LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN HALUSINASI
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktek laboratorium keperawatan jiwa
Dosen Pengampu : Indra Gunawan, M.Kep
Disusun Oleh:
Ahmad Zajuli
E2214401067
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
DIPLOMA III KEPERAWATAN
2024
A. Definisi
Halusinasi adalah gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra
tanpa ada rangsangan dari luar, suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi
melalui panca indra tanpa stimulus ekstren atau persepsi palsu (Prabowo, 2014).
Halusinasi adalah suatu keadaan dimana klien mengalami perubahan sensori
persepsi yang disebabkan stimulus yang sebenarnya itu tidak ada (Sutejo, 2017).
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata,
sehingga klien menginterpretasikan sesuatu yang tidak nyata tanpa stimulus atau
rangsangan dari luar (Stuart dalam Azizah, 2016).
Berdasarkan pengertian halusnasi itu dapat diartikan bahwa, halusinasi adalah
gangguan respon yang diakibatkan oleh stimulus atau rangsangan yang membuat
klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
B. Faktor Penyebab Halusinasi
Menurut Yosep (2014) terdapat dua factor penyebab halusinasi, yaitu:
1. Faktor presdisposisi
a. Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil,
mudah frustasi, hilang percaya diri, dan lebih rentan terhadap stress.
b. Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungan sejak bayimsehingga akan
merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percayampada lingkungannya
c. Faktor Biokimia
Hal ini berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang
berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan suatu zat
yang bersifat halusiogenik neurokimia. Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak,misalnya terjadi
ketidakseimbangan acetylchoin dan dopamine.
d. Faktor Psikologi
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien
mengambil keputusan tegas, klien lebih suka memilih kesenangan sesaat dan
lari dari alam nyata menuju alam hayal.
e. Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian Menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua
skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia . Hasil studi menunjukkan
bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangatberpengaruh pada
penyakit ini.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Rawlins dan Heacock dalam Yosep (2014) dalam hakekatnya seorang
individu sebagai mahluk yang dibangun atas dasar unsur bio-psiko-sosio-spiritual
sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi,yaitu:
a. Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan luar
biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium dan kesulitan tidur
dalam waktu yang lama
b. Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi.
Halusinasi dapat berupa perintah memasa dan menakutkan. Klien tida sanggup
menentang sehingga klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
c. Dimensi Intelektual
Dalam hal ini klien dengan halusinasi mengalami penurunan fungsi ego.
Awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls
yang menekan,namun menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil
seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
d. Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosialdi dalam fase awal dan comforting
menganggap bahwa bersosialisasi nyata sangat membahayakan. Klien
halusinasi lebih asyik dengan halusinasinya seolah-olah itu tempat untuk
bersosialisasi.
e. Dimensi Spiritual
Klien halusinasi dalam spiritual mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas
tidak bermakna, dan hilangnya aktivitas beribadah. Klien halusinasi dalam
setiap bangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya.
C. Tanda dan gejala halusinasi
Menurut SDKI, 2017 Tanda dan Gejala Gangguan persepsi sensori yaitu
sebagai berikut:
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
1. Mendengar suara bisikan atau melihat bayangan
2. Merasakan sesuatu melalui indra perabaan, penciuman, atau
pengecapan
Objektif
1. Distorsi sensori
2. Respons tidak sesuai
3. Bersikap seolah melihat, mendengar, mengecap, meraba atau
mencium sesuatu
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. Menyatakan kesal
Objektif
1. Menyendiri
2. Melamun
3. Konsentrasi buruk
4. Disorientasi waktu, tempat, orang atau situasi
5. Curiga
6. Melihat ke satu arah
7. Mondar-mandir
8. Bicara sendiri
D. Sumber Koping
Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi
seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan sumber
koping yang ada di lingkungannya. Sumber koping tersebut dijadikan sebagai modal
untuk menyelesaikan masalah. Dukungan social dan keyakinan budaya dapat
membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stes dan
mangadopsi strategi koping yang efektif
E. Mekanisme Koping
Mekanisme koping merupakan upaya yang diarahkan pada pengendalian stress,
termasuk upaya penyelesaian masalah secara langsung dan mekanisme pertahanan
lain yang digunakan untuk melindungi diri. Mekanisme koping digunakan seseorang
untuk menghadapi perubahan yang diterima (Mulyati, 2019). Mekanisme koping
adalah perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri, diantaranya :
1. Regresi proses untuk meghindari stress, kecemasan dan menampilkan kembali
pada perilaku perkembangan atau berhubungan dengan masalah proses informasi
dan upaya untuk mengatasi kecemasan
2. Proyek keinginan yang tidak dapat di toleransi, mengungkapkan emosi pada
orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri
3. Menarik diri reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun
psikologis. Reaksi fisik yaitu seorang individu pergi atau lari menghindar sumber
stressor, sedangkan reaksi psikologis yaitu menunjukkan perilaku apatis,
mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan.
F. Rentang Respon Halusinasi
Adaftif Maladaftif
1. Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dilakukan oleh seseorang untuk menyelesaikan
masalah yang dapat diterima oleh norma masyarakat. Atau bisa dikatakan
seseorang tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat
memecahkan masalah tersebut, respon adaptif yaitu sebagai berikut :
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan yang dapat
diterima oleh akal
b. Persepsi akuran adalah pandangan dari seseorang tentang suatu peristiwa
secara cermat dan tepat sesuai perhitungan
c. Emosi konsisten dengan pengalaman adalah perasaan jiwa yang timbul
sesuai dengan peristiwa yang pernah dialami
d. Perilaku social dengan kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan dengan
individu yang diwujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang tidak
bertentangan dengan moral
e. Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dalam
pergaulan ditengah masyarakat dan lingkungan
2. Respon Maladaptif
a. Kelainan pikiran/waham adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan
walaupun idak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan keyakinan
social
b. Halusinasi adalah gangguan yang timbul berupa persepsi yang salah terhadap
rangsangan
c. Kerusakan proses emosi adalah ketidakmampuan mengontrol emosi seperti
menurunnya kemampuan untuk mengalami kesenangan, kebahagiaan, dan
kedekatan
d. Perilaku tidak terorganisir adalah ketidakteraturan perilaku berupa
ketidakselarasan antara perilaku dan gerakan yang ditimbulkan
e. Isolasi social adalah kondisi dimana seseorang merasa kesepian tidak mau
berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
G. Perencanaan
Perencanaan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan diagnosa
keperawatan Halusinasi yaitu sebagai berikut:
Tabel 2 Rencana Keperawatan Pada Pasien Gangguan presepsi sensori
Diagnosa Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi
1 Gangguan Persepsi Setelah dilakukan 1. Manajemen Halusinasi
Sensori bd Halusinasi tindakan keperawatan (I.09288)
pendengaran dd selama 1x30 menit maka Observasi
Ds: diharapkan persepsi - Monitor perilaku yang
- Mendengar sensori membaik dengan mengindikasi halusinasi
suara bisikan kriteria hasil: - Monitor dan sesuaikan
Do: - Verbalisasi tingkat aktivitas dan
- Distorsi sensori mendengar bisikan stimulus lingkungan
- Respons tidak menurun - Monitor isi halusinasi (mis.
sesuai - Verbalisasi melihat kekerasan atau
- Bersikap seolah bayangan menurun membahayakan diri)
mendengar - Verbalisasi Terapeutik
sesuatu merasakan sesuatu - Pertahankan lingkungan
melalui indra yang aman
perabaan menurun - Lakukan tindakan
- Verbalisasi keselamatan ketika tidak
merasakan sesuatu dapat mengontrol perilaku
melalui indra - Diskusikan perasaan dan
penciuman menurun respons terhadap halusinasi
- Verbalisasi - Hindari perdebatan tentang
merasakan sesuatu validitas halusinasi
melalui indra
pengecapan Edukasi
menurun - Anjurkan memonitor sendiri
- Distorsi sensori situasi terjadinya halusinasi
menurun - Anjurkan bicara pada orang
- Perilaku halusinasi yang dipercaya untuk
menurun memberi dukungan dan
- Menarik diri umpan balik korektif
menurun terhadap halusinasi
- Melamun menurun - Anjurkan melakukan
- Curiga menurun distraksi
- Mondar-mandir - Ajarkan pasien dan keluarga
menurun cara mengontrol halusinasi
- Respons sesuai Kolaborasi
stimulus membaik - Kolaborasi pemberian obat
- Konsentrasi antipsikotik dan antiansietas,
membaik jika perlu
- Orientasi membaik
DAFTAR PUSTAKA
Dermawan, Deden dan Rusdi. (2013). Konsep dan Kerangka Kerja Asuhan
Keperawatan Jiwa . Yogyakarta : Gosyan Publishing.
Kemenkes RI. (2019). Riset Kesehatan Dasar: RISKESDAS. Jakarta: Kemenkes .
NANDA . (2018). Nanda International Nursing Diagnoses: Definions & Classification.
Jakarta : EGC.
SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta: DPP PPNI.
SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Inetervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Tindakan Keperawatan . Jakarta : DPP PPNI .
SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI .
Sutejo. (2017). Konsep Praktik dan Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan
Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta : PT Pustaka Baru.
Tumanduk, F. M. E., Messakh, S. T., & Sukardi, H. (2018). Hubungan Tingkat
Kemampuan Perawatan Diri Dengan Tingat Depresi Pada Pasien Depresi Di
Bangsal Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Jurnal Ilmu Keperawatan dan
Kebidanan. 9 (1). 10-20.