Anda di halaman 1dari 33

Projek Penguatan

PROFIL PELAJAR PANCASILA

Sosialisasi Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran 2022


Tujuan

Memahami konsep Projek Penguatan Profil Pelajar


Pancasila agar dapat mengembangkan kegiatan
pendampingan yang dibutuhkan satuan pendidikan.
Ice Breaking
Materi Diskusi

Pentingnya projek
penguatan Profil Pelajar Implementasi Projek
A Pancasila sebagai Penguatan Profil Pelajar C
program untuk mencapai Pancasila di satuan
dimensi Profil Pelajar pendidikan
Pancasila

Prinsip-prinsip projek
penguatan Profil Pelajar
D
B Pancasila
penerjemahannya dalam
implementasi di satuan
pendidikan
Pentingnya Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila

Apa pentingnya Projek Penguatan


Profil Pelajar Pancasila?
Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila M
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
“mengalami pengetahuan” sebagai proses
penguatan karakter sekaligus kesempatan untuk
belajar dari lingkungan sekitarnya. Dalam projek T
penguatan ini, siswa memiliki kesempatan untuk
mengupas dan memahami tema-tema atau isu
penting seperti perubahan iklim, anti radikalisme,
kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi W
“... perlulah anak-anak [Taman Siswa] kita
dll., sehingga siswa bisa melakukan aksi nyata
dekatkan hidupnya kepada perikehidupan dalam menjawab isu-isu tersebut sesuai dengan
rakyat, agar supaya mereka tidak hanya tahapan belajar dan kebutuhannya. Tema ini dapat
memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup
rakyatnya, akan tetapi juga dapat
berubah setiap tahunnya, ditentukan oleh T
‘mengalaminya’ sendiri, dan kemudian tidak pemerintah pusat (Kemdikbud) berdasarkan isu
hidup berpisahan dengan rakyatnya.” yang diprioritaskan.
Sumber: OECD (2018)

F
Latar Belakang Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

• Dalam penguatan karakter dan kompetensi umum (transversal atau general competences), penting
bagi siswa belajar lintas ilmu. Namun demikian, pembelajaran berbasis projek ini belum menjadi
kebiasaan di kebanyakan sekolah di Indonesia, sehingga perlu dukungan kebijakan pusat.
• Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah terjemahan dari pengurangan beban belajar di kelas
(intrakurikuler) sebagaimana rekomendasi kajian-kajian internasional, agar siswa memiliki lebih
banyak kesempatan untuk belajar di setting yang berbeda (less formal, less structured, more
interactive, engaged in community)
• Siswa perlu lebih peka terhadap isu-isu terkait di sekitar kita. Mengeksplorasi isu tersebut lebih
banyak di luar mata pelajaran dalam bentuk projek memberikan ruang lebih besar untuk mengenali,
memahami, dan mendalami isu tersebut. Diharapkan, siswa dapat menjadi warga Indonesia dan warga
dunia yang bertanggung jawab dan aktif berkontribusi
Nasionalisme terbangun dalam diri pelajar Indonesia sebagai buah
dari perkembangan elemen sekurang-kurangnya dari 3 (tiga)
dimensi: elemen Akhlak bernegara dalam dimensi (1) Beriman,
Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia,
kepedulian pada sesama yang merupakan bagian dari dimensi (2)
Bergotong Royong, serta dimensi (3) Berkebinekaan Global.

Pelajar Indonesia terbangun identitas dirinya secara matang dan


memiliki nilai-nilai nasionalisme yang tertanam kuat, seiring dengan
terbangunnya rasa kemanusiaan. Dengan demikian, kecintaannya
“Konsep karakter yang pada tanah air serta tekadnya untuk membela keutuhan bangsa dan
lebih kompleks terbangun Negara Indonesia berkembang sejalan dengan kesadarannya bahwa
ia adalah bagian dari warga dunia yang menghargai nilai-nilai
sebagai hasil sintesis kemanusiaan universal. Keseimbangan identitas diri sebagai warga
beberapa dimensi, sebagai negara yang nasionalis dan warga dunia yang humanis mendorong
contoh konsep pelajar Indonesia memiliki jati diri yang kuat dalam
nasionalisme” merepresentasikan budaya luhur bangsanya, terbuka, inklusif, dan
siap berkontribusi untuk memajukan bangsanya dan dunia

dikutip dari naskah akademik


Dimensi dan Elemen
Profil Pelajar Pancasila
Beriman,
Bertakwa kepada Berkebhinekaan Bergotong
Mandiri Bernalar Kritis Kreatif
Tuhan YME, dan Global Royong
Berakhlak Mulia

1. Akhlak 1. Mengenal dan 1. Kolaborasi 1. Pemahaman diri 1. Memperoleh dan 1.Menghasilkan


beragama menghargai budaya 2. Kepedulian dan situasi memproses gagasan yang
2. Akhlak pribadi bangsa Indonesia 3. Berbagi 2. Regulasi diri informasi dan orisinal
3. Akhlak kepada dan dunia gagasan 2.Menghasilkan
manusia 2. Komunikasi dan 2. Menganalisis karya dan
4. Akhlak kepada interaksi antar dan tindakan yang
alam budaya mengevaluasi orisinal
5. Akhlak 3. Refleksi dan penalaran 3.Memiliki
bernegara tanggung jawab 3. Merefleksi dan keluwesan
terhadap mengevaluasi berpikir dalam
pengalaman pemikirannya mencari
kebhinekaan sendiri alternatif solusi
4. Berkeadilan sosial permasalahan
Penerapan Profil Pelajar Pancasila di
Sekolah Intrakurikuler
Muatan Pelajaran
Profil Pelajar Pancasila Kegiatan/ pengalaman
adalah karakter dan belajar
kemampuan yang
dibangun dalam Projek untuk
keseharian dan penguatan Profil
dihidupkan dalam diri Pelajar Pancasila
Pelajar Pembelajaran berbasis
Indonesia projek yang kontekstual
dan interaksi dengan
Budaya Sekolah lingkungan sekitar
Iklim sekolah,
kebijakan, pola Ekstrakurikuler
interaksi dan
Kegiatan untuk
komunikasi, serta
mengembangkan
norma yang berlaku
di sekolah
minat dan bakat
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan kegiatan yang


dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter
sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar
Kompetensi Lulusan. Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan
waktu pelaksanaan.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dirancang terpisah dari
intrakurikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek tidak
harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler.
Satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja
untuk merancang dan menyelenggarakan Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila.
Prinsip Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila

Apa saja prinsip Eksploratif


Projek Penguatan Kontekstual
Profil Pelajar
Pancasila?
Berpusat pada
peserta didik
Holistik
Prinsip-Prinsip Kunci Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila
Holistik
Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan
menyeluruh, tidak parsial atau terpisah-pisah. Dalam konteks
perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kerangka
berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema
secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk
memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap
tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah
tematik yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih
kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten
pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang
holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang
bermakna antar komponen dalam pelaksanaan projek, seperti
murid, guru, sekolah, masyarakat, dan realitas kehidupan sehari-
hari.
Prinsip-Prinsip Kunci Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila
Kontekstual
Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan
kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi
dalam keseharian. Prinsip ini mendorong guru dan murid untuk
dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan
sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya,
sekolah sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka
ruang dan kesempatan bagi murid untuk dapat mengeksplorasi
berbagai hal di luar lingkup sekolah. Tema-tema projek yang
disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh persoalan lokal yang
terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek
pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian,
diharapkan murid dapat mengalami pembelajaran yang bermakna
untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan
kemampuannya.
Prinsip-Prinsip Kunci Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila
Berpusat Pada Peserta
Didik
Prinsip berpusat pada murid berkaitan dengan skema
pembelajaran yang mendorong murid untuk menjadi subjek
pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara
mandiri. Guru diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor
utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak
materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, guru
sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan
banyak kesempatan bagi murid untuk mengeksplorasi berbagai
hal atas dorongannya sendiri. Harapannya, setiap kegiatan
pembelajaran dapat mengasah kemampuan murid dalam
memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk
menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang
dihadapinya.
Prinsip-Prinsip Kunci Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila
Eksploratif
Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka
ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tidak berada dalam
struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema
formal pengaturan mata pelajaran. Oleh karenanya projek ini
memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi
pelajaran, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan
pembelajaran. Namun demikian,
diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaanya, guru tetap
dapat merancang kegiatan projek secara sistematis dan terstruktur
agar dapat memudahkan pelaksanaannya. Prinsip eksploratif juga
diharapkan dapat mendorong peran Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila untuk menggenapkan dan menguatkan
kemampuan yang sudah murid dapatkan dalam pelajaran
intrakurikuler.
Penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran
berbasis projek adalah unit pembelajaran terintegrasi, bukan
tematik (webbed)*

Unit Pembelajaran
Tematik ~ Gado-gado
Unit Pembelajaran
Integrasi ~ Jus Mata pelajaran dirangkai atau dipadu
Pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan satu tema.
(kompetensi) yang dalam projek Pengetahuan dan keterampilan dari
terdiri dari lintas disiplin ilmu, masing-masing mata pelajaran dapat
diuraikan, sehingga meskipun temanya
berpadu dan melebur, tidak
sama, muatan mapel Matematika,
dipisahkan lagi mana yang misalnya, masih bisa dipisahkan
merupakan bagian dari mapel- dengan mapel Bahasa Indonesia, IPA,
mapel dsb.
4
Penentuan Tema di Satuan
Pendidikan

Perubahan Iklim Bhinneka Tunggal Bangunlah Jiwa


Kearifan Lokal
Global Ika dan Raganya

Berekayasa dan
Berteknologi untuk
Suara Demokrasi Membangun NKRI Kewirausahaan

*TK dan SD wajib memilih min. 2 tema per tahun


**SMP, SMA, dan SMK wajib memilih min. 3 tema per tahun
***Sekolah menentukan tema dan mengembangkannya untuk setiap kelas/angkatan
Lima dari Delapan Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan di SD
Gaya Hidup Berkelanjutan (SD-SMA/K) Kearifan Lokal (SD-SMA/K)
Memahami dampak dari aktivitas manusia, baik jangka Membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri
pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan melalui eksplorasi tentang budaya dan kearifan lokal
di dunia maupun lingkungan sekitarnya. masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta
perkembangannya. Siswa mempelajari bagaimana dan
Melalui tema ini, murid mengembangkan kemampuan mengapa masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti
berpikir sistem untuk memahami keterkaitan aktivitas yang ada, bagaimana perkembangan tersebut
manusia dengan dampak-dampak global yang menjadi dipengaruhi oleh situasi/konteks yang lebih besar
SD wajib akibatnya, termasuk perubahan iklim. Murid juga dapat dan
membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah
(nasional dan internasional), serta memahami apa
yang berubah dari waktu ke waktu apa yang tetap
memilih lingkungan serta mencari jalan keluar untuk masalah
lingkungan serta mempromosikan gaya hidup serta perilaku
sama. Siswa juga mempelajari konsep dan nilai-nilai
dibalik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan
min. 2 yang lebih berkelanjutan dalam keseharian.
nilai-nilai apa yang dapat diambil dan diterapkan
dalam kehidupan mereka. Siswa juga belajar untuk
tema per Selain itu, murid juga mempelajari potensi krisis
keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya (bencana mempromosikan salah satu hal yang menarik tentang
tahun alam akibat perubahan iklim, krisis pangan, krisis air bersih
dan lain sebagainya), serta mengembangkan kesiapan untuk
budaya dan nilai-nilai luhur yang dipelajarinya.

menghadapi dan memitigasinya. Contoh muatan lokal:


Jawa Barat : sistem masyarakat di Kampung Naga
Contoh muatan lokal: Papua : sistem masyarakat di Lembah Baliem
Jakarta : situasi banjir
Kalimantan : hutan sebagai paru-paru dunia
Lima dari Delapan Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan di SD
Bhinneka Tunggal Ika (SD-SMA/K) Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun
Mengenal belajar membangun dialog penuh hormat NKRI (SD-SMA/K)
Siswa berkolaborasi dalam melatih daya pikir kritis,
tentang keberagaman kelompok agama dan kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan berempati untuk
kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sekitar berekayasa membangun produk berteknologi yang
dan di Indonesia serta nilai-nilai ajaran yang memudahkan kegiatan dirinya dan juga sekitarnya. Siswa
dianutnya. Mereka juga mempelajari perspektif mengasah berbagai keterampilan berpikir (berpikir
berbagai agama dan kepercayaan tentang fenomena sistem, berpikir komputasional, atau design thinking)
dalam mewujudkan produk berteknologi. Melalui projek
SD wajib global misalnya masalah lingkungan, kemiskinan,
dsb. Siswa secara kritis dan reflektif menelaah
ini, siswa dapat mempelajari dan mempraktikkan proses
rekayasa (engineering process) secara sederhana, mulai
memilih berbagai stereotip negatif yang biasanya dilekatkan dari menentukan spesifikasi sampai dengan uji coba,
pada suatu kelompok agama, dan dampaknya untuk membangun model atau prototipe produk bidang
min. 2 terhadap terjadinya konflik dan kekerasan. Melalui rekayasa (engineering). Mereka juga dapat mengasah
keterampilan coding untuk menciptakan karya digital,
tema per projek ini, siswa mengenal dan mempromosikan
dan berkreasi di bidang robotika. Harapannya, para siswa
budaya perdamaian dan anti kekerasan.
tahun dapat membangun budaya smart society dengan
menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat
Contoh muatan lokal: sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi,
Menangkap isu-isu atau masalah keberagaman di mensinergikan aspek sosial dan aspek teknologi.
lingkungan sekitar dan mengeksplorasi
Contoh muatan lokal:
pemecahannya Membuat desain inovatif sederhana yang menjawab
permasalahan yang ada di sekitar sekolah
Lima dari Delapan Tema untuk Dipilih Satuan Pendidikan di SD
Kewirausahaan (SD-SMA)
Mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah yang ada
dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek
lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Siswa kemudian
merancang strategi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal dalam
kerangka pembangunan berkelanjutan. Melalui kegiatan dalam projek
SD wajib ini seperti terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi
memilih untuk menghasilkan karya bernilai jual, dan kegiatan lainnya, yang
min. 2 tema kemudian diikuti dengan proses analisis dan refleksi hasil kegiatan
mereka. Melalui kegiatan ini, kreatifitas dan budaya kewirausahaan akan
per tahun ditumbuhkembangkan. Siswa juga membuka wawasan tentang peluang
masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver
yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh
integritas
Contoh muatan lokal:
Membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual
Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Bagaimana pengembangan tema- tema


Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila dalam implementasi di satuan
pendidikan?
IMPLEMENTASI PROJEK PENGUATAN
PROFIL PELAJAR PANCASILA UNTUK SD

Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek


ALOKASI WAKTU dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi
jam pelajaran projek dari semua mata
Jenjang Waktu
pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan

SD kelas I‒V: 252 JP masing-masing projek tidak harus sama.


Dalam satu tahun ajaran, projek penguatan
SD kelas VI: 224 JP profil pelajar Pancasila dilakukan sekurang-
kurangnya: 2 projek dengan 2 tema berbeda di
SD/MI,
Apa saja yang perlu disiapkan Satuan Pendidikan.
untuk dapat menggulirkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila?
Pengelolaan waktu dan
kegiatan
Guru
• Menyiapkan sistem dari
• Pengelolaan jam perencanaan hingga penilaian
pelajaran dan kolaborasi
• Sistem pendokumentasian projek
guru
untuk dapat digunakan sebagai
• Pengaturan agar alokasi portofolio
jam mengajar guru tetap
• Kolaborasi dengan narasumber
sama pengaya projek: masyarakat,
komunitas, universitas, praktisi
Informasi utama ● Deskripsi singkat projek. Satu paragraf singkat yang menjelaskan tentang tujuan umum,
Komponen ruang lingkup tema, dan relevansi projek dengan sekolah ( siswa)
● Dimensi dan sub elemen dari Profil Pelajar Pancasila yang berkaitan
Modul Projek ● Tujuan spesifik untuk fase tersebut
● Cara penggunaan perangkat ajar
● Alur kegiatan proyek secara umum
● Relevansi projek untuk sekolah

Asesmen ● Penjelasan tentang aspek yang dinilai


● Instrumen penilaian (misalnya rubrik, evaluasi diri, dsb.) yang dapat langsung digunakan
guru
● Contoh umpan balik atau penilaian yang diberikan
● Lembar refleksi siswa
● Lembar refleksi guru

Persiapan ● Catatan penting untuk menyiapkan guru dan anggota komunitas sekolah lain
● Referensi yang akan digunakan

Langkah-langkah ● Alat dan bahan yang harus disiapkan dan dibutuhkan untuk setiap langkah
pelaksanaan ● Langkah-langkah kegiatan dan alokasi waktunya, termasuk bagaimana guru perlu
memainkan perannya sebagai fasilitator,

Kegiatan pengayaan Beberapa alternatif kegiatan tambahan sebagai bentuk pengayaan

Tips untuk guru Saran dan tips konkret agar proses belajar dapat lebih efektif
Yuk, latihan bersama !
Modul
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Tema : Kearifan Lokal


Judul Projek : Makananku, Budayaku
Penyusun : Nela Ratna Komala,S.Pd
Fase : A/ Kelas 1
Alokasi waktu : 126 jp
Sekolah : SDN 1 Nanggeleng
Pendahuluan
Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan oleh manusia. Makanan
merupakan bagian dari sebuah kebudayaan, hampir semua daerah memiliki makanan khas masing-
masing. Dewasa ini, makanan khas setiap daerah perlahan mulai ditinggalkan seiring perkembangan
jaman. Banyak anak yang lebih mengenal makanan modern dibandingkan dengan makanan
tradisional.
Nilai historis dari makanan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan yang tidak dapat
dipisahkan dari tradisi masyarakat itu sendiri. Makanan merupakan salah satu simbol dari adat
budaya masyarakat setempat dan memiliki tempat sebagai bagian dari bentuk tradisi yang dapat
menyeimbangkan harmonisasi kehidupan masa lalu dan masa kini. Makanan tradisional merupakan
representasi dari asimilasi way of life terhadap perubahan peradaban suatu masyarakat tertentu
(Hatibie dan Priyambodho, 2019).
Saat ini, anak-anak lebih banyak mengkonsumsi makanan modern dibandingkan dengan makanan
tradisional khas daerahnya. Anak-anak pun seolah menjadi asing dengan jenis makanan khas dari
daerahnya sendiri. Oleh karena itu, projek ini disusun untuk mengenalkan kembali kebudayaan asli
Indonesia melalui makanan tradisional khas setiap daerah dengan menanamkan nilai-nilai kearifan
lokal.
Pada fase A ini, dimana rentang usia anak berkisar 6-8 tahun merupakan fase anak berpikir
operasional konkrit. Makanan merupakan hal terdekat yang ada dalam kehidupan anak-anak.
Melalui makanan tradisional anak-anak diperkenalkan dengan budaya asli dari daerah mereka
tinggal.
Tujuan, Alur dan Target Pencapaian Projek
Salah satu produk budaya yang lambat laun mulai ditinggalkan oleh masyarakat adalah makanan
tradisional. Pada tema “kearifan lokal” dengan mengacu pada dimensi Profil Pelajar Pancasila. Projek
“Makananku, Budayaku” ini disusun dengan tujuan menguatkan profil pelajar pancasila melalui
pemahaman nilai kearifan lokal pada makanan tradisional.
Projek ini dimulai dengan kegiatan mencari data terkait makanan kesukaan peserta didik.
Selanjutnya mengembangkan permasalahan melalui isu-isu yang terjadi di masyarakat terkait dengan
konsumsi makanan modern yang kurang sehat pada anak-anak. Peserta didik kemudian diajak untuk
lebih mengenal makanan tradisional yang lebih menyehatkan dibandingkan makanan modern. Dalam
prosesnya, mereka juga diajak untuk mengembangkan kemandirian diri dan berkolaborasi untuk
menciptakan sebuah festival makanan tradisional.
Selanjutnya masuk ke dalam tahap aksi nyata. Pada tahap ini, peserta didik akan berkolaborasi
dengan guru, teman dan keluarga untuk membuat sebuah festival makanan tradisional. Dimulai dari
menentukan makanan yang akan dikaji, wawancara dengan narasumber, latihan membuat makanan
tersebut di rumah dan membuat poster ajakan untuk mengkonsumsi makanan tradisional. Di akhir
projek, peserta didik akan melakukan refleksi terkait kegiatan yang sudah dilakukan dan refleksi diri
terkait dengan pemahamannya terhadap makanan tradisional.
Melalui projek ini, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan tiga dimensi dari Profil pelajar
Pancasila yakni Kemandirian, Gotong Royong dan Berkebhinekaan Global beserta elemen-elemen
yang terkait.
Terlampir
M
Kesimpulan
● Projek penguatan profil pelajar Pancasila bertujuan
● Prinsip-prinsip projek penguatan PPP adalah holistik,
untuk mencapai dimensi-dimensi dalam profil pelajar
Pancasila kontekstual, berpusat pada murid, dan eksploratif
● Pemerintah menyediakan dukungan berupa panduan T
● Projek penguatan profil pelajar Pancasila (selanjutnya
disebut projek penguatan PPP) )adalah metode pengembangan projek penguatan profil pelajar
pembelajaran dimana siswa belajar dengan secara aktif Pancasila dan contoh-contoh modul.
● Projek berfokus pada proses menju kompetensi dan
terlibat dalam dunia nyata dan projek yang bermakna
secara pribadi. Projek penguatan PPP ini memberi karakter yang diharapkan terbangun pada anak, bukan
pada produk atau hasil akhir W
kesempatan bagi siswa untuk belajar di situasi belajar
● Siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam rencana dan
yang berbeda (dalam situasi yang lebih tidak formal,
struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang evaluasi projek
● Tidak ada bentuk evaluasi yang mutlak dan seragam
lebih interaktif dan juga terlibat langsung dengan
lingkungan sekitar) dan lintas mata pelajaran untuk dalam pelaksanaan projek
● Berbagai bentuk asesmen diharapkan digunakan
penguatan karakter dan kompetensi umum (transversal T
atau general competences ). sepanjang proses projek
● Dalam implementasinya projek penguatan PPP ● Pelibatan masyarakat, komunitas, dan mitra diharapkan
dilaksanakan sebagai kegiatan ko-kurikuler dan tidak dilakukan dalam projek sehingga dampak dari projek
perlu dipetakan untuk mencapai CP. berpotensi lebih luas
F
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai