Anda di halaman 1dari 3

5.

organ indera
Pada hewan amphibi (katak) memiliki 2 indera yang paling menonjol: - Indera penglihat (Mata) - Indera pendengar (Telinga) a. Indera penglihat (Mata) Mata katak berbentuk bulat dengan lensa yang tebal. Terdiri dari selaput yang bergerak dari bawah ke samping atas membatasi jarak penglihatan sehingga mata katak tidak dapat berakomodasi. Katak memiliki selaput tidur pada kelopak matanya yang disebut membran niktitans atau selaput tidur. Fungsi membran niktitans: untuk menjaga kelembapan mata katak saat di darat dan melindungi dari gesekan di dalam air. b. Indera pendengar (Telinga) Alat pendengaran katak berupa telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam. Jika kita melihat katak mungkin kita tidak dapat melihat telinganya karena katak tidak memiliki daun telinga, tapi kalau diperhatikan lebih seksama kita dapat menemukan selaput gendang telinganya. Proses penyampaian bunyi pada pendengaran katak: Getaran suara diterima oleh selaput gendang telinga, menggetarkan tulang pendengaran dan meneruskannya ke tingkap jorong. Di tingkap jorong, getaran ini diteruskan oleh cairan limfa ke saraf pendengaran. Indera lainnya Sebenarnya indera katak yang lain hanya berfungsi seperti fungsi pada umumnya, misalnya lidah katak. Lidah katak tidak dapat merasakan rasa manis/asam/asin/pahit/dll seperti yang bisa kita rasakan. Namun lidah katak cukup bisa membedakan mana makanan yang layak makan dan yang tak bisa dimakan.

Selain itu, lidah katak juga dapat menjulur panjang dan digunakan untuk menangkap mangsa seperti serangga. 1. Organon Sensoris (Alat-alat idera) Perubahan yang terjadi pada lingkungan hewan merupakan rangsangan bagi organon sensoris atau reseptor tubuh; organon sensoris mempunyai hubungan dengan nervi sensoris yang membawa rangsangan kepusat (lobus pada otak). Tiap-tiap macam rangsangan akan merangsang organon sensoris tertentu. Organon visus akan menerima rangsangan yang berupa gelombang sinar,sedang receptor kulit menerima rangsangan yang berupa sentuhan. Pada lingua terdapat papil-papil yang berupa tonjolan yang berisi receptor perasa yang peka terhadap zat-zat kimia yang larut dalam air. Soccus nasalisyang mengandung receptor 2 yang peka terhadap rangsangan yang berupa gas. Telinga yang berisi organon auditorius dan alat kesetimbangan tubuh. Sistematis Klas Amphibia di bagi atas 3 sub kelas: 1. Sub kelas Stegocephalia: Tulang cranium dan tulang pipi sempurna. Mempnyai atap cranium yang terdiri atas beberapa tulang. Pada species yang telah menjadi fosil terdapat terdapat lembaran sisik ventral dan kadang-kadang ada juga yang terdapat dorsal. Ordo yang masih ada sampai sekarang adalah : Ordo 1 Gymnophiona atau Apoda Berbentuk seperti cacing tanpa anggota, contoh : Ichtiyopsis glutinosus, Typhanonectes Sp. 2. Sub Kelas Caudata/Urodella/salamander : Tubuh dapat dibedakan atas cephal, cervix, truncus, dan cauda. Extremitas mempunyai bagian-bagian tulang yang sama. Sub Kelas ini terbagi atas tiga ordo, yaitu : Ordo 1 proteida, contoh: Necturus Sp,Proteus Sp. Ordo 2 Mutabilia, Contoh: Cryptobranchus alleganiensis Ordo 3 meantes, contoh: Siren Lacertina. 3. Sub Kelas Salientia/Anura/ Katak sevenarnya Cephal dan cevix menjadi satu, Sering tak berleher, Tak berekor, Extrimitas belakang membesar dan Extrimitas muka agak kecil, terbagi atas 5 ordo: Ordo 1 Amphicoela, yang bervertebrae cekung kedua ujungnya. Ordo 2 Opistocoela, yang bervertebrae cembung sebelah anterior cekung sebelah posterior.

Ordo 3 Anomocoela, permukaan kedua ujung vertebrae tidak teratur. Contoh : Pilobates Sp. Ordo 4 Procoela, bervertebrae cekung sebelah anterior, dan pada Bufo cembung sebelah posterior. Contoh: Bufo Sp, Pseudis Sp, Hyla Sp, Criniz Sp. Ordo 5 diplocoela, Cingulum cranialis bersenyawa dengan sternum yang disebut firmisternal.

Familia Polypeditidae, sebagai katak pohon dunia lama. Contoh: philotus Aurifasiatus, bertelur di pohon tanpa fase berudu. Familia Mycrohilidae, sebagai kintel yang bermulut kecil. Famiia Renidae, yang terkenal sebagai katak, dan sebagai contoh yaitu: Rana macrodon (Katak Raksasa), terdapat di rawa-rawa bukit tinggi, Rana pipiens, dan Rana esculenta, Rana catestiana (Katak Balai Budaya air tawar Sukabumi).