100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
796 tayangan8 halaman

Harapan Palsu

1) Cerita ini menceritakan perjalanan cinta seorang perempuan bernama Rani dengan teman sebangkunya bernama Aksa. 2) Perlahan-lahan Rani mulai menyukai Aksa karena sifatnya yang dingin namun perhatian. 3) Aksa juga mulai menunjukkan ketertarikannya pada Rani dengan cara mengajaknya mengobrol dan bercanda.

Diunggah oleh

Raihan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
796 tayangan8 halaman

Harapan Palsu

1) Cerita ini menceritakan perjalanan cinta seorang perempuan bernama Rani dengan teman sebangkunya bernama Aksa. 2) Perlahan-lahan Rani mulai menyukai Aksa karena sifatnya yang dingin namun perhatian. 3) Aksa juga mulai menunjukkan ketertarikannya pada Rani dengan cara mengajaknya mengobrol dan bercanda.

Diunggah oleh

Raihan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HARAPAN PALSU

Oleh: Rr. Avrili Tifania Anisah Putri

“Yaudah terserah kamu aja, cukup dengan semua omong kosong dan harapan yang
selama ini kamu kasih ke aku.”
Itulah kalimat terakhir yang ia katakan kepadaku sebelum singgasananya dihatiku
runtuh.
Aku Rani. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah mengkuti ujian
kenaikan kelas. Dengan seragam yang lumayan rapi aku melangkahi kaki-ku di lobby
sekolah. Menyusuri lorong mencari daftar kelas baru. Tepan didepan ruangan TU aku
melihat daftar tersebut, setelah ku telusuri satu persatu akhirnya aku menemukan
ruangan kelas ku. Tahun ini anak-anak dari berbagai macam kelas dicampur dan
dijadikan dalam satu kelas. Saat aku sampai didepan pintu kelas dapat kulihat wajah-
wajah yang sedikit asing dimata-ku. Sial nya aku dapat bangku yang paling belakang
dan dipojokan haha whatta good day. Setelah bel masuk berdering semua murid-murid
mulai menduduki bangkunya, anehnya murid yang duduk sebangku denganku belum
datang juga.
Karena ini hari pertama jadi guru yang masuk pertama kali adalah walikelas-ku, ia
sedang memperkenalkan dirinya, bercerita tentang masa-masa sekolahnya dahulu. Saat
sedang asik-asik medengarkan walikelas ku bercerita tiba-tiba seseorang mengetuk
pintu kelas dan langsung membukanya dengan agak keras sampai-sampai walikelasku
ini terkejut.
Lalu muncul lah sesosok laki-laki yang kalau diukur kira-kira tingginya sekitar 175-an
dan ia mengenakan jaket jeans hitam. Lalu ia menyusuri depan kelas untuk salim ke
walikelas dan ternyata ia berjalan kearahku dalam pikiranku pasti ini anak yang duduk
sebangku denganku dan yap benar dugaan ku yaa orang udah nggak ada bangku lagi
sih jadi jelas-jelas dia akan duduk disampingku. Dengan terengah-engah ia duduk
disampingku tiba-tiba ia langsung menjulurkan tangannya kepadaku.
“Hai nama gua Aksa.”
“Hi”
“Nama lu siapa?”
“Nama aku Rani”
“Ohh ok ok Rani ya”
“Iyaa”
“Ngomong-ngomong dia walikelas disini?”
“Iya namanya Bu Sunarni”
Dan tak terasa bel istirahat pun berbunyi si Aksa pun langsung bergegas menuju ke
kumpulan teman-temannya. Aku pun menuju sahabatku yang untungnya dia juga
kedapatan kelas ini, namanya, Dessy. Aku dan Dessy ini sudah bersahabatan sejak kita
kecil. Dessy punya kepribadian yang bias dibilang terbalik dariku dia adalah orang
yang gabisa diem dan easygoing ke siapapun. Aku dan Dessy langsung bergegas ke
kantin agar tidak keburu ramai.
Setelah selasai makan bel masuk pun berbunyi. Aku dan sahabatku pun langsung
kembali ke kelas. Pelajaran selanjutnya adalah bahasa Indonesia pelajaran yang paling
aku hindari bukan karena nggak suka tapi bikin ngantuk. Aku telah duduk dibangku-
ku, Aksa pun sudah kembali ke bangkunya. Setelah selang lima menit gurunya belum
datang juga akhirnya akupun berinisiatif untuk mengeluarkan hp-ku. Aku mengecek
line-ku, tanpa berucap apa-apa teman sebangku-ku ini tiba-tiba merebut hp-ku.
“Sini gua add line gua.”
Aku terdiam dan anehnya hatiku sedikit berdegup. Karna bagaimana dia bias tau kalau
aku ingin menanyakan nomor telepon dan id line-nya.
“E-eh iya…”
“Nih udah.”
“O-ok ok makasih”
Pintu kelas pun terbuka dan munculah seorang bapak-bapak yang aku yakini ia adalah
guru bahasa Indonesia-ku. Ia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum
memulai pelajarannya. Saat ia menjelaskan materi suaranya sangat halus dan pelan
yang sialnya membuatku mengantuk. Untungnya aku membeli air mineral saat istirahat
tadi. Tapi air mineral cuma menjagaku agar tetap terbangun beberapa menit saja.
Mataku mulai tidak bisa menahan kekantukan ini dan kepalaku mulai terangguk-
angguk. Samar-samar aku mendengar suara tertawa. Karna takut dan penasaran
akhirnya aku melihat ke samping dan benar ternyata si Aksa menertawaiku. Karna
malu, aku merasakan muka-ku memanas dan memerah.
“Semalem gak tidur ra?”
“Tidur kok tapi jam 1 hehe.”
“Pantesan.”
“”
Bel pulang pun berbunyi. Aku merapihkan buku-buku yang berserakan diatas mejaku.
Setelah bergegas keluar dari kelas seseorang pun menepuk bahu-ku, ya itu si Aksa lagi.
Dengan memakai jaket jeans hitamnya ia berjalan disampingku dengan pandangan
kedepan.
“Ra lu pulang kemana?”
“Pulang kerumah lah”
“Maksud gua lu pulang itu mampir kemana dulu gitu?”
“Ohh enggak aku mau langsung pulang aja.”
“Padahal gua mau ngajak lu ngerjain tugas bareng di café deket perempatan itu.”
“Yah maaf ya aku harus pulang sebelum maghrib kalo enggak aku kena omel sama
mama aku.”
“Yaampun anak mama. Yaudah nanti gua line lu aja ya bantuin gua ngerjain tugas.”
Aksa pun berjalan kearah parkiran dan ternyata ia membawa motor kesekolah. Setelah
aku berjalan sampai di pintu gerbang sekolah tiba-tiba dari belakang ada suara bel
motor yang mengagetkanku. Ternyata itu motornya Aksa.
“Duluan ya ra” sambil membuka kaca helm ia tersenyum kepadaku.
“Iyaa!” yang mungkin tak terdengar olehnya karena ia sudah melaju keluar sekolah
dengan cepat.
Hari pun berlalu dengan cepat tak terasa sudah malam saja. Aku menyiapkan buku-
buku dan tugas untuk esok hari. Ponsel ku pun berbunyi. Ternyata Aksa tidak lupa
dengan ucapannya tadi yaitu untuk memintaku mengerjakan tugas bersamanya. Aku
pun membalas dan membantunya.
“Makasih ra udah bantuin gua”
“Iya sama-sama”
“Udah sana tidur nanti ketiduran lagi lu di kelas haha”
“Iya-iya aku tidur”
“Ok, bye”
“Bye.”
Hari-hari pun berjalan normal seperti biasa. Lambat laun ada perasaan aneh dihati ini.
Aku pun berpikir apakah aku mulai tertarik dengan Aksa? Atau aku hanya tertarik
dengan kepribadiannya saja yang cenderung dingin? Aku tak tau dan aku akan mulai
mencari tau.
Malam ini adalah malam minggu, aku dan keluarga memang sedang tidak pergi
kemana-mana. Karna bosan akhirnya aku menge-chat sahabatku Dessy. Kali ini aku
ingin membahas perasaanku dengan Aksa kepada Dessy. Dan ternyata sahabatku ini
juga sudah lama bersahabat dengan Aksa. Dessy menceritakan tentang Aksa kepadaku.
Ternyata Aksa adalah anak yang popular disekolah, ia mengikuti ekstrakulikuler futsal
disekolah.
Lambat laun perasaan ini semakin nyata. Sepertinya aku menyukainya.
Aku, Dessy dan Aksa mendapatkan kelompok yang sama. Dan lelaki di kelompok ini
hanya ada dia. Aku satu kelompok juga dengan gadis yang ku tau adalah murid yang
cukup popular juga di sekolah, ia sangat cantik karena itu mungkin dia menjadi populer
disekolah. Saat sedang mengerjakan tugas kelompok bersama, kulihat Aksa dan gadis
populer tersebut sedang mengobrol dan bercanda layaknya hanya ada mereka berdua
di kelas ini. Detik ini juga aku merasakan sakit dihatiku, apakah ini artinya aku benar-
benar menyukainya?
Aksa ternyata melihatku sedang melihat ke arahnya dan gadis tersebut, aku langsung
mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tak terasa ternyata aku memasang ekspresi
muka yang sedikit kecewa. Dari jauh Dessy ternyata memperhatikanku yang sedang
melihat kearah Aksa. Dan sepertinya ia tau bahwa aku cemburu akan hal itu.
Dessy tau bahwa Rani menyukai Aksa, ia pun berinisiatif memberi tahu Aksa sedikit
demi sedikit bahwa Rani menyukainya, tanpa sepengetahuan Rani.
“Sa lu sebenernya nyadar gak sih kalo ada orang yang suka sama lu?”
“Kayaknya gua tau deh, tapi gatau pasti.”
“Menurut lu siapa?”
“Pokoknya yang gua tau ada seseorang yang dari lama udah memperhatikan gua dan
kayaknya gerak-geriknya juga ketauan kalo dia tertarik sama gua. Emangnya lu tau
siapa dia?”
“Udah pokoknya gua itu cuma ngasih tau lu kalo ada seseorang yang suka sama lu.”
Hari ini aku merasakan keanehan pada Aksa, dia selalu mengajakku berbicara. Dari
pembicaraan tentang hobi, hewan peliharaan, sampai hal-hal yang kurang jelas lainnya.
Aku adalah perempuan yang introvert jadi maklum kalo diajak orang ngomong suka
deg-degan, apalagi sama orang yang aku suka. Saat kita mengobrol tentang hewan
peliharaan ternyata aku dan Aksa sama-sama punya kucing. Dia bercerita kalo dia
punya kucing Persia, sedangkan aku Himalaya.
Setelah pulang les dan sampai rumah aku bergegas untuk mengganti seragamku
menjadi baju tidurku. Tiba2 ponselku berbunyi, aku mendapatkan notif dari Aksa.
“Ra tadi lu bilangkan kalo lu udah melihara kucing dari lama?”
“Iya sa, kenapa?”
“Gua mau nanya dong, kucing gua kan bulunya rontok nih trus gimana biar gak rontok
lagi?”
“Coba diliat dari makanannya ada yang salah gak terus sama sabun buat mandiinnya
siapa tau nggak cocok kan.”
“Ohh ok ra.”
“Iya.”
“Ngomong-ngomong lu emang ngomong aku-kamu atau karena kita emang baru
kenal?”
“Aku emang ngomong aku-kamu dari dulu sa soalnya dulu kan aku besar di Jawa tuh
jadinya aku gatau lu-gua an ”
“Oh gitu. Kan gua ngomong sama lu pake gua elu nih jadi gak enak, gua ngomong
sama lu pake aku-kamu aja ya”
“Yaampunn gapapa kali”
“Udah biarin gapapa aku gak enak sama kamu”
Disaat ini hatiku berdetak kencang, perasaan apa ini padahalkan dia cuma mengganti
perkataannya aku-kamu aja. Tapi hanya kepadaku.
Hari ini tumben sekali Aksa meneraktirku mie ayam di kantin. Dessy hari ini tidak
masuk jadi Aksa mengajakku makan dikantin berdua. Setiap hari aku dan Aksa
semakin dekat. Saat aku dan Aksa makan di kantin, teman Aksa datang kepada kita.
“Cie… pj nya yaa jangan lupa haha”
“Iyaa tenang aja.” Kata Aksa
Aku terpatung dan aku langsung menatap Aksa dengan muka penuh dengan tanda
Tanya.
“Sa kamu bilang apa barusan?!”
“Udah biarin aja” jawabnya sambil ketawa kecil.
Setiap malam aku dan Aksa berbicara melalui ponsel mau itu telepon ataupun sekedar
chat.
“Ra sebelum tidur aku mau Tanya deh”
“Tanya apa?”
“Apa bedanya Le Minerale sama kamu?”
“Hah apaan?”
“Sama-sama ada manisnya.”
“Apaansih udahlah sana tidur, night aksa” dalam pikiranku yang ada sepertinya aku
tambah tidak bisa tidur.
“hahaha night ra” walaupun lewat chat tetapi aku bisa membayangkan suaranya.
Hari-hari pun bergulir dengan cepat tak terasa kini aku telah berumur tujuh belas tahun.
Setelah sekolah selesai aku mengajak aksa dan Dessy untuk ke café yang biasa kita
kunjungi untuk ku traktir karna hari ini adalah hari ulang tahun ku. Kita mengobrol dan
bercanda sambil makan pesanan yang telah kita pesan. Dessy pulang duluan karna ia
mempunyai urusan keluarga yang akhirnya tersisa aku dan Aksa. Bingung topik
apalagi yang harus dibicarakan sedangkan makanan juga sudah pada habis akhirnya
kita hanya memainkan sendok dam garpu kita sambil menunggu ada yang berbicara
diantara kita. Akhirnya Aksa pun berbicara.
“Ra aku mau ngasih hadiah nih”
“Manaa?”
“Tapi lupa aku bawa”
“Ya terus kenapa ngomong aksan”
“Ya orang hadiah nya ucapan bukan barang”
“Hah ucapan?”
“Iya ucapan, mau tau?”
“Apa?”
“Kamu mau nggak…”
“Mau apaa?”
“Sini aku bisikin aja soalnya ditempat umum malu”, lalu aku mendekatkan telingaku
kepadanya.
“Jadi pacar aku.”
Aku langsung terduduk kembali ke kursi ku dan berfikir aku harus menjawab apa.
Akhirnya aku mencari alasan untuk pulang. Aksan pun heran.
Didalam perjalanan pulang aku hanya bisa melamun.
Dalam hatiku…
“maaf ya sa bukannya aku tidak menyukaimu, tapi aku hanya ingin mematuhi kedua
orangtua ku saja.”
Orangtua-ku sangat disiplin terhadap anaknya terutama masalah yang seperti ini. Karna
aku sangat mencintai mereka maka dari itu akan kuturuti perkataan mereka. Tetapi kali
ini aku berfikir bagaimana nanti perasaan Aksan terhadapku?
Pada malam hari setelah kejadian sore tadi Aksan menge-chat ku lagi.
“Ra gimana? Udah dipikirin belum jawabannya?”
“Hmm gimana ya sa”
“Ra aku mau tanya sebenernya kamu juga suka kan sama aku?”
Disini aku berfikir bagaimana Aksan bisa mengetahui bahwa aku suka dengannya. Ah
iya pasti karena Dessy memberitaunya. Aku pun langsung bertanya kepada Dessy
“des kamu kasih tau ke aksan ya kalo aku suka sama dia?”
“haha iya ra abisnya aku kasian sama kamu. Pasti kamu chat aku karna aksan nembak
kamu ya?”
“lah kok tau?’
“jadi tadi sore tuh aku bukan pulang karna acara keluarga tapi aku sama aksan udah
janjian kalo dia itu mau nembak kamu dan aku duluan pulang deh”
Pantes aja dari tadi sore aku sudah mencium aroma-aroma keanehan. Akhirnya aku
balik lagi ke ruang chat-ku dengan Aksa.
“Sa kamu tau dari Dessy ya kalo aku suka sama kamu?”
“Iya untung aja aku tau, sayang banget kan kalo aku gatau ada perempuan cantik yang
suka sama aku.”
“Ih apaansih sa” yaampun tanganku sudah tidak kuasa mengetik ini semua.
“Ra kalo kamu belum mau pacaran sama aku akan ku tunggu sampai kamu mau kok
tenang aja ok”
“Maaf ya sa aku belum bisa kasih kepastian sama kamu”
Setiap haripun Aksa selalu memberitahu ku perasaannya bahwa ia menyukaiku bahkan
mencintaiku. Begitupun aku. Tapi bodohnya aku yang tak pernah memberikan
kepastian kepadanya.
Tak terasa sekarang sudah dipenghujung semester dan sebentar lagi aku akan lulus dari
sekolah ini. Sedangkan aku dan Aksa hanyalah sebuah hubungan yang tak punya arti
apapun. Dan sepertinya Aksa pun lelah memberitahuku bahwa dia mencintaiku tanpa
memiliki-ku.
“Ra aku mau tanya sebenernya kita ini apa?”
Itu adalah kata-kata yang ia selalu tanya kepadaku. Aku juga sudah menjelaskannya
bahwa aku bukan tidak menyukainya atau mencintainya tetapi aku tidak bisa. Setelah
acara graduation tibalah libur panjang. Setelah liburan ini aku dan Aksa pasti sangat
jarang bertemu kara mungkin kita akan berbeda universitas. Apalagi aku dan dia tidak
mempunyai hubungan yang pasti. Disaat liburpun Aksan tetap menghantuiku dengan
pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia tanyakan.
“Ra…”
“iyaa?”
“Kayaknya aku udah gak sanggup untuk menyukaimu tetapi tidak memilikimu. Maaf
ya ra. Biarkan aku mengucapkan aku mencintaimu untuk terakhir kalinya, bye Rani.”
Ya mungkin ia mengerti bahwa aku dan dia tidak bisa saling memiliki. Atau apakah
aku memang tidak pantas memiliki seseorang yang tidak bisa menunggu ku?

Anda mungkin juga menyukai