Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud Mengetahui strike dan dip suatu lapisan batuan di lapangan Membedakan lapisan lapisan batuan yang ada di lapangan Menentukan ketebelan sebenarnya dari suatu lapisan

1.2 Tujuan Untuk membedakan lapisan lapisan batuan di lapangan sebenarnya Untuk mengukur strike dan dip suatu lapisan di lapangan Untuk menentukan ketebelan sebenarnya dari suatu lapisan

1.3 Waktu dan Pelaksanaan Praktikum Praktikum Lapangan Geologi Struktur dilaksanakan pada : Hari Waktu : Jumat, 28 Oktober 2011 : 13.00 WIB Tempat : Kali Garang

BAB II DASAR TEORI


2.1 Struktur Geologi

Struktur geologi adalah struktur perubahan lapisan batuan sedimen akibat kerja kekuatan tektonik,sehingga tidak lagi memenuhi hukum superposisi disamping itu struktur geologi juga merupakan struktur kerak bumi produk deformasi tektonik . Cabang geologi yang menjelaskan struktur geologi secara detail disebut geologi struktur,dimana geologi struktur merupakan cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai bentuk arsitektur kulit bumi. Kekutan Tektonik dan orogenik yang membentuk struktur geologi itu berupa stress (Tegangan). Berdasarkan menjadi 2 yaitu : a. Uniform stress (Confining Stress) Yaitu tegangan yang menekan atau menarik dengan kekuatan yang sama dari atau ke segala arah b. Differential Stress
2

keseragaman

kekuatannya,Stress

dapat

dibedakan

Yaitu tegangan yang menekan atau menarik dari atau ke satu arah saja dan bisa juga dari atau ke segala arah,tetapi salah satu arah kekuatannya ada yang lebih dominan. Pengenalan struktur geologi secara tidak langsung dapat dilakukan melalui cara-cara berikut ini : a. Pemetaan geologi dengan mengukur strike dan dip. b. Interprestasi peta topografi,yaitu dari penampakan gejala penelusuran sungai,penelusuran morfologi dan garis kontur serta pola garis konturnya. c. Foto udara. d. Pemboran. e. Geofisika,yang didasarkan pada sifat-sifat yang dimiliki oleh batuan, yaitu dengan metode : Grafity Geolectrik, Seismik,dan Magnetik.

Umumnya struktur geologi terbentuk oleh differential stress. Dari aspek arah kerjanya,ada 3 macam Differential stress, yaitu : 1. Compressional stress 2. Tensional stress 3. Shear stres

Batuan bila mengalami gaya atau stress akan berubah atau mengalami perubahan,dalam geologi struktur hal ini disebut Deformasi.

Tahapan-tahapan Deformasi adlah sebagai berikut : 1. Elastic Deformation (Deformasi sementara) Deformasi sementara ini terjadi jika kerja stress tidak melebihi batas elastis batuan.Begitu stress terhenti,maka bentuk atau posisi batuan kembali seperti semula.

2. Ductile Deformation Yaitu deformasi yang melampaui batas elastis batuan.Mengakibatkan batuan berubah bentuk dan volume secara permanen,sehingga bentuknya berlainan dengan bentuk semula. 3. Fracture Deformation Yaitu deformasi yang sangat melampaui batas elastis batuan,sehingga mengakibatkan pecah. Seperti diketahui,bumi terdiri dari berbagai bagian yang paling luar (kerak bumi),tersusun oleh berbagai lapisan batuan.Kedudukan daripada batuan-batuan tersebut pada setiap tempat tidaklah

sama,bergantung dari kekuatan tektonik yang sangat mempengaruhiya. Adanya gaya-gaya yang bekerja menyebabkan batuan terangkat dan terlipat-lipat serta apabila terkena pelapukan dan erosi,maka batuan tersebut akan menjadi tersingkap dipermukaan bumi. 3.1 STRUKTUR KEKAR (JOINT) Hampir tidak ada suatu singakapan dimuka bumi ini yang tuidak memperlihatkan gejala rekahan.Rekahan pada batuan bukan merupakan gejala yang kebetulan.Umumnya hal ini terjadi akibat hasil kekandasan akibat tegangan (stress),karena itu rekahan akan mempunyai sifat-sifat yang menuruti hukum fisika. Kekar adalah Struktur rekahan dalam blok batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali mengalami pergeseran (hanya retak saja),umumnya terisi oleh sedimen setelah beberapa lama terjadinya rekahan tersebut.Rekahan atau struktur kekar dapat terjadi pada batuan beku dan batuan sedimen. Pada batuan beku,kekar terjadi karena pembekuan magma dengan sangat cepat (secara mendadak). Pada batuan sedimen,Kekar terjadi karena : a. Intrusi/ekstrusi b. Pengaruh iklim/musim Dalam batuan sedimen umunya kekar juga dapat terbentuk mulai dari saat pengendapan atau segera terbentuk setelah pengendapannnya.

Dimana sedimen tersebut masih sedang mengeras. Struktur kekar dapat berguna dalam memecahkan masalah sebagai berikut : Geologi Teknik Geologi Minyak,terutama dengan masalah cadangan dan produksi minyak Geologi Pertambangan,yaitu dalam hal sistem penambangan maupun pengarahan terhadap bentuk-bentuk mineralisasi. 3.2 STRUKTUR SESAR (FAULT) Sesar adalah suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan.Hal ini terjadi apabila blok batuan yang dipisahkan oleh rekahan telah bergeser sedemikian rupa hingga lapisan batuan sediment pada blok yang satu terputus atau terpisah dan tidak bersambungan lagi dengan lapisan sediment pada blok yang lainnya.Ukuran panjang maupun kedalaman sesar dapat berkisar antara beberapa centimeter saja sampai mencapai ratusan kilometer.

Istilah-istilah penting yang berhubungan dengan gejala sesar antara lain : 1. Bidang Sesar Merupakan bidang rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran. 2. Bagian-bagian yang tersesarkan (tergeser) Bagian ini terdiri dari Hanging Wall dan Foot Wall. a. Hanging Wall (Atap sesar) Adalah bongkahan patahan yang berada dibagian atas bidang sesar. b. Foot Wall (Alas sesar) Adalah bongkahan patahan yang berada dibagian bawah bidang sesar.

3. Throw dan Heave a. Throw,adalah jarak yang memisahkan lapisan atau vein yang terpatahkan yang diukur pada sesar dalam bidang tegak lurus padanya. b. Heave,adalah jarak horizontal yang diukur normal (tegak lurus) pada sesar yang memisahkan bagian-bagian dari lapisan yang terpatahkan. Berdasarkan pada sifat geraknya,sesar dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu : 1. Sesar Normal (Gravity Fault),yaitu gerak relatif Hanging Wall turun terhadap Foot Wall. Disebut juga sebagai Sesar Turun. 2. Sesar Naik (Reverse Fault),yaitu gerak relatif Hanging Wall naik terhadap Foot Wall.Posisi Hanging Wall lebih tinggi daripada Foot Wall.Namun jika Hanging Wall bergeser naik hingga menutupi Foot Wall,maka sesar tersebut. 3. Disebut Thrust Fault yang bergantung pada kuat stress horizontal dan dip (kemiringan bidang sesar). 4. Sesar Mendatar (Horizontal Fault),yaitu gerak relative mendatar pada bagian-bagian yang tersesarkan. Hanging Wall dan Foot Wall bergeser Horizontal yang diakibatkan oleh kerja shear stress. Disamping itu juga terdapat sesar-sesar yang lain ,diantaranya : a. Strike Dip Fault, yaitu kombinasi antara sesar turun dan sesar horizontal b. Hing Fault,yaitu Sesar Rotasional 3.3 LIPATAN Lipatan adalah perubahan bentuk dan volume pada batuan yang ditunjukkan oleh lengkungan atau melipatnya batuan tersebut akibat pengaruh suatu tegangan (gaya) yang bekerja pada batuan tersebut yang umunya refleksi perlengkungannya ditunjukkan oleh perlapisan pada batuan sedimen serta bisa juga pada foliasi batuan metamorf . Secara umum,jenis-jenis lipatan yang terpenting adalah sebagai berikut :

1. Antiklin,yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai arah kemiringan yang saling berlawanan. 2. Sinklin,yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai arah kemiringan yang menuju ke satu arah yang sama. Beberapa defenisi tentang lipatan : a. Sayap Lipatan,yaitu bagian sebelah menyebelah dari sisi lipatan b. Puncak Lipatan,yaitu titik atau garis yang tertinggi dari sebuah lipatan c. Bidang Sumbu Lipatan,yaitu suatu bidang yang memotong lipatan,membagi sama besar sudut yang dibentuk oleh lipatan tersebut. d. Garis Sumbu Lipatan,yaitu perpotongan antara bidang sumbu dengan bidang horizontal. e. Jurus (Strike),yaitu arah dari garis horizontal dan merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal. f. Kemiringan (Dip),yaitu sudut kemiringan yang tersebar dan dibentuk oleh suatu bidang miring dengan bidang horizontal dan diukur dengan tegak lurus dengannya. g. Kekar (Joint) Rekahan adlah sebutan untuk struktur rekahan dalam batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali mengalami pergeseran. Rekahan yang telah bergeser disebut sesar.

Struktur kekar merupakan gejala yang paling umum dijumpai dan justru karenanya banyak dipelajari secaras luas. Struktur-struktur ini merupakan struktur yang palinbg sukat untuk dianalisa. Struktur ini banyak dipelajari karena hubunganya yang erat dengan masalah-masalah : Geologi teknik Geologi minyak, terutaam dengan masalah cadangan dan produksi

Geologi pertambangan, baik dalam hal system penambangan maupun pengarahan terhadap bentuk-bentuk mineralisasi, dll. Umumnya dalam batuan sedimen, kekar dapat terbentuk mulai

saat pengendapan atau terbentuk setelah pengendapannya, dimana sedimen tersebut sedang mengeras. Struktur kekar dipelajari dengan cara statistic, mengukur dan mengelompokan dalam bentuk diagram Rosset atau dengan diagram kontur (kutub). h. Sesar (Foult) Sesar adalah satuan rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan anatara bagian-bagian yang berhadapan dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan. P[ergeseran-pergeseran yang telah terjadi pasda sesar, ukuran panjang mauypun kedalaman sesar dapat berkisar antara beberapa sentimeter saja sampai mencapai ratusan kilometer.

Macam-macam sesar secara umum : Sesar normal, yaitu gerak relative hanging wall turun terhadap footwall. Sesar naik, yaitu gerak relative hanging wall terhadap footwall Sesar mendatar, yaitu gerak relative mendatar pada bagian yang tersesarkan. Struktur permukaan bumi selalu mengalami perubahan yang disebut deformasi. Deformasi kerak bumi dapat disebabklan oleh stree dan strain, temperature, waktu dan strain rate, dan komposisi jenis kandungan mineral batuan dabn kandungan air batuan. Deformasi akibat gaya tektonik dikelompokan dalam struktur primer dan skunder. Adapun struktur geologi yang cukup penting untuk diingat adalah kekar, yaiut rekahan-rekahan lurus planar yang membagi batuan-batuan menjadi vblok-blok atau struktur rekahan dalam batuan-batuan. Sesar yaitu rekahan pada batuan yang mengalami poergeseran, sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan dengan arah yang sejajar dengan

bidang patahan. Lipatan, yaitu perubahan bentuk dan volume batuan yang ditunjukan dengan lengkungan atau melipatnya batun tersebut.

3.4 Geologi Regional Kota Semarang Lokasi studi secara alluviumative mencakup seluruh wilayah Kotamadya Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 1101620 110 3029 Bujur Timur dan 6 5534 7 0704 Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2 (lihat peta lokasi). Wilayah Kotamadya Semarang sebagaimana daerah lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan silih berganti sepanjang tahun. Besarnya rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah Semarang utara 2000 2500 mm/tahun dan Semarang bagian selatan antara 2500 3000 mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata perbulan berdasarkan data dari tahun 1994 1998 berkisar antara 58 338 mm/bulan, curah hujan tertinggi di daerah pemetaan terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan antara 58 131 mm/bulan. 3.4.1 Morfologi Daerah Morfologi daerah studi berdasarkan pada bentuk topografi dan kemiringan lerengnya dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) satuan morfologi yaitu: 1. Dataran Merupakan daerah dataran lluvium pantai dan sungai dan setempat di bagian baratdaya merupakan punggungan lereng perbukitan, bentuk lereng umumnya datar hingga sangat landai dengan kemiringan lereng medan antara 0 5% (0-3%), ketinggian tempat di baruan utara antara 0 25 m dpl dan di baguan baratdaya

ketinggiannya antara 225 275 m dpl. Luas penyebaran sekitar 164,9 km2 (42,36%) dari seluruh daerah studi. 2. Daerah Bergelombang Satuan morfologi ini umumnya merupakan punggungan, kaki bukit dan lembah sungai, mempunyai bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5 10% (39%), ketinggian tempat antara 25 200 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 68,09 km2. (17,36%) dari seluruh daerah studi. 3. Pebukitan berlereng landai. Satuan morfologi ini merupakan kaki dan punggungan perbukitan, mempunyai bentuk permukaan bergelombang landai dengan kemiringan lereng 10 15 % dengan ketinggian wilayah 25 435 m dpl. Luas penyebaran sekitar 73,31 km2 (18,84%) dari seluruh daerah pemetaan. 4. Pebukitan belereng Agak Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang agak terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 15 30%, ketinggian tempat antara 25 445 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 57,91Km2 (14,8%) dari seluruh daerah studi. 5. Perbukitan Berlereng Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 30 50%, ketinggian tempat antara 40 325 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah studi. 6. Perbukitan Berlereng Sangat Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng bukit dan tebing sungai dengan lereng yang sangat terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 50 70%, ketinggian tempat antara 45 165 m dpl. Luas

10

penyebarannya sekitar 2,26 Km2 (0,58%) dari seluruh daerah studi. 7. Perbukitan Berlereng Curam Satuan morfologi ini umumnya merupakan tebing sungai dengan lereng yang curam, mempunyai kemiringan >70%, ketinggian tempat antara 100 300 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km2 (1,65%) dari seluruh daerah studi. 8. Jenis Tanah Jenis Tanah di Kota Semarang meliputi kelompok mediteran coklat tua, latosol coklat tua kemerahan, asosiai alluvial kelabu, Alluvial Hidromort, Grumosol Kelabu Tua, Latosol Coklat dan Komplek Regosol Kelabu Tua dan Grumosol Kelabu Tua. Berikut gambaran penyebaran jenis tanah beserta lokasi dan kemampuannya : 3.4.2 Struktur Geologi Struktur geologi yang terdapat di daerah studi umumnya berupa sesar yang terdiri dari sesar normal, sesar geser dan sesar naik. Sesar normal lluvium berarah barat timur sebagian agak cembung lluviu utara, sesar geser berarah utara selatan hingga barat laut tenggara, sedangkan sesar normal lluvium berarah barat timur. Sesar-sesar tersebut umumnya terjadi pada batuan Formasi Kerek, Formasi Kalibening dan Formasi Damar yang berumur kuarter dan tersier. 3.4.3 Gerakan Tanah Dari hasil analisis kemantapan lereng diketahui bahwa tanah pelapukan batu lempung mempunyai sudut lereng kritis paling kecil yaitu 14,85%. pelapukan napal sudut lereng kritisnya adalah 19,5% , Pelapukan batu pasir tufaan mempunyai sudut lereng kritis 20,8% dan pelapukan breksi sudut lereng kritisnya 23,5%. Berdasarkan analisis di atas maka daerah Kotamadya Semarang dapat dibagi menjadi empat

11

zona kerentanan gerakan tanah, yaitu Zona Kerentanan Gerakan Tanah sangat Rendah, Rendah, Menengah dan Tinggi. 1. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang atau tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, terkecuali pada daerah tidak luas di sekitar tebing sungai. Merupakan daerah datar sampai landai dengan kemiringan lereng alam kurang dari 15 % dan lereng tidak dibentuk oleh endapan gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung yang bersifat mengembang. Lereng umumnya dibentuk oleh endapan aluvium (Qa), batu pasir tufaan (QTd), breksi volkanik (Qpkg), dan lava andesit (Qhg). Daerah yang termasuk zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah sebagian besar meliputi bagian utara Kodya Semarang, mulai dari Mangkang, kota semarang, Gayamsari, Pedurungan, Plamongan, Gendang, Kedungwinong, Pengkol, Kaligetas, Banyumanik, Tembalang, Kondri dan Pesantren, dengan luas sekitar 222,8 Km2 (57,15%) dari seluruh daerah Semarang. 2. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 - 5%) sampai sangat terjal (50 - 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pembentuk lereng. Pada lereng terjal umumnya dibentuk oleh tanah pelapukan yang cukup tipis dan vegetasi penutup baik cukup tipis dan vegetasi penutup baik, umumnya berupa hutan

12

atau perkebunan. Lereng pada umumnya dibentuk oleh breksi volkanik (Qpkg), batu pasir tufaan (QTd), breksi andesit (Qpj) dan lava (Qhg). Daerah yang termasuk zona ini antara lain Jludang, Salamkerep, Wonosari, Ngaliyan, Karangjangkang, Candisari, Ketileng, Dadapan, G. Gajahmungkur, Mangunsari, Prebalan, Ngrambe, dan Mijen dengan luas penyebaran 77,00 km2 (19,88%) dari luas daerah Semarang. 3. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 - 15%) sampai sangat terjal (50 - 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah sebagai material pembentuk lereng. Umumnya lereng mempunyai vegetasi penutup kurang. Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal (Tmk), perselingan batu lempung dan napal (Tmkl), batu pasir tufaan (QTd), breksi volkanik (Qpkg), lava (Qhg) dan lahar (Qpk). Penyebaran zona ini meliputi daerah sekitar Tambakaji, Bringin, Duwet,

Kedungbatu, G. Makandowo, Banteng, Sambiroto, G. Tugel, Deli, Damplak, Kemalon, Sadeng, Kalialang, Ngemplak dan Srindingan dengan luas sekitar 64,8 Km2 (16,76%) dari seluruh daerah Semarang. 4. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat. Kisaran kemiringan lereng mulai landai (5 - 15%) sampai curam (>70%).

13

Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah. Vegetasi penutup lereng umumnya sangat kurang. Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal (Tmkl), perselingan batu lempung dan napal (Tmk), batu pasir tufaan (QTd) dan breksi volkanik (Qpkg). Daerah yang termasuk zona ini antara lain: Pucung, Jokoprono, Talunkacang, Mambankerep, G. Krincing, Kuwasen, G. Bubak, Banaran, Asinan, Tebing Kali Garang dan Kali Kripik bagian tengah dan selatan, Tegalklampis, G. Gombel, Metaseh, Salakan dan Sidoro dengan luas penyebaran sekitar 23,6 km2 (6,21%) dari seluruh daerah Semarang.
2.3 Tahapan Penelitian Geologi Struktur 2.3.1 Analisa Deskriptif Mengenal unsur struktur geologi di lapangan, Memerikan (deskripsi) yang meliputi sifat fisik dan geometrinya, Mengukur kedudukan unsur-unsur struktur (garis, bidang, sudut), Menggambarkan pada peta dan penampang.

2.3.2 Analisa Kinematik Mengamati perubahan yang terjadi pada batuan (deformasi), yang berhubungan dengan pembentukan struktur, meliputi : Pergerakan translasi dan rotasi, Perubahan bentuk (dilatasi) dan ukuran (distorsi).

2.3.2 Analisa Dinamik Mempelajari Penyebab/Proses yang terjadi pada batuan.

2.4 Pengertian Ketebalan dan Kedalaman Ketebalan adalah jarak terpendek yang diukur antara dua bidang sejajar yang merupkan batas antara dua lapisan tegak lurus bidang batas tersebut. Kedalaman adalah jarak vertikal dari suatu ketinggian tertentu terhadap satu titik (misalnya muka laut) terhadap satu titik, garis atau bidang.

2.5 Macam Pengukuran Ketebalan 1. Pengukuran Langsung Contoh pengukuran ketebalan Langsung 14

a. b.

Pengukuran bidang perlapisan horizontal pada tebing vertikal. Pengukuran bidang perlapisan vertical yang tersingkap pada daerah yang bermorfologi horizontal.

c.

Pengukuran bidang perlapisan pada topografi miring dengan Jacobs Staff.

Gambar 1. Pengukuran Ketebalan Langsung

2.

Pengukuran Tidak Langsung Dalam pengukuran Ini perlu diperhatikan: 1. 2. 3. Posisi Singkapan POSISI SINGKAPAN Kedudukan lapisan batuan (Strike dan Dip) Arah lintasan yang diukur.

2.6 Pengukuran Tidak Langsung dan Rumusnya

Ketebalan Dan Kedalaman Lapisan Miring Pada Medan Datar

w a b

i = panjang lintasan tidak tegak lurus strike w = panjang lintasan tegak lurus strike (terkoreksi) = dip t = Ketebalan d = kedalaman Kalau lintasan adalah i maka t = i sin sin Kalau lintasan adalah w; maka t = w sin

15

Medan Berlereng Dengan Lapisan Miring Searah Kemiringan Lereng (dip < slope)

t = w sin ( - )
<

t
w

Lapisan Horizontal pada Medan Miring t = w sin ()


=0o

16

Lapisan Miring pada Medan Miring, dimana dip + slope = 90

t=w
<

t= w

+ = 90

Lapisan Miring pada Medan Berlereng Dengan Arah Dip Berlawanan Arah Lereng, dan besar dip < slope

t = w sin ( + )
<

17

Lapisan Miring pada Medan Berlereng Dengan Arah Dip Berlawanan Arah Lereng, dan besar dip > slope

t = w cos (90 - - )
>

w t

lapisan vertikal pada Bidang miring


t = w cos ()
= 90o

18

Lapisan Miring pada Medan Berlereng, Dengan arah Dip Searah Arah Lereng, dan Besar dip > slope

t = w sin ( - )
>

19

BAB III HASIL PENGAMATAN


3.1 Deskripsi Lapangan Hari/Tanggal Pukul Lokasi : Jumat, 28 Oktober 2011 : 14.08 WIB : Kali Garanng, Belakang LPMP, Srondol, Semarang

Kesampaian daerah : 10 menit dari Gedung Sukoowati Cuaca Morfologi Bentuk lahan Jenis struktur : Cerah berawan : Perbukitan : Fluvial : perlapisan batuan pada litologi setempat

Energi Pembentukan: Litologi Endogen Eksogen : proses tektonik : proses erosi oleh aliran sungai

: Pasir kasar (1/2 1 mm) lempung (<256mm) (wentworth,1922)

Struktur geologi Stadia sungai

: Indikasi perlapisan miring : Muda

Arah aliran sungai : Selatan ke utara Vegetasi Potensi positif Potensi negatif Tata Guna Lahan : Alang-alang dan pepohonan : Hutan, irigasi : Banjir, erosi dan longsor : perkebunan, irigasi, pemenuh kkebutuhan sehari hari

Dimensi Singkapan : - Ketebalan semu selluruh perlapisan : 11m, 5 cm - Slope : 37 - Azimuth : N35E

20

3.2 Tabel Tabel 3.2 Hasil pengukuran struktur perlapisan No 1 2 3 4 Strike/dip N 280o E/85o N 313o E/63o N 310o E/90o N 300o E/86o Lintasan Batupasir-Batulempung Batulempung-batupasir Batupasir-Batulempung Batulempung-batupasir d 2,75 m 0,65 m 3,05 m 1,85 m 8,3 m N35E Azimuth

Apabila menggunakan pengukuran jarak secara langsung maka didapat d = 7,9 m

3.3 Perhitungan Kedalaman Sebenarnya 3.3.1 Perlapisan 1 d d

:2,75 m : 26 : d cos 26 : 2,47 m

3.3.2 Perlapisan 2 d d : 0,65 m : 12 : d cos 12 : 0,64 m

3.3.3 Perlapisan 3 d d : 3,05 m : 4 : d cos 4 : 3,04 m


21

3.4 Menghitung Ketebalan Sebenarnya 3.4.1 Perlapisan 1 t = d sin (dip slope) = 2, 47 m x sin (85 - 37) = 2, 47 m x sin 48 = 1,83 m 3.4.2 Perlapisan 2 t = d sin (dip slope) = 0,64 m x sin (63 - 37) = 0,64 m x sin 26 = 0,28 m 3.4.3 Perlapisan 3 t = d sin (dip slope) = 3,04 m x sin (90 - 37) = 3,04 m x sin 53 = 2,43 m

22

BAB IV PEMBAHASAN
Praktikum lapangan kali ini dilakukan di daerah banyumanik yang mempunyai morfologi fluvial, lebih tepatnya di daerah bantaran Kali Garang belakangLPPU. Bentuk lahan di daerah ini adlah fluvial dengan morfologi perbukitan. Di tempat ini ditemukan suatu tubuh batuan yang membentuk litologi insitu dengan struktur perlapisan. Litologi insitu adalah dimana batuan yang berada didaerah sana berasal dari daerah itu. Litologi yang terdapat pada daerah ini berupa: batu pasir dan lempung. Struktur pada singkapan batuan sedimen ini adalah perlapisan yang mengalami deformasi sehingga perlapisan tersebut menjadi miring. Pada praktikum geologi struktur kali ini kami mengukur lima perlapisan batupasir dan lempung yang berulang. Berikut data-data yang didapat di lapangan: Apabila menggunakan pengukuran jarak secara langsung maka didapat d = 7,9 m. Pada praktikum kali ini kami menggunakan metode perhitungan dengan menghitung ketebalan perlapisan. Cara pengukuran yang kami lakukan pertama adalah : 1. Mendeskripsi keadaan lapangan serta membuat sketsa. 2. Mengukur ketebalan tiap perlaisan menggunakan meteran gulung. 3. Mengukur strike dan dip perpelapisan seta mencatat hail perhitungan sampai perlapisan terakhir. 4. Mengukur slope singkapan. Pada saat pengukuran kelompok kami tidak melakukan perhitungan ketebalan menggunakan azimuth oleh karena itu pada saat perhitungan setelah lapangan kami menggukan slope berdasarkan strike dua perlapisan kemudian dicari mana titik yang menunjukan ketebalan sesuai data yang didapat dilapangan dan dihitung sudutnya. Setelah mendapatkan azimuth kemudian kami mencari ketebalan yang sebenarnya dari masing-masing perlapisan dengan menggunakan rumus :
d = d cos 23

kemudian di cari ketebalannya dengan menggunakan rumus:


t= d sin (dip-slope)

berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diindikasikan bahwa singkapan yang kami amati terdiri dari 4 perlapisan tetapi yang dapat dihitung kedalaman dan ketebalan yang sesugguhnya hanyalah tiga perlapisan. Lapisan tersebut terdiri dari batupasir, batulempung, batupasir, batulempung, dan ditutp dengan batupasir kembali. Perlapisan tertua dimulai dari kanan dan termuda di sebelah kiri. Litologi yang berada pada singkapan ini berasal dari serpihan batuan lain yang mengalami erosi dan perlapukan akibat tenaga tektonik dan andogen kemudian terbawa oleh arus dan tertranspot sangat jauh sehingga menghasilkan butiran yang halus kemudian mengendap pada daerah ini , terakumulasi sampai membentu singkapan.

24

BAB V PENUTUP

25

DAFTAR PUSTAKA
http://samuelmodeon.blogspot.com/2011/04/geologi-regional-kota-semarang.html http://aryadhani.blogspot.com/2009/05/geologi-regional-kota-semarang.html
Staff Asisten. 2005 Panduan Praktikum Geologi Struktur. Bandung: Institusi Teknologi Bandung

26

27

LAMPIRAN

28