Anda di halaman 1dari 3

Cara Menetapkan Tingkat Materialitas

Materialitas saldo rekening adalah minimum salah saji yang bisa ada pada suatu saldo rekening yang dipandang sebagai salah saji material. Salah saji sampai tingkat tersebut disebut salah saji bisa diterima. Konsep materialitas pada tingkat saldo rekening hendaknya tidak dicampuradukkan dengan istilah saldo rekening yang material. Perlu dipahami bahwa saldo rekening yang material menunjukkan besarnya saldo sebuah rekening yang tercatat dalam pembukuan, sedangkan konsep materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang bisa berpengaruh terhadap pengambilan keputusan oleh pemakai laporan keuangan. Saldo rekening yang tercatat pada pembukuan disebut material bila saldo tersebut menggambarkan batas atas suatu jumlah dan di atas jumlah itu rekening tersebut bisa menjadi terlalu tinggi (overstated). Jadi, rekening yang memiliki saldo lebih kecil dari jumlah saldo tersebut, disebut tidak material ditinjau dari sudut risiko terjadinya pelaporan terlalu tinggi. Namun demikian, tidak ada batasan mengenai jumlah suatu rekening bersaldo sangat kecil untuk bisa menjadi terlalu rendah (under Stated). Oleh karena itu perlu dipahami bahwa bisa terjadi sesuatu rekening yang kelihatannyta memiliki saldo yang tidak material, sebenarnya telah dilaporkan terlalu rendah yang melebihi materialitas

Pengalokasian Materialitas Laporan Keuangan ke Rekening-rekening


Apabila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan dikuantifikasi, maka taksiran awal materialitas untuk setiap rekening bisa diperoleh dengan cara mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke masing-masing rekening. Pengalokasian bisa dilakukan baik pada rekening-rekening neraca maupun rekening-rekening rugi-laba. Namun, mengingat bahwa sebagian besar salah saji pada rekening rugi-laba juga berpengaruh terhadap neraca, dank arena rekening neraca biasanya lebih sedikit, maka auditor umumnya melakukan alokasi berdasarkan rekening-rekening neraca. Dalam melakukan pengalokasiam, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan salah saji dalam rekening dan biaya yang mungkin diperlukan untuk memeriksa suatu rekening. Sebagai

contoh, salah saji lebih mungkin terjadi pada persediaan dibandingkan dengan aktiva tetap, dan biasanya audit persediaan lebih memakan biaya daripada audit terhadap aktiva tetap. Sebagai contoh bagaimana auditor melakukan pengalokasian, misalkan total aktiva PT ABC terdiri dari : Rekening Kas Piutang Dagang Persediaan Aktiva tetap Rp. Saldo 500.000 1.500.000 3.000.000 5.000.000 % 5 15 30 50

Rp

10.000.000

100

Auditor menduga terdapat sedikit salah saji dalam kas dan ativa tetap dan sejumlah salah saji dalam piutang dagang dan persediaan. Berdasarkan pengalaman di masa lalu dengan klien, auditor memperkirakan bahwa kas dan aktiva tetap hanya sedikit memakan biaya untuk pemeriksaannya dibandingkan dengan rekening lainnya. Dengan asumsi bahwa taksiran awal materialitas laporan keuangan adalah 1% dari total aktiva atau Rp.100.000,00. Maka auditor bisa membuat dua rencana pengalokasian sebagai berikut.

Pengalokasian Materialitas Rekening Kas Piutang Dagang Persediaan Aktiva Tetap Total Rp. Rencana A Rp. 5.000,00 15.000,00 30.000,00 50.000,00 100.000,00 % 5 15 30 50 100 Rencana B Rp. 2.000,00 18.000,00 50.000,00 30.000,00 Rp. 100.000,00 % 2 18 50 30 100

Dalam rencana A, materialitas telah dialokasikan secara proporsional ke tiap rekening tanpa mempertimbangkan salah saji yang diperkirakan ataupun biaya pemeriksaannya. Dalam rencana B, pengalokasian materialitas lebih besar diberikan pada piutang dan persediaan karena diperkirakan memiliki salah saji lebih besar dan biaya pendeteksiannya juga besar. Oleh karena itu, jumlah bukti yang diperlukan untuk rekening-rekening ini juga lebih sedikit (bandingkan dengan rencana A), namun karena biaya pendeteksiannya rendah, maka secara keseluruhan tetap akan lebih hemat. Pengalokasian taksiran awal materialitas bisa direvisi sejalan dengan perkembangan pekerjaan lapangan. Sebagai contoh, dalam rencana B, jika setelah dilakukan audit atas piutang, maksimum salah saji dalam rekening tersebut diperkirakan Rp. 8.000,00, maka kelebihannya yang tidak terpakai sebesar Rp.10.000,00 dari rekening tersebut dapat direalokasi ke persediaan. Meskipun dalam contoh di atas pengalokasian materialitas laporan keuangan ke rekeningrekening terkesan dilakukan dengan perhitungan yang pasti, namun dalam praktik analisis akhir dari proses ini sangat tergantung pada pertimbangan subyektif si auditor.