan akan diperhatikan
selama waktu tersebut diatas. Penurunan tinggi permukaan air di dalam bangunan diperbolehkan
sesuai ketentuan yang ditetapkan.
Ketentuan nilai penurunan selama 48 jam adalah kurang dari 1 cm untuk bangunan
pengolahan. Untuk bangunan tertutup jika kebocoran melampaui nilai tersebut di atas, pengisian
diulang kembali seperti semula dan ditunggu selama 24 jam, dan apabila nilai penurunan masih
sama maka penyedia barang/jasa diharuskan memperbaikinya dengan biaya sendiri. Apabila
pengujian pada sepertiga volume bangunan memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan, maka

201
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
dilanjutkan dengan pengujian dengan pengisian dua pertiga volume bangunan. Dan seterusnya
dilanjutkan sampai kapasitas penuh bangunan apabila memenuhi seluruh ketentuan pengujian yang
dipersyaratkan.

7.2.3 Perbaikan Kebocoran


Setiap kebocoran yang ditemukan harus diperbaiki sampai tidak ditemukan lagi
kebocoran. Setelah perbaikan selesai, cara pengujian tercantum dalam klausul 9.2.2 harus diulangi.
Pengujian tidak perlu diulang jika:
a. Tidak ditemukan lagi kebocoran;
b. Penurunan permukaan air tidak melebihi ketentuan pada klausul 9.2.2 diatas;
c. Tidak ditemukan adanya pergeseran tanah, pergeseran bangunan, perubahan bentuk bangunan
dan lain sebagainya.
Biaya yang timbul sudah termasuk dalam biaya pengujian, memperoleh air untuk mengisi
bangunan pengolahan/penampungan pada saat pengujian, termasuk memperbaiki kebocoran dan
segala kerusakan yang mungkin timbul.

7.3 Uji Coba (Trial Run)


Penyedia Barang/Jasa diharuskan untuk memasukkan dalam penawaran biaya untuk uji
coba (trial and running) masing-masing bangunan dan peralatan. Penawaran biaya untuk
pelaksanaan uji coba meliputi daya listrik, bahan bakar, bahan kimia, dan lainnya yang diperlukan
dan digunakan untuk mencapai hasil konstruksi dan hasil kinerja proses sesuai dengan
perencanaan.
Sebelum melaksanakan uji coba masing-masing bangunan, Penyedia Barang/Jasa harus
menyampaikan kepada Direksi dan Konsultan Supervisi Manajemen Konstruksi untuk dapat
bersama-sama menyaksikan proses uji coba tersebut. Penyedia Barang/Jasa harus menyediakan
segala material dan peralatan yang diperlukan untuk uji coba tersebut, antara lain (dan tidak
terbatas pada) sambungan listrik PLN, sumber air bersih, bahan kimia (klorin), lampu penerangan,
pompa portable. Uji coba dapat dilaksanakan apabila segala material dan peralatan yang diperlukan
telah disiapkan dilokasi pekerjaan.
Uji coba setiap bangunan meliputi uji coba kelengkapan bangunan dan peralatan, uji coba
pengaliran air, uji coba kebocoran. Hasil uji coba yang telah diterima oleh Konsultan Supervisi dan
Direksi Pekerjaan dituangkan dalam Berita Acara Hasil Uji Coba.
Catatan, koreksi, dan rekomendasi hasil pelaksanaan uji coba harus ditindak lanjuti oleh
Penyedia Barang/Jasa dengan segera atas biaya Penyedia Barang/Jasa. Komisioning keseluruhan
sistem hanya dapat dilaksanakan setelah uji coba masing-masing bangunan selesai dilaksanakan
dan segala catatan/koreksi/rekomendasi yang ada telah dinyatakan diterima.

202
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

7.4 Pelatihan Operator


Penyedia Barang/Jasa berkewajiban melaksanakan pelatihan (training) kepada operator
yang ditunjuk oleh pemilik proyek minimal 5 orang selama minimal 21 (dua puluh satu) hari yang
merupakan satu siklus operasional SSC dan drying area. Pelatihan operator meliputi alih informasi
dari mengarahkan truck tangki pembawa lumpur tinja ke area penerimaan, menuangkan lumpur
tinja ke unit penerima, membersihkan sampah yang tertahan di bar screen, memantau operasional
di SSC, mengetahui waktunya membuka pintu air di SSC, mengecek pengaliran ke Bak Anaerobik,
mengecek pengaliran ke Bak Aerasi, mengecek pengaliran ke Bak Sedimentasi, mengecek aliran ke
Bak Disinfeksi klorin dan biopod ponds. Pada Bak disinfeksi, menambahkan tablet klorinasi,
menyimpan tablet klorin dengan benar, dan mengecek aliran outlet ke saluran drainase lingkungan
yang ada. Pelatihan penghamparan penggantian pasir di SSC, Drying Area dan SDB.

7.5 Start-up dan Uji Sistem


Penyedia Barang/Jasa diharuskan memasukkan penawaran biaya untuk uji sistem secara
keseluruhan (komisioning) IPLT, meliputi unit penerima lumpur termasuk screen, grit chamber
dan grease chamber, bangunan SSC, Bak Anaerobik, Bak Fakultatif, Bak Maturasi, Bak Disinfeksi
klorin, Wetland, Bak Bipood Ponds, SDB dan drying area. Pengujian (komisioning) IPLT dapat
dilaksanakan setelah uji coba masing- masing bangunan (trial run) telah dilaksanakan dan
dinyatakan telah diterima, serta kondisi tunak (steady state) dari unit pengolahan biologis sudah
tercapai. Semua peralatan, biaya operasional yang meliputi biaya listrik, bahan kimia (klorin
tablet),bahan bakar (alat pencacah bongkahan kompos) dan tenaga/operator selama pelaksanaan
kegiatan pengoperasian sistem sampai mencapai kondisi tunak ini harus disediakan Kontraktor.
Lama waktu uji coba mencapai kondisi tunak (steady state) diperkirakan sekitar 3 bulan. Urutan
pelaksanaan uji coba adalah sebagai berikut:

7.5.1 Start-up SSC


Truk tanki tinja yang masuk ke IPLT membawa tinja harus melalui petugas registrasi
guna dicatat volume, jenis dan sumbernya serta tanggal waktu pemasukan. Petugas berkewajiban
menolak isi tanki truk yang dibawa dan akan diproses di IPLT bila tidak sesuai ketentuan. Truk
akan menyalurkan lumpur melalui bak penerima lumpur. Lumpur tinja akan tersaring telebih
dahulu di bak ini. Pemasangan selang pada pipa keluar tangki tinja, agar lumpur tinja tidak tercecer
di luar inlet bak grease trap. Dilakukan pengujian awal dengan menggunakan minimal 2 truk
tangka tinja. Selanjutnya truk tinja menuangkan lumpur tinja pada unit penerima SSC. Sebelum
dilakukan penuangan lumpur tinja dilakukan pengecekan kesiapan SSC meliputi hal-hal berikut:
a. Bangunan SSC sudah selesai konstruksinya dan dibersihkan dari bekisting yang ada.

203
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
b. Underdrain kemiringannya sudah sesuai desain dan tidak mengandung material penghambat
aliran.
c. Pipa pengumpul menuju Bak Anaerobik sudah terpasang dan slope sudah sesuai dengan desain.
d. Media kerikil dan pasir sudah terpasang.
e. Pintu air sudah siap dipakai.
Air limbah akan terfiltrasi dan mengalir ke unit Bak Anaerobik, dan bagian yang padat
tertahan pada bagian atas lapisan pasir, yang selanjutnya akan dikeringkan dengan bantuan cahaya
matahari selama 12 hari.

7.5.2 Start-up Anaerobik


Sebelum melaksanakan uji coba Bak Anaerobik, beberapa hal yang perlu dicek adalah
sebagai berikut:
a. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran bak dengan cara mengisi bak dengan air.
b. Pipa inlet dari bak SSC telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
c. Perpipaan outlet menuju Bak Aerasi telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
d. Perpipaan inlet dan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
e. Bak Anaerobik diisi dengan air sumur atau aia air sungai sampai elevasi yang direncanakan.
Air limbah dari SSC selanjutnya akan mengalir ke Bak Anaerobik. Pengisian air pada
Bak Anaerobik untuk mengurangi bau yang timbul pada masa awal operasional, maka Bak
Anaerobik dapat diisi dengan air bersih yang berasal dari sumur atau sungai sebelum terisi oleh
lumpur tinja yang berasal dari SSC.

7.5.3 Start-up Fakultatif


Sebelum melaksanakan uji coba Bak Fakultatif, beberapa hal yang perlu dicek adalah
sebagai berikut:
f. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran bak dengan cara mengisi bak dengan air.
g. Pipa inlet dari bak Anaerobik telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
h. Perpipaan outlet menuju Bak Aerasi telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
i. Perpipaan inlet dan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
j. Bak Fakultatif diisi dengan air sumur atau aia air sungai sampai elevasi yang direncanakan.
Air limbah dari Bak Fakultatif selanjutnya akan mengalir ke Bak Aerobik. Pengisian air
pada Bak Fakultatif untuk mengurangi bau yang timbul pada masa awal operasional, maka Bak
Anaerobik dapat diisi dengan air bersih yang berasal dari sumur atau sungai sebelum terisi oleh
lumpur tinja yang berasal dari Bak Anaerobik.

204
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
7.5.4 Start-up Maturasi
Sebelum melaksanakan operasional Kolam Maturasi, beberapa hal yang perlu dicek
adalah sebagai berikut:
a. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran kolam dengan cara mengisi kolam dengan
air.
b. Pipa inlet dari Kolam Fakultatif telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
c. Perpipaan outlet menuju badan air penerima telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
d. Perpipaan inlet dan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
e. Bak Fakullatif diisi dengan air sumur atau aia air sungai sampai elevasi yang direncanakan.
Air limbah dari Fakultatif selanjutnya akan mengalir ke Maturasi. Pengisian air pada
kolam Maturasi untuk mengurangi bau yang timbul pada masa awal operasional.

7.5.5 Start-up Wetland


Sebelum melaksanakan operasional Kolam Wetlands, beberapa hal yang perlu dicek
adalah sebagai berikut:
a. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran kolam dengan cara mengisi kolam dengan
air.
b. Pipa inlet dari Kolam Wetlands telah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
c. Perpipaan inlet dan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
d. Kolam wetlands telah diisi dengan gravel sesuai ketentuan, di beri tanaman dengan kepadatan
sesuai ketentuan di atas.
e. Bak wetlands diisi dengan air sumur atau air sungai sampai elevasi yang direncanakan.
Air limbah dari Maturasi selanjutnya akan mengalir ke wetlands. Pengisian air pada
kolam wetlands untuk mengurangi bau yang timbul pada masa awal operasional dan menjaga
tanaman untuk hidup dan memulai berdaptasi.

7.5.6 Start-up Kolam Disinfeksi


Pengoperasian kolam disenfeksi pada awal dilakukan dengan pengisian dispenser
klorinator apung dengan klorin tablet. Kontainer dibuka, masukkan tablet klorin, tutup kontainer
klorin. Dan selanjutnya dibuka pada bagian bawah yang kontak dengan air limbah. Setelah itu
dispenser klorin apung ditempatkan pada kolam klorinasi outlet dari bak sedimentasi. Kapasitas
tabung klorin mampu memuat sekitar hampir 1 kg tablet klorin, namun untuk memenihi kebutuhan
harian yang sekitar 200 gram per harinya atau sekitar 1 tablet khlor ukuran 3 inch, dan perlu
ditambahkan lagi pada pagi hari berikutnya, dan seterusnya.
Sebelum melaksanakan operasional Bak disenfeksi, beberapa hal yang perlu dicek adalah
sebagai berikut:

205
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
a. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran kolam dengan cara mengisi kolam dengan
air.
b. Pipa inlet dari Bak Sedimentasi setelah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
c. Perpipaan inlet dan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
d. Bak Disenfeksi diisi dengan air sumur atau air sungai sampai elevasi yang direncanakan.

7.5.7 Start-up Bak Drying Area


Pengoperasian bak drying area dengan mengambil lumpur setengah kering (cake) di SSC.
Lumpur setengah kering di ambil menggunakan sekop dan cangkul, yang kemudian diangkut
menggunakan gerobak sorong ke drying area. Lumpur setengah kering tersebut di hamparkan
dengan ketebalan 20 cm di drying area dan dikeringkan kembali selama 1 minggu. Jika terdapat
pasir yang terbawa dalam pengambilan lumpur setengah kering maka di tambahkan pasir kembali,
yaitu setebal 10 cm.
Sebelum melaksanakan operasional Bak Drying Area, beberapa hal yang perlu dicek
adalah sebagai berikut:
e. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran kolam dengan cara mengisi kolam dengan
air.
f. Pipa oulet menuju Bak Anaerobik setelah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
g. Perpipaan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
h. Bak Drying Area telah di isi dengan gravel dan pasir sesuai perencanaan pada gambar
perencanaan.

7.5.8 Start-up Sludge Drying Bed (SDB)


Fungsi Sludge Drying Bed/bak pengering lumpur untuk mengeirngkan lumpur endapan
dari kolam anaerobik, fakultatif, aerobik dan sedimentasi. Pengeringan lumpur endapan dari 4 bak
tersebut digunakan secara bergantian. Pengambilan lumpur endapan pada dasar bak anaerobik dan
fakultatif diambil 3 bulan sekali. Sedangkan dari bak aerobik dan sedimentasi diambil 6 bulan
sekali.
Pengambilan lumpur endapan menggunakan pompa portable yang telah tersedia,
selanjutnya dihamparkan atau diratakan di SDB. Perataan lumpur cair dengan ketinggian 20 cm
diatas pasir dan geravel yang telah dipasang sesuai gambar rencana. Pengeringan lumpur ini selama
14 hari, dan selanjutnya lumpur dipanen menggunakan sekop, cangkul. Pematangan lumpur dari
SDB dan Drying Area dapat dilakukan kembali di gudang kompos. Untuk menyeragamkan ukuran
lumpur hasil komposting untuk pemanfaatan, maka dicacah menggunakan pencacah bongkahan

206
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
tanah. Biaya uji coba pencacah in disediakan oleh kontrakor. Sebelum melaksanakan operasional
SDB, beberapa hal yang perlu dicek adalah sebagai berikut:
a. Sebelum dioperasikan telah dilakukan uji kebocoran kolam dengan cara mengisi kolam dengan
air.
b. Pipa oulet menuju Bak Anaerobik setelah terpasang dan slope pipa sudah terpenuhi.
c. Perpipaan outlet dalam kondisi bersih bebas dari penyumbatan.
d. Bak SDB telah di isi dengan gravel dan pasir sesuai perencanaan pada gambar perencanaan.

207
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

8 BAGIAN 9
RANGKUMAN SPESIFIKASI
TEKNIS BAHAN

No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/


Keterangan
A. BIDANG SIPIL
I. Pekerjaan Tanah Dan Urugan
1. Galian tanah dengan - Sampai kedalaman 1 m atau
tenaga sesuai kondisi dilapangan
2. Galian lumpur Endapan lumpur yang ada Endapan digali, dilanjut
pada bak-bak eksisting dinding dibersihkan dengan
dicuci dari sisa-sisa sedimen
yang menempel
3. Urugan pasir urug Pasir urug
4. Urugan tanah Tanah merah Tanah yang mengandung
merah/hitam humus
5. Urugan tanah urug - Tanah pilihan Tanah urug pilihan
pilihan (dipadatkan berdasarkan hasil dipadatkan dengan alat
dengan alat alat) pengujian lab mektan Vibratory roller 5-8 ton,
mencapai SP 90%
6. Penyiapan badan jalan - Tanah dipadatkan dengan
(mekanis) alat Vibratory roller 5-8 ton
7. Urugan sirtu Sirtu (sungai) Sirtu dipadatkan dengan alat
(dipadatkan dengan alat) stamper, mencapai SP 90%

II. Pekerjaan Beton


1. Lantai kerja Beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa), slump
(12± 2) cm
2. Bak-bak IPLT Beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa), slump
(12± 2) cm
Besi ulir BJTS 420
Besi polos BJTP 280
Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, lautan steel
3. Jalan Operasional Beton ready mix K-350 (f’y = 31,2 MPa),
Dowel besi polos dia.28 slump (12± 2) cm
BJTP 280
4. Optimalisasi (peleba Beton ready mix K-250 (f’y = 21,7 MPa)
ran) Jalan Masuk
5. Menara air Beton tumbuk K225 (f'c=19,3 Mpa), slump
Pondasi, sloof, kolom, (12± 2) cm
balok, lantai Besi ulir BJTS 420
Besi polos BJTP 280
Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, lautan steel
6. Ground Reservoar Beton tumbuk lantai K225 (f'c=19,3 Mpa), slump
bawah (12± 2) cm

208
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
Beton tumbuk rabatan K175 (f'c=14,5 Mpa), slump
Besi ulir (12± 2) cm
BJTP 280
Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, lautan steel
7. Struktur : & Kolom Beton tumbuk K175 (f'c=14,5 Mpa), slump
PJU, Pondasi dan (12± 2) cm
Kolom Pagar Kawat Besi polos BJTP 280
Duri, Pondasi dan Besi Tulangan : Perwira,
Kolom Pagar Roster Master Steel, lautan steel
Minimalis, Sloof Pagar
Panel Beton, Sloof
Pagar BRC
8. Kolom, sloof, balok Beton tumbuk K200 (f'c=16,9 Mpa)
bangunan pos jaga dan BJTS 420
gudang kompos Besi ulir BJTP 280
Besi polos Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, lautan steel
9. Kolom beton bertulang Beton tumbuk K175 (f'c=17,5 Mpa), slump
praktis 11/11 dan (12± 2) cm
Ringbalk beton Besi polos BJTP 280
bertulang praktis 10/15 Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, lautan steel
10. Begesting - Kayu begesting Begesting diipakai maksimal
- Balok kayu klas III 2 kali
- Dolken Kayu Galam
dia. 8 cm
- Paku Biasa 2" - 5"
- Minyak Bekisting
- Multipleks t=9 mm
11. Umum/Material Semen Produk : Gresik, Dynamix/
Holcim, Tiga Roda
Pasir Pasir beton lokal
Split Batu gunung, dihancurkan
dengan mesin stone crusher
Waterprofing Coting Produk : SIKA, Fosroc, AM,
Lemkra

II. PERKERASAN JALAN JENIS FLEKSIBLE


10. Pekerjaan Perkerasan
berbutir
Lapis Pondasi Atas Agregat klas A Sesuai dengan Spesifikasi
(LPA) Teknis 2010 Untuk
pekerjaan Konstruksi Jalan
dan Jembatan Revisi 3,
Divisi 5 : Perkerasan
Berbutir.
11. Pekerjaan Aspal
Lapis resap pengikat Aspal Emulsi - Aspal emulsi dengan
kandungan 0,85 liter/m2
- Sesuai dengan Spesifikasi
Teknis 2010 Untuk
pekerjaan Konstruksi Jalan
dan Jembatan Revisi 3,
Divisi 6 : Perkerasan
Aspal.
Lapis pelekat Aspal Emulsi - Aspal emulsi dengan

209
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
kandungan 0,40 liter/m2
- Sesuai dengan Spesifikasi
Teknis 2010 Untuk
pekerjaan Konstruksi Jalan
dan Jembatan Revisi 3,
Divisi 6 : Perkerasan
Aspal.
Penghamparan AC-BC Aspal Panas - Aspal panas tebal 6 cm
- Sesuai dengan Spesifikasi
Teknis 2010 Untuk
pekerjaan Konstruksi Jalan
dan Jembatan Revisi 3,
Divisi 6 : Perkerasan
Aspal.
Penghamparan AC-WC Aspal Panas - Aspal panas tebal 4 cm
- Sesuai dengan Spesifikasi
Teknis 2010 Untuk
pekerjaan Konstruksi Jalan
dan Jembatan Revisi 3,
Divisi 6 : Perkerasan
Aspal.

III. Pekerjaan Besi dan Baja


1. Struktur pernutup bak - Kolom, Kuda-kuda, Jenis Baja BJ 37
SSC, Bak Drying Area Konsol dan Balok dengan kuat tarik minimal,
dan Bak SDB serta Pengaku : profil IWF fu=370 MPa, Kuat Lelah
Gudang Kompos 150.75.5.7 minimal 240 MPa dengan
- Gording C peregangan 20%
125.50.20.2,3
- Bracing / Kait angin dia
16 mm
- Sagord/Jarum Gor-ding
dia. 10 mm
2. Struktur Kanopy Parkir - Kolom : IWF Jenis Baja BJ 37
200.100.5,5.8 dengan kuat tarik minimal,
- Kuda-kuda, Konsol dan fu=370 MPa, Kuat Lelah
Balok Penga-ku : profil minimal 240 MPa dengan
IWF 150.75.5.7 peregangan 20%
- Gording C
125.50.20.2,3
- Bracing / Kait angin dia
16 mm
- Sagord/Jarum Gor-ding
dia. 10 mm
3. Portal Pintu Masuk Pipa galvanis - Dia. 3”, tebal 2,8 mm
- Dia. 1,5”, tebal 2,8 mm

IV. Pekerjaan Rangka Atap


1. Rangka & penutup atap Baja ringan - Kuda-kuda baja ringan
Kantor Pengelola - Usuk : Hi Tensile G – 550
AZ 100, C 75.35.33. 0,73
jarak 50 cm
- Reng : 37.54.34.0,48
Merk : Tasso, CBM,
Kencana Truss
2. Rangka & penutup atap Baja ringan - Usuk dan gording : Hi
Garasi Truck Tensile G – 550 AZ 100, C

210
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
75 tebal 0,75
- Merk : Tasso, CBM,
Kencana Truss

V. Pekerjaan Pondasi
1. Pondasi Strauss Pile Lobang bor Lobang bor dia. 40 cm
dengan kedalaman 5 m

Beton tumbuk K250 (f'c=21,7 Mpa), slump


(12± 2) cm+additive
Besi ulir BJTP 280
Besi Tulangan : Perwira,
Master Steel, Krakatau Steel
2. Pondasi Sumuran - Buis beton - Buis beton tanpa tulangan
dia.100 cm
- Betu belah - Batu belah uk. 10-15 cm
- Beton tumbuk - K175 (f'c=14,5 Mpa),
slump (12± 2) cm

B. BIDANG ARSITEKTUR
I. Pekerjaan Pasangan, Plesteran, Acian
1. Pondasi Batu Belah - Batu belah - Uk. 15-20 cm
- Pasir - Pasir pasang
- Semen (PC) - Type I, merrk : Gresik,
Dynamix/ Holcim, Tiga
Roda
2. Pasangan Batu Bata ½ - Batu bata - Lokal
bata - Pasir - Pasir pasang
- Semen (PC) - Type I, merrk : Gresik,
Dynamix/ Holcim, Tiga
Roda
3. Pasangan Batu Bata 1 idem idem
bata
4. Plesteran - Pasir - Pasir pasang
- Semen (PC) - Type I, merrk : Gresik,
Dynamix/ Holcim, Tiga
Roda
5. Acian - Semen (PC) - Type I, merrk : Gresik,
Dynamix/ Holcim, Tiga
Roda
6. Plesteran skoning

II. Pekerjaan Finishing Lantai dan Dinding


1. Lantai keramik Keramik uk. 30 x 30 cm, Merk : Platinum, Asia,
40 x 40 cm Milan
2. Dinding keramik Keramik uk. 30 x 60 cm Merk : Platinum, Asia,
Milan
3. Plint keramik Keramik uk. 10 x 40 cm Merk : Platinum, Asia,
Milan
4. Pasangan dinding batu Batu alam andesit bakar Lokal, uk. 20x20 cm
alam
5. Lapisan pelindung lantai Floor hardener - Kandungan 5 kg/m2
- Merk : Sikka, Fosroc,
Faricon.

III. Pekerjaan Kosen, Daun Pintu dan Daun Jendela


1. Kosen pintu Profil Alumunium Co- Merk : Alkasa, YKK,
211
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
klat 100x45x1,2 mm Alexindo
2. Kosen Jendela Profil Alumunium Co- Merk : Alkasa, YKK,
klat 100x45x1,2 mm Alexindo
3. Daun pintu Profil Alumunium Co- Merk : Alkasa, YKK,
klat 100x45x1,2 mm Alexindo
Aluminium strip 80 x 1,2 Merk : Alkasa, YKK,
mm Alexindo
4. Daun Jendela Alumunium Natural 50 x Merk : Alkasa, YKK,
30 x 1,2mm Alexindo
5. Kaca Rayben tebal 5 mm Merk : Asahimas, Mulia
Glass
6. Asesories pintu dan - Engsel - Merek Dekson
jendela - Kunci silinder - Merek Dekson, Yale,
Royal
- Kunci KM - Merek Dekson
- Door clooser - Merk Dekson, Union/
Dorma
- Engsel casement/top - Merk Union, Sess, Dexson
hung - Merk Union, Sess, Dexson
- Rambuncis

IV. Pekerjaan Plafond


1. Rangka plafond Hollow gavallum Uk. 3,6. 3,6.0,3
Merk : Tasso, CBM,
Kencana Truss
2. Plafond PVC Ukuran 20 x 8 mm
Merek : Sundha, Wifon,
Denta
3. Lis Plafond PVC Merek : Sundha, Wifon,
Denta

V. Pekerjaan Penutup atap dan Talang


1. Penutup atap garasi Genteng Spandek Tebal 0,35 mm
truck, gudang kompos Zincalume (Plat baja lapis Produksi : Utomo, Fumira
dan kanopy parkir seng aluminium)
berwarna
2. Penutup atap gedung Genteng Metal (Plat baja Tebal : 0,25 mm
pengeloka lapis seng aluminium) Produksi : Surya Roof,
berwarna Sakura Roof, Multi Roof
3. Penutup atap bak SSC, Spandek Bening/ Tebal 1,2 mm
Drying Area dan SDB Transparan yang diprofil Produksi : Utomo, Fumira
4. Talang - Talang datar PVC - PVC kotak b = 14 cm, h =
10 cm
Merk : Intilon, Maspion
- Talang tegak PVC - Klas AW dia.4”
Merk : Wavin, Pralon,
Maspion

VI. PEKERJAAN PENGECATAN DAN FINISHING


1. Pengecatan dinding - Cat Eksterior Produk : Mowilex, Dulux,
Jotun
- Cat interior Produk : Mowil`ex, Dulux,
Jotun..
2. Pengecatan Logam dan Synthetic enamel super Produk : SEIV, Dulux,
kayu gloss Kansai Ftalit
3. Pengecatan Plafond Produk : Cendana, Catylac,
Decolith.

212
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
4. Coating batu alam Cat batu alam Produk : Propan, Glass
Stone, AM
5. Meni Meni logam Produk : Nippont, EMCO
6. Waterproofing coating Cat kedap air Merk : SIKA, Fosroc
7. Waterprofing membran Membran tebal 3 mm Merk : SIKA

VII. Pekerjaan Paving Block


1. Pasang paving - Paving Block 21 x - Natural, K-225
10,50 cm, tebal 6 cm Produk : Aldas, Master
Beton, ABC
- Paving Block 21 x - Natural, K-300
10,50 cm, tebal 6 cm Produk : Aldas, Master
Beton, ABC
2. Pasang Kanstein - Kerb A, 10/15x30x50 K-225
cm Produk : ABC, Aldas,
Master Beton
- Kanstein 10.20.50 cm, K-200
Produk : ABC, Aldas,
Master Beton

VIII Pekerjaan Sanitair


1 Pasang Closet Closet Duduk Closet duduk TOTO CW
660 J / paket lengkap

Closet jongkok TOTO Closet Jongkok Putih


White CE 7

2. Pasang kran air Kran air ¾ Merk : Onda, San E


3. Pasang bak cuci piring Bak Cuci Piring Lokal
Stainlessteel+kran air
4. Pasang Floordrain Floordrain stainlessteel Lokal
5. Septick tank Bio Filter kapasitas 2.145 Merek : Induro, Biotech
ltr
6. Pasang thoren air Tangki air fiberglass merk : Penguin, EXCEL
kapasitas 2.000 liter
7. Pasang ground reservoar Tangki air tanam merk : Penguin, EXCEL
fiberglass kap. 5 m3

IX. PEKERJAAN PAGAR


1. Pasang pagar BRC Pagar BRC 240x90 cm Diameter kawat 8 mm,
dilapis galvanish
Produk : Lokal
Tiang besi dia.2” tinggi Tebal pipa 2 mm
120 cm Produk : Lokal

213
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
2. Pasang pagar rooster Rooster minimalis uk. Produk : Lokal
minimalis 20x20 tebal 10 cm

3. Tulisan " IPLT Plat steinless tebal 2 mm, Produk : Lokal


KABUPATEN timbul
TEGAL"
4. Pasang pagar kawat duri Kawat duri dia. 2,6 mm Produk : Lokal

VII. Pekerjaaan Buffer dan Landscape


1. Penanaman pohon Pohon Trembesi Dia. 7-10 cm
peneduh Tinggi = 3-4 m

Pohon tabebuya Bunga Dia. 5-8 cm


Kuning Tinggi = 3-4 m

2. Penanaman tanaman Pohon Pucuk Merah Tinggi 50-60 cm


hias

Pohon Bougenvile Tinggi 50-60 cm


Varigata Merah

Pohon Puring Kura-kura Tinggi 40-60 cm


Besar

214
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
Tanaman hias rombusa Tinggi 15-20 cm

3. Penanaman Grand Tanaman Rumput Gajah


Cover Mini

C. BIDANG MEKANIKAL ELEKTRIKAL


1. Pekerjaan Elektrikal Panel – Panel
- Box Panel - Produk Lokal, tebal plat
2mm, powder coating
- Komponen Panel - Komponen ABB .
Schneider
- Grounding Panel - Kabel BC/ NYA - max 2
Ohm
Kabel Power
- Kabel - kabel - Supreme, Kabelindo,
Kabelmetal
2. Instalasi penerangan dan - KabelInstalasi - Supreme, Kabelindo,
stop kontak Penerangan & Stop Kabelmetal
Kontak
- Conduit - EGA, Boss / Clipsal
- Armature & Komponen :
- Lampu-lampu
Philips, Panasonic, Osram
- Panasonic, Broco, MK
- Panasonic,Broco, MK
- Saklar - LPI Guardian, EF, Viking
- Stop kontak
- Penangkal Petir
3. Instalasi CCTV - Peralatan IP - Honeywell
CCTV - Supreme, Kabelindo
- EGA, Boss / Clipsal
- Kabel- kabel
- Conduit
4. Pekerjaan LPJ Tiang lampu octaganal Produk : Lokal
tinggi 5 m
Lampu PJU Lampu Jalan :
- PJU 84Watt MULTI LED
- Merk Chips LED : Epistar
- Daya Maksimal : 84Watt
(84x1W)
- Input Tegangan : AC 85 -
265 Volt
- Kuat Cahaya : 100 Lm/W
- Warna Cahaya : Putih
- Sudut Cahaya : 180
Degree
- Standart Proteksi : IP65
- Massa Pakai LED : 40.000
Jam

215
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
5. Pengadaan Genset Genset kapasitas 5 KVA Produk : Honda

6. Instalasi Plumbing - Pompa Air Bersih - Grundfos Original


- Pipa Air Bersih - Rucika, Maspion
- Kitz, TOYO
- Gate Valve, Check
- Lokal
valve
- Pipa Air Bekas, - PVC AW : Rucika,
Kotor &hujan Maspion
D. PERALATAN OPERSIONAL IPLT
1 Instalasi pengolahan Khlorinator Apung Diameter 3 inchi (8 cm)
Lumpur Tinja

216
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
Pompa Lumpur - Jumlah : 1 buah
Sentrifugal Portable - Jenis pompa: lumpur
- Kapasitas min : 1640
L/Min
- Tinggi Dorong min: 8 m
- Tenaga mesin : 13 HP
- Ukuran pipa output : 4
inch
- Bahan bakar : diesel
- Dilengkapi dengan 2 roda
untuk memudahkan
pemindahan pompa
- Dilengkapi dengan pipa
spiral panjang 100 m.
Serok jaring - berbahan dasar stainless
steel
- Panjang gagang 1,22 m
dengan ketebalan 1,5
mm
- Panjang serokan 0,4 m,
lebar 0,36 m
- dilengkapi dengan
wiremesh galvanized
Sekop - material gagang: kayu
- material kepala sekop:
plat besi
- tinggi: 1,2 m

Garu - Bahan besi ulir 12 mm


- Terdapat 8 buah mata
- Panajg mata 30 cm
- Lebar antar mata 13 cm
- Bahan gagang: kayu
- Panjang gagang: 120 cm

Cangkul - Bahan: besi


- Bahan gagang: kayu
- Ukuran: 16 cm x 20 cm
- Panjang gagang: 74 cm

Gerobak Sampah - Bahan: fiberglass


- Tinggi: 100 cm
- Lebar: 80 cm
- Panjang: 160 cm

217
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
No. Uraian pekerjaan Material Spesifikasi Dokumentasi/
Keterangan
Pressure Cleaner - Dilengkapi dengan roda
dan handle untuk
mobilitas
- Dilengkapi proteksi
thermal
- Voltase : 220-240 V
- Tipe motor : induksi
- Daya motor : 2000 Watt
- Tekanan pengoperasian
: 110 bar
- Tekanan maksimal : 150
bar
- Aliran udara : 6,7
liter/menit
- Panjang selang : 8 meter
- Dimensi produk : 40,3 x
34,3 x 91,1 cm
Gerobak Sorong - Bahan besi
- Ukuran bak 80 cm x 65
cm,
- diameter roda : 30 cm

Mesin Pencacah Dimensi: 175 x 65 x 80 cm,


Kapasitas: 500-600 kg
tanah/jam.
Berat mesin: 90 kg,
Daya 1 HP atau 750 Watt,
Penggerak motor listrik 1
HP, 220 W, atau 3 phase

218
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

9 BAGIAN 10
JADWAL PELAKSANAAN
PEKERJAAN
PEMBANGUNAN IPLT
TEGAL

219
SPESIFIKASI TEKNIS
Pekerjaan Pembangunan/Peningkatan/Rehabilitasi IPLT
Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

220
SPESIFIKASI PERALATAN KONSTRUKSI DAN PERALATAN BANGUNAN :

1. Peralatan Utama

Jenis Alat Kapasitas Minimal Jumlah


1. Excavator 143 HP 1 unit

2. Buldozer 100-150 HP 1 unit

3. Vibroroller 5-8 ton 1 unit

4. Truck tanki air 3000 – 5000 liter 1 unit

5. Concrete Vibrator 5,5 HP 1 unit

6. Concrete Pump 350 MPa 1 unit

2. Peralatan Penunjang

Jenis Alat Kapasitas Jumlah


1. Pick Up 1,25 m3 1 unit

2. Scafolding - 50 unit

3. Genset 5 KVA 1 unit

3. Peralatan terkait pemasangan


kuda-kuda IWF antara lain :
a. Welding Machine 300 A 1 unit
b. Generator Set 5 KVA 1 unit
c. Tripod/Tackel & Handle Crane 2 Ton 1 unit

4. Tamper Rammer/Stemper Kuda 70 kg 1 unit


5. Concrete Mixer 0,3-0,6 M3 1 unit
SPESIFIKASI JABATAN KERJA KONSTRUKSI

1. SPESIFIKASI JABATAN KERJA KONSTRUKSI


Personel yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini antara lain :
a. Personil Inti

Jabatan Jumlah Pendidikan Bukti Kompetensi Minimal


1. Pelaksana 1 orang SMA/ Pelaksana Pembuatan Fasilitas
Lapangan sederajat Sampah dan Limbah kelas 1
(TT012)
Atau
Pelaksana Pembuatan Fasilitas
Sampah dan Limbah Madya
Jenjang 5 (SIP.13.006.5)
2. Petugas K3 1 orang SMA/ Petugas Keselamatan
Konstruksi sederajat Konstruksi/Sertifikat Petugas K3
Konstruksi/SKA Ahli K3 Konstruksi,
pengalaman 0 tahun

b. Personil Pendukung

Jabatan Jumlah Pendidikan Bukti Kompetensi Minimal


1. Pelaksana 1 orang SMA/ Pelaksana Bagunan Gedung /
Bangunan sederajat Pekerjaan Gedung Kelas 1
Gedung (TS051) atau Pelaksana
Lapangan Pekerjaan Gedung
Muda Jenjang 4 (SIP.01.001.4)
2. Juru Hitung 1 orang SMA/ Juru Hitung Kuantitas (TS047) /
Kuantitas sederajat Juru Ukur Kuantitas bangunan
Gedung (TA027)
3. Drafter 1 orang SMA/ Juru Gambar/Draftman – Sipil
sederajat (TS003) / Juru Gambar/Drafman
(TA003)
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO

KEGIATAN : PENGOLAHAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM AIR LIMBAH DOMESTIK DALAM DAERAH KABUPATEN/KOTA
PEKERJAAN : PEMBANGUNAN /PENINGKATAN/REHABILITASI IPLT
LOKASI : DESA DUKUH JATI KIDUL, KEC. PANGKAH, KAB. TEGAL
TH. ANGGARAN : 2023

DESKRIPSI RESIKO PENILAIAN TINGKAT RESIKO PENILAIAN SISA RESIKO


PERSYARATAN PEMENUHAN PENGENDALIAN
NOMOR PENGENDALIAN AWAL NILAI TINGKAT KETERANGAN
IDENTIFIKASI BAHAYA JENIS BAHAYA (Tipe PERATURAN KEMUNG KEPARAH LANJUT KEMUNGKINAN KEPARAHAN NILAI RESIKO TINGKAT
URAIAN PEKERJAAN RESIKO RESIKO
(Skenario Bahaya) Kecelakaan) KINAN (F) AN (A) (F) (A) (FXA) RESIKO (TR)
(FXA) (TR)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
A. PEKERJAAN DEWATERING DAN BONGKARAN
Pengoperasian per-jam pompa air diesel daya 7,5 KW dengan kabel pompa tersetrum Undang-Undang No 1 tahun 1970
suction head maks. 3 m dan discharge head maks. 10 m robek/terkelupas tentang Keselamatan Kerja
1 ► Dipastikan alat yang digunakan dalam kondisi baik 2 3 6 Sedang
(kapasitas 50 L/dtk pada suction head 1 m dan discharge head
10 m).
- cidera - cidera ringan ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Beton Bertulang tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
2 genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil

Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat



Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Pasangan batu kali tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
3 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Dinding Tembok Bata Merah tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
4 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Penutup Atap tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
5 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Rangka Atap (Reng, Usuk) tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
6 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Pencucian 1 m2 permukaan dinding lama tangan terkena gesekan kulit terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970
7 dinding lama tentang Keselamatan Kerja ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil

Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat



Pelindung Diri) yang benar.
Membongkar Lantai tangan menahan tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
8 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
genggaman terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
B. PEKERJAAN TANAH
Penggalian tanah lumpur sedalam s.d. 1 m tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
1 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Galian tanah biasa (dengan alat) Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970
2 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control

- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
- disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor
Excavator terguling Undang-Undang No 1 tahun 1970
Luka berat ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


-
aman untuk dilewati dan parkir alat berat.
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


-
Excavator atau alat berat yang lain.
Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
- disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator
Galian tanah biasa sedalam 1 m tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
3 pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil

Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat



Pelindung Diri) yang benar.
Urugan tanah kembali tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
4 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Pemadatan tanah dengan peralatan mesin Stamper kaki terkena mesin kaki luka ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970
5 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Pembuangan tanah sejauh 30 meter terpleset atau tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
6 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
tersandung terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Buangan tanah sejauh ± 3 km (sisa bongkaran dan galian terpleset atau tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
7 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
lumpur) tersandung terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Tanah dihampar, diratakan dan dirapihkan (meratakan buangan tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
8 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
galian tanah di dipposal area) pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
C. PEMBANGUNAN BAK SSC DAN ATAP PENUTUP
a. PEKERJAAN BAK SSC
Pengad. & menurunkan buis beton dia. 100 cm kaki terkena buis beton kaki luka ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970
1 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Pemasangan pondasi sumuran, diameter 100 cm kaki terkena buis beton Luka memar Undang-Undang No 1 tahun 1970
2 ► Membuat metode kerja yang baik 2 2 4 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
-Cedera Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum

bekerja
Pastikan pekerja berbadan sehat
Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung

tangan, masker)
Urugan pasir urug Truk terperosok Luka memar di dada Undang-Undang No 1 tahun 1970
3 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
terkena stir tentang Keselamatan Kerja
-Material yang dibawa
tumpah/berceceran ► Substitusi : tidak bisa dilakukan

► Engineering Control : tidak bisa dilakukan


► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acata Alat Siap Operasi.

Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


-
aman untuk dilewati dan parkir alat berat.

- Memasang patok batas pengaman / safety railing.


Menempatkan petugas untuk mengawasi kerja alat
-
berat yang lain.
Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
- disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- menggunakan safety belt selama mengendarai truk
Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
4 1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang
Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
- menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
5 Sloof beton (S1)
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang
Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
- menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan
Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan
Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):


Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan
Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan
Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan
Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):


Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan
Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA
Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes
Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
Tertancap stek pada saat Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang bekisting tentang Keselamatan Kerja 1 3 3 KECIL

► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menutup ujung-ujung stek di titik yang akan
dipatok dengan kotak kayu, sebagai
guarding/pengaman.
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
6 Plat lantai dasar beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang
Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan
Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan
Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan
Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan

Tertancap stek pada saat Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang bekisting tentang Keselamatan Kerja 1 3 3 KECIL

► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menutup ujung-ujung stek di titik yang akan
dipatok dengan kotak kayu, sebagai
guarding/pengaman.
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
7 Plat dinding beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan
Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan

Tertancap stek pada saat Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang bekisting tentang Keselamatan Kerja 1 3 3 KECIL

► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menutup ujung-ujung stek di titik yang akan
dipatok dengan kotak kayu, sebagai
guarding/pengaman.
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
Plat lantai porporated beton (lobang poporated dari pipa PVC
8
dia.1/2")
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja
aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA
Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
- Pemasangan pipa PVC dia. 1/2", panjang = 0,12 cm, jarak antar Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
PVC 12,5 cm alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
9 Balok beton dudukan plat porporated
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja
aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton Bangunan Gedung pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
10 Balok dudukan plat layan dan ramp beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
11 Balok konsol beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja
Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton Bangunan Gedung pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
12 Plat layan beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton Bangunan Gedung pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
13 Plat ramp beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
14 Dinding beton penjepit bar screen
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan
Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis Terkena cat Iritasi kulit Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
16 ) tentang pengendalian bahan kimia 2 2 4 KECIL
berbahaya
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Iritasi mata
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
Terjadi ISPA apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan
terhirup
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Pagar railling plat layan, h = 1,50 m Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
17 - Tertimpa material - Luka ringan 1 2 2 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
- Terkena palu - Memar
bekerja
- Cedera ringan ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.
Bar screen steinless (plat strip 30.5, rangka besi siku 50.50.5, Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
18 - Tertimpa material - Luka ringan 1 2 2 KECIL
jarak bersih antar plat strip 1 cm) tentang Keselamatan Kerja
► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
- Terkena palu - Memar
bekerja
- Cedera ringan ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.
Besi UNP 100.50.5 dudukan bar screen Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
19 - Tertimpa material - Luka ringan 1 2 2 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
- Terkena palu - Memar
bekerja
- Cedera ringan ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.
Pasang Grill steinless lengkap dg engsel dan kunci slot (plat strip Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
20 - Tertimpa material - Luka ringan 1 2 2 KECIL
30.6, rangka besi siku 50.50.5, jarak antar plat strip 2,5 cm) tentang Keselamatan Kerja
► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
- Terkena palu - Memar
bekerja
- Cedera ringan ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.
Urugan gravel 12/20 mm tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit
21 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja
tentang Keselamatan Kerja Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Urugan pasir beton tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit
22 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Pemasangan Pondasi Batu Belah 1SP : 5 PP Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
23 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Memberi rambu-rambu di sekitar area kerja
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Terkena percikan spasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Iritasi mata 2 2 4 KECIL
(perekat bata) 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Memberi rambu-rambu di sekitar area kerja
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
Plesteran 1 Pc : 5 Ps tebal 15 mm Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Terkena percikan
24 Iritasi mata 08/MEN/VII/2010 tentang APD 2 2 4 KECIL
plesteran dan aci dinding
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Pintu angkat plat baja b = 0,30 m, h = 0,30 m, TR = 1,20 m, gate Tangan terkena material Luka ringan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
25 frime besi siku L.70.70.7 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 2 2 KECIL
tempat kerja
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Tertimpa material Cedera Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 2 2 KECIL
tempat kerja
Memar ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Memberi jam istirahat bagi pekerja
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Tersengat listrik bor Pingsan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
tempat kerja
Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terbakar
tentang keselamatan kerja
Meninggal dunia ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Inspeksi alat kerja sebelum digunakan
- Tagging alat kerja dicek rutin secara berkala
- Pastikan stopkontak dan kabel aman
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Pintu sorong baja b = 0,60 m, h = 0,40 m, TR = 2,00 m dan gate Tangan terkena material Luka ringan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
26 frame besi siku L.80.80.8 (terpasang) 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 2 2 KECIL
tempat kerja
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Tertimpa material Cedera Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 2 2 KECIL
tempat kerja
Memar ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Memberi jam istirahat bagi pekerja
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Tersengat listrik bor Pingsan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
tempat kerja
Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terbakar
tentang keselamatan kerja
Meninggal dunia ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Inspeksi alat kerja sebelum digunakan
- Tagging alat kerja dicek rutin secara berkala
- Pastikan stopkontak dan kabel aman
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Pengecatan bidang baja secara manual 3 lapis Terkena cat Iritasi kulit Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
27 tentang pengendalian bahan kimia 2 2 4 KECIL
berbahaya
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Iritasi mata
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
Terjadi ISPA apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan
terhirup
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
28 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
PEKERJAAN ATAP PENUTUP BAK SSC Jatuh dari ketinggian Meninggal dunia Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
b. 2 3 6 SEDANG
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pasang besi profil (termasuk pengadaan, perakitan, pengelasan, Cedera permanent Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
pengecatan meni dan pemasangan di lokasi) 01/MEN/1980 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan
Tiang kolom besi IWF 150.75.5.7 Permenakertrans No 09 tahun 2016 ► Engineering control :
tentang Keselamatan dan Kesehatan
1
Kerja Dalam Pekerjaan Pada
Ketinggian
Kuda-kuda besi IWF 150.75.5.7 Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Menggunakan tangga portable
2
tentang Keselamatan Kerja
Konsol besi IWF 150.75.5.7 - Menggunakan life line atau anchor point untuk
3
mengaitkan hook FBH
4 Regel/balok pengaku besi UNP 100 50.5 - Administrasi :
Gording C 125.50.20.2,3 ► Melakukan cek kesehatan sebelum mulai bekerja
5 (tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan)

Plat landas, buhul, pengaku, angkur mur baut dan ascesories - Melakukan training WAH pada pekerja
6
lainnya
Tracstang ø 16 mm - Melakukan training penggunaan FBH yang baik dan
7
benar
Handle Tracstang - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
8
potensi2 bahayanya
9 Sagord (jarum gording) dia. 10 - Inspeksi FBH sebelum digunakan
10 Pasang Atap Spandek Bening/ Transparan, tebal 1,2 mm - PPE :
11 Pemasangan talang datar PVC kotak b = 14 cm, h = 10 cm ► Helm
12 Corong talang air kotak pvc power gutter outlet dia. 4" - Safety shoes
13 Talang tegak pipa PVC AW dia.4 + asesories - Rompi reflektor
14 Pasang lisplank GRC lebar 20 cm, tebal 9 mm - sarung tangan
Pengecatan permukaan besi dan baja dengan cat besi 3 lapis cat - Full body harness
15
penutup
Pengecatan permukaan besi / baja dengan menie besi Kejatuhan material Meninggal dunia Permenakertrans RI No. Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
01/MEN/1980 tentang Keselamatan
16 1 3 3 KECIL
dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan
Cedera ringan Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
tentang Keselamatan Kerja
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
Cacat permanen ► Administrasi :
► Memberi rambu-rambu di sekitar area kerja
- Menempatkan satu orang petugas untuk
mengawasi pekerjaan di atas
- Memastikan rigger sudah berkompeten
- Memastikan pada saat swing area kerja aman tidak
ada orang
- PPE :
► Safety shoes
- Helmet
Ikatan tidak sesuai Material jatuh dari Permenakertrans RI No. Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
ketinggian 05/MEN/1985 tentang Pesawat 1 3 3 KECIL
Angkat Angkut
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control:
► Pastikan ikatan sudah kuat dan sesuai
- Pastikan sling yang digunakan sudah dicek
sebelumnya
- Administrasi :
► Pastikan rigger sudah berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
Alat las tidak aman Terbakar Permenakertrans RI No.Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
02/MEN/1982 tentang Kwalifikasi 1 2 2 KECIL
Juru Las
Ledakan ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control:
► Menyediakan apar
- Menyediakan karung goni atau fire blancket
- Administrasi :
► Inspeksi secara rutin pada alat las
- PPE :
► Safety shoes
- Helmet
- Rompi reflektor
Pengelas tidak Terbakar Permenakertrans RI No.Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
berkompeten 02/MEN/1982 tentang Kwalifikasi 1 2 2 KECIL
Juru Las
Merusak struktur yang di Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
las 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control:
► Menyediakan apar
- Menyediakan karung goni atau fire blancket
- Memastikan tidak ada bahan dan material disekitar
yang mudah terbakar
- Administrasi :
► Memastikan juru las sudah bersertifikasi dan
berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Kedok las
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Sinar ultraviolet Merusak mata Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 3 6 SEDANG
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Sinar inframerah Iritasi mata Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
► Enjineering control: tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Kedok las
- Welding helmet
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Debu dan gas dalam asap Sesak napas Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 3 6 SEDANG
las 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Dada sakit Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
Kerusakan sistem syaraf ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan

► Posisikan pada saat pengelasan berlawanan dengan


arah angin
Administrasi :
► Memahamu material dan bahaya yang
berhubungan dengan pengelasan
- Memastikan juru las sudah bersertifikasi dan
berkompeten
- PPE :
► Kedok las
- Welding helmet
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Jatuh dari ketinggian Meninggal dunia Permenakertrans No 09 tahun 2016 - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tentang Keselamatan dan Kesehatan
1 3 3 KECIL
Kerja Dalam Pekerjaan Pada
Ketinggian
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control :
► Menggunakan anchor point atau life line untuk
mengaitkan hook FBH
- Administrasi :
► Melakukan cek kesehatan sebelum mulai bekerja
(tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan)

- Melakukan training WAH pada pekerja


- Melakukan training penggunaan FBH yang baik dan
benar
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Inspeksi FBH sebelum digunakan
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Full body harness
Terkena gerinda Luka ringan Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Jari terpotong
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Enjineering control :
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Mata kemasukan gram ►
Memasang cover gerinda sesuai dengan standar
material
- Administrasi :

Pengguna gerinda harus orang yang berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
-
Inspeksi seecara rutin gerinda sebelum digunakan
-
Pastikan gerinda sudah ditagging setiap bulan
- Tersedia kotak P3K di klinik
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Bising Pendengaran berkurang Permenakertrans RI No. Per ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
2 2 4 KECIL
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Melakukan pengukuran lingkungan kerja secara
berkala
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
-
Pastikan gerinda sudah ditagging setiap bulan
-
Inspeksi seecara rutin gerinda sebelum digunakan
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Earplug (alat pelindung telinga) bila kebisingan
melebihi 85 dBA
Terkena material dan Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

D. PEMBANGUNAN BAK PENGERING LUMPUR (DRYING AREA)


PEMBUATAN BAK PENGERING LUMPUR Debu Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
a. ISPA 2 2 4 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
Pengeboran Pondasi Tiang Strauss pile dia. 40 cm ► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
1 Iritasi mata
bekerja
2 Pengecoran Pondasi Tiang Strauss pile dia. 40 cm ► Pastikan pekerja berbadan sehat
Permenakertrans RI ► Melakukan pengukuran lingkungan kerja
No.13/MEN/X/2011 tahun 2011
tentang NAB Batas Fisika dan Faktor
Kimia di Tempat Kerja
► Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung
tangan, masker)
Terkena material Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
Meninggal dunia 2 3 6 SEDANG
tentang Keselamatan Kerja
Luka berat ► Pastikan alat berat sudah mempunyai SILO
► Pasrikan sudah berkompeten dan mempunyai SIO
Cedera
► Pastikan pada saat pengangkatan tidak ada pekerja
dibawah
► Alat berat selalu diinspeksi sebelum digunakan

► Memasangan rambu-rambu keselamatan atau


safety sign
► Pastikan pekerja berbadan sehat
► Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung
tangan, masker)
Sinar ultraviolet Merusak mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Sinar inframerah Iritasi mata Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
► Enjineering control: tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
► PPE :
- Kedok las
- Welding helmet
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Urugan pasir urug Debu berterbangan PP RI No. 41 Tahun 1999 tentang
3 sepanjang jalan lintasan Sesak napas Pengendalian Pencemaran Udara. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 3 2 6 SEDANG
truk
Iritasi mata ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
secara rutin melakukan penyiraman jalan kerja
'-
untuk mengurangi debu
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- masker debu
- kaca mata keselamatan

Tabrakan dgn kendaraan


lain saat masuk atau Luka memar Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
keluar dari lokasi proyek tentang Keselamatan Kerja

► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

Memasang lampu peringatan (rotary lamp) pada


-
lokasi persimpangan jalan raya dan proyek.
Menempatkan satu orang petugas untuk
-
mengawasi operasional Dump Truck
Memasang rambu: "HATI-HATI KELUAR-MASUK
-
KENDARAAN PROYEK"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- menggunakan safety belt selama mengendarai truk

Tertimpa alat kerja Luka memar r ►Membuat metode kerja yang baik 2 2 4 KECIL
Undang-Undang No 1 tahun 1970 Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
Cedera ►
tentang Keselamatan Kerja bekerja
►Pastikan pekerja berbadan sehat
Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung

tangan, masker)
Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
4 1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
- menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
5 Pile cap beton bertulang 80x80 cm
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
6 Tie beam beton bertulang 25x40 cm
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
-Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
-Melaksanakan Housekeeping
-memberi induksi ke pekerja
-Menerapkan prinsip 5R
-Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
7 Kolom beton bertulang 20x25
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk kolom 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
8 Sloof beton bertulang
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pembesian dengan besi ulir Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan
- Memasang Bekisting untuk kolom 2x pakai pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
9 Plat lantai beton bertulang
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
- Pembesian dengan besi polos ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai ► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
10 Plat dinding beton bertulang ► Administratif control
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Pembesian dengan besi ulir - Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai - Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja
aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
Balok dudukan plat layan dan ramp beton - Memasang patok batas pengaman / safety railing.
11

- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
bulldozer atau alat berat yang lain.
- Pembesian dengan besi polos - Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai - Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
Plat layan dan ramp beton - Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
12 disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

- Pembesian dengan besi polos ► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Memasang Bekisting untuk Tangga Beton 2x pakai - Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
13 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis Terkena cat Iritasi kulit Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
14 ) tentang pengendalian bahan kimia 2 2 4 KECIL
berbahaya
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Iritasi mata
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
Terjadi ISPA apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan
terhirup
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Pembuatan 1 m3 beton mutu fc 14,5 Mpa untuk kemiringan Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
15 1 3 3 KECIL
lantai dasar dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja


aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 2 2 KECIL
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
- menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen

► Administratif control
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Mejalankan IK Pengecoran
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)
Pasang Pipa PVC Air Limbah DN 6" (dilubangi) Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
16 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
Urugan gravel 15/30 mm tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
17 ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Urugan gravel 7/15 mm Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
18 ►
Pelindung Diri) yang benar.
19 Urugan pasir beton
Pipa Outlet PVC Air Limbah dia.6" Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
20 Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
1 Bend 870 PVC Air Limbah dia.6" Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
BANGUNAN PENUTUP BAK PENGERING LUMPUR Jatuh dari ketinggian Meninggal dunia Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
b. 2 3 6 SEDANG
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pasang besi profil (termasuk pengadaan, perakitan, pengelasan, Cedera permanent Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
pengecatan meni dan pemasangan di lokasi) 01/MEN/1980 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan
Kolom IWF 150.75.5.7 Permenakertrans No 09 tahun 2016 ► Engineering control :
tentang Keselamatan dan Kesehatan
1
Kerja Dalam Pekerjaan Pada
Ketinggian
Kuda - kuda IWF 150.75.5.7 Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Menggunakan tangga portable
2
tentang Keselamatan Kerja
Konsol IWF 150.75.5.7 - Menggunakan life line atau anchor point untuk
3
mengaitkan hook FBH
4 Regel (balok pengaku) IWF 150.75.5.7 - Administrasi :
Gording C 125.50.20.2,3 ► Melakukan cek kesehatan sebelum mulai bekerja
5 (tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan)
Plat landas, buhul, pengaku, angkur mur baut dan ascesories - Melakukan training WAH pada pekerja
6
lainnya
Bracing / Kait angin dia 16 mm - Melakukan training penggunaan FBH yang baik dan
7
benar
Handle Tracstang - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
8
potensi2 bahayanya
9 Sagord/ Jarum Gording dia. 10 mm - Inspeksi FBH sebelum digunakan
10 Pasang Atap Spandek Bening/ Transparan, tebal 1,2 mm - PPE :
11 Pemasangan talang datar PVC kotak b = 14 cm, h = 10 cm ► Helm
12 Corong talang air kotak pvc power gutter outlet dia. 4" - Safety shoes
13 Talang tegak pipa PVC AW dia.4 + asesories - Rompi reflektor
14 Pasang lisplank GRC lebar 20 cm, tebal 9 mm - sarung tangan
Pengecatan permukaan besi dan baja dengan cat besi 3 lapis cat - Full body harness
15
penutup
Pengecatan permukaan besi / baja dengan menie besi Kejatuhan material Meninggal dunia Permenakertrans RI No. Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
01/MEN/1980 tentang Keselamatan
16 1 3 3 KECIL
dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan
Cedera ringan Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
tentang Keselamatan Kerja
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
Cacat permanen ► Administrasi :
► Memberi rambu-rambu di sekitar area kerja
- Menempatkan satu orang petugas untuk
mengawasi pekerjaan di atas
- Memastikan rigger sudah berkompeten
- Memastikan pada saat swing area kerja aman tidak
ada orang
- PPE :
► Safety shoes
- Helmet
Ikatan tidak sesuai Material jatuh dari Permenakertrans RI No. Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
ketinggian 05/MEN/1985 tentang Pesawat 1 3 3 KECIL
Angkat Angkut
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control:
► Pastikan ikatan sudah kuat dan sesuai
- Pastikan sling yang digunakan sudah dicek
sebelumnya
- Administrasi :
► Pastikan rigger sudah berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
Alat las tidak aman Terbakar Permenakertrans RI No.Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
02/MEN/1982 tentang Kwalifikasi 1 2 2 KECIL
Juru Las
Ledakan ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control:
► Menyediakan apar
- Menyediakan karung goni atau fire blancket
- Administrasi :
► Inspeksi secara rutin pada alat las
- PPE :
► Safety shoes
- Helmet
- Rompi reflektor
Pengelas tidak Terbakar Permenakertrans RI No.Per - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
berkompeten 02/MEN/1982 tentang Kwalifikasi 1 2 2 KECIL
Juru Las
Merusak struktur yang di Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
las 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Enjineering control:
► Menyediakan apar
- Menyediakan karung goni atau fire blancket
- Memastikan tidak ada bahan dan material disekitar
yang mudah terbakar
- Administrasi :
► Memastikan juru las sudah bersertifikasi dan
berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Kedok las
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Sinar ultraviolet Merusak mata Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 3 6 SEDANG
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Sinar inframerah Iritasi mata Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
► Enjineering control: tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- PPE :
► Kedok las
- Welding helmet
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Debu dan gas dalam asap Sesak napas Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 3 6 SEDANG
las 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Dada sakit Permenakertrans RI No. Per ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
Kerusakan sistem syaraf ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan

► Posisikan pada saat pengelasan berlawanan dengan


arah angin
Administrasi :
► Memahamu material dan bahaya yang
berhubungan dengan pengelasan
- Memastikan juru las sudah bersertifikasi dan
berkompeten
- PPE :
► Kedok las
- Welding helmet
- Apron las
- Sarung tangan las
- Safety shoes
Jatuh dari ketinggian Meninggal dunia Permenakertrans No 09 tahun 2016 - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tentang Keselamatan dan Kesehatan
1 3 3 KECIL
Kerja Dalam Pekerjaan Pada
Ketinggian
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control :
► Menggunakan anchor point atau life line untuk
mengaitkan hook FBH
- Administrasi :
► Melakukan cek kesehatan sebelum mulai bekerja
(tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan)

- Melakukan training WAH pada pekerja


- Melakukan training penggunaan FBH yang baik dan
benar
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Inspeksi FBH sebelum digunakan
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Full body harness
Terkena gerinda Luka ringan Undang-Undang No. 01 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Jari terpotong
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Enjineering control :
15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Mata kemasukan gram ►
Memasang cover gerinda sesuai dengan standar
material
- Administrasi :

Pengguna gerinda harus orang yang berkompeten
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
-
Inspeksi seecara rutin gerinda sebelum digunakan
-
Pastikan gerinda sudah ditagging setiap bulan
- Tersedia kotak P3K di klinik
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Bising Pendengaran berkurang Permenakertrans RI No. Per ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
13/MEN/X/2011 tahun 2011 tentang
2 2 4 KECIL
NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Melakukan pengukuran lingkungan kerja secara
berkala
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
-
Pastikan gerinda sudah ditagging setiap bulan
-
Inspeksi seecara rutin gerinda sebelum digunakan
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Earplug (alat pelindung telinga) bila kebisingan
melebihi 85 dBA
Terkena material dan Permenakertrans RI No. - Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
► Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Pekerja disarankan untuk memakai baju lengan
panjang
- PPE :
► Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
REHAB BAK ANAEROBIK (berfungsi menjadi BAK AN AEROBIK Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
E. 1 3 3 KECIL
1) dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
1 Urugan pasir urug ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) ► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
3 Sloof beton S1, 40/20, ► Administratif control
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Pembesian dengan besi ulir - Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Pembesian dengan besi polos - Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja
aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Memasang patok batas pengaman / safety railing.

Penebalan lantai dasar beton tebal 10 cm - Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
4
bulldozer atau alat berat yang lain.
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Pembesian dengan besi ulir - Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
Penambahan dinding beton tebal 10 cm - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
5 terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

-Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) ► Memakai alat pelindung diri (APD).
-Pembesian dengan besi ulir - Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai
Balok beton keliling bak 30/30 Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
6 2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Pembesian dengan besi ulir ► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
- Pembesian dengan besi polos ► Administratif control
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
7 Penambahan plat dinding beton tebal 20 cm, - Menerapkan prinsip 5R
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Pembesian dengan besi ulir - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai ► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
8 Plat dinding sekat beton, - Safety shoes
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Helm
- Pembesian dengan besi ulir - Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
9 2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
10
)
11 Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" ► Engineering Control :
12 Pasang Tee PVC Air Limbah DN 6 X 6" ► Administratif control
13 Pasang bend 450 PVC Air Limbah DN 6" - Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan


► Engineering Control :
- menggunakan balok sbg pengungkit
► Administratif control
- Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

► Memakai alat pelindung diri (APD):

Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
tempat kerja
Jari tangan tergencet Memar ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Memasang guarding pada alat
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
- Masker untuk bahan kimia
REHAB BAK FAKULTATIF (berfungsi menjadi BAK AN AEROBIK Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
F. 1 3 3 KECIL
2) dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
1 Urugan pasir urug ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) ► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
3 Sloof beton S1, 40/20, ► Administratif control
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Pembesian dengan besi ulir - Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.

- Pembesian dengan besi polos - Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja
aman untuk dilewati dan parkir alat berat,
termasuk dumptruck & trailer.
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Memasang patok batas pengaman / safety railing.

Penebalan lantai dasar beton tebal 10 cm - Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
4
bulldozer atau alat berat yang lain.
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Pembesian dengan besi ulir - Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
Penambahan dinding beton tebal 10 cm - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
5 terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

-Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) ► Memakai alat pelindung diri (APD).
-Pembesian dengan besi ulir - Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai
Balok beton keliling bak 30/30 Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
6 2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Pembesian dengan besi ulir ► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
- Pembesian dengan besi polos ► Administratif control
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Melaksanakan Housekeeping
tentang Keselamatan Kerja
7 Penambahan plat dinding beton tebal 20 cm, - Menerapkan prinsip 5R
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Pembesian dengan besi ulir - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai ► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
8 Plat dinding sekat beton, - Safety shoes
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Helm
- Pembesian dengan besi ulir - Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
9 2 1 2 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
10
)
11 Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" ► Engineering Control :
12 Pasang Tee PVC Air Limbah DN 6 X 6" ► Administratif control
13 Pasang bend 450 PVC Air Limbah DN 6" - Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
REHAB BAK MATURASI (berfungsi menjadi BAK FAKULTATIF) - Menerapkan prinsip 5R
G.
1 Urugan pasir urug - Menyediakan sarana utk mencuci tangan
2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) ► Melengkapi pekerja dengan APD.
3 Sloof beton S1, 40/20, - sarung tangan
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
- Pembesian dengan besi ulir Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

- Pembesian dengan besi polos Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai ► Engineering Control :
4 Penebalan lantai dasar beton tebal 10 cm - menggunakan balok sbg pengungkit
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) ► Administratif control
- Pembesian dengan besi ulir - Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

5 Penambahan dinding beton tebal 10 cm ► Memakai alat pelindung diri (APD):


-Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
-Pembesian dengan besi ulir Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
tempat kerja
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai Jari tangan tergencet Memar ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Balok beton keliling bak 30/30 Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
6
08/MEN/VII/2010 tentang APD
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Memasang guarding pada alat
- Pembesian dengan besi ulir ► Administratif control
- Pembesian dengan besi polos - Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai - memberi induksi ke pekerja
Penambahan plat dinding beton tebal 20 cm, - memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
7
bar cutter di dekat alat
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Pembesian dengan besi ulir - Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai ► PPE :


8 Plat dinding sekat beton, - Helm
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - safety shoes
- Pembesian dengan besi ulir - Sarung tangan
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
9 tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
10
)
Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
11
08/MEN/VII/2010 tentang APD
12 Pasang Tee PVC Air Limbah DN 6 X 6" ► Administratif control
13 Pasang bend 450 PVC Air Limbah DN 6" - Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA

Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan
tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970
► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas tentang Keselamatan Kerja
Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
H. PEMBANGUNAN BAK MATURASI - Menerapkan prinsip 5R
1 Urugan pasir urug - Menyediakan sarana utk mencuci tangan
2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) ► Melengkapi pekerja dengan APD.
3 Sloof beton 30/50, - sarung tangan
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
- Pembesian dengan besi ulir Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

- Pembesian dengan besi polos Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai ► Engineering Control :
4 Plat lantai beton, - menggunakan balok sbg pengungkit
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) ► Administratif control
- Pembesian dengan besi ulir - Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

5 Plat dinding beton, ► Memakai alat pelindung diri (APD):


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
- Pembesian dengan besi ulir Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
6
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis - Memasang guarding pada alat
7
)
8 Pipa Outlet PVC Air Limbah DN 6" ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
- memberi induksi ke pekerja
- memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA
Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan

tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit


► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia
I. PEMBANGUNAN BAK WETLAND - Menerapkan prinsip 5R
1 Urugan pasir urug - Menyediakan sarana utk mencuci tangan
2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) ► Melengkapi pekerja dengan APD.
3 Sloof beton, - sarung tangan
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
- Pembesian dengan besi ulir Anggota badan (tangan Memar Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
atau kaki) terjepit atau 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
2 2 4 KECIL
tertimpa besi tempat kerja

- Pembesian dengan besi polos Patah tulang ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai ► Engineering Control :
4 Plat lantai beton, - menggunakan balok sbg pengungkit
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) ► Administratif control
- Pembesian dengan besi ulir - Memberi induksi / pengarahan ke pekerja tentang
potensi bahaya dari pekerjaannya & agar berhati-
hati
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Pekerjaan dilakukan secara tim, yg minimal 6 org

5 Plat dinding beton ► Memakai alat pelindung diri (APD):


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa)
- Pembesian dengan besi ulir Jari tangan terpotong Cacat permanen Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
oleh gunting besi 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai Jari tangan tergencet Memar tempat kerja ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
diantara besi potong dgn
lock plates
Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
6
08/MEN/VII/2010 tentang APD
Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis - Memasang guarding pada alat
7
)
8 Timbunan gravel 20-30 mm ► Administratif control
Penanaman Canna Sp - Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter alat
9
minimalkan dioperasikan oleh 2 org
10 Penanaman Iris Sp - memberi induksi ke pekerja
Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" - memasang instruksi keselamatan penggunaan alat
11
bar cutter di dekat alat
- memasang stiker rambu peringatan di alat : "HATI-
HATI BAHAYA JARI TERPOTONG" & "HATI-HATI
BAHAYA JARI TERGENCET"
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► PPE :
- Helm
- safety shoes
- Sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 1 3 3 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Melaksanakan SOP Penggunaan Bar Cutter
- Melaksanakan Housekeeping
- memberi induksi ke pekerja
- Menerapkan prinsip 5R
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan operator alat
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

pergerakan tubuh saat Low back pain atau Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
mengangkat & cedera tentang Keselamatan Kerja
menunduk ketika 2 2 4 KECIL
memasang setingan plat
bekisting
Hilang hari kerja/sakit ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Safety briefing ke pekerja, memberikan penjelasan
mengenai teknis pekerjaan yg aman &
kemungkinan bhy yg mungkin muncul &
melakukan senam ringan sebagai peregangan.

- Melaksanakan IK Pemasangan Bekisting


- Menganjurkan istirahat 5 menit setelah bekerja 30
menit
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- NA
Menginjak paku atau Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 1 2 KECIL
benda tajam lainnya tentang Keselamatan Kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Housekeeping
- Menerapkan prinsip 5R
- Semua paku2 yg terdapat pd balok2 bekas di
bengkokan atw di cabut
- Menyediakan tempat untuk mengumpulkan paku
atau benda tajam lainnya pada satu tempat
sehingga tidak berceceran.
- Memberikan induksi / pengarahan kepada pekerja
supaya ikut peduli terhadap lingkungan kerjanya,
tidak membuang paku atau benda tajam lainnya
sembarangan.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).
- Safety Shoes

Terkena palu pada saat Luka memar Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
memasang balok tentang Keselamatan Kerja 2 1 2 KECIL
bekisting
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Induksi Pekerja.
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- memberi lilitan serat penahan pada gagang palu
agar tdk licin
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Sepatu boot
- Sarung tangan

tangan tergores gagang tangan terkilir/kulit


► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat. 1 2 2 kecil
pacul terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat

Pelindung Diri) yang benar.
Terkena material dan Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
Memar 2 2 4 KECIL
alat kerja 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Permenakertrans RI No. ► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
Terjepit 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
tempat kerja
Tergores ► Enjineering control : tidak bisa dilakukan
► Administrasi :
Permenaker RI No 12 tahun 2015 - Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
tentang keselamatan dan kesehatan potensi2 bahayanya
listrik di tempat kerja
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Cek alat kerja sebelum digunakan
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety

Lem ISPA Kepmenaker No 186/MEN/1999 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tentang pengendalian bahan kimia 2 3 6 SEDANG
berbahaya
► Subsitusi : tidak bisa dilakukan
► Enjineering control : menyediakan blower apabila
pekerjaan di lakukan di dalam ruangan

► Administrasi :
- Induksi ke pekerja mengenai teknis pekerjaan &
potensi2 bahayanya
- Tersedia kotak P3K di klinik
- Menyediakan MSDS
► PPE :
- Helmet
- Safety shoes
- Rompi reflektor
- Sarung tangan
- Kacamata safety
- Masker untuk bahan kimia

J PEMBANGUNAN BAK DESINFEKSI DAN BAK BIOPOD


1 Urugan pasir urug - Pekerja terluka terkena - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Dipastikan alat yang digunakan dalam kondisi baik
1 2 2 KECIL
alat. tentang Keselamatan Kerja
- Cidera Punggung ► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.

2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) - Tepleset - Luka ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik 1 2 2 KECIL
- Tertimpa bahan adukan - Cedera ringan ► Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum
bekerja
► Pekerja harus dalam kondisi baik dan sehat.
► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri) yang benar.

3 Sloof beton
- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cedera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Plat lantai beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cedera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

5 Plat dinding beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cedera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

6 Dinding sekat bak desinfeksi


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cedera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

7 Water Stop lebar 200 mm - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

8 Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis - Tangan tergores kuas - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
) tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

9 Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

K PEKERJAAN BAK KONTROL


1 Urugan pasir urug - Pekerja terluka terkena - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
alat dan cidera punggung tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

3 Plat lantai beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Plat dinding beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

L PEMBANGUNAN BAK SDB


a PEMBUATAN BAK PENGERING LUMPUR
1 Urugan pasir urug - Pekerja terluka terkena - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
alat dan cidera punggung tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

2 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

3 Kolom beton bertulang 30x20


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja 1 3 3 KECIL
Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk kolom 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Sloof beton bertulang


Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

5 Plat lantai beton bertulang


Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
Memasang Bekisting untuk Pondasi Telapak Beton 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

6 Plat dinding beton bertulang


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi ulir - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

7 Balok dudukan plat layan dan ramp beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pemasangan Bekisting untuk Balok Beton 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

8 Plat layan dan ramp beton


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Tangga Beton 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

9 Bak pemecah lumpur beton bertulang


- Membuat beton ready mix K250 (f'c=21,7 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
- Pemasangan Bekisting untuk Dinding Sheerwall 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

10 Pemasangan PVC Waterstop lebar 200 mm - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

11 Pengecatan Dinding/Lantai Dengan Cat Waterproofing ( 3 Lapis - Tangan tergores kuas - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
) tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

12 Pembuatan 1 m3 beton mutu fc 14,5 Mpa untuk kemiringan - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 2 2 KECIL
lantai dasar bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

13 Pipa PVC dia.6" (berlubang) - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

14 Urugan gravel 5/7 cm - Pekerja terluka terkena - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
alat dan cidera punggung tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

15 Urugan pasir beton - Pekerja terluka terkena - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
alat dan cidera punggung tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

16 Pipa Outlet PVC Air Limbah DN dia.6" - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

17 Ben 870 PVC Air Limbah DN 6" - Terjatuh/terpleset - Tangan atau kaki Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
terkilir/kulit terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 2 2 KECIL

b BANGUNAN PENUTUP BAK PENGERING LUMPUR


Pasang besi profil (termasuk pengadaan, perakitan, pengelasan,
pengecatan meni dan pemasangan di lokasi)
1 Kolom IWF 150.75.5.7 - Tangan tergores IWF, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tangan terkilir tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

2 Kuda - kuda IWF 150.75.5.7 - Tangan tergores IWF, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
jatuh pada saat tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL
pemasangan

3 Konsol IWF 150.75.5.7 - Tangan tergores IWF, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
tangan terkilir tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Regel (balok pengaku) IWF 150.75.5.7 - Tangan tergores IWF, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
tangan terkilir tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

5 Gording C 125.50.20.2,3 - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

6 Plat landas, buhul, pengaku, angkur mur baut dan ascesories - Tangan tergores, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
lainnya tangan terkilir tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

7 Bracing / Kait angin dia 16 mm - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

8 Handle Tracstang - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

9 Sagord/ Jarum Gording dia. 10 mm - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

10 Pasang Atap Spandek Bening/ Transparan, tebal 1,2 mm - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

11 Pemasangan talang datar PVC kotak b = 14 cm, h = 10 cm - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

12 Corong talang air kotak pvc power gutter outlet dia. 4" - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

13 Talang tegak pipa PVC AW dia.4 + asesories - Tangan tergores, - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
tangan terkilir tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

14 Pasang lisplank GRC lebar 20 cm, tebal 9 mm - Tangan tergores, jatuh - Cidera ringan, kulit Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
pada saat pemasangan tangan terkelupas tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 3 1 3 KECIL

15 Pengecatan permukaan besi dan baja dengan cat besi 3 lapis - Tangan tergores kuas - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
cat penutup tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

16 Pengecatan permukaan besi / baja dengan menie besi - Tangan tergores kuas - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
3 1 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

M PEMBANGUNAN JALAN OPERASIONAL


a PEKERJAAN TANAH DAN URUGAN
1 Galian tanah biasa sedalam 1 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

2 Urugan tanah kembali Truk terperosok Luka memar di dada Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
terkena stir tentang Keselamatan Kerja
Material yang dibawa Substitusi : tidak bisa dilakukan

tumpah/berceceran
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
► Memakai alat pelindung diri (APD).
menggunakan safety belt selama mengendarai truk
-

Debu berterbangan Sesak napas PP RI No. 41 Tahun 1999 tentang Eliminasi : tidak bisa dilakukan
sepanjang jalan lintasan Pengendalian Pencemaran Udara. ► 3 2 6 SEDANG
truk
Iritasi mata ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
secara rutin melakukan penyiraman jalan kerja
'-
untuk mengurangi debu
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- masker debu
- kaca mata keselamatan

Tertimpa alat kerja Luka memar Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik 2 2 4 KECIL
Cedera tentang Keselamatan Kerja Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum

bekerja
► Pastikan pekerja berbadan sehat
Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung

tangan, masker)

3 Pemadatan tanah dengan peralatan mesin Stamper - Kaki terkena stamper Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD).
1 2 2 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
- Menggunakan safety shoes saat pemadatan tanah

4 Pembuangan tanah sejauh 30 meter - Terpleset , tangan Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
tergores alat tentang Keselamatan Kerja

5 Urugan pasir urug - Terpleset , tangan Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
tergores alat tentang Keselamatan Kerja

b PEKERJAAN JALAN OPERASIONAL (JALAN BETON)


1 LPA (Agregat klas A), t =20 cm - Kaki terkena material Luka ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970

Memakai alat pelindung diri (APD).
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
Safety shoes
-

2 Lantai kerja Beton fc" = 7,5 Mpa (K.100) tebal 7 cm - Kaki terkena material Luka ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970

Memakai alat pelindung diri (APD).
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
- Safety shoes
- Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

- Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 3 KECIL
1 3
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)

3 Perkerasan jalan beton K-350 readymix tebal 25 cm sdh Truk mixer terguling Luka berat Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
1 3 3 KECIL
termasuk sewa bekisting besi, plastik cor, additive dll dilokasi proyek tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Mengajukan & memenuhi Ijin Kerja
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
- Mengontrol & memastikan kondisi jalan kerja aman
untuk dilewati dan parkir alat berat, termasuk
dumptruck & trailer.
- Memasang patok batas pengaman / safety railing.

- Menempatkan orang untuk mengawasi kerja


bulldozer atau alat berat yang lain.
- Memasang rambu-rambu "HATI-HATI JALAN
AMBLAS"
- Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
km/jam & 25 km/jam
- Memasang lampu penerangan pada alat berat dan
disekitar lokasi kerja bila bekerja pada malam hari
(lembur).
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai alat pelindung diri (APD).


- Menggunakan safety belt selama mengendarai truk
mixer

Kulit terkena percikan Iritasi kulit Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 3 KECIL
1 3
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Menyediakan sarana untuk bilasan
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- sepatu boot
- sarung tangan karet
- pakaian lengan panjang & celana panjang

Mata terkena percikan iritasi mata Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 3 KECIL
1 3
semen coran 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - menggunakan pipa talang utk mengarahkan semen
tentang Keselamatan Kerja
► Administratif control
- Menyediakan sarana air steril untuk bilasan
mata/muka
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- kaca mata safety (bening)

4 Pembesian Dowel Bars Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
tentang Keselamatan Kerja potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.

- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS


terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan
Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 4 KECIL
2 2
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 2 2 4 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan pekerja
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

5 Pembesian Tie Bars Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan
2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Menyediakan tempat untuk mengumpulkan
tentang Keselamatan Kerja potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
tidak berceceran.
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.

► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).


- Safety shoes
- Helm
- Sarung tangan
Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 4 KECIL
2 2
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control :
► Administratif control
- Menyediakan sarana utk mencuci tangan
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan


tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di 2 2 4 KECIL
besi tempat kerja
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :
08/MEN/VII/2010 tentang APD ► Administratif control
- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &
telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
radius gerakan pekerja
► Melengkapi pekerja dengan APD.
- Helm
- Safety shoes
- Sarung tangan

6 Pembesian dudukan Dowel


- Pembesian dengan besi polos Menginjak besi / Tetanus Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
potongan besi 08/MEN/VII/2010 tentang APD
Luka berat ► Substitusi : tidak bisa dilakukan

► Engineering Control : tidak bisa dilakukan

► Administratif control

Undang-Undang No. 1 tahun 1970 - Menyediakan tempat untuk mengumpulkan


tentang Keselamatan Kerja potongan besi atau benda tajam lainnya sehingga
- Koordinasi dengan pihak Puskesmas atau RS
terdekat khusus untuk penanganan Gawat Darurat.
► Memakai Alat Pelindung Diri (APD).

- Safety shoes

- Helm

- Sarung tangan

Karat dari besi Iritasi pada telapak Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
tangan 08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Substitusi : tidak bisa dilakukan

► Engineering Control :

► Administratif control

- Menyediakan sarana utk mencuci tangan

► Melengkapi pekerja dengan APD.

- sarung tangan

Kaki / tangan Iritasi Permenakertrans RI No. ► Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
tergores/tertusuk ujung 15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di
Tetanus ► Substitusi : tidak bisa dilakukan

Permenakertrans RI No. ► Engineering Control :


08/MEN/VII/2010 tentang APD
► Administratif control

- Menyediakan tempat khusus utk besi yg akan &


telah di potong sehingga tdk berada dilintasan &
► Melengkapi pekerja dengan APD.

- Helm

- Safety shoes

- Sarung tangan

7 Membuat beton tumbuk K-100 (f'c=7,4MPa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bahan adukan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

8 Pasang Kerb A K-200, 10/15x30x50 cm - Tangan/kaki tertimpa - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
kerb tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
c PEKERJAAN PEDESTRIAN
1 Timbunan Sirtu setempat (dengan alat tamper) - Kaki terkena alat - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
pemadatan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

2 Pasang paving block K-225, t = 6 cm - Tangan - Kulit tergores Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tergores/tertimpa paving tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

3 Pasang Kansteen beton, 10x20x50 cm, K-200 - Tangan - Kulit tergores Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tergores/tertimpa paving tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

N PEMBANGUNAN BUFFER LINGKUNGAN


a PEKERJAAN TANAH
1 Galian tanah biasa sedalam 1 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

2 Urugan tanah kembali Truk terperosok Luka memar di dada Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
terkena stir tentang Keselamatan Kerja
Material yang dibawa Substitusi : tidak bisa dilakukan

tumpah/berceceran
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
► Memakai alat pelindung diri (APD).
menggunakan safety belt selama mengendarai truk
-

Debu berterbangan Sesak napas PP RI No. 41 Tahun 1999 tentang Eliminasi : tidak bisa dilakukan
sepanjang jalan lintasan Pengendalian Pencemaran Udara. ► 2 2 4 KECIL
truk
Iritasi mata ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
secara rutin melakukan penyiraman jalan kerja
'-
untuk mengurangi debu
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- masker debu
- kaca mata keselamatan

Tertimpa alat kerja Luka memar Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik 2 2 4 KECIL
Cedera tentang Keselamatan Kerja Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum

bekerja
► Pastikan pekerja berbadan sehat
Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung

tangan, masker)

3 Pembuangan tanah sejauh 30 meter - Terpleset , tangan Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
tergores alat tentang Keselamatan Kerja

b PEKERJAAN BUFFER LINGKUNGAN DAN LANDSECAP


1 Penanaman Pohon Peneduh Trembesi h = 3-4 m - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

2 Penanaman Pohon Tabebuya Bunga Kuning h = 3-4 m - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

3 Penanaman Pohon hias pucuk merah, tinggi 50-60 cm - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

4 Penanaman Pohon hias Bougenvile varigata merah, tinggi 50-60 - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
cm saat menggali tentang Keselamatan Kerja

5 Penanaman Pohon hias Puring Kura-kura besar, tinggi 40-60 cm - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

6 Penanaman rombusa - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

7 Penanaman grand cover rumput gajah mini - Tangan tergores alat - Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
saat menggali tentang Keselamatan Kerja

O PEMBANGUNAN SUMUR MONITORING ( 2 UNIT )


1 Galian tanah biasa sedalam 1 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

2 Galian tanah biasa sedalam 2 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

3 Galian tanah biasa sedalam 3 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

4 Penggalian Tanah Biasa > 3 m, setiap tambah kedalaman 1 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

5 Galian tanah biasa sedalam 4 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor
Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

6 Galian tanah biasa sedalam 5 m Terkena swing excavator Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
excavator atau alat berat yang lain.
Memasang rambu: "HATI-HATI KENA SWING
-
EXCAVATOR"
Memasang Rambu Peringatan : "DILARANG
-
MENDEKATI ALAT SELAIN PETUGAS".
Memasang Rambu Peringatan : "AREA DITUTUP
-
UNTUK UMUM"
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- Helm
- Safety shoes
- Rompi reflektor

Excavator terguling Luka berat Undang-Undang No 1 tahun 1970 Eliminasi : tidak bisa dilakukan 1 3 3 KECIL

tentang Keselamatan Kerja
► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
Memasang rambu-rambu K3 "HATI-HATI JALAN
-
AMBLAS"
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Menempatkan orang untuk mengawasi kerja
-
Excavator atau alat berat yang lain.
► Memakai alat pelindung diri (APD).
Menggunakan safety belt salama mengoperasikan
-
excavator

7 Buis beton dia. 100 cm, h = 100 cm (pabrikasi) - Tangan/kaki terkena - cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 3 3 KECIL
buis beton tentang Keselamatan Kerja

8 Menurunkan buis beton dia. 100 cm - Tangan/kaki terkena - cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 3 3 KECIL
buis beton tentang Keselamatan Kerja

9 Tutup beton bertulang dia. 100 cm, t = 15 cm - Tangan/kaki terkena - cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 3 3 KECIL
buis beton tentang Keselamatan Kerja

10 Urugan tanah kembali Truk terperosok Luka memar di dada Undang-Undang No 1 tahun 1970

Eliminasi : tidak bisa dilakukan 2 2 4 KECIL
terkena stir tentang Keselamatan Kerja
Material yang dibawa Substitusi : tidak bisa dilakukan

tumpah/berceceran
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
- Melaksanakan Berita Acara Alat Siap Operasi.
Memasang patok batas pengaman / safety railing.
-
Memasang rambu batas kecepatan, yaitu 40
-
km/jam & 25 km/jam
► Memakai alat pelindung diri (APD).
menggunakan safety belt selama mengendarai truk
-

Debu berterbangan Sesak napas PP RI No. 41 Tahun 1999 tentang Eliminasi : tidak bisa dilakukan
sepanjang jalan lintasan Pengendalian Pencemaran Udara. ► 2 2 4 KECIL
truk
Iritasi mata ► Substitusi : tidak bisa dilakukan
► Engineering Control : tidak bisa dilakukan
► Administratif control
secara rutin melakukan penyiraman jalan kerja
'-
untuk mengurangi debu
► Memakai alat pelindung diri (APD).
- masker debu
- kaca mata keselamatan

Tertimpa alat kerja Luka memar Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik 2 2 4 KECIL
tentang Keselamatan Kerja
Cedera tentang Keselamatan Kerja Pastikan melakukan Toolbox meeeting sebelum

bekerja
► Pastikan pekerja berbadan sehat
Memakai APD (sepatu safefty, rompi, helm, sarung

tangan, masker)

11 Pembuangan tanah sejauh 30 meter - Terpleset , tangan Luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Memakai alat pelindung diri (APD). 1 2 2 KECIL
tergores alat tentang Keselamatan Kerja

P PEMBANGUNAN PAGAR BRC KELILING KOLAM IPLT DAN JALAN PAVING KAWASAN
1 Sloof beton bertulang Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Membuat metode kerja yang baik
tentang Keselamatan Kerja
- Membuat beton tumbuk K175 (f'c=14,5 Mpa) - Terpleset atau Tertimpa - Cidera ringan ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
bahan adukan Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

- Pembesian dengan besi polos - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
bendrat Pelindung Diri) yang benar.
- Memasang Bekisting untuk Sloof 2x pakai - Tangan tergores papan, - Kulit tangan terkelupas ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
terkena palu Pelindung Diri) yang benar.

2 Pasang pagar BRC 120 x 240 cm, diameter 8 - Tangan tergores pagar - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

3 Tiang pagar BRC dia. 2", tebal 2 mm - pjg. 175 cm - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Pintu swing ganda BRC t=120 cm, l=2x150 cm (Hot Dip - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
Galvanis) terpasang lengkap dengan engsel, dan asesories tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL
lainnya

5 Timbunan Sirtu setempat (dengan alat tamper) - Kaki terkena alat - Cidera ringan Undang-Undang No 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
2 2 4 KECIL
pemadatan tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

6 Pasang paving block K-225, t = 6 cm - Tangan - Kulit tergores Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tergores/tertimpa paving tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

7 Pasang paving block K-300, t = 8 cm - Tangan - Kulit tergores Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tergores/tertimpa paving tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

8 Pasang Kansteen beton, 10x20x50 cm, K-200 - Tangan - Kulit tergores Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
tergores/tertimpa paving tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar. 1 3 3 KECIL

9 Saluran air hujan U-20 - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

10 Bak kontrol 70x70 cm - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

11 Saluran air hujan buis beton dia. 20 - Tangan tergores - Kulit tangan terkelupas Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

Q PEKERJAAN LAIN-LAIN (TEST OPERASIONAL, KEBOCORAN DAN ALIRAN)


1 Pelatihan & Comissioning : - pekerja terkena cairan - luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
uji tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.
-Bakteri Start Up
-Nutrisi Bakteri Start Up
-Pendampingan Test Comissioning
-Uji Laboratorium - Monitoring Proses

2 Uji kebocoran bak - pekerja terpleset - luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

3 Uji aliran pipa - pekerja terpleset - luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

4 Signage (Penanda Nama Bangunan) - Tangan tergores - luka ringan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 ► Semua pekerja harus menggunakan APD (Alat
1 3 3 KECIL
tentang Keselamatan Kerja Pelindung Diri) yang benar.

Anda mungkin juga menyukai