Anda di halaman 1dari 11

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM PERNAPASAN DENGAN ASMATIKUS

Posted on June 21, 2013 by gadarbima


ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM PERNAPASAN
DENGAN ASMATIKUS
Pembimbing
Ibu Nurwahidah S.Pd S,Kep, Ns M.Pd

Disusun oleh
KELOMPO II

1. 1.

Ade Irawan

2. 2.

Miftahul Jannah

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
PROGRAM STUDI D-IV GAWAT DARURAT
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
ASMATIKUS
1. A. PENGERTIAN
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas).
Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespons terhadap terapi
konvensional. Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas, penggunaan tranquiliser
berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic, dan iritan nonspesifik
dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.

Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic berupa seranganasam berat kemudian bertambah
berat yang refrakter bila serangan 1 2 jam pemberian obat untuk serangan asma akut seperti adrenalin
subkutan, aminofilin intravena, atau antagonis2 tidak ada perbaikan atau malah memburuk.

1. B.

PATOFISIOLOGI

Karakteristik dasar dari asma ( konstriksi otot polos bronchial, pembengkakan mukosa bronchial, dan
pengentalan sekresi ) mengurangi diameter bronchial dan nyata pada status asmatikus. Abnormalitas
ventilasi perfusi yang mengakibatkan hipoksemia dan respirasi alkalosis pada awalnya, diikuti oleh
respiratori asidosis.
Terhadap penurunan PaO2 dan respirasi alkalosis dengan penurunan PaCO2 dan peningkatan pH. Dengan
meningkatnya keparahan status asmatikus, PaCO2 meningkat dan pH turun, mencerminkan respirasi
asidosis.

1. C.

ETIOLOGI

Menurut mansjoer ( 1999 ) etiologi asma bronkhial dibagi menjadi empat golongan, yaitu
1.

Ekstrinsik / Imunologik

a.

Inhalan

Penderita alergi terhadap berbagai bahan yang dihisap / dihirup, seperti debu, bulu binatang dan
serbuk tumbuhan.
b.

Ingestan

Lewat makanan, obat-obatan, ( penisilin, aspirin ) ikan laut, ikan tawar, telur, dan kecenderungan bila
cuaca dingin.
c.

Kontakan

Kecenderungan penderita mempunyai penyakit exim.

2.

Instrinsik / non Imunologik

Pada penderita ini, biasanya sering dijumpai adanya penyempitan saluran napas terutama
disebabkan oleh virus. Penderita biasanya batuk pilek dan bebrapa hari kemudian
merasakan sesak di dada.
3.

Kegiatan Jasmani

4.

Lingkungan Pekerjaan
1. D.

MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinik status asmatikus adalah sama dengan manifestasi yang terdapat pada asma hebat
pernapasan labored, perpanjangan ekshalasi, perbesaran vena leher, mengi, Namun, lamanya mengi tidak
mengindikasikan keparahan serangan. Dengan makin besarnya obstruksi, mengi dapat hilang, yang sering
kali menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan.
Mengenal suatu serangan suatu asma akut pada dasarnya sangat mudah. Dengan pemeriksaan klinis saja
diagnosis sudah dapat ditegakkan, yaitu dengan adanya sesak napas mendadak disertai bising mengi yang
terdengar diseluruh lapangan paru. Namun yang sangat penting dalam upaya penganggulangannya adalah
menentukan derajat serangan terutama menentukan apakah asam tersebut termasuk dalam serangan asma
yang berat.
Asma akut berat yang mengancam jiwa terutama terjadi pada penderita usia pertengahan atau lanjut,
menderita asma yang lama sekitar 10 tahun, pernah mengalami serangan asma akut berat sebelumnya dan
menggunakan terapi steroid jangka panjang. Asma akut berat yang potensial mengancam jiwa, mempuyai
tanda dan gejala sebagai berikut.
a.
Bising mengi dan sesak napas berat sehingga tidak mampu menyelesaikan satu kalimat dengan
sekali napas, atau kesulitan dalam bergerak.
b.

Frekuensi napas lebih dari 25 x / menit

c.

Denyut nadi lebih dari 110x/menit

d. Arus puncak ekspirasi ( APE ) kurang dari 50 % nilai dugaan atau nilai tertinggi yang pernah
dicapai atau kurang dari 120 lt/menit
e.

Penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Pulsus paradoksus, lebih dari 10 mmHg.

E. EVALUASI DIAGNOSTIC
1.
Pemeriksaan fungsi paru adalah cara yang paling akurat dalam mengkaji obstruksi jalan napas akut.
Fungsi paru yang rendah mengakibatkan dan menyimpangkan gas darah ( respirasi asidosis ), mungkin
menandakan bahwa pasien menjadi lelah dan akan membutuhkan ventilasi mekanis, adalah criteria lain
yang menandakan kebutuhan akan perawatan di rumah sakit. Meskipun kebanyakan pasien tidak

membutuhkan ventilasi mekanis, tindakan ini digunakan bila pasien dalam keadaan gagal napas atau pada
mereka yang kelelahan dan yang terlalu letih oleh upaya bernapas atau mereka yang kondisinya tidak
berespons terhadap pengobatan awal.
2.

Pemeriksaan gas darah arteri

dilakukan jika pasien tidak mampu melakukan maneuver fungsi pernapasan karena obstruksi berat atau
keletihan, atau bila pasien tidak berespon terhadap tindakan. Respirasi alkalosis ( CO 2 rendah ) adalah
temuan yang paling umum pada pasien asmatik. Peningkatan PCO2 ( ke kadar normal atau kadar yang
menandakan respirasi asidosis ) seringkali merupakan tanda bahaya serangan gagal napas. Adanya
hipoksia berat, PaO2 < 60 mmHg serta nilai pH darah rendah.
3.

Arus puncak ekspirasi

APE mudah diperiksa dengan alat yang sederhana, flowmeter dan merupakan data yang objektif dalam
menentukan derajat beratnya penyakit. Dinyatakan dalam presentase dari nilai dungaan atau nilai tertinggi
yang pernah dicapai. Apabila kedua nilai itu tidak diketahui dilihat nilai mutlak saat pemeriksaan.
4.

Pemeriksaan foto thoraks

Pemeriksaan ini terutama dilakukan untuk melihat hal hal yang ikut memperburuk atau komplikasi
asma akut yang perlu juga mendapat penangan seperti atelektasis, pneumonia, dan pneumothoraks. Pada
serangan asma berat gambaran radiologis thoraks memperlihatkan suatu hiperlusensi, pelebaran ruang
interkostal dan diagfragma yang meurun. Semua gambaran ini akan hilang seiring dengan hilangnya
serangan asma tersebut.
5.

Elektrokardiografi

Tanda tanda abnormalitas sementara dan refersible setelah terjadi perbaikanklinis adalah gelombang P
meninggi ( P pulmonal ), takikardi dengan atau tanpa aritmea supraventrikuler, tanda tanda hipertrofi
ventrikel kanan dan defiasi aksis ke kanan.
1. E.

PENATALAKSANAAN MEDIS

Semua penderita yang dirawat inap di rumah sakit memperlihatkan keadaan obstruktif jalan napas yang
berat. Perhatian khusus harus diberikan dalam perawatan, sedapat mungkin dirawat oleh dokter dan
perawat yang berpengalaman. Pemantauan dilakukan secara tepat berpedoman secara klinis, uji faal paru
( APE ) untuk dapat menilai respon pengobatan apakah membaik atau justru memburuk. Perburukan
mungkin saja terjadi oleh karena konstriksi bronkus yang lebih hebat lagi maupun sebagai akibat
terjadinya komplikasiseperti infeksi, pneumothoraks, pneumomediastinum yang sudah tentu memerlukan
pengobatan lainnya. Efek samping obat yang berbahaya dapat terjadi pada pemberian drips aminofilin.
Dokter yang merawat harus mampu dengan akurat menentukan kapan penderita meski dikirim ke unit
perawatan intensif.
Penderita status asmatikus yang dirawat inap di ruangan, setelah dikirim dari UGD dilakukan
penatalaksaanan sebagai berikut.
1)

Pemberian terapi oksigen dilanjutkan

Terapi oksigen dilakukan megnatasi dispena, sianosis, danhipoksemia. Oksigen aliran rendah yang
dilembabkan baik dengan masker Venturi atau kateter hidung diberikan. Aliran oksigen yang diberikan
didasarkan pada nilai nilai gas darah. PaO2 dipertahankan antara 65 dan 85 mmHg. Pemberian sedative
merupakan kontraindikasi. Jika tidak terdapat respons terhadap pengobatan berulang, dibutuhkan
perawatan di rumah sakit.
2)

Agonis 2

Dilanjutkan dengan pemberian inhalasi nebulasi 1 dosis tiap jam, kemudian dapat diperjarang
pemberiannya setiap 4 jam bila sudah ada perbaikan yang jelas. Sebagian alternative lain dapat diberikan
dalam bentuk inhalasi dengan nebuhaler / volumatic atau secara injeksi. Bila terjadi perburukan, diberikan
drips salbutamol atau terbutalin.
3)

Aminofilin

Diberikan melalui infuse / drip dengan dosis 0,5 0,9 mg/kg BB / jam. Pemberian per drip didahului
dengan pemberian secara bolus apabila belum diberikan. Dosis drip aminofilin direndahkan pada
penderita dengan penyakit hati, gagal jantung, atau bila penderita menggunakan simetidin, siprofloksasin
atau eritromisin. Dosis tinggi diberikan pada perokok. Gejala toksik pemberian aminofilin perlu
diperhatikan. Bila terjadi mual, muntah, atau anoreksia dosis harus diturunkan. Bila terjadi konfulsi,
aritmia jantung drip aminofilin segera dihentikan karena terjadi gejala toksik yang berbahaya.
4)

Kortikosteroid

Kortikosteroid dosis tinggi intraveni diberikan setiap 2 8 jam tergantung beratnya keadaan serta
kecepatan respon. Preparat pilihan adalah hidrokortison 200 400 mg dengan dosis keseluruhan 1 4 gr /
24 jam. Sediaan yang lain dapat juga diberikan sebagai alternative adalah triamsiolon 40 80 mg,
dexamethason / betamethason 5 10 mg. bila tidak tersedia kortikosteroid intravena dapat diberikan
kortikosteroid per oral yaitu predmison atau predmisolon 30 60 mg/ hari.
5)

Antikolonergik

Iptropium bromide dapt diberikan baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan agonis 2secara inhalasi
nebulisasi terutama penambahan penambahan ini tidak diperlukan bila pemberian agonis 2 sudah
memberikan hasil yang baik.
6)
a)

Pengobatan lainnya
Hidrasi dan keseimbangan elektrolit

Dehidrasi hendaknya dinilai secara klinis, perlu juga pemeriksaan elektrolit serum, dan penilaian adanya
asidosis metabolic. Ringer laktat dapat diberikan sebagai terapi awal untuk dehidrasi dan pada keadaan
asidosis metabolic diberikan Natrium Bikarbonat.
b)

Mukolitik dan ekpetorans

Walaupun manfaatnya diragukan pada penderita dengan obstruksi jalan berat ekspektorans seperti obat
batuk hitam dan gliseril guaikolat dapat diberikan, demikian juga mukolitik bromeksin maupun Nasetilsistein.

c)

Fisioterapi dada

Drainase postural, fibrasi dan perkusi serta teknik fisioterapi lainnya hanya dilakukan pada penderita
hipersekresi mucus sebagai penyebab utama eksaserbasi akut yang terjadi.
d)

Antibiotic

Diberikan kalau jelas ada tanda tanda infeksi seperti demam, sputum purulent dengan neutrofil
leukositosis.
e)

Sedasi dan antihistamin

Obat obat sedative merupakan indikasi kontra, kecuali di ruang perawatan intensif. Sedangkan
antihistamin tidak terbukti bermanfaat dalam pengobatan asma akut berat malahan dapat menyebabkan
pengeringan dahak yang mengakibatkan sumbatan bronkus.
1. a.

Penatalaksanaan lanjutan

Setelah diberikan terapi intensif awal, dilakukan monitor yang ketat terhadap respon pengobatan dengan
menilai parameter klinis seperti sesak napas, bising mengi, frekuensi napas, frekuensi nadi, retraksi otot
bantu napas. APE, fotothoraks, AGD, kadar serum aminofilin, kadar kalium dan gula darah diperiksa
sebagai dasar tindakan selanjutnya.

1. b.

Indikasi perawatan intensif

Penderita yang tidak menunjukkan respon terhadap terapi intensif yangdiberikan perlu dipikirkan apakah
penderita akan dikirim ke unit perawatan intensif. Adapun penderita yang memerlukan perawatan intensif
yaitu
a.

Terdapat tanda- tanda kelelahan

b.

Gelisah, bingung, kesadaran menurun

c.

Terjadi henti napas ( PaO2 < 40 mmHg atau PaCO2 > 45 mmHg ) sesudah pemberian oksigen.

c. Penatalaksanaan lanjutan diruangan


Pada penderita yang telah menunjukkan respon yang baik terhadap pengobatan, terapi intensif dilanjutkan
paling sedikit 2 hari. Pada 2 5 hari pertama semua pengobatan intravena diganti, diberikan steroid oral
dan aminofilin oral serta agonis 2 dengan inhaler dosis terukur 6 8 x/ hari atau preparat oral 3 4
x/hari. Pada hari 5 10, steroid oral ( predmison, predmisolon ) diturunkan, obat agonis 2 dan aminofilin
diteruskan.

1. F.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Tanda tanda dehidrasi diidentifikasi dengan memeriksa turgor kulit. Masukan cairan penting untuk
melawan dehidrasi, mengencerkan sekresi, dan untuk memudahkan ekspektorasi. Cairan intravena
diberikan sesuai dengan yang diharuskan, hingga 3 sampai 4 L/hari, kecuali bila ada kontraindikasi.
Pemantauan terhadap pasien oleh perawat secara terus menerus, penting dilakukan dalam 12 sampai 24
jam pertama, atau sampai status asmatikus dapat diatasi. Energy pasien harus dihemat dan ruangan harus
tenang serta bebas dari iritan pernapasan, termasuk bunga, asap, tembakau, parfum, atau bau bahan
pembersih. Bantal nonalergik harus digunakan.
1. G. PENYULUHAN PASIEN
Penatalaksanaan lepas rawat
Sebagai patokan, penderita dapat dipulangkan bila :
a.

Tidak ada sesak waktu istirahat

b.

Bising mengi tidak ada atau minimal

c.

Retraksi otot bantu napas minimal

d.

Tidur sudah normal

e.

APE > 70 % dari nilai normal atau nilai terbaik

Selama minggu pertama penderita dipulangkan, diberikan pengobatan yang sama dengan hari hari
terakhir perawatan di rumah sakit. Yang terpenting adalah mengenai penggunaan steroid. Penurunan dosis
steroid 5 mg / hari baru dilakukan pada minggu kedua pasca perawatan. Pada penderita asma kronik yang
tergantung steroid penurunan steroid dilakukan sampai dosis rendah yang masih ditoleransi penderita,
sebaiknya diberikan dosis tunggal di pagi hari setiap hari atau selang hari. Kalau memungkinkan lebih
baik diberikan steroid aerosol.
Mendidik pasien merupakan bagian penting dari perawatan jika kekambuhan dan perwatan ulang
dipertahankan minimal. Pasien diinstruksikan untuk dengan segera melaporkan tanda tanda dan gejala
gejala yang menyulitka, seperti bangun saat malam hari dengan serangan akut, tidak mendapatkan
peredaan komplit dari penggunaan inhaler, atau mengalami infeksi pernapasan. Bronkodilator mungkin
diperlukan sepanjang waktu. Obat obat tertentu ( yaitu teofilin dan kortikosteroid ) dapat ditambahkan
atau dosisnya dinaikkan ketika terjadi serangan asmatik. Hidrasi adekuat harus dipertahankan di rumah
untuk menjaga sekresi agar tidak mengental. Pasien harus diingatkan bahwa infeksi harus dihindari
karena infeksi dapat mencetuskan serangan.
Aktivitas perawatan diri tertentu meningkatkan penggagalan serangan hebat dan memberikan suatu
kemadirian. Jika diresepkan teofilin oral kerja lama, instruksi yang cermat diberikan tentang bahaya
penggunaan yang berlebihan. Adrenergic 2-selektif, seperti metaproterenol atau albuterol, mungkin juga
diresepkan untuk pemberian mandiri dengan inhaler genggam dosis terukur. Bila bronkodilator ini tidak

berhasil, kortikosteroid ( kerja cepat, dosis besar ), biasanya prednisone, diresepkan. Intruksi tentang
penggunaan obat obat ini juga diberikan dan pasien disarankan untuk mencari perawatan tindak lanjut
sesuai kebutuhan.

KAJIAN KEPERAWATAN KRITIS


1. A. Pengkajian
a. Keluhan :
1. Sesak nafas tiba-tiba, biasanya ada faktor pencetus
2. Terjadi kesulitan ekspirasi / ekspirasi diperpanjang
3. Batuk dengan sekret lengket
4. Berkeringat dingin
5. Terdengar suara mengi / wheezing keras
6. Terjadi berulang, setiap ada pencetus
7. Sering ada faktor genetik/familier
2. B.

AIRWAY

Pengkajian:
Pada pasien dengan status asmatikus ditemukan adanya penumpukan sputum pada jalan nafas. Hal
ini menyebabkan penyumbatan jalan napas sehingga status asmatikus ini memperlihatkan kondisi pasien
yang sesak karena kebutuhan akan oksigen semakin sedikit yang dapat diperoleh.
Diagnose keperawatan :
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d penumpukan sputum
Intervensi :
a.

Amankan pasien ke tempat yang aman

R/ lokasi yang luas memungkinkan sirkulasi udara yang lebih banyak untuk pasien
b.

Kaji tingkat kesadaran pasien

R/ dengan melihat, mendengar, dan merasakan dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kesadaran
pasien
c.

Segera minta pertolongan

R/ bantuan segera dari rumah sakit memungkinkan pertolongan yang lebih intensif
d.

Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga ke mulut pasien

R/ mengetahui tingkat pernapasan pasien dan mengetahui adanya penumpukan sekret

e.
Berikan teknik membuka jalan napas dengan cara memiringkan pasien setengah telungkup dan
membuka mulutnya
R/ memudahkan untuk mengeluarkan sputum pada jalan napas
1. C. BREATHING
Pengkajian :
Adanya sumbatan pada jalan napas pasien menyebabkan bertambahnya usaha napas pasien untuk
memperoleh oksigen yang diperlukan oleh tubuh. Namun pada status asmatikus pasien mengalami nafas
lemah hingga adanya henti napas. Sehingga ini memungkinkan bahwa usaha ventilasi pasien tidak efektif.
Disamping itu adanya bising mengi dan sesak napas berat sehingga pasien tidak mampu menyelesaikan
satu kalimat dengan sekali napas, atau kesulitan dalam bergerak. Pada pengkajian ini dapat diperoleh
frekuensi napas lebih dari 25 x / menit. Pantau adanya mengi.
Diagnose keperawatan :
Ketidakefektifan pola napas b/d penurunan kemampuan bernapas
Intervensi :
a.

Kaji usaha dan frekuensi napas pasien

R/ mengetahui tingkat usaha napas pasien


b.

Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga pada hidung pasien serta pipi ke mulut pasien

R/ mengetahui masih adanya usaha napas pasien


c.

Pantau ekspansi dada pasien

R/ mengetahui masih adanya pengembangan dada pasien


1. D.

CIRCULATION

Pengkajian :
Pada kasus status asmatikus ini adanya usaha yang kuat untuk memperoleh oksgien maka jantung
berkontraksi kuat untuk memenuhi kebutuhan tersebut hal ini ditandai dengan adanya peningkatan denyut
nadi lebih dari 110 x/menit. Terjadi pula penurunan tekanan darah sistolik pada waktu inspirasi. Pulsus
paradoksus, lebih dari 10 mmHg. Arus puncak ekspirasi ( APE ) kurang dari 50 % nilai dugaan atau nilai
tertinggi yang pernah dicapai atau kurang dari 120 lt/menit. Adanya kekurangan oksigen ini dapat
menyebabkan sianosis yang dikaji pada tahap circulation ini.
Diagnose Keperawatan :
perubahan perfusi jaringan perifer b/d kekurangan oksigen
Intervensi :

pantau tanda tanda vital ( nadi, warna kulit ) dengan menyentuh nadi jugularis

R/ mengetahui masih adanya denyut nadi yang teraba


1. E.

DISABILITY

Pengkajian :
Pada tahap pengkajian ini diperoleh hasil bahwa pasien dengan status asmatikus mengalami penurunan
kesadaran. Disamping itu pasien yang masih dapat berespon hanya dapat mengeluarkan kalimat yang
terbata bata dan tidak mampu menyelesaikan satu kalimat akibat usaha napas yang dilakukannya
sehingga dapat menimbulkan kelelahan . Namun pada penurunan kesadaran semua motorik sensorik
pasien unrespon.
1. F. EXPOSURE
Pengkajian :
Setelah tindakan pemantauan airway, breathing, circulation, disability, dan exposure dilakukan, maka
tindakan selanjutnya yakni transportasi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang lebih intesif.

DAFTAR PUSTAKA

http://jhu-lee.blogspot.com/2011/02/askep-gadar-asmatikus.html
http://mydocumentku.blogspot.com/2012/11/asuhan-kegawatdaruratan-status-asmatikus.html
http://yunie-nurse.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-darurat-asma.html