Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN BUKU PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK

Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata kuliah Metode Riset Dosen : Ir. H. Muh. Yusan Naim, M.Sc

Oleh :

Zainuddin 033 290 033

PROGRAM STUDI TEKNIK TENAGA LISTRIK FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ELEKTRO UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2012

IDENTITAS BUKU

Judul Buku PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK Pengarang Ir. Djiteng Marsudi Edisi Pertama Tebal 239 halaman Penerbit Erlangga Jakarta Tahun Penerbitan 2005

BAB I PENDAHULUAN Buku berjudul Pembangkitan Energi Listrik edisi pertama ditulis oleh Ir. Djiteng Marsudi yang diterbitkan oleh Erlangga Jakarta tahun 2005 setebal 239 halaman. Ada empat bagian pembahasan utama di dalam buku ini, yaitu : 1. Presage, yaitu berisi paparan secara singkat proses pebangkitan enenrgi listrik, jenis-jenis pusat listrik, permasalahan dalam pembangkitan energi listrik, dan instalasi yang menyalurkan energi listrik serta mutu energi listrik. Hal berikutnya yang dibahas dalam bagian ini adalah menguraikan instalasi listrik dari pusat lustrik yang berhubungan dengan stator generator, system eksitasi generator serta menyalurkan energi listrik yang dibangkitkan dari pusat listrik, serta alat-alat utama yang berkaitan dengan pembangkitan energi listrik: generator, pengatur tegangan otomatis, governor, dan sakelar-sakelar tegangan tinggi. Pembahasan ketiga dari bagian pertama ini adalah penguraian masalahmasalah proses konversi energi dan operasi yang timbul PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP, PLTD, PLTN, dan init- unit pembangkitan khusus. Masalah pelestarian hutan dalam kaitannya dengan operasi PLTA dan PLTP. Masalah pengaadaan dan penyimpanan bahan bakar untuk pusat-pusat listrik termis, macam-macam bahan bakar serta spesifikasinya seperti nilai kalori dan kandungan unsur yang tidak dikehendaki. 2. Proses, berisi paparan tentang persoalan-persoalan pembangkitan dalam sistem interkoneksi dalam kaitannya dengan interaksi yang terjadi antara pusat-pusat listrik yang beroperasi dalam sistem interkoneksi. Persoalan ini meliputi koordinasi pemeliharaan, neraca dayan neraca energi, cadangan berputar, pelepasan beban, konfigurasi jaringan, dan prosedur pembebasan tegangan dengan memperhatikan masalah keselamatan kerja.

3. Product,

berisi

paparan

tentang

pengembangan

penyediaan

atau

pembangkitan

energi listrik yang menyangkut analisa kebutuhan energi,

survei dan studi kelayakan serta perencanaan teknik dari pusat-pusat listrik. 4. Programming, berisi paparan tentang manajemen pemeliharaan yang terutama menyangkut pengadaan suku cadang, pelaksanaan pemeliharaan, manajemen operasional, bahan bakar dan aplikasi peralatan dan metode kerja peralatan yang baru.

BAB II DESKRIPSI ISI BUKU BAGIAN 1 : PRESAGE Dalam bagian ini memaparkan secara singkat proses pebangkitan enenrgi listrik, jenis-jenis pusat listrik, permasalahan dalam pembangkitan energi listrik, dan instalasi yang menyalurkan energi listrik serta mutu energi listrik. Hal berikutnya yang dibahas dalam bagian ini adalah menguraikan instalasi listrik dari pusat lustrik yang berhubungan dengan stator generator, system eksitasi generator serta menyalurkan energi listrik yang dibangkitkan dari pusat listrik, serta alat-alat utama yang berkaitan dengan pembangkitan energi listrik: generator, pengatur tegangan otomatis, governor, dan sakelar-sakelar tegangan tinggi. Pembahasan ketiga dari bagian pertama ini adalah penguraian masalah-masalah proses konversi energi dan operasi yang timbul PLTA, PLTU, PLTG, PLTGU, PLTP, PLTD, PLTN, dan initunit pembangkitan khusus. Masalah pelestarian hutan dalam kaitannya dengan operasi PLTA dan PLTP. Masalah pengaadaan dan penyimpanan bahan bakar untuk pusat-pusat listrik termis, macam-macam bahan bakar serta spesifikasinya seperti nilai kalori dan kandungan unsur yang tidak dikehendaki. BAB I Pendahuluan Pada bab ini dijelaskan bahwa pembangkitan tenaga listrik sebagian besar dilakukan dengan cara memutar generator sinkron sehingga didapat tenaga listrik dengan tegangan bolak-balik tiga fasa. Energi mekanik yang diperlukan untuk memutar generator sinkron didapat dari mesin penggerak generator atau biasa disebut penggerak mula (prime mover). Mesin penggerak generator yang banyak digunakan dalam praktik, yaitu: mesin diesel, turbin uap, turbin air, dan turbin gas. Mesin-mesin penggerak generator ini mendapat energi dari:

Proses pembakaran bahan bakar (mesin-mesin termal). Air terjun (turbin air).

Jadi, sesungguhnya mesin penggerak generator melakukan konversi energi primer menjadi energi mekanik penggerak generator. Proses konversi energi primer

menjadi energi mekanik menimbulkan produk sampingan berupa limbah dan kebisingan yang perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan. Dari segi ekonomi teknik, komponen biaya penyediaan tenaga listrik yang terbesar adalah biaya pembangkitan, khususnya biaya bahan bakar. Oleh sebab itu, berbagai teknik untuk menekan biaya bahan bakar terus berkembang, baik dari segi unit pembangkit secara individu maupun dari segi operasi sistem tenaga listrik secara terpadu. Dalam pusat listrik umumnya terdapat: - Instalasi Energi Primer - Instalasi Mesin Penggerak Generator - Instalasi Pendingin - Instalasi Listrik Berdasarkan uraian di atas, di dalam praktik terdapat jenis-jenis pusat listrik sebagai berikut: - Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) - Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) - Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) - Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) - Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) - Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) - Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Boleh dikatakan bahwa semua pusat listrik di atas membangkitkan arus bolakbalik tiga fasa dengan menggunakan generator sinkron.

Gambar diagram satu garis instalasi tenaga listrik sebuah pusat listrik sederhana

Pusat listrik yang sudah dioperasikan secara komersial saat ini seperti yang digambarkan oleh gambar di atas yaitu tegangan dari generator dinaikkan dahulu dengan menggunakan transformator, baru kemudian dihubungkan ke rel melalui pemutus tenaga (PMT). Pemutus tenaga adalah sakelar tegangan tinggi yang mampu memutus arus gangguan. Arus gangguan besarnya dapat mencapai beberapa ribu kali besarnya arus operasi normal. Di depan dan di belakang setiap pemutus tenaga harus ada pemisah (PMS), yaitu sakelar yang hanya boleh dioperasikan (ditutup dan dibuka) dalam keadaan tidak ada arus yang melaluinya, tetapi posisi pisau sakelar harus jelas terlihat. Semua generator sebagai penghasil energi dihubungkan dengan rel (busbar). Begitu pula semua saluran keluar dari pusat listrik dihubungkan dengan rel pusat listrik. Dalam pusat listrik juga ada instalasi listrik arus searah. Arus searah diperlukan untuk menggerakkan mekanisme pemutus tenaga (PMT) dan untuk lampu penerangan darurat. Sebagai sumber arus searah digunakan baterai aki yang diisi oleh penyearah. Proses pembangkitan tenaga listrik pada prinsipnya merupakan konversi energi primer menjadi energi mekanik penggerak generator yang selanjutnya energi mekanik ini dikonversi oleh generator menjadi tenaga listrik. Proses yang demikian ini menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut: - Penyediaan energi primer untuk pusat listrik termal adalah bahan bakar. - Penyediaan Air Pendingin - Masalah Limbah - Masalah Kebisingan - Pemeliharaan - Gangguan dan Kerusakan - Pengembangan Pembangkitan - Perkembangan Teknologi Pembangkitan. Dengan makin pentingnya peranan tenaga listrik dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi keperluan industri, maka mutu tenaga listrik juga menjadi tuntutan yang makin besar dari pihak pemakai tenaga listrik.

Mutu tenaga listrik ini meliputi: a. Kontinuitas penyediaan; apakah tersedia 24 jam sehari sepanjang tahun. b. Nilai tegangan; apakah selalu ada dalam batas-batas yang diijinkan. c. Nilai frekuensi; apakah selalu ada dalam batas-batas yang diijinkan. d. Kedip tegangan; apakah besarnya dan lamanya masih dapat diterima. e. Kandungan harmonisa; apakah jumlahnya dalam batas-batas yang dapat diterima oleh pemakai tenaga listrik. BAB II Instalasi Listrik dari Pusat Listrik Pada bab ini dijelaskan bahwa generator yang umumnya digunakan dalam pusat listrik adalah generator sinkron tiga fasa. Ujung-ujung kumparan stator dari generator sinkron dihubungkan pada jepitan generator sehingga ada enam jepitan. Jepitan-jepitan ini umumnya diberi kode R S T dan U V W. Jepitan R dan U merupakan ujung-ujung kumparan pertama, jepitan S dan V dari kumparan ke-2, sedangkan dari kumparan ke- 3 adalah T dan W. Karena umumnya generator sinkron dihubungkan dalam hubungan Y, maka ketiga jepitan U V W dihubungkan jadi satu sebagai titik netral. Saluran tenaga listrik dari generator sampai dengan rel harus rapi dan bersih agar tidak menimbulkan gangguan. Gangguan di bagian ini akan menimbulkan arus hubung singkat yang relatif besar dan mempunyai risiko terganggunya pasokan tenaga listrik dari pusat listrik ke sistem, bahkan apabila generator yang digunakan dalam sistem berukuran besar, maka ada kemungkinan seluruh sistem menjadi terganggu. Bagian lain dari instalasi listrik generator adalah instalasi arus (medan) penguat. Arus penguat ini didapat dari generator arus searah yang umumnya terpasang satu poros dengan generator utama. Hubungan listrik antara generator utama dengan generator arus penguat dilakukan melalui cincin geser dan pengatur tegangan otomatis. Pengatur tegangan otomatis ini berfungsi mengatur besarnya arus medan magnet agar besarnya tegangan generator utama konstan. Pada generator yang besar, di atas 100 MVA, seringkali digunakan generator penguat secara bertingkat.

Ada generator penguat pilot (pilot exciter) dan generator penguat utama (main exciter). Generator penguat utama cenderung berkembang menjadi generator arus bolak-balik yang dihubungkan ke generator sinkron melalui penyearah yang berputar di poros generator sehingga tidak diperlukan cincin geser. Titik netral generator kebanyakan tidak ditanahkan. Apabila ditanahkan umumnya melalui impedansi untuk membatasi besarnya arus gangguan hubung tanah agar cukup untuk menggerakkan relai proteksi. Semua generator dalam pusat listrik menyalurkan energinya ke rel pusat listrik. Demikian pula semua saluran yang mengambil maupun yang mengirim energi dihubungkan ke rel ini, antara lain: - Rel Tunggal - Rel Ganda dengan Satu PMT - Rel Ganda dengan Dua PMT - Rel dengan PMT 1 Hubungan antara generator dengan rel umumnya dilakukan dengan menggunakan kabel yang diletakkan pada saluran khusus dalam tanah dan apabila berada di atas tanah diletakkan pada rak penyangga kabel yang melindungi kabel secara mekanis. Perlindungan mekanis tersebut di atas dimaksudkan untuk mencegah kerusakan kabel yang dapat menimbulkan gangguan. Gangguan pada kabel antara generator dengan rel dapat merusak generator. Kerusakan generator sangat tidak dikehendaki karena kerusakan generator memerlukan biaya perbaikan yang mahal dan juga waktu perbaikannya lama sehingga dapat menimbulkan pemadaman pasokan daya listrik. Kabel yang digunakan sebaiknya kabel 1 fasa sehingga didapat 3 buah kabel untuk 3 fasa. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemasangan, terutama dengan adanya transformator arus dan transformator tegangan serta untuk memudahkan perbaikan apabila terjadi kerusakan pada kabel tersebut. Dalam rangkaian listrik dengan tegangan diatas 1,5 kV, saklar dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: - Pemutus tenaga (PMT) 9

- Pemutus Beban (PMB) - Pemisah (PMS) Perkembangan kontruksi pemutus tenaga adalah sebagai berikut: - Pemutus tenaga udara - Pemutus tenaga minyak banyak - Pemutus tenaga minyak sedikit - Pemutus tenaga gas SF6 - Pemutus tenaga vakum - Pemutus tenaga medan magnet - Pemutus tenaga udara tekan Selain pemutus tenaga setiap pusat listrik juga memerlukan energi listrik untuk pemakaian (di dalam pusat listrik) sendiri, yaitu untuk:
-

Lampu penerangan. Penyejuk udara. Menjalankan alat-alat bantu unit pembangkit, seperti: pompa air pendingin, pompa minyak pelumas, pompa transfer bahan bakar minyak, mesin pengangkat, dan lain-lain.

Alat-alat dan mesin perbengkelan yang merupakan unsur pendukung pemeliharaan dan perbaikan pusat listrik.

Pengisian baterai aki yang merupakan sumber arus searah bagi pusat listrik.

Pusat listrik juga selalu memerlukan sumber arus searah, terutama untuk: - Menjalankan motor pengisi (penegang) pegas PMT - Men-trip PMT apabila terjadi gangguan. - Melayani alat-alat telekomunikasi. - Memasok instalasi penerangan darurat. Baterai aki merupakan sumber arus searah yang digunakan dalam pusat listrik. Baterai aki harus selalu diisi melalui penyearah (nectifier). Kutub negatif dari baterai sebaiknya ditanahkan untuk memudahkan deteksi gangguan hubung tanah pada instalasi arus searahnya. Ada 2 macam baterai aki yang dapat digunakan di pusat listrik, yaitu baterai asam dengan kutub timah hitam dan baterai basa yang menggunakan nikel cadmium sebagai kutub. 10

Dalam pusat listrik yang besar (di atas 100 MW) biasanya terdapat banyak transformator yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan tenaga listrik, seperti berikut: - Transformator Penaik Tegangan Generator - Transformator Unit Pembangkit - Transformator Pemakaian Sendiri - Transformator antar-rel BAB III Masalah Operasi Pada Pusat-Pusat Listrik Pada bab ini dijelaskan bahwa ada beberapa masalah yang terjadi pada operasi pusat-pusat listrik dan masalah-masalah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Pusat Listrik Tejnaga Air (PLTA) Dalam PLTA, potensi tenaga air dikonversikan menjadi tenaga listrik. Mula-mula potensi tenaga iu: dikonversikan menjadi tenaga mekanik dalam turbin air. Kemudian turbin air memutar generator yar: membangkitkan tenaga listrik. Daya yang dibangkitkan generator yang diputar oleh turbin air adalah: [ Dimana: P = daya [kW] H = tinggi terjun air [meter] q = debit air [m3/detik] = efisiensi turbin bersama generator k = konstanta Ditinjau dari teknik mengkonversikan energi potensial air menjadi energi mekanik pada roda air turbin, ada tiga macam turbin air yaitu : - Turbin Kaplan - Turbin Francis - Turbin Pelton Ada kalanya PLTA yang mempunyai kolam tando besar mempunyai fungsi serba guna di mana artinya selain berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, PLTA ini ]

11

juga berfungsi untuk menyediakan air irigasi, pengendalian banjir, perikanan, pariwisata, dan penyedia air bagi lalu lintas pelayaran sungai. Masalah utama yang timbul pada operasi PLTA adalah timbulnya kavitasi pada turbin air. Kavitasi adalah peristiwa terjadinya letusan kecil dari gelembung uap air yang sebelumnya terbentuk di daerah aliran yang tekanannya lebih rendah dari pada tekanan uap air di tempat tersebut; kemudian gelembung uap air ini akar menciut secara cepat (meletus) ketika uap air ini melewati daerah aliran yang tekanannya lebih besar dari pada tekanan uap air tersebut, karena jumlahnya sangat banyak sekali (ribuan per detik) dan 1 letusan itu sangat cepat maka permukaan turbin yang dikenai oleh letusan ini akan terangkat sehingga terjadi burik yang menyebabkan bagian-bagian turbin air (setelah waktu tertentu, kira-kira 40.000 jam) menjadi keropos dan perlu diganti Kavitasi terjadi di bagian-bagian turbin yang mengalami perubahan tekanan air secara mendadak, misalnya pada pipa buangan air turbin. Kavitasi menjadi lebih besar apabila beban turbin makin kecil. Oleh karena itu, ada pembatasan beban minimum turbin air (kira-kira 25%). Bagian terbesar dari biaya pemeliharaan PLTA adalah biaya perbaikan atau penggantian bagian-bagian turbin air yang menjadi keropos akibat kavitasi. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah bahan bakar. Bahan bakar yang digunakan dapat berupa batubara (padat), minyak (cair), atau gas. Ada kalanya PLTU menggunakan kombinasi beberapa macam bahan bakar. Untuk setiap macam bahan bakar, komposisi perpindahan panas berbeda, misalnya bahan bakar minyak jaling banyak memindahkan kalori hasil pembakarannya melalui radiasi dibandingkan bahan bakar lainnya. Disamping itu Gas buang yang keluar dari cerobong PLTU mempunyai potensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, ada penangkap abu agar pencemaran lingkungan dapat dibuat minimal. Selain abu halus yang ditangkap di cerobong, ada bagian-bagian abu yang relatif besar, jauh dan ditangkap di bagian bawah ruang bakar. Abu dari PLTU, baik yang halus maupun yang kasar dapat 12

dimanfaatkan untuk bangunan sipil. Walaupun abunya telah ditangkap, gas buang yang keluar dari cerobong masih mengandung gas-gas yang kurang baik bagi kesehatan manusia, seperti S02, NOx, dan C02. Kadar dari gas-gas ini tergantung kepada kualitas bahan bakar, khususnya batubara yang digunakan. Bila perlu, harus dipasang alat penyaring gas-gas ini agar kadarnya yang masuk ke udara tidak melampaui batas yang diizinkan oleh pemerintah. Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) PLTGU merupakan kombinasi PLTG dengan PLTU. Gas buang dari PLTG yang umumnya mempunyai suhu di atas 400C, dimanfaatkan (dialirkan) ke dalam ketel uap PLTU untuk menghasilkan uap penggerak turbin uap. Dengan cara ini, umumnya didapat PLTU dengan daya sebesar 50% daya PLTG. Ketel uap yang digunakan untuk memanfaatkan gas buang PLTG mempunyai desain khusus untuk memanfaatkan gas buang di mana dalam bahasa Inggris disebut Heat Recovery Steam Generator (HRSG). Dari segi operasi, unit PLTG tergolong unit yang masa startnya pendek, yaitu antara 15-30 menit, dan kebanyakan dapat distart tanpa pasokan daya dari luar (black start), yaitu menggunakan mesin diesel sebagai motor start. Dari segi masalah lingkungan, yang perlu diperhatikan adalah masalah kebisingan, jangan sampai melampaui ketentuan yang dibolehkan. Seperti halnya pada PLTU, masalah instalasi bahan bakar, baik apabila digunakan BBM maupun apabila digunakan BBG, perlu mendapat perhatian khusus dari segi pengamanan terhadap bahaya kebakaran. Dari segi efisiensi pemakaian bahan bakar, unit PLTG tergolong unit termal yang efisiensinya paling rendah, yaitu berkisar antara 15-25%. Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PLTP sesungguhnya adalah sebuah PLTU, hanya saja uapnya didapat dari perut bumi. Oleh karena itu, PLTP umumnya terletak di pegunungan dan di dekat dengan gunung berapi. Operasi PLTP lebih sederhana daripada operasi PLTU karena pada PLTP tidak ada ketel uap. Biaya operasinya lebih kecil dibanding biaya operasi PLTU

13

karena tidak ada pembelian bahan bakar. Tetapi biaya investasinya lebih tinggi karena penemuan kantong uap dalam perut bumi memerlukan biaya eksplorasi dan pengeboran tanah yang tidak kecil. Seringkali pengeboran dan penyediaan uap dilakukan oleh perusahaan pertambangan, misalnya PERTAMINA, kemudian uap dibeli oleh perusahaan listrik, misalnya PLN. Dalam hal demikian, perusahaan listrik harus memperhitungkan biaya uap sebagai biaya operasi yang belum tentu lebih murah daripada biaya bahan bakar PLTU. Masalah lingkungan PLTP yang memerlukan perhatian adalah masalah kebisingan dan masalah uap yang mengandung belerang yang dalam udara dapat menghasilkan gas H 2S yang baunya busuk. Bahan ikutan pada uap yang berasal dari perut bumi ini dapat juga diproses untuk dipisahkan sehingga PLTP dapat mempunyai produk sampingan seperti belerang. Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PLTD mempunyai ukuran mulai dari 40 kW sampai puluhan MW. Untuk menyalakan listrik di daerah baru umumnya digunakan PLTD oleh PLN. Di lain pihak, jika perkembangan pemakaian tenaga listrik telah melebihi 100 MW, penyediaan tenaga listrik yang menggunakan PLTD tidak ekonomis lagi sehingga harus dibangun Pusat Listrik lain, seperti PLTU atau PLTA. Untuk melayani beban PLTD dengan kapasitas di atas 100 MW akan tidak ekonomis karena unitnya menjadi banyak, mengingat Unit PLTD yang terbesar di pasaran sekitar 12,5 MW. Umumnya semua unit pembangkit Diesel dapat distart tanpa memerlukan sumber tenaga listrik dari luar (dapat melakukan black start). Menstart mesin Diesel dengan daya di bawah 50 kW dapat dilakukan dengan tangan melalui engkol. Untuk daya di atas 50 kW sampai kira-kira 100 kW, umumnya distart dengan menggunakan baterai aki. Sedangkan untuk mesin diesel dengan daya di atas 100 kW, umumnya digunakan udara tekan. Dari segi pemeliharaan dan perbaikan, unit pembangkit Diesel tergolong unit yang banyak menimbulkan masalah, khususnya yang menyangkut mesin Dieselnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya bagian-bagian yang bergerak 14

dan bergesek satu sama lain sehingga menjadi aus dan memerlukan penggantian secara periodik. Untuk itu, diperlukan manajemen pemeliharaan beserta penyediaan suku cadang yang teratur. Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) PLTN pada dasarnya sama dengan PLTU hanya saja ruang bakar PLTU diganti dengan reaktor nuklir yang menghasilkan panas (kalor). Dalam reaktor nuklir, terjadi proses fission (fisi), di mana bahan bakar nuklir uranium U. 235 mengalami fission menjadi unsur-unsur lain. Pada proses fission ini, timbul panas yang digunakan untuk menghasilkan uap. Proses fission adalah proses di mana suatu unsur diuraikan menjadi unsurunsur lain yang jumlah massanya lebih kecil daripada massa uranium-235 yang diuraikan. Selisih massa ini (ada massa yang hilang) adalah massa yang berubah menjadi energi panas (kalor) dalam reaktor nuklir (sesuai dengan rumus E = mc2). Gambar 3.15 menggambarkan proses fission: Inti uranium-235 ditembak dengan neutron sehingga pecah menjadi inti xnon dan inti strontium, selain itu terjadi pula pelepasan neutron dari inti uranium-235 yang ditembak tersebut. Ada 2 macam reaktor nuklir: - Reaktor Thermal Fission. Dalam reaktor ini, neutron bebas yang terjadi karena proses fission, sebagian besar energinya diubah menjadi panas oleh moderator yang berfungsi mengurangi kecepatan neutron yang memancar. Moderator bisa juga berfungsi sebagai pendingin. - Reaktor Fast Breeder. Dalam reaktor ini, neutron yang memancar tidak dihambat/dikurangi kecepatannya sehingga tidak banyak energi neutron yang diubah menjadi panas. Tetapi neutron-neutron ini kemudian menghasilkan plutonium (Pu)-239 dan uranium (U)-238. Dalam praktik, uranium alami terdiri dari 99,3% U-238. Plutonium yang didapat bisa digunakan sebagai bahan fission. Ditinjau dari teknik memindahkan kalori yang dihasilkan reaktor nuklir ke sirkuit uap PLTU, ada 4 macam PLTN: - PLTN dengan Air Bertekanan (Pressurized Water Reactor/PWR) 15

- PLTN dengan Air Mendidih (Boiling Water Reactor/BWR) - PLTN dengan Pendinginan Gas (Gas Cooled Reactor/GCR) - PLTN dengan Air Berat (Pressurezed Heavy Water Reactor/PHWR) Dalam operasi PLTN, bebannya sebaiknya konstan, karena perubahan beban PLTN memerlukan perubahar proses fission yang tidak mudah dilakukan. Dari segi lingkungan, perlu perhatian khusus terhadap kebocoran reaktor nuklir yang dapat menimbulkan pancaran sinar radio aktif yang membahayakan keselamatan manusia. Selain itu, perlu pemikiran mengena: tempat pembuangan limbah nuklir. Karena adanya bahaya terhadap lingkungan seperti tersebut di atas, maka dalam perkembangannya banyak tuntutan di negara maju yang menghendaki agar PLTN ditutup. Unit Pembangkit Khusus Ada beberapa macam pemakai tenaga listrik yang sangat

tergantung/memerlukan pasokan daya yang kontinu andal. Suatu interupsi pasokan daya akan merusak proses produksi, seperti halnya pada pengecoran baja, proses kimia, atau pemintalan. Demikian pula halnya untuk gedung-gedung tertentu yang sering digunakan untuk peristiwa kenegaraan, sangat tidak dikehendaki terjadinya interupsi pasokan daya listrik. Untuk mendapatkan pasokan daya yang tinggi kehandalannya, digunakan unit pembangkit khusus yang berupa: - Uninterrupted Power Supply Electronic - Short Break Diesel Generating Set - No Break Diesel Generating Set Pembangkit Listrik Nonkonvensional Pembangkit listrik nonkonvensional umumnya masih dalam tahap riset sehingga belum merupakan pusa: listrik. Khusus untuk pembangkit listrik tenaga surya, sudah banyak dibangun di tempat-tempat yang jauh dan jaringan PLN dengan memanfaatkan energi matahari. Pembangkit-pembangkit listrik

nonkonvensional ini adalah:


-

Fuel Cell (Sel Bahan Bakar).

16

Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

BAGIAN 2 : PROSES Bagian ini memaparkan tentang persoalan-persoalan pembangkitan dalam sistem interkoneksi dalam kaitannya dengan interaksi yang terjadi antara pusat-pusat listrik yang beroperasi dalam sistem interkoneksi. Persoalan ini meliputi koordinasi pemeliharaan, neraca dayan neraca energi, cadangan berputar, pelepasan beban, konfigurasi jaringan, dan prosedur pembebasan tegangan dengan memperhatikan masalah keselamatan kerja. BAB IV Pembangkitan Dalam Sistem Interkoneksi Sistem interkoneksi adalah sistem tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pusat listrik dan gardu induk (GI) yang diinterkoneksikan (dihubungkan satu sama lain) melalui saluran transmisi dan melayani beban yang ada pada seluruh Gardu Induk (GI). Gambar dibawah menggambarkan sebuah sistem interkoneksi yang terdiri dari sebuah PLTA, sebuah PLTU, sebuah PLTG, dan sebuah PLTGU serta 7 buah GI yang satu sama lain dihubungkan oleh saluran transmisi. Di setiap GI terdapat beban berupa subsistem distribusi. Secara listrik, masing-masing subsistem distribusi tidak terhubung satu sama lain. Dalam sistem interkoneksi, semua pembangkit perlu dikoordinir agar dicapai biaya pembangkitan yang minimum, tentunya dengan tetap memperhatikan mutu serta keandalan. Mutu dan keandalan penyediaan tenaga listrik menyangkut frekuensi, tegangan, dan gangguan. Demikian pula masalah penyaluran daya yang juga perlu diamati dalam sistem interkoneksi agar tidak ada peralatan penyaluran (transmisi) yang mengalami beban lebih.

17

PLTU

Subsistem

Subsistem

PLTGU

Sebuah sistem interkoneksi yang terdiri dari 4 buah pusat listrik dan 7 buah gardu induk (GI) dengan tegangan transmisi 150 kV.

Operasi pembangkitan, baik dalam sistem interkoneksi maupun dalam sistem yang terisolir, memerlukan perencanaan pembangkitan terlebih dahulu yang di antaranya adalah:
-

Perencanaan Operasi Unit-unit Pembangkit. Penyediaan Bahan Bakar. Koordinasi Pemeliharaan. Penyediaan Suku Cadang. Dan lain, lain.

Dalam sistem interkoneksi bisa terdapat puluhan unit pembangkit dan juga puluhan peralatan transmis: seperti transformator dan pemutus tenaga (PMT). Semua unit pembangkit dan peralatan ini memerlukan pemeliharaan dengan mengacu kepada petunjuk pabrik. Tujuan pemeliharaan Unit Pembangkit dan Transformator adalah:
-

Mempertahankan efisiensi Mempertahankan keandalan Mempertahankan unsur ekonomis

Dalam bab ini terdapat beberapa faktor dalam pembangkitan yaitu:


-

Faktor Beban Faktor Kapasitas Faktor Utilitas (Penggunaan) Forced Outage Rate

18

Dalam pembangkitan, neraca energi perlu dibuat karena neraca energi ini merupakan dasar untuk menyusun anggaran biaya bahan bakar yang merupakan unsur biaya terbesar dari biaya operasi sistem tenaga listrik. Neraca energi umumnya disusun untuk periode 1 bulan; misalnya untuk bulan Maret diperlukan data dan informasi sebagai berikut:
-

Faktor Beban Bulan Maret Perkiraan Produksi PLTA Bulan Maret. Biaya Bahan Bakar Unit Pembangkit Termis.

Dalam proses pembangkitan tenaga listrik, khususnya dalam pusat-pusat listrik, banyak hal yang dapat menimbulkan kecelakaan, baik dari segi mekanis maupun dari segi listrik. Dari segi mekanis, yang dapat menimbulkan kecelakaan dan memerlukan langkah-langkah pencegahannya adalah:
-

Bagian-bagian yang berputar atau bergerak, seperti: roda gila (roda daya), roda penggerak, ban beijalar. dan rantai pemutar, harus secara mekanis diberi pagar sehingga tidak mudah disentuh orang seru diberi tanda peringatan.

Bejana-bejana berisi udara atau gas yang bertekanan yang dapat menimbulkan ledakan berbahaya seperti: ketel uap dan botol angin, harus dilengkapi dengan katup pengamanan serta dilakukan pengu periodik.*

Tempat, tempat yang licin harus dihindarkan keberadaannya, seperti: lantai yang ada tumpahan minyak pelumas.

Personil yang bekerja harus menggunakan topi pelindung kepala untuk melindungi kepala terhadap benda-benda keras yang jatuh dari atas dengan mengingat bahwa lantai-lantai di pusat listrik bany n yang dibuat dari lantai besi yang berlubang.

Personil yang melakukan pekerjaan di ketinggian yang berbahaya harus menggunakan sabuk pengamai

Tempat-tempat yang rawan terhadap kebakaran, seperti: instalasi bahan bakar, tangki minyak pelumas dan instalasi pendingin generator yang menggunakan gas hidrogen, harus dilengkapi dengan instalasi pemadam

19

kebakaran. Selain itu, harus ada latihan rutin bagi personil untuk menghadapi kebakaran
-

Kolam air dan saluran air yang dapat menenggelamkan orang harus dipagar atau dijadikan daerah terlarang bagi umum untuk menghindarkan kecelakaan berupa tenggelamnya orang atau binatara ternak.

Personil yang mengerjakan pekerjaan gerinda, bor, dan bubut harus dilengkapi dengan kacamata yara menjadi pelindung mata terhadap percikan logam atau bahan lainnya yang dikerjakan yang mungkin memercik ke dalam mata personil.

Mesin-mesin pengangkat termasuk lift, harus diperiksa secara periodik keamanannya, khususnya yara menyangkut sistem rem, sistem kabel baja, dan pintu darurat lift.

Personil yang mengerjakan pekerjaan las harus menggunakan tameng las untuk melindungi mata

wajah agar matanya tidak rusak karena sinar las yang menyilaukan dan wajahnya tidak terbakar- oleh sinar ultraviolet busur las.

Dari segi listrik, hal-hal yang memerlukan perhatian dari segi keselamatan kerja adalah:
-

Semua bagian instalasi yang terbuat dari logam (bukan instalasi listrik), harus dibumikan/ditanahtaa dengan baik sehingga potensialnya selalu sama dengan bumi dan tidak akan timbul tegangan sentuh yang membahayakan manusia. Bagian instalasi yang dimaksud dalam butir ini, misalnya: lemari panel dan pipa-pipa dari logam.

Titik-titik pentanahan/pembumian harus selalu dijaga agar tidak rusak sehingga pentanahan/pembumiar tersebut dalam butir 1 di atas berlangsung dengan baik.

Pekerjaan las listrik yang dilakukan pada instalasi yang terbuat dari logam, misalnya: instalasi ketel uap PLTU, harus menggunakan tegangan yang cukup rendah sehingga tidak timbul tegangan sentuh yang membahayakan.

Bagian dari instalasi yang bertegangan, khususnya tegangan tinggi, harus dibuat sedemikian hingga tidak mudah disentuh orang.

20

Dalam menyusun konfigurasi jaringan pusat listrik yang beroperasi dalam sistem interkoneksi, umumnya digunakan prinsip sebagai berikut (pada pusat listrik dengan rel ganda):
-

Generator dan transformator pemakaian sendiri dihubungkan pada rel yang sama.

Saluran keluar atau penghantar yang keluar dari pusat listrik dibagi dalam 2 kelompok: o Saluran untuk mengirim tegangan apabila terjadi gangguan dalam sistem. Saluran ini dihubungkan pada rel yang sama dengan rel generator. o Saluran untuk menerima tegangan apabila terjadi gangguan dalam sistem. Saluran ini dihubungkan pada rel yang berbeda dari rel generator.

Dalam keadaan operasi normal, rel 1 dan rel 2 dihubungkan melalui PMT Kopel.

Dalam keadaan gangguan, tegangan dari sistem hilang, PMT kopel dibuka, dan selanjutnya menunggu perintah manuver dari pusat pengatur beban:
o

Apabila pusat listrik diminta mengirim tegangan ke sistem, pengiriman tegangan ini dilakukan melalui saluran/penghantar yang dihubungkan pada rel generator.

Apabila pusat listrik mengharapkan kiriman tegangan dari sistem, maka tegangan ini akan dikirim dari sistem melalui saluran/penghantar yang terhubung dengan rel 2.

Sinkronisasi kembali sistem dilakukan melalui PMT kopel.

Dalam sistem interkoneksi pembangkitan energi dari pusat-pusat listrik perlu dikoordinasikan oleh pusat pengatur beban agar dicapai pembangkitan energi listrik yang ekonomis dengan memperhatikan mutu dan keandalan. BAGIAN 3 : PRODUCT Bagian ini menerapkan tentang pengembangan penyediaan atau pembangkitan energi listrik yang menyangkut analisa kebutuhan energi, survei dan studi kelayakan serta perencanaan teknik dari pusat-pusat listrik.

21

BAB V PENGEMBANGAN PEMBANGKITAN Pembangunan pusat listrik dalam sistem interkoneksi maupun dalam sistem yang berdiri sendiri / terisolir (isolated) haruslah didasarkan atas analisis kebutuhan energi listrik. Analisis kebutuhan energi ini meliputi:
-

Analisis kebutuhan energi dalam kurun waktu tertentu, misalnya kebutuhan tahunan sampai 10 tahun yang akan datang.

Analisis kebutuhan daya dalam bentuk kurva beban harian. Analisis tingkat keandalan yang dibutuhkan, lalu dikaitkan dengan peran energi listrik yang harus disediakan (harga kWh terputus).

Peran pusat listrik yang akan dibangun dalam operasi pembangkitan apakah sebagai penyedia beban dasar, penyedia beban semi-dasar, penyedia beban puncak, atau sebagai unit cadangan.

Dalam perencanaan suatu pembangkit maka dilakukan survei terlebih dahulu kemudian dilakukan studi kelayakan untuk membangun pusat listrik yang dipilih. Studi kelayakan harus mempertimbangkan segi-segi ekonomis selain segi-segi teknik. Studi kelayakan harus menyimpulkan jenis pusat listrik yang akan dibangun, kapasitasnya, letaknya, beserta perkiraan biaya pembangunannya, disertai

rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan. Berdasarkan hasil survei dan studi kelayakan tersebut dan setelah ditentukan macam pusat listrik yang akan dibangun, langkah berikutnya adalah perencanaan teknik dari pusat listrik yang akan dibangun tersebut. Masalah perencanaan teknik tergantung kepada macam dan tempat pusat listrik yang akan dibangun.
-

Perencanaan Teknik PLTA Perencanaan teknik PLTA lebih banyak bersifat tailored made" karena tergantung kepada kondisi tempat PLTA dibangun (sulit dibuat produk standar): a. Bendungan harus direncanakan terlebih dahulu dengan memperhitungkan: Macam: rock fill, beton, atau kombinasi.

22

Tinggi dan lebar bendungan sehingga dapat dihitung luas lahan yang akan tergenang dan berapa banyak air yang tersedia untuk operasi. b. Letak gedung PLTA beserta konstruksi gedungnya dengan mempertimbangkan tempat air masuk ke gedung PLTA dari pipa pesat dan di mana air keluar dari PLTA untuk kemudian masuk kembali ke sungai. c. Tinggi terjun air PLTA dihitung berdasarkan butir a dan butir b yang selanjutnya digunakan untuk menghitung butir d. d. Daya terpasang PLTA beserta jumlah unit pembangkitnya dan perkiraan produksinya per tahun e. Berdasarkan butir-butir b, c, dan d kemudian ditentukan: Macam turbin yang akan digunakan: Pelton, Francis atau Kaplan, horizontal atau vertikal Daya dan jumlah putaran turbin. Jumlah unit pembangkit PLTA. Macam katup utama turbin yang akan digunakan: kupu-kupu, sorong, atau bola Sistem pendinginan generator. f. Berdasarkan butir a, direncanakan instalasi tenaga air antara kolam tando dengan turbin dalam gedung PLTA yang meliputi: pintu-pintu air, saluran terbuka, saluran tertutup (terowongan), sun- tank, dan pipa pesat. g. Karena PLTA umumnya terletak jauh dari pusat beban (kota kawasan industri, dan lain-lain), maka berdasarkan butir d, direncanakan tegangan transmisi yang akan digunakan. Hal ini selanjutnya digunakan sebagai dasar perencanaan instalasi tegangan tinggi PLTA.
-

Perencanaan Teknik PLTU Berdasarkan survei dan studi kelayakan tersebut, kemudian ditentukan tempat dan kapasitas PLTU yang akan dibangun, termasuk penentuan ukuran unit pembangkitnya. Setelah jumlah dan kapasitas unit pembangkit ditentukan, kemudian perlu direncanakan hal-hal sebagai berikut: a. Instalasi bahan bakar, meliputi perencanaan transportasi, tempat

pembongkaran, dan penyimpanannya. 23

b. Instalasi air pendingin, meliputi perencanaan pembuatan saluran air beserta pompanya. c. Gedung PLTU, meliputi perencanaan ruang ketel uap, ruang turbin uap beserta kondensornya, dan ruang untuk instalasi listriknya. d. Ketel uap, walaupun kapasitas unit pembangkitnya sudah disebutkan, masih perlu direncanakan hal- hal sebagai berikut: Macam tekanan ruang bakar, balanced draft, atau pressurized. Package boiler di mana drum disangga oleh pipa air, atau hang type di mana drum dan pipa air dipasang pada sebuah kerangka baja. Batas transfer energi kalor dalam kcal/cm2 luas permukaan

pemanasan/detik. Hal ini berkait: dengan nilai cal/kg dan bahan bakar yang digunakan dengan ukuran ruang bakar ketel uap. Kapasitas drum, berapa kalori (enthalpy) uap yang tersedia dalam drum dalam kaitannya dengss kecepatan perubahan beban yang harus

dihadapinya. Hal ini penting kalau moda operasi unr pembangkit akan ikut mengatur frekuensi dalam sistem. e. Turbin uap, apakah perlu ada by pass atau tidak. Kalau ada by pass, perlu direncanakan persentasenya. f. Kondensor, apakah akan menggunakan pipa tembaga atau titanium atau tembaga bercampur nikel.
-

Perencanaan Teknik PLTG Perencanaan teknik PLTG lebih banyak harus mengikuti produk standar dari pabrik jika dibandingkan dengan perencanaan teknik PLTU, karena unit PLTG umumnya berbentuk kompak (suatu kesatuan) dengan ukuran standar mulai dari 1 MW sampai dengan 130 MW. Walaupun menggunakan produk standar dari pabrik, masih ada hal-hal yang harus direncanakan, antara lain: a. Bahan bakar yang akan digunakan, gas atau minyak, bagaimana pengadaannya, termasuk transportasinnya b. Instalasi penyimpanan bahan bakar, terutama keamanannya terhadap kebakaran. 24

c. Pondasi unit pembangkit. d. Instalasi listrik tegangan tinggi maupun tegangan baterai aki. e. Apakah unit pembangkit bisa black start atau untuk start memerlukan daya dari luar.
-

rendah, termasuk untuk

Perencanaan Teknik PLTD Perencanaan teknik PLTD sama dengan perencanaan teknik PLTG seperti tersebut dalam butir 3, hanya ada tambahan tentang jumlah putaran per menit (rpm) dari unit pembangkit diesel yang direncanakan. Jika unit pembangkit akan mengambil beban dasar dalam arti akan mempunyai beban tinggi secara kontinu sampai berbulan-bulan, maka harus dipilih unit pembangkit Diesel dengan putaran rendah yang tidak melebihi 500 rpm. Jika unitnya hanya akan beroperasi beberapa jam per hari, maka dapat dipilih unit dengan putaran sedang, yaitu mulai 500 rpm sampai dengan 750 rpm. Bila unit dimaksud akan digunakan sebagai unit cadangan yang hanya beroperasi jika ada gangguan pada unit lain, maka dapat dipilih unit dengan putaran tinggi, yaitu mulai 1.000 rpm sampai dengan 1.500 rpm. Makin tinggi putaran unit, makin murah harga per kW terpasang, tetapi keandalannya makin rendah. Oleh karena itu unit dengan putaran tinggi sebaiknya digunakan sebagai unit cadangan saja atau sebagai unit beban puncak (peaking unit) yang beroperasi beberapa jam saja per hari.

Perencanaan Teknik PLTP Hal-hal khusus dalam perencanaan teknik PLTP yang harus mendapat di perhatikan adalah: a. Kualitas uap yang didapat dari dalam bumi, tekanan, suhu, dan kandungan mineralnya, khususnya kandungan belerang. b. Kondensor yang digunakan umumnya adalah tipe kontak langsung (direct contact type) karena terbatasnya air pendingin yang bisa didapat. c. Penyuntikan kembali air dari kondensor ke dalam perut bumi. d. Penampungan limbah, yaitu belerang.

25

Perencanaan Teknik PLTGU Perencanaan teknik PLTGU merupakan kombinasi dari Perencanaan teknik PLTG dan perencanaan teknik PLTU. Pemanfaatan gas buang PLTG dapat menghasilkan daya pada PLTU sebesar 50% daya yang dibangkitkan PLTG. Ketel uap yang digunakan untuk memanfaatkan gas buang PLTG yang dalam bahasa Inggris disebut Heat Recovery Steam Generator (HRSG)), melakukan perpindahan panasnya melalui proses sentuhan (convection) dengan gas buang PLTG. HRSG umumnya mempunyai 2 drum uap, sebuah untuk tekanan tinggi dan sebuah lagi untuk tekanan rendah. Drum tekanan tinggi mendapat uap dari bagian HRSG sisi hulu, sedangkan untuk drum tekanan rendah uapnya berasal dari bagian HRSG sisi hilir. Perkembangan terakhir, sudah ada HRSG dengan 3 drum uap. Untuk mengetahui berapa besarnya biaya untuk membangkitkan tenaga listrik per kWh, perlu diketahui terlebih dahulu jumlah biaya yang telah dikeluarkan atau diperkirakan akan dikeluarkan untuk kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun. Kemudian jumlah biaya pembangkitan satu tahun ini dibagi dengan produksi atau jumlah tenaga listrik yang dibangkitkan selama satu tahun. Untuk mengetahui biaya pembangkitan selama satu tahun, bisa didapat melalui laporan keuangan yang biasa disebut sebagai laporan rugi laba periode (tahun) tertentu. Disampin itu Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah ruah yang tersebar di belasan ribu pulau. Di antara kekayaan alam itu, terdapat sumbersumber energi primer dengan potensi yang cukup besar antara lain tenaga air, batu bara, minyak bumi, gas alam, panas bumi, dan lain-lain. Menurut penyelidikan, potensi sumber-sumber energi primer Indonesia adalah sebagai berikut: Jenis Energi Tenaga Air Batubara Minyak Bumi Gas Alam Panas Bumi Satuan MW Juta Ton Juta Barrel Triliun ft3 MW Jumlah 74.976,0 36.175,0 9.097,0 123,6 19.658,0

Tabel Potensi Energi Primer

26

Pengembangan pembangkitan energi listrik menyangkut pemilihan energi primer yang akan dipakai, perencanaan teknis dari pusat listrik, mengatasi kendala yang timbul, serta menghitung biaya produksi yang akan didapat. BAGIAN 4 : PROGRAMMING Bagian ini memaparkan tentang manajemen pemeliharaan yang terutama menyangkut pengadaan suku cadang, pelaksanaan pemeliharaan, manajemen operasional, bahan bakar dan aplikasi peralatan dan metode kerja peralatan yang baru. BAB VI Manajemen Pembangkitan Penyediaan tenaga listrik harus bersifat kontinu 24 jam sehari. Hal ini memerlukan manajemen operasi yang tertib di mana sekurang-kurangnya ada petugas-petugas operasi yang bekerja 24 jam sehari. Untuk itu, diadakan regu-regu kerja yang bekerja bergantian dalam shift. Umumnya ada lima shift sehingga dapat diberikan istirahat sekali dalam satu minggu untuk setiap shift selama 24 jam penuh. Dalam melaksanakan operasi, terlebih dahulu dibuat rencana operasi berdasarkan perkiraan beban yang akan dihadapi. Untuk pusat listrik yang beroperasi dalam sistem yang terisolir (berdiri sendiri), misalnya sebuah PLTD yang memasok tenaga listrik ke sebuah pabrik, perkiraan beban dibuat atas dasar rencana operasi pabrik yang memerlukan pasokan tenaga listrik tersebut. Apabila pusat listrik beroperasi dalam sistem interkoneksi dengan pusat-pusat listrik yang lain, perkiraan beban sistem interkoneksi harus dibuat oleh pusat pengatur beban sistem. Kemudian pusat pengatur beban membagikan jatah perkiraan beban ke setiap pusat listrik. Setiap pusat listrik kemudian merencanakan bagaimana unit-unit pembangkit yang ada dalam pusat listrik akan dioperasikan untuk melayani beban yang diperkirakan. Dalam melaksanakan operasi, besaran-besaran yang perlu dicatat adalah:
-

Besaran-besaran yang berhubungan dengan keamanan peralatan, yaitu: arus, tegangan, daya, suhu, tekanan, dan getaran.

Besaran-besaran yang berhubungan dengan kinerja peralatan, yaitu: energi (kWh) dan pemakaiar bahan bakar atau air pada PLTA.

27

Dalam

pengoperasian

diperlukan

adanya

pemeliharaan,

tujuan

dari

pemeliharaan suatu alat atau mesin adalah:


-

Mempertahankan Umur Ekonomis Mempertahankan Keandalan Mempertahankan Efisiensi

Dalam melaksanakan pekerjaan pemeliharaan unit pembangkit ataupun salah satu bagiannya, umumnya diperlukan penggantian bagian-bagian (suku-suku) tertentu sehingga diperlukan suku cadang. Suku cadang sesungguhnya dibagi atas dua kategori besar:
-

Consumable parts adalah suku-suku dikonsumsikan setelah waktu tertentu.

yang pasti akan digunakan atau

Spare parts adalah suku yang dicadangkan untuk menggantikan suku yang mengalami kerusakan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya kapan akan terjadi. Material-material yang diperlukan untuk menyelenggarakan pembangkitan

tenaga listrik adalah: Bahan bakar dan minyak pelumas. Bahan-bahan kimia serta alat-alat pembersih yang terpakai habis, seperti: kertas gosok (amplas), lap, dan lain-lain. Consumable Parts Spare Parts Alat-alat kerja, seperti: katrol, alat ukur, dan lain-lain. Barang bekas atau limbah, merupakan hasil/akibat sampingan dari proses pembangkitan tenaga listrik. Kepada personil yang bekerja dalam shift, pihak manajemen harus memberikan perlakuan yang lebih baik dibandingkan personil dengan tingkat yang sama tetapi tidak bekerja dalam shift. Alasan mengenai mengapa personil yang bekerja dalam shift perlu mendapat perlakuan lebih baik adalah:

Orang yang bekerja dalam shift, siklus hidupnya terganggu karena waktu istirahatnya (tidurnya) tidak tetap, kadang-kadang malam, kadang-kadang siang.

28

Tarif upah bagi orang yang bekerja malam, hari libur, bahkan malam di hari libur lebih tinggi daripada

tarif upah bagi orang yang bekerja pada jam kerja normal. Maka orang yang bekerja dalam shift harus mendapat gaji yang lebih tinggi.

Orang yang bekerja dalam shift dirugikan dalam kehidupan keluarganya karena jam kerjanya yang

tidak menentu setiap harinya, kadang-kadang bekerja malam hari, kadang-kadang juga bekerja di hari libur. Pembangkitan energi listrik menelan biaya terbesar dalam proses penyediaan

energi listrik sehingga memerlukan manajemen yang sebaik mungkin. Manajemen pembangkitan energi listrik terutama meliputi:

Manajemen operasi Manajemen pemeliharaan Manajemen bahan bakar Manajemen suku cadang Aplikasi peralatan dan metode kerja yang baru

29