0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan25 halaman

Pemahaman Halusinasi dalam Gangguan Jiwa

Dokumen ini membahas tentang halusinasi, yang merupakan gangguan persepsi sensorik pada individu dengan gangguan jiwa, di mana pasien mengalami sensasi yang tidak nyata. Halusinasi dapat disebabkan oleh faktor biologis, psikologis, dan sosiobudaya, serta memiliki beberapa fase perkembangan yang berbeda. Penatalaksanaan halusinasi meliputi menciptakan lingkungan terapeutik dan menjalin hubungan saling percaya dengan pasien untuk membantu mereka mengatasi pengalaman halusinasi.

Diunggah oleh

lmnasim12
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan25 halaman

Pemahaman Halusinasi dalam Gangguan Jiwa

Dokumen ini membahas tentang halusinasi, yang merupakan gangguan persepsi sensorik pada individu dengan gangguan jiwa, di mana pasien mengalami sensasi yang tidak nyata. Halusinasi dapat disebabkan oleh faktor biologis, psikologis, dan sosiobudaya, serta memiliki beberapa fase perkembangan yang berbeda. Penatalaksanaan halusinasi meliputi menciptakan lingkungan terapeutik dan menjalin hubungan saling percaya dengan pasien untuk membantu mereka mengatasi pengalaman halusinasi.

Diunggah oleh

lmnasim12
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

Oleh :
LAILY KADARIYAH
NIM.A1C1232006

PRECEPTOR LAHAN PRECEPTOR INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2023/2024
A. Konsep Dasar
1. Definisi
Halusinasi ialah suatu gejala dari seseorang yang memiliki gangguan jiwa
dengan berubahnya pola pikir sensori yang memiliki tanda-tanda dengan klien
merasa adanya sensasi penglihatan, suara, perabaan, pengecapan serta
penghidu tanpa adanya stimulus yang konkret. Halusinasi telah mengalami
peleburan menyebabkan pasien akan merasakan cemas, takut, panik serta
tidak mampu memberikan pembeda sari kenyataan dan imajinasinya (Nurlaili,
2019). Halusinasi yaitu sebuah kondisi yang mana paisen merasakan
perubahan pada pola serta banyaknya stimulasi yang diusahakan secara
eksternal dan internal disekitar dengan penyimpangan, kelainan atau
pengurangan berlebihan pada sebuah stimulasi (Pardede, 2020).
Halusinasi adalah pengalaman yang salah dan pandangan yang keliru,
serta respon yang tidak tepat pada rangsangan sensorik. Hal ini merupakan
gangguan persepsi palsu yang terjadi sebagai hasil dari gangguan neurologis
yang tidak tepat. Seseorang yang mengalami halusinasi sebenarnya percaya
bahwa pengalaman sensorik tersebut nyata dan meresponsinya. Halusinasi
bisa terjadi dengan indera manusia. Respon pada halusinasi bisa berupa
pendengaran, ketidakpercayaan, kecemasan, kesulitan dalam pengambilan
keputusan, dan kesulitan melakukan pembeda dari imajinasinya dengan
kenyataannya. Kejadian halusinasi pada pasien dapat disebabkan oleh faktor
pola asuh, perkembangan, neurologis, dan psikologis, yang dapat
menyebabkan tanda halusinasi. Orang yang meraskan halusinasi mungkin
terlihat berbicara sendiri, Tertawa sendiri, tersenyum sendiri, menjauhkan diri
dari interaksi dengan orang lain, dan kesulitan melakukan pembeda antara
kenyataan atau khayalan (Fitri, 2019).
2. Rentan Respon
Halusinasi merupakan kelainan dalam persepsi sensorik, sehingga dapat
dikatakan bahwa halusinasi adalah gangguan dalam respons neurobiologis.
Dengan demikian, secara umum, rentang respon terhadap halusinasi selaras
pada pola respons neurobiologis. Rentang respons neurobiologi yang sangat
adaptif yaitu terdapat pola pikir sesuai dengan logika, emosi yang sesuai pada
pengalaman, persepsi akurat, perilaku sesuai dan adanya keterkaitan sosial
yang baik. Semantara itu, respons maladaptif mencakup halusinasi, waham,
ketidakmampuan untuk mengalami emosi, isolasi sosial dan perilaku tidak
teratur.
Rentan respon neurobiologi halusinasi
Adaptif Maladaptif

1. Pikiran sesuai 1. Pikiran kadang 1. Gangguan proses


dengan logika menyimpan pikir : waham
2. Persepsi akurat 2. Ilusi 2. Halusinasi
3. Emosi yang selaras 3. Emosi tidak stabil 3. Ketidakmampu an
dengan pengalaman 4. Perilaku aneh untuk mengalami
4. Perilaku sesuai 5. Menarik diri emosi
5. Hubungan sosial 4. Perilaku tidak teratur
5. Isolasi sosial

(Sumber: (Sutejo, 2019)


Keterangan Gambar:
a. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial
budayayang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas
normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah
tersebut.
1) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyatan
3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari
pengalaman ahli
4) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas
kewajaran.
b. Respon psikososial meliputi:
1) Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan
gangguan.
2) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang
penerapanyang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan
panca indera.
3) Emosi berlebihan atau berkurang.
4) Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi
batas kewajaran. 5. Menarik diri adalah percobaan untuk
menghindari interaksi dengan orang lain.
c. Respon maladaptif Respon maladaptive
Adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang
menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun
responmaladaptif meliputi:
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankanwalaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataansosial.
2) Halusinasi merupakan definisian persepsi sensori yang salah atau
persepsi eksternalyang tidak realita atau tidak ada.
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari
hati (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
3. Etiologi
Proses terjadinya halusinasi dipaparkan dengan menerapkan konsep stress
yang mencakup stressor dari faktor predisposisi dan presipitasi (Sutejo, 2019).
a. Faktor predisposisi
Faktor-faktor yang mampu memberikan pengaruh adanya halusinasi ialah:
1) Faktor biologis
Dalam faktor biologis, beberapa hal yang diperhatikan yaitu memiliki
faktor keturuan gangguan jiwa, riwayat penyakit, resiko bunuh diri,
riwayat menggunakan narkotika, trauma serta zat berbahaya lainnya
2) Faktor psikologis
Seseorang yang merasakan halusinasi bisa mengalami kegagalan dalam
kehidupan mereka, pengalaman sebagai korban kekerasan, kekurangan
kasih sayang atau perhatian, atau paparan yang berlebihan dari
perlindungan yang berlebihan (overprotektif)
3) Sosiobudaya dan lingkungan Seseorang yang mengalami halusinasi
seringkali memiliki riwayat penolakan dari lingkungan, kondisi sosial
ekonomi yang rendah, menghadapi kegagalan dalam hubungan sosial
seperti perceraian, tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, mereka
juga seringkali tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap.
b. Faktor presipitasi
Pada faktor presipitasi, klien yang mengalami halusinasi didapatkan
terdapat riwayat infeksi, memiliki penyakit kronis adanya kekerasan dalam
keluarga, kelainan struktur otak, kemiskinan, kegagalan dalam kehidupan,
memiliki tuntutan dari keluarganya, dan permasalahan yang dialami dalam
masyarakat.
4. Proses Terjadinya Masalah
Menurut (Nurhalimah, 2018) halusinasi memiliki beberapa fase, yaitu :
a. Fase I
Halusinasi memiliki sifat menenangkan, dengan tingkat ansietas sedang.
Umumnya dalam tahapan ini halusinasi membuat senang.
1) Kriteria : Pada fase ini pasien menunjukkan perasaan bersalah dan
memiliki rasa takut. Fase ini pasien berusaha untuk menenangkan
pikirannya agar kecemasan berkurang. Seseorang mengerti jika sensori
dan pikiran yang dialaminya bisa ia kendalikan juga dapat diatasi (non
psikotik).
2) Perilaku yang terlihat meliputi, seseorang menggerakkan bibir tanpa
adanya suara, tertawa dan menyeringai yang tidak sesuai, diam serta
memiliki respon verbal yang lemah.
b. Fase II
Halusinasi memiliki sifat menuduh, dengan tingkat ansietas berat dan
halusinasi memiliki sifat menjijikan.
1) Kriteria: Pengalaman sensorik yang dialami oleh pasien memiliki
karakteristik yang menakutkan dan menjijikkan. Pasien mulai
merasakan kehilangan kendali atas pengalaman tersebut, sehingga
cenderung menghindari sumber-sumber yang memicu persepsi tersebut.
Pasien juga mungkin merasa malu dan cenderung menarik diri dari
interaksi sosial dengan orang lain, terutama dalam kondisi yang tidak
terkait dengan gejala psikotik.
2) Perilaku yang teramati meliputi, adanya ansietas seperti peningkatan
nadi, tekanan darah serta pernafasan disebabkan oleh peningkatan kerja
susunan saraf otonom, menyempitnya kemampuan untuk
berkonsentrasi, penuh pengalaman sensori yang intens dan mungkin
kehilangan keterampilan untuk membedakan antara nyata dan tidak
nyata.
c. Fase III
Dalam fase ini, halusinasi berawal dari pengendalian tindakan
seseorang secara signifikan. Pasien mengalami tingkat ansietas yang berat
akibat pengalaman sensorik yang dominan. Pengalaman sensorik tersebut
menguasai pikiran dan tindakan pasien.
1) Karakteristik: Pada fase ini, pasien yang mengalami halusinasi tidak
melawan pada pengalaman halusinasi serta menerima pengaruh dari
halusinasinya. Halusinasi ini berisi permohonan, seseorang
kemungkinan merasakan kesepian apabila pengalaman itu berakhir
(psikotik.
2) Perilaku yang terlihat meliputi, pasien condong mengikuti arahan yang
diberikan oleh halusinasinya tersebut dibandingkan menolaknya, sulit
untuk berinteraksi dengan orang lain, jangkauan perhatian hanya ada
beberapa menit atau bahkan beberapa detik, gejala fisik dari ansietas
berat seperti berkeringat, mengalami gemetar, tidak mampu untuk
mengikuti arahan.
d. Fase IV
Pada fase ini, halusinasi telah menguasai pasien dengan tingkat
kecemasan yang mencapai tingkat kepanikan. Halusinasi menjadi lebih
kompleks dibanding sebelumnya dan memiliki keterkaitan dengan delusi.
1) Karakteristik : Jika individu tidak mengikuti perintah halusinasinya
pengalaman sensoria dan menakutkan. Apabila tidak dilakukan
intervensi halusinasi tersebut dapat berjalan beberapa jam ataupun hari.
2) Perilaku yang teramati meliputi, amuk, agitasi serta menarik diri,
ketidakmampuan untuk berespon terhadap petunjuk yang rumit,
ketidakmampuan untuk memberikan respon kepada dua atau lebih
individu tingkah laku menyerang-teror seperti panik.
5. Manifestasi Klinis
Gejala serta tanda dari halusinasi dapat dilihat dari hasil pengamata pada
klien dan respon klien. Berikut gejala dan tanda pasien halusinasi menurut
Stuart didalam buku (Sutejo, 2019) ialah:
a. Data subjektif
Dari data subjektif, pasien yang mengalami gangguan sensori persepsi
halusinasi mengatakan bahwa pasien:
1) Mendengar adanya suara-suara atau keributan
2) Mendengar adanya suara yang mengajak untuk mengobrol
3) Mendengar adanya suara yang meminta untuk berbuat sesuatu yang
berbahaya
4) Melihat adanya bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun,
melihat adanya hantu atau monster
5) Mencium adanya bau-bauan seperti bau darah, urine, feses, dan
terkadang bau itu membuat merasa senang
6) Merasakan takut atau senang dengan halusinasinya
b. Data Objektif
Berdasarkan data objektif, pasien yang mengalami gangguan sensori
persepsi halusinasi melakukan hal-hal berikut :
1) Berbicara atau tertawa sendiri
2) Marah tanpa adanya sebab yang jelas
3) Mengarahkan indera pendengaran kearah tertentu
4) Gerakan menutup indera pendengaran
5) Menunjuk-nunjukkan jari kearah tertentu
6) Perasaan takut terhadap sesuatu yang tidak memiliki kejelasan
7) Mencium sesuatu seperti sedang mencium bau-bauan tertentu
8) Gerakan menutup indera penciuman
9) Sering menyemburkan ludah
10) Muntah
11) Menggaruk-garuk permukaan kulit
6. Klasifikasi
Jenis Halusinasi Data Obyektif Data Subyektif
Halusinasi  Bicara atau tertawa  Mendengar suara-suara
Pendengaran sendiri atau kegaduhan.
 Marah-marah tanpa  Mendengar suara yang
sebab mengajak bercakap-cakap
 Menyedengkan telinga  Mendengar suara
ke arah tertentu menyuruh melakukan
 Menutup telinga sesuatu yang berbahaya.
Halusinasi  Menunjuk-nunjuk ke  Melihat bayangan, sinar,
Penglihatan arah bentuk geometris, bentuk
 Ketakutan pada sesuatu kartoon, melihat hantu
yang tidak jelas. atau monster
Halusinasi Penghidu  Mengisap-isap seperti  Membaui bau-bauan
sedang membaui bau- seperti bau darah, urin,
bauan tertentu. feses, kadang-kadang bau
 Menutup hidung. itu menyenangkan.
Halusinasi  Sering meludah  Merasakan rasa seperti
Pengecapan  Muntah darah, urin atau feses
Halusinasi Perabaan  Menggaruk-garuk  Mengatakan ada serangga
permukaan kulit di permukaan kulit
 Merasa seperti tersengat
listrik

7. Penatalaksanaan
Tindakan keperawatan yang tujuannya untuk membantu pasien dapat
mengatasi halusinasi yang dialaminya menurut Keliat dalam (Irwan, 2020)
dengan cara menjalin hubungan saling percaya dengan pasien. Ketika
hubungan saling percaya sudah terjalin, rencana keperawatan berikutnya ialah
membantu pasien untuk mengenali halusinasi yang dialaminya (mengenai isi
halusinasinya, waktu, frekuensi terjadinya halusinasinya tersebut serta
bagaimana perasaan pasien ketika halusinasinya datang). Beberapa cara yang
dapat kita latih pada pasien dalam upaya mengontrol halusinasi yang dialami
pasien menurut Keliat dalam (Irwan, 2020) meliputi: menghardik halusinasi,
mengonsumsi obat-obatan, berkomunikasi dengan orang-orang serta
melaksanakan kegiatan yang telah terjadwal.
a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan klien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan dilakukan secara
individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien
disentuh atau dipegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau
emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati klien,
bicaralah dengan klien. Begitu juga bila akan meninggalkannya
hendaknya klien diberitahu. Klien diberitahu tindakan yang akan
dilakukan. Di ruangan itu hendaknya disediakan sarana yang dapat
merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan
realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan
permainan.
b. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali klien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang diterimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang
diberikan betul ditelannya, serta reaksi obat yang diberikan.
c. Menggali permasalahan klien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah klien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi
serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga
dapat melalui keterangan keluarga klien atau orang lain yang dekat dengan
klien.
d. Memberi aktivitas pada klien
Klien diajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan klien ke kehidupan nyata dan memupuk
hubungan dengan orang lain. Klien diajak menyusun jadwal kegiatan dan
memilih kegiatan yang sesuai.
e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga klien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
klien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalnya dari percakapan dengan klien diketahui bila sedang
sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada
orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat
menyarankan agar klien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam
permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya
diberitahukan pada keluarga klien dan petugas lain agar tidak membiarkan
klien sendirian dan saran yang diberikan tidak bertentangan.
Farmako :
a. Anti Psikotik:
1) Chlorpromazine (Promactile, Largactile)
2) Haloperidol (Haldol, Serenace, Lodomer)
3) Stelazine
4) Clozapine (Clozaril)
5) Risperidone (Risperdal)
b. Anti Parkinson :
1) Trihexyphenidile
Arthan
B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pada tahap ini ada beberapa faktor yang perlu di eksplorasi baik pada klien
sendiri maupun keluarga berkenaan dengan kasus halusinasi yang meliputi:
a. Faktor predisposisi
1) Faktor Genetis Telah diketahui bahwa secara genetis schizofienia
diturunkan melalui kromosom- kromosom tertentu. Namun demikian,
kromosom yang ke beberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini
sampai sekarang masih dalam tahap penelitian.
2) Faktor biologis Adanya gangguan pada otak menyebabkan timbulkan
respon neurobiologikal maladaptif.peran pre frontal dan limbik cortices
dalam regulasi stres berhubungan dengan aktivitas dopamin. Saraf pada
pre frontal penting untuk memori,penurunan neuro pada area ini dapat
menyebabkan kehilangan asosiasi.
3) Faktor presipitasi Psikologis Keluarga, pengasuh, lingkungan. Pola asuh
anak tidak adequat. Pertengkaran orang tua, penganiayaan, tidak
kekerasan
4) Sosial Budaya Kemiskinan, konflik sosial budaya, peperangan, dan
kerusuhan
b. Faktor presipitasi
1) Biologi Berlebihnya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak. Mekanisme
penghantaran listrik di syaraf terganggu (mekanisme gathing abnormal).
2) Stress lingkungan
3) Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap, dan
perilaku
c. Pemeriksaan Fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan
apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
d. Psikososial
1) Genogram Perbuatan genogram minimal 3 generasi yang
menggambarkan hubungan klien dengan keluarga,masalah yang terkait
dengan komunikasi, pengambilan keputusan, pola asuh, pertumbuhan
individu dan keluarga.
2) Konsep diri
a) Gambaran diri Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian
tubuh yang disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak
disukai dan bagian yang disukai.
b) Identitas diri Klien dengan halusinasi tidak puas akan dirinya sendiri
merasa bahwa klien tidak berguna.\
c) Fungsi peran Tugas atau peran klien dalam
keluarga/pekerjaan/kelompok masyarakat, kemampuan klien dalam
melaksanakan fungsi atau perannya, dan bagaimana perasaan klien
akibat perubahan tersebut. Pada klien halusinasi bisa berubah atau
berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, trauma akan masa
lalu, menarik diri dari orang lain,perilaku agresif
d) Ideal diri Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi,
tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien
terhadap lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya, bagaimana
jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya. Pada klien yang
mengalami halusinasi cenderung tidak peduli dengan diri sendiri
maupun sekitarnya
e) Harga diri Klien yang mengalami halusinasi cenderung menerima diri
tanpa syarat meskipun telah melakukan kesalahn, kekalahan dan
kegagalan ia tetap merasa dirinya sangat berharga.
3) Hubungan social Tanyakan siapa orang terdekat di kehidupan klien
tempat mengadu,berbicara, minta bantuan, atau dukungan. Serta tanyakan
organisasi yang di ikuti dalam kelompok/ masyarakat.Klien dengan
halusinasi cenderung tidak mempunya orang terdekat, dan jarang
mengikuti kegiatan yang ada dimasyarakat.Lebih senang menyendiri dan
asyik dengan isi halusinasinya.
4) Spiritual Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah/menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan. Apakah isi halusinanya
mempengaruhi keyakinan klien dengan Tuhannya.
e. Status mental
1) Penampilan. Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Pada klien dengan halusinasi mengalami defisit perawatan diri
(penampilan tidak rapi. penggunaan pakaian tidak sesuai, cara berpakaian
tidak seperti biasanya, rambut kotor, rambut seperti tidak pernah disisr,
gigi kotor dan kuning, kuku panjang dan hitam). Raut wajah Nampak
takut, kebingungan, cemas.
2) Pembicaraan Klien dengan halusinasi cenderung suka berbicara sendiri,
ketika di ajak bicara tidak focus.Terkadang yang dibicarakan tidak masuk
akal.
3) Aktivitas motoric Klien dengan halusinasi tampak gelisah,kelesuan,
ketegangan, agitasi, tremor. Klien terlihat sering menutup telinga,
menunjuk-nunjuk ke arah tertentu, menggaruk- garuk permukaan kulit,
sering meludah, menutup hidung.
4) Afek emosi Pada klien halusinasi tingkat emosi lebih tinggi, perilaku
agresif, ketakutan yang berlebih,eforia.
5) Interaksi selama wawancara Klien dengan halusinasi cenderung tidak
kooperatif (tidak dapat menjawab pertanyaan pewawancara dengan
spontan) dan kontak mata kurang (tidak mau menatap lawan bicara)
mudah tersinggung.
6) Persepsi-sensori
a) Jenis halusinasi
- Halusinasi visual - Halusinasi suara
- Halusinasi pengecap - Halusinasi kinestetik
- Halusinasi visceral - Halusinasi histerik
- Halusinasi hipnogogik
- Halusinasi hipnopompik
- Halusinasi perintah
b) Waktu
Perawat juga perlu mengkaji waktu munculnnya halusinasi yang di
alami pasien. Kapan halusinasi terjadi?apakah pagi, siang, sore,
malam? jika muncul pukul berapa?
c) Frekuensi
Frekuensi terjadinnya apakah terus-menerus atau hanya sekali-kali,
kadang- kadang, jarang atau sudah tidak muncul lagi. Dengan
mengetahui frekuensi terjadinnya halusinasi dapat di rencanakan
frekuensi tindakan untuk mencegah terjadinnya halusinasi.
d) Situasi yang menyebabkan munculnnya halusinasi.
Situasi terjadinnya apakah ketika sendiri, atau setelah terjadi kejadian
tertentu?
e) Respons terhadap halusinasi
f) Untuk mengetahui apa yang dilakukan pasien ketika halusinasi itu
muncul. perawat dapat menannyakan kepada pasien hal yang dirasakan
atau atau dilakukan saat halusinasi itu timbul.perawat juga dapat
menannyakan kepada keluargannya atau orang terdekat pasien.selain
itu dapat juga dengan mengobservasi prilaku pasien saat halusinasi
timbul. Pada klien halusinasi sering kali marah,mudah tersinggung,
merasa ceriga pada orang lain.
7) Proses berfikir
a) Bentuk fikir Mengalami dereistik yaitu bentuk pemikiran yang tidak
sesuai dengan kenyataan yang ada atau tidak mengikuti logika secara
umum(tak ada sangkut pautnya antara proses individu dan pengalaman
yang sedang terjadi). Klien yang mengalami halusinasi lebih sering
was-was terhadap hal-hal yang dialaminya.
b) Isi fikir Selalu merasa curiga terhadap suatu hal dan depersonalisasi
yaitu perasaan yang aneh/asing terhadap diri sendiri,orang
lain,lingkungan sekitarnya. Berisikan keyakinan berdasarkan penilaian
non realistis.
8) Tingkat kesadaran Pada klien halusinasi sering kali merasa bingung,
apatis(acuh tak acuh).
9) Memori
a) Daya ingat jangka panjang: mengingat kejadian masa lalu lebih dari 1
bulan
b) Daya ingat jangka menengah: dapat mengingat kejadian yang terjadi 1
minggu terakhir
c) Daya ingat jangka pendek: dapat mengingat kejadian yang terjadi saat
ini.
Tingkat konsentrasi dan berhitung Pada klien dengan halusinasi tidak
dapat berkonsentrasi dan dapat menjelaskan kembali pembicaraan yang
baru saja di bicarakan dirinya/orang lain(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar,
2016)
2. Diagnosis Keperawatan
Gangguan persepsi sensori: halusinasi
3. Nursing Care Plan
Diagnosa Tujuan Intervensi
Resiko perilaku TUM: Selama perawatan diruangan, Tindakan Psikoterapi
kekerasan pasien tidak memperlihatkan perilaku  Pasien
kekerasan, dengan criteria hasil  BHSP
(TUK):  Ajarakan SP I:
 Dapat membina hubungan saling - Diskusikan penyebab, tanda dan
percaya gejala, bentuk dan akibat PK yang
 Dapat mengidentifikasi penyebab, dilakukan pasien serta akibat PK
tanda dan gejala, bentuk dan - Latih pasien mencegah PK dengan
akibat PK yang sering dilakukan cara: fisik (tarik nafas dalam &
 Dapat mendemonstrasikan cara memeukul bantal)
mengontrol PK dengan cara : - Masukkan dalam jadwal harian
- Fisik  Ajarkan SP II:
- Social dan verbal - Diskusikan jadwal harian
- Spiritual - Latih pasien mengntrol PK
- Minum obat teratur dengan cara sosial
 Dapat menyebutkan dan - Latih pasien cara menolak dan
mendemonstrasikan cara meminta yang asertif
mencegah PK yang sesuai - Masukkan dalam jadwal kegiatan
 Dapat memelih cara mengontrol harian
PK yang efektif dan sesuai  Ajarkan SP III:
 Dapat melakukan cara yang sudah - Diskusikan jadwal harian
dipilih untuk mengontrol PK - Latih cara spiritual untuk
 Memasukan cara yang sudah mencegah PK
dipilih dalam kegitan harian - Masukkan dalam jadawal kegiatan
harian
 Mendapat dukungan dari keluarga  Ajarkan SP IV
untuk mengontrol PK - Diskusikan jadwal harian
 Dapat terlibat dalam kegiatan - Diskusikan tentang manfaat obat
diruangan dan kerugian jika tidak minum
obat secara teratur
- Masukkan dalam jadwal kegiatan
harian
- Bantu pasien mempraktekan cara
yang telah diajarkan
- Anjurkan pasien untuk memilih
cara mengontrol PK yang sesuai
- Masukkan cara mengontrol PK
yang telah dipilih dalam kegiatan
harian
- Validasi pelaksanaan jadwal
kegiatan pasien dirumah sakit
 Keluarga
 Diskusikan masalah yang
dirasakan keluarga dalam
merawat pasien PK
 Jelaskan pengertian tanda dan
gejala PK yang dialami pasien
serta proses terjadinya
 Jelaskan dan latih cara-cara
merawat pasien PK
 Latih keluarga melakukan cara
merawat pasien PK secara
langsung
 Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat
Tindakan psikofarmaka
 Berikan obat-obatan sesuai
program pasien
 Memantau kefektifan dan efek
samping obat yang diminum
 Mengukur vital sign secara
periodic
Tindakan manipulasi lingkungan
 Singkirkan semua benda yang
berbahaya dari pasien
 Temani pasien selama dalam
kondisi kegelisahan dan ketegangan
mulai meningkat
 Lakaukan pemebtasan mekanik/fisik
dengan melakukan
pengikatan/restrain atau masukkan
ruang isolasi bila perlu
 Libatkan pasien dalam TAK
konservasi energi, stimulasi persepsi
dan realita
Gangguan Setelah dilakukan tindakan Tindakan Psikoterapeutik
persepsi sensori: keperawatan selama 3x24 jam klien  Klien
halusinasi mampu mengontrol halusinasi dengan  Bina hubungan saling percaya
kriteria hasil:  Adakan kontak sering dan
 Klien dapat membina hubungan singkat secara bertahap
saling percaya  Observasi tingkah laku klien
 Klien dapat mengenal terkait halusinasinya
halusinasinya; jenis, isi, waktu,  Tanyakan keluhan yang
dan frekuensi halusinasi, respon dirasakan klien
terhadap halusinasi, dan tindakan  Jika klien tidak sedang
yg sudah dilakukan berhalusinasi klarifikasi tentang
 Klien dapat menyebutkan dan adanya pengalaman halusinasi,
mempraktekan cara mengntrol diskusikan dengan klien tentang
halusinasi yaitu dengan halusinasinya meliputi :
menghardik, bercakap-cakap  SP I
dengan orang lain, - Identifikasi jenis halusinasi Klien
terlibat/melakukan kegiatan, dan - Identifikasi isi halusinasi Klien
minum obat - Identifikasi waktu halusinasi
 Klien dapat dukungan keluarga Klien
dalam mengontrol halusinasinya - Identifikasi frekuensi halusinasi
 Klien dapat minum obat dengan Klien
bantuan minimal - Identifikasi situasi yang
 Mengungkapkan halusinasi sudah menimbulkan halusinasi
hilang atau terkontrol - Identifikasi respons Klien
terhadap halusinasi
- Ajarkan Klien menghardik
halusinasi
- Anjurkan Klien memasukkan cara
menghardik halusinasi dalam
jadwal kegiatan harian
 SP II
- Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
- Latih Klien mengendalikan
halusinasi dengan cara bercakap-
cakap dengan orang lain
- Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
 SP III
- Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
- Latih Klien mengendalikan
halusinasi dengan melakukan
kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan Klien di rumah)
- Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
 SP IV
- Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
- Berikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur
- Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
- Beri pujian jika klien
menggunakan obat dengan benar.
- Menganjurkan Klien
mendemonstrasikan cara control
yang sudah diajarkan.
- Menganjurkan Klien memilih
salah satu cara control halusinasi
yang sesuai
 Keluarga
 Diskusikan masalah yang dirasakn
keluarga dalam merawat Klien
 Jelaskan pengertian tanda dan
gejala, dan jenis halusinasi yang
dialami Klien serta proses
terjadinya
 Jelaskan dan latih cara-cara merawat
Klien halusinasi
 Latih keluarga melakukan cara
merawat Klien halusinasi secara
langsung
 Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat
Tindakan Psikofarmako
 Berikan obat-obatan sesuai program
Klien
 Memantau kefektifan dan efek
samping obat yang diminum.
 Mengukur vital sign secara periodic
Tindakan Manipulasi Lingkungan
 Libatkan Klien dalam kegiatan di
ruangan
 Libatkan Klien dalam TAK
halusinasi
Isolasi Sosial Setelah dilakukan tindakan Tindakan Psikoterapeutik
keperawatan selama 3 x 24 jam Klien  Klien
dapat berinteraksi dengan orang lain  SP 1
baik secara individu maupun secara - Bina hubungan saling percaya
berkelompok dengan kriteria hasil : - Identifikasi penyebab isolasi
 Klien dapat membina hubungan sosial
saling percaya.  SP 2
 Dapat menyebutkan penyebab - Diskusikan bersama Klien
isolasi sosial. keuntungan berinteraksi dengan
 Dapat menyebutkan keuntungan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain. berinteraksi dengan orang lain
 Dapat menyebutkan kerugian tidak - Ajarkan kepada Klien cara
berhubungan dengan orang lain. berkenalan dengan satu orang
 Dapat berkenalan dan bercakap- - Anjurkan kepada Klien untuk
cakap dengan orang lain secara memasukan kegiatan berkenalan
bertahap. dengan orang lain
 Terlibat dalam aktivitas sehari-hari dalam jadwal kegiatan harian
dirumah
 SP 3
- Evaluasi pelaksanaan dari jadwal
kegiatan harian Klien
- Beri kesempatan pada Klien
mempraktekan cara berkenalan
dengan dua orang
- Ajarkan Klien berbincang-bincang
dengan dua orang tetang topik
tertentu
- Anjurkan kepada Klien untuk
memasukan kegiatan berbincang-
bincang dengan orang lain
dalam jadwal kegiatan harian
dirumah
 SP 4
- Evaluasi pelaksanaan dari jadwal
kegiatan harian Klien
- Jelaskan tentang obat yang
diberikan (Jenis, dosis, waktu,
manfaat dan efek samping obat)
- Anjurkan Klien memasukan
kegiatan
bersosialisasi dalam jadwal kegiat
an harian dirumah
- Anjurkan Klien
untuk bersosialisasi dengan orang
lain
 Keluraga
 Diskusikan masalah yang dirasakan
kelura dalam merawat Klien
 Jelaskan pengertian, tanda dan
gejala isolasi sosial yang dialami
Klien dan proses terjadinya
 Jelaskan dan latih keluarga cara-
cara merawat Klien
Tindakan Psikofarmaka
 Beri obat-obatan sesuai program
 Pantau keefektifan dan efek sampig
obat yang diminum
 Ukur vital sign secara periodik
Tindakan Manipulasi Lingkungan
 Libatkan dalam makan bersama
 Perlihatkan sikap menerima dengan
cara melakukan kontak singkat tapi
sering
 Berikan reinforcement
positif setiap Klien berhasil
melakukan suatu tindakan
 Orientasikan Klien pada waktu,
tempat, dan orang sesuai
kebutuhannya
4. Strategi Pelaksanaan (SP) Berdasarkan Pertemuan
a. SP Pasien
Sp 1 Pasien :
1) Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
2) Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3) Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4) Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5) Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
6) Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
7) Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8) Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dan
jadwal kegiatan harian.
Sp 2 pasien:
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari
SP 3 pasien:
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan
kegiatan(kegiatan yang biasa dilakukkan pasien).
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan sehari-hari
SP 4 pasien:
1) Evaluasi jadwal pasien yang lalu (SP 1, 2, 3)
2) Menanyakan pengobatan sebelumnya
3) Menjelaskan tentang pengobatan
4) Melatih pasien minum obat (5 benar)
5) Masukkan jadwal
b. SP Keluarga
Sp1 keluarga:
1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam rawat pasien.
2) Menjelaskan pengertian,tanda dan gejala halusinasi dsn jenis
halusinasi yang di alami pasien beserta proses terjadinya.
3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi.
Sp 2 Keluarga:
1) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan
halusinasi
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
halusinasi
SP 3 Keluarga:
1) Membantu keluarga membuat jadwal kegiatan aktifitas dirumah
termasuk minum obat
2) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
5. Implementasi
Merupakan insiatif dan rencana tindakan untuk tujuan yang spesifik.Tahap
pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan di susun dan ditunjukan pada
nursing orders untuk membantu klen mencapai tujuan yang diharapkan.Oleh
karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
factor-faktor yang memengaruhi masalah kesehatan klien.(Febriana, D, 2017)
6. Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan
intervensi. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan
antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan
tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian
pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien
dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Metode penulisan evaluasi
keperawatan dalam progress notes/catatan perkembangan pasien dapat
dilakukan dengan pendekatan SOAP:(Febriana, D, 2017)
DAFTAR PUSTAKA
Budi ana dkk;2017;Keperawatan kesehatan jiwa;jakarta;EGC
Iskandar Dkk;2016;Asuhan Keperawatan Jiwa;Bandung;Refika aditama
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba
Medika
Nita Fitria. 2019. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis Keperawatan
Jiwa Berat. Jakarta: Salemba Medika.
Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, A. (2016). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa -
Teori dan Aplikasi Praktik Klinik (1st ed.). Yogyakarta: Indomedia Pustaka.
Azizah, M. lilik, Zainuri, I., & Akbar, A. (2016). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan
Jiwa Teori dan Aplikasi Praktik Klinik. Indomedia Pustaka, 291.
https://doi.org/ISBN 978-xxx-xxx-xx-x
Nurhalimah. (2016). KEPERAWATAN JIWA. In Pusdik SDM Kesehatan. jakarta
selatan: Pusdik SDM Kesehatan.
Nurlaili, Nurdin, A. E., & Putri, D. E. (2019). Pengaruh Tehnik Distraksi Menghardik
Dengan Spiritual Terhadap Halusinasi Pasien. Jurnal Keperawatan Indonesia,
11(3), 177–190.

Anda mungkin juga menyukai