Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40 60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum kurang lebih 5-15%. Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatisbila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah. Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosonga kandung kemih kurang efektif , mobilitis menurun, pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik, sistem imunitas menurun. Baik seluler maupu humoral, adanya hambatan pada aliran urin,hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya 6 juta pasien datang kedokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK. Disuatu rumah sakit di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit (data bulan Juli Desember). Infeksi saluran kemih terjadi adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi, 2003). Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin. Agen penginfeksi yang paling sering adalah Eschericia coli, Proteus sp., Klebsiella sp., Serratia, Pseudomonas sp. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince, 2005).

BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A.

Pengertian Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah sutatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001). Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998). Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen baru,septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998). Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001).

B.

Etiologi
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: -

Pseudemonas, Proteus,klebsiella: penyebab ISK complicated Escherichia coli:90% penyebab ISK uncomplicated Enterobacter, Staphyloccoccus epidemidis, enterococci,dll.
- Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan

2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:

kandung kemih yang kurang efektif


- Mobilitas menurun

- Nutrisi yang kurang baik


- Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral - Adanya hambatan pada aliran urin - Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

C.

Patofisiologi Proses Penyakit Infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada 2 jalur utama terjadi ISK yaitu asending dan hematogen a. Secara Asending yaitu : Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain : faktor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada laki- laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, Pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi b. Secara Hematogen, yaitu : Sering terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara Hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu adanya bendungan total urin yang yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya :
-

1.

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik Sistem imunitas yang menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang

berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi gunjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar keseluruh traktus urinarius. Selain itu beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebt sebagai
i

hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan perut ginjal, batu neoplasma dan hipertropi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki diatas 60 tahun. Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut : a. Kandung kemih (sistitis) Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik irin dari utetra kedalam kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. b. Uretra (uretritis) Uretritis adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang di golongkan sebagai gonoreal atau non gonoreal. Uretritis gonoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis non gonoreal adalah uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum
c.

Ginjal (pielonefritis) Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus dan jaringan intertisial dari dalah satu atau kedua ginjal

Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi : a. ISK Uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun b. fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. ISK Complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis, dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut :
-

Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGK Gangguan daya tahan tubuh

Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease.

2.

Manifestasi klinis Uretritis biasanya memperlihatkan gejala : Mukosa memerah dan edema Terdapat cairan eksudat yang purulent Ada Ulserasi pada uretra Adanya rasa gatal yang menggelitik Good morning sign Adanya nanah awal miksi Nyeri pada awal miksi Kesulitan untuk memulai miksi Nyeri pada bagian abdomen Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :

Disuria (nyeri waktu berkemih) Peningkatan frekuensi berkemih Perasaan ingin berkemih Adanya sel-sel darah putih dalam urin Nyeri punggung bawah atau suprapubic Demam yang disertai adanya darah dalam urin pada kasus yang parah. Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala :

3.

Demam Menggigil Nyeri pinggang Disuria Komplikasi Prostatitis Epididimis Striktura uretra Sumbatan pada vasoepididinal
i

4.

Pemeriksaan Penunjang
1. Urinalisis

Leukosuria atau puria : merupakan salah satu bentuk adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/ lapang pandang besar (LBP) sediment air kemih. Hematuria : Hematuria positif bila 5 10 eritrosit/ LBP sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerolus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis Mikroskopis Biakan bakteri
3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni : hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung

aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5. Metode

tes

Tes dipstick multistrip untuk WBC ( tes esterase leukosit ) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase leukosit positif : maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonnorrhoeae, herpes nitrit. simplek) . Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organime menular secara seksual Tes - tes tambahan : Urogram Intravena (UIV), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostat. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. D. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina.

Terapi Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) pada usia lanjut dapat dibedakan atas : Terapi antibodika dosis tunggal Terapi antibiotika konvensional : 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama : 4-6 minggu Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian sulfamethoxazole ( antimicrobial tpm / jangka panjang menurunkan resiko atau kekambuhan amoksisilin infeksi.penggunaan medikasi yang umum mencakup : sulfisoxazole (gastrisin),trimethoprim / smz,bactrim,septra),kadang ampicillin digunakan,tetapi E.Coli telah resisten terhadap bakteri ini.pyridium,suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidak nyamanan akibat infeksi.Dan dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra,untuk wanita harus membilas dari depan kebelakang untuk menghindari kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feces. E. 1. Pengkajian Keperawatan Data biologis meliputi : - Identitas Klien - Identitas Penanggung 2. Riwayat Kesehatan -

Riwayat Infeksi Saluran Kemih Riwayat pernah menderita Batu Ginjal Riwayat penyakit DM,Jantung Palpasi Kandung Kemih Inspeksi daerah meatus : kaji warna, jumlah, bau dan kejernihan urine kaji pada costovertebralis Usia,Jenis Kelamin, Pekerjaan,Pendidikan Persepsi terhadap kondisi penyakit Mekanisme Koping dan sistem pendukung

3. a.

Pengkajian Fisik

b. c.
-

Riwayat Psikososial

d.

Pengkajian Pengetahuan Klien dan keluarga


i

Pemahaman tentang penyebab / Perjalanan penyakit Pemahaman tentang pencegahan,perawatan dan terapi medis.

F.

Diagnosa Keperawatan
1. Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih 2. Gangguan

rasa pola

nyaman

nyeri

berhubungan

dengan

Inflamasi,Kandung atau

Kemih,dan struktur traktus urinarius lain


3. Perubahan

eliminasi

urine

(disuria,dorongan,frekuensi,dan

noktuaria).berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses

penyakit,metode pencegahan,dan instruksi perawatan dirumah. G. Perencanaan Keperawatan Dx. 1 : Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan Infeksi sembuh dan mencegah komplikasi. Kriteria Hasil : 1. Tanda-Tanda Vital dalam batas normal 2. Nilai Kultur Urine Negatif 3. Urine berwarna bening dan tidak berbau Intevensi : 1. Kaji suhu tubuh pasien selama 4 jam dan lapor suhu diatas 38,5 0C Rasional : Tanda tanda vital menandakan adanya perubahan didalam tubuh. 2. Catat karakteristik urine Rasional : Untuk mengetahui /mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. 3. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter jika ada kontra indikasi Rasional : Untuk mencegah statis urine 4. Monitor Pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi Rasional : Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita
i

5. Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih 6. Berikan keperawatan perineal,pertahankan agar tetap bersih dan kering Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra Dx. 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih, dan struktur traktus urinarius lain Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang atau berkurang saat dan sesudah berkemih KH : 1. Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih 2. Kandung Kemih tidak tegang 3. Pasien tampak tenang 4. Ekspresi wajah tenang Intervensi Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat ditoleran Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot 3. Anjurkan minum banyak 2 - 3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk mmbantu klien dalam berkemih 4. Pantau perubahan warna urine, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. 5. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot. 6. Berikan perawatan perineal Rasional : Untuk mencegah kontaminasi uretra 7. Jika dipasang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari
i

1. Kaji Intensitas, lokasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri

Rasional : Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasukikandung kemih dan naik saluran perkemihan 8. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri 9. Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri Dx. 3 : Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat KH : 1. Tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi,oliguri,disuria) 2. Klien dapat berkemih setiap 3 jam 3. Klien tidak kesulitan saat berkemih Intervensi :
1. Ukur dan catat urine setiap kali berkemih

Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untk mengetahui input/ output
2. Anjurkan untuk berkemih setiap 2 - 3 jam

Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria


3. Palpasi kandung kemih setiap 4 jam

Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih


4. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine

Rasional : Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi


5. Dorong,meningkatkan pemasukan cairan

Rasional : Peningkatan hidrasi membilas bakteri


6. Kaji keluhan pada kandung kemih

Rasional : Retensi urine dapat terjadi dan menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal).

7. Bantu klien ke kamar kecil, memekai pispot/urinal i

Rasional : Untuk memudahkan klien dalam berkemih


8. Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman

Rasional : Supaya klien tidak sukar berkemih


9. Observasi perubahan tingkat kesadaran

Rasional : Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolitdapat menjadi toksin pada susunan saraf pusat. 8. Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium,elektrolit,bun,kreatinin Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine dan berikan obat-obatan untuk

meningkatkan asam urine Rasional : Asam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih. Dx. 4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan dirumah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah KH : 1. Kien tidak gelisah 2. Klien tenang 3. Klien dapat mengatakan tentang proses penyakit,metode pencegahan dan instruksi perawatan di rumah Intervensi 1. Kaji tingkat kecemasan Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 2. Berikan kesampatan Klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 3. Beri Support pada klien Rasional : Agar klien mempunyai semangat. :

4. Berikan dorongan spiritual


i

Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Berikan penkes Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya 6. Memberikan kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak diketahui tentang penyakitnya. Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya 7. Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menbuat pilihan berdasarkan informasi. 8. Berikan informasi tentang : sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan yang dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan. Rasional : Pengetahuan apa yng diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. 9. Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari Rasional : Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
10. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspesikan perasaan dan masalah

tentang rencana pengobatan. Rasional : Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhuan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik. H. Pelaksanaan Keperawatan Pada tahap ani untuk melaksanakan Intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.Agar Implementasi / pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan,memantau dan mencatat respon pasien terhadap setia Intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.(Doengoes E Marilyn.dkk.2000)

I.

Evaluasi Keperawatan Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan ISK adalah mengacu pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat :

Nyeri yang menetap atau bertambah

Perubahan warna urine

Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih

BAB III
i

PENUTUP KESIMPULAN
1. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan

adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin 2. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
-

Pseudemonas, Proteus,klebsiella: penyebab ISK complicated Escherichia coli:90% penyebab ISK uncomplicated Enterobacter, Staphyloccoccus epidemidis, enterococci,dll. 3. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
- Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan

kandung kemih yang kurang efektif


- Mobilitas menurun

- Nutrisi yang kurang baik


- Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral - Adanya hambatan pada aliran urin - Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. 4. Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut :

Kandung kemih (sistitis). Uretra (uretritis) Ginjal (pielonefritis)

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang setinggi-tingginya kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusunan makalah dengan judul Askep Lansia dengan Infeksi Saluran Kemih ini dapat diselesaikan. Terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Ibu Ns.Ainil Yusra, S.Kep yang telah memberi arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu baik langsung maupun tidak langsung. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan atau jauh dari kesempurnaan.maka oleh karena itu, Kritik dan saran sangat diharapkan demi
i

penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini ada juga manfaatnya bagi pembaca umumnya dan penyusun khususnya Wassalam,

Lhokseumawe,21 April 2011 Kelompok I

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i DAFTAR ISI......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1 LATAR BELAKANG....................................................................................... 1 BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN........................................... 2 A. PENGERTIAN............................................................................................... 2 B. ETIOLOGI.................................................................................................... 2 i

C. PATOFISIOLOGI........................................................................................... 3 D. PENATALAKSANAAN................................................................................... 6 E. PENGKAJIAN KEPERAWATAN....................................................................... 7 F. DIAGNOSA KEPERAWATAN......................................................................... 8 G. PERENCANAAN KEPERAWATAN.................................................................. 8 H. PELAKSANAAN KEPERAWATAN................................................................... ................................................................................................................... 12 I. EVALUASI KEPERAWATAN........................................................................... ................................................................................................................... 13