MAKALAH EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT DEMAM BERDARAH
Disusun oleh :
Nadila Fahira sari sinambela
1821045
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA
LUBUK PAKAM
T.A 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah ini dapat
tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.
Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini yaitu untuk memaparkan materi mengenai
Epidemiologi Penyakit Demam Berdarah dan juga untuk memenuhi tugas dari dosen pembimbing kami.
Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman untuk para pembaca.
Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-
hari.
Kami yakin masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Lubuk Pakam, Desember 2020
Nadila
i
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR.....................................................................................................................i
DAFTAR ISI ................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................Error:
Reference source not found
1.1Latar belakang..........................................................................................................................Error:
Reference source not found
1.1 Rumusan Masalah ..................................................................................................................2
1.3 Tujuan ....................................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................4
2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue ........................................................................................4
2.2 Model Penularan DBD ...........................................................................................................5
2.3 Tanda Dan Gejala ...................................................................................................................6
2.4 Riwayat Alamiah Penyakit .....................................................................................................6
2.5 Diagnosisi ...............................................................................................................................7
2.6 Pencegahan .............................................................................................................................8
2.7Pengobatan ..............................................................................................................................10
ii
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................13
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Virus Dengue ditemukan di daerah tropik dan sub tropik kebanyakan di
wilayah perkotaan dan pinggiran kota di dunia ini (Kemenkes RI, 2018).
Penyakit DBD pertama kali dikenal di Filipina pada tahun 1953. Sindromnya
secara etiologis berhubungan dengan virus dengue ketika serotipe 2, 3, dan 4
diisolasi dari pasien di Filipina pada tahun 1956, 2 tahun kemudian virus
dengue dari berbagai tipe diisolasi dari pasien selama epidemik di Bangkok,
Thailand. Selama tiga dekade berikutnya, demam berdarah ditemukan di
Kamboja, Cian, India, Indonesia, Masyarakat Republik Demokratis Lao,
Malaysia, Maldives, Myanmar, Singapura, Sri Lanka, Vietnam, dan beberapa
kelompok kepulauan Pasifik (WHO, 1999). Sebelum tahun 1970, hanya 9
negara yang mengalami wabah DBD, namun sekarang DBD menjadi
penyakit endemik pada lebih dari 100 negara, diantaranya adalah Afrika,
Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat memiliki
angka tertinggi terjadinya kasus DBD. Kasus di seluruh Amerika, Asia
Tenggara, dan Pasifik Barat melebihi 1,2 juta pada 2008 dan lebih dari 3,2
juta pada 2015 (berdasarkan data resmi yang disampaikan oleh Negara
Anggota WHO). Baru-baru ini jumlah kasus yang dilaporkan terus
meningkat. Pada 2015, 2,35 juta kasus demam berdarah dilaporkan di
Amerika, di mana 10.200 kasus didiagnosis menderita demam berdarah parah
yang menyebabkan 1.181 kematian. Pada tahun 2018, demam berdarah juga
dilaporkan dari Bangladesh, Kamboja, India, Myanmar, Malaysia, Pakistan,
Filipina, Thailand, dan Yaman. Diperkirakan 500.000 orang terkena demam
berdarah berat memerlukan rawat inap setiap tahun, dengan perkiraan 2,5%
kasus kematian setiap tahunnya. Secara umum, terjadi penurunan kasus
kematian sebesar 28% yang tercatat antara 2010 dan 2016 dengan
1
peningkatan yang signifikan dalam manajemen kasus melalui peningkatan
kapasitas di negara tersebut (WHO, 2018).
Sedangkan kasus DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya
pada tahun 1968 dengan jumlah kasus sebanyak 58 penduduk. Hingga pada
tahun 2009 terjadi peningkatan jumlah provinsi dan kota yang endemis DBD,
dari dua provinsi dan dua kota menjadi 32 provinsi dan 382 kota dengan
jumlah kasus 158.912 penduduk (Kemenkes RI dalam Divy dkk, 2018).
Indonesia tahun 2013 mencatat Angka Insiden (AI) sebesar 45,85 per 100.000
penduduk atau 112.511 kasus, dan tahun 2014 bulan Januari-April tercatat AI
sebesar 5,17 per 100.000 penduduk atau 13.031 kasus. Hingga tahun 2010,
Indonesia masih menduduki peringkat atas untuk jumlah kasus DBD di
ASEAN yaitu 150.000 kasus (WHO dalam Divy dkk, 2018). Pada tahun
2015, tercatat terdapat sebanyak 126.675 penderita DBD di 34 provinsi di
Indonesia, dan 1.229 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut
lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 100.347
penderita DBD dan sebanyak 907 penderita meninggal dunia pada tahun
2014. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim dan rendahnya kesadaran
untuk menjaga kebersihan lingkungan (Kemenkes RI, 2016). Kasus Demam
Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Indonesia dengan jumlah kasus
68.407 tahun 2017 mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2016
sebanyak 204.171 kasus. Sedangkan perbandingan kasus kematian pada tahun
2017 berjumlah 493 kasus jika dibandingkan tahun 2016 berjumlah 1.598
kasus, kasus ini mengalami penurunan hampir 3 kali lipat. Fakta menarik
lainnya, provinsi dengan jumlah kasus tertinggi terjadi di 3 (tiga) provinsi di
Pulau Jawa, masing-masing Jawa Barat dengan total kasus sebanyak 10.167
kasus, Jawa Timur sebesar 7.838 kasus dan Jawa Tengah 7.400 kasus. Data
tersebut tidak sebanding dengan jumlah kasus kematiannya karena kasus
kematian tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur sebanyak 105 kasus dan
diikuti oleh Provinsi Jawa Tengah sebanyak 92 kasus. Sedangkan untuk
jumlah kasus terendah terjadi di Provinsi Maluku Utara dengan jumlah 37
kasus (Kemenkes RI, 2018).
2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja definisi Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
2. Apa Bagaimana model penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
3. Apa saja gejala dan tanda timbulnya Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
4. Apa saja riwayat alamiah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
5. Apa itu diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
6. Apa saja pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
7. Aapa saja pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD) ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
2. Mengetahui model penularan Demam Berdarah Dengue (DBD)
3. Mengetahui gejala dan tanda timbulnya Demam Berdarah Dengue (DBD)
4. Mengetahui riwayat alamiah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
5. Mengetahui diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD)
6. Mengetahui pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)
7. Mengetahui pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD)
3
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Demam Berdarah
Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus
Dengue yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari
genus Aedes, seperti Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah
vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang paling banyak ditemukan.
Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah
terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk
selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue
tersebut ke manusia sehat yang digigitannya (Najmah, 2016).
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang dapat
berakibat fatal dalam waktu yang relatif singkat dan menyerang semua umur baik
anak-anak maupun orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengue (Hastuti,
2008).
Demam berdarah (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang
disebabkan oleh virus dengue yang dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh
darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan
yang dapat menimbulkan kematian (Misnadiarly,2009).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus Dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus
Flavivirus, dan famili Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari
genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit DBD dapat
muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit
ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat (Kemenkes RI,
2016).
5
2.2 Model Penularan DBD
Penyakit DBD dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan
kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau
wabah. Penyakit ini ditularkan orang yang dalam darahnya terdapat virus dengue.
Orang ini bisa menunjukkan gejala sakit, tetapi bisa juga tidak sakit, yaitu jika
mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue. Jika orang digigit
nyamuk Aedes aegypti maka virus dengue masuk bersama darah yang diisapnya.
Di dalam tubuh nyamuk itu, virus dengue akan berkembang biak dengan cara
membelah diri dan menyebar di seluruh bagian tubuh nyamuk. Sebagian besar
virus itu berada dalam kelenjar liur nyamuk. Dalam tempo 1 minggu jumlahnya
dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu sehingga siap untuk
ditularkan/dipindahkan kepada orang lain. Selanjutnya pada waktu nyamuk itu
menggigit orang lain, maka alat tusuk nyamuk (probosis) menemukan kapiler
darah, sebelum darah itu diisap, terlebih dulu dikeluarkan air liur dari kelenjar
liurnya agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama dengan liur nyamuk
inilah, virus dengue dipindahkan kepada orang lain. Tidak semua orang yang
digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue itu, akan terserang
penyakit demam berdarah. Orang yang mempunyai kekebalan yang cukup
terhadap virus dengue, tidak akan terserang penyakit ini, meskipun dalam
darahnya terdapat virus itu. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai
kekebalan yang cukup terhadap virus dengue, dia akan sakit demam ringan atau
bahkan sakit berat, yaitu demam tinggi disertai perdarahan bahkan syok,
tergantung dari tingkat kekebalan tubuh yang dimilikinya (Tjokronegoro, 1999).
Ada 2 faktor tentang terjadinya manifestasi yang lebih berat itu yang
dikemukakan oleh pakar demam berdarah dunia.
1. Teori infeksi primer/teori virulensi : yaitu munculnya manifestasi itu
disebabkan karena adanya mutasi dari virus dengue menjadi lebih virulen.
6
2. Teori infeksi sekunder : yaitu munculnya manifestasi berat bila terjadi
infeksi ulangan oleh virus dengue yang serotipenya berbeda dengan infeksi
sebelumnya (Tjokronegoro, 1999).
2.3 Gejala dan Tanda
Pada kasus DBD terjadi demam tinggi berlangsung selama 3 hingga 14
hari. Gejala lain dari demam berdarah adalah: Nyeri retro-orbital (pada bagian
belakang mata), sakit kepala pada bagian depan , nyeri otot, Rash (bintik merah
pada kulit), sel darah putih rendah, pendarahan, dan dehidrasi (Kesehatan dan
Layanan dalam Jaweria, 2016). Dalam sebagian besar kasus, infeksi dengue tidak
menunjukkan gejala, terlebih pada pasien yang sebelumnya tidak memiliki
riwayat penyakit. Jika pasien tidak mendapatkan perawatan tepat waktu maka
penyakit dapat bertambah parah. Tanda-tanda yang muncul pada kondisi ini
meliputi: muntah yang persisten, sakit perut akut, perubahan suhu tubuh, dan
iritabilitas (Hyattsville dalam Jaweria, 2016). Demam berdarah dengue dapat
berubah menjadi dengue shock syndrome (DSS) dengan gejala seperti: kulit yang
dingin, gelisah, denyut nadi cepat, sempit dan lemah (Jaweria, 2016).
Menurut Widoyono (2011), tanda dan gejala DBD meliputi:
1. Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas
2. Manifestasi perdarahan dengan tes Rumpel Leede (+), mulai dari petekie (+)
sampai perdarahan spontan seperti mimisan, muntah darah, atau buang air besar
darah-hitam
3. Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal : 150.000-300.000 µL),
hematokrit meningkat (normal : pria < 45, wanita < 40)
4. Akral dingin, gelisah, tidak sadar (DSS, dengue shock syndrome).
2.4 Riwayat Alamiah Penyakit
1. Tahap Prepatogenesis
7
Pada tahap ini terjadi interaksi antara pejamu (Host) dan agen nyamuk Aedes
aegypti yang telah terinfeksi oleh virus dengue. Jika imunitas pejamu sedang
lemah, seperti mengalami kurang gizi dan keadaan lingkungan yang tidak
menguntungkan maka virus dengue yang telah menginfeksi nyamuk Aedes
8
aegypti akan melanjutkan riwayat alamiahnya yakni ke tahap Patogenesis
(Najmah, 2016).
2. Tahap Patogenesis
Masa inkubasi virus dengue berkisar selama 4-10 hari (biasanya 4-7 hari),
nyamuk yang terinfeksi mampu menularkan virus selama sisa hidupnya. Manusia
yang terinfeksi adalah pembawa utama dan pengganda virus, melayani sebagai
sumber virus nyamuk yang tidak terinfeksi. Pasien yang sudah terinfeksi dengan
virus dengue dapat menularkan infeksi (selama 4-5 hari, maksimum 12 hari)
melalui nyamuk Aedes setelah gejala pertama mereka muncul (Najmah, 2016).
Klasifikasi WHO tradisional pada tahun 1997 diklarifikasikan sebagai
berikut :
1) Demam berdarah dengue adalah demam yang berlangsung dari 2-7 hari,
bukti hemoragik manifestasi atau tes tourniquet positif, trombositopenia
(<100,000 sel per mm3), bukti kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh
hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit >20% di atas rata-rata untuk usia atau
penurunan hematokrit >20% dari awal mengikuti terapi pengganti cairan), atau
efusi pleura, asites atau hypoproteinemia.
2) Sindrom Dengue Lanjut pada tahap shock (Dengue Shock Sindrome
(DSS)) adalah penderita DHF yang lebih berat ditambah dengan adanya tanda-
tanda renjatan: denyut nadi lebih lemah dan cepat, tekanan nadi lemah (< 20
mmHg), hipotensi dibandingkan nilai normal pada usia tersebut, gelisah, kulit
berkeringat dan dingin.
3. Tahap Pasca Patogenesis
Apabila pengobatan berhasil, maka penderita akan sembuh sempurna tetapi
apabila penyakit tidak ditangani dengan segera atau pengobatan yang dilakukan
tidak berhasil maka akan mengakibatkan kematian.
9
8
2.5 Diagnosis
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO
tahun 1997 teridir dari kriteria klinis dan laboratorium
A. Kriteria klinis
1. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus-
menerus selama 2-7 hari
2. Terdapat manifestasi perdarahan, jenis perdarahan yang terbanyak adalah
perdarahan kulit seperti uji tourniquet (uji Rumple Leede = uji bendung)
positif, petekie, purpura, ekimosis dan perdarahan konjungtiva. Petekie
merupakan tanda perdarahan yang sering ditemukan. Perdarahan lain yaitu
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena. Epistaksis dan
perdarahan gusi lebih jarang ditemukan, sedangkan perdarahan
gastrointestinal biasanya terjadi menyertai syok. Kadang-kadang dijumpai
pula perdarahan subkonjungtiva atau hematuri. Uji tourniquet dinyatakan
positif jika terdapat 10-20 atau lebih petekie dalam diameter 2,8 cm (1 inci
persegi) di lengan bawah bagian depan (volar) dan pada lipatan siku (fossa
cubiti).
3. Pembesaran hati (hepatomegali)
4. Syok (renjatan), ditandai denyut nadi cepat dan lemah serta penurunan
tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin kulit lembab, dan gelisah.
B. Kriteria laboratorium
1. Trombositopenia (< 100.000/mm3),
2. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20 % atau lebih
menurut standar umum dan jenis kelamin.
Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi
(atau peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD.
Efusi pleura dan/atau hipoalbuminemia dapat memperkuat diagnosis terutama
pada pasien anemi dan/atau terjadi perdarahan. Pada kasus syok, adanya
9
peningkatan hematokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis DBD
(Tjokronegoro,1999).
10
2.6 Pencegahan
1. Pencegahan Primordial
Saat ini, cara untuk mengendalikan atau mencegah penularan virus demam
berdarah adalah dengan memberikan penyuluhan yang sangat penting untuk
menginformasikan kepada masyarakat mengenai bahaya nya DBD. Menurut
Kemenkes RI (2018), di Indonesia dikenal dengan istilah 3M Plus dalam
pencegahan primer DBD yaitu :
a. Menguras, tempat penampungan air dan membersihkan secara berkala,
minimal seminggu sekali karena proses pematangan telur nyamuk Aedes 3-4
hari dan menjadi larva di hari ke 5-7. Seperti, di bak mandi dan kolam supaya
mengurangi perkembangbiakan nyamuk.
b. Menutup, Tempat-tempat penampungan air. Jika setelah melakukan
aktivitas yang berhubungan dengan tempat air sebaiknya anda menutupnya
supaya nyamuk tidak bisa meletakkan telurnya kedalam tempat penampungan
air. Sebab nyamuk demam berdarah sangat menyukai air yang bening.
c. Mengubur, kuburlah barang-barang yang sudah tidak layak dipakai
yang dapat memungkinkan terjadinya genangan air.
d. Plus yang bisa dilakukan tergantung kreativitas Anda, misalnya :
1) Memelihara ikan cupang yang merupakan pemakan jentik nyamuk.
2) Menaburkan bubuk abate pada kolam atau bak tempat penampungan air,
setidaknya 2 bulan sekali. Takaran pemberian bubuk abate yaitu 1 gram abate/
10 liter air. Tidak hanya abate, kita juga bisa menambahkan zat lainnya yaitu
altosoid pada tempat penampungan air dengan takara 2,5 gram/ 100 liter air.
Abate dan altosoid bisa didapatkan di puskesmas, apotik atau toko bahan
kimia.
11
3) Menggunakan obat nyamuk, baik obat nyamuk bakar, semprot atau
elektrik.
4) Menggunakan krim pencegah gigitan nyamuk.
5) Melakukan pemasangan kawat kasa di lubang jendela/ventilasi untuk
mengurangi akses masuk nyamuk ke dalam rumah.
6) Tidak membiasakan atau menghindari menggantung pakaian baik
pakaian baru atau bekas di dalam rumah yang bias menjadi tempat istirahat
nyamuk.
7) Sangat dianjurkan untuk memasang kelambu di tempat tidur.
2. Pencegahan Primer
Beberapa bentuk pencegahan primer yaitu dengan pengendalian vektor dan
implementasi vaksin. Saat ini vaksin dengue sudah ditemukan, akan tetapi belum
ditetapkan sebagai imunisasi dasar lengkap oleh pemerintah sehingga harganya
masih belum terjangkau oleh masyarakat umum (Susanto dkk, 2018).
3. Pencegahan Sekunder
Untuk demam berdarah yang parah, dilakukan pengobatan medik oleh dokter
atau perawat yang berpengalaman, pengobatan medik dapat menurunkan angka
kematian lebih dari 20% sampai 1%. Menjaga volume cairan tubuh pasien adalah
hal yang sangat kritikal untuk pasien dengan demam berdarah yang aparah.
Diperlukan pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar dengan
melaporkan kejadian kepada instansi kesehatan setempat, mengisolasi atau
waspada dengan menghindari penderita demam dari gigitan nyamuk pada siang
hari dengan memasang kasa pada ruang perawatan penderita dengan
menggunakan kelambu yang telah direndam dalam insektisida, atau lakukan
penyemprotan tempat pemukiman dengan insektisida yang punya efek knock
down terhadap nyamuk dewasa ataupun dengan insektisida yang meninggalkan
12
residu. Lakukan investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : selidiki tempat
tinggal penderita 2 minggu sebelum sakit.
4. Pencegahan Tersier
Untuk penderita DBD yang telah sembuh, diharapkan menerapkan
pencegahan primer dengan sempurna. Melakukan stratifikasi daerah rawan wabah
DBD diperlukan bagi dinas kesehatan terkait.
2.7 Pengobatan
Demam berdarah biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh
dengan sendirinya. Tidak ada pengobatan antivirus khusus saat ini tersedia untuk
demam berdarah demam. Perawatan pendukung dengan cukup memberikan
analgesik, penggantian cairan, dan istirahat yang cukup. Saat ini belum ditemukan
obat yang benar-benar bermanfaat untuk mengobati demam berdarah dan
hubungannya maupun komplikasi. Namun, Acetaminophen dapat digunakan
untuk mengobati demam dan meringankan gejala lainnya. Aspirin, obat
antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan kortikosteroid seharusnya dihindari.
Penatalaksanaan demam berdarah yang parah membutuhkan perhatian pada
pengaturan cairan dan perawatan pendarahan. Metilprednisolon dosis tunggal
menunjukkan tidak ada manfaat mortalitas dalam pengobatan syok dengue
sindrom pada calon, acak, double-blind, uji coba terkontrol placebo (Pooja dkk,
2014).
Cara penanganan DBD menurut Depkes RI (2004) ada 2 macam, yaitu:
1. Penanganan Simtomatis : mengatasi keadaan sesuai keluhan dan gejala
klinis pasien. Pada fase demam pasien dianjurkan untuk : tirah baring, selama
masih demam, minum obat antipiretika (penurun demam) atau kompres hangat
apabila diperlukan, diberikan cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu,
disamping air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 (dua) hari.
2. Pengobatan Suportif : mengatasi kehilangan cairan plasma dan kekurangan
cairan. Pada saat suhu turun bisa saja merupakan tanda penyembuhan, namun
13
semua pasien harus diobservasi terhadap komplikasi yang dapat terjadi selama 2
hari, setelah suhu turun. Karena pada kasus DBD bisa jadi hal ini merupakan
tanda awal kegagalan sirkulasi (syok), sehingga tetap perlu dimonitor suhu badan,
jumlah trombosit dan kadar hematokrit, selama perawatan. Penggantian volume
plasma yang hilang, harus diberikan dengan bijaksana, apabila terus muntah,
demam tinggi, kondisi dehidrasi dan curiga terjadi syok (presyok). Jumlah cairan
yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolit,
dianjurkan cairan glukosa 5% didalam larutan NaCL 0,45%. Jenis cairan sesuai
rekomendasi WHO, yakni: larutan Ringer Laktat (RL), ringer asetat (RA), garam
faali (GF), (golongan Kristaloid), dekstran 40, plasma, albumin (golongan
Koloid).
Beberapa tindakan menurut Pooja (2016) dapat diambil sebagai perawatan
pendukung demam berdarah. Mereka dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kategori:
1. Untuk terduga (suspek) demam berdarah:
a. Pasien dengan dehidrasi sedang yang disebabkan oleh demam tinggi dan
muntah direkomendasikan terapi rehidrasi oral.
b. Harus memiliki jumlah trombosit dan hematokrit diukur setiap hari dari hari
ketiga sakit hingga 1-2 hari setelah suhu badan menjadi normal.
c. Pasien dengan tanda-tanda klinis dehidrasi dan peningkatan kadar
hematokrit atau penurunan jumlah trombosit telah mengganti defisit volume
intravaskular di bawah tutup observasi.
2. Untuk demam berdarah parah:
a. Demam berdarah yang parah membutuhkan perhatian lebih terhadap
pengaturan cairan dan pengobatan perdarahan secara proaktif. Masuk ke unit
perawatan intensif untuk pasien yang terindikasi sindrom syok dengue.
14
b. Pasien mungkin memerlukan jalur intravena sentral untuk volume
penggantian dan garis arteri untuk tekanan darah yang akurat pemantauan dan tes
darah yang sering.
c. Defisit volume intravaskular harus dikoreksi dengan cairan isotonik seperti
larutan Ringer lactat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus
dengue, dengan agent Aedes aegypti dengan lingkungan banyak genangan atau
penampungan air memungkinkan untuk berkembangbiaknya nyamuk. Pencegahan
DBD dapat dilakukan dengan imunisasi vaksin demam berdarah, penyuluhan
kesehatan, rutin melakukan “Gerakan 3 M” (Menguras, Menutup, Mengubur) dan
fogging. Virus dengue membutuhkan waktu berkisar selama 4-10 hari sampai
timbulnya gejala, pasien yang sudah terinfeksi dengan virus dengue dapat
menularkan infeksi (selama 4-5 hari : maksimum 12 hari) melalui nyamuk Aedes
setelah gejala pertama mereka muncul. Oleh sebab itu, jagalah kesehatan dan
lingkungan dengan melakukan “Gerakan 3 M” supaya terhindar dari penyakit
DBD.
13
14
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2004. Tatalaksana DBD di Indonesia. Jakarta: Dirjen P2MPL.
Divy, Ni Putu Anindya, dkk., 2018. Karakteristik Penderita Demam Berdarah
Dengue (DBD) di RSUP Sanglah Bulan Juli-Desember Tahun 2014. E-Jurnal
Medika, 7(7), pp. 1-7.
Hastuti, Oktri. 2008. Demam Berdarah Dengue. Yogyakarta : Kanisius.
Jaweria, Anum, dkk., 2016. Dengue Fever: Causes, Prevention and Recent
Advances. Journal of Mosquito Research, 6(29), pp. 1-9.
Kemenkes RI. 2016. Situasi Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta:
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Kemenkes RI. 2018. Situasi Penyakit Demam Berdarah di Indonesia Tahun 2017.
Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Misnadiarly, Ed.1. 2009. Demam Berdarah Dengue (DBD): Ekstrak Daun Jambu
Biji Bisa untuk Mengatasi DBD. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Najmah. 2016. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta : Trans Info Media.
Pooja, Chawla, Yadav Amrita, dan Chawla Viney., 2014. Clinical Implications
and Treatment of Dengue. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, pp. 169-
178.
Susanto, Bambang H., dan Aras U., 2018. Hubungan Faktor Lingkungan Institusi
Pendidikan dan Perilaku Siswa dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Anak
Usia 5-14 Tahun. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 7(4), pp. 1696-1706.
15
Tjokronegoro, Arjatmo dan Hendra Utama. 1999. Demam Berdarah Dengue.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
16
WHO. 1999. Demam Berdarah Dengue Edisi 2: Diagnosis, Pengobatan,
Pencegahan, dan Pengendalian. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
WHO. 2018. Dengue and Severe Dengue.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &
Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.
17
18