0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
484 tayangan12 halaman

Panduan Terminasi Kehamilan

Dokumen tersebut membahas berbagai metode untuk mengakhiri kehamilan seperti abortus buatan, induksi persalinan, dan terminasi kehamilan lainnya. Metode-metode tersebut meliputi dilatasi dan kuretase, pemberian prostaglandin, histerotomi, serta induksi persalinan secara kimiawi dan mekanis. Dokumen ini juga menjelaskan teknik-teknik dan komplikasi dari masing-masing metode.

Diunggah oleh

Caezar Fabi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
484 tayangan12 halaman

Panduan Terminasi Kehamilan

Dokumen tersebut membahas berbagai metode untuk mengakhiri kehamilan seperti abortus buatan, induksi persalinan, dan terminasi kehamilan lainnya. Metode-metode tersebut meliputi dilatasi dan kuretase, pemberian prostaglandin, histerotomi, serta induksi persalinan secara kimiawi dan mekanis. Dokumen ini juga menjelaskan teknik-teknik dan komplikasi dari masing-masing metode.

Diunggah oleh

Caezar Fabi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERMINASI KEHAMILAN

Terminasi Kehamilan :
tindakan pervaginam atau perabdominal untuk
mengeluarkan buah kehamilan dengan tujuan
pengakhiran kehamilan.
Upaya terminasi kehamilan :
1. Abortus buatan
2. Induksi persalinan
ABORTUS BUATAN
Adl : mengeluarkan hasil konsepsi sebelum
kehamilan 28 mgg atau BB janin < 1000 gr
dimana janin tidak dapat hidup di luar janin.
Cara melakukan abortus buatan :
1.
Dilatasi dan kuretase
2.
Kuretase Vacuum
3.
Dilatasi bertahap
4.
Penggaraman
5.
Prostaglandin
6.
Histerotomi

DILATASI DAN KURETASE

Teknik :
- posisi litotomi
- pemeriksaan bimanual
- setelah premedikasi, Infus glukosa 5% IV
dengan 10 IU, tetes pelan pelan
- anestesi umum
- pasang speculum, cunam serviks menjepit
dinding depan porsio
- speculum depan dilepas, speculum belakang
dipegang oleh pembantu
- cunam dipegang dengan tangan kiri
- sondase uterus
- dilatasi kanalis servikalis
- kuretase , hamil < 6-7 minggu kuret tajam,
hamil > 6-7 minggu kuret tumpul
Komplikasi :
1. Perforasi
2. Luka pada serviks uteri
3. Perlekatan dalam kavum uteri
4. Perdarahan
5. Infeksi

DILATASI DALAM DUA TAHAP


Teknik :
Tahap I : pasang laminaria 2-3 gagang laminaria
ke dalam kanalis servikalis 12 jam
Tahap II : bila pembukaan belum cukup besar
dapat dilakukan dilatasi dengan busi
Hegar
Tahap III: pengeluaran isi kavum uteri dengan
cunam abortus dan atau dengan alat
kuret
Komplikasi :
1. Perforasi
2. Infeksi
3. Perdarahan
4. Robekan pada serviks
SUCTION KURETASE
- pemeriksaan bimanual
- jepit bibir serviks dengan cunam serviks
- sonde uterus
- anestesi umum
- dilatasi serviks dengan kuret penyedot. Alat
masuk panjang kavum uteri dan ujung luar
dipasang pada aspirator
- penyedotan dengan tekanan negative 40-60 Nm,
kuret naik-turun sambil memutar porosnya
perlahan lahan

- sisanya dengan kuret biasa


PEMBERIAN CAIRAN NaCl HIPERTONIK
Biasa dilakukan pada kehamilan > 16 minggu
Teknik :
- amniosentesis melalui dinding perut
- masukkan NaCl hipertonik ke kantong amnion
- infus Dextrosa 5% dengan Oksitosin
- Tfut tentukan, VU dikosongkan
- Desinfeksi dinding perut antara pusat dan
simfisis
- Anestesi local antara fundus uteri dan simfisis
- Jarum spinal ditusukkan menembus dinding
uterus
- Stilet dikeluarkan dari jarum cairan amnion
mengalir keluar
- Ujung jarum dihubungkan dengan semprit
- Larutan NaCl 20% dimasukkan ke dalam
kantong amnion
- Observasi penderita terhadap sakit kepala,
panas, nyeri perut yang keras, haus atau
semutan pada tangan dan muka
- Bila gejala timbul lar. Hipertonik hentikan
- Jarum spinal masuk cairan amnion tidak
keluar, NaCl tidak diberikan
- Sesudah NaCl masuk, berikan oksitosin drip, 1020 IU Oksitosin ke dalam Dekstrosa 5% 500 ml
dengan kecepatan 15-25 tetes/menit

- Peroral dibatasi 1500 ml


- Diharapkan dalam 24 jam terjadi abortus, bila
belum terjadi infus di stop dan penderita di
observasi
- 10% 2 jam sesudah janin lahir plasenta belum
lahir tapi sudah lepas plasenta dikeluarkan
dengan cunam abortus
- Bila plasenta belum lepas kuret tumpul
Indikasi :
1. abortus buatan
2. kematian janin intrauterine
3. missed abortion
Komplikasi :
1. Konvulsi
2. Cardiac Arrest
3. Penghentian pernafasan
4. Hipofibrinogenemia
5. Perdarahan
6. Infeksi

PEMBERIAN PROSTAGLANDIN
- prostaglandin suatu zat asam lemak yang
terdapat pada jaringan dan cairan dalam tubuh
- jenis PGE dan PGF dapat merangsang otot
uterus
Induksi Abortus :
Caranya :
- menggunakan PGF 2 25 mg / PGE2 5 mg
dalam 10 ml NaCl disuntikkan secara
transabdominal ke dalam kantong amnion
- biasanya setelah 1-2 suntikan abortus akan
terjadi dalam 24 jam
Induksi Persalinan :
Beberapa cara induksi persalinan :
- dengan menyuntikkan secara IM 0,5 mg PGF 2
metil ester dalam 1 cc larutan solvens,
disuntikkan pada otot uterus setiap 8 jam sekali.
Suntikan berikutnya, diberikan hanya bila hasil
konsepsi belum lahir. Maksimal suntikan 5
dosis.
- Pemberian tablet PGE2
o 0,5 mg PGE2 diminum setiap 1 jam selama
4 jam pertama atau 0,5 mg PGE2 setiap jam
selama 2 jam pertama.

1 mg PGE2 setiap 1 jam selama 4 jam


berikutnya atau 1 mg PGE2 setiap jam
selama 6 jam berikutnya
Dilanjutkan dosis 1,5 mg PGE2 setiap jam
selama 8 jam berikutnya
Biasanya persalinan berlangsung dalam 8
jam lebih pada primi dan 5 jam pada multi.

Komplikasi :
1. panas
2. enek
3. muntah
4. diare
5. bronkospasme

HISTEROTOMI
Dilakukan bila cara pemberian larutan hipertonik
intrauterine tidak dapat dikerjakan : pada
pembukaan kanalis servikalis yang kecil dan pada
kehamilan 12-16 minggu.
Teknik :
1. Histerotomi abdominal
Caranya :
- setelah dinding perut dibuka
- plika VU dibuka melintang dan VU
didorong ke bawah
- dinding uterus bawah dibuka vertikal
- kantong amnion digunting, janin dan
plasenta dikeluarkan
- berikan Oksitosin 10 IU dalam otot uterus
- luka uterus dijahit 2 lapisan
- luka yang dijahit ditutup dengan plika VU
- dinding perut ditutup lapis demi lapis
2. Histerotomi vaginal
Caranya :
Insisi pada serviks (histerosmatotomi)
sehingga diperoleh pembukaan kanalis
servikalis yang besar. Hasil konsepsi mulamula dikeluarkan dengan cunam abortus,
kemudian diikuti dengan kuretase

INDUKSI PERSALINAN

Suatu upaya agar persalinan mulai berlangsung sebelum


atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan
merangsang timbulnya his.
Sebelum induksi persalinan : Bischop Scor
- skor > 5, amniotomi, 4 jam tidak ada kemajuan,
berikan infus tetes oksitosin
- skor < 5, ketuban intak, beri infuse oksitosin
tetes
a. bila skor > 5 : amniotomi
b. bila skor < 5 : oksitosin tetes diulangi
c. bila 2-3 kali, serviks belum matang segera
amnotomi
Indikasi :
1. Postmaturitas
2. Preeklamsi / Eklamsi
3. KPD
4. IUFD
5. DM, pada kehamilan 37 mgg
6. Rhesus Antagonis
7. Penyakit ginjal berat
8. Hidramnion berat
9. Anensefalus

10.
11.
12.
13.

Gangguan pertumbuhan janin / gawat janin


Indikasi non medis : sosioekonomi
primigravida tua
perdarahan antepartum

Syarat :
1. Serviks uteri sudah matang
2. tidak ada CPD
3. tidak ada kelainan letak janin
4. kepala sudah mulai turun ke rongga panggul
Cara Induksi :
1. cara kimiawi
2. cara mekanis
3. cara kombinasi kimiawi dan mekanis
CARA KIMIAWI
a. Oksitosin drips : kemasan yang dipakai : pitosin,
sitosinon
Teknik Induksi :
1. Kandung kemih dan rectum dikosongkan
2. infus Oksitosin 5 IU dalam Dekstr 5%
3. kecepatan mulai dengan 8 tetes/mnt, setiap 15
mnt naik 4 tetes sampai maksimal 60 tts/mnt
Usaha dilakukan sampai 1000 ml dimasukkan
atau sampai his teratur dan kuat, partus mulai
a. Selama pemberian dilakukan observasi BJA,
kualitas his

b. Dihentikan bila kontraksi terus menerus,


kelainan BJA diluar his
c. Bila 24 jam sesudah ketuban dipecahkan
partus tidak mulai SC
4. Oksitosin drip akan berhasil bila nilai pelvic
di atas 5 dan dilakukan amniotomi
b. Infeksi larutan hipertonik intraamnial
c. Pemberian prostaglandin

CARA MEKANIS
a. melepaskan selaput ketuban (stripping of the
membran)
b. amniotomi
dilakukan bila memenuhi syarat sbb :
serviks matang/skor >5
pembukaan kira-kira 4-5 cm
kepala sudah memasuki PAP
c. dilatasi serviks
d. accochement force
kalau bagian terbawah kaki : kaki diikat
dengan kain kasa steril yang melalui katrol
dan diberi beban
kalau letak kepala, kulit kepala dijepit
dengan cunam Muzeuk yang kemudian
diikat dengan kain kasa melalui katrol
diberi beban

CARA KOMBINASI
Kombinasi kedua cara diatas, mis : melakukan
amniotomi diikuti oksitosin drip
Komplikasi :
1. Kematian perinatal
2. bila gagal SC

Anda mungkin juga menyukai