0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan16 halaman

Diagnosa dan Penanganan Diabetes Tipe 2

Diunggah oleh

bayubay6755
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan16 halaman

Diagnosa dan Penanganan Diabetes Tipe 2

Diunggah oleh

bayubay6755
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MILITUS TIPE II


DI RUANG MARWAH RS PKU MUHAMMADIYAH KARANGANYAR

Dosen pembimbing : Saka Suminar,S.Kep.,M.Kes


CI : Yessy lela sari,S.Kep.,Ns

Disusun oleh :
EKA SURYANI
220631161440101920

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TUJUH BELAS
KARANGANYAR
2024
LAPORAN PENDAHULUAN

A. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik ditandai dengan


hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-
duanya. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah) atau
ketika tubuh tidak dapat secara aktif menggunakan insulin yang dihasilkan (World
Health Organization, 2020)
DM tipe 2 atau juga dikenal sebagai Non-Insulin Dependent Diabetes
(NIDDM). Dalam DM tipe 2, jumlah insulin yang diproduksi oleh pankreas biasanya
cukup untuk mencegah ketoasidosis tetapi tidak ukup untuk memenuhi kebutuhan
tubuh total. Jumlahnya mencapai 90-95% dari seluruh pasien dengan diabetes, dan
banyak dialami oleh orang dewasa tua lebih dari 40 tahun serta lebih sering terjadi
pada individu obesitas. Kasus DM tipe 2 umumnya mempunyai latar belakang
kelainan yang diawali dengan terjadinya resistensi insulin. Resistensi insulin awalnya
belum menyebabkan DM secara klinis. Sel beta pankreas masih dapat melakukan
kompensasi bahkan sampai overkompensasi, insulin disekresi secara berlebihan
sehingga terjadi kondisi hiperinsulinemia dengan tujuan normalisasi kadar glukosa
darah. Mekanisme kompensasi yang terus menerus menyebabkan kelelahan sel beta
pankreas yang disebut dekompensasi, mengakibatkan produksi insulin yang menurun
secara absolut. Kondisi resistensi insulin diperberat oleh produksi insulin yang
menurun, akibatnya kadar glukosa darah semakin meningkat sehingga memenuhi
kriteria diagnosa DM (Damayanti,2022) Sehingga dapat disimpulkan, DM tipe 2
adalah penyakit kronis yang
ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dalam tubuh akibat resistensi insulin
atau produksi insulin yang tidak adekuat.

Dilakukan Tindakan Amputasi adalah Amputasi adalah pembuangan suatu


anggota badan atau suatu penumbuhan dari badanAmputasi adalah pengangkatan
melalui bedah atau traumatic. Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan
membuang bagian tubuh.
ETIOLOGI

Menurut Brunner & Sudart (2020) pada diabetes mellitus tipe 2, organ pankreas
penderita mampu memproduksi insulin dengan jumlah yang cukup namun sel – sel
tubuh tidak merespon insulin yang ada dengan benar. Resistensi insulin ini
menyebabkan glukosa yang tidak dimanfaatkan sel akanberada dalam darah, semakin
lama semakin menumpuk. Pada saat yang sama terjadinya resistensi insulin membuat
pankreas memproduksi insulin yang berlebihan. Lama kelamaan, dalam kondisi yang
tidak terkontrol pankreas akan mengurangi jumlah produksi insulin.
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan
radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga
tidak ada sekresi hormon- hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin.
Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat meningkatkan risiko terkena
diabetes me llitus.Orang kelebihan berat badan (obesitas) memiliki resiko lebih besar
mangalami resistensi insulin. Tapi tidak menutup kemungkinan orang orang yang
berbadan kurus juga bisa terserang diabetes dan diabetes tipe 2 juga paling sering
dialami diatas usia 30 tahun.
Faktor genetik biasanya diperkirakan memegang peranan penting dala
resistensi insulin DM tipe 2, menurut Sutanto (2021) faktor – faktor resiko terjadinya
DM tipe 2 antara lain :
a. Penyebab utama terjadinya DM tipe 2 ini, yaitu faktor genetik (keturunan) dan
hiperglikemia (tingginya kadar glukosa darah).
b. Rendahnya tingkat aktivitas sehari – hari, kurang olahraga, pola makan yang salah,
gaya hidup yang kurang sehat, dan kelebihan berat badan.

2. PATOFISIOLOGI
Tubuh manusia mengubah makanan tertentu menjadi glukosa yang akan menjadi
suplai energi utama untuk tubuh. Insulin dari sel beta pankreas perlu untuk membawa
glukosa ke dalam sel-sel tubuh dimana glukosa digunakan untuk metabolisme sel.
Diabetes Mellitus tipe 2 terjadi ketika sel beta pankreas memproduksi insulin dalam
jumlah sedikit. Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan
mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 10% menjadi glikogen dan
20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Pada diabetes melitus semua proses tersebut
terganggu karena terdapat defisensi insulin yang disebabkan oleh pola makan, faktor
genetik, obesitas, dll. Sehingga penerapan glukosa kedalam sel macet dan
metabolismenya terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap
berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia( Setiawati, 2020)
Ketika hiperglikemi, aliran darah menjadi lambat terutama pada jaringan
perifer yang membuat pasien akan merasa kebas atau kesemutan pada kakinya. Hal
ini juga dapat menandakan bahwa pada kaki pasien terjadi iskemik jaringan sehingga
jika terdapat luka pada kaki tersebut biasanya pasien tidak sadar. Menurunnya
sirkulasi ke jaringan perifer, dapat menghambat proses penyembuhan luka sehingga
menimbulkan kematian jaringan. Naiknya kadar glukosa dalam darah menjadi sinyal
bagi pasien untuk meningkatkan asupan cairan dalam upaya mendorong glukosa
keluar dari tubuh dalam urin. Pasien kemudian menjadi haus dan urinasi meningkat.
Sel-sel menjadi kekurangan energi karena kurangnya glukosa dan memberi sinyal
pada pasien untuk makan sehingga nafsu makan pasien meningkat (Setiawati, 2020).
Ketika sel- sel tersebut kekurangan energi, maka akan terjadi peningkatan
katabolisme protein untuk memenuhi kebutuhan energi pada sel tersebut. Hal ini
membuat sinyal pada pasien untuk makan dan minum (polidipsi dan polifagi),
sehingga cenderung menyebabkan pasien menjadi obesitaas.
Peningkatan katabolisme protein pada pasien juga sering disertai dengan
penurunan anabolisme protein yang dapat menyebabkan kerusakan antibodi. Hal ini
berdampak pada penurunan kekebalan tubuh pasien, dan meningkatkan resiko infeksi
yang ditandai dengan munculnya gejala infeksi, salah satunya hipertermi.

3. MANIFESTASI KLINIS
Menurut (Perkeni,2021) yaitu:
a. GejaIa penyakit akut Diabetes MeIitus GejaIa penyakit DM bervariasi pada setiap
penderita, bahkan mungkin tidak menunjukan gejaIa apa pun sampai saat tertentu.
PermuIaan gejaIa yang ditunjukan meIiputi :
1) Banyak makan (PoIiphagi)
2) Banyak minum (PoIidipsi)
3) Banyak kencing (PoIiuri)
Keadaan tersebut jika tidak segera di obati akan timbuI gejaIa banyak makan
banyak minum, banyak kecing, napsu makan muIai berkurang atau berat badan
turun dengan cepat (5-10 kg) daIam waktu (2-4 minggu), mudah IeIah dan biIa
tidak Iekas diobati akan timbuI rasa muaI.
b. GejaIa kronik penyakit Diabetes MeIitus
GejaIa kronik yang sering ditemukan oIeh penderita DM, yaitu :
1) Kesemutan
2) KuIit terasa panas atau seperti tertusuk- tusuk jarum
3) Rasa tebaI di kuIit
4) Keram
5) Mudah mengantuk
6) Mata kabur dan biasanya sering mengganti kaca mata
7) GataI disekitar kemaIuan terutama wanita
8) Gigi mudah goya dan mudah Iepas
9) Kemampuan seksuaI menurun
10) Para ibu hamiI sering mengaIami kematian dan keguguran janin
kandungan atau dengan bayi berat Iahir Iebuh dari 4 kg
4. PATWAY

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Sulaiman (2020), pemeriksaan penunjang diabetes mellitus adalah:
a. Gula darah
1) Gula darah sewaktu (random) >200 mg/dl
2) Gula darah puasa (nucher)>140 mg/dl
3) Gula darah 2 jam pp (post prandial) >200 mg/dl
b. Aseton plasma (aseton)
c. Osmolaritas serum meningkat >330mOsm/lt
d. Gas darah arteri pHrendah dan penurunan HCO3(asidosismetabolik)
e. Alkalosisrespiratorik
f. Trombosit darah Mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosi Dan hemokonsentrasi
menunjukkan respon terhadap stres atau infeksi
g. Ureum atau kreatinin meningkat atau normal lochidrasi atau penurunan fungsi
ginjal
h. Amilase darah: Meningkat > pankacatitis akut.
i. Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada (Tipe I), normal sampai meningkat
(Tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin.
j. Pemeriksaan fungsi tiroid: peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan
glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
k. Urine: gula dan aseton positif, BJ dan osmolaritas mungkin meningkat
l. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK dan infeksiluka.

7. PENATALAKSANAAN
Menurut Putra, I.W.A.,& Berawi (2021) penatalaksanaan diabetes melitus dikenal
dengan 4 pilar penting dalam mengontrol perjalanan penyakit dan komplikasi. Empat
pilar tersebut adalah:
a. Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pahami perjalanan penyakitnya, pentingnya
pengendalian penyakit, komplikasi dan resikonya, pentingnya intervensi obat
dan pemantauan glukosa darah, bagaimana menangani hipoglikemia,
kebutuhan latihan fisik teratur, dan metode menggunakan fasilitas kesehatan.
Mendidik pasien bertujuan agar pasien bisa mengontrol gula darah dan
kurangi komplikasi serta meningkatkan keterampilan perawatan diri sendirian.
Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada saat gaya hidup dan perilaku terbentuk
kuat. Petugas kesehatan mendampingi pasien dan memberikan pendidikan
dalam upaya meningkatkan motivasi dan perubahan perilaku. Tujuan jangka
panjang yang ingin dicapai dengan memberikan edukasi antara lain: Penderita
diabetes bisa
hidup lebih lama dalam kebahagiaan karena kualitas hidup sudah menjadi
kebutuhan seseorang, membantu penderita diabetes bisa merawat diri sendiri
sehingga kemungkinan komplikasi dapat dikurangi, kselain itu jumlah hari
sakit bisa ditekan, meningkatkan perkembangan penderita diabetes, sehingga
bisa berfungsi normal dan manfaatkan sebaik-baiknya

b. Terapi nutrisi
Perencanaan makan yang bagus merupakan bagian penting dari manajemen
diabetes yang komprehensif. Diet keseimbangan akan mengurangi beban kerja
insulin dengan meniadakan pekerjaan insulin dalam mengubah gula menjadi
glikogen. Keberhasilan terapi ini melibatkan dokter, perawat, ahli gizi, pasien
itu sendiri dan keluarganya. Intervensi nutrisi bertujuan untuk menurunkan
berat badan dan memperbaiki gula darah dan lipid darah pada pasien diabetes
yang kegemukan dan menderita morbiditas. Penderita diabetes dan
kegemukan akan memiliki resiko yang lebih tinggi daripada mereka yang
hanya kegemukan
c. Aktifitas fisik
Kegiatan fisik setiap hari latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu sekitar 30
menit), adalah salah satu pilar pengelolaan DMT2. Aktivitas sehari- hari
seperti berjalan kaki ke pasar, naik turun tangga, dan berkebun tetap harus
dilakukan untuk menjaga kesehatan, menurunkan berat badan, dan
memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan fisik dianjurkan yaitu berupa senam
aerobik seperti jalan kaki, bersepeda, jogging, dan berenang, sebaiknya latihan
fisik disesuaikan dengan umur dan status kesegaran. Bagi mereka yang relatif
sehat, dapat meningkatkan intensitas latihan fisik, dan mereka yang
mengalami komplikasi diabetes dapat dikurangi
d. Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan diet dan latihan fisik (gaya
hidup sehat). Pengobatan termasuk dari obat obatan oral dan suntikan. Obat
hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5
golongan: Memicu sekresi insulin sulfonylurea dan glinid, peningkatan
metformin insulin dan thiazolidinone, penghambat glukoneogenesis,
penghambat penyerapan glukosa: penghambat glukosidase, penghambat
alfa.DPP-IV inhibitor pertumbuhan dan status gizi, usia, stres akut dan latihan
fisik untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang ideal. Total
kalori yang dibutuhkan dihitung berdasarkan berat tubuh ideal dikalikan
dengan kebutuhan kalori dasar (30 Kkal/kg BB untuk laki- laki dan 25
Kkal/kg BB untuk wanita). Lalu tambahkan kalori yang dibutuhkan untuk
aktivitas (10-30% atlet dan pekerja
berat bisa lebih banyak lagi, sesuai dengan kalori yang dikeluarkan). Makanan
berkalori berisi tiga makanan utama pagi (20%), sore (30%) dan malam (25%)
dan 2-3 porsi (makanan ringan 10-15%).

8. KOMPLIKASI
Komplikasi diabetes melitus sangat mungkin terjadi dan bisa menyerang seluruh
organ tubuh. Apabila kadar gula darah tidak dikendalikan maka akan terjadi
komplikasi baik jangka pendek (akut) maupun jangka panjang (kronis). Menurut
Febrinasari et al (2020) komplikasi yang mungkin akan terjadi adalah:
a. Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung dan stroke
b. Kerusakan saraf (neuropati diabetik), yang dapat ditandai dengan mati rasa hingga
nyeri di kaki, atau gangguan pada fungsi seksual
c. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik) yang kronis dan parah sehinggadapat
menyebabkan gagal ginjal
d. Hipomagnesemia, yang dapat menyebabkan kejang, gangguan irama jantung, dan
henti jantung
e. Kerusakan mata (retinopati diabetik) yang berisiko menyebabkan gangguan
penglihatan
f. Gangguan pada persendian, seperti trigger finger atau frozen shoulder
g. Gangguan di kulit, misalnya infeksi bakteri, infeksi virus, atau luka yang sulit
sembuh
h. Gangguan pendengaran
i. Sleep apnea
j. Penyakit Alzheim

B. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dengan sistematis dan
dikaji dan di Analisa sehingga masalah Kesehatan dan keperawatan yang dihadapi
pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritualdapat ditentukan pada penkajian ini
biasanya berisikan tentang:
a. Keluhan utama pasien
b. Pengkajian riwayat keluarga
c. Pengkajian riwayat dahulu
d. Pemeriksaan fisik
e. Pemeriksaan diagnostic

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respons klien terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya, baik yang berlangsung
aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi
respons klien individu, keluarga, dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan
dengan kesehatan.
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik ( amputasi ) D.0077
b. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot D.0054
c. Resiko infeksi b.d efek prosedur invasif D.0142

3. Intervensi Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara
tepat mengenai rencana tindakan yang akan dilakukan terhadap klien sesuai dengan
kebutuhannya, berdasarkan diagnosis keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik D.0077
Definisi : nyeri akut merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan
sebagai pengakaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan
berintensitas riangan hingga berat yang berlangsung kurang lebih 3 bulan.
Tujuan : setelah di lakukan Tindakan keperawatan 3 x 24jam, diharapkan
Tingkat nyeri ( L.08066 ) menurun dengan kriteria hasil :
1) Keluhan nyeri menurun (5)
2) Meringis menurun (5)
3) Sikap protektif menurun (5)
4) Gelisah menurun (5)
INTERVENSI :

Menejemen nyeri L.08238.

Observasi :

1) Identifikasi Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri


2) Identifikasi skala nyeri

Teraupetik :

1) Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri


2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi :
1) Ajarkan Teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi :
1). Kolaborasi pemberian analgetic

b. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot ( D.0054 )


Definitis : gangguan mobilitas fisik merupakan diagnosis keperawatan
yang didefinisikan keterbatasan dalam Gerakan fisik dari satu atau lebih
ektremitas secara mandiri.
Tujuan : setelah di lakukan Tindakan keperawatan 3 x 24jam diharapkan
gangguan mobilitas fisik ( L.05042) meningkat dengan kriteria hasil :
1) Kekuatan otot meningkat (5)
2) Gerakan terbatas meningkat (1)
3) Kelemahan fisik meningkat (1)

INTERVENSI
Dukungan ambulasi (I.06171).
Observasi :
1) Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainya
Teraupetik :
1) Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
ambulasi
Edukasi
1) Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
2) Ajarkan ambulasi sederhana yang harus di lakukan

c. Resiko infeksi b.d efek prosedur invasif (D.0142)


Definisi : resiko infeksi merupakan diagnosis keperawatan yang
didefinisikan beresiko mengalami peningkatan terserang organisme
pathogen.
Tujuann : setelah di lakukan Tindakan keperawatan selama 3x24jam di
harapkan Tingkat infeksi (I.14137) menurun dengan kriteria hasil :
1) Kemerahan menurun (5)
2) Nyeri menurun (5)
3) Bengkak menurun (5)
4) Cairan berbau busuk menurun (5)
5) Drainase purulent menurun (5)

INTERVENSI
Perawatan amputasi (I.14557)
Observasi :
1) monitor adanya edema pada stump
2) monitor penyembuhan luka pada area insisi
Teraupetik :
1) posisikan stump ( putung/ujung bagian yang diamputasi ) pada
kesejajaran tubuh yang benar
2) balut stump sesuai kebutuhan
3) lakukan Pereda nyeri non farmakologi
4) fasilitasi menghadapi proses berduka karena kehilangan bagian tubuh
Edukasi :
1) jelaskan bahwa nyeri phantom dapat terjai beberapa minggu setelah
pembedahan dan dapat di picu oleh tekanan pada area lain
2) ajarkan Latihan pascaoprasi ( mis. Belajar Latihan rentang gerak,
Latihan nafas dalam, dan miring kanan kiri
3) ajarkan perawatan diri setelah pulang dari rumah sakit
4) ajarkan merawat dan menggunakan protesis

Kolaborasi :
1) rujuk ke pelayanan spesialis untuk modifikasi atau perawatan
komplikasi prosthesis

4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang di lakukan oleh
perawat untuk membantu pasien dari maslah status Kesehatan yang di hadapi ke
status Kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang di harapkan,
proses pelaksanaan implementasi harus berpusat pada kebutuhan klien. Faktor-
faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi
keperawatan dan kegiatan komunikasi.

5. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan meliputi penilaian
yang menandakan keberhasilan dari mulai diagnosis keperawatan rencana
intervensi dan implementasinya, evaluasi digunakan sebagai suatu hal yang dapat
dijadikan perbandingan untuk status kesehatan klien, dengan tujuan untuk melihat
kemampuan klien untuk mencapai hasil melalui proses asuhan keperawatan yang
telah dilaksanakan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan mengenai tindak
lanjut rencana asuhan keperawatan pada klien melaukan modifikasi rencana asuhan
keperawatan ketika klien mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan serta jika
klien membutuhkan waktu yang lebih lama dapat meneruskan rencana asuhan
keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2020. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Damayanti, Sari. (2022).Diabetes Mellitus & Penatalaksanaan Keperawatan.
diakses pada tanggal 20 Januari 2021 di http://www.who.int/healthtopics/
diabetes.
Febrinasari, R. P., Maret, U. S., Sholikah, T. A., Maret, U. S., Pakha, D. N., Maret,
U. S., Putra, S. E., & Maret, U. S. (2020). Buku saku diabetes melitus untuk awam.
November. diakses tanggal 20 November 2020. Mellitus Tipe 2. Majority,4(9)
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).(2021).
Konsesus pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia.Jakarta.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan
Indikator Diagnost ik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
PPNI. (2018).Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
Putra, I. W. A., & Berawi, (2021). Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes
Setyawati,
A. D., Ngo, T. H. L., Padila, P., & Andri, J. (2020). Obesity and Heredity for
Diabetes Mellitus among Elderly. JOSING: Journal of Nursing and Health, 1(1),
26–31.
Sutanto, Teguh. (2021). Diabetes Deteksi, Pencegahan, Pengobatan.Yogyakarta :
Buku Pintar WHO. (2020). Definition of Diabetes Mellitus and Prevalence of
Diabetes Mellitus.

Anda mungkin juga menyukai