Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH TERAPI OKSIGEN BLOK GAWAT DARURAT DAN TRAUMATOLOGI

Oleh : Puspa Ayu Navratilova 61109018

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS BATAM 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwataala, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Terapi Oksigen. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah blok Gawat darurat dan traumatologi.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi seluruh masyarakat khususnya mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Batam dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Batam, 3 Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI Kata Pengantar ...................................................................................................................... i Daftar Isi ................................................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang .......................................................................................................................1 Tujuan Penulisan....................................................................................................................1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi...................................................................................................................................2 Tujuan ....................................................................................................................................2 Indikasi...................................................................................................................................3 Kontraindikasi........................................................................................................................6 Teknik Pemberian Oksigen....................................................................................................7 Resiko Terapi Oksigen...........................................................................................................15 Menentukan Dosis pemberian Oksigen .................................................................................16 Monitoring Terapi Oksigen....................................................................................................17 BAB III PENUTUP Kesimpulan ............................................................................................................................19 Daftar Pustaka........................................................................................................................20

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Sering kali pada saat pasien mengeluh sesak napas, maka secara otomatis yang terpikir adalah pemberian oksigen. Tanpa memandang sebetulnya perlu atau tidaknya tindakan tersebut dilakukan. Jikapun perlu metoda apa yang diperlukan dan berapa banyak kadar yang harus diberikan. Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernapas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis. Pemberian oksigen pada pasien perlu mendapat perhatian khusus karena pada pemberian yang tidak tepat dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan seperti depresi pernapasan atau keracunan O2. Cara yang tepat pemberian oksigen adalah didasarkan pada hasil pemeriksaan analisa gas darah (AGD) melalui penghitungan dengan menggunakan rumus. Melalui penghitungan ini dapat ditentukan banyaknya/konsentrasi oksigen yang diberikan serta dapat memilih alat yang dipakai dalam pemberian oksigen. Artikel ini akan membahas mengenai terapi oksigen secara praktis. I.2 TUJUAN PENULISAN Tujuan Umum Untuk Mengetahui dan memahami dasar-dasar Terapi Oksigen Tujuan Khusus Mahasiswa mampu mengerti dan memahami tentang : Definisi Terapi Oksigen Indikasi dan kontraindikasi terapi oksigen Teknik Pemberian Oksigen Menentukan Dosis Pemberian Oksigen Komplikasi dalam Terapi Oksigen

1|Terapi

O2 Puspa Ayu N

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Definisi Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. (Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005) Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %, (Brunner & Suddarth,2001) Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara: a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik ) b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)

II.2

Tujuan/ kegunaan

a. Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan untuk memfasilitasi metabolisme aerob b. Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk : - Mencegah dan mengatasi hipoksemia / hipoksia serta mmempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat. - Menurunkan kerja nafas dan miokard. - Menilai fungsi pertukaran gas Alat Aliran (L/menit) 1 2 Kanula nasal 3 4 5 6 Masker oksigen 5-6 Fi O2 (fraksi oksigen inspirasi) 0,24 0,28 0,32 0,36 0,40 0,44 0,40

2|Terapi

O2 Puspa Ayu N

6-7 7-8 6 Masker dengan 7 8 9 10

0,50 0,60 0,60 0,70 0,80 0,80 0,80

kantong reservoir

II.3

Indikasi

A. Pasien hipoksia Hipoksia hipoksik merupakan masalah pada individu normal pada daerah ketinggian serta merupakan penyulit pada pneumonia dan berbagai penyakit sistim pernafasan lainnya. Gejala dan tanda hipoksia hipoksik: 1. Pengaruh penurunan tekanan barometer Penurunan PCO2 darah arteri yang terjadi akan menimbulkan alkalosis respiratorik. 2. Gejala hipoksia saat bernafas oksigen Di ketinggian 19.200 m, tekanan barometer adalah 47 mmHg, dan pada atau lebih rendah dari tekanan ini cairan tubuh akan mendidih pada suhu tubuh. Setiap orang yang terpajan pada tekanan yang rendah akan lebih dahulu meninggal saat hipoksia, sebelum gelembung uap air panas dari dalam tubuh menimbulkankematian. 3. Gejala hipoksia saat bernafas udara biasa Gejala mental seperti irritabilitas, muncul pada ketinggian sekitar 3700 m. Pada ketinggian 5500 m, gejala hipoksia berat, dan diatas 6100 m, umumnya seseorang hilang kesadaran. 4. Efek lambat akibat ketinggian Keadaan ini ditandai dengan sakit kepala, iritabilias, insomnia, sesak nafas, serta mual dan muntah. 5. Aklimatisasi Respon awal pernafasan terhadap ketinggian relatif ringan, karena alkalosis cenderung melawanefek perangsangan oleh hipoksia. Timbulnya asidosis laktat dalam otak akan menyebabkan penurunan pH LCSdan meningkatkan respon terhadap hipoksia.
3|Terapi O2 Puspa Ayu N

Penyakit yang menyebabkan Hipoksia Hipoksik Penyakit penyebabnya secara kasar dibagi atas penyakit dengan kegagalan organ pertukaran gas, penyakit seperti kelainan jantung kongenital dengan sebagian besar darah dipindah dari sirkulasi vena kesisi arterial, serta penyakit dengan kegagalan pompa pernafasan. Kegagalan paru terjadi bila keadan seperti fibrosis pulmonal menyebabkan blok alveoli kapiler atau terjadi ketidak seimbangan ventilasi perfusi. Kegagalan pompa dapat disebabkan oleh kelelahan otot-otot pernafasan pada keadaan dengan peningkatan beban kerja pernafasan atau oleh berbagai gangguan mekanik seperti pneumothoraks atau obstruksi bronkhial yang membatasi ventilasi. Kegagalan dapat pula disebabkan oleh abnormalitas pada mekanisme persarafan yang mengendalikan ventilasi, seperti depresi neuron respirasi di medula oblongata oleh morfin dan obat-obat lain.

Hipoksia Anemik Sewaktu istirahat,hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena terdapat peningkatan kadar 2,3-DPG didalam sel darah merah,kecuali apabila defisiensi hemoglobin sangat besar. Meskipun demikian, penderita anemia mungkin mengalami kesulitan cukup besar sewaktu melakukan latihan fisik karena adanya keterbatasan kemampuan meningkatkan pengangkutan O2 kejaringan aktif.

Hipoksia Stagnan Hipoksia akibat sirkulasi lambat merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin jaringan otak mengalami kerusakan akibat hipoksia stagnan pada gagal jantung kongestif. Pada keadaan normal, aliran darah ke paru-paru sangat besar, dan dibutuhkan hipotensi jangka waktu lama untuk menimbulkan kerusakan yang berarti. Namun, syok paru dapat terjadi pada kolaps sirkulasi berkepanjangan,terutama didaerah paru yang letaknya lebih tinggi dari jantung.

Hipoksia Histotoksik Hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan paling sering diakibatkan oleh keracunan sianida. Sianida menghambat sitokrom oksidasi serta mungkin beberapa enzim lainnya. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk mengobati keracunan sianida. Zat-zat suatu tersebut senyawa bekerja non dengan sianida, menghasilkan pengobatan

sianmethemoglobin,

toksik.

Kemampuan

4|Terapi

O2 Puspa Ayu N

menggunakansenyawa ini tentu saja terbatas pada jumlah methemoglobin yang dapat dibentuk dengan aman. Pemberian terapi oksigen hiperbarik mungkin juga bermanfaat. B. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal C. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal D. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal. E. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi F. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. Contoh : Pasien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil AGD Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh terjadi hipoksemia ditandai dengan PaO2 dan SpO2 menurun. Pasien yang teridentifikasi hipoksemia contohnya syok dan keracunan CO Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah nilai normal (nilai normal PaO285-100 mmHg), SaO2 95%. Hipoksemia dibedakan menjadiringan sedang dan berat berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2. hipoksemia ringan dinyatakan pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 9094%, hipoksemia sedang PaO2 40-60 mmHg, SaO2 75%-89% dan hipoksemia berat bila PaO2kurang dari 40 mmHg dan SaO2 kurang dari 75%. Umur juga mempengaruhi nilai PaO2 dimana setiap penambahan umur satu tahun usia diatas 60 tahun dan PaO2 80 mmHg maka terjadi penurunan PaO2 sebesar 1 mmHg. Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi, perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan difusi dan berada ditempat yang tinggi. Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi yang bertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. Bila tekanan oksigen arteriol (PaO2) dibawah 55 mmHg.kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen arteriol (PaO2) yang meningkat dan sebaliknyatekanan karbondioksida arteri (PaCO2) menurun.jaringan Vaskuler yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga terjadi takikardi kompensasi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki. Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner sebagai respon untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru terganggu, kemudian akan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis danterjadi
5|Terapi O2 Puspa Ayu N

peningkatan kapasiti transfer oksigen. Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan peningkatan volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner. Gagal jan tung kanan bahkan dapat menyebabkan kematian. Pasien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat. Beberapa trauma Terapi ini diberikan dengan orang yang mempunyai gejala : Sianosis Hipovolemi Perdarahan Anemia berat - Keracunan - Asidosis - Selama dan sesudah pembedahan - Klien dengan keadaan tidak sadar

Kriteria pemberian terapi oksigen tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini. 1. Pemberian oksigen secara berkesinambungan (terus menerus), Diberikan apabila hasil analisis gas darah pada saat istirahat, didapat nilai: PaO2 kurang dari 55 mmHg atau saturasi kurang dari 88%. PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor pulmonale, polisitemia (hematokrit >56%). 2. Pemberian secara berselang Diberikan apabila hasil analisis gas darah saat latihan didapat nilai: Pada saat latihan PaO2 55 mmHg atau saturasi 88% Pada saat tidur PaO255 mmHg atau saturasi 88% disertai komplikasi seperti hipertensi pulmoner.somnolen dan aritmia. Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapat terapi oksigen perlu dievaluasi gas darah (AGD) serta terapi untuk menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka panjang.

II.4

Kontra indikasi

Tidak ada kontra indikasi absolut : a) Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi nasal.

6|Terapi

O2 Puspa Ayu N

b) Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal. c) Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi. d) Suplemen oksigen tidak direkomendasikan pada : Pasien dengan keterbatasan jalan nafas yang berat dengan keluhan utama dispneu, tetapi dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60 mmHg dan tidak mempunyai hipoksia kronik Pasien yang menerskan merokok, karena kemungkinan prognosis yang buruk dan dapat meningkatkan risiko kebakaran Pasien yang tidak menerima terapi oksigen

Syarat-syarat Pemberian Oksigen Meliputi : 1. Dapat mengontrol konsentrasi oksigen udara inspirasi, harus dapat di kontrol 2. Tahanan jalan nafas yang rendah, 3. Tidak terjadi penumpukan CO2, 4. Efisien, 5. Nyaman untuk pasien.

II.5

Teknik Pemberian Oksigen

Dapat dibagi menjadi 2 tehnik, yaitu : 1. Sistem Aliran Rendah Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, bekerja dengan memberikan oksigen pada frekuensi aliran kurang dari volume inspirasi pasien, sisa volume ditarik dari udara ruangan. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan, maka FiO2 aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Alat oksigen aliran
7|Terapi O2 Puspa Ayu N

rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola nafas, frekuensi dan volume ventilasi normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 20 kali permenit. Contoh sistem aliran rendah adalah :

Low flow low concentration : a. Kateter nasal Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai nasofaring. Persentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan, terutama jika mukosa nasal membengkak. Keuntungan Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, dan membersihkan mulut, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. Dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat kateter melewati nasofaring, dan mukosa nasal akan mengalami trauma, fiksasi kateter akan memberi tekanan pada nostril, maka kateter harus diganti tiap 8 jam dan diinsersi kedalam nostril lain, dapat terjadi distensi lambung, terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat dan tertekuk.

b. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong. Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %. Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut. FiO2 estimation : Flows FiO2
8|Terapi O2 Puspa Ayu N

1 Liter /min : 24 % 2 Liter /min : 28 % 3 Liter /min : 32 % 4 Liter /min : 36 % 5 Liter /min : 40 % 6 Liter /min : 44 % Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 % Keuntungan :Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, klien bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas melalui mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung. Kerugian :Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan, sebab pemberian flow rate yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat.

Low flow high concentration a. Sungkup Muka Sederhana Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang. Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 60%. Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker. FiO2 estimation : Flows FiO2 5-6 Liter/min : 40 %
9|Terapi O2 Puspa Ayu N

6-7 Liter/min : 50 % 7-8 Liter/min : 60 % Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol. Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.

b. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing Rebreathing mask Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35 60% dengan aliran 6 15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi, sesuai dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. FiO2 estimation : Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % ) 6 : 35 % 8 : 40 50 % 10 15 : 60 % Keuntungan :Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir.
10 | T e r a p i O2 Puspa Ayu N

Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini terjadi dan aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan menghirup sejumlah besar karbondioksida. Pasien tidak memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah, serta perlu segel pengikat.

c. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing Non rebreathing mask Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90 % dengan aliran 6 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup, sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah kempes dengan total. Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada tempatnya dan tanpa tongkat. FiO2 estimation : Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % ) 6 : 55 60 8 : 60 80 10 : 80 90 12 15 : 90 Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak mengeringkan selaput lendir. Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong oksigen bisa terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat, dan tidak memungkinkan makan, minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan anak-anak.

2. Sistem Aliran Tinggi


11 | T e r a p i O2 Puspa Ayu N

Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk memberikan 2 atau 3 kali volume inspirasi pasien. Alat ini cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator. Suatu teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.Contoh sistem aliran tinggi: a. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High flow low concentration). Merupakan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi yang tepat melalui cara non invasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan aliran udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker venturi menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan.Diberikan pada pasien hyperkarbia kronik ( CO2 yang tinggi ) seperti PPOK yang terutama tergantung pada kendali hipoksia untuk bernafas, dan pada pasien hypoksemia sedang sampai berat. FiO2 estimation, Menurut Standar Keperawatan ICU Dep.Kes RI. tahun 2005, estimasi FiO2 venturi mask merk Hudson Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % ) Biru : 2 : 24 Putih : 4 : 28 Orange : 6 : 31 Kuning : 8 : 35 Merah : 10 : 40 Hijau : 15 : 60 Keuntungan: Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada ala : FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi, serta dapat diukur dengan O2 analiser, Temperatur dan kelembaban gas dapat dikontrol, Tidak terjadi penumpukan CO2. Kerugian : Harus diikat dengan kencang untuk mencegah oksigen mengalir kedalam mata. Tidak memungkinkan makan atau batuk, masker harus dilepaskan bila pasien makan, minum, atau minum obat.
12 | T e r a p i O2 Puspa Ayu N

Bila humidifikasi ditambahkan gunakan udara tekan sehingga tidak mengganggu konsentrasi O2.

b. Bag and Mask / resuscitator manual Digunakan pada pasien : Cardiac arrest Respiratory failure Sebelum, selama dan sesudah suction Gas flows 12 15 liter, selama resusitasi buatan, hiperinflasi / bagging, kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan selang yang bengkok tidak digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5 liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten dengan konsentrasi 95 % - 100 %. Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen tambahan. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital : Kekuatan pemijatan menentukan volume tidal ( VT ). Jumlah pijatan permenit menentukan frekuensi Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncak. Hal hal yang harus diperhatikan : Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah terjadi distensi abdomen. Kemudahan / tahanan saat pemompaan mengindikasikan komplain paru. Risiko terjadinya peningkatan sekresi, pneumothorak, hemothorak, atau spasme bronkus yang memburuk. Syarat syarat Resusitator manual : Kemampuan kantong untuk memberikan oksigen 100 % pada kondisi akut. Masker bila dibutuhkan harus transparan untuk memudahkan observasi terhadap muntah / darah yang dapat mengakibatkan aspirasi. Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akut. Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong.Large Volume Aerosol Sistem.

13 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N

c. Selang T / T piece / Briggs adaptor Oksigen dialirkan ke humidifier, aliran harus cukup tinggi untuk menutup ventilasi pasien per menit. Dengan Oksigen T- piece memungkinkan pelembaban untuk selang ETT ( Endo Trakeal Tube ) atau trakeostomi.Tidak akan menimbulkan kondensasi dalam selang. Pada pemakaiannya, kabut harus terlihat pada ekshalasi akhir. Flow rate yang direkomendasikan adalah 10 liter/menit dengan nebuliser set untuk menjaga inspired oxygen concentration (FiO2)

d. Sungkup terbuka / Face tent Sama dengan selang T, digunakan untuk memberikan pelembaban pada pasien di ruang pemulihan atau setelah ekstubasi. Bila pasien merasakan masker terlalu menyekap, maka masker wajah harus ditambahkan. Konsentrasi 40% dengan aliran 10-15 L/mnt (Hudak & Gallo,1997), 8-12 liter/menit : 28%-100%. Keuntungan : Lebih nyaman untuk anak, dapat digunakan sebagai alternatif pemberian aerosol, dapat memberikan kelembaban yang tinggi. Kerugian :Posisi face tent sulit dipertahankan, FiO2 sulit dikontrol.

e. Collar trakeostomi Keuntungan : Sama dengan selang T, Memberikan pelembaban untuk pasien dengan trakeostomi. Gelang gelang adaptor mencegah bunyi gemuruh selang trakeostomi. Bagian depan memungkinkan penghisapan tanpa melepas masker. Kondensasi dalam collar dapat dialirkan ke dalam selang pasien. Kerugian : Sekresi dan lapisan kulit sekitar stoma dapat menyebabkan iritasi dan infeksi. Keamanan Untuk pasien : - Memastikan bahwa selangnya benar-benar masuk ke dalam saluran pernapasan. - Selang atau kateter yang masuk ke dalam saluran napas harus steril. - Tabung oksigennya dijauhkan dari jangkauan api.

14 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N

II.6

Resiko Terapi Oksigen

Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus selama 1-2 hari. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H 2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli. Sedangkan resiko yang lain seperti retensi gas karbondioksida dan atelektasis. Oksigen 100% menimbulkan efek toksik, tidak saja pada hewan, namun juga pada bakteri, jamur, biakan sel hewam dan tanaman. Apabila O2 80-100% diberikan kepada manusia selama 8 jam atau lebih, saluran pernafasan akan teriritasi, menimbulkan distres substernal, kongesti hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan kerusakan jaringan paru. Sejumlah bayi dengan sindroma gawat nafas yang diterapi dengan O2, selanjutnya mengalami gangguan menahun yang ditandai dengan kista dan pemadatan jaringan paru (displasia bronkopulmonal). Komplikasi lain pada bayi-bayi ini adalah retinopti prematuritas (fibroplkasia retrolental), yaitu pembentukan jaringan vaskuler opak pada matayang dapat mengakibatkan kelainan penglihatan berat. Pemberian O2 100% pada tekanan yang lebih tinggi berakibat tidak hanya iritasi trakeobronkial, tetapi juga kedutan otot, bunyi berdering dalam telinga, rasa pening, kejang dan koma. Pajanan terhadap O2 tekanan tinggi (oksigenasi hiperbarik) dapat menghasilkan peningkatan jumlah O2 terlarut dalam darah. Oksigen bukan zat pembakar tetapi dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan terapi pemberian oksigen harus menghindari : Merokok, membuka alat listrik dalam area sumber oksigen, menghindari penggunaan listrik tanpa Ground.

Hal yang harus dilaporkan dan didokumentasikan 1. Observasi dan catat terhadap penurunan kecemasan, peningkatan pengetahuan, penurunan kelemahan, penurunan frekuensi nafas, perubahan warna kulit, peningkatan saturasi oksigen. 2. Monitor dan dokumentasikan hasil analisa gas darah dan pulse oksimetri untuk menilai keefektifan terapi oksigen. Therapy Oksigen berhasil jika : Nilai PaO2 dan PaCO2 yang diharapkan tercapai : PaO2 = ( 4 5 ) x FiO2. 3. Monitor dan dokumentasikan kulit disekitar telinga, hidung , mukosa hidung terhadap iritasi.
15 | T e r a p i O2 Puspa Ayu N

4. Monitor dan dokumentasikan terjadinya efek samping / bahaya terapi oksigen yang lain. 5. Observasi dan catat posisi alat (kanula/masker, dll) yang tepat pada pasien . 6. Catat metode yang digunakan, berapa liter/ menit alirannya atau berapa FiO2 yang diberikan.

II.7

MENENTUKAN DOSIS PEMBERIAN OKSIGEN

1. PAO2 =(PB-PH2O)xFiO2 -(PaCO2 astrup x1,25) = (760-47) x FiO2 - PaCO2 astrup x1,25) 2. PaO2 =713xFiO2 -1,25x PaCO2 astrup 3. PaO2astrup PAO2 yangdidapat = PaO2 yang diinginkan PAO2 baru

4. Selanjutnya bila sudah didapat PAO2 baru, cari FiO2 baru dengan rumus 1 FiO2 = 150 + AaDO2 x 100% =..% 760 AaDO2 = PAO2 PaO2 Keterangan : PAO2 : tekanan oksigen alveoli PaO2 : nilai diambil dari hasil AGD contoh Pemberian oksigen yang tepat harus didasarkan pada nilai AGD dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Seorang pasien Pneumonia yang sedang dirawat di paviliun Kenanga terpasang oksigen 10 liter/menit (60 %) dengan menggunakan rebreathing mask sejak 8 jam yang lalu. Seorang dokter ingin mengoreksi pemberian oksigen selanjutnya. Hasil pemeriksaan AGD terbaru didapatkan : PH : 7.28 , PO2 : 125 , PCO2 : 60 , HCO3 : 25 , BE : 2,5

16 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N

Penyelesaian PAO2 = (760-47) X 0,6 60 = 367,8 AaDO2 = 367.8 120 = 247.8 FiO2 = (247.8 + 100) X 100 % 760 = 45.76 % ( 6 liter / menit ) jadi kebutuhan oksigen untuk pasien tersebut sebanyak 6 liter / menit dan dapat menggunakan sungkup muka non-rebreathing. (setiap 1 liter mengandung 4 % oksigen)

II.8

KOMPLIKASI Kerusakan pada paru : Tergantung konsentrasi oksigen yang diberikan , Tergantung pada lama pemberian

II.9

Efek neurologi : Kejang kejang karena tekanan intrakranial meningkat Fibro plasia retrolental : Kebutaan pada bayi prematur yang mendapat terapi oksigen TANDA DAN GEJALA KERACUNAN OKSIGEN Terjadi penurunan vital capacity (Vc) Paraesthesia, sakit sendi, mual dan muntah Atelectesia Perubahan mental dan gangguan penglihatan

II.10 MONITORING TERAPI OKSIGEN Tanda klinis - Kerja nafas : RR, otot nafas tambahan, nafas cuping hidung, sianosis - Kerja jantung : Nadi, tensi
17 | T e r a p i O2 Puspa Ayu N

Pulse oxymetri Analisa gas darah

Transtrakeal kateter

Bag Valve Mask

18 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini iperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis. Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat dalaam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah. tujuan utama pemberian O2 adalah (1) untuk mengatasi keadaan Hipoksemia sesuai dengan hasil Analisa Gas Darah, (2) untuk menurunkan kerja nafas dan meurunkan kerja miokard Indikasi terapi oksigen ini adalah untuk pasien hipoksia, oksigenasi kurang sedangkan paru normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal, oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal, pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi, pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. Kontra indikasi pemakaian terapi oksigen ini adalah pemakaian kanul nasal/kateter binasal/nasal prong : jika ada obstruksi nasal, pemakaian kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal, pemakaian sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi. Komplikasi pemakaian terapi oksigen yang terlalu lama dapat mengakibatkan keracunan oksigen, kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli.

19 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N

Daftar Pustaka

1. Astowo. Pudjo. 2005. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. FKUI. Jakarta. 2. Ikawati, Z. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan. PDF. Rohsiswatmo, R. 2010. Terapi Oksigen Pada Neonatus. Divisi Perinatologi Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCMk FKUI RSCM. Jakarta. 3. Rogayah, R. 2009. The Principle Of Oxigen Therapy. Departemen Pulmonologi Dan Respiratori FK UI. Jakarta. 4. Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa Indonesia, vol. 8. EGC. Jakarta. 5. Potter & Perry. 2002. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik. Volume 2. Edisi 4. EGC. Jakarta. 6. Ganong, F. William. 2003. Fisiologi Kedokteran Edisi 20. EGC. Jakarta. 7. Latief, A. Said. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intesif. Jakarta.

20 | T e r a p i

O2 Puspa Ayu N