Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN Secara geografis wilayah Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia (lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia) dan merupakan daerah patahan aktif, yang menyebabkan ruang wilayah Indonesia merupakan kawasan rawan bencana, khususnya di Pulau Sumatera. Sumberdaya alam di Sumatera Selatan, keberadaannya tidak terlepas dari sejarah geologi pembentukannya, tatanan geologi Sumatera Selatan, yang sangat komplek karena terletak pada pertemuan dua lempeng tektonik sangat memungkinkan terbentuk, terendapkan dan terakumulasikannya keanekaragaman bahan galian baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya.

II. PEMBAHASAN. II.1 Penjelasan singkat peristiwa geologi baturaja Pada awalnya daerah baturaja adalah daerah laut dangkal dengan kondisi air yang jernih dan hangat. Kemudian karena terkena oleh pergerakan tektonik lempeng dalam waktu geologi mengakibatkan laut dangkal ini terekspose keluar menjadi permukaan yang baru, sedangkan pada bagian sumatera yang lain terbentang bukit barisan hingga baturaja. hal ini dapat di lihat saat ini dengan adanya pabrik semen yang ada di baturaja yang memiliki bahan baku industri utama utama batu gamping. Batu gamping ini memiliki ketebalan hingga mencapai 85m yang hanya dapat terbentuk dan ditemukan pada daerah lautan melalui proses karst. Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping. Proses pembentukan karst : Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli.

Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).

II.2 Stratigrafi dan Struktur Geologi batu raja Secara regional daerah Cekungan Sumatera Selatan, yang disusun oleh sedimen Tersier yang terendapkan diatas batuan Pra-Tersier. Hal ini sudah dibahas oleh Shell Mijnbouw (1978) dan Gafoer dkk. Pada Peta Geologi Lembar Baturaja. Sedimentasi Tersier diawali oleh siklus pengendapan transgresi dan berakhir dengan siklus regresi. Pada fasa transgresi secara berurutan diendapkan Formasi Lahat, Talangakar, Baturaja, dan Gumai. Fasa siklus regresi diendapkan Formasi Air Benakat, Muara Enim dan Kasai yang berlanjut hingga Kuarter Awal. Satuan Aluvium Kuarter nampak tidak selaras diatas batuan sedirnen tersebut. Pada beberapa tempat, batuan sedirnen diterobos oleh Intrusi Andesit Kuarter. Gangguan tektonik terhadap batuan pengisi Cekungan Sumatera Selatan ini membentuk pola struktur perlipatan dan pensesaran, Sehingga terbentuk formasi baturaja. Formasi Baturaja terdiri atas batugamping dengan sisipan napal dan batulempung. Batugamping tampak berwarna abu-abu terang hingga putih keabu-abuan dan terdiri atas batugamping pejal dan batugamping berlapis. Formasi ini berketebalan mencapai 85 m dan ditindih selaras oleh Formasi Gumai. Lingkungan pengendapan batuan berhubungan dengan laut yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu, yaitu laut dangkal dengan kondisi air yang jernih dan hangat (Walker, 1992). Untuk bagian selatannya

Formasi Baturaja terdiri atas batugamping bioklastika dengan selingan napal. Formasi ini berketebalan 140 m, menindih selaras Formasi Talangakar, dan merupakan fasies inti terumbu bagian luar hingga terumbu depan. Untuk bagian utaranya Formasi yang paling atas disebut Formasi Kasai (Qtk), batuannya terutama kerikil dan batupasir warna cerah dan kadang glaukonitan, tufa warna hijau sampai cerah dan sedikit kaolin. Kadangkadang batuapung, bongkah-bongkah batuan vulkanis dan batupasir tufaan. Dalam formasi ini masih ditemukan lensa-lensa batubara. Endapan aluvium terdiri dari rombakan batuan lebih tua berukuran bongkah, kerikil, pasir, Ianau, lumpur yang diendapkan di sekitar aliran Sungai Ogan dan meluas di muaranya. Batuan Vulkanik berumur Holosen tersebar luas disebelah barat areal penyelidikan yang merupakan lajur barisan yang terdiri dari lava tuff bersusun andesit-basal.

II.3 MORFOLOGI Morfologi Daerah Baturaja secara umum adalah perbukitan bergelombang yang berada pada ketinggian antara 75 450 m di atas muka laut. Tetapi pada dasarnya bagian Barat 30% masih merupakan perbukitan bergelombang dan di bagian lainnya 70% merupakan dataran aluvial. Di antara perbukitan tersebut, daerah penyelidikan terdapat dua sungai besar yang memisahkan morfologi di atas, yaitu Sungai Ogan di sebelah Barat dan Sungai Komering di sebelah Timurnya. Kedua sungai tersebut dapat diindakasikan tingkat transportasi sedimentasi daerah setempat sudah termasuk tua dan tahap lanjut.

Daftar pustaka Gafoer, S., Amin, T.C., dan Pardede, R., 1994, Geologi Lembar Baturaja, Sumatera, Sekala 1 : 250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, 116 h.