PROPOSAL
GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2025
ILHAM
NIM.22.03.060
PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR
2025
ii
LEMBAR PENGAJUAN JUDUL
GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2025
PROPOSAL
Di ajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan
Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Disusun dan diajukan oleh
ILHAM
NIM.22.03.060
YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG
MAKASSAR PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI
KESEHATAN MAKASSAR 2025
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
PROPOSAL PENELITIAN
GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2024
Disusun oleh :
ILHAM
NIM.22.03.060
Menyetujui
Tim Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Ns. Muaningsi, M.Kep, Sp.Kep. Mat Nofianti, SKM. S.Kep, Ns, M.Kep
Mengetahui
Ketua Program Studi D3 Rekam
Medis dan Informasi Kesehatan
Dr. H. Muh. Thabran Talib, SKM., S.Kep.,Ns., M
iii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGAJUAN JUDUL........................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................4
D. Manfaat Penulisan........................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORI..................................................................................6
A. Tinjauan Umum Demam Berdarah Dengue (DBD).....................................6
B. Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue.........................................11
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...........................................................13
A. Rancangan Penelitian.................................................................................13
B. Variabel dan Definisi Operasional.............................................................13
C. Populasi, Sampel Metode Pengambilan Sampel........................................14
D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................16
E. Teknik Pengolahan Data............................................................................16
F. Teknik Analisis Data..................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................17
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa serta
berpotensi menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Di Indonesia,
DBD merupakan penyakit endemis dengan angka kejadian dan kematian yang
cukup tinggi dalam waktu singkat (Ashari Rasjid et al, 2025).
World HealthOrganization (WHO) melaporkan bahwa kasus DBD di
dunia terus meningkat dari 2,2 juta pada tahun 2010 menjadi lebih dari 3,34
juta pada tahun 2016 dan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai
wilayah di dunia khususnya pada negara – negara tropis. Wilayah Amerika
melaporkan lebih dari 2,38 juta kasus pada tahun 2016, Brasil dengan kasus
kurang dari 1,5 juta kasus, sekitar 3 kali lebih tinggi dari tahun 2014 dan
sekitar 1032 kematian akibat dengue juga dilaporkan di wilayah tersebut.
Wilayah Pasifik Barat melaporkan lebih dari 375.000 kasus dugaan demam
berdarah pada tahun 2016, di mana Filipina melaporkan 176.411 dan Malaysia
100.028 kasus, mewakili beban yang sama dengan tahun sebelumnya untuk
kedua Negara (Irma & Masluhiya, 2021).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu
penyakit menular berbahaya yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu
1
2
singkat dan sering menimbulkan wabah (Sukohar, 2014). Penyakit ini pertama
kali ditemukan di Manila Filipina pada tahun 1953 dan 5 6 selanjutnya
menyebar ke berbagai negara. Demam berdarah paling umum terjadi di Asia
Tenggara dan kepulauan Pasifik Barat, tetapi juga telah meningkat dengan
cepat di Amerika Latin dan Karibia (Adli, 2020). Sejak tahun 1968 hingga
tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia
sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Sukohar A,
2014).
Tren kejadian penyakit DBD dalam 5 tahun terakhir masih
mengalami instabilitas setiap tahunnya. Jumlah kumulatif kasus DBD pada
tahun 2020 dilaporkan sebanyak 103.781 kasus dengan 661 kematian, pada
tahun 2021 dilaporkan sebanyak 108.303 kasus dengan 747 kematian, pada
tahun 2022 dilaporkan sebanyak 87.501 kasus (IR31,38/100.000
penduduk) dengan angka kematian 816 kasus (CFR 0,93%), pada tahun
2023 dilaporkan sebanyak 35.694 kasus dengan 894 kematian, dan pada
tahun 2024 minggu ke-17 tercatat 88.593 kasus dengan angka kematian
sebanyak 621 kasus (Kemenkes RI, 2024: 1). Terjadi pemendekan siklus
tahunan dari 10 tahun menjadi 3 tahun bahkan kurang, yang disebabkan oleh
fenomena El Nino (Wahyuni et al., 2024).
Kota Makassar, sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, memiliki
jumlah kasus DBD tertinggi pada tahun 2020, yakni 175 kasus. Pada tahun
2021, jumlah penderita meningkat menjadi 583 orang, dengan distribusi 294
laki-laki dan 289 perempuan. Angka terjadinya DBD di Kota Makassar pada
3
tahun 2021 tercatat sebesar 39,3% per 100.000 penduduk (Dinas Kesehatan
Kota Makassar, 2021).
Sejarah Epidemiologi DBD di Indonesia dimulai pada tahun 1968
ketika kasus pertama kali terdeteksi di Jakarta. Sejak saat itu, DBD telah
menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, dengan beberapa daerah menjadi
endemic. Penelitian oleh putra et al. (2021) menunjukan bahwa wilayah
dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi sanitasi yang buruk memiliki
risiko lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu, penting
untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap epidemiologi
DBD guna mengembangkan strategi pengendalian yang efektif (Saputra Arfah
et al , 2024).
Penelitian epidemiologi memiliki peran penting dalam pengendalian
penyakit, termasuk DBD. Dengan menganalisis data epidemiologis, kita dapat
mengidentifikasi pola distribusi kasus, faktor risiko, serta dampak social dan
ekonomi dari DBD. Hal ini dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan
dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat dan efektif dalam
mengendalikan penyakit ini. Misalnya penelitian oleh (Nur, 2023),
menunjukan adanya hubungan iklim dan peningkatan kasus DBD di beberapa
wilayah di Indonesia. Data ini sangat penting untuk merencanakan langkah-
langkah pencegahan yang lebih baik di masa depan.
Berdasarkan hasil data di Rumah Sakit Bhayangkara terdapat 351 kasus
DBD pada tahun 2023, dan terjadi peningkatan kasus DBD pada tahun 2024
sebanyak 713, yang Dimana kasus DBD pada tahun 2024 menjadi yang
4
tertinggi di Rumah sakit Bhayangkara,dari tahun sebelumnya yaitu 351 kasus,
terjadi peningkatan 100%, dan pada tahun 2025 dari bulan Januari-Maret
kasus DBD sebanyak 690.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Gambaran Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue
(DBD) berdasarkan data rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara pada
triwulan 1 Januari-Maret 2025
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue
di Rumah Sakit Bhayangkara pada triwulan 1 Januari-Maret tahun 2025
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jumlah kasus Demam Berdarah
Dengue berdasarkan umur pada triwulan 1 Januari-Maret 2025.
b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jumlah kasus Demam Berdarah
Dengue berdasarkan jenis kelamin pada triwulan 1 Januari-Maret
2025.
c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kasus Demam Berdarah Dengue
berdasarkan wilayah Rumah Sakit.
d. Untuk mengetahui data perkambangan tren penyakit Demam Berdarah
Dengue.
5
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai masukan dan referensi bagi institusi sekolah tinggi ilmu
kesehatan panakkukang. Khususnya bagi program studi D-3 Rekam
Medis dan Informasi Kesehatan.
b. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis khususnya di bidang rekam medis dan informasi
kesehatan.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan masukan untuk Rumah Sakit Bhayangkara terhadap
tinjauan epidemiologi pada kasus penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) Di Rumah Sakit Bhayangkara.
b. Sebagai pedoman bagi tenaga rekam medis dalam meningkatkan
pengetahuan tinjauan epidemiologi pada kasus penyakit DBD.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Umum Demam Berdarah Dengue (DBD)
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Pengertian Demam Berdarah Dangue (DBD)
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang
disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui
gigitan nyamuk Aedes (Ae). Ae aegypti merupakan faktor yang paling
utama, namun spesies lain seperti Ae.albopictus juga dapat menjadi vektor
penular. Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan laut. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
banyak dijumpai terutama di daerah tropis dan sering menimbulkan
kejadian luar biasa (KLB). Beberapa faktor yang mempengaruhi
munculnya DBD antara lain rendahnya status kekebalan kelompok
masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya
tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan
(Kemenkes RI, 2015).
Demam berdarah atau demam dengue (DBD) adalah infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue. Dengue virus ditularkan (atau disebarkan)
sebagian besar oleh nyamuk Aedes aegypti. Tubuhnya kecil berwarna
hitam dengan bintik-bintik putih Nyamuk tersebut lebih sering
menggigit pada
6
7
siang hari. Satu gigitan dapat menginfeksi manusia. Aedes aegypti bersifat
diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit
dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap
darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang
diperlukannya untuk memproduksi telur.
Terdapat empat jenis virus dengue. dengue tipe 1, dengue tipe 2,
dengue tipe 3 dan dengue tipe 4. Sedangkan di Indonesia, virus dengue tipe
3 lah yang paling mendominasi. Apabila seseorang telah terinfeksi satu
jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur
hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya
dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus
tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius (Ismah et al.,
2021).
Dapat disimpulkan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan
dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk. Panyakit ini seringkali terjadi
saat memasuki musim hujan atau saat peralihan musim. Umumnya,
nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembangbiak di air menggenang
yang bersih. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pencegahan demam
berdarah yang efektif yaitu melalui PSN 3M Plus.
b. Etiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Sampai saat ini dikenal ada
4 serotype virus yaitu ; 1. Dengue 1 (DEN 1) diisolasi oleh Sabin pada
tahun1944. 2. Dengue 2 (DEN 2) diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944. 3.
8
Dengue 3 (DEN 3) diisolasi oleh Sather 4. Dengue 4 (DEN 4) diisolasi oleh
Sather. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses
(arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai
daerah di Indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3.
Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue type 3 merupakan serotype
virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat.
c. Faktor risiko Demam Berdarah Dengue (DBD)
Faktor individu maupun kehidupan sosial manusia (host) memiliki
pengaruh terhadap penularan DBD. Faktor individu yang paling dominan
dalam penularan DBD adalah umur. Meskipun saat ini penularan pada usia
dewasa ceriderung meningkat, akan tetapi angka kematian tertinggi pada
kelompok umur 5-14 tahun. Pada kelompok usia anak-anak lebih rentan
terkena DBD. Kejadian DBD serta derajat keparahan pada anak juga
dipengaruhi oleh status gizi. Tidak hanya status gizi kurang, pada anak
dengan status gizi berlebih juga berpengaruh terhadap derajat keparahan
infeksi dengue. Kasus DBD pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan
dengan anak perempuan, hal ini disebabkan anak perempuan lebih efisien
dalam memproduksi immunoglobulin dan antibody dibandingkan anak
laik- laki (Ismah et al., 2021).
Faktor pengetahuan dan perilaku individu turut berpengaruh dalam
penularan DBD.Mereka yang berpengetahuan baik memiliki hubungan
yang signifikan dengan kejadian DBD Kebiasaan tidur di siang hari,
kebiasaan menggantung pakaian, penggunaan repelen pada siang hari,
kebiasaan
9
melakukan pembersihan tempat perkembangbiakan nyamuk yang dikenal
dengan 3M (menguras, menutup dan mengubur/mendaur ulang). Serta
kepemilikan tempat penampungan air (TPA) yang berpotensi sebagai
tempat perkembangbiakan nyamuk memiliki risiko antara 2-5 kali
kemungkinan terjangkit DBD.
d. Patofisiologi dan Patogenesis Demam Berdarah Dengue (DBD)
Patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan
demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya
permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma,
terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik.
Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan
menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran
plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan
mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningginya nilai
hematokrit.
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam
berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian
besar menganut "the secondary heterologous infection hypothesis" yang
mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi
dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang
berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6
bulan sampai 5 tahun. Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan hipotese
infeksi sekunder dicoba dirumuskan oleh Suvatte dan dapat dilihat pada
gambar.
10
e. Ciri-ciri terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD)
1) Demam tinggi
Ciri-ciri demam berdarah yang paling umum terjadi adalah
perubahan suhu secara tiba-tiba yang bisa mencapai 40°C. Demam dapat
berlangsung hingga 2–7 hari, tetapi suhu tubuh biasanya akan turun pada
hari ke-4 atau ke-5, lalu akan naik kembali di hari berikutnya.
Selama demam mereda, bukan berarti penyakit demam berdarah
sudah sepenuhnya sembuh, justru proses peradangan masih terus terjadi
di dalam tubuh.
2) Ruam pada kulit
Selain demam tinggi, ruam merah di kulit juga dapat muncul di
bagian wajah, leher, hingga dada. Umumnya, ruam tersebut timbul
setelah demam dan berlangsung selama 1–5 hari.
Ruam pada kulit penderita demam berdarah akan berwarna
kemerahan dan berbentuk bintik-bintik yang saling berdekatan, sehingga
kulit normal di sekitarnya seolah-olah tampak seperti bercak putih.
3) Sakit kepala
Ciri-ciri demam berdarah lainnya yang muncul adalah sakit
kepala, terutama di sekitar dahi hingga bagian belakang mata. Sakit
kepala biasanya terasa sangat berat hingga membuat penderitanya sulit
beraktivitas.
11
4) Nyeri otot
Selain sakit kepala, penderita demam berdarah juga sering kali
merasakan nyeri pada otot, tulang, dan sendi sehingga menimbulkan
rasa tidak nyaman. Keluhan nyeri ini biasanya akan muncul bersamaan
dengan demam tinggi.
5) Mual dan muntah
Ciri demam berdarah lainnya adalah mual atau muntah. Keluhan
ini sering kali membuat penderitanya tidak kuasa untuk makan dan
minum, sehingga rentan mengalami kekurangan nutrisi, bahkan
berisiko mengalami komplikasi berupa dehidrasi.
Pada kasus yang lebih berat, demam berdarah juga dapat memicu
perdarahan, seperti mimisan yang tak kunjung berhenti, gusi berdarah
tanpa sebab, dan muntah atau buang air besar berdarah.
B. Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit
menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan
sering dan menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila
Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di
Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya
dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%), akan tetapi
konfirmasi virologis baru dapat pada tahun 1972. Selanjutnya sejak saat itu
penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air
Indonesia, sehingga sampai tahun
12
1980 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini
erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan
semakin lancarnya hubungan transpotasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data dokumentasi yang
bertujuan untuk memberikan gambaran kejadian DBD yang berada di
Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Data dikumpulkan dengan melihat data
laporan Rumah Sakit atau data register kunjungan penyakit di Rumah Sakit.
Lokasi Penelitian: RS Bhayangkara Makassar bertempat di Jl. Letnan Jenderal
Andi Mappaodang No.63,, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Waktu Penelitian, untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan oleh penulis
dalam Menyusun penelitian ini, maka penulis membutuhkan waktu Penelitian
ini akan dilakukan pada bulan Juni 2025.
B. Variabel dan Definisi Operasional
Tabel 1. Variabel dan definisi operasional
No Variabel Definisi operasional Indikator
1 Usia Usia adalah kelompok umur Anak: 0–12
pasien saat melakukan tahun
kunjungan ke Rumah Sakit Remaja: 13–18
yang tercatat mengalami tahun
DBD Dewasa: 19–59
tahun
Lansia: ≥60
tahun
13
14
2 Jenis kelamin Jenis kelamin adalah identitas - Laki-laki
biologis pasien yang tercatat - Perempuan
sebagai penderita DBD
Wilayah diidentifikasi
3 Wilayah dengan menggunakan Alamat
Rumah lengkap responden,yang - Makassar
Sakit mencakup Tingkat
administrasi seperti desa,
kecamatan, Kota, atau
Provinsi.
Tren peningkatan kasus,
4 Tren Penyakit terutama Demam Berdarah
Dengue Januari-Maret
C. Populasi, Sampel Metode Pengambilan Sampel
1. Populasi
Seluruh data Rekam Medis pasien dan laporan Rumah sakit yang
tercatat menderita Demam Berdarah Dengue Di Rumah Sakit Bhayangkara
Makassar selama bulan Januari-Maret tahun 2025
2. Sampel
Menggunakan total populasi (total sampling) yaitu seluruh data
kasus Demam Berdarah Dengue yang tersedia dalam laporan Rumah Sakit
selama bulan Januari-Maret tahun 2025, data yang digunakan adalah data
sekunder..
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yaitu
observasi, telaah dokumen dan dokumentasi dengan menyalin atau mencatat
15
data sekunder laporan Rumah Sakit atau data registrasi kunjungan penyakit,
yang memuat informasi tentang jumlah kasus Demam Berdarah Dengue
E. Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang di gunakan yaitu dengan menggunakan
aplikasi microsoft excel pada komputer.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif,
analisis deskriptif adalah penelitian dengan metode untuk menggambarkan
suatu hasil penelitian. Jenis penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk
memberikan deskripsi, penjelasan, juga validasi mengenai fenomena yang
tengah diteliti.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Muh.Arfah Saputra Samad, Indasah, N. (2024) ‘Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal
Ilmiah STIKES Kendal’, Peran Mikronutrisi Sebagai Upaya Pencegahan
Covid-19, 14(3), pp. 75–82. Available at:
https://journal2.stikeskendal.ac.id/index.php/PSKM/article/view/1979/126
0.
Ashari Rasjid, zaenab, Haerani, R. (2025) ‘GEMAKES : Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat The Aplication Of Green Tea Leaf Extract As An
Insecticide In The Prevention Of Dengue Fever Mosquitoes ( Aedes
aegypti
) In Banta-Bantaeng Pendahuluan Demam Berdarah Dengue Beberapa
faktor yang merupakan pen’, 5, pp. 52–56. doi:
10.36082/gemakes.v5i1.1866.
Irma, I. and Masluhiya AF, S. (2021) ‘Trend Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Sulawesi Tenggara Berbasis Ukuran Epidemiologi’, JUMANTIK
(Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan), 6(1), p. 70. doi:
10.30829/jumantik.v6i1.7968.
Ismah, Z. et al. (2021) ‘Faktor Risiko Demam Berdarah di Negara Tropis’,
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, 13(2), pp. 147–
158. doi: 10.22435/asp.v13i2.4629.
Kemenkes RI (2015) Profil Kesehatan RI 2015, Profil Kesehatan Indonesia
Tahun 2015. Available at:
https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-Tahun-2015.pdf.
Nur, A. W. (2023) ‘Epidemiologi Kejadian DBD Dan Upaya Pencegahan
Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Suli Skripsi’, AT-TAWASSUTH:
Jurnal Ekonomi Islam, VIII(I), pp. 1– 19.
Sukohar A (2014) ‘Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Demam Berdarah
Dengue ( DBD ) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung’, Medula,
2(2), pp. 1–15.
Wahyuni, S. et al. (2024) ‘Gambaran Epidemiologi dan Pengendalian Penyebaran
Penyakit Demam Berdarah di Kabupaten Bireuen Tahun 2024’,
Jikes:Jurnal Ilmu Kesehatan, 2024(1), pp. 35–43.