Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN URETRITIS

D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
1.
2.
3.
4.

Desi Melasari
Elvita Sari
Helda Tsani Savitri
Mentari Anggraini

Dosen Pembimbing : Renny Triwijayanti, S.Kep.,Ns

Program Study Ilmu Keperawatan


Stikes Muhammadiyah Palembang
Tahun Akademik 2013 - 2014
ASUHAN KEPERAWATAN URETRITIS
1. Anatomi Fisiologi

Sistem perkemihan atau sistem urinaria terdiri atas, dua ginjal yang fungsinya membuang
limbah dan substansi berlebihan dari darah, dan membentuk kemih dan dua ureter, yang
mengangkut kemih dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai
reservoir bagi kemih dan urethra. Saluran yang menghantar kemih dari kandung kemih keluar
tubuh sewaktu berkemih. Setiap hari ginjal menyaring 1700 L darah, setiap ginjal
mengandung lebih dari 1 juta nefron, yaitu suatu fungsional ginjal. Ini lebih dari cukup untuk
tubuh, bahkan satu ginjal pun sudah mencukupi. Darah yang mengalir ke kedua ginjal
normalnya 21 % dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit.
Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm pada bagian
paling tebal. Berat satu ginjal pada orang dewasa kira-kira 150 gram dan kira-kira sebesar
kepalang tangan. Ginjal terletak retroperitoneal dibagian belakang abdomen. Ginjal kanan
terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar disisi kanan. Ginjal berbentuk kacang,
dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus renalis, yaitu tempat masuk dan
keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf dan
ureter.
Panjang ureter sekitar 25 cm yang menghantar kemih. Ia turun ke bawah pada dinding
posterior abdomen di belakang peritoneum. Di pelvis menurun ke arah luar dan dalam dan
menembus dinding posterior kandung kemih secara serong (oblik). Cara masuk ke dalam
kandung kemih ini penting karena bila kandung kemih sedang terisi kemih akan menekan dan
menutup ujung distal ureter itu dan mencegah kembalinya kemih ke dalam ureter.
Kandung kemih bila sedang kosong atau terisi sebagian, kandung kemih ini terletak di
dalam pelvis, bila terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih ini mungkin teraba di
atas pubis. Peritenium menutupi permukaan atas kandung kemih. Periteneum ini membentuk
beberapa kantong antara kandung kemih dengan organ-organ di dekatnya, seperti kantong
rektovesikal pada pria, atau kantong vesiko-uterina pada wanita. Diantara uterus dan rektum
terdapat kavum douglasi. Uretra pria panjang 18-20 cm dan bertindak sebagai saluran untuk
sistem reproduksi maupun perkemihan. Pada wanita panjang uretra kira-kira 4 cm dan
bertindak hanya sebagai system Perkemihan. Uretra mulai pada orifisium uretra internal dari
kandung kemih dan berjalan turun dibelakang simpisis pubis melekat ke dinding anterior
vagina. Terdapat sfinter internal dan external pada uretra, sfingter internal adalah involunter
dan external dibawah kontrol volunter kecuali pada bayi dan pada cedera atau penyakit saraf.
2. Definisi
Uretritis adalah infeksi dari uretra, yaitu saluran yang membawa air kemih dari kandung
kemih keluar tubuh. Uretritis adalah peradangan uretra oleh berbagai penyebab dan

merupakan sindrom yang sering terjadi pada pria. (Sylvia A. Price, 2006). Uretritis
didefinisikan sebagai peradangan akibat infeksi dari uretra. Istilah uretritis untuk Penyakit
Menular Seksual (PMS). Uretritis merupakan kondisi peradangan yang dapat menular.
Penyebabnya adalah infeksi uretritis yaitu, karena infeksi dengan Neisseria gonorrhoeae atau
Ngu (yaitu, karena infeksi dengan Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum,
Mycoplasma

hominis,

Mycoplasma

genitalium,

atau

Trichomonas

vaginalis).

3. Etiologi
Penyebabnya bisa berupa bakteri, jamur atau virus. Pada wanita jasad renik tersebut
biasanya berasal dari vagina. Pada kebanyakan kasus, bakteri berasal dari usus besar dan
sampai ke vagina melalui anus. Lelaki lebih jarang menderita uretritis.
Jasad renik yang ditularkan melalui hubungan seksual (misalnya Neisseria gonorrhoeae
penyebab gonore), masuk ke vagina atau penis pada saat melakukan hubungan seksual
dengan

mitra

seksual

yang

terinfeksi

dan

bisa

menjalar

ke

uretra.

Uretritis pada pria paling sering disebabkan oleh gonokokus. Klamidia dan virus herpes
simpleks juga bisa ditularkan melalui hubungan seksual dan bisa menyebabkan uretritis.
Bakteri (Eschericia coli), Jamur dan virus, Infeksi ginjal, Prostat hipertropi juga bisa
menyebabkan uretritis.
4. Patofisiologi
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui :
1) Penyebaran endogen yaitu kontak langsung daro tempat terdekat.
2) Hematogen.
3) Limfogen.
4) Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih yaitu :
Bendungan aliran urine.
1) Anatomi konginetal.
2) Batu saluran kemih.
3) Oklusi ureter (sebagian atau total).
Refluks vesi ke ureter.
Urine sisa dalam buli-buli karena :
4) Neurogenik bladder.

5) Striktur uretra.
6) Hipertropi prostat.
Gangguan metabolik.
7) Hiperkalsemia.
8) Hipokalemia
9) Agamaglobulinemia.
Instrumentasi
10) Dilatasi uretra sistoskopi.
Kehamilan
11) Faktor statis dan bendungan.
12) PH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman.
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari
perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar
infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan
mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih,
mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap,
gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan
resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. Infeksi saluran
kemih dapat dibagi menjadi sistisis dan pielonefritis. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat
infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi
hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal.
Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada
individu

yang

mengidap

batu,

obstruksi

lain,

atau

refluks

vesikoureter.

Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi
dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung
kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop.
Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang
digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh niesseria
gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal ; uretritis yang tidak
berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik

atau urea plasma urelytikum. Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi
bakteri piala ginjal, tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri
mencapai kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 %
curah jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus penyebaran secara
hematogen kurang dari 3 %.

Pathway
Mikroorganisme
(bakteri/virus)
Hubungan seksual

Hematogen

kelainan anatomis

Masuk kebagian uretra


Bakteri menempel dinding uretra
Bakteri menginfeksi dinding uretra
Terjadi peradangan pada uretra
Uretritis

Mukosa uretra meradang

Pembengkakan mukosa uretra

Sakit saat berkemih

Oedema Uretra
Urine sulit keluar

Nyeri

Bakteri berkembang
Biak dikandung kemih

Terganggunya proses eliminasi urine


Perubahan pola
eliminasi urine

5. Gambaran Klinis
Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
1) Mukosa memerah dan oedema
2) Terdapat cairan eksudat yang purulent

Infeksi

3) Ada ulserasi pada urethra


4) Adanya rasa gatal yang menggelitik
5) Good morning sign
6) Adanya nanah awal miksi
7) Nyeri pada saat miksi
8) Kesulitan untuk memulai miksi
9) Nyeri pada abdomen bagian bawah.
Pada

pria, uretritis

biasanya

dimulai

dengan keluarnya

cairan dari

uretra.

Jika penyebabnya adalah gonokokus maka cairan ini akan mengandung nanah. Jika
penyebabnya adalah jasad renik yang lainnya, maka cairan ini mengandung lendir.
Gejala lainnya adalah nyeri pada saat berkemih dan penderita sering mengalami desakan
untuk berkemih.
Jika uretritis karena gonokokus tidak diobati secara adekuat, maka pada akhirnya akan
terbentuk penyempitan uretra (striktur). Striktur ini akan meningkatkan resiko terjadinya
uretritis pada uretra yang lebih tinggi dan kadang menyebabkan terbentuknya abses di sekitar
uretra.Abses bisa membentuk kantong pada dinding uretra (divertikulum uretra), yang juga
bisa mengalami infeksi.
Jika abses menyebabkan terjadinya perforasi kulit, maka air kemih bisa mengalir melalui
saluran baru (fistula uretra).
6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pria berupa prostatitis, vesikulitis, epididimitis, dan
striktur urethra. Sedangkan pada wanita komplikasi dapat berupa Borthlinitis, praktitis,
salpingitis, dan sistitits. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah dilaporkan.
7. Pemeriksaan diagnostik
a) Urinalisis
1) Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih
2) Hematuria 5 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih.
b) Bakteriologis
1) Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi.
102 103 organisme koliform/mL urin plus piuria.
2) Perkembangbiakan bakteri
3) Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik.

8. Penatalaksanaan
Pengobatan tergantung kepada mikroorganisme penyebabnya. Jika penyebabnya adalah
bakteri, maka diberikan antibiotik.Jika penyebabnya adalah virus herpes simpleks, maka
diberikan obat anti-virus (misalnya asiklovir).
Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas
microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke
belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien uretritis menggunakan pendekatan bersifat
menyeluruh yaitu :
1) Data biologis meliputi :
a) Identitas klien

b) Identitas penanggung
2) Riwayat kesehatan :
a) Riwayat infeksi saluran kemih
b) Riwayat pernah menderita batu ginjal
3) Pengkajian fisik :
a) Palpasi kandung kemih
b) Inspeksi daerah meatus
d) Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine
e) Pengkajian pada costovertebralis
4) Riwayat psikososial
Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan
5) Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
1)Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit
2)Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis

B.
1.
2.
3.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri
Perubahan pola eliminasi urine
Infeksi

C. Analisa data
No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri
Batasan karakteristik :
Laporan secara
verbal atau non
verbal
Fakta dari
observasi

Tujuan (SMART) dan


Kriteria Hasil (NOC)
NOC :
Pain Level,
Pain control,
Comfort level
Setelah dilakukan tinfakan
keperawatan selama

Intervensi (NIC)
NIC :
Pain
Management
Lakukan
pengkajian
nyeri secara
komprehensi
f termasuk

Posisi antalgic
untuk menghindari
nyeri
Gerakan
melindungi
Tingkah laku
berhati-hati
Muka topeng
Gangguan tidur
(mata sayu, tampak
capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri
sendiri
Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan
proses berpikir,
penurunan interaksi
dengan orang dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan-jalan, menemui
orang lain dan/atau
aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
Respon autonom
(seperti diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
Perubahan
autonomic dalam
tonus otot (mungkin
dalam rentang dari
lemah ke kaku)
Tingkah laku
ekspresif (contoh :
gelisah, merintih,
menangis, waspada,

3x24jam Pasien tidak


mengalami nyeri, dengan
kriteria hasil :

Mampu
mengontrol nyeri
(tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri, mencari
bantuan)

Melapork
an bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri

Mampu
mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan
tanda nyeri)

Menyatak
an rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang

Tanda
vital dalam
rentang normal

Skala Indikator :
1 = tidak pernah
2 = jarang
3 = kadang
4 = sering /
substansial
5 = selalu

lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi,
kualitas dan
faktor
presipitasi
Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyam
anan
Gunakan
teknik
komunikasi
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien
Kaji kultur
yang
mempengaru
hi respon
nyeri
Evaluasi
pengalaman
nyeri masa
lampau
Evaluasi
bersama
pasien dan
tim
kesehatan
lain tentang
ketidakefekti
fan kontrol
nyeri masa
lampau
Bantu pasien
dan keluarga
untuk

iritabel, nafas
panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam
nafsu makan dan
minum

Faktor yang
berhubungan :
Agen injuri (biologi,
kimia, fisik, psikologis)

mencari dan
menemukan
dukungan
Kontrol
lingkungan
yang dapat
mempengaru
hi nyeri
seperti suhu
ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan
Kurangi
faktor
presipitasi
nyeri
Pilih dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi
dan inter
personal)
Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
Ajarkan
tentang
teknik non
farmakologi
Berikan
analgetik
untuk
mengurangi
nyeri
Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri

Tingkatkan
istirahat
Kolaborasika
n dengan
dokter jika
ada keluhan
dan tindakan
nyeri tidak
berhasil
Monitor
penerimaan
pasien
tentang
manajemen
nyeri

Analgesic
Administration
Tentukan
lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian
obat
Cek instruksi
dokter
tentang jenis
obat, dosis,
dan
frekuensi
Cek riwayat
alergi
Pilih
analgesik
yang
diperlukan
atau
kombinasi
dari
analgesik
ketika

2.

Infeksi

Setelah di lakukan

pemberian
lebih dari
satu
Tentukan
pilihan
analgesik
tergantung
tipe dan
beratnya
nyeri
Tentukan
analgesik
pilihan, rute
pemberian,
dan dosis
optimal
Pilih rute
pemberian
secara IV, IM
untuk
pengobatan
nyeri secara
teratur
Monitor vital
sign sebelum
dan sesudah
pemberian
analgesik
pertama kali
Berikan
analgesik
tepat waktu
terutama
saat nyeri
hebat
Evaluasi
efektivitas
analgesik,
tanda dan
gejala (efek
samping)

NIC :

tindakan keperawatan

1) Kaji suhu tubuh

selama 3 x 24 jam pasien

pasien setiap 4

memperlihatkan tidak

jam dan lapor jika

adanya tanda-tanda

suhu diatas

infeksi, dengan kriteria


hasil:
1) Tanda vital dalam batas
normal
2) Nilai kultur urine
negatif
3) Urine berwarna bening
dan tidak bau

38,50C
2) Catat
karakteristik
urine.
3) Anjurkan pasien
untuk minum 2
3 liter jika tidak
ada kontra
indikasi
4) Monitor

Skala Indikator :

pemeriksaan

1 = tidak pernah

ulang urine kultur

2 = jarang

dan sensivitas

3 = kadang

untuk

4 = sering /

menentukan

substansial

respon terapi.
5) Anjurkan pasien

5 = selalu

untuk
mengosongkan
kandung kemih
secara komplit
setiap kali kemih.
6) Berikan
perawatan
perineal,
pertahankan agar
tetap bersih dan

3.

Perubahan pola eliminasi

kering.
Setelah dilakukan tindakan NIC :

urine

keperawatan selama 3 x 24 1) Ukur dan catat


jam klien dapat

urine setiap kali

mempertahankan pola
eliminasi secara adekuat.
Dengan criteria hasil :
1. Klien dapat berkemih
setiap 3 jam
2. Klien tidak kesulitan
pada saat berkemih
3. Klien dapat bak dengan
berkemih

berkemih.
2) Anjurkan untuk
berkemih setiap 2
3 jam.
3) Palpasi kandung
kemih tiap 4 jam
Rasional :Untuk
mengetahui
adanya distensi

Skala Indikator :

kandung kemih.
4) Bantu klien ke

1 = tidak pernah

kamar kecil,

2 = jarang

memakai

3 = kadang

pispot/urinal.
5) Bantu klien

4 = sering /
substansial
5 = selalu

mendapatkan
posisi berkemih
yang nyaman.

DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi. Jakarta: EGC.


R. Sjamsuhidajat. 2003.Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/28/askep-infeksi-saluran-

kemih/
http://wowo-mm.blogspot.com/2009/02/uretritis-non-gonokokal.html
http://medicastore.com/penyakit/85/Uretritis.html