P. 1
Persahabatan Sunyi

Persahabatan Sunyi

|Views: 835|Likes:
Dipublikasikan oleh sunaedi_641303231

More info:

Published by: sunaedi_641303231 on Feb 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

Persahabatan Sunyi

Cerita Pendek Harris Effendi Thahar

Di sebuah jembatan penyeberangan tak beratap, matahari menantang garang di langit Jakarta yang berselimut karbon dioksida. Orang-orang melintas dalam gegas bersimbah peluh diliputi lautan udara bermuatan asap knalpot. Lelaki setengah umur itu masih duduk di situ, bersandarkan pagar pipa-pipa besi, persis di tengah jembatan. Menekurkan kepala yang dibungkus topi pandan kumal serta tubuh dibalut busana serba dekil, tenggorok di atas lembaran kardus bekas air kemasan. Di depannya sebuah kaleng peot, nyaris kosong dari uang receh logam pecahan terkecil yang masih berlaku. Dan, di bawah jembatan, mengalir kendaraan bermotor dengan derasnya jika di persimpangan tak jauh dari jembatan itu berlampu hijau. Sebaliknya, arus lalu lintas itu mendadak sontak berdesakan bagai segerombolan domba yang terkejut oleh auman macan, ketika lampu tiba-tiba berwarna merah. Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan "tutup praktik" ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan gerobak dorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh dengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya, ia mencari-cari botol plastik yang berisi air entah diambil dari mana, lalu meminumnya. Setelah itu ia bersiul beberapa kali. Seekor anjing betina kurus berwarna hitam muncul, mengendus-endus dan menggoyang-goyangkan ekornya. Ia siap berangkat, mendorong gerobak kecilnya melawan arus kendaraan, di pinggir kanan jalan. Anjing kurus itu melompat ke atas gerobak, tidur bagai anak balita yang merasa tenteram di dodong ayahnya. Melintasi pangkalan parkir truk yang berjejer memenuhi trotoar, para pejalan kaki terpaksa melintas di atas aspal dengan perasaan waswas menghindari kendaraan yang melaju. Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatan anjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya sambil mencari-cari puntung rokok yang masih berapi di pinggir jalan itu, lalu mengisapnya dengan santai. Orang-orang menghindarinya sambil menutup hidung ketika berpapasan di bagian jalan tanpa tersisa secuil pun pedestrian karena telah dicuri truk-truk itu. Lelaki setengah umur itu memarkir gerobak kecilnya di bawah pokok akasia tak jauh setelah membelok ke kanan tanpa membangunkan anjing betina hitam kurus yang terlelap di atas buntelan-buntelan dalam gerobak itu. Ia menepi ke pinggir sungai yang penuh sampah plastik, lalu kencing begitu saja. Ia tersentak kaget ketika mendengar anjingnya terkaing. Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang krincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap bocah perempuan ingusan itu dengan tajam. Bocah perempuan ingusan itu balas menantang sambil juga berkacak pinggang. Anjing betina hitam kurus itu mengendus-endus di belakang tuannya, seperti minta pembelaan. Lelaki itu kembali mendorong gerobak kecilnya dengan bunyi kricit- kricit roda besi kekurangan gemuk. Anjing betina kurus berwarna hitam itu kembali melompat ke atas gerobak, bergelung dalam posisi semula. Bocah perempuan yang memegang krincingan itu mengikuti dari belakang dalam jarak sepuluh meteran. Bayangan jalan layang tol dalam kota,

melindungi tiga makhluk itu dari sengatan matahari. Sementara lalu lintas semakin padat, udara semakin pepat berdebu. Tiba-tiba, lelaki setengah umur itu membelokkan gerobak kecilnya ke sebuah rumah makan yang sedang padat pengunjung. Dari jauh, seorang satpam mengacung-acungkan pentungannya tinggi-tinggi. Lelaki itu seperti tidak memedulikannya, terus saja mendorong hingga ke lapangan parkir sempit penuh mobil di depan restoran itu. Sepasang orang muda yang baru saja parkir hendak makan, kembali menutup pintu mobilnya sambil menutup hidung ketika lelaki itu menyorongkan gerobaknya ke dekat mobil sedan hitam itu. Seorang pelayan rumah makan itu berlari tergopoh- gopoh keluar, menyerahkan sekantong plastik makanan pada laki-laki itu sambil menghardik. "Cepat pergi!" Lelaki setengah umur itu menghentikan gerobak kecilnya di depan sebuah halte bus kota. Mengeluarkan beberapa koin untuk ditukarkan dengan beberapa batang rokok yang dijual oleh seorang penghuni tetap halte itu dengan gerobak jualannya. Orang-orang yang berdiri di dekat gerobak rokok itu menghindar tanpa peduli. Halte itu senantiasa ramai karena tak jauh dari situ ada satu jalur pintu keluar jalan tol yang menukik dan selalu sesak oleh mobil-mobil yang hendak keluar. Lelaki itu meneruskan perjalanannya menuju kolong penurunan jalan layang tol itu. Meski berpagar besi, telah lama ada bagian yang sengaja dibolongi oleh penghuni-penghuni kolong jalan layang itu untuk dijadikan pintu masuk. Tempat lelaki setengah umur itu di pojok yang rada gelap dan terlindung dari hujan dan panas. Dari dulu tempatnya di situ, tak ada yang berani mengusik. Kecuali beberapa kali ia diangkut oleh pasukan tramtib kota, lalu kemudian dilepas dan kembali lagi ke situ. Ia lalu membongkar isi gerobaknya, mengeluarkan lipatan kardus dan mengaturnya menjadi tikar. Anjing betina berwarna hitam kurus itu mengibas-ngibaskan ekornya ketika lelaki itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan, lalu membagi makanan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan-kiri. Bocah perempuan ingusan itu berdiri dari jauh di bawah kolong jalan layang itu, memandang dengan rasa lapar yang menyodok pada dua makhluk yang sedang asyik menikmati makan siang itu. Ia memberanikan dirinya menuju kedua makhluk itu, lalu bergabung makan dengan anjing betina berwarna hitam kurus itu. Ternyata anjing betina itu penakut. Ia menghindar dan makanan yang tinggal sedikit itu sepenuhnya dikuasai bocah perempuan itu dan ia melahapnya. Sedang lelaki setengah umur itu tidak peduli, meneruskan makannya hingga licin tandas dari daun pisang dan kertas coklat pembungkus. Mengeluarkan sebuah botol air kemasan berisi air, meminumnya separuh. Tanpa bicara apa- apa, bocah perempuan ingusan itu menyambar botol itu dan meminumnya juga hingga tandas. Lelaki setengah umur itu hanya memandang, sedikit terkejut, tapi tidak bicara apa-apa. Air mukanya tawar saja. Mengeluarkan rokok dan membakarnya sambil bersandar pada gerobak kecilnya. Tergeletak tidur setelah itu di atas bentangan kardus kumal.

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

KISAH-KISAH HIDUP MANUSIA
Malam telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang mulai menghujan. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya disiram gerimis. Bunyi krincingan dan kresek-kresek kantong plastik yang dibawanya membangunkan anjing betina kurus berwarna hitam itu. Ia menyalak sedikit, kemudian merungus setelah dilempari sepotong kue oleh bocah itu. Lewat penerangan jalan, samar- samar dilihatnya lekaki setengah umur itu tidur bergulung bagai angka lima di atas kardus. Setelah melahap kue, anjing itu kembali tidur di sebelah tuannya, di atas bentangan kardus yang tersisa. Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki setengah umur itu agar lebih terlindung oleh angin dan berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu, sekadar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu. Bocah perempuan ingusan itu cepat terlelap dan bermimpi berperahu bersama anjing betina kurus berwarna hitam itu di sebuah danau yang sunyi. Deru mesin mobil yang melintasi jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuah kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya. Sebelumnya, kolong penurunan jalan layang tol itu cukup padat penghuninya di malam hari. Beberapa anak jalanan yang sehari- hari mengamen di sepanjang jalan bawah, juga bermalam di situ. Ada lima anak jalanan laki-laki yang selalu menjahili bocah perempuan yang selalu membawa krincingan itu sampai menangis berteriak-teriak. Lelaki setengah umur itu membiarkannya saja. Mungkin menurutnya sesuatu yang biasa-biasa saja, meskipun anakanak lelaki itu sampai-sampai menelanjangi bocah perempuan ingusan itu. Penghuni lain pun tak ada yang berani membela. Sejak itu, bocah perempuan ingusan itu menghilang, entah tidur di mana. Lelaki setengah umur itu mulai marah ketika suatu hari ia membawa seekor anjing betina kurus berwarna hitam ke markasnya. Mungkin anjing itu kurang sehat hingga semalaman anjing itu terkaing-kaing. Lelaki itu tampak berusaha keras mengobati anjing itu dengan menyuguhkan makanan dan air. Tapi, anak-anak jalanan yang jahil itu melempari anjing itu dengan batu. Salah satu batunya mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu meradang, lalu mengambil golok di dalam timbunan buntelan dalam gerobak kecilnya. Anak-anak itu dikejarnya. Konon salah seorang terluka oleh golok itu. Namun, mereka tak ada yang berani melawan dan tak berani kembali lagi. Sebelum subuh, pasukan tramtib itu datang lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk dengan bak terbuka pengangkut gelandangan. Sebelum matahari muncul, kolong- kolong jembatan dan jalan layang harus bersih dari manusia-manusia kasta paling melata itu. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu. Lelaki setengah umur itu menggapai-gapaikan tangannya, minta petugas menaikkan anjingnya yang menyalak-nyalak, minta ikut bersama tuannya. Tapi, sebuah pentungan kayu

telah mendarat di kepala anjing kurus itu hingga terkaing-kaing, berlari ke seberang jalan dan hilang ditelan kegelapan. "Mampus kau, anjing kurapan!" sumpah petugas itu sambil melompat ke atas truk yang segera berangkat. Bak truk terbuka itu nyaris penuh, termasuk tukang rokok di halte dekat situ. Lelaki setengah umur itu tampak geram. Matanya mencorong ke arah petugas yang memegang pentungan. Petugas itu pura-pura tidak melihat. Hujan telah berhenti. Iringan truk yang penuh manusia gelandangan kota yang dikawal mobil polisi bersenjata lengkap di depannya, menuju ke suatu tempat arah ke Utara, dan kemudian membelok ke kanan. Dari pengeras suara di puncak-puncak menara masjid terdengar azan subuh bersahut-sahutan. Bulan semangka tipis masih menggantung di langit, kadang-kadang tertutup awan yang bergerak ke Barat. Beberapa minggu kemudian, pelintas jembatan penyeberangan yang beratap itu, kembali menemukan lelaki setengah umur itu berpraktik di tempat sebelumnya. Ia baru turun mengemasi kaleng peot dan alas kardusnya ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Melangkah dengan pasti, menuju tempat gerobak kecilnya ditambatkan. Di depan pangkalan truk yang telah menyempitkan jalan, lelaki itu mendorong gerobak kecilnya dengan santai sambil mengawasi puntung-puntung rokok yang masih berapi dilempar sopir-sopir truk ke jalan. Ada yang sengaja melemparkan puntung rokoknya ketika laki- laki bergerobak itu melintas. Di atas gerobaknya, kini bertengger bocah perempuan ingusan itu sambil terus bernyanyi dengan iringan krincingannya. Orang-orang tak ada yang peduli.*

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

JANJI DALAM SEBUAH BOTOL
Aku menunggu bis di halte sambil merenung. Setiap saat, rutinitas yang kujalani ini demikian menjemukan. Aku harus bertahan. Pengalaman telah mengajariku banyak hal. Namaku Nessya. Nessya Julia Chandra. Aku masih menyimpan kenangan usang. Kenangan lawas yang mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk bertindak bijak. Sebuah pemberontakan dari anak gadis yang tersisih akan menimbulkan prahara. Mungkin ini terlalu naif. Mungkin ini terlalu klise. Tetapi tidak bagiku. Sebab, aku, Nessya Julia Chandra, akan selalu berserah kepada Tuhan, agar tidak salah melangkah. Agar tidak terjatuh dalam limbah dosa! Entah aku harus melamunkan apa lagi hari ini? Memikirkan apa hari ini? Mengharap ada keajaiban yang datang dalam kehidupanku, dan mengubah pikiran kedua orangtuaku yang melulu memikirkan bisnisnya! Mungkin. Tetapi sampai sekarang semuanya hanyalah angan-angan, dan dalam kenyataannya, mereka memang menganaktirikan aku, putri tunggalnya, dan lebih mementingkan bisnis mereka sebagai anak favorit! Aku menggigil dalam dingin. Hujan mulai menitik, dan perlahan menjadi tirai lebat seperti rumbai raksasa. Bis yang menuju arah rumahku datang, dan aku akhirnya menaiki bis itu. Aku duduk di tempat duduk pojok paling belakang. Saat itu bis begitu sepi, dan hanya menyisakan beberapa orang. Entah kenapa rasa-rasanya aku ingin menangis. Menangis mengingat kenangan lawas saat dingin menyergap dalam sunyi. Airmata hampir jatuh menetes, tetapi masih berusaha kutahan. Sambil melihat ke arah kaca bis, aku melihat hujan yang menderas. Sepertinya alam bernyanyi pilu, mengikuti isi hatiku yang belah dalam giris luar biasa. *** "Duh, anak Mama kok basah kuyup kayak begini? Sebentar kalau sakit bagimana?" sambut Mama sambil menyambut tasku, dan mengambil handuk kecil berwarna hijau muda untukku. "Memangnya hari ini kamu tidak bawa payung? Padahal, Mama dan Papa kan sudah menyiapkan mobil, supir dan fasilitas lain. Mengapa kamu tidak mau, sih?" tanya Mama dengan nada heran. "Ini adalah hidupku! Pilihanku! Aku pikir Mama sudah tahu alasannya," jawabku dengan nada sinis, dengan tubuh agak gemetaran karena suhu tubuh yang dingin. Ya, Tuhan! Ampuni atas segala kesalahan. Aku memang sudah jadi anak yang pemberontak. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke kamar dan cepat-cepat mandi air hangat agar bisa membersihkan tubuhku dari air hujan. Tadinya aku sudah merencanakan untuk menangis sepuas-puasnya di kamar, tetapi entah mengapa aku berubah pikiran. Aku berusaha bersikap tegar menghadapi masalah yang kuhadapi. Aku malu menjadi gadis yang cengeng, yang melulu berurai airmata. Dan aku harus mampu menghadapi semua itu dengan kepala terangkat, bukannya dengan cairan bening bernama airmata. Keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan sangat berada. Ayahku memiliki tiga perusahaan garmen besar dan beberapa anak cabang di Tanah Air. Teman-temanku sangat iri terhadap kondisi keuangan keluargaku. Namun, bagiku itu hanya sebuah fatamorgana. Aku benci dilahirkan di keluarga ini. Aku benci menjadi orang yang sangat kaya. Status itu sungguh tidak kuinginkan. Aku hanya butuh perhatian. Aku hanya butuh kasih sayang. Itu saja. Bukannya segala harta materi yang fana itu!

Makanya tidak heran jika aku lebih memilih naik bis, hidup sederhana dan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji. Hah, bagi anggapan orang, bodoh memang. Aku melihat ke luar jendela kamarku setelah usai membersihkan diri. Ternyata hujan sudah mulai reda, dan tiba-tiba terlintas dalam pikiranku: Bandung. Di tempat itulah hidupku terlentuk. Ada bahagia dan duka yang membaur menjadi satu. Di sana, aku banyak belajar dari pengalaman dan kesalahan. Dan di sana pula, ada orang yang kusayangi. Sekarang, kehidupanku berubah total. Di Jakarta, aku serasa sendiri. Tidak ada lagi orang-orang yang kusayangi. Mereka semua sibuk dengan rutinitasnya. Aku muak dengan semua ritual itu. Perlahan antipati terhadap orangtuaku sendiri berubah menjadi benci! *** Saat-saat di Bandung.... "Hahaha... Ness, duh, akhirnya kita bisa ya, mengubur botol ini buat kenang-kenangan persahabatan kita seumur hidup," ujar Vania setelah terbahak riang. Aku tersenyum lebar, dan mulai membayangkan masa depan kami, lima sampai enam tahun mendatang, ketika kami bertemu kembali di tempat ini. Tempat yang sangat jarang dikunjungi ketika anak-anak berada di sekolah. Memang, tempatnya sangat tidak nyaman dan terasa angker, namun kami tidak percaya pada mitos-mitos yang sering dijadikan buah bibir. Kami berdua tertawa sambil merasa jijik ketika kami melihat cacing-cacing tanah yang terdapat pada pinggir pagar pekarangan. Tidak ada orang yang mengetahui kalau kami sering ke tempat ini dan saling curhat mengenai masalah pribadi kami, sampai masalah pemuda idaman. Ya, memang saat itu kami membuat janji persahabatan di dalam sebuah botol bekas berwarna hijau yang sudah seperti barang rongsokan, dan dikuburkan di dalam tanah dekat pekarangan sekolah. Kami pun berjanji akan menggali kembali tanah itu setelah kami lulus kuliah. Pada saat itu kami masih duduk di kelas dua SMA. Konyol memang. Tetapi kupikir, inilah cara unik kami mengungkapkan janji setia persahabatan walaupun kedengarannya sedikit jadul. Lalu kami menutup kegiatan penguburan tersebut dengan tempelan jempol kami masingmasing yang telah dicelupi tinta, dan disambut dengan pelukan persahabatan. Aku merasa hidupku sangat sempurna. Di rumah, aku memang hanya anak tunggal, dan tak memiliki saudara lain selain kedua orangtua, yang sangat menyayangiku. Namun biar begitu, aku tidak merasa kesepian karena memiliki banyak sahabat di sekolah. Dan aku bersyukur karena memiliki teman baik seperti Vania. ***

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

MATA TELAGA
oleh Chimeng | Gadis itu biasa saja. Tidak terlalu cantik. Tapi sepasang mata yang dimilikinya mempunyai pesona yang luar biasa. Dalam hitungan detik Berno bisa menemukan keajaiban yang terpancar di sana, yang baru ia sadari saat suatu kali mereka bersirobok pandang. Mata itu bagai telaga. Begitu dalam dan damai. Seolah mampu melapangkan pepat dadanya. Membuatnya ingin berlama-lama menatapnya. Tapi mata itu juga bagai ombak. Mampu mendebarkan jantungnya dengan sirat geloranya. Membuat ia selalu saja melengos cepatcepat untuk dapat menguasai diri. Dan dalam mata itu juga ia menemukan misteri. Seolah mendesaknya untuk menyelami hati gadis itu lebih dalam. Tapi ia mengutuki diri kemudian. Saat pesona mata itu semakin kuat menariknya, ia hanya bisa terpaku. Bukan karena gadis itu terlalu jauh untuk dapat ia gapai, tetapi karena bentangan tali menghadang langkahnya. "Aku ingin mendapatkannya!" ujarnya suatu kali saat ia mulai tak kuasa berdiam diri. "Nekat. Dia pacar sahabat kita. Pacar Surya!" Ia benci dengan kalimat itu. Suatu kali nanti, geramnya dalam hati. Seolah mengerti apa yang dipikirkan, Tedi terpingkal-pingkal. "Kamu mengharapkan mereka putus?" Berno melengos. Mengalihkan tatapnya dari dua sosok di depan perpustakaan itu. "Apa kata Surya nanti kalau tahu kamu macarin mantannya?" Cinta memang aneh. Seringkali datang tak kenal kompromi. Susah payah ia menyingkirkan perasaannya atas nama persahabatan. Tapi seringkali pula ia nyaris gagal, saat kerap mendapati mata telaga itu berurai basah. Ia tak rela. "Surya memang keterlaluan," lapor Indah, sahabat gadis bermata telaga itu, "Ngaku sayang Reta, tapi nggak pernah bersikap manis. Heran, kenapa Reta bisa tahan pacaran sama Surya!" Berno mengeluh dalam-dalam. Ia juga cuma bisa menarik napas saat di kesempatan lain uraian tak sedap ditangkapnya dari mulut Surya. "Lama-lama dia nggak asyik lagi. Nggak tahu, apa akunya yang udah bosen atau memang kita nggak cocok lagi!" Berno memilih yang pertama. Ia tahu betul kwalitas cinta Surya. Sejak tahun pertama kuliah, sudah belasan hati dibuatnya patah. Tapi untuk hati yang satu ini ia tak rela Surya membuatnya patah juga. Tapi Surya adalah Surya. Sahabat yang sangat ia kenal. Yang tak bergeming walau dengan isak tangis. Yang tetap pada langkahnya walau ada cinta yang tak ingin ia tinggalkan. Surya juga tidak sekedar pergi. Ia menorehkan luka dengan membawa serta hati yang lain. Saatnya untuk menggapai hatinya. Bisik batin Berno. Tapi apakah bijak? Sementara mata telaga itu masih menyisakan tangis, ia hadir seolah mempergunakan kesempatan itu! Ia juga terbelenggu ragu. Sudut hatinya masih mengatasnamakan persahabatan, sedangkan sudut hatinya yang lain mendesak atas nama cinta. Dalam dilema, batinnya tak mampu menguasai diri. Ia memilih yang terakhir. Atas nama cinta, ia datang. Mencoba menghadirkan sosoknya dalam hari-hari gadis bermata telaga. Menyisipkan satu demi satu kepingan harapnya untuk kemudian menjadi sebentuk cinta yang utuh. Tapi sungguh, mata itu benar-benar sebuah telaga. Ketenangannya seringkali menjebak. Berno tak pernah tahu kalau mata telaga itu meredam kejut atas kehadirannya. Membendung tanya dan resah yang akhirnya melahirkan praduga meski tak ingin; Apakah Berno akan membalas sakit hatinya, karena dulu kekasih Berno pernah terjerat tali simpati Surya? "Ia mendatangiku!" Mata telaga itu mengadu pada Indah. "Jangan peduli. Dia cuma kasihan sama kamu!" tepis Indah. Karena kasihan? Satu lagi tanya bertambah dalam praduga si mata telaga. Membuatnya

semakin terombang-ambing. Tetapi ia adalah sebuah telaga. Selalu menghadirkan kesan tenang pada permukaannya. Membiarkan laki-laki itu menampakkan sosoknya pada pantulan bayang laksana cermin. Menunggu. Melihat. Pelan-pelan merasakan. Suatu kali menyadari ada sentuhan lembut yang menciptakan kecipak gelombang pada permukaan datarnya. Ia semakin resah dan berlindung pada Teratainya. "Kasihan atau balas dendam?" Ia mengerang. "Itu sebabnya kenapa aku ingatkan, abaikan saja Berno. Kamu tak ingin terluka kedua kali kan? Berno sahabat Surya. Bisa saja mereka setali tiga uang!" ujar Indah. Ia berada di persimpangan. Terluka tapi masih menyintai Surya. Waspada tapi sudah terbuai kelembutan Berno. Dan karena keduanya ia menangis. Sementara Berno terus mengalunkan getar cintanya. Tak peduli mata telaga itu tetap pada tatap penuh misterinya. Ia meyakinkan lewat mata dan senyum. Mengalirkan lewat jejak langkah. Cinta Berno memang tidak bicara dengan kata. Suatu kali Surya mendatanginya tiba-tiba. "Angin membawa kabar itu ke telingaku. Aku tak mengira, karena kamu terlalu rapih untuk menampakkan. Aku tidak mau menuduh ini. Tapi, apa kamu ada di antara aku dan Reta saat itu?" Berno menggeleng. "Hei, kita sobatan! Sahabat selalu jujur, kan? Kumaafkan jika benar." Berno tetap menggeleng. "Aku datang pada saat kamu sudah pergi!" "Yang benar saja!" Surya tersenyum kecut. "Bukankah sahabat selalu jujur?" Surya menatapnya lekat. "Mungkin kamu perlu tahu, aku kembali pada Reta." Berno tertegun. "Kuharap kamu mengerti!" Surya menepuk bahunya. "Kamu terlalu mudah berpindah dari satu hati dan mematahkan yang lain. Tapi jika kamu benar-benar kembali pada Reta, kupastikan aku tak akan mengganggu lagi!" "Terima kasih. Kubuktikan ucapanmu." Akhirnya ia tak perlu terkejut dan tak berhak mendebatnya, saat mendapati Surya dan Reta kembali menjalin hari. Seperti yang terpancar di mata telaganya, gadis itu memiliki cinta yang dalam, yang kedamaiannya mampu membasuh luka yang pernah ditorehkan Surya. Atas nama persahabatan dan cinta, ia memilih membiarkan bentangan tali itu menghadang langkahnya lagi. Menguatkan hatinya yang mulai retak. Tapi diam-diam ia menangis kalah. Memaki dan mengutuki diri. Mempersalahkan cintanya yang tak juga mau pergi. Bentangan hari tak mampu membuatnya bisa melupakan. "Reta tak pernah kapok!" suatu hari Indah membawa berita, "Tak pernah sadar bahwa Surya bukan orang yang tepat." Ia tersentak. Tapi ia ingat janjinya pada Surya. Ia pun menulikan telinganya. "Surya lagi-lagi membuatnya menangis!" Ia tak bergeming. Bolak-balik Indah membawakan berita-berita itu. "Surya meninggalkannya lagi." Ia berusaha tak mendengar. Ia pura-pura tidak tahu. Melengos resah tak ingin melihat luka di mata telaga itu. Membekukan nuraninya walau tak pernah rela. Tapi suatu kali saat mata telaga itu merebak tangisnya ia tak kuasa untuk terus berdiam diri. "Kamu tidak sungguh-sungguh!" ia menagih janji Surya. "Kenapa? Bukankah artinya sekarang kamu bisa mendapatkannya, lagi?" Surya menekan kata terakhir itu. "Ambilah. Aku sudah tidak tertarik!" Ingin sekali ia melayangkan tinjunya. Beberapa hari kemudian ia memilih menenangkan diri. Dalam kesendirian ia mempertanyakan cintanya. Apa masih sebesar dulu? Suatu kali tanpa diduga gadis bermata telaga itu mendatanginya, mengurai praduga. "Kamu mendekatiku karena kasihan atau balas dendam? Bukankah kekasihmu dulu tertarik pada

Surya?" "Aku tidak suka kata-kata itu. Tapi kalau memang benar, sudah dari dulu kurampas kamu darinya." "Jadi kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" Berno tak pandai berkata cinta. Ia cuma mengangguk. Anggukan itu yang kemudian malah membawa mata telaga menjadi miliknya. Miliknya! "Tak mudah bagi Reta melupakan aku!" Surya mengejeknya saat mengetahui hubungan mereka. "Aku tahu. Tapi sayang, kamu sudah menyia-nyiakannya." "Kalau saat ini ia memilihmu, itu karena dia merasa kesepian. Kita lihat berapa lama kamu dapat mempertahankannya." Berno tak peduli pada pisau yang coba ditusukkan Surya ke dadanya. Dalam balutan cinta, ia lalui hari penuh warna bersama si mata telaga. Sampai beberapa waktu kemudian mata telaga itu harus melanjutkan studinya di luar negeri setelah berhasil mendapatkan program bea siswa.. Meski berat, atas nama cinta, Berno melepasnya pergi. "Tunggu aku! Aku pasti kembali untukmu!" gadis itu menyemat janji saat Berno melepasnya di bandara. Rindu mengepungnya. Sepi menjeratnya. Kekhawatiran menyiksanya. Tapi cinta Berno tetap berpijar. Di tengah pergantian musim, terpaan hujan serta sengat matahari. Ia terus menunggu. Mengalunkan doa dan pengharapannya. Sampai pada masa penantiannya usai. Setengah melonjak ia sambut hari dimana mata telaga itu kembali. Memeluknya erat seolah menebus rentangan waktu yang terhalang jarak. Tapi ia tercenung tiba-tiba. Merasakan ada yang berbeda pada pelukan si mata telaga. Tak perlu berlama-lama. Dengan mata telaganya yang bening, gadis itu tak pandai menyimpan kebohongan. "Maafkan aku!" Berno siap mendengarkan di hari pertama mereka bertemu lagi. "Aku tak setia, Berno. Kami bertemu lagi di Perth." "Lagi?" Alis Berno terangkat. "Ternyata aku masih menyintainya. Begitu juga dia." Lagi? Masih? Berno menduga-duga. "Kami akan bertunangan. Surya akan melamarku bulan depan." Berno terpekik. Waktu yang terentang sekian lama serta jarak antar benua, ternyata masih saja menyisipkan satu nama usang itu! Bagaimana bisa! Tapi cinta soal hati. Tak ada yang bisa menghalangi. Juga cinta mata telaga itu pada Surya. Berno pun tertegun sendiri. Atas nama cinta ia biarkan gadis itu memilih langkahnya. Kebahagiaan si mata telaga jauh di atas segalanya. Ia lenyapkan kecewa hatinya. Ia tutup luka di dadanya. Ia lewati hari-hari yang mestinya sangat sulit. *** Berno memeluknya semakin erat. Ia tak mengira cintanya pada mata telaga itu begitu besar. Lebih besar dari yang diduganya sendiri! Wanita itu menatap rimbunan Melati di depannya. Tapi pikirannya tidak di sana. Garis-garis halus di beberapa bagian wajahnya menampakkan kematangan di rentang usianya yang tak bisa lagi di sebut muda. Wajah itu harusnya tak terlihat setua itu. Tubuhnya yang semestinya masih sehat dan bugar, terkulai lemah di atas kursi roda. Tapi sepasang mata telaga yang dimilikinya tetap menyimpan pesona yang luar biasa. Sama seperti lima belas tahun lalu! Setidaknya untuk Berno! "Waktunya minum obat!" Seorang perawat muncul dengan cawan berisi butiran obat dan segelas air. "Boleh saya yang memberikannya, Sus?" pinta Berno. "Silakan."Berno menatap mata telaga itu lekat-lekat. Tapi si empunya mata bagai tak

menyadari. Ia tetap menatap rimbunan Melati di depannya. "Kau harus minum obat," bisik Berno lembut. Tak ada reaksi. Bahkan sekedar kedipan mata. Berno menyentuh dagu itu pelan. Memasukan butiran obat pada mulut yang sudah terbuka. "Minumlah!" Wanita itu meneguk air yang disodorkan Berno dengan mata yang tidak berpindah. "Kamu mau Melati itu? Biar kupetikkan." Dua tangkai Melati di sodorkan Berno. Mata telaga itu bergerak. "Aku bisa memberikan berapa pun Melati yang kau mau. Tapi kupinta, bangunlah Reta. Jangan terpuruk seperti ini!" Mata telaga itu perlahan merebak. Tangannya menyentuh dua tangkai Melati itu. Senyumnya tipis mengembang. Angannya bermain terbang. Pada suatu masa di mana ia menjadi permaisuri. Permaisuri yang harus berkali-kali menangis, tertawa, menangis lagi dan... suatu kali harus terus menangis. Saat sang raja sungguh-sungguh pergi meninggalkan, tak menerima saat vonis menjatuhkan ia terkena kanker payudara! "Surya?" ia berbisik terengah. Mata telaganya bergerak mencari-cari. "Suamiku?" Berno menarik napas dalam-dalam. Mengutuki sang raja berhati beku. Yang melanglang bersama dayang-dayang. Meninggalkan permaisuri saat sakit, bagai habis manis sepah dibuang. "Surya?" "Ia tak di sini!" bisik Berno. "Dimana? Dia tidak sungguh-sungguh meninggalkan aku kan? Dia... dia akan kembali, kan?" Berno menghapus butiran itu dengan jarinya. "Surya bilang aku tidak akan sembuh... Surya bilang... aku tinggal menunggu mati. Dia... dia... tidak menginginkan aku lagi... aku sakit... katanya...!" Berno merengkuh bahu itu. Beberapa bulan lalu saat reuni kampus, ia mendengar semua berita tentang mata telaga. Surya menikahinya, menyakitinya berkali-kali dan benar-benar meninggalkannya dalam keadaan sekarat! Tak menyia-nyiakan waktu, ia melesat ke sini. Menempuh jarak antarbenua. Menahan sesak rindu dan penyesalannya atas kabar buruk itu. Dan di sini, ia tebus sakit hatinya atas derita si mata telaga, dengan mendampinginya, menyemangatinya. Meyakinkan bahwa sisa harinya masih teramat panjang dan amat sayang jika dilalui dengan keterpurukan. Tapi mata telaga tetap membeku. Bahkan ia tak pernah tahu yang ada di sisinya sepanjang beberapa hari ini adalah Berno, orang yang tak pernah berhenti mencintainya. "Suryaa!" Mata telaga itu menangis lagi. "Jangan tinggalkan aku! Pulang... Surya...!" Berno memeluknya semakin erat. Ia tak mengira cintanya pada mata telaga itu begitu besar. Lebih besar dari yang diduganya sendiri!

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

LAYANGAN PUTUS
Cerita Pendek Raidan Intizar Mana orang itu? Katanya akan datang ke pameran perdana museum layang-layang, kenapa sampai sekarang belum menyusul? batinku gelisah. Aku melancarkan pandangan mengelilingi ruangan, kudapati seorang anak kecil berlari mendekati sebuah layangan putih sederhana yang dipajang di sudut. Aku menghampiri anak itu berniat menyapanya sebelum ia bergerak gesit; ia menyentuh layang-layang putih itu dan menariknya hingga putus. “Hei!!” Terlambat. Layangan itu sudah putus. Ketika itu aku mendengar namaku bergaung, seseorang memanggilku, tapi orang itu tidak di sini. *** “DI! DIDI!” jerit Tri di depan pintu sebuah rumah laksana istana. “Dididididi…Didi!! Didididi!!!” Merasa tidak direspon, Tri, bocah berusia sepuluh tahun yang mengenakan kaos Power Ranger kesayangannya dengan celana selutut, memutuskan paduan suara di teras rumah Didi. Tri tahu Didi paling benci suara cempreng khas Tri. Kalau Didi tidak mau keluar, seenggakenggaknya dia melempar sandal dari jendela, lumayan buat diloakin. Tri mendengar langkah-langkah kecil tergesa di sisi lain pintu. “Tri!” Didi, bocah perempuan rambut kuncir dua yang paling hobi pake baju anak laki-laki itu membuka pintu. “Hai Didi, kejar layangan putus, yuk!” tawar Tri. “Aku ngga boleh keluar sama Mama, katanya aku nyaris gosong, maksudnya apaan sih?” Didi duduk bersila di depan pintu. “Emangnya mama kamu ada?” tanya Tri. Didi menggeleng, “lagi kerja,” Tri langsung berbinar, matanya menatap langit biru tak berawan penuh bercak warna-warni yang mereka kenal namanya layangan. “Bakal banyak yang putus nih…” Didi ikut berbinar, hampir ngiler mamandang langit. “Tapi terserah kamu deh, Di. Kalo kamu mau ngejar layangan, aku ikut, kalo engga, aku tetap ikut anak lain. Hehe…,” Tri garing.

Didi membayangkan Mama keluar gigi taring, matanya terbelalak merah, dan kaki rada ngambang saking marahnya karena Didi keluar. Tapi bayangan itu pudar berganti bayangan dirinya, Tri serta anak-anak lain pada mengejar layangan. Mereka memang tidak punya layang-layang, mereka sengaja itu. Punya sesuatu bukan segalanya yang bikin orang senang. Tapi mengejar sesuatu tanpa kepastian akan memilikinya atau tidak, itu menyenangkan. Biasanya, mereka hanya duduk di sisi lapangan, menunggu layangan anak lain putus lalu mengejarnya sampai dengkul berdarah-darah, kulit lecet-lecet, keseleo segala persendian. Karena layangan yang putus berarti bukan milik siapa-siapa. Jadi siapa saja yang berhasil menemukan layang-layang itu maka dia telah memilikinya, sekalipun layangan itu sudah rusak berat. Didi dan Tri punya banyak layangan rusak. Sampai sekarang mereka berdua dianggap jagoan pengejar layangan putus, dan keduanya tidak rela gelar kehormatan itu dicopot dengan absennya mereka hari ini di lapangan. *** Hari ini, aku melintasi lapangan itu. Teman-temanku tidak habis pikir kenapa harus keliling kota dulu baru sampai di rumah, mana BBM mahal lagi… Tapi aku bukannya mau mengukur jalan atau tidak punya sense of crisis, tapi ada yang sebanding dengan itu semua. Tiba di sisi sebuah lapangan besar multiguna kadang dipakai jadi lapangan bola, kalau tujuh belasan, segala lomba diselenggarakan di sini, dan lebih seringnya jadi lapangan bermain anak-anak- aku melambatkan laju mobilku, mataku mencari sosok-sosok itu, para pengejar layangan putus. Hari ini aku ingin meminta ’sesuatu’ dari mereka, lagi. Tadi pagi aku disemprot dosen. “KAMU NIAT KULIAH TIDAK, SIH?!” pekiknya tepat di depan hidungku, hanya garagara telat dua menit. Oke, dua menit ditambah dua puluh menit. Tapi kupikir itu belum pantas jadi alasan mempermalukanku di depan umum kan? Apalagi dia tidak menanyakan alasanku telat. Aku baru saja dari rumah sakit. Kalau kondisiku begini, hanya satu yang bisa memulihkanku yaitu tatapan anak-anak pengejar layangan putus. Ada asa di mata mereka, dan aku mencurinya sedikit, itu sudah sangat cukup untuk membuatku kuat menjalani hari-hari. Aku ingat semangat yang sama pernah ada dalam diriku, tapi itu sudah lama hilang. Karena kurasa mengawasi dari mobil saja tidak akan membuatku puas, maka aku memarkirkan mobilku di tepi lapangan. Aku turun, lalu duduk di atas rumput. Pijar matahari menyengat kulitku. Kusadari beberapa mata mengamatiku heran, aku tidak acuh. Aku mendapati beberapa Pengejar Layangan Putus duduk di sisi lapangan, memandang penuh minat anak-anak lain yang menerbangkan layangan mereka. Peraturan yang berlaku di sini adalah; layangan putus maka hak kepemilikan juga putus. Saat menunggu aksi mereka itu, angin semilir berhembus. ***

Tri menyapu rumput dengan tangannya. Apa yang dia lakukan ini tidak memberi pengaruh apa-apa pada rumput, toh tanahnya tetap saja kotor. Tri lalu mempersilahkan Ndoro Didi duduk. “Kok ngga rame sih? Anak lain pada ke mana?” Didi menjulurkan kepala ingin tahu. “Sebenarnya nih, Di, nguber layangan udah nggak jaman! Sekarang anak-anak lain pada hobi sama gasing.” “Asal bukan kamu aja, Tri, ntar aku kasih bogem kalo ikut-ikutan anak lain!” Didi menyinsingkan lengan bajunya. “Ya, engga bakal, Di!” Tri mengerling anak-anak yang main layangan. Satu… tiga… enam… Kok cuma delapan orang? Biasanya sampai belasan anak. “Eh, Di, kita ini apa sih?” tanya Tri yang dirasa Didi pertanyaannya aneh sekali. “Pengejar layangan putus, Tolol!” jawab Didi sekenanya. “Kamu yang tolol! Apa kamu ngga mikir, penerbang layangan makin berkurang, layangan yang putus jelas makin sedikit. Nah kita ini bakal mati satu-satu!” jelas Tri. Didi berpikir sejenak. Kepalanya baru mencerna teori Tri dua menit kemudian. “Iya juga ya, tumben kamu pinter.” Daripada Tri menyela, Tri memilih diam, menatap langit dihiasi titik-titik berwarna yang sesekali bergerak mengikuti arah angin. Pemandangan itu selalu bikin Tri bersemangat. Tri yakin Didi juga begitu, sampai-sampai kulit sahabatnya ini gosong karena sering ngebelabelain lihat pemandangan di atas. *** Di antara anak-anak pengejar layangan putus itu, mataku terpaku pada dua dari mereka, seorang anak laki-laki berkaos Power Ranger dan celana selutut, serta anak perempuan yang rambutnya kuncir dua. Dua anak itu ngobrol seru sebelum tiba-tiba salah satunya menunjuk langit. Aku mengikuti arah telunjuknya. Dua layangan saling bertabrakan, benangnya bergesek satu sama lain. Pemilik layangan itu mengulur benang, berusaha berkelit lalu terdengar suara benang putus yang khas. Layangan kuning cerah itu putus, melayang tak tentu arah. Spontan, para Pengejar Layangan Putus beraksi, seperti akan melakukan lari maraton, mereka mengejar layangan itu, termasuk dua anak tadi. Aku menonton penuh minat, serasa menjadi bagian dari anak-anak itu, aku menyoraki mereka… apa saja yang dapat menyalurkan semangatku yang menggebu. “AYO! AYO!!” Anak perempuan berambut kuncir dua menoleh padaku. Tepat saat itu kakinya berhenti mendadak dan ia terjatuh. Aku berlari hendak menolong, sebelum…

*** “Didi, ayo!” Tri mengulurkan tangan pada Didi. Didi tidak menyambutnya, dia memeriksa seberapa parah luka di dengkulnya, berdarah! “Sakit, Tri.” “Ayo dong, Di! Biasanya ngga cewek begini deh!” Tri menarik lengan Didi. Didi menolak berdiri, “Kamu aja yang ngejar! Cepat!” Para pengejar layangan putus menyadari Didi dan Tri berhenti mengejar, ikut-ikutan berhenti. Buat mereka bukan menang namanya kalau Didi maupun Tri tidak gabung dalam kompetisi. “Ngga bisa gitu, kita ini se-tim!” protes Tri. “Kejar aja buruan! Kan menangnya sama-sama!” Didi mendorong Tri. “Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh?!” Didi mendengus jengkel, “Oke!” Didi bangkit. Tri sudah menyangka sebenarnya Didi bisa. Dia menarik Didi bergabung dengan anak-anak lain yang berhamburan lagi mengejar layangan. *** Syukurlah anak perempuan kuncir dua tidak apa-apa. Anak itu berdiri dan mereka berlari lagi. Begitu angin cukup reda, layangan putus mendarat di sebuah pohon yang lumayan tinggi. Anak laki-laki itu memanjat dengan gesit dan menggapai layang-layang. Wajahnya sampai lecet tergores ranting pohon. Para Pengejar Layangan Putus bersorak, aku juga, melihat layang-layang itu diusung tinggi. Tidak lama kemudian mereka bubar. Aku berjalan tergesa menghampiri pasangan pengejar layangan putus; si Kuncir Dua dan si Power Ranger, mereka duduk di rumput dan mengagumi layangan sobek mereka, seakan-akan itu adalah mahakarya. “Hai,” sapaku seramah mungkin. Keduanya tersenyum padaku. “Kalian dapat layangannya ya?” aku mengangguk pada layangan sobek. Saat itu juga aku terngiang Museum Layang-layang; pameran perdana… “Iya nih, Kak!” ujaran mereka membantingku kembali ke tanah lapangan. “Kakak boleh minta nggak? Buat teman kakak yang lagi sakit.” Kening mereka mengerut, “Kok dikasih layangan?”

“Dulu, dia suka banget nguber layangan bareng kakak seperti Kalian. Kalau lihat layangan putus lagi pasti dia senang.” Mereka berbisik-bisik menimbang cukup lama, kemudian memutuskan. “Iya deh, Kak, semoga temen Kakak cepet sembuhnya ya,” anak perempuan itu menyerahkan layangan putus padaku. “Terima kasih banyak. Oh iya, nama Kalian siapa?” “Saya Ari,” si Power Ranger mengangsurkan tangannya padaku. Aku menjabatnya hangat. “Saya Mita.” “Nama Kakak, Didi.” Aku mengerling lutut Mita penuh arti, “Didi, ayo!” Kudengar suara itu di telingaku, suara Tri. “Nama teman Kakak yang sakit itu Tri,” kataku seraya kutatap wajah Ari yang lecet tergores ranting pohon. “DIDIII!!” Suatu hantaman keras seperti terjadi tepat di belakang telingaku, hari di Museum Layang-layang itu. “Makasih ya, Ri, Mita, Kakak ke rumah sakit dulu.” Aku bergidik sendiri dan pamit pada Ari dan Mita. Saat aku membelakangi dua anak itu, seorang wanita tiba, wajahnya merah seperti akan meledak. “MITAAA!!” jeritnya, “Mama sudah bilang jangan keluar rumah, kamu masih aja bandel! Kamu sudah gosong begitu! ARIII!!” Omelan wanita itu teredam saat aku menutup pintu mobilku. Kuletakkan layangan putus berwarna kuning cerah dengan sangat hati-hati di dasbor. Lirih, kudengar suara Tri, “Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh!” “Ngejarnya ngga bareng…”

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

Pasupati, Kau, dan Aku
Februari 15th, 2009 by dadun “Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “ bulannya sangat indah.” Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit, jauh lebih cantik. “Kau bayangkan, seandainya malam benar-benar menelan alam dengan hitam…” Oh, aku tahu sesuatu yang lebih pasti. Ialah suaramu yang hilang ditelan bebunyian kendaraan yang berlalu-lalang di belakang kita. Bagaimanapun, kita tidak sedang berada di kafe temaram atau longue yang sangat nyaman. Kau tahu, aku sempat frustrasi saat pertama kali kau mengajakku ke tempat ini. Dalam mimpi sekalipun, aku tak pernah berani memikirkan diriku duduk pada pembatas sisi jalan layang sambil berbincang dengan seseorang atau hanya sekadar menikmati malam. Terlalu berbahaya untukku. “Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, “percayalah.” Ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja. Rasa percaya diriku kian bertambah ketika kulihat sepasang sejoli duduk mesra di atas sepeda motor yang ditepikan beberapa meter dari keberadaan kita, bahkan juga beberapa meter dari keberadaan mereka. Tiba-tiba aku teringat perkataan temanku tentang jalan layang yang menghubungkan Pasteur – Surapati ini. “Di sini tempat orang pacaran kan?” pertanyaanku terdengar sangat norak di telingaku sendiri. “Apa?” kau berteriak sambil mencondongkan telingamu ke mulutku. Oh, terima kasih, Makhluk-makhluk beroda yang mendesau bising. Lain kali aku akan berusaha lebih baik lagi dalam membuat pertanyaan. Dan aku perlu sedikit penyesuaian teknik vokal untuk dapat memproduksi suara yang baik saat berbincang—tepatnya berteriak. Tetapi, ada saatnya kita tidak harus berteriak. Kau memberitahu, “Pertama, ketika jalanan lengang; kedua, ketika jalanan ramai dan kita hanya perlu berbicara tanpa ingin didengar siapa pun namun tetap mendambakan keberadaan seseorang di samping kita.” Terima kasih, kau berhasil membuatku bingung untuk yang kedua itu. “Ayolah, kau pasti lelah menulis diary, dan merasa semakin gila setiap berbicara dengan dirimu sendiri di depan cermin,” paparmu sebelum akhirnya kau mendemonstrasikan metode yang lebih baik dari kedua hal itu. Kau menoleh, memastikan sekelompok kendaraan lewat secara bersamaan. Kemudian kau berkata-kata seolah aku mendengarnya. Aku hanya memandangi wajah dan gerakan bibirmu yang ajaibnya berbunyi WHUZZZ, BRMMM, NGEEENG, TIDIIID atau bahkan BLAR!!!

“Ah, lega,” ucapmu setelah selesai. Aku mulai paham, lalu berkesimpulan: inti dari metode yang kau maksudkan adalah mengungkapkan sesuatu yang kau anggap sangat pribadi dan rahasia kepada seseorang tanpa perlu kehilangan arti kerahasiaannya. Menarik. Hei, ternyata tidak semua pasangan yang datang ke tempat ini hanya untuk berpacaran. “Sekarang giliranmu,” kau menantangku. Aku? Ah, orang bodoh sepertiku bukanlah penganut spontanisme yang baik. Pada malammalam berikutnya, aku baru menemukan banyak materi rahasia yang selama ini hanya bergaung double stereo di ruang kedap suara dalam dadaku saja. Dari mulai masalah perceraian kedua orang tuaku, adikku yang menderita syndroma down, pengalaman seksual pertamaku yang mengerikan, kebohongan kecil dan besar yang pernah kubuat, hal-hal paling konyol dan memalukan yang pernah kulakukan, hingga penyakit-penyakit menjijikan yang sempat menyerang daerah paling sensitif di tubuhku. Wow, tak kusangka aku se-ekstrovert itu. “Kau tahu, hanya ketika bersamamu aku merasa menjadi seseorang yang berbeda dalam versi aku yang sebenarnya. Maksudku, kaulah yang membantuku menemukan sisi yang lebih aku dari diriku sendiri.” Pada malam kesekian itu, kau menatapku dengan ekspresi sedikit bingung saat mendengar sepenggal pengakuanku. Volume suaraku mengecil karena bising kendaraan kembali hadir. “Biasanya, ketika kita jatuh cinta, kita jusrtru merasa gamang dengan diri kita sendiri,” dan suaraku benar-benar menghilang ketika kukatakan, “tetapi, jatuh cinta padamu sangat berbeda; begitu sederhana namun istimewa.” Sekali lagi aku berterima kasih pada makhluk beroda di belakang kita. Betapapun aku belum siap dengan reaksimu ketika mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Dari sekian keuntungan yang kudapatkan, ada masanya di mana aku merasa dirugikan bising kendaraan itu. Ialah ketika aku ingin benar-benar mendengar apa yang tengah kau ucapkan. Siapa tahu kita memendam perasaan yang sama, mengucapkan kata-kata yang bermakna serupa: aku jatuh cinta padamu. Kau tahu, aku selalu mendamba kemampuan infrasonic setiap kau berbicara tanpa suara. Menatap wajahmu dan membaca gerak bibirmu hanya hiburan pengganti atas keingintahuanku akan banyak hal tentang dirimu. Dan kurasa, mengetahui hobi, makanan dan musik favoritmu, juga hal-hal yang tidak kausukai, sudah lebih dari cukup untuk status kita yang tak lebih dari sepasang kenalan yang dipertemukan sebuah situs pertemanan. Kau pernah bilang, “aku tidak suka diselidiki”. Baiklah, kuikuti permainanmu. Dan lama-lama aku justru melupakan keinginan itu karena ternyata menatap wajahmu dan membaca gerak bibirmu jauh lebih menyenangkan. Dan malam ini, aku terbuai dengan ekspresi riang wajahmu dan gerakan mulutmu yang berkali-kali membentuk kata “bulan”. Seluruh potensi inderaku selalu tertuju penuh padamu tatkala itu. Sesekali kau menatapku, lalu kembali menatap langit dalam waktu yang lebih lama. Sejauh ini aku berhasil berpura-pura tidak sedang memandangimu hingga, “… bagaimana menurutmu?” Serta-merta kau alihkan pandanganmu secara tak terduga, menangkap-basah aku yang tengah khusyuk memandangimu. Mata kita saling memerangkap. Dan ada mesiu tak nampak yang

menembus ke dalam jantungku. Aku beku dan nyaris tak berdetak lagi jika napasmu tak lekas kau tiupkan lewat kecupan yang hangat dan dalam. Oh, aku meledak dalam rasa canggung sekaligus senang yang luar biasa. Persetan dengan apa pun. Persetan dengan siapa pun. Malam ini menjadi milik kita berdua. Sayup kudengar bunyi klakson, desau mesin kendaraan, dan decit ban di belakang, lalu menghilang seiring deru napas kita yang saling memburu kencang. Dinginnya angin malam yang menusuk berhasil kau halau. Kita tidak hanya sekadar berada pada ketinggian yang liar, melainkan benar-benar MELAYANG. Baru saja aku tahu jawabannya. Semoga aku tidak salah. “Kau tahu, ini ciuman terindah dalam hidupku.” Aku tak percaya telah mengucapkannya dan kau benar-benar mendengarnya. Tersipu, aku membalik tubuhku dan turun ke jalan menuju sepeda motormu, kemudian menutup wajahku dengan helm full-face milikmu. Aku sungguh merah. Oh, mimpi apa aku kemarin malam. Dan semoga malam ini aku tidak sedang bermimpi lagi. *** Sejujurnya aku tak ingin perjalanan kita berakhir. Aku masih ingin duduk menatap langit di pembatas jalan layang—jembatan Pasupati. Aku masih ingin memeluk punggungmu dan menemanimu menyelinap di antara celah kendaraan di depan kita. Aku masih ingin merasakan ketegangan yang luar biasa saat sepeda motormu meluncur gila pada permukaan aspal yang dingin. Aku masih ingin bersamamu tanpa batas waktu. “Sudah sampai, Tuan Puteri,” kau merajuk saat sepeda motormu berhenti di depan pagar rumahku. “Hei, aku tahu kau tidak benar-benar tidur. Turun dan masuklah.” Andai kau tahu bahwa aku takut kehilanganmu. “Kau tidak perduli kalau aku terus berdiri sampai pagi di depan rumahku sendiri?” Hei, sejak kapan aku bersikap manja padamu? “Hm, baiklah.” Kau membuka helm kemudian menemaniku menekan bel dan menunggu si Bibi membukakan pintu. Cukup lama, sepertinya seisi penghuni rumah sudah terlelap. Dan saat menunggu itulah kau membisikkan tiga-kata-itu sebelum menciumku lagi. “Eh, si Eneng baru pulang?” Oh, syukurlah kita sudah saling melepaskan saat si Bibi membukakan pintu. “Masuk atuh, Neng, nggak baik kalau kelihatan tetangga.” “Aku pulang dulu ya,” kau pun berpamitan. “Wah, tunggu,” tahan si Bibi. “Nggak baik lho, anak perempuan naik motor tengah malam.” “Ah, Bi, jangan khawatir. Temanku yang satu ini sudah ahlinya kalau soal naik motor. Cowok-cowok saja kalah ngebut.” Aku tersenyum bangga padamu. Dan kau membalasnya dengan anggukan canggung.

“Tapi ini kan sudah pagi, Neng. Apa tidak sebaiknya temen Eneng tidur di sini saja?” Tidur di sini? Hm, ide bagus. Kurasa, kau pun sependapat denganku. ***

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

Perjuanganku
Desember 31st, 2008 by nengsarni

Aku adalah anak keempat dari lima bersaudara di keluargaku. Aku terlahir dari keluarga yang dapat dibilang cukup berada. Kedua orang tuaku adalah pengusaha batik yang cukup sukses dan terkenal di kotaku, Yogyakarta. Usaha batik yang dijalani oleh kedua orang tuaku tidak diperoleh karena warisan dari orang tua mereka tetapi mereka peroleh dari kerja keras dan ketekunan mereka selama bertahun-tahun menjadi buruh batik di tempat seorang pengusaha batik lokal. Setelah cukup lama menjadi buruh batik, kedua orang tuaku mulai memberanikan diri membuka usaha batik sendiri dengan modal pengetahuan yang telah mereka miliki Dan diperolehnya sebagai buruh batik. Dengan penuh keyakinan Dan percaya diri yang kuat akhirnya usaha batik mereka mulai berkembang sampai sekarang. Dan saat ini usahanya sudah merambah ke luar negeri. Latar belakang pendidikan kedua orang tuaku tidak sehebat anak-anaknya, mereka hanya lulusan bangku SMA. Tetapi walaupun mereka hanya lulusan SMA, mereka tetap berkeinginan kelak suatu hari nanti anak-anaknya dapat duduk di bangku perguruan tinggi. Keinginan dan doa mereka yang kuat menjadi kenyataan, kakak tertuaku, Sandra kuliah semester akhir fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di kotaku, kakak kedua dan ketigaku, Vero dan Rike, kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan kakakku Sandra, hanya saja beda fakultas, Kak Vero kuliah di fakultas Ekonomi sementara Kak Rike kuliah di fakultas Sastra. Sementara aku, Rina, kuliah di perguruan tinggi swasta fakultas Teknik Informatika dan adikku, Andri duduk di kelas 3 SMA. Walaupun aku tidak dapat mengikuti jejak ketiga kakak-kakakku, aku tidak bersedih dan berkecil hati karena ayahku selalu memberiku semangat dan dorongan agar aku dapat lebih baik dari kakakkakakku yang kuliah di perguruan tinggi negeri. Aku sangat dekat dengan ayahku, tetapi ayahku tidak pernah membeda-bedakan anakanaknya, berbeda dengan ibuku yang sangat penuh perhatian dengan adikku. Ya maklumlah, adikku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku yang menurut mereka akan menjadi penerus usaha mereka kelak. Walaupun ibuku sangat sayang dan perhatian terhadap adikku tetapi kami tidak kurang kasih sayang dan perhatian dari mereka. Kesibukan mereka berdua di usaha batik tersebut tidak membuat mereka lupa akan tanggung jawabnya sebagai orang tua, sehingga kami sebagai anak-anaknya merasa bangga dengan mereka berdua. Empat tahun kemudian, tanpa penyebab yang jelas ayahku meninggal dunia di usia 55 tahun. Menurut dokter, ayahku meninggal karena terkena serangan jantung. Kami sekeluarga tidak percaya semua ini, karena selama ini ayah kami selalu terlihat sehat-sehat saja. Kami sekeluarga sangat kehilangan beliau karena tidak akan ada lagi figur seorang ayah yang sangat bijaksana dan bertanggungjawab terhadap keluarga ini. Kepergian beliau membuat aku benar-benar terpukul dan tak kuasa menghadapi semua ini tetapi aku harus berusaha keras untuk dapat menerima semua ini dan mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya, mungkin ayahku akan senang di alam sana dan mendoakan kami di sini. Setahun kepergian ayahku, kakak ketigaku, Rike, pergi menyusul ayahku. Kami sekeluarga benar-benar terpukul terutama ibuku. Karena kehilangan suami dan anak tercintanya ibuku jatuh sakit, beliau terkena stroke sehingga dokter menyarankan agar Ibu diberikan perawatan intensif untuk dapat sembuh total. Untuk dapat menyembuhkan ibuku yang sedang sakit kami terpaksa menjual semua barang-barang berharga yang dimiliki oleh orang tuaku. Tetapi kami tidak menjual rumah yang kami huni selama belasan tahun ini. Karena Ibu sakit, usaha batik yang ditekuni bersama almarhum ayahku mulai goyang sampai akhirnya kami harus menutup usaha tersebut untuk membiayai pengobatan ibuku dan untuk dapat memulai kembali usaha tersebut sepertinya kami anak-anaknya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Saat ini yang terpenting adalah kesembuhan ibuku.

Kedua kakakku sudah bekerja, penghasilan yang mereka dapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan diri mereka dan biaya pengobatan ibu, sementara aku baru lulus kuliah dan ingin sekali mencari pekerjaan untuk membantu kakak-kakakku membiayai pengobatan ibuku yang sedang sakit, sementara adikku Andri baru tingkat dua di sebuah perguruan tinggi negeri. Berbulan-bulan aku mencari kerja, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang sekretaris di suatu perusahaan swasta, tetapi pekerjaan yang kudapat tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanku yang sarjana informatika. Walaupun demikian, aku tetap menjalani pekerjaanku tersebut dengan iklas dan penuh tanggung jawab karena aku terdesak oleh kebutuhan ekonomi untuk membiayai pengobatan ibuku yang sakit. Karena niat, kerja keras dan perjuangan kami bekerja untuk membiayai ibuku yang sakit, akhirnya ibuku berangsur-angsur dapat pulih dari sakitnya. Kami sekeluarga sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan kesembuhan untuk ibu kami tercinta. Kesembuhan ibuku memberikan dorongan dan semangat bagiku untuk meneruskan kembali usaha batik orang tuaku. Dan ternyata kakak-kakaku dan adikku merespon baik keinginanku untuk membuka kembali usaha orang tuaku tersebut. Setelah tiga tahun aku bekerja, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan berencana untuk membuka kembali usaha batik orang tuaku yang sudah hancur tersebut. Dengan modal keyakinan dan percaya diri yang kuat serta bantuan pengetahuan yang dimiliki oleh ibuku aku membuka usaha batik kembali dibantu oleh ibu, kakak-kakakku, dan adikku, tetapi hanya aku dan ibuku yang terjun langsung ke usaha batik ini. Tahun pertama, kedua dan ketiga usaha batikku belum menunjukkan kemajuan bahkan usahaku selalu mengalami kerugian. Aku sempat putus asa menjalani usahaku ini karena aku benar-benar tidak pandai dan mahir untuk menjalani usaha ini tetapi ibu, kakak-kakakku, dan adikku selalu memberikan dorongan dan semangat kepadaku untuk terus bersabar dan berusaha dengan keras. Aku berharap di tahun keempat usahaku, aku akan berhasil setidaknya usahaku jangan mengalami kerugian berkelanjutan, tetapi apa yang aku dapat, usahaku terus mengalami kerugian di tambah musibah yang menimpa keluarga kami. Kami mendapat musibah yang paling memilukan dan menyedihkan hati kami sekeluarga yaitu kepergian adikku menyusul ayah dan kakak ketigaku. Adikku meninggal dunia akibat tertembak peluru nyasar aparat polisi yang hendak melerai perkelahian teman adikku di jalan raya. Kepergian adikku membuat ibuku shock dan beliau menderita sakit kembali, beliau merasa terguncang dan tidak percaya akan semua ini. Setelah diperiksa ke rumah sakit, dokter mengatakan beliau terkena stroke berulang dan ditambah penyakit baru yaitu serangan jantung. Dokter menyarankan agar ibuku diberikan perhatian dan perawatan yang lebih intensif agar beliau dapat sembuh seperti sediakala. Aku dan kakak-kakakku merasa sangat bingung harus berbuat apa dan harus bagaimana. Kedua kakakku menyarankan agar aku menghentikan usaha batikku yang tidak menghasilkan itu dan menyuruh aku untuk mengurus ibuku yang sedang sakit ketika mereka sedang bekerja karena, jika aku juga bekerja ibuku tidak ada yang merawatnya. Di sini terjadi konflik batin. Aku merasa kakak-kakakku tidak adil kenapa harus aku yang merawat ibu kenapa bukan mereka atau kenapa mereka tidak memanggil perawat saja untuk merawat ibu yang sedang sakit. Setelah kurenungi itu semua dan sebagai baktiku terhadap ibuku, aku terima saran kakak-kakakku walaupun dengan berat hati yaitu menutup usaha batikku tersebut. Setahun sudah aku merawat ibu dengan penuh kesabaran tetapi Tuhan masih belum memberikan ibuku kesembuhan. Kami sekeluarga tetap bersabar dan masih berharap Ibu dapat sembuh seperti sedia kala. Setahun kemudian kakak tertuaku, Sandra, menikah dengan seorang pemuda asal kota lain, ia juga seorang dokter yang bekerja di rumah sakit swasta terkenal di kotanya, Jakarta.

Pernikahan kakak tertuaku membuat kami sekeluarga senang dan bahagia. Setelah menikah, kakak tertuaku tidak lagi tinggal bersama kami, ia tinggal bersama suaminya di kota suaminya tinggal. Aku merasa kesal dan sakit hati dengan kakak tertuaku, kenapa ia tidak membawa ibu yang sedang sakit untuk tinggal bersama mereka. Mereka berdua kan dokter, mereka lebih mengetahui bagaimana merawat orang sakit daripada aku yang hanya sarjana informatika. Kakak tertuaku tidak lagi membantu ekonomi keluarga kami lagi termasuk biaya pengobatan ibu, terpaksa kami menjual rumah yang telah kami huni selama belasan tahun ini. Setelah mendapat ijin dari semua, Ibu dan kakak-kakakku, kami akhirnya menjual rumah itu dan membelikanny sebuah rumah yang kecil di kota Solo dan untuk biaya pengobatan Ibu. Di rumah kecil dan mungil itu tinggal aku, kakak keduaku, Vero, dan ibuku yang sedang sakit. Aku masih beruntung aku masih mempunyai satu kakak lagi, yaitu kakak keduaku. Verolah yang mencukupi semua kebutuhan hidup kami sekeluarga, mulai dari pengeluaran rutin bulanan rumah sampai biaya pengobatan ibu yang sakit. Aku sedih melihat Kak Vero yang bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga. Aku masih kesal dan benci akan sifat kakak tertuaku yang tidak mau membantu lagi ekonomi keluarganya sendiri. Setelah aku bermusyawarah dengan kakak keduaku, Vero akhrnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaaan, tetapi saat ini dunia sedang mengalami krisis global banyak perusahaan-perusahaan yang mem-PHK karyawannya pasti akan sangat sulit bagiku untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan yang sesuai dengan apa yang aku mau. Hari demi hari aku mencoba untuk melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi aku belum juga mendapatkannya. Tidak jauh dari rumah ku ada sebuah rumah yang membuka home industri batik, walau hanya usaha home industri tetapi produk-produknya sudah dikenal di beberapa kota besar di negara ini. Aku datangi saja tempat tersebut dan mencoba meminta kepada sang pemilik untuk bekerja di sana, akhirnya aku diijinkan untuk bekerja di sana tetapi sang pemilik tidak dapat membayar aku dengan gaji yang besar. Walaupun dengan gaji yang kecil aku coba untuk menjalani pekerjaan tersebut dengan tekun dan penuh tanggung jawab. Aku bangga aku dapat membantu kakak keduaku, Vero, membiayai kebutuhan rumah dan biaya pengobatan Ibu. Walau dengan gaji yang kecil, aku bangga dan senang karena aku dapat menghasilkan uang dari jerih payahku sendiri. Aku tidak mengabari kakak tertuaku kalau aku sudah bekerja, percuma saja menurutku jika aku kabari Kak Sandra, pasti beliau akan marah karena aku tidak merawat ibuku yang sedang sakit. Di tempat ku bekerja saat ini, aku mendapat banyak pengetahuan mengenai bagaimana teknik membuat batik yang baik dan bagaimana strategi memasarkan produk-produk yang telah dihasilkan tersebut. Dua tahun aku bekerja di home industri tersebut aku diberi kepercayaan oleh sang pemilik untuk mengurus usahanya di luar kota karena menurut sang pemilik aku sudah menguasai mengenai batik dan aku dinilai memiliki jiwa berwirausaha yang baik. Tetapi aku tidak dapat menerima kepercayaan yang diberikan sang pemilik karena aku tidak mau meninggalkan kakak keduaku, Vero, dan ibuku yang belum pulih dari sakitnya. Sang pemilik marah dan kecewa akan keputusanku tersebut akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Setelah aku berhenti bekerja aku pun kembali merawat ibuku yang belum pulih dari sakitnya. Perlahan-lahan Ibu sudah mulai berangsur sembuh, beliau sudah dapat mengerakan kedua tangannya dan sudah dapat berjalan walaupun masih terbata-bata. Melihat itu aku pun

bersemangat untuk membuat ibuku sembuh seperti sedia kala. Kabar baik ini aku sampaikan ke kakak tertuaku, Sandra. Aku berharap beliau dapat datang menengok Ibu walaupun tidak harus menginap di rumah kami yang sangat kecil dan sederhana ini. Tetapi harapanku tak kunjung terwujud, kakak tertuaku tidak juga datang menengok Ibu di rumah, kakak tertuaku ingin kami yang datang mengunjungi beliau di sana. Kebencianku sangat memuncak mendengar beliau mengucapkan kata-kata itu. Akhirnya aku berniat dan bertekad dalam hati, suatu saat nanti jika ibu sudah sembuh dan dapat berjalan seperti sedia kala dan aku mempunyai uang yang cukup, aku akan datang menemui beliau di rumahnya. Aku tidak mengatakan niatku ini ke Ibu maupun ke kakak keduaku, Vero. Niatku ini akan kusimpan baik-baik di dalam hatiku. Kakak keduaku, Vero, akhirnya menikah dengan seorang pengusaha terkenal dari kota sebrang, Makasar. Di pernikahan kakakku Vero, kakak tertuaku datang. Ibu cukup senang melihat kedatangan kakak tertuaku, aku pun cukup senang walaupun masih terbesit sedikit kebencian di hatiku. Seperti kakak tertuaku, Sandra, setelah menikah Kak Vero tidak tinggal bersama kami, beliau tinggal dengan suaminya, jadi di rumah hanya ada aku dan ibuku. Walaupun kami hanya berdua tapi aku bangga dan bahagia karena Ibu sudah sembuh seperti sedia kala. Karena Ibu sudah sembuh aku menyatakan niatku kepada ibuku bahwa aku ingin membuka usaha batikku kembali yang dulu hancur, ditambah aku sudah cukup memiliki kemampuan dan teknik membatik yang baik yang kuperoleh selama dua tahun bekerja di home industri batik di tempat tinggalku. Ibuku ingin tinggal di kampung halamannya karena ia memiliki rumah yang sudah tidak dihuni lagi. Walaupun berat akhirnya aku ikuti saja kemauan ibuku. Rumah yang kami tinggali kami jual dan kami pindah ke kampung halaman ibuku di Pekalongan. Uang hasil penjualan rumah aku pakai untuk modal usaha batikku. Untuk memulai usaha ini aku tetap meminta doa restu dari Ibu dan kakak-kakakku yang tidak tinggal lagi bersamaku. Walaupun mereka sedikit pesimis dengan usahaku tersebut tetapi aku tetap optimis bahwa aku akan dapat menjalankan usaha batikku ini dengan baik dan sukses. Tahun demi tahun aku menjalani usaha ini, akhirnya aku dapat merasakan jerih payahku selama ini. Usahaku melesat pesat bak roket yang baru saja diluncurkan dari landasan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikanNya kepadaku dan aku sangat berterima kasih kepada ibuku karena beliaulah yang sangat mendorong dan memberi semangat untukku, untuk terus berjuang dan berusaha dengan keras. Terima kasih, Ibu.

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

Di Balik Kegelapan
Desember 31st, 2008 by Galuh

Rasanya baru sekejap membaca buku “ Menikmati Demokrasi “ karangan Anis Matta tiba– tiba alarm berbunyi tepat pukul tiga. Mataku membelalak kaget, secara reflek tanganku menghentikan bunyinya dengan memencet tombol jam kecil itu. Ternyata sudah satu jam terlewatkan dengan tidur. Seluruh badan terasa lemas, sore yang gelap, hujan tiada henti-hentinya sejak pagi. Ku menuruni tangga untuk melakukan sholat ashar, sejenak mataku tertumpu pada sesuatu yang harus segera diselesaikan, namun segera terabaikan begitu saja. Selepas shalat aku membuka kulkas di dapur dan pikiranku kembali bekerja ketika roti isi mampir di kerongkongan. Peristiwa yang kutangani memang tak kunjung selesai, harapan masih terus tumbuh, tidak hanya dengan tenaga manusia namun juga meminta bantuan pada Sang Pemilik Misteri “ Ya Allah tolong aku ! “ Sedetik kemudian aku berlari ke ruang kerja. Sengaja tempat ini berjauhan dengan kamar pribadi. Segalanya bisa error bila terus-terusan bergumul dengan masalah yang sulit untuk dipecahkan. Bagiku ketenangan hadir di kamar tidur jika diisi Al-qur’an dan buku-buku penyucian jiwa seperti karangan Aidh Al-qarni. Kadang sesekali buku yang sangat penting dibaca akan kubawa ke kamar. Tulisan di kertas yang ada di meja kerja ini bukan, ya bukan. Aku menenangkan diri dan menelpon seseorang. “ Ya Nen, ada apa ?” “ Ada hal yang harus dibicarakan, bisakah kita ketemu, Ten ?” Nen kode rahasiaku, nama sebenarnya Pusaka Ambarawa, nama yang unik kan ? Nen merujuk pada angka sembilan dari bahasa Inggris dengan pengejaan yang tak sesuai, menyusul angka sepuluh kepunyaan Pak Rudi sebagai kepala bagian penyelidikan di kepolisian pusat. Kami ambil sebagai satu kesatuan dari tiap puluhan. Letak angka sebelum Pak Rudi menjelaskan bahwa kerjaku melebihi bahkan mendahului polisi setempat, karena sebenarnya diriku adalah detektif swasta. Sesuai tempat dan waktu yang sudah ditentukan, mulailah terjadi diskusi antara aku dan Ten. Setiap orang mengurai kejadian demi kejadian dengan analisis masing-masing. Sebelumnya Sekitar lima bulan yang lalu telah terjadi pembunuhan di kediaman penyair terkenal di negeri ini. Semua geger saat peristiwa itu diberitakan. Wartawan baik elektronik maupun cetak berdesak-desakan memburu fakta dengan mengejar rating pemirsa dan pembaca. Pemerintah menyeru mengibarkan bendera setengah tiang. Polisi dengan semua personel berusaha mengamankan tempat sekaligus melakukan penyelidikan. Sehari setelahnya, para sastrawan mulai mendesak pemerintah melalui sharing dan aksi teatrikal untuk segera menemukan pelaku. Semuanya sibuk sampai-sampai para cenayang ikut ambil bagian dalam meneropong kejadian tersebut. Untuk yang satu ini membuatku geleng-gelang kepala. Praktek perdukunan memang subur di kalangan masyarakat. Di sisi lain keterangan para saksi belum menuju pada gambaran yang jelas, berita simpang-siur, sulit membedakan antara yang benar dan tidak. Ten otomatis terlibat karena menyangkut kredibilitas kepolisian dan kematian idola masyarakat bahkan hubungan dengan negara asing, karena mereka menjadikan karya penyair

tersebut sebagai referensi penting dalam pendidikan di sana. Namun selama empat bulan tidak menunjukan hasil yang posif, karena itulah aku menjadi orang super sibuk dibandingkan yang lain saat itu. Tugasku dimulai ketika dini hari Ten menelpon dengan tergesa-gesa. Beliau menginginkanku segera ke TKP. Ada perasaan enggan menggelanyuti, teringat akan sentimen dari beberapa anggota polisi. Wajar saja mereka seperti itu, tahun-tahun sebelumnya aku juga belajar dari tempat mereka. Selang beberapa waktu aku keluar dan mendirikan layanan detektif swasta. Sebenarnya hubunganku dengan Ten adalah rahasia dalam hal petunjuk dan analisis yang kulakukan, di luar itu hanya sekedar membantu. Namun para pembesar kepolisian kadang mendebat bahwa orang-orang dalam bisa melakukan tugasnya dengan baik. Kalau sudah begitu Ten akan menunjukkan kasus-kasus yang kupecahkan dengan briliant. Perlu digarisbawahi kalau aku hanya berada pada kasus tertentu saja. Otak yang sudah berusia 25 tahun ini berpikir keras untuk mencari benang merah antara dua kejadian. Pertama peristiwa pembunuhan sang penyair, seminggu kemudian hilangnya murid kesayangannya yang hanya meninggalkan sebuah surat. “ Kalian takkan melihat apa-apa, kecuali onggokan kamar kosong, hanya setetes perih di meja belajarku “ Mulanya kami membuat sekat antara dua kejadian tersebut, namun tidak bisa dipungkiri masalah ini berkembang hingga sekat itu terbuka. Surat tersebut kami tafsirkan bahwa kata “kalian” adalah ditujukan pada orang yang membaca surat tersebut dan “perih” berarti dirinya memang sedang sedih. Hal lainnya surat tersebut berada di atas meja belajar. Namun ada yang janggal, kata “kalian” ditulis dengan tinta merah, ada kebencian yang tersembunyi dan tertuju pada orang tertentu, tapi siapa? Kami belum menemukannya. Baru setelah mengulang tiga kali membaca, aku tersadar kalau petunjuk utama adalah ‘meja belajar’, bukan ‘di atas meja belajar’. Segera kolong-kolong yang ada di sana, mengecewakan, semua barang sudah dibawa ke kantor polisi. Hal ini tak bertahan lama, karena sesuai informasi dari Ten tidak ada barang yang mencurigakan. “ Kau bisa menemukannya Nen, aku percaya padamu. “ Perkataan Ten membuatku kembali ke kamar itu dan merogoh, mendobrak rangka meja hingga jemariku menyentuh di bagian bawah meja, ada kayu dengan ukuran kecil yang bisa digeser dengan sedikit keras, meluncur sebuah kertas. Aku menghela nafas, apakah ini tekateki lagi, pikirku. Ketika lembaran itu dibuka…. “ Sang fajar tiada henti menyiksa, penjaganya bertopang dagu, serigala penanda luka menganga Ada senyum di balik kegelapan “ “Astaghfirullah, puisi !” Aku tak bisa ambil pikir, anak berusia 15 tahun ini tidak memberitahukan dengan jelas bagaimana dan di mana sekarang dia berada.

Kami coba menghubugi seorang sastrawan lain untuk mengurai kalimat puisi tersebut, sedang aku dan Ten sibuk mencari hipotesis yang tepat pada pembunuhan itu sendiri. Pertama, adanya perampokan biasa, karena sejumlah uang, handycam dan laptop hilang, namun terpatahkan karena hanya kamarnya saja yang diobrak-abrik. Kedua, penyair ini dibunuh karena ada karyanya yang telah menyudutkan seseorang, namun hal ini menguap begitu saja mengingat negeri ini memberikan kebebasan berekspresi melalui seni. Sastrawan yang kami percaya muncul di tengah kesibukan dan pikiran yang buntu dengan membawa kabar tidak baik. Kata beliau, “ Makna ‘fajar’ adalah awal kehidupan, hari baru, pencerahan dan hari-hari yamg penuh tantangan. Namun disini ada kata ‘penjaga’ yang tak kuketahui maksudnya, adapula kata ’serigala’ dan ‘kegelapan’ yang keduanya memang berkaitan, tapi tidak dengan ’sang fajar’, kontradiktif.” *** Waktu menunjukkan pukul 16.30, hujan agak mereda. Tigapuluh menit yang lalu aku menemukan lintasan pikiran tentang surat kedua yang berada di atas meja kerjaku, kini dengan Ten aku memberikan analisis yang tak terduga sebelumnya. “ Mari kita mulai dari surat pertama. Sebenarnya kata ‘ kalian’ dalam surat itu merujuk pada orang-orang yang melakukan pembunuhan. Tiba-tiba ten menyela, “ Tapi bagaimana hubungan mereka dengan penyair, Nen ?!” “ Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya. “ Kulanjutkan dengan warna tinta merah pada kata tersebut adalah luapan kemarahan atau penggambaran darah orang terbunuh. Lalu ‘perih’ adalah rasa sedih yang mendalam namun dia juga tak mampu menceritakannya secara bebas. Karena itu dia tuangkan dalam surat kedua yang tak lain adalah petunjuk tersembunyi dengan harapan hanya orang-orang tertentu yang bisa menemukannya dan untungnya didapatkan oleh orang yang tepat. Isi dari surat kedua tak bisa ditafsirkan dengan bahasa puitis karena itu bukanlah puisi, tapi kode. Kode pembunuhan. “ Apa kau bercanda, Nen ?” “ Tidak, ini benar ! Pada rangkaian kalimat tersebut memiliki tingkatan pangkat atau struktur. Pertama ‘Sang fajar’ lalu ‘penjaga’ kemudian ’serigala’. Kata ‘fajar’ merujuk pada matahari dan dia tunggal, berarti hanya satu orang yang menempatinya dan dialah pimpinan pembunuhan tersebut. Alasan memilih istilah ‘fajar’, aku tak mengetahuinya. Lalu ‘penjaga’ adalah orang yang menjadi pendamping atau orang kepercayaan ’sang fajar’, namun dia hanya melihat peristiwa itu dengan tak memiliki ekspresi berlebih. Sepertinya pembunuhan adalah hal yang biasa disaksikannya. Untuk ’serigala’ tentunya tidak pernah sendiri, merekalah yang melakukan penyiksaan, pada tubuh penyair dapat ditemukan bekas-bekasnya dan satu luka menganga akibat tembakan di dada. Satu hal yang tak kuketahui adalah ’senyum di balik kegelapan’, entah bagaimana kata-kata ini merepresentasikan pada seseorang, yang pasti dialah yang sebenarnya menginginkan kematian penyair.”

“ Cukup Nen, semua itu bisa saja, tapi siapa sebenarnya mereka ini ?” “ Berhubungan dengan handycam. “ “ Maksudmu ?” Menilik kembali pada surat kedua, setiap akhir baris ada tanda koma, kecuali untuk baris terakhir, karena itulah aku mengambil kesimpulan dialah yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Untuk menjawab pertanyaan Ten berikutnya, aku menjelaskan bahwa dari awal ada kecurigaan yang timbul dari barang-barang yang dirampok.Uang hanyalah untuk mengelabui agar terkesan demikian. Barang yang sebenarnya mereka cari adalah handycam. Entah bagaimana, pasti ada data rekaman di sana dan untuk berjaga-jaga mereka juga mengambil laptop, khawatir apabila datanya telah ditransfer. Setelah analisisku selesai pembicaraan kami hentikan, rupanya Ten ingin memikirkannya dulu, lagipula maghrib telah lewat sepuluh menit yang lalu. Agak malam aku pulang ke rumah, kira-kira jam delapan. Ketika membuka internet dengan niat bersantai sebentar dan mengecek surat masuk ada yang membuatku fokus ke sana. “ Astaghfirullah, surat ancaman. “ Ada yang tidak ingin aku menyelidiki kasus ini, pasti berhubungan dengan pembunuh sebenarnya. Ada e-mail lain masuk. “ Subhanallah. “ Isinya tidak lain mengajakku bertemu, dia mempunyai informasi yang penting terkait pembunuhan. Siapa dia? Ketika kucek dua pesan tadi pengirimnya tidak sama, namun kukhawatirkan yang kedua adalah jebakan, karena itu aku mengirim pesan sebagai umpan, untungnya dia mengirim lima menit yang lalu dan tentunya masih menghadap komputer. Bukan main jawaban yang dikirim, ketika kutanya makna dari ’sang fajar’ dan ‘di balik kegelapan’. Dia menjawab dengan tepat sesuai hipotesisku, karena itu pertemuan segera dirancang. Tempat pertemuan kami di kafe. Hujan turun rintik-rintik, jam menunjukkan pukul 20.15. Sudah 45 menit berlalu, namun yang akan ditemui tak kunjung datang, malahan pelayan membawakan sebuah kotak kado berukuran kecil, katanya ada orang yang mau memberikan surprise padaku. Benarlah kejutan yang ada di dalamnya, sebuah CD berisi transaksi besar. Dengan penuh keyakinan CD itu dari pengirim e-mail sebelumnya, aku menghubungi Ten. Akhirnya terkuak siapa saja ’sang fajar’, ‘penjaga’, dan ’serigala’. Semuanya ada di film tersebut. Mereka adalah pembunuh yang disewa oleh ‘di balik kegelapan’. Hujan turun dengan deras akhir bulan ini. Ada e-mail yang masuk dan pengirimnya ingin bertemu, lagi-lagi pesan pemberi kado. Pertama aku merasa sangsi dia mau bertemu. Dan ketika dia menyatakan siapa dirinya sebenarnya, aku baru benar-benar mau percaya. Bocah 15 tahun dengan nama Randi. Tempat pertemuan kami awalnya di halte, setelah itu sesuai rencana berpindah ke kafe waktu aku mendapat kado. Baru sepuluh menit berlalu dari waktu yang sudah ditentukan, terlihat di seberang jalan ada orang yang akan menuju ke arah halte, dengan jelas aku tahu itu Randi.

Waktu ke rumahnya untuk melakukan interogasi ibunya memberikan fotonya. Namun ada yang aneh, di belakangnya ada dua orang yang membuntuti, dalam hitungan detik mereka meringkus Randi sebelum sempat menyeberang. Aku sangat bersyukur hujan tidak turun, dengan begitu aku yang menyeberang jalan dan mengikuti mereka dari belakang dengan langkah yang tak berisik. Rupanya mereka menuju mobil. Setelah mengingat plat mobil itu aku tetap berlari mengejar, untungnya mereka ke jalan besar sehingga dengan mudah aku menemukan taksi. HP Ten bisa dihubungi dengan mudah, karena nomer ini hanya antara diriku dengannya. Kujelaskan dengan singkat apa yang terjadi dan meminta segera dia bersama satuan polisi menyusul, sedangkan aku masih mengejar mobil itu dengan sesekali kumenghubungi Ten hingga di suatu tempat yang agak tinggi. Dari penglihatanku mereka berada di atas jurang, karena itu dengan cekatan aku keluar dari taksi dan menuju kesana. Satu hal yang ingin mereka lakukan adalah menjatuhkan Randi ke jurang. Berkat latihan karate bertahun-tahun, aku mengghampiri mereka dan menonjok salah satunya yang agak kurus. Satu orang lagi dengan perawakan besar langsung mendekap dan mengunci kedua tanganku sambil mengarahkan pisau ke leherku. Randi memukul kepalanya dari belakang. Pisau terlempar dari si Besar, senjata ini yang digunakan untuk membungkam Randi agar tak berteriak selama perjalanan. Ketika si Kurus bangkit langsung kutendang dadanya dengan kaki kanan. Randi tersungkur akibat pukulan si Besar, tak lama dia juga tersungkur di depan Randi akibat tendanganku. Setelah itu aku menghampiri si Kurus yang mencoba mengambil pisau, kubanting badannya dengan keras. Terdengar bunyi retak, ketika menoleh ternyata sopir taksi tadi telah menindih sambil mengunci tangan dan kaki si Besar, aku tersenyum padanya. Tepat satu detik Ten dan polisi datang. Setelah ditelusuri ternyata mereka adalah suruhan ‘di balik kegelapan’. Akan sangat runyam jadinya jika Randi mati, karena dia satu-satunya saksi mata pembunuhan tersebut. Randi menceritakan kronologis pembunuhan itu di kantor polisi. Gurunya, Warsito, penyair itu sebelum dibunuh menelpon Randi pada pukul 22.20. Dengan tergesa-gesa menyuruh untuk segera ke rumahnya, namun Randi menolak karena sudah terlalu malam. Jam enam pagi Pak Warsito di kediamannya menceritakan pada Randi bahwa handycam yang dibawanya merekam sebuah transaksi, namun tak pasti transaksi apa yang terjadi. “ Bagaimana bisa secara tak sengaja kalau beliau sendiri yang merekamnya ?” aku menyela. Penjelasan berikutnya menjawab pertanyaanku ini. Hari itu adalah waktu pencarian inspirasi untuk sebuah karya yang akan ditampilkan bulan depan. Ide bisa didapat di mana-mana dan pak Warsito ingin mendapatkan di pantai utara kawasan ini. Rupanya dataran yang beliau injak lebih tinggi daripada tepat transaksi, sedangkan kejadian itu kurang lebih berjarak lima meter. Bagian yang mengakibatkan keduanya tidak saling mengetahui adalah karena terdapat ceruk yang dijadikan tempat bersandar Pak Warsito. Namun sangat disayangkan, handycamnya ditaruh di sebelah kiri dengan fokus mengarah pada tempat transaksi. Rupanya hal ini dipergoki orang-orang itu sebelum Pak Warsito beranjak. Setelah menceritakan kejadian tersebut Pak Warsito menyerahkan copy kaset rekaman lewat CD, sedang yang asli tetap dibiarkan di handycam. Hal ini dilakukan bila suatu saat kelompok tersebut menemukan dirinya, Randi yang akan menjadi saksi. Pada pukul 06.30 ada orang menggedor pintu dengan keras. Cepat-cepat Randi disuruh naik ke langit-langit tertutup dengan membawa sepatu yang sedari tadi diperintahkan untuk dibawa ke dalam, mungkin sebelumnya firasat pak Warsito sudah buruk. Maka kejadian pembunuhan dengan kejam itu disaksikan Randi dari balik celah langit-langit dengan ngeri.

Selebihnya semua hipotesisku benar, sedang kiasan dua orang yang dimaksud dalam surat Randi tidaklah terlalu sulit yang dibayangkan. Kata ’sang fajar’ digunakan karena orang itu menggunakan kalung berlambang matahari dan ’senyum di balik kegelapan’ adalah orang yang menggunakan tudung kepala, dan senyumnya terlihat karena Randi melihat agak ke samping namun wajahnya tak terlihat. Ketika kutanya selama ini berada di mana, jawabannya sangat praktis. “ Di rumah teman yang dapat dipercaya. “ Orang ‘di balik kegelapan’ adalah pejabat tinggi negara yang pada saat itu melakukan penyuapan terhadap ketua hakim yang menangani kasusnya terkait masalah korupsi. Hal ini mengingatkanku pada buku “Menikmati Demokrasi”. Menurutku demokrasi takkan berjalan mulus jika masih ada praktek korupsi di negeri ini. Ingatanku beralih pada puisi yang ditulis sahabat karib dengan judul “ Aku Tersungkur “. Tak lagi cerdas generasi ini, pendidikan telah terkorupsi Tak lagi bersih hati ini, agama telah coreng-moreng Tak lagi sehat badan ini, kesehatan berbalik jadi pesakitan

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

Tunggu dan Saksikan Aku, Ayah!
Desember 30th, 2008 by Queen Aqilah

Aku ingin jadi dokter ! Kuteriakkan mimpi itu sekencang-kencangnya dalam hati. Jadi dokter itu menyenangkan, bisa membantu banyak orang. Setiap guru sekolah menanyakan tentang cita-cita, pasti aku akan berteriak lantang, “Jadi dokter, Bu ! “ Aku tidak tahu kapan aku mulai bercita-cita menjadi dokter. Yang kutahu, aku sangat suka melihat warna putih rumah sakit, seprainya Yang selalu baru tiap hari, susternya yang cantik, dan bau obat yang membuatku pusing tapi terasa nikmat. Jika ayahku mengajakku pergi ke rumah sakit tempat ia bekerja, aku tak kan bisa melepas senyum dari bibirku. Yang paling kusuka dari rumah sakit ayahku, adalah taman bunga di samping sungai jernih yang membelah sepertiga bagian dengan dua pertiga bagian yang lain. Aku selalu ingat ayah berkata, “Kau harus punya impian.“ ”Kenapa ? “ tanyaku. Ayahku tersenyum dan balik bertanya, “Kau suka kejar-kejaran ?” Dengan rasa bingung kujawab, “Suka sekali, Ayah!” “Nah, mimpi itu harus ada untuk kau kejar,” terang Ayah. Mimpi untuk dikejar? Apa harus begitu? Kenapa kejar-kejaran? Banyak pertanyaan menjejali pikiranku. Saat itu aku masih TK kecil, belum begitu mengerti nasihat ayah. Tapi sekarang aku sudah TK besar. Aku sudah mengerti, maksud Ayah aku harus bisa jadi dokter apapun yang terjadi, karena itu impianku. Kalau ada orang yang menghalang-halangi, maka orang itu akan kukejar sampai dapat. Pasti begitu maksud Ayah. Aku yakin! Apapun dan siapapun tak akan menghalangiku jadi dokter. “Aku ingin jadi dokter!!” Aku berteriak kencang sekali di kebun belakang. “Cica, kenapa teriak-teriak?” tanya Ibu dari dalam. “Ibu mau ke mana?” Kulihat ibuku rapi sekali. “Mau ke rumah sakit, imunisasi Adik.” “Aku ikut!” “Memang harus ikut, nanti kita ketemu Ayah di sana.” “Asyik!!!” sorakku girang. Ayahku di Rumah Sakit. Bukan sebagai dokter tapi sebagai peramu obat atau apo..tek..ker, ya! Apoteker! Jadi semua orang di rumah sakit tahu kenal dengan ayahku. Setidaknya meurutku. ********** Cat rumah sakit putih bersih. Aku duduk di ruang tunggu bersama Ibu dan adikku. Di sana banyak anak kecil seumuran adikku. Mungkin mau imunisasi juga. Kulihat seorang dokter muda memasuki ruangan di sebelah ruang tunggu. Kubaca tulisan yang ditempelkan di pintunya, RUANG IMUNISASI. Hey! Sepertinya Ayah juga di dalam!

“ Ibu, Cica ketemu Ayah dulu, ya?” “ Ya, kabarkan sekalian kalau Ibu sudah datang.” “Siap!” teriakku seraya berlari. “Ayah!” panggilku. “Hey, kau sudah datang rupanya. Mana Ibu?” “Duduk di ruang tunggu.” Lalu akau dikenalkan sekilas dengan dokter muda teman Ayah. Tidak ada yang menarik perhatianku pada dokter itu kecuali stetoskop yang menggantung di lehernya. Setelah itu mereka berbincang-bincang lagi. Sepertinya membicarakan hal penting. Kutinggalkan mereka demi mengamati seluruh ruangan imunisasi. Wah, banyak obat yang keren dan suntikan yang berwarna-warni. Pasti untuk imunisasi. Imunisasi? Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa itu imunisasi. Pandanganku beralih pada meja kerja di ujung ruangan. Sebuah kursi empuk bertengger di belakangnya. Sepertinya sangat empuk untuk diduduki. Aku berjalan mendekat. Kupandangi meja yang mengagumkan itu. Di atasnya ada setumpuk kertas-kertas yang disusun rapi, sebuah buku yang besar sekali, pulpen, dan segelas air putih. Perlahan kudekati kursi, kubayangkan aku duduk di sana, dengan senyuman ramah orang-orang mengadukan keluhan padaku, dan aku membantu menyelesaikannya. Ah……pasti menyenangkan sekali. Mataku bertumbuk pada sebuah suntikan di antara suntikan berwarna-warni. Suntikan itu terlihat lebih ramping daripada yang lainnya. Ia terlihat menawan tapi sedikit menakutkan dengan jarum yang tajam dan cairan bening di dalamnya. Tiba-tiba ide cemerlang terbersit di pikiranku. Kalau mau jadi dokter, harus bisa pegang suntikan! Ya, harus! Senyumku menyeringai licik. Kuambil satu suntukan berisi cairan bening itu. Kupegang seperti memegang tongkat. Entah darimana ide gila ini datang. Gila? Bukan! Ini ide hebat, hebat sekali! Dadaku berdegup kencang, keringatku keluar malu-malu karena udara dingin. Aku seperti baru saja memulai petualangan menegangkan. Aku degdegan! Seketika hatiku berteriak, Ayo!!! Sontak ku berlari ke arah ayahku yang sedang berdiri membelakangiku. Dekat… dekat …semakin dekat … dan…… “Uaoww!!!!” Ayah berteriak. Kutangkap roman kesakitan dan kaget setengah mati dari wajah ayahku. Apa yang kulakukan? Aku berhasil, berhasil menyuntik Ayah. Lihat, suntikan itu masih menancap di pantat ayah! Tapi sayang, cairan putihnya tak mau masuk ke pantat ayah. Aku belum bisa caranya. Aku akan berlatih lagi. Tapi aku kasihan melihat Ayah, apa Ayah menderita? “Apa yang kau lakukan?” bentak Ayah sambil mencabut suntikan itu. Beliau meringis kesakitan sambil mengelus pantatnya. Kulihat celana dinasnya yang putih ada setitik noda darah. Entah kapan datang, Ibu sudah berdiri di belakang Ayah. Ayahku mengangkatku seperti menjinjing tas. Ibuku mengikuti di belakang bersama adikku. Sepintas masih kulihat Ayah mengelus-elus bekas suntikan yang kubuat. Pasti tak percaya kalau aku yang melakukannya. Ayah takjub kurasa. Ketika melewati koridor, orang-orang

memandangku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Seperti tatapan Ibu saat aku jatuh dari sepeda. Apa yang mereka pikirkan? Kenapa memandangiku? Menurutku pikiran mereka berkata begini, “Wah…..hebat sekali anak kecil itu, pemberani, sudah bisa menyuntik pula.” Ayah ibuku membawaku ke ruang kerja Ayah. Lalu aku dimarahi habis-habisan. Sepertinya aku membuat kesalahan. Ya, aku berbuat kesalahan tapi rasa berdebarku setelah berhasil menyuntik membuatku tak lagi memperhatikan kedaan sekelilingku. Ayah ibuku berteriak bersahut-sahutan sambil memelototiku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Suara mereka seperti alunan Nasyid Raihan. Maksudnya, Ayah vokal utama dan Ibu backing vokal. Kucoba memahami yang mereka katakan, tapi yang terdengar hanya suara jantungku yang berdegup kencang. Aku pasti berbuat salah, aku yakin! Tapi apa? Mungkin ayah marah karena cara menyuntikku yang salah, mereka malu. Namanya juga latihan. Tapi tak apa! Yang penting aku tetap bisa jadi dokter. Ayah tidak melarangku. Yang penting aku harus terus belajar dan berlatih. Aku harus jadi dokter! Aku tahu nanti Ayah akan membimbingku. Nanti kalau aku sudah bisa menyuntik dengan benar, Ayah pasti senang. Tunggu aku Ayah, tunggu aku jadi dokter.

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

KUMPULAN CERITA PENDEK

TUGAS BAHASA INDONESIA

DISUSUN :

RIFKY EKA PRATAMA KELAS 7C SMPN 30 BANDUNG

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->