Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


a. Definisi
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air
kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi
saluran kemih dapat terjadi baik pada pria maupun pada wanita dari semua
umur, dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering menderita
infeksi dari pada pria (Suryono Aru, dkk 2009 dalam buku Nanda Nic-Noc
2015 )
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urine di
kandung kemih, yang umumnya steril. Istilah ini dipakai secara bergantian
dengan istilah infeksi urin. Termasuk pula berbagai infeksi di saluran kemih
yang tidak hanya mengenai kandung kemih (prostatitis, uretritis) (Arief
Mansjoer, 2008).
Infeksi saluran kemih di diagnosis dengan membiak organisme
spesifik. Bakteri penyebab paling umum adalah Escheria Coli, organisme
aerobik yang banyak terdapat di daerah usus bagian bawah (Tambayong,
2008).
Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain :
1. Kandung kemih (sistitis)
2. Uretra ( Uretritis )
3. Prostat (Prostatitis )
4. Ginjal ( Pielonefritis )

Klasifikasi menurut letaknya :

1. ISK bawah
 Perempuan (sistitis : presentase klinis infeksi kandung kemih
disertai bacteriuria bermakna )
 Sindrom Uretra Akut (SUA): presentase klinis sistitis tanpa
ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis
bakterialis
2. ISK atas
 Piolonefritis akut (PNA): proses infeksi parenkim ginjal yang
disebabkan infeksi bakteri
 Piolonefritis kronis (PNK) : kemungkinan akibat lanjut dari infeksi
bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi :

1. ISK uncomplicated (simple) merupakan ISK sederhana yang terjadi pada


penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional
normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan
infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK complete, sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali
kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten
terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia.

b. Etiologi
ISK terjadi tergantung banyak faktor seperti : usia, gender, prevelensi
bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur
saluran kemih termasuk ginjal. Berikut menurut jenis mikroorganisme dan
usia :
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK , antara lain :
 Escherichia Colli ; 90% penyebab ISK uncomplicated (simple)
 Pseudomonas, proteus, penyebab ISK complicated
2. Prevelensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain :
 Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif
 Mobilitas menurun
 Nutrisi yang kurang baik.
 Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral.
 Adanya hambatan pada aliran urin.
 Hilangnya efek baktericid dari sekresi prostat

c. Patofisiologi

Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme


patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak
langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur
utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu:

 masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor


anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada
laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine
saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius
(pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang
terinfeksi.
 Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system
imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara
hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal
sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan
total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal
akibat jaringan parut, dan lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:

a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan


kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif.
b. Mobilitas menurun
c. Nutrisi yang sering kurang baik
d. System imunnitas yng menurun
e. Adanya hambatan pada saluran urin
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan
distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini
mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih
menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan
gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen
menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi
predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang
menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter
yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah:
jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering
ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

d. Manifestasi Klinis
1. Rasa ingin buang air kecil lagi meski sudah dicoba untuk berkemih namun
tidak ada air kemih yang keluar
2. Sering kencing dan kesakitan saat kencing, air kencingnya bisa berwarna
putih, cokelat atau kemerahan dan baunya sangat menyengat
3. Warna air seni kental/pekat seperti air teh kadang kemerahan bila ada
darah.
4. Nyeri pada pinggang
5. Demam atau menggigil yang dapat menandakan infeksi telah mencapai
ginjal ( diiringi rasa nyeri di sisi bawah belakang rusuk, mual atau
muntah)
6. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak sembuh-
sembuh dapat menjadi pemicu terjadinya kanker kandung kemih.
7. Pada neonatus usia 2 bulan, gejalanya dapat menyerupai infeksi atau
sepsis berupa demam, apatis, berat badan tidak naik, muntah, mencret,
anoreksia, problem minum dan sianosis (kebiruan)
8. Pada bayi gejalanya berupa demam, BB sukar naik atau anoreksia.
9. Pada anak besar gejalanya lebih khas seperti sakit waktu kencing,
frekuensi kencing meningkat, nyeri perut atau pinggang, mengompol dan
bau kencing menyengat.

e. Pemeriksaan penunjang
1. Analisa urin rutin, mikroskop urin segar tanpa pudar, kultur urin, serta
jumlah kuman
2. Infestigasi lanjutan harus berdasarkan indikasi klinis:
 Utltrasonogram (USG)
 Radiografi; foto polos perut, pielografi IV, micturating cytogram
 Isotop scanning

f. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi
- Istirahat
- Diet; perbanyak Vit A dan C untuk mempertahankan epitel saluran
kemih.
2. Farmakologi
- Antibiotic sesuai kultur, bila hasil kultur belum ada dapat diberikan
antibiotic antara lain : cefatoxim, ceftriaxone,kotrimaxsazol,
trimetroprim, fluroquinolon, amoxcilin, doksisklin, aminoglikosid.
- Bila ada tanda-tanda urosepsis dapat diberikan imipenem atau
kombinasi penisilin dengan aminoglikosida.
- Untuk ibu hamil dapat diberikan amoksilin, nitrofurontoin atau
sefalosporin.

g. Komplikasi

a. Sepsis, yaitu kondisi berbahaya akibat infeksi, terutama bila infeksi


menyebar hingga ke ginjal.

b. Striktur uretra (penyempitan uretra pada pria).

c. Kelahiran prematur dan bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah,
jika dialami oleh wanita hamil.

h. Pencegahan
1. Perbanyak minum air putih (8/10 gelas /hari)
2. Segera buang air kecil jika keinginan itu timbul
3. Basuh arah kemaluan dari arah depan kebelakang
4. Hindari konsumsi minuman berakohol
5. Jalani hidup bersih dengan mencuci bagian anus dan genetalia sekurang-
kurangnya sekali sehari

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


a. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data
yang akurat dan sistemis akan membantu pemantauan status kesehatan dan pola
pertahanan pasien, mengidentifikasi kekuatan pasien serta merumuskan
diagnosa keperawatan.
1. Integritas Ego
Labilitas emosional dari gembira sampai ketakutan, marah atau
menarik diri.
2. Eliminasi
Kateter urinarius terpasang, urine jernih, bising usus tidak ada, samar
atau jelas.
3. Makanan/Cairan
Abdomen lunak dan tidak ada distensi pada awal.
4. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spinal
epidural.
5. Nyeri/Ketidaknyamanan
Ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya : trauma
bedah/insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih/abdomen, efek-
efek anastesi, mulut kering.
6. Keamanan
Balutan abdomen terdapat sedikit noda atau kering dan utuh, jalur
parenteral bila digunakan paten dan insisi bebas eritema, bengkak dan
nyeri tekan.

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis (mis, infeksi, iskemia,
neoplasma )
2. Gangguan eliminasi urine b.d infeksi saluran kemih
3. Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada
kandung kemih
4. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai
dengan mual dan muntah
5. Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan proses penyakit

c. Intervensi keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis (mis, infeksi, iskemia,
neoplasma )
Tujuan : - kepuasan klien : manajemen nyeri
Kriteria Hasil :
a. Nyeri terkontrol
b. Informasi diberikan untuk mengelolah obat-obatan

Intervensi :
1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi
lokasi, karakteristik, frekuensi, kualitas
2. Berikan informasi mengenai nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan dirasakan
3. Ajarkan metode farmakologi untuk menurunkan nyeri
4. Bantu kelurga dalam mencari dan menyediakan dukungan
5. Dorong pasien untuk menggunakan obat-obatan penurunan
nyeri yang adekuat
2. Gangguan eliminasi urine b.d infeksi saluran kemih
Tujuan : - disfungsi pada eliminasi urin
Kriteria Hasil :
a. Kandung kemih kosong secara penuh
b. Intake cairan dalam kadar normal

Intervensi :

1. Ajarkan pasien mengenai tanda dan gejala infeksi saluran


kemih
2. Ajarkan pasien untuk minum 8 gelas/ hari pada saat makan
diantara jam makan dan di sore hari
3. Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih
sebelum (pelaksanaan ) prosedur yang relevan
4. Pantau tanda dan gejala retensi urin
5. Catat waktu eliminasi urin terakhir

3. Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada


kandung kemih
Tujuan :- pengosongan kandung kemih tidak komplit
Kriteria Hasil :
a. Tidak ada spasme bladder
b. Balance cairan seimbang

Intervensi

1. Monitor tanda dan gejala ISK (panas,hematuria,perubahan bau


dan warna urin
2. Monitor intake dan output \
3. Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output
urin
4. Katerisasi jika perlu
4. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai
dengan mual dan muntah
Tujuan : - fluid balance
Kriteria Hasil :
a. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
b. Elastisitas turgor kulit baik

Intervensi

1. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan


2. Monitor status nutrisi
3. Monitor berat badan
5. Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan proses penyakit
Tujuan :- thermoregulation
Kriteria Hasil :
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Tidak ada perubhan warna kulit

Intervensi

1. Berikan anti piretik


2. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
3. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas

DAFTAR PUSTAKA

Nurarif Huda Amin, Kusuma Hardhi (2015), asuhan keperawatan


berdasarkan diagnose medis & Nanda NIC-NOC , jilid 2 yogyakarta

Herdman Heather. T & Kamitsuru Shigemi (2017), diagnosis keperawatan


definisi & klasifikasi 2015-2017 edisi 10, Jakarta

Nurjannah intansari, (2017), Nursing outcomes classification (NOC) edisi bahasa


Indonesia edisi 5, Jakarta

Nurjannah intansari, (2017), Nursing Interventions classification (NIC) edisi


bahasa Indonesia edisi 6, Jakarta