Anda di halaman 1dari 20

Abses : pengumpulan cairan nanah yang disebabkan oleh bakteri, protozoa, atau invasi jamur ke jaringan tubuh.

Abses hepar : rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi.

ABSES HEPAR AMUBA


Abses hepar amuba disebabkan infeksi Entamoeba histolytica yang terbawa aliran V. porta ke hepar.
Wilayah padat penduduk dan memiliki sanitasi yang buruk Status sosial ekonomi yang rendah Status gizi yang kurang baik Tempat dimana strain virulen E. hystolitica tinggi

FAKTOR PREDISPOSISI

Faktor resiko lain:


Malnutrisi Usia tua Kehamilan Penggunaan steroid, kanker, immunosupresi Alkoholisme Adanya riwayat menderita infeksi amuba Kadar kolesterol tinggi Pascatrauma hepar.

GEJALA KLINIS

1. 2. 3. 4. 5.

Demam Nyeri spontan dan nyeri tekan perut kanan atas Berkeringat Menggigil Mual dan muntah

6. Ikterus jarang 7. Diare (20-50% penderita) 8. Penurunan nafsu makan dan berat badan 9. Malaise

Diagnosis

Anamnesa: nyeri daerah epigastrium kanan dengan demam yang tidak begitu tinggi, riwayat diare Pemeriksaan fisik: Demam suhu tubuh tidak lebih dari 38,5C Hepatomegali Nyeri tekan pada daerah lengkung iga Fluktuasi tekan di hati, dan ikterus

Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium Anemia (Hb kurang 10 gr %) Leukositosis (10.000-12.000) Pada tinja dapat ditemukan amuba baik kista maupun tropozoid. Kadar fosfatase alkali serum meningkat Tes serologi titer amuba 1:128

Diagnosis
Pemeriksaan penunjang lain
Foto Rontgen: terlihat kubah diafragma kanan meninggi, efusi pleura dan atelektasis USG: menentukan lokasi abses dan besarnya CT hati

Diagnosis Banding
-Kolesistitis akut -Hepatitis virus akut -Karsinoma hati primer tipe febril

Tatalaksana abses hepar amuba


Terapi medis dengan metronidazol atau tinidazol yang bersifat amubisid jaringan. Dosis 50 mg/kgBB/hari diberikan selama 10 hari. Terapi bedah berupa: aspirasi dan penyaliran
Dilakukan dengan tuntunan USG Dilanjutkan pemasangan kateter penyalir Keuntungan: tidak mengganggu fungsi vital, sedikit mempengaruhi kenyamanan, tidak menyebabkan kontaminasi peritoneum, murah Kontraindikasi: asites, struktur vital menghalangi jalannya jarum

Tatalaksana abses hepar amuba

Penyaliran melalui laparotomi


Dilakukan bila pengobatan gagal dengan terapi konservatif Indikasi lain:
Abses hati lobus kiri yang terancam pecah ke rongga peritoneum dan ke organ lain Infeksi sekunder yang tidak terkendali

ABSES HEPAR PIOGENIK


Kebanyakan pasien abses hati piogenik disebabkan oleh infeksi polimikroba gram negatif aerobik dan anaerobik.
Kebanyakan sumbernya berasal dari feses dengan infeksi Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Bacteroides, Enterococcus, Anaerobic streptococci, dan Microaerophilic streptococci. Staphylococcus, Haemolytic streptococci, dan Streptococcus milleri sebagai sumber infeksi primer dari endokarditis bakterial atau sepsis dental.

Penyebab lainnya adalah Enterobacteriaceae, Fusobacterium, Staphylococcus aureus, Staphylococcus milleri, Candida albicans, Aspergillus, Actinomyses, Eikenella corrodens, Yersinia enterolitica, Salmonella typhi, Brucella melitensis dan fungal.
E. coli, Klebsiella pneumoniae dan Streptococcus faecalis merupakan bakteri usus sebagai kuman piogenik, penyebab abses hepar. Staphylococcus merupakan coccus gram negatif. Bacteroides dan Clostridium merupakan bakteri anaerob.

Kebanyakan abses hepar piogenik merupakan infeksi sekunder yang berasal dari infeksi abdomen pada apendiks, kandung empedu, atau usus.
Abses ini dapat juga berhubungan dengan trauma atau komplikasi prosedur bedah. Kolangitis yang berhubungan dengan batu atau striktur adalah penyebab terbanyak, diikuti oleh infeksi abdomen yang berhubungan dengan divertikulitis atau apendisitis. Sekitar 15% kasus abses hepar tidak dapat ditemukan penyebabnya (abses kriptogenik).

diagnosis abses hepar piogenik


Penegakan diagnosis abses hepar piogenik dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan radiologi.
Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium yang di periksa adalah darah rutin termasuk kadar Hb darah, jumlah leukosit darah, laju endap darah dan percobaan fungsi hati, termasuk kadar bilirubin total, total protein dan kadar albumin dan globulim dalam darah.

diagnosis abses hepar piogenik


Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis yang tinggi dengan pergeseran ke kiri, anemia, peningkatan laju endap darah, peningkatan alkalin fosfatase, peningkatan enzim transaminase dan serum bilirubin, berkurangnya kadar albumin serum dan waktu protrombin yang memanjang menunjukan bahwa terdapat kegagalan fungsi hati yang disebabkan AHP.

diagnosis abses hepar piogenik


Peningkatan jumlah sel darah putih dan sedimen eritrosit dengan anemia ringan. Dua pertiga pasien mengalami leukositosis, seringkali diikuti oleh anemia akibat infeksi kronik dan peningkatan rata-rata sedimen eritrosit. Peningkatan aktivitas alkali phosphatase, hipoalbuminemia, dan aktivitas transaminase serum dapat abnormal. Cairan abses hasil aspirasi berbau busuk, warnanya tidak terlalu khas, dan didalamnya dapat ditemukan kuman penyebabnya pada 30-50 % kasus.

diagnosis abses hepar piogenik


Pemeriksaan Radiologi
Hemidiafragma kanan terangkat pada radiografi dada. USG merupakan alat pemeriksaan penunjang utama pada 92,9% pasien. USG memperlihatkan abses hati pada 95,2% pasien. Sensitifitas USG lebih besar dari 89,4%. Pada pemeriksaan USG, abses hati piogenik tampak sebagai lesi hipoekoik multipel atau soliter, tepi tidak rata, bulat atau oval, dan kadang bersepta. Tampak bayangan cairan dan udara dengan akustik shadow.

pengobatan abses hepar piogenik


Abses hepar piogenik dapat diatasi dengan terapi antibiotik atau kombinasi antara antibiotik dengan drainase berupa drainase bedah terbuka (open surgical drainage), drainase kateter perkutaneus dan aspirasi perkutaneus (percutaneous aspiration).
Kira-kira 39,3% kasus menggunakan terapi non bedah (drainase aspirasi perkutaneus dan antibiotik) dan 54,1% kasus menggunakan terapi drainase bedah. Kira-kira 69,2% kasus menggunakan terapi konservatif yaitu antibiotik dan 30,7% kasus menggunakan terapi kombinasi antara antibiotik dan drainase kateter perkutaneus.