Modul Ajar Keanekaragaman Hayati SMA
Modul Ajar Keanekaragaman Hayati SMA
INFORMASI UMUM
A. IDENTITAS
Satuan Pendidikan SMA Negeri 1
Guru Mata pelajaran
Jenjang SMA
Kelas / Fase X (Fase E)
Alokasi Waktu 12 JP
B. KOMPETENSI AWAL Peserta didik sudah memahami tingkat organisasi
kehidupan
C. Profil Pelajar Pancasila ✔ Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME
dan berakhlak mulia
✔ Mandiri
✔ Kreatif
D. Sarana dan Prasarana Hewan dan tumbuhan di lingkungan sekitar, gambar
keanekaragaman hayati, Video dari Youtube, LMS
Moodle E-Learning SMANPAR, Gadget, internet, modul
luring
E. Target Peserta Didik Reguler
F. Model Pembelajaran Project based learning (dilaksanakan secara blended
learning)
II. KOMPONEN INTI
A. Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat menganalisis tingkat
kenekaragaman hayati di Indonesia, peran, ancaman
dan pelestariannya melalui studi kasus dari berbagai
sumber dengan bernalar kritis dan menyajikan data
hasil obsevasi tingkat keanekaragaman hayati di
Indonesia beserta gagasan upaya pelestariannya
dalam bentuk media yang digemari peserta didik
secara kreatif
B. Pemahaman Bermakna Keanekaragaman hayati merupakan kekayaan
Indonesia yang perlu dilestarikan demi kesejahteraan
hidup bangsa dan negara.
C. Pertanyaan Pemantik ✔ Apa yang akan terjadi jika anak cucu kita
hanya mengenal pulau komodo sebagai nama
tempat saja?
✔ Bagaimana caraya agar kekayaan Indonesia
tetap lestari?
Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan ✔ Peserta didik berdoa.
✔ Peserta didik diberi kesempatan melakukan
refleksi awal terkait pemahaman awal materi
yang akan dibahas, hal yang perlu dipersiapkan
untuk belajar dan hal yang harus dikembangkan.
Guru menyediakan daftar istilah penting dan
pengertiannya pada bahan ajar untuk membantu
siswa yang belum memiliki pengetahuan cukup
terkait materi yang akan dibahas.
✔ Peserta didik membaca tujuan pembelajaran/
petunjuk hand out/ petunjuk kegiatan.
TUJUAN
Tujuan dari lembar kerja ini adalah untuk menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati.
MATERI
Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan
keseluruhan variasi gen, jenis dan ekosistem suatu daerah. Keanekaragaman hayati terbentuk karena
adanya keseragaman dan keberagaman sifat makhluk hidup. Keseluruhan gen, jenis dan ekosistem
merupakan dasar kehidupan di bumi. Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan maka
keanekaragaman hayati perlu dipelajari dan dilestarikan. Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai
perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan,
baik tingkatan gen, tingkatan spesies maupun tingkatan ekosistem.
Tingkat Keanekaragaman Hayati
1. Keanekaragaman Gen
Gen adalah bagian tertentu pada kromosom yang mengatur sifat tertentu suatu jenis makhluk hidup. Gen
setiap jenis makhluk hidup memiliki bahan dasar kimia yang sama namun susunannya berbeda.
Perbedaan susunan dan jumlah faktor dalam kerangka dasar gen akan menyebabkan keanekaragaman
gen. Jadi, keanekaragaman gen adalah variasi susunan gen dalam satu spesies. Perbedaan sifat dalam
satu spesies disebut variasi. Variasi makhluk hidup secara alami dapat terjadi karena perkawinan dan
interaksi gen dengan lingkungan. Variasi makhluk hidup juga dapat terjadi secara buatan, yaitu hasil
inseminasi atau hibridisasi. Misalnya, pada spesies kucing (Felis catus) terdapat variasi seperti kucing
anggora yang berbulu panjang serta kucing siam dan kucing balinese yang berbulu pendek.
2. Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis adalah perbedaan-perbedaan yang ditemukan pada makhluk hidup di suatu
tempat yang mudah diamati karena perbedaannya mencolok. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan
morfologi, anatomi, fisiologi, tingkah laku dan sebagainya. Misalnya, keanekaragaman antara kelapa,
aren, pinang yang termasuk dalam famili Palmae.
3. Keanekaragaman Ekosistem
Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk hidup yang satu
dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Perbedaan kondisi
komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat
beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda-beda. Akibatnya, permukaan bumi dengan variasi
kondisi komponen abiotik yang tinggi akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem. Ada ekosistem
hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar, air
payau, laut, dan lain-lain.
PETUNJUK KERJA
Petunjuk penggunaan LKPD ini adalah sebagai berikut:
1. Kerjakan LKPD secara mandiri !
2. Kerjakan LKPD secara berurutan !
3. Amatilah gambar-gambar yang disajikan !
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 4
Gambar 3
Gambar 6
Gambar 5
HASIL PENGAMATAN DAN DISKUSI
Gambar-gambar di atas merupakan contoh dari keanekaragaman hayati. Setelah melakukan melakukan
kajian literatur diketahui tingkat keanekaragaman hayati dibagi menjadi tiga. Coba kamu diskusikan
dengan temanmu secara daring untuk menentukan gambar-gambar tersebut berdasarkan tingkatan
keanekaragaman hayatinya.
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
A. Keanekaragaman Gen
Gen adalah bagian tertentu pada kromosom yang mengatur sifat tertentu suatu jenis makhluk hidup. Gen setiap jenis
makhluk hidup memiliki bahan dasar kimia yang sama namun susunannya berbeda. Perbedaan susunan dan jumlah
faktor dalam kerangka dasar gen akan menyebabkan keanekaragaman gen. Jadi, keanekaragaman gen adalah
variasi susunan gen dalam satu spesies. Perbedaan sifat dalam satu spesies disebut variasi. Variasi makhluk hidup
secara alami dapat terjadi karena perkawinan dan interaksi gen dengan lingkungan. Variasi makhluk hidup juga
dapat terjadi secara buatan, yaitu hasil inseminasi atau hibridisasi. Misalnya, pada spesies kucing (Felis catus)
terdapat variasi seperti kucing anggora yang berbulu panjang serta kucing siam dan kucing balinese yang berbulu
pendek.
Kucing anggora Kucing siam Kucing balinese
Sumber : http://arenahewan.com Sumber : https://id.wikipedia.org/ Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/
Contoh lain dari keanekaragaman gen yaitu variasi warna pada tanaman anggrek (Dendrobium bracteosum).
Sumber : http://belajar-anggrek.blogspot.com/
B. Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis adalah perbedaan-perbedaan yang ditemukan pada makhluk hidup di suatu tempat yang
mudah diamati karena perbedaannya mencolok. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan morfologi, anatomi,
fisiologi, tingkah laku dan sebagainya. Misalnya, keanekaragaman antara kelapa, aren, pinang yang termasuk dalam
famili Palmae.
Ar
Tingkatan takson Kelapa Kelapa sawit Pinang
en
Pl
Kingdom Plantae Plantae ant Plantae
ae
Ma
gn
oli
Divisi Magnoliophyta Magnoliophyta Magnoliophyta
op
hyt
a
Lili
op
Kelas Liliopsida Liliopsida Liliopsida
sid
a
Ar
ec
Ordo Arecales Arecales Arecales
ale
s
Ar
ec
Famili Arecaceae Arecaceae ac Arecaceae
ea
e
Ar
Genus Cocos Elaeis en Areca
ga
Ar
en
ga
Spesies Cocos nucifera Elaeis guineensis Areca catechu L.
pin
nat
a
Tingkatan takson Pinang merah Lontar
Kingdom Plantae Plantae
Divisi Magnoliophyta Magnoliophyta
Kelas Liliopsida Liliopsida
Ordo Arecales Arecales
Famili Arecaceae Arecaceae
Genus Areca Borassus
Borassus flabellifer
Spesies Areca vestiaria
Sumber : https://biohasanah.wordpress.com/
C. Keanekaragaman Ekosistem
Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan
makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Perbedaan kondisi komponen abiotik
(tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat beradaptasi dengan
lingkungan tersebut berbeda-beda. Akibatnya, permukaan bumi dengan variasi kondisi komponen abiotik yang tinggi
akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem. Ada ekosistem hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput,
padang lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain-lain.
Sumber : http://akromyuwavfi.blogspot.com
Komponen biotik dan abiotik di berbagai daerah bervariasi baik mengenai kualitas komponen tersebut maupun
kuantitasnya. Hal inilah yang menyebabkan terbentuknya keanekaragaman ekosistem di muka bumi ini. Antar
komponen ekosistem hidup berdampingan tanpa saling mengganggu, dan apabila terjadi kepunahan atau gangguan
terhadap salah satu anggotanya maka akan mengganggu kelangsungan hidup organisme lainnya. Suatu perubahan
yang terjadi pada komponen-komponen ekosistem ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan (homeostatis)
ekosistem tersebut. Sebagai suatu sistem, di dalam setiap ekosistem akan terjadi proses yang saling terkait.
Misalnya, pengambilan makanan, perpindahan energi atau energetika, daur zat atau materi, dan produktivitas atau
hasil keseluruhan ekosistem. Contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah pohon kelapa banyak
tumbuh di daerah pantai, pohon aren tumbuh di pegunungan, sedangkan pohon palem dan pinang tumbuh dengan
baik di dataran rendah.
Beberapa contoh keanekaragaman ekosistem antara lain:
a. Ekosistem pantai, didominasi oleh formasi pes-caprae dan formasi baringtonia.
b. Ekosistem padang rumput, didominasi oleh tumbuhan rumput.
c. Ekosistem gurun, didominasi oleh tumbuhan kaktus.
d. Ekosistem hutan hujan tropis : ditumbuhi oleh berbagai macam pohon, terutama tumbuhan epifit dan liana
( misalnya rotan ).
Keanekaragaman hayati bermanfaat karena berperan dalam kehidupan manusia. Beberapa manfaat
keanekaragaman hayati di kehidupan dibedakan menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
1. Manfaat produktif : artinya nilai produk
keanekaragaman hayati yang diolah secara besar-
besaran dan bersifat komersial. Contoh: pabrik jaket
kulit memerlukan kulit sapi sebagai bahan baku
produknya.
2. Manfaat konsumtif : artinya nilai produk
keanekaragaman hayati yang langsung
dikonsumsi. Contoh: bahan pangan, bahan
bangunan, bahan obat-obatan.
3. Manfaat non-konsumtif : artinya nilai produk
keanekaragaman selain produktif dan konsumsif,
antara lain sebagai plasma nutfah memberikan
keindahan alam, manfaat ilmiah dan manfaat mental dan spiritual.
Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki banyak kekayaan alam, oleh sebab itu dijuluki Mega Divercity
Country. Hal ini disebabkan negara kita terletak di daerah tropis. Keanekaragaman yang tinggi di Indonesia bisa
dijumpai dalam hutan hujan tropis yang di dalamnya banyak ditemukan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Ada
juga tumbuhan yang bersifat endemik, yaitu hanya terdapat di Indonesia dan tidak dijumpai di negara lain.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki
Flora dataran Sahul antara lain sagu (Metroxylon sagu) dan pala (Myristica fragrans).
Flora kawasan Wallace antara lain leda (Eucalyptus deglupta) yang memiliki batang berwarna-warni. Daerah flora
terkaya di Indonesia adalah hutan hujan tropis di Kalimantan. Persebaran flora endemik di Indonesia antara lain
sebagai berikut:
a. Bengkulu : Rafflesia arnoldi
b. Kalimantan : Meranti (Shorea sp.), rotan (Calamus caesius), anggrek hitam (Coelogyne pandurata)
c. Papua : Matoa (Pometia pinnata), bunga Irian (Mucuna bennettii)
d. Jawa : Pohon Jati (Tecnosa grandis), mahoni (Swietenia mahogoni)
Keanekaragaman gen, spesies dan ekosistem di Indonesia dan dunia mengalami pengurangan terus menerus
hingga berada pada tingkat kepunahan. Berkurangnya keanekaragaman hayati menunjukkan ketidakseimbangan
antara kebutuhan manusia dan kapasitas alam. Hal ini menyebabkan keanekaragaman hayati semakin punah jika
tidak bisa ditanggulangi dengan baik oleh kita. Penyebab hilangnya keanekaragaman hayati dapat dijelaskan sebagai
berikut.
1. Hilangnya Habitat
Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature)
menunjukkan bahwa hilangnya habitat yang diakibatkan
manajemen pertanian dan hutan yang tidak berkelanjutan menjadi
penyebab terbesar hilangnya kenekaragaman hayati.
Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan semakin bertambah pula
kebutuhan yang harus dipenuhi. Lahan yang tersedia untuk
kehidupan tumbuhan dan hewan semakin sempit karena digunakan
untuk tempat tinggal penduduk, dibabat untuk digunakan sebagai
lahan pertanian atau dijadikan lahan industri. Pada ekosistem air
tawar, pembuatan bendungan justru merusak sebagian besar habitat sungai. Pada ekosistem laut, pembangunan di
daerah pinggir pantai telah menghilangkan komunitas terumbu karang. Pada hutan tropis, penyebab utama hilangnya
hutan adalah ekstensifikasi pertanian maupun penebangan hutan. Keduanya untuk tujuan komersial misalnya untuk
bahan bangunan, pembuatan kertas, pensil dan tisu.
2. Introduksi Spesies
Introduksi spesies adalah suatu upaya mendatangkan spesies asing ke suatu wilayah yang telah memiliki spesies
lokal. Masuknya spesies dari luar ke suatu daerah seringkali mendesak spesies lokal yang sebenarnya merupakan
spesies penting dan langka di daerah tersebut. Beberapa spesies asing tersebut dapat menjadi spesies invasif yang
menguasai eksosistem. Pada ekosistem yang terisolasi, adanya predator, kompetitor, atau patogen dapat
mengancam spesies yang sebelumnya sudah ada. Misalnya ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis) merupakan
spesies endemik Danau Ayamaru, Papua Barat. Ikan pelangi terancam punah karena dimangsa oleh ikan mas
(Cyprinus carpio) yang dibawa dari Jepang dan menjadi spesies invasif di danau tersebut.
Eksploitasi hewan dan tumbuhan secara besar-besaran biasanya dilakukan terhadap komoditas yang memiliki nilai
ekonomi tinggi, misalnya kayu hutan yang digunakan untuk bahan bangunan dan ikan tuna sirip kuning yang
harganya mahal dan banyak diminati oleh pecinta makanan laut. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan
kepunahan spesies-spesies tertentu, apalagi bila tidak diimbangi dengan usaha pengembangbiakannya.
Sumber : https://hamparan.net
Zat pencemar (polutan) adalah produk buangan yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Polutan tersebut dapat
mencemari air, tanah, dan udara. Beberapa polutan berbahaya bagi organisme. Nitrogen dan sulfur oksida yang
dihasilkan dan kendaraan bermotor jika bereaksi dengan air akan membentuk hujan asam yang merusak
ekosistem. Penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) yang berlebihan menyebabkan lapisan ozon di atmosfer
berlubang. Akibatnya intensitas sinar ultraviolet yang masuk ke bumi meningkat dan menyebabkan banyak
masalah, antara lain berkurangnya biomassa fitoplankton di lautan yang menyebabkan terganggunya
keseimbangan rantai makanan organisme.
2. Pelestarian ex situ : upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan dengan cara mengambil
fauna dan flora dari wilayah aslinya, dengan tujuan melakukan konservasi, perlindungan, serta
pengembangbiakan. Upaya ini juga dilakukan saat ekosistem tempat flora maupun fauna tersebut tinggal,
telah hancur total atau rusak, dan membutuhkan waktu untuk dapat layak diinggali kembali. Ex situ juga
sebagai upaya konservasi dengan cara mengoleksi spesies langka, sehingga masa hidup mereka bisa
sedikit lebih lama. Upaya pelestarian secara ex situ, dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain
dengan kebun binatang, taman safari, dan taman hutan raya.
a. Kebun binatang adalah salah satu bentuk konservasi dengan memakai lingkungan alam buatan, yang
terpisah- pisah pada setiap jenis spesies. Setiap spesies akan berada di dalam kandang yang terpisah
dengan spesies lain. Kekurangan dari kebun binatang adalah ruang gerak menjadi sangat terbatas,
akibat berada dalam kandang.
b. Taman safari adalah upaya pelestarian flora dan fauna melalui pembuatan lingkungan buatan.
Berbeda dengan kebung binatang yang setiap spesies berada dalam satu kandang, pada taman
safari, beberapa spesies berada dalam satu wilayah besar.
c. Taman hutan raya adalah taman hutan yang sebagian masih habitat asli, dan sebagian telah di
perbarui dengan lingkungan buatan. Taman hutan raya mengkhususkan pada konservasi koleksi
tumbuhan. Ciri- ciri hutan raya adalah mempunyai koleksi tumbuhan yang banyak serta unik,
mempunyai wilayah yang luas, serta masih memiliki keindahan habitat aslinya.
Beberapa daerah konservasi ex situ yang ada di indonesia adalah:
a. Taman Safari Prigen Jawa Timur
b. Taman Hutan Raya Purwodadi Jawa Timur
c. Taman Hutan Raya Bogor
d. Kebun Binatang Ragunan Jakarta
C. Glosarium
Biodiversitas : keanekaragaman hayati
Eksitu : makhluk hidup di luar habitat aslinya
Eksploitasi : makhluk hidup: penggunaan makhluk hidup untuk kepentingan tertentu
Fauna : Hewan
Flora : tumbuhan
insitu : makhluk hidup di habitat aslinya
Konservasi : pemeliharaan makhluk hidup untuk melindungi/mencegah dari kepunahan
D. Daftar Pustaka
Irnaningtyas.2016. Biologi untuk SMA /MA kelas X. Jakarta: Erlangga.
Yani Riana., dkk. 2009. Biologi 1 Kelas X SMA dan MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.