0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan39 halaman

Gangguan Mobilitas Fisik dan Imobilisasi

Dokumen tersebut membahas tentang aktivitas dan istirahat. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan: 1. Konsep gangguan mobilitas fisik dan penyebabnya seperti trauma, kondisi patologis, dan penyakit seperti hipertensi. 2. Faktor yang mempengaruhi mobilitas seperti gaya hidup, usia, proses penyakit atau cedera, dan budaya. 3. Patofisiologi gangguan mobilitas akibat berbagai kon

Diunggah oleh

Sulaeman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan39 halaman

Gangguan Mobilitas Fisik dan Imobilisasi

Dokumen tersebut membahas tentang aktivitas dan istirahat. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan: 1. Konsep gangguan mobilitas fisik dan penyebabnya seperti trauma, kondisi patologis, dan penyakit seperti hipertensi. 2. Faktor yang mempengaruhi mobilitas seperti gaya hidup, usia, proses penyakit atau cedera, dan budaya. 3. Patofisiologi gangguan mobilitas akibat berbagai kon

Diunggah oleh

Sulaeman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT

Disusun oleh
ANDRI SUTISNA

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KHARISMA KARAWANG TAHUN 2020/2021
AKTIVITAS (MOBILITAS)

A. Konsep Gangguan Mobilitas Fisik


1. Definisi
a. Mobilisasi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kesehatan,
memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degenerative dan
untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi,
membuat nafas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal
normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera
mungkin biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarok, 2008).

b. Imobilisasi
Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja
kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami
penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya (Mubarok, 2008).

Gangguan mobilitas fisik (imobilisasi) didefinisikan oleh North


American Nursing Diagnosis Associantion (NANDA) sebagai suatu
keadaan dimana individu yang mengalami atau beresiko mengalami
keterbatasan gerakan fisik. Individu yang mengalami atau beresiko
mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain: lansia, individu
dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari
atau lebih, individu yang kehilangan fungsi anatomi akibat perubahan
fisiologi (kehilangan fungsi motorik, klien dengan stroke, klien
penggunaan kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti gips atau
traksi), dan pembatasan gerakan volunter (Potter, 2005).
2. Penyebab
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot,
ketidakseimbang dan masalah psikologis. Imobilisasi juga dapat disebabkan
oleh trauma, kondisi patologis, beberapa penyakit yang beresiko
menyebabkan stroke seperti hipertensi, DM, Arterosklerosis, embolis serta
kontak antara bagian tubuh dengan sumber panas ekstrem.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi menurut Aziz Alimul
(2009):
1) Gaya hidup
Mobilitas seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai-nilai
yang dianut, serta lingkungan tempat dia tinggal (masyarakat)
2) Ketidakmampuan
Kelemahan fisik dan mental akan menghalangi seseorang untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Secara umum ketidakmampuan
dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Ketidakmampuan primer yaitu disebabkan oleh penyakit atau
trauma (misalnya: paralisis akibat gangguan atau cedera pada
medulla spinalis).
b) Ketidakmampuan sekunder yaitu terjadi akibat dampak dari
ketidakmampuan primer (misalnya: kelemahan otot dan tirah
baring). Penyakit-penyakit tertentu dan kondisi cedera akan
berpengaruh terhadap mobilitas.
3) Tingkat energy
Energi dibutuhkan untuk banyak hal, salah satunya mobilisasi.Dalam
hal ini cadangan energy yang dimiliki masing-masing individu
bervariasi.
4) Usia dan status perkembangan
Usia berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan
mobilisasi. Terdapat perbedaan kemampuan mobilisasi pada tingkat
usia yang berbeda dalam Potter and Perry (2005). Hal ini dikarenakan
kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak sejalan dengan
perkembangan usia antara lain :
a) Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas
lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku
karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak
seimbang sehingga mudah terjatuh.
b) Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang
belakang servikal dan lumbal lebih nyata
c) Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan
tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat,
berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan
otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan
tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
d) Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih
dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak
disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki
pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang
dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang
dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat
di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas.
e) Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan
normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa
terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari
respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan
pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan.
Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung
lengkung. Klien biasanya mengeluh sakit punggung.
f) Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada
orangtua.

5) Proses Penyakit/Cedera
Proses penyakit dapat memengaruhi kemampuan mobilisasi karena
dapat memengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang
mengalami fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan
dalam ekstremitas bawah. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat
tidur karena menderita penyakit tertentu misalnya penyakit stroke
yang berakibat kelumpuhan typoid dan penyakit kardiovaskuler.
6) Kebudayaan
Kemampuan melakukan mobilisasi dapat juga dipengaruhi
kebudayaan. Contohnya orang yang memiliki budaya sering berjalan
jauh memiliki kemampuan mobilisasi yang kuat; sebaliknya ada orang
yang mengalami gangguan mobilisasi (kaki) karena adat dan
kebudayaan tertentu dilarang untuk beraktivitas.
7) Kondisi patologik
a) Postur abnormal :
(1) Tortikolis : kepala miring pada satu sisi, di mana adanya
kontraktur pada otot sternoklei domanstoid.
(2) Lordosis : kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke
depan/ anterior.
(3) Kifosis : peningkatan kurva spinal torakal.
(4) Kipolordosis : kombinasi dari kifosis dan lordosis.
(5) Skolioasis : kurva spinal yang miring ke samping, tidak
samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu.
(6) Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior
dan lateral.
(7) Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki
karena kerusakan saraf peroneal.
b) Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular, terjadi
karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot
skeletal.
3. Patofisiologi
Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam mobilisasi dapat
disebabkan oleh trauma, kondisi patologis, beberapa penyakit yang beresiko
menyebabkan stroke seperti hipertensi, DM, Arterosklerosis, embolis serta
kontak antara bagian tubuh dengan sumber panas ekstrem. Terjadinya trauma
dan kondisi patologis tersebut dapat menimbulkan adanya fraktur yang
menyebabkan pergeseran fragmen tulang sehingga terjadi perubahan bentuk
(deformitas) yang menimbulkan gangguan fungsi organ dan akhirnya
menimbulkan hambatan mobilitas fisik. Beberapa penyakit seperti hipertensi,
DM, Arterosklerosis, embolis dapat menyebabkan pembekuan darah dan
terjadi penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah ke otak terganggu
dan terjadi iskemia sel-sel otak yang menimbulkan stroke yang menyerang
pembuluh darah otak bagian depan mengakibatkan penurunan kekuatan otot
(hemiparesis) hingga hilangnya kekuatan otot (hemiplegia) yang akhirnya
menimbulkan hambatan mobilitas fisik. Penyebab lain karena kontak
langsung yang terjadi antara tubuh dengan sumber panas ekstrem seperti air
panas, api, bahan kimia, listrik yang menyebabkan combustio (luka bakar) dan
merusak jaringan kulit yang lebih dalam, menimbulkan sensasi nyeri terutama
saat dilakukan pergerakan pada bagian tersebut sehingga terjadi hambatan
mobilitas fisik.

4. Klasifikasi
Menurut Mubarak (2008) secara umum ada beberapa macam mpbilisasi dan
imobilisasi antara lain :
a. Jenis Mobilisasi
1) Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan
interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
2) Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik
pada tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah
tulang dengan pemasangan traksi. Mobilisasi sebagian ini dibagi
menjadi dua jenis, yaitu :
(a) Mobilisasi sebagian temporer, merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Dapat
disebabkan oleh trauma reversible pada sistem musculoskeletal,
contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
(b) Mobilisasi permanen, merupakan kemampuan individu untuk
bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut
disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang ireversible,
contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi
karena cedera tulang belakang, poliomyelitis karena
terganggunya system saraf motorik dan sensorik.

b. Jenis Imobilisasi
1) Imobilisasi fisik, ketidakmampuan bergerak secara fisik karena
terjadi gangguan pada system neuro dan muskoloskeletal secara
langsung maupun komplikasi dari penyakit. Imobilitas fisik juda
merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada
pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan
tekanan di daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi
tubuhnya untuk mengurangi tekanan.
2) Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami keterbatasan daya pikir, seperti pada pasien yang
mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.
3) Imobilisasi emosional, keadaan ktika seseorang mengalami
pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-
tiba dalam menyesuaikan diri. Contohnya keadaan stres berat dapat
disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami
kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang
paling dicintai.
4) Imobilisasi sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan
dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya
sehingga dapat memengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.

5. Gejala Klinis
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) 2012-
2014, batasan karakteristik dari hambatan mobilitas fisik adalah sebagai
berikut:
a. Penurunan waktu reaksi.
b. Kesulitan membolak balik posisi
c. Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti gerakan (mis. Meningkatkan
perhatian pada aktivitas orang lain, mengendalikan prilaku, fokus pada
ketunadayaan/aktivitas sebelum sakit).
d. Dispnea setelah aktivitas.
e. Perubahan cara berjalan.
f. Pergerakan gemetar.
g. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik halus.
h. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar.
i. Keterbatasan rentang pergerakan sendi
j. Tremor akibat pergerakan.
k. Ketidakstabilan postur.
l. Pergerakan lambat.
m. Pergerakan tidak terkodinasi.
6. Fisiologi sistem/ Fungsi normal system
a. Sistem Rangka
Rangka memberikan hubungan antar otot dan ligamen, dan memberikan
suatu pengungkit yang dibutuhkan untuk bergerak. Oleh karena itu,
rangka adalah suatu kerangka pendukung tubuh dan dibentuk oleh
empat jenis tulang, yaitu: tulang panjang, pendek, pipih dan ireguler.
1) Tulang panjang
Berhubungan dengan tinggi (misalnya tulang femur, fibula, dan
tibia pada kaki), dan lebar (misalnya tulang falanges pada jari
tangan dan jari kaki).
2) Tulang pendek
Tulang pendek (misalnya tulang karpal pada kaki dan patela pada
lutut) berada dalam bentuk kelompok, sehingga saat digabungkan
dengan ligamen dan kartilago, memungkinkan gerakan pada
ekstremitas.
3) Tulang pipih
Seperti beberapa tulang di bagian tengkorak dan rusuk pada dada,
memberikan kontur yang struktural.
4) Tulang ireguler
Membentuk kolumna vertebralis dan beberapa tulang di bagian
tengkorak seperti mandibula.
5) Sendi
Sendi adalah penghubung di antara tulang. Masing-masing sendi
diklasifikasikan sesuai struktur dan derajat mobilisasinya.
Terdapat empat klasifikasi sendi, yaitu: sinostotik, kartilago,
fibrosa, dan sinovial.
(a) Sendi sinostotik
Adalah sendi yang menghubungkan anatara tulang. Ini adalah
jenis sendi diam, jaringan yang terbentuk di tulang
memberikan kekuatan dan stabilitas. Contoh klasik jenis sendi
ini adalah tengkorak, yang peleburan sendinya terjadi di usia
yang akan bertambah.
(b) Sendi kartilago
Pada sendi kartilago atau sendi sinkondrosis, berfungsi
menggabungkan komponen tulang. Jenis sendi ini
memungkinkan pertumbuhan tulang. Jenis sendi ini
memungkinkan pertumbuhan tulang, dan tetap memberikan
stabilitas. Saat pertumbuhan tulang lengkap, sendi mengalami
osifikasi (penebalan). Sendi sternokostal yang pertama adalah
contoh sendi sinkrondisis.
(c) Sendi fibrosa
Atau sendi sindesmosis, adalah sendi yang ligamen atau
membrannya menyatukan dua permukaan tulang,
memungkinkan jumlah pergerakan yang terbatas. Tulang
yang berpasangan pada kaki bawah (tibia dan fibula) adalah
contoh dari sendi sindesmotis (Copstead-Kirkhorn dan
Banasik, 2005)
(d) Sendi sinovial
Atau sendi nyata, adalah sendi yang bebas bergerak di mana
permukaan tulang kontigus ditutupi oleh tulang kartilago
artikular, dihubungkan dengan ligamen, serta diselubungi oleh
membran sinovial. Jenis lain dari sendi sinovial adalah sendi
bola dan kantung, misalnya sendi pinggul dan sendi engsel,
contohnya sendi interfalanges pada jari.
6) Ligamen
Ligamen berwarna putih, bercahaya, dan memiliki ikatan jaringan
fibrosa fleksibel yang berikatan pada sendi dan menghubungkan
tulang serta tulang kartilago. Ligamen bersifat elastis dan
membantu fleksibilitas serta mendukung sendi. Beberapa ligamen
memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen yang berada di
antara tubuh vertebratal dan ligamen flavum mencegah tulang
belakang rusak selama melakukan gerakan ke belakang.
7) Tendon
Tendon berwarna putih, berkilau, dan memiliki ikatan jaringan
fibrosa yang menghubungkan otot pada tulang. Tendon bersifat
kuat, fleksibel, dan elastis serta memiliki panjang dan tebal yang
berbeda-beda. Tendon achilses (tendon kalkaneus) adalah tendon
yang paling tebal dan kuat dalam tubuh. Tendon ini berada dekat
bagian tengah kaki bagian belakang, menghubungkan otot
gastronemius dan otot soleus pada betis dengan tulang kalkaneus
di belakang kaki.
8) Kartilago
Kartilago tidak memiliki pembuluh darah, mendukung jaringan
penghubung, terutama berada pada sendi dan toraks, trakea, laring,
hidung, dan telinga. Fetus memiliki tulang kartilago dengan
jumlah yang banyak, yang akan digantikan dengan tulang yang
berkembang selama masa bayi. Kartilago permanen tidak
mengalami osifikasi (penebalan) kecuali pada usia lanjut dan
penyakit seperti osteoartritis.

Sendi, ligamen, tendon, dan katilago memberikan kekuatan dan


fleksibilitas pada rangka. Kekuatan memungkinkan sistem rangka
menopang tubuh. Fleksibilitas seseorang ditunjukkan melalui
rentang gerak (Range of Otion/ROM). Namun, kekuatan dan
fleksibilitas tidak seluruhnya berasal dari keempat struktur ini.
Otot rangka yang adekuat juga berperan.
9) Otot Rangka
Pergerakan tulang dan sendi meliputi proses aktif yang
diintegrasikan dengan hati-hati, untuk meningkatkan koordinasi.
Otot rangka, karena kemampuannya berkontraksi dan relaksasi
serta melekat pada rangka, akan meningkatkan kontraktilitas
elemen-elemen pada otot rangka.

Otot terbuat dari serat, yang berkontraksi saat distimulasi oleh


impuls elektrokimiawi yang berjalan dari saraf ke otot melalui
sambungan neuromuskular. Kontraksi otot dikategorikan
berdaarkan tujuan fungsional, yaitu: bergerak, menahan, atau
menstabilkan bagian-bagian tubuh.
(a) Gerakan Otot dan Postur
Otot yang melekat pada tulang pengungkit memberikan
kekuatan untuk menggerakkan objek. Alat ungkit adalah gaya
memulai atau memaksa gaya terjadi saaat otot tertentu
misalnya humerus, ulnaris, dan radius, serta otot yang
berhubungan (seperti lutut) bekerja bersama-sama sebagai
pengangkat. Gaya diberikan pada salah satu ujung tulang
untuk mengangkat berat badan, namun pada titik yang laian
merotasikan tulang dengan arah yang berlawanan.
(b) Regulasi Otot pada Postur dan Pergerakan
Postur dan pergerakan bergantung pada rangka, bentuk, serta
perkembangan otot rangka. Postur dan pergerakan juga
berkontribusi terhadap fungsi muskuloskeletal dan sering
menunjukkan personalitas, kenyamanan, dan alam perasaan
seseorang. Misalnya, seseorang yang cemas atau depresi
dalam membungkuk, dan seseorang dengan nyeri abdomen,
dapat meringkuk ke posisi seperti janin.

Tonus otot atau tonus, adalah keadaan tegang yang seimbang


pada otot. Tonus otot membantu mempertahankan posisi
seperti duduk atau berdiri tanpa meningkatkan kelelahan otot
dan dipertahankan dengan menggunakan otot secara kontinu.
10) Sistem Saraf
Sistem saraf meregulasi pergerakan dan postur. Girus presental,
atau strip motorik adalah area mototrik volunter yang utama dan
berada pada korteks serebral. Sebagian besar serat mototrik
menurun dari strip motorik dan melintasi medulla. Oleh karena
itu, serat motorik dari strip motorik kanan menginisiasi pergerakan
volunter sisi tubuh bagian kanan.

Selama pergerakan volunter, impuls bergerak turun dari strip


motorik ke korda spinalis. Impuls memasuki korda spinalis melalui
saraf motorik eferen dan melintas melalui saraf. Melalui proses
yang kompleks, neurotransmiter, atau bahan kimiawi seperti
asetilkolin, mentransfer impuls elektrik dari dari saraf melintasi
persambungan neuromuskular ke otot. Neurotransmiter mencapai
otot dan menstimulasi otot sehingga menyebabkan pergerakan.
Pergerakan terganggu karena adanya kelainan yang mengubah
produksi neurotransmiter, mentrasfer impuls dari saraf ke otot,
atau mengaktivasi aktivitas otot. Parkinson adalah salah satu
contoh gangguan tersebut.

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi system


musculoskeletal
a. Tingkat Perkembangan Tubuh
Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neuro muskuler dan
tubuh secara proposional, postu, pergerakan dan refleks akan berfungsi
secara optimal.
a. Kesehatan Fisik
Penyakit, cacat tubuh dan imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan
tubuh.
b. Keadaan Nutrisi
Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, dan obesitas
dapat menyebabkan pergerakan kurang bebas.
c. Emosi
Rasa aman, nyaman dan gembira, sedih dapat mempengaruhi aktivitas
tubuh seseorang.
d. Kelemahan Skeletal dan Neuromuskuler
Adanya abnormal postur seperti scoliosis, lordosis dan kiposis dapat
mempengaruhi pergerakan.

8. Rentang gerak dalam mobilisasi


Dalam mobilisasi terdapat 3 rentang gerak yaitu:
a. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya
perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
b. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan
cara mengguankan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien
menggerakkan kakinya.
c. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan
aktifitas yang diperlukan.

9. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang
abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan
bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi
abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang : Skoliosis, Kifosis, Lordosis.
c. Mengkaji system persendian : Luas gerakan dievaluasi baik aktif
maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya
kekakuan sendi.
d. Mengkaji system otot : Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot
dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas
untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Misanya cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan
selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan
bergetar – penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau
lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi
dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian
kapiler.
g. Mengkaji  fungsional klien

10. Pemeriksaan diagnostik/penunjang


a. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan
perubahan hubungan tulang.
b. CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu
tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak
atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi
lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
c. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus,
noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan
computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau
penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang Dll.
d. Pemeriksaan Laboratorium:
Hb ↓ pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑,
kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.

11. Therapy / tindakan penanganan


Therapy yang dapat dilakukan antara lain menurut Potter and Perry (2005):
a. Kesejajaran Tubuh
Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat, perawat
mengangangkat klien dengan benar, menggunakan teknik posisi yang
tepat, dan memindahkan klien dengan posisi yang aman dari tempat
tidur ke kursi atau brankar.

Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas,


digunakan untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan
fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu : posisi fowler (setengah
duduk), posisi litotomi, posisi dorsal recumbent, posisi supinasi
(terlentang), posisi pronasi (tengkurap), posisi lateral (miring), posisi
sim, posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
b. Mobilisasi Sendi
Untuk menjamin keadekuatan mobilisasi sendi maka perawat dapat
mengajarkan klien latihan ROM (Range Of Motion). Apabila klien
tidak mempunyai control motorik volunteer maka perawat melakukan
latihan rentang gerak pasif. Mobilisasi sendi juga ditingkatkan dengan
berjalan. Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan
tindakan pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan
kelemahan otot. Latihan-latihan itu, yaitu : Fleksi dan ekstensi
pergelangan tangan, fleksi dan ekstensi siku, pronasi dan supinasi
lengan bawah, pronasi fleksi bahu, abduksi dan adduksi, rotasi bahu,
fleksi dan ekstensi jari-jari, infersi dan efersi  kaki fleksi dan ekstensi
pergelangan kaki, fleksi dan ekstensi lutut, rotasi pangkal paha.
c. Mengurangi Bahaya Mobilisasi
Intervensi keperawatan klien imobilisasi harus berfokus mencegah dan
meminimalkan bahaya imobilisasi. Intervensi harus diarahkan untuk
mempertahankan fungsi optimal pada seluruh sistem tubuh.

12. Komplikasi
Dampak dari imobilisasi dalam sangat besar pada tubuh Fundamental
Keperawatan Perry dan Potter (2005) diantaranya adalah:
a. Perubahan Metabolisme
b. Secara umum imobilisasi dapat mengganggu metabolisme secara normal,
mengingat imobilisasi dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme
di dalam tubuh. Hal tersebut dapat dijumpai pada menurunnya basal
metabolism rate (BMR) yang menyebabkan berkurangnya energi untuk
perbaikan sel-sel tubuh, sehingga dapat memengaruhi gangguan oksigenasi
sel.
c. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak
dari imobilisasi akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan
konsentrasi protein serum berkurang sehingga dapat mengganggu
kebutuhan cairan tubuh. Di samping itu, berkurangnya perpindahan
cairan dari intravascular ke interstisial dapat menyebabkan edema
sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
d. Gangguan Fungsi Gastriointestinal
Imobilisasi dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal
ini disebabkan karena imobilisasi dapat menurunkan hasil makanan
yang dicerna, sehingga penurunan jumlah masukan yang cukup dapat
menyebabkan keluhan, seperti perut kembung, mual, dan nyeri
lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.
e. Perubahan Sistem Pernafasan
Akibat imobilisasi, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru
menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses
metabolisme terganggu.
f. Perubahan Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskular juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga
perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja
jantung, dan pembentukan thrombus. Hipotensi ortostatik adalah
penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10mmHg
ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri.
Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,
pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan respon
otonom.
g. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Perubahan yang terjadi dalam sistem muskuloskeletal sebagai dampak dari
imobilisasi adalah sebagai berikut: (Fundamental Keperawatan Potter dan
Perry Edisi 7 Buku 3)
1) Gangguan Muskular. Menurunnya massa otot sebagai dampak
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung.
Menurunnya fungsi kapasitas otot ditandai dengan menurunnya
stabilitas. Kondisi berkurangnya massa otot dapat menyebabkan atropi
pada otot. Sebagai contoh, otot betis seseorang yang telah dirawat lebih
dari enam minggu ukurannya akan lebih kecil selain menunjukkan tanda
lemah atau lesu.
2) Gangguan Skeletal. Adanya imobilitas juga dapat menyebabkan
gangguan skeletal, misalnya akan mudah terjadinya kontraktur sendi dan
osteoporosis. Kontraktur merupakan kondisi yang abnormal dengan
kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan
memendeknya otot.
h. Perubahan Sistem Integumen
Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit
karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilisasi dan terjadinya iskemia
serta nekrosis jaringan superficial dengan adanya luka decubitus sebagai
akibat tekanan kulit yang kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringan.
i. Perubahan Eliminasi
Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi
tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke
dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam
posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar
seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk ke dalam
kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik
ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal
menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter.
j. Perubahan Prilaku
Perubahan perilaku sebagai akibat imobilisasi, antara lain timbulnya
rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan
siklus tidur, dan menurunnya koping mekanisme. Terjadinya perubahan
perilaku tersebut merupakan dampak imobilisasi karena selama proses
imobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri,
kecemasan, dan lain-lain.

B. KONSEP ISTIRAHAT/TIDUR
1. Definisi
Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa adanya tekanan emosional, bukan
hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang
membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti berhenti sebentar untuk
melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri, atau suatu keadaan
melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan, bahkan
menjengkelkan. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 122).
Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh
stimulus atau sensoris yang sesuai (guyton, 1986), atau juga dapat dikatakan
sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh
ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang
berulang, dengan ciri adanya aktivitas yanng minim, memiliki kesadaran yang
bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respon
terhadap rangsangan dari luar. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 122).

2. Fisiologi sistem / Fungsi normal sistem saraf


Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan
mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan
pusatototagardapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh
sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh
tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan
tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam
mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system
(RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan
juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebral termasuk rangsangan emosi
dan proses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan
katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan
disebabkan adanya pelepasan serum serotinin dari sel khusus yang berada di
pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR),
sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat
otak dan sistem limbik. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang
mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.

3. Faktor - faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi sistem saraf


Kualitas dan kuantitas tidur di pengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut
dapat menunjukan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh
jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Diantara faktor yang dapat
memengaruhinya adalah:
a. Penyakit
Sakit dapat memengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit
yang memperbesar kebutuhan tidur, misalnya penyakit yang disebabkan
oleh infeksi (infeksi limpa) akan memerlukan lebih banyak waktu tidur
untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien
kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur.
b. Latihan Dan Kelelahan
Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur
untuk menjaga keseimbangan energi yang telah di keluarkan. Hal tersebut
terlihat pada seseorng yang telah melakukan aktivitas dan mencapai
kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena
tahap tidur gelombang lambatnya di perpendek.
c. Stress Psikologis
Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa.
Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah psikologis
mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
d. Obat
Obat dapat juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat
memengaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretik
menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM,
kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan
untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia,
dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.
e. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses
tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur,
karena adanya trytophan yang merupakan asam amino dari protein yang
dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga
memengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur.
f. Lingkungan
Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat
mempercepat terjadinya proses tidur.
g. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur,
yang dapat memengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk
menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.

4. Macam-macam gangguan yang mungkin terjadi pada sistem saraf


a. Insomnia
Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur
yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang
hanya sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
initial insomnia, merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau
mengawali tidur; intermiten insomnia, merupakan ketidakmampuan tetap
tidur karena selalu terbangun pada malam hari; dan terminal insomnia,
merupakan ketidak mampuan untuk tidur kembali setelah bangun tidur
pada malam hari. Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar disebabkan
oleh adanya rasa khawatir, tekanan jiwa, ataupun stress.
b. Hipersomnia
Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan,
pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari, disebabkan oleh
kemungkinan adanya masalah psikologis, depresi, kecemasa, gangguan
susunan saraf pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.
c. Parasomnia
Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat
mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam
tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari
tidur NREM. Somnambulisme ini dapat menyebabkan cedera.
d. Enuresa
Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur,
atau biasa juga disebut dengan istilah mengompol. Enuresa di bagi menjadi
2 jenis, yaitu: enuresa nokturnel, merupakan mengompol di waktu tidur;
dan enuresa diurnal, mengompol pada saat bangun tidur. Enureksa
nokturnal umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM.
e. Apnea Tidur Dan Mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi
mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah.
Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam pengaliran
udara dihidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh
adanya adenoid, amandel, atau mengendurnya otot di belakang mulut.
Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya pernapasan sehingga dapat
mengakibatkan henti napas. Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat
menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi
menjadi tidak teratur.
f. Narcolepsi
Narcolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur,
misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, atau
disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan
neurologis.
g. Mengigau
Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan di
luar kebiasaan. Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa hampir semua
orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM.

5. Gangguan Pola Tidur Secara Umum


Gangguan pola tidur secara umum merupakan suatu keadaan dimana individu
mengalami atau mempunyai risiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola
istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup
yang diinginkan (carpenito, LJ, 1995). Gangguan ini terlihat pada pasien
dengan kondisi yang memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan
gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di daerah sekitar mata, kelopak mata
bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit
kepala, dan sering menguap atau mengantuk. Penyebab dari gangguan pola
tidur ini antara lain kerusakan transpor oksigen, gangguan metabolisme,
kerusakan eliminasi, pengaruh obat, immobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi,
faktor lingkungan yang mengganggu, dan lain-lain.

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. PENGKAJIAN AKTIVITAS
a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
No. Reg :
Tgl. MRS :
Tgl. Pengkajian :
Dx Medis :
2) Identitas Penanggung Jawab
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Hub.dgn pasien :
b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan saat ini
(a) Alasan masuk rumah sakit
(b) Faktor pencetus
(c) Faktor memperberat nyeri
(d) Keluhan utama
(e) Timbulnya keluhan
(f) Pemahamanaan penatalaksanaan masalah kesehatan
(g) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
(h) Diagnosa medik
2) Status kesehatan masa lalu
(a) Penyakit yang pernah dialami
(b) Pernah dirawat
(c) Operasi
(d) Kebiasaan obat – obatan
3) Riwayat kesehatan keluarga
Pengkajian riwayat penyakit keluarga misalnya tentang ada atau
tidak adanya riwayat alergi, stroke, penyakit jantung, diabetes
meilitus.
c. Pemeriksaan fisik: data focus
1) TTV : TD, Nadi, RR, suhu
2) Mengkaji Skelet Tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran pertumbuhan tulang yang
abnormal akibat tumor tulang.Pemendekan ekstremitas, amputasi
dan bagian tubuh yang tidak dalam sejajaran anatomis.Angulasi
abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.
3) Mengkaji Tulang Belakang
a) Skoliosis (Deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
b) Kifosis (Kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
c) Lordosis (Kurvatura tulang belakang bagian pinggang
berlebihan)
4) Mengkaji sistem persendian
Luas gerakan di evaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas,
stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kakuan sendi.
5) Mengkaji sistem otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan
ukuran masing-masing otot.Lingkar ekstremitas untuk memantau
adanya edema atau atrofi, nyeri otot.
6) Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur diangggap tidak normal. Bila
salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi
neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal
(misalnya cara berjalan spastic hemiparesis-stroke, cara berjalan
selangkah – langkah – penyakit motor neuron, cara berjalan
bergetar – penyakit Parkinson).
7) Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukan adanya suhu yang lebih panas atau
lebih dingin dari lainnya dan adanta edema.Sirkulasi perifer di
evaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu
pengisian kapiler.
8) Mengkaji fungsional klien

d. Pemeriksaan penunjang
1) Sinar X tulang, menggambarkan kepadatan tulang, tekstur dan
perbuatan hubungan tulang.
2) Laboratorium: darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah
crostet dan analisa.
3) Radiologis
(a) Dua gambar, anterior posterior (AP) dan lateral.
(b) Memuat 2 sendi diroksimal dan distol fraktur.
(c) Memuat gambar foto 2 ektermitas, yaitu ektermitas yang
terkena cidera dan ektermitas yang tidak terkena cedera.
4) Derajat kekuatan otot
PESENTASE
SKALA KEKUATAN KARAKTERISTIK
NORMAL
(%)
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tindakan ada gerakan, kontraksi
otot dapat di palpasi atau di lihat
2 25 Gerakan otot penuh melawan
grafitasi dengan topangan
3 75 Gerakan yang normal melawan
gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang normal
melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
5 100 Kekuatan normal, gerakan penuh
yang normal melawan gravitasi
dan tahanan yang penuh

5) Rentang gerak ( range of mation-ROM)


GERAK SENDI DERAJAT
RENTANG
NORMAL
BAHU Aduksi : gerakan lengan ke
lateral dari posisi samping 180
keatas kepala, telapak tangan
menghadap ke posisi yang
paling jauh.
SIKU Fleksi : angkat lengan bawah
ke arah depan dan ke arah atas 150
menuju bahu.
PERGELANGAN Fleksi : tekuk jari – jari tangan
TANGAN ke arah bagian dalam lengan 80-90
bawah.
Ekstensi : luruskan pergelangan
tangan dari posisi fleksi 80/90
Hiperekstensi : tekuk jari – jari
tangan kea rah belakang sejauh 70-90
mungkin
Abduksi : tekuk pergelangan
tangan ke sisi ibu jari ketika 0-20
telapak tangan menghadap ke
atas.
Aduksi : tekuk pergelangan
tangan ke arah kelingking 50-50
telapak tangan menghadap ke
atas
Tangan dan jari Fleksi : buat kepalan tangan 90
Ekstensi : luruskan jari 90
Hiperekstensi : tekuk jari- jari
tangan ke belakang sejauh 30
mungkin
Abduksi : kembangkan jari 20
tangan
Aduksi :rapatkan jari – jari
tangan dari posisi abduksi 20

2. PENGKAJIAN ISTIIRAHAT TIDUR


a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
No. Reg :
Tgl. MRS :
Tgl. Pengkajian :
Dx Medis :
2) Identitas Penanggung Jawab
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Hub.dgn pasien :

b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan saat ini
2) Riwayat kesehatan masa lalu
3) Riwayat kesehatan keluarga
4) Riwayat Tidur
Pengkajian riwayat tidur secara umum dilakukan segera setelah
klien memasuki fasilitas perawatan. Ini memungkinkan perawat
menggabungkan kebutuhan klien dan hal – hal yang ia sukai ke
dalam rencana perawatan. Riwayat tidur ini meliputi :
(a) Pola tidur yang biasa
(b) Ritual sebelum tidur
(c) Penggunaan obat tidur atau obat – obat lainnya
(d) Lingkungan tidur
(e) Perubahan terkini papa pola tidur.

Selain itu, riwayat ini juga harus mencakup berbagai masalah yang
ditemui pada pola tidur, penyebabnya, kapan pertama kali masalah
tersebut muncul, frekuensinya, pengaruhnya terhadap keseharian klien,
dan bagaimana klien berkoping dengan masalah tersebut.

5) Catatan Tidur
Catatan tidur sangatlah bermanfaat, khususnya untuk klien yang
memiliki masalah tidur sebab catatan ini berisis berbagai
informasi penting terkait pola tidur klien. Catatan tidur dapat
mencakup keseluruhan atau sebagian dari informasi berikut.
(a) Jumlah jam tidur total per hari.
(b) Aktivitas yang dilakukan 2 -3 jam sebelum tidur (jenis, durasi,
dan waktu).
(c) Ritual sebelum tidur (mis., minum air, obat tidur).
(d) Waktu (a) pergi tidur, (b) mencoba tidur, (c) tertidur, (d) terjaga
di malam hari dan durasinya, serta (e) bangun tidur dipagi hari.
(e) Adanya masalah yang klien yakini dapat memengaruhin
tidurnya.
(f) Faktor yang klien yakini member pengruh positif atau negatif
pada tidurnya.
Kemudian, perawat dapat mengembangkan data tersebut
menjadi bagan atau grafik yang berguna untuk mengidentifikasi
masalah tidur yang klien alami.

c. Pemeriksaan fisik : data fokus


Pemeriksaan fisik meliputi observasi penampilan, perilaku, dan tingkat
energy klien. Penampilan yang menandakan klien mengalami masalah
tidur antara lain adanya lingkaran hitam disekitar mata, konjungtiva
kemerahan, kelopak mata bengkak, dll. Sedangkan indikasi perilaku
dapat meliputi iritabilitas, gelisah, tidak perhatian, bicara lambat,
menguap, dll. Di samping itu, klien yang mengalami masalah tidur juga
dapat trelihat lemah, letargi, atau lelah akibat kekurangan energi.

d. Pemeriksaan penunjang
Tidur dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang
disebut polisomnografi. Alat ini dapat merekam elektroensefalogram
(EEG), elektromiogram (EMG), dan elektro-okulogram (EOG)
sekaligus. Dengan alat ini, kita dapat mengkaji aktivitas klien selama
tidur. Aktivitas klien lakukan tanpa sadar tersebut bisa jadi merupakan
penyebab seringnya klien terjaga di malam hari.

3. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a. Gangguan mobilitas fisik
b. Intoleransi aktivitas
c. Defisit perawatan diri
d. Gangguan pola tidur

4. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosis Intervensi
1 Gangguan Dukungan ambulasi
mobilitas fisik Observasi:
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
lainya
- Identifikasi toleransi fisik melakukan
ambulasi
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
sebelum memulai ambulasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan
ambulasi
Terapeutik:
- Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
(mis. tongkat, kruk)
- Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika
perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan ambulasi
Edukasi:
- Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
- Anjurkan melakukan ambulasi dini
- Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
dilakukan (mis. berjalan dari tempat tidur ke
kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke
kamar mandi, berjalan sesuai toleransi)
Dukungan mobilisasi
Observasi:
- Identifikasi adanya nyeri aau eluhan fisik
lainya
- Identifikasi toleransi fisik melakukaan
pergerakan
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
sebelum memulai mobilisasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan
mobilisasi
Terapeutik:
- Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
bantu (mis. pagar tempat tidur)
- Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan pergerakan
Edukasi:
- Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
- Anjurkan melakukan mobilisasi dini
- Ajarkan mobilisasi sederhan yang harus
dilakukan (mis. duduk di tempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur, pindh dari tempat tidur ke
kursi)

Teknik latihan penguatan otot


Observasi :
- Identifikasi tingkat kebugaran otot dengan
menggunakan lapangan latihan atau
laboratorium tes (mis. Aangkat mangsimum,
jumlah daftar per unit waktu)
- Identifikasi jenis daan durasi aktivitas
pemanasan/ pendinginan
- Monitor efektifitas latihan
Terapeutik:
- Lakukan latihan sesuai program yang
ditentukan
- Fasilitasi menetapkan tujuan jangka pendek
dan jangka panjang yang realistis dalam
menentukan rencana latihan
- Fasilitasi mendapatkan sumber daya yang
dibutuhkan dilingkungan rumah atau tempat
kerja
- Fasilitasi mengembangkan program latihan
yang sesuai dengan kebugaran otot, kendala
muskuloskeletal, tujuan fungsional kesehatan,
sumber daya peralatan olahraga dan
dukungan sosial
- Fasilitasi mengubah program atau
mengembangkan strategi lain untuk
mencegah bosan dan putus latihan
- Berikan intruksi tertulis tentang pedoman dan
bentuk gerakan untuk setiap gerakan otot
Edukasi:
- Jelaskan fungsi otot, olahraga dan
konsekuensi tidak digunakanya otot
- Ajarkan tanda dan gejala intoleransi selama
dan setelah sesi latihan (mis. Kelemahan,
kelelahan ekstrem, angina, palpitasi)
- Anjurkan menghindari latihan selama suhu
ekstrem
Kolaborasi:
- Tetapkan jadwal tindak lanjut untuk
mempertahankan motivasi, memfasilitasi
pemecahan
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (mis.
Terapis aktivitas, ahli fisiologi olahraga,
terapis okupasi, terapis relaksasi, terapis fisik)
dalam perencanaan, pengajaran dan monitor
program latihan otot

Teknik latihan penguatan sendi


Observasi:
- Identifikasi keterbatasan fungsi dan gerak
sendi
- Monitor lokasi dan sifat ketidaknyamanan
atau rasa sakit selama gerakan/aktivitas
Terapeutik:
- Lakukan pengendalian nyeri sebelum
memulai latihan
- Berikan posisi tubuh optimal untuk gerakan
sendi pasif atau aktif
- Fasilitasi menyusun jadwal latihan rentang
gerak aktif maupun pasif
- Fasilitasi gerak sendi teratur dalam batas-
batas rasa sakit, ketahanan dan mobilitas
sendi
- Berikan penguatan positif untuk melakukan
latihan bersama
Edukasi:
- Jelaskan kepada pasien/ keluarga tujjuan dan
rencanakn latihan bersama
- Anjurkan duduk ditempat tidur, di sisi tempat
tidur (menjuntai), atau di kursi, sesuai
toleransi
- Anjurkan melakukan latihan rentang gerak
aktif dan pasif secara sistematis
- Njurkan memvisualisasikan gerak tubuh
sebelum memulai gerakan
- Anjurkan ambulasi, sesuai toleransi
Kolaborasi:
- Kolaborasi dengan fisioterapi dalam
mengembangkan dan melaksanakan program
latihan
2 Intoleransi Tindakan
aktivitas
1. Manajemen Energi
 Observasi
- Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan
- Monitor kelemahan fisik dan emosional
- Monitor pola dan jam tidur
- Monitor lokasi dan ketidaknyamanan
selama melakukan aktivitas
 Terapeutik
- Sediakan lingkungan nyaman dan rendah
stimulus (mis, cahaya, suara, kunjungan)
- Lakukan latihan rentang gerak pasif
dan/atau aktif
- Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
- Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika
tidak dapat berpindah atau berjalan
 Edukasi
- Anjurkan tirah baring
- Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap
- Anjurkan menghubungi perawat jika
tanda dan gejala kelelahan tidak
berkurang
- Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
 Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan makanan

2. Terapi Aktivitas
 Observasi
- Identifikasi defisit tingkat aktivitas
- Identifikasi kemampuan berpartisipasi
dalam aktivitas tertentu
- Identifikasi sumber daya untuk aktivitas
yang diinginkan
- Identifikasi strategi meningkatkan
partisipasi dalam aktivitas
- Identifikasi makna aktivitas rutin (mis,
bekerja) dan waktu luang
- Monitor respon emosional, fisik, sosial,
dan spiritual terhadap aktivitas

 Terapeutik
- Fasilitasi fokus pada kemmpuan, bukan
defisit yang dialami
- Sepakati komitmen untuk meningkatkan
frekuensi dan rentang aktivitas
- Kordinasikan pemilihan aktivitas sesuai
usia
- Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
- Fasilitasi aktifitas rutin (mis. Ambulasi,
mobilisasi, dan perawatan diri)< sesuai
kebutuhan
- Fasilitasi aktivitas motorik untuk
merelaksasikan otot
- Libatkn keluarga dalam aktivitas, jika
perlu
- Fasilitasi mengembangkan motivasi dan
penguatan diri
- Fasilitasi pasien dan keluarga memantu
kemajuannya sendiri untuk mencapai
tujuan
- Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari
hari
- Berikan enguatan positif atas partisipasi
dalam aktivitas

 Edukasi
- Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-
hari, jika perlu
- Ajarkan cara melakukan aktivitas yang
dipilih
- Anjurkan melakukan aktivitas fisik,
sosial, spiritual, dan kongnitif dalam
menjaga fungsi dan kesehatan
- Anjurkan terlibat dalam aktivitas
kelompok atau terapi, jika sesuai
- Anjurekan keluarga untuk memberi
penguatan positif atas partisipasi dalam
aktivitas
 Kolaborasi
- Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam
merencanakan dan memonitor program
aktivitas, jika sesuai
- Rujuk pada pusat atau program aktivitas
komunitas, jika perlu
3 Defisit perawatan Dukungan perawatan diri
diri Observasi:
- Identifikasi kebiasaan ativisata perawatan diri
nsesuai usia
- Monitor tingkak kemandirian
- Identifiksi kebutuhan alat bantu kebersihan
diri, berpakaian, berhias, dan makan.
Terapeutik:
- Sediakan lingkungan yang terapeutik (mis.
Suasana hangat, rileks, privasi)
- Siapkan keperluan pribadi (mis. Parfum, sikat
gigi, dan sabun mandi)
- Dampingi dalam melakukan perawatan diri
sampai mandiri
- Fasilitasi untuk menerima keadaan
ketergantungan
- Faasilitsi kemandirian, bantu jika tidak
mampu melakukan perawatan diri
- Jadwalkan rutinitas perawatan diri

Edukasi:
- Anjurkan melakukan perawatan diri secara
konsisten sesuai kemampuan
4 Gangguan pola Dukungan tidur
tidur Observasi:
- Identifikasi pla aktivitas dan tidur
- Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik
dan/atau psikologis)
- Identifikasi makanan dan minuman yang
mengganggu tidur (mis. kopi, teh, alkohol,
makan mendekati waktu tidur, minum
banyak air sebelum tidur)
- Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Terapeutik:

- Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan,


kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur)
- Batasi waku tidur siang, jika perlu
- Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
- Tetapkan jadwal tidur rutin
- Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan (mis. pijat, pengaturan posisi,
terapi akupresur)
- Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau
tindakan untuk menunjang siklus tidur-
terjaga
Edukasi:

- Jelaskan pentingnya tidur cukup selama


sakit
- Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
- Anjurkan menghindari makanan/minuman
yang mengganggu tidur
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang
tidak mengandung supresor terhadap tidur
REM
- Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi
terhadap gangguan pola tidur (mis.
psikologis, gya hidup, sering berubah shift
bekerja)
- Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya.

Edukasi aktivitas/istirahat
Observasi:
- Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Terapeutik:

- Sediakan materi dan media pengaturan


aktivitas dan istirahat
- Jadwalkan pemberian pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan
- Berikan kesempatan kepada pasien dan
keluarga untuk bertanya

Edukasi:

- Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas


fisik/ olahraga secara rutin
- Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok,
ktivitas bermain atau aktivitas lainnya
- Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan
istirahat
- Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan
istirahat (mis. kelelahan, sesak napas saat
aktivitas)
- Ajarkan cara mengidentifikasi target dan
jenis aktivitas sesuai kemampuan

Daftar Pustaka
Amin. H. N & Hardhi. K. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis & nanda nic-noc. Yogyakarta: Mediaction.
Mubarak, Wahit Iqbal. (2008). Buku ajar kebutuhan dasar manusia teori dan
aplikasi dalam praktik. Jakarta: EGC.
Perry & Potter. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 7. Jakarta: EGC
Tim pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. DPP PPNI
Tim pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. DDPI

Anda mungkin juga menyukai