LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN JIWA (PPKJ)
Disusun Oleh:
Nama: Ni Putu Cindy Wulandari, S.Kep
NPM: 2414901110041
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN 2024-2025
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang
tidak konstruktif. Perilaku kekerasan atau amukan dapat disebabkan karena frustasi, takut,
manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang
belum dapat diselesaikan. Perilaku kekerasa juga menggambarkan rasa tidak aman,
kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan pada orang lain Fitri Agustina et al. 2020).
B. Penyebab
Penyebab resiko perilaku kekerasan dapat bervariasi dan sering kali melibatkan kombinasi
faktor individu, sosial, psikologis, dan lingkungan. Beberapa penyebab utama yang dapat
meningkatkan risiko perilaku kekerasan antara lain (Wardiyah et al., 2022):
1. Faktor psikologis
a. Gangguan Mental: Beberapa gangguan mental, seperti gangguan kepribadian
antisosial, gangguan bipolar, atau psikosis, dapat meningkatkan risiko perilaku
kekerasan. Gangguan ini sering kali terkait dengan ketidakmampuan untuk
mengendalikan impuls atau emosi.
b. Kemarahan dan Frustrasi: Individu yang mengalami kesulitan dalam mengelola
kemarahan atau frustrasi bisa lebih cenderung menunjukkan perilaku kekerasan.
Ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan secara sehat dapat berujung
pada ledakan kekerasan.
c. Trauma atau Pelecehan Masa Kecil: Pengalaman masa kecil yang penuh dengan
kekerasan, pelecehan fisik atau emosional, atau pengabaian dapat mempengaruhi
perkembangan emosional dan sosial, membuat seseorang lebih rentan untuk
meniru perilaku kekerasan saat dewasa.
2. Faktor Sosial dan Lingkungan
a. Keluarga yang Tidak Stabil: Keluarga yang terlibat dalam kekerasan domestik,
pengabaian, atau pola pengasuhan yang kasar dapat menumbuhkan perilaku
kekerasan pada anak. Anak yang tumbuh di lingkungan yang tidak aman mungkin
meniru perilaku kekerasan yang mereka saksikan.
b. Pendidikan yang Tidak Memadai: Kurangnya pendidikan tentang cara mengelola
emosi dan konflik secara sehat dapat membuat individu lebih rentan terhadap
perilaku agresif.
c. Teman Sebaya dan Pengaruh Sosial: Pengaruh dari teman sebaya yang mendorong
perilaku agresif atau kekerasan juga dapat berperan penting. Norma sosial dalam
kelompok yang menerima atau menganggap kekerasan sebagai cara penyelesaian
masalah dapat meningkatkan kecenderungan terhadap perilaku tersebut.
3. Faktor Biologis dan Genetik
a. Faktor Genetik: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan untuk
menunjukkan perilaku agresif dapat diwariskan. Individu dengan riwayat keluarga
yang terlibat dalam perilaku kekerasan mungkin memiliki resiko lebih tinggi untuk
mengembangkan perilaku serupa.
b. Kelainan Otak: Kerusakan atau kelainan di area otak yang mengatur kontrol diri,
emosi, dan pengambilan keputusan (misalnya amigdala atau korteks prefrontal)
dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk bertindak kekerasan.
c. Pengaruh Hormon: Ketidakseimbangan hormon, seperti testosteron yang
berlebihan, dapat meningkatkan agresivitas, yang pada gilirannya bisa
berkontribusi pada kekerasan.
4. Pengaruh Eksternal
a. Kemiskinan dan Ketidakstabilan Ekonomi: Tekanan hidup akibat kemiskinan,
pengangguran, atau ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dapat
meningkatkan ketegangan dan frustrasi yang bisa mendorong perilaku kekerasan.
b. Ketersediaan Senjata: Mudahnya akses terhadap senjata api atau alat berbahaya
lainnya dapat meningkatkan potensi kekerasan, terutama dalam situasi konflik atau
ketegangan.
c. Media dan Budaya Populer: Paparan berulang terhadap kekerasan melalui film,
video game, atau media sosial dapat mempengaruhi pandangan seseorang terhadap
kekerasan sebagai suatu hal yang dapat diterima atau bahkan dihormati.
5. Norma Sosial dan Budaya
a. Norma yang Menerima Kekerasan: Di beberapa budaya atau komunitas, kekerasan
dapat dianggap sebagai cara yang sah untuk menyelesaikan konflik, membuktikan
kekuasaan, atau mempertahankan kehormatan. Hal ini bisa memperburuk toleransi
terhadap perilaku kekerasan dalam masyarakat.
b. Diskriminasi atau Ketidaksetaraan: Ketidakadilan sosial, diskriminasi rasial, atau
ketidaksetaraan gender dapat menciptakan ketegangan dalam masyarakat, yang
dapat berujung pada kekerasan sebagai respons terhadap perasaan terpinggirkan
atau tertekan.
6. Faktor Lingkungan dan Stressor Eksternal
a. Stres Sosial dan Lingkungan: Faktor-faktor stres eksternal, seperti bencana alam,
kerusuhan sosial, atau ketidakpastian politik, dapat memperburuk ketegangan
dalam masyarakat dan memicu perilaku kekerasan.
b. Konflik Sosial atau Politik: Ketegangan antar kelompok, baik itu agama, ras, atau
etnis, sering kali menjadi latar belakang bagi meningkatnya kekerasan dalam
masyarakat.
7. Ketidakseimbangan Kesehatan Mental atau Emosional
a. Depresi dan Kecemasan: Gangguan mental seperti depresi atau kecemasan bisa
mempengaruhi kemampuan individu untuk berfungsi secara sehat dalam hubungan
sosial. Ketidakmampuan untuk mengatasi perasaan tersebut dapat berujung pada
ledakan kekerasan.
b. Kurangnya Keterampilan Sosial: Individu yang tidak memiliki keterampilan untuk
berinteraksi secara positif atau konstruktif dalam hubungan dapat lebih cenderung
beralih ke perilaku kekerasan sebagai cara untuk mengatasi konflik.
8. Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa injuri secara
fisik, psikis atau ancama konsep diri. Beberapa faktor perilaku kekerasan sebagai
berikut:
a. Klien: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang
penuh agresif dan masalalu yang tidak menyenangkan.
b. Interaksi: penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, merasa
terancam baik internal maupun eksternal.
c. Lingkungan: panas, padat dan bising.
C. Rentang Respon
Perilaku kekerasan merupakan suatu rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang
dimanefestasikan dalam bentuk fisik. Kemarahan tersebut merupakan suatu bentuk
komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu. Rentang respon kemarahan
individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon tidak normal (maldatif)
berikut rentang respon marah menurut (Wardiyah et al., 2022).
Keterangan:
a. Asertif induvidu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan
memberi ketenangan.
b. Frustasi individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat
menemukan alternatif.
c. Pasif individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya.
d. Agresif perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk menuntut tetapi
masih terkontrol.
e. Kekerasan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol.
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan dapat mencakup berbagai aspek fisik,
emosional, dan psikologis. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala yang bisa
mengindikasikan potensi risiko perilaku kekerasan (Artika et al., 2022):
1. Data Subjektif
a. Verbal: Mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, erbicara dengan nada
keras, kasar dan ketus.
b. Perilaku: Menyerang orang lain, melukai diri sendiri atau orang lain, merusak
lingkungan, amukan atau agresif.
c. Emosi: Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam,
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahlan dan
menuntut.
d. Intelektual: Mendominasi, cerewe, kasar berdebat, meremehkan, dam tidak jarang
mengeluarkan kata-kata sarkasme.
e. Spritual: Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral,
dan kreativitas terhambat.
f. Sosial: Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindirian.
g. Perhatian: Melarikan diri dan melakukan penyimpangan.
2. Data Objektif:
a. Fisik: Mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup,
wajah merah dan tegang, serta postur tubuh kaku.
E. Pohon Masalah
Pohon masalah dari resiko perilaku kekerasan (Gibran Muhammad, 2023):
Pohon Masalah
Effect Resiko mencederai diri, orang lain, lingkungan, RBD
Core Problem Perilaku Kekerasan
Causa Halusinasi
Diagnosa Masalah
1. Resiko Perilaku Kekerasan
F. Pengkajian
1. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, status mental, suku
bangsa, tanggal masuk, tanggal pengkajian, ruang rawat dan alamat.
2. Keluhan utama atau alasan masuk
Alasan yang menyebabkan pasien atau keluarga datang atau dirawat di rumah sakit.
Faktor pencetus perilaku kekerasan meliputi ancaman terhadap fisik, ancaman internal
dan ancaman eksternal.
3. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan saat ini pada pasien perilaku kekerasan, faktor yang memperberat kejadian
seperti putus pengobatan, melukai orang lain, diri sendiri maupun lingkungan.
4. Faktor predisposisi
Faktor-faktor yang mendukung terjadinya masalah perilaku kekerasan adalah faktor
biologi (biasanya klien mempunyai keluarga yang mempunyai riwayat perilaku
kekerasan, klien pernah mengalami gangguan jiwa), psikologis (harapan yang tidak
sesuai, sering melihat perilaku kekerasan atau mengalami perilaku kekerasan
dan sosiokultural (Gibran Muhammad, 2023).
5. Faktor presipitasi
a. Proses pengolahan informasi yang berlebih
b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
c. Adanya gejala pemicu
6. Aspek fisik atau biologis
7. Aspek psikososial
8. Status mental
a. Penampilan
b. Pembicaraan
c. Aktivitas motorik
d. Afek dan Emosi
e. Interaksi selama wawancara
f. Persepsi sensori
g. Proses pikir
h. Isi pikir
i. Tingkat kesadaran
j. Memori
k. Tingkat konsentrasi dan berhtung
l. Kemampuan penilaian
m. Daya litik diri
9. Kebutuhan persiapan pulang
a. Kemampuan makan pasien, pasien mampu menyiapkan dan membersihkan alat
makan.
b. Pasien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta
membersihkan dan merapikan pakaian
c. Mandi pasien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh pasien
d. Istirahat dan tidur pasien, aktivitas didalam dan diluar rumah
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah minum obat.
10. Masalah psikososial dan lingkungan
11. Pengetahuan
12. Aspek medis
Pada klien perilaku kekerasan biasanya mendapatkan obat untuk klien skizofrenia
seperti haloperidol, clorpromazine dan anti kolinergik.
G. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Rencana Tindakan
Tindakan (Pasien) Tindakan (Keluarga)
Resiko Perilaku Setelah melakukan interaksi 1. Pasien mampu SP 1 SP 1
Kekerasan dengan pasien selama 5 kali mengindentifikasi penyebab 1. Identifikasi penyebab, tanda dan 1. Diskusikan masalah yan
diharapkan pasien dapat perilaku kekerasan gejala perilaku kekerasan yang dirasakan dalam merawat pasien
mengontrol perilaku kekerasan 2. Pasien mampu di lakukan akibat perilaku 2. Jelaskan pengertian, tanda dan
dengan kriteria hasil: mengidentifikasi tanda dan kekerasan gejala, dan proses terjadinya
1. Pasien mampu mengontrol gejala perilaku kekerasan 2. Jelaskan cara mengontrol perilaku kekerasan
perilaku kekerasan 3. Pasien mampu perilaku kekerasan: Fisik, obat, 3. Jelaskan cara merawat perilaku
2. Pasien tidak mencederai diri mengidentifikasi perilaku verbal, spritual kekerasan
sendiri, orang lain dan kekerasan yang dilakukan 3. Latih satu cara merawat perilaku 4. Latih satu cara merawat perilaku
lingkungan 4. Pasien mampu kekerasan secara fisik: Tarik kekerasan dengan melakukan
mendengarkan penjelasan napas dalam dan pukul kasur dan kegiatan fisik: tarik napas dalam
cara mengontrol perilaku bantal dan pukul kasur atau bantal
kekerasan: Fisisk, obat, 4. Masukan pada jadwal kegiatan 5. Anjurkan membantu pasien
verbal, spiritual. untuk latihan fisik sesuai jadwal dan memberi
5. Pasienmau latihan cara SP 2 pujian
mengontrol perilaku 1. Evaluasi kegiatan latihan fisik, SP 2
kekerasan secara fisik: Tarik beri pujian
nafas dalam, pukul bantal 2. Latih cara mengontrol perilaku 1. Evaluasi kegiatan keluarga
atau kasur kekerasan dengan obat (jelaskan dalam merawat atau melatih
6. Pasien mau ditambhkan 6 benar obat) pasien fisik, beri pujian
latihan mengontrol perilaku 3. Masukan pada jadwal kegiatan 2. Jelaskan 6 benar cara
kekerasan dengan obat untuk latihan fisik dan minum memberikan obat
(jelaskan 6 benar obat) obat 3. Latih cara memberikan atau
SP 3 membimbing minum obat
1. Evaluasi kegiatan latihan fisik 4. Anjurkan membantu pasien
dan obat, beri pujian sesuai jadwal dan memberikan
2. Latihan cara mengontrol pujian
perilaku kekerasan secara verbal SP 3
(3 cara yaitu: mengungkapkan, 1. Evaluasi kegiatan keluarga
meminta, menolak dengan dalam merawat atau melatih
benar). pasien fsik dan memberikan
3. Masukkan pada jadwal kegiatan obat. Beri pujian
untuk latihan fisik, minum obat 2. Latih cara membimbing: cara
dan verbal bicara yang baik
SP 4 3. Latih cara membimbing kegiatan
1. Evaluasi kegiatan latihan fisik, spiritual
obat, verbal, beri pujian
2. Latih cara mengontrol spiritual 4. Anjurkan membntu pasien
(2 kegiatan) sesuai jadwal dan memberikan
3. Masukan pada jadwal kegiatan pujian.
untuk latihan fisik, minum obat SP 4
verbal dan spiritual 1. Evaluasi kegiatan keluarga
SP 5 dalam merawat/melatih pasien
1. Evaluasi kegiatan latihan fisik, fisik, memberikan obat, latihan
obat, verbal dan spiritual, beri bicara yang baik dan kegiatan
pujian spiritual. Berikan pujian
2. Nilai kemampuan yang telah 2. Jelaskan follow up ke rumah
mandiri sakit, tanda kambuh, rujukan.
3. Nilai apakah perilaku kekerasan 3. Anjurkan membantu pasien
terkontrol. sesuai jadwal dan memberikan
pujian
SP 5
1. Evaluasi kegiatan keluarga
dalam merawat atau melatih
pasien fisik, memberikan obat,
cara bicara yang baik dan
kegiatan spiritual dan follow up
beri pujian
2. Nilai kemampuan keluarga
merawat pasien
3. Nilai kemampuan keluarga
melakukan kontrol ke RSJ/PKM.
Daftar Pustaka
Artika, D., Fitri, N. L., Hasanah, U., Dharma, A. K., & Metro, W. (2022). Penerapan Terapi
Musik Klasik Terhadap Tanda Dan Gejala Pasien Risiko Perilaku Kekerasan Application
of Classical Music Therapy to Signs and Symptoms of Behavior. Jurnal Cendikia Muda,
2(1).
Fitri Agustina, A., & Restiana, N. (2020). Penerapan Terapi Musik Klasik Dalam Mengontrol
Marah Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan: Literature Review.
Gibran Muhammad. (2023). Angry Management Nursing Care in Mental Disorders Patients
with The Risk of Violent Behavior in The Murai Institute of Soeprapto School Bengkulu
Province in 2023.
Wardiyah, A., Pribadi, T., & Yanti Tumanggor, C. S. M. (2022). Terapi Relaksasi Napas Dalam
Pada Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan Di Rs Jiwa Bandar Lampung. Jurnal
Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (Pkm), 5(10), 3611–3626.
Https://Doi.Org/10.33024/Jkpm.V5i10.7322
Banjarmasin, 02 Januari 2025
Presptor Akademik Preseptor Klinik
M. Syafwani, Ns.,M.Kep., Sp.Jiwa Rusliansyah, S.Kep.,Ns