0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
285 tayangan22 halaman

Revisi Setelah Sempro Ilham

Proposal ini membahas gambaran epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Bhayangkara pada tahun 2025, dengan fokus pada data rekam medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi frekuensi kasus berdasarkan umur, jenis kelamin, dan wilayah, serta memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap epidemiologi DBD. DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, dengan angka kejadian yang terus meningkat di Indonesia.

Diunggah oleh

ib176653
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
285 tayangan22 halaman

Revisi Setelah Sempro Ilham

Proposal ini membahas gambaran epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Bhayangkara pada tahun 2025, dengan fokus pada data rekam medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi frekuensi kasus berdasarkan umur, jenis kelamin, dan wilayah, serta memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap epidemiologi DBD. DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, dengan angka kejadian yang terus meningkat di Indonesia.

Diunggah oleh

ib176653
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE

(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2025

ILHAM

NIM.22.03.060

PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR

2025

ii
LEMBAR PENGAJUAN JUDUL

GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE

(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2025

PROPOSAL

Di ajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan

Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Disusun dan diajukan oleh

ILHAM

NIM.22.03.060

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG

MAKASSAR PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI

KESEHATAN MAKASSAR 2025

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE

(DBD) DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TAHUN 2024

Disusun oleh :

ILHAM

NIM.22.03.060

Menyetujui

Tim Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Muaningsi, M.Kep, Sp.Kep. Mat Nofianti, SKM. S.Kep, Ns, M.Kep

Mengetahui

Ketua Program Studi D3 Rekam

Medis dan Informasi Kesehatan

Dr. H. Muh. Thabran Talib, SKM., S.Kep.,Ns., M

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGAJUAN JUDUL........................................................................ii


HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................4
D. Manfaat Penulisan........................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORI..................................................................................6
A. Tinjauan Umum Demam Berdarah Dengue (DBD).....................................6
B. Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue.........................................11
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...........................................................13
A. Rancangan Penelitian.................................................................................13
B. Variabel dan Definisi Operasional.............................................................13
C. Populasi, Sampel Metode Pengambilan Sampel........................................14
D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................16
E. Teknik Pengolahan Data............................................................................16
F. Teknik Analisis Data..................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................17

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang

disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

aegypti. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa serta

berpotensi menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Di Indonesia,

DBD merupakan penyakit endemis dengan angka kejadian dan kematian yang

cukup tinggi dalam waktu singkat (Ashari Rasjid et al, 2025).

World HealthOrganization (WHO) melaporkan bahwa kasus DBD di

dunia terus meningkat dari 2,2 juta pada tahun 2010 menjadi lebih dari 3,34

juta pada tahun 2016 dan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai

wilayah di dunia khususnya pada negara – negara tropis. Wilayah Amerika

melaporkan lebih dari 2,38 juta kasus pada tahun 2016, Brasil dengan kasus

kurang dari 1,5 juta kasus, sekitar 3 kali lebih tinggi dari tahun 2014 dan

sekitar 1032 kematian akibat dengue juga dilaporkan di wilayah tersebut.

Wilayah Pasifik Barat melaporkan lebih dari 375.000 kasus dugaan demam

berdarah pada tahun 2016, di mana Filipina melaporkan 176.411 dan Malaysia

100.028 kasus, mewakili beban yang sama dengan tahun sebelumnya untuk

kedua Negara (Irma & Masluhiya, 2021).

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu

penyakit menular berbahaya yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu

1
2

singkat dan sering menimbulkan wabah (Sukohar, 2014). Penyakit ini pertama

kali ditemukan di Manila Filipina pada tahun 1953 dan 5 6 selanjutnya

menyebar ke berbagai negara. Demam berdarah paling umum terjadi di Asia

Tenggara dan kepulauan Pasifik Barat, tetapi juga telah meningkat dengan

cepat di Amerika Latin dan Karibia (Adli, 2020). Sejak tahun 1968 hingga

tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia

sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Sukohar A,

2014).

Tren kejadian penyakit DBD dalam 5 tahun terakhir masih

mengalami instabilitas setiap tahunnya. Jumlah kumulatif kasus DBD pada

tahun 2020 dilaporkan sebanyak 103.781 kasus dengan 661 kematian, pada

tahun 2021 dilaporkan sebanyak 108.303 kasus dengan 747 kematian, pada

tahun 2022 dilaporkan sebanyak 87.501 kasus (IR31,38/100.000

penduduk) dengan angka kematian 816 kasus (CFR 0,93%), pada tahun

2023 dilaporkan sebanyak 35.694 kasus dengan 894 kematian, dan pada

tahun 2024 minggu ke-17 tercatat 88.593 kasus dengan angka kematian

sebanyak 621 kasus (Kemenkes RI, 2024: 1). Terjadi pemendekan siklus

tahunan dari 10 tahun menjadi 3 tahun bahkan kurang, yang disebabkan oleh

fenomena El Nino (Wahyuni et al., 2024).

Kota Makassar, sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, memiliki

jumlah kasus DBD tertinggi pada tahun 2020, yakni 175 kasus. Pada tahun

2021, jumlah penderita meningkat menjadi 583 orang, dengan distribusi 294

laki-laki dan 289 perempuan. Angka terjadinya DBD di Kota Makassar pada
3

tahun 2021 tercatat sebesar 39,3% per 100.000 penduduk (Dinas Kesehatan

Kota Makassar, 2021).

Sejarah Epidemiologi DBD di Indonesia dimulai pada tahun 1968

ketika kasus pertama kali terdeteksi di Jakarta. Sejak saat itu, DBD telah

menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, dengan beberapa daerah menjadi

endemic. Penelitian oleh putra et al. (2021) menunjukan bahwa wilayah

dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi sanitasi yang buruk memiliki

risiko lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu, penting

untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap epidemiologi

DBD guna mengembangkan strategi pengendalian yang efektif (Saputra Arfah

et al , 2024).

Penelitian epidemiologi memiliki peran penting dalam pengendalian

penyakit, termasuk DBD. Dengan menganalisis data epidemiologis, kita dapat

mengidentifikasi pola distribusi kasus, faktor risiko, serta dampak social dan

ekonomi dari DBD. Hal ini dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan

dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat dan efektif dalam

mengendalikan penyakit ini. Misalnya penelitian oleh (Nur, 2023),

menunjukan adanya hubungan iklim dan peningkatan kasus DBD di beberapa

wilayah di Indonesia. Data ini sangat penting untuk merencanakan langkah-

langkah pencegahan yang lebih baik di masa depan.

Berdasarkan hasil data di Rumah Sakit Bhayangkara terdapat 351 kasus

DBD pada tahun 2023, dan terjadi peningkatan kasus DBD pada tahun 2024

sebanyak 713, yang Dimana kasus DBD pada tahun 2024 menjadi yang
4

tertinggi di Rumah sakit Bhayangkara,dari tahun sebelumnya yaitu 351 kasus,

terjadi peningkatan 100%, dan pada tahun 2025 dari bulan Januari-Maret

kasus DBD sebanyak 690.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana Gambaran Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue

(DBD) berdasarkan data rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara pada

triwulan 1 Januari-Maret 2025

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue

di Rumah Sakit Bhayangkara pada triwulan 1 Januari-Maret tahun 2025

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jumlah kasus Demam Berdarah

Dengue berdasarkan umur pada triwulan 1 Januari-Maret 2025.

b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jumlah kasus Demam Berdarah

Dengue berdasarkan jenis kelamin pada triwulan 1 Januari-Maret

2025.

c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kasus Demam Berdarah Dengue

berdasarkan wilayah Rumah Sakit.

d. Untuk mengetahui data perkambangan tren penyakit Demam Berdarah

Dengue.
5

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai masukan dan referensi bagi institusi sekolah tinggi ilmu

kesehatan panakkukang. Khususnya bagi program studi D-3 Rekam

Medis dan Informasi Kesehatan.

b. Hasil penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengetahuan penulis khususnya di bidang rekam medis dan informasi

kesehatan.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai bahan masukan untuk Rumah Sakit Bhayangkara terhadap

tinjauan epidemiologi pada kasus penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD) Di Rumah Sakit Bhayangkara.

b. Sebagai pedoman bagi tenaga rekam medis dalam meningkatkan

pengetahuan tinjauan epidemiologi pada kasus penyakit DBD.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Umum Demam Berdarah Dengue (DBD)

1. Demam Berdarah Dengue (DBD)

a. Pengertian Demam Berdarah Dangue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang

disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari orang ke orang melalui

gigitan nyamuk Aedes (Ae). Ae aegypti merupakan faktor yang paling

utama, namun spesies lain seperti Ae.albopictus juga dapat menjadi vektor

penular. Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok

Indonesia, kecuali di tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1000

meter di atas permukaan laut. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

banyak dijumpai terutama di daerah tropis dan sering menimbulkan

kejadian luar biasa (KLB). Beberapa faktor yang mempengaruhi

munculnya DBD antara lain rendahnya status kekebalan kelompok

masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya

tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan

(Kemenkes RI, 2015).

Demam berdarah atau demam dengue (DBD) adalah infeksi yang

disebabkan oleh virus dengue. Dengue virus ditularkan (atau disebarkan)

sebagian besar oleh nyamuk Aedes aegypti. Tubuhnya kecil berwarna

hitam dengan bintik-bintik putih Nyamuk tersebut lebih sering

menggigit pada
6
7

siang hari. Satu gigitan dapat menginfeksi manusia. Aedes aegypti bersifat

diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit

dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap

darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang

diperlukannya untuk memproduksi telur.

Terdapat empat jenis virus dengue. dengue tipe 1, dengue tipe 2,

dengue tipe 3 dan dengue tipe 4. Sedangkan di Indonesia, virus dengue tipe

3 lah yang paling mendominasi. Apabila seseorang telah terinfeksi satu

jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur

hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya

dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus

tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius (Ismah et al.,

2021).

Dapat disimpulkan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan

dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk. Panyakit ini seringkali terjadi

saat memasuki musim hujan atau saat peralihan musim. Umumnya,

nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembangbiak di air menggenang

yang bersih. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pencegahan demam

berdarah yang efektif yaitu melalui PSN 3M Plus.

b. Etiologi Demam Berdarah Dengue (DBD)


Penyebab penyakit adalah virus Dengue. Sampai saat ini dikenal ada

4 serotype virus yaitu ; 1. Dengue 1 (DEN 1) diisolasi oleh Sabin pada

tahun1944. 2. Dengue 2 (DEN 2) diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944. 3.


8

Dengue 3 (DEN 3) diisolasi oleh Sather 4. Dengue 4 (DEN 4) diisolasi oleh

Sather. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses

(arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai

daerah di Indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3.

Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue type 3 merupakan serotype

virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat.

c. Faktor risiko Demam Berdarah Dengue (DBD)


Faktor individu maupun kehidupan sosial manusia (host) memiliki

pengaruh terhadap penularan DBD. Faktor individu yang paling dominan

dalam penularan DBD adalah umur. Meskipun saat ini penularan pada usia

dewasa ceriderung meningkat, akan tetapi angka kematian tertinggi pada

kelompok umur 5-14 tahun. Pada kelompok usia anak-anak lebih rentan

terkena DBD. Kejadian DBD serta derajat keparahan pada anak juga

dipengaruhi oleh status gizi. Tidak hanya status gizi kurang, pada anak

dengan status gizi berlebih juga berpengaruh terhadap derajat keparahan

infeksi dengue. Kasus DBD pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan

dengan anak perempuan, hal ini disebabkan anak perempuan lebih efisien

dalam memproduksi immunoglobulin dan antibody dibandingkan anak

laik- laki (Ismah et al., 2021).

Faktor pengetahuan dan perilaku individu turut berpengaruh dalam

penularan DBD.Mereka yang berpengetahuan baik memiliki hubungan

yang signifikan dengan kejadian DBD Kebiasaan tidur di siang hari,

kebiasaan menggantung pakaian, penggunaan repelen pada siang hari,

kebiasaan
9

melakukan pembersihan tempat perkembangbiakan nyamuk yang dikenal

dengan 3M (menguras, menutup dan mengubur/mendaur ulang). Serta

kepemilikan tempat penampungan air (TPA) yang berpotensi sebagai

tempat perkembangbiakan nyamuk memiliki risiko antara 2-5 kali

kemungkinan terjangkit DBD.

d. Patofisiologi dan Patogenesis Demam Berdarah Dengue (DBD)

Patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan

demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya

permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma,

terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik.

Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan

menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran

plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan

mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningginya nilai

hematokrit.

Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam

berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian

besar menganut "the secondary heterologous infection hypothesis" yang

mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi

dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang

berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6

bulan sampai 5 tahun. Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan hipotese

infeksi sekunder dicoba dirumuskan oleh Suvatte dan dapat dilihat pada

gambar.
10

e. Ciri-ciri terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD)

1) Demam tinggi

Ciri-ciri demam berdarah yang paling umum terjadi adalah

perubahan suhu secara tiba-tiba yang bisa mencapai 40°C. Demam dapat

berlangsung hingga 2–7 hari, tetapi suhu tubuh biasanya akan turun pada

hari ke-4 atau ke-5, lalu akan naik kembali di hari berikutnya.

Selama demam mereda, bukan berarti penyakit demam berdarah

sudah sepenuhnya sembuh, justru proses peradangan masih terus terjadi

di dalam tubuh.

2) Ruam pada kulit

Selain demam tinggi, ruam merah di kulit juga dapat muncul di

bagian wajah, leher, hingga dada. Umumnya, ruam tersebut timbul

setelah demam dan berlangsung selama 1–5 hari.

Ruam pada kulit penderita demam berdarah akan berwarna

kemerahan dan berbentuk bintik-bintik yang saling berdekatan, sehingga

kulit normal di sekitarnya seolah-olah tampak seperti bercak putih.

3) Sakit kepala

Ciri-ciri demam berdarah lainnya yang muncul adalah sakit

kepala, terutama di sekitar dahi hingga bagian belakang mata. Sakit

kepala biasanya terasa sangat berat hingga membuat penderitanya sulit

beraktivitas.
11

4) Nyeri otot

Selain sakit kepala, penderita demam berdarah juga sering kali

merasakan nyeri pada otot, tulang, dan sendi sehingga menimbulkan

rasa tidak nyaman. Keluhan nyeri ini biasanya akan muncul bersamaan

dengan demam tinggi.

5) Mual dan muntah

Ciri demam berdarah lainnya adalah mual atau muntah. Keluhan

ini sering kali membuat penderitanya tidak kuasa untuk makan dan

minum, sehingga rentan mengalami kekurangan nutrisi, bahkan

berisiko mengalami komplikasi berupa dehidrasi.

Pada kasus yang lebih berat, demam berdarah juga dapat memicu

perdarahan, seperti mimisan yang tak kunjung berhenti, gusi berdarah

tanpa sebab, dan muntah atau buang air besar berdarah.

B. Epidemiologi kasus Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit

menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan

sering dan menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila

Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di

Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya

dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%), akan tetapi

konfirmasi virologis baru dapat pada tahun 1972. Selanjutnya sejak saat itu

penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air

Indonesia, sehingga sampai tahun


12

1980 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini

erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan

semakin lancarnya hubungan transpotasi.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan

pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data dokumentasi yang

bertujuan untuk memberikan gambaran kejadian DBD yang berada di

Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Data dikumpulkan dengan melihat data

laporan Rumah Sakit atau data register kunjungan penyakit di Rumah Sakit.

Lokasi Penelitian: RS Bhayangkara Makassar bertempat di Jl. Letnan Jenderal

Andi Mappaodang No.63,, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Waktu Penelitian, untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan oleh penulis

dalam Menyusun penelitian ini, maka penulis membutuhkan waktu Penelitian

ini akan dilakukan pada bulan Juni 2025.

B. Variabel dan Definisi Operasional


Tabel 1. Variabel dan definisi operasional
No Variabel Definisi operasional Indikator
1 Usia Usia adalah kelompok umur Anak: 0–12
pasien saat melakukan tahun
kunjungan ke Rumah Sakit Remaja: 13–18
yang tercatat mengalami tahun
DBD Dewasa: 19–59
tahun
Lansia: ≥60
tahun

13
14

2 Jenis kelamin Jenis kelamin adalah identitas - Laki-laki


biologis pasien yang tercatat - Perempuan
sebagai penderita DBD
Wilayah diidentifikasi
3 Wilayah dengan menggunakan Alamat
Rumah lengkap responden,yang - Makassar
Sakit mencakup Tingkat
administrasi seperti desa,
kecamatan, Kota, atau
Provinsi.
Tren peningkatan kasus,
4 Tren Penyakit terutama Demam Berdarah
Dengue Januari-Maret

C. Populasi, Sampel Metode Pengambilan Sampel

1. Populasi

Seluruh data Rekam Medis pasien dan laporan Rumah sakit yang

tercatat menderita Demam Berdarah Dengue Di Rumah Sakit Bhayangkara

Makassar selama bulan Januari-Maret tahun 2025

2. Sampel

Menggunakan total populasi (total sampling) yaitu seluruh data

kasus Demam Berdarah Dengue yang tersedia dalam laporan Rumah Sakit

selama bulan Januari-Maret tahun 2025, data yang digunakan adalah data

sekunder..

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yaitu

observasi, telaah dokumen dan dokumentasi dengan menyalin atau mencatat


15

data sekunder laporan Rumah Sakit atau data registrasi kunjungan penyakit,

yang memuat informasi tentang jumlah kasus Demam Berdarah Dengue

E. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang di gunakan yaitu dengan menggunakan

aplikasi microsoft excel pada komputer.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif,

analisis deskriptif adalah penelitian dengan metode untuk menggambarkan

suatu hasil penelitian. Jenis penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk

memberikan deskripsi, penjelasan, juga validasi mengenai fenomena yang

tengah diteliti.
DAFTAR PUSTAKA

Andi Muh.Arfah Saputra Samad, Indasah, N. (2024) ‘Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal
Ilmiah STIKES Kendal’, Peran Mikronutrisi Sebagai Upaya Pencegahan
Covid-19, 14(3), pp. 75–82. Available at:
https://journal2.stikeskendal.ac.id/index.php/PSKM/article/view/1979/126
0.
Ashari Rasjid, zaenab, Haerani, R. (2025) ‘GEMAKES : Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat The Aplication Of Green Tea Leaf Extract As An
Insecticide In The Prevention Of Dengue Fever Mosquitoes ( Aedes
aegypti
) In Banta-Bantaeng Pendahuluan Demam Berdarah Dengue Beberapa
faktor yang merupakan pen’, 5, pp. 52–56. doi:
10.36082/gemakes.v5i1.1866.
Irma, I. and Masluhiya AF, S. (2021) ‘Trend Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Sulawesi Tenggara Berbasis Ukuran Epidemiologi’, JUMANTIK
(Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan), 6(1), p. 70. doi:
10.30829/jumantik.v6i1.7968.
Ismah, Z. et al. (2021) ‘Faktor Risiko Demam Berdarah di Negara Tropis’,
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, 13(2), pp. 147–
158. doi: 10.22435/asp.v13i2.4629.
Kemenkes RI (2015) Profil Kesehatan RI 2015, Profil Kesehatan Indonesia
Tahun 2015. Available at:
https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-Tahun-2015.pdf.
Nur, A. W. (2023) ‘Epidemiologi Kejadian DBD Dan Upaya Pencegahan
Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Suli Skripsi’, AT-TAWASSUTH:
Jurnal Ekonomi Islam, VIII(I), pp. 1– 19.
Sukohar A (2014) ‘Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Demam Berdarah
Dengue ( DBD ) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung’, Medula,
2(2), pp. 1–15.
Wahyuni, S. et al. (2024) ‘Gambaran Epidemiologi dan Pengendalian Penyebaran
Penyakit Demam Berdarah di Kabupaten Bireuen Tahun 2024’,
Jikes:Jurnal Ilmu Kesehatan, 2024(1), pp. 35–43.

Anda mungkin juga menyukai