LP DM Lansia 2025
LP DM Lansia 2025
DIABETES MELITUS
DISUSUN OLEH:
PRIYO SANTOSO
NIM: 202214201070B
Hari : .......................................................................
Tanggal : .......................................................................
Mahasiswa
PRIYO SANTOSO
NIM. 202214201070B
Mengetahui
………………………………………
NIDN...............................................
A. KONSEP DASAR DIABETES MELITUS
1. Definisi
Diabetes Melitus adalah penyakit menahun (kronis) yaitu berupa gangguan
metabolisme yang ditandai dengan gula darah yang melebihi batas normal
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Diabetes melitus merupakan
sekumpulan gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan gula darah
(hiperglikemia) yang disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, kerja insulin, atau
keduanya (Brunner & Suddarth, 2018).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit diabetes
melitus itu merupakan penyakit yang membuat seseorang dengan penyakit ini
mengalami peningkatan kadar glukosa darah di atas batas normal yang disebabkan
karena adanya masalah dengan produksi hormon insulin dalam tubuh. Salah satu jenis
diabetes melitus yang paling umum adalah diabetes tipe 2.
2. Etiologi
Diabetes mellitus terdiri dari sebuah kelompok kelainan metabolik dengan
fenotipe lazim dijumpai pada keadaan hiperglikimia. Penyakit DM sekarang ini
diklasifikasikan berdasarkan proses petogenik yang menyebabkan hiperglikemia. DM
tipe II merupakan kelompokkelainan heterogen yang ditandai dengan berbagai derajat
resistensi insulin, gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa yangberlebihan oleh
hati.
Tipe-tipe lain yang spesifik meliputi penyakit DM yang disebabkan oleh defek
genetik (maturity onset of diabetes of the young), penyakit pada bagian eksokrin
pankreas (pankreasitis kronis, kistik fibrosis, hemokromatosis), endokrinopati
(akromegali), sindrocushing, glukagonoma, feokromositoma, hipertiroidisme), obat-
obatan (asam nikotinat, glukokortiroid, tiazid, peparatin hibitor protease) dan
kehamilan (DM Geastasional). (Hartono, A. 2013).
3. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Berdasarkan metode presentasi klinis, usia awitan dan riwayat penyakit, ADA
(2014) mengklasifikasikan diabtes mellitus ke dalam empat tipe, yaitu Diabetes
Mellitus tipe 1 dan 2 , diabetes gestasional (kehamilan), dan diabetes mellitus tipe
lain. Klasifikasi ini telah disahkan oleh WHO dan telah dipakai diseluruh dunia.
a. Diabetes Mellitus tipe 1
Diabetes ini disebut juga insulin dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi
karena destruksi sel β-pankreas yang bias berlanjut ke defesiensi insulin absolute
yang terjadi karena proses imunologi.
b. Diabetes Mellitus tipe 2
Diabetes Mellitus tipe 2 adalah Diabetes Mellitus yang terjadi karena resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin (Smeltzer & Bare, 2008). Pada diabetes tipe
ini kadar insulin mungkin akan sedikit menurun atau mungkin masih pada kadar
normal karena pankreas masih bias sedikit memproduksi insulin, sehingga tipe ini
juga sering disebut non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM, 2014).
c. Diabetes Gestasional
Merupakan diabetes yangterjadi selama kehamilan. Selama kehamilan tubuh akan
mensekresi hormon-hormon plasenta sehingga meningkatkan kebutuhan insulin
dalam mengontrol glukosa darah, sehingga jika tubuh tidak mampu
berkompensasi dalam memenuhi kebutuhan insulin maka seorang wanita akan
mengalami diabetes selama masa kehamilannya (ADA, 2014). Penatalaksaan
awal yang dapat dilakukan adalah modifikasi dan pengaturan diet serta
pemantauan kadar gula darah secara rutin. Diabetes gestasional akan hilang
setelah bayi lahir, namun 5% samapai 10% kejadian akan berkembang menjadi
diabetes tipe 2 (ADA, 2014).
4. Patofisologi
Resistensi insulin dan sekresi insulin yang melebihi normal merupakan sebab
utama kemungkinan terjadinya Dm tipe 2 tersebut, sehingga DM tipe 2 didefinisikan
sebagai gangguan sekresi insulin, resistensi urin, peningkatan produksi glukosa hati,
dan merupakan gangguan metabolism lemak. Resistensi insulin menyebabkan
penurunankemampuaninsulinuntukbekerja padatargetorgan(seperti otot hati dan
lemak), yang dapat disebabkan oleh genetic dan obesitas. Hal ini dapat menyebabkan
tidak masuknya glukosa ke dalam organ dan peningkatan produksi hati yang pena
menyebabkan peningkatan glukosa dalam darah.
Pada awalnya resitensi insulin masih belum bias menyebabkan diabetes secara
klinis karena sel beta pankreas masih dapat mengkompensasi keadaan ini dan terjadi
suatu hiperinsulinemia dan glukosa darah masih normal atau baru sedikit meningkat.
Kemudian setelah terjadi ketidaksanggupan sel beta pankreas akan terjdi Diabetes
Mellitus secara Klinis, yang ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar glukosa
darah (McPhee,SJ & Ganong, W. F: 2011).
5. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis yang sering muncul pada pasien dengan hiperglikemia
kronik adalah polyuria, polidipsia (rasa hausberlebihan), penurunan berat badan,
kadang mengalami polifagia serta penglihatan kabur (American Diabetes Association/
ADA, 2014), sakit kepala, pusing, kram kaki (Diabtes Australia, 2015).
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan diagnosis
1) Pemeriksaan Gula Darah sewaktu / random > 200 mg/dl.
2) Gula Darah Puasa > 140mg/dl.
3) Gula Darah 2 jam PP (postprandial) >200mg/dl.
4) Aseton Plasma:(+) mencolok.
5) Asam lemak bebas : peningkatan lipid dan kolestrol.\
6) Osmolaritas serum (>330osm/1) random:200md/dl.
7) Tidak terdapat gejala DM tetapi terdapat 2 hasil gula darah (puasa>140
mg/dl, 2 jam PP > 200mg/dl).
8) Elektrolit
a) Natrium: mungkin normal, meningkat atau menurun.
b) Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan Seluler),
selanjutnya akan menurun.
9) Fospor lebih sering menurun
10) Hemoglobin glukosit : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang
mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir (selama
hidup sel darah merah) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan
DKA dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan
insiden.
b. Pemeriksaan Mikroalbumin
Mendeteksi komplikasi pada ginjal dan kardiovaskuler Nefrofati diabetic.
1) Salah satu komplikasi pada ginjal yang ditimbulkan oleh diabetes mellitus
adalah terjadinya nefropati diabetik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal
sehingga penderita perlu cuci darah untuk hemodialisa.
2) Nefrofati diabetic ditandai dengan kerusakan glomerulus ginjal yang
berfungsi sebagai alat penyaring.
3) Gangguan pada glomerulus ginjal menyebabkan lolosnya protein albumin
kedalam urine.
4) Adanya albumin dalam urine merupakan indikasi adanya nefropati diabetic.
7. Penatalaksanaan
Penanganan primer yang biasa dilakukan untuk mengendalikan glukosa darah
pasien Diabetes Mellitus tipe 2 adalah dengan terapi non farmakologi. Terapi
nonfarmakologi yang dapat digunakan adalah pengaturan perencanaan makan/diet
latihan fidik yang juga merupakan unsur penting dalam meningkatkan efektifitas
insulin, dan penurunan berat badan dikarenakan resistensi insulin berkaitan dengan
obesitas. Jika penatalaksaan non farmakologi tidak tercapai maka bisa diberikan terapi
obat, namun jika penatalaksanaan dengan obat juga tidakberhasil maka perlu
diberikan insulin sebagai penataksanaan Diabetes Melllitus tipe 2 (PERKENI, 2011;
Smeltzer &Bare, 2014).
Pada DM tipe 2 perlu adanya pengelolaan empat pilar utama yakni
edukasi,terapi gizi medis (diet), latihan jasmani dan terapi farmakologi (PERKENI,
2011; Harvey &champe, 2013). Selain empat pilar utama, penurunan berat badan juga
penting dalam menurunkan resistensi insulin dan mengoreksi hiprglikemia pada
diabetes tipe 2 (Harvey & champe, 2013).
8. Komplikasi
Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi2 yaitu komplikasi akut dan komlikasi
kronik (Santi, 2017):
a) Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabtes mellitus yang penting dan
berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek,
ketiga komplikasi tersebut adalah :
1) Diabetick Ketoadosis (DKA)
Diabetick ketoadosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata.
2) Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHN)
Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh
hiperosmolaritas dab hiperglikemia dandisertai prubahan tingkat kesadaraan.
3) Hypoglikemik
Hypoglikemia (kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi kalau
kadar glukosa dalam darah turun dibawah 50 hingga 60mg/dl.
b) Komplikasi kronik
Diabetes Mellitus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh
bagian tubuh (angiopati Diabetik). Angiopati diabetic dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Mikrovaskuler
Perubahan-perubahan mikrovaskuler ditandai dengan penebalan dan
kerusakan membrane basalpembuluh-pembuluh kapiler, merupakan hal unik
pada diabetes.
2) Penyakit Ginjal (nefropati)
Bila kadar glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan
mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urine.
3) Penyakit Mata (retinopati diabetik)
Penderita Diabetes Mellitus akan mengalami gejala penglihatan sampai
kebutaan. Keluhan penglihatan kabut tidak selalu disebabkan retinopati.
Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan yang
menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa. Diabetes dapat
mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom, Medulla spinalis,
atau sistem saraf pusat. Banyak dan berbagai macam gejala dapat timbul,
tergantung neuron yang terkena, jenis neuropati yang lazim, dalah
polineuropati, perifersimetris. Hal ini terlihat pertama kali dengan hilangnya
sensasi pada ujung-ujung ekstremitas bawah kemudian hilangnya
kemampuan motorik dan ekstremitas atas dapat terkena,.
4) Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom,
Medulla spinalis, atausistem sarafpusat.Banyak dan berbagai macam gejala
dapat timbul, tergantung neuron yang terkena, jenis neuropati yang lazim,
dalah polineuropati, perifer simetris. Hal ini terlihat pertama kali dengan
hilangnya sensasi pada ujung-ujung ekstremitas bawah kemudian hilangnya
kemampuan motorik dan ekstremitas atas dapat terkena.
5) Makrovaskuler
Penyakit makrovaskuler adalah karena aterosklerosis, terutama
mempengaruhi pembuluh darah besar dan sedang. Pada adanya kekurangan
insulin, lemal diubah menjadi glukosa untuk energy. Perubahan pada sintesis
dan katabolisme lemak mengakibatkan peningkatan kadar VDL (very low-
density lipoprotein) dan LDL (low- density lipoprotein), yang akan
menyebabkan penyakit seperti: penyakit jantung koroner, pembuluh darah
kaki, pembuluh darah otak.
B. KONSEP LANSIA
1. Definisi Lansia
Lansia adalah seseorang yang memasuki usia 60 tahun, kelompok umur yang
memasuki tahapan akhir dari siklus kehidupan di mana tahap perkembangan normal yang
akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut. Lansia akan mengalami Aging
Process atau proses penuaan yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia (Notoatmodjo, 2014).
Lanjut usia adalah seseorang yang usianya mencapai lebih dari sama dengan 60 tahun
berdasarkan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
(Kemenkes, 2016). World Health Organization (WHO) lanjut usia dibagi menjadi 4 kriteria
yaitu, middle age (usia pertengahan) 45-59 tahun, elderly (lansia) 60-74 tahun, old (lansia tua)75-
89 tahun, very old (lansia sangat tua) 90 tahun keatas (Kemenkes, 2017). Lanjut usia dikatakan
sebagai tahap terakhir dalam perkembangan daur kehidupan manusia. Lansia merupakan suatu
keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Menua merupakan proses sepanjang hidup,
tidak hanya bisa dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang akan melewati tiga tahap dalam
kehidupannya yaitu masa anak, dewasa dan juga tua (Mawaddah, 2020).
2. Ciri-ciri Lansia
Seorang lansia memiliki ciri sebagai berikut :
a. Lansia merupakan periode kemunduran sebagian datang dari faktor fisik dan faktor
psikologis sehingga motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada
lansia Penurunan fungsi organ terjadi karena sel dan jaringan tubuh yang menua,
akibatnya lansia mengalami perubahan pada berbagai sistem organnya. Kemunduran
fisik lansia dipengaruhi oleh motivasi dari lansia tersebut. Seorang lansia yang memiliki
motivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik akan lebih lama terjadi. Pemahaman
kesehatan pada lansia umumnya bergantung pada persepsi pribadi atas kemampuan
fungsi tubuhnya. Lansia yang memiliki kegiatan harian atau rutin biasanya
menganggap dirinya sehat, sedangkan lansia yang memiliki gangguan fisik, emosi, atau
sosial yang menghambat kegiatan akan menganggap dirinya sakit.
b. Penyesuaian yang buruk pada cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk
pada lansia sehingga dapat memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Keterlibatan
lansia dalam kegiatan/kehidupan keluarga menjadikan lansia berperilaku baik namun bila
lansia yang tinggal bersama keluarga sering tidak dilibatkan untuk pengambilan
keputusan dapat menyebabkan lansia menarik diri dari lingkungan, cepat tersinggung
dan bahkan memiliki harga diri yang rendah (Lilik, 2017).
3. Karakteristik Lansia
Karakteristik lansia menurut (Kemenkes RI, 2017) yaitu:
a. Seseorang dikatakan lansia ketika telah mencapai usia 60 tahun keatas
b. Lansia didominasi oleh jenis kelamin perempuan artinya menunjukkan bahwa
harapan hidup yang paling tinggi adalah perempuan
c. Penduduk lansia berdasarkan status perkawinan sebagian besar berstatus kawin
(60%) dan cerai mati (37%). Lansia perempuan yang berstatus cerai mati sekitar 56,04 %
dari keseluruhan yang cerai mati, dan lansia laki-laki yang 13 berstatus kawin ada 82,84
%. Hal ini disebabkan usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan
usia harapan hidup laki-laki
d. Sumber dana lansia sebagian besar pekerjaan/usaha (46,7%), pensiun (8,5%) dan (3,8%)
adalah tabungan, saudara atau jaminan sosial (Kemenkes, 2016)
e. Pekerjaan lansia terbanyak sebagai tenaga terlatih dan sangat sedikit yang bekerja
sebagai tenaga professional. Dengan kemajuan pendidikan diharapkan akan menjadi
lebih baik
f. Kondisi kesehatan Angka kesakitan, menurut Pusat Data dan Informasi
Kemenkes RI (2016) merupakan salah satu ndikator yang digunakan untuk mengukur
derajat kesehatan penduduk. Semakinnrendah angka kesakitan menunjukkan derajat
kesehatan penduduk yang semakin baik. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari
rentang sehat sampai sakit, kebutuhan biopsikososial dan spiritual, kondisi adaptif hingga
kondisi maladaptive.
g. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi
4. Perubahan yang Terjadi pada Lansia
a. Perubahan fisiologis/fisik, sistem tubuh kita yang mengalami perubahan seiring
umur. Perubahan fisiologis pada lansia beberapa di antaranya, kulit kering, kendur,
berkerut, penipisan rambut, penurunan pendengaran, penurunan refleks batuk,
pengeluaran lender, penurunan curah jantung dan sebagainya. Perubahan tersebut tidak
bersifat patologis, tetapi dapat membuat lansia lebih rentan terhadap beberapa penyakit.
Perubahan tubuh terus menerus terjadi seiring bertambahnya usia dan dipengaruhi
kondisi kesehatan, gaya hidup, stressor, dan lingkungan (Sya’diyah. H, 2018).
b. Perubahan kognitif berhubungan dengan perubahan struktur dan fisiologis otak
(penurunan jumlah sel dan perubahan kadar neurotransmiter). Gejala gangguan kognitif
seperti disorientasi, kehilangan keterampilan berbahasa dan berhitung, serta penilaian
yang buruk bukan merupakan proses penuaan yang normal.
c. Perubahan fungsional berhubungan dengan penyakit dan tingkat keparahannya yang akan
memengaruhi kemampuan fungsional dan kesejahteraan seorang lansia. Status fungsional
lansia merujuk pada kemampuan dan perilaku aman dalam aktivitas harian (ADL). ADL
sangat penting untuk menentukan kemandirian lansia. Perubahan yang mendadak
dalam ADL merupakan tanda penyakit akut atau perburukan masalah kesehatan.
d. Perubahan psikososial selama proses penuaan akan melibatkan proses transisi kehidupan
dan kehilangan. Semakin panjang usia seseorang, maka akan semakin banyak pula
transisi dan kehilangan yang harus dihadapi. Transisi hidup, yang mayoritas disusun
oleh pengalaman kesepian, kecemasan, seksual, gangguan tidur, kehilangan, meliputi
masa pensiun dan perubahan keadaan finansial, perubahan peran dan hubungan,
perubahan kesehatan, kemampuan fungsional dan perubahan jaringan sosial (Nugroho,
H, 2009)
C. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan lanjut usia (gerontik) merupakan kegiatan yang dimaksudkan
untuk memberikan bantuan atau bimbingan serta pengawasan, perlindungan, dan
pertolongan kepada lanjut usia secaraindividu, kelompok, seperti dirumahatau
lingkungan, panti werdha maupun puskesmas, yang diberiakn oleh perawat
(Nugroho,2012).
Sifat perawat gerontik adalah independent (mandiri), interdependent (kolaborasi),
humanistic, dan holistic. Peran dan fungsi keperawatan gerontik adalah sebagai pemberi
asuhan keperawatan secara langsung, sebagai pendidik lansia, keluarga, dan masyarakat
perawat juga. dapat memotivator dan innovator dalam memberikan advokasi pada klien
serta sebagai konselor (Azizah,2011).
1. Pengkajian
Menurut Bararah dan Jauhar (2018) pengkajian merupakan langkah utama dan dasar
utama dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam status
kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasi, kesehatan dan
kebutuhan penderita yang dapat (diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
1) Anamese
a) Identitas klien
Pada penyakit Diabetes Melitus sering menyerang pada usia diatas 45
tahun terlebih dengan orang yang memiliki berat badan yang tinggi.
Wanita berpeluang besar menderita penyakit Diabetes Melitus. Dengan
pola hidup yang tidak sehat dan pengetahuan yang kurang juga akan
menyebabkan Diabetes Melitus (Gloria, 2012)
b) Riwayat Kesehatan Saat Ini
Status kesehatan setahun yang lalu perlu dikaji apakah sebelumnya
menderita diabetes melitus atau penyakit lainnya yang berhubungan
dengan defisiensi insulin seperti penyakit pankreas. Keluhan utama yang
biasanya dirasakan oleh klien Diabetes Mellitus yaitu badan terasa sangat
lemas sekali disertai dengan penglihatan kabur, sering kencing (Poliuria),
banyak makan (Polifagia), banyak minum (Polidipsi) (Riyadi dan
Sukarmin, 2013).
c) Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat penyakit Diabetes Melitus atau penyakit-penyakit lain
yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas,
adanya riwayat jantung, obesitas, maupun aterosklerosis, (tindakan medis
yang pernah didapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh
penderita.
d) Riwayat keluarga
Diabetes Mellitus dapat berpotensi pada keturunan keluarga, karena
kelainan gen yang dapat mengakibatkan tubuhnya tidak dapat
menghasilkan insulin dengan baik (Riyadi dan Sukarmin, 2013).
e) Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan yang dapat mempengaruhi penyakit Diabetes Melitus adalah
pekerjaan yang tidak terlalu banyak melakukan aktivitas, dimana hanya
duduk dibelakang meja saja (Marunung, 2014).
f) Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan emosi yang dialami
penderita sehubung dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga
terhadap penyakit penderita.
g) Obat-obatan
Pada penderita Diabetes Melitus biasanya mengonsumsi obat antidiabetes
misalnya golongan Sulphonylures, Biguanides, Pranidial Glucose Reguler,
Thiazolidinedione, Alpha-Gluchosidase Inhibitor (Putra, 2019)
h) Nutrisi
Pola nutrisi berisi kebiasaan klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
meliputi diet, jenis dan jumlah makanan atau minuman, riwayat
peningkatan atau penurunan berat badan dan pantangan makanan
(Nikmatur & saiful, 2012) penderita Diabetes Melitus mengeluh ingin
selalu makan tetapi berat badannya turun karena glukosa tidak dapat
ditarik kedalam sel dan terjadi penurunan massa sel (Tarwoto, 2012)
2) Pemeriksaan fisik
Menurut Bararah dan Jauhar (2018) pemeriksaan fisik pasien Diabetes Melitus
meliputi :
a) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat
badan dan tanda-tanda vital
b) Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher,
telinga kadang kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, Iidah
sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, Gigi mudah goyah, gusi
mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur/ganda, diplopia,
lensa mata keruh,
c) Sistem integumen
Biasanya pada penderita diabetes mellitus akan ditemui turgor kulit
menurun, kulit menjadi kering dan gatal. Jika ada luka maka warna
disekitar luka akan memerah dan menjadi warna kehitaman jika sudah
kering. Pada luka yang susah kering biasanya alan menjadi ganggren
d) Sistem pernapasan
Adakah sesak napas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita Diabetes
Melitus mudah terjadi infeksi,
e) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
f) Sistem gastrointestinal
Pada penderita Diabetes Melitus akan terjadi polifagi, polidipsi, mual,
muntah, diare, konstipasi, dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan
lingkar abdomen dan obesitas.
g) Sistem urinary
Pada penderita diabetes melitus biasanya ditemui terjadinya poliuri, retensi
urine, inkontenensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
h) Sistem muskuloskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepat
lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstremitas
i) Sistem neurologis
Pada penderita Diabetes Melitus biasanya ditemui terjadinya penurunan
sensoris, anastesia, mengantuk, refleks lambat, kacau mental, disorientasi, dn
rasa kesemutan pada tangan dan kaki.
3) Pemeriksaan laboratorium
Menurut Bararah dan Jauhar (2018) pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
pada pasien Diabetes Melitus adalah :
a) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa > 120
mg/dl dan jam post prandial > 200 mg/dL
b) Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan
dengan cara Benedict (reduksi). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna
pada urine : hijau (+), kuning (++), merah (+++), dan merah bata (++++).
c) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai
dengan jenis kuman.
4) Fungsional klien
1. Indeks barthel yang dimodifikasi
Penilaian didasarkan pada tingkat bantuan orang lain dalam meningkatkan
aktivitas fungsional. Penilaian meliputi makan, berpindah tempat, kebersihan
diri, aktivitas di toilet, mandi, berjalan di jalan datar, naik turun tangga,
berpakaian, mengontrol defikasi dan berkemih. Cara penilaian :
No Kriteria Bantuan Mandiri
1 Makan 5 10
2 Minum 5 10
3 Berpindah dari kursi roda ke tempat 5-10 15
tidur atau sebaliknya
4 Personal toilet (cuci muka, menyisir 0 5
rambut, menggosok gigi)
5 Keluar masuk toilet (mencuci 5 10
pakaian, menyeka tubuh)
6 Mandi 5 15
7 Berjalan di tempat datar 0 5
8 Naik turun tangga 5 10
9 Menggunakan pakaian 5 10
10 Kontrol bowel (BAB) 5 10
11 Kontrol bladder (BAK) 5 10
Total skor
Cara penilaian :
< 60 : ketergantungan penuh/total
65 – 105 : ketergantungan sebagian
110 : mandiri
Analisis hasil :
Skor salah 0 – 2 : fungsi intelektual utuh
Skor salah 3 – 4 : kerusakan intelektual ringan
Skor salah 5 – 7 : kerusakan intelektual sedang
Skor salah 8 – 10 : kerusakan inteletual berat
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah pengkajian klinis terhadap respons klien terhadap
masalah kesehatan atau proses kehidupan, baik aktual maupun potensial. Diagnosis
terapeutik bertujuan untuk mengidentifikasi respon individu klien, keluarga dan
komunitas terhadap situasi yang berhubungan dengan kesehatan. Diagnosis keperawatan
ditentukan berdasarkan analisis dan interpretasi data dari pengkajian keperawatan klien.
Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau kondisi klien yang
sebenarnya (aktual) dan bersifat probable, sehingga dapat ditemukan solusinya dalam
tanggung jawab perawat.
Diagnosis yang mungkin muncul pada penderita Diabetes Melitus menurut
(Fatimah, 2015), meliputi :
a. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia (D.0027)
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
c. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan neuropati perifer (D.0129)
d. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi (D.0111)
e. Risiko infeksi ditandai dengan penyakit kronis (diabetes mellitus) (D.0142)
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosis Keperawatan Luaran Keperawatan (SLKI) Intervensi Keperawatan
. (SDKI) (SIKI)
1. Ketidakstabilan kadar Setelah dilakukan Tindakan Manajemen Hiperglikemia
glukosa darah keperawatan selama 6 x 24 jam Observasi
berhubungan dengan maka diharapkan kestabilan kadar 1.1 Identifikas kemungkinan penyebab hiperglikemia
hiperglikemia (D.0027) glukosa darah meningkatkan 1.2 Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhan insulin meningkat
Gejala dan tanda mayor : dengan kriteria hasil : 1.3 Monitor kadar glukosa darah, jika perlu
Hiperglikemia 1. Lelah/lesu menurun 1.4 Monitor tanda dan gejala, hiperglikemia
Subjektif 2. kadar glukosa dalam darah 1.5 Monitor intake dan output cairan
2. Lelah atau lesu membaik
Terapeutik
Objektif 1.6 Berikan asupan cairan Oral
1. kadar gula dalam darah
tinggi/urin tinggi Edukasi
1.7 Anjurkan menghindari olahraga saat kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/dL
Gejala dan tanda minor : 1.8 Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri
Hiperglikemia 1.9 Anjurkan kepatuhan Terhadap diet dan olahraga
Subjektif 1.10 Anjurkan Pengelolaan diabetes
1. Mulut kering
2. Haus meningkat Kolaborasi
1.11 Kolaborasi pemberian insulin
Objektif
1. jumlah urin meningkat
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan langkah terakhir dalam rangkaian proses
asuhan keperawatan, berguna untuk menilai apakah tujuan keperawatan tercapai atau
memerlukan pendekatan yang berbeda (Dinarti dan Mulyanti, 2017). Evaluasi
keperawatan merupakan penilain dengan cara membandingkan perubahan kondisi
pasien dengan tujuan dan kriteria luaran yang tercantum dalam fase perencanaan
(Budiono, 2016).
Menurut Hidayat (2021), evaluasi keperawatan dapat dibagi menjadi:
a. Evaluasi formatif:
Hasil observasi keperawatan dan analisis tindakan segera selama dan setelah
pekerjaan keperawatan.
b. Evaluasi sumatif:
Rangkuman dan kesimpulan dari temuan dan analisis status kesehatan selama
tujuan dicatat dalam catatan perkembangan.
Brunner & Suddarth. 2018. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.
______. 2018. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta: EGC
Fatimah. (2016). Anti-oxidant and anti-diabetic activities of ethanolic extract of Primula
Denticulata Flowers. Indonesian Journal of Pharmacy, 27(2), 74–79.
https://doi.org/10.14499/indonesianjpharm27iss2pp74
Riyadi, S & Sukarmin. 2013. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Eksokrin dan Endokrin Pada Pankreas. Yogyakarta : Graha Ilmu
PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan Keperawatan
(1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Dinarti, & Muryanti, Y. (2017). Bahan Ajar Keperawatan: Dokumentasi Keperawatan.
Hidayat, A. A. (2021). Proses Keperawatan : Pendekatan NANDA, NIC, NOC dan SDKI -
Google Books (N. Aziz Aulia (ed.)). Health Books Publishing.
Kemenkes RI. (2020). Infodatin 2020 Diabetes Melitus Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI.
PERKENI. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa
di Indonesia (1st ed.). PB. PERKENI. https://pbperkeni.or.id/unduhan