Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus

Fraktur Tertutup Collum


Femoris
OL E H: A N I SSA

P E MBI MBI NG: DR . YA S SER R I DWA N, S P. OT ( K ) S P I NE


Pendahuluan
•Fraktur stres pada collum femoris jarang terjadi.
•Terjadi pada2 populasi yang berbeda:
1. orang muda yang aktif dengan aktivitas berat yang tidak biasa atau perubahan aktivitas
(contoh: pelari)
2. orang tua yang menderita osteoporosis (fraktur pelvis jauh lebih sering terjadi)
•Prognosis bergantung pada:
1. tingkat cedera (yaitu jumlah perpindahan, jumlah kominusi, apakah sirkulasi terganggu)
2. reduksi yang adekuat
3. fiksasi yang adekuat.
Kasus
Anamnesis
Pasien MRS pada tanggal 23 Mei 2017, anamnesis dilakukan pada tanggal 3 Juni 2017 pukul
13.00 WITA bertempat di Ruang Dahlia RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Anamnesis
yang dilakukan berupa autoanamnesis.
Nama : Tn. A
Umur : 61 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Jalan Slamet Riyadi, Samarinda
Pekerjaan : Pensiun
Keluhan Utama
Nyeri paha kiri.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Abdul Wahab Sjahranie dengan keluhan nyeri paha kiri yang dirasakan terus
menerus sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan setelah pasien terjatuh di trotoar saat sedang
berjalan. Setelah terjatuh, pasien mengalami nyeri, memar di lutut, dan kesulitan berjalan. Tidak ada riwayat
penurunan kesadaran ataupun muntah setelah pasien terjatuh. Pasien juga mengalami pembengkakan pada
tungkai kiri hingga ujung kaki yang membuatnya semakin sulit berjalan. Pasien lalu berobat ke tukang urut.
Karena keluhan tidak membaik setelah tiga hari, pasien memutuskan untuk berobat ke rumah sakit.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya, tidak pernah mengalami patah
tulang tanpa sebab, tidak ada riwayat dirawat di Rumah Sakit sebelumnya maupun riwayat
menjalani operasi. Riwayat keganasan, kencing manis, alergi, ataupun tekanan darah tinggi
disangkal oleh pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat kelainan tulang, keganasan, kencing manis, alergi, ataupun tekanan darah
tinggi di keluarga pasien.
Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pada tanggal 3 Juni 2017
Kesadaran : Compos mentis, E4V5M6 Kepala
Keadaan umum : Sakit sedang Mata cowong (-/-), anemis (-/-), ikterik (-/-),
pupil (3mm/3mm), refleks cahaya (+/+),
sianosis (-).
Tanda Vital
TD : 120/80 mmHg Leher
N : 90 x/menit regular, kuat angkat Pembesaran kelenjar : (-)
RR : 21 x/menit
T : 36,5oC (axila)
Pulmo Auskultasi: S1/S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Inspeksi: bentuk normal, pergerakan dada simetris,
retraksi (-)
Abdomen
Palpasi: krepitasi (-), fremitus raba dan fremitus suara
Inspeksi : flat
Perkusi: sonor seluruh lapang paru
Palpasi : soefl, defans muskular (-), organomegali (-),
Auskultasi: suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing nyeri tekan(-)
(-/-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal
Jantung
Inspeksi: Ictus Cordis tidak tampak
Ekstremitas
Palpasi: Ictus Cordis teraba di ICS V midclavicula line
sinistra Akral hangat, sianosis (-), CRT <2detik, edema (+) pada
tungkai kiri, makula dan skuama pada kedua tangan dan
Perkusi : Batas Kanan = ICS III Parasternal line dextra kaki.
Batas Kiri = ICS V Midclavicula line sinistra
Status Lokalis Regio Femur Sinistra
Look: edema (+), hematom (-), deformitas (-)
Feel : Nyeri tekan (+), pulsasi distal teraba, sensorik (+)
Move : ROM terbatas nyeri.
Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap Chloride: 101 mmol/L Hematokrit: 34%
(23/5/2017)
HbsAg: Non reaktif Leukosit: 11300/µL

Leukosit: 13650/µL AbHIV: Non reaktif Trombosit: 303000/µL

Hemoglobin: 12,7 gr/dL


Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik
Hematokrit: 38,8% Darah (1/6/2017)
Trombosit: 265000/µL SGOT: 29 U/L
Bleeding Time: 3 menit SGPT: 15 U/L
Clotting Time: 8 menit Albumin: 3,2 gr/dL
Glukosa Sewaktu: 115 mg/dL
Ureum: 40,1 mg/dL Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap
Creatinin: 1 mg/dL (2/6/2017, post operasi)

Natrium: 139 mmol/L


Hemoglobin: 10,7 gr/dL
Kalium: 3,4 mmol/L
Diagnosis
Fraktur tertutup collum femoris sinistra + Dermatitis alergi
Penatalaksanaan
Co. dr. Sp.OT Co. dr. Sp.DV Metamizole Na 3 x 1 gr IV
IVFD RL 1500cc/24jam Desoxymethasone cream 2 dd GV mulai 3/6/2017
ue
Tramadol drip 3 x 1 amp dalam Ro post operasi
PBNS Cetirizine 10 mg 1 dd tab I
Pasang skin traksi
Pro Bipolar Uncemented Co. dr. Sp.OT (2/6/2017 post
Hemiarthroplasty operasi)
IVFD RL : D5 = 1 : 2 /24 jam
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV
Tinjauan Pustaka
Anatomi Os Femur
Vaskularisasi
•Caput femoris mendapat persediaan darah dari tiga sumber:
1. Pembuluh intramedula pada kolum femur
2. Pembuluh servikal ascenden pada retinakulum kapsular
3. Pembuluh darah pada ligamentum kapitis femoris.
Fraktur Tertutup Collum Femur
•Fraktur adalah hilangnya kontinuitas struktur tulang.
•Collum femoris adalah tempat yang paling sering terkena fraktur pada lansia.
•Fraktur dapat berupa fraktur subkapita transervikal dan basal yang kesemuanya terletak di
dalam sampai sendi panggul atau intrakapsuler, fraktur Intertrokanter dan subtrokanter terletak
ekstrasubkapsuler
Epidemiologi
•Fraktur stres pada collum femoris jarang terjadi, namun kemungkinan dapat menimbulkan akibat yang serius.
•fraktur collum femoris merupakan 5-10% dari semua fraktur stres.
•Kelompok atlet tertentu, termasuk pelari jarak jauh yang tiba-tiba berubah atau menambahkan aktivitas,
tampaknya memiliki prevalensi fraktur collum femoris yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.
•Wanita memiliki tingkat fraktur stres yang lebih tinggi daripada pria, dengan risiko relatif berkisar antara 1,2
sampai 10 untuk volume latihan serupa. Kesalahan pelatihan adalah faktor risiko yang paling umum terjadi,
termasuk peningkatan kuantitas atau intensitas pelatihan secara tiba-tiba dan pengenalan aktivitas baru.
•Fraktur collum femoris pada pasien usia lanjut paling sering terjadi setelah luka ringan atau cedera punggung,
dan lebih sering terjadi pada wanita.
Klasifikasi Fraktur Collum
Femoris
Stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terimpaksi.
Stadium II adalah fraktur lengkap tetapi tidak bergeser.
Stadium III adalah fraktur lengkap dengan pergeseran
sedang.
Stadium IV adalah fraktur yang bergeser secara hebat.
Manifestasi Klinis
•Riwayat jatuh, diikuti nyeri pinggul.
•Tungkai pasien terletak pada rotasi lateral, shortening
Penatalaksanaan
•Tujuan: meningkatkan penyembuhan, mencegah komplikasi, dan mengembalikan fungsi.

•Fase Akut  terapi fisik, pembedahan (reduksi dini, fiksasi internal, arthroplasty)
•Fase Pemulihan  terapi fisik, pembedahan
•Fase Pemeliharaan  terapi fisik
•Medikamentosa  analgesik
Komplikasi
•trombosis vena betis
•emboli paru
•Pneumoni
•ulkus decubitus
•Nekrosis avaskuler
•Non union fraktur
Kesimpulan
•Fraktur adalah hilangnya kontinuitas struktur tulang.
•Faktor mempengaruhi populasi lansia terhadap fraktur  osteoporosis, malnutrisi, penurunan
aktivitas fisik, gangguan penglihatan, penyakit neurologis, keseimbangan yang buruk, dan atrofi
otot.
•Collum femoris merupakan tempat yang paling sering terkena fraktur pada lansia, paling sering
terjadi setelah luka ringan atau cedera punggung, dan lebih sering terjadi pada wanita.
•Prinsip terapi  reduksi yang tepat, fiksasi secara erat, dan aktivitas dini.
Terima Kasih 