0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan84 halaman

Perencanaan Pompa Underpass Bandara YIA

Laporan tugas akhir ini membahas perencanaan pompa air untuk underpass di Bandara New Yogyakarta International Airport, yang bertujuan untuk mengatasi dampak pembangunan bandara terhadap lalu lintas di Jalan Daendels Kulon Progo. Underpass sepanjang 1305 meter ini dirancang dengan saluran tertutup dan terbuka, serta dilengkapi dengan bak penampung dan pompa untuk mencegah genangan air. Kapasitas pompa yang digunakan adalah 239 liter/detik, dengan tinggi angkat maksimum 26 meter, untuk memenuhi kebutuhan drainase di area tersebut.

Diunggah oleh

Dita Dwi Febriani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan84 halaman

Perencanaan Pompa Underpass Bandara YIA

Laporan tugas akhir ini membahas perencanaan pompa air untuk underpass di Bandara New Yogyakarta International Airport, yang bertujuan untuk mengatasi dampak pembangunan bandara terhadap lalu lintas di Jalan Daendels Kulon Progo. Underpass sepanjang 1305 meter ini dirancang dengan saluran tertutup dan terbuka, serta dilengkapi dengan bak penampung dan pompa untuk mencegah genangan air. Kapasitas pompa yang digunakan adalah 239 liter/detik, dengan tinggi angkat maksimum 26 meter, untuk memenuhi kebutuhan drainase di area tersebut.

Diunggah oleh

Dita Dwi Febriani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN TUGAS AKHIR

PERENCANAAN POMPA AIR UNDERPASS BANDARA


NEW YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT

Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Menempuh Ujian Program S-1 Teknik


Sipil Fakultas Teknik Universitas Semarang

Oleh :
RISKY LIA PRANINDYA MUSTOFA C.141.18.0015
M. RIZKI MAULANA C. 141.18.0021

YAYASAN ALUMNI UNIVERSITAS DIPONEGORO


FAKULTAS TEKNIK JURUSAN S-1 TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS SEMARANG
2021

i
ABSTRAK
Jalan Daendels Kulon Progo merupakan jalur yang mendapat imbas dari
pembangunan Bandara New Yogyajarta Internasional Airport. Terputusnya jalur tersebut
sangat berpengaruh terhdap aktifitas lalu lintas kota Yogyakarta yang cukup tinggi.
Pembangunan underpass Bandara New Yogyakarta Internasional Airport dimaksud untuk
memfungsikan Kembali jalan tersebut dengan dijadikan sebagai jalur alternative. Underpass
dibangun dibawah Bandara New Yogyakarta Internasional Airport dengan konstruksi yang
dilengkapi bak penampung dan pompa gua mengantisipsi genangan ataupun banjir di
sepanjang jalur lintasan. Underpass Bandara New Yogyakarta Internasional Airport
memiliki Panjang 1305 meter dengan 2 tipe underpass terbuka dan tertutup. Pada
perencanaan ini dilakukan survey secara langsung dilapangan dengan pengambilan data
didasarkan pada data curah hujan dengan periode ulang 10 tahunan dan data layout
underpass. Dalam perencanaan ini, diperoleh underpass tertutup sisi timur 0.300 m³/dtk dan
terbuka 0.441 m³/dtk. Underpass tertutup sisi barat 0.301 m³/dtk dan terbuka 0.435 m3/dtk.
Perencanaan saluran underpass tertutup sisi timur dan barat berbentuk segi empat dengan
dimensi 0.5x0.4 meter tinggi jagaan 0.3 meter. Sedangkan saluran underpass terbuka sisi
timur dan barat dengan dimensi 0.5x0.6 meter tinggi jagaan 0.4 meter. Pada bak penampung
dimensi 15.6x10x3.5 meter pasa sisi timur dan barat. Pompa sebanyak 2 buah dengan merk
GRUNFOS memiliki kapasitas pompa 239 liter/detik tinggi angkat maksimum 26 meter dan
tinggi angkat total sebesar 13.75 meter sehingga pompa yang digunakan dapat memenuhi
kebutuhan.
Kata Kunci : Underpass, saluran, Bak Penampung, Pompa.

ii
ABSTRACT
Daendels Kulon Progo is a route that has been impacted by the construction of the
New Yogyajarta International Airport. The interruption of this route greatly affects the traffic
activity of the city of Yogyakarta which is quite high. The construction of the New
Yogyakarta International Airport underpass is intended to re-function the road by being used
as an alternative route. The underpass is built under the New Yogyakarta International
Airport with a construction equipped with a reservoir and a cave pump to anticipate
inundation or flooding along the track. The New Yogyakarta International Airport underpass
has a length of 1305 meters with 2 types of open and closed underpasses. In this plan, a direct
field survey was carried out with data collection based on rainfall data with a 10-year return
period and underpass layout data. In this plan, the east side closed underpass is 0.300 m³ / s
and an open side is 0.441 m³ / s. The west side closed underpass is 0.301 m³ / s and open
0.435 m3 / s. The planning of closed underpass channels on the east and west sides is
rectangular with dimensions of 0.5x0.4 meters, guard height of 0.3 meters. While the
underpass is open on the east and west sides with dimensions of 0.5x0.6 meters, guard height
of 0.4 meters. In a container with dimensions of 15.6x10x3.5 meters on the east and west
sides. Two pumps with the GRUNFOS brand have a pump capacity of 239 liters / second, a
maximum lift height of 26 meters and a total lift height of 13.75 meters so that the pump
used can meet the needs.
Keywords: Underpass, channel, reservoir, pump

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu pada saat penyusunan Laporan Tugas Akhir ini. Para pihak tersebut
adalah :

1. Bapak Purwanto, S.T., M.T., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Semarang
dan Dosen Wali yang telah membimbing penulis selama berkuliah di Universitas
Semarang.
2. Ibu Ir. Diah Setyati Budiningrum, M.T., selaku Ketua Program Studi S1 Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas Semarang yang telah memberikan motivasi,
nasehat , dukungan dan arahan.
3. Bapak Ir. Edy Susilo, M.T selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah berjasa
dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Laporan
Tugas Akhir ini.
4. Bapak Ir. Moch Sediono BIE. ME selaku Dosen Pembimbing Anggota yang juga
berjasa dalam membimbing dan memberi ilmu serta motivasi kepada penulis
selama pengerjaan Laporan Tugas Akhir ini.
5. Seluruh dosen, staf dan karyawan Program Studi S1 Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Semarang atas jasa-jasanya selama penulis menuntut ilmu.
6. Bapak Eko Sudjianto, ST selaku Project Manager PT. WIKIA yang telah
memberikan ijin penulis untuk menjadikan proyeknya sebagai obyek Tugas Akhir
penulis dan menyalin beberapa dokumen proyek.
7. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
membantu dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun Laporan Tugas Akhir ini
masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca. Saran dan kritik dapat dikirimkan melalui surat
elektronik : rizekimaulana95@gmail.com
Semarang, Februari 2021

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................ i

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... iv

DAFTAR ISI ......................................................................................................................... v

DAFTAR TABEL .............................................................................................................. viii

DAFTAR GAMBAR............................................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1

1.2. PERUMUSAN MASALAH ................................................................................... 1

1.3. BATASAN MASALAH ......................................................................................... 2

1.4. MAKSUD DAN TUJUAN ..................................................................................... 2

1.5. LOKASI PERENCANAAN ................................................................................... 2

1.6. SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAPORAN ...................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 4

2.1. ANALISA HIDROLOGI ........................................................................................ 4

2.2.1. Data Hidrologi ................................................................................................. 4

2.2.2. Periode Ulang (Return Period) ........................................................................ 4

2.2.3. Curah Hujan Harian Maksimum Rencana ....................................................... 5

2.2.2.1. Metode distribusi normal ......................................................................... 7

2.2.2.2. Metode distribusi gumbel ......................................................................... 8

2.2.2.3. Metode distribusi log person type III ....................................................... 9

2.2.4. Uji Kecocokan Distribusi .............................................................................. 11

2.2.3.1. Uji Chi-Kuadrat (Chi-Square)................................................................ 11

2.2.3.2. Smirnov – Kolmogorov.......................................................................... 13

2.1.4. Pengolahan Data Hujan ................................................................................. 14

2.2.4.1. Cara Rata-Rata Aljabar .......................................................................... 15

v
2.1.5. Intensitas Hujan ............................................................................................. 15

2.2.5.1. Cara Mononobe ...................................................................................... 16

2.1.6. Run-Off Coeficient (Koefisien Pengaliran / C) ............................................. 16

2.1.7. Time Of Concentration (tc) ........................................................................... 17

2.2.7.1. Overland Flow Time (𝐭𝟎) ....................................................................... 18

2.1.8. Koefisien Penyebaran Hujan (Β) ................................................................... 18

2.1.9. Debit Rencana (QR) ...................................................................................... 18

2.2. ANALISA HIDROLIKA ...................................................................................... 19

2.2.1. Saluran Drainase ............................................................................................ 19

2.2.1.1. Debit Kapasitas Aliran ........................................................................... 20

2.2.1.2. Kecepatan Aliran .................................................................................... 20

2.2.1.3. Koefisien kekasaran ............................................................................... 21

2.2.1.4. Dimensi Penampang Saluran ................................................................. 21

2.2.2. Bak Penampung ............................................................................................. 22

2.2.1.5. Kapasitas Tampung Bak Penampung ..................................................... 22

2.2.1.6. Dimensi Bak Penampung ....................................................................... 23

2.2.3. Pompa ............................................................................................................ 23

BAB III METODOLOGI .................................................................................................... 25

3.1. BAGAN ALIR PERENCANAAN ....................................................................... 25

3.2. TAHAP PERSIAPAN .......................................................................................... 26

3.3. TAHAP ANALISA ............................................................................................... 26

3.4. TAHAP DESIGN ................................................................................................. 27

3.5. TAHAP KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 27

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA.................................................................. 28

4.1. DESKRIPSI LOKASI........................................................................................... 28

4.2. ANALISA HIDROLOGI ...................................................................................... 28

4.2.1. Analisa Hujan Rata-rata................................................................................. 28

vi
4.2.2. Analisa Curah Hujan Harian Rencana ........................................................... 29

4.2.2.1. Metode Log Person Type III .................................................................. 30

4.2.2.2. Metode Gumbel ...................................................................................... 33

4.2.3. Uji kecocokan ................................................................................................ 35

4.2.3.1. Uji Chi Kuadrat ...................................................................................... 35

4.2.3.2. Uji Smirnov Kolmogorov....................................................................... 38

4.2.3.3. Hasil distribusi........................................................................................ 41

4.2.4. Analisa debit rasional .................................................................................... 42

4.2.4.1. Underpass Tertutup ................................................................................ 42

4.2.4.2. Underpass Terbuka ................................................................................. 44

4.3. ANALISA HIDROLIKA ...................................................................................... 46

1.3.1. Underpass Tertutup ....................................................................................... 46

1.3.2. Underpass terbuka ......................................................................................... 48

1.3.3. Bak Penampung ............................................................................................. 51

1.3.4. Perhitungan Pompa ........................................................................................ 52

1.3.4.1. Analisa Kebutuhan Pompa ..................................................................... 52

1.3.4.2. Analisa Tinggi Angkat Pompa ............................................................... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................. 56

5.1. KESIMPULAN ..................................................................................................... 56

5.2. SARAN ................................................................................................................. 56

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 57

vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Periode Ulang Berdasarkan Tipologi Kota.............................................................. 5
Tabel 2. Nilai Variable Reduksi Gauss ................................................................................. 8
Tabel 3. Nilai Yn dan Sn fungsi jumlah data ........................................................................ 9
Tabel 4. Nilai k Log Person ................................................................................................. 11
Tabel 5. Nilai Chi-Kuadrat .................................................................................................. 13
Tabel 6. Nilai Kritis Do untuk Uji Smirnov Kolmogorov................................................... 14
Tabel 7. Parameter Penentuan Pengolahan Data Hujan ...................................................... 15
Tabel 8. Komponen Variasi Intensitas Hujan (Ci) .............................................................. 16
Tabel 9. Komponen Kondisi Topography (Ct) .................................................................... 17
Tabel 10. Komponen Tampungan Permukaan (Cp) ............................................................ 17
Tabel 11. Komponen Infiltrasi (Cs) ..................................................................................... 17
Tabel 12. Komponen Penutup Lahan (Cc) .......................................................................... 17
Tabel 13. Koefisien Penyebaran Hujan ............................................................................... 18
Tabel 14. Koefisien Kekasaran Saluran .............................................................................. 21
Tabel 15. Data Curah Hujan Harian Maksimum BPP Temon ............................................ 29
Tabel 16. Perhitungan Parameter Statistik .......................................................................... 29
Tabel 17. Syarat parameter statistik .................................................................................... 30
Tabel 18. Perhitungan Statistic Metode Log Person Type III ............................................. 33
Tabel 19. Curah Hujan Periode Ulang Metode Log Person III ........................................... 33
Tabel 20. Perhitungan Statistic Metode Gumbel ................................................................. 35
Tabel 21. Curah Hujan Periode Ulang Gumbel ................................................................... 35
Tabel 22. Perhitungan Uji Chi Kuadrat Metode Log Person Type III ................................ 37
Tabel 23. Perhitungan Uji Chi Kuadrat Metode Gumbel .................................................... 38
Tabel 24. Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov Metode Log Person III .......................... 39
Tabel 25. Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov Metode Gumbel .................................... 40
Tabel 26. Hasil Uji Distribusi .............................................................................................. 41
Tabel 27. Hasil Analisa Curah Hujan Berbagai Kala Ulang ............................................... 41
Tabel 28. Hasil Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup .............................. 42
Tabel 29.Hasil Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup ............................... 44
Tabel 30. Simulasi Operasi Pompa ..................................................................................... 53
Tabel 31. Kerugian Gesek dalam Pipa Hisap ...................................................................... 54
Tabel 32. Kerugian Gesek dalam Pipa Tekan ..................................................................... 55

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lokasi Pembangunan Underpass Bandara NYIA................................................ 2


Gambar 2. Penampang Saluran bentuk Trapesium ............................................................. 22
Gambar 3. Penampang Segi Empat ..................................................................................... 22
Gambar 4. Bagan Alir Penyusunan Tugas Akhir. ............................................................... 25
Gambar 5. Peta Lokasi Underpass Bandara NYIA ............................................................. 28
Gambar 6. Rencana Saluran Underpass Tertutup Sisi Timur.............................................. 47
Gambar 7. Rencana Saluran Underpass Tertutup Sisi Barat ............................................... 48
Gambar 8. Rencana Saluran Underpass Terbuka Sisi Timur .............................................. 49
Gambar 9. Rencana Underpass Terbuka Sisi Barat ............................................................. 51
Gambar 10. Rencana Bak Penampung ................................................................................ 52

ix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Tugas Akhir merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus di selesaikan sebagai
syarat akademis bagi mahasiswa Program Strata ( S1 ) Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Semarang, yang penyusunannya dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan
akademis yaitu telah selesai melaksanakan kerja praktek dan talah menempuh atau
menyelesaikan mata kuliah 140 sks.
Pada penyusunan Tugas Akhir ini dapat berupa perencanaan. Dalam penyusunan
Tugas Akhir ini akan membahas mengenai “ Perencanaan Pompa Air Underpass
Bandara New Yogyakarta Internasional Airport”.
Yogyakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah di mana daerah – daerah
tersebut secara tidak langsung perkembangannya dipengaruhi oleh aktifitas kota
Yogyakarta. Kota Yogyakarta juga mempunyai potensi yang luar biasa pada sektor
perdagangan, pariwisata dan pendidikan. Serta mimiliki prasarana transportasi yang
memadai antara lain terminal bus, jaringan kereta api beserta stasiunnya serta memiliki
bandara yang berskala internasional.
Penataan jaringan jalan perlu dilakukan untuk mengatasi semakin tingginya arus lalu
lintas didaerah tersebut. Salah satunya adalah pembangunan underpass yang merupakan
jalur alternative yang menghubungkan kembali jalan yang terputus yaitu Jalan Daendels
Kulon Progo. Sebelum dibangunnya underpass, jalan Daendels ini tidak berfungsi dengan
baik yang disebabkan oleh adanya pembangunan Bandara New Yogyakarta Internasional
Airport. Oleh karena itu untuk menghidupi kembali jalur lalu lintas kota tersebut maka
pemerintah kota Yogyakarta membangun Underpass Bandara New Yogyakarta Internatioanl
Airport. Pada kasus ini underpass dibangun dibawah bandara internasional Airport. Untuk
mengantisipasi kebanjiran atau genangan air, kontruksi underpass ini dilengkapi dengan
fasilitas bak penampung dan pompa agar tidak mengganggu masyarakat yang melintas
dijalan underpass tersebut.

1.2. PERUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada kasus ini adalah
bagaimana penanganan genangan air agar tidak terjadi pada Underpass Bandara New
Yogyakarta International Airport.

1
2

1.3. BATASAN MASALAH


Agar perencanaan ini berjalan dengan sistematis maka permasalahan yang ada perlu
dibatasi dengan batasan-batasn sebagai berikut.
1. Perhitungan hidrologi dan hidrolika
2. Rencana desain gambar bak penampung dan pompa

1.4. MAKSUD DAN TUJUAN


Perencanaan jumlah pompa air dan bak penampung ini diharapkan dapat mencegah
genangan air pada bangunan underpas yang dapat ditampung sementara di bak penampung,
sehingga penggunaan underpass dapat digunakan dengan maksimal.

1.5. LOKASI PERENCANAAN


Lokasi pembangunan underpass terletak di bawah Bandara Kulonprogo atau New
Yogyakarta International Airport (NYIA), DIY.

Gambar 1. Lokasi Pembangunan Underpass Bandara NYIA

1.6. SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAPORAN


Sistematis pembahasan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai
berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai judul Tugas Akhir, Bidang Ilmu, Latar Belakang,
Perumusan Masalah dan Batasan Masalah, Maksud dan Tujuan, Lokasi Penelitian dan
Sistematika Penulisan.
3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Pada bab ini dikemukakan kajian-kajian teori berdasarkan studi pustaka, diantaranya
mencakup tujuan umum, Aspek-aspek penelitian berhubungan dengan pompa air yeng
merupakan landasan teori yang di gunakan, sehingga dapat dijadikan dasar teoritis untuk
analisa selanjutnya.
BAB III METODOLOGI
Pada bab ini dijelaskan mengenai pendekatan metodogi yang digunakan dalam analisis
studi, dan metodologi yang digunakan dalam mengerjakan tugas akhir. Metodologi yang
digunakan meliputi pengumpulan data dan metode analisis.
BAB IV PERHITUNGAN DAN DIMENSI
Pada bab ini diuraikan tentang cara menghitung Hidrologi, Kapasitas pompa air dan
bak penampung yang dipakai.
BAB V PENUTUP
Merupakan kesimpulan dan saran mengenai hasil perhitungan dan perencanaan
bangunan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ANALISA HIDROLOGI
Analisa hidrologi merupakan analisa awal dalam perencaan drainase untuk
mengetahui besarnya debit yang akan dialirkan sehingga dapat ditentukan dimensi saluran
tersebut secara ekonomis. Besar debit yang di pakai sebagai dasar perencanaan adalah debit
rencana yang di dapat dari debit hujan rencana pada periode ulang tertentu. Debit banjir
rencana tidak boleh terlalu besar untuk menghindari ukuran banguna yang terlalu besar dan
tidak ekonomis.
Untuk memperkirakan besarnya debit banjir rencana yang sesuai, pengetahuan analisa
hidrologi mempunyai peranan penting. Dalam perhitungan dapat digunakan data debit pada
suatu sungai atau saluran atau data curah hujan yang nantinya akan diolah menjadi debit
banjir rencana.

2.2.1. Data Hidrologi


Data hidrologi yang diperlukan adalah data curah hujan. Data curah hujan yang
digunakan berupa curah hujan harian, data ini diperoleh dari Stasiun Temon.
Curah hujan digunakan untuk menghitung tinggi hujan rencana dan intensitas hujan
dalam perhitungan analisa hidrologi.

2.2.2. Periode Ulang (Return Period)


Menurut Triatmodjo (2008), periode ulang (return period) didefinisikan sebagai
waktu hipotek dimana debit atau hujan dengan suatu besaran tertentu (XT) akan
disamai dilampaui sekali dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan data debit atau
hujan untuk beberapa tahun pengamatan dapat diperkirakan debit/hujan yang
diharapkan disamai atau dilampaui satu kali dalam T tahun, dan debit/hujan tersebut
dikenal sebagai debit/hujan dengan periode ulang T tahun atau debit/hujan T tahunan.
Periode ulang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Periode ulang yang dipakai berdasarkan luas daerah pengaliran saluran dan jenis
kota yang akan direncanakan sistem drainasenya, seperti terlihat dalam Tabel 1.
b. Untuk bangunan pelengkap dipakai periode ulang yang sama dengan sistem
saluran dimana bangunan pelengkap ini berada ditambah 10% debit saluran.

4
5

c. Perhitungan curah hujan berdasarkan data hidrologi minimal 10 tahun terakhir


(mengacu pada tata cara analisis curah hujan drainase perkotaan).

Tabel 1. Periode Ulang Berdasarkan Tipologi Kota


DAERAH TANGKAPAN AIR (Ha)
TIPOLOGI KOTA
< 10 10 – 100 101 – 500 > 500
Kota Metropolitan 2 Th 2 – 5 Th 5 – 10 Th 10 – 25 Th
Kota Besar 2 Th 2 – 5 Th 2 – 5 Th 5 – 20 Th
Kota Sedang 2 Th 2 – 5 Th 2 – 5 Th 5 – 10 Th
Kota Kecil 2 Th 2 Th 2 Th 2 – 5 Th
Sumber : Permen PU No. 12 Tahun 2014 – Penyelenggaraan Sistem Drainase
Perkotaan

2.2.3. Curah Hujan Harian Maksimum Rencana


Sistem hidrologi biasanya dipengaruhi oleh hujan lebat, banjir dan kekeringan.
Tujuan dari analisa frekuensi dan hidrologi adalah berkaitan dengan besaran frekuensi
kejadian melalui penerapan distribusi kemungkinan.
Curah hujan harian maksimum rencana dapat dihitung menggunakan beberapa
metode, antara lain :
1. Distribusi Normal
2. Distribusi Gumbel
3. Distribusi Log Person Type III
Untuk menentukan metode yang dipilih maka terlebih dahulu dilakukan
perhitungan parameter statistik, antara lain :
1. Nilai Rata-rata (Mean)
Tinggi rata-rata hujan diperoleh dengan mengambil harga rata-rata yang
dihitung dari penakaran pada penakar hujan dalam area tersebut. Adapun rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut (Triatmojo, 2008) :
∑𝑋
𝑋̅ =
𝑛
Dimana :
̅
X = Nilai rata-rata curah hujan harian (mm).
ΣX = Jumlah curah hujan harian (mm).
n = Banyaknya data pengamatan.
2. Standart Deviasi (Deviation Standart)
6

Standart deviasi dapat digunakan untuk mengetahui variabilitas dari


distribusi. Semakin besar deviasinya, semakin besar penyebaran dari distribusi.
Nilai standart deviasi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut
(Triatmodjo, 2008) :

̅) 2
∑ni=1(Xi − X
S=√
n−1
Dimana :
S = standart deviasi.
Xi = curah hujan harian ke-i (mm).
̅
X = rata-rata curah hujan harian (mm).
n = banyaknya data pengamatan.
3. Koefisien Variasi (Variation Coeficient)
Koefisien variasi adalah nilai perbandingan antara standart deviasi dan nilai
rata-rata, yang mempunyai persamaan (Triatmodjo, 2008) :
S
Cv =
̅
X
Dimana :
Cv = koefisien variasi.
S = standart deviasi.
̅
X = rata-rata curah hujan harian (mm).
4. Koefisien Kemencengan (Skewness Coefficient)
Koefisien kemencengan dapat digunakan untuk mengetahui derajat
ketidaksimetrisan dari suatu bentuk distribusi. Koefisien kemencengan dapat
dihitung dengan menggunakan rumu sebagai berikut (Triatmodjo,2008) :
̅) 3 n
∑(Xi − X
Cs =
(n − 1)(n − 2)S 3
Dimana :
Cs = koefisien kemencengan.
S = standart deviasi.
Xi = curah hujan harian ke-i (mm).
̅
X = rata-rata curah hujan harian (mm).
n = banyaknya data pengamatan.
5. Koefisien Ketajaman (Kurtosis Coefficient)
7

Koefisien kurtosis digunakan untuk menentukan keruncingan kurva distribusi


yang pada umumnya dibandingkan dengan distribusi normal. Koefisien
keruncingan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Triatmodjo,2008) :
̅ ) 4 n2
∑(Xi − X
C𝑘 =
(n − 1)(n − 2)(n − 3)S 4
Dimana :
Ck = koefisien ketajaman.
S = standart deviasi.
Xi = curah hujan harian ke-i (mm).
̅
X = rata-rata curah hujan harian (mm).
n = banyaknya data pengamatan.
Adapun sifat-sifat parameter statistic dari masing-masing distribusi teoritis
sebagai berikut (Triatmodjo, 2008) :
a. Distribusi Normal mempunyai harga Cs ≈ 0 dan Ck ≈ 3.
b. Distribusi Log Normal mempunyai harga
Cs = Cv 3 + 3Cv
Ck = Cv 8 + 6Cv 6 + 15Cv 4 + 16Cv 2 + 3
c. Distribusi Gumbel mempunyai harga Cs ≤ 1.139 dan Ck ≤ 5.402
d. Distribusi Log Person Type III mempunyai harga Cs dan Ck selain dari
parameter statistic distribusi yang lain (normal, log normal dan gumbel).

2.2.2.1. Metode distribusi normal


Distribusi normal banyak digunakan dalam analisa hidrologi, misalnya dalam
analisis frekuensi curah hujan, analisis statistik dari distribusi rata-rata tahunan dan
sebagainya. Distribusi normal atau disebut pula dengan distribusi Gauss.
Secara umum persamaan distibusi normal sebagai berikut (Soewarno, 1995) :
̅ + K. S
Xt = X
Dimana :
Xt = Perkiraan nilai X yang diharapkan dengan periode ulang t tahun (mm).
̅
X = Nilai rata-rata curah hujan (mm).
S = Standart deviasi
8

K = Faktor frekuensi, merupakan fungsi periode ulang dan tipe model


matematik distribusi peluang yang digunakan untuk analisis peluang. (Dapat dilihat
pada tabel 2.1).

Tabel 2. Nilai Variable Reduksi Gauss


Peluang Nilai k
0.999 -3.050
0.995 -2.580
0.990 -2.330
0.950 -1.640
0.900 -1.280
0.800 -0.840
0.750 -0.670
0.700 -0.520
0.600 -0.250
0.500 0.000
0.400 0.250
0.300 0.520
0.250 0.670
0.200 0.840
0.100 1.280
0.050 1.640
0.020 2.050
0.010 2.330
0.005 2.580
0.002 2.880
0.001 3.090
Sumber : Soewarno, 1995

2.2.2.2. Metode distribusi gumbel


Langkah-langkah untuk menghitung besarnya probabilitas hujan rencana
dengan metode Gumbel sebagai berikut (Suripin, 2003) :
1. Menyusun data curah hujan rata-rata dari yang terbesar ke yang terkecil.
2. Menghitung harga rata-rata curah hujan (𝑋̅)
3. Menghitung kuadrat dari selisih curah hujan dengan curah hujan rata-rata (𝑋 −
𝑋̅)².
4. Menghitung harga standart deviasi data hujan :
a. Menghitung nilai standart deviasi reduced variated:

(y − y̅)2 Atau dapat dilihat


Sn = √ pada tabel 2.2
n
b. Menghitung harga YT dengan persamaan :
9

𝑇
𝑌𝑇 = −𝑙𝑛 [𝑙𝑛 ( )]
𝑇−1
c. Menghitung K (dengan periode ulang 2, 5, 10 ) :
YT − YN Untuk YN dapat dilihat
K=
Sn pada tabel 2.2
d. Menghitung hujan rencana periode ulang 2, 5, 10 :
̅ + K. S
XT = X
Tabel 3. Nilai Yn dan Sn fungsi jumlah data
n Yn 𝑆n
8 0.4843 0.9043
9 0.4902 0.9288
10 0.4952 0.9497
11 0.4996 0.9676
12 0.5053 0.9833
13 0.5070 0.9972
14 0.5100 1.0098
15 0.5128 1.0206
Sumber : Triatmojo, 2008.

2.2.2.3. Metode distribusi log person type III


Metode Log Person Type III didasarkan pada perubahan data yang ada dalam
bentuk logaritma. Distribusi ini digunakan karena fleksibilitasnya (Suripin, 2003).
Langkah-langkah untuk menghitung besarnya probabilitas hujan rencana dengan
metode Log Person Type III sebagai berikut (Suripin, 2003) :
1. Menyusun data curah hujan rata-rata dari yang terbesar ke yang terkecil (atau
sebaliknya),
2. Merubah sejumlah n data curah hujan (𝑋1 , 𝑋2 , … , 𝑋𝑛 ) ke dalam bentuk
logaritma, sehingga menjadi log𝑋1, log𝑋2, … , log𝑋𝑛 ,
3. Menghitung besarnya harga rata-rata besaran logaritma tersebut dengan
persamaan :
∑ni=1 logX
̅=
LogX
n
Dimana :
̅
LogX = rata-rata logaritma curah hujan
logX = logaritma curah hujan
n = banyak data pengamatan
10

4. Mengitung besarnya harga deviasi rata-rata dari besaran log tersebut, dengan
persamaan :

∑ni=1(log⁡(Xi − ̅
X)2 )
S=√
n−1
Dimana :
S = standart deviasi
̅
LogX = rata-rata logaritma curah hujan
logXi = logaritma curah hujan
n = banyak data pengamatan
5. Mengitung harga skew coefficient (koefisien asimetri) dari besaran logaritma
di atas dengan persamaan :
n
∑n (log⁡(Xi − ̅
X) 3 )
(n − 1)(n − 2) i=1
CS =
𝑆3
Dimana :
Cs = koefisien kemencengan.
S = standart deviasi.
logXi = logaritma curah hujan ke-i.
̅
LogX = rata-rata logaritma curah hujan.
n = banyaknya data pengamatan.
Berdasarkan harga skew coefficient yang diperoleh dan harga periode ulang
(T) yang ditentukan, selanjutnya dapat dihitung harga dari K dengan
menggunakan tabel dibawah ini :
11

Tabel 4. Nilai k Log Person


Interval Kejadian (Recurrence
Koef Interval), tahun (periode
(CS/g) ulang)
2 5 10
3 -0.36 0.42 1.1800
2.5 -0.36 0.518 1.2500
2.2 -0.33 0.574 1.2840
2 -0.307 0.609 1.3020
1.8 -0.282 0.643 1.3180
1.6 -0.254 0.675 1.3290
1.4 -0.225 0.705 1.3370
1.2 -0.195 0.732 1.3400
1 -0.164 0.758 1.3400
0.9 -0.148 0.768 1.3390
0.8 -0.132 0.78 1.3360
0.7 -0.116 0.79 1.3330
0.6 -0.099 0.8 1.3280
0.5 -0.083 0.808 1.3230
0.4 -0.056 0.816 1.3170
0.3 -0.05 0.824 1.3090
0.2 -0.033 0.83 1.3010
0.1 -0.017 0.836 1.2920
Sumber : Soewarno, 1995
6. Menghitung besarnya harga logaritma dari masingmasing data curah hujan
untuk suatu periode ulang tertentu dengan persamaan :
̅+ K.S⁡logX
logXt= logX ̅

2.2.4. Uji Kecocokan Distribusi


Untuk menentukan kecocokan (The Goodness of Fit Test) distribusi dari sample
data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan /
mewakili distribusi frekuensi tersebut diperlukan pengujian parameter. Pengujian
parameter yang akan disajikan adalah :
1. Uji Chi-Kuadrat (Chi-Square)
2. Smirnov – Kolmogorov

2.2.3.1. Uji Chi-Kuadrat (Chi-Square)


Uji Chi-Kuadrat digunakan untuk menentukan apakah persamaan distribusi
yang telah dipilih dapat mewakili distribusi sample data yang dianalisis. Parameter
yang digunakan untuk pengambilan keputusan uji ini adalah x², sehingga disebut
uji chi-kuadrat parameter x² dapat dihitung dengan rumus (Suripin,2003) :
12

𝐺
2
(𝑂𝑖 − 𝐸𝑖 )2
𝑋 =∑
𝐸𝑖
𝑖=1

Dimana :
x² = Parameter chi-kuadrat terhitung.
G = Jumlah sub kelompok.
Oi = Jumlah nilai data pengamatan pada sub kelompok ke-i.
Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub kelompok ke-i.
Proses perhitungan uji Chi-Kuadrat dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Urutkan data dari besar ke kecil (atau sebaliknya),
2. Kelompokkan data menjadi G sub-grup berdasarkan batas-batas yang telah
dibuat :
a. Buat persamaan garis lurus.
b. Tentukan batasan peluang, misal 25%, 20%, dll.
c. Tentukan nilai k berdasarkan nilai variabel reduksi Gauss.
d. Misal untuk Peluang 25% maka k=0,67.
e. Hitung batasan sub-grupnya.
3. Jumlahkan data pengamatan (Oi) tiap sub-grup,
4. Jumlahkan data teoritis (Ei) dari persamaan distribusi yang digunakan,
5. Hitunglah nilai tiap sub-grup,
6. Jumlahkan nilai , yang merupakan nilai chi-kuadrat hitung.
7. Hitung derajat kebebasan dk=G-R-1 (R=2, untuk distribusi normal dan
binomial, dan R=1 untuk Poisson).
Dimana : G = 1+1,33 ln n (n adalah jumlah data).
8. Dengan menggunakan tabel Chi-kuadrat, hitung chi-kuadrat teoritis
berdasarkan derajat kebebasannya.
9. Interpretasikan hasilnya berdasarkan ketentuan hipotesisnya.

Ketentuan hipotesis, jika peluang (chi-kuadrat terhitung) :


1. > 5% → persamaan distribusi teoritis dapat diterima.
2. <1% → persamaan distribusi teoritis tidak dapat diterima.
3. Antara 1-5% → maka perlu ditambah data, karena kesimpulan tidak mungkin
diambil.
13

Tabel 5. Nilai Chi-Kuadrat


Taraf signifikasi
dk
50% 30% 20% 10% 5% 1%
1 0.445 1.074 1.642 2.706 3.841 6.635
2 1.366 2.408 3.219 4.605 5.991 9.21
3 2.366 3.665 4.642 6.251 7.815 11.34
4 3.357 4.878 5.989 7.779 9.488 13.28
5 4.351 6.056 7.289 9.236 11.07 15.09
6 5.348 7.231 8.558 10.65 12.59 16.81
7 6.346 8.383 9.803 12.02 14.07 18.48
8 7.344 9.524 11.03 13.36 15.51 20.09
9 8.343 10.66 12.24 14.66 16.92 21.67
10 9.342 11.78 13.44 15.99 18.31 23.31
11 10.34 12.9 14.63 17.28 19.68 24.75
12 11.34 14.01 15.81 18.55 21.03 26.22
13 12.34 15.12 16.99 19.81 22.36 27.69
14 13.34 16.22 18.15 21.06 23.69 29.14
15 14.34 17.33 19.31 23.31 25 30.58
Sumber : Triatmodjo, 2008

2.2.3.2. Smirnov – Kolmogorov


Uji Smirnov Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non parametric
karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. Proses
perhitungan uji Smirnov Kolmogorov dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Urutkan data dari besar ke kecil (atau sebaliknya).
2. Menghitung standart deviasi (S) :

∑𝑛 (𝑋𝑖 − 𝑋)2
𝑆 = √ 𝑖=1
𝑛−1

Dimana :
S = standart deviasi.
Xi = data pengamatan ke-i.
X = rata-rata data pengamatan.
n = banyaknya data pengamatan.
3. Menghitung peluang dengan menggunakan Metode Weibull :
m
Pxi = × 100%
n+1
n
Txi = × 100%
m+1
Dimana :
Pxi = peluang terjadinya kumpulan nilai yang diharapkan.
14

Txi = periode ulang dari kejadian Xi.


n = jumlah data pengamatan.
m = nomor urut kejadian (setelah diurutkan dari besar ke kecil atau
sebaliknya).
4. Menghitung nilai D (Distribusi Teoritis) dan membandingkan dengan tabel
dibawah ini :
Tabel 6. Nilai Kritis Do untuk Uji Smirnov Kolmogorov
α
N
0.20 0.10 0.05 0.01
5 0.45 0.51 0.56 0.67
10 0.32 0.37 0.41 0.49
15 0.27 0.30 0.34 0.40
20 0.23 0.26 0.29 0.36
25 0.21 0.24 0.27 0.32
30 0.19 0.22 0.24 0.29
35 0.18 0.20 0.23 0.27
40 0.17 0.19 0.21 0.25
45 0.16 0.18 0.20 0.24
50 0.15 0.17 0.19 0.23
Sumber : Suripin, 2003
Ketentuan hipotesis, jika peluang (Smirnov Kolmogorov terhitung) :

1. Apabila D < Do maka distribusi teoritis yang dipakai untuk menentukan


persamaan → distribusi dapat digunakan.
2. Apabila D > Do maka distribusi teoritis yang dipakai untuk menentukan
persamaan → distribusi tidak dapat digunakan.

2.1.4. Pengolahan Data Hujan


Data hujan yang diperoleh dari stasiun hujan merupakan hujan yang terjadi pada
satu titik saja. Untuk perhitungan hidrologi dibutuhkan data hujan kawasan yang
ditinjau, sehingga memerlukan satu atau beberapa stasiun hujan.
Ketentuan-ketentuan pemilihan cara yang digunakan untuk menentukan hujan
rata-rata dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
15

Tabel 7. Parameter Penentuan Pengolahan Data Hujan


Cara yang dapat
Parameter Kondisi
digunakan
Aljabar, Thiessen
Cukup
Polygon, Ishoyet
Jumlah stasiun
Aljabar, Polygon
hujan Terbatas
Thiessen
Tunggal Metode hujan titik
> 5000km² (besar) Ishoyet
500-5000 km²
Luas DAS Thiessen Polygon
(sedang)
< 500 km² (kecil) Aljabar
Pegunungan Thiessen Polygon
Kondisi Dataran Aljabar
topografi Berbukit dan tidak Ishoyet dan Thiessen
beraturan Polygon
Sumber : Suripin, 2003

2.2.4.1. Cara Rata-Rata Aljabar


Merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan.
Cara ini cocok untuk kawasan dengan topografi datar, alat penakar hujan tersebar
merata atau hampir merata, dan harga individual curah hujan tidak terlalu jauh dari
harga rata-ratanya. Pengolahan data hujan dengan metode cara rata-rata aljabar
dapat dihitung dengan persamaan (Suripin, 2003):
1
R = (R1 + R 2 + ⋯ + R n )
n
Dimana :
R = Curah hujan daerah.
Rn = Curah hujan pada titik pengamatan dari stasiun hujan di kawasan atau
daerah studi.
n = Jumlah stasiun yang ada.
Cara rata-rata Aljabar digunakan dalam perhitungan curah hujan pada Tugas
Akhir ini, karena data hujan yang didapatkan hanya bersumber dari 1 stasiun hujan
saja.

2.1.5. Intensitas Hujan


Adalah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan persatuan waktu, yang
tergantung dari lama hujan dan frekuensi kejadiannya, yang diperoleh dari analisa data
hujan. Perhitungan intensitas hujan tergantung dari data yang tersedia.
16

2.2.5.1. Cara Mononobe


Data hujan harian atau data hujan 24 jam-an
2⁄
R 24 24 3
It = ⌊ ⌋
24 t c
Dimana :
It = Intensitas Hujan (mm/jam)
R24 = Hujan harian (mm)
tc = Waktu konsentrasi (jam).

2.1.6. Run-Off Coeficient (Koefisien Pengaliran / C)


Koefisien pengaliran adalah perbandingan besarnya aliran permukaan (bagian
hujan yang membentuk limpasan) dengan hujan total. Koefisien pengaliran tidak
bervariasi dengan lamanya hujan, tetapi dipengaruhi oleh jenis tanah, kemiringan
permukaan tanah, tata guna lahan, daya infiltrasi, suhu udara, angin, evaporasi dan
intensitas hujan.
Kondisi tata guna lahan yang sebenarnya di lapangan sangatlah bervariasi
sehingga untuk menentukan koefisien pengalirannya adalah koefisien pengaliran rata-
rata atau koefisien pengaliran komposit kawasan.
C = Ci + Ct + Cp + Cs + Cc
Dimana :
Ci = kompopen C oleh intensitas hujan yang bervariasi
Ct = komponen C oleh kondisi topografi
Cp = komponen C oleh tampungan permukaan
Cs = komponen C oleh infiltrasi
Cc = komponen C oleh penutup lahan

Tabel 8. Komponen Variasi Intensitas Hujan (Ci)


Intensitas Hujan Ci
(mm/jam)
< 25 0.05
25 – 50 0.15
50 – 75 0.25
> 75 0.30
Sumber : Suripin, 2003
17

Tabel 9. Komponen Kondisi Topography (Ct)


Kondisi Topografi Kemiringan (m/km) Ct
Curam dan tidak rata 200 0.10
Berbukit – bukit 100 – 200 0.05
Landai 50 – 100 0.05
Hampir datar 0 – 50 0.00
Sumber : Suripin, 2003
Tabel 10. Komponen Tampungan Permukaan (Cp)
Kondisi Tampungan Permukaan Cp
Daerah pengaliran, sedikit depresi permukaan 0.10
Daerah pengaliran dengan sistem teratur 0.05
Tampungan dan aliran permukaan berarti ada kolam berkontur 0.05
Sungai berkelok – kelok dengan usaha pelestarian hutan 0.00
Sumber : Suripin, 2003
Tabel 11. Komponen Infiltrasi (Cs)
Kondisi Infiltrasi Tanah K (cm/det) Cs
Infiltrasi kecil (tidak ada penutup lahan) < 10-5 0.25
Infiltrasi lembat (lempung) 10-5 – 10-6 0.20
Infiltrasi sedang (loam) 10-3 – 10-4 0.10
Infiltrasi cepat (pasir, tanah agregar baik) 10-3 0.05
Sumber : Suripin, 2003
Tabel 12. Komponen Penutup Lahan (Cc)
Tumbuhan Penutup pada Daerah Pengaliran Cc
Tidak terdapat tanaman yang efektif 0.25
Ada padang rumput yang baik 10% 0.20
Ada padang rumput yang baik 50% ditanami atau banyak 0.10
pohon
Ada padang rumput yang baik 90% hutan 0.05
Sumber : Suripin, 2003

2.1.7. Time Of Concentration (tc)


Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air yang melimpas diatas
permukaan tanah dari titik terjauh pada suatu daerah pengaliran sampai ke titik kontrol
yang ditentukan di bagian hilir dalam satuan jam.
𝑡𝑐 = 𝑡0 + 𝑡𝑓
18

Dimana :
t0 = Overland flow time, adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir
diatas permukaan tanah, dari titik terjauh pda suatu daerah pengaliran (catchment
area) sampai ke sistem saluran yang ditinjau.
tf = Channel flow time, adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran sampai ke titik kontrol dibagian hilir yang ditinjau.

2.2.7.1. Overland Flow Time (𝐭 𝟎 )


Overland flow time dipengaruhi oleh intensitas hujan, jarak aliran, kemiringan
tanah dan kapasitas infiltrasi dalam satuan menit.
a. Kirpich Formula b. Kerby Formula
0.77 0,467
L0 L0
t c = 0,0195 ( ) t c = 1,44 (n )
√I0 √I0
Dimana :
L0 = Jarak titik terjauh lahan terhadap sistem saluran yang ditinjau (m)
I0 = Kemiringan rata-rata permukaan tanah kea rah saluran yang ditinjau
n = Koefisien kekasaran permukaan tanah menurut Kerby
(misal : tanah licin, n = 0.02 ; tanah berumput, n = 0,04 ; dst)

2.1.8. Koefisien Penyebaran Hujan (Β)


Koefisien hujan merupakan koefisien untuk mengoreksi pengaruh penyebaran
hujan yang tidak merata pada suatu daerah pengaliran (catchment area). Koefisien ini
tergantung dari luas catchment area.
Tabel 13. Koefisien Penyebaran Hujan
Luas Catchment Area (Km²) Koefisien β
0-4 1
5 0,995
10 0,980
15 0,955
20 0,920
25 0,875
30 0,820
50 0,500
Sumber : Suripin, 2003

2.1.9. Debit Rencana (QR)


Debit rencana digunakan sebagai dasar untuk merencanakan tingkat pengamanan
bahaya banjir pada suatu kawasan dengan penerapan angka-angka kemungkinan
terjadinya debit terbesar.
19

Pada daerah perkotaan umumnya merupakan bagian dari daerah aliran yang lebih
besar dan luas, dimana pada daerah tersebut sudah ada sistem drainase alaminya.
Perencanaan dan pengembangan sistem drainase untuk daerah perkotaan yang baru,
diselaraskan dengan sistem drainase yang sudah ada, agar kondisi aslinya dapat
dipertahankan sejauh mungkin. Debit rencana dapat dihitung dengan metode Rasional
(Rational Formula).
Cara ini digunakan pertama kali oleh Mulvaney pada tahun 1847 di Irlandia.
Persamaan rasional yang dikembangkan sangat sederhana dan memasukkan parameter
DAS sebagai unsur pokok selain sifat-sifat hujan sebagai masukan. Jenis dan sifat
DAS tidak terperinci satu per satu, akan tetapi pengaruh secara keseluruhan
ditampilkan sebagai koefien limpasan.
1
Q= βC̅IA
3,6
Dimana :
Q = Debit rencana (m³/dtk)
β = Koefisien penyebaran hujan
𝐶̅ = Koefisien pengaliran (run-off coeffient)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas daerah pengaliran (catchment area) (m²)

2.2. ANALISA HIDROLIKA


2.2.1. Saluran Drainase
Debit saluran drainase berasal dari air hujan dan air limbah, atau dipengaruhi oleh
distribusi hujan dan fluktuasi pemakaian air. Dalam perencanaan saluran drainase,
aliran dianggap tetap dan seragam, kecuali untuk saluran dengan debit yang besar.
Pada aliran saluran terbuka terdapat permukaan air bebas (free surface) yang dapat
dipengaruhi oleh tekanan udara secara langsung. Dimana permukaan air pada saluran
terbuka merupakan garis hidrolis dan kedalaman aliran sama dengan tinggi tekanan.
Sedangkan aliran pada saluran tertutup tidak terdapat permukaan bebas (aliran
bertekanan), karena seluruh penampang saluran terisi air, sehingga permukaan air
tidak dipengaruhi oleh tekanan udara.
Aliran pada saluran tertutup tidak selalu merupakan aliran dibawah tekanan
apabila terdapat permukan bebas (free surface). Sehingga dengan demikian sifat atau
kondisi aliran sama seperti saluran terbuka yang mempunyai permukaan bebas.
20

2.2.1.1. Debit Kapasitas Aliran


Untuk menghitung kapasitas saluran digunakan persamaan kontinuitas dan
rumus Mannu (Anggrahini, 1996) :
Q= V×A
Dimana :
Q = Debit kapasitas aliran (m³/dtk)
V = Kecepatan aliran(m/dtk)
A = Luas basah penampang saluran (m²)

2.2.1.2. Kecepatan Aliran


Secara teoritis kecepatan aliran pada saluran ditetapkan sebagai berikut :
a. Aliran pada saluran terbuka
1 2 1
Rumus Manning : v= × R3 ⁡× I 2
n
b. Aliran dibawah tekanan pada saluran tertutup
Rumus Hazen Williams : v = 0,85 × R0,63 × I 0,54
Dimana :
v = Kecepatan aliran (m/dtk)
n = Koefisien kekasaran dinding dan dasar saluran menurut Manning
k, c = Koefisien kekasaran dinding dan saluran menurut Strickler dan Chezy
I = kemiringan dasar saluran
R = Jari-jari hidrolis (m) = A/P
A = Luas basah penampang (m²)
P = Keliling basah penampang (m)
Kecepatan aliran rata-rata (v) untuk perencanaan drainase, harus memenuhi
batas-batas nilai tertentu, yakni diantara batas kecepatan aliran maksimum dan
minimum, disesuaikan dengan bahan saluran (nilai c, n, atau k) dan angkutan
sedimennya. Bila kecepatan aliran dibawah batas kecepatan minimum, maka pada
saluran akan terjadi pengendapan dan pendangkalan oleh sedimen, tumbuhnya
tanaman-tanaman pengganggu (rumput-rumput liar) di dasar saluran, sehingga
menganggu fungsi saluran. Sebaliknya bila kecepatan aliran diatas batas kecepatan
maksimum, akan terjadi erosi (penggerusan) pada dinding dan dasar saluran,
terutama bila saluran direncanakan tidak tahan erosi (tanpa perkuatan dinding
saluran).
21

2.2.1.3. Koefisien kekasaran


Koefisien kekasaran ditentukan oleh bahan/material saluran, jenis sambungan,
material padat yang terangkut dan yang terendap dalam saluran, akar tumbuhan,
alinyemen, lapisan penutup (pipa), umur saluran dan aliran lateral yang
mengganggu aliran.
Koefisien kekasaran pada kenyataannya bervariasi dengan kedalaman. Untuk
saluran yang terlalu besar kedalamannya umumnya diasumsikan harga koefisien
kekasarannya tetap. Pada tabel dibawah ini memuat harga koefisien kakasaran.
Tabel 14. Koefisien Kekasaran Saluran
Material saluran Manning (n)
Saluran tanpa pasangan
• Tanah 0,020-0,025
• Pasir dan kerikil 0,025-0,040
• Dasar saluran batuan 0,025-0,035
Saluran dengan pasangan
• Semen mortar 0,015-0,017
• Beton 0,011-0,015
• Pasangan batu adukan basah 0,022-0,026
• Pasangan batu adukan kering 0,018-0,022
Saluran pipa
• Pipa beton sentrifugal 0,011-0,015
• Pipa beton 0,011-0,015
• Pipa beton bergelombang 0,011-0,015
• Liner plates 0,013-0,017
Saluran terbuka (dengan plengsengan)
• Aspal 0,013-0,017
• Pasangan bata 0,012-0,018
• Beton 0,011-0,020
• Riprap 0,020-0,035
• Tumbuhan 0,030-0,40
Saluran galian
• Tanah, lurus dan seragam 0,020-0,030
• Tanah cadas 0,025-0,010
Saluran tak terpelihar
• Saluran alam (sungai kecil, lebar 30 m) 0,015-0,030
• Penampang agak teratur 0,030-0,070
• Penampang tak teratur 0,010-0,100
Sumber : Anggrahini, 1996

2.2.1.4. Dimensi Penampang Saluran


a. Penampang Trapesium
22

Gambar 2. Penampang Saluran bentuk Trapesium

Keterangan :
b = Lebar saluran (m)
h = Tinggi aliran (m)
m = Miring talud, dinyatakan dalam 1:m . (m = 0, ½, 1, 1½, 2)
T = Lebar puncak
A = Luas basah (m²)
= (b + mh)h
P = Keliling basah (m)
= b + 2h√m2 + 1
b. Penampang Segi Empat

Gambar 3. Penampang Segi Empat

Keterangan :
b = Lebar saluran (m)
h = Tinggi aliran (m)
A = Luas basah (m²)
=b×h
P = Keliling basah (m)
= b + 2h

2.2.2. Bak Penampung


Bak penampung air adalah bangunan yang berbentuk box untuk menampung air
hujan agar tidak masuk dan menggenang di dalam underpass. Untuk merencanakan
bak penampung air, diperlukan analisis hidrologi untuk menentukan besarnya debit
banjir rencana yang akan berpengaruh terhadap besarnya kapasitas bak penampung.

2.2.1.5. Kapasitas Tampung Bak Penampung


Perhitungan kapasitas bak penampung dimaksudkan untuk menentukan
batasan maksimum yang dapat ditampung oleh bak penampung. Volume kapasitas
long storage dengan elevasi muka air yang beragam dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
23

Vlong storage = Panjang long storage x Lebar long storage x tinggi muka air

2.2.1.6. Dimensi Bak Penampung


Dimensi bak penampung didasarkan pada perhitungan debit rencana yang
masuk ke bak penampung. Bak penampung yang direncanakan pada tugas akhir ini
berbentuk segi empat dengan menyesuaikan bentuk underpass. Rumus yang
digunakan untuk menghitung dimensi bak penampung ini adalah sebagai berikut :
Qdebit rencana = Qbak penampung
Qbak penampung = panjang x lebar x tinggi

2.2.3. Pompa
Kapasitas suatu pompa tergantung dari debit air yang dialirkan dan tinggi dorong
(H). Tinggi dorong adalah suatu nilai yang dihasilkan oleh tekanan pompa dan disebut
juga dengan tinggi angkat. Hal-hal yang mempengaruhi dalam penentuan jenis pompa
yaitu, tinggi hisap, kapasitas pompa, sifat zat cair yang dipompakan, tinggi angkat
(head), pemipaan, penggerak dan ekonomi.
a. Laju aliran air.
Dalam sistem tangki atas, kapasitas pompa ditentutan berdasarkan kebutuhan air
pada jam puncak (Qpu = Qmax).
b. Diameter pipa.
Diameter pipa hisap dan pipa tekan disesuaikan berdasarkan spesifikasi pompa
yang akan digunakan.
c. Tinggi angkat
Tinggi angkat pompa dinyatakan dalam rumus berikut ini :
𝑣2
𝐻 = 𝐻𝑠 + 𝐻𝑑 + 𝐻𝑓𝑠𝑑 +
2𝑔
𝑣2
𝐻 = 𝐻𝑎 + 𝐻𝑓𝑠𝑑 +
2𝑔
Dimana :
H : Tinggi angkat total (m)
Hs : Tinggi hisap (m)
Hd : Tinggi tekan (m.
Ha : Tinggi potensial (m)
Hfsd : Kerugian gesek dalam pipa hisap dan pipa tekan (meter).
24

𝑣2
: Tekanan kecepatan pada lubang
2𝑔

keluar pipa.
BAB III
METODOLOGI
3.1. BAGAN ALIR PERENCANAAN
Secara sistematis, bagan alir perencanaan dapat dilihat dalam gambar3.1 dibawah ini.

MULAI

Persiapan

Studi Pustaka

Pengumpulan Data
a. Data hujan
b. Peta DAS
c. Plan Underpass NYIA

Pengolahan Data

Analisa Hidrologi
a. Analisa Curah Hujan Rata-Rata
b. Analisa Curah Hujan Maksimum
Rencana
c. Debit Banjir Rencana

Analisa Hidrolika
a. Kapasitas Eksisting Penampang
Saluran
b. Kapasitas Bak Penampung
c. Kapasitas Pompa dan Rumah Pompa

Gambar Rencana

SELESAI

Gambar 4. Bagan Alir Penyusunan Tugas Akhir.

25
26

3.2. TAHAP PERSIAPAN


Tahap persiapan meliputi :
a. Melakukan studi literatur termasuk studi yang telah dilakukan untuk memperoleh
informasi secara lebih detail terhadap objek studi.
b. Mengetahui kondisi lapangan yang ada saat ini dengan jalan melakukan survey
lapangan, untuk memperkecil kesalahan analisa dan untuk mendapatkan solusi yang
tepat untuk permasalahan yang ada di wilayah studi.
c. Mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan perencanaan drainase atau
perencanaan bak penampung yang meliputi :
1. Data Curah Hujan
Data curah hujan yang digunakan berupa curah hujan harian, data ini diperoleh
dari stasiun hujan Temon. Curah hujan digunakan untuk menghitung tinggi
hujan rencana dan intensitas hujan dalam perhitungan analisa hidrologi dimana
untuk periode ulangnya digunakan periode ulang 10 tahunan.
2. Data Lay-Out Underpass
Data lay-out underpass ini didapat dari WIKA-MCM,KSO selaku kontraktor
yang membangun jalan underpass. Di dalam data lay-out underpas terdiri dari
data elevasi yang berfungsi untuk mengetahui kemiringan saluran maka arah
aliran air pun juga dapat diketahui.

3.3. TAHAP ANALISA


Untuk mengetahui permasalahan dan perencanaan sistem drainase atau pompa air
perlu dilakukan analisa meliputi :
1. Analisa Hidrologi
a. Menghitung debit banjir saluran dengan menggunakan data hujan harian
maksimum dari stasiun temon.
b. Menghitung intensitas hujan rencana berdasarkan curah hujan maksimum (R24).
c. Menghitung waktu konsentrasi yaitu ketika air meresap ke dalam tanah dan
ketika air mencapai pipa drain.
d. Menetapkan besarnya koefisien pengaliran berdasarkan kondisi yang ada di
underpass.
2. Analisa Hidrolika
a. Menghitung dimensi penampang saluran eksisting.
27

b. Menghitung dimensi bak penampung.


c. Menghitung besarnya kapasitas pompa dan jumlah pompa berdasarkan volume
air yang harus di pompa.

3.4. TAHAP DESIGN


Perencanaan gambar sesuai dengan hasil analisa hidrolika.

3.5. TAHAP KESIMPULAN DAN SARAN


Menentukan solusi dari permasalahan-permasalahan yang terjadi dengan hasil
akhir berupa perencanaan pompa air, dimensi saluran eksisting dan bak penampung yang
di dapat dari hasil analisa.
BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN DATA

4.1. DESKRIPSI LOKASI


Lokasi Underpass Bandara New Yogyakarta International Airport terletak di Jalan
Daendels, Desa Kranggan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan
batasan fisik :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Gedung Parkir Bandara NYIA
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Terminal 1 Bandara NYIA
Sebelah Timur : berbatasan dengan Desa Glagah
Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Palihan

Lokasi Proyek
Underpass
Bandara NYIA

Gambar 5. Peta Lokasi Underpass Bandara NYIA


Sumber : Google Earth
Underpass Bandara New Yogyakarta International Airport memiliki panjang 1305 meter
dengan 2 tipe underpass yaitu Underpass Terbuka dan Underpass Tertutup.

4.2. ANALISA HIDROLOGI


4.2.1. Analisa Hujan Rata-rata
Data yang digunakan adalah data hujan maksimum selama 10 tahun mulai tahun
2009 hingga tahun 2018 dari stasiun pengamatan yang berpengaruh yaitu Stasiun Hujan
Temon. Data curah hujan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

28
29

Tabel 15. Data Curah Hujan Harian Maksimum BPP Temon


CH Harian
No Tahun
Max (mm)
1 2009 123.00
2 2010 167.00
3 2011 90.00
4 2012 149.00
5 2013 101.00
6 2014 150.00
7 2015 158.00
8 2016 225.00
9 2017 177.00
10 2018 105.00
Sumber : BPP Temon
4.2.2. Analisa Curah Hujan Harian Rencana
Untuk menentukan metode yang dipilih maka terlebih dahulu dilakukan perhitungan
parameter statistik yang disajikan pada tabel dibawah ini :
Tabel 16. Perhitungan Parameter Statistik
TAHUN CH (mm) X (Xi - X) (Xi - X)² (Xi - X)³ (Xi - X)⁴
2009 123.00 - 21.500 462.250 - 9,938.375 213,675.063
2010 167.00 22.500 506.250 11,390.625 256,289.063
2011 90.00 - 54.500 2,970.250 - 161,878.625 8,822,385.063
2012 149.00 4.500 20.250 91.125 410.063
2013 101.00 - 43.500 1,892.250 - 82,312.875 3,580,610.063
144.50
2014 150.00 5.500 30.250 166.375 915.063
2015 158.00 13.500 182.250 2,460.375 33,215.063
2016 225.00 80.500 6,480.250 521,660.125 41,993,640.063
2017 177.00 32.500 1,056.250 34,328.125 1,115,664.063
2018 105.00 - 39.500 1,560.250 - 61,629.875 2,434,380.063
Jumlah 1445.00 - 15,160.500 254,337.000 58,451,183.625
Sumber : Hasil Perhitungan
• Perhitungan nilai rata-rata (mean)
∑X
̅
X=
n
1445
̅=
X = 144.5⁡mm
10
• Perhitungan standart deviasi (deviation standart)

∑ni=1(Xi − ̅
X)2
S=√
n−1
30

15160.50
𝑆=√ = 41.043
9

• Perhitungan koefisien variasi (variation coeficient)


S 41.04
Cv = = = 0.284
̅ 144.50
X
• Perhitungan koefisien kemencengan (skewness coefficient)
∑(Xi − ̅
X) 3 n
Cs =
(n − 1)(n − 2)S 3
254337 × 10
𝐶𝑠 = = 0.511
9 × 8 × 41.0433
• Perhitungan koefisien ketajaman (kurtosis coefficient)
∑(Xi − ̅X)4 n2
Ck =
(n − 1)(n − 2)(n − 3)S 4
58451183.625 × 102
𝐶𝑘 = = 4.087
9 × 8 × 7 × 41.0434
Adapun syarat parameter statistik disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 17. Syarat parameter statistik
Parameter Statistik Distribusi
Data Hasil
Normal Log Normal Gumbel Log Person
X 144.500
S 41.043 Cv dan Ck selain
Cv 0.284 nilai distribusi
Cs 0.511 0 0.816 ≤ 1.139 lain
Ck 4.087 3 4.208 ≤ 5.402
tidak
keterangan tidak diterima diterima diterima
diterima
Sumber : Hasil Perhitungan dan Triatmodjo 2008

Berdasarkan hasil analisa parameter statistik, maka dalam pengerjaan tugas akhir ini
analisa curah hujan maksimum harian rencana menggunakan metode Gumbel dan metode
Log Person Type III kemudian di ambil hasil yang lolos uji kecocokan.

4.2.2.1. Metode Log Person Type III


Metode Log Pearson Type III, langkah-langkah perhitungan sebagai berikut :
a. Menyusun data curah hujan rata-rata dari yang terbesar ke yang terkecil. Adapun
curah hujan yang terbesar terjadi pada tahun 2016 yaitu tercatat 225 mm dan curah
hujan terkecil terjadi pada tahun 2011 sebesar 90 mm. (Tabel 15 kolom 1 dan 2).
31

b. Merubah sejumlah n data curah hujan (𝑋1 , 𝑋2 , … , 𝑋𝑛 ) ke dalam bentuk logaritma,


sehingga menjadi log𝑋1, log𝑋2, … , log𝑋𝑛 . (Tabel 14 kolom 3)
c. Menghitung besarnya harga rata-rata besaran logaritma tersebut dengan
persamaan :
∑ni=1 logXi
̅=
LogX
n
d. Mengitung besarnya harga deviasi rata-rata dari besaran log tersebut, dengan
persamaan :

∑ni=1(log⁡(Xi − ̅
X)2 )
S=√
n−1

0.139
𝑆=√ = 0.124
9

e. Mengitung harga skew coefficient (koefisien asimetri) dari besaran logaritma di


atas dengan persamaan :
∑ni=1(log⁡(Xi − ̅
X)3 )𝑛
CS =
(n − 1)(n − 2)S 3
−0.001 × 10
Cs = = −0.053
9 × 8 × 0.1243
f. Berdasarkan harga skew coefficient yang diperoleh dan harga periode ulang (T)
yang ditentukan, selanjutnya dapat dihitung harga dari k dengan menggunakan
tabel 3. Namun karena hasil perhitungan Cs = -0.053 dan tidak tercantum dalam
tabel, maka digunakan rumus interpolasi :
𝑦1 − 𝑦𝑜
y = 𝑦0 + (𝑥 − 𝑥0 )
𝑥1 − 𝑥0
Dimana :
y = k yang dicari
𝑦1 = k diatasnya
𝑦0 = k dibawahnya
𝑥 = Cs yang dicari
𝑥1 = Cs diatasnya
𝑥0 = Cs dibawahnya
• Pada periode 2 tahun
Diketahui :
32

𝑥1 = 0.0 𝑥0 = −0.1 x = −0.053


𝑦1 = 0.000 y0 = 0.017

Dicari : y
Jawab :
y1 − yo
y = y0 + (x − x0 )
x1 − x0
0.000 − 0.017
y = 0.017 + (−0.053 − (−0.1))
0.0 − (−0.1)
y = 0.017 + (−0.008)
y = 0.009
• Pada periode 5 tahun
Diketahui :
𝑥1 = 0.0 𝑥0 = −0.1 x = −0.053
𝑦1 = 0.842 y0 = 0.736

Dicari : y

Jawab :
y1 − yo
y = y0 + (x − x0 )
x1 − x0

0.842 − 0.736
y = 0.736 + (−0.053 − (−0.1))
0.0 − (−0.1)
y = 0.736 + 0.050
y = 0.786
• Pada periode 10 tahun
𝑥1 = 0.0 𝑥0 = −0.1 x = −0.053
𝑦1 = 1.282 y0 = 1.270

Dicari : y

Jawab :
y1 − yo
y = y0 + (x − x0 )
x1 − x0

1.282 − 1.270
y = 1.270 + (−0.053 − (−0.1))
0.0 − (−0.1)
y = 1.270 + 0.006
33

y = 1.276
g. Menghitung besarnya harga logaritma dari masingmasing data curah hujan untuk
suatu periode ulang tertentu dengan persamaan :
Xt= 𝑋̅+ K.Slog𝑋̅
Tabel 18. Perhitungan Statistic Metode Log Person Type III
CH
TAHUN Log X Log X̅ (LogX - LogX̅) (LogX - LogX̅)² (LogX - LogX̅)³
(mm)
2016 225 2.352 0.208 0.043 0.009
2017 177 2.248 0.104 0.011 0.001
2010 167 2.223 0.079 0.006 0.000
2015 158 2.199 0.055 0.003 0.000
2014 150 2.176 0.032 0.001 0.000
2.144
2012 149 2.173 0.029 0.001 0.000
2009 123 2.090 - 0.054 0.003 - 0.000
2018 105 2.021 - 0.123 0.015 - 0.002
2013 101 2.004 - 0.140 0.020 - 0.003
2011 90 1.954 - 0.190 0.036 - 0.007
Jumlah 1445.00 21.440 - 0.000 0.139 - 0.001
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel 19. Curah Hujan Periode Ulang Metode Log Person III
Periode Ulang CH. Rata- Standart Hujan harian
nilai K Log Xt
(Tahun) Rata (mm) Deviasi maks (mm/jam)
2 0.009 2.146 140.101
5 2.144 0.124 0.786 2.353 225.572
10 1.276 2.484 304.597
Sumber : Hasil Perhitungan

4.2.2.2. Metode Gumbel


Metode Gumbel, langkah-langkah perhitungan sebagai berikut :
a. Menyusun data curah hujan rata-rata dari yang terbesar ke yang terkecil. Adapun
curah hujan yang terbesar terjadi pada tahun 2016 yaitu tercatat 225 mm dan curah
hujan terkecil terjadi pada tahun 2011 sebesar 90 mm. (Tabel 17 kolom 1 dan 2 )
b. Menghitung harga rata-rata curah hujan (𝑋̅)
̅ = ∑ X = 1445 = 144.50
X n 10

c. Menghitung kuadrat dari selisih curah hujan dengan curah hujan rata-rata
̅ )².
(X − X
d. Menghitung harga standart deviasi data hujan :
34

∑ni=1(⁡(X i − ̅
X)2 )
S=√
n−1

15160.50
𝑆=√ = 41.043
9

e. Menghitung nilai standart deviasi reduced variated:

(y − y̅)2 Atau dapat dilihat


Sn = √
n pada Tabel 3

f. Menghitung harga YT (dengan T = 2, 5, 10) :


T
YT = −ln [ln ( )]
T−1
Untuk T=2
T 2
YT = −ln [ln ( )] = − ln [ln ( )]= 0.3665
T−1 1
Untuk T=5
T 5
YT = −ln [ln ( )] = − ln [ln ( )]= 1.4999
T−1 4
Untuk T=10
T 10
YT = −ln [ln ( )] = − ln [ln ( =)] 2.2504
T−1 9

g. Menghitung K (dengan periode ulang 2, 5, 10 ) :


YT − YN Untuk YN dapat dilihat pada Tabel 3
K=
Sn
Untuk T=2
YT − YN 0.3665 − 0.4952
K= = = -0.136
Sn 0.9497
Untuk T=5
YT − YN 1.4999 − 0.4952
K= = = 1.058
Sn 0.9497
Untuk T=10
YT − YN 2.2504 − 0.4952
K= = = 1.848
Sn 0.9497
h. Menghitung hujan rencana periode ulang 2, 5, 10 :
XT = ̅
X + SK
35

Tabel 20. Perhitungan Statistic Metode Gumbel


CH
TAHUN X (Xi - X) (Xi - X)² (Xi-X)³ (Xi-X)⁴
(mm)
2016 225 80.500 6,480.250 521,660.125 41,993,640.063
2017 177 32.500 1,056.250 34,328.125 1,115,664.063
2010 167 22.500 506.250 11,390.625 256,289.063
2015 158 13.500 182.250 2,460.375 33,215.063
2014 150 5.500 30.250 166.375 915.063
144.50
2012 149 4.500 20.250 91.125 410.063
2009 123 - 21.500 462.250 - 9,938.375 213,675.063
2018 105 - 39.500 1,560.250 - 61,629.875 2,434,380.063
2013 101 - 43.500 1,892.250 - 82,312.875 3,580,610.063
2011 90 - 54.500 2,970.250 - 161,878.625 8,822,385.063
Jumlah 1445 - 15,160.500 254,337.000 58,451,183.625
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel 21. Curah Hujan Periode Ulang Gumbel
Periode
CH. Rata- Standart Hujan harian
Ulang nilai Sn nilai k
Rata (mm) Deviasi maks (mm/jam)
(Tahun)
2 -0.136 138.939
5 144.500 41.043 0.950 1.058 187.921
10 1.848 220.352
Sumber : Hasil Perhitungan

4.2.3. Uji kecocokan


Untuk menentukan kecocokan (The Goodness of Fit Test) distribusi dari sample data
terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan / mewakili
distribusi frekwensi tersebut diperlukan pengujian parameter. Pengujian parameter
kecocokan yang akan digunakan adalah :
a. Uji Chi-Kuadrat (Chi-Square)
b. Uji Smirnov – Kolmogorov

4.2.3.1. Uji Chi Kuadrat


• Banyaknya data hujan = 10
α taraf signifikan 5% = 0.05
• Kelas interval : G = 1 + 1.37 ln n
= 1 + 1.37 ln 10
= 4.062 ~ 5
36

• Derajat kebebasan : dk = G – R – 1
=5–2–1
=2
α = 0.05 maka X²Cr = 5.991
untuk nilai X²cr dapat dilihat pada Tabel 5
• Pembagian data pengamatan menjadi 5 sub-bagian, dengan interval peluang P =
0.20
Sub grup 1P ≤ 0.2
Sub grup 2P ≤ 0.4
Sub grup 3P ≤ 0.6
Sub grup 4P ≤ 0.8
Sub grup 5P ≤ 1.0
a. Uji chi kuadrat metode log person type III berdasarkan pada persamaan garis lurus :
̅ + k⁡(SLogX
log X = LogX ̅)

• Untuk P = 0.2 didapat k = -0.84 (nilai k dapat dilihat pada tabel 2)


̅ + k⁡(SLogX)
log X = LogX
logX = 2.144 + (−0.84) × 0.266
logX = 1.920
X = 101.920 = 83.259
• Untuk P = 0.4 didapat k = -0.25 (nilai k dapat dilihat pada tabel 2)
̅ + k⁡(SLogX)
log X = LogX
logX = 2.144 + (−0.25) × 0.266
logX = 2.078
X = 102.078 = 119.535
• Untuk P = 0.6 didapat k = 0.25 (nilai k dapat dilihat pada tabel 2)
̅ + k⁡(SLogX)
log X = LogX
logX = 2.144 + (0.25) × 0.266
logX = 2.211
X = 102.211 = 162.405
• Untuk P = 0.8 didapat k = 2.05 (nilai k dapat dilihat pada tabel 2)
̅ + k⁡(SLogX)
log X = LogX
logX = 2.144 + (2.05) × 0.266
37

logX = 2.690
X = 102.690 = 489.518
Sehingga :
Sub grup 1 X ≤ 83.259
Sub grup 2 83.259 ≤ X ≤ 119.535
Sub grup 3 119.535 ≤ X ≤ 162.405
Sub grup 4 162.405 ≤ X ≤ 489.518
Sub grup 5 489.518 ≤ X

Tabel 22. Perhitungan Uji Chi Kuadrat Metode Log Person Type III
Nilai Batas Sub Jumlah Data
No (OI − EI )2 XH 2
Kelompok Oi Ei
1 X ≤ 83.259 2 2 0 0
2 83.259 ≤ X ≤ 119.535 0 2 4 2
3 119.535 ≤ X ≤ 162.405 1 2 1 0.5
4 162.405 ≤ X ≤ 489.518 3 2 1 0.5
5 489.518 ≤ X 4 2 4 2
Jumlah 10 10 10 5
Sumber : Hasil Perhitungan
Berdasarkan nilai kritis untuk uji Chi Kuadrat pada Tabel 8, maka dengan α = 5%
diperoleh nilai X² = 5.991.
Dari hasil perhitungan dipeoleh nilai : Xh 2 < X² → 5 < 5.991 , sehingga Metode Log
Person Type III dapat diterima.
b. Uji chi kuadrat metode gumbel berdasarkan persamaan garis lurus :
YT −Yn
̅ + k. S → k =
X=X σn

YT diperoleh dari Tabel Reduce Variate pada PUH T tahun, maka perhitungan curah
hujan periode ulang T untuk metode Gumbel adalah :
• Untuk P = 0.2 didapat YT = -0.476 sehingga k = -1.023
X=̅
X + k⁡. S
X = 144.50 + (−1.023 × 41.043) = 102.513
• Untuk P = 0.4 didapat YT = 0.091 sehingga k = -0.426
X=̅
X + k⁡. S
X = 144.50 + (−0.426 × 41.043) = 127.016
38

• Untuk P = 0.6 didapat YT = 0.672 sehingga k = 0.186


̅ + k⁡. S
X=X
X = 144.50 + (0.186 × 41.043) = 152.134
• Untuk P = 0.8 didapat YT = 1.499 sehingga k = 1.058
̅ + k⁡. S
X=X
X = 144.50 + (1.058 × 41.043) = 187.923
Sehingga :
Sub grup 1 X < 102.513
Sub grup 2 102.513 ≤ X ≤ 127.016
Sub grup 3 127.016 ≤ X ≤ 152.134
Sub grup 4 152.314 ≤ X ≤ 187.923
Sub grup 5 187.923 < X

Tabel 23. Perhitungan Uji Chi Kuadrat Metode Gumbel


Jumlah Data
No Nilai Batas Sub Kelompok (OI − EI )2 XH 2
Oi Ei
1 X < 102.513 1 2 1 0.5
2 102.513 ≤ X ≤ 127.016 0 2 4 2
3 127.016 ≤ X ≤ 152.134 2 2 0 0
4 152.134 ≤ X ≤ 187.923 1 2 1 0.5
5 187.923 < X 6 2 16 8
Jumlah 10 10 22 11
Sumber : Hasil Perhitungan
Berdasarkan nilai kritis untuk uji Chi Kuadrat pada Tabel 8, maka dengan α = 5%
diperoleh nilai X² = 5.991
Dari hasil perhitungan dipeoleh nilai : Xh 2 > X² → 11 > 5.991 , sehingga Metode
Gumbel tidak dapat diterima.

4.2.3.2. Uji Smirnov Kolmogorov


Uji Smirnov Kolmogorov, sering juga disebut dengan uji kecocokan non
parametik (non parametic test) karena pengujian tidak menggunakan fungsi distribusi
tertentu
39

a. Uji Smirnov Kolmogorov Metode Log Person Type III


Tabel 24. Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov Metode Log Person III
Tahun X Log Xi Log X̅ m n PLogX PLogX< f(t) P’(LogX<) P’(LogX) D
2016 225 2.352 1 0.091 0.909 0.782 0.782 0.218 - 0.691
2017 177 2.248 2 0.182 0.818 0.390 0.652 0.348 - 0.470
2010 167 2.223 3 0.273 0.727 0.296 0.614 0.386 - 0.341
2015 158 2.199 4 0.364 0.636 0.205 0.579 0.421 - 0.216
2014 150 2.176 5 0.455 0.545 0.120 0.548 0.452 - 0.093
2.144 10
2012 149 2.173 6 0.545 0.455 0.109 0.540 0.460 0.006
2009 123 2.090 7 0.636 0.364 - 0.203 0.421 0.579 0.216
2018 105 2.021 8 0.727 0.273 - 0.462 0.323 0.677 0.404
2013 101 2.004 9 0.818 0.182 - 0.525 0.302 0.699 0.517
2011 90 1.954 10 0.909 0.091 - 0.713 0.239 0.761 0.670
JUMLAH 1445 21.440 Dmax 0.670
Sumber : Hasil Perhitungan
Contoh perhitungan untuk tabel 21 :
• Perhitungan PLogX dengan m=1
m 1
PLogX = = = 0.091
n + 1 10 + 1
• Perhitungan PLogX< dengan m=1
PLogX< = 1 - PLogX = 1 - 0.091 = 0.909
• Perhitungan f(t) dengan m=1
̅
logX − logX
f(t) =
̅
SlogX
2.352 − 2.144
f(t) = = 0.782
0.124 × 2.144
• Perhitungan P’LogX< dengan m=1
P’LogX< = 0.782
Didapat dari tabel wilayah luas kurva normal dari nilai f(t)
• Perhitungan P’LogX dengan m=1
P’LogX = 1 – P’LogX< = 1 – 0.782 = 0.218
• Perhitungan D dengan m=1
D = P’LogX – PlogX< = 0.218 – 0.909 = -0.691
Dari hasil perhitungan pada tabel 21 diperoleh nilai D maks = 0.670 , yaitu pada
peringkat ke-10 (m=10). Dengan nilai derajat kepercayaan (a) = 5% = 0.05, maka
nilai Do = 0.41 yang didapat dari tabel 5 nilai kritis Do pada Uji Smirnov Kolmogorov
40

. Karena Dmaks > Do → 0.670 > 0.41 , maka uji distribusi Log Person Type III tidak
dapat digunakan.
b. Uji Smirnov Kolmogorov Metode Gumbel
Tabel 25. Perhitungan Uji Smirnov Kolmogorov Metode Gumbel
CH
TAHUN X m n PX PX< f(t) P’(X<) P’(X) D
(mm)
2016 225 1 0.091 0.909 1.961 0.975 0.025 - 0.884
2017 177 2 0.182 0.818 0.792 0.785 0.215 - 0.603
2010 167 3 0.273 0.727 0.548 0.705 0.295 - 0.433
2015 158 4 0.364 0.636 0.329 0.626 0.375 - 0.262
2014 150 5 0.455 0.545 0.134 0.552 0.448 - 0.097
144.50 10
2012 149 6 0.545 0.455 0.110 0.544 0.456 0.002
2009 123 7 0.636 0.364 - 0.524 0.302 0.699 0.335
2018 105 8 0.727 0.273 - 0.962 0.169 0.832 0.559
2013 101 9 0.818 0.182 - 1.060 0.145 0.855 0.674
2011 90 10 0.909 0.091 - 1.328 0.093 0.907 0.816
Jumlah 1445 Dmax 0.816
Sumber : Hasil Perhitungan
Contoh perhitungan untuk tabel 22 :
• Perhitungan PLogX dengan m=1
m 1
PLogX = = = 0.091
n + 1 10 + 1
• Perhitungan PLogX< dengan m=1
PLogX< = 1 - PLogX = 1 - 0.091 = 0.909
• Perhitungan f(t) dengan m=1
X−X ̅
f(t) =
S
225 − 144.50
f(t) = = 1.961
41.43
• Perhitungan P’X< dengan m=1
P’X< = 0.975
Didapat dari tabel wilayah luas kurva normal dari nilai f(t)
• Perhitungan P’X dengan m=1
P’X = 1 – P’X< = 1 – 0.975 = 0.025
• Perhitungan D dengan m=1
D = P’X – PX< = 0.025 – 0.909 = -0.884
Dari hasil perhitungan pada tabel 22 diperoleh nilai D maks = 0.816 , yaitu pada
peringkat ke-10 (m=10). Dengan nilai derajat kepercayaan (a) = 5% = 0.05, maka
nilai Do = 0.41 yang didapat dari tabel 5 nilai kritis Do pada Uji Smirnov
41

Kolmogorov . Karena Dmaks > Do → 0.816 > 0.41 , maka uji distribusi Gumbel
tidak dapat digunakan.

4.2.3.3. Hasil distribusi


Dari pengujian dua macam metode distribusi dengan menggunankan uji Chi-
Kuadrat dan uji Smirnov-Kolmogorov, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
Tabel 26. Hasil Uji Distribusi
Hasil Uji Chi- Hasil Smirnov-
Persamaan
No. Kuadrat Kolmogorov Keterangan
Distribusi 2
Xh < X² Dmaks < D0
Log Person 5 < 5.991 0.670 > 0.41 Dapat
1
Type III Memenuhi Tidak Memenuhi digunakan
11 > 5.991 0.816 > 0.41 Tidak dapat
2 Gumbell
Tidak Memenuhi Tidak Memenuhi digunakan
Sumber : Hasil perhitungan
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Distribusi Log Person Type III paling tepat
digunakan, karena memenuhi salah satu hasil uji.
Tabel 27. Hasil Analisa Curah Hujan Berbagai Kala Ulang
Tinggi Hujan dengan Berbagai Kala Ulang
(R.Th)
Metode Analisa Frekuensi
R2 th R5 th R10 th
(mm) (mm) (mm)
Metode Log Pearson Type III 140.101 225.572 304.597
Metode Gumbel 138.939 187.921 220.352
Sumber : Hasil perhitungan

Berdasarkan pada Permen PU No. 12 Tahum 2014 tentang Penyelenggaraan


Sistem Drainase Perkotaan yang tertera pada Tabel 1, perencanaan sistem drainase di
Underpass New Yogyakarta International Airport menggunakan curah hujan periode
10 tahun.
42

4.2.4. Analisa debit rasional

4.2.4.1. Underpass Tertutup


Tabel 28. Hasil Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup
A tc R I Q
Dekripsi Lahan C
(km²) (jam) (mm) (mm/jam) (m³/dtk)
sisi timur kanan 0.95 0.00505 0.321 304.597 225.378 0.300
sisi timur kiri 0.95 0.00505 0.321 304.597 225.378 0.300
Tertutup
sisi barat kanan 0.95 0.00508 0.322 304.597 224.746 0.301
sisi barat kiri 0.95 0.00508 0.322 304.597 224.746 0.301
∑ 0.02026 1.203
Sumber : Hasil perhitungan
a. Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup Sisi Timur
• Waktu konsentrasi (𝒕𝒄 )
0.77
L1
t 0 = 0.0195 ( )
√Io
0.77
546
t 0 = 0.0195 ( ) = 19.212⁡menit
√0.01
L2 9.25
tf = = = 1.85⁡detik
v 5
19.212 1.85
tc = to + tf = + = 0.321⁡jam
60 3600

• Intensitas hujan
2⁄
R 24 24 3
I= ( )
24 t c
2⁄
304.597 24 3
I= ( ) = 225.378⁡mm/jam
24 0.321

• Koefisien Pengaliran
C = Ci + Ct + Cp + Cs + Cc
C = 0.30 + 0.05 + 0.10 + 0.25 + 0.25
C = 0.95
Ci = 0.30 (intensitas hujan > 75 mm/jam , Tabel 8)
Ct = 0.05 (kondisi topografi landai, Tabel 9)
Cp = 0.10 (daerah pengaliran, sedikit depresi permukaan, Tabel 10)
Cs = 0.25 (infiltrasi kecil tidak ada penutup lahan, Tabel 11)
43

Cc = 0.25 (tidak terdapat tanaman yang efektif, Tabel 12)


• Metode Rasional
1
Q= CIA
3.6
1
Q= × 0.95 × 225.378 × 0.00505 = ⁡0.300⁡⁡m³/dtk
3.6
b. Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup Sisi Barat
• Waktu konsentrasi (𝒕𝒄 )
0.77
L1
t 0 = 0.0195 ( )
√Io
0.77
549
t 0 = 0.0195 ( ) = 19.293⁡menit
√0.01
L2 9.25
tf = = = 1.85⁡detik
v 5
19.293 1.85
tc = to + tf = + = 0.322⁡jam
60 3600

• Intensitas hujan
2⁄
R 24 24 3
I= ( )
24 t c
2⁄
304.597 24 3
I= ( ) = ⁡224.746⁡⁡mm/jam
24 0.322

• Koefisien Pengaliran
C = Ci + Ct + Cp + Cs + Cc
C = 0.30 + 0.05 + 0.10 + 0.25 + 0.25
C = 0.95
Ci = 0.30 (intensitas hujan > 75 mm/jam , Tabel 8)
Ct = 0.05 (kondisi topografi landai, Tabel 9)
Cp = 0.10 (daerah pengaliran, sedikit depresi permukaan, Tabel 10)
Cs = 0.25 (infiltrasi kecil tidak ada penutup lahan, Tabel 11)
Cc = 0.25 (tidak terdapat tanaman yang efektif, Tabel 12)
• Metode Rasional
1
Q= CIA
3.6
44

1
Q= × 0.95 × ⁡224.746⁡ × 0.00508 = ⁡⁡0.301⁡⁡m³/dtk
3.6

4.2.4.2. Underpass Terbuka


Tabel 29.Hasil Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Tertutup
A tc R I Q
Dekripsi Lahan C
(km²) (jam) (mm) (mm/jam) (m³/dtk)
sisi timur kanan 0.95 0.00107 0.098 304.597 498.340 0.141
sisi timur kiri 0.95 0.00107 0.098 304.597 498.340 0.141
Terbuka
sisi barat kanan 0.95 0.00097 0.090 304.597 524.647 0.134
sisi barat kiri 0.95 0.00097 0.090 304.597 524.647 0.134
∑ 0.00408 0.550
Sumber : Hasil perhitungan
a. Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Terbuka Sisi Timur
• Waktu konsentrasi (𝒕𝒄 )
0.77
L1
t 0 = 0.0195 ( )
√Io
0.77
115.822
t 0 = 0.0195 ( ) = 5.822⁡menit
√0.01
L2 9.25
tf = = = 1.85⁡detik
v 5
5.822 1.85
tc = to + tf = + = ⁡0.098⁡jam
60 3600

• Intensitas hujan
2⁄
R 24 24 3
I= ( )
24 t c
2⁄
304.597 24 3
I= ( ) = ⁡498.34⁡⁡mm/jam
24 0.098

• Koefisien Pengaliran
C = Ci + Ct + Cp + Cs + Cc
C = 0.30 + 0.05 + 0.10 + 0.25 + 0.25
C = 0.95
Ci = 0.30 (intensitas hujan > 75 mm/jam , Tabel 8)
Ct = 0.05 (kondisi topografi landai, Tabel 9)
Cp = 0.10 (daerah pengaliran, sedikit depresi permukaan, Tabel 10)
45

Cs = 0.25 (infiltrasi kecil tidak ada penutup lahan, Tabel 11)


Cc = 0.25 (tidak terdapat tanaman yang efektif, Tabel 12)
• Metode Rasional
1
Q= CIA
3.6
1
Q= × 0.95 × ⁡498.340⁡ × 0.00107 = ⁡⁡0.141⁡m³/dtk
3.6
b. Perhitungan Debit Rencana pada Underpass Terbuka Sisi Barat
• Waktu konsentrasi (𝒕𝒄 )
0.77
L1
t 0 = 0.0195 ( )
√Io
104.72 0.77
t 0 = 0.0195 ( ) = 5.387⁡menit
√0.01
L2 9.25
tf = = = 1.85⁡detik
v 5
5.387 1.85
tc = to + tf = + = ⁡0.090⁡jam
60 3600

• Intensitas hujan
2⁄
R 24 24 3
I= ( )
24 t c
2⁄
304.597 24 3
I= ( ) = ⁡⁡524.647⁡mm/jam
24 ⁡0.090⁡

• Koefisien Pengaliran
C = Ci + Ct + Cp + Cs + Cc
C = 0.30 + 0.05 + 0.10 + 0.25 + 0.25
C = 0.95
Ci = 0.30 (intensitas hujan > 75 mm/jam , Tabel 8)
Ct = 0.05 (kondisi topografi landai, Tabel 9)
Cp = 0.10 (daerah pengaliran, sedikit depresi permukaan, Tabel 10)
Cs = 0.25 (infiltrasi kecil tidak ada penutup lahan, Tabel 11)
Cc = 0.25 (tidak terdapat tanaman yang efektif, Tabel 12)
• Metode Rasional
1
Q= CIA
3.6
46

1
Q = 3.6 × 0.95 × 524.647 × 0.00097 = 0.134⁡m³/dtkANALISA HIDROLIKA

4.3. ANALISA HIDROLIKA


Dengan mengetahui debit rencana pada Underpass, maka dapat direncanakan
dimensi saluran dan bak penampung pada underpass yang ekonomis dengan
menggunakan metode trial and error.

1.3.1. Underpass Tertutup


a. Sisi Timur
Data perencanaan : (asumsi saluran berbentuk segi empat)
Debit rencana (Qr) = 0.300 m³/dtk
Angka kekasaran (n) = 0.013
Kemiringan dasar saluran (i) = 0.01
Misal : b = h , maka
A = b × h = h × h = h2
P = 2h + b = 2h + h = 3h
A h2
R= = = 0.333h
P 3h
Q =V×A
1 2
0.300 = R3 √I × h2
n
1
0.300 = (0.333h)2/3 √0.01 × h2
0.013
0.300 × 0.013
= h8/3
0.48√0.01
0.444 = h
Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan saluran pada
underpass tertutup dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 0.5 m
Tinggi muka air (h) = 0.4 m
Tinggi jagaan (w) = √0.5ℎ = 0.3 m
Kemiringan dasar saluran = 0.01
Kontrol Qf > Qr
A = b × h = 0.5 × 0.4 = 0.2⁡m2
P = 2h + b = 2 × 0.4 + 0.5 = 1.3⁡m
47

A 0.2
R= = = 0.154m
P 1.3
1 2
V = R3 √I
n
1
= 0.1542/3 √0.01 = 1.562⁡m/dtk
0.013
Qf = V × A = 1.562 × 0.2 = 0.312⁡m³/dtk
Kontrol : Qf > Qr = 0.312 m³/dtk > 0.300 m³/dtk (memenuhi).

Gambar 6. Rencana Saluran Underpass Tertutup Sisi Timur

Sumber : Hasil Perhitungan Rencana


b. Sisi Barat
Data perencanaan : (asumsi saluran berbentuk segi empat)
Debit rencana (Qr) = 0.301 m³/dtk
Angka kekasaran (n) = 0.013
Kemiringan dasar saluran (i) = 0.01
Misal : b = h , maka
A = b × h = h × h = h2
P = 2h + b = 2h + h = 3h
A h2
R= = = 0.333h
P 3h
Q =V×A
1 2
0.301 = R3 √I × h2
n
1
0.301 = (0.333h)2/3 √0.01 × h2
0.013
0.301 × 0.013
= h8/3
0.48√0.01
0.445 = h
48

Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan saluran pada
underpass tertutup dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 0.5 m
Tinggi muka air (h) = 0.4 m
Tinggi jagaan (w) = √0.5ℎ = 0.3 m
Kemiringan dasar saluran = 0.01
Kontrol Qf > Qr
A = b × h = 0.5 × 0.4 = 0.2⁡m2
P = 2h + b = 2 × 0.4 + 0.5 = 1.3⁡m
A 0.2
R= = = 0.154m
P 1.3
1 2
V = R3 √I
n
1
= 0.1542/3 √0.01 = 1.562⁡m/dtk
0.013
Qf = V × A = 1.562 × 0.2 = 0.312⁡m³/dtk
Kontrol : Qf > Qr = 0.312 m³/dtk > 0.301 m³/dtk (memenuhi).

Gambar 7. Rencana Saluran Underpass Tertutup Sisi Barat

Sumber : Hasil Perhitungan Rencana

1.3.2. Underpass terbuka


a. Sisi Timur
Data perencanaan : (asumsi saluran berbentuk segi empat)
Debit rencana (Qr) = 0.441 m³/dtk
Angka kekasaran (n) = 0.013
Kemiringan dasar saluran (i) = 0.01
Misal : b = h , maka
A = b × h = h × h = h2
P = 2h + b = 2h + h = 3h
49

A h2
R= = = 0.333h
P 3h
Q =V×A
1 2
0.441 = R3 √I × h2
n
1
0.441 = (0.333h)2/3 √0.01 × h2
0.013
0.441 × 0.013
= h8/3
0.48√0.01
0.451 = h
Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan saluran pada
underpass terbuka dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 0.5 m
Tinggi muka air (h) = 0.6 m
Tinggi jagaan (w) = √0.5ℎ = 0.4 m
Kemiringan dasar saluran = 0.01
Kontrol Qf > Qr
A = b × h = 0.5 × 0.6 = 0.3⁡m2
P = 2h + b = 2 × 0.6 + 0.5 = 1.7⁡m
A 0.3
R= = = 0.176m
P 1.7
1 2
V = R3 √I
n
1
= 0.1762/3 √0.01 = 1.711⁡m/dtk
0.013
Qf = V × A = 1.711 × 0.3 = 0.513⁡m³/dtk
Kontrol : Qf > Qr = 0.513 m³/dtk > 0.441 m³/dtk (memenuhi).

Gambar 8. Rencana Saluran Underpass Terbuka Sisi Timur


Sumber : Hasil Perhitungan Rencana
50

b. Sisi Barat
Data perencanaan : (asumsi saluran berbentuk segi empat)
Debit rencana (Qr) = 0.435 m³/dtk
Angka kekasaran (n) = 0.013
Kemiringan dasar saluran (i) = 0.01
Misal : b = h , maka
A = b × h = h × h = h2
P = 2h + b = 2h + h = 3h
A h2
R= = = 0.333h
P 3h
Q =V×A
1 2
0.435 = R3 √I × h2
n
1
0.435 = (0.333h)2/3 √0.01 × h2
0.013
0.435 × 0.013
= h8/3
0.48√0.01
0.448 = h
Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan saluran pada
underpass tertutup dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 0.5 m
Tinggi muka air (h) = 0.6 m
Tinggi jagaan (w) = √0.5ℎ = 0.4 m
Kemiringan dasar saluran = 0.01
Kontrol Qf > Qr
A = b × h = 0.5 × 0.6 = 0.3⁡m2
P = 2h + b = 2 × 0.6 + 0.5 = 1.7⁡m
A 0.3
R= = = 0.176m
P 1.7
1 2
V = R3 √I
n
1
= 0.1762/3 √0.01 = 1.711⁡m/dtk
0.013
Qf = V × A = 1.711 × 0.3 = 0.513⁡m³/dtk
Kontrol : Qf > Qr = 0.513 m³/dtk > 0.435 m³/dtk (memenuhi).
51

Gambar 9. Rencana Underpass Terbuka Sisi Barat

Sumber : Hasil Perhitungan Rencana

1.3.3. Bak Penampung


Volume bak penampung dihitung berdasarkan debit yang masuk ke masing-masing
bak penampung dari saluran samping underpass. Untuk menghitung kapasitas bak
penampung digunakan asumsi volume air yang tertampung selama 20 menit tanpa
dipompa.
a. Sisi Timur
Data perencanaan :
Debit masuk = 0.441 m3/dtk = 441.27 liter/dtk
Debit keluar = kapasitas pompa = 26.476 m3/menit = 26,476 liter/menit
Asumsi daya tampung = 20 menit
Volume tampungan yang diperlukan = 529.521 m3
Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan bak penampung
dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 15.6 m
Panjang penampung (l) = 10 m
Tinggi muka air (h) = 3.5 m
V𝑓 = b × h × l = 15.6 × 10 × 3.5 = 546⁡m³
Kontrol : Vf > Vr = 546 m³ > 529.521 m³ (memenuhi).
Tinggi bak menampung untuk menampung air selama 20 menit adalah 3.50 m,
namun perlu ditambah tinggi jagaan dari dasar saluran drainase yang masuk ke bak
penampung.
b. Sisi Barat
52

Data perencanaan :
Debit masuk = 0.435 m3/dtk = 435.29 liter/dtk
Debit keluar = kapasitas pompa = 26.117 m3/menit = 26,117 liter/menit
Asumsi daya tampung = 20 menit
Volume tampungan yang diperlukan = 522.348 m3
Berdasarkan hasil dari trial and error, maka dapat direncanakan bak penampung
dengan dimensi :
Lebar penampang (b) = 15.6 m
Panjang penampung (l) = 10 m
Tinggi muka air (h) = 3.5 m
V𝑓 = b × h × l = 15.6 × 10 × 3.5 = 546⁡m³
Kontrol : Vf > Vr = 546 m³ > 522.348 m³ (memenuhi).
Tinggi bak menampung untuk menampung air selama 20 menit adalah 3.50 m,
namun perlu ditambah tinggi jagaan dari dasar saluran drainase yang masuk ke bak
penampung.

3.50

15.60

Gambar 10. Rencana Bak Penampung

Sumber : Hasil Perhitungan Rencana

1.3.4. Perhitungan Pompa

1.3.4.1. Analisa Kebutuhan Pompa


a. Sisi Timur
Data perencanaan : (asumsi pompa yang akan digunakan)
Spesifikasi produk : S2.100.200.260.4.58L.C.266.G.EX.D.511 (terlampir)
Flow pompa sebesar 239 liter/dtk
Debit pompa yang direncanakan sebesar 441.27 liter/dtk
53

Sehingga jumlah pompa yang dibutuhkan :


debit⁡pompa 441.27
n =⁡ = = 1.85⁡ ≅ 2⁡buah
flow⁡pompa 239
b. Sisi Barat
Data perencanaan : (asumsi pompa yang akan digunakan)
Spesifikasi produk : S2.100.200.260.4.58L.C.266.G.EX.D.511 (terlampir)
Flow pompa sebesar 239 liter/dtk
Debit pompa yang direncanakan sebesar 435.29 liter/dtk
Sehingga jumlah pompa yang dibutuhkan :
debit⁡pompa 435.39
n =⁡ = = 1.82⁡ ≅ 2⁡buah
flow⁡pompa 239
Jika diasumsikan hujan terjadi dengan intensitas konstan dalam waktu 180
menit, maka berikut adalah simulasi operasi pompa.
Tabel 30. Simulasi Operasi Pompa
Debit Waktu Volume 1 Tinggi Muka Air Pompa Kap. Pompa Volume 2
(m3/detik) (menit) (m3) (m) (m3/detik) (m3)
0.44 - - - mati - -
0.44 10 264.76 1.77 mati - 264.76
0.44 20 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 30 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 40 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 50 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 60 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 70 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 80 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 90 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 100 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 110 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 120 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 130 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 140 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 150 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 160 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 170 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
0.44 180 529.52 3.39 nyala 0.44 264.76
- 190 264.76 1.77 nyala 0.44 -
- 200 - - mati - -
Sumber : Hasil Perhitungan
54

4.00

3.50

3.00
Tinggi Muka Air (m)
Debit (m3/dtk)

2.50
Tinggi Muka Air (m)
2.00
Kap. Pompa (m3/dtk)
1.50
Debit (m3/dtk)
1.00

0.50

0.00
0 25 50 75 100 125 150 175 200 225
Waktu (menit)

Grafik 1. Simulasi Operasi Pompa

Sumber : Hasil Perhitungan

1.3.4.2. Analisa Tinggi Angkat Pompa


Tinggi angkat pompa dinyatakan dalam rumus berikut ini :
𝑣2
𝐻 = 𝐻𝑠 + 𝐻𝑑 + 𝐻𝑓𝑠𝑑 +
2𝑔
Direncanakan :
Diameter Pipa Air : 250mm
Diameter Check Valve : 250mm
Diameter Gate Valve : 250mm
Kecepatan : 0.239 m3/dtk
Tabel 31. Kerugian Gesek dalam Pipa Hisap
Panjang (m) / f (Koefisien
No. Head Loss Rumus Hf (m) Hf Total (m)
Jumlah (buah) Gesek)
2
Gesekan pada
1 4m 𝐻𝑓 = . . 0.032 0.001 0.012
Pipa 2𝑔
2
2 Gate Valve 1 buah 𝐻𝑓 = . 0.190 0.001 0.001
2𝑔
2
3 Katup Hisap 1 buah 𝐻𝑓 = . 2.040 0.006 0.012
2𝑔
Total 0.025
Sumber : Hasil Perhitungan
55

Tabel 32. Kerugian Gesek dalam Pipa Tekan


Panjang (m) / f (Koefisien
No. Head Loss Rumus Hf (m) Hf Total (m)
Jumlah (buah) Gesek)
Gesekan pada 2
1 16.57 m 𝐻𝑓 = . . 0.032 0.006 0.206
Pipa 2𝑔
2
2 Gate Valve 1 buah 𝐻𝑓 = . 0.190 0.001 0.001
2𝑔
2
3 Belokan Pipa 2 buah 𝐻𝑓 = . 0.150 0.000 0.002
2𝑔
2
4 Check Valve 1 buah 𝐻𝑓 = . 2.500 0.007 0.015
2𝑔
Total 0.209
Sumber : Hasil Perhitungan

Hd = 10.689 m (dapat dilihat pada gambar)


Hs = 2.789 m (dapat dilihat pada gambar)
Ha = Hd + Hs = 10.689 + 2.789 = 13.478
Sehingga,
v2
H = Ha + Hfsd +
2g
0.2392
H = 13.478 + (0.012 + 0.104) +
2x9.81
H = 13.715m

Pompa yang terpasang adalah Pompa Sentrifugal :


Merk : GRUNDFOS
Kapasitas : 239 liter/detik
Head : 26 meter
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa (analisa hidrologi dan hidrolika) maupun hasil survey dapat
diambil kesimpulan bahwa :
a. Debit rencana pada underpass tertutup sisi timur sebesar 0.300 m3/dtk sedangkan
pada underpass terbuka sisi timur sebesar 0.441 m3/dtk.
b. Debit rencana pada underpass tertutup sisi barat sebesar 0.301 m3/dtk sedangkan
pada underpass terbuka sisi barat sebesar 0.435 m3/dtk.
c. Perencanaan saluran pada underpass tertutup sisi timur maupun barat berbentuk segi
empat dengan dimensi 0.5 x 0.4 meter dengan tinggi jagaan 0.3 meter.
d. Perencanaan saluran pada underpass terbuka sisi timur maupun barat berbentuk segi
empat dengan dimensi 0.5 x 0.6 meter dengan tinggi jagaan 0.4 meter.
e. Pada bak penampung direncanakan berbentuk segi empat dengan dimensi 15.6 x 10
x 3.5 meter pada masing-masing sisi timur dan barat.
f. Pompa yang digunakan sebanyak 2 buah dengan merk GRUNFOS, memiliki
kapasitas pompa 239 liter/detik dengan tinggi angkat maksimum 26 meter.
g. Tinggi angkat total pada hasil perhitungan sebesar 13.75 meter, sehingga pompa
yang digunakan dapat memenuhi kebutuhan.

5.2. SARAN
Berdasarkan pada kesimpulan yang telah diuraikan, penulis memberikan saran
bahwa :
a. Untuk pemeliharaan pompa pada underpass New Yogyakarta International Airport,
apabila terjadi kerusakan dan harus dilakukan penggantian, maka pompa dapat
diganti menggunakan pompa S2.100.200.260.4.58L.C.266.G.EX.D.511.
b. Dalam pemilihan pompa, harus memperhitungkan Debit air yang dibutuhkan,
perencanaan sitem pemipaan, kerugian yang terjadi pada setiap komponen, sehingga
dapat mengetahui head total pompa yang dibutuhkan.
c. Dengan hasil laporan tugas akhir ini, diharapkan bisa menjadikan referensi untuk
mendesign pompa air untuk bangunan underpass.

56
DAFTAR PUSTAKA
Anggrahini. 1996. Hidrolika Saluran Terbuka. Surabaya : CV Citra Media.
Asdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai Edisi Revisi Kelima.
Yogyakarta : Gajah Mada University Press Yogyakarta.
ASTM A53 Grade A and B Standard Pipe Schedule 40.
Chow, Ven Te. (Terjemahan). 1992. Hidrologi Saluran Terbuka (Open Channel Hydraulics). Jakarta
: Erlangga.
Hertanto, Teguh Puji Ir. 2013. Sistem Pemipaan. Jakarta: Universitas Mercubuana Fakultas Teknik.
Masduki. 1999. Drainase Perkotaan. Bandung : Institut Teknologi Bandung.
Sirawan, Yudi. 2008. Sistem Pemipaan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
SNI 03-7065-2005 Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing
Soemarto, CD. 1999. Hidrologi Teknik. Jakarta : Erlangga.
Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid I. Bandung : Nova
Suripin. 2003. Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Yogyakarta : Andi.
Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta : Beta Offset.

57
1

Anda mungkin juga menyukai