INDUKSI PERSALINAN
dr. Ny. Suzanna S Pakasi, SpOG
Subbagian Fetomaternal
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin,
Makassar
Definisi
Induksi persalinan : suatu tindakan terhadap ibu
hamil yang belum inpartu baik secara operatif
maupun medisinal, untuk merangsang timbulnya
kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan
Harus dibedakan dengan Akselerasi persalinan :
dikerjakan pada ibu hamil yang sudah inpartu
Cara Induksi Persalinan
I. Secara medisinal
I.a. Oksitosin drips
I.b. Prostaglandin
I.c. Cairan hipertonik intrauterin
II. Secara operatif / manipulatif
II.a. Amniotomi
II.b. Stripping of the membrane
II.c. Pemakaian rangsangan listrik
II.d. Breast stimulation
I.a. Oksitosin drip
Def : suatu cara untuk menimbulkan persalinan
dengan memberikan tetesan oksitosin dalam
larutan D5% secara IV.
Syarat :
Kehamilan aterm, kecuali janin mati
Ukuran panggul normal
Tidak ada CPD
Kepala engaged
Serviks matang (Bishop score > 8)
Indikasi :
Indikasi janin
Kehamilan serotinus
Ketuban pecah dini
Janin mati
Indikasi ibu
Kehamilan dengan hipertensi
Kehamilan dengan DM
Kontra indikasi :
Malposisi dan malpresentasi janin
Asfiksia akibat insufisiensi plasenta
CPD
Cacat rahim (riwayat SC)
Grande multipara
Gemelli
Distensi berlebihan (hidramnion)
Plasenta previa
Penyulit pada ibu :
Tetani uteri
Ruptura uteri iminen
Ruptura uteri
Penyulit pada janin :
gawat janin
Teknik pemberian
Dext 5% 500 cc + 5 IU oksitosin (1/2 amp)
Tetesan permulaan kadar oksitosin 2 mU/
menit
Kontraksi rahim dinilai setiap 15 menit.
Apabila his belum adekuat dapat dinaikkan 2
mU/ 15 menit sampai his adekuat, kemudian
pertahankan.
Apabila terjadi kontraksi rahim yang sangat
kuat tetesan dikurangi atau dihentikan
sementara.
Kadar maksimal adalah 40 mU/menit.
Apabila sudah mencapai kadar maksimal,
kontraksi rahim belum juga timbul respons
negatif ( tidak perlu menambah jumlah
tetesan ).
Awasi tanda-tanda tetani uteri, ruptura uteri
membakat, atau gawat janin.
Oksitosin drip dipertahankan sampai lahirnya
plasenta.
I.b. Prostaglandin
Merangsang otot-otot polos rahim
PGE2 dan PGF2α
Route :
Oral
Vaginal
Rectal
IV
Intraamnion
Efek samping : mual, muntah, diare
I.c. Cairan Hipertonik Intrauterin
Dipakai untuk merangsang kontraksi rahim
dengan janin mati
Garam hipertonik 20% atau urea
Dapat dikombinasi dengan pemberian PG
Penyulit :
Hipernatremia
Infeksi
Gangguan pembekuan darah
II.a. Amniotomi
Dengan cara memecah selaput ketuban baik
dibagian bawah depan (front water) maupun
dibagian belakang (hind water) dengan suatu alat
khusus.
Cara kerja :
Mengurangi beban rahim sampai 40% kontraksi
rahim lebih kuat pembukaan serviks
Aliran darah dalam rahim berkurang oksigenasi
otot-otot rahim berkurang kepekaan otot rahim
meningkat
Kepala langsung menekan dinding serviks
menekan saraf-saraf kontraksi rahim
Penyulit
Prolapsus funikuli
Gawat janin
Infeksi
Solusio plasenta
Teknik
Dua tangan
Jari telunjuk dan tengah dimasukkan sedalam
kanalis servikalis.
Telapak tangan menghadap ke arah atas.
Tangan kiri memasukkan pengait khusus dengan
tuntunan kedua jari tangan kanan.
Tangan kiri (diluar) memanipulasi pengait tersebut
untuk dapat menusuk / merobek selaput ketuban.
Satu tangan
Pengait dijepit diantara jari tengah dan telunjuk
tangan kanan.
Masukkan kedalam kanalis servikalis.
Seorang asisten menahan kepala janin kedalam
pintu atas panggul.
Setelah air ketuban mengalir keluar, pengait
dikeluarkan oleh tangan kiri, sedang jari tangan
kanan (yang didalam) memperlebar robekan.
Awasi kemungkinan terjadinya prolaps tali pusat
atau bagian-bagian kecil janin.
II.b. Stripping of the membrane
Melepaskan dan memisahkan selaput ketuban
dari dinding segmen bawah rahim secara
sirkumferensial setinggi mungkin dengan cara
digital.
Syarat :
Serviks terbuka untuk memasukkan 1 jari
Penyulit :
Hati-hati bila plasenta letak rendah perdarahan
II.c. Pemakaian Rangsangan Listrik
Dengan 2 elektrode, 1 diletakkan dalam
serviks, yang lainnya ditempelkan pada
kulit dinding perut dialiri listrik
rangsangan pada serviks kontraksi
rahim
II.d. Breast Stimulation
Manipulasi papila mammae merangsang
hipofisis posterior oksitosin kontraksi
rahim