Anda di halaman 1dari 18

kumbah lambung

F. Pengertian 1. Kumbah lambung adalah membersihkan lambung dengan cara memasukan dan mengeluarkan air ke/dari lambung dengan menggunakan NGT ( Naso Gastric Tube ) 2. Kumbah lambung merupakan metode alternatife yang umum pengosongan lambung,dimana cairan dimasukkan kedalam lambung melalui orogastrik atau nasogastrik dengan diameter besar dan kemudian dibuang dalam upaya untuk membuang bagian agen yang mengandung toksik.

G. Tujuan 1. Membuang racun yang tidak terabsorbsi setelah racun masuk sal pencernaan 2. Mendiagnosa perdarahan lambung 3. Membersihkan lambung sebelum prosedur endoscopy 4. Membuang cairan atau partikel dari lambung

H. Indikasi

1. Pasien yang keracunan makanan atau obat tertentu 2. Persiapan operasi lambung 3. Persiapan tindakan pemeriksaan lambung 4. Tidak ada refleks muntah 5. Gagal dengan terapi emesis 6. Pasien dalam keadaan sadar

I. Kontra Indikasi

1. Kumbah lambung tidak dilakukan secara rutin dalam penatalaksanaan pasien dengan keracunan.Kumbah lambung dilakukan ketika pasien menelan subtansi toksik yang dapat mengancam nyawa,dan prosedur dilakukan selama 60 menit setelah tertelan. 2. Pasien kejang 3. Kumbah lambung dapat mendorong tablet ke dalam duodenum selain mengeluarkan tablet tersebut.

4. Kumbah lambung dikontraindikasikan untuk bahan-bahan toksik yang tajam dan terasa membakar (resiko perforasi esophageal).Kumbah lambung tidak dilakukan untuk bahan toksik hidrokarbon (resiko aspirasi),misalnya : camphor,hidrokarbon,halogen,hidrokarbon aromatic,pestisida 5. Kumbah lambung dikontraindikasikan untuk pasien yang menelan benda asing yang tajam dan besar 6. Pasien tanpa gag reflex atau pasien dengan pingsan (tidak sadar) membutuhkan intubasi sebelum kumbah lambung untuk mencegah inspirasi.

J. Persiapan alat

1. Baki berisi NGT lengkap dengan corong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan 2. Ukuran NGT : a. no. 14-20 untuk ukuran dewasa b. no. 8-16 untuk anak-anak c. no.5-7 untuk bayi 3. 2 buah baskom 4. Perlak dan handuk sebagai pengalas 5. Stetoskop 6. Spuit 10 cc 7. plester 8. Piala ginjal dan kom penampung 9. Air hangat 1 sampai 2 liter 10. Kassa/tissue, 11. Jelly 12. Susu hangat

K. Persiapan pasien

Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan,mengadakan pendekatan kepada anak atau keluarga dengan memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan berkomunikasi.

L. Langkah-langkah

1. Mencuci tangan 2. Perawat memakai skort 3. Perlak dan alas dipasang disamping pasien 4. NGT di ukur dari epigastrium sampai pertengahan dahi kemudian diberi tanda 5. Ujung atas NGT diolesi jelly,bagian ujung bawah diklem 6. NGT dimasukkan perlahan-lahan melalui hidung pasien sambil disuruh menelannya ( bila pasien sadar ) 7. Periksa apakah NGT betul-betul masuk lambung dengan cara ; a. Masukan ujung NGT kedalambaskom yang berisi air,jika tidak ada gelembung Maka NGT sudah masuk kedalam lambung. b. Masukan Udara dengan spuit 10cc dan didengarkan pada daerah lambung dengan menggunakan stetoskop.setelah yakin pasang plester pada hidung untuk memfiksasi NGT. 8. Setelah NGT masuk pasien diatur dengan posisi miring tanpa bantal atau kepala lebih rendah selanjutnya klem dibuka. 9. Corong dipasang diujung bawah NGT,air/susu dituangkan kedalam corong jumlah cairan sesuai kebutuhan.cairan yang masuk tadi dikeluarkan dan ditampung dalam baskom. 10. Pembilasan lambung dilakukan berulang kali sampai air yang keluar dari lambung sudah jernih. 11. Jika air yang keluar sudah jernih Selang NGT dicabut secara pelan-pelan dan diletakan dalam baki. 12. Setelah selesai pasien dirapikan,mulut dan sekitarnya dibersihkan dengan tissue jelaskan pada pasien bahwa prosedur yang dilakukan telah selesai. 13. Alat-alat dikemas dan dibersihkan 14. Perawat mencuci tangan 15. Mencatat semua tidakan yang telah dilakukan pada status pasien

Lavage Lambung Lavage lambung adalah metoda alternatif yang umum untuk pengosongan lambung, di mana cairan seperti normal saline dimasukkan ke dalam lambung melalui selang orogastrik atau nasogastrik dengan diameter yang besar dan kemudian dibuang dalam upaya untuk membuang bagian dari agen yang teringesti sebelum diabsorpsi. Selama lavage, isi lambung dapat dikumpulkan untuk mengidentifikasi toksin atau obat. Lavage lambung dianjurkan

untuk pasien dengan depresi status mental atau tidak ada refleks muntah, atau bagi mereka yang dengan pemberian SOI telah gagal untuk menghasilkan emesis. Untuk mengeluarkan bahan-bahan khusus secara efektif, termasuk seluruh kapsul atau tablet, harus digunakan selang orogastrik yang besar. Ukuran selang orogastrik untuk orang dewasa atau anak remaja adalah 36 sampai 40 FR, sedangkan untuk anak-anak adalah sampai 16 sampai 28 Fr. Selang nasograstrik standard kurang disukai karena ukurannya yang kecil, namun bisa menyebabkan trauma mukosal dan epistaksis. Untuk tindakan lavage pasien dibaringkan dalam posisi dekubitus lateral sebelah kiri, dengan bagian kepala lebih rendah dari pada bagian kaki. Prosedur ini memerlukan corong yang dipasang (atau kateter dengan kateter berujung spuit) pada ujung selang orogastrik dan memasukan 150 sampai 200 ml air atau larutan saline (50-100 ml pada anak-anak) ke dalam lambung. Dengan meletakkan corong dan selang lebih rendah di bawah pasien akan memungkinkan cairan untuk mengalir gravitasi. Prosedur ini diulang samapi keluar cairan yang jernih atau sedikitnya menggunakan cairan sebanyak 2 liter. Intubasi nasotrakeal atau endotrakheal akan diperlukan untuk melindungi jalan udara. Komplikasi-komplikasi lavage lambung termasuk perforasi esofagus, aspirasi pulmonal, ketidakseimbangan elektrolit, tensi pneumatoraks, dan hipotermia pada anak-anak kecil bila menggunakan larutan lavage yang dingin. Lavage menjadi kontraindikasi pada ingestasi kaustik karena adanya risiko terhadap perforasi esofagus, dan pada kejang yang tidak terkontrol karena risiko trauma dan aspirasi. Diposkan oleh ad http://duniakeperawatan2011.blogspot.com/2011/04/kumbah-lambung.html

Bilas Lambung
Diposting Oleh Dwi Yoedhas Putra on Thursday, April 22, 2010 | | 0 comments Labels: Artikel Kesehatan BILAS LAMBUNG (GASTRIC LAVAGE)

Pengertian

Bilas lambung, atau disebut juga pompa perut dan irigasi lambung merupakan suatu prosedur yang dilakukan untuk membersihkan isi perut dengan cara mengurasnya.Prosedur ini sudah dilakukan selama 200 tahun dengan indikasi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Keracunan obat oral kurang dari 1 jam Overdosis obat/narkotik Terjadi perdarahan lama (hematemesis Melena) pada saluran pencernaan atas. Mengambil contoh asam lambung untuk dianalisis lebih lanjut. Dekompresi lambung Sebelum operasi perut atau biasanya sebelum dilakukan endoskopi

Tindakan ini dapat dilakukan dengan tujuan hanya untuk mengambil contoh racun dari dalam tubuh, sampai dengan menguras isi lambung sampai bersih. Untuk mengetes benar tidaknya tube dimasukkan ke lambung, harus didengarkan dengan menginjeksekan udara dan kemudian mendengarkannya. Hal ini untuk memastikan bahwa tube tidak masuk ke paruparu.

Cairan yang digunakan

Pada anak-anak, jika menggunakan air biasa untuk membilas lambung akan berpotensi hiponatremi karena merangsang muntah. Pada umumnya digunakan air hangat (tap water) atau cairan isotonis seperti Nacl 0,9 %. Pada orang dewasa menggunakan 100-300 cc sekali memasukkan, sedangkan pada anak-anak 10 cc/kg dalam sekali memasukkan ke lambung pasien.

Bagaimana tindakan dilakukan

Sebuah pipa dimasukkan kedalam lambung melalui mulut atau hidung lalu ke esophagus. Dan berakhir di lambung. Kadang-kadang obat anti nyeri/anastesi harus diberikan untuk mengurangi rasa sakit dan iritasi pada pasien. Dan mencegah pasien untuk memuntahkan kembali tube/pipa yang sedang di masukkan. Peralatan suction di siapkan apabila terjadi aspirasi isi perut. Bilas lambung terus diulangi pada pasien yang keracunan sampai perutnya bersih. Pada pasien yang tidak sadar dan tidak dapat menjaga jalan nafas mereka, sebelum dilakukan bilas lambung/ menginseresikan tube untuk bilas lambung, terlebih dahulu pada pasien dipasang intubasi.

Persiapan pelaksanaan Prosedur

Pada keadaan darurat, misalnya pada pasien yang keracunan, tidak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh perawat dalam melaksanakan bilas lambung, akan tetapi pada waktu tindakan dilakukan untuk mengambil specimen lambung sebagai persiapan operasi, biasanya dokter akan menyarankan akan pasien puasa terlebih dahulu atau berhenti dalam meminum obat sementara. Kontra Indikasi Pada pasien yang mengalami cedera/injuri pada system pencernaan bagian atas, menelan racun yang bersifat keras/korosif pada kulit, daln mengalami cedera pada jalan nafasnya, serta mengalami perforasi pada saluran cerna bagian atas. komplikasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aspirasi Bradikardi Hiponatremia Epistaksis Spasme laring Hipoksia dan hiperkapnia Injuri mekanik pada leher, eksofagus dan saluran percernaan atas Ketidakseimbangan antara cairan dan elektrolit Pasien yang berontak memperbesar resiko komplikasi http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/bilas-lambung.html

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Racun adalah zat / bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung / inhalasi, suntikan dan absorbsi melalui kulit atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan / menggangu dengan serius fungsi satu / lebih organ atau jaringan. Karena adanya bahan- bahan yang berbahaya, menteri kesehatan telah menetapkan peraturan no 435 / MEN. KES / X1 / 1983 tanggal 16 November 1983 tentang bahan bahan berbahaya. Karena tingkat bahayanya yang meliputi besar dan luas jangkauan, kecepatan penjalaran dan sulitnya dalam penanganan dan pengamanannya, bahan bahan berbahaya atau yang dapat membahayakan kesehatan manusia secara langsung atau tidak langsung. Keracunan merupakan masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan keracunan antara lain makanan.Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia karena di dalamnya mengandung nutrisi yang di perlukan antara lain untuk : a. Pertumbuhan Badan b. Memelihara dan memperbaiki jaringan tubuh yang telah tua dan rusak c. Di perlukan untuk proses yang terjadi di dalam tubuh d. Di perlukan untuk berkembang biak e. Menghasilkan energi untuk dapat melakukan aktivitas Tetapi makanan juga dapat menyebabkan keracunan di karenakan makanan tersebut mengandung toksin, makanan dari tumbuhan dan hewan yang mengandung racun , makanan yang tercemar bahan kimia berbahaya, selain juga infeksi karena makanan yang mengandung mikroorganisme pathogen ( FOOD INFECTION )

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah di lakukan pembelajaran dan seminar di harapkan mahasiswa faham tentang Asuhan Keperawatan Keracunan 2. Tujuan Husus Mengetahui dan memahami macam macam zat racun yang biasa terdapat di masyarakat Terampil dalam menangani kasus kasus keracunan akut maupun kronik Mampu memutuskan apa yang harus di lakukan pada penderita keracunan akut Dapat membicarakan dan membuat saran saran tentang cara cara untuk mencegah keracunan umum beserta sarana yang di perlukan

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Racun adalah zat atau bahan yang bila masuk kedalam tubuh melalui mulut, hidung (inhalasi), serta suntikan dan absorbsi melalui ,kulit, atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan dan mengganggu dengan serius fungsi satu atau lebih organ atau jaringan ( Sartono 2001 : 1 ) Intokkasi atau kercunan merupakan masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracuanan Makanan adalah penyakit yang tiba tiba dan mengejutkan yang dapat terjadi setelah menelan makanan / minuman yang terkontaminasi. (KMB Brunner & Suddarth Vol.3) B. Faktor Resiko

a. Produsen makanan kurang / tidak menyadari dan memahami sepenuhnya arti kebersihan dan keselamatan makanan. Hal ini di sebabkan antara lain oleh latar belakang pendidikan dan lingkungan yang tidak mendukung. b. Produsen menutup diri terhadap kontak dengan pihak luar dan instansi yan berwenang dalam masalah kesehatan dan keselamatan makanan yang di sebabkan, antara lain oleh faktor faktor psikologi dan rahasia usaha c. Produsen kurang / sama sekali tidak mendapat bimbingan dan petunjuk dari instansi yang berwenang dengan masalah kesehatan dan keselamatan makanan d. Kurang / belum ada pengaturan yang tegas dari pemerintah yang berhubungan dengan kontrol kualitas dan kontrol keselamatan setiap jenis makanan yang di produksi, sebelum di edarkan untuk di pasarkan. C. Etiologi Penyebab keracunan ada beberapa macam dan akibatnya bisa mulai yang ringan sampai yang berat. Secara umum yang banyak terjadi di sebabkan oleh : 1. Mikroba Mikroba yang menyebabkan keracunan di antaranya : a. Escherichia coli patogen b. Staphilococus aureus c. Salmonella d. Bacillus Parahemolyticus e. Clostridium Botulisme f. Streptokkkus 2. Bahan Kimia a. Peptisida golongan organofosfat b. Organo Sulfat dan karbonat 3. Toksin a. Jamur b. Keracunan Singkong c. Tempe Bongkrek d. Bayam beracun e. Kerang D. Pathofisiolgi

Keracuanan dapat di sebabkan oleh beberapa hal di antaranya yaitu faktor bahan kimia, mikroba, toksin dll. Dari penyebab tersebut dapat mempengaruhi vaskuler sistemik shingga terjadi penurunan fungsi organ organ dalam tubuh. Biasanya akibat dari keracunan menimbulkan mual, muntah, diare, perut kembung,gangguan pernafasan, gangguan sirkulasi darah dan kerusakan hati ( sebagai akibat keracunan obat da bahan kimia ). Terjadi mual, muntah di karenakan iritasi pada lambung sehingga HCL dalam lambung meningkat . Makanan yang mengandung bahan kimia beracun (IFO) dapat menghambat ( inktivasi ) enzim asrtikolinesterase tubuh (KhE). Dalam keadaan normal enzim KhE bekerja untuk menghidrolisis arakhnoid (AKH) dengan jalan mengikat Akh KhE yang bersifat inakttif. Bila konsentrasi racun lebih tingggi dengan ikatan IFO-KhE lebih banyak terjadi. Akibatnya akan terjadi penumpukan Akh di tempat tempat tertentu, sehingga timbul gejala gejala rangsangan Akh yang berlebihan, yang akan menimbulkan efek muscarinik, nikotinik, dan ssp ( menimbulakan stimulasi kemudian depresi SSP )

F. Manifestasi Klinis 1. Gejala yang paling menonjol meliputi a. Kelainan Visus b. Hiperaktivitas kelenjar ludah dan keringat c. Gangguan Saluran pencernaan d. Kesukaran bernafas 2. Keracunan ringan a. Anoreksia b. Nyeri kepala c. Rasa lemah d. Rasa takut e. Tremor pada lidah dan kelopak mata f. Pupil miosis 3. Keracunan sedang a. Nausea b. Muntah muntah c. Kejang dan kram perut d. Hipersalifa

e. Hiperhidrosis f. Fasikulasi otot g. Bradikardi 4. Keracunan berat a. Diare b. Reaksi cahaya negatif c. Sesak nafas d. Sianosis e. Edema paru f. Inkontinensia urine dan feses g. Kovulsi h. Koma i. Blokade jantung akhirnya meninggal G. Komplikasi 1. Syok Neurogenik 2. CHF 3. Gagal ginjal H. Penatalaksanaan 1. Tindakan Emergensi Airway : Bebaskan jalan nafas, kalau perlu di lakukan inkubasi Breathing : Berikan nafas buatan, bila penderita tidak bernafas spontan atau pernafasan tidak adekuat Circulasi : Pasang infus bila keaadaan penderita gawat darurat dan perbaiki perfusi jaringan. 2. Resusitasi Setelah jalan nafas di bebaskan dan di bersihkan, periksa pernafasan dan nadi. Infus dextrose 5% kec.15 20, nafas buatan, O2, hisap lendir dalam saluran pernafasan, hindari obat obatan depresan saluran nafas, kalau perlu respirator pada kegagalan nafas berat. Hindari pernafasan buatan dari mulut ke mulut, sebab racun orga fhosfat akan meracuni lewat mulut penolong. Pernafasan buatan hanya di lakukan dengan meniup face masuk atau menggunakan alat bag valve mask.

3. Identifikasi penyebab Bila mungkin lakukan identifikasi penyebab keracunan, tapi hendaknya usaha mencari penyebab keracunan tidak sampai menunda usaha usaha penyelamatan penderita yang harus segera di lakukan. 4. Mengurangi absorbsi Upaya mengurangi absorbsi racun dari saluran cerna di lakukan dengan merangsang muntah, menguras lambung, mengabsorbsi racun dengan karbon aktif dan membersihkan usus 5. Meningkatkan eliminasi Meningkatkan eliminasi racun dapat di lakukan dengan diuresis basa atau asam, dosis multipel karbon aktif, dialisis dan hemoperfusi. I. Pemeriksaan Penunjang 1. BGA 2. Laboratorium Penurunan kadar Khe dengan sel darah merah dalam plasma, penting untuk memastikan diagnosis keracuna IFO akut / kronik Keracunan Akut : Ringan 40 70 % : Sedang 20 40 % : Berat <> Keracunan kronik : Apabila kadar KhE menurun sampai 2550%. 3. Pathologi Anatomi Pada keracunan akut, hasil pemeriksaan pathologi biasanya tidak khas. Sering hanya di temukan edema paru, dilatasi kapiler, hiperemi paru, otak dan organ organ lainnya. J. Pencegahan 1. Masak masakan sampai benar benar matang karena racun akan tidak aktif dengan pemanasan makanan pada suhu di atas 45 C selama 1 menit, pada suhu 80 C selama 5 menit, selain itu spora juga tidak aktif dengan pemanasan 120 C

2. Letakkan bahan bahan kimia berbahaya di tempat yang aman dan jauh dari jangakauan anak anak 3. Tandailah sejelas jelasnya tiap atau kaleng yang berisi bahan berbahaya 4. Hindari pemakaian botol / kaleng bekas 5. Kuncilah kotak penyimpanan racun dan obat obatan 6. Perhatikan petunjuk tanggal / masa kadaluarsa BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas a. Identitas pasien Nama : Anak X Umur : 10 Th Jenis kelamin : Laki-Laki Pendidikan : SD Alamat : Kudus Tanggal maasuk : 1 Juli 2010 Jam masuk :11.00 WIB DX medis :Keracunan b. Identitas penanggung jawab Nama : Bu Saidah Umur : 30 Th Jenis kelamin : Perempuan Pendidikan : Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Kudus Hubungan dengan anak : Orang tua ( Ibu ) pasien 2. Riwayat kesehatan a.Keluhat utama Pasien mengeluh mules, sakit perut, muntah, diare, pusing b. Riwayat kesehatan sekarang

Anak X berusia 10 tahun, setelah makan jajan mengeluh mules dan sakit perut kemudian diberi minyak kayu putih tapi tidak ada perubahan, anak X muntah disertai diare, pusing, dan selang beberapa saat dia tidak sadarkan diri, saat dibawa ke RS sempat menglami kejang c.Riwayat kesehatan dahulu Anak X belum pernah mengalami keracunan 3. Pemeriksaan fisik a.Keadaan umum Kesadaran menurun TTV : TD : Nadi : Suhu : RR : b. Pernafasan Nafas tidak teratur c.Kardiovaskuler Hipertensi, nadi aritmia. d. Persarafan Kejang, miosis, vasikulasi, penurunan kesadaran, kelemahan, paralise e.Gastrointestinal Muntah, diare

f. Integumen Berkeringat g. Muskuloskeletal Kelelahan, kelemahan h. Integritas Ego Gelisah, pucat i. Eliminasi Diare j. Selaput lendir Hipersaliva k. Sensori Mata mengecil/membesar, pupil miosis B. Analisa Data No Data Fokus 1 Ds : ibu mengatakan anaknya mengeluh mules dan sakit perut,muntah, diare Do : Diare tanpa disadari bau khas warna hijau 2 Ds : Do : nafas tidak teratur Obstruksi trakheobronkeal Pola nafas inefektif Etiologi Muntah, Diare problem Kekurangan valume cairan

Ds : ibu mengatakan anaknya mengeluh muntah Do : -

Anoreksia

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh . Dia gno sa

Ds : tidak sadar Do : bibir pucat,akral dingin watan

Kekurangan O2

Gangguan perfusi jaringan

kep era

1. Devisit volume cairan b.d muntah, diare 2. Pola nafas inefektif b.d obstruksi trakheobronkeal 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia 4. Perubahan perfusi jaringan b.d kekurangan O2 D. Rencana Tindakan 1. Devisit volume cairan b.d muntah, diare Tujuan : Mempertahankan volume cairan adekuat. Kriteria Hasil : Membran mukosa lembab Turgor kulit baik Pengisian kapiler baik TTV stabil Intervensi : 1. Awasi intake dan output,karakter dan jumlah feses 2. Kaji TTV

3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa,penurunan turgor kulit. 4. Kolaborasi pemberian cairan parenteral sesuai indikasi 2. Pola nafas inefektif b.d Obstruksi trakheobronkial oleh sekret banyak Tujuan : Menunjukan pola nafas efektif dengan frekwensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru bersih. Kriteria Hasil : Suara nafas normal Intervensi : 1. Kaji frekwensi, kedalaman pernapasan dan ekspansi dada. 2. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. 3. Dorong/bantu pasien dalam napas dalam. 4. kolaborasi pemberian oksigen tambahan 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia Tujuan : Nutriisi adekuat. Kriteria Hasil : Mual muntah hilang, pasien mampu menghabiskan porsi makan Intervensi : 1. Catat adanya muntah 2. Berikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering 3. Berikan makanan halus, hindari makanan kasar sesuai indikasi 4. Kolaborasi pemberian antasida sesuai indikasi. 4. Gangguan perfusi jaringan b.d kekurangan oksigen jaringan Tujuan : terjadi peningkatan perfusi jaringan

Kriteria Hasil : Tidak adanya sianosis Kulit hangat/ normal Intervensi : 1. Observasi warna dan suhu kulit/membran mukosa. 2. Evaluasi ekstremitas untuk ada/tdknya kualitas nadi. 3. Kolaborasi pemberian cairan (IV/peroral)sesuai indikasi. DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marylin E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC Heru S, Adi. 1995. KADER Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta : EGC http://askep keracunan.com Sartono. 2001. Racun Dan Keracunan. Jakarta. Widya Medika