Anda di halaman 1dari 18

DIAGRAM POURBAIX

Pendahuluan

pH diagram: Pourbaix diagram, potential-pH


diagram, electro-chemical phase diagram

Di temukan pada tahun 1930 oleh Marcel Pourbaix


(Belgian)

Bisa di gunakan di beberapa kondisi pada:


extractive metallurgy, corrosion (biasanya di pakai
disini), environmental engineering, geochemistry

Erat kaitannya dengan aqueous thermodynamics

Teori Dasar

Diagram potensial-pH atau sering


disebut sebagai diagram Pourbaix
bisa dianggap sebagi peta yang
menunjukkan kondisi potensial dan
pH (keasaman ataupun kebasaan)
untuk berbagai kemungkinan fase
stabil dalam sistem elektrokimia.

Garis batas diagram membagi area


kestabilan untuk fase yang berbeda
yang diturunkan dari persamaan
Nerst. Diagram Pourbaix dapat
digunakan untuk memperkirakan
apakah logam akan berada dalam
kondisi terkorosi, imun ataukah dalam
kondisi pasif. Namun, prediksi tentang
laju korosi tidak dapat dilakukan
dengan diagram Pourbaix ini.

Teori Dasar

Diagram Pourbaix adalah diagram


yang menggambarkan keadaan
suatu bahan dengan potensial
tertuntu dalam derajat keasaman
(pH) tertentu. Sumbu vertikal
menunjukan potensial bahan,
sedangkan subu horisontal
menunjukan pH. Potensial (E)
mengacu pada elektroda standar
hidrogen yang dihitung dengan
menggunakan persamaan Nernst.

Dimana, [C]C[D]d adalah hasil reaksi


[A]a[B]b adalah reaktan
E0 adalah potensial reduksi
standar

Teori dasar

Sebuah diagram Pourbaix


disederhanakan menunjukkan
wilayah "Imunitas", "Korosi" dan
"Pasif",. Imunitas berarti bahwa
logam tidak diserang,
sedangkan korosi menunjukkan
bahwa serangan umum akan
terjadi. Pasivasi terjadi ketika
logam membentuk lapisan
stabil oksida atau garam
lainnya pada permukaannya,
contoh terbaik menjadi relatif
stabil dari aluminium karena
lapisan alumina yang terbentuk
pada permukaannya saat
terkena udara.

ELEKTRODA KERJA

Jenis-Jenis elektroda
Elektroda
Elektroda
Elektroda
Elektroda

kerja
membran
standar(pembanding)
indikator

Elektroda kerja adalah suatu elektroda yang


potensial elektrodanya bergantung
terhadap konsentrasi (aktivitas) dan analit
yang diukur

Elektroda kerja logam

1. Elektroda order pertama


Pada elektroda ini ion analit berpartisipasi langsung dengan logamnya dalam suatu reaksi
paruh yang dapat dibalik. Beberapa logam seperti Ag, Hg, Cu, dan Pb dapat bertindak sebagai
elektroda indikator bila bersentuhan dengan ion mereka.
Contoh : Ag+ + e- <=> Ag Eo = +0.80 V
Pada reaksi sebelumnya, potensial sel berubah ubah menurut besarnya aktivitas ion perak
(Ag+). Sesuai dengan persamaan nernst.
2. Elektroda order kedua
Ion-ion dalam larutan tidak bertukar elektron dengan elektroda logam secara langsung,
melainkan konsentrasi ion logam yang bertukar elektron dengan permukaan logam. Elektroda
ini bekerja sebagai elektroda refrensi tetapi memberikan respon ketika suatu elektroda
indikator berubah nilai ax-nya (misalkan KCL jenuh berarti x=Cl).
Misalnya pada elektroda perak-perak klorida. Kesetimbangan reaksi :
AgCl(s) + e Ag+ + Cl- Eo= +0,22V

E = +0,22 0,592log a cr- = +0,22 + 0,0592 pCl

3. Elektroda Order Ketiga


Elektroda jenis ini dipergunakan sebagai elektroda indicator dalam titrasi titrasi EDTA potensiometrik
dari 29 ion logan. Elektrodanya sendiri beripa suatu tetesesan atau genangan kecil raksa dalam
suatu cangkir pada ujung tabung-J dengan suatu kawat sirkuit luar. Sejumlah kecil dari kelat HgEDTA, HgY2- ditambahkan ke larutan yang mengandung Y4-, setengah reaksi yang terjadi dalam
katoda:
HgY2- + 2e Hg(1) + Y4- Eo= +0,21 V
E= 0,21 0,059/2 log a Y4-/ a HgY24. Elektroda Inert
Elektroda Inert merupakan elektroda yang tidak masuk ke dalam reaksi. Salah satu Contohnya
adalah platina. Elektroda ini bekerja baik sebagai elektroda indicator. Untuk pasangan redoks seperti
Fe3+ + e Fe2+
Fungsi logam Pt adalah membangkitkan kecendrungan system tersebut dalam mengambil atau
melepaskan elektron, sedangkan logam itu tidak ikut secara nyata dalam reaksi redoks.