89% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
40K tayangan16 halaman

LP Aktivitas Dan Latihan

Laporan pendahuluan membahas aktivitas dan latihan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Aktivitas merupakan energi bergerak untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan latihan berfungsi untuk menjaga otot dan postur tubuh. Berbagai sistem tubuh seperti muskuloskeletal dan persarafan berperan dalam aktivitas dan latihan. Fisiologi, etiologi, karakteristik, dan jenis aktivitas juga dijelaskan dalam laporan

Diunggah oleh

Riska Ayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
89% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
40K tayangan16 halaman

LP Aktivitas Dan Latihan

Laporan pendahuluan membahas aktivitas dan latihan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Aktivitas merupakan energi bergerak untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan latihan berfungsi untuk menjaga otot dan postur tubuh. Berbagai sistem tubuh seperti muskuloskeletal dan persarafan berperan dalam aktivitas dan latihan. Fisiologi, etiologi, karakteristik, dan jenis aktivitas juga dijelaskan dalam laporan

Diunggah oleh

Riska Ayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

AKTIVITAS DAN LATIHAN

Untuk memenuhi tugas Stase Keperwatan Dasar Profesi Program Profesi Ners 12

Disusun oleh
Tivanny Natalia Putri
SN201219

PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2020
AKYIVITAS DAN LATIHAN

A. Konsep Gangguan Kebutuhan Dasar


1. Pengertian Aktivitas dan Latihan

Menurut Heriana (2014), aktivitas adalah suatu energi atau keadaan

bergerak dimana manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan

hidup. Kebutuhan aktivitas/pergerakan merupakan suatu kesatuan yang saling

berhubungan dengan kebutuhan dasar tidur dan saling mempengaruhi seperti

istirahat. Kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan

sistem persarafan dan musculoskeletal.

Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkan

untuk menjaga kinerja otot dan mempertahankan postur tubuh. Latihan dapat

memelihara pergerakan dan fungsi sendi sehingga kondisinya dapat setara

dengan kakuatan da fleksibilitas otot. Selain itu, latihan fisik dapat membuat

fungsi gastrointestinal dapat bekerja lebih optimal dengan meningkatkan

selera makan orang tersebut dan melancarkan eliminasinya karena apabila

seseorang tidak dapat melakukan aktivitas fisik secara adekuat maka hal

tersebut dapat membuat abdomen menjadi lemah sehingga fungsi

eliminasinya kurang efektif.

Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk

bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi

kebutuhan  guna mempertahankan kesehatannya.


Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang

tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu

pergerakan misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat

disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya.

2. Anatomi

Menurut Haswita dan Sulistyowati (2017), sistem tubuh yang

berperan dalam aktivitas adalah sistem muskuloskeletal dan sistem

persyarafan.

a. Sistem musculoskeletal
Sistem muskuloskeletal terdiri atas tulang (rangka), otot dan
sendi. Gabungan dari tiga organ tersebut yang dapat menyebabkan
terjadinya aktivitas dan pergerakan.
1) Tulang (rangka)
a) Secara fungsi dari tulang ( rangka) adalah sebagai berikut
Menyokong jaringan tubuh, terasuk memberi bentuk pada tubuh
( postur tubuh)
b) Melindungi bagian tubuh yang lunak, seperti otak,paru-paru,
hati dan medula spinalis.
c) Sebagai tempat melekatnya otot dan tendon, termasuk juga
ligament.
d) Sebagai sumber mineral, seperti garam, fosfat dan lemak.
e) Berperan dalam proses hematopoiesis (produksi sel darah)
2) Sendi
Sendi adalah hubungan antara tulang. Setiap sendi
diklasifikasikan sesuai dengan struktur dengan tingkat mobilisasinya.
3) Otot
Otot secara umum berfungsi untuk kontraksi dan
menghasilkan gerakan gerakan. Otot ada tiga macam otot rangka,
otot polos dan otot jantung. Otot rangka terdapat pada sistem skeletal
dan merupakan otot yang paling berperan dalam mekanik tubuh.
Otot rangka berfungsi dalam membantu pengontrolan gerakan,
mempertahankan postur tubuh dan menghasilkan panas.

4) Sistem Persyarafan secara spesifik, sistem persyarafan memiliki


beberapa pungsi, yaitu:
a) saraf aferen (reseptor) berfungsi menerima rangsangan dari luar
kemudian meneruskannya ke susunan saraf pusat.
b) Sel syaraf atau neuron, berfungsi membawa implus dari bagian
tubuh satu kesatu lainnya.
c) Sistem saraf pusat (SSP), berfungsi memproses impuls dan
kemudian memberikan respon melalui syaraf aferen.
d) Saraf aferen, berfungsi menerima respon dari SSP kemudian
meneruskan ke otot rangka.

3. Fisiologi

Menurut Selvi (2016), gerakan terjadi melalui kombinasi kerja sistem

muskuloskeletal dan sistem saraf. Tidak hanya terbatas pada gerakan

fisikyang dapat kita lihat. Ini juga meliputi aktivitas bertahan hidup yang

tidak dapat dilihat secara kasat mata (misalnya penapasan, pencernaan,

sirkulasi). Komponen kunci dari gerakan meliputi tulang, otot, sendi, dan

saraf.

a. Tulang (skeleton) memberikan kerangka kerja untuk gerak. Tulang yang

rapuh memiliki kerangka kerja yang buruk dan dapat memburuk kapan

saja dan selanjutnya dapat menghalangi gerak.


b. Sendi adalah titik bertemunya tulang. Ada tiga jenis senddi berbeda:

sinartrosis atau sendi serabut yang tidak mengizinkan gerakan (batas

tulang tengkorak); amfiartrosis atau sendi kartilago yang mengizinkan

gerakan ringan (tulang belakang); dan diartrosis atau sendi synovial yang

mengizinkan gerakan maksimal. Sendi synovial paling banyak

mendukung aktivitas. Ligamen merupakan kumpulan jaringan serabut

fleksibel yang menghubungkan tulang satu dengan yang lain. Ligamen

yang robek menghambat stabilitas sendi dan akan merusak gerak.

c. Kontraksi otot dan relaksasi otot berhubungan dengan tendon (struktur

berbentuk gelendong kuat yang melekatkan otot pada tulang) untuk

menghasilkan gerak.

d. Sama halnya dengan tidak dapat bergerak tanpa otot dan tendon, otot

tidak dapat bergerak tanpa bantuan sistem saraf pusat (SSP). SSP

mengendalikan krontraksi dan relaksasi otot, yang pada gilirannya

menyebabkan fleksi (bengkok) dan ekstensi (lurus), yang pada akhirnya

menghasilkan gerakan yang terkoordinasi dengan baik

4. Etiologi

Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2015), faktor yang mempengaruhi

aktivitas adalah :

a. Gaya hidup, perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan

aktivitas seseorang karena gaya hidup berdampak pada prilaku atau

kebiasaan sehari-hari.
b. Proses penyakit atau cidera, peroses penyakit dapat mempengaruhi

kemampuan aktivitas karena mengganggu fungsi sistem tubuh. Sebagai

contoh : orang yang menderita fraktur femur akan megalami keterbatasan

gerak pada ekstremitas bawah.

c. Kebudayaan Contohnya: orang yang memiliki budaya sering jalan jauh

memiliki kemampuan mobilisasi yang kuat, sebaiknya yang mengalami

gangguan mobilisasi (sakit) karena adat atau budaya tertentu yang

melarang untuk beraktivitas.

d. Tingkat energi Energi adalah sumber untuk melakukan aktivitas karena,

bila ingin melakukan aktivitas yang baik maka tubuh membutuhkan

energi yang cukup untuk memenuhinya.

e. Usia Terdapat perbedaaan kemampuan melakaukan aktivitas pada

masing masing usia tentu berbeda-beda. Contohnya: dari mulai bayi kita

blum bisa berjalan dan sampai bisa berjalan pada usia 1-2 tahun, hal itu

yang membuktikan bahwa usia mempengaruhi aktivitas.

Menurut Hidayat (2014), penyebab gangguan aktivitas adalah

sebagai berikut :

a. Kelainan postur

b. Gangguan perkembangan otot

c. Kerusakan sistem saraf pusat

d. Trauma langsung pada sistem mukuloskeletal dan neuromuscular

e. Kekakuan otot
5. Batasan Karakteristik

Menutut Nurarif & Kusuma, 2015. Batasan karakteristik yang khas

pada klien dengan intoleransi aktivitas adalah

a. Keletihan

b. Ketidak nyamanan dalam beraktivitas

c. Menyatakan merasa letih

d. Menyatakan merasa lemah

e. Respon tekanan abnormal terhadap aktivitas

f. Respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas

6. Jenis Aktivitas

a. Aktivitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak

secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan

menjalankan peran sehari-hari. Aktivitas penuh ini merupakan fungsi

saraf motoric volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area

tubuh seseorang.

b. Aktivitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak

dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena

dipengaruhi oleh gangguan saraf motoric dan sensorik pada area

tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang

dengan pemasangan traksi. Pada pasien paraplegi dapat mengalami

aktivitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontol


motorik dan sensorik. Aktivitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis,

yaitu :

1). Aktivitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk

bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat

disebabkan oleh trauma reversible pada sistem musculoskeletal,

contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.

2). Aktivitaas permanen, merupakan kemampuan individu untuk

bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut

disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversible, contohnya

terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang

belakang, poliomilitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan

sensorik.

7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

a. Tingkat perkembangan tubuh

Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neuromuscular dan

tubuh secara proporsional, postur, pergerakan dan refleks akan berfungsi

secara optimal

b. Kesehatan fisik

Penyakit, cacat tubuh, dan imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan

tubuh

c. Keadaan nutrisi
Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, dan obesitas

dapat menyebabkan pergerakan menjadi kurang bebas

d. Emosi

Rasa aman dan gembira dapat mempengaruhi aktivitas tubuh seseorang.

Keresahan dan kesusahan dapat menghilangkan semangat yang kemudia

dapat dimanifestasikan dengan kurangnya aktivitas

e. Kelemahan neuromuscular dan skeletal

Adanya abnormal postur seperti scoliosis, lordosis, dan kiposis dapat

berpengaruh terhadap pergerakan

f. Pekerjaan

Seseorang yang bekerja di kantor kurang melakukan aktivitas bila

dibandingkan dengan petani atau buruh

8. Nilai Aktivitas

a. Nilai normal

Tingkat Aktivitas / Mobilisasi Kategori


Tingkat 0 Mampu merawat diri sendiri secara
penuh
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan
orang lain
Tingkat 3 Memerlukan bantuan, pengawasan
orang lain, dan peralatan
Tingkat 4 Sangat tergantung dan tidak dapat
melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan
b. Rentang gerak sendi

Gerak Sendi Derajat Rentang yang Normal


Bahu :
Abduksi 180
Siku :
Fleksi 150
Pergelangan Tangan :
Fleksi 80 – 90
Ekstensi 80 – 90
Hiperekstensi 70 – 90
Abduksi 0 – 20
Adduksi 30 – 50
Tangan dan Jari :
Fleksi 90
Ekstensi 90
Hiperekstensi 30
Abduksi 20
Adduksi 20

c. Derajat kekuatan otot

Skala Kekuatan Otot (%) Keterangan


0 0 Paralisis sempurna
1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot
dapat dipalpasi atau dilihat
2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi
dengan topangan
3 50 Gerakan yang normal melawan
gravitasi
4 75 Gerakan penuh yang normal melawan
gravitasi dan melawan tahanan
minimal
5 100 Kekuatan normal, gerakan yang
normal melawan gravitasi dan
melawan tahanan penuh

9. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status

masalah kesehatan aktual dan potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi


masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah. Manfaat diagnosa

keperawatan sebagai pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan dan

gambaran suatu masalah kesehatan dan penyebab adanya masalah (SDKI:

2016).

Masalah keperawatan yang sering muncul pada klien dengan

gangguang pemenuhan kebutuhan aktivitas adalah

a. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, nyeri, perubahan integritas dan

struktur tulang.

b. Nyeri akut b.d spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cedera

jaringan lunak, pemasangan traksi, stres atau ansietas.

10. Intervensi Keperawatan

Intervensi Keperawatan Fraktur Femur Menurut SIKI : 2018

a. Diagnosa : Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, perubahan integritas

dan struktur tulang.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam masalah

klien dapat teratasi dengan kriteria hasil:

1). Klien dapat meningkat atau mempertahankan mobilitas, posisi

pungsional.

2). Dapat menunjukan kemampuan teknik kemampuan melakukan

aktivitas.

3). Nyeri berkurang.


Intervensi Utama

1). Dukungan ambulasi

Observasi :

a) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya.

b) Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi

c) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai

ambulasi

d) Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi

Teraupetik :

a) Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu ( mis. Tongkat,

dan kruk)

b) Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik.

c) Libatkan keluarga dalam membantu pasien dalam meningkatkan

ambulasi

Edukasi:

a) Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi.

b) Anjurkan untuk melakukan ambulasi dini.

c) Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan(mis.berjalan

dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya).

2). Dukungan mobilisasi

Observasi:

a) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan lainnya.


b) Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan.

c) Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai

mobilisasi.

d) Monitor frekuensi umum selama melakukan mobilisasi.

Terapeutik:

a) Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. Pagar

tempat tidur).

b) Fasilitasi melakukan pergerakan

c) Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan

pergerakan.

Edukasi:

a) Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi.

b) Anjurkan melakukan mobilisasi dini

c) Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. Duduk

ditempat tidur, duduk disisi tempat tidur, pindah dari tempat

tidur ke kursi).

Intervensi Pendukung

1). Dukungan kepatuhan program pengobatan.

2). Dukungan perawatan diri (BAB/BAK, berpakaian, makan,minum,

mandi)

3). Edukasi latihan fisik

4). Eduikasi teknik ambulasi

5). Edukasi teknik transfer


b. Diagnosa : Nyeri akut b.d spasme otot, pergerakan fragmen tulang,

edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stres atau

ansietas.

Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam masalah klien

teratasi dengan kriteria hasil :

1). Nyaman dalam beristirahat.

2). Nyeri dapat berkurang.

3). Skala nyeri 0

Intervensi Utama

1). Manajemen nyeri

Observasi :

a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan

intensitas nyeri.

b) Identifikasi skala nyeri.

c) Identifikasi respon nyeri nonverbal

d) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.

e) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.

f) Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri.

g) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas nyeri.

h) Monitor keberhasilaan terapi komplomenter yang sudah

diberikan.

i) Monitor efek samping penggunaan analgetik.


Terapeutik :

a) Berikan terapi nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.

b) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri ( mis. suhu

ruangan, pencahayaan, dan kebisingan)

c) Fasilitasi istirahat dan tidur.

d) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi

meredakan nyeri.

Edukasi:

a) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.

b) Jelaskan strategi meredakan nyeri.

c) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.

d) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat.

e) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.

Kolaborasi:

a) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

b) Pemberian analgesic

Intervensi Pendukung

1). Aromaterapi

2). Dukungan hipnosis diri

3). Dukungan pengungkapan kebutuhan

4). Edukasi efek samping obat

5). Edukasi manajemen nyeri


11. Daftar Pustaka

Haswita & Sulistyowati, R. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia Untuk


Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan. Jakarta. TIM

Heriana, Pelapina. 2014. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang


selatan : Binarupaaksara

Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2014. Pengantar Kebutuhan


Dasar Manusia.Jakarta : Salemba medika
Selvi, K. (2016). Aktivitas dan Latihan. Diakses pada tanggal 27 Oktober
2020. http://selviyanakakasing.blogspot.com/2016/09/aktivitas-dan-
latihan.html

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan


Indonesia (1st ed.). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan


Indonesia (I). Jakarta.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Wahit. I, Joko. S, & Lilis. I. 2015. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar.
Jakarta : Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai