0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan11 halaman

Aktivitas, Latihan, dan Mobilitas Fisik

Diunggah oleh

maziyyahrafika11
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan11 halaman

Aktivitas, Latihan, dan Mobilitas Fisik

Diunggah oleh

maziyyahrafika11
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

AKYIVITAS DAN LATIHAN

A. Konsep Gangguan Kebutuhan Dasar


1. Pengertian Aktivitas dan Latihan

Menurut Heriana (2014), aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak

dimana manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan

aktivitas/pergerakan merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan dengan

kebutuhan dasar tidur dan saling mempengaruhi seperti istirahat. Kemampuan aktivitas

seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan musculoskeletal.

Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkan untuk

menjaga kinerja otot dan mempertahankan postur tubuh. Latihan dapat memelihara

pergerakan dan fungsi sendi sehingga kondisinya dapat setara dengan kakuatan da

fleksibilitas otot. Selain itu, latihan fisik dapat membuat fungsi gastrointestinal dapat

bekerja lebih optimal dengan meningkatkan selera makan orang tersebut dan melancarkan

eliminasinya karena apabila seseorang tidak dapat melakukan aktivitas fisik secara

adekuat maka hal tersebut dapat membuat abdomen menjadi lemah sehingga fungsi

eliminasinya kurang efektif.

Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara

bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan guna

mempertahankan kesehatannya.

Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat

bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan misalnya mengalami

trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan

sebagainya.

2. Anatomi
Menurut Haswita dan Sulistyowati (2017), sistem tubuh yang berperan dalam

aktivitas adalah sistem muskuloskeletal dan sistem persyarafan.

a. Sistem musculoskeletal
Sistem muskuloskeletal terdiri atas tulang (rangka), otot dan sendi. Gabungan
dari tiga organ tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya aktivitas dan pergerakan.
1) Tulang (rangka)
a) Secara fungsi dari tulang ( rangka) adalah sebagai berikut Menyokong
jaringan tubuh, terasuk memberi bentuk pada tubuh ( postur tubuh)
b) Melindungi bagian tubuh yang lunak, seperti otak,paru-paru, hati dan
medula spinalis.
c) Sebagai tempat melekatnya otot dan tendon, termasuk juga ligament.
d) Sebagai sumber mineral, seperti garam, fosfat dan lemak.
e) Berperan dalam proses hematopoiesis (produksi sel darah)
2) Sendi
Sendi adalah hubungan antara tulang. Setiap sendi diklasifikasikan sesuai
dengan struktur dengan tingkat mobilisasinya.
3) Otot
Otot secara umum berfungsi untuk kontraksi dan mengh asilkan gerakan
gerakan. Otot ada tiga macam otot rangka, otot polos dan otot jantung. Otot
rangka terdapat pada sistem skeletal dan merupakan otot yang paling berperan
dalam mekanik tubuh. Otot rangka berfungsi dalam membantu pengontrolan
gerakan, mempertahankan postur tubuh dan menghasilkan panas.

4) Sistem Persyarafan secara spesifik, sistem persyarafan memiliki beberapa pungsi,


yaitu:
a) saraf aferen (reseptor) berfungsi menerima rangsangan dari luar kemudian
meneruskannya ke susunan saraf pusat.
b) Sel syaraf atau neuron, berfungsi membawa implus dari bagian tubuh satu
kesatu lainnya.
c) Sistem saraf pusat (SSP), berfungsi memproses impuls dan kemudian
memberikan respon melalui syaraf aferen.
d) Saraf aferen, berfungsi menerima respon dari SSP kemudian meneruskan ke
otot rangka.

3. Fisiologi
Menurut Selvi (2016), gerakan terjadi melalui kombinasi kerja sistem

muskuloskeletal dan sistem saraf. Tidak hanya terbatas pada gerakan fisikyang dapat kita

lihat. Ini juga meliputi aktivitas bertahan hidup yang tidak dapat dilihat secara kasat mata

(misalnya penapasan, pencernaan, sirkulasi). Komponen kunci dari gerakan meliputi

tulang, otot, sendi, dan saraf.

a. Tulang (skeleton) memberikan kerangka kerja untuk gerak. Tulang yang rapuh

memiliki kerangka kerja yang buruk dan dapat memburuk kapan saja dan selanjutnya

dapat menghalangi gerak.

b. Sendi adalah titik bertemunya tulang. Ada tiga jenis senddi berbeda: sinartrosis atau

sendi serabut yang tidak mengizinkan gerakan (batas tulang tengkorak); amfiartrosis

atau sendi kartilago yang mengizinkan gerakan ringan (tulang belakang); dan

diartrosis atau sendi synovial yang mengizinkan gerakan maksimal. Sendi synovial

paling banyak mendukung aktivitas. Ligamen merupakan kumpulan jaringan serabut

fleksibel yang menghubungkan tulang satu dengan yang lain. Ligamen yang robek

menghambat stabilitas sendi dan akan merusak gerak.

c. Kontraksi otot dan relaksasi otot berhubungan dengan tendon (struktur berbentuk

gelendong kuat yang melekatkan otot pada tulang) untuk menghasilkan gerak.

d. Sama halnya dengan tidak dapat bergerak tanpa otot dan tendon, otot tidak dapat

bergerak tanpa bantuan sistem saraf pusat (SSP). SSP mengendalikan krontraksi dan

relaksasi otot, yang pada gilirannya menyebabkan fleksi (bengkok) dan ekstensi

(lurus), yang pada akhirnya menghasilkan gerakan yang terkoordinasi dengan baik
4. Etiologi

Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2015), faktor yang mempengaruhi aktivitas adalah

a. Gaya hidup, perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan aktivitas

seseorang karena gaya hidup berdampak pada prilaku atau kebiasaan sehari-hari.

b. Proses penyakit atau cidera, peroses penyakit dapat mempengaruhi kemampuan

aktivitas karena mengganggu fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh : orang yang

menderita fraktur femur akan megalami keterbatasan gerak pada ekstremitas bawah.

c. Kebudayaan Contohnya: orang yang memiliki budaya sering jalan jauh memiliki

kemampuan mobilisasi yang kuat, sebaiknya yang mengalami gangguan mobilisasi

(sakit) karena adat atau budaya tertentu yang melarang untuk beraktivitas.

d. Tingkat energi Energi adalah sumber untuk melakukan aktivitas karena, bila ingin

melakukan aktivitas yang baik maka tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk

memenuhinya.

e. Usia Terdapat perbedaaan kemampuan melakaukan aktivitas pada masing masing

usia tentu berbeda-beda. Contohnya: dari mulai bayi kita blum bisa berjalan dan

sampai bisa berjalan pada usia 1-2 tahun, hal itu yang membuktikan bahwa usia

mempengaruhi aktivitas.

Menurut Hidayat (2014), penyebab gangguan aktivitas adalah sebagai

berikut :

a. Kelainan postur

b. Gangguan perkembangan otot

c. Kerusakan sistem saraf pusat

d. Trauma langsung pada sistem mukuloskeletal dan neuromuscular

e. Kekakuan otot
5.Patofisiologi
Kerusakan otot Gangguan skeletal Gangguan sistem
(trauma, atrofi otot) (fraktur, radang sendi persarafan
dan kekakuan sendi)

Penurunan kekuatan
Gangguan
otot Nyeri akibat adanya penyampaian impuls
peradangan

Hambatan dalam
bergerak Persepsi takut nyeri Terjadi
bertambah saat kekakuan/pergerakan
bergerak yang tidak terkontrol

Penurunan aktifitas

Kesulitan mencapai
pergerakan sesuai
Gangguan dengan yang ingin
Defisit Perawatan Diri dicapai
pemenuhan ADL

Intoleransi Aktifitas Gangguan Mobilitas


Fisik

Kehilangan keseimbangan/
kesulitan mempertahankan
keseimbangan tubuh

Risiko Jatuh

6.Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto Rontgen (Untuk menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi, dan perubahan
hubungan tulang).
b. CT Scan tulang (mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang di daerah yang
sulit untuk dievaluasi)
c. MRI (untuk melihat abnormalitas : tumor, penyempitan jalur jaringan lunak melalui
tulang)
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah dan urine
b. Pemeriksaan Hb
7.Penatalaksanaan medis

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status masalah

kesehatan aktual dan potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi masalah aktual

berdasarkan respon klien terhadap masalah. Manfaat diagnosa keperawatan sebagai

pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan dan gambaran suatu masalah kesehatan

dan penyebab adanya masalah (SDKI: 2016).


Masalah keperawatan yang sering muncul pada klien dengan gangguang

pemenuhan kebutuhan aktivitas adalah

a. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, nyeri, perubahan integritas dan struktur tulang.

b. Nyeri akut b.d spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan

lunak, pemasangan traksi, stres atau ansietas.

Intervensi Keperawatan Fraktur Femur Menurut SIKI :

a. Diagnosa : Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, perubahan integritas dan

struktur tulang.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam masalah klien dapat

teratasi dengan kriteria hasil:

1). Klien dapat meningkat atau mempertahankan mobilitas, posisi pungsional.

2). Dapat menunjukan kemampuan teknik kemampuan melakukan aktivitas.

3). Nyeri berkurang.

Intervensi Utama

1). Dukungan ambulasi

Observasi :

a) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya.

b) Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi

c) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi

d) Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi

Teraupetik :

a) Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu ( mis. Tongkat, dan kruk)

b) Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik.

c) Libatkan keluarga dalam membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi

Edukasi:

a) Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi.

b) Anjurkan untuk melakukan ambulasi dini.

c) Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan(mis.berjalan dari tempat

tidur ke kursi roda dan sebaliknya).


2). Dukungan mobilisasi

Observasi:

a) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan lainnya.

b) Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan.

c) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi.

d) Monitor frekuensi umum selama melakukan mobilisasi.

Terapeutik:

a) Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. Pagar tempat tidur).

b) Fasilitasi melakukan pergerakan

c) Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.

Edukasi:

a) Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi.

b) Anjurkan melakukan mobilisasi dini

c) Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. Duduk ditempat

tidur, duduk disisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).

Intervensi Pendukung

1). Dukungan kepatuhan program pengobatan.

2). Dukungan perawatan diri (BAB/BAK, berpakaian, makan,minum, mandi)

3). Edukasi latihan fisik

4). Eduikasi teknik ambulasi

5). Edukasi teknik transfer

b. Diagnosa : Nyeri akut b.d spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema,

cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stres atau ansietas.

Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam masalah klien teratasi

dengan kriteria hasil :

1). Nyaman dalam beristirahat.

2). Nyeri dapat berkurang.

3). Skala nyeri 0

Intervensi Utama

1). Manajemen nyeri


Observasi :

a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas

nyeri.

b) Identifikasi skala nyeri.

c) Identifikasi respon nyeri nonverbal

d) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.

e) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.

f) Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri.

g) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas nyeri.

h) Monitor keberhasilaan terapi komplomenter yang sudah diberikan.

i) Monitor efek samping penggunaan analgetik.

Terapeutik :

a) Berikan terapi nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.

b) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri ( mis. suhu ruangan,

pencahayaan, dan kebisingan)

c) Fasilitasi istirahat dan tidur.

d) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan

nyeri.

Edukasi:

a) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.

b) Jelaskan strategi meredakan nyeri.

c) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.

d) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat.

e) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.

Kolaborasi:

a) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

b) Pemberian analgesic
Intervensi Pendukung

1). Aromaterapi

2). Dukungan hipnosis diri

3). Dukungan pengungkapan kebutuhan

4). Edukasi efek samping obat

5). Edukasi manajemen nyeri


Daftar Pustaka

Haswita & Sulistyowati, R. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia Untuk Mahasiswa


Keperawatan dan Kebidanan. Jakarta. TIM

Heriana, Pelapina. 2014. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang selatan :
Binarupaaksara

Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2014. Pengantar Kebutuhan Dasar
Manusia.Jakarta : Salemba medika
Selvi, K. (2016). Aktivitas dan Latihan. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2020.
http://selviyanakakasing.blogspot.com/2016/09/aktivitas-dan-latihan.html

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (1st ed.).
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (I).
Jakarta.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.

Wahit. I, Joko. S, & Lilis. I. 2015. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta : Salemba
Medika

Anda mungkin juga menyukai