Anda di halaman 1dari 4

Thorax

Pemeriksaan thorax dilakukan terutama untuk mencari adanya kelainan pada sistem respirasi dan kardiovaskular tubuh pasien. Agar dapat melakukan pemeriksaan fisis paru dengan baik, perlu dipelajari mengenai anatomi dinding dada dan paru. (ipd) Lokasi kelainan pada dada dapat ditentukan dalam 2 dimensi yaitu sepanjang aksis vertikal dan sepanjang lingkar dada. Penentuan lokasi berdasarkan aksis vertikal dengan menghitung sela iga. Angulus sternalis Ludovici dapat digunakan sebagai pedoman dalam menghitung sela iga. Untuk mengidentifikasi angulus sternalis ini pertama-tama letakkan jari pada suprasternal notch, kemudian gerakkan jari ke kaudal kira-kira 5 cm untuk mendapatkan angulus tersebut, yang merupakan penonjolan (sudut) yang dibentuk manubrium sterni dan corpus sterni. Dengan menggerakkan jari ke arah lateral akan didapatkan perlengketan iga kedua pada sternum. Selanjutnya dengan menggunakan 2 jari dapat dihitung sela iga satu persatu dengan arah oblique. (ipd) Untuk menentukan lokasi di sekitar lingkar dada digunakan beberapa garis vertikal imajiner, yaitu: Garis midsternal : garis vertikal yang melalui pertengahan sternum Garis midklavikula : garis vertikal yang melalui pertengahan klavikula Garis aksilaris anterior : garis vertikal yang melalui lipat aksila anterior Garis midaksilaris : garis vertikal yang melalui puncak aksila Garis aksilaris posterior : garis vertikal yang melalui lipat aksila posterior Garis skapularis : garis vertikal yang melalui angulus inferior scapula Garis vertebralis/midspinalis : garis vertikal yang melalui processus spinalis vertebrae(ipd)

Pemeriksaan dada dan paru bagian depan dilakukan pada pasien dengan posisi berbaring terlentang, sedangkan pemeriksaan dada dan paru bagian belakang pada pasien dengan posisi duduk. Pada saat pasien duduk kedua lengannya menyilang pada dada sehingga kedua tangan dapat diletakkan pada masing-masing bahu secara kontralateral. Dengan cara ini kedua scapula akan bergeser ke arah lateral sehingga dapat memperluas lapangan paru yang diperiksa. Pakaian pasien diatur sedemikian rupa sehingga seluruh dada dapat diperiksa. Pada perempuan pada saat memeriksa dada dan paru bagian belakang, dada bagian depan ditutup. Pada pasien dengan keadaan umum yang lemah bila perlu dibantu agar bisa didudukkan sehingga dada bagian posterior dapat diperiksa. Bila hal ini tidak memungkinkan maka pasien dimiringkan ke salah satu sisi, kemudian ke sisi yang lainnya. (ipd) Setelah melakukan persiapan pasien dapat dilakukan pemeriksaan fisis paru yang terdiri dari inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

Inspeksi Inspeksi dilakukan untuk mengetahui adanya lesi pada dinding dada, kelainan bentuk dada, menilai frekuensi, sifat dan pola pernapasan. Kelainan dinding dada. Kelainan-kelainan yang bisa didapatkan pada dinding dada yaitu parut bekas operasi, pelebaran vena-vena superfisial akibat bendungan vena, spider nevi, ginekomastia, luka operasi, retraksi otot-otot interkostal, dan lain-lain.(ipd) Kelainan bentuk dada. Dada yang normal mempunyai diameter latero-lateral yang lebih besar dari diameter anteroposterior. Kelainan bentuk dada yang bisa didapatkan yaitu: - Barrel chest : dada mengembang, diameter anteroposterior lebih besar dari diameter latero-lateral, tulang punggung melengkung, angulus costae > 90 derajat. Biasa ditemukan pada pasien emfisema, bronchitis kronis, PPOK.(ipd) - Pectus excavatum : dada dengan tulang sternum yang mencekung ke dalam(ipd) - Pectus carinatum/pigeons chest : dada dengan tulang sternum menonjol ke depan(ipd)

- Rachitic chest : pembengkakan pada costochondral junction (Rachitic rosary) - Kelainan tulang belakang : kifosis, scoliosis, lordosis - Penonjolan atau retraksi unilateral Frekuensi Pernapasan. Frekuensi pernapasan normal 14-20 kali per menit. Jika kurang dari jumlah normal disebut bradipnoe, dan jika lebih dari jumlah normal disebut takipnoe. Pola dan Gerak Dinding Dada saat Pernapasan. Gerak dinding dada normal saat bernafas adalah simetris, amplitudo gerak napas belahan thorax kanan dan kiri sama, irama teratur. Asimetri dinding dada dapat disebabkan oleh efusi, fibrosis atau kolaps paru. Untuk pola pernapasan normal ditandai dengan adanya fase inspirasi dan ekspirasi yang silih berganti(ipd). - Pernapasan dangkal ditemukan pada emfisema, pleuritis dan efusi pleura - Pernapasan dangkal dan cepat pada decompensatio cordis - Pernapasan Kussmaul : pernapasan cepat dan dalam, ditemukan pada penderita asidosis. - Pernapasan Cheyne Stokes (periode apnoe, kemudian disusul hiperpnoe dan terjadi berulang-ulang) didapatkan pada pasien decompensatio cordis kiri, keracunan opium, barbiturat, atau uremia. - Pernapasan Biot, yakni pernapasan yang sama sekali tidak teratur dalam frekuensi dan amplitudonya, dapat ditemui pada kerusakan otak.(hendarto) Jenis Pernapasan. Ada beberapa jenis pernapasan yang bisa ditemui pada pasien. Torakal : pada pasien tumor abdomen, peritonitis umum - Abdominal : pasien PPOK lanjut - Kombinasi : adalah jenis pernapasan yang terbanyak. Pada perempuan sehat umumnya pernapasan torakal lebih dominan, dan disebut torako-abdominal. Sedangkan pada laki-laki sehat, pernapasan abdominal lebih dominan dan disebut abdomino-torakal. Pulsasi pada Dinding Thorax. Ictus cordis normal tampak pada sela iga V, 1-2 cm sebelah medial garis midclavicularis kiri, diameternya kira-kira 2 cm. Letaknya akan bergeser sedikit ke bawah saat inspirasi dalam. Dapat pula

bergeser ke kiri/kanan pada waktu berbaring pada sisi kiri/kanan, atau akibat adanya efusi pleura, pneumothorax, fibrosis paru, atelektasis, tumor mediastinum, atau pada scoliosis abnormal.