Anda di halaman 1dari 36

PRESENTASI KASUS BESAR

CKD & DM

Disusun Oleh:
Riandi Candra Prayoga
G4A015212
Pembimbing:
Dr. Yunanto Dwi Nugroho, Sp.PD

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. J
Usia
: 56 tahun
Status
: menikah
Alamat
: Tambaksari 5/7, Kedungreja
Agama
: Islam
No. RM
: 00965566
Tgl masuk
: 7 Januari 2017
Tgl periksa : 11 Januari 2017

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Sesak nafas


Keluhan tambahan
: Lemas, demam, menggigil, kaki bengkak,
kesemutan, sering lapar dan haus
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien rujukan dari RSUD Majenang datang ke IGD RSMS
dengan keluhan sesak nafas sejak 2 minggu sebelum masuk
Rumah Sakit. Sesak dirasakan semakin memberat. Pasien
mengaku sesak nafas sangat mengganggu aktivitas pasien. Sesak
nafas bertambah berat saat beraktivitas dan setelah minum air,
dan menjadi ringan ketika beristirahat. Selain itu, pasien juga
mngeluhkan demam hilang timbul, mual, kaki bengkak, nyeri
perut bagian bawah, kesemutan, sering haus dan sering lapar.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat memiliki keluhan yang sama : diakui
Riwayat penyakit Ginjal
: diakui HD sudah 3 kali
Riwayat penyakit hipertensi : disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus
: diakui, sudah 3 tahun
dan rutin minum metformin
Riwayat Penyakit Keluarga:
Riwayat memiliki hipertensi : diakui
Riwayat memiliki stroke
: disangkal
Riwayat memiliki Ginjal
: disangkal
Riwayat memiliki diabetes melitus : diakui, ibu pasien

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Pasien tinggal bersama seorang suami dan dua orang anak,
pekerjaan pasien sehari hari adalah sebagai seorang ibu
rumah tangga. Pasien tidak memilki riwayat minum
alkohol dan merokok, namun sering minum teh manis
setiap setelah makan dan jarang minum air putih.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital
KU/Kes : Sedang/Compos Mentis
TD: 140/80 mmHg
N : 92x/menit
RR: 24x/menit
T : 36.6 C
BB: 65 kg
TB : 158 cm
Status Generalis
KU/Kes : sedang/compos mentis
Kepala : mesocephal, ada VT Mata : CA +/+, SI -/Hidung : discharge -/- , NCH -/Mulut : Bibir sianosis (+), mulut kering (-)
Leher : Deviasi trakea (-)
Pulmo
Inspeksi : hemithoraks dekstra=sinistra, ketinggalan gerak (-)
Palpasi : Vocal fremitus dekstra=sinistra
Perkusi : Sonor di seluruh lapang baru
Auskultasi : SDV (+/+), RBK (+/+), RBH (-/-), Wheezing (-/-)

PEMERIKSAAN FISIK

Cor : Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari medial LMCS


tidak kuat angkat, S1>S2, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi
: Datar
Auskultasi : Bising Usus (+) normal
Perkusi
: timpani (+)
Palpasi
: Nyeri tekan (+), Hepar dan lien tidak
terdapat pembesaran
Ekstrimitas : edema -/-/+/+, akral hangat

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah Rutin


Hasil Lab Tanggal 7 Januari 2017
Hb 5,2 L
Leukosit1830 L
Ht 17 L
Eritrosit 2,0 L
Trombosit

111.000 L

Hitung jenis e/b/bt/sg/l/m : 0,5 L/0,0/0,0 L/94,6 H/4,4 L/0,5 L


MCV

82,1

MCH

25,9 L

MCHC 31,5 L
RDW

18,0 H

MPV

8,8 L

Total protein 3,77 L


Albumin2,22 L
Globulin

1,55 L

Ur 183,4 H
Cr 6,94 H
GDS
Na 136
K

4,5

172

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 8/1/2017:
PT
12,3 H
APTT
44,6 H
Tanggal 9/1/2017:
Hb 5,4 L
Leu
18250 L
Ht 17 L
Erit
2,1 L
Trom 84.000 L
Tanggal 11/1/2017:
Hb 7,7 L
Leu
1370 L
Ht 24 L
Erit
3,0 L
Trom 54.000 L
PT 11,5 H
APTT 39,0

Diagnosis:
CKD
DM tipe 2

TERAPI

O2 4 lpm

Inf NS 20 tpm
IVFD PCT 3x1 gr
Inj Ceftriakson 1 gr/12 jam
Inj furosemide 1 a/8 jam
Inj Ranitidin 2x1amp
Inj Kalnex 3x500mg
Inj vit K 3x1amp
Transfusi PRC 3 kolf

TINJAUAN PUSTAKA

CHRONIC KIDNEY
DISEASE
(CKD)

DEFINISI

Suatu proses patofisiologis yang mengakibatkan penurunan fungsi


ginjal yang progresif, dan pada umunya berakhir pada gagal ginjal.

Uremia merupakan suatu sindrom klinik dan laboratorik yang terjadi


pada semua organ akibat penurunan fungsi ginjal pada CKD.

CKD umumnya di diagnosis ketika terdapat kerusakan ginjal selama


lebih dari 3 bulan berupa kelainan struktural atau fungsional,
dan/atau fungsi ginjal menurun ( GFR <60 ml / menit / 1,73 m2).

CKD ditandai dengan akumulasi produk limbah metabolik dalam


darah, kelainan elektrolit, gangguan mineral tulang, dan anemia
(Sudoyo, 2009; Fred F,2016).

KLASIFIKASI

ETIOLOGI

EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian CKD meningkat sesuai dengan usia
Prevalensi CKD di AS sekitar 10% sampai 14%.
2014: > 26 juta orang Amerika memiliki tahap CKD 1 sampai 5.
Insiden penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) sebesar 7% -10%
per tahun di AS, ESRD umumnya terjadi pada usia lebih dari
70 tahun.
Kejadian ESRD terutama terjadi karena diabetes mellitus dan
hipertensi, faktor risiko utama untuk CKD.
Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit gagal
ginjal kronis 0.2 %
meningkat tajam pada kelompok umur 35-44 tahun (0,3%),
diikuti umur 45-54 tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun (0,5%),
dan tertinggi pada kelompok umur 75 tahun (0,6%).
Prevalensi pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dari perempuan
(0,2%)(Riskesdas, 2013).

PATOFISIOLOGI
Awalnya ginjal mampu kompensasi kerusakan ginjal dg
manfaatkan nefron fungsional yg tersisa, tapi akan akibatkan
hiperfiltrasi dan tjd peningkatan tek intraglomerulus.
Pada kerusakan berlanjut maladaptasi ginjal nefron yang
mengkompensasi fungsinya menurun nefrosklerosis fungsi
ginjal turun CKD
Penurunan
fungsi ginjal penurunan prod hormon spt
eritropoietin prod eritrosit turun anemia

PENEGAKKAN DIAGNOSIS
ANAMNESIS dan PF
Lemas, anoreksia, mual, muntah, hipertensi,
pitting edema, gagal jantung kongestif, pruritus,
kulit warna abu, edema pulmoner, nafas
dangkal, nafas bau amonia, cegukan, haus, letih.
LABORATORIUM
Anemia, ureum naik, creatinin naik, hipokalsemi,
as urat naik, hiponatremi, hipokalsemi, asidosis
metabolik, proteinuria, hematuria, PT APTT
naik

GAMB. RADIOLOGIS
Batu radioopaque dapat ditemukan melalui foto
polos abdomen pada pasien CKD.
Ultrasonografi abdomen dapat memperlihatkan
ukuran ginjal yang mengecil, penipisan korteks,
hidronefrosis, batu pada ginjal, kista, massa,
maupun kalsifikasi.

TERAPI
Untuk mencegah dan mengobati asidosis
metabolik dapat diberikan suplemen alkali
(sodium bicarbonat) IV
Anemia: Transfusi darah Packed Red Cel/ (PRC)
Hipertensi: obat-obat hipertensi
Terapi Pengganti Ginjal dilakukan pada penyakit
ginjal kronik stadium V yaitu pada LFG kurang
dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa
hemodialisis, Continuous Ambulatory Peritoneal
Dialysis (CAPD) dan transplantasi ginjal

KOMPLIKASI
Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis
metabolic
Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung
akibat retensi produk sampah uremic dan dialisis yang
tidak adekuat.
Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta
malfungsi sistem rennin-angiostensin-aldosteron
Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan
rentang usia sel darah merah, perdarahan
gastrointestinal akibat iritasi oleh toksin dan kehilangan
darah selama hemodialisis.
Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi
fosfat, kadar kalsium serum yang rendah, metabolisme
vitamin D abnormal dan peningkatan kadar alumunium.

PROGNOSIS
Pasien dengan penyakit ginjal kronik umumnya
akan menuju stadium terminal atau stadium V.
Angka progresivitasnya tergantung dari
diagnosis yang mendasari, keberhasilan terapi,
dan juga dari individu masing-masing.
Angka kematian meningkat sejalan dengan
memburuknya fungsi ginjal.
Terapi penggantian ginjal dapat meningkatkan
angka harapan hidup.
Kematian terbanyak adalah karena kegagalan
jantung (45%), infeksi (14%), kelainan pembuluh
darah otak (6%), dan keganasan (4%)

DIABETES
MELITUS

DEFINISI

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu istilah


yang menggambarkan gangguan metabolik yang
bisa disebabkan karena berbagai macam etiologi.

Etiologi

FAKTOR RISIKO

PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Keluhan klasik DM

Diagnosis DM dapat ditegakkan dengan


3 cara:

Karakteristik
1

Onset usia

Berhubungan dengan
obesitas
Kecenderungan terjadi
ketoasidosis yang
membutuhkan insulin
sebagai control dan survive
Kadar insulin dalam plasma

5
6
7

Berhubungan dengan
antigen HLA-D spesifik
Antibodi sel islet pada
diagnosis
Patologi sel islet

Kecenderungan terjadi
komplikasi (retinopati,
nefropati, neuropati,
aterosklerosis, dan penyakit
cardiovascular)

DM tipe 1
Umumnya < 30 tahun

DM tipe 2
Umumnya > 30 tahun

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Sangat rendah mungkin


sampai tidak terdeteksi

Ya
Ya
Insulitis, kehilangan sel
beta secara selektif
Ya

Variatif ; dapat rendah,


normal, atau meningkat,
tergantung pada derajat
resistensi insulin dan
defek sekresi insulin
Tidak
Tidak
Lebih kecil, normal sel
islet ; umumnya deposisi
amyloid
Ya

KOMPLIKASI

PROGNOSIS

Sekitar 60% pasien DM yang mendapat insulin


dapat bertahan hidup seperti orang normal,
sisanya dapat mengalami kebutaan, gagal ginjal
kronis, dan kemungkinan untuk meninggal lebih
cepat.

Terimakasih...