0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan19 halaman

Teori Konstruktivisme - Kelompok 2

Makalah ini membahas teori konstruktivisme dalam pembelajaran, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman individu. Konsep ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Jean Piaget dan Vygotsky, yang menekankan pentingnya pengalaman dan interaksi sosial dalam proses belajar. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami konsep teori konstruktivisme, serta kelebihan dan kekurangan serta penerapannya dalam pembelajaran matematika.

Diunggah oleh

Mega Silviana Ishak
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan19 halaman

Teori Konstruktivisme - Kelompok 2

Makalah ini membahas teori konstruktivisme dalam pembelajaran, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman individu. Konsep ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Jean Piaget dan Vygotsky, yang menekankan pentingnya pengalaman dan interaksi sosial dalam proses belajar. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami konsep teori konstruktivisme, serta kelebihan dan kekurangan serta penerapannya dalam pembelajaran matematika.

Diunggah oleh

Mega Silviana Ishak
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

TEORI KONSTRUKTIVISME

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK II

Nirmala Puspita Wulandari : A23124009


Alya Sulistiya : A23124070
Siti Marfat : A23124071
Gita Afriani : A23124072
Dela Safitri Az : A23124116

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2025
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis


bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun, mengkonstruksi
pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. Setiap kita akan
menciptakan hukum dan model mental kita sendiri, yang kita pergunakan untuk
menafsirkan dan menerjemahkan pengalaman. Belajar, dengan demikian,
semata-semata sebagai suatu proses pengaturan model mental seseorang untuk
mengakomodasi pengalaman-pengalaman baru.

Istilah konstruktivisme sendiri sebenarnya sudah dapat dilacak dalam karya


Bartlett (1932), kemudian juga Mark Baldwin yang secara lebih rinci diperdalam
oleh Jean Piaget, kemudian konsep Piaget ini disebarluaskan di Amerika Utara
(meliputi Amerika Serikat dan Kanada) oleh Ernst von Glasersfeld. Namun,
konsep terkait dengan konstruktivisme (walau saat itu belum mempergunakan
istilah konstruktivisme) bahkan sudah diungkap oleh Giambattista Vico pada
tahun 1710, yang menyatakan bahwa makna "mengetahui berarti mengetahui
bagaimana membuat sesuatu. Ini berarti bahwa seseorang itu dapat dikatakan
mengetahui sesuatu, baru jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang
membangun sesuatu itu. Lebih jelasnya ia pernah mengalami sesuatu itu,
mungkin beberapa kali dan ada penerimaan dalam struktur kognitifnya, sebagai
hasil proses berpikirnya (process of mind), tentang apa sesungguhnya sesuatu
itu. Jadi sesuatu itu telah diketahuinya karena telah dikonstruksikan dalam
pikirannya. Sementara itu sejumlah ahli lain berpendapat bahwa konstruktivisme
sebagai salah satu bentuk pragmatisme, oleh sebab itu dapat dimaklumi jika
tokoh pragmatisme, John Dewey yang terkenal dengan konsep belajar dengan
melakukan (learning by doing), dikategorikan sebagai ahli pendukung
konstruktivisme).
Konstruktivis percaya bahwa pembelajar mengkonstruk sendiri realitasnya
atau paling tidak menerjemahkannya berlandaskan persepsi tentang
pengalamannya, sehingga pengetahuan individu adalah sebuah fungsi dari
pengalaman sebelumnya, juga struktur mentalnya, yang kemudian
digunakannya untuk menerjemahkan objek-objek serta kejadian-kejadian baru.
Para ahli yang berkecimpung dalam aliran ini antara lain adalah Bruner, Ulrick,
Neiser, Goodman, Kant, Kuhn, Dewey dan Habermas. Akan tetapi yang
berperanan besar, yaitu karya dari Jean Piaget, yang kemudian diterjemahkan
dan dikembangkan oleh Ernst von Glasersfeld. Sebelum pengembangan oleh
von Glasersfeld, buah karya Piaget ini belum banyak dikenal di Amerika Utara.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep teori konstruktivisme?
2. Bagaimana konsep belajar konstruktivisme menurut Jean Piaget dan
Vygotsky?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan teori konstruktivisme?
4. Bagaimana contoh penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran
matematika?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, berikut adalah tujuan yang sesuai:
1. Memahami konsep teori konstruktivisme.
2. Menjelaskan konsep belajar konstruktivisme menurut Jean Piaget dan
Vygotsky.
3. Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan teori konstruktivisme.
4. Memberikan contoh kasus penerapan teori konstruktivisme dalam
pembelajaran matematika.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Teori Konstruktivisme

Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja
memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif
membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri.

Pendekatan konstruktivistik dalam belajar dan pembelajaran didasarkan


pada perpaduan antara beberapa penelitian dalam psikologi kognitif dan
psikologi sosial, sebagaimana teknik-teknik dalam modifikasi perilaku yang
didasarkan pada teori operant conditioning dalam psikologi behavioral. Premis
dasarnya adalah bahwa individu harus secara aktif "membangun" pengetahuan
dan keterampilannya (Brunner, 1990) dan informasi yang ada diperoleh dalam
proses membangun kerangka oleh pelajar dari lingkungan di luar dirinya.

Berbeda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar


sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respons,
konstruktivisme memahami hakikat belajar sebagai kegiatan manusia
membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi
makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Pengetahuan itu sendiri rekaan
dan bersifat tidak stabil. Oleh karena itu, pemahaman yang diperoleh manusia
senantiasa bersifat tentatif dan tidak lengkap. Pemahaman manusia akan
semakin mendalam dan kuat jika teruji dengan pengalaman-pengalaman baru
(Nurha-di, 2004).

Secara filosofis, belajar menurut teori konstruktivisme adalah membangun


pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil
atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi
makna melalui pengalaman nyata.
Dalam proses belajar di kelas, menurut Nurhadi dan kawan-kawan (2004),
siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu
memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan
penge-tahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme ini
adalah ide. Siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi
kompleks ke situasi lain. Dengan dasar itu, maka belajar dan pembelajaran harus
dikemas menjadi proses 'mengkonstruksi', bukan 'menerima' pengetahuan.

Oleh karena itu, Slavin (1994) menyatakan bahwa dalam proses belajar dan
pembelajaran siswa harus terlibat aktif dan siswa menjadi pusat kegiatan belajar
dan pembelajaran di kelas. Guru dapat memfasilitasi proses ini dengan mengajar
menggunakan cara-cara yang membuat sebuah informasi menjadi bermakna dan
relevan bagi siswa. Untuk itu, guru harus memberi kesempatan kepada siswa
untuk menemukan atau mengaplikasikan ide-ide mereka sendiri, di samping
mengajarkan siswa untuk menyadari dan sadar akan strategi belajar mereka
sendiri.

B. Konsep Belajar Konstruktivisme Menurut Jean Piaget Dan Vygotsky

Perkembangan konstruktivisme dalam belajar tidak terlepas dari usaha


keras Jean Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh ini menekankan bahwa perubahan
kognitif ke arah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang sebelumnya
sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang diterima
melalui proses ketidakseimbangan (dissequilibrium). Selain itu, Jean Piaget dan
Vygotsky juga menekankan pada pentingnya lingkungan sosial dalam belajar
dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kelompok akan
dapat meningkatkan pegubahan secara konseptual. Berikut ini akan dibahas
konsep Jean Piaget dan Vygotsky tentang belajar yang merupakan dasar bagi
pendekatan konstruktivisme dalam belajar.
1. Konsep Belajar Konstruktivisme Jean Piaget

Dalam pandangan konstruktivisme, pengetahuan tumbuh dan


berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam
dan kuat apabila selalu diuji oleh berbagai macam pengalaman baru. Menurut
Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti sebuah
kotak-kotak yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda-beda.
Pengalaman yang sama bagi seseorang akan dimaknai berbeda oleh masing-
masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman
baru akan dihubungkan dengan kotak-kotak atau struktur pengetahuan dalam
otak manusia (Nurhadi, 2004). Oleh karena itu, pada saat manusia belajar,
menurut Piaget, sebenarnya telah terjadi dua proses dalam dirinya, yaitu
proses organisasi informasi dan proses adaptasi.

Proses organisasi adalah proses ketika manusia menghubungkan


informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah
disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. Melalui proses organisasi
inilah, manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya
dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang
dimilikinya, sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau
mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut.

Proses adaptasi adalah proses yang berisi dua kegiatan. Pertama,


menggabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh
manusia atau disebut dengan asimilasi. Kedua, mengubah struktur
pegetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga
akan terjadi keseimbangan (equilibrium). Dalam proses adaptasi ini, Piaget
mengemukakan empat konsep dasar (Nurhadi, 2004), yaitu:

a. Skemata. Manusia selalu berusaha menyesuaikan diri dengan


lingkungannya. Manusia cenderung mengorganisasikan tingkah laku dan
pikirannya. Hal itu mengakibatkan adanya sejumlah struktur psikologis
yang berbeda bentuknya pada setiap fase atau tingkatan perkembangan
tingkah laku dan kegiatan berpikir manusia. Struktur ini disebut dengan
struktur pikiran (intellectual scheme). Dengan demikian, pikiran harus
memiliki suatu struktur yaitu skema yang berfungsi melakukan adaptasi
dengan lingkungan dan menata lingkungan itu secara intelektual.

Secara sederhana skemata dapat dipandang sebagai kumpulan konsep


atau kategori yang digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan
lingkungan. Skemata ini senantiasa berkembang. Artinya, ketika kecil
seorang anak hanya memiliki beberapa skemata saja, tetapi setelah
beranjak dewasa skemata-nya secara berangsur-angsur bertambah
banyak, luas, beraneka ragam, dan kompleks. Perkembangan ini
dimungkinkan oleh stimulus-stimulus yang dialaminya yang kemudian
diorganisasikan dalam pikirannya. Piaget mengatakan bahwa skemata
orang dewasa berkembang mulai dari skemata anak melalui proses
adaptasi sampai pada penataan dan organisasi. Makin mampu seseorang
membedakan satu stimulus dengan stimulus lainnya, makin banyak
skemata yang dimilikinya. Dengan demikian, skemata adalah struktur
kognitif yang selalu berkembang dan berubah. Proses yang menyebabkan
adanya perubahan tersebut adalah asimilasi dan akomodasi.

b. Asimilasi. Asimilasi merupakan proses kognitif dan penyerapan


pengalaman baru ketika seseorang memadukan stimulus atau persepsi ke
dalam skemata atau perilaku yang sudah ada. Misalnya, seorang anak
belum pernah melihat 'seekor ayam'. Stimulus, ayam, yang dialaminya
akan diolah dalam pikirannya, dicocok-cocokkan dengan skemata-
skemata yang telah ada dalam struktur mentalnya. Mungkin saja skemata
yang paling dekat dengan ayam adalah 'burung', maka ia menyebut 'ayam'
itu sebagai 'burung besar' karena stimulus 'ayam' diasimilasikan ke dalam
skemata 'burung'. Nanti, ketika dipahaminya bahwa hewan itu bukan
'burung besar' melainkan 'ayam', maka terbentuklah skemata 'ayam' dalam
struktur pikiran anak itu.
Asimilasi pada dasarnya tidak mengubah skemata, tetapi memengaruhi
atau memungkinkan pertumbuhan skemata. Dengan demikian, asimilasi
adalah proses kognitif individu dalam usahanya mengadaptasikan diri
dengan lingkungannya. Asimilasi terjadi secara kontinu, berlangsung
terus-menerus dalam perkembangan kehidupan intelektual anak.

c. akomodasi. Uraian di atas menyimpulkan bahwa pada akhirnya dalam


struktur mental anak itu terbentuklah skemata 'ayam'. Seandainya dalam
pikiran anak itu sudah ada skemata yang cocok dengan skemata 'ayam'
(ayam jenis lain), maka skemata 'ayam' itu akan berubah dalam artian
akan menjadi lebih luas dan lebih terdiferensiasi. Maksudnya, mungkin
pada skemata "ayam' semula masih tercakup 'itik atau angsa tetapi dengan
adanya pengalaman baru ini, maka konsep tentang 'ayam' menjadi lebih
teliti, tepat atau mantap.

Akomodasi adalah suatu proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai


dengan pengalaman baru. Proses kognitif tersebut menghasilkan
terbentuknya skemata baru dan berubahnya skemata lama. Di sini tampak
terjadi perubahan secara kualitatif, sedangkan pada asimilasi terjadi
perubahan secara kuantitatif. Jadi, pada hakikatnya akomodasi
menyebabkan terjadinya perubahan atau pengembangan skemata.
Sebelum terjadi akomodasi, ketika anak menerima stimulus yang baru,
struktur mentalnya menjadi goyah atau disebut tidak stabil. Bersamaan
terjadinya proses akomodasi, maka struktur mental tersebut menjadi stabil
lagi. Begitu ada stimulus baru lagi, maka struktur mentalnya akan kembali
goyah dan selanjutnya setelah terjadi proses akomodasi akan stabil lagi.
Begitulah proses asimilasi dan akomodasi terjadi terus-menerus dan
menjadikan skemata manusia berkembang bersama dengan waktu dan
bertambahnya pengalaman. Mula-mula skemata seseorang masih bersifat
sangat umum dan global, kurang teliti, bahkan terkadang kurang tepat,
tetapi melalui proses asimilasi dan akomodasi, skemata yang kurang tepat
dan kurang teliti tersebut diubah menjadi lebih tepat dan lebih teliti.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam asimilasi,
individu memaksakan struktur yang ada padanya kepada stimulus yang
masuk. Artinya, stimulus dipaksa untuk memasuki salah satu yang cocok
dalam struktur mental individu yang bersangkutan. Sebaliknya, dalam
akomodasi individu dipaksa mengubah struktur mentalnya agar cocok
dengan stimulus yang baru itu. Dengan kata lain, asimilasi bersama- sama
dengan akomodasi secara terkoordinasi dan terintegrasi menjadi
penyebab terjadinya adaptasi intelektual dan perkembangan struktur
intelektual.

d. Keseimbangan (equilibrium). Dalam proses adaptasi terhadap


lingkungan, individu berusaha untuk mencapai struktur mental atau
skemata yang stabil. Stabil dalam artian adanya keseimbangan antara
proses asimilasi dan proses akomodasi. Seandainya hanya terjadi
asimilasi secara kontinu, maka yang bersangkutan hanya akan memiliki
beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara
berbagai hal. Sebaliknya, jika hanya akomodasi saja yang terjadi secara
kontinu, maka individu akan hanya memiliki skemata yang kecil-kecil
saja, dan mereka tidak memiliki skemata yang umum. Individu tersebut
tidak akan bisa melihat persamaan-persamaan di antara berbagai hal.
Itulah sebabnya, ada keserasian di antara asimilasi dan akomodasi yang
oleh Jean Piaget disebut dengan keseimbangan (equilibrium).

Dengan adanya keseimbangan ini, maka efisiensi interaksi antara anak


yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan
terjamin. Dengan kata lain, terjadi keseimbangan antara faktor-faktor
internal dan faktor-faktor eksternal. Jadi, ketika mula-mula anak
dihadapkan dengan stimulus 'ayam', maka struktur mentalnya menjadi
goyah, dalam keadaan tidak stabil. Tetapi setelah konsep ayam dijelaskan
kepadanya atau telah terjadi perubahan skemata atau skemata
berkembang, artinya proses akomodasi telah berjalan, maka struktur
mentalnya kembali stabil dalam tingkat yang lebih tinggi.
Dengan demikian, apabila stimulus 'ayam' masuk lagi maka dengan mulus
stimulus ini dapat segera diintegrasikan ke dalam skemata yang telah
berkembang. Bila ada stimulus baru yang akan masuk dan ternyata cocok
dengan skemata yang ada, maka skemata ini akan diperkaya atau akan
lebih mantap lagi. Akan tetapi, jika stimulus tersebut berbeda dengan
skemata yang ada, maka anak akan mengalami kegoyahan dan terjadilah
ketidakseimbangan. Namun, karena individu ingin stabil, maka proses
asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan akan berlangsung terus dan
bersamaan dengan proses tersebut struk tur mental manusia tumbuh dan
berkembang pada tiap tingkat perkembangannya sejak lahir sampai
dengan dewasa.

Secara siklus, mula-mula penalaran sudah stabil kemudian datang


stimulus baru yang mengakibatkan perubahan pada pola-pola penalaran
sehingga menjadi labil. Seterusnya melalui proses asimilasi dan
akomodasi serta keseimbangan penalaran tersebut menjadi stabil tetapi
dalam keadaan yang lebih mantap lagi.

Proses adaptasi juga dipengaruhi oleh faktor herediter dan lingkungan,


sehingga hal ini memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan
proses asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan. Faktor keturunan yang baik
berkaitan dengan proses-proses adaptasi akan memengaruhi, walaupun faktor
lingkungan lebih memiliki pengaruh.

Jelasnya, proses adaptasi adalah keseimbangan antara proses-proses


asimilasi dan akomodasi. Apabila individu melalui proses asimilasinya tidak
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, terjadilah ketidakseimbangan.
Keseimbangan itulah yang mendorong terjadinya proses akomodasi di mana
struktur kogni tifnya sebelumnya mengalami perubahan atau penambahan
skema sehingga terciptalah keseimbangan. Jadi, perkembang an intelektual
adalah suatu proses yang kontinu dari keadaan seimbang-tidak seimbang-
seimbang dan yang terjadi setiap saat, pada setiap fase perkembangan
manusia.
Proses adaptasi manusia dalam menghadapi pengetahuan baru juga
ditentukan oleh fase perkembangan kognitifnya. Jean Piaget membagi fase
perkembangan manusia ke dalam empat fase perkembangan (Mar'at, 2005),,
yaitu 1) periode sensori- motor (usia 0 - 18/24 bulan), 2) periode
preoperational (usia 2-7 tahun), 3) periode operasional konkret (usia 7-11
tahun), 4) periode operational formal (lebih dari 11 tahun).

2. Konsep Belajar Konstruktivisme Vygotsky

Salah satu konsep dasar pendekatan konstruktivisme dalam belajar


adalah adanya interaksi sosial individu dengan lingkungannya. Menurut
Vygotsky (Elliot, 2003, 52), belajar adalah sebuah proses yang melibatkan
dua elemen penting. Pertama, belajar merupakan proses secara biologi
sebagai proses dasar. Kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang
lebih tinggi dan esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya.
Sehingga, lanjut Vygotsky, munculnya perilaku seseorang adalah karena
intervening kedua elemen tersebut. Pada saat seseorang mendapatkan
stimulus dari lingkungannya, ia akan menggunakan fisiknya berupa alat
indranya untuk menangkap atau menyerap stimulus tersebut, kemudian
dengan menggunakan saraf otaknya informasi yang telah diterima tersebut
diolah. Keterlibatan alat indra dalam menyerap stimulus dan saraf otak dalam
mengelola informasi yang diperoleh merupakan proses secara fisik-psikologi
sebagai elemen dasar dalam belajar.

Pengetahuan yang telah ada sebagai hasil dari proses elemen dasar ini
akan lebih berkembang ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial
budaya mereka. Oleh karena itu, Vygotsky sangat menekankan pentingnya
peran interaksi sosial bagi perkembangan belajar seseorang. Vygotsky
percaya bahwa belajar dimulai ketika seorang anak dalam perkembangan
zone proximal, yaitu suatu tingkat yang dicapai oleh seorang anak ketika ia
melakukan perilaku sosial. Zone ini juga dapat diarti-kan sebagai seorang
anak yang tidak dapat melalukan sesuatu sendiri tetapi memerlukan bantuan
kelompok atau orang dewasa. Dalam belajar, zone proximal ini dapat
dipahami pula sebagai selisih antara apa yang bisa dikerjakan seseorang
dengan kelompoknya atau dengan bantuan orang dewasa. Maksimalnya
perkembangan zone proximal ini tergantung pada intensifnya interaksi antara
seseorang dengan lingkungan sosial.

Menurut Vygotsky (Slavin, 1994), fungsi mental tingkat tinggi biasanya


ada dalam percakapan atau komunikasi dan kerja sama di antara individu-
individu (proses sosialisasi) sebelum akhirnya itu berada dalam diri individu
(internalisasi). Oleh karena itu, pada saat seseorang berbagi pengetahuan
dengan orang lain, dan akhirnya pengetahuan itu menjadi pengetahuan
personal, disebut dengan "private speech".

Di sini, Vygotsky ingin menjelaskan bahwa adanya kesadaran sebagai


akhir dari sosialisasi tersebut. Dalam belajar bahasa, misalnya, ucapan
pertama kita dengan orang lain adalah bertujuan untuk komunikasi, akan
tetapi sekali kita menguasainya, ucapan atau bahasa itu akan terinternalisasi
dalam diri kita dan menjadi "inner speech" atau "private speech". Private
speech ini dapat diamati saat seorang anak sering berbicara dengan dirinya
sendiri, terutama jika ia dihadapkan dengan tugas-tugas sulit. Namun
demikian, sebagaimana studi-studi yang dilakukan, anak-anak yang sering
menggunakan private speech ketika menghadapi tugas-tugas yang kompleks
ini lebih efektif memecahkan tugas-tugas daripada anak-anak yang kurang
menggunakan private speech.

Menurut Vygotsky, pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan


kognitif telah melahirkan konsep perkembang-an kognitif. Perkembangan
kognitif manusia ini berkaitan erat dengan perkembangan bahasanya. Karena
bahasa merupakan kekuatan bagi perkembangan mental manusia, untuk itu
Vygotsky membagi perkembangan kognitif yang didasarkan pada
perkembangan bahasa menjadi empat tahap (Ellio, 2003), yaitu:

a. Preintelectual speech, yaitu tahap awal dalam perkembangan kognitif


ketika manusia baru lahir, yang ditunjukkan dengan adanya proses dasar
secara biologis (menangis, mengoceh, dan gerakan-gerakan tubuh seperti
menghentakkan kaki, menggoyang-goyangkan tangan) yang secara
perlahan-lahan berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna seperti
berbicara dan berperilaku. Manusia dilahirkan dengan kemampuan
bahasa untuk digunakan berinteraksi dengan lingkungannya sehingga
perkembangan bahasa menjadi lebih maksimal.
b. Naive psychology, yaitu tahap kedua dari perkembangan bahasa ketika
seorang anak 'mengeksplore atau menggali objek-objek konkret dalam
dunia mereka. Pada tahap ini, anak mulai memberi nama atau label
terhadap objek-objek tersebut dan telah dapat mengucapkan beberapa
kata dalam berbicara. Ia dapat mencapai pemahaman verbal dan dapat
menggunakannya untuk berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga
hal ini dapat lebih mengembangkan kemampuan bahasanya yang akan
memengaruhi cara berpikir dan lebih meningkatkan hubungannya dengan
orang lain.
c. Egocentric speech. Tahap ini terjadi ketika anak berusia 3 tahun. Pada
tahap ini, anak selalu melakukan percakapan tanpa memedulikan orang
lain atau apakah orang lain mendengarkan mereka atau tidak.
d. Inner speech. Tahap ini memberikan fungsi yang penting dalam
mengarahkan perilaku seseorang. Misalnya, pikiran seorang gadis kecil
usia 5 tahun yang ingin mengambil buku di atas almari. Ketika ia meraih
buku itu dengan tangan, ternya-ta tangannya tidak dapat mencapai buku
tersebut. Kemudian ia mengatakan pada dirinya, "aku butuh kursi untuk
mengambil buku itu". Selanjutnya, ia mengambil kursi dan naik kursi
untuk mengambil buku, dan ia mengatakan pada dirinya, "Ok, sedikit lagi
aku dapat meraih buku. Oh ya, aku harus berjinjit agar dapat meraih buku
itu". Dari contoh tersebut, dapat dilihat bagaimana ucapan yang ditujukan
pada dirinya sendiri dapat memberi arah bagi perilakunya. Sama dengan
gadis kecil terse-but, orang dewasa sering juga menggunakan inner
speech atau private speech untuk mengarahkan perilaku dan
menyelesaikan tugas-tugas sulit yang harus dipecahkan.
Ide dasar lain dari teori belajar Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding
adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang
pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau
bantuan tersebut setelah anak mampu untuk memecahkan problem dari tugas
yang dihadapinya. Ini ditujukan agar anak dapat belajar mandiri. Contohnya,
seorang ibu yang menggunakan scaffolding untuk membantu anaknya belajar
menyemir sepatunya sendiri, mula-mula ia dibantu dengan instruksi dan
contoh bagaimana membersihkan sepatu, dan ketika anak tersebut telah
mampu membersihkan sepatu, ibu tersebut membiarkan anaknya melakukan
sendiri tugas tersebut.

C. Kelebihan Dan Kekurangan Teori Konstruktivisme


Adapun Dampak teori konstruktivisme terhadap pembelajaran yaitu:

Tujuan Pendidikan - Menghasilkan individu atau anak yang memiliki


kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap masalah
yang dihadapi.
Kurikulum - Konstruktivisme tidak memerlukan kurikulum yang
distandarisasikan. Oleh karena itu, lebih diperlukan
kurikulum yang telah disesuaikan dengan pengetahuan
awal siswa. Juga diperlukan kurikulum yang lebih
menekankan keterampilan pemecahan masalah (hands-on
problem solving). Dengan kata lain kurikulum harus
dirancang sedemikian rupa, sehingga terjadi situasi yang
memungkinkan pengetahuan maupun keterampilan dapat
dikonstruksi oleh peserta didik.
Pengajaran - Di bawah teori konstruktivisme, pendidik berfokus
terhadap bagaimana menyusun hubungan antarfakta-fakta
serta memperkuat perolehan pengetahuan yang baru bagi
siswa. Pengajar harus menyusun strategi pembelajarannya
dengan memperhatikan respon /tanggapan dari siswa serta
mendorong siswa untuk menganalisis, menafsirkan dan
meramalkan informasi. Guru juga harus berupaya dengan
keras menghadirkan pertanyaan berujung terbuka (open-
ended questions) dan mendorong terjadinya dialog yang
ekstensif antarsiswa. Dalam konsep ini sebaiknya guru
berfungsi sebagai fasilitator dan mediator dan teman
(mitra belajar) yang membangun situasi kondusif untuk
terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan pada
peserta didik.
Pembelajar - Diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar
yang sesuai bagi dirinya.
Penilaian - Konstruktivisme tidak memerlukan adanya tes yang baku
sesuai dengan tingkat kelas. Namun, justru memerlukan
suatu penilaian yang merupakan bagian dari proses
pembelajaran (penilaian autentik) sehingga
memungkinkan siswa berperan lebih besar dalam menilai
dan mempertimbangkan kemajuannya atau hasil
belajarnya sendiri. Hal ini merupakan alasan untuk
menghadirkan portofolio sebagai model penilaian.
Portofolio secara ringkas dapat dimaknai sebagai bukti-
bukti fisik (hasil ujian, makalah, hasil keterampilan,
piagam, piala, catatan anekdot dan lain-lain) hasil belajar
atau hasil kinerja siswa.

Berdasarkan identifikasi dampak teori konstruktivisme terhadap


pembalajaran tersebut dapat kita simpulkan:

1. Kelebihan
a. Mendorong Kemandirian dan Berpikir Kritis
Siswa didorong untuk menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya
dan mampu menyelesaikan masalah sendiri.
b. Kurikulum Fleksibel dan Adaptif
Kurikulum tidak distandarisasi, sehingga bisa disesuaikan dengan
pengetahuan awal siswa dan lebih menekankan keterampilan pemecahan
masalah.
c. Meningkatkan Partisipasi Aktif Siswa
Siswa berperan aktif dalam membangun pemahamannya sendiri melalui
dialog dan interaksi dengan teman serta guru.
d. Guru sebagai Fasilitator dan Mediator
Guru tidak hanya sebagai pemberi materi, tetapi juga fasilitator yang
membantu siswa dalam membangun pengetahuan.
e. Penilaian Autentik yang Beragam
Menggunakan portofolio dan berbagai bukti fisik lain (makalah, hasil
keterampilan, piagam, dll.) yang lebih mencerminkan kemampuan nyata
siswa dibandingkan ujian standar.
2. Kekurangan
a. Proses Pembelajaran Lebih Lama
Karena siswa harus membangun pemahamannya sendiri, pembelajaran
bisa lebih lambat dibandingkan metode tradisional.
b. Tidak Semua Siswa Cocok dengan Metode Ini
Siswa yang terbiasa dengan metode hafalan atau instruksi langsung
mungkin mengalami kesulitan.
c. Membutuhkan Guru yang Terampil
Guru harus mampu menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan
mengajukan pertanyaan terbuka untuk mendorong siswa berpikir kritis.
d. Sulit Diterapkan di Kelas Besar
Dalam kelas dengan banyak siswa, sulit memberikan perhatian individual
sehingga efektivitas pembelajaran bisa menurun.
e. Penilaian Lebih Subjektif dan Kompleks
Tanpa ujian standar, penilaian autentik bisa menjadi lebih subjektif dan
membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai kemajuan siswa.
Kesimpulannya, teori konstruktivisme sangat efektif dalam membentuk
siswa yang berpikir kritis dan mandiri, tetapi membutuhkan kesiapan dan
keterampilan guru yang baik serta lingkungan belajar yang kondusif.

D. Contoh Penerapan Teori Konstrukstivisme Dalam Pembelajaran


Matematika
1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Guru memberikan masalah nyata yang berkaitan dengan konsep matematika,
misalnya menghitung luas lahan pertanian dengan bentuk tidak beraturan.
Siswa diminta mencari cara penyelesaiannya sendiri atau berdiskusi dalam
kelompok.
2. Eksplorasi dan Penemuan (Discovery Learning)
Dalam pembelajaran geometri, siswa diberikan berbagai bentuk bangun datar
dan diminta menemukan sendiri rumus luas atau kelilingnya dengan
mengamati pola atau melakukan percobaan.
3. Penggunaan Alat Peraga dan Teknologi
Siswa belajar konsep pecahan dengan menggunakan benda konkret seperti
kue atau kertas lipat. Teknologi seperti aplikasi matematika interaktif juga
dapat digunakan untuk membangun pemahaman secara visual.
4. Diskusi dan Kolaborasi
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal cerita matematika,
saling berbagi strategi, dan membandingkan cara penyelesaian. Ini membantu
mereka memahami konsep dari berbagai sudut pandang.
5. Refleksi dan Presentasi
Setelah menyelesaikan suatu masalah, siswa diminta menjelaskan cara
mereka menemukan jawabannya di depan kelas. Ini membantu mereka
mengkonstruksi kembali pemahaman dan memperbaiki kesalahan konsep
jika ada.
Pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan matematika mendorong
siswa untuk berpikir kritis, aktif, dan memahami konsep secara mendalam
daripada sekadar menghafal rumus.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif
oleh individu melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Dalam
pembelajaran, siswa berperan aktif dalam memahami konsep, sementara guru
bertindak sebagai fasilitator. Teori ini menekankan pemahaman daripada
sekadar menghafal, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
2. Teori konstruktivisme Jean Piaget menekankan bahwa pembelajaran adalah
proses aktif di mana individu membangun pengetahuan melalui asimilasi
dan akomodasi. Perkembangan kognitif terjadi dalam tahapan-tahapan
tertentu, dan siswa belajar dengan mengeksplorasi serta menemukan konsep
sendiri.
3. Teori konstruktivisme Lev Vygotsky menekankan peran interaksi sosial
dalam pembelajaran. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD)
menunjukkan bahwa siswa dapat belajar lebih efektif dengan bimbingan
dari orang yang lebih berpengalaman (scaffolding)
4. Kelebihan teori konstruktivisme mendorong siswa berpikir kritis, kreatif,
dan aktif dalam membangun pemahaman. Pembelajaran menjadi lebih
bermakna karena didasarkan pada pengalaman nyata dan interaksi sosial.
5. Kekurangan teori konstruktivisme membutuhkan waktu lebih lama, peran
guru lebih kompleks sebagai fasilitator, dan tidak semua siswa dapat belajar
dengan kecepatan yang sama. Selain itu, sulit diterapkan pada materi yang
bersifat hafalan
6. Penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, seperti pada matematika,
membantu siswa memahami konsep melalui eksplorasi, diskusi, dan
pemecahan masalah. Pendekatan ini membuat belajar lebih aktif dan
bermakna, tetapi keberhasilannya bergantung pada peran guru dan kesiapan
siswa
DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, H., & Wahyuni, E. N. (2009). Teori Belajar & Pembelajaran. AR.
Ruzz Media.

Suyono, Prof. Dr., & Hariyanto, Drs., M.S. (2012). Belajar dan Pembelajaran:
Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Anda mungkin juga menyukai