Anda di halaman 1dari 20

INFEKSI SALURAN KEMIH

A. KONSEP MEDIS 1. Pengertian Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah sutatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001) Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998) Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen baru,septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998) Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001) 2. Etiologi 1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: - Pseudemonas, Proteus,klebsiella: penyebab ISK complicated - Escherichia coli:90% penyebab ISK uncomplicated - Enterobacter, Staphyloccoccus epidemidis, enterococci,dll. 2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain: - Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif - Mobilitas menurun - Nutrisi yang kurang baik - Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral - Adanya hambatan pada aliran urin - Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat 3. Patofisiologi Proses Penyakit Infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada 2 jalur utama terjadi ISK yaitu asending dan hematogen 1. Secara Asending yaitu : Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain : faktor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada laki- laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, Pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi 2. Secara Hematogen, yaitu : Sering terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara Hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu

adanya bendungan total urin yang yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya : Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik Sistem imunitas yang menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi gunjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar keseluruh traktus urinarius. Selain itu beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebt sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan perut ginjal, batu neoplasma dan hipertropi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki diatas 60 tahun. Klasifikasi Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut : 1. Kandung kemih (sistitis) Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik irin dari utetra kedalam kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. 2. Uretra (uretritis) Uretritis adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang di golongkan sebagai gonoreal atau non gonoreal. Uretritis gonoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis non gonoreal adalah uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum 3. Ginjal (pielonefritis) Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus dan jaringan intertisial dari dalah satu atau kedua ginjal

Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi : 1. ISK Uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. ISK Complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis, dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut : Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGK Gangguan daya tahan tubuh Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease. 4. Manifestasi klinis Uretritis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Mukosa memerah dan edema 2. Terdapat cairan eksudat yang purulent 3. Ada Ulserasi pada uretra 4. Adanya rasa gatal yang menggelitik 5. Good morning sign 6. Adanya nanah awal miksi 7. Nyeri pada awal miksi 8. Kesulitan untuk memulai miksi 9. Nyeri pada bagian abdomen Sistitis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Disuria (nyeri waktu berkemih) 2. Peningkatan frekuensi berkemih 3. Perasaan ingin berkemih 4. Adanya sel-sel darah putih dalam urin 5. Nyeri punggung bawah atau suprapubic 6. Demam yang disertai adanya darah dalam urin pada kasus yang parah.

Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala : 1. Demam 2. Menggigil 3. Nyeri pinggang 4. Disuria 5. Komplikasi : 1. Prostatitis 2. Epididimis 3. Striktura uretra 4. Sumbatan pada vasoepididinal 6. Pemeriksaan Penunjang 1. Urinalisis Leukosuria atau puria : merupakan salah satu bentuk adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/ lapang pandang besar (LBP) sediment air kemih. Hematuria : Hematuria positif bila 5 10 eritrosit/ LBP sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerolus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis Mikroskopis Biakan bakteri

3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni : hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes Tes dipstick multistrip untuk WBC ( tes esterase leukosit ) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase leukosit positif : maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organime menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonnorrhoeae, herpes simplek) . Tes - tes tambahan : Urogram Intravena (UIV), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis

atau hiperplasie prostat. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. 7. Penatalaksaan Medis Penanganan Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina. Terapi Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) pada usia lanjut dapat dibedakan atas : Terapi antibodika dosis tunggal Terapi antibiotika konvensional : 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama : 4-6 minggu Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan mencakup resiko : kekambuhan sulfisoxazole infeksi.penggunaan medikasi yang umum

(gastrisin),trimethoprim / sulfamethoxazole ( tpm / smz,bactrim,septra),kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan,tetapi E.Coli telah resisten terhadap bakteri ini.pyridium,suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidak nyamanan akibat infeksi.Dan dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra,untuk wanita harus membilas dari depan kebelakang untuk menghindari kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feces.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Pengumpulan data 1) Data Demografi a) Biodata Nama Usia Jenis kelamin Alamat Suku / bangsa Pendidikan Status pernikahan Agama / keyakinan Pekerjaan Diagnosa medik No. medical record Tanggal masuk Tanggal pengkajian Ruangan : Ny. Wd. Suharti : 48 Thn : Perempuan : Jln. Pendidikan : Muna/INA :: Menikah : Islam : Wiraswasta : Infeksi Saluran Kemih ( I S K ) :: 30-11-2011 : 30-11-2011 : Ruang Melati, RSUD Kab. Muna

b) Penanggung jawab Nama Usia Jenis kelamin Status Perkawinan Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Nomor Askes Hubungan dengan klien : Tn. Ld. Sahaba : 57 Thn : Laki Laki : Kawin : Islam : Muna/INA : SMA ::: 00001344544532 : Istri

2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat kesehatan sekarang Keluhan Utama Nyeri pada perut bagian bawah. Riwayat Keluhan Utama Nyeri dialami sejak 5 hari yang lalu dan terus menerus. Karena nyeri tidak pernah hilang akhirnya keluarga klien membawa ke RSUD Raha, nyeri

dirasakan terus menerus, hal-hal yang memberatkan yaitu pada saat duduk, nyeri di rasakan klien bertambah jika digerakkan dan berkurang jika istrahat, nyeri seperti di tusuk-tusuk dengan skala nyeri 4 (0-5) dengan durasi kurang lebih 5 menit. b) Riwayat kesehatan masa lalu. Klien tidak pernah menderita penyakit yang sama dan belum pernah di rawat di RSUD. Klien tidak pernah menderita alergi obat. Klien tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. c) Riwayat kesehatan keluarga Menurut klien tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama dengan klien. 3) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum klien Kesadaran Tanda-tanda vital Suhu Nadi Pernafasan Tekanan darah b) Sistem pernafasan Bentuk hidung simetris, tidak terdapat sekret, mukosa hidung kering, tidak ada nyeri tekan pada hidung, tidak ada pernapasan cuping hidung, bentuk leher simetris, tidak ada benjolan atau massa, bentuk dada simetris, pernapasan 28 X/Menit, tidak terdengar suara napas tambahan, tidak ada retraksi otot - otot dada. c) Sistem kardiovaskuler Bunyi jantung reguler, perkusi jantung pekak, palpasi denyut nadi terdengar atau teraba jelas 80 X/Menit, tekanan darah 130/80 mmHg CRT<2 detik, tidak ada pembesaran area jantung. d) Sistem perncernaan Bibir lembap, tidak ada stomatitis, jumlah gigi lengkap (32), lidah bebas bergerak, refleks menelan baik, terdengar peristaltik usus 8x/menit, nyeri tekan pada abdomen, tidak teraba pembesaran hepar dan lien, terdengar bunyi timpani. : Lemas : Compos mentis : : 370 c : 80 X/Menit : 28 X/Menit : 130/80 mmHg

e) Sistem Reproduksi Tidak dilakukan pemeriksaan f) Sistem Perkemihan Tidak ada pembesaran ginjal, terdapat nyeri tekan pada daerah supra pubis, tidak terpasang kateter, nyeri pada pinggul pada saat BAK, g) Sistem endokrin Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan paratiroid, tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada riwayat diabetes melitus. h) Sistem Mosculosceletal Bentuk ekstremitas atas dan bawah simetris, terpasang impus pada tangan kanan klien yaitu RL 28 tetes/menit, kaki dapat digerakkan secara maksimal, tidak terdapat udema, distraminitas atas kekuatan otot 5 5, maupun ekstremitas bawah dengan kekuatan 5 5, tidak terdapat farises di kaki. i) Sistem integumen Tidak terdapat luka pada kulit, bibir terlihat kering, kulit teraba lembab, suhu aksila 37o c . j) Sistem saraf Nervus I (olvactorius) Nervus II ( Optikus ) : Fungsi penciuman baik. : Fungsi penglihatan baik. : fungsi kontraksi terhadap cahaya baik. Nervus V (Trigeminus) Nervus VII (fasialis) Nervus VIII (Auditorius) : dapat merasakan usapan : mampu merasakan rasa asin, manis dan pahit. : klien dapat mendengarkan bunyi dengan baik Nervus IX (Glasofaringeus) : Mampu menelan Nervus X (Vagus) Nervus XI (Assesorius) Nervus XII (Hipoglosus) : Mampu bersuara : Mampu menoleh dan mengangkat bahu. : Mampu menggerakan lidah.

Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, troklearis, abdusen )

4) Aktivitas Sehari-Hari No Pola aktifitas 1. Nutrisi a. Makanan Frekuensi Porsi Jenis b. minum Jenis 2. Jumlah Personal higiene a. mandi b. keramas 3. c. gosok gigi Pola eleminasi a. BAK Frekuensi warna b. BAB Frekuensi Warna 4. konsistensi Istrahat tidur a. Tidur siang b. Tidur malam 5 Aktifitas gerak 2 x 1 hari Kuning lembek Klien jarang tidur siang 1 x 1 hari Kuning keras Klien tidur siang jam 14.0015.00 wib 6-7 jam yaitu jam 22.00-05.00 Klien mengatakan kadangwib kadang terbangun karena nyeri Klien dapat beraktifitas secara Klien mengatakan bergerak di mandiri tanpa bantuan orang lain tempat tidur secara terbatas, ADL klien di bantu oleh keluarga dan perawat 3-5 x 1 hari Kuning kemih 2 x 1 hari Keabu-abuan, bau menyengat 3 x sehari 1 piring makan Nasi, lauk pauk, sayur Air putih, teh 7-8 gelas ( 1400 cc 1600 cc / hari 3 x sehari, nafsu makan kurang porsi makan bubur tim Tempe, tahu, sayur. Air putih 6-7 gelas ( 1200 cc -1400 cc / hari Sebelum masuk RS Sesudah masuk RS

2 x 1 hari dengan air dingin Belum pernah diguyur 2 x 1 minggu dengan sampo 2 x 1 hari dengan pasta gigi Belum pernah Belum pernah

5) Data psikososial

Klien hidup rukun dengan sesama anggota masyarakat di lingkunganya dan saling membutuhkan satu sama yang lain.

6) Data psikologis Klien tampak cemas, gelisah dan ekspresi wajah meringis. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. 7) Data spritual Klien beragama Islam dan taat beribadah. b. Pengelompokan data Data subyektif : Klien mengeluh nyeri saat berkemih Klien mengeluh sakit pinggang saat berkemih Klien mengeluh tidak ada nafsu makan, rasa mual dan muntah Klien sering menanyakan tentang penyakitnya.

Data Obyektif : Wajah tampak meringis Skala nyeri 4 (0-5) Klien berkemih kurang dari normal (< 1-2 liter / hari ) Warna keabu-abuan dengan bau menyengat Adanya leukosit, eritrosit, dan bakteri dalam urine Suhu aksila 37oc Nafsu makan berkurang porsi bubur tim Porsi makan tidak di habiskan Klien tampak cemas Klien tampak gelisah

c. Analisa data

No 1

Problem Nyeri

Etiologi Kelainan kongenital Kelainan anatomi Ureter sempit Penimbunan cairan dan kuman

Simpton Ds : Klien mengeluh nyeri saat berkemih Klien mengeluh sakit pinggang saat berkemih Do : Ekspresi meringis. Skala nyeri 4 (0-5) Suhu aksila 37oc wajah

Perkembangan kuman ISK Respon peradangan Rasa sakit dan panas pada simpisis disuria 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Nyeri Adanya mikroorganisme ISK Uretra Infeksi Obstruksi Jaringan parut Distensi nyeri pinggang Refleks renointestin Mual, muantah, anoreksia -

Ds : Klien mengeluh tidak ada nafsu makan Klien mengeluah Rasa mual dan muntah Do : Nafsu makan berkurang Porsi makan tidak di habiskan Makan porsi bubur tim

Perubahan nutrisi 3 Kerusakan eleminasi urine kurang dari kebutuhan ISK Ds : Respon peradangan Terjadi peradangan pada mukosa Kandung kemih tidak kuat menampung urine Polakisuria urgensi Kerusakan eleminasi urine d. Prioritas Keperawatan 1) Nyeri 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan 3) Kerusakan eleminasi urine 2. Diagnosa keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos sekunder terhadap infeksi di tandai dengan : Ds : Do : Ekspresi wajah meringis. Skala nyeri 4 (0-5) Klien mengeluh nyeri saat berkemih Klien mengeluh sakit pinggang saat berkemih Klien mengeluh nyeri saat berkemih Klien mengeluh sakit pinggang saat berkemih Do : Klien berkemih kurang dari normal (< 1-2 liter / hari ) Warna Adanya eritrosit, dan dalam urine keabu-abuan leukosit, bakteri dengan bau menyengat

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan anoreksia yang di tandai dengan : Ds : Do : Nafsu makan berkurang Porsi makan tidak di habiskan Makan porsi bubur tim Klien mengeluh tidak ada nafsu makan Klien mengeluah Rasa mual dan muntah

c. Kerusakan eleminasi urine berhubungan dengan infeksi traktus urinaria yang di tandai dengan : Ds : Do : Klien berkemih kurang dari normal (< 1-2 liter / hari ) Warna keabu-abuan dengan bau menyengat Adanya leukosit, eritrosit, dan bakteri dalam urine Klien mengeluh nyeri saat berkemih Klien mengeluh sakit pinggang saat berkemih

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC. Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC. Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

3. Perencanaan
No. DX Tujuan Intervensi Rasional

1.

Nyeri berhubungan dengan Tupan : inflamasi dan spasme otot Setelah dilakukan tindakan polos Ds : Do : Ekspresi meringis. Skala nyeri 4 (0-5) wajah sekunder terhadap keperawatan 3 hari, diharapkan rasa nyeri hilang dengan kriteria tidak Klien mengeluh nyeri melaporkan adanya nyeri dan saat berkemih tidak meringis. Klien mengeluh sakit Tupen : pinggang saat berkemih Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 hari, nyeri berangsur-angsur berkurang dengan criteria : Klien mengatakan nyeri berkurang Ekspresi wajah tenang Nyeri skala 2 (0-5) infeksi di tandai dengan :

1. Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi, 1. Petunjuk untuk menentukan intervensi intensitas dan penyebaran 2. Ajarkan posisi yang nyeri 4. Pantau tanda-tanda vital yang cocok dan mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan teknih relaksasi perubahan 2. Untuk menghilangkan ketegangan dan meningkatkan relaksasi otot. dan mengurangi ketegangan. 4. Karena respon otonomi pada nyeri yaitu tekanan meningkat. 5. Kolaborasi dalam pemberian obat 5. Untuk menurunkan atau mengontrol rasa nyeri. analgetik sesuai indikasi darah meningkat, nadi

3. Berikan kompres hangat pada daerah 3. Akan meningkatkan sirkulasi pada otot

Perubahan nutrisi kurang dari Tupan : Setelah dilakukan tindakan kebutuhan berhubungan keperawatan selama 3 hari, anoreksia yang di tandai kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi dengan kriteria dengan : mual, muntah (-), nafsu Ds : makan baik, berat badan stabil(naik), makan 3 x 1 - Klien mengeluh tidak perhari porsi dihabiskan ada nafsu makan Klien Rasa Do : mengeluah mual

1. Kolaborasi antipiretik

pemberian 1. Karena dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi 2. Kaji adanya mual dan muntah 2. Untuk mengurangi rangsangan pada pusat muntah 3. Libatkan orang terdekat dalam 3. Untuk mengidentifikasi kekurangan perawatan dan aktivitas nutrisi kebutuhan 4. Berikan makanan sedikit dan sering 4. Makan sedikit tapi sering dapat menghindari terjadinya muntah 5. Mengetahui perkembangan BB klien

dalam

Tupen : dan Setelah dilakukan tindakan 5. Timbang BB setelah 2 hari keperawatan selama 1 hari, muntah sedikit demi sedikit mampu kebutuhan nutrisi terpenuhi, Nafsu makan dengan kriteria : - Pasien menghabiskan berkurang porsi makannya Porsi makan tidak di habiskan Makan porsi bubur tim

Kerusakan eleminasi urine Tupan : 1. Klien minum dengan bebas 1. Dengan minum air mendukung aliran Setelah dilakukan tindakan darah renal dan untuk membilas bakteri berhubungan dengan infeksi keperawatan selama 3 hari dari traktus urinaria. traktus urinaria yang di tandai pasien dapat berkemih 2. Klien di anjurkan untuk berkemih 2. Untuk mengosongkan kandung kemih, dengan normal, dengan dengan : setiap 2 3 jam karena hal ini secara signifikan kriteria : menurunkan jumlah bakteri dalam urine, Ds : - Urine tidak berwarna mengurangi statis urine, dan mencegah keabu-abuan dengan bau - Klien mengeluh nyeri yang khas kekambuhan infeksi. saat berkemih - Tidak terdapat adanya leukosit, eritrosit, dan - Klien mengeluh sakit bakteri pinggang saat berkemih Do : Klien berkemih kurang dari normal (< 1-2 liter / hari ) Warna Adanya eritrosit, dalam urine keabu-abuan leukosit, dan bakteri dengan bau menyengat Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 hari, kerusakan eleminasi urine berangsur-angsur berkurang dengan criteria : - Klien tidak mengeluh nyeri saat berkemih - Klien tidak mengeluh sakit pinggang saat berkemih

No.
1

Hari/ Tgl
2

No. Dx
3

Jam
4

Implementasi
5

Paraf
6

Hari/ Tgl
7

Evaluasi
8

1. Mengkaji -

tingkat

nyeri,

perhatikan

lokasi,

intensitas dan penyebaran (skala nyeri 3 (0-5) Klien dalam posisi yang nyaman Klien di kompres : 370 c : 80 X/Menit : 28 X/Menit : 130/80 mmHg 2. Mengajarkan teknih relaksasi perubahan posisi 3. Berikan kompres hangat pada daerah yang nyeri 4. Pantau tanda-tanda vital Suhu Nadi Pernafasan Tekanan darah indikasi Antrain 1 amp / 8 jam

S: - Klien mengatakan nyeri agak berkurang O: - Ekspresi wajah tenang - Nyeri skala 3 (0-5) A: - Masalah belum teratasi tetapi ada kemajuan P: - Lanjutkan semua intervensi 1,2,3,4,5

5. Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik sesuai

1. Mengkolaborasikan dalam pemberian antipiretik - Metoclorpropamid 1 amp / 8 jam 2. Mengkaji adanya mual dan muntah - Mual (+) - Muntah (-) 3. Melibatkan orang terdekat dalam perawatan dan aktivitas - Keluarga klien di libatkan 4. Memberikan makanan sedikit dan sering - Porsi makan di sesuaikan 5. Menimbang BB setelah 2 hari -

S: - Klien mengatakan nafsu makan meningkat, mual (+), muntah (-) O: - Berat badan stabil, porsi makan 3 x 1 hari porsi di habiskan A: - Masalah sedikit teratasi P: - Pertahankan intervensi

1. Klien minum dengan bebas - Klien banyak minum 2. Menganjurkan klien untuk berkemih setiap 2 3 jam - Klien berkemih setia 2-3 jam

S: - Klien mengatakan berkemih dengan normal. O: - Urine berwarna normal dengan bau yang khas, tidak ada eritrosit, leukosit, dan bakteri. A: - Masalah teratasi