Anda di halaman 1dari 16

SEL DAN ENZIM YANG BERPERAN PADA PROSES RESPIRASI SERTA RANTAI RESPIRASI

SEL DAN ENZIM YANG BERPERAN PADA PROSES RESPIRASI


Sel Pada Sistem Pernapasan Sistem pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah. Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama: 1. Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminalis 2. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus. Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet. Dengan menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada 5 macam sel epitel respirasi yaitu : 1. Sel silindris bersilia, 2. Sel goblet mukosa, 3. Sel sikat (brush cells), 4. Sel basal, dan 5. Sel granul kecil.

RONGGA HIDUNG Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan inferior

ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum masuk lebih jauh.

Epitel olfaktori, khas pada konka superior

SINUS PARANASALIS Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan sinus sphenoid, semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta

lamina propria yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

FARING Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/gepeng.

LARING Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa. Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.

TRAKEA Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing. Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin

yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi berlebihan.

BRONKUS Mukosa bronkus secara struktural mirip dengan mukosa trakea, dengan lamina propria yang mengandung kelenjar serosa , serat elastin, limfosit dan sel otot polos. Tulang rawan pada bronkus lebih tidak teratur dibandingkan pada trakea, pada bagian bronkus yang lebih besar, cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen, dan sejalan dengan mengecilnya garis tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh pulaupulau tulang rawan hialin.

BRONKIOLUS Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada mukosa. Lamina propria mengandung otot polos dan serat elastin. Pada segmen awal hanya terdapat sebaran sel goblet dalam epitel. Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel bertingkat silindris bersilia, yang makin memendek dan makin sederhana sampai menjadi epitel selapis silindris bersilia atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil. Terdapat sel Clara pada epitel bronkiolus terminalis, yaitu sel tidak bersilia yang memiliki granul sekretori dan mensekresikan protein yang bersifat protektif. Terdapat juga badan neuroepitel yang kemungkinan berfungsi sebagai kemoreseptor.

BRONKIOLUS RESPIRATORIUS Mukosa bronkiolus respiratorius secara struktural identik dengan mukosa bronkiolus terminalis, kecuali dindingnya yang diselingi dengan banyak alveolus. Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid bersilia dan sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus menyatu dengan sel alveolus tipe I. Semakin ke distal alveolusnya semakin bertambah banyak dan silia semakin jarang/tidak dijumpai. Terdapat otot polos dan jaringan ikat elastis di bawah epitel bronkiolus respiratorius.

DUKTUS ALVEOLARIS Semakin ke distal dari bronkiolus respiratorius maka semakin banyak terdapat muara alveolus, hingga seluruhnya berupa muara alveolus yang disebut sebagai duktus alveolaris. Terdapat anyaman sel otot polos pada lamina proprianya, yang semakin sedikit pada segmen distal duktus alveolaris dan digantikan oleh serat elastin dan kolagen. Duktus alveolaris bermuara ke atrium yang berhubungan dengan sakus alveolaris. Adanya serat elastin dan retikulin yang mengelilingi muara atrium, sakus alveolaris dan alveoli memungkinkan alveolus mengembang sewaktu inspirasi, berkontraksi secara pasif pada waktu ekspirasi secara normal, mencegah terjadinya pengembangan secara berlebihan dan kerusakan pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar yang tipis.

ALVEOLUS Alveolus merupakan struktur berongga tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida antara udara dan darah. Septum interalveolar memisahkan dua alveolus yang berdekatan, septum tersebut terdiri atas 2 lapis epitel gepeng tipis dengan kapiler, fibroblas, serat elastin, retikulin, matriks dan sel jaringan ikat. Terdapat sel alveolus tipe I yang melapisi 97% permukaan alveolus, fungsinya untuk membentuk sawar dengan ketebalan yang dapat dilalui gas dengan mudah. Sitoplasmanya mengandung banyak vesikel pinositotik yang berperan dalam penggantian surfaktan (yang dihasilkan oleh sel alveolus tipe II) dan pembuangan partikel kontaminan kecil. Antara sel alveolus tipe I dihubungkan oleh desmosom dan taut kedap yang mencegah perembesan cairan dari jaringan ke ruang udara. Sel alveolus tipe II tersebar di antara sel alveolus tipe I, keduanya saling melekat melalui taut kedap dan desmosom. Sel alveolus tipe II tersebut berada di atas membran basal, berbentuk kuboid dan dapat bermitosis untuk mengganti dirinya sendiri dan sel alveolus tipe I. Sel alveolus tipe II ini memiliki ciri mengandung badan lamela yang berfungsi menghasilkan surfaktan paru yang menurunkan tegangan alveolus paru.

Septum interalveolar mengandung pori-pori yang menghubungkan alveoli yang bersebelahan, fungsinya untuk menyeimbangkan tekanan udara dalam alveoli dan memudahkan sirkulasi kolateral udara bila sebuah bronkiolus tersumbat. Sawar darah udara dibentuk dari lapisan permukaan dan sitoplasma sel alveolus, lamina basalis, dan sitoplasma sel endothel.

Sawar darah-udara

PLEURA Pleura merupakan lapisan yang memisahkan antara paru dan dinding toraks. Pleura terdiri atas dua lapisan: pars parietal dan pars viseral. Kedua lapisan terdiri dari sel-sel mesotel yang berada di atas serat kolagen dan elastin.

ENZIM Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu. Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan/nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi kimia yang digunakan untuk biosintesis, perkembangbiakan, pergerakan, dan lain-lain. a. Komponen Enzim Penyusun enzim yang utama adalah molekul protein. Namun demikian, banyak enzim yang tidak mampu bekerja tanpa adanya zat tambahan yang disebut kofaktor. Kofaktor ini dapat berupa ion metal seperti Cu'+ Mg+' K', Fe+', dan Na`. Kofaktor dapat pula berupa suatu molekul organik yang disebut koenzim. Koenzim adalah molekul yang mempunyai peranan yang terkait dengan sifat katalisasi enzim. Beberapa jenis vitamin seperti kelompok vitamin B (B1, B2) merupakan koenzim. Jadi enzim yang utuh tersusun atas bagian protein yang aktif, disebut apoenzim dan koenzim. Apoenzim dan koenzim yang bersatu disebut holoenzim. b. Kerja Enzim Suatu enzim dapat bekerja aktif menghidrolisis suatu substrat apabila ada ikatan antara substrat dan enzim. Mula-mula bagian aktif enzim (apoenzim) berikatan dengan substrat, sehingga terbentuk enzim substrat. Setelah terbentuk ikatan maka bagian yang aktif akan menghidrolisis substrat. Setelah terbentuk zat baru, enzim akan melepaskan diri dari substrat tersebut. c. Sifat-Sifat Enzim Sebagai molekul zat yang mempunyai peranan besar dalam metabolisme, enzim memiliki beberapa sifat penting, di antaranya adalah : 1) Enzim berfungsi sebagai katalisator, artinya sebagai zat yang mampu mempercepat reaksi kimia, tetapi enzim tidak ikut bereaksi. Dengan demikian, enzim tidak diperlukan dalam jumlah yang banyak. Dalam jumlah sedikit saja

enzim telah menyelenggarakan suatu perubahan zat yang beribu-ribu kali lebih berat daripada berat molekulnya sendiri. Sebagai contoh sebuah molekul enzim katalase mampu mengubah 5 juta molekul H2O2 tanpa enzim itu mengalami perubahan. 2) Enzim adalah suatu protein, ini terbukti karena enzim di dalam larutan membentuk suatu koloid. Keadaan ini akan memungkinkan luasnya permukaan enzim sehingga bidang aktivitasnya juga besar. 3) Kerja enzim bersifat khusus/khas, artinya bahwa enzim tidak dapat bekerja pada semua zat, tetapi hanya mampu bekerja pada zat tertentu yang disebut sebagai substrat. Misalnya enzim katalase hanya mampu menghidrolisis H2O2 menjadi H2O + O2. Enzim maltase hanya mampu menguraikan maltosa menjadi glukosa + glukosa, enzim protease hanya mampu mengubah protein menjadi asam amino. Di samping itu, suatu jenis enzim hanya dapat mengubah segolongan zat-zat yang mempunyai ikatan yang bersamaan. Misalnya enzim emulsin hanya dapat mengubah semua ikatan betaglikosida. 4) Kerja enzim dapat bolak-balik, artinya enzim tidak menentukan arah dari reaksi tetapi hanya sekadar mempercepat laju reaksi, sehingga reaksi mencapai keseimbangan. Sebagai contoh adalah kerja enzim lipase. Enzim ini dapat mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol, tetapi lipase juga mampu menyatukan gliserol dan asam lemak menjadi lemak. Dengan kata lain jika dalam permulaannya larutan menggunakan lemak maka akan terjadi penguraian lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Jika permulaannya adalah asam lemak dan gliserol maka enzim akan menyintesanya menjadi lemak. Jika peristiwanya berlangsung lama maka dalam larutan akan terjadi keseimbangan antara lemak, asam lemak, dan gliserol. 5) Enzim tidak tahan panas. Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan dalam sel. Kebanyakan enzim akan aktif pada kisaran temperatur tertentu. Umumnya enzim akan bekerja baik pada suhu normal, yaitu antara 30C sampai 37C, sedangkan pada suhu 50C atau lebih sedikit enzim akan menjadi tidak aktif dan akan binasa pada suhu 60C dan 70C.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim Banyak faktor yang mempengaruhi kerja enzim, di antaranya adalah: 1) Temperatur Seperti halnya reaksi kimia pada umumnya, reaksi kimia yang dikendalikan oleh enzim juga dipengaruhi oleh temperatur lingkungannya. Dalam batas-batas tertentu, makin tinggi suhu akan mengakibatkan reaksi kimia yang dipengaruhi enzim berlangsung makin cepat, sebaliknya semakin rendah temperatur reaksinya akan makin lambat. Pada suhu 0C enzim tidak akan aktif, tetapi tidak rusak. Jika temperaturnya dikembalikan ke kondisi normal maka enzim akan aktif kembali. Sebaliknya dengan pemanasan hingga 40C, enzim sudah tidak aktif bahkan beberapa jenis enzim sudah mati, tetapi reaksi kimia yang diatur enzim masih tetap berlangsung, asal pemanasannya tidak terlalu lama. 2) pH Konsentrasi ion H' atau pH larutan sangat mempengaruhi aktivitas enzim, Ada enzim yang bekerja baik pada lingkungan asam, atau pH-nya rendah. Jika pH lingkungannya dinaikkan maka aktivitasnya akan menurun atau bahkan enzim itu akan rusak. Sebaliknya enzim yang aktivitasnya baik pada lingkungan basa atau netral, jika pH diturunkan menjadi lebih asam maka enzim juga tidak akan mampu bekerja. Sebagai contoh enzim ptialin yang terdapat pada air liur hanya mampu bekerja baik selama masih berada pada lingkungan netral, yaitu di rongga mulut hingga kerongkongan. Setelah enzim ini bersama makanan masuk ke dalam lambung, lingkungannya bersifat asam maka enzim ini tidak akan mampu bekerja. 3) Konsentrasi enzim Jika faktor lain seperti temperatur lingkungan, kadar substrat dan pH-nya konstan maka pengaruh konsentrasi enzim terhadap kecepatan reaksi kimia adalah berbanding lurus, artinya makin tinggi konsentrasi enzim, makin cepat reaksi kimia berlangsung.

4) Hasil akhir Kecepatan reaksi kimia yang disokong oleh enzim pada permulaannya cepat, tetapi makin lama makin melemah. Penurunan kecepatan reaksi ini antara lain disebabkan oleh makin menimbunnya hasil reaksi kimia yang berlangsung. Jika hasil akhir ini dapat disingkirkan maka kegiatan reaksi kimia akan meningkat kembali. Dengan demikian, jelas bahwa hakikat hasil akhir dari suatu reaksi kimia yang disokong oleh enzim akan menghambat aktivitas enzim itu sendiri. 5) Zat penggiat Ada beberapa jenis zat seperti ion kobalt, mangan, nikel, magnesium, klor, dan garam-garam dari logam alkali tanah yang encer dapat menambah kegiatan suatu enzim atau suatu kelompok enzim. Mekanisme kerja zat penggiat tersebut hingga kini belum diketahui. 6) Zat penghambat Di samping ada zat penggiat ada pula zat penghambat (inhibitor) kegiatan enzim, misalnya garam-garam dari logam berat, seperti air raksa. 7) Konsentrasi substrat Ada hubungan linear antara konsentrasi substrat dengan kegiatan enzim. Artinya jika faktor-faktor seperti pH, temperatur dan kadar enzim tetap, dan konsentrasi substratnya ditingkatkan maka pada suatu ketika hasil akhir dari suatu reaksi kimia juga akan meningkat.

10

RANTAI RESPIRASI
RESPIRASI Respirasi atau pernapasan merupakan salah satu contoh proses katabolisme, yakni suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Zat sumber energi dalam tubuh organisme terdiri atas zat-zat organik seperti karbohidrat, lemak, protein, asam amino, dan lainlain. Melalui proses kimia yang memerlukan oksigen tersebut, zat-zat organik diuraikan menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H20) dengan membebaskan sejumlah energi yang akan digunakan untuk berbagai aktivitas kehidupan. Persamaan reaksi kimia respirasi merupakan penjumlahan rangkaian reaksi kimia, dan merupakan kebalikan dari reaksi kimia fotosintesis. Sebenarnya proses reaksi kimia penguraian zat sumber energi menjadi CO2 dan H2O serta pembebasan sejumlah energi tersebut merupakan rangkaian proses reaksi yang kompleks. Reaksi yang kompleks tersebut melalui rentetan reaksi kimia, yang secara sederhana dapat dibedakan menjadi tiga tahap, yakni : a. Glikosis; b. Siklus krebs; c. Transpor elektron respirasi a. Glikolisis Pada prinsipnya peristiwa glikolisis adalah pengubahan molekul sumber energi yaitu glukosa yang mempunyai 6 atom C menjadi senyawa yang lebih sederhana, yakni asam piruvat yang mempunyai 3 atom C. Peristiwa glikolisis amat panjang, yaitu terdiri atas 10 tahap. Secara sederhana proses glikolisis adalah sebagai berikut : 1. Langkah awal dari glikolisis adalah pemindahan gugus fosfat dari ATP ke atom karbon nomor 6 dari glukosa, sehingga terbentuk senyawa glukosa 6 fosfat. Senyawa ini memperoleh energi bebas yang dilepaskan oleh pelepasan gugus fosfat dari ATP. 2. Langkah selanjutnya, glukosa 6 fosfat dikatalisis oleh enzim menjadi senyawa fruktosa 6 fosfat. ATP lainnya memindahkan gugus P kedua kalinya kepada atom karbon nomor 1, sehingga dihasilkan senyawa fruktosa 1.6 difosfat. Penambahan

11

gugus fosfat pada senyawa fruktosa 6 fosfat berarti menambah kandungan energinya. 3. Langkah glikolisis selanjutnya adalah pemecahan secara enzimatik dari fruktosa 1.6 difosfat menjadi 2 senyawa beratom C tiga buah, yaitu dihidrosiaseton fosfat dan 3-fosfogliseraldehida atau PGAL. 4. Melalui liku-liku reaksi kimia yang panjang, akhirnya dihasilkan tiga senyawa penting yaitu: 2 molekul asam piruvat; 2 molekul NADH yang berfungsi sebagai sumber elektron berenergi tinggi; dan 2 molekul ATP untuk setiap molekul glukosa. Sebenarnya dalam glikolisis ini, setiap molekul glukosa akan menghasilkan empat molekul ATP, tetapi dua molekul yang terbentuk digunakan untuk beberapa reaksi kimia yang bersifat endergonik. b. Siklus Krebs Siklus Krebs ini dikenal pula sebagai siklus asam sitrat atau siklus asam trikarboksilat. Peristiwa ini berlangsung di dalam mitokondria. Dua proses yang menentukan dalam respirasi ini adalah sebagai berikut : a) Oksidasi sempurna dari asam piruvat melalui pemisahan bertahap dari semua atom hidrogen sehingga menghasilkan 3 molekul CO2. b) Pemindahan elektron yang dipisahkan dari atom hidrogen kepada molekul oksigen. Secara keseluruhan rangkaian langkah reaksi kimia siklus krebs yang berlangsung di dalam mitokondria. Secara ringkas rangkaian peristiwa reaksi kimia yang terjadi pada siklus krebs adalah sebagai berikut : 1. Asam piruvat hasil peristiwa glikolisis masuk ke siklus krebs. Sebelumnya asam piruvat bereaksi terlebih dahulu dengan Nikotinamin Adenina Dinukleotida (NAD) dan Koenzim A (Ko-A) membentuk senyawa Asetil Koenzim A. Dalam peristiwa ini terjadi perubahan jumlah atom C dari 3 atom C pada asam piruvat menjadi 2 atom C pada asetil Ko-A, serta dibebaskan CO2.

12

2. Reaksi antara asetil Ko-A (2 C) dengan asam oksaloasetat (4 C), menghasilkan asam sitrat (6 C). Dalam peristiwa ini Ko-A dibebaskan kembali. 3. Reaksi antara asam sitrat (6 C) dengan NAD' membentuk asam alfa ketoglutarat (6 C) dengan membebaskan CO2. 4. Rangkaian reaksi yang cukup kompleks, yakni pembentukan asam suksinat (4 C) setelah bereaksi dengan NAD dan membebaskan NADH, CO2 dan menghasilkan ATP, setelah bereaksinya ADP dan gugus fosfat anorganik. 5. Terjadi oksidasi asam suksinat menjadi asam fumarat. Dalam peristiwa ini dibebaskan 2 atom H. Zat yang mengoksidasi adalah suatu koenzim yang disebut FAD (flavin adenina dinukleotida). Sedangkan FAD direduksi menjadi FAD.H2. 6. Dengan penyisipan satu molekul air, asam fumarat yang terbentuk akan diubah menjadi asam malat. 7. Selanjutnya asam malat (4 C) bereaksi denan NAD+ membentuk asam oksaloasetiat (4 C). Dengan demikian siklus krebs telah tuntas. Pada siklus krebs ini ada beberapa prinsip penting yaitu : a. Hakikatnya dalam setiap siklus ditempatkan satu molekul asam asetat dalam bentuk asetil Ko-A; b. Pada waktu siklus itu berputar terjadi penambahan dua molekul air; c. Terjadi dua dekarboksilasi dan pada tempat kejadian yang berlainan dipisahkan dua atom H. Hidrogen tersebut dipisahkan dari NAD. Selanjutnya hidrogen tersebut diikat oleh O2 sehingga terbentuk air. Dengan demikian asam asetat teroksidasi sempurna menjadi CO2 + H2O. c. Transpor Elektron dan Fosforilasi Oksidatif Fosforilasi oksidatif adalah suatu lintasan metabolisme dengan penggunaan energi yang dilepaskan oleh oksidasi nutrien untuk menghasilkan ATP, dan mereduksi gas oksigen menjadi air. Transpor elektron berlangsung di dalam mitrokondria. Proses ini berakhir dengan elektron bersama H+ bereaksi dengan oksigen yang berfungsi sebagai akseptor terakhir membentuk air.

13

Reaksi rantai transpor elektron dalam respirasi amat kompleks, namun yang berperan dalam peristiwa tersebut adalah NADH, FAD dan molekul-molekul khusus yang berperan dalam proses respirasi, seperti : 1. Koenzim yang disebut koenzim Q, 2. Rangkaian enzim-enzim sitokrom, 3. Oksigen. Jenis sitokrom ada beberapa macam, di antaranya adalah sitokrom b, c, a, dan a3. Elektron berenergi, pertama-tama berasal dari NADH, kemudian ditransfer ke FADH, lalu ke koenzim Q, ke sitokrom b, c, dan akhimya ke sitokrom a. Selanjutnya elektron dari sitokrom a disampaikan ke O. Molekul O2 menangkap elektron dari sitokrom a dan selanjutnya berikatan dengan H dari lingkungan dan terbentuklah molekul H2O. Dengan demikian, air sebagai hasil sampingan respirasi terbentuk. Hasil sampingan respirasi yang berupa CO2 diangkut ke alat pernapasan untuk dikeluarkan. Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan 10 molekul NADH dan 2 molekul FADH2, kesepuluh molekul NADH dan kedua molekul FADH2 tersebut mengalami oksidasi sesuai reaksi berikut : Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira 3 ATP, dan kira-kira 2 ATP untuk setiap oksidasi FADH2. Jadi, dalam transpor elektron dihasilkan kira-kira 34 ATP. Ditambah dari hasil glikolisis dan siklus Krebs, maka secara keseluruhan reaksi respirasi seluler menghasilkan total 38 ATP dari satu molekul glukosa. Akan tetapi, karena dibutuhkan 2 ATP untuk melakukan transpor aktif, maka hasil bersih dari setiap respirasi seluler adalah 36 ATP. Hasil utama dan respirasi adalah energi. Energi tersebut akan digunakan untuk membentuk ATP yang selanjutnya akan digunakan untuk proses hidup yang selalu memerlukan energi. Energi terbesar yang dihasilkan oleh proses respirasi adalah pada reaksi transpor elektron.

14

RINGKASAN Glokolisis :

Glikolisis : perubahan glukose asam piruvat R/ Glukose + 2 ADP + 2 PO4 2 asam piruvat + 2 ATP + 4 H Hasil utama glikolisis : asam piruvat Energi dihasilkan : 2 ATP Tempat reaksi glikolisis : sitoplasma Terdiri 2 lintasan : Embden Meyerhof dan Heksosmonofosfat

Siklus Krebs :

Siklus Kreb: perubahan asetil Ko-A H R/ 2 Asetil Ko-A + 6 H2O + 2 ADP 4 CO2 + 16 H + 2 Ko-A + 2 ATP Hasil utama : H Energi dihasilkan : 2 ATP Tempat berlangsung : mitokondria Sisa metabolisme CO2 berasal dari hasil samping Siklus Krebs/Siklus Asam Sitrat/Siklus Asam Trikarboksilat

Transpor Elektron dan Fosforilasi Oksidatif :

Fosforilasi oksidatif : proses perubahan ADP ATP dengan cara mengambil energi yang dihasilkan Rantai Respirasi (reaksi H + O2 H2O)

R/ 2 H + O2 + 2e + ADP H2O + ATP Energi yang dihasilkan : 34 ATP Total hasil energi metabolisme karbohidrat : 38 ATP, dikurangi 2 ATP untuk transpor aktif maka hasil energi dari respirasi selulur adalah 36 ATP.

15

REFERENSI D. Dwidjoseputro Prof. Dr. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Djembantan, 1981 Junqueira LC, Carneiro J., Histologi Dasar Teks dan Atlas, 10th edition. Jakarta: EGC; 2007. p. 335-54. Kuehnel, Color Atlas of Cytology, Histology, and Microscopic Anatomy. 4th edition Stuttgart : Thieme; 2003. p. 340-51. Timotius, K.H., 1982, Mikrobiologi Dasar. Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana Wikipedia, Enzim, Fosforilase Oksidatif dan Transfer Elektron.

http://id.wikipedia.org/wiki/enzim ...

16