REFLEKSI PELAKSANAAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
MATA PELAJARAN BIOLOGI MATERI EKOSISTEM
MELALUI METODE FIELD TRIP DAN MEDIA DIORAMA
DI KELAS X SMA MUHAMMADIYAH BELITANG I
DISUSUN OLEH:
NUR ASYIAH, S.Pd.
SMA MUHAMMADIYAH BELITANG I
KECAMATAN BELITANG
KABUPATEN OKU TIMUR
2022
A. PENDAHULUAN
Biologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai makhluk hidup dan
kehidupannya. Hasil dari mempelajari ilmu biologi digambarkan dalam
konsep maupun fakta yang didapat dari proses pembelajaran biologi itu
sendiri. Ruang lingkup dalam pembelajaran biologi menggunakan objek
yang nyata, sehingga pengamatan terkait objek kajian biologi memerlukan
penggunaan indera, bersifat baku, dan dituntut untuk berikir secara logis.
Oleh karena itu, pembelajaran biologi memiliki karakteristik tersediri,
diantaranya adalah objek pembelajaran biologi bersifat konkret dan dapat
ditangkap oleh panca indra. Pengembangan keilmuan biologi didasarkan
atas pengalaman nyata (empiris). Selain itu, dalam mempelajari biologi
terdapat tahapan untuk memperoleh keilmuan yang sifatnya sistematis atau
dengan pendekatan ilmiah (Darmawan: 2021: 114)
Saat ini, teknologi membuat langkah besar. Menggunakan teknologi di
berbagai industri di seluruh dunia membantu memecahkan berbagai
masalah. Karena pertumbuhan teknologi yang cepat, siapa pun dapat
mencari apa saja secara online, termasuk materi pelajaran. Siswa dapat
menggunakan ini untuk keuntungan mereka dengan menggunakannya untuk
meneliti topik yang tidak mereka kenal. Tetapi instruktur juga terpengaruh
oleh ini. Menurut Awalia, dkk., (2019: 49), pesatnya kemajuan teknologi
memunculkan kekhawatiran tentang kewajiban guru dan jika pengajaran
tradisional masih diperlukan. setara dengan membuat catatan tentang subjek
dan meminta siswa mereproduksinya. Agar tanggung jawab guru tetap
mengikuti kemajuan teknologi, guru harus memaksimalkan kapasitasnya
sesuai dengan kemajuan tersebut.
Laju kemajuan teknis semakin cepat dengan perubahan sosial.
Pengaruh kemajuan teknis baru-baru ini bervariasi di seluruh industri. Salah
satunya adalah bidang pendidikan. Menurut penelitian Yuanta (2019:92),
kemajuan teknologi berdampak pada bidang pendidikan, utamanya dalam
media pengajaran yang dipakai selama kegiatan pengajaran. Pada kegiatan
pengajaran, pendidik serta siswa adalah dua komponen yang menyatu.
Kedua komponen itu musti saling berhubungan dengan baik agar
mendukung kegiatan pembelajaran yang sesuai serta target dalam tujuan
pembelajaran secara maksimal (Anggita, 2019: 45).
Penggunaan alat dan media pembelajaran selama kegiatan pengajaran
juga dapat membangkitkan keinginan serta keberminatan siswa. Itu juga
dapat memotivasi siswa untuk belajar dan bahkan memiliki dampak
psikologis pada mereka. Penggunaan media pembelajaran mampu
menaikkan minat dan perhatian siswa dalam belajar juga pemerolehan
mereka terhadap materi yang disampaikan di kelas, sehingga proses belajar
mengajar lebih berhasil dalam menyampaikan pesan pelajaran (Suryani,
2018:186). Menurut Rejeki dkk, (2020:338) penggunaan media
pembelajaran mampu beguna secara optimal jika peserta didik
menggunakan indra-indra yang ada ditubuhnya.
Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di kelas X SMA
Muhammadiyah Belitang I, guru masih menggunakan gaya ceramah saat
mengajar. Masih sulit untuk melihat bagaimana media pembelajaran
diimplementasikan pada kegiatan pengajaran. Buku tema untuk guru dan
siswa tetap menjadi sumber utama materi pendidikan. Murid terus belajar
secara pasif. Akibat penggunaan media pembelajaran yang kurang
maksimal, rata-rata siswa kurang termotivasi untuk belajar. Sekolah masih
memiliki keterbatasan dalam pemilihan media penunjang pembelajaran.
Guru tidak mudah dalam memberikan pembelajaran karena masih bersifat
tidak konkret. Akibatnya, pembelajaran masih bersifat tradisonal dengan
tidak adanya media yang menjadi alatnya. Belum inovatifnya metode dan
media membuat hasil belajar siswa menjadi rendah.
Menurut Arsyad (2019:2), media ialah salah satu komponen yang
sangat penting dalam tahapan pengajaran dikarenakan memungkinkan
tercapainya harapan dalam pendidikan. Menurut (Suryani & Putria,
2018:201) siswa dapat berinteraksi dengan media interaktif dengan
mengasah kemampuan mereka dan mendapatkan feedback dari informasi
yang disampaikan.
Diorama adalah gambaran kejadian baik yang mempunyai nilai
sejarah atau tidak yang disajikan dalam bentuk mini atau kecil. Kita dapat
membuat apapun dalam diorama ini. Ingat, untuk mempermudah , gunakan
skala yang seragam. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara
market dan diorama. Diorama hanya menekan pada isi pesan dari gambaran
visual dan karakter tokoh. Selain itu, diorama lebih hidup dibandingkan
dengan market (Kustadi, 2016: 50).
Metode pembelajar field trip merupakan pembelajaran
konstruktivisme yang menekankan pembentukan pengetahuan peserta didik.
Dengan kata lain, pengetahuan tersebut merupakan hasil konstruksi peserta
didik sendiri atas suatu objek yang diamatinya (Ubaidillah, 2018:93). Field
trip dapat diartikan sebagai kunjungan atau karyawisata. field trip bukan
sekedar rekreasi, tetap iuntuk belajar atau memperdalam pelajaran dengan
melihat kenyataan. Karena itu dikatakan metode field trip, yaitu cara
mengajar yang dilakukan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau
objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu
seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan
sebagainya (Bansuhari, 2020: 13).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti akan melakukan
penelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa pada Mata Pelajaran Biologi Materi Ekosistem melalui Metode Field
Trip dan Media Diorama di Kelas X SMA Muhammadiyah Belitang I”
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah penelitian ini adalah
apakah metode field trip dan media diorama dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran Biologi materi ekosistem di Kelas X
SMA Muhammadiyah Belitang I?
2. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Biologi materi ekosistem di Kelas X SMA Muhammadiyah
Belitang I melalui metode field trip dan media diorama.
3. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Siswa
Siswa dapat meningkatkan hasil belajar.
2. Guru
Guru memperoleh pengalaman baru dalam pembelajaran dengan
metode field trip dan media diorama.
3. Sekolah
Sekolah dapat meningkat mutunya karena guru melakukan Penelitian
Tindakan Kelas.
B. PEMBAHASAN
Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran selama 2 siklus, hasil
belajar siswa mengalami peningkatan di banding sebelum perbaikan.
Setelah dilakukan perbaikan dengan menggunakan metode field trip dan
media diorama jumlah siswa yang tuntas dan rata-rata hasil belajar
meningkat setiap siklusnya. Berikut adalah gambaran peningkatan hasil
belajar siswa:
Tabel 1
Perbandingan Ketuntasan dan Rata-rata Setiap Siklus
Ketuntasan Persentase
Rata-
Siklus Belum Belum
Tuntas Tuntas Rata
Tuntas Tuntas
Prasiklus 10 10 50% 50% 70
Siklus I 15 5 75% 25% 86
Siklus II 20 0 100% 0% 88
Grafik 1
Perbandingan Persentase Siswa yang Mencapai KKM
100
90
80
70
60
50
Persentase
40
30
20
10
0
Prasiklus Siklus I Siklus II
Grafik 2
Perbandingan Rata-rata
90
80
70
60
50
40 Rata-rata
30
20
10
0
Prasiklus Siklus I Siklus II
Berdasarkan hasil rekapitulasi tersebut diketahui bahwa dari 20
siswa ada 10 siswa atau 50% yang tuntas KKM, sedangkan 10 siswa 50%
belum tuntas KKM. Rata-rata hasil belajar yang didapat adalah 70 pada
prasiklus. Berdasarkan hasil rekapitulasi siklus I, tersebut diketahui bahwa
dari 20 siswa ada 15 siswa atau 75% yang tuntas KKM, sedangkan 5 siswa
25% belum tuntas KKM. Rata-rata hasil belajar yang didapat adalah 86
pada siklus I. Berdasarkan hasil rekapitulasi diketahui bahwa dari 20 siswa
ada 20 siswa atau 100% yang tuntas KKM. Rata-rata hasil belajar yang
didapat adalah 88 pada siklus II.
Pada prasiklus, berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di
kelas X SMA Muhammadiyah Belitang I, guru masih menggunakan gaya
ceramah saat mengajar. Masih sulit untuk melihat bagaimana media
pembelajaran digunakan dalam proses belajar mengajar. Buku tema untuk
guru dan siswa tetap menjadi sumber utama materi pendidikan. Murid
terus belajar secara pasif. Akibat penggunaan media pembelajaran yang
kurang maksimal, rata-rata siswa kurang termotivasi untuk belajar.
Pada siklus I dan II mengalami kenaikan setelah digunakannya
metode field trip dan media diorama. Siswa menjadi lebih aktif dalam
belajar, hal tersebut juga mengakibatkan kenaikan rata-rata dan persentase
ketuntasan secara klasikal.
Terjadinya peningkatan persentase dan rata-rata seperti yang
dijelaskan pada grafik dan tabel di atas merupakan dampak dari
penggunaan Media Powtoon. Dengan Media Powtoon hasil belajar
meningkat setiap siklusnya.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat menurut sagala
(Inayati, 2022: 6). metode field trip mempunyai beberapa kebaikan,
antara lain: a) dapat diamatinnya kenyataan-kenyataan yang beragam
dari dekat, b) dapat dihayatinya pengalaman-pengalaman baru dengan
mencoba turut serta di dalam suatu kegiatan, c) dapat mencoba
menjawab masalah-masalah dengan mengaktifkan kesensitifan indra
penglihat, pendengar serta membuktikan secara langsung.
Muedjiono (Daryanto, 2013: 30) mengungkapkan bahwa ada
kelebihan media tiga dimensi antara lain: a) Memberikan pengalaman
secara langsung, b) Penyajian secara konkret dan menghindari verbalisme,
c) Dapat menunjukkan objek secara utuh baik konstruksi maupun cara
kerjanya, d) Dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, e)
Dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran dapat
disimpulkan bahwa metode field trip dan media diorama dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Biologi materi
ekosistem pada siswa kelas X SMA Muhammadiyah Belitang I. Hal tersebut
dibuktikan dari peningkatan persentase ketuntasan dan rata-rata dari setiap
siklus. Dari 20 siswa ada 10 siswa atau 50% yang tuntas KKM dengan rata-
rata hasil belajar yang didapat adalah 70 pada prasiklus. dari 20 siswa ada
15 siswa atau 75% yang tuntas KKM, dengan rata-rata hasil belajar yang
didapat adalah 86 pada siklus I. dari 20 siswa ada 20 siswa atau 100% yang
tuntas KKM dan rata-rata hasil belajar yang didapat adalah 88 pada siklus
II.
Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti memberikan saran yaitu:
1. Siswa
Diharapkan siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan.
Peningkatan hasil belajar tidak diragukan lagi akan datang melalui
partisipasi aktif baik dalam penilaian kognitif dan sikap.
2. Guru
Penelitian ini sebaiknya diteruskan guru-guru atau dicoba pada
pembelajaran / materi lainnya.
3. Lembaga sekolah
Sekolah seharusnya mendukung guru dalam melakukan penelitian
tindakan kelas dan memudahkan mereka untuk mempresentasikan
temuan mereka di forum atau percakapan untuk guru.