0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
422 tayangan21 halaman

Laporan Harga Diri Rendah 2025

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai pasien dengan harga diri rendah di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat. Laporan ini mencakup definisi, tanda dan gejala, faktor predisposisi, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani masalah harga diri rendah. Penekanan diberikan pada pentingnya dukungan sosial dan pemahaman tentang kondisi pasien untuk meningkatkan kualitas perawatan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
422 tayangan21 halaman

Laporan Harga Diri Rendah 2025

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai pasien dengan harga diri rendah di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat. Laporan ini mencakup definisi, tanda dan gejala, faktor predisposisi, serta intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani masalah harga diri rendah. Penekanan diberikan pada pentingnya dukungan sosial dan pemahaman tentang kondisi pasien untuk meningkatkan kualitas perawatan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH


DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI
KALIMANTAN BARAT

DISUSUN OLEH :
PUTRI NURJEDAH
NIM. 241133098

PROGRAM STUDI PROFESI NERS JURUSAN KEPERAWATAN


POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN PONTIANAK
TAHUN 2025
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN JIWA
HARGA DIRI RENDAH

Telah mendapatkan pengesahan/persetujuan dari dosen Pembimbing


Akademik (Clinical Teacher) dan Pembimbing Klinik (Clinical Instature)

Singkawang,
Mahasiswa,

Putri Nurjedah
NIM. 241133098

Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik(CI)


LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH
I. Kasus (Masalah Utama):
Harga diri rendah.
II. Proses Terjadinya Masalah
A. Definisi
Perkembangan kebudayaan masyarakat banyak membawa
perubahan dalam segi kehidupan manusia. Setiap perubahan situasi
kehidupan baik positif maupun negatif dapat mempengaruhi
keseimbangan fisik, mental, dan psikososial seperti bencana dan konflik
yang dialami sehingga berdampak sangat besar terhadap kesehatan jiwa
seseorang yang berarti akan meningkatkan jumlah pasien gangguan jiwa
(Nurhalimah, 2016).
Harga diri seseorang di peroleh dari diri sendiri dan orang lain.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang,
perilaku orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang
buruk. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai
rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan
secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta
cenderung merasa aman. Individu yang memiliki harga diri rendah
melihat lingkungan dengan cara negatif dan menganggap sebagai
ancaman. (Keliat, 2011).
Menurut (Yusuf, A.H & ,R & Nihayati, 2015), gangguan jiwa
ialah terganggunya kondisi mental atau psikologi seseorang yang dapat
dipengaruhi dari faktor diri sendiri dan lingkungan. Hal-hal yang dapat
mempengangaruhi perilaku manusia ialah keturunan dan konstitusi,
umur, dan sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-
istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan
kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang di cintai, rasa
permusuhan, hubungan antara manusia.
B. Tanda dan Gejala
1. Mengejek dan mengkritik diri.
2. Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri
sendiri.
3. Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan
penggunaan zat.
4. Menunda keputusan.
5. Sulit bergaul.
6. Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
7. Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga dan
halusinasi.
8. Merusak diri: harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri
hidup.
9. Merusak atau melukai orang lain.
10. Perasaan tidak mampu.
11. Pandangan hidup yang pesimitis.
12. Tidak menerima pujian.
13. Penurunan produktivitas.
14. Penolakan tehadap kemampuan diri.
15. Kurang memperhatikan perawatan diri.
16. Berpakaian tidak rapi.
17. Berkurang selera makan.
18. Tidak berani menatap lawan bicara.
19. Lebih banyak menunduk.
20. Bicara lambat dengan nada suara lemah.
C. Predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri
Meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua tidak
realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang
tidak realistis.
2. Faktor yang mempengaruhi peran.
Dimasyarakat umunya peran seseorang disesuai dengan
jenis kelaminnya. Misalnya seseorang wanita dianggap kurang
mampu, kurang mandiri, kurang obyektif dan rasional sedangkan
pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat, kurang ekspresif
dibandingkan wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita
atau pria berperan tidak sesuai lazimnya maka dapat menimbulkan
konflik diri maupun hubungan sosial.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri.
Meliputi ketidak percayaan, tekanan dari teman sebaya dan
perubahan struktur sosial. Orang tua yang selalu curiga pada anak
akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri, ragu dalam
mengambil keputusan dan dihantui rasa bersalah ketika akan
melakukan sesuatu. Control orang yang berat pada anak remaja akan
menimbulkan perasaan benci kepada orang tua. Teman sebaya
merupakan faktor lain yang berpengaruh pada identitas. Remaja
ingin diterima, dibutuhkan dan diakui oleh kelompoknya,
4. Faktor biologis
Adanya kondisi sakit fisik yang dapat mempengaruhi kerja
hormon secara umum, yang dapat pula berdampak pada
keseimbangan neurotransmitter di otak, contoh kadar serotonin yang
menurun dapat mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada
pasien depresi kecenderungan harga diri dikuasai oleh pikiran-
pikiran negatif dan tidak berdaya.
D. Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap
situasi yang dihadapi individu dan ia tidak mampu menyesuaikan. Situasi
atas stressor dapat mempengaruhi komponen.
Stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri adalah
hilangnya bagian tubuuh, tindakan operasi, proses patologi penyakit,
perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang prosedur
tindakan dan pengobatan. Sedangkan stressor yang dapat mempengaruhi
harga diri dan ideal diri adalah penolakan dan kurang penghargaan diri
dari orang tua dan orang yang berarti, pola asuh yang tidak tepat,
misalnya selalu dituntut, dituruti, persaingan dengan saudara, kesalahan
dan kegagalan berulang, cita-cita tidak terpenuhi dan kegagalan
bertanggung jawab sendiri. Stressor pencetus dapat berasal dari internal
dan eksternal:
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.
2. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi.
Ada tiga jenis transisi peran:
1. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang
berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap
perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-
norma budaya, nilai-nilai serta tekanan untuk menyesuaikan diri.
2. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3. Transisi peran sehat-sakit terjadi akibat pergeseran dari sehat ke
keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh kehilangan bagian
tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh,
perubahan fisik yang berhubungan dengan tumbuh kembang normal.
Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri
yaitu gambaran diri, identitas diri, peran dan harga diri.
E. Rentang Respon

Keterangan:
1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri positif tentang latar belakang
pengalaman nyata yang sukses diterima.
2. Konsep diri positif adalah individu mempunyai pengalaman yang
positif dalam beraktualisasi.
3. Harga diri rendah adalah transisi antara respon diri adaptif dengan
konsep diri maladaptif.
4. Kerancuan identitas adalah kegagalan individu dalam kemalangan
aspek psikososial dan kepribadian dewasa yang harmonis.
5. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak
dapat membedakan dirinya dengan orang lain.
F. Pohon Masalah
Pohon masalah yang muncul menurut Fajariyah (2012) :

G. Data yang Perlu dikaji


1. Data subyektif
a. Mengungkapkan dirinya merasa tidak berguna.
b. Mengungkapkan dirinya merasa tidak mampu
c. Mengungkapkan dirinya tidak semangat untuk beraktivitas atau
bekerja.
d. Mengungkapkan dirinya malas melakukan perawatan diri
(mandi, berhias, makan atau toileting).
2. Data obyektif
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimistis
d. Tidak menerima pujian
e. Penurunan produktivitas
f. Penolakan terhadap kemampuan diri
g. Kurang memperhatikan perawatan diri
h. Berpakaian tidak rapi
i. Berkurang selera makan
j. Tidak berani menatap lawan bicara
k. Lebih banyak menunduk
l. Bicara lambat dengan nada suara lemah.
H. Mekanisme Koping
Mekanisme koping menurut Deden (2013) :
Jangka pendek :
1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis : pemakaian
obat-obatan, kerja keras, nonoton tv terus menerus.
2. Kegiatan mengganti identitas sementara: ikut kelompok sosial,
keagamaan, politik.
3. Kegiatan yang memberi dukungan sementara : kompetisi olah raga
kontes popularitas.
4. Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara :
penyalahgunaan obat-obatan.
Jangka Panjang :
1. Menutup identitas : terlalu cepat mengadopsi identitas yang
disenangi dari orang-orang yang berarti, tanpa mengindahkan hasrat,
aspirasi atau potensi diri sendiri.
2. Identitas negatif : asumsi yang pertentangan dengan nilai dan
harapan masyarakat.
Mekanisme Pertahanan Ego:
Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah : fantasi,
disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri
sendiri dan orang lain.
I. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
2. Isolasi Sosial
3. Gangguan Citra Tubuh
J. Intervensi Keperawatan
1. Rencana tindakan keperawatan pada klien
a. Tujuan/strategi pelaksanaan
Strategi pelaksanaan 1 (SP 1) untuk klien
1) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien.
2) Membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat
dilakukan.
3) Membantu klien menetukan kegiatan yang akan dilatih
sesuai dengan kemampuan klien.
4) Melatih klien sesuai dengan kemampuan yang dipilih.
5) Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien.
6) Menganjurkan klien memasukan jadwal kegiatan harian.
Strategi pelaksanaan 2 (SP 2) untuk klien.
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien,
2) Melatih kemampuan keduanya
3) Menganjurkan klien memasukan dalam jadwal harian.
b. Tindakan keperawatan untuk klien
1) Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih
dimiliki klien.
Perawat dapat melakukan hal-hal berikut utuk membantu
klien mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang
masih dimiliki.
a) Mendiskusikan bahwa klien maasih memiliki sejumlah
kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan klien di
rumah, adanya keluarga dan lingkungan terdekat klien.
b) Beri pujian yang realistis atau nyata dan hindarkan
penilaian yang negatif setiap kali bertemu dengan klien.
2) Membantu klien dalam menilai kemampuan yang dapat
digunakan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
a) Mendiskusikan dengan klien kemampuan yang masih
dapat digunakan saat ini setelah mengalami bencana.
b) Membantu klien menyebutkannya dan berikan
penguatan terhadap kemampuan diri yang berhasil
diungkapkan klien.
c) Perlihatkan respons yang konduktif dan jadilah
pendengar yang aktif.
3) Membantu klien agar dapat memilih atau menetapkan
kegiatan sesuai dengan kemampuan. Tindakan keperawatan
yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Mendiskusikan dengan klien beberapa aktivitas yang
dapat dilakukan dan pilih sebagai kegiatan yang akan
dilakukan sehari-hari.
b) Bantu klien menetapakan aktivitas yang dapat
dilakukan secara mandiri. Tentukan aktivitas-aktivitas
yang memerlukan bantuan minimal dan bantuan penuh
dari keluarga atau lingkungan terdekat klien. Berikan
contoh cara pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan
klien. Lakukan penyusunan aktivitas bersama klien dan
buatlah daftar aktivitas atau kegiatan sehari-hari klien.
4) Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai
kemampuan.
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
a) Mendiskusikan dengan klien untuk menetapkan urutan
kegiatan (yang sudah dipilih klien yang akan dilatih.
b) Bersama klien dan keluarga memperagakan beberapa
kegiatan yang akan dilakukan klien.
c) Berikan dukungan dan pujian yang nyata pada setiap
kemajuan yang diperlihatkan klien.
5) Membantu klien agar dapat merencanakan kegiatan sesuai
kemampuan.
Untuk mencapai tujuan dari tindakan keperawatan tersebut,
saudara dapat melakukan hal-hal berikut:
a) Memberi kesempatan pada klien untuk mencoba
kegiatan yang telah dilakukan.
b) Berikan pujian atas aktivitas atau kegiatan yang dapat
yang dapat dilakukan klien setiap hari.
c) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan
perubahan setiap aktivitas.
d) Menyusun daftar setiap aktivitas yang sudah dilakukan
bersama klien dan keluarga.
e) Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaannya setelah melaksanakan kegiatan
f) Yakikan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas
yang dilakukan oleh klien.
2. Rencana tindakan keperawatan pada keluarga.
a. Tujuan/strategi pelaksanaan
Strategi pelaksanaan 1 (SP 1) untuk keluarga.
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat klien.
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah
yang dialami klien beserta proses terjadinya.
Strategi Pelaksanaan 2 (SP 2) untuk keluarga.
1. Melatih keluarga untuk memperaktikan cara merawat klien
harga diri rendah.
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada
klien harga dri rendah.
Strategi pelaksanaan 3 (SP 3) untuk keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah
termasuk minum obat.
2. Menjelaskan follow up klien setelah pulang.
b. Tindakan keperawatan untuk keluarga.
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat
klien.
2. Jeleskan kepada keluarga tentang kondisi klien yang
mengalami gangguan konsep diri; harga diri rendah kronis.
3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki
klien.
4. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan gangguan konsep
diri: harga diri rendah kronis.
5. Demostrasikan cara merawat klien dengan gangguan
konsep diri: harga diri rendah kronis.
6. Bantu klien menyusun rencana kegiatan klien di rumah.
III. Strategi Pelaksanaan
A. SP-1 Pasien: Harga Diri Rendah Pertemuan Ke-1: Mendiskusikan
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien
menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu pasien
memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih, melatih
kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian.
1. Orientasi
“Selamat pagi, Perkenalkan saya perawat Iselfia Myatrizky. Saya
Mahasiswa Keperawatan Poltekkes. Saya yang akan merawat bapak
dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore nanti ya pak”
“Bagaimana keadaan Bapak E hari ini? bapak E terlihat segar“
”Bagaimana, kalau kita berbincang-bincang tentang kemampuan dan
kegiatan yang pernah Bapak E lakukan? Setelah itu kita akan nilai
kegiatan mana yang masih dapat Bapak E dilakukan di rumah sakit.
Setelah kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih.
Bagaimana menurut Bapak E?”
”Dimana kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruang
tamu saja pak? Berapa lama kira-kira kita akan ngobrol pak? Apakah
cukup 20 menit? Oke cukup ya pak 20 menit”
2. Kerja
“Bapak E, apa saja kemampuan Bapak E dimiliki? Bagus, apa lagi?
Saya buat daftarnya ya pak. Apa pula kegiatan rumah tangga yang
biasa Bapak E lakukan? Bagaimana dengan merapihkan kamar?
Menyapu ? Mencuci piring? Wah, bagus sekali. Cukup banyak
kemampuan dan kegiatan yang Bapak E miliki “.
” Bapak E, dari lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang
masih dapat dikerjakan di rumah sakit? Coba kita lihat, yang pertama
bisakah? yang kedua? sampai 5 (misalnya ada 3 yang masih bisa
dilakukan). Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan
di rumah sakit ini”
”Sekarang, coba Bapak E pilih satu kegiatan yang masih bisa
dikerjakan di rumah sakit ini”.
” Ok, yang nomor satu, merapihkan tempat tidur? Kalau begitu,
bagaimana kalau sekarang kita latihan merapihkan tempat tidur
Ibu T? Mari kita lihat tempat tidur Bapak E. Coba lihat, sudah
rapihkah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapihkan tempat tidur, mari kita pindahkan
dulu bantal dan selimutnya. Bagus sekali pak. Sekarang kita angkat
spreinya dan kasurnya kita balik. Nah, sekarang kita pasang lagi
spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus pak. Sekarang sebelah
kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang
ambil bantal, rapihkan dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita
lipat selimut, nah letakkan sebelah bawah/kaki. Bagus, pak bisa
melakukannya”
” Bapak E sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali.
Coba perhatikan bedakah dengan sebelum dirapikan? Bagus ”
“ Coba Bapak E lakukan dan jangan lupa memberi tanda M
(mandiri) kalau Bapak E lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan)
jika diingatkan untuk melakukan dan T (tidak) tidak melakukan”
3. Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak E setelah berbincang-bincang dan
latihan merapihkan tempat tidur? Iya benar bu. Bapak E ternyata
banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit
ini. Salah satunya, merapihkan tempat tidur yang sudah Bapak E
praktekkan dengan baik sekali. Nah, kemampuan ini dapat
dilakukan juga di rumah setelah pulang ya pak.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian. Bapak E mau
berapa kali sehari merapihkan tempat tidur? Bagus, dua kali yaitu
pagi-pagi jam berapa ? Lalu sehabis istirahat jam berapa?”
”Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. Bapak E
masih ingat kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit
selain merapihkan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring. Kalau begitu
kita akan latihan mencuci piring besok jam 8 pagi di dapur ruangan
ini sehabis makan pagi selama 20 menit, menurut ibu bagaimana?
Oke pak, Sampai jumpa ya”
B. SP-2 Pasien: Harga Diri Rendah Pertemuan Ke-2: Melatih pasien
melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien.
1. Orientasi
“Selamat pagi, Bapak E masih ingat dengan saya? Iya benar sekali
pak, saya perawat Isel yang akan merawat Bapak E dari jam 8
sampai jam 3 sore nanti ya pak”
“Bagaimana perasaan Bapak E pagi ini? Wah, tampak cerah”
”Bagaimana Bapak E, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore
kemarin/ Tadi pagi? Bagus (kalau sudah dilakukan, kalau belum
bantu lagi, sekarang kita akan latihan kemampuan kedua ya pak?.
Masih ingat apa kegiatan itu Bapak E?”
”Ya benar, kita akan latihan mencuci piring di dapur ruangan ini,
Waktunya sekitar 20 menit. Bagaimana menurut Bapak E?”
2. Kerja:
“Bapak E, sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan dulu
perlengkapannya, yaitu sabut/tapes untuk membersihkan piring,
sabun khusus untuk mencuci piring dan air untuk membilas. Bapak E
bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini ya? Oh ya jangan
lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa-makanan”
“Sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”
“Setelah semua perlengkapan tersedia, Bapak E ambil satu piring
kotor lalu buang dulu sisa kotoran yang ada di piring tersebut ke
tempat sampah. Kemudian Bapak E bersihkan piring tersebut dengan
menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun pencuci
piring. Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak
ada busa sabun sedikit pun di piring tersebut. Setelah itu Bapak E
bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak yang sudah
tersedia di dapur. Nah selesai bapak”
“Sekarang coba Bapak E praktekkan kembali seperti yang saya
contohkan tadi pak”
“Bagus sekali, Bapak E dapat mempraktekkan cuci pring dengan
baik. Sekarang dilap tangannya pak”
3. Terminasi :
”Bagaimana perasaan Bapak E setelah latihan cuci piring?”
“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi
kegiatan sehari-hari Bapak E? Mau berapa kali Bapak E mencuci
piring? Bagus sekali Bapak E mencuci piring tiga kali setelah
makan. “ Coba Bapak E lakukan dan jangan lupa memberi tanda M
(mandiri) kalau Bapak E lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan)
jika diingatkan untuk melakukan dan T (tidak) tidak melakukan”
”Besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga, setelah
merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Masih ingat kegiatan
apakah itu? Ya benar kita akan latihan mengepel. Mau jam berapa bu
kita melakukan latihan mengepel nya? Oke baik besok jam 9 pagi ya
pak setelah bapak selesai merapikan tempat tidur dan mencuci
piring. Dimana kita akan melakukan latihannya bapak? Oke baik
pak, kita muali dari ruangan ini saja ya pak. Kalau begitu saya
permisi dulu ya pak, Sampai jumpa”
C. SP-1 Keluarga: Harga Diri Rendah Pertemuan Ke-1: Mendiskusikan
masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien di rumah,
menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah,
menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah,
mendemonstrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, dan
memberi kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan cara
merawat.
1. Orientasi
“Selamat pagi bapak/ibu, perkenalkan saya perawat Iselfia
Myatrizky yang merawat Bapak E dari jam 8 pagi ini sampai nanti
jam 3 sore”
“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini?”
“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat
Bapak E? Berapa lama waktu Bapak/Ibu butuhkan? 30 menit saja?
Baik pak/bu. Kita berbincang-bincangnya diruang wawancara saja
bagaimana pak/bu? Oke, mari kita keruangan wawancara”
2. Kerja
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah Bapak E”
“Ya memang benar sekali Pak/Bu, Bapak E itu memang terlihat
tidak percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Misalnya
pada Bapak E, sering menyalahkan dirinya dan mengatakan dirinya
adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, Bapak E
memiliki masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya
pikiran-pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Bila
keadaan Bapak E ini terus-menerus seperti itu, Bapak E bisa
mengalami masalah yang lebih berat lagi, misalnya Bapak E jadi
malu bertemu dengan orang lain dan memilih mengurung diri”
“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri
rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”
“Setelah kita mengerti bahwa masalah Bapak E dapat menjadi
masalah serius, maka kita perlu memberikan perawatan yang baik
untuk Bapak E”
”Bpk/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki Bapak E? Ya benar,
dia juga mengatakan hal yang sama (kalau sama dengan kemampuan
yang dikatakan Bapak E)”
” Bapak E itu telah berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat
tidur dan cuci piring. Serta telah dibuat jadual untuk melakukannya.
Untuk itu, Bapak/Ibu dapat mengingatkan Ibu T untuk melakukan
kegiatan tersebut sesuai jadwal. Tolong bantu menyiapkan alat-
alatnya ya Pak/Bu dan jangan lupa memberikan pujian agar harga
dirinya meningkat. Ajak pula memberi tanda cek list pada jadwal
kegiatannya”.
”Selain itu, bila Bapak E sudah tidak lagi dirawat di Rumah sakit,
bapak/Ibu tetap perlu memantau perkembangan Bapak E. Jika
masalah harga dirinya kembali muncul dan tidak tertangani lagi,
bapak/Ibu dapat membawa Bapak E ke puskesmas”
”Nah, bagaimana kalau sekarang kita praktekkan cara memberikan
pujian kepada Bapak E”
”Temui Bapak E dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu
berikan pujian yang yang mengatakan: Bagus sekali Bapak E, kamu
sudah semakin terampil mencuci piring”
”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”
3. Terminasi:
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan kita ini?”
“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah yang dihadapi E
dan bagaimana cara merawatnya?”
“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah setiap
kali Bapak/Ibu kemari lakukan seperti itu dan di rumah juga
demikian ya pak/bu.”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk
latihan cara memberi pujian langsung kepada Bapak E. Jam berapa
Bapak/Ibu datang? Baik saya tunggu ya. Sampai jumpa”
D. SP-2 Keluarga: Harga Diri Rendah Pertemuan Ke-2: Melatih
keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan masalah harga
diri rendah langsung kepada pasien
1. Orientasi
“Selamat pagi Bapak/Ibu?”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak/Ibu masih ingat latihan merawat Ibu Bapak/Ibu seperti yang
kita pelajari dua hari yang lalu?”
“Baik, hari ini kita akan mampraktekkannya langsung kepada Bapak
E, Waktunya 20 menit. Bagaimana menurut bapak/ibu? Oke kalau
begitu, sekarang mari kita temui Bapak E”
2. Kerja:
”Selamat pagi Bapak E. Bagaimana perasaan Bapak E hari ini?”
”Hari ini saya datang bersama anak Bapak E. Seperti yang sudah
saya katakan sebelumnya, anak Ibu T juga ingin merawat Bapak E
agar cepat pulih.”
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa mempraktekkan apa yang
sudah kita latihkan beberapa hari lalu yaitu memberikan pujian
terhadap perkembangan orang tua Bapak/Ibu (Perawat
mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti
yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya)”
”Bagaimana perasaan Bapak E setelah berbincang-bincang dengan
anak Bapak E?”
”Baiklah, sekarang saya dan anak Bapak E ke ruang perawat dulu
(Perawat dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan
terminasi dengan keluarga)”
3. Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi?”
“Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat
seperti yang tadi kepada Bapak E ya”.
E. SP-3 Keluarga: Harga Diri Rendah Pertemuan Ke-3: Membantu
keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planning), Menjelaskan follow up klien setelah pulang
1. Orientasi
“Selamat pagi Bapak/Ibu?”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
“Bagaimana Bapak/Ibu, selama Bapak/Ibu membesuk apakah sudah
terus berlatih cara merawat Bapak?”
“Karena besok Bapak E sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita
sekarang ketemu, nah sekarang bagaimana kalau kita bicarakan
jadwal di rumah?”
“Berapa lama Bapak/Ibu mau kita berbicara? Bagaimana kalau 15
menit?”
“Dimana kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau
birbincang-bincangnya disini saja?”
2. Kerja
” Bapak/Ibu ini jadwal kegiatan Bapak E selama di rumah sakit.
Coba diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di rumah?”
” Bapak/Ibu, jadwal yang telah dIbuat selama Bapak dirawat
dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal
kegiatan maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang
ditampilkan oleh Bapak selama di rumah. Misalnya
kalau Bapak terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran
negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, jika hal ini
terjadi segera hubungi rumah sakit atau bawa Bapak langsung
kerumah sakit”
3. Terminasi
“Bagaimana Mbak apakah sudah paham? Ada yang ingin
ditanyakan?
“Jangan lupa ya, Bapak/Ibu materi yang telah saya ajarkan 3 hari ini,
baik cara merawat bapak maupun mengatur jadwal bapak dirumah
nanti diterapkan, ya.”
“Baiklah, silakan menyelesaikan administrasi ya, Bapak/Ibu”
“Saya akan persiapkan pakaian dan obat.”
“Karena bapak sudah boleh pulang, nanti silahkan mbak datang lagi
untuk memeriksakan atau mengontrolkan keadaan bapak ya,
Bapak/Ibu. Bagaimana perkembangan kondisi bapak”
“Satu bulan kemudian ya, bapak.”
“Tempatnya nanti silahkan datang ke rumah sakit lagi ya,
Bapak/Ibu.”
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN(Basic


Course). Jakarta: EGC
Mulyono, Andri,.2013. Asuhan Keperawatan dengan HArgaDiri Rendah diakses
dari http://eprints.ums.ac.id/25936/11/NASKAH_PUBLIKASI.pdf Pada 12
Juni 2018
Nurhalimah. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan : Keperawatan Jiwa.
In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (1st ed., Vol. 1, Issue 1).
PUSAT PENDIDIKAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN :
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Halifah, Nur Eka,.2016. Bab II Tinjauan Teori diakses dari
http://repository.ump.ac.id/1076/3/EKA%20NUR%20HALIFAH%20BAB
%20II.pdf pada 12 Juni 2018
Elinia, Sury,.2016. Tinjauan Tero dan Konsep Harga Diri Rendah diakses dari
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/167/jtptunimus-gdl-eliniasury-8333-2-
babii.pdf pada 12 Juni 2018
Yusuf, A.H, F., & ,R & Nihayati, H. . (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan
Jiwa. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, 1–366. https://doi.org/ISBN
978-xxx-xxx-xx-x

Anda mungkin juga menyukai