Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

BATU EMPEDU (KOLELITIASIS)


Pembimbing:
dr. Rochmawati istutiningrum, Sp.Rad

Disusun oleh:

Tri Ujiana Sejati G4A016007


Irma Nuraeni Hidayat G4A016009
Desy Faridah Manalu G4A016019

RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO


SMF RADIOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2017

1. PENDAHULUAN
Penelitian di AS, 20 juta orang / tahun terkena
kolelitiasis
1-3% dari kasus dengan gejala simtomatik dan
Heuman, membutuhkan kolesistektomi.
2016 10.000 jiwa/tahun meninggal dengan kolelitiasis.

Sebagian besar pasien tidak mempunyai keluhan


Kolelitiasis umumnya ditemukan di dalam kandung, Bila
Lesmana, Batu bermigrasi melalui duktus sistikus ke saluran
2009 empedu akan menjadi batu saluran empedu

Wanita 2-3 kali lebih berisiko (karena hormon estrogen


wang et mempengaruhi sekresi kolesterol bilier)
al., 2009
ANATOMI

Kantong Empedu
Bentuk seperti buah pir,
ukuran 7-10 cm dengan
kapasitas 30-50 ml.
Letak di sebuah fossa pada
permukaaan inferior hepar,
yang membagi hepar
menjadi lobus kanan dan
lobus kiri
Ketika obstruksi, dapat
terdistesi dan isinya dapat
mencapai 300 ml
Kandung empedu dibagi
menjadi: 1. Fundus, 2.
Korpus, 3. Leher
Disuplai : Arteri cystica
Persarafan : nervus vagus
Duktus Biliaris Ekstrahepatik
terdiri dari :

1. Ductus hepatikus komunis


ukuran 1-4 cm , dihubungkan
dengan duktus sistikus
membentuk duktus koledokus

2. Ductus sisticus ukuran 3


cm, dari leher kandung
empedu bersambung dengan
duktus hepatikus membentuk
saluran empedu ke duodenum

3. Ductus koledokus ukuran


7-11 cm , bergabung dengan
ductus pankreatikus masuk ke
dinding duodenum
Fisiologi

O Hepar berperan dalam sistem pencernaan


untuk mensekresi garam empedu
O Empedu disimpan dan dipekatkan di kandung
empedu di antara waktu makan. Setelah
makan, empedu masuk ke duodenum akibat
efek kombinasi pengosongan kandung
empedu dan peningkatan sekresi empedu
oleh hepar. Jumlah empedu yang disekresikan
per hari berkisar dari 250 ml sampai 1 liter.
O Empedu mengandung garam empedu,
kolesterol, lesitin dan bilirubin.
O Empedu tidak mengandung enzim
pencernaan, tetapi bahan ini penting dalam
pencernaan dan penyerapan lemak terutama
melalui aktivitas garam empedu.
Garam empedu membantu pencernaan lemak
melalui efek
O A. emulsifikasi
O B. Pembentukan micelle
O Jika sekresi kolesterol oleh hepar berbeda jauh
dengan sekresi garam empedu dan lesitin,
maka kelebihan kolesterol dalam empedu
mengendap menjadi mikrokristal yang dapat
menggumpal menjadi batu empedu (Sherwood,
2011).
Defenisi
O batu yang ditemukan di dalam kandung empedu
dan dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke
dalam saluran empedu menjadi batu saluran
empedu dan disebut sebagai batu saluran
empedu sekunder.
Klasifikasi
1. batu kolesterol dimana komposisi kolesterol melebihi
70%
2. batu pigmen cokelat atau batu kalsium bilirubinate
yang mengandung co bilirubinate sebagai komponen
utama
3. batu pigmen hitam yang kaya akan residu hitam tak
terekstraksi
Etiologi
O Penyebab utama masih belum jelas
O Metabolik sindrom
O Hiperlipidemia
O Peningkatan progesteron
O High heme turn over
O CH
Faktor risiko
4F:
O Fatty (gemuk)
O Fourty (40 th)
O Fertile (subur)
O Female (wanita)
O Batu kolesterol: usia tua, perempuan, obes,
kehamilan, BB turun cepat, etnik amerika
O Bagu pigmen hitam: usia lanjut, CH, hemolisis
(sickle cell anemia, sferositosis), tpn
O Batu pigmen coklat: infeksi, post kolesistektomi
Patogenesis
1. Batu Kolesterol
a. Supersaturasi empedu dengan kolesterol
Pada keadaan supersaturasi dimana kolesterol
akan relatif tinggi dengan rasio mencapai 1 : 13.
Pada rasio seperti ini kolesterol akan mengendap.
Kadar kolesterol ditemukan pada : Peradangan
dinding kandung empedu, Orang-orang gemuk,
Diet tinggi kalori dan tinggi kolesterol, Pemakaian
obat anti kolesterol , Pool asam empedu,
Pemakaian tablet KB
O B. Fase pembentukan inti batu
- Inti batu heterogen : berasal dari garam
empedu, calcium bilirubinat , sel-sel yang lepas
pada peradangan.
- Inti batu homogen berasal dari kristal kolesterol
sendiri yang menghadap karena perubahan rasio
dengan asam empedu.
c. Fase pertumbuhan batu menjadi besar
inti batu yang sudah terbentuk akan dipompa
keluar ke dalam usus halus. Bila konstruksi
kandung empedu lemah, kristal kolesterol yang
terjadi akibat supersaturasi akan melekat pada
inti batu tersebut.
2. Batu Pigmen
Pembentukan batu bilirubin terdiri dari 2 fase:
A. Saturasi bilirubin
B. Pembentukan inti batu
3. Batu Campuran
Merupakan batu campuran kolesterol yang
mengandung kalsium. Batu ini sering ditemukan
hampir sekitar 90 % pada penderita kolelitiasis.
batu ini bersifat majemuk, berwarna coklat tua.
Sebagian besar dari batu campuran mempunyai
dasar metabolisme yang sama dengan batu
kolesterol.
Penegakan diagnosis
MANIFESTASI KLINIS
A. asimptomatik (adanya batu empedu tanpa gejala)
O dispepsia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan
berlemak.
B. simptomatik (kolik bilier)
O Kolik bilier berlangsung lebih dari 15 menit, menghilang
beberapa jam, Penyebaran nyeri pada punggung bagian
tengah, skapula, atau ke puncak bahu, disertai mual dan
muntah
C. kompleks (menyebabkan kolesistitis, koledokolitiasis, serta
kolangitis).
O Nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas
dalam, mual dan muntah-muntah, demam atau menggigil
yang menyertai
Pemeriksaan Fisik

PF batu kandung empedu


O Nyeri tekan
O Tanda murphy positif (nyeri tekan bertambah
sewaktu penderita menarik napas panjang)
PF batu saluran empedu
O Teraba hepar agak membesar
O sclera ikterik
O Kolangiolitis : trias Charcot yaitu demam dan
menggigil, nyeri didaerah hepar, dan ikterus.
O Kolangiti piogenik intrahepatik :
Pentaderainold, 3 gejala trias charcot
ditambah syok, dan kekacauan mental atau
penurunan kesadaran sampai koma.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. LABORATORIUM
O.hitung sel darah lengkap, urinalisis, pemeriksaan
feses, tes fungsi hepar, kadar amilase, lipase serum.
O.15% terjadi peningkatan enzim hepar, bilirubin
serum dan alkali fosfatase.
O.Kadar bilirubin serum tinggi : disebabkan oleh batu
di dalam duktus koledukus.
O.Alkali fosfatase tinggi : obstruksi saluran empedu.
O.Urinalisis : bilirubin tanpa adanya urobilinogen
adanya obstruksi saluran empedu.
O.Feses pucat : obstruksi total saluran empedu
Pemeriksaan radiologis
O Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan radiologis
terutama pemeriksaan Ultrasonography (USG).
O foto polos abdomen, CT, MRCP, Endoscopic
ultrasound [EUS], Biliary scintigraphy
USG
Computed Tomography (CT) Scan
Kolesistografi
Magnetic Resonance Cholangio
Pancreatography
Endoscopic Retrograde Cholangio
Pancreatography

ERCP menunjukkan batu empedu di duktus


ekstrahepatik (panah pendek) dan di duktus
intrahepatik (panah panjang).
Foto polos abdomen
Penatalaksanaan

Terapi Operatif
1. Kolesistektomi laparaskopi
2. Kolesistektomi terbuka
Terapi Non Operatif
1. Terapi disolusi oral
2. Shock wave lithotripsy
Prognosis

O Angka mortalitas pada pasien


kolelithiasis yang menjalani operasi
kolesistektomi elektif adalah 0.5%,
sedangkan pada operasi
kolesistektomi emergensi berkisar 3-
5%. Kolelithiasis dapat muncul
kembali setelah operasi
kolesistektomi
Komplikasi
1. kolesistisis
2. obstruksi duktus sistikus/duktus
koledokus
3. peritonitis
4. rupture dinding kandung empedu
KESIMPULAN

O Batu empedu merupakan batu yang ditemukan di dalam
kandung empedu dan dapat bermigrasi melalui duktus
sistikus ke dalam saluran empedu.
O Komposisi terbanyak batu empedu adalah batu pigmen
dan kolesterol.
O Pembentukan batu empedu secara umum meliputi tiga
tahapan.
O Diagnosis batu empedu dapat ditegakkan melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang tepat.
O Tatalaksana batu empedu meliputi terapi operatif dan
non operatif.
O Komplikasi tersering pada batu empedu adalah
kolesistitis.