Legenda Dewi Rengganis
Penokohan:
1. Dewi Rengganis - Putri cantik, bijaksana, dan penuh kasih yang menjaga kerajaannya.
2. Dayang Ningsih - Dayang setia Dewi Rengganis, sangat peduli pada keselamatan putrinya.
3. Dayang Ratna - Dayang yang pemberani, selalu mendukung keputusan Dewi Rengganis.
4. Permaisuri Sari - Ibu Dewi Rengganis, sosok yang tegas dan bijaksana.
5. Dewi Kartika - Teman sekaligus penasihat Dewi Rengganis.
6. Pangeran Arya Wiraraja - Kekasih Dewi Rengganis, pangeran dari kerajaan tetangga yang
gagah dan setia.
7. Prabu Anggalarang - Raja yang tamak dan kejam, ingin menikahi Dewi Rengganis demi
kekuasaan.
8. Penjaga Roh Gunung Argopuro - Roh penjaga suci gunung, melindungi alam dan
keseimbangan dari niat buruk.
9. Patih Pranata – Penasehat dan prajurit Prabu Anggalarang, yang patuh terhadapnya.
Adegan 1: Di Istana Dewi Rengganis
Narator: Dewi Rengganis duduk di taman istana bersama ibunya, Permaisuri Sari.
Bunga-bunga bermekaran di sekitar mereka. Dayang Ningsih dan Dayang Ratna
berdiri dengan setia di dekat Dewi Rengganis, yang tampak termenung.
Permaisuri Sari : Anakku, kau terlihat gelisah belakangan ini. Sebagai seorang putri,
tugasmu bukan hanya menjaga rakyat, tetapi juga memikirkan masa depan kerajaan kita.
Sudah saatnya kau memilih seorang pendamping.
Dewi Rengganis : (Ia menatap ibunya dengan lembut) Ibu, aku menyadari hal itu. Aku
ingin mencintai dan melayani rakyatku dengan segenap hati. Namun, soal pendamping, hanya
ada satu orang yang kupilih, yaitu Pangeran Arya Wiraraja.
Permaisuri Sari : Tentu, Arya adalah pilihan yang baik. Ia pangeran yang adil dan
bijaksana, dan aku tahu ia sangat mencintaimu. Namun, kau tahu bahwa beberapa raja lain
juga menaruh harapan padamu, termasuk Prabu Anggalarang.
Dayang Ningsih : (Turut menimpali dengan cemas) Ya, Putri. Kami mendengar kabar
bahwa Prabu Anggalarang berniat untuk melamarmu. Banyak orang yang takut padanya,
sebab ia terkenal tamak dan kejam.
Dewi Rengganis : (Suaranya tegas) Aku tidak akan menyerahkan hatiku pada siapa pun
selain Arya. Prabu Anggalarang boleh memiliki kekuasaan, tetapi aku tidak akan pernah
memilihnya sebagai pendampingku.
Permaisuri Sari : (Ia memegang tangan Dewi Rengganis) Tetaplah kuat, Anakku. Jika
niat Prabu Anggalarang tak baik, kita harus waspada. Ingatlah, selalu ada tempat
perlindungan di Gunung Argopuro. Gunung itu memiliki roh penjaga yang akan melindungi
mereka yang membutuhkan.
Narator :Dewi Rengganis mengangguk, meski hatinya tetap gelisah
memikirkan ancaman Prabu Anggalarang. Setelah percakapan dengan Permaisuri Sari
tentang perjodohan dengan Pangeran Arya dan ancaman Prabu Anggalarang, Dewi
Rengganis semakin gelisah. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Dewi Kartika di
halaman belakang istana.
(Dewi Rengganis dan Dewi Kartika duduk berdua di beranda. Angin malam berhembus
lembut, dan bulan purnama menyinari taman di bawah mereka.)
Dewi Kartika :(Sambil memandang bintang-bintang) Rengganis, aku tahu
keputusanmu menolak Prabu Anggalarang tidak mudah. Tapi, kau tetap teguh dengan hatimu.
Kau memang kuat.
Dewi Rengganis :(Senyum tipis) Kartika, apa artinya menjadi seorang pemimpin jika
aku mengorbankan hatiku demi kekuasaan? Aku tidak bisa membiarkan rakyatku hidup di
bawah bayang-bayang raja seperti Anggalarang.
Dewi Kartika :(Terdiam sesaat) Kau benar, sahabatku. Tapi aku khawatir. Prabu
Anggalarang bukan orang yang akan menerima penolakan dengan baik. Dia mungkin akan
mengambil langkah berbahaya. Apa kau yakin tidak ada cara lain?
Dewi Rengganis :Aku sudah memikirkannya, Kartika. Aku tahu bahwa pilihanku akan
mendatangkan bahaya. Tapi aku tidak bisa hidup dengan menyerahkan kebebasanku kepada
orang seperti dia. Lebih baik aku berjuang dan melindungi rakyatku daripada menikah karena
paksaan.
Dewi Kartika :(Memegang tangan Rengganis dengan penuh kasih) Aku selalu
mendukungmu, apa pun keputusanmu. Ingatlah, aku akan selalu ada di sisimu.
(Mereka saling tersenyum, namun di hati masing-masing ada kekhawatiran tentang
apa yang akan terjadi setelah ini.)
Adegan 2: Istana Prabu Anggalarang
Narator :Di kerajaan tetangga, Prabu Anggalarang duduk di
singgasananya dengan senyum licik. Di hadapannya ada Patih Pranata, penasihat yang
setia namun berhati-hati.
Prabu Anggalarang : (Penuh ambisi) Patih Pranata, sebentar lagi seluruh kerajaan di
bawah kekuasaan Dewi Rengganis akan menjadi milikku. Aku telah memutuskan untuk
melamarnya, dan jika ia menolak, aku akan merebutnya dengan paksa.
Patih Pranata :(Yang Mulia, Dewi Rengganis sangat dihormati dan dicintai oleh
rakyatnya. Menikahinya dengan paksa mungkin bukan pilihan terbaik. Rakyat bisa
memberontak.
Prabu Anggalarang :(Mengabaikan nasihat Patih) Apa yang kau tahu, Patih! Semua ini
demi kekuasaan yang lebih besar! Siapkan pasukan untuk mengawalku. Aku akan pergi ke
istana Dewi Rengganis besok, dan aku ingin mendengar jawabannya di sana.
Patih Pranata :(Segera menunduk, tidak berani membantah) Ya, Yang Mulia.(Prabu
Anggalarang tertawa dengan angkuh, memikirkan bahwa tidak ada yang bisa menolak
kehendaknya.)
Adegan 3: Lamaran dari Prabu Anggalarang
Narator : Di istana Dewi Rengganis, datanglah utusan dari Prabu
Anggalarang. Mereka membawa sebuah surat lamaran yang ditulis dengan tinta emas.
Patih Pranata :(Suara lantang) Yang Mulia Dewi Rengganis, Prabu Anggalarang
datang melamarmu untuk menjadi permaisurinya. Dengan persatuan ini, kedua kerajaan akan
semakin kuat dan jaya.
Dewi Rengganis :(Suara tegas namun lembut) Katakan pada rajamu bahwa aku tidak
bisa menerima lamaran ini. Aku sudah memiliki pilihan hatiku sendiri, dan aku tak akan
menikah demi kekuasaan.
Patih Pranata :(Nampak panik) Namun, Tuan Putri, Prabu Anggalarang tidak suka
ditolak. Beliau mungkin akan mengambil tindakan lebih keras untuk mendapatkan apa yang
ia inginkan.
Dewi Rengganis :Beritahukan saja jawabanku. Tak ada satu pun ancaman yang bisa
mengubah perasaanku.
Permaisuri Sari :Keputusan Dewi Rengganis sudah jelas. Segera kembali dan
sampaikan dengan hormat kepada rajamu.
Narator : Utusan Prabu Anggalarang akhirnya meninggalkan istana
dengan perasaan cemas, mengetahui bahwa Prabu Anggalarang tidak akan menerima
jawaban ini dengan baik
Adegan 4: Persiapan Serangan Prabu Anggalarang
Narator :Di kerajaan Prabu Anggalarang, kemarahan meluap ketika
mendengar kabar bahwa Dewi Rengganis menolak lamarannya.
Prabu Anggalarang :(Berseru penuh amarah) Berani sekali dia menolak kehendakku!
Kalau begitu, aku akan menyerangnya dan mengambilnya dengan paksa. Aku tidak peduli
dengan konsekuensinya!
Patih Pranata : Tapi Yang Mulia, serangan ini akan membahayakan rakyat. Mungkin
ada jalan lain untuk mencapai tujuan ini.
Prabu Anggalarang :Aku sudah membuat keputusan. Kumpulkan semua pasukan, kita akan
bergerak besok pagi!
Narator : Patih Pranata akhirnya menyerah dan mematuhi perintahnya,
meski ia tahu tindakan ini bisa membawa bencana.
Adegan 5: Pelarian Dewi Rengganis ke Gunung Argopuro
Narator :Ketika mendengar rencana serangan Prabu Anggalarang, Dewi
Rengganis memutuskan untuk mencari perlindungan di Gunung Argopuro. Ditemani
oleh ibunya, para dayang, dan Pangeran Arya, mereka meninggalkan istana di malam
hari demi keselamatan rakyat.
Dewi Rengganis :(Sambil berjalan) Aku tidak bisa membiarkan rakyatku menderita
karena ambisi Prabu Anggalarang. Gunung Argopuro adalah tempat suci; semoga di sana aku
bisa menemukan perlindungan.
Pangeran Arya :(Jalan di samping Dewi Rengganis) Kau tidak perlu merasa sendirian.
Aku akan selalu bersamamu, Rengganis, apa pun yang terjadi.
Dayang Ratna : Gunung Argopuro dikenal memiliki roh penjaga yang kuat. Aku
yakin kita akan dilindungi jika kita bersikap tulus.
Narator : Dalam perjalanan malam hari menuju Gunung Argopuro,
rombongan berjalan dalam diam. Dewi Kartika berjalan di sisi Dewi Rengganis,
mencoba menyemangatinya.
Dewi Kartika :Kita akan segera tiba di gunung. Jangan khawatir, Rengganis. Ini
hanya langkah sementara sebelum kita menemukan solusi.
Dewi Rengganis :Aku tahu, Kartika. Tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Apa pun yang menanti kita di sana, aku hanya ingin semuanya berakhir tanpa ada korban.
Dewi Kartika :(Suara menenangkan) Kita sudah mengambil langkah berani. Alam
selalu berpihak pada orang-orang yang tulus. Jika roh penjaga gunung itu melihat
ketulusanmu, aku yakin dia akan melindungi kita.
Pangeran Arya :Kartika benar, Rengganis. Apa pun yang terjadi, kita bersama-sama
menghadapi ini.
(Dewi Rengganis mengangguk dengan perasaan lebih tenang, tahu bahwa di sisinya ada
orang-orang yang setia.)
Narator :Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di puncak Gunung
Argopuro. Dewi Rengganis berlutut dan berdoa kepada roh penjaga gunung agar
diberi perlindungan.
Adegan 6: Penampakan Roh Penjaga Gunung Argopuro
Narator : Ketika Dewi Rengganis berdoa, tiba-tiba muncul kabut tebal dan
suara menggelegar yang datang dari Penjaga Roh Gunung Argopuro.
Penjaga Gunung : (Suara menggema) Siapakah yang berani mengganggu kedamaian di
puncak suci Gunung Argopuro ini?
Dewi Rengganis :(Suara penuh hormat) Maafkan kami, Penjaga Gunung yang agung.
Kami datang ke sini untuk mencari perlindungan dari seorang raja yang tamak, Prabu
Anggalarang. Ia hendak menyerang kerajaanku karena aku menolak lamarannya.
Penjaga Gunung :(Terdengar lembut namun tegas) Dewi Rengganis, aku bisa merasakan
niat baikmu dan ketulusan hatimu. Namun, meminta perlindungan di gunung ini memiliki
konsekuensinya. Kau dan pengikutmu harus bersedia menyatu dengan alam ini jika ingin
dilindungi dari bahaya.
Permaisuri Sari :(Menundukkan kepala) Jika itu adalah cara agar anakku dan rakyatnya
terlindungi, kami siap menerima takdir ini.
Pangeran Arya : Aku pun siap mengikuti dan menjaga Dewi Rengganis, apa pun yang
terjadi.
Dewi Rengganis : (Dengan mantap) Aku rela, asal rakyatku aman dari kekejaman Prabu
Anggalarang. Jika menyatu dengan alam ini adalah satu-satunya cara, aku akan
melakukannya dengan ikhlas.
(Penjaga Gunung terdiam sejenak, seakan sedang menilai ketulusan mereka.)
Penjaga Gunung : Jika itu keputusanmu, maka aku akan melindungimu. Bersiaplah,
sebab waktu ujianmu hampir tiba.
(Saat roh penjaga muncul di tengah kabut dan menyuarakan peringatannya, Dewi
Rengganis hampir goyah karena pilihan yang sulit. Dewi Kartika segera menguatkan
sahabatnya.)
Penjaga Gunung :(Suara menggema) Apakah kalian siap menerima konsekuensi untuk
menyatu dengan alam dan menyerahkan diri pada kekuatan gunung ini?
Dewi Rengganis : Apakah benar ini satu-satunya jalan? Aku tidak ingin hidup kami
semua berakhir di sini.
Dewi Kartika :(Sambil menggenggam tangan Rengganis) Ini bukan akhir, Rengganis.
Ini awal yang baru, di mana kita akan menjadi bagian dari alam dan terus menjaga kedamaian
selamanya. Aku ada di sisimu, dan kita akan melakukannya bersama.
Permaisuri Sari : (Suara penuh pengorbanan) Kita semua siap menjalani apa pun demi
keselamatan.
Narator :Dewi Rengganis merasa lebih kuat dengan dukungan Kartika dan
orang-orang yang dicintainya. Ia mengangguk mantap kepada roh penjaga, menerima
takdirnya.
Adegan 7: Prabu Anggalarang Menyerang Gunung
Narator :Sementara itu, Prabu Anggalarang dan pasukannya tiba di kaki
Gunung Argopuro. Dengan penuh amarah, ia berteriak, memerintahkan pasukannya
untuk mencari Dewi Rengganis.
Prabu Anggalarang : Dewi Rengganis! Kau tak akan bisa lari dariku! Jika kau tidak turun,
aku akan membakar gunung ini sampai kau menyerah!
Patih Pratama : (Mengikuti perintah dengan ragu) Kami siap, Yang Mulia. Tapi
tempat ini terlarang bagi manusia biasa...
Prabu Anggalarang :(Abaikan peringatan) Aku tak peduli! Aku raja yang berkuasa, dan tak
ada gunung atau roh apa pun yang bisa menghalangiku!
Narator :Ketika Prabu Anggalarang dan pasukannya mulai mendaki,
kabut tebal menyelimuti gunung. Terdengar suara angin dan raungan dari dalam hutan
yang menakutkan.
Penjaga Gunung :(Suara menggema di seluruh gunung) Wahai manusia tamak,
keberanianmu telah membawa malapetaka. Kau datang dengan niat jahat di tempat suci ini,
maka bersiaplah menerima hukuman!
Prabu Anggalarang :(Mengejek) Hah! Apa yang bisa dilakukan oleh roh gunung? Aku
tidak takut!
Narator :Tiba-tiba, tanah berguncang keras. Pasukan Prabu Anggalarang
mulai ketakutan dan satu per satu berlari mundur. Hanya Prabu Anggalarang yang
tersisa di puncak, tetap bersikukuh.
Penjaga Gunung : (Berbicara dengan nada penuh kekuatan) Kau telah membawa
kehancuran bagi dirimu sendiri, Prabu Anggalarang. Maka, sebagai hukuman, kau akan abadi
di sini, sebagai peringatan bagi semua yang tamak dan penuh nafsu kekuasaan.
Narator :Prabu Anggalarang pun berubah menjadi batu. Tubuhnya
perlahan-lahan membatu mulai dari kaki hingga kepala. Ia menjadi patung abadi di
puncak Gunung Argopuro, menghadap ke arah kerajaannya yang kini tak lagi bisa ia
kuasai.
Adegan 8: Pengorbanan Dewi Rengganis
Narator : Setelah Prabu Anggalarang dikutuk, Dewi Rengganis
memandang dengan penuh haru. Ia tahu bahwa kutukan ini adalah awal dari
takdirnya yang baru. Ia menoleh kepada Pangeran Arya dan pengikutnya, dengan
senyum penuh pengorbanan.
Pangeran Arya : (Tersedu) Dewi Rengganis, kau tak perlu menyatu dengan gunung
ini. Kita bisa pulang sekarang, kerajaanmu aman.
Dewi Rengganis : (Dengan lembut) Tidak, Arya. Aku telah berjanji kepada roh penjaga
untuk menjaga kedamaian di sini. Inilah jalan yang harus kupilih demi keselamatan rakyatku.
Aku harus menyatu dengan alam untuk selamanya.
Permaisuri Sari : (Menangis) Anakku, aku bangga padamu. Namun, kepergianmu akan
menjadi duka besar bagi kami semua.
Dewi Rengganis : (Peluk ibunya) Ibu, cinta dan doamu akan selalu menjadi bagian dari
diriku. Jagalah rakyat kita dengan baik, dan ingatlah bahwa aku selalu ada bersama alam.
Narator :Dengan perlahan, tubuh Dewi Rengganis mulai bercahaya,
kemudian menghilang ke dalam kabut. Ia menyatu dengan roh Gunung Argopuro,
menjadi pelindung abadi yang akan menjaga kedamaian dan keindahan gunung itu.
Epilog
Hari-hari berlalu, dan penduduk kerajaan mengenang Dewi Rengganis sebagai putri yang
rela berkorban demi keselamatan rakyatnya. Setiap tahun, mereka datang ke Gunung
Argopuro untuk memberi penghormatan kepada Dewi Rengganis, yang kini dikenal
sebagai roh suci gunung tersebut. Kisah pengorbanannya terus diceritakan dari generasi
ke generasi, mengingatkan semua orang tentang keberanian, ketulusan, dan cinta seorang
putri yang berani melawan segala tantangan.)
Amanat: Cerita ini menekankan pengorbanan dan ketulusan Dewi Rengganis, yang lebih
memilih untuk menjadi pelindung gunung demi keselamatan rakyatnya daripada tunduk pada
raja tamak. Semoga versi ini memenuhi harapanmu dengan detail dan alur yang lebih jelas.