Anda di halaman 1dari 37

DEFINISI

Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronik dengan berbagai


macam etiologi, yang diakibatkan oleh timbulnya serangan
paroksismal yang berkala, akibat lepasnya muatan listrik
neuron-neuron serebral secara eksesif (Sidharta, 2004).
Keadaan ini ditandai oleh recurrent epileptic seizures yang
tidak diprovokasi oleh causa yang akut. (Un-provoked
Seizures).
Epileptic Seizures adalah manifestasi klinis dari lepas muatan
listrik yang abnormal dan eksesif (berlebih) serta
reversibel dari sekumpulan neuron-neuron di otak
EPIDEMIOLOGI
Insidensi 0,5 0/00 1,2 0/00 pertahun tertinggi pada neonatus,
anak-anak, dan usia lanjut U Shape.
ETIOLOGI
Studi populasi di eropa dan USA: Idiopathic Epilepsi 54-60%.
Tumours, sporadic infections & metabolic dis

Malignant tumours

Congenital & genetic conditions

HS, trauma, genetic


Predisposition
Alcohol / drug abuse

CVD
0 20 40 60 80

Age ( Years )
FAKTOR PRESIPITASI
1. Faktor Sensoris
- Cahaya yang berkedip-kedip
- Bunyi-bunyi yang mengejutkan
- Air panas

2. Faktor Sistemik
- Demam - Hipoglikemi

- Penyakit infeksi - Makan tidak teratur


- Obat-obatan tertentu (golongan fenotiazin) - Kelelahan fisik

3. Faktor Mental
- Stress
KLASIFIKASI EPILEPSI
A. Bangkitan Parsial
1. Bangkitan Parsial Sederhana
2. Bangkitan Parsial Kompleks
3. Bangkitan umum sekunder
berasal dari bangkitan parsial sederhana/parsial kompleks
menjadi bangkitan umum (biasanya tonik klonik)
B. Bangkitan umum
1. Absence seizure (Petit Mai)
2. Tonik-Klonik (Grand Mai)
3. Epilepsi Mioklonik
4. Epilepsi Atonik (Astatic Seizure)
5. Clonic seizure
6. Tonic seizure
C. Kejang yang tidak terklasifikasikan
A. Bangkitan Parsial
1. Parsial Sederhana (simple)
Gangguan kesadaran (-)
tergantung sistem saraf yg terkena

Manifestasi motorik(gyrus presentralis lobus frontalis)


Kejang dimulai dari ibu jari, meluas ke tangan, lengan, muka dan
tungkai, kadang berhenti di satu sisi. Bila rangsangan sangat kuat,
dapat meluas ke lengan atau tungkai yang lain sehingga terjadi
kejang umum Jackson motoric epilepsy

Manifestasi sensorik(gyrus post sentralis lobus parietalis)


Penderita merasa kesemutan di ibu jari, lengan, muka dan tungkai,
tanpa kejang motoris. Dapat meluas ke sisi yang lain Jackson
sensoric epilepsy
Manifestasi otonom
Nyeri epigastrum
Pucat
Berkeringat

Manifestasi psikis
Disfagia
Dysmnesia (ingatan berkurang)
Kognitif
Afektif
Ilusi
Halusinasi
2. Parsial Kompleks (Epilepsi Psikomotor)
a. Dengan gangguan kesadaran sejak onset
b. Onset parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran
c. Terdapat amnesia, dj vu/ jamais vu

3. Bangkitan umum sekunder


a. Parsial sederhana tonik-tonik umum
b. Parsial kompleks tonik-tonik umum
c. Parsial sederhana parsial kompleks tonik-tonik umum
B. Bangkitan Umum
1. Absence Seizure (Petit Mal)
Tidak kejang, tidak sampai jatuh
Terjadi gangguan kesadran singkat (6-10 detik)
Terutama pada anak-anak (4-12 th)
Seakan-akan melamun beraktivitas kembali seperti normal
Dapat terjadi 10-20x/hari
EEG 3PSC Spike Acid Wave
2. Tonik-Klonik (Grand Mal)
Paling sering dijumpai
Ada gejala prodromal
(merasa tegang, cepat tersinggung,dll)
Tida ada aura
Dimulai fase tonik (+ 30 detik) fase klonik (+ 60 detik)
fase post-iktal (15-30 menit)
Fase Tonik :
Semua lengan dan tungkai ekstensi
Penderita tampak mengejan (wajah merah) apnea 30 detik
akhir fase
- Sianosis, tekanan darah , pupil melebar, refleks cahaya (-
), refleks patologis(+), incontinensia urin

Fase Klonik
Kejang ritmik
- Lidah tergigit (buih kemerahan)
- Bernafas kembali
- Wajah kembali normal, tekanan darah , vital sign normal

Post-iktal
Setelah kejang tertidur penderita bangun disorientasi
normal kembali
3. Epilepsi Mioklonik
Pada anak-anak
Terjadi gangguan kesadaran sebentar
Gerakan involuntar aneh dari sekelompok otot (terutama bahu
dan lengan)
Myoclonic jerking
4. Epilepsi Atonik
Mendadak kehilangan tonus otot pada beberapa bagian tubuh
atau seluruh tubuh
Berlangsung singkat drop attact
5. Clonic seizure
Jarang
Clonic jercking
Asimetri (sering)
Irregular
Neonatus, bayi, anak muda (sering)
Selalu simptomatik
6. Tonic Seizures
Kontraksi otot-otot wajah : mata terbuka lebar ; bola mata
menarik keatas ; ekstensi leher ; spasme otot-otot extremitas
bagian proximal ke distal lengan diangkat keatas seperti
menahan pukulan kepala ; exremitas inferior triple flexion,
menangis APNEA (mungkin)
Kepala mengangguk-angguk dan perubahan posture yang ringan
fluktuasi
Perubahan autonomic dapat terjadi
< 60
Semua umur
C. Kejang Yang Tidak Terklasifikasikan
Gerakan bola mata ritmik
Mengunyah-ngunyah
Gerakan seperti berenang
Pernafasan berhenti
Diagnosis
Diagnosis epilepsi ditegakkan berdasar :
1. Anamnesis (auto and alo anamnesis)
Pola/bentuk serangan
Lama serangan
Gejala sebelum, selama dan paska serangan
Frekuensi serangan
Faktor pencetus
Ada/tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
Usia saat terjadi serangan pertama
Riwayat kehamilan, persalinan dan perkembangan
Riwayat penyakit, penyebab atau terapi sebelumnya
Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
2. Pemeriksaan fisik umum dan neurologis melihat adanya
tanda-tanda
Trauma kepala
Infeksi telinga atau sinus
Gangguan kongenital
Gangguan neurologik fokal dan difus
Kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang
Kanker
3. Pemeriksaan Penunjang
3.1 EEG
Indikasi
Membantu menegakkan diagnosis
Menentukan prognosis pada kasus tertentu
Pertimbangan dalam penghentian obat anti epilepsi
Membantu dalam menentukan letak fokus
Rekaman EEG termasuk rekaman tidur, stimulasi fotik dan
hiperventilasi
Kira-kira 29-38% dari pasien epilepsi dewasa, EEG tunggal
menunjukkan kelainan epileptiform. Bila diulang 59-77%
Bila EEG normal, persangkaan kuat, diulang dengan
persyaratan khusus
3.2 Pemeriksaan Neuroimagine Struktural dan fungsional
Indikasi
Semua kasus bangkitan pertama yang diduga kelainan
struktural
Perubahan bentuk bangkitan
Defisit neurologik fokal (+)
Epilepsi parsial
Bangkitan pertama > 25 th
Untuk persiapan operasi
CT-Scan : mendeteksi lesi fokal tertentu
MRI :
Lebih sensitif dan spesifik dibanding CT-Scan
Dapat mendeteksi = sclerosis hipokampus, disgenesis
kortikal, tumor, hemangioma, kavernosa
Untuk intractable epilepsy operasi
3.3 Pemeriksaan Laboratorium
Darah :
darah rutin, elektrolit, gula, fungsi hati dll ~ sesuai indikasi
LCS : sesuai indikasi
Lain-lain : sesuai indikasi

Diagnosis pasti :
Atas dasar : gejala dan tanda klinis icttan yang ditunjang EEG
epileptiform
DIAGNOSIS DEFERENSIAL
1. Pada neonatus
Jittering
Apneu
2. Pada Anak
Breath holding spel
Sinkop
Bangkitan psikogenik / konversi
Prolonged QT syndrome
Night terror
TICK
Hypercyanotic attack (pada tetralogi fallot)
3. Pada Dewasa
Sinkop : dapat sebagai vasovagal attack, sinkop kardiogenik,
sinkop hipovolemik, sinkop hipotensi dan sinkop saat MIKSI
(micturition Syncope)
TIA
Vertigo
Transient global amnesia
Narkolepsi
Serangan panik, psikogenik
Menier
TICK
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan
- Mengontrol gejala atau tanda secara adekuat dengan penggunaan
obat minimal
Prinsip pengobatan
- Pengobatan dilakukan minimal 2 kali bangkitan dalam setahun
- Setelah diagnosis tegak, menerima penjelasan tujuan pengobatan dan
efek samping
- Obat sesuai jenis bangkitan
- Monoterapi
- Dimulai dosis rendah, dinaikkan bertahap sampai dosis efektif
- Dimulai dengan obat lini pertama. Bila mengganti obat pertama
diturunkan bertahap dan obat kedua dinaikkan bertahap
- Bila monoterapi gagal pemantauan kadar obat sesuai indikasi
Definisi
Suatu kondisi dimana bangkitan epilepsi berlangsung terus-menerus,
atau bangkitan berulang dengan tanpa pemulihan kesadaran, selama 30
menit atau lebih

Klasifikasi
- Konvulsif
- Non Konvulsif
Penanganan
PRINSIP
1. Stabilisasi pasien dengan prinsip kegawatan umum (ABC)
2. Menghentikan bangkitan dan mencari etiologi secara simultan
3. Mencegah bangkitan ulang atau mengatasi penyulit
4. Mengatasi faktor pencetus

Bila setelah menit ke 60 belum teratasi (refrakter), sebaiknya perawatan


di lakukan di ICU