Gangguan Mobilitas Fisik dan Imobilisasi
Gangguan Mobilitas Fisik dan Imobilisasi
Disusun oleh
ANDRI SUTISNA
b. Imobilisasi
Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja
kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami
penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya (Mubarok, 2008).
5) Proses Penyakit/Cedera
Proses penyakit dapat memengaruhi kemampuan mobilisasi karena
dapat memengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang
mengalami fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan
dalam ekstremitas bawah. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat
tidur karena menderita penyakit tertentu misalnya penyakit stroke
yang berakibat kelumpuhan typoid dan penyakit kardiovaskuler.
6) Kebudayaan
Kemampuan melakukan mobilisasi dapat juga dipengaruhi
kebudayaan. Contohnya orang yang memiliki budaya sering berjalan
jauh memiliki kemampuan mobilisasi yang kuat; sebaliknya ada orang
yang mengalami gangguan mobilisasi (kaki) karena adat dan
kebudayaan tertentu dilarang untuk beraktivitas.
7) Kondisi patologik
a) Postur abnormal :
(1) Tortikolis : kepala miring pada satu sisi, di mana adanya
kontraktur pada otot sternoklei domanstoid.
(2) Lordosis : kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke
depan/ anterior.
(3) Kifosis : peningkatan kurva spinal torakal.
(4) Kipolordosis : kombinasi dari kifosis dan lordosis.
(5) Skolioasis : kurva spinal yang miring ke samping, tidak
samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu.
(6) Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior
dan lateral.
(7) Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki
karena kerusakan saraf peroneal.
b) Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular, terjadi
karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot
skeletal.
3. Patofisiologi
Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam mobilisasi dapat
disebabkan oleh trauma, kondisi patologis, beberapa penyakit yang beresiko
menyebabkan stroke seperti hipertensi, DM, Arterosklerosis, embolis serta
kontak antara bagian tubuh dengan sumber panas ekstrem. Terjadinya trauma
dan kondisi patologis tersebut dapat menimbulkan adanya fraktur yang
menyebabkan pergeseran fragmen tulang sehingga terjadi perubahan bentuk
(deformitas) yang menimbulkan gangguan fungsi organ dan akhirnya
menimbulkan hambatan mobilitas fisik. Beberapa penyakit seperti hipertensi,
DM, Arterosklerosis, embolis dapat menyebabkan pembekuan darah dan
terjadi penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah ke otak terganggu
dan terjadi iskemia sel-sel otak yang menimbulkan stroke yang menyerang
pembuluh darah otak bagian depan mengakibatkan penurunan kekuatan otot
(hemiparesis) hingga hilangnya kekuatan otot (hemiplegia) yang akhirnya
menimbulkan hambatan mobilitas fisik. Penyebab lain karena kontak
langsung yang terjadi antara tubuh dengan sumber panas ekstrem seperti air
panas, api, bahan kimia, listrik yang menyebabkan combustio (luka bakar) dan
merusak jaringan kulit yang lebih dalam, menimbulkan sensasi nyeri terutama
saat dilakukan pergerakan pada bagian tersebut sehingga terjadi hambatan
mobilitas fisik.
4. Klasifikasi
Menurut Mubarak (2008) secara umum ada beberapa macam mpbilisasi dan
imobilisasi antara lain :
a. Jenis Mobilisasi
1) Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan
interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
2) Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik
pada tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah
tulang dengan pemasangan traksi. Mobilisasi sebagian ini dibagi
menjadi dua jenis, yaitu :
(a) Mobilisasi sebagian temporer, merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Dapat
disebabkan oleh trauma reversible pada sistem musculoskeletal,
contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
(b) Mobilisasi permanen, merupakan kemampuan individu untuk
bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut
disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang ireversible,
contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi
karena cedera tulang belakang, poliomyelitis karena
terganggunya system saraf motorik dan sensorik.
b. Jenis Imobilisasi
1) Imobilisasi fisik, ketidakmampuan bergerak secara fisik karena
terjadi gangguan pada system neuro dan muskoloskeletal secara
langsung maupun komplikasi dari penyakit. Imobilitas fisik juda
merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada
pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan
tekanan di daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi
tubuhnya untuk mengurangi tekanan.
2) Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami keterbatasan daya pikir, seperti pada pasien yang
mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.
3) Imobilisasi emosional, keadaan ktika seseorang mengalami
pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-
tiba dalam menyesuaikan diri. Contohnya keadaan stres berat dapat
disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami
kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang
paling dicintai.
4) Imobilisasi sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan
dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya
sehingga dapat memengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.
5. Gejala Klinis
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) 2012-
2014, batasan karakteristik dari hambatan mobilitas fisik adalah sebagai
berikut:
a. Penurunan waktu reaksi.
b. Kesulitan membolak balik posisi
c. Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti gerakan (mis. Meningkatkan
perhatian pada aktivitas orang lain, mengendalikan prilaku, fokus pada
ketunadayaan/aktivitas sebelum sakit).
d. Dispnea setelah aktivitas.
e. Perubahan cara berjalan.
f. Pergerakan gemetar.
g. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik halus.
h. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar.
i. Keterbatasan rentang pergerakan sendi
j. Tremor akibat pergerakan.
k. Ketidakstabilan postur.
l. Pergerakan lambat.
m. Pergerakan tidak terkodinasi.
6. Fisiologi sistem/ Fungsi normal system
a. Sistem Rangka
Rangka memberikan hubungan antar otot dan ligamen, dan memberikan
suatu pengungkit yang dibutuhkan untuk bergerak. Oleh karena itu,
rangka adalah suatu kerangka pendukung tubuh dan dibentuk oleh
empat jenis tulang, yaitu: tulang panjang, pendek, pipih dan ireguler.
1) Tulang panjang
Berhubungan dengan tinggi (misalnya tulang femur, fibula, dan
tibia pada kaki), dan lebar (misalnya tulang falanges pada jari
tangan dan jari kaki).
2) Tulang pendek
Tulang pendek (misalnya tulang karpal pada kaki dan patela pada
lutut) berada dalam bentuk kelompok, sehingga saat digabungkan
dengan ligamen dan kartilago, memungkinkan gerakan pada
ekstremitas.
3) Tulang pipih
Seperti beberapa tulang di bagian tengkorak dan rusuk pada dada,
memberikan kontur yang struktural.
4) Tulang ireguler
Membentuk kolumna vertebralis dan beberapa tulang di bagian
tengkorak seperti mandibula.
5) Sendi
Sendi adalah penghubung di antara tulang. Masing-masing sendi
diklasifikasikan sesuai struktur dan derajat mobilisasinya.
Terdapat empat klasifikasi sendi, yaitu: sinostotik, kartilago,
fibrosa, dan sinovial.
(a) Sendi sinostotik
Adalah sendi yang menghubungkan anatara tulang. Ini adalah
jenis sendi diam, jaringan yang terbentuk di tulang
memberikan kekuatan dan stabilitas. Contoh klasik jenis sendi
ini adalah tengkorak, yang peleburan sendinya terjadi di usia
yang akan bertambah.
(b) Sendi kartilago
Pada sendi kartilago atau sendi sinkondrosis, berfungsi
menggabungkan komponen tulang. Jenis sendi ini
memungkinkan pertumbuhan tulang. Jenis sendi ini
memungkinkan pertumbuhan tulang, dan tetap memberikan
stabilitas. Saat pertumbuhan tulang lengkap, sendi mengalami
osifikasi (penebalan). Sendi sternokostal yang pertama adalah
contoh sendi sinkrondisis.
(c) Sendi fibrosa
Atau sendi sindesmosis, adalah sendi yang ligamen atau
membrannya menyatukan dua permukaan tulang,
memungkinkan jumlah pergerakan yang terbatas. Tulang
yang berpasangan pada kaki bawah (tibia dan fibula) adalah
contoh dari sendi sindesmotis (Copstead-Kirkhorn dan
Banasik, 2005)
(d) Sendi sinovial
Atau sendi nyata, adalah sendi yang bebas bergerak di mana
permukaan tulang kontigus ditutupi oleh tulang kartilago
artikular, dihubungkan dengan ligamen, serta diselubungi oleh
membran sinovial. Jenis lain dari sendi sinovial adalah sendi
bola dan kantung, misalnya sendi pinggul dan sendi engsel,
contohnya sendi interfalanges pada jari.
6) Ligamen
Ligamen berwarna putih, bercahaya, dan memiliki ikatan jaringan
fibrosa fleksibel yang berikatan pada sendi dan menghubungkan
tulang serta tulang kartilago. Ligamen bersifat elastis dan
membantu fleksibilitas serta mendukung sendi. Beberapa ligamen
memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen yang berada di
antara tubuh vertebratal dan ligamen flavum mencegah tulang
belakang rusak selama melakukan gerakan ke belakang.
7) Tendon
Tendon berwarna putih, berkilau, dan memiliki ikatan jaringan
fibrosa yang menghubungkan otot pada tulang. Tendon bersifat
kuat, fleksibel, dan elastis serta memiliki panjang dan tebal yang
berbeda-beda. Tendon achilses (tendon kalkaneus) adalah tendon
yang paling tebal dan kuat dalam tubuh. Tendon ini berada dekat
bagian tengah kaki bagian belakang, menghubungkan otot
gastronemius dan otot soleus pada betis dengan tulang kalkaneus
di belakang kaki.
8) Kartilago
Kartilago tidak memiliki pembuluh darah, mendukung jaringan
penghubung, terutama berada pada sendi dan toraks, trakea, laring,
hidung, dan telinga. Fetus memiliki tulang kartilago dengan
jumlah yang banyak, yang akan digantikan dengan tulang yang
berkembang selama masa bayi. Kartilago permanen tidak
mengalami osifikasi (penebalan) kecuali pada usia lanjut dan
penyakit seperti osteoartritis.
9. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang
abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan
bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi
abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang : Skoliosis, Kifosis, Lordosis.
c. Mengkaji system persendian : Luas gerakan dievaluasi baik aktif
maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya
kekakuan sendi.
d. Mengkaji system otot : Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot
dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas
untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Misanya cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan
selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan
bergetar – penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau
lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi
dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian
kapiler.
g. Mengkaji fungsional klien
12. Komplikasi
Dampak dari imobilisasi dalam sangat besar pada tubuh Fundamental
Keperawatan Perry dan Potter (2005) diantaranya adalah:
a. Perubahan Metabolisme
b. Secara umum imobilisasi dapat mengganggu metabolisme secara normal,
mengingat imobilisasi dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme
di dalam tubuh. Hal tersebut dapat dijumpai pada menurunnya basal
metabolism rate (BMR) yang menyebabkan berkurangnya energi untuk
perbaikan sel-sel tubuh, sehingga dapat memengaruhi gangguan oksigenasi
sel.
c. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak
dari imobilisasi akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan
konsentrasi protein serum berkurang sehingga dapat mengganggu
kebutuhan cairan tubuh. Di samping itu, berkurangnya perpindahan
cairan dari intravascular ke interstisial dapat menyebabkan edema
sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
d. Gangguan Fungsi Gastriointestinal
Imobilisasi dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal
ini disebabkan karena imobilisasi dapat menurunkan hasil makanan
yang dicerna, sehingga penurunan jumlah masukan yang cukup dapat
menyebabkan keluhan, seperti perut kembung, mual, dan nyeri
lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.
e. Perubahan Sistem Pernafasan
Akibat imobilisasi, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru
menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses
metabolisme terganggu.
f. Perubahan Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskular juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga
perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja
jantung, dan pembentukan thrombus. Hipotensi ortostatik adalah
penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10mmHg
ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri.
Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,
pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan respon
otonom.
g. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Perubahan yang terjadi dalam sistem muskuloskeletal sebagai dampak dari
imobilisasi adalah sebagai berikut: (Fundamental Keperawatan Potter dan
Perry Edisi 7 Buku 3)
1) Gangguan Muskular. Menurunnya massa otot sebagai dampak
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung.
Menurunnya fungsi kapasitas otot ditandai dengan menurunnya
stabilitas. Kondisi berkurangnya massa otot dapat menyebabkan atropi
pada otot. Sebagai contoh, otot betis seseorang yang telah dirawat lebih
dari enam minggu ukurannya akan lebih kecil selain menunjukkan tanda
lemah atau lesu.
2) Gangguan Skeletal. Adanya imobilitas juga dapat menyebabkan
gangguan skeletal, misalnya akan mudah terjadinya kontraktur sendi dan
osteoporosis. Kontraktur merupakan kondisi yang abnormal dengan
kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan
memendeknya otot.
h. Perubahan Sistem Integumen
Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit
karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilisasi dan terjadinya iskemia
serta nekrosis jaringan superficial dengan adanya luka decubitus sebagai
akibat tekanan kulit yang kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringan.
i. Perubahan Eliminasi
Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi
tegak lurus, urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke
dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam
posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar
seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk ke dalam
kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi peristaltik
ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal
menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter.
j. Perubahan Prilaku
Perubahan perilaku sebagai akibat imobilisasi, antara lain timbulnya
rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan
siklus tidur, dan menurunnya koping mekanisme. Terjadinya perubahan
perilaku tersebut merupakan dampak imobilisasi karena selama proses
imobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri,
kecemasan, dan lain-lain.
B. KONSEP ISTIRAHAT/TIDUR
1. Definisi
Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa adanya tekanan emosional, bukan
hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang
membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti berhenti sebentar untuk
melepaskan lelah, bersantai untuk menyegarkan diri, atau suatu keadaan
melepaskan diri dari segala hal yang membosankan, menyulitkan, bahkan
menjengkelkan. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 122).
Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh
stimulus atau sensoris yang sesuai (guyton, 1986), atau juga dapat dikatakan
sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh
ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang
berulang, dengan ciri adanya aktivitas yanng minim, memiliki kesadaran yang
bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respon
terhadap rangsangan dari luar. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 122).
d. Pemeriksaan penunjang
1) Sinar X tulang, menggambarkan kepadatan tulang, tekstur dan
perbuatan hubungan tulang.
2) Laboratorium: darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah
crostet dan analisa.
3) Radiologis
(a) Dua gambar, anterior posterior (AP) dan lateral.
(b) Memuat 2 sendi diroksimal dan distol fraktur.
(c) Memuat gambar foto 2 ektermitas, yaitu ektermitas yang
terkena cidera dan ektermitas yang tidak terkena cedera.
4) Derajat kekuatan otot
PESENTASE
SKALA KEKUATAN KARAKTERISTIK
NORMAL
(%)
0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tindakan ada gerakan, kontraksi
otot dapat di palpasi atau di lihat
2 25 Gerakan otot penuh melawan
grafitasi dengan topangan
3 75 Gerakan yang normal melawan
gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang normal
melawan gravitasi dan melawan
tahanan minimal
5 100 Kekuatan normal, gerakan penuh
yang normal melawan gravitasi
dan tahanan yang penuh
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan saat ini
2) Riwayat kesehatan masa lalu
3) Riwayat kesehatan keluarga
4) Riwayat Tidur
Pengkajian riwayat tidur secara umum dilakukan segera setelah
klien memasuki fasilitas perawatan. Ini memungkinkan perawat
menggabungkan kebutuhan klien dan hal – hal yang ia sukai ke
dalam rencana perawatan. Riwayat tidur ini meliputi :
(a) Pola tidur yang biasa
(b) Ritual sebelum tidur
(c) Penggunaan obat tidur atau obat – obat lainnya
(d) Lingkungan tidur
(e) Perubahan terkini papa pola tidur.
Selain itu, riwayat ini juga harus mencakup berbagai masalah yang
ditemui pada pola tidur, penyebabnya, kapan pertama kali masalah
tersebut muncul, frekuensinya, pengaruhnya terhadap keseharian klien,
dan bagaimana klien berkoping dengan masalah tersebut.
5) Catatan Tidur
Catatan tidur sangatlah bermanfaat, khususnya untuk klien yang
memiliki masalah tidur sebab catatan ini berisis berbagai
informasi penting terkait pola tidur klien. Catatan tidur dapat
mencakup keseluruhan atau sebagian dari informasi berikut.
(a) Jumlah jam tidur total per hari.
(b) Aktivitas yang dilakukan 2 -3 jam sebelum tidur (jenis, durasi,
dan waktu).
(c) Ritual sebelum tidur (mis., minum air, obat tidur).
(d) Waktu (a) pergi tidur, (b) mencoba tidur, (c) tertidur, (d) terjaga
di malam hari dan durasinya, serta (e) bangun tidur dipagi hari.
(e) Adanya masalah yang klien yakini dapat memengaruhin
tidurnya.
(f) Faktor yang klien yakini member pengruh positif atau negatif
pada tidurnya.
Kemudian, perawat dapat mengembangkan data tersebut
menjadi bagan atau grafik yang berguna untuk mengidentifikasi
masalah tidur yang klien alami.
d. Pemeriksaan penunjang
Tidur dapat diukur secara objektif dengan menggunakan alat yang
disebut polisomnografi. Alat ini dapat merekam elektroensefalogram
(EEG), elektromiogram (EMG), dan elektro-okulogram (EOG)
sekaligus. Dengan alat ini, kita dapat mengkaji aktivitas klien selama
tidur. Aktivitas klien lakukan tanpa sadar tersebut bisa jadi merupakan
penyebab seringnya klien terjaga di malam hari.
3. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a. Gangguan mobilitas fisik
b. Intoleransi aktivitas
c. Defisit perawatan diri
d. Gangguan pola tidur
4. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosis Intervensi
1 Gangguan Dukungan ambulasi
mobilitas fisik Observasi:
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
lainya
- Identifikasi toleransi fisik melakukan
ambulasi
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
sebelum memulai ambulasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan
ambulasi
Terapeutik:
- Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
(mis. tongkat, kruk)
- Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika
perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan ambulasi
Edukasi:
- Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
- Anjurkan melakukan ambulasi dini
- Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
dilakukan (mis. berjalan dari tempat tidur ke
kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke
kamar mandi, berjalan sesuai toleransi)
Dukungan mobilisasi
Observasi:
- Identifikasi adanya nyeri aau eluhan fisik
lainya
- Identifikasi toleransi fisik melakukaan
pergerakan
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah
sebelum memulai mobilisasi
- Monitor kondisi umum selama melakukan
mobilisasi
Terapeutik:
- Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
bantu (mis. pagar tempat tidur)
- Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan pergerakan
Edukasi:
- Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
- Anjurkan melakukan mobilisasi dini
- Ajarkan mobilisasi sederhan yang harus
dilakukan (mis. duduk di tempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur, pindh dari tempat tidur ke
kursi)
2. Terapi Aktivitas
Observasi
- Identifikasi defisit tingkat aktivitas
- Identifikasi kemampuan berpartisipasi
dalam aktivitas tertentu
- Identifikasi sumber daya untuk aktivitas
yang diinginkan
- Identifikasi strategi meningkatkan
partisipasi dalam aktivitas
- Identifikasi makna aktivitas rutin (mis,
bekerja) dan waktu luang
- Monitor respon emosional, fisik, sosial,
dan spiritual terhadap aktivitas
Terapeutik
- Fasilitasi fokus pada kemmpuan, bukan
defisit yang dialami
- Sepakati komitmen untuk meningkatkan
frekuensi dan rentang aktivitas
- Kordinasikan pemilihan aktivitas sesuai
usia
- Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
- Fasilitasi aktifitas rutin (mis. Ambulasi,
mobilisasi, dan perawatan diri)< sesuai
kebutuhan
- Fasilitasi aktivitas motorik untuk
merelaksasikan otot
- Libatkn keluarga dalam aktivitas, jika
perlu
- Fasilitasi mengembangkan motivasi dan
penguatan diri
- Fasilitasi pasien dan keluarga memantu
kemajuannya sendiri untuk mencapai
tujuan
- Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari
hari
- Berikan enguatan positif atas partisipasi
dalam aktivitas
Edukasi
- Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-
hari, jika perlu
- Ajarkan cara melakukan aktivitas yang
dipilih
- Anjurkan melakukan aktivitas fisik,
sosial, spiritual, dan kongnitif dalam
menjaga fungsi dan kesehatan
- Anjurkan terlibat dalam aktivitas
kelompok atau terapi, jika sesuai
- Anjurekan keluarga untuk memberi
penguatan positif atas partisipasi dalam
aktivitas
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam
merencanakan dan memonitor program
aktivitas, jika sesuai
- Rujuk pada pusat atau program aktivitas
komunitas, jika perlu
3 Defisit perawatan Dukungan perawatan diri
diri Observasi:
- Identifikasi kebiasaan ativisata perawatan diri
nsesuai usia
- Monitor tingkak kemandirian
- Identifiksi kebutuhan alat bantu kebersihan
diri, berpakaian, berhias, dan makan.
Terapeutik:
- Sediakan lingkungan yang terapeutik (mis.
Suasana hangat, rileks, privasi)
- Siapkan keperluan pribadi (mis. Parfum, sikat
gigi, dan sabun mandi)
- Dampingi dalam melakukan perawatan diri
sampai mandiri
- Fasilitasi untuk menerima keadaan
ketergantungan
- Faasilitsi kemandirian, bantu jika tidak
mampu melakukan perawatan diri
- Jadwalkan rutinitas perawatan diri
Edukasi:
- Anjurkan melakukan perawatan diri secara
konsisten sesuai kemampuan
4 Gangguan pola Dukungan tidur
tidur Observasi:
- Identifikasi pla aktivitas dan tidur
- Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik
dan/atau psikologis)
- Identifikasi makanan dan minuman yang
mengganggu tidur (mis. kopi, teh, alkohol,
makan mendekati waktu tidur, minum
banyak air sebelum tidur)
- Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
Terapeutik:
Edukasi aktivitas/istirahat
Observasi:
- Identifikasi kesiapan dan kemampuan
menerima informasi
Terapeutik:
Edukasi:
Daftar Pustaka
Amin. H. N & Hardhi. K. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis & nanda nic-noc. Yogyakarta: Mediaction.
Mubarak, Wahit Iqbal. (2008). Buku ajar kebutuhan dasar manusia teori dan
aplikasi dalam praktik. Jakarta: EGC.
Perry & Potter. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 7. Jakarta: EGC
Tim pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. DPP PPNI
Tim pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia.
Jakarta Selatan. DDPI