0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Ansietas

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa ansietas membahas definisi, faktor risiko, gejala, sumber koping dan mekanisme penanganan ansietas. Ansietas adalah kecemasan yang tidak jelas yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti. Faktor risikonya adalah stresor hidup dan riwayat keluarga. Gejalanya bervariasi dari gelisah hingga gangguan tidur dan somatik. Sumber koping meliputi duk

Diunggah oleh

Ahmad
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Ansietas

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa ansietas membahas definisi, faktor risiko, gejala, sumber koping dan mekanisme penanganan ansietas. Ansietas adalah kecemasan yang tidak jelas yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti. Faktor risikonya adalah stresor hidup dan riwayat keluarga. Gejalanya bervariasi dari gelisah hingga gangguan tidur dan somatik. Sumber koping meliputi duk

Diunggah oleh

Ahmad
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN DIAGNOSA ANSIETAS

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktek laboratorium keperawatan jiwa

Dosen Pengampu : Nia Restiana, M.Kep.,Ns.Sp.Kep.J

Di susun Oleh :

Nindia Sapitri

E2214401024

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

DIPLOMA III KEPERAWATAN

2024
A. Definisi
Ansietas merupakan keadaan ketika individu atau kelompok mengalami
perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf autonom dalam
berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik (Carpenito, 2007).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan
dengan perasaan tidak pasti dan tidak percaya diri. Keadaan emosi ini tidak memiliki
obyek yang spesifik. Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara
interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian
intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Ansietas adalah respon emosional
terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk
bertahan hidup. tetapi tingkat ansietas yang berat tidak sejalan dengan kehidupan.
(Stuart, 2007).
Ansietas merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan
sesuatu di luar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi
permasalahan (Asmadi, 2008).

B. Faktor Predisposisi Dan Presipitasi


1. Predisposisi
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Ketegangan dalam
kehidupan tersebut dapat berupa :
a. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan
dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau
situasional.
b. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan
baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan
dapat menimbulkan kecemasan pada individu.
c. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu
berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan.
d. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego.
e. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman
terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu
f. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan
mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami
karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.
g. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi
respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi
kecemasannya.
h. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan
yang mengandung benzodizepin, karena benzodiazepine dapat menekan
neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol
aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab
menghasilkan kecemasan.
2. Presipitasi
Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stressor presipitasi
kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
a. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas
fisik yang meliputi :
- Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya:
hamil).
- Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,
polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya
tempat tinggal.
b. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
- Sumber internal: kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah
dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman
terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.
- Sumber eksternal kehilangan orang yang dicintai, perceraian,
perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

C. Tanda dan gejala


Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami ansietas
(Hawari, 2008), antara lain sebagai berikut :
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang.
pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan
pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

Menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) (2017) tanda dan gejala
dari diagnosa Ansietas yaitu sebagai berikut :

Tabel 1 tanda dan gejala Ansietas (PPNI 2017)

Gejala Dan Tanda Mayor Gejala Dan Tanda Minor


Data Subjektif : Data Subjektif :
 Merasa bingung  Mengeluh pusing
 Merasa khawatir dengan akibat  Anoreksia
dari kondisi yang dihadapi  Palpitasi
 Sulit berkonsentrasi  Merasa tidak berdaya

Data Objektif : Data Objektif :


 Tampak gelisah  Frekuensi napas meningkat
 Tampak tegang  Frekuensi nadi meningkat
 Sulit tidur  Tekanan darah meningkat
 Diaforesis
 Tremor
 Muka tampak pucat
 Suara tampak bergetar
 Kontak mata buruk
 Sering berkemih
 Berorientasi pada masa lalu

D. Sumber koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan menggunakan
atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan
interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset ekonomi, kemampuan
memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang diyakini. Dengan integrasi
sumber-sumber koping tersebut individu dapat mengadopsi strategi koping yang
efektif (Suliswati, 2005).

E. Mekanisme koping
Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor
utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang
mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan
kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme
koping yang biasanya digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal,
memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi
diri pada orang lain (Suliswati, 2005). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan
sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati (2005),
mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu :
1. Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang
ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba
menghadapi kenyataan tuntutan stress dengan menilai secara objektif
ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi
kebutuhan.
 Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan.
 Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik
untuk memindahkan seseorang dari sumber stress
 Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang
mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal seseorang.
2. Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu
sukses dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk
melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya
mekanisme ini tidak membantu untuk mengatasi masalah secara realita. Untuk
menilai penggunaan makanisme pertahanan individu apakah adaptif atau tidak
adaptif, perlu di evaluasi hal-hal berikut :
 Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme
pertahanan klien.
 Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa
pengaruhnya terhadap disorganisasi kepribadian.
 Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan
kesehatan klien.
 Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan.
F. Rentang respon
Menurut Stuart & Sundeen (2014), rentang respon ansietas sebagai berikut :

Respons Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Panik Berat

(Sumber: Stuart & Sundeen, 2014Buku saku Keperawatan Jiwa) Gambar 1


Rentang Respon Ansietas
G. Perencanaan
Perencanaan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan Diagnosa Keperawatan
Ansietas adalah sebagai berikut :
Tabel 2 Rencana Keperawatan Pada Pasien Ansietas

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperawatan Hasil
1. Ansietas Setelah dilakukan 1. Reduksi Ansietas (I.09314)
(D.0080) tindakan keperawatan Observasi
selama ---x--- jam maka  Identifikasi saat tingkat
diharapkan tingkat ansietas berubah
ansietas menurun  Indentifikasi
dengan kriteria hasil : kemampuan
(L.01006) mengambil keputusan
 Verbalisasi  Monitor tanda-tanda
kebingungan ansietas
menurun Terapeutik
 Verbalisasi  Ciptakan suasana
khawatir akibat terapeutik untuk
kondisi yang menumbuhkan
dihadapi keperacayaan
menurun  Temani pasien untuk
 Prilaku gelisah mengurangi kecemasan
menurun  Pahami situasi yang
 Prilaku tegang membuat ansietas
menurun  Dengarkan dengan
 Keluhan pusing penuh perhatian
menurun  Gunakan pendekatan
 Anoreksia yang tenang dan
menurun meyakinkan
 Palpitasi  Motivasi
menurun mengidentifikasi
 Diaforesis situasi yang memicu
menurun kecemasan
 Tremor Edukasi
 Pucat  Jelaskan prosedur
sensasi yang mungkin
dialami
 Anjurkan keluarga
untuk tetap bersama
pasien
2. Terapi Relaksasi (I.09326)
Observasi
 Identifikasi penurunan
tingkat energi,
ketidakmampuan
berkonsentrasi atau
gejala lain
 Identifikasi teknik
relaksasi yang efektif
digunakan
 Periksa ketegangan
otot, frekuensi nadi,
tekanan darahndan
suhu sebelum dan
sesudah tindakan
 Monitor respon
terhadap terapi
relaksasi
Terapeutik
 Ciptakan lingkungan
yang tenang tanpa
gangguan pencahayaan
dari suhu ruang
 Berikan informasi
tertulis tentang
persiapan dan prosedur
terapi relaksasi
 Gunakan pakaian
longgar
 Gunakan nada suara
lembut
Edukasi
 Jelaskan tujuan,
manfaat, batasan dan
jenis relaksasi yang
tersedia

JURNAL 1

Judul Terapi Hipnotis Lima Jari Upaya Mengelola


Kecemasan Di Masa Pandemi Varian Omicro
Penulis Yola Yolanda , Ulfa Suryani, Rizka Ausrianti, Velga
Yazia, Nur Gusti Adia
Lembaga Terbit Jurnal Abdimas Saintika, Volume 4 Nomor 1
Tahun Terbit 2022

 P (Problem/Population)
Permasalahan yang di ambil dalam konteks penelitian terapi hipnotis lima jari untuk
mengelola kecemasan di masa pandemi varian Omicron mungkin merujuk kepada
individu yang mengalami kecemasan selama pandemi Covid-19, khususnya yang
terpengaruh oleh varian Omicron. Populasi ini dapat mencakup berbagai kelompok
usia, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang rentan terhadap kecemasan di
tengah situasi pandemi. Penelitian ini mungkin berfokus pada populasi yang
membutuhkan intervensi terapi hipnotis lima jari untuk mengelola kecemasan mereka.

 I (Intervention)
Intervensi terapi hipnotis lima jari merupakan pendekatan non-farmakologi yang
digunakan dalam penelitian untuk mengelola kecemasan individu selama pandemi
varian Omicron. Terapi hipnotis lima jari dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi
tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa relaksasi pada individu yang mengalami
tekanan psikologis akibat situasi pandemi. Melalui sesi hipnotis lima jari, diharapkan
individu dapat mengatasi kecemasan mereka dan merasa lebih tenang serta terbantu
dalam menghadapi tantangan yang dihadapi. Terapi ini dapat menjadi alternatif yang
efektif dalam manajemen kecemasan selama masa pandemi.
 C (Comparation)
Dalam konteks terapi hipnotis lima jari untuk mengelola kecemasan di masa pandemi
varian Omicron, perbandingan dapat dilakukan dengan metode intervensi lain yang
juga digunakan untuk mengatasi kecemasan. Beberapa perbandingan yang mungkin
relevan adalah :
1) Perbandingan efektivitas antara terapi hipnotis lima jari dengan terapi kognitif
perilaku dalam mengurangi tingkat kecemasan.
2) Perbandingan efek jangka panjang antara terapi hipnotis lima jari dan terapi
obat-obatan dalam manajemen kecemasan.
3) Perbandingan kepuasan dan keterlibatan pasien antara terapi hipnotis lima jari
dan terapi relaksasi lainnya.

 O (Outcome)
Hasil dari kegiatan penyuluhan ini didapatkan bahwa peserta penyuluhan ansietas
mendengarkan materi penyuluhan yang diberikan dan mampu mendemonstrasikan
terapi hipnotis lima jari dengan baik. Peserta juga serius memperhatikan presentator
dalam menjelaskan materi penyuluhan.
Hasil dari intervensi terapi hipnotis lima jari untuk mengelola kecemasan di masa
pandemi varian Omicron dapat mencakup berbagai aspek, termasuk :
1. Pengurangan tingkat kecemasan : hasil utama yang diharapkan dari terapi
hipnotis lima jari adalah pengurangan tingkat kecemasan pada individu yang
mengalami tekanan psikologis akibat situasi pandemi varian Omicron.
2. Peningkatan rasa relaksasi : Terapi hipnotis lima jari diharapkan dapat
meningkatkan rasa relaksasi dan ketenangan pada individu, sehingga
membantu mereka mengatasi stres dan kecemasan yang dirasakan.
3. Peningkatan koping : Outcome lain yang diharapkan adalah peningkatan
kemampuan individu dalam mengelola dan mengatasi kecemasan dengan lebih
efektif melalui teknik hipnotis lima jari.
4. Peningkatan kualitas hidup : Dengan mengurangi tingkat kecemasan dan
meningkatkan rasa relaksasi, diharapkan terapi hipnotis lima jari dapat
memberikan dampak positif pada kualitas hidup individu yang mengalami
kecemasan selama pandemi.
 T (Time)
Penelitian ini dilakukan pada Jum’at 15 Februari 2022

JURNAL 2

Judul Penerapan teknik relaksasi nafas dalam terhadap


kecemasan pasien praoperasi di ruang bedah rsud
jend. Ahmad yani kota metro tahun 2021
Penulis Sakila Witri Dian Ningrum, Sapti Ayubbana, Anik
Inayati
Lembaga Terbit Jurnal Cendikia Muda Volume 2, Nomor 4, Desember
2022 ISSN : 2807-3469
Tahun Terbit 2022

 P (Problem/Population)
Masalah yang diidentifikasi dalam penelitian penerapan teknik relaksasi nafas dalam
terhadap kecemasan pasien praoperasi di RSUD Jend. Ahmad Yani Kota Metro adalah
tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien sebelum menjalani operasi. Kecemasan
praoperatif dapat mempengaruhi respon psikologis dan fisik pasien, sehingga penting
untuk mencari metode yang efektif dalam mengurangi kecemasan ini. Melalui
penerapan teknik relaksasi nafas dalam, penelitian ini bertujuan untuk membantu
menurunkan tingkat kecemasan pasien praoperasi sehingga dapat meningkatkan
kualitas persiapan dan proses pembedahan.

 I (Intervention)
Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penerapan teknik relaksasi
nafas dalam pada pasien praoperasi. Teknik ini melibatkan perlahan menghembuskan
napas untuk menciptakan rasa relaksasi dan menurunkan tingkat kecemasan pada
pasien praoperasi 4 jam sebelum masuk ruang operasi dan 1 jam sebelum masuk
ruang operasi. Tindakan ini dilakukan pada dua pasien praoperasi yang telah
memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Dengan memberikan intervensi ini,
diharapkan tingkat kecemasan pasien praoperasi dapat mengalami penurunan
sehingga proses persiapan dan pembedahan dapat berjalan dengan lebih baik.

 C (Compration)
Dalam penelitian ini hasil perbandingan tingkat kecemasan pasien sebelum dan
setelah penerapan teknik relaksasi nafas dalam menunjukkan adanya penurunan
tingkat kecemasan. Data yang dikumpulkan dari dua pasien praoperasi menunjukkan
bahwa tingkat kecemasan pasien mengalami penurunan dari kategori sedang/berat
menjadi ringan/sedang setelah penerapan teknik relaksasi nafas dalam. Hasil
penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
penerapan teknik relaksasi nafas dalam dapat signifikan menurunkan tingkat
kecemasan pasien praoperasi . Studi lain juga menunjukkan bahwa teknik relaksasi
nafas dalam efektif dalam mengurangi kecemasan pada pasien praoperatif dengan
fraktur femur . Oleh karena itu, penerapan teknik relaksasi nafas dalam dapat
dijadikan sebagai salah satu metode yang efektif dalam mengelola kecemasan pada
pasien praoperasi.

 O (Outcome)
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan intervensi, tingkat
kecemasan pasien praoperasi mengalami penurunan. Data yang dikumpulkan dari dua
pasien praoperasi menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pasien berubah dari
kategori sedang/berat menjadi ringan/sedang setelah penerapan teknik relaksasi nafas
dalam. Penurunan tingkat kecemasan ini merupakan hasil yang positif dari intervensi
teknik relaksasi nafas dalam. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan
teknik relaksasi nafas dalam efektif dalam mengurangi kecemasan pada pasien
praoperasi. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang juga
menunjukkan efektivitas teknik relaksasi nafas dalam dalam menurunkan tingkat
kecemasan pada pasien praoperatif , . Dengan demikian, intervensi ini dapat
membantu meningkatkan kualitas persiapan dan proses pembedahan bagi
pasien praoperasi.
 T (Time)
Penelitian ini di lakukan pada tahun 2021

DAFTAR PUSTAKA

SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi Dan Indikator
Diagnostik, Jakarta : DPP PPNI

SIKI DPP PPNI/ (2018). Standar Intervensi keperawatan Indonesia : Definisi Dan Tindakan
keperawatan, Jakarta : DPP PPNI

SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Defisit Dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Jakarta : DPP PPNI

Gunarsa, Singg rsa, Singgih D. 1995. D. 1995. Psikologi Psikologi Keperawatan


Keperawatan. Jakarta: PT. BPK Gunung

Mulia. Hawari, D. 2008. Manajemen Stres Cemas dan Manajemen Stres Cemas dan Depresi
Depresi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Mansjoer, A. 1999. Kapita Selekta Kapita Selekta Kedokteran Kedokteran. 3rd ed. Jilid 1.
Jakarta : Penerbit

Aesculapius Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Keperawatan Jiwa. 5 Th ed.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Yolanda Y, Suryani U, Ausriantri R, Yazia V. (2022). Terapi Hipnotis Terapi 5 Jari Upaya
Mengelola Kecemasan Di Masa Pandemi Varian Omicron. Jurnal Abdimas Saintika,
Volume 4 Nomor 1

Ningrum, Ayubbana S, Inayati A. (2022). Penerapan Teknik Relaksasi Nafas Dalam terhadap
Kecemasan Pasien Pra Operasi Di Ruang Bedah RSUD Jend. Ahmad Yani Kota
Metro Tahun 2021. Jurnal Cendekia Muda, Volume 2 Nomor 4

Anda mungkin juga menyukai