Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, yang merupakan integrasi

Rancangan Renstra SKPD yang berisikan program dan indikasi anggaran yang berorientasi pada fungsi dan sub fungsi pembangunan serta berpedoman kepada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta mengacu pada Perda No 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah. Tahapan penyusunan RPJMD ini telah dilaksanakan melalui beberapa proses kegiatan dengan hasil yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Selanjutnya penyusunan rancangan RPJMD ini merupakan hasil dari Musrenbang Jangka Menengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2006, untuk menerima masukan dan sumbang pemikiran dari stakeholder. Terdapat beberapa masukan berarti dalam Musrenbang tersebut yang telah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ini. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ini dapat kami selesaikan.

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung Kepala,

Drs. H.R. Wahyu, G. P. SH, M.Si. PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 480 067 477

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa pemerintah daerah yang telah memiliki kepala daerah hasil pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 ( lima ) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan terpilihnya Kepala Daerah Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2010 secara demokratis yang dilakukan oleh rakyat secara langsung, dan telah dilantik Kepala Daerah pada tanggal 5 Desember 2005 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32-1040/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan H. Obar Sobarna S.Ip sebagai Bupati Bandung 2005-2010, dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.32-1041/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian Drs. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati Bandung 2000-2005 dan Pengesahan Pengangkatan H. Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Bupati Bandung 2005-2010. Sehingga kepala daerah terpilih harus menyusun RPJMD Kabupaten Bandung tahun Dokumen RPJMD

2005-2010, karena dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Kabupaten Bandung 2005-2010 ditetapkan oleh peraturan daerah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah terpilih dilantik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan bersifat iindikatif sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung tersebut mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh

BAB I Pendahuluan

I-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencananaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJPD Kabupaten

Bandung (sedang dalam penyusunan) dan memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi Jawa Barat (Renstra Pemerintah Provinsi Jawa Barat), serta sumber daya yang tersedia di daerah Kabupaten Bandung. Tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan

Pembangunan Daerah. RPJMD ini selanjutnya menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan oleh seluruh perangkat daerah, yang secara substansial memuat rencana kerja, program dan indikasi kegiatan yang bersifat terukur dan dapat dilaksanakan dengan

mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Pasal 25 Ayat (1) dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 69 Ayat (2).

1.2.

Landasan Hukum Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, landasan

hukum yang menjadi dasar pertimbangan penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

BAB I Pendahuluan

I-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penylenggaraan Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga; 11. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 13. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bandung. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 8 Penyusunan Perencanaan Pembangunaan Daerah. Tahun 2005 tentang Tata Cara

1.3. Maksud Dan Tujuan 1.3.1. Maksud Berdasarkan pertimbangan di atas, RPJMD ini disusun dengan maksud sebagai berikut: 1. Menyediakan dokumen RPJMD Tahun 2005 – 2010 sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat dalam menentukan prioritas

BAB I Pendahuluan

I-3

yaitu selain memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi/ Renstrada Provinsi Jawa Barat dan dokumen RPJPD Kabupaten Bandung (dalam tahapan penyusunan). juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun Kabupaten Bandung. Tujuan Tujuan dari Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 adalah: Merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD. 1. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pembangunan tahunan daerah. 1. 2.2. terarah dan terukur. Merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih. Tata Guna Lahan.4. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pememerintah daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu. yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 20 tahunan.3. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan. Arah kebijakan umum Kabupaten Bandung untuk 5 (lima) tahun kedepan. Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD. Lingkungan Hidup dan Sumber daya yang terdapat di Kabupaten Bandung. perlu memperhatikan arah kebijakan nasional maupun propinsi. agar dalam perencanaan maupun pelaksanaanya dapat sinkron dan sinergis dengan arah kebijakan nasional BAB I Pendahuluan I-4 . serta masyarakat untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program kepala daerah selama lima tahun.

Pengembangan Kebudayaan yang berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara. Terwujudnya masyarakat. 3. Ketertiban. bangsa. dan negara yang aman. Pencegahan dan Penangulangan Separatisme. ditetapkan Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. Dan untuk mencapai agenda (2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis. 2. Agenda Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009 Berdasarkan permasalahan. dan hak asasi manusia. tantangan. Terwujudnya kehidupan masyarakat. BAB I Pendahuluan I-5 . Peningkatan Keamanan. serta keterbatasan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. yaitu: 1. Dan Penanggulangan Kriminalitas. negara yang menjunjung tinggi hukum. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Berikut ini arah kebijakan nasional yang mengacu pada RPJM Nasional tahun 2004-2009. rukun dan damai. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk.1. serta 3. Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebut ditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. 2. 2. 6. Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera Untuk mencapai agenda (1) Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai tersebut. Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 2. bersatu. 1. 5. yaitu : 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung maupun propinsi. kesetaraan. Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat. bangsa. dan Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2008 (RPJMD Propinsi Jawa Barat belum disusun). Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme. 4.4. Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Nasional. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 7.

ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80 pada tahun 2010. 12. 10. Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. 14. 5. 6. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. 5. 6. yaitu ” Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Provinsi termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010”. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah. Peningkatan Pengelolaan BUMN. Penanggulangan Kemisikinan. dan penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia. 3. 17. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama. 9. Kecil dan Menengah. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1. 7. 13. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas. Revitalisasi Pertanian. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 4. 11. Selanjutnya untuk mencapai agenda (3) Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera tersebut. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial. Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa. Visi Provinsi Jawa Barat. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro.2 Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat Berdasarkan revisi Renstra Jawa Barat. Percepatan Pembangunan Infrastruktur. Pengakuan. 8. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan.4. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. BAB I Pendahuluan I-6 . 2. target tersebut dirasakan sulit tercapai. Penghormatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Pembangunan Perdesaan. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 1. sosial. 4. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur. Kondisi politik. Berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2001 dan 2002. 16. 15. Pembangunan kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga. ekonomi nasional yang belum stabil.

Kelima. Meningkatkan Kualiktas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Daerah Budaya BAB I Pendahuluan I-7 . Kedua. Visi tersebut adalah ”Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”. Belum efisiennya alokasi dan penggunaan anggaran pemerintah dan dana masyarakat dalam menunjang pencapaian visi Jawa Barat. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa barat Pengembangan Struktur Peekonomian Regional yang Tangguh Pemantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah Peningkatkan Implenmentasi Pembangunan Berkelanjutan Peningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Budaya Daerah Berdasarkan visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barata tersebut disusun 5 (lima) Agenda Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004. Belum optimalnya keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan antar tingkat pemerintahan khususnya dalam memprioritaskan pembangunan sumberdaya manusia.2009. Mengembangkan Strukturt Perekonomian Regional yang Tangguh 3. Keempat. Hal tersebut menjadi landasan penetapan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Pengelolaan pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun ke depan. Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan 5. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5 (lima) misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu: Pertama. Ketiga. Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah 4. yaitu : 1. 3.

5. disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penyusunan RPJM. Selain itu bab ini berisikan tentang arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran BAB I Pendahuluan I-8 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. MISI DAN PRIORITAS DAERAH Bab ini menguraikan visi dan misi kepala daerah terpilih serta prioritas pembangunan daerah selama lima tahun. hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya dan sistematika penulisan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini berisikan tentang uraian statistik dan gambaran umum kondisi daerah saat ini dengan maksud mengetahui keadaan daerah pada saat ini pada berbagai bidang dan aspek kehidupan dan aspek kehidupan sosial ekonomi daerah dan yang akan diintervensi melalui berbagai kebijakan dan program daerah dalam jangka waktu 5 ( lima ) tahun BAB III VISI. Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010. landasan hukum penyusunan. BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisi menguraikan kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang kenaikan dan penurunan serta pola – pola alokasi belanja daerah. maksud dan tujuan penyusunan.

BAB VIII PENUTUP Bab ini menguraikan tentang program transisi dan kaidah pelaksanaan BAB I Pendahuluan I-9 . Program-program tersebut selanjutnya akan diterjemahkan kedalam berbagai kegiatan oleh SKPD sesuai dengan fungsinya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Bab ini menguraikan tentang kebijakan yang berkaitan dengan program kepala daerah terpilih sebagai arah bagi SKPD maupun lintas SKPD dalam merumuskan kegiatan guna mencapai kinerja sesuai dengan tugas dan fungsinya BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisikan tentang rincian program pembangunan daerah yang merupakan instrumen untuk melaksanakan kebijakan pembangunan yang sudah ditetapkan.

090 Ha. industri.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2. serta sebagian menggunakan fasilitas dari PDAM. Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai.000 mm pertahun.500 mm sampai dengan 4.371 Ha.258 Ha. serta 172 buah sungai. di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Sumedang. Suhu udara berkisar antara 190 C sampai 240 C dengan penyimpangan harian mencapai 500 C dan kelembaban udara beragam antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. 3 danau buatan. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 1070 22’- 1080 5’ Bujur Timur dan 60 41’ – 70 19’ Lintang Selatan.429 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 307. dan lain-lain. Sumber air permukaan umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik pertanian. Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Purwakarta. sedangkan kawasan budidaya pertanian seluas 156. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -1 . baik air tanah maupun air permukaan. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam. sedangkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter).15% hingga di atas 45%. terdiri dari : • Kawasan hutan produksi seluas 25.1.170 Ha yang tersebar di 26 kecamatan. kaki bukit. Terletak pada ketinggian 110 meter sampai 2. non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga. dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%. Kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54. Dan air tanah dalam (kedalaman dari 60 sampai 200 meter) umumnya dipergunakan untuk keperluan industri. 8% . sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Cianjur dan di bagian tengah terletak Kota Bandung dan Kota Cimahi. Kabupaten Bandung memiliki banyak sumber daya air.

229. 5. Kecamatan PADALARANG BATUJAJAR CIPATAT NGAMPRAH CILEUNYI CIMENYAN CILENGKRANG BOJONGSOANG MARGAHAYU MARGAASIH KATAPANG DAYEUKOLOT BANJARAN PAMEUNGPEUK PANGALENGAN ARJASARI CIMAUNG CILILIN SINDANGKERTA CIPONGKOR GUNUNGHALU RONGGA CIKALONGWETAN CIPEUDEUY CICALENGKA NAGREG CIKANCUNG RANCAEKEK CIPARAY PACET KERTASARI BALEENDAH MAJALAYA SOLOKAN JERUK PASEH Desa 10 13 12 11 6 7 6 6 5 6 10 5 11 6 13 11 9 11 11 14 9 8 13 12 12 6 9 13 14 13 7 3 11 7 12 Kelurahan 2 1 1 5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -2 . lihat tabel 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • Kawasan pangan lahan basah seluas 34. 22. Kawasan peternakan seluas 274 Ha. 26.1. 15. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seluas 19. Secara administrasi Kabupaten Bandung terbagi atas 45 Kecamatan. Dengan demikian. 3. 28. 12. 31.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung No 1. 24.64%.274. 25. 14. Kawasan pangan lahan kering seluas 76. 6. 8. 18 19 20. 35.431 jiwa dan Laju Pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 3. 29.384 Ha. dan 431 Desa. 30. 7. 33. 16. dibawah ini : Tabel 2. 21. 2. Pada tahun 2005. 10. 32.19 Ha. 9 Kelurahan. 4. 13. jumlah penduduk Kabupaten Bandung 4.10 % (Sumber data BPS 2005). Kawasan perikanan seluas 39 Ha. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan. 9. 17. LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. 11. 34. 27.906 Ha. 23.

41. 42. 44. 45. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -3 . 38. 43. 40.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No 36. 39. Kecamatan IBUN SOREANG PASIRJAMBU CIWIDEY RANCABALI LEMBANG CISARUA PARONGPONG CANGKUANG CIHAMPELAS Jumlah Desa 12 18 10 7 5 16 8 7 7 10 431 Kelurahan 9 Sumber : Bagian Pemerintahan Umum Sekda Kab. 37.

1 Peta Administrasi BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -4 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Gambar 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Bandung diantaranya gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan seperti longsoran tanah/batu, longsoran sampah, banjir, penurunan muka air tanah dan kebakaran. Peta sebaran kebencanaan dapat dilihat pada peta 2.3 Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana alam dan bencana adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan masih minimnya peralatan penanggulangan bencana alam dan bencana yang dimiliki. Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan potensi aspek fisik dasar Kabupaten Bandung : 1. Cakupan luas wilayah yang cukup besar 307.371 Ha memiliki potensi ketersediaan lahan dan daya dukung lahan yang luas 2. Memiliki daerah administrasi pemerintahan yang relatif banyak ( 431 desa, 9 kelurahahan dan 45 kecamatan 3. Banyak sumber daya air, baik air tanah maupun air permukaan. 4. Luasnya kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.170 Ha sebagai pemasok air, wilayah konservasi, sumberdaya hutan, wisata konservasi dan lain-lain.

Permasalahan : o Terdapat rencana pemekaran Kabupaten Bandung Barat o Terdapatnya kemungkinan bencana gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. o Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Luas kawasan rawan banjir di Cekungan Bandung 14.480 ha Lokasi Banjir : Sapan, Andir, Rancaekek, Majalaya, Buah Batu, Ujungberung, Ciparay, Pameungpeuk, Manggahang, Baleendah, Dayeuhkolot

Gambar 2.2 Peta Daerah Rawan Banjir

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -6

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Gambar 2.3 Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Bandung

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -7

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

2.2.

Perekonomian Daerah Salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan

adalah melalui pengukuran pencapaian indikator makro ekonomi yang masing-masing indikatornya terdiri dari beberapa macam komponen. Pencapaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung akan dibahas pada uraian berikut. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 26,957 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 13,09% jika dibandingkan PDRB tahun sebelumnya sebesar Rp. 23,836 triliun. Nilai PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
PDRB KABUPATEN BANDUNG TAHUN 19952004 MENURUT HARGA BERLAKU
30,000,000 25,000,000 JUMLAH (Juta Rp) 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 TAHUN

Gambar 2.4 Secara lengkap nilai PDRB, kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Tiga sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar Rp. 14,37 triliun (53,33%), sektor Perdagangan, Hotel dan restoran sebesar Rp. 4,74 triliun (17,57%) dan sektor sektor Pertanian Rp. 2,53 triliun (9,42%). Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah digambarkan oleh besarnya kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga konstan adalah Rp. 7,108 triliun dan pada

tahun 2003 tercatat sebesar Rp. 6,755 triliun, dengan demikian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sebesar 5,23%. LPE Kabupaten

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -8

000.000 4.000 5.000 7.000 1. BANDUNG TAHUN 1995-2004 MENURUT HARGA KONSTAN 9.5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -9 .000.000.000.000.5.000.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bandung ini masih lebih besar jika dibandingkan dengan LPE Jawa Barat tahun 2004 yaitu sebesar 4.000 6.000 0 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 JUMLAH (Juta Rp) TAHUN Gambar 2.000 2. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga konstan dapat dilihat pada Gambar 2. PDRB KAB.000.000 3.000.98%.000.000 8.

Angkutan Udara A.00 0.58 916.44 5.00 0.931.98 3.83 107.871.766.637.621.92 0.91 0.00 9.00 502.563.040.65 345.234.391.34 1.744.472.00 0.88 92.087.735.573. Penggalian 3.064.415.137.82 0.93 341.79 18.411.131.84 136.229.881.71 0.069.21 8.82 493.66 157.376.076. Tanaman Bahan Makanan B.13 394.240.43 0.00 18.10 291.41 288.00 25.79 44.353.96 450.63 287.00 42.4. Pertambangan tanpa Gas C.736.071.52 449.243.563.59 62.690.43 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 1. Angkutan Sungai A.355.82 287.00 44. Peternakan D.46 854.782.00 0.00 3.058.00 0.91 331.727.211.990.590.894.11 0.233.94 630.844. Angkutan Laut A.65 376.128.641.01 107.00 98.229.305.074.907.34 15.647.38 1.310.279.596. Industri Tanpa Migas 4.96 289.110.998.46 303.690.00 11.405.00 12.566.24 35.668.289.829.34 855.98 144.882.65 49.31 740.00 0.83 196.30 172.581.933.244.63 1.041.873. Perdagangan Besar dan Eceran B. Swasta B.896. PERDAGANGAN.70 918.6.259.449.82 547.47 254.38 56.32 3.086.01 612.801.60 11.452.969.47 382.786.83 687.62 33. Air Bersih 5.00 4.79 9.83 0.570.02 128.10 100.89 1.89 1.510.62 274.06 37. Pemerintahan B.225.63 820.524.943.347.065.91 949.609.647.398.26 307.603.698.348.44 171.469.21 321.328.174.577.17 17.034.29 10.08 586.39 82.458.085.59 794.341.27 16.00 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -10 .08 573.305.00 0.20 556. Hiburan dan Rekreasi B.991. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1995 (Juta Rupiah) 989.690.47 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 1.00 12.523.489.50 0.27 325.599.497.776.433.347.045.196.30 0.390.00 9.98 0.555.27 44.55 0.00 0.36 700.598.669.23 109.917.872.24 29.337.465.05 516.29 634.128.49 0.789.849.305.459.668.00 6.15 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 1.264.409.483.68 9.53 384.393.44 27.82 43.703.520.744.96 794.390.57 0.30 0.25 4.00 10.44 598. Komunikasi 8.115.64 620.571.83 56.94 249.76 26.489.00 35.245.044.174.46 10.54 609.05 582.870.80 2.00 10. Restoran 7.996.77 72.025.040.083.245.395.492.54 19.937.821.5.208.540.45 646.00 5.32 14.00 132. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.00 36.91 831.178.25 0.29 5.31 77.59 17.86 7.430.47 0.074.00 4.790.18 1.53 290.650.295.587.81 516.864.102.00 0.33 9.58 452.21 0.698.15 4.33 307.38 67.38 791.15 0. Kehutanan E.36 98.15 8.51 56. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.31 305.00 5.69 8. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.246.52 540.669.84 368.441.552.274.16 629.958.990.29 451.05 65.413.60 0.01 173.33 332.186.64 444.416.98 304.00 0.17 0.296.00 57.937. Pegangkutan A.240.780.448.00 0.254.29 0.236.57 17.173.970.48 730.388.62 6.222.70 0.28 1.215.31 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 1.55 803.81 11.291.1.411.904.510.792.21 4.91 48.289.40 262.014.499.52 847.523. Sewa Bangunan D.332.007.12 0.007.321.400.822.3.988.2.07 906.984.07 4.34 1.74 144.72 64.972.320.971.81 749.89 1.489.562.35 4.679.395.375.303.81 512.968.244.75 93.375.86 6.264.012. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.535.94 339.20 1.64 231.10 2.128.75 61.97 2.483.609.83 39.53 354.422.838.33 594.51 158.15 1.292.942. KEUANGAN.15 99.32 14.383.15 707.28 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 1.00 114.143.74 156.435.414.46 0.00 60.567.89 1.56 276.63 65.05 371.00 21.738.81 2.125.15 5.262.539.860.220.12 0. Bank B.497.66 1.344.63 231.10 390.19 72.95 1.028.627.19 516.98 427.00 0.498.74 152.69 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 2.12 363.98 5.660.21 193.955.00 0.11 122.399.900.46 2.208.313.92 76.42 247.00 0.746.06 342.60 1.261.263.00 5.718.37 19.00 14.00 49.899.348.00 0.174.01 521.302.081.184.797.453.00 64.30 1.921.288.06 524.842.46 709.02 260.114.442.228.227.76 3.277.94 484.64 41.839.376.65 553.03 165.72 5.477. Angkutan Jalan Raya A. Gas C.89 431.75 677.00 0.552.078.051.592.10 76. PERTANIAN A.483.59 4.20 7.059.92 641.442.00 8. LISTRIK GAS DAN AIR A.802.68 8.450.942.524.56 894.80 13.543.087.84 204.29 21. Hotel C.05 109.270.680.419.212.95 376.951.31 0.753.111.72 9.257.216.214.150.23 16.723.50 725.27 566.00 5.28 920.08 0.87 0.66 1.22 0.262.339.119.21 643.11 1.175.93 4.96 531.373.44 5.548.89 283.232.590.625.244.665.658.83 9.33 0.65 600.44 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 1.43 10.37 10. Industri Migas B.98 3.876.39 150.239.72 201.73 167.227.60 0.968.41 104.49 24.23 589.70 332.075.85 700.43 383.388.017.69 402.175.856.03 1.570.547.11 39.93 336.242.54 0.01 0.30 1.612.79 4.573.21 279.26 0.187.684.637.663.623.838.09 1.31 0.86 406.878.58 86.328.075.365.87 20.781.486.00 72.37 23.23 326.357.00 46.718.301.80 9.56 364.572.155.00 5.101.19 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 2.533.191.978.022.76 0.59 523.46 164.69 0.76 1.52 21.250.266.230.56 12.501.309.380.50 373.454.659.269.57 113.698.04 129.714.258.807.44 925.430.84 658.00 0.190. Minyak dan Gas Bumi B.82 677. Jasa Perusahaan 9.087.852.3. Listrik B.71 1.213.510.81 124.718. HOTEL DAN RESTORAN A.76 2.64 634.053.842.25 22.847.14 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 2.32 7.064.656.34 3.00 10.189.20 461.191.00 3.00 13.273.343.46 25.808.411.18 0.40 47. Angkutan Rel A.453.21 370.625.396.232.675.31 227.701.440.25 0.836.64 6.919. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.55 330.74 156.118.652.957.955.00 0.274.50 233.710.597.05 203.91 43.648.132.177.59 728.604.865.269.057.091.56 8.593.56 3.1.553. JASA-JASA A.41 190.41 123.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.86 51.810.131.358.03 3.186.59 14.01 264.34 410.58 0.687.27 57.86 3.292.105.424.900.688.73 121.777.071.69 945.60 939.18 12.588.46 75.669.628.971.72 9.808.182.160.51 632.31 80.24 430.22 3.66 11.62 10.423. Perikanan 2.70 270.2 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha 1.00 71.435.399.889.00 14.211. Jasa Penunjang Angkutan B.348.00 11.252.43 68.2.450.088.097.00 0.887. INDUSTRI PENGOLAHAN A.56 11.058.633.02 183.66 262.25 2.701.11 563.00 11.965.06 6.516.92 671.820.70 918.21 901.511. Sosial Kemasyarakatan B.742.00 4.351.94 18.422.044.705.270.845.67 261.00 0.00 83.032.920.00 40.176.510.00 87.226. Perkebunan C.

46 6.17 10.31 7.70 12.27 10. Gas dan Air Bangunan/Konstruksi Perdagangan.7%. Secara lengkap tingkat inflasi per lapangan usaha adalah sebagai berikut : Tabel 2.64 6. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -11 .55%.47% dan angka tersebut relatif lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2003 dengan inflasi 6.60 5. jual beli surat berharga dll). Inflasi sektor Keuangan.4 Tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung 2003 –2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 adalah sektor Keuangan. sewa bangunan dan jasa perusahaan (al.58% dan sektor Pengangkutan & Komunikasi 6. lembaga keuangan bukan bank (asuransi. sedangkan inflasi terkecil dialami sektor keuangan sebesar 3. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Rata-rata 2003 (%) 3.48%. Tingginya LPE yang dicapai sektor-sektor tersebut terkait erat dengan tingkat inflasi/kenaikan harga yang dialami.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan harga konstan. kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.69 5.74%. pegadaian).55 10. transfer. Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2004 memiliki tingkat inflasi terkecil dibandingkan sektor lainnya. jasa hukum dan jasa konsultan) tersebut dapat meningkatkan produksi secara optimal. Tingkat inflasi terbesar disumbang oleh kelompok bangunan/konstruksi sebesar 10.87 10.39%. 2004 Tingkat inflasi Kabupaten Bandung secara makro pada tahun 2004 mencapai 7.37 6.17 8.56 3. maka sektor Keuangan yang terdiri dari kegiatan perbankan (simpanan. Mengingat perannya yang strategis dan dengan tingkat inflasi yang relatif kecil.97 8.2.70 8.44 7. disusul sektor Pertambangan dan Penggalian 7.23 7.11 7. pinjaman. Secara lengkap nilai PDRB. koperasi.47 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.48 2004 (%) 6. Hotel dan Restaurant Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 12.

049.795.687.429.86 189.34 53.868.095.79 172.821.00 16.29 188.66 259.142.634. PERDAGANGAN.127.48 36.24 271.026.251.806.00 4. JASA-JASA A.41 278.57 6.40 6.06 0.453.777.00 4.017.25 2.837.34 158.375.260.86 132.800.26 296.86 0.265.75 4.687.834.797. Pemerintahan B.32 45.64 238. Gas C.594.913.90 7.27 39.922.745.97 289.08 101.00 4.80 302.53 52.812.272.263.564.00 0.693.465.00 33.490.825.578.772.647.25 36.670.310.610.90 8.894.14 0.58 32.034.00 29.73 2.32 32.513.87 50.903. Perdagangan Besar dan Eceran B.710.418.05 0.556.833.015.13 21.00 29.738. Air Bersih 5.07 2.00 31.777. Sewa Bangunan D.39 251.534.294.796.592.345.00 18.693.588.00 3.28 304. Kehutanan E.95 248.248.59 781.430.175. PERTANIAN A. Peternakan D.79 94.66 204.652.261.05 0.381. LISTRIK GAS DAN AIR A.11 537.632. Angkutan Udara A.39 24.586. Bank B.588.941.255.148.956.00 0.542.41 0.743.73 56.58 6.08 263.00 3. HOTEL DAN RESTORAN A.56 28.00 0.251.098.1.33 25.432.647. Hiburan dan Rekreasi B.49 223.861.72 123.607.00 243.647.267.73 578. Hotel C.233.108.303.07 346.119.223.051.518.645.46 6.12 237.478.388.530.85 3.14 3.596.020.11 256.21 0.49 69.172.29 998. Angkutan Jalan Raya A.839.221.938.00 3.122.560.564.46 6.35 0.65 263.607.00 0.021.00 6.993.020.34 188.963.00 3.82 372.63 323.99 39.00 3.92 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 696.00 3.762.3.500.332.84 304.08 273.00 33.43 4.57 769.00 0.725.07 0.188.17 0.54 2.62 274.75 162.00 0.785.060.00 24.38 0.087.09 240.34 3.02 2.23 1.99 7.00 0.82 686.864.251.307.637.572.31 59.90 321.49 0.954.10 128.340.96 34.894.93 115.830. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.902.797.15 688.87 472.299.771.90 3.00 20.71 450.523.61 0.19 5.174.74 32.53 3.46 6.057.56 234.463.037.558.750.958.016. Angkutan Laut A.48 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -12 .465.07 55.6.620.16 385.375.14 6.553.12 7.577.01 1.20 54.25 170.92 0.13 61.71 301.862.765.232.30 186.92 940.80 65.328.01 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 864.540.374.825.306.644.10 464.63 253.96 596.71 2.310.00 53.16 655.045.58 474.87 96.345.38 37.188.97 4. Industri Tanpa Migas 4.612.37 316.24 230.012.34 2.28 119.092.73 0.10 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 690.553.602.00 0.443.791.02 765.209.570.845.00 0.80 5.058.51 5. Industri Migas B. Komunikasi 8.21 7.828.09 125.051. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.53 3.742.00 26.2. Minyak dan Gas Bumi B.44 5.3 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 1.74 25.65 8.956.980.98 217.96 7.67 456.86 181.02 4.52 75.00 3.73 54. KEUANGAN.34 0.00 3.370.97 91.083.56 27.607.95 3.00 28.270.20 448.47 0.71 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 753.830.110.350.010.361.51 353.97 0.132.963.771.379.51 3.311.32 0.21 230.14 64.352. Listrik B.75 3.56 196.996.3.20 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 703.308. Angkutan Sungai A.99 35.95 1.687.985.96 5.443.48 962.00 0.49 0.548.35 6.965.412.41 134.11 234.837.59 398.236.501.73 104.69 133.90 101.78 197.337.93 245.48 0.954.48 896.77 377.245.61 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 725.28 0.20 244.066.411.67 0.306.536.593.49 194.05 306.520.43 121.491.941.199.33 6.564.62 361.99 7.07 134.79 0. Pertambangan tanpa Gas C. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1995 (Juta Rupiah) 874.32 1.217.037.100.019.11 237.89 30.563.457.03 226.300.76 28.312.01 2.00 0.47 3.66 0.836.299.491.780.658.873.195.00 3.54 220.28 116.444.23 111.42 3.00 30.72 723.852.209.302.491.32 229.1.160.66 0.008.460.709.409.00 19.00 3.371.39 130.75 171.56 524.141.52 492.90 261.828.141.105. Tanaman Bahan Makanan B.53 50.09 51.76 0.564.00 0.50 0.471.16 2.00 19.335.53 731.59 242.825.815.994.262.09 0.021.38 986.00 324.72 4.079.00 16.062.587.00 0.650.273.22 233.51 244.21 4.00 0.89 325.00 0.05 150.438.440.230.596.454. INDUSTRI PENGOLAHAN A.482. Swasta B.582.299.755.16 330.50 254.19 45.682.68 955.766.295.66 61.00 0.11 215.633.199.33 8.61 42.95 0.900.00 30.378.785.98 7.16 510.75 4.24 472.592.02 336.180.21 180.722.10 1.91 247.64 35.95 479.23 3.197.521.87 120.54 491.365.91 463.00 0.603.53 219.663.596.716.00 20.43 103.900.500.57 767.038.06 556.536.00 3.567.583.59 31.766.918.483.449.030.327.282.71 5.04 453.20 2. Pegangkutan A.907.390.58 294. Jasa Penunjang Angkutan B.063.119.254.43 1.00 0.876.491.82 127.77 0.86 251.629.35 803.960.990.93 358.561.91 254.428.96 58.342.95 233.84 293.075.164.12 481.795.23 4.12 224.883. Angkutan Rel A.579.67 2.631.65 343.00 0.519.00 27. Penggalian 3.84 129.465.90 2.768. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.90 342.541.491.090.281.10 0.328.05 259.018.425.2.31 6.53 0.148.372.116.04 165.89 149.97 219.386.73 0.94 309.49 0.57 211.518.52 4.093.93 240.242.41 133.07 1.43 190.738.460.626.32 276.29 40.78 5.312.64 30.23 362.806.708.696.638.686.955.597.199.93 0.5. Perkebunan C.659.73 30.530.72 33.95 260.04 64.53 234.50 37.546.837.28 0.168.25 8.647.95 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 791.903.289.668.405.55 9.520.496.217.81 237.91 935.67 419.61 42. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.464.325.016.00 3.55 127.72 185. Sosial Kemasyarakatan B.772.23 24.72 24.33 69.73 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 743.02 126.96 452.11 169.00 26.00 22.879.00 0.752.586.942.00 3.29 53.4.015.319.03 735.00 36.63 237.22 0.73 325. Restoran 7.577.16 225.00 4.190.54 26.77 0.164.84 25.438.687.74 24. Perikanan 2.40 241.90 34.87 143.44 387.787.00 4.810.300.444.500.801.19 5.561.262.141.86 2.65 3.829.00 53.980.064.125.455.33 2. Jasa Perusahaan 9.37 31.234.919.79 0.580.04 6.370.779.06 23.97 243.884.307.92 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 671.02 210.762.74 193.37 114.76 328.755.98 3.16 203.52 262.442.38 5.44 300.656.085.69 493.35 51.88 246.14 97.622.61 334.121.666.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.00 4.00 3.950.78 54.73 330.06 55.

536.-. dan tipe C sebanyak 7 pasar serta pasar desa sebanyak 41 buah pasar.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. tahun 2002 sebanyak 7 pasar (penambahan 1 pasar). 6. 5. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -13 .714. tahun 2003 sebanyak 14 pasar (penambahan 7 pasar) dan 16 pasar pada tahun 2004 (penambahan 2 pasar).6% jika dibandingkan PDRB per kapita tahun 2003 sebesar Rp.. Namun demikian.47% terlihat bahwa kemakmuran masyarakat sebenarnya belum mengalami kenaikan yang cukup berarti. Apabila dihitung dengan menggunakan harga konstan 1993. Pada tahun 2001 telah dilaksanakan kegiatan penataan sarana pasar/renovasi sebanyak 6 pasar. Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung memiliki potensi di sub fungsi Perdagangan yaitu berupa pasar Kabupaten sebanyak 22 buah pasar terdiri dari tipe A sebanyak 8 pasar. bila diteliti lebih lanjut ternyata peningkatan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku tidak menggambarkan peningkatan secara riil tetapi lebih disebabkan karena adanya pengaruh kenaikan harga/inflasi.00 atau hanya meningkat 2%.681. Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 telah dilaksanakan penyelesaian masalah tanah Pasar Baleendah.578.316.dan Rp. PDRB per kapita Kabupaten Bandung tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp. PDRB per kapita masyarakat Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku 2004 adalah sebesar Rp. tipe B sebanyak 7 pasar.930. Pengembangan Usaha.1 Sub Fungsi Perdagangan. 2. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi perdagangan dari Tahun 2001 – 2004 secara kuantitatif adalah sebanyak 16 pasar.431 dan meningkat sebesar 9.1. Permasalahan yang dihadapi di sub fungsi perdagangan antara lain adalah : • Belum optimalnya penataan sarana dan prasarana perdagangan yang disebabkan karena sulitnya melakukan relokasi sarana prasarana perdagangan yang sudah eksis.1. • Sulitnya mempertemukan aspirasi pedagang dan investor. Jika dibandingkan dengan angka inflasi sebesar 7.2.146. Hal ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kabupaten Bandung pada tahun 2004 berdasarkan harga konstan hanya meningkat sebesar 2%. Program-program yang dilaksanakan dalam mendukung sub fungsi ini adalah program Penataan Sarana Pasar/Renovasi dan Pembinaan SDM pengelola pasar.

volume usaha. pada tahun 2001 sebesar Rp. Koperasi Unit Desa 46 unit.000. Koperasi Simpan Pinjam 13 unit. Potensi yang dimiliki pada sub fungsi Koperasi dan UKM terlihat dari Banyaknya jumlah koperasi. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus relokasi pasar Baleendah dan pasar Ciwidey.488 unit. Adapun keberhasilan lain terlihat dari program kemitraan dengan teraksesnya permodalan dari BUMN.550.tercapai Rp. 553.790.000. 799. Koperasi Serba Usaha 141 unit. Pada tahun 2004 di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 1. Selanjutnya pada tahun 2004 telah berdiri 71 koperasi baru. Pada tahun 2003 telah berdiri 47 koperasi baru. Pada tahun 2002 telah berdiri 67 koperasi baru. 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Perijinan Penyelenggaraan Koperasi dari target Rp.. Koperasi Jasa 18 unit.2 milyar. UKM tersebut terdiri dari jenis usaha perdagangan 863 unit.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Sulitnya melaksanakan penegakan hukum.yang BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -14 .500. Pada tahun 2001 telah berdiri 130 koperasi baru.466 unit dan yang tidak aktif 205 unit). bimbingan kepada 150 UKM.284 orang. jumlah modal.000. Jika dilihat dari jenis usahanya. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 250 koperasi sehat.5 milyar dan pelaku UKM sejumlah 3. pada tahun 2002 sebesar Rp. jumlah asset Rp.. volume usaha Rp.000. terdiri dari koperasi konsumsi sebanyak 1. Koperasi Pondok Pesantren 148 unit.selain itu dapat dilihat dari berdirinya koperasi baru. Koperasi Baitul Mall-Wattanwil 38 unit dan Koperasi Pusat 4 unit. jumlah modal Rp. jasa 210 unit dan industri 2..452 orang. penilaian klasifikasi 152 koperasi.1. Jumlah anggota koperasi sebanyak 1. penilaian klasifikasi koperasi sebanyak 100 unit. asset koperasi. hasil-hasil yang dicapai antara lain pelaksanaan Perda No. dan jumlah UKM.025 unit. dan bimbingan kepada 150 UKM.yang diserap oleh 9 unit koperasi dan 57 unit PK. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM.050. penilaian kesehatan KSP/USP 185 koperasi sehat.9 milyar.257. dan bimbingan kepada 63 UKM. Koperasi Produksi 188 unit. dan bimbingan kepada 174 UKM.29. jumlah anggota.976. penilaian klasifikasi koperasi. 464.671 unit Koperasi (unit yang aktif sebanyak 1. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 188 koperasi sehat. peningkatan klasifikasi 30 koperasi.000. peningkatan klasifikasi 260 koperasi. Koperasi Pemasaran 63 unit.. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 222 koperasi sehat.27.414 unit dengan total jumlah tenaga kerja yang diserap 22.

Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi di Bidang Pertanian. kubis 221.2 Sub Fungsi Pertanian.dan dana lainnya terserap oleh 2 unit koperasi dan 7 unit PK. ubi kayu 139. sapi potong 7. ayam ras petelur 492.500. Pada tahun 2004. sawah. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM antara lain ditemukan permasalahan : • • Belum optimalnya peran koperasi sebagai sistem ekonomi masyarakat dan Masih rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah. teh 58.973.142. Pada tahun 2004 tercatat populasi sapi perah sebanyak 44.061 ekor.2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -15 .1. kambing 62.680 ekor. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi Pertanian. produksi peternakan dan perikanan.590.000. produksi telur 10. kolam air deras.119 ton. kelapa 1. tomat 91. ayam ras pedaging 4.685 ton.500.yang diserap oleh 1 unit koperasi (KSP Sarwa Mukti Cisarua) sebesar Rp.050 ton. kopi 540 ton dan tembakau 793 ton.050.468 ekor.884 ton.422. tercatat produksi sejumlah komoditi tanaman pangan dan hortikultura sayuran dan perkebunan adalah sebagai berikut : padi 655. Pada sub fungsi Peternakan dan Perikanan.031.411 ton. kerbau 6. domba 499.221 ton..118 kg dan susu 94.. pada tahun 2003 sebesar Rp. jaring apung dan perairan umum.516 ton. Selain itu terdapat produksi daging baik dari ternak kecil dan besar sebanyak 31. kentang 261.469 ton. kuda 7.000.000.097. Kabupaten Bandung merupakan salah satu kontributor yang cukup penting bagi pemenuhan konsumsi protein hewani di Jawa Barat. kakao 747 ton. Kehutanan dan Perikanan selama tahun 2001 s/d 2004 antara lain adalah meningkatnya produksi komoditi tanaman pangan dan hortikultura. bawang merah 40.86 ton yang berasal dari kolam.986 kg serta ikan sebanyak 25..58.102 ekor.388 ton. kualitas produk. sedangkan pada tahun 2004 sebesar Rp.484. sedangkan belum optimalnya peran koperasi disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki serta rendahnya kualitas SDM pengurus dan anggota koperasi.886 dan itik 509. 2.032. Rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah dipengaruhi oleh faktor modal.terserap oleh 6 unit PK.1.586.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung diserap oleh 1 unit koperasi dan 182 unit PK. ongkos produksi dan skala produksi.000. cabe merah 18.433 ton. inovasi.583.000. ayam buras 4.112.649 kg. jagung 82.

Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung.500.63 ha dengan jumlah 19.000 m3. 2004). potensi yang dimiliki adalah irigasi/pengairan teknis seluas 12.725. Cicalengka dan Baleendah dengan jumlah 40.000. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum. pengairan pedesaan 15. dari seluruh jaringan irigasi yang ditangani Kabupaten (seluas 19.253 ha dan tadah hujan 10.069 ha) sekitar 45 % dalam kondisi rusak dan sampai tahun 2004 baru ditangani sebanyak 10 % dari jumlah jaringan yang rusak.250 m3 dan kapur (batu gamping) di Kecamatan Padalarang dan Cipatat seluas 15 ha dengan jumlah 3. Margaasih.000 m3 (DLH. pengairan setengah teknis 7.5 Ha per KK.660 ha.4 Sub Fungsi Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung memiliki aneka ragam potensi jenis pertambangan antara lain adalah batu andesit seluas 61.3 s/d 0.3 Sub Fungsi Pengairan Potensi Pengairan yang dimiliki Kabupaten Bandung sangat terkait erat dengan potensi di sektor Pertanian. Rendahnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh faktor rendahnya nilai jual produk pertanian. sedangkan untuk memanfaatkan potensi pertambangan telah dilakukan upaya identifikasi data awal sebaran bahan galian golongan C di 19 Kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2001 – 2002 dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -16 .84 ha di Kecamatan Padalarang.971 Ha. serta panas bumi (geothermal). pasir seluas 26 ha di Kecamatan Padalarang.723 ha. keterbatasan modal. pengairan sederhana 9.690.150. dan mineral emas (masih tahapan eksplorasi). batu marmer di Kecamatan Cipatat seluas 76. 2. 2.487 ha.2. rendahnya kualitas hasil produksi pertanian dan tingginya ongkos produksi. Cipatat dan Cikalongwetan dengan jumlah 3 juta m3. Program yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 ditujukan untuk menurunkan jumlah angka pelanggaran dalam kegiatan usaha penambangan seperti kegiatan pemantauan dan pembinaan penambangan bahan galian Golongan C di Kecamatan Padalarang dan Cipatat pada tahun 2003.00 per bulan dengan luas lahan yang diupayakan berkisar antara 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Permasalahan utama yang dihadapi dalam sub fungsi ini antara lain masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat petani. Empat puluh persen petani berpendapatan di bawah Rp.2. Batujajar. air tanah (air bawah tanah dan mata air). Cililin.

Rajamandala G. di kabupaten bandung terdapat mineral emas yang tersebar di daerah Bandung Selatan ( dari Kecamatan Sindagkerta sampai ke kecamatan Pangalengan) yang besaran potensinya belum diketahui.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung inventarisasi semi mikro potensi bahan galian di Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada tahun 2005. dan 70% pengusaha penambangan belum mengelola K3 dan lingkungan dengan baik. 2. Selain jenis bahan galian golongan C. Ibun Pangalengan Lembang Kamojang Wayang Windu Tangkuban Parahu Maribaya 140 110 75 100 73 135 227 250 300 460 100 25 25 25 25 4. pada tahun 2003 terjadi 2 kasus longsor dan 4 kasus tanah longsor pada tahun 2004. dan awal tahun 2006 terjadi longsoran (tanah dan pasir tras) di lokasi penambangan yang mengakibat korban jiwa yang diakibatkan penambangan tidak sesuai dengan kaidah penambangan.Patuha Cimanggu Ranca Walini Batununggal Kawah Putih Kawah Cibumi Kawah Ciwidey TOTAL 250 5. Ciwidey 65 25 25 25 25 247 170 482 25 25 25 25 140 84 150 324 140 527 208 647 140 224 1856 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Permasalahan yang dihadapi Pertambangan dan energi antara lain adalah masih adanya penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan. baru dalam tahapan Eksplorasi dan potensi panas bumi (geothermal) yang sebarannya dan potensinya seperti terlihat di tabel 2. Batujajar.5 Jumlah Potensi Panas Bumi (MWe) di Kabupaten Bandung Sumberdaya Spekulatif Terduga Kapasitas Terpasang (MWe) Hipotetik Potensi Mungkin Terbukti Sub Total No Kecamatan Lapangan 1. Tabel 2. Akibatnya. Cipatat Saguling. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -17 . baik perusahaan maupun perorangan ditandai dengan pelaksanaan reklamasi yang masih di bawah 20%.5. 3.

dari Sub total potensi panas bumi 1856 MWe baru terpasang 250 MWe di Kawasan Kamojang dan Wayang-Windu. dan kawasan G. pengambilan air tanah melalui sumur bor tersebut dari kedalaman 60 meter hingga 200 meter. Industri Logam Mesin dan Kimia (ILMK) 837 unit usaha dan Industri Aneka (IA) sebanyak 1. Potensi panas bumi digunakan untuk pemanfaatan secara langsung dan tidak langsung.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Jumlah pengambilan air tanah untuk keperluan industri yang telah memiliki ijin sebanyak 673 buah sumur (Sumber DLH). Kabupaten Bandung memiliki potensi sebagai berikut : • Jumlah industri kecil yang dimiliki sampai dengan tahun 2004 adalah Industri Kecil Formal sebanyak 2. beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan informasi potensi industri. sehingga terjadi penurunan muka air tanah. dan potensi yang terdapat di Kawasan Kamojang akan ada penambahan kapasitasnya direncanakan 60 MWe.430 unit usaha yang terdiri dari Kelompok IHPK 5.609 unit usaha. dan perlu dikembangkan untuk pemanfaatan secara langsung seperti untuk pengeringan teh.834 unit usaha yang terdiri dari Kelompok Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) 695 unit usaha. ILMK 6. Permasalahan yang dihadapi dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah adalah belum terkendalinya pengambilan air tanah terutama untuk keperluan industri.5 Sub Fungsi Industri dan Konstruksi Pada sub fungsi Industri terutama industri kecil dan menengah.897 unit usaha dan IA 5.2. serta masih belum stabilnya harga jual listrik. • Jumlah Industri Kecil Non Formal (sentra) sampai dengan tahun 2004 adalah 18. Patuha akan dibangun pembangkit tenaga listriknya yang direncanakan 300 MWe secara bertahap (sudah diakukan eksplorasi dan terdapat Sumur Bor panas bumi di kawasan ini). Dalam rangka mendukung pengembangan sub fungsi Industri. 2. Permasalahan untuk pembangunan pembangkit tenaga panas bumi ini diperlukan investasi yang besar. Sedangkan pemanfaatan tidak langsung yaitu untuk Pembangkit Tenaga Listrik. pembinaan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -18 . jamur dan lainnya.302 unit usaha.924 unit usaha. penggunaan secara langsung baru dimanfaatkan untuk parawisata (pemandian air panas dan wisata alam). Sehingga terjadi keterlambatan dalam pembangunannya.

dan jalan desa 1. dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal penguasaan teknologi. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan maka peran sub fungsi Transportasi menjadi sangat penting. Adapun jalan desa yang dibiayai dari Dana Bantuan Penyelenggaraan Pemerintah Desa BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -19 . jalan propinsi 202.28 km terdiri dari jalan nasional 85. 480 pengusaha pada tahun 2003 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) dan 520 pada tahun 2004 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) serta penerapan GKM dari tahun 2001 s/d 2004 sebanyak 10 perusahaan.869.297. Ketidakmampuan dalam bersaing diantaranya disebabkan oleh akses permodalan yang terbatas. Potensi yang dimiliki sub fungsi Transportasi adalah panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung yaitu sepanjang 3. 27 sentra pada tahun 2002 (penambahan 11 sentra).86% dari total panjang jalan Kabupaten atau sekitar 958 km yang dapat ditangani dan masih ada beberapa jembatan dengan kondisi buruk.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung industri kecil. Pembinaan sentra Industri Kecil dilaksanakan dari tahun 2001 s/d 2004 yaitu sebanyak 44 sentra (kuantitatif) yaitu sebanyak 16 sentra pada tahun 2001. sampai dengan tahun 2005 ditargetkan hanya sekitar 73. 440 pengusaha pada tahun 2002 (penambahan 220 pengusaha/ pengerajin). pengawasan standararisasi mutu.2. jalan kabupaten 1.88 km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 40% yang kondisinya baik. rendahnya inovasi produk.42 km dengan kondisi 100 % baik. ongkos produksi yang tinggi. peningkatan pengetahuan bagi pengusaha mengenai SNI/Gugus Kendali Mutu (GKM).6 km dengan kondisi 90 % baik. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah masih sulitnya industri kecil/ menengah untuk bersaing di dalam maupun luar negeri terutama dalam menghadapi pasar bebas karena belum memenuhi persyaratan mutu/kualitas produk yang diharapkan konsumen. mengikuti kegiatan pameran baik lingkup daerah maupun nasional.92 km dengan kondisi hanya sekitar 60 % baik.6 Sub Fungsi Transportasi Dalam menunjang kegiatan perekonomian.455. manajemen atau wawasan bisnis. 2. 36 sentra pada tahun 2003 (penambahan 9 sentra) dan 44 sentra pada tahun 2004 (penambahan 8 sentra). sedangkan peningkatan pengetahuan mengenai SNI selama Tahun 2001-2004 yaitu sebanyak 520 pengusaha/pengerajin (kuantitatif) yaitu pada tahun 2001 ditujukan untuk 220 pengusaha. fasilitasi permodalan dengan pihak Perbankan.

permasalahan lainnya adalah penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. Dalam kurun waktu 2001 . Selain itu. termasuk R. ini hasil-hasil yang telah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -20 . program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalulintas telah menyediakan rambu sebanyak 923 unit. Cileunyi. sedangkan rendahnya kualitas infrastruktur karena belum optimalnya pengelolaan infrastruktur dan belum lengkapnya ketentuan teknis pembangunan infrastruktur.2004. 3 badan.Bupati. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika adalah : • Belum optimalnya sistem aplikasi Sub SIMDA yang telah terbangun. dan 10 dinas • Unit kerja yang telah terkoneksi ke dalam jaringan internet SIMDA Kabupaten Bandung terdiri dari 21 unit kerja. minimnya minat investor. R. Ciwidey. baik dari aspek pemanfaatannya oleh DIBALE maupun content/ isi dari sistem aplikasi tersebut.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ditambah swadaya masyarakat belum cukup mampu meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik. Selain permasalahan di atas. 2.000 m dan traffic cones sebanyak 510 buah yang dipasang di lokasi rawan kemacetan. marka 7. Sub fungsi Transportasi didukung oleh kegiatan Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas serta Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum. Dalam pelaksanaannya.Wakil Bupati dan Setda dengan jumlah komputer yang terkoneksi mencapai 55 buah. dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi.7 Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika Pada Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Terbangunnya 24 sistem aplikasi sub SIMDA yang telah oprasional di 3 bagian (Setda). dan Rancaekek pada tahun 2005. dalam rangka Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum telah disusun buku Master Plan Jaringan Lalulintas Angkutan Barang dan jaringan trayek angkutan penumpang pada tahun 2003 dan direncanakan akan disusun perencanaan angkutan massal koridor Leuwipanjang.2. 2 kantor.

833 pada tahun 2002.026 pada tahun 2003.112 orang atau 65.582 jiwa.58% penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) dan 80.49% penduduk usia muda (umur 0-14 tahun).556 jiwa dan perempuan 2.19% jika dibandingkan tahun 2003 yaitu sebanyak 4. hal tersebut lebih disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan data aktual dari Dibale dan keterbatasan SDM KPDE yang menguasai teknis pengentryan ke sistem apikasi web itu sendiri.967 jiwa terdiri dari laki-laki 2. meningkat menjadi 383.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Belum berfungsinya situs web Kab. hal tersebut dibuktikan dengan seringnya terjadi troubel/ kendala konektifitas yang disebabkan karena adanya perangkat jaringan yang hilang ( ruangan tidak dilengkapi sistem keamanan yang memadai ) ataupun terjadinya “ croded “ karena tidak tersedianya perangkat server yang memadai. sehingga berdampak pada ketidak kontinu-an dalam proses entry. 2.2.107. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 3. jumlah penduduk Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 4.058. baik yang tersedia di Dibale maupun yang ada di KPDE sebagai intitusi pengelolanya. 1.Bandung sebagai media informasi dan komunikasi baik bagi kepentingan internal maupun publik. jumlah penganggur tahun 2001 tercatat sebanyak 376.586 orang atau 3. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Apabila dilihat dari kelompok umurnya.93% penduduk tua (umur 65 tahun ke atas). Berdasarkan hasil Suseda 2004.858 orang atau 30. Namun demikian bisa pula menjadi permasalahan bilamana penduduk usia produktif tersebut tidak terserap oleh pasar kerja. Jika dikaitkan dengan sub fungsi Tenaga Kerja.156 orang. penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 tersebut terdiri dari 637. dan 390. up date datanya • Masih terbatasnya sarana prasarana infrastruktur jaringan ( N/W ) sebagai pendukung operasionalsasi sistem-sistem sub SIMDA.8 Sub Fungsi Tenaga Kerja Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) paling besar di Propinsi Jawa Barat. dll.369.087.145. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -21 . jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut bisa menjadi satu potensi.411 jiwa.

sedangkan melalui pelatihan tenaga kerja adalah 165 orang pada tahun 2001.311 orang. Permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi dalam sub fungsi Tenaga Kerja antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran. pembentukan usaha mandiri dan pelatihan kerja. 1. tahun 2002 sebanyak 1. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui pembentukan usaha mandiri tercatat perkembangan sebagai berikut : pada tahun 2001 dilakukan untuk 1.965 orang. Dengan demikian masih tersisa sebanyak 100 perusahaan yang belum mendapat penyuluhan. 580 orang pada tahun 2002. masih kurangnya tingkat keterampilan/keahlian pencari kerja dan belum baiknya sistem informasi pasar kerja yang ada. mengurangi kasus ketenagakerjaan serta meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan tentang Hak dan Kewajiban. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -22 . tahun 2003 sebanyak 1. 10 kasus pada tahun 2003 dan selanjutnya menurun menjadi hanya 8 kasus pada tahun 2004.358 orang pada tahun 2003. Disamping itu masih rendah perlindungan tenaga kerja melalui kepastian jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) serta masih minimnya lembaga sebagai sarana hubungan industrial baru mencapai 29. Penurunan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan Hak dan Kewajiban yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 untuk masing-masing 280 perusahaan. 2004). Selanjutnya pada kasus-kasus ketenagakerjaan telah terjadi penurunan yang tercatat sebagai berikut yaitu 48 kasus ketenagakerjaan pada tahun 2001 menjadi 23 kasus pada tahun 2002.07 % dalam upaya peningkatan kesejateraan pekerja. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal dan keluar negeri pada tahun 2001 tercatat sebanyak 1.532 orang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tersebut.500 orang sehingga pada tahun 2005 masih tersisa 4500 orang yang belum mendapat tempat di lapangan kerja dengan Target Renstra 2001 – 2005 (Disnaker. 236 orang pada tahun 2003 dan 277 orang pada tahun 2004.686 orang dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. 154 orang pada tahun 2003 dan 65 orang pada tahun 2004. sub fungsi Tenaga Kerja selama tahun 2001 s/d 2004 telah melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal lokal dan ke luar negeri.

3 Fungsi Pariwisata dan Budaya 2. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten bandung yaitu 2 hari yang merupakan tingkat hunian yang cukup singkat jika dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di Kota Bandung.769 orang atau terdapat peningkatan sebesar 13. Selain itu. peninggalan sejarah lainnya dan beragam jenis kesenian. untuk menunjang kepariwisataan terdapat pula hotel. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -23 . Selain itu. terdapat juga potensi kebudayaan berupa 2 buah rumah adat Sunda. monumen di 17 lokasi.1 Pengembangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung memiliki potensi budaya dan pariwisata antara lain adalah 61 buah obyek wisata yang tersebar di zone Bandung Utara sebanyak 12 obyek di 4 Kecamatan . dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1.3. yang 40 diantaranya terdapat di daerah Bandung Utara (Lembang).977 orang.2. Permasalahan masih rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik antara lain disebabkan oleh faktor rendahnya daya tarik obyek wisata dan kurangnya promosi. vila dan penginapan serta Restoran dan Rumah Makan. monumen bersejarah di 5 lokasi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. di zone Bandung Selatan 29 obyek di 7 Kecamatan. kurangnya subsidi pemerintah dan belum adanya alternatif penyediaan energi di desa.75%. Sampai dengan tahun 2004 telah terpasang sambungan listrik pedesaan sebanyak 1. perlu ditunjang oleh program pengembangan listrik pedesaan.899 KK dari 167. Walaupun terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung namun ternyata Kabupaten Bandung hanya mampu menyerap sekitar 6% dari total kunjungan wisatawan ke Jawa Barat. Jumlah wisatawan pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1. situs budaya dan sejarah di 17 lokasi.539. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan listrik pedesaan antara lain adalah masih terbatasnya jaringan distribusi PLN.751. kemasan paket wisata yang kurang menarik dan manajemen pariwisata yang belum optimal. Rendahnya daya tarik obyek wisata dipengaruhi oleh faktor sarana prasarana yang belum memadai. 2.9 Sub Fungsi Ekonomi Lainnya Dalam rangka pengembangan ekonomi di wilayah pedesaan. zone Bandung Barat 15 objek di 8 Kecamatan dan di Bandung Timur 4 obyek di 5 Kecamatan.844 KK yang belum mendapat sambungan listrik.

penyelenggaraan pemuda produktif. Sosialisasi dan Informasi Hasil-hasil Pembangunan.3. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -24 . Sub Fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran Dalam mendukung sub fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan antara lain program Peningkatan Arus Informasi. 2. SD. penyelenggaraan aubade.3. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 / 2003 / 2004 penyelenggaraan seleksi Pasukan Pendera Pengibar (Paskibra) sebanyak 34 orang. Pembinaan Generasi muda Pembinaan Generasi muda dilaksanakan melalui kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskribra). kegiatan pemuda produktif sebanyak 25 orang • • Tahun 2003 kegiatan penanggulangan narkoba bagi pelajar SD. Pemberdayaan dan Pelayanan Pers. RSPD dan lembaga penyiaran serta pemberdayaan dan pelatihan forum komunikasi daerah.3. penyelenggaraan upacara bendera. penyelenggaraan lomba tata upacara bendera. SMP. Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga A. Peningkatan Kerjasama Kemitraan dengan Instansi/Forum Komunikasi Sentral Masyarakat Pers dan Program Pelayanan Informasi. SMA / SMK. Peningkatan dan pelayanan arus informasi dilaksanakan antara lain dengan cara penerbitan Tabloid Gema Kertaraharja.2. kegiatan pemuda pelopor. sedangkan Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan dengan pemberdayaan media elektronik. SMA/SMK masing-masing jenjang terdiri dari tiga peringkat. Tahun 2004 kegiatan pemuda pelopor Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan generasi muda adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penduduk.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Pameran Pembangunan. Buletin Pemerintah Daerah. SMP. Penyusunan Basis Data Pembangunan.

SMA/SMK yang terdiri dari 11 cabang olahraga. kegiatan Lomba Gerak Jalan. • Tahun 2003 kegiatan Porseni SD. penyelenggaraan pembinaan teknis personal. kegiatan POPDA SD. Kegiatan pengadaan obat-obatan yang setiap tahun dilaksanakan dalam rangka memenuhi permintaan pelayanan masyarakat dan peserta Asuransi Kesehatan yang tersebar di 92 Puskesmas DTP/TTP dan Rumah Sakit Daerah ( RSD ).4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. lomba senam dan kegiatan senam masal.1. yang telah dipersiapkan dari awal Tahun 2005. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani SMP dan SMA Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya olahraga bagi pelajar dan masyarakat. penyelenggaraan lari 10K. 2. Tes Kesegaran Jasmani bagi SMP dan SMA. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar SD. Untuk BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -25 .4.SMP. penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). SMP/SMA/SMK. penyelenggaraan TKJ • Tahun 2004. Serta persiapan menjadi tuan rumah PORPROV Ke XI. Fungsi Kesehatan 2. bimbingan teknis personal. Tantangan yang akan dihadapi tahun 2006 adalah Pekan Olah Raga Provinsi ke X di Karawang pada bulan Juli. penyelenggaraan bantuan sarana dan prasarana. SMP. Sub Fungsi Obat dan Perbekalan Kesehatan. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani Guru olahraga. penyelenggaraan Pekan Olahraga SD. kegiatan jalan santai. penyelenggaraan gerak jalan santai. penyelenggaraan Pekan Olahraga SMP. Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan fungsi kesehatan yang terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan. SMA / SMK penyelenggaraan lari 10 K. Pembinaan Olahraga Pembinaan olahraga dilaksanakan melalui kegiatan Pembinaan olahraga pelajar dan pembinaan olahraga masyarakat yang meliputi pengadaan sarana dan prasarana olahraga.

Sedangkan dalam rangka pemusnahan limbah medis telah disediakan pengadaan alat pengolah limbah padat ( incenerator ) di RSD Soreang. Pada BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -26 . Diharapkan tahun 2006 dapat diselesaikan pembangunannya secara keseluruhan agar dapat segera dioperasikan.064 jiwa atau 1 Puskesmas diharapkan dapat melayani sebanyak 45.2 Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Perorangan. Adapun perbandingan rumah sakit terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 500. yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair rumah sakit dengan melakukan pengolahan limbah terlebih dahulu. Begitu pula dengan hanya terdapatnya RSUD sebanyak 2 unit dan RS Swasta sebanyak 1 unit dan RSU Khusus milik pemerintah ( RSJ ) 1 unit. hal tersebut menunjukkan bahwa ratio Puskesmas terhadap penduduk adalah 1 puskesmas : 45. Sarana/ prasarana kesehatan merupakan hal tepenting dalam pelayanan kesehatan oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung ini terdapat 92 unit Puskesmas yang tersebar di 45 Kecamatan.000 Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik.145. selain dukungan sarana yang cukup juga dari sisi kuantitas tenaga kesehatan sebaiknya bisa tercukupi.4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung penyediaan perbekalan kesehatan senantiasa diupayakan pengadaan peralatan kedokteran dan peralatan penunjang keperawatan yang sesuai standar kesehatan.000 jiwa.967 jiwa. Hal ini kurang ideal bila dilihat dari standarisasi pelayanan sehingga diperlukan adanya peningkatan status Pustu di wilayah kecamatan yang penduduknya padat sehingga dicapai titik standar ideal perbandingan antara Puskesmas dan Penduduk yaitu 1 Puskesmas : 30. dan pemberian pelayanan laboratorium dengan tujuan dapat meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan medik. sedangkan penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 sebanyak 4. Selain alat pengolah limbah padat tersebut di atas. 2.064 orang penduduk Kabupaten Bandung. tahun anggaran 2005 pembangunan tahap I IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) segera direalisasikan. Permasalahannya adalah sebagai berikut: • • Cakupan ketersediaan Obat masih belum dapat memenuhi kebutuhan Penyediaan alat-alat kedokteran dan keperawatan perlu ditingkatkan kelengkapannya dalam upaya peningkatan status baik puskesmas maupun RSD.

3. 2. Program penanggulangan penyakit dan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan lingkungan. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. diperlihatkan oleh ratio dokter umum terhadap penduduk adalah 1 : 32.219 jiwa penduduk yang harus dilayani sedangkan dibandingkan dengan puskesmas yang ada pelayanan dokter umum rata-rata hanya 1 – 2 orang per Puskesmas yang tersebar di 45 kecamatan sedangkan ratio bidan praktek terhadap puskesmas menunjukan rata-rata 1–3 orang bidan dapat melaksanakan pelayanan di Puskesmas sehingga untuk mengotimalkan pelayanan kesehatan oleh pemerintah keberadaan bidan desa belum dapat memenuhi sejumlah desa/kelurahan yang ada. Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Permasalahan yang dihadapi antara lain masih diperlukannya peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas dan peningkatan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Daerah disamping perlu adanya optimalisasi perangkat medis. ratio dokter gigi terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 45. telah dilaksanakan melalui : • • • • • Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) Pembinaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ( UKBM ) Pembinaan kesehatan masyarakat pekerja Pembinaan dan pengembangan Poskestren Penyebarluasan informasi kesehatan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -27 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung tahun 2004 jumlah tenaga Kesehatan yang bekerja pada unit kesehatan pemerintah daerah memiliki komposisi sebagai berikut : Dokter Umum Dokter Gigi Tenaga Medis lain Bidan / Bidan desa : 132 orang : 77 orang : 865 orang : 580 orang Dari data tersebut menunjukan bahwa ketersedian tenaga medis dokter masih rendah. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan melalui.4.658 jiwa . Program peningkatan Budaya Hidup Bersih. Program peningkatan hidup Bersih dan sehat. Puskesmas keliling dan keberadaan polindes perlu dukungan semua pihak dalam operasionlisasinya.

ISPA. Diare. = 25 % = 0.69 / 1000 penduduk = -% = -% = 85 % Disamping itu dalam program perbaikan gizi. Penanggulangan GAKI. rata-rata masih di bawah angka 80%. Campak. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -28 . Kondisi cakupan angka kesakitan pada tahun 2004 sebagai berikut : • • • • • • • Cakupan Penyakit Kusta Cakupan Penyakit ISPA Cakupan Penyakit Diare Cakupan HIV/ AIDS Cakupan Penyakit DBD Cakupan Penyakit Rabies Cakupan TBC = 0. Berdasarkan Pemantauan status gizi masyarakat melalui pelaksanaan penimbangan Balita di Posyandu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung. Rabies. Suveilance.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM ) Melakukan kerjasama pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sektor industri / perusahaan swasta. dan Ibu Hamil setiap tahun selalu dilakukan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan.01 / 10. namun ternyata belum dapat mencapai sasaran yang ditentukan sehingga masih perlu adanya peningkatan yang didukung oleh ketersediaan obat-obatan dan sarana kesehatan lain. pada tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu telah cukup baik dengan indikator bahwa jumlah proporsi Balita yang ditimbang dibanding Balita terdaftar masih di atas angka 80 % dan perkembangan status gizi masyarakatnya ada pada klasifikasi harus mendapat perhatian dimana proporsi Balita yang naik berat badanya terhadap balita yang di timbang pada setiap tahunnya. setiap tahun dilaksanakan kegiatan-kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangan Dan Gizi. Sedangkan dalam pelaksanaan program penanggulangan penyakit. Polio. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Kelamin. Sedangkan Cakupan Imunisasi menurut jenisnya seperti Imunisasi BCG. setiap tahun dilaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit kusta.000 penduduk = 43 %. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Upaya perbaikan Gizi Institusi. Demam berdarah.

7 PERKEMBANGANGAN HASIL PENGAWASAN CAKUPAN PROGRAM TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Kegiatan Pengawasan TPM Pemeriksaan Sampel Mamin .1 81.8 78.2 94.70 36. Grading Rumah makan/restoran Pemeriksaan sampel air bersih Pemeriksaan sampel tanah Temu karya PABL tk. Pengadaan air bersih penyehatan lingkungan (PAPBL).6 HASIL CAKUPAN PROGRAM IMUNISASI TAHUN 2002 – 2003 Jenis Imunisasi BCG DPT-1 DPT .72 36.05/100 25 40.7 KET Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Dalam pelaksanaan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkait dengan kesehatan lingkungan.00 32.05/100 18.49 91. Cakupan pemakaian Jamban. Desa Cakupan air bersih Cakupan pemakaian SPAL Cakupan pemakai jamban Pengawasan TTU Pengawasan RS Pengawasan Pestisida Pengawasan Residu Pestisida Pengambilan kadar Cholines terase darah Pengawasan Industri Besar Pengawasan Industri Kecil Capaian Program (%) 2003 2004 61. Dalam menunjang penyehatan lingkungan permukiman telah dilakukan pengawasan terhadap tempat pengelolaan makanan ( TPM ).4 98 81. Cakupan pemakaian sarana pembuangan air limbah. Perkembangan Hasil capaian program dua tahun terakhir ( Tahun 2003 – 2004 ) sebagai berikut: Tabel 2.00 61.61 92.4 91.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.46 Ket 52 50 70.3 Polio 1 Polio 4 Campak Hepatitis B1 Hepatitis B3 TT 1 Ibu Hamil TT 2 Ibu Hamil 2002 101.9 90.33 100 8.70 - 70. peningkatan keterampilan petugas sanitasi dan penyehatan lingkungan tempat-tempat umum.84 78.00 38.7 83.1 96.05 32.02 61.2 88.76 83.73 96.3 85. Cakupan air besih. penyehatan lingkungan permukiman.17 88.1 80.7 96.8 83.8 92. Pengawasan tempat umum. dan penyehatan lingkungan industri.0 Tingkat Capaian Program (%) 2003 2004 95.0 84.44 98.69 95. secara rutin telah dilakukan kegiatan pengawasan kualitas air dan lingkungan.6 96.4 92.23 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -29 .01 52.8 10.

97% sehingga upaya pengadaan program air bersih nampaknya masih menjadi bagian yang harus dipikirkan dalam menunjang kesehatan masyarakat. Sumur tak terlindung 7. Program/kegiatan pemberantasan penyakit masih harus ditingkatkan terutama pada masyarakat pada lingkungan yang fasilitas kesehatannya kurang.78 18. Masih terdapatnya penduduk yang menggunakan sumber air minum yang belum memenuhi standar kesehatan.89 100 KET Sumber: Suseda Tahun 2004 Dari data terakhir tahun 2004 masih menunjukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan air minum dengan kondisi yang kurang terjamin kesehatannya yaitu dengan air minum dari mata air tidak terlindung sebanyak 3. Pendidikan maupun masyarakat umum perlu untuk ditingkatkan. Peningkatan status gizi Balita dan cakupan imunisasinya masih perlu ditingkatkan. sumur pompa.75 %. mata air dan lainnya terlihat pada tabel di bawah ini. Fasilitas air minum yang digunakan rumah tangga seperti air ledeng. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan tetap harus didorong atau ditingkatkan melalui suatu kegiatan pembinaan/penyuluhan kesehatan. maka program/kegiatan penanggulangan air bersih masih dipandang perlu. campak dan lainnya yang disebabkan kondisi lingkungan kurang baik.97 19. secara umum Cakupan program penyehatan lingkungan permukiman nampaknya hampir dari semua jenis kegiatan menunjukan adanya peningkatan ke arah yang lebih baik. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -30 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dari hasil pengawasan tersebut. Permasalahan yang dihadapi adalah: • • • • • Program PHBS baik di Institusi Kesehatan.57 3. polio.8 PERSENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA AIR MINUM BERDASARKAN SUMBERNYA TAHUN 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber air Ledeng Sumur Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak terlindung Mata Air Terlindung Mata Air tak telindung Kemasan Lainnya Jumlah % Rumah Tangga 7.75 3. Tabel 2. walaupun nampaknya masih harus ditingkatkan agar kondisi lingkungan Kabupaten Bandung ini memenuhi standar kesehatan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya penyebaran penyakit TBC.19 0.68 38.34 7. Diare .

831 9.831 9.883 42.455 2002 Realisasi 8. melalui sosialisasi JPKM Mandiri ke dunia usaha. Tabel 2.093 182 52. Pada Sub Fungsi kesehatan lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyebar luasan informasi kesehatan antara lain: • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan.796 8.578 125 150 2. melalui sub fungsi KB telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain sosialisasi kesehatan reproduksi remaja.401 56 616 1.162 90 800 1.235 6. melalui siaran radio.622 9.897 59.421 43.9 HASIL PERKEMBANGAN CAPAIAN PESERTA KB DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kontrasepsi IUD MOP MOW IMPLAN MJP SUNTIK PIL KONDOM Non MJP Total PPM 8.318 PPM 7. Paru dan pembuatan leaflet NAPZA.969 18.105 10.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. pemutaran film. Catatan Sipil dan KB Dilihat dari perkembangan setiap tahun.368 395 61. Dalam rangka menunjang fungsi kesehatan.4.749 15.713 17. pembutan poster Tb.841 87.050 42 76. dengan menyelenggarakan Rakerkesda BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -31 .5.776 76 48.339 96.805 2003 Realisasi 4. • Penyusunan program kesehatan. Permintaan Masyarakat akan pelayanan KB ternyata cukup tinggi yang setiap tahunnya ternyata belum dapat terpenuhi dengan permintaan tertinggi di capai oleh kontrasepsi Suntikan dan pelayanan Non MJP.234 392 83.562 1.148 956 2.373 Sumber : Dinas kependudukan . Disamping itu juga telah dilakukan pembinaan dan pengembangan KB Mandiri dan pengembangan pusat pelayanan KB dan pusat konsultasi remaja.450 13.427 395 57.330 49.607 87 805 1.732 71.019 PPM 6. 2.872 8.649 39. Sub Fungsi Kesehatan Lainnya. dan melalui Leaflet JPKM • Penyebar luasan informasi.615 2004 Realisasi 5.4.653 7.475 66.4.603 141 442 1.724 57. pembentukan pusat informasi dan konsultasi keluarga dan remaja serta dilakukannya mengayomi peserta KB dari Keluarga tidak mampu yang mengalami kegagalan. Keluarga Berencana.178 61.116 65.

07 97.923 438 SD/MI 833 3.45 77. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk Kabupaten Bandung pada setiap angkatan pendidikan adalah sebagai berikut: Tabel 2.5 Fungsi Pendidikan Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan.256 2.44 41.42 43.00 35. Tabel 2.347 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung 2004 2.11 Perkembangan DO Pada Tiap Jenjang Pendidikan Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Jenjang Pendidikan SMP/MTs SMA/MA 828 604 914 779 1. Perkembangan siswa yang DO pada setiap angkatan sekolah terlihat pada tabel dibawah ini.07 Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004 Kurangnya partisipasi sekolah ini dipengaruhi oleh adanya siswa sekolah yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya atau drop out (DO).070 619 3.351 1.76 97.5.03 78. selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah dilaksanakan berbagai kegiatan rehabilitasi dan pembangunan SD dan SMP sebagai berikut: BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -32 .59 7-12 tahun 96.1.38 73. tergambarkan dari terdapatnya penduduk yang bersekolah atau adanya proporsi penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang usia pendidikan serta penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan tepat pada waktunya yang terukur dengan angka partisipasi murni (APM).69 34.05 95.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Pendidikan Dasar Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan dasar.10 Perkembangan APS Kabupaten Bandung Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 USIA Sekolah 13-15 tahun 16-18 tahun 74.

Pengadaan sarana meja dan kursi untuk 50 lokal SD.490 exemplar. 7. pengadaan buku perpustakaan SD 692 paket. • Pada tahun 2004. kondisi dan permasalahan pendidikan dasar di Kabupaten Bandung sebagai mana teruraikan di bawah ini. penyediaan ruang perpustakaan 3 unit. dan rehabilitasi rumah dinas guru /penjaga sekolah di 7 sekolah. Jumlah guru menurut latar belakang pendidikannya di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. SMP 574 paket dan buku bahasa sunda masing-masing 9976 exemplar untuk SD dan 2427 exemplar untuk SMP.287. 1).12 PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI SEKOLAH TINGKAT DASAR TAHUN 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Pembangunan ( unit ) SD Bertingkat 2 3 SD 4 SMP 0 1 Rehabilitasi ( Unit ) SD SMP 200 228 394 0 24 17 57 16 Tambah Ruang Kelas ( lokal ) SD SMP Sumber : hasil olahan data . bantuan sarana pendidikan juga telah diberikan oleh pemerintah daerah antara lain : • Pada tahun 2002. • Pada tahun 2003. Pengadaan mebelair SMP untuk 128 lokal. Juga bantuan mebelair telah diberikan untuk sebanyak 34 ruang kelas dan perbaikan rumah dinas guru/penjaga sekolah sebayak 14 unit. Juga adanya penggabungan Sekolah Dasar sebanyak 238 SD. orang guru SD. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -33 . Kualitas Tenaga Pengajar Kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat menentukan kulitas pendidikan. Pada tahun 2004 berdasarkan basis data perencanaan pembangunan di Kabupaten Bandung terdapat sebanyak 16. pengadaan mebelair SMP. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan.( Laporan disdik ) Disamping telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sekolah.888 orang guru SMP yang secara kualifikasi ternyata masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar. serta pengadaan buku penunjang SMP sebanyak 23.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.732 orang dan siswa kurang mampu sebanyak 500 orang serta bagi 425 siswa SMP. penyetaraan guru SMP ke kualifikasi S1 sebanyak 62 orang. pengadaan pengadaan meja dan kursi untuk 266 sekolah dasar. pemberian beasiswa SD bagi 13.

Sarana/prasana pendidikan Sarana pendidikan merupakan salah satu hal pokok disamping ketersediaan guru yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Bandung pada setiap tahun dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga diharapkan hakhak penduduk untuk menerima pendidikan akan terpenuhi. sedangkan pada tingkatan SMP nampaknya juga bahwa jumlah guru SMP dengan latar belakang pendidikan lebih rendah dari D3 ada sebanyak 1.08 % dari jumlah total guru SD/MI.927 2.561 327 2. ratio murid terhadap guru dan ratio murid terhadap sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.903 8. TAHUN 2004 No 1 2 3 4 Klasifikasi Mengajar SD MI SLTP MTS < D1 3.193 1.457 1.337 220 4. Tabel 2.144 126 38 D1 144 62 747 154 Pendidikan Guru D2 D3 ≥S1 8. Sebagai gambaran kondisi tahun 2004 dari kecukupan guru dan sekolah yang dimanfaatkan penduduk dapat dilihat dari ratio murid per kelas. Hal ini menunjukan bahwa dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung.233 11497 M/S 216 342 M/G 32 25 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -34 .405 Sumber : Profil Pendidikan Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa guru SD yang berlatar belakang pendidikan lebih rendah dari D1 ada sebanyak 3.14 J UMLAH SARANA PENDIDIKAN. 2).089 3.13 JUMLAH TENAGA GURU MENURUT LATAR BELAKANG PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN.193 orang atau 22.591 Jumlah 14.561 orang atau nampaknya masih dominan bila di bandingkan dengan guru SMP yang tersedia. Program kegiatan penyetaraan guru baik bagi guru SD maupun SMP masih harus ditunjang oleh pemerintah.2 Ratio Guru (G) 16.440 453 Jumlah Murid (M) 529. GURU DAN MURID DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2004 No 1 2 Tk.166 1553.491 443 728 295 292 34 1. Pendidikan SD SMP/ MTS Sekolah (S) 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.

57% dalam keadaan rusak berat 32.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel di atas menunjukan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat ratio murid terhadap sekolah sebanyak 227 orang murid per sekolah. baik untuk jenjang SD maupun SMP perlu mendapat perhatian serius karena berdasarkan data yang tersedia (Profil Pendidikan. pengadaan mebelair untuk 38 ruang kelas. telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan sekolah menengah umum dan kejuruan melalui kegiatan/proyek atas dukungan APBD Kabupaten Bandung antara lain : • Pada tahun 2002.5. yaitu SMUN 1 Cililin. ratio murid terhadap kelas sebanyak 38 orang perkelasnya dan ratio murid terhadap guru dengan perbandingan 32 orang murid dilayani 1 orang guru. Dalam menunjang pendidikan menengah. • Pada tahun 2003.27% rusak ringan. bantuan Mebelair untuk 65 ruang kelas. SMUN Baleendah. Sedangkan bantuan pembangunan SMU/K telah dilaksanakan untuk 2 unit sekolah. bantuan penyediaan ruang perpustakaan. perbaikan gedung SMU/K sebanyak 19 sekolah. SMUS Terpadu. akreditasi 14 sekolah SMU/SMK. rehabilitasi SMU/K sebanyak 20 unit sekolah. Ibun dan SLTA Textil dan SMU/SMK dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -35 . Sub Fungsi Pendidikan Menengah. Tahun 2004) bahwa dari jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 2. • Pada tahun 2004. telah dilaksanakan penyediaan buku penunjang belajar SMU sebanyak 15. SMUS KP. pada 2004 ternyata 31. SMUN 1 Cipatat. komputer sebanyak 23 unit dan alat peraga IPA untuk 46 sekolah.012 eksemplar.2. pengadaan mebelair untuk 25 unit sekolah.175 unit pada tahun 227 siswa. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung telah diberikan pelayanan pendidikan pada tingkat dasar rata-rata menampung penduduk usia sekolah sebanyak tingkat SMP per kelasnya 448 siswa. SMUN Margahayu. tambah ruang kelas bagi 10 pemberian Bea siswa bagi 677 siswa SMU dan 73 siswa SMK. terlaksananya rehabilitasi berat SMU/SMK sebanyak 7 sekolah yang tersebar di tiga kecamatan. Dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan melalui kegiatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah baru. 2. Lomba kompetensi keterampilan siswa SMK. melalui proyek pembangunan pengadaan sarana/prasarana sekolah menengah umum dan kejuruan telah dilaksanakan penambahan ruang kelas 10 unit SMU/K. pemberian bantuan dana bea siswa bagi 746 siswa berprestasi.

2. pendidikan anak usia dini. SMUN 1 Cikalong Wetan. maka dukungan pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah. kejar paket B setara SMP dan kejar paket C setara SMA/ SMK. kursus. penyelenggaraan PPLS. kondisi dan permasalahan pendidikan menengah di Kabupaten Bandung adalah pada tahun 2004 kondisi pendidikan menengah di Kabupaten Bandung terdapat guru SMA/SMK/MA sebanyak 6. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar sekitar 44. Penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. dan lulusan S1/S2 sebanyak 2. pembinaan generasi muda. Dalam penyelenggaraan Pendidikan non formal.640 orang .3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan Gedung baru SMUN Cikancung. Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar paket A setara SD. murid sebanyak 54. SMUN 1 Cipeundeuy. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. lulusan D3 sebanyak 434 orang.5. Pendidikan Luar Sekolah dan Masyarakat. ratio M/S = 339 orang dan M/G = 12 orang.lomba. SMUN I Katapang. dan SMUN Batujajar. Sedangkan kegiatan tambah ruang kelas dilaksanakan di 6 lokasi yaitu untuk SMUN 1 Banjaran.078 yang secara kualifikasi terdiri dari lulusan D1 sebanyak 24 orang. Lomba. Sedangkan dari ketersediaan guru dan sarana/prasarana yang dimanfaatkan oleh sejumlah siswa memberikan gambaran.43 % dan dari ratio murid persekolah menunjukan bahwa dipandang perlu adanya pemekaran sekolah karena rata-rata murid persekolah sudah lebih besar dari 300 orang murid. jumlah sekolah sebanyak 164 sekolah.776 orang. pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat.591 orang. kegiatan sanggar serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. SMUN I Cipongkor. Sub Pendidikan Non formal dan Informal. SMUN I Sindangkerta. SMUN Cisarua. lulusan D2 46 orang. SMKN Terpadu Pertanian Rancaekek. SMUN 1 Ciparay. guru sebanyak 4. KF serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -36 .

kegiatan pendidikan luar sekolah adalah dengan melaksanakan pelatihan bagi 100 warga belajar instruktur kursus. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -37 .129 orang . 2. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini. bantuan kepada kursus-kursus seperti kursus menjahit. kejar paket C 220 wajib belajar setara SMU. SLTP 75 orang SMU 19 orang.4. Bantuan Penyelenggaraan Sanggar Kegiatan Belajar. Untuk menunjang terlaksananya operasional kegiatan di taman kanak-kanak . tata rias rambut. dilaksanakannya pengembangan dan peningkatan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat bagi 8 lembaga kursus serta melaksanakan program kejar paket A PBH dengan terbentuknya 258 kelompok belajar • Tahun 2004. • Program pendamping proyek Life Skill.5. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 60 kelompok belajar. melalui kegiatan penyelenggaraan belajar mengajar 43 buah. di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan basis data PDP3D tahun 2004 tersedia sarana pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebanyak 303 sekolah yang secara total peran swasta masih dominan. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 240 orang peserta. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pendidikan Luar Sekolah adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan kejar paket disemua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatan pengetahuan penduduk.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. • Tahun 2003. Pemerintah Daerah telah memberikan bantuan-bantuan berupa alat bermain yang yang rata-rata setiap tahunnya terbantu antara 50 – 60 Taman Kanak-kanak. penyelenggaraan kursus Diklusemas. Hal ini menunjukan bahwa ratio murid persekolah adalah sekitar 43 orang per sekolah dan terdapat 3 – 4 orang guru per sekolahnya. tata rias wajah. dengan jumlah murid 13. SD 43 orang.051 orang dan guru 1. pelaksanaan kejar paket A PBH bagi 43 kelompok belajar dan terselenggaranya peningkatan program life skill di 55 sekolah dari semua tingkatan. sosialisasi BBE Life Skil untuk tingkat Kabupaten Bandung dengan peserta TK 20 orang.

SMA) maupun dalam pelaksanaan Diklat Struktural dan fungsional bagi PNS yang didukung dana APBD Kabupaten Bandung antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan formal. melalui Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum mulok SD dan SMP. bimbingan teknis bagi penyelenggara dan guru. lomba kreatifitas anak. penyelenggaraan bantuan lembaga. Dalam menunjang pendidikan kedinasan. Pelatihan Guru Tata Boga 170 orang. pembinaan teknis bagi penyelenggara dan guru. Pelatihan guru keterampilan 170 orang. bantuan rintisan.5. Sub Fungsi Pendidikan Kedinasan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 terbentuknya kerjasama kelembagaan dengan sebanyak 40 lembaga pengelola TK. 2003. SMU/K telah dilaksanakan Pelatihan guru bahasa Ingris 170 orang. pada tahun 2002. Berdasarkan uraian sub Pendidikan Non Formal yang meliputi 4 bidang garapan terdiri dari Pendidikan Luar Sekolah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -38 . Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan mendorong pemahaman masyarakat. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain adalah pada tahun 2002. 2.5. pelaksanaa program penyetaraan D2 dan PGSD 810 orang . Pembinaan olah raga dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maka permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggraraan Pendidikan Non formal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan Pendidikan non fomal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pencapaian angka melek hurup serta rata-rata lama sekolah (RLS). Melalui Proyek peningkatan kemampuan tenaga pengajar dan pengelola bagi pendidikan dasar dan menengah. Penataran pengelola UT kecamatan 46 orang. dan 2004 penyelenggaraan sosialisasi. telah dilakukan berbagai kegiatan baik dalam rangka menunjang perkembangan pendidikan formal (SD. bantuan penyelenggaraan. lomba kreatifitas anak. penyelenggaraan bantuan rintisan. Pembinaan Generasi Muda. SMP. hasilnya Pertemuan kelompok kerja Guru.

186 pejabat esselon III. Berdasarkan data kepegawaian tercatat bahwa struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bandung (Perda 8.363 Jumlah 472 618 691 1. lulus Diklat Pim II 2 orang. Untuk pendidikan Pim BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -39 . Diklat kedinasan ini. Diklat IPA bagi Pengawas SD.363 orang dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan setiap tahunnya bervariasi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Melalui Proyek penunjang Science Education Quality Impropemen Project (SEQIP). Sedangkan jumlah pegawai dengan lulusan Diklat struktural pada kondisi terakhir (tahun 2004) adalah. Kepala Sekolah dan Guru.15 JUMLAH LULUSAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2002 – 2004 Tahun 2002 2003 2004 Jumlah II 7 9 2 18 Diklat Pimpinan III IV 117 80 80 40 5 78 202 198 Jumlah 204 129 85 418 Diklat Fungsional 268 489 606 1. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersedian jumlah lulusan pendidikan struktural Pim II dipandang sudah memadai. Pim III 3 orang dan Pim IV sebanyak 40 orang. Pemda Kabupaten Bandung juga melaksanakan berbagai jenis Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) terutama bagi para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. namun dalam rangka mempersiapkan atau kaderisasi pejabat sebaiknya masih tetap diprogramkan. begitu pula Pim III dan IV. Bandung Perkembangan lulusan Diklat pimpinan setiap tahun bertambah dalam periode 2002 – 2004 terdapat 418 orang yang telah lulus diklat Pim dengan komposisi sebanyak 18 orang lulus Pim II. Disamping melaksanakan Pendidikan formal melalui pembelajaran dalam rangka pelayanan pendidikan kepada penduduk usia sekolah. 9 dan 10 Tahun 2002) tersedia kebutuhan 28 pejabat esselon II. Perkembangan Jumlah lulusan diklat kedinasan sbb: Tabel 2. dan 314 pejabat esselon V. sesuai dengan perkembangan untuk terpenuhinya staf teknis dan fungsional maka diklat kedinasan lebih diarahkan kepada diklat teknis dan fungsional. 201 Pim III dan 202 lulus Pim IV sedangkan untuk pendidikan teknis dan fungsional telah diikuti oleh 1. baik Diklat Struktural maupun fungsional.781 Sumber : Kantor Diklat Kab. Lokakarya tingkat propinsi jawa barat diikuti oleh 15 guru IPA dari 5 Kecamatan sasaran SEQIP. 927 orang pejabat esselon IV.

yaitu bantuan kepada STIE Al-Giphari. Pendidikan bagi PNS hendaknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan teknis dan fungsional.6. Sub Fungsi Pendidikan Tinggi Ketersediaan lembaga pendidikan tinggi di wilayah Kabupaten Bandung. STPDN dan STIKINDO Wirautama. Demikian juga masih diperlukan peningkatan kemampuan teknis bagi aparat di lingkungan DIBALE Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sebaiknya dilakukan kajian kebutuhan pejabat struktural yang berkualifikasi sesuai diklat Pim. • Dalam rangka menunjang pembelajaran yang baik. STIKIP Bale Bandung. terdapat 5 perguruan tinggi yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak swasta. Universitas Nurtanio. Pemerintah Kabupaten Bandung masih harus dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar terutama bagi guru-guru dengan latar belakang pendidikan non keguruan dan guru-guru non pns disamping masih dominannya guru SD yang berlatar BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -40 . terdapat beberapa hal yang masih dominan menjadi permasalahan yaitu: • Penduduk Kabupaten Bandung yang termasuk kepada usia sekolah belum tuntas dapat mengenyam pendidikannya. terutama bagi aparat di tingkat kecamatan untuk mengimbangi pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat.5. Sedangkan pada tahun 2004 telah dirintis pembentukan/pendirian Universitas Daerah yang diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan tinggi kepada penduduk Kabupaten Bandung dan meningkatkan partisipasi penduduk pada level pendidikan tinggi. Dukungan pemerintah Kabupaten Bandung akan kelangsungan perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui kegiatan bantuan kepada perguruan tinggi sebagaimana yang telah dilaksanakan pemberian bantuan pembangunan kepada enam Perguruan tinggi swasta. Berdasarkan uraian di atas dalam pencapaian strategi bidang pendidikan dalam rangka upaya peningkatan SDM. secara kuantitas jumlah guru di Kabupaten Bandung masih memadai namun ditinjau dari sisi kelayakan mengajar. terutama pada usia SMP. 2. Hal ini menunjukan bahwa Program/kegiatan yang mendorong kepada pencapaianan Program Wajar Dikdas 9 Tahun masih harus menjadi perhatian kita bersama. STIPER Bale Bandung.

• Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan.17 Data Jumlah Keluarga KS.92% 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung belakang pendidikan di bawah D1 dan guru SMP dengan latar belakang pendidikan di bawah D3. Casip dan KB Kab. dan pembangunan Sekolah Baru untuk SMP dan SMA nampaknya masih harus jadi perhatian dalam rancangan pembangunan pendidikan pada tahun 2006.1) alasan ekonomi. IV) maupun Diklat fungsional setiap tahunnya semakin bertambah.265 Prosentase Kenaikan/Penurunan -7.67% 21.85% .6.75% -7.498 207.072 Prosentase Kenaikan/Penurunan 25. Casip dan KB Kab. Bandung Tabel 2.78% 5.944 214.6. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -41 . namun efektivitas penempatan tenaga kerja sesuai klasifikasi kelulusannya belum optimal dilaksanakan.30% Sumber : Dinas Kependudukan. III.705 202.354 46.139 56.753 27.175 52.75% 68.16 Data Jumlah Keluarga Pra KS Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 21.1 Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 225. Data tersebut dapat dilihat perkembangannya dalam tabel berikut: Tabel 2. • Lulusan Diklat Pimpinan (II.643 217. disamping meningkatkan kualitas guru terdapat hal pokok yang perlu mendapat sorotan yaitu tingkat kerusakan sekolah SD yang masih tinggi. 2.58% Sumber : Dinas Kependudukan. Perlindungan Sosial Salah satu basis data perencanaan sosial di Kabupaten Bandung adalah Jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai Pra Keluarga Sejahtera (Pra KS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS.

lansia terlantar luar panti 5.534 orang sedangkan perlindungan sosial bagi orang cacat pada tahun 2004 hanya terbinanya 45 orang penyandang cacat.6. Hal ini menunjukan bahwa cakupan perlindungan sosial bagi orang cacat masih belum memenuhi harapan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -42 . ditunjukan bahwa pada tahun 2003 menghasillkan terbinanya warga jompo sebanyak 25 orang dan pada tahun 2004 terbina sebanyak 30 orang.6. dan fakir miskin sebanyak 73. melalui bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 jiwa/rumah/unit.618 jiwa dibina 0. Perlindungan dan Pelayanan Orang Sakit Dan Cacat. Perlindungan dan Pelayanan Sosial Keluarga Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Perlindungan dan pelayanan sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung berupa pelayanan sosial dan penyantunan perintis kemerdekaan yang pada tahun 2002 dilaksanakan pembentukan pengurus DHC 45 dan bantuan kesejahteraan bagi janda perintis dan warakauri sebanyak 44 orang tahun 2003 telah diberikan perlindungan sosial bagi perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang 60 orang. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam perlindungan Lansia masih kurang. melalui bantuan permakanan 20 jiwa. eks narapidana 822 jiwa dibina 0. penyandang cacat eks penyakit kronis 1.3. keluarga pahlawan 40 KK dibina 0. 2. eks korban narkotika 367 jiwa dibina 60 jiwa. 2. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Penduduk lansia berjumlah 11. anak cacat 3.384 jiwa dibina melalui usaha ekonomi produktif/UEP 25 jiwa.906 orang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. WTS 250 jiwa dibina 0.6.2. lanjut usia tindak kekerasan 268 jiwa dibina 0. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan penyandang cacat ada sebanyak 4. keluarga perintis kemerdekaan 5 jiwa dibina 5 jiwa.1. sedangkan perlindungan pelayanan yang dilaksanakan setiap tahunnya rata-rata masih jauh di bawah angka tersebut. Perlindungan Dan Pelayanan Lansia. Data tahun 2004 menunjukan jumlah PKRI sebanyak 90 jiwa dibina 90 jiwa. pembinaan anggota DHC 45.678 orang.052 jiwa dibina 0.

2. Dalam menunjang pemberdayaan perempuan. Disamping itu terdapat penduduk korban penyalahgunaan narkotika ada 530 orang. anak Balita terlantar sebanyak 1. Terbinanya anak terlantar 45 orang dan terlatihnya petugas Satgasos penanggulangan bencana sebanyak 30 orang.290 orang wanita rawan sosial ekonomi. pengurus organisasi perempuan tingkat kecamatan 43 orang. 45 orang remaja putri. 2003 telah terehabilitasinya 195 orang tuna sosial di 10 kecamatan. sosialisasi pengarusutamaan Gender yang diikuti 40 orang dari 20 kecamatan. telah dilaksanakan kegiatan pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial. penunjang operasional Orsos perempuan berjumlah 3 Orsos. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -43 . 463 orang nak jalanan dibina 0. Melalui bantuan perlengkapan sekolah 30 jiwa.4.138 KK dibina 40 KK melalui KUBE. Anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah 169 dibina 0. seperti pada tahun 2003 telah dilatihnya wanita rawan sosial ekonomi sebanyak 20 orang.552/66. 25 orang remaja ditingkatkan keterampilannya serta pemantapan managemen organisasi perempuan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang dari organisasi perempuan dan PKK serta 50 orang dari unit Kecamatan.5. pada tahun terbinanya kenakalan remaja dan prostitusi di 4 kecamatan lokasi beresiko tinggi. eks korban narkoba dan penyandang cacat dipindahkan ke poin A. Perlindungan Dan Pelayanan Sosial Anak-anak Dan Keluarga Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Anak nakal 660 jiwa dibina 30 jiwa.509 orang jiwa dibina melalui Kelompok bersama ekonomi (KUBE) 30 jiwa. melalui pemberian makanan tambahan/PMT-AS 4. advokasi bantuan hukum bagi 70 orang sedangkan pada tahun 2004 telah terbinanya 30 orang P2WKSS.000 jiwa. anak terlantar 30 orang dan korban narkoba 60 orang. Permasalahannya menunjukan bahwa penduduk yang memerlukan perlindungan dan pelayanan sosial masih cukup tinggi.709 orang. penyandang cacat 12. Untuk mengatasi masalah-masalah sosial dengan memberikan pelayanan sosial.916 orang. pemerintah Kabupaten Bandung setiap tahun telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan peranan wanita. anak terlantar berjumlah 4. dan pada tahun 2004 terbinanya anak nakal 30 orang. fakir miskin 260. Pemberdayaan Perempuan. orang dan 11.6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.6.

keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 6.7. Kegiatan yang pernah dilaksanakan baru pada pemberian bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 rumah pada tahun 2004.000 jiwa. Dari data tahun 2004. Rehabilitasi Panti Tuna Sosial 1 unti. Dalam rangka menunjang kegiatan pelayanan perlindungan sosial telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan melalui pelatihan dan sosialisasi program seperti pada tahun 2003 dilaksanakan pelatihan bagi 100 petugas sukarelawan pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan tahun 2004 terlaksananya Bintek Satgasos PB 40 jiwa. Permasalahan yang dihadapi adalah masih tingginya kebutuhan rumah yang diperuntukan bagi warga miskin dan penyandang tuna sosial. Bantuan K3S sebanyak 1 paket. keluarga korban bencana alam sebanyak 1. Perlindungan Sosial lainnya. Bintek manajemen Panti sosial untuk pengurus 30 jiwa. Pembinaan Karang Taruna sebanyak 120 jiwa.189 jiwa dibina melalui bantuan bahan bangunan sebanyak 20 KK. nampaknya dalam belum menjadi program/kegiatan pemerintah daerah yang serius padahal pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bandung cukup tinggi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -44 . Operasional penanggulangan NAPZA/pekat melalui BKND dan pembentukan KPAD sebanyak 1 paket. Bintek petugas sukarelawan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus HIV sebanyak 100 orang serta pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang masalah sosial. bantuan dini korban bencana alam 4.6. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.6. Pekerja Sosial masyarakat sebanyak 170 jiwa. Rehabilitasi Pusat Pordu KUBE Fakir Miskin 1 unit dan Peningkatan/pemeliharaan Taman Makam Pahlawan 5 unit.6 Bantuan Perumahan Perlindungan sosial dalam memberikan bantuan rumah tangga melalui pemenuhan biaya perumahan atau penyediaan bantuan sewa serta penyediaan rumah dengan harga terjangkau.128 KK dibina 0.

taman green strip di jalur Kota Soreang dan Jalan Raya Soreang. taman kota segitiga Lembang). sementara itu di Kecamatan Ciparay.580 m2.540 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. pengelolaan sarana dan prasarana taman dan makam. taman dan trotoar alun-alun Cililin.7. Ngamprah. Pengembangan Perumahan. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman adalah masih banyaknya komunitas permukiman yang lingkungannya kumuh. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -45 .000 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. taman alun-alun Ciparay. Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan dan Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua. Pada sub fungsi pengembangan perumahan hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah terbangunnya 130 lokasi perumahan pengembang yang tersebar di 45 kecamatan dan terbangunnya rumah susun sewa Kulalet. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pengembangan perumahan adalah belum semua pengembang menyelenggarakan/membangun fasos-fasum yang diperlukan masyarakat.2 Sub Fungsi Pemberdayaan Komunitas Permukiman Pada sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun 2004 antara lain pembuatan kantor jaga TPBU Cikadut Kecamatan Cimenyan. Katapang dan Cileunyi luas tanah fasos fasum yang digunakan berjumlah 451. taman kota Baleendah. pembangunan prasarana lingkungan permukiman dalam rangka P2WKSS dan TMMD Bidang Kimtawil. Cilengkrang.1. rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan menjaga kualitas sarana prasaranan komunitas permukiman yang ada.900 m2 terletak di Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran. 2.7.7 Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum 2. Desa Sukamukti Kecamatan Katapang. penataan taman kota (taman kota Ciwidey. Pada tahun 2004 luas tanah fasos fasum yang digunakan oleh 4 pengembang berjumlah 315.

sumur bor (sumur dalam) 26 unit.3. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -46 .810. 41.atau 88. dan pemasangan pipa 57.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. sumur dangkal 6 unit.7..592.945 m tersebar di 12 desa.7. Pencapaian pada tahun 2004 adalah terbangunnya sistem jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 46 unit. Pada sub fungsi penerangan jalan hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2002 telah dilakukan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 150 Titik Cahaya tersebar di 8 kecamatan. Disamping itu juga telah terbangun jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa sumur dangkal sebanyak 5 unit di Desa Talun dan Desa Mekarwangi Kecamatan Ibun. Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi penerangan jalan adalah keterbatasan dana sehingga belum dapat memenuhi permintaan masyarakat akan lampu Penerangan Jalan Umum. reservoar 1 unit. sambungan rumah (SR) 292 buah. pemasangan pipa 136.293 m. 2.38 % dari seluruh pajak yang diterima. BPT 25 unit. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara fasilitas Penerangan Jalan Umum yang sudah ada. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi penyediaan air minum adalah belum terpenuhinya kebutuhan air bersih masyarakat. Penyediaan Air Minum Pada sub fungsi penyediaan air minum hasil–hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2003 yaitu termanfaatkannya sistem perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 15 unit. BPT 15 unit. Sedangkan pada tahun 2004 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sejumlah 219 Titik Cahaya tersebar di 9 kecamatan. Pada tahun 2003 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 510 Titik Cahaya tersebar di 18 kecamatan. reservoar 23 unit.4 Sub Fungsi Penerangan Jalan Keberadaan lampu penerangan jalan umum sangat penting mengingat pajak yang diperoleh dari penerangan jalan umum pada tahun 2004 telah memberi kontribusi yang besar kepada penerimaan pajak yaitu Rp.938. terminal air 25 unit tersebar di 76 desa.

280 Kepala Keluarga dan jumlah sampah yang terangkut adalah 34. Pada tahun 2003 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 110 kali dengan rincian bangunan perumahan 50 kali. dan lain-lain 13 kali. belum optimalnya pemilikan sarana BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -47 . Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil yang telah dicapai selain drainase adalah pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. Pada tahun 2002 dicapai pembangunan drainase di Kecamatan Margahayu yaitu 30 m di Desa Sukamenak dan Desa Sayati.500 m di Kota Margahayu yaitu di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. Kecamatan Lembang). 29 unit land container. Lembang dan Padalarang. Juga telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan petugas pemadam kebakaran sebanyak 60 orang dan sosialisasi Perda No 25 dan No 26 tahun 2000 kepada perusahaan-perusahaan di wilayah Kecamatan Soreang. bangunan umum 15 kali. dan lain-lain 12 kali. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya masalah penanganan persampahan memegang peranan penting.457 m yaitu 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 658 m di Desa Sayati.000 m Sungai Cikungkurak di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu. 70 m di Desa Margahayu Selatan.3 m2 TPSA (tersebar di tiga lokasi yaitu di Kecamatan Ciparay. 650 m drainase di Pasar Cikalong Wetan dan 870 m drainase di Desa Sukapura Kecamatan Dayeuhkolot.640 m Sungai Cimariuk di Desa Sayati. 14. Cicalengka. Sedangkan pencapaian pada tahun 2004 adalah pembangunan drainase perkotaan 4. Sampai dengan tahun 2004 sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bandung adalah 57 unit kendaraan. 2.080 m di Kecamatan Lembang.7. bangunan industri 20 kali. dan 1200 m2 UDPK. Permasalahan yang ada pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya adalah belum seluruh wilayah memiliki sistem drainase. bangunan industri 21 kali. Kecamatan Pasirjambu. Majalaya. bangunan gedung 12 kali. Pada tahun 2004 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 122 kali dengan rincian bangunan perumahan 58 kali. 174 unit gerobak sampah.5 Sub Fungsi Perumahan dan Permukiman lainnya Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil-hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2001 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1.430 m3/ bulan. Pada tahun 2003 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. Dari keseluruhan sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki maka pada tahun 2004 baru dapat terlayani 63. bangunan umum 28 kali.

pelayanan jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga. pelayanan jasa usaha RPH. pelayanan pemeriksaan hewan ternak. pelayanan parkir di tepi jalan umum. pelayanan jasa usaha pemakaian kekayaan daerah. pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan. pelayanan izin pembuangan limbah cair. pelayanan pemakaman. hasil ternak dan hasil ikutannya. pelayanan ijin ketenagakerjaan. pelayanan biaya cetak Akte Catatan Sipil. pelayanan pemeriksaan alat pemadam kebakaran. pelayanan biaya cetak KTP. pelayanan perijinan perdagangan. SPM bidang koperasi dan usaha kecil menengah. Fungsi Pelayanan Umum 2. pelayanan jasa usaha kebudayaan dan pariwisata. pelayanan persampahan/ kebersihan. Pada fungsi pelayanan umum telah dilakukan mekanisme penataan ketatalaksanaan pelayanan publik melalui penyusunan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yaitu SPM bidang pendidikan. pelayanan perijinan industri. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -48 . pelayanan jasa usaha terminal. 8/2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat. serta SPM bidang perindustrian dan perdagangan.1 Sub Fungsi Pelayanan Umum Pada fungsi pelayanan umum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi berbagai jenis pelayanan umum yaitu : pelayanan kesehatan.8. pelayanan pengujian kendaraan bermotor. SPM bidang kesehatan. serta masih terbatasnya lahan pengolahan persampahan. 2. dan masih minimnya peralatan pengolahan persampahan yang dimiliki. Dalam fungsi pelayanan umum juga dilakukan upaya untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui kemandirian kecamatan/desa/kelurahan yaitu dengan pendelegasian sebagian kewenangan yang ditandai dengan disusunnya Keputusan Bupati No.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung prasarana pemadam kebakaran. pelayanan perijinan transportasi. SPM bidang pertanian. pelayanan pasar. pelayanan Ijin Gangguan (HO). pelayanan jasa usaha penjualan produksi usaha daerah.8. pelayanan ijin pemanfaatan hutan. pelayanan ijin pemanfaatan tanah. 21/2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Bupati ke Camat dan Keputusan Bupati No. dan pelayanan perijinan penyelenggaraan koperasi. pelayanan jasa usaha penyedotan kakus.

Masih minimnya Standar Pelayanan Minimal.2 Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pada Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya. 2. Tokoh Masyarakat dan Aparatur Daerah terhadap 80 orang. FORKONKOMDA (Forum Konsultasi dan Komunikasi Daerah) tingkat Kabupaten Bandung. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan bidang politik bagi Infra dan Supra Struktur Politik tingkat Kabupaten Bandung. dan SDM yang memadai. 2. telah melaksanakan kegiatan dalam rangka : 1. 3. Mewujudkan situasi dan kondisi yang tentram. penyaluran dana bantuan Partai terhadap Parpol yang mendapat kursi di legislatif sebagai upaya BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -49 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik juga dilaksanakan pembangunan sistem aplikasi 17 buah jumlah unit kerja yang terkoneksi pada jaringan LAN SIMDA sebanyak 14 unit kerja plus Ruang Bupati. Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah. 2. Mewujudkan pemahaman serta pendewasaan berpolitik masyarakat yang sehat dan demokratis. dengan terbentuknya KOMINDA (Komunitas Intelejen Daerah). 4. yang diselenggarakan terhadap 159 orang dari Pengurus Parpol. dengan hasil terbentuknya kepengurusan BAKOMKESBANG (Badan Komunikasi Kesatuan Bangsa). Belum optimalnya pelayanan kepada publik yang ditandai dengan masih banyaknya keluhan masyarakat tentang mekanisme dan tarif pelayanan yang tidak transparan. LSM dan Aparatur Pemerintah. Ormas. Forum Komunikasi dan Konsultasi Penetapan Stabilitas Daerah bagi aparat intelejen di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 60 orang. Forum Konsultasi dan Komunikasi antar Tokoh Agama. Upaya pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke kecamatan/ desa/ kelurahan belum sepenuhnya didukung oleh sarana prasarana. pembiayaan. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan umum adalah : 1. Belum efektifnya pelayanan publik melalui SIMDA terpadu.8. bagi lancarnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

1% untuk wilayah perkotaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung meningkatkan kemandirian partai politik (dengan rincian: hasil Pemilu 1999 sebanyak 9 Parpol. 2. TPSA di 3 lokasi (Kecamatan Ciparay. cakupan pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung baru sekitar 12. Sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki sampai dengan tahun 2005 adalah 57 unit kendaraan.4% untuk Kabupaten dan 36% untuk wilayah perkotaan di Kabupaten Bandung. Pada tahun 2001.3 ha TPSA. pada tahun 2002 meningkat menjadi 14.9% untuk Kabupaten dan 34. Pemetaan Ormas. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan lainnya yaitu terdapatnya kecenderungan pergeseran nilai budaya masyarakat yang mengarah kepada budaya kurang santun.45% untuk Kabupaten dan 29.9. 330m2 UDPK. Permasalahan semakin bertambah dengan adanya bencana longsor di TPA Leuwi Gajah yang berdampak pada pengelolaan persampahan selanjutnya di Kabupaten Bandung. Pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung sampai saat ini belum dapat dikatakan optimal karena masih terbatasnya cakupan pelayanan dan pengelolaan sampah yang masih tradisional. Pasirjambu dan Lembang). LSM dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan. eforia demokrasi secara berlebihan serta belum optimalnya proses demokratisasi dalam menampung aspirasi masyarakat. pelatihan Ketahanan Bangsa bagi Infra dan Supra Struktur Politik sebanyak 160 orang dalam rangka peningkatan kewaspadaan Nasional. Hal tersebut karena berkaitan dengan produk limbah yang sangat besar namun tidak diimbangi dengan penanganan yang memadai. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -50 . 164 unit gerobak sampah. 14.1 Manajemen Limbah Sampai saat ini.8% untuk perkotaan. 27 unit land container. dan Pemilu 2004 sebanyak 8 Parpol). dalam rangka tertib administrasi sesuai Permendagri Nomor 5 Tahun 1986 dan Inmendagri Nomor 8 Tahun 1990. tahun 2003 15% untuk Kabupaten dan 35% untuk wilayah Perkotaan dan pada tahun 2004 cakupan menjadi 15.9 Fungsi Lingkungan Hidup 2. limbah domestik/non industri masih menjadi permasalahan yang sangat penting.

200 Mg BOD/et atau 80% dari debit air. Padalarang. O3 (ozon) di Kecamatan Sindangkerta dan PM 10 di Kecamatan Cililin dan Margahayu. Hasil pemantauan terhadap 198 industri. 29. dengan hasil pemantauan kualitas udara sebagai berikut : • Tahun 2001. COD dan detergen dari air limbah penduduk yaitu 136.3 Sub Fungsi Penanggulangan Polusi Adanya aktivitas industri dan non industri di Kabupaten Bandung telah mengakibatkan menurunnya kualitas udara. masih rendahnya penanganan limbah domestik/non industri ditandai dengan dengan tingginya kandungan BOD.022 ton P/hari dan 23. pada tahun 2003 telah dilakukan studi kelayakan IPAL terpadu Majalaya dan pada tahun 2005 akan dilakukan penyusunan studi kelayakan IPAL Batujajar. terdapat pula air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik/non industri. Ngamprah.2 ton pestisida/musim dan dari air limbah RS sebesar 1.79 kg deterjen/hari. hasil pengukuran pada 50 titik di 42 Kecamatan menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu NOx di Kecamatan Cikalongwetan. 74% diantaranya telah memenuhi baku mutu dengan efisiensi IPAL rata-rata 50%.686 ton BOD/hari.193 kg BOD/hari. Rancaekek. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -51 . Selain air limbah yang dihasilkan dari proses industri.376 kg COD/hari dan 627. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan bahwa beberapa parameter berada diatas baku mutu yang telah ditentukan.043 ton N/musim. 58. 2. sementara di sisi lainnya penanganan polusi udara dirasakan masih belum optimal.2 Manajemen Air Limbah Di Kabupaten Bandung terdapat 204 buah industri yang menghasilkan limbah cair. Berkaitan dengan pembangunan IPAL terpadu. Dari 204 buah industri seharusnya dapat dilayani oleh 170 buah Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL (karena terdapat beberapa industri yang digabung pengolahannya dan terdapat industri yang memiliki 2 buah IPAL).9. Margahayu dan Katapang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.622 BOD/musim. potensi beban dari air limbah peternakan sebesar 60. 179. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup. Cipatat. Namun hingga tahun 2003 terdapat 7% industri yang masih belum memiliki IPAL dan 10 % dari IPAL yang ada harus ditingkatkan mutunya.9. dari limbah pertanian yaitu 330.

Tahun 2003. kualitas emisi sumber bergerak dan pemeriksaan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. Kopo-Sayati dan Jl Padalarang-Cimareme. hasil pengukuran kualitas udara ambient pada 15 titik (2 kali pengukuran) menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu dustfall antara lain di lokasi Jl. kualitas udara di lingkungan kerja. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -52 . partikulat (debu) di lokasi antara lain Jl. Kopo-Sayati. TPA Leuwigajah dan Zone Industri Majalaya serta CO (Karbon Monoksida) di lokasi Jl. Jl Padalarang-Cimareme. yaitu untuk kualitas udara bebas (ambient). Bojongsoang-Buahbatu. KopoSayati. Zone Industri Cisirung-Dayeuhkolot. Alun-alun Majalaya. hasil penelitian kualitas udara di zona industri kapur dan marmer Padalarang menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. Alun-alun Majalaya. kualitas udara emisi cerobong.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Subang Sumedang Batujajar Cimahi Ujungberung Rancaekek Dayeuhkolot Cianjur Banjaran Majalaya Gn Wayang Sebaran Industri IPAL terpadu Garut : Sangat buruk (DO < 2 ppm) : Buruk (2<DO<3 ppm) : Baik (DO>3 ppm) Gambar 2.6 Kondisi Air Sungai Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -53 .

pagar hidup.70 Ha. dam penahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.725 ha. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa kegiatan vegetatif yaitu hutan rakyat. 2.5 Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2001 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung tahun 2001 – 2010.534. situ. gully plug.9. perlindungan tebing sungai serta sarana jalan dan saluran. yang diantaranya : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -54 . sosialisasi PP 17 dan PP no 18 tahun 1999 tentang Pengawetan dan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 dilaksanakan pendataan bidang keanekaragaman hayati. kebun pekarangan. tata air. Sampai dengan tahun 2004 tercatat luas hutan rakyat menjadi 17. pelatihan dan pemberdayaan masyarakat oleh para Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL). penyuluhan. rehab teras dan UP-UPSA.919.4 Sub Fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Upaya konservasi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bandung khususnya bidang kehutanan dan konservasi tanah dilakukan melalui program Rehabilitasi Lahan Kritis dan Konservasi Tanah. kebun rakyat. luas lahan kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 32. waduk. kebun pekarangan. pasal 28 tentang kawasan budidaya pertanian dan pasal 30 tentang kawasan budidaya non pertanian. Sampai saat ini.9.15 Ha yang berlokasi di 36 Kecamatan dan Kecamatan Pangalengan tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 2. danau dan DPS. Selain itu dilaksanakan pula kegiatan pembinaan. Dalam perda tersebut ditetapkan antara lain pasal 26 tentang kawasan lindung. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya upaya konservasi SDA yang dilakukan pemerintah yang ditandai oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam dan belum optimalnya kemitraan yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat. dan kegiatan sipil teknis yaitu pembuatan sumur resapan. Upaya konservasi lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah di bidang keanekaragaman hayati berupa studi pelestarian puyuh gonggong.

d. dengan luas wilayah 62 ha. Kawasan Budidaya Pertanian. Kawasan peternakan/besar.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Kawasan hutan suaka alam. Kecamatan Paseh seluas 60 ha. Kawasan hutan rakyat. d. Kawasan Lindung a. Kawasan pangan lahan basah. dan Kecamatan Solokanjeruk seluas 2 ha. Kawasan hutan pelestarian alam/THR.200 ha. Kawasan pertambangan. f. 2. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan. f. dengan luas wilayah 7.284 ha.613 ha.375 ha. dengan luas wilayah 9. dengan luas wilayah 48. dengan luas wilayah 53. Kawasan pangan lahan kering.269 ha. Kawasan hutan produksi. dengan luas wilayah 182. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -55 . b. b. b. e.943 ha. dengan luas wilayah 324 ha.385 ha yang terbagi dalam zona: 1) Zona Leuwigajah (sudah masuk dalam Kota Cimahi) kecuali Margaasih seluas 55 ha. c. 4) Zona Cisiung yang meliputi Kecamatan Dayeuhkolot seluas 495 ha.975 ha. g.805 ha.917 ha. c. a. 2) Zona Majalaya yang meliputi Kecamatan Majalaya seluas 403 ha. dengan luas wilayah 2. Kawasan perairan. dengan luas wilayah 39.999 ha meliputi. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. Kawasan perlindungan setempat. dengan luas wilayah 44. Kawasan perikanan. 5) Zona Padalarang yang meliputi Kecamatan Padalarang seluas 600 ha. dengan luas wilayah 5. Kecamatan Ciparay seluas 5 ha. e. dengan luas wilayah 1. 3) Zona Rancaekek yang meliputi Kecamatan Rancaekek seluas 252 ha dan Kecamatan Cileunyi seluas 71 ha. 3. dengan luas wilayah 57. Kawasan rawan bencana. dengan luas wilayah 391 ha.014 ha meliputi. Kawasan Budidaya Non Pertanian. a. Kawasan/Zona Industri. dengan luas wilayah 24.

Sistem perkotaan di dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung diarahkan berdasarkan fungsi masing-masing hirarki dan fungsi masingmasing kota.026 ha. yaitu sebagian wilayah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -56 . 7) Zona Banjaran yang meliputi Kecamatan Banjaran seluas 46 ha. 5) SKW Saguling. dan 500 ha untuk pembuatan waduk reservoar. Kecamatan Pameungpeuk seluas 96 ha. 6) SKW Situpatenggang. dan Kecamatan Cililin seluas 100 ha. 10) Zona Cikancung yang meliputi Kecamatan Cikancung seluas 418 ha dan Kecamatan Cicalengka seluas 121 ha. Sistem perkotaan di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 4 (empat) hirarki yaitu : Hirarki I. dan Kecamatan Arjasari seluas 237 ha. e. Kecamatan Ngamprah seluas 118 ha. 2) SKW Lembang. Kecamatan Rancaekek 1. terbagi kedalam Satuan Kawasan Wisata diantaranya : 1) SKW Maribaya. 8) Zona Cimareme yang meliputi Kecamatan Batujajar seluas 360 ha. diperuntukan bagi pembentukan kota baru Tegalluar seluas 3. 4) SKW Ciburuy. dengan luas wilayah 28.500 ha. Kota-kota yang secara fisik cenderung menyatu dengan Kota Bandung dan diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan Kota Bandung.542 ha. c. 3) SKW Tangkuban Parahu. Kawasan permukiman. 7) SKW Pangalengan. untuk kawasan permukiman perkotaan seluas 4. Kawasan tertentu (pembentukan kota baru). meliputi Kecamatan Bojong-Soang 639 ha. 9) Zona Katapang yang meliputi Kecamatan Katapang seluas 155 ha dan Kecamatan Soreang seluas 50 ha.719 ha. Kawasan pariwisata. 8) SKW Ujungberung.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6) Zona Baleendah yang meliputi Kecamatan Baleendah seluas 137 ha dan Kecamatan Bojongsoang seluas 23 ha. Kecamatan Solokan Jeruk 903 ha. Kecamatan Cileunyi 442 ha. d.

Kota-kota Hirarki III-B meliputi Kota Pangalengan. Margahayu. terdiri atas Kota Soreang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Soreang dan Katapang). Sindangkerta. dan Cililin. Kota-kota yang diarahkan menjadi kota menengah yang mandiri sebagai sembrani tandingan (counter magnet) Kota Bandung dan menjadi pengembangan pusat regional. Ibun dan Paseh) dan Padalarang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Padalarang. Hirarki II. Ciparay. Hirarki III. Kecamatan Margaasih. Rajamandala (Cipatat). Dayeuhkolot. Kota-kota hirarki I berperan sebagai penunjang rembesan pertumbuhan Kota Bandung sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan invasi pertumbuhan ke kawasan-kawasan persawahan subur sebagai sabuk hijau yang mengelilingi dan memisahkan Kota Bandung dengan kota-kota kecil di sebelah selatan. Lembang. Ciwidey (sebagian wilayah Kecamatan Ciwidey dan Pasirjambu). Bojongsoang. Pacet dan Kertasari. Gununghalu. Ngamprah dan Batujajar). Kota-kota yang dipacu pertumbuhannya untuk menerima limpahan pertumbuhan Kota Bandung dikategorikan Hirarki III-A yaitu kota Cicalengka (termasuk sebagian wilayah Kecamatan Cikancung).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kecamatan Parongpong. Kota-kota hirarki IV berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan. Kota-kota satelit yang mengemban peran khusus dalam sistem Metropolitan Bandung atau kota-kota yang akan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Hirarki IV. Cikalongwetan dan Cisarua. Rancabali. Majalaya (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Majalaya. Baleendah. Cileunyi dan sebagian wilayah Kecamatan Rancaekek. yaitu Cipeundeuy. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -57 . Banjaran (termasuk Kecamatan Pameungpeuk). Ibukota Kecamatan yang diarahkan berfungsi sebagai pusat pelayanan/pengembangan pedesaan. Cipongkor.

18 Hirarki Kota-kota di Kabupaten Bandung Kota Kecamatan Margaasih Kecamatan Margahayu Kecamatan Dayeuhkolot Kecamatan Baleendah Kecamatan Bojongsoang Kecamatan Cileunyi Kota Rancaekek Kota Soreang II Hirarki Fungsi Pemukiman Pemukiman. Industri. Perangkutan dan Perdagangan. agropolitan Pariwisata. pemukiman Pemukiman. pendidikan militer. Fasilitas sosial Pemukiman Pemukiman. Rendahnya efektivitas penataan ruang dipengaruhi oleh faktor antara lain belum optimalnya kualitas dan kuantitas produk Rencana Tata Ruang serta penegakan hukum yang masih lemah. dilaksanakan penyusunan RDTRK Majalaya. Rancaekek dan Cileunyi. Selama tahun 2001 s/d 2004 perkembangan penyediaan dokumen tata ruang adalah sebagai berikut : • • • • Pada tahun 2001 dilaksanakan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Soreang. industri Pariwisata. Rancaekek dan Cileunyi. pertambangan Agropolitan I Kota Padalarang Kota Majalaya Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cicalengka Ciparay Banjaran Lembang Cililin Pangalengan Ciwidey Cikalongwetan Rajamandala Cisarua Cipeundeuy Sindangkerta Gununghalu Cipongkor Rancabali Pacet Kertasari III IV Berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan Sumber : RTRW Kabupaten Bandung Permasalahan sub fungsi Tata Ruang adalah meningkatnya kegiatan perkotaan di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya disertai oleh penyediaan instrumen perencanaan tata ruang detail yang memadai sehingga membawa konsekuensi tersendiri pada pembangunan sub fungsi Tata Ruang. industri Pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Industri rumah/ kerajinan Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian barat. Pada tahun 2002. industri Pemukiman Pemukiman. agropolitan Industri rakyat/ kecil. pendidikan militer Industri. Pariwisata. Pariwisata Pemukiman. agropolitan Pemukiman. Pada tahun 2003. Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan. Pemukiman Pemukiman. Industri.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. Pemukiman. Ciparay dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -58 . industri. Pangalengan dan Ciwidey. perangkutan ( terminal ) Pemukiman. Pada tahun 2004 dilaksanakan review RDTRK Banjaran. dilaksanakan pengesahan RDTRK Soreang. Pemukiman Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian timur. Lembang. penelitian Pemukiman.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain itu.10. • Pada tahun 2003 diterbitkan produk hukum berupa Perda 11 buah. Belum optimalnya pemanfaatan ruang. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang telah diimplementasikan dalam wujud pemanfaatan ruang. 4. 3. Permasalahan Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan terutama pada masalah : 1. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang dapat dijadikan acuan pembangunan wilayah dan kota 2. Instruksi Bupati 6 buah. Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 2. Surat Perjanjian 29 buah serta BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -59 . Instruksi Bupati 1 buah. terutama pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan budidaya di kawasan lindung. untuk menunjang peningkatan kualitas penataan ruang telah dilakukan penyediaan peta digital dan peta garis yaitu peta digital dan peta garis skala 1 : 5. surat perjanjian 27 buah serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang. 12. operasi penegakan hukum melalui razia gabungan terhadap Pekerja Seks Komersial. Belum optimalnya perencanaan tata ruang.500 ha pada tahun 2003. Instruksi Bupati 2 buah. dan 4.500 ha pada tahun 2001.092 buah. • Pada tahun 2002 diterbitkan produk hukum berupa Perda 18 buah. Keputusan Bupati 545 buah.1 Pembinaan Hukum Pada sub fungsi pembinaan hukum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 diterbitkan produk hukum berupa Perda 29 buah. Keputusan Bupati 853 buah.10 Fungsi Ketertiban dan Keamanan 2. Keputusan Bupati 1. 19. dan operasi penertiban dan penegakan Peraturan daerah yang berhubungan dengan perijinan perusahaan.210 ha pada tahun 2004.300 ha pada tahun 2002.000 seluas 3. serta sosialisasi Peraturan Daerah ke 15 kecamatan. surat perjanjian 29 buah. rencana pengembangan pusat-pusat wilayah dsb. penyelesaian perkara hukum sebanyak 11 kasus. seperti rencana pembangunan Tegalluar.

surat perjanjian 6 buah. operasi penertiban dan penegakan Peraturan Daerah ke perusahaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pada tahun 2004 diterbitkan produk hukum berupa Perda 4 buah. dan belum optimalnya upaya pembaharuan dan penyusunan produk-produk hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Instruksi Bupati 1 buah. dan penyelesian perkara hukum sebanyak 3 kasus. belum optimalnya sosialisasi produk hukum dan bantuan hukum terhadap kasus hukum yang cenderung meningkat. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pembinaan hukum adalah belum optimalnya upaya penegakan supremasi hukum yang ditandai masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda dan aturan hukum lainnya. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -60 . pembinaan keluarga sadar hukum di wilayah Kabupaten Bandung. Keputusan Bupati 264 buah. serta sosialisasi Peraturan daerah ke 4 kecamatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004 Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -61 .

000 Perubahan Lahan (Ha) 14.000 -26.000 1983-1993 1993-2002 1983-2002 34.000 -46.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1983 54.000 -6. 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -62 .000 Danau/Waduk Fasum Lahan Terbuka Pertanian/Saw ah Tegalan Perkebunan Semak/Rumput Sub Urban Belukar Industri Hutan Urban Penggunaan Lahan Jenis Tutupan Lahan % Perubahan Tutupan Lahan DAS Citarum Hulu Jenis Lahan Hutan Perkotaan Industri Belukar Lahan terbuka Pertanian 2002 1983-1993 (%) -18 105 618 45 52 -15 1993-2002 (%) -44 62 35 93 22 -47 1983-2002 (%) -54 233 868 181 86 -55 Gambar 2.8 Peta Perubahan Guna Lahan Kabupaten Bandung Sumber: Wangsaatmaja.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. prostitusi 12 kali. tawuran 7 kali. Angka Harapan Hidup (AHH). penertiban pasar 3 kali. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -63 . perjudian 28 kali. Angka Melek Huruf (AMH). penertiban/penegakan kependudukan/KTP 10 kali dan Pam Bencana Alam 12 kali. • Pada tahun 2004 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 22 kali. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). perjudian 5 kali. prostitusi 5 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. PGOT 5 kali. penertiban reklame 2 kali dan penertiban pasar 3 kali. unjuk rasa 15 kali. Pam Asset Pemda 12 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. penertiban minuman beralkohol (miras) 12 kali. penertiban pasar 2 kali. Prostitusi 5 kali. unjuk ras 12 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. • Pada tahun 2003 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 20 kali. • Pada Sub Fungsi Tramtibum dan Penegakan Perda dengan dilaksanakannya pelatihan keterampilan pelaksanaan Kader Sat Pol PP sebanyak 150 orang anggota. perjudian 5 kali. prostitusi 1 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 5 kali. penertiban perijinan perusahaan 12 kali dan penertiban pasar 1 kali. Angka Kematian Bayi (AKB). PGOT 20 kali. unjuk ras 19 kali. 2. PGOT 4 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. perjudian 2 kali. Keamanan dan Hukum Lainnya Pada Sub Fungsi Ketentraman dan Ketertiban serta Penegakkan Perda sampai dengan Tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 dilakukan upaya penertiban/pengamanan PKL 12 kali.10. Pam Gerakan Disiplin Daerah 3 kali. Rasio Ketergantungan. Pencapaian Indikator Makro Sosial Indikator makro sosial yang dijadikan penilaian bagi keberhasilan pembangunan antara lain adalah Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). penertiban reklame 3 kali.2 Sub Fungsi Ketertiban. dan Tingkat Partisipasi Sekolah. • Pada tahun 2002 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 16 kali. unjuk rasa 22 kali.11. Pam Aset Pemkab 12 kali. penertiban minuman beralkohol ( Miras ) 2 kali. PGOT 5 kali.

087. Kecamatan yang memiliki AHH tertinggi adalah Kecamatan Ibun sebesar 67.675 1.4 tahun.053.000.000. mengalami peningkatan jika dibandingkan AHH tahun 2003 sebesar 65.500.411 jiwa) dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2003 yaitu sebanyak 4.000.500.087.675 jiwa dan perempuan 1.000.411 2.15 tahun).000 3.017. LPP tersebut dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yaitu sebanyak 4. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -64 .963.963.017. Dengan demikian.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.967 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.556 jiwa dan perempuan 2.64%.907 jiwa).9 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN BANDUNG 4.45 tahun dan yang terendah adalah Kecamatan Cipongkor sebesar 56. 2.11.000 2.000 1.000 500.19%.058.11.000 2.058.500.2 Angka Harapan Hidup (AHH) Pencapaian AHH tahun 2004 adalah sebesar 65.000 4. Gambar 2.000 1.556 2.85 tahun (dari proyeksi sebesar 66.000 3.907 2003 2004 Laki-laki Perempuan Jumlah LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2.6 tahun.500.582 2.145.053. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan.1.582 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.967 4. Laju Pertumbuhan Penduduk LPP Kabupaten Bandung dalam kurun waktu 2003-2004 tercatat sebesar 3.145.000 - 4.

Menurut data Suseda.4 2003 2004 Tahun Gambar 2. Kecamatan yang memiliki AKB tertinggi adalah Kecamatan Cipongkor yang mencapai 72. gizi.7 Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup Tahun Gambar 2.5 47 46.1 65.2 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) 65.50) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKB tahun 2003 sebesar 47. Realisasi AKB tahun 2004 tercatat sebesar 46. penolong pertama kelahiran bayi.37 jiwa per 1000 kelahiran hidup (dari proyeksi sebesar 43.7. Semakin kecil AKB maka semakin sedikit pula bayi yang meninggal di bawah satu tahun.11 AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil.37 47.25.5 2003 2004 46. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -65 .2 65. dan ANC ( Antenatal Care ).85 AHH (Tahun) 65.3 65.3 Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran.4 65.6 65.5 65.5 46 45. imunisasi ibu.9 65.10 2. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) 48 47.8 65.11.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.7 65.96 dan yang terendah adalah Kecamatan Parongpong dengan AKB sebesar 39.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 sebanyak 59. 38.10% kelahiran bayi ditolong oleh tenaga medis. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu angka yang menunjukkan tingkat penduduk yang aktif secara ekonomi atau angkatan kerja. yang mengalami sedikit kenaikan bila dibandingkan dengan TPAK tahun 2003 sebesar 51. Dari perspektif jender. dan Cipongkor. Rongga. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena sebagian besar perempuan usia produktif masih berada pada posisi sebagai ibu rumah tangga. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Rancabali.12 2.94% ditolong oleh famili/lainnya.10 % PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Tenaga Medis Dukun Famili/lainnya Gambar 2.66%. 1. 38. diperoleh dengan membagi besarnya angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan) dengan jumlah penduduk usia kerja. 59.83. kiranya perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuk dapat mengejar ketertinggalan tersebut. TPAK perempuan di Kabupaten Bandung yang mencapai 30.94% Dukun. Dengan melihat kondisi tersebut dan jika dikaitkan dengan pencapaian AKB rata-rata Jawa Barat yang pada tahun 2003 telah mencapai 43. Data Suseda menunjukkan TPAK Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat sebesar 52.96% oleh dukun.84%.4 Pertolongan Kelahiran Bayi Famili/lainnya. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -66 .11.96% Tenaga Medis.4. Grafik 2.03 %.79 % relatif jauh tertinggal jika dibandingkan TPAK penduduk laki-laki yang mencapai 74. dan 1.

48 % yang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2003 yaitu 55.5.50% 52. yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup masyarakat Kabupaten maka akan berdampak pada bertambahnya penduduk usia tua yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio ketergantungan.13 2. Hal ini menunjukan pada tahun 2004 terdapat penurunan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif.84%.00% 50. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten perlu mengantisipasi agar penduduk usia lanjut tersebut tidak menjadi beban bagi penduduk usia produktif.50% 50. Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0 -14 tahun ditambah penduduk berusia di atas 65 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15-64 tahun.00% 51. Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh golongan penduduk umur produktif.84% Gambar 2.00% 52.11. Data Suseda menunjukkan angka beban ketergantungan tahun 2004 tercatat 52.03% TPAK 52. Jika dikaitkan dengan keberhasilan di sektor Kesehatan.50% 51.5 ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) 53.00% 2003 2004 51.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -67 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.58%.14 2.40% 98.20% 98.00% 2003 2004 97.00% 50.00% 56.23% (dari proyeksi sebesar 97.384 jiwa yang belum bisa membaca dan menulis.00% 53.15 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -68 .6 Angka Melek Huruf (AMH) AMH Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat 98.00% 97.7 ANGKA MELEK HURUF ANGKA MELEK HURUF (AMH) 98.00% 2003 Tahun 2004 52.6 RASIO KETERGANTUNGAN RASIO KETERGANTUNGAN 57. Apabila dibandingkan antara AMH pada penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami buta huruf dibandingkan penduduk laki-laki. AMH pada penduduk laki-laki tercatat sekitar 99 % dan pada perempuan sekitar 97.40% 97.80% 97.23% Tahun Gambar 2.00% 52.50% AMH 98.40 %) dan mengalami peningkatan jika dibandingkan AMH tahun 2003 sebesar 97.48% Rasio Ketergantungan 55.20% 97.60% 97.84% Gambar 2.00% 55.5%.77% penduduk atau sekitar 73. Dengan pencapaian AMH tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bandung sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis serta hanya sekitar 1. Grafik 2.00% 51.00% 54.11.

38 29.19 Pencapaian APM Kabupaten Bandung Tahun 2003 dan 2004 No 1 2 3 4 Tingkat SD/MIS SLTP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi 2003 Proyeksi Realisasi (%) (%) 95. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan capaian AHH.95 Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 Dari semua komponen IPM.37 thn 554. diharapkan komponen AHH tersebut BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -69 . 2.7.65 thn 530. dalam kurun waktu 2003 – 2004 hanya komponen AHH yang belum dapat memenuhi proyeksi sehingga berpengaruh terhadap pencapaian sesuai proyeksi.90 55.12.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.44 37.15 thn Realisasi 2004 65.72 97. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Bandung telah mengenyam pendidikan sekitar 8 tahun.18 65.85 thn 98.03 thn 534.70 % 7.36 96.46 thn Realisasi 2003 65.49 thn 515. realisasi IPM tahun 2004 sebesar 68.5.20 Pencapaian Komponen IPM Kabupaten Bandung Tahun 2003-2004 dan Capaian Jawa Barat 2004 No 1 2 3 4 Komponen Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Daya Beli (Rp) IPM Proyeksi 2003 65.4 thn 97.45 - Proyeksi (%) 2004 Realisasi (%) 93.50 Proyeksi 2004 66.44 34. RLS dan pendapatan per kapita tahun 2004 telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM).16 30. Proyeksi dan capaian dari komponen-komponen IPM tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 2. Tingkat Partisipasi dan Melanjutkan Sekolah Pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD.52 mengalami peningkatan jika dibandingkan IPM tahun 2003 sebesar 67. Tabel 2.03 tahun yang mengalami peningkatan jika dibandingkan RLS tahun 2003 sebesar 7.65 tahun.570 68.01 77.09 97. SMU dan PT tahun 2003 dan 2004 untuk berbagai level pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.21 95. Walaupun pencapaian belum sesuai proyeksi.96% 7.200 67. AMH. SLTP.060 68.09 6.23 % 8.11.53 % 7.60 - Sumber : BPS Kabupaten Bandung Berdasarkan pencapaian tingkat partisipasi sekolah tersebut.40 % 7. tercatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah 8.34 thn 93.68 thn 534. Dengan demikian.870 70.320 68.22 54.52 Realisasi Jawa Barat 2004 65.

36 Proyeksi 2003 Realisasi 2003 Proyeksi 2004 Realisasi 2004 Realisasi Jabar 2004 Gambar 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung perlu mendapat perhatian untuk penajaman kebijakan di tahun mendatang.16 Pencapaian IPM tiap kecamatan di kabupaten dapat dilihat pada tabel 2.72 67. Apabila dikaitkan dengan target IPM Propinsi Jawa Barat tahun 2010 sebesar 80 maka diperlukan upaya yang serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung melalui penajaman program-program prioritas untuk dapat mencapai angka tersebut.95 71 70 69 68 67 66 65 IPM 68.22 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -70 . PENCAPAIAN IPM KABUPATEN BANDUNG 70.52 68.21 dan proyeksi IPM Kabupaten hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.5 68.

15 7.51 PPP (ribu Rp) 545.00 523.02 98.88 65.34 64.60 60.15 63.00 65.98 8.54 534.51 540.65 68.05 61.86 67.47 533.51 70.71 98.78 97.02 536.90 529.40 65.05 64.58 9.39 68.14 6.57 68.95 63.31 66.19 523.23 7.05 65.83 99.25 AMH (%) 99.30 10.61 8.12 96.59 99.47 541.32 66.00 66.05 60.92 533.20 69.81 99.81 68.61 529.88 523.27 525.58 530.65 63.39 60.11 68.10 98.10 63.72 67.86 98.14 530.73 99.24 517.45 65.10 535.64 67.17 64.83 540.85 65.90 65.63 7.03 8.00 541.69 68.00 7.51 9.11 66.54 99.25 68.95 61.39 546. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KECAMATAN CILEUNYI MARGAHAYU DAYEUH KOLOT RANCA EKEK IBUN LEMBANG BALEENDAH BOJONG SOANG PAMEUNGPEUK Komponen IPM AHH (thn) 67.45 531.60 9.25 539.52 67.75 64.08 66.95 67.82 93.45 63.10 526.05 62.25 536.63 98.21 7.00 61.88 7.16 64.85 65.98 68.65 68.93 98.00 95.65 65.71 8.49 99.37 96.62 IPM 71.55 64.22 67.43 97.25 65.44 528.81 6.55 540.99 68.36 9.76 99.60 98.06 529.45 64.29 92.91 7.14 529.83 99.65 65.80 8.20 67.84 99.37 524.22 98.80 65.55 62.95 98.80 10 CIPARAY 11 MARGAASIH 12 CILENGKRANG 13 CIMENYAN 14 NAGREG 15 KATAPANG 16 MAJALAYA 17 PARONGPONG 18 CIMAUNG 19 SOREANG 20 CANGKUANG 21 PANGALENGAN 22 BANJARAN 23 PADALARANG 24 CIHAMPELAS 25 CILILIN 26 PASIR JAMBU 27 ARJASARI 28 CIKALONG WETAN 29 CICALENGKA 30 CIPEUNDEUY 31 SOLOKAN JERUK 32 RANCABALI 33 NGAMPRAH 34 BATUJAJAR 35 CIPATAT 36 CIWIDEY 37 SINDANG KERTA 38 CISARUA 39 PASEH 40 KERTASARI 41 PACET 42 GUNUNGHALU 43 CIKANCUNG 44 CIPONGKOR 45 RONGGA Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -71 .53 98.55 99.79 6.73 521.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.53 6.35 66.92 68.65 62.70 96.17 67.66 64.61 93.94 6.60 533.49 7.71 65.55 65.63 69.05 65.43 99.51 97.75 62.83 7.23 533.29 98.25 66.56 525.55 65.62 10.15 69.70 64.85 65.59 538.53 97.94 8.85 8.58 8.32 8.21 Pencapaian IPM di Tiap Kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2004 NO.65 7.65 64.70 97.60 7.37 68.39 7.26 538.56 6.64 527.10 526.72 RLS (thn) 9.25 8.40 64.40 64.35 56.37 550.43 98.95 9.69 98.65 67.11 543.35 61.24 65.63 544.35 6.03 65.20 8.89 94.60 99.34 91.11 6.69 67.22 96.29 67.10 522.91 7.96 97.61 98.28 70.05 97.20 66.01 519.55 57.02 5.02 6.93 65.68 529.15 65.85 8.77 98.07 7.64 534.50 8.87 540.35 66.

64 51.15 8.26 555.85 69.93 98.11 65.70 Proyeksi dihitung berdasarkan hasil Suseda 20012003 Sumber Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -72 .47 85.20 86.93 52.87 85.43 96.83 99.90 8.90 52.74 43.75 98.57 7 64.RATA LAMA SEKOLAH ( TAHUN) INDEKS INDEKS PENDIDIKAN KEMAMPUAN DAYA BELI ( X.20 82.97 47.06 56.02 46.90 98.60 525.60 78.11 530.40 7.00 534.01 73.58 97.30 53.28 72.22 64.Rp.40 7.53 72.60 98.15 99.22 66.46 67.40 567.40 94.09 539.25 36.20 65.68 61.87 54.00 517.50 99.70 96.15 68.22 32.20 7.03 60.58 34.14 47.25 93.88 55.13 98.55 64.86 2 3 4 5 6 60.49 49.64 74.58 99.56 70.40 56.60 93.18 94.62 57.00 84.86 561.07 66.60 79.17 65.10 95.03 67.15 69.40 56.80 521.35 99.44 67.29 48.60 8.87 83.50 39.19 51.48 70.40 97.63 68.35 99.1000) INDEKS ANGKA KEMATIAN BAYI (PER 1000 KELAHIRAN) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 63.72 60.22 Proyeksi IPM Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 NO 1 INDIKATOR 2000 2 3 2001 4 2002 5 2003 6 7 PROYEKSI PER TAHUN 2004 2005 8 2006 9 2007 10 2008 11 2009 12 2010 13 1 ANGKA HARAPAN HIDUP ( TAHUN ) INDEKS ANGKA MELEK HURUF ( %) INDEKS RATA .60 550.20 98.47 30.93 81.26 68.50 9.10 7.97 59.50 75.70 7.68 51.89 545.30 95.85 29.26 64.35 8.42 57.29 69.60 7.28 66.59 73.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.50 50.48 71.80 78.87 69.78 66.17 54.47 83.83 58.42 70.75 74.

Isu strategis yang merupakan gambaran umum permasalahan yang dihadapi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut : 1. rendahnya tingkat pendapatan dan tingginya LPP. kinerja birokrasi. 8. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 masih berada pada angka 68. persebaran dan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum memadai. seperti terminal.52 (realisasi). Menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan ditandai dengan meningkatnya pencemaran air dan udara serta masalah lingkungan lainnya seperti banjir dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -73 . sedikit diatas IPM Jawa Barat yaitu sebesar 68. Kualitas pelayanan publik belum optimal disebabkan antara lain oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia aparatur.36. serta kualitas kesehatan lingkungan yang masih relatif rendah. pasar dan sistim transportasi sehingga menyebabkan kesemrawutan kota dan kemacetan lalu lintas.70 yang akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai fungsi dan sub fungsi pembangunan. Masih rendahnya keterpaduan pemanfaatan ruang kota. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. dan belum optimalnya aplikasi konsep pembangunan partisipatif. SPM. kualitas pelayanan kesehatan. 3. Resistensi nilai-nilai religius. kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayananan pendidikan. 2. simplikasi. sosial dan budaya sebagai akibat dari derasnya arus perubahan dan globalisasi. serta berkurangnya kesadaran dan citra budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat. 5.13 Isu Strategis Kabupaten Bandung Berdasar kondisi dan proyeksi mendatang Kabupaten Bandung 2010. munculnya berbagai penyakit masyarakat. dan sarana prasarana yang belum memadai. integrasi. 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dilihat secara makro. 2. 7. kesadaran hidup bersih dan sehat. 6. Koordinasi. Hingga tahun 2010 diharapkan IPM Kabupaten Bandung akan mencapai atau bahkan lebih besar dari proyeksi sebesar 74. Kualitas pendidikan masih relatif rendah disebabkan antara lain belum tercapainya target RLS. menurunnya kepekaan dan solidaritas sosial. sinkronisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

dll) o Kelompok 4: Isu-isu terkait dengan perbaikan aspek sosial. Pembenahan ini dilakukan di semua lini pemerintahan. pemanfaatan ruang kawasan pedesaan. o Kelompok 2: Isu-isu terkait dengan penyediaan pelayanan umum dasar bagi masyarakat. lemahnya kelembagaan desa dan belum teralokasikannya sumber keuangan desa secara memadai. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan menurunnya daya dukung lingkungan dan sediaan infrastruktur dasar (jalan. rendahnya efektivitas penataan ruang dan lemahnya pengawasan dan pengendalian.14 Konfigurasi Isu Startegis dan Kerangka Intervensi Pembangunan Dari kesembilan isu strategis di atas dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antar isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan. 2. mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa antara lain dengan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Rendahnya kinerja pembangunan desa disebabkan kualitas SDM. juga adanya kegagalan internal BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -74 . sarana infrastruktur perdesaan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan pelaksanaan fungsi/peran pemerintah sebagai public servant (pelayan publik). IPAL. perumahan. yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan. yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran. Isu-isu pada kelompok ini terkait dengan pembenahan internal Kabupaten Bandung. Isu yang termasuk dalam kelompok ini terkait dengan modal sosial yang terancam oleh faktor eksternal. o Kelompok 3: Isu-isu terkait dengan perbaikan kondisi fisik keruangan kabupaten. perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung longsor. penataan kelembagaan maupun pemekaran wilayah. Untuk melihat konfigurasi dari kesembilan isu strategis tersebut dilakukan pengelompokan isu-isu strategis ke dalam beberapa kelompok isu yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan sebagai berikut: o Kelompok 1: Isu-isu terkait dengan perbaikan kualitas pemerintahan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. TPA. aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. 9.

s o s ia l d a n budaya IS U 9 : R endahnya k in e r j a pem bangunan desa K e lo m p o k 3 : FISIK K E R U A N G A N IS U 7 : k e s e m ra w u ta n k o ta d a n k e m a c e t a n la lu lin t a s ISU 8: M en u ru n n y a daya dukung d a n k u a lit a s lin g k u n g a n Gambar 2. K e lo m p o k 2 : PELAYAN AN D ASAR U N TU K W ARG A IS U 6 : K u a lit a s p e la y a n a n p u b lik b e lu m o p t im a l K e lo m p o k 1 : PEM ER IN T A H A N IS U 5 : < K in e r ja b iro k r a s i m a s ih re n d ah > ISU 4: J u m la h penduduk m is k in m a s ih r e la t if t in g g i IS U 3 : < K u a lit a s k e s e h a ta n m a sy ara k at m a s ih r e n d a h > IS U 2 : K u a lit a s p e n d id ik a n m a s ih r e la t if ren d a h K e lo m p o k 4 : M O D A L S O SIA L IS U 1 : R e s is t e n s i n ila in ila i r e lig iu s . kelompok isu keempat (modal sosial) dianggap sebagai dampak dari berbagai masalah yang terjadi pada semua kelompok isu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keempat kelompok isu tersebut kemudian diletakkan dalam suatu konfigurasi permasalahan untuk melihat keterkaitan antar kelompok isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan yang akan dilakukan. Gambar di bawah ini menjelaskan konfigurasi permasalahan tersebut. Sementara itu. Gambar di atas menunjukkan hubungan antar kelompok isu dimana isu pada kelompok pertama (pemerintahan) dianggap memberi dampak pada terjadinya permasalahan pada kelompok isu kedua (pelayanan dasar untuk warga). dan kelompok isu keempat (modal sosial). kelompok isu ketiga (fisik keruangan).17 Konfigurasi Permasalahan dan Keterkaitan Antarkelompok Isu. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -75 .

tertib. pelaksanaan hingga pengawasan. MISI DAN PRIORITAS DAERAH 3. tenteram. kehendak dan kebutuhannya secara proporsional dan bertanggungjawab. damai. Partisipatif merupakan pendekatan yang diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan.1 V i s i Berdasarkan potensi. Sesuai dengan paradigma kepemerintahan yang baik bahwa kedudukan masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan sesuai dengan prakarsa. Percepatan pembangunan tersebut mengandung maksud menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi cepatnya pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bandung. melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius. permasalahan dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan memperhatikan nilai-nilai visi daerah. dengan pengertian bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan aktif dalam keseluruhan proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-1 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB III VISI. Kultural dan Berwawasan Lingkungan. Akselerasi pembangunan atau percepatan pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat proses pembangunan lebih cepat. tuntutan. dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa” Makna dari Visi tersebut : Repeh Rapih Kertaraharja adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang hidup dalam keadaan aman. sejahtera dan senantiasa berada dalam lindungan. aspirasi dan dinamika yang berkembang pada masa kepemimpinan tahun 2000-2005. visi yang kami kedepankan adalah ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. sehingga manfaatannya dapat segera dirasakan oleh masyarakat. bimbingan dan rahmat Allah SWT.

menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan. norma. bahwa pembangunan di Kabupaten Bandung harus memberikan perhatian yang besar dan sungguh–sungguh terhadap pengembangan desa. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik. 3. Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa mengandung pengertian. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. melekat dan menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Bandung. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Pengembangan budaya Sunda tersebut dilakukan dengan tetap menghargai pluralitas kehidupan masyarakat secara proporsional. semangat dan kaidah agama. Daya dukung dan kualitas lingkungan harus menjadi acuan utama segala aktifitas pembangunan. Berwawasan Lingkungan mengandung pengertian dan kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan yang didasari oleh kesadaran akan fungsi strategis lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia. peningkatan kualitas kinerja pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan identitas mayoritas Kabupaten Bandung. harus tumbuh dan berkembang seiring dengan laju pembangunan.2 M i s i Untuk mewujudkan visi diatas. 4. serta menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial. agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. harus menjiwai. Desa yang dalam susunan pemerintahan merupakan unit pemerintahan terendah adalah ujung tombak pembangunan daerah dan lokus yang menjadi muara seluruh aktifitas pembangunan. Kultural mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya Sunda yang baik. Tertib. mewarnai. termasuk penyelengaraan pemerintahan dan pembangunan. nyaman. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-2 . 8. dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan hidup beragama. 7. 3. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa. 5. Tenteram dan Dinamis. 2. dirumuskan 8 ( delapan ) misi sebagai berikut : 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. 6. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. dan berkelanjutan. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Religius mengandung pengertian bahwa nilai-nilai.

sektor swasta dan masyarakat secara proporsional dan bertanggung jawab. efektif. kesetaraan. demokratis. oleh karena itu. kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebut bukan semata-mata merupakan tuntutan organisasi tetapi harus diyakini sebagai amanah dari allah swt. Bertanggung jawab mengandung pengertian bahwa pelaksanaan peran dan fungsi setiap domain pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif berdasarkan prinsipprinsip kepemerintahan yang baik. tetapi juga dihadapan-nya. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik adalah peran kepemimpinan yang demokratis. sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik. sebagaimana firmannya dalam al-quran surah al-baqarah ayat 30 yang artinya : ” sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah ( pemimpin ) di muka bumi ini”.1 Misi 1 : Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. organisasi dan kepemimpinan serta sistem yang berlaku di dalamnya harus dijalankan sesuai dengan tuntunan-nya dan dipertanggungjawabkan bukan saja di hadapan manusia. transparan. responsif. Proporsional dalam hal ini mengandung pengertian bahwa setiap domain pemerintahan melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki berdasarkan tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku.2. akuntabel dan memiliki visi strategik. adil. egaliter dan mampu mengedepankan keteladanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Kepemimpinan harus dilandasi oleh kesadaran mengambil peran dan tanggung jawab untuk membangun demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. berorientasi konsesus. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tidak semata-mata disandarkan kepada pemerintah saja tetapi merupakan sinergitas dari peran pemerintah. partisipatif berlandasakan hukum. efisien. sistem dan manajemen pemerintahan perlu dimantapkan antara lain dengan melakukan penataan wilayah dalam rangka mengefektifkan rentang kendali pengelolaan pemerintahan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-3 . dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama. yaitu pemerintah.

harus mampu dipenuhinya sebagaimana seharusnya. kedua : tabligh ( menyampaikan ): seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan berbagai programnya dengan baik kepada masyarakat serta mampu mendengar. sekecil apapun yang menjadi hak rakyat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pertanggungjawaban kepemimpinan ini ditegaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist. memperhatikan dan menyikapi dengan segera apa yang menjadi aspirasi masyarakatnya agar kebijakannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. bahwasannya rasulullah muhammad saw bertsabda : ”setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”. selain itu. ketiga : amanah ( jujur ) : seorang pemimpin harus berlaku jujur dan adil disertai dengan keikhlasan dan ketawakalan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. berada dalam kebenaran dan menuju kebenaran. apa yang diucapkannya harus dapat dibuktikan dengan perbuatan yang nyata. dalam praktek kehidupan. kebenaran inilah yang harus menjadi landasan strategi kebijakan serta acuan utama seluruh aktivitas pemerintahan dan pembangunan. allah swt berfirman dalam al-quran surah al-ahzab ayat 21. termasuk kepemimpinan di dalamnya. yang artinya” sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. kepemimpinan bukan semata-mata kekuasaan tetapi merupakan kapasitas intelektual yang dikonsepsikan dan dipraktekan dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya. kedatangan hari akhir dan mereka banyak menyebut nama allah.segala langkah yang ditempuh seorang pemimpin harus harus berpijak pada kebenaran. termasuk kepemimpinan pemerintahan di dalamnya. yaitu : pertama : siddiq ( benar ) : yaitu komitmen terhadap kebenaran. yaitu bagi mereka yang mengharapkan ridho allah.” secara garis besar terdapat 4 ( empat ) karakter kepemimpinan rasulullah saw yang harus kita teladani dalam berbagai lingkup kepemimpinan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-4 . rasulullah saw patut dijadikan sebagai tauladan. keempat : fathonah ( cerdas) : yaitu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta memiliki semangat untuk menjadikan berbagai fenomena kehidupan sebagai pelajaran yang sangat berharga.

2. tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama. Kondisi yang aman. kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat.2. pembangunan dan kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan tuntutan perubahan kehendak dan kebutuhan masyarakat berdasar asas demokrasi yang bertanggung jawab.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksud. keahlian. disertai dengan rasa kebersamaan. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yan sangat penting dalam rangka mewujudkan Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. persatuan dan kesatuan seluruh komponen pembangunan. Tertib. yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. 3. ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai. peningkatan kemampuan intelektual. Oleh karena itu. Tentram dan Dinamis. Selain itu. disertai dengan perhatian yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan agar memiliki kesetaraan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-5 . derajat kesehatan.2 Misi 2: Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. penegakan hukum harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan adil dengan perlakukan yang sama terhadap semua orang tanpa diskriminasi. tenteram dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Dinamika pemerintahan. faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman.3 Misi 3: Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi. Peningkatan kualitas meliputi pemantapan moral dan mental. tertib. Keamanan. perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi terutama pada sektor pertanian dan industri. Penilaian kemiskinan dengan permasalahan sosial merupakan siklus masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras agar masyarakat dapat hidup layak dan menjalani kehidupannya dengan baik. Apabila potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik. konsep iman dan taqwa sebagai muatan utama masyarakat beragama harus menjadi landasan pokok yang harus dikedepankan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung peran dan fungi dalam ruang pembangunan serta pemberdayaan generasi muda agar pada masa yang akan datang mampu mengambil peran dalam pembangunan.5 Misi 5: Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Untuk mewujudkan masyarakat yang Repeh Rapih Kertaraharja di tengah –tengah masyarakat Kabupaten Bandung yang sangat religius. Sehingga paradigma pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung harus dititikberatkan pada keselarasan pengembangan pertanian yang kuat dengan industri yang maju yang bertumpu pada pengembangan potensi sumber daya lokal. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. akan mampu meningkatkan kemampuan usaha masyarakat. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-6 . Dengan demikian. membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.2. kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap keyakinan teologis yang dapat mengakibatkan kekufuran. Oleh karena itu. 3. pengembangan potensi ekonomi daerah juga harus membuka ruang bagi terciptanya demokrasi ekonomi yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan. 3. diantaranya tidak adanya pendapatan. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya.Selain itu.2. masalah kemiskinan dapat diminimalisir yang berarti juga akan berpengaruh pada berkurangnya masalah sosial dan semakin mantapnya keyakinan teologis masyarakat.4 Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan.

Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda.6 Misi 6: Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda Budaya merupakan salah satu sumber nilai yang menunjukan jati diri. Pada sisi lain. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. perigel. budaya juga merupakan modal utama pembangunan untuk mewujudkan keserasian dan keselarasan hidup manusia. identitas dan kepribadian suatu kominitas masyarakat. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-7 . wanoh. dengan identitas nyantri.Kinerja pemerintahan dan kehidupan masyarakat harus dilandasi oleh semangat silih asih. Budaya juga dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif untuk menghadapi dampak negatif derasnya arus perubahan. luhung. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. 3. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. Masyarakat Sunda harus mempunyai kepercayaan diri dan kemandirian untuk berperan maksimal dalam pembangunan di Kabupaten Bandung. karakter masyarakat Sunda anu boga wani. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. gesit binangkit. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. nyantika. Selain. nyantana. nyunda. Oleh karena itu. silih asah dan silih asuh. tetapi juga muatan sosial.2. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. wiwaha tur wijaksana harus dikembangkan sebagai bagian dari jati diri kesundaan. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama.nyaloka dan sikap yang luhur. Dalam perspektif agama.

yang akhirnya akan berakibat pada kerusakan alam dan bencana yang akan melanda manusia.7 Misi 7: Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan Pembanguanan adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. 3. baik sumber daya manusia. Oleh karena itu.2. kinerja dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan desa.8 Misi 8: Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa Sebagian besar masyarakat Kabupaten Bandung bertempat tinggal di pedesaan dicirikan antara lain dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan akan mengakibatkan menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan. Oleh pembangunan karena harus itu. diperlukan perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam. yaitu menguntungkan secara ekonomis. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-8 . rendahnya produktifitas tenaga kerja. Konsekuesi logis dari sebuah pembangunan adalah penggunaan berbagai sumber daya. teknologi maupun sumber daya alam. masih tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman. demi keberlangsungan kehidupan manusia dan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan. dalam rangka pada pencapaian upaya kesejahteraan masyarakat. dana. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. pengembangan kapasitas keuangan desa. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. diterima secara sosial dan ramah lingkungan.2.

3. peningkatan sarana/prasarana kesehatan. peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan. Oleh karena itu. 3. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sehubungan dengan pemikiran tersebut. yaitu pendidikan. 4. manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting. pada sisi yang lain. Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melalui peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. segala aktifitas pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan kualitas manusia (human development). Peningkatan perekonomian daerah. pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklim usaha yang kondusif. ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut : 1. potensi dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung. permasalahan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-9 .3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pedesaan. 2. peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. manusia adalah subjek pembangunan yang bertindak sebagai pelaku ( stakeholders ). melalui peningkatan kesadaran budaya sehat. revitalisasi pertanian. melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM). kesehatan dan daya beli masyarakat. Prioritas Daerah Di dalam pembangunan. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. dan perbaikan gizi masyarakat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator keberhasilan pembangunan yang merupakan gabungan komposit dari tiga komponen pokok. manusia juga merupakan sasaran yang harus menikmati hasil–hasil pembangunan. peningkatan sarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun. Berdasarkan pada kondisi. dengan tetap memandang semua bidang pembangunan dalam kedudukan yang penting. pada hakekatnya perencanaan strategis pembangunan Kabupaten Bandung diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan – kebutuhan dasar manusia yang semuanya bermuara pada Indeks Pembangunan Manusia. Pada satu sisi.

melalui peningkatan kapasitas pemerintahan desa. Peningkatan kinerja pembangunan desa. kesehatan dan ekonomi (daya beli masyarakat).3. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan. perlu diupayakan pengembangan partisipasi masyarakat dan dunia usaha melalui sistem dan mekanisme yang transparan dan akuntabel.20 pada tahun 2005 menjadi 99. serta pengembangan alokasi dana desa (ADD). pelaksanaan pembangunan periode 20052010 dititikberatkan pada tiga bidang pokok yaitu pendidikan. Peningkatan optimalisasi pengawasan dan penegakan hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia dan prinsip keadilan. pengembangan ekonomi dan pembangunan kawasan perdesaan.03 pada tahun 2010.50 pada tahun 2010. 8. peningkatan keberdayaan masyarakat desa. peningkatan gairah investasi serta aktivitas ekonomi lainnya.93 pada tahun 2005 menjadi 9. 6. 3.50 pada tahun 2010 dan meningkatnya rata-rata lama sekolah dari 7. dan menurunnya angka BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-10 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. Peningkatan kualitas. 7. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka melek huruf (AMH) dari 98.1. efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. selain dukungan alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD).85 pada tahun 2005 menjadi 70. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan pada terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas. Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan. 9. serta peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencegahan dini terhadap bencana. Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruang kota dan pusat pertumbuhan. Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui peningkatan profesionalisme. Bidang Prioritas Pembangunan Sejalan dengan prioritas daerah diatas. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dari 66.

baik pelayanan dasar maupun penunjang.539..2 Kerangka Relasi Antara Misi dengan Intervensi Kebijakan Pembangunan Konfigurasi isu strategis seperti yang diulas pada Bab II kemudian diletakkan ke dalam kerangka intervensi pembangunan yang akhirnya akan berimplikasi pada pengelompokan misi. Pembangunan Bidang Ekonomi diarahkan pada terwujudnya peningkatan keberdayaan ekonomi masyarakat. Pemberdayaan ekonomi masyarakat diupayakan melalui perhatian dan perlakuan yang dapat memenuhi aspek penggalian potensi dan kemampuan penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.567..57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010.pada tahun 2005 menjadi Rp. yang akhirnya diharapkan akan berkontribusi terhadap peningkatan modal sosial berupa ketahanan masyarakat pada BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-11 .880. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat dari Rp.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kematian bayi (AKB) dari 39.680. Hubungan Antara Konfigurasi Permasalahan Dengan Kerangka Intervensi Kebijakan Jangka Menengah KARAKTERISTIK INTERVENSI KONFIGURASI PERMASALAHAN KERANGKA INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU Kelompok 1: PEMERINTAHAN REFORMASI TATA PEMERINTAHAN AKSELERASI PEMBANGUNAN Kelompok 2: PELAYANAN DASAR UNTUK WARGA Kelompok 3: FISIK KERUANGAN PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS PELAYANAN PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA FAKTOR PENUNJANG Kelompok 4: MODAL SOSIAL PEMELIHARAAN KARAKTER LOKAL Dari gambar kita bisa interpretasikan bahwa: kapasitas pemerintahan yang baik akan berdampak pada kemampuannya dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat.25 per 1000 kelahiran menjadi 29. juga diharapkan trwujudnya budaya hidup sehat yang dilandasi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.3. Selain sasaran kuantitatif tersebut. 3.pada tahun 2010.

Misi 6. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Berdasarkan kerangka pikir pada gambar diatas. Misi 7. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas. diperlukan tiga jenis intervensi yaitu: • Perbaikan Tata Pemerintahan yang mencakup: o o • Misi 1. Tenteram dan Dinamis. Namun penguatan harus dilakukan segera pada awal pembangunan agar proses pembangunan berikutnya bertumpu pada dasar yang kuat. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. • Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal o Misi 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pengaruh global dan menguatnya nilai religius dan kultural dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Bandung. o o Misi 5. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Prioritas tersebut harus ditentukan secara rasional berdasarkan prinsip berikut ini: • Tidak mungkin sumberdaya publik hanya dialokasikan pada penguatan internal. Tertib. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Ini karena tidak mungkin pelayanan publik berjalan baik bila sistem dan pelakunya masih belum siap. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya: o Misi 3. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. • Intervensi pembangunan harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh pemerintah terutama masalah yang BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-12 . intervensi pembangunan jangka menengah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok intervensi yaitu: • • • Kelompok Intervensi Perbaikan sistem dan pelaku (pemerintah) Kelompok Intervensi Akselerasi pembangunan Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Dari ketiga karakteristik tersebut harus dijalankan secara proporsional berdasarkan prioritas intervensinya.

Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sifatnya mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya seperti ketersediaan infrastruktur. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-13 . Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Misi 7. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh sejauhmana intervensi pada wilayah ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. Dengan demikian. Dengan demikian urutan prioritas Kelompok Intervensi adalah: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Tertib. dan pelayanan kesehatan. o o Misi 5. pelayanan pendidikan. • Keberadaan Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal (faktor penunjang) dalam proses pembangunan merupakan bagian penting tetapi kedudukannya berada dibawah Kelompok Intervensi lainnya karena sifatnya yang tidak terkait langsung dengan permasalahan pembangunan. Misi 6. Tenteram dan Dinamis. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8.

Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan yang merupakan penjabaran dari kebijakan. Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang merupakan rencana yang mencakup upaya-upaya menyeluruh dan terintegrasi untuk mengoperasionalkan tujuan dan sasaran melalui penetapan kebijakan dan program. strategi. kebijakan dan program. sasaran.1 . Dengan adanya tujuan. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sederhana sehingga dapat dilihat benang merah dari seluruh strata rencana strategis ini. triwulanan atau bulanan. dirumuskan tujuan. maka misi. merupakan hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh pemerintah daerah dalam jangka waktu tahunan. Akselerasi peningkatan IPM dengan prioritas penataan regulasi dan fokus anggaran pada bidang pendidikan. Strategi pembangunan Kabupaten Bandung dapat dikategorikan ke dalam tiga Strategi Pokok yaitu: 1. Tujuan adalah penjabaran dari pernyataan misi yang merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 3-5 tahun. 3. maka fokus kinerja pemerintah daerah dapat lebih dipertajam dan memberikan arah bagi sasaran yang akan dicapai. kebijakan dan program secara lengkap ditampilkan dalam bentuk matriks pada lampiran. Sasaran adalah penjabaran dari tujuan. kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat. Meningkatkan pembangunan yang berfokus di desa. strategi. tujuan. Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Untuk mencapai kesatuan pandang dalam rangka melaksanakan misi yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. semesteran. efektif dan ekonomis. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Sasaran menggambarkan tindakan-tindakan/aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dengan memberikan penekanan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efisien. sasaran. Mewujudkan Good Governance dan Clean Goverment 2.

Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4. • Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pendidikan sebesar 86. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.2 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI AKSELERASI PEMBANGUNAN 4. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . yaitu: 1. o o Misi 5. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. 4. Misi 7.1 STRATEGI MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Misi ini dijabarkan dalam 3 (tiga) tujuan. Tenteram dan Dinamis. Terwujudnya Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas. Misi 6. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8.40 pada tahun 2010.2.2 . Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Tertib. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemerataan akses layanan pendidikan. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3.1 STRATEGI UMUM PENCAPAIAN MISI Sebagaimana dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Dengan demikian.

Meningkatnya kebugaran jasmani masyarakat dan prestasi olah raga. • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. dengan Sasaran: • • • • • • • • Terjaminnya keadilan gender dalam penyelenggaraan pemerintahan. • Meningkatnya capaian angka partisipasi sekolah (APM) dan rata-rata lama sekolah (RLS) pada tahun 2010 sebesar 9. • Meningkatnya kesadaran budaya hidup bersih dan sehat.03 tahun serta AMH sebesar 99. • Terkendalinya penyebaran dan distribusi obat-obatan. Generasi Muda dan Olah Raga. Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana olah raga bagi masyarakat. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .50%.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. 3. • Menurunnya angka kematian ibu dan bayi menjadi sebesar 29. • Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dengan laki-laki.3 . 2. dengan Sasaran: • Meningkatnya angka harapan hidup (AHH) menjadi sebesar 70. serta menurunnya penyalahgunaan obat-obat-obatan terlarang. dan alat kesehatan. kepeloporan dan kepemimpinan.50 tahun pada tahun 2010. • Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha terhadap dunia pendidikan. • Meningkatnya kualitas dan kuantitas sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Meningkatnya ketersediaan media aktivitas dan kreativitas generasi muda.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. Terwujudnya Peningkatan Keberdayaan Perempuan. makanan. Terwujudnya Peningkatan Derajat kesehatan Masyarakat. Meningkatnya kualitas manajemen olah raga. Meningkatnya potensi generasi muda dalam kewirausahaan. pembangunan dan kemasyarakatan. Meningkatnya partisipasi generasi muda dalam pembangunan.

dengan Sasaran: • • • • • • • Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. Meningkatnya keberdayaan penyandang cacat dan perlindungan anak. keluarga dan masyarakat. 3. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan: 1.567.680 pada tahun 2010. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. 4. Terwujudnya Peningkatan Perekonomian Daerah. Tersedianya bantuan sosial yang optimal. Meningkatnya kesempatan berusaha.2 STRATEGI MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Misi meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat ini dijabarkan ke dalam 5 (lima) tujuan. Meningkatnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan dan kesehatan 3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. Meningkatnya pendapatan masyarakat. dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berusaha dan meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat sebesar Rp. yaitu : 1. Meningkatkan keberdayaan generasi muda dan olah raga. Terwujudnya Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan.4 . Meningkatnya ketahanan sosial individu. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat secara melembaga dan berkesinambungan. dengan Sasaran: • • Meningkatnya investasi di daerah. Berkurangnya penyakit sosial dan penyandang masalah sosial. Terwujudnya Peningkatan Perlindungan dan kesejahteraan Sosial. 4. Memberdayakan sumber daya perempuan dalam seluruh aspek kehidupan. Meningkatnya daya saing industri manufaktur.2. 2. Meningkatnya kemampuan penanganan bencana alam dan sosial. 2.

Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar bagi kegiatan ekonomi daerah. yaitu: BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Terkendalinya mobilitas dan persebaran penduduk. Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • • • • Meningkatnya produktivitas pertanian dan posisi tawar produk pertanian. Meningkatnya akses pemasaran produk daerah. usaha mikro. Meningkatnya pemberdayaan koperasi. dengan Sasaran: • • • • • Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP). Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembangnya anak. Terwujudnya Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan.5 . Terkendalinya Pertumbuhan Penduduk dan Terwujudnya Peningkatan Kualitas Keluarga.2. Meningkatnya pengelolaan BUMD. Meningkatnya kualitas dan kuantitas komoditas unggulan daerah.3 STRATEGI MEMELIHARA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Misi ini dijabarkan ke dalam 2 (dua) tujuan. Strategi meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan: • • Meningkatkan keberdayaan sosial masyarakat. 4. dengan Sasaran: • • • • Menurunnya tingkat pengangguran. 5. Tersedianya informasi pasar kerja. Meningkatnya tertib administrasi kependudukan. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja. 4. Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat. Menurunnya perkawinan usia dini. Berkembangnya sentra-sentra produk unggulan daerah. kecil dan menengah. Berkembangnya kemitraan usaha dan manajemen promosi produk daerah.

6 . Meningkatkan efektivitas tata ruang wilayah. Terwujudnya sistem pemanfaatan tanah yang efisien dan efektif. Meningkatnya pembangunan. Meningkatnya upaya konservasi hutan dan rehabilitasi lahan. Meningkatkan manajemen pengelolaan lingkungan.3 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU 4. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan antara perkotaan dan perdesaan. Terkendalinya pertumbuhan wilayah perkotaan. Meningkatnya pengelolaan dan pelayananan limbah.1 STRATEGI MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Misi mewujudkan kepemerintahan yang baik dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Meningkatnya penegakan hukum lingkungan. Terpeliharanya • • • • • • Keseimbangan Alam. dengan Sasaran: Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya akan fungsi strategis lingkungan. Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. 4. Meningkatnya percepatan pembangunan di wilayah pertumbuhan. yaitu : BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan penegakan hukum untuk mengurangi perusakan dan pencemaran lingkungan. 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. 2. dengan Program: • • • • • • Meningkatnya manajemen penataan ruang yang efektif. Terwujudnya Keserasian Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Suatu sistem Pembangunan Yang berkelanjutan. Meningkatnya pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan. Menurunnya pencemaran air dan udara. Meningkatkan percepatan pembangunan yang berkelanjutan. 4. sinergistas dan keterpaduan kebijakan dan program Strategi memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan: 1. 2.3.

dengan Sasaran: • Meningkatnya pemahaman dan kepedulian tentang peran. • Terwujudnya konsistensi hukum daerah yang selaras dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. Memantapkan kinerja kepemimpinan yang demokratis. profesional.7 . Terwujudnya Sinergitas Interaksi Antara Pemerintah. • Menurunnya praktek KKN dimulai dari tataran top manajemen. • Terwujudnya sistem dan manajemen partisipatif yang legitimate. Terwujudnya Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaran Pemerintahan. 3. responsif dan akuntabel. dunia usaha dan masyarakat secara proposional dan bertanggung jawab. efektif. • Terwujudnya kerjasama dan keterpaduan fungsi dan peran antara eksekutif. • Meningkatnya peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan. • Meningkatnya akses informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. hak dan kewajiban serta tanggung jawab masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. pelaksanaan dan pengawasan. Dunia Usaha dan Masyarakat. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dengan Sasaran: • Meningkatnya kualitas sumber daya aparatur secara dinamis dan berkelanjutan. efisien.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. 2. egaliter dan mengedepankan keteladanan. • Meningkatnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pemerintah. yudikatif. • Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. Terwujudnya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengambilan Kebijakan Publik. • Meningkatnya kualitas pelayanan publik. legislatif. • Terwujudnya manajemen pengelolaan keuangan daerah yang mantap. Strategi mewujudkan kepemerintahan yang baik dilakukan dengan: 1. transparan. dunia usaha dan masyarakat. dengan Sasaran: • Meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah.

Meningkatnya akses kontrol dan partisipasi elemen masyarakat dalam pembangunan perdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Keberdayaan masyarakat Desa. Meningkatkan kemandirian desa berdasarkan otonomi yang dimilikinya. Mensinergikan interaksi konstruktif diantara pemerintah.8 . yaitu: 1. dengan Sasaran: • • • • • • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal perdesaan. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan daerah. dengan Sasaran: • • • • • Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. Meningkatnya keberdayaan masyarakat perdesaan. 2. 3. pembangunan dan pelayanan publik secara transparan. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Meningkatnya kemampuan lembaga ekonomi perdesaan. partisipatif dan akuntabel. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. 4.3. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. Berkembangnya layanan jasa keuangan/permodalan. sektor swasta. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.2 STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA PEMBANGUNAN DESA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Berkurangnya penduduk miskin di perdesaan. Meningkatnya ketersedian sarana dan prasarana ekonomi perdesaan. Meningkatnya ketersedian akses pemasaran bagi produk perdesaan. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan penanggulangan Korupsi. Meningkatnya potensi unggulan desa. Berkembangnya kehidupan politik yang demokratis di perdesaan. Terciptanya perluasan lapangan kerja di perdesaan. 4.

• • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. TENTRAM DAN DINAMIS Misi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman. Terciptanya ketahanan masyarakat secara optimal dan terpadu. 3. ketertiban dan ketentraman masyarakat. Mengembangkan potensi ekonomi perdesaan.4. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . 2. dengan Meningkatnya kesadaran politik masyarakat.4 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PEMELIHARAAN KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL 4. Meningkatnya penegakan hukum serta perlindungan HAM di daerah. Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat. 4. yaitu: 1. 3. dunia usaha dan aparatur pemerintah. Terciptanya tatanan politik yang demokratis yang menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban politik masyarakat. ketaatan dan kepatuhan hukum masyarakat. 2. TERTIB.1 MEMELIHARA STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG AMAN. Meningkatkan alokasi dan distribusi pembangunan keperdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kinerja pembangunan desa dilakukan dengan: 1. Meningkatkan keberdayaan desa dan masyarakat desa dalam pembangunan. tertib. Terwujudnya Sasaran: • • Pengembangan Kehidupan Yang Demokratis. tentram dan dinamis dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. dengan Sasaran: • Mantapnya peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang kredibel dan adil dalam mejaga dan memelihara keamanan. Terpeliharanya keamanan.9 . Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Ketaatan dan Ketaatan Hukum. dengan Sasaran: • • Meningkatnya kesadaran.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tentram dan dinamis dilakukan dengan: 1. Memantapkan stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat; 2. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; 3. Memantapkan budaya politik yang demokratis;

4.4.2 STRATEGI MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu : 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa, dengan Sasaran: • • Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama setiap individu, keluarga, masyarakat dan penyelenggara pemerintahan; Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat untuk membentengi diri dari krisis nilai sebagai dampak negatif perubahan dan pembangunan. 2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial dan Pengembangan Potensi Umat, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial dan budaya; Terwujudnya solidaritas dan harmonisasi sosial; Terwujudnya keteladanan dan kepedulian sosial; Meningkatnya peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pembangunan; Terwujudnya sinergitas potensi umat.

3. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Beragama, dengan Sasaran: • • • Meningkatnya kualitas pendidikan agama pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan; Meningkatnya kualitas penataan, pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana keagamaan; Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan ibadah.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi mewujudkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa dilakukan dengan: 1. Mentransformasikan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 2. Memberdayakan potensi untuk melalui optimalisasi peran dan fungsi lembaga keagamaan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama.

4.4.3 STRATEGI MENGGALI DAN MENUMBUHKEMBANGKAN BUDAYA SUNDA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan masyarakat terhadap Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • Meningkatnya apresiasi dan pengembangan nilai budaya sunda; Meningkatnya pengenalan dan kecintaan terhadap budaya sunda.

2. Terwujudnya Pengembangan dan Pelestarian Kekayaan Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya pengembangan dan pelestarian seni dan budaya sunda; Meningkatnya penerapan nilai budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari; Berkembangnya produk budaya sunda; Berkembangnya media dan sarana apresiasi budaya sunda; Meningkatnya pengelolaan keragaman budaya.

3. Terwujudnya Ketahanan Budaya Masyarakat, dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai luhur budaya sunda; Menurunnya resistensi nilai budaya; Meningkatnya kepercayaan diri dan kokohnya jati diri sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda; Meningkatnya peranan budaya sunda dalam memperkokoh budya nasional.

Strategi menggali dan menumbuhkembangkan budaya sunda dilakukan dengan: • Meningkatkan pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya sunda sejak dini mulai dari tingkat keluarga/rumah tangga dan tingkat pendidikan dasar.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 11

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

• •

Reaktualisasi nilai-nilai budaya sunda sebagai salah satu dasar etika sosial dalam kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat; Meningkatkan sarana pengembangan dan pelestarian keragaman budaya.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 12

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Keuangan daerah pada prinsipnya merupakan hak yang harus dikembalikan kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung melalui program

pembangunan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan daerah semaksimal mungkin harus diupayakan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan keuangan daerah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pendapatan adalah batas minimal yang harus dicapai oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan. 2. Penetapan terget pendapatan harus didasarkan pada data potensi yang akurat dengan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. 3. Belanja adalah batas maksimal yang dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya program-program pembangunan. 4. Pembiayaan adalah partisipasi pemerintah daerah dalam investasi di daerah yang bersifat produktif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dan kontribusi pendapatan asli daerah. 5. Hubungan anggaran dengan program pembangunan harus didasarkan pada paradigma “money follow the program”, sehingga diharapkan dapat melahirkan program yang berhasil guna dengan penggunaan anggaran yang rasional, efektif dan efisien. 6. Secara bertahap harus terwujud keseimbangan antara penggunaan anggaran yang bersifat rutin dengan anggaran yang bersifat pembangunan. 7. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945, alokasi anggaran untuk pendidikan secara bertahap harus meningkat mendekati 20% (dua puluh persen) dari jumlah anggaran. 8. Pelaksanaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel. menghasilkan produktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-1

1 Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004. • Pajak Restoran. Pembiayaan Daerah Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. • Pelayanan Kesehatan. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. yang menambah ekuitas dana lancar. • Pajak Reklame. • Pajak Parkir. Pendapatan Daerah. • RSD Majalaya. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. • Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gol. • Pajak Penerangan Jalan.1. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. C. Yaitu : a) Hasil Pajak Daerah. • Pajak Hotel. b. dan c. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-2 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. b) Hasil Retribusi Daerah. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali.1 Arah Pengelolaan Keuangan Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. • RSD Soreang. • Pajak Hiburan. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. Belanja Daerah. 5. Pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kabupaten Bandung pasal 20 (1) terdiri dari: 1. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD).

• Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil. • Ijin Pemanfaatan Tanah. • Fatwa Pengarahan Rencana Pemanfaatan Lokasi. • Parkir di Tepi Jalan Umum. • Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah. • Perijinan Penyelenggaraan Koperasi. • Perijinan Transportasi. dan Hasil Ikutannya. • Pengujian Kendaraan Bermotor. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-3 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Pelayanan Persampahan/Kebersihan. • Perijinan Industri. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. • Jasa Usaha RPH. Lain-lain PAD yang Sah. • Bank Karya Produksi Desa. • Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. • Jasa Usaha Penyedotan Kakus. • Pelayanan Pemakaman. c) Bagian Laba Usaha Daerah. • Ijin Mendirikan Bangunan. • Jasa Ijin Usaha Kebudayaan dan Pariwisata. • Perijinan Perdagangan. • Penggantian Biaya Cetak KTP. d. • Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah. Hasil Ternak. • Ijin Gangguan. • Izin Pembuangan Limbah Cair. • PDAM • Bank Pembangunan Daerah. • Ijin Pemanfaatan Hutan. • Ijin Pelayanan Ketenagakerjaan. • Jasa Usaha Tempat Rekreasi dan OR. • Pelayanan Pasar. • Pemeriksaan Hewan Ternak. • Jasa Usaha Terminal.

b. 2. Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan. Terdiri atas : a) Dana Bagi Hasil. • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Termasuk PPh 21). Penerimaan dari Sektor Minyak Bumi. b) Dana Alokasi Umum (DAU). • Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). c. • Bantuan Keuangan dari Propinsi. • Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah (TP/TGR). • Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. b. c) Dana Alokasi Khusus. • Penerimaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Iuran Eksploitasi (Royalti). Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. a. Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam. f. d. • Penerimaan Lainnya. Pajak Bumi dan Bangunan. Dana Perimbangan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. d) Dana Perimbangan dari Propinsi. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-4 . g. Bagi Hasil Pajak. e. • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Iuran Provisi Sumber Daya Alam. 3. • Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. • Penerimaan Pemanfaatan Hutan. Iuran Tetap/Landrent. • Penerimaan Jasa Giro. 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan. 1. • Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah. a.

00 1.00 4.000.000.000.00 8.00 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Tahun Proyeksi PDRB BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-5 .000.000.00 4.000.00 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.00 7.000. Proyeksi dilakukan dengan model regresi linear dengan mencari persamaan regresi masing-masing sektor.000.1.000.00 5.00 0.000.000.00 9. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan Kabupaten Bandung rata-rata setelah krisis 1999-2004 sebesar 2.000.000.000.000.00 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Nilai PDRB Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Rp Juta 10.13 %/tahun.000.000.000.000.00 0.000. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Bandung 1995-2004 9.000.000.00 3.000.000.00 2.000. Perkiraan PDRB Kabupaten Bandung dilakukan dengan memperhatikan Nilai PDRB Konstan tahun 1995-2004. (persamaan regresi terlampir).00 6.000.000.000.000.00 5.000.000.000.00 3.2 Perkiraan Pendapatan Daerah Perkiraan pendapatan daerah akan memberi gambaran tentang pendapatan daerah dari tahun 2006 sampai tahun 2011.00 8.000.00 1.00 7.000.00 6.000. Untuk memprediksi pendapatan daerah lima tahun kedepan diperlukan suatu data pendukung yang salah satunya adalah data PDRB.000.000.000.

41 Industri Pengolahan 3.10 6.051.48 150.018.621 Pengankutan dan Komunikasi 274.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.84 385.586.01 190.837.01 821897.58 791.875.524 235435.561.57 1.883.42 874061.858 218741.64 203.44 158.66 3.593.199.7408 426082.24 324.316 1207486.119.63 328.199 231080.377 1259891.496.738.260.960.209.0578 589323.93 3.89 404416.709.8318 572106.25 54.919.230.190.104.242.849 239791.847.592.785.5099 6.797.29 69.766.251.07 3.530.570.894.9508 Bangunan & Konstruksi 361.021.622 4201665.95 7.99 55.596.686.787.97 556.10 743.57 1102676.738.780.796.312.91 215.438.16 8.78 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-6 .837.861.82 379037.56 169.5983 453.637.261.95 218014.083.016.59 165.38 56.428.71 7.164.499 Sektor Sekunder Sektor Tertier Perdagangan.990.55 891449.564.755.68 398.51 7.1177 214170.546.125.491.3207 388446.63 6.4257 397855.8969 615149.051.777.08 343.388.50467 81085.491.148.037.307.355 3758100. Hotel dan Restoran 955.90 330.299.978 72485.2839 606540.800.78867 75925.809.579.963.41 362.716.10 230.443.61 447186.73 3.32 415108.711 4349520.813.4448 580715.328.90 358.59933 79365.499 1364701.93 472.48 PDRB Keuangan Jasa 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 874.28 3.35 935.33 58.455.647.687.32 479.16 804509.795.63 537.694 77645.97 8.142.94 393723.43 191317.549 222369.8969 200458.53 472.889 Listrik dan Gas 259.868.365.67 696.56 1417106.430.791.55 162.572.553.05 4.804.922.438 1312296.59 463.370.72 1.483.1 Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan Sektor Primer Tahun Pertanian Pertambangan dan Galian 50.73 753.11 306.536.900.942.38 211.797.96 690.580.332.255 1155081.15 839285.590.195.73 3.6358 416673.64 481.381.771.52 300.520.82 193.010.16 304.361.69 908837.77 3610245.812.607.862.71 703.75 7.465.53 1.063.91 316.61 3.564.89 346.16 940.99 64.50 304.513.03 1.48 196.015.71 325.75 425801.1566 195887.32 419.61 70765.174 244146.72 217.8 4497375.76 3.51 377.12 491.82 986.300.560.01 7.8458 435491.444 3905955.92 6.5307 407264.50 61.375.73 6.81 294.449.034.29 220.839.015.20 6.465.28 856673.687.209.88333 74205.92 210.873.903.96 864.755.743.26 563497.6371 205029.20 725.030.963.534.588.941.533 4053810.618.273.52 671.15 998.02 896.65 336.958.954.90 53.05 457878.742.874 226725.064.80 334.075.174.233.48 171.6708 597932.310.35 7.108.56 8.64 54.92 6.3774 209600.18 436493.23 185.22 493.955.037.37 8.333.

000.000.00 2004 119.115.00 101.000.000.344.00 1.000.000.000.118.500.00 5.241.347.610.000.000.263.978.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain data PDRB diatas.646.00 4.000.000.919.000.636.00 988.00 87.240.080.00 1.500.853.874.00 52.976.00 22.00 10.00 49.761.331.000.000.000.000.000.000.045.597.500.833.063.890.820.816.790.318.652.000.168.955.265.012.00 12.506.830.000.00 11.000.00 849.00 53.318.000.103.000.935.000.540.000.500.200.000.938.024.000. diperlukan pula data-data pendukung seperti data pendapatan historis Kabupaten Bandung seperti pada tabel dibawah ini.719.000.112.895.00 80.395.000.367.000.000.00 94.000.000.00 2006 123.911.145.00 1.093.447.602.927.884.00 830.00 30.000.00 60.699.00 38.00 726.000.448.575.000.505.00 1.500.00 37.00 1.697.237.000.001.00 46.608.000.00 37.707.000.000.00 81.538.00 7.500.375.000.500.000.00 Sumber : RKPD Kabupaten Bandung 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-7 .00 1.00 1.00 76.004.000.000.00 24.00 89.00 62.668.000.310.000.000.000.190.140.000.00 61.00 749.598.798.694.114.000.00 802.333.000.410.00 16.962.316.275.000.000.188.036.000.000.572.177.00 1.658.739.043. Tabel 5.240.000.000.000.511.2006 No A 1 2 3 4 B 5 6 7 8 C Uraian Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah JUMLAH 2002 75.00 15.00 102.000.2 Anggaran Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002.00 2003 91.00 757.00 2005 136.749.000.185.000.000.00 929.000.00 4.000.637.000.110.000.840.00 37.00 18.000.00 654.185.000.290.000.000.000.000.500.254.120.500.646.00 45.00 43.00 6.000.205.00 1.

37 -80.07 25.00 163.09 20.32 20.61 27.91 4.68 -2.63 -9.61 97.11 0.19 17.33 8.63 221.25 98.56 120.28 6.20 -1.68 29.30 Dana Alokasi Umum 10.35 9.56 1.00 352.53 20.22 14.01 45.81 Tahun Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD Perimbangan Pendapatan Daerah 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 Rata-rata 3.43 Sumber : Hasil analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-8 .91 10.90 -7.30 39.33 -22.98 12.45 7.79 13.93 27.53 31.33 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak -19.51 6.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.11 13.81 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 53.50 13.00 95.47 -29.56 16.32 13.58 11.53 14.39 -1.3 Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002 – 2006 Bagian Laba Usaha Daerah 208.69 Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah 968.83 7.49 16.69 54.25 2.00 300.03 6.36 0.66 34.

selain unsur PAD yang telah disebut di atas. jasa giro. pasal 6(2) menjelaskan tentang lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Perkiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5. potongan. dengan mengasumsikan kenaikan PAD setiap tahunnya tetap. juga realisasi pencapaian PAD Kabupaten Bandung. yaitu penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung A. Pendapatan Asli Daerah Berdasar pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. pendapatan bunga. atau pun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. Perkiraan PAD untuk hingga tahun 2011 diperoleh menggunakan metode taksiran sederhana. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi.4 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-9 .

237.500 43.003 1.658.834.976.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 52.000 131.67 13.874.428 Bagian Laba Usaha Daerah 1.613 Retribusi Daerah 30.011.680.549 158.000 4.171.63 -9.621.575.556 Pertumbuhan (%) 20.000.000 46.840.684.000 27.000 15.233 47.705 3.190.507.739.000 22.292 6.702.728.637.853.500.266.000 38.241.105 79.000 21.96 11.265.400 60.110.109.594 PAD 75.801 50.190.000 37.09 12.761.962.360.554 2.475.240.500.901.94 8.098.447.000 35.036.000 91.253.820.247.000 16.500 49.452.120.920 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 7.505.53 31.114.542.639.699.012.895 142.697.500 136.000 12.907.802.667.784.347.205.742.000 10.344.425.000.318.331.466.230.218.884.000 6.916 43.694.853.212.459 178.070.000.965.000 53.000.000.870.254.598.768.200.739.310.453 86.000.340 54.000.610.000 123.000 46.000 59.093.004.653.127.477.109.906.230.91 Sumber : Analisis 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-10 .063.611 71.687 65.318.275.808.000 9.500 119.22 5.200.000 37.919.000 24.196 203.333.50 13.798.833.000 40.4 Perkiraan PAD Kabupaten Bandung 2007-2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Pajak Daerah 37.

000 Rupiah 100. B.000.000 150.000.000.000.000.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Pajak Daerah Retribusi Laba Usaha Lain-lain PAD Hasil perhitungan tersebut.000. Dana Alokasi Umum (DAU).000 50. Lebih jelasnya perkembangan dana perimbangan tersebut adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-11 .000.000 200. Unsur-unsur dana perimbangan terdiri atas: Bagi hasil pajak dan bukan pajak. Dana Perimbangan Dana perimbangan merupakan alokasi dana yang diperoleh dari pemerintah maupun provinsi yang diperoleh dari bagi hasil pajak provinsi maupun pusat yang dipungut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan formulasi pembagian yang telah ditetapkan maupun dari dana pemerataan. Dana Alokasi Khusus (DAK).000. berdasarkan asumsi bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan daerah berjalan dengan baik.000. begitu juga pencapaian realisasinya.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi PAD Kabupaten Bandung Hingga 2011 250. dan Dana Perimbangan dari Provinsi. dengan asumsi kenaikan dana perimbangan tiap tahunnya tetap. Perkiraan perolehan dana perimbangan hingga Tahun 2011 disini juga menggunakan metode taksiran sederhana.

928.5 PERKIRAAN DANA PERIMBANGAN KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2011 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 94.000 76.658.103.597.000 21.145.000 929.977.000 757.000 26.765.763.263.731.741.318.552.535.816.828.09 7.97 7.078 1.000 19.064.520.35 9.469 1.434.470.118.193.375.168.039 1.471.630 1.000 1.000 89.882.557.774.356 1.671.552 Dana Alokasi Umum 654.851.209 Pertumbuhan (%) Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Perimbangan 749.768.646.000.609.902 1.681.045.837.000.310 128.51 6.937.978.046.505.177.890.000 1.080.000 114.807.020.000 1.290.000.712.500.800 Keuangan dari Propinsi 45.207.284.575.000.770 144.000 849.036.03 7.696 83.143.000.661.490.000.30 39.000 1.185.077.663.290.668.351.000.339.000.790.966 82.395.000 18.898.319 162.646.938.240.617 1.000 101.000.188.935.480.500 80.20 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-12 .223.776.205.500 988.000 726.000.572 1.818.800.000 102.305.000 802.000.251.876.000 24.955.000 81.957 13.000 86.023 81.000 29.000.316.644.000.636.911.19 6.15 7.000 4.608.572.118.830.000 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.396 Dana Alokasi Khusus 1.646.968 84.137 182.086.686.930.927.000 87.888.401.

Oleh sebab itu perkiraan besaran nominal pendapatan lain-lain pada perkiraan pendapatan ini hanya merupakan selisih dari total pendapatan dan perkiraan item pendapatan diluar pendapatan lain-lain.000.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Bagi Hasil Alokasi Umum Alokasi Khusus Propinsi Perhitungan tersebut disumsikan variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan tersebut berjalan normal baik pada pembagian pajak.000.400. Karena sifatnya sebagai dana kontingensi.000 800.000 Rupiah 1.000.000 1.000 200.000 1. besaran dana tersebut sangat fluktuatif sesuai dengan realisasi aktual tahun anggaran berjalan.000.000.000 400.000. maka sulit untuk membuat proyek atau perkiraan item anggaran pendapatan ini.000.000.800.600. Lain-Lain Pendapatan yang Sah Pendapatan lain-lain yang sah yang merupakan dana kontingensi/penyeimbang dari pemerintah.200.000.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi Dana Perimbangan Hingga Tahun 2011 2.000. yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.000.000.000 1.000.000.000.000.000.000. DAU maupun DAK.000.000 1. C. Lebih jelasnya perkiraan pendapatan lain-lain pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun Tahun 2011 adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-13 .000 600.000.000.

500 988.890.511.895 142.630 1.549 158.594.447.374.237.000 1.043.000 60.540.001.768.000 62.109.853.937.57 7.500.000 61.000.609.000 2.205.115.818.702.506.000.37 -80.646. Tabel 5.000.112.275.004.749.928.986.185.000.000 131.000.144.403.000 0 2002 2004 2006 2008 2010 PAD Perimbangan Lain-lain Pendapatan BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-14 .000 91.459 178.14 7.000.37 7.719.360.000 1.938.58 11.816.000.337.763.63 Pendapatan lain-lain yang sah hingga tahun 2011 tidak diproyeksikan karena variabel pendukungnya tidak tetap.000 849.000 1.000 1.039 1.000.263.000 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan (%) 968.56 1.375.49 6.538.367.602.742.697.845.000.000.03 6.140.976.000 11.798.902 1.898.000 61.500 1.707.471.000 62.000 500.834.761.000.140.76 Pertumbuhan PAD dan Perimbangan (%) Pendapatan Lain-Lain yang Sah 5.000.68 -2.802.718.6 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2006 Lain-lain Pendapatan yang syah 5.807.000 123.410.000.728.000 1.115.826 2.435.895.957 20.61 27.686.927.141.188.185.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.7 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006*) 2007 2008 2009 2010 2011 PAD 75.410.512 Keterangan : *) Angka merupakan target tahun 2006 Sumber : Hasil analisis 2006 / Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 2.556 Perimbangan 749.851.719.680.500 136.000 60.000.662.024.000 929.977.669.251 1.667.000.694.500 119.196 203.000 11.000 1.575.639.668.500.143.83 7.000.290.602.000 1.000 Tahun 1.749.000.448.356 1.362 1.557.000 Pendapatan 830.732.505. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bandung hingga tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.588 1.367.000.331.230.

675.000 101.5 .065.009.455.000 2.105. serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Rumus yang digunakan adalah dengan menentukan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) dengan rumusan sebagai berikut: DSCR = Y C C = Besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Y = Pendapatan Daerah.000.000 1.885.413.599. dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.594.5 .000.000 5.000 4.000 MODAL PUBLIk 2.250.000 87.992.5 .000 Jumlah 22.381.330.902.640.000 84.968.000 6.382.000.800. DSRC = 2.000 1.965.875.957.000 10.380. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.804.163.094.131.996.000 21.576.520.000 3.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D.640.044.513.875.000. didapat dari rumus berikut: Y = P + M – OM P M = Pendapatan Asli Daerah = Pajak Daerah.250.000 4.281.000 1.000 85.000 252.000 433.000 9.000.000 125.000 1. penerimaan SDA.000 6.000 1.000 67.000 1.950.135.000 OP APARAT MODAL APARAT OP PUBLIK 20.160.766.000.394.850.726.577.440.824.282.000 8.000 31.000 2.000 12.349.415.957.000 85.020.000.313.236.000 307.036.000 85.000 1.793.594.000 1.946. Analisa DSCR untuk Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut: BELANJA OP DAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2005* (OM) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SKPD Disdik Dinkes Dispertan Disnakan Dinkesos DKCKB Kimtawil DPU Disnaker Diskop BLKD RSD Majalaya 219.000 21.674.935.000 6.000 38.890.569.450. DSCR < 2.000 5.000 3.996.000 166.154.074. Analisa Kemampuan Pinjaman daerah Analisa kemampuan pinjaman daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana pinjaman baru.000 95. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru.000 1.000 870.710.790.440.000 186.786. dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery).000.000 5.000 13 RSD Soreang BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-15 .000. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.318. DSCR > 2.197.134.000.028. dan bagian daerah lainnya OM = Belanja Operasi dan Pemeliharaan.986.000 2.

000 1. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.931.549.2 ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.511.593 104.000.000 Jumlah Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 DSCR = Y ( P + M ) − OM = = 2.302.220.050.550. pendidikan.452.864.085.209.000 2.019 Jumlah 312.000 1.000 * = Belanja OP dan Modal yang Menunjang Langsung terhadap Akselerasi Pembangunan Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 PENDAPATAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2005* (P + M) No 1 2 3 4 5 6 PAD Bagi Hasil PBB Bagi Hasil BPHTB Bagi Hasil PPh 21 Bagi Hasil SDA Bagi Hasil Prov Jenis Pendapatan Jumlah 108.000 297.000 1.000 127.960.500.500.988.235 22.203.000 17.990.664.443.000 1.215.000 4.000 37.000 419.000 104.646.000 233.000.000 555.000 592.121.701 57.000 Jumlah 404.312.710.021 * = Pendapatan Daerah diluar Bantuan dari Pusat maupun Provinsi Sumber : DPRD Kab. kesehatan.170.000 1.557.507.000 MODAL APARAT 149.731.581 (Layak memperoleh pinjaman) C C 5.904.000 14 Kantor Perpustakaan 15 DLH 16 Disperindag 17 Disbudpar 18 Dinas Kebersihan 19 KPMD Jumlah 853.000 4.078.360.031.204.360.344.500.677. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-16 . Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.304.697.982.500.000 36.093.729.000.650.489.725.885 10.000 30.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No SKPD OP APARAT 170.000 30.876.588 9.931. Bandung BESARAN KEWAJIBAN PINJAMAN DITAMBAH BIAYA LAINNYA TAHUN ANGGARAN 2005 ( C ) No 1 2 Penyertaan Modal Jenis Biaya Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Jumlah 326.000 42.000 OP PUBLIK MODAL PUBLIk 85.322.000.000 3.000.

subsidi. Upaya pembobotan kerangka intervensi dilakukan dengan memperhatikan : 1. dan i. d. belanja barang dan jasa. belanja pegawai. Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Mengingat terbatasnya anggaran pembangunan daerah serta kemampuan sumberdaya pembangunan dalam mewujudkan program-program pembangunan. 5. diperlukan upaya strategi pengurutan atau pembobotan prioritas program pembangunan daerah. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-17 . c. Isue Strategis Pembangunan Daerah 4. Kebijakan pembangunan pemerintah pusat. bunga. h. e. b. Prioritas pembangunan 3.3 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN Dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 diperlukan kerangka kebijakan umum pembiayaan pembangunan untuk memprioritaskan program-program pembangunan Kabupaten Bandung. yaitu : 1. Alokasi Anggaran pembangunan tahun-tahun sebelumnya 5. Secara umum Misi Pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 dapat dikelompokkan menjadi 3 kerangka intervensi pembangunan. Visi dan Misi Bupati 2. propinsi dan kabupaten seperti upaya peningkatan IPM. hibah. belanja tak terduga. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Klasifikasi belanja menurut jenis belanja sesuai PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah terdiri dari : a. belanja modal. bantuan sosial. pendidikan 9 tahun dengan anggaran 20 % dari biaya pembangunan dan lain-lain. Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan 2. g. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 3. f.

arahan alokasi bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah. Kerangka Intervensi Upaya Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya memiliki alokasi APBD relatif sedang dalam awal pembangunan dan untuk selanjutnya terus meningkat dalam upaya terus terjadinya peningkatan pelayanan publik. Kerangka Intervensi Upaya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal memiliki alokasi rendah karena karakter tersebut sudah terbentuk dalam masyarakat dan masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan dan pemerintah memfasilitasi untuk memeliharanya. sehingga dengan bertahap pembangunan tata pemerintahan dikurangi bobotnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut. Upaya perbaikan tata pemerintahan setiap tahun alokasinya terus menurun karena diasumsikan setiap tahun telah terjadi perbaikan pelayanan pemerintahan yang baik. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-18 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kerangka Intervensi Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan memeiliki alokasi APBD yang cukup tinggi pada awal periode pembangunan karena merupakan landasan utama untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam upaya peningkatan pelayanan publik dan akselerasi pembangunan.

69% 100.00% TAHUN 5 % APBD 9.00% 50.18% 5.00% TAHUN 4 % APBD 16.00% 8.00% TAHUN 3 % APBD 23.00% 6.00% Tahun I Perbaikan Tata Pemerintahan Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-19 .82% 9..09% 81.75% 50..33% 100.00% 80.00% 0.88% 100..25% 100.00% 30.00% 10..Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel .94% 41.08% 69.23% 7.00% TAHUN 2 % APBD 43..00% 70.00% 40.00% 20.67% 75.00% Sumber : Hasil Analisis dan Focus Groups Discussion 2006 Diagram Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi 90.00% 60. Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi PROPORSI ALOKASI APBD UNTUK 5 TAHUN UNTUK TIAP KATEGORI INTERVENSI PEMBANGUNAN TAHUN 1 KERANGKA INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal % APBD 52.09% 100..

. Bobot tiap misi pembangunan adalah sebagai berikut : (Lihat Tabel .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Perkiraan belanja untuk setiap misi dan kebijakan pembangunan dilakukan dengan membobotkan kepentingan tiap misi dan prioritas pembangunan untuk setiap kelompok intervensi pembangunan...) BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-20 ...

Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 11.758% 0.198% TAHUN 4 % APBD 16.099% 5.396% 3.282% TAHUN 5 % APBD 9.156% 6.273% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-21 . Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1.375% 6.758% 2.042% 1.081% 9.941% 6.208% 5.282% 0. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 2.846% 2.758% Misi 8.000% 7.077% 1.231% 1.375% 4.042% 1.495% 1. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 52. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) 1.282% 1.250% TAHUN 3 % APBD 23.618% TAHUN 2 % APBD 43.099% 1.273% 0.387% 0.208% 9. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 3.099% 5.758% 0.099% 1.091% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 4. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 5.282% 0.128% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 3.750% 5.250% 1.156% 11. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 6. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2.758% 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Perbaikan Tata Pemerintahan KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.231% 1.282% 5.099% 1.667% 1.495% 2.000% 1.000% 0.758% 1.282% 0.000% 6.081% 8.

538% 15.923% 2.000% 0.818% 10.282% 15.282% 1.308% 17.923% 2.000% TAHUN 5 % APBD 81.731% 1.098% Misi 4.176% 1.000% TAHUN 3 % APBD 69.881% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.923% 18.577% 1. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya KATEGORI INTERVENSI Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Misi 3. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 3.577% 17.282% 1.923% 1.113% 1.231% TAHUN 4 % APBD 75.538% 1.731% 1.113% 1. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga TAHUN 2 % APBD 50.731% 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.098% 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 2.881% 18. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 2.016% 10.731% 0.113% 1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 41.000% 1.113% 11.538% 11.308% 1.881% 2. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 4.098% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-22 .098% 10. 1.577% 15.731% 17.113% 1.016% 1.282% 1.308% 18.282% 1. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4.016% 11.

909% 0.113% 2. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 2.909% 0.588% 0.333% TAHUN 5 % APBD 9.909% 0.588% 0.113% 1.923% 7. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis Misi 5. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 5.769% 0.692% TAHUN 4 % APBD 8. Tertib.128% 6. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 3.833% 0.769% 6.625% 0.833% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.882% TAHUN 2 % APBD 6.091% 0.731% 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 3.588% 0.294% 3.692% 8.923% 2.588% 0.769% 0. 1. 1. Tenteram dan Dinamis.769% 0. 1.833% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.192% 5.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-23 . Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.282% 1.833% 0.625% 0.769% 0.098% Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.625% 0.339% 5.625% 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1.392% 1.250% TAHUN 3 % APBD 7.564% 5. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 2.

909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-24 . Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.588% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 2.909% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 3.769% 0.833% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 4.769% 0.625% 0.588% 0.769% 0.769% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 3.625% 0.588% 0.833% 0.588% 0.769% 0.769% 0.909% 0.833% 0.625% 0.588% 0.625% 0.909% 0.909% 0.909% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama Misi 6.625% 0.625% 0.833% 0.833% 0.588% 0. 1. Kebijakan Pemantapan Ketahanan Budaya Masyarakat 0.833% 0.

2. artinya sektor tersier merupakan potensi sumber pendapatan daerah kabupaten Bandung yang masih bisa dioptimalkan. 8. 5. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Pajak Ijin Mendirikan Bangunan. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. 7. Pagu indikatif untuk tiap program pembangunan dituangkan dalam Bab VII. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Dari beberapa bentuk sumber pendapatan diatas. yang pada tujuan akhirnya adalah untuk pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan yang lainnya merupakan potensi yang bisa langsung dikembangkan oleh pemerintah daerah walaupun penerimaannya dalam bentuk bagi hasil. 6.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu indikatif tiap program pembangunan dilakukan dengan menggunakan metoda bobot tiap program dikaitkan dengan visi. ada sebagian yang berfungsi sebagai pengendalian pembangunan diantaranya: IMB yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam dalam pengembangannya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Tingginya laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. 3.1 Identifikasi Bentuk – Bentuk Sumber Pendapatan Baru Pengembangan Sektor Tertier Laju Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator pencapaian keberhasilan suatu pembangunan dan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. misi. • Bank Pembangunan Daerah. Dari hasil Proyeksi pada table 5. Bagian Laba Usaha Daerah.1 dapat diambil kesimpulan bahwa sektor tersier mempunyai trend laju pertumbuhan yang paling baik dibanding sektor lain. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).4. • Bank Karya Produksi Desa. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-25 . Sektor tersier merupakan penyumbang pendapatan daerah melalui : 1. kebijakan serta akselerasi pembangunan.4 5.

kehutanan) Sektor Pariwisata Sektor industri kecil Sektor Energi (Panas Bumi) Beberapa aktivitas Perekonomian Lokal yang Potensial untuk dapat berkembang di Kabupaten Bandung. diantaranya : • • • • Sektor Agrobisnis (Pertanian. Terdapat beberapa potensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Bandung. Peluang Pasar • Wisatawan Lokal dan Mancanegara Penyerapan Tenaga Kerja • Petani • Masyarakat Sekitar Domestik • Industri kecil Masyarakat Sekitar Domestik dan Internasional • Industri kecil Masyarakat Sekitar BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-26 .4. perkebunan. Lokasi Kabupaten Bandung yang mengelilingi wilayah Kota Bandung akan menjadi tujuan utama para investor di bidang properti untuk memperluas pembangunannya ke Kabupaten Bandung. 5. sedangkan properti merupakan kebutuhan primer manusia yang akan semakin tinggi permintaannya seiring dengan tingginya laju Pertumbuhan Penduduk dan sempitnya lahan. Panas bumi merupakan sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Bandung.2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal adalah pengembangan ekonomi setempat dengan menggunakan sumberdaya dan faktor-faktor produksi lokal. peternakan. Panas Bumi dan Bangunan/konstruksi (Properti) merupakan sektor ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi karena tingginya permintaan pasar. Produksi Kerajinan Tangan Permodalan Pemkab Bandung Bantuan Internasional BPD Lembaga Keuangan Daerah. akibatnya pembangunan properti mulai bergeser dari perkotaan ke wilayah sekitarnya (perbatasan). diantaranya : Pengelolaan • Kelompok Tani • Disbudpar • Dispertan Kegiatan Usaha • • Wisata Agrobisinis Geowisata • • • • • Kelompok Pembuat Makanan Tradisional • Diskop dan UKM • Kelompok Pengrajin • Diskop dan UKM • Produksi Makanan khas Kabupaten Bandung. Pengembangan ekonomi lokal dapat memberikan efek multiplier perekonomian setempat dan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja lokal.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan analisis terhadap LPE per Sektor dan gambaran umum kondisi Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa sektor tersier (perdagangan dan jasa) merupakan sektor potensial.

ketangguhan tersebut disebabkan oleh karakterisitik dan keunggulan dari agribisnis itu sendiri. Pembangunan pertanian kedepan harus merupakan upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh pada semua aspek ekonomi. Usaha agribisnis umumnya mengutamakan penggunaan bahan baku lokal yang banyak tersedia di dalam negeri dan sesedikit mungkin menggunakan komponen impor. Sebenarnya.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pengelolaan • Kelompok Peternak • Disnakan • Kelompok Seniman • Disbudpar • DLH (Pertambangan dan Energi) • Swasta Kegiatan Usaha Pengolahan Hasil Ternak Pagelaran Seni Sunda Pengelolaan sumber daya panas bumi • • Pemkab Bandung Swasta Permodalan Peluang Pasar Domestik Penyerapan Tenaga Kerja • peternak Masyarakat Sekitar • Seniman Masyarakat Sekitar • Masyarakat Domestik dan Internasional Domestik Terdapat • • • • • • • beberapa lembaga yang dapat membantu mendorong pengembangan ekonomi lokal. Bahkan kegiatan agribisnis pertanian ini mampu meraup keuntungan memadai dan menciptakan iklim kondusif yang sangat diperlukan untuk peningkatan perekonomian nasional pada sektor lain. yang didalamnya terkait BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-27 . Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang lalu membuktikan. sektor agribisnis pertanian tetap mampu mempunyai peran dan memberikan kontribusinya terhadap terhadap devisa negara. bahwa pertanian merupakan sektor tangguh pendukung pembangunan sektor industri. penyerapan tenaga kerja. Teknologi dan keterampilan kegiatan agribisnis pertanian pada umumnya dapat dikuasai oleh para pelaku usaha serta dapat dikembangkan secara mudah sesuai kebutuhan. bertahan goncangan ekonomi nasional. peningkatan pendapatan petani.4. keuntungan bagi sipengelola.3 Pengembangan Agribisnis Secara luas telah diakui. peningkatan nilai tambah komoditi pertanian. serta penyediaan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. diantaranya : LUEP BUMDES KUBE KOPERASI dan UKM USAHA POLA SYARIAH BMT Dll 5.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, serta subsistem jasa penunjang agribisnis pertanian. Ini berarti bahwa di dalam pembangunan ekonomi nasional mendatang, sektor agribisnis pertanian tidak lagi hanya sekedar ditempatkan sebagai pendukung atau pelengkap.

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-28

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB VI KEBIJAKAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan penjabaran dari kebijakan. yang merupakan

6.1 Kebijakan untuk Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik (Misi 1) Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama, yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik, efisien, efektif, partisipatif berlandasakan hukum, adil, demokratis, transparan, responsif, berorientasi konsesus, kesetaraan, akuntabel dan memiliki visi strategik. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik, peran kepemimpinan merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selain pemantapan sistem dan manajemen kepemerintahan juga perlu dimantapkan kepemimpinan yang demokratis, egaliter dan mampu

mengedepankan keteladanan. Kebijakan umum dan program yang diperlukan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik perlu ditunjang kebijakan : A. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur; dengan Program: 1) Peningkatan moral, disiplin, budaya dan etos kerja aparatur; 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum, diklat struktural dan teknis fungsional; 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan; 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah; 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen; 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif; 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan

Peningkatan

Kualitas

Penyelenggaraan

Administrasi

Pemerintahan Daerah; dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan; Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan; Penataan peraturan perundang-undangan daerah; Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah; Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat; Peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; Pembinaan dan pengelolaan pertanahan; Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan, Kelurahan dan Desa; 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan;

10) Pengembangan evaluasi kebijakan. C. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Program: 1) 2) 3) D. Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM); Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik; Penataan wilayah;

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah, dengan Program: 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah; 2) 3) 4) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah; Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa; Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah;

E.

Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan, dengan Program: 1) Pengembangan manajemen partisipatif; 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat; 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa; 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

F.

Kebijakan

Pengembangan

Sistem

Informasi

dan

Komunikasi

pembangunan, dengan Program: 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan; 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi; 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa;

6.2 Kebijakan untuk Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman, Tertib, Tentram Dan Dinamis (Misi 2) Keamanan, ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang aman, tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. Terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis perlu didukung dengan adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Hal tersebut perlu didukung dengan kebijakan umum sebagai berikut : A. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat; dengan Program: 1) Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah; 2) 3) Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat; Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas; 4) Pemamtapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan; 5) 6) B. Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib; Peningkatan kesadaran budaya tertib.

Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM, melalui Program: 1) 2) Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; Penerapan hukum secara konsekwen;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

3) 4) 5) 6) 7) 8) C.

Sosialisasi, bantuan dan perlindungan hukum; Pengembangan sistem jaringan informasi dan dukumentasi hukum; Pengembangan produk hukum daerah; Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah; Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum; Pemantapan koordinasi antar penegak hukum;

Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis; dengan Program 1) 2) Peningkatan pendidikan politik masyarakat; Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; 3) 4) 5) Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi; Fasilitasi kegiatan politik di daerah; Perlindungan hak politik masyarakat.

6.3 Kebijakan untuk mendukung Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Misi 3) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan dan program : A. Kejakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peningkatan pelayanan pendidikan; Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan; Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan; Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun; Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan; Peningkatan kualitas tenaga kependidikan; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; Pengembangan manajemen sekolah; Peningkatan kesejahteraan guru;

10) Pengembangan tingkat partisipasi sekolah; 11) Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS); 12) Pengembangan pendidikan anak dini usia.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-4

Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-5 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. 7) 8) 9) Pengembangan kesehatan lingkungan. 10) Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. makanan dan minuman. Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. 9) Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. anak dan reproduksi. Perlindungan ibu. 8) Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. sehat dan berkualitas. 3) Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Pembinaan. peralatan kesehatan dan kosmetika. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga. 7) Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. Peningkatan budaya hidup bersih. pembangunan dan kemasyarakatan. Perbaikan gizi. C. 6) Perningkatan prestasi olah raga. kepemimpinan dan kepeloporan. 4) Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Penanggulangan penyakit. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender. D. 2) Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat . 5) Pemasyarakatan olah raga. dengan Program: 1) 2) 3) Peningkatan keberdayaan perempuan. dengan Program: 1) Pemberdayan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. pengawasan dan pengendalian obat-obatan.

Meet Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). Peningkatan ketahanan sosial. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Revitalisasi pertanian. 6) 7) 8) 9) Penanggulangan bencana dan pengungsi. Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. Peningkatan distribusi pangan. Penaganan masalah-masalah sosial. keluarga dan masyarakat. pertenakan dan perikanan. B. individu. penyandang cacat. Pengembangan sentra-sentra-sentra unggulan pada kawasan andalan. sentra konveksi. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan kualitas pelayanan. Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. 10) Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. Diversivikasi pangan. 9) Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. diantaranya tidak adanya pendapatan. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. Pengembangan agribisnis. sentra agribisnis.4 Kebijakan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat (Misi 4) Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Pengamanan ketersedian pangan. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-6 . Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Soaial. Pengembangan sistem perlindungan sosial. lansia dan penyandang tuna sosial. Pemberdayaan anak terlantar. Kebijakan untuk menanggulagi masalah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perlu ditunjang dengan : A. seperti sentra tekstil.

Penataan administrasi kependudukan. 14) Pengembangan ekonomi syariah. Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. usaha mikro. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. 11) Pengembangan industri manufaktur. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan koperasi. terutama permodalan. Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. 17) Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga. Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-7 . 15) Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. 18) Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Pemantapan hubungan industrial. Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. D. Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. 16) Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.5 Kebijakan untuk Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. 19) Pengembangan keparawisataan. 12) Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. Pengendalian urbanisasi. 6. kecil dan menengah. Dalam perspektif agama. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. tetapi juga muatan sosial. 13) Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). C.

2) Peningkatan harmonisasi sosial. 4) Peningkatan kerukunan hidup beragama. dengan Program: 1) Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 5) Pemberdayaan ormas keagamaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-8 . 4) Pengembangan ekonomi melalui lembaga keagamaan. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat. 3) Pengembangan ekonomi syari’ah. dengan Program: 1) Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 2) Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. 5) Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. Kebijakan untuk mendukung misi tersebut diantaranya : A. 8) Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. C.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. 3) Optimalisasi zakat. 5) Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. 6) Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. 9) Pengembangan TPA/TKA. infaq dan sadaqah. 6) Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. 4) Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. dengan Program: 1) Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. 3) Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial. 2) Pengembangan manajemen potensi umat. B. 7) Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan.

khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. 3) Pengembangan produk budaya. dengan Program: 1) Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. Budaya Sunda. seperti tersedianya gedung kesenian.6 Kebijakan untuk Mendukung Upaya Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda (Misi 6) Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. C. Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. 5) Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. 6. 4) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D. Kebijakan dan program yang diperlukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah : A. 2) Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. dengan B. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat. dengan Program: 1) 2) 3) Penggalian nilai-nilai budaya sunda. dengan Program: 1) Pengembangan adat istiadat daerah. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. 3) Peningkatan pelayanan ibadah haji. 2) Pelestarian asset budaya. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-9 . 3) Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. 4) Pengembangan ekonomi budaya. Selain. 2) Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. Kebijakan Pengembangfan dan Pelestarian Program: 1) Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.

7 Kebijakan untuk Memelihara Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Misi 7) Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. 4) Penegakan hukum lingkungan. 6) Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Pengembangan sentra tekstil. Pengembangan sentra konveksi. dengan Program: 1) Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan. 8) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. 3) Pengelolaan dan pendayagunaan limbah. Pengembangan sentra agribisnis. C. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Pengembangan daerah ibu kota Soreang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-10 . 7) Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. 2) Pengembangan manajemen pertanahan. Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. B. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu. Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. 2) Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. dengan Program: 1) Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. 5) Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage.Majalaya. 3) Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. yaitu menguntungkan secara ekonomis. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.

12) Penataan iklim investasi yang kondusif. pengembangan kapasitas keuangan desa. dengan Program: 1) 2) 3) 4) Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 5) 6) 7) Peningkatan sarana dan prasarana desa. Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. 11) Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan pedesaan. RW. Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa. Kebijakan Program: 1) Pengembangan pasar desa. LKMD. Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. pembangunan harus dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kinerja pembangunan desa. Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa. Peningkatan kualitas perangkat desa. dengan B.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. 6.8 Kebijakan untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (Misi 8) Dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat desa. RT dan lain-lain). Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-11 . 2) Pengembangan produk unggulan desa. 5) Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. 4) Pengembangan akses pemasaran produk desa. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. 3) Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa.

2) Pengembangan utilitas perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung C. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-12 . Kebijakan Program: Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan. 3) Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. dengan 1) Peningkatan infra struktur perdesaan.

Matriks ini digunakan untuk menyusun Renstra-SKPD dan Rencana Kerja tahunan SKPD sesuai dengan fungsi dan sub fungsi serta memperhatikan sumber daya yang tersedia. Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. artinya besaran belanja tersebut mengikuti jenis dan banyaknya jumlah kegiatan secara berbanding lurus. fungsi dan sub fungsi pembangunan serta alokasi proporsi indikatif APBD per program baik lima tahunan maupun tahunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Program pembangunan daerah lima tahun kedepan dituangkan dalam matriks program lima tahunan dan program tahunan. Belanja ini timbul secara periodik dalam rangka koordinasi pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dan digunakan bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan program dan kegiatan setiap unit. Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan (BHBK) dan Biaya tak Terduga. indikator keluaran. program. Karena sifat belanja langsung diatas. pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyisihkan anggaran untuk belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja gaji pegawai/personalia. belanja daerah secara garis besar terbagi menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja langsung adalah belanjabelanja yang timbul sebagai konsekwensi adanya program atau kegiatan pembangunan yang dibutuhkan dalam kurun satu tahun anggaran. maka untuk memperoleh perkiraan belanja untuk tiap program. belanja modal. BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 . Dalam perkiraan besaran pagu indikatif setiap program lima tahunan dan tahunan harus memperhatikan perkiraan belanja daerah yang merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pembangunan. Dalam matriks tersebut dijabarkan kebijakan. Jika dilihat dari jenis belanjanya. artinya belanja ini merupakan belanja kebutuhan minimal untuk operasional pemerintahan.

inovatif. profesional. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.42453% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. Terselenggaranya sistem reward dan punishment Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0.1 MATRIKS PROGRAM LIMA TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1. Pendidikan Pendidikan Kedinasan 0. Pelayanan Umum 4 5 Terselenggaranya sistem kepegawaian yang berdasar pada aturan perundangundangan. bermoral. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.34860% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-2 . Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 1) Peningkatan moral. diklat struktural dan teknis fungsional. budaya dan etos kerja aparatur. Terwujudnya budaya kerja aparatur yang berdisiplin. produktif dan bertanggungjawab Terbentuknya aparatur yang profesional sesuai dengan Tupoksi Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.34622% APBD Kabupaten 0. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. disiplin.37678% APBD Kabupaten Terbentuknya aparatur yang kreatif. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan Keterangan 1.33714% APBD Kabupaten 0.34096% APBD Kabupaten Pelayanan Umum 6 Terbentuknya mental aparatur yang kreatif dan inovatif Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.

efektif.25974% APBD Kabupaten 5 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. proporsional. Tertatanya fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan supaya lebih memadai.Terwujudnya harmonisasi peraturan daerah dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.efektif.38155% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.27159% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-3 .24533% 4 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. efisien dan transparan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Terselenggaranya evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan yang independent.26999% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. 3) Penataan peraturan perundang-undangan daerah.Tersedianya regulasi sesuai kebutuhan daerah Terselenggaranya proses penyelenggaraan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.25558% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. ramping dan kaya fungsi serta responsif Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelayanan publik 1. Indikator Keluaran Terbentuknya keteladanan setiap jiwa pimpinan satuan kerja FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 2.

27512% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM 6) Peningkatan koordinasi.27608% APBD Kabupaten 10 Terjalinnya harmonisasi antar lembaga pemerintahan baik secara vertikal maupun horizontal Tersusunnya langkah-langkah sistematis evaluasi lebijakan Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.23604% APBD Kabupaten 0. mekanisme dan prosedur pelayanan publik yang mudah dan sederhana Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan. 1. sinkronisasi dan simplikasi hubungan kerja antar lembaga Terbentuknya tertib pertanahan FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 7 Pelayanan Umum 8 9 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan. integrasi.Terbentuknya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada tiap SKPD 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM). sinkronisasi dan simplikasi.23572% APBD Kabupaten 0. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. Terwujudnya pendelegasian kewenangan sesuai dengan peraturan yang ada Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran Meningkatnya koordinasi. 2 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.23060% APBD Kabupaten 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. integrasi.48804% APBD Kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.48035% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-4 . Kelurahan dan Desa.Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pelayanan Publik Terbentuknya sistem.

Terbangunnya tugu batas kecamatan 5.Terwujudnya keseimbangan antara serapan anggaran yang bersifat pembangunan Terwujudnya alokasi dana desa yang proporsional Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 2.Terpeliharanya tugu batas Kabupaten/Kota dan gapura Kabupaten 4. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.84492% APBD Kabupaten 2 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.Terlaksananya penataan wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung yang berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan publik FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 4.Tersedianya produk hukum mengenai penataan namanama jalan di ibukota Kabupaten Bandung 6.88425% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-5 .79964% APBD Kabupaten 3 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran 1.Bertambahnya sumber pendapatan asli daerah 3. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.Meningkatnya pendapatan asli daerah dari sumber restribusi dan pajak daerah 1.Tersedianya dokumen datadata potensi restribusi dan pajak daerah 2. Terbangunnya pilar batas daerah Kabupaten Bandung 3. Terwujudnya pemekaran Kabupaten Bandung. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.52068% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM 3) Penataan wilayah.Terwujudnya rasionalitas anggaran 2.

29033% APBD Kabupaten 2 3 4 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 1) Pengembangan manajemen partisipatif. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa.25132% 0. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat.79844% APBD Kabupaten 5. Tersosialisasikannya program pembangunan kepada masyarakat Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan 0.Meningkatnya kontribusi pendapatan dari laba BUMD 2.28090% APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM dan desa. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 1) Peningkatan transparasi programprogram pembangunan.24287% 6. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya. 4 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.Meningkatnya tingkat kepuasan hasil kerja BUMD Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Terbentunya sistem dan mekanisme yang mengatur pola partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Terbentuknya fasilitasi sistem pengawasan masyarakat Meningkatnya kinerja dalam tugas pembantuan kepada desa Meningkatnya tugas dan fungsi LSM.38433% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-6 .

Tersedianya penyelenggaraan pemerintahan desa yang mampu melaksanakan tugas.35660% APBD Kabupaten 0.80805% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-7 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Lainnya Keterangan 2 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.Tersedianya aparatur daerah yang memahami peraturan perundangundangan tentang desa 3. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa. Tertatanya sistem dan mekanisme pengelolaan informasi dan komunikasi Terjalinnya hubungan yang sinergis dan konstruktif dengan media massa Pelayanan Umum 3 Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.Terdapatnya badan khusus yang menangani urusan desa 2. 1.32449% APBD Kabupaten Misi 8.Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa baik 4. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. fungsi serta kewenangan desa Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.

Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. RT dan lain-lain).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. RW. LKMD.Meningkatnya kualitas kerja aparat desa 2.Tertata dan terlaksananya tugas pembantuan desa 1.Terinventarisasinya kewenangan desa yang dapat dilaksanakan 2.Tersedianya sarana dan prasarana desa 2.79038% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa.79038% APBD Kabupaten 6 — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Indikator Keluaran 1.Optimalnya kinerja perangkat desa dan pelayanan kepada masyarakat 3. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Meningkatnya pengetahuan (kualitas lembaga desa) FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 3 — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.Teroptimalisasinya penggunaan alokasi dana desa3.84072% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan kualitas perangkat desa.Terwujudnya pengalokasian dana desa2.Meningaktnya kesejahteraan perangkat desa 1.Terserapnya sumbersumber keuangan desa dan meningkatnya swadaya masyarakat 1.78773% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-8 .81599% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.Terpenuhinya sarana dan prasarana seda sesuai kebutuhan 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terwujudnya partisipasi secara optimal lembaga desa dalam pembangunan 2.

koperasi dan UKM Perdagangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha. Indikator Keluaran 1.13961% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-9 . Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 — Pengembangan pasar desa. budaya dan lain-lain. pengembangan usaha. Teroptimalisasinya pemanfaatan sumber daya lokal Ekonomi Perdagangan. FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 2.14664% APBD Kabupaten Berkembang dan teroptimalkannya BUMDES Ekonomi 0. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). pengembangan olah raga. koperasi dan UKM Perdagangan.14347% APBD Kabupaten 4 Semakin luas jaringan akses pemasaran produk desa Ekonomi 0.Terbentuk dan terinventarisasinya kelompokkelompok masyarakat sesuai profesi 2. koperasi dan UKM Perdagangan.Dilibatkannya masyarakat/kelompok masyarakat dalam perencanaan. koperasi dan UKM 0.82571% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.Meningkatnya kesehatan reproduksi. kesenian. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. pengembangan usaha. — Pengembangan akses pemasaran produk desa.15064% APBD Kabupaten 0. kesejahteraan keluarga. Berkembangnya sarana pasar desa Ekonomi 2 3 — Pengembangan produk unggulan desa. pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan 3.Meningkatnya kemandirian kelompok masyarakat desa 4.

78689% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan utilitas perdesaan.48710% APBD Kabupaten Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-10 .tersusunya penataan fungsi ruang kawasan pedesaan dalam RDTR 2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perdesaan serta meningkatnya pengetahuan dan kemampuan teknis masyarakat desa 1. Lingkungan Hidup Tata Ruang dan pertanahan 1. pengembangan usaha.Tertatanya fungsi kawasan perdesaan secara optimal Ekonomi Transportasi 1. koperasi dan UKM Keterangan 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.11246% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.Meningkatnya kemanfaatan dan daya guna fasilitas yang ada 1. Indikator Keluaran Berkembangnya lembaga dan jasa keuangan desa FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.77900% APBD Kabupaten 3 — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.Tersedianya data fasilitas umum dan fasilitas sosial desa 2. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 — Peningkatan infra struktur perdesaan.

27541% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.40960% APBD Kabupaten 1.09221% APBD Kabupaten 6 Pendidikan 1. Pendidikan Pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan Pendidikan lainnya 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pelayanan pendidikan. Pendidikan Pendidikan dasar 1.29524% APBD Kabupaten 1.31158% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-11 . Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN 1. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 3. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal Pendidikan lainnya pelayanan bantuan terhadap pendidikan 1.24740% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 7 Pendidikan 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan. Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan pendidikan Terwujudnya kurikulum pendidikan yang mengandung muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan Terlaksananya pendidikan wajar dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah dari seluruhlapisan masyarakat terutama keluarga miskin Terselenggaranya pendidikan non formal dan kejuruan yang berorientasi kepada keahlian Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai Pendidikan 2 3 — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.33142% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.16339% 10 Pendidikan 1. Meningkatnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan Kesehatan Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat 1. Indikator Keluaran Terselenggaranya KBM berbasis MBS secara optimal Meningkatnya aktivitas guru dalam KBM Berkurangnya angka putus sekolah Terlaksananya pendidikan sejak dini usia dan meningkatnya RLS Terlaksananya pendidikan pra sekolah FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan dasar Keterangan 9 Pendidikan 1.53799% APBD Kabupaten 2 Kesehatan 1. — Peningkatan kesejahteraan guru. Pendidikan Pendidikan usia dini 1.13655% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Pengembangan manajemen sekolah.32675% 12 — Pengembangan pendidikan anak dini usia.63998% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-12 .33025% 11 Pendidikan 1. — Peningkatan budaya hidup bersih. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah. sehat dan berkualitas.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).27657% APBD Kabupaten 2.

Terlaksananya program prokasin dan terbangunannya sarana pengolahan dan sanitasi 4.53663% APBD Kabupaten 6 — Pembinaan.Terbangunnya saluran drainase lingkungan perkotaan 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.52575% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan ibu. Kesehatan Obat dan perbekalan kesehatan 1. Kesehatan 1.60327% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-13 . anak dan pada masa reproduksi Terkendalinya penggunaan obat-obatan.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan masterplan drainase Kesehatan kesehatan lainnya 1. makanan dan minuman. peralatan kesehatan dan kosmetika Kesehatan 1. Indikator Keluaran Menurunnya angka kesakitan FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan perorangan keluarga berencana Keterangan 4 — Perbaikan gizi.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan data verifikasi sanitasi 2. — Pengembangan kesehatan lingkungan.30954% APBD Kabupaten 7 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan outline plan drainase 6. anak dan reproduksi.Terlaksananya pembangunan prasarana dasar lingkungan pemukiman 3. makanan dan minuman. pengawasan dan pengendalian obatobatan. peralatan kesehatan dan kosmetika. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama balita dan bumil Meningkatnya status kesehatan ibu.53799% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Penanggulangan penyakit.

— Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.44008% APBD Kabupaten 3. Indikator Keluaran Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Tersedianya SDM tenaga kesehatan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan Teroptimalisasinya perlindungan dan advokasi hak perempuan Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.59919% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 — Peningkatan keberdayaan perempuan.Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Keterangan 9 Kesehatan 1.Tersedianya sistem jaringan pelayanan kesehatan bagi masyarakat 2. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.24684% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-14 .46592% APBD Kabupaten 10 Kesehatan 1.24239% APBD Kabupaten 2 Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.

20764% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.27097% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Tersedianya kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. jiwa kepemimpinan dan pelopor Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. pembangunan dan kemasyarakatan. Tersedianya media aktifitas dan kreatifitas generasi muda yang akomodatif Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.20200% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-15 . Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.17943% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.20595% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. kepemimpinan dan kepeloporan. Meningkatnya ketahanan moral dan mental generasi muda Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Indikator Keluaran Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Pemberdayaan perempuan Keterangan 4. Terbentuknya generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.17350% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. Pariwisata dan Budaya 0.15548% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-16 .17971% APBD Kabupaten 8 Pariwisata dan Budaya 0. 1.18112% APBD Kabupaten 7 — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga masyarakat sesuai kebutuhan Terwujudnya sistem dan mekanisme keolahragaan yang berorientasi pada prestasi Terbangunnya kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. Meningkatnya prestasi olah raga Pariwisata dan Budaya 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.Tersedianya sarana dan prasarana rehabilitasi sosial perlindungan sosial perlindungan sosial lainnya 0.17491% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pemasyarakatan olah raga. Pariwisata dan Budaya 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. Indikator Keluaran Tumbuhnya aktivitas keolahragaan FUNGSI Pariwisata dan Budaya SUB FUNGSI pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga Keterangan 6 — Peningkatan prestasi olah raga.18422% APBD Kabupaten Misi 4. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. 1.Meningkatnya kualitas pelayanan rehabilitasi sosial 2.

— Peningkatan ketahanan sosial.15313% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Pengembangan sistem perlindungan sosial. Meningkatnya kemampuan. Indikator Keluaran Tersedianya sistem dan managemen perlindungan sosial Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kesejahteraan sosial Tersedianya lembaga advokasi perlindungan anak FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 3 — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. individu. terarah dan terpadu ketertiban dan keamanan penanggulangan bencana 0.15783% APBD Kabupaten 6 — Penanggulangan bencana dan pengungsi.15805% APBD Kabupaten 7 — Penaganan masalahmasalah sosial. lansia dan penyandang tuna sosial perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan orang sakit dan cacat 0. penyandang cacat.15313% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan anak terlantar.16639% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 8 0. keluarga dan masyarakat perlindungan sosial perlindungan sosial bantuan dan jaminan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0. keluarga dan masyarakat.21387% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-17 . penyandang cacat. pengetahuan dan keterampilan serta perlindungan anak terlantar. Tersedianya prosedur penanggulangan bencana secara cepat. lansia dan penyandang tuna sosial. — Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Tertanggulanginya masalahmasalah sosial Meningkatnya ketahanan sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. individu.15377% APBD Kabupaten 4 perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0.

kehuta nan.70712% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan distribusi pangan.70797% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. perikanan dan kelautan pertanian.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Ekonomi 0. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 — Pengamanan ketersedian pangan. perikanan dan kelautan 0. perikanan dan kelautan pertanian. Indikator Keluaran menurunnya tingkat penggunaan obat-obatan terlarang Terwujudnya bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Obat dan perbekalan kesehatan bantuan dan jaminan sosial Keterangan 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.kehuta nan. perlindungan sosial 0. Tertatanya sistem pendistribusian pangan secara proporsional Meningkatnya hasil panen secara optimal dan terolah dengan baik Tersedianya keragaman pangan Ekonomi 0.17772% APBD Kabupaten 2.19911% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.61725% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. Terpenuhinya kebutuhan pangan Ekonomi pertanian.kehuta nan.kehuta nan.kehuta nan. — Diversifikasi pangan. perikanan dan kelautan pertanian.66642% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-18 . perikanan dan kelautan pertanian. Tertanggulanginya permasalahan pangan Ekonomi 0.72154% APBD Kabupaten 4 Ekonomi 0.

85720% APBD Kabupaten 10 — Pengembangan koperasi.91739% APBD Kabupaten 9 Tersedianya sarana dan prasaran perdagangan sesuai kebutuhan Ekonomi Perdagangan.64692% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan agribisnis. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM 0.89365% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-19 . pengembangan usaha. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. sentra agribisnis. Indikator Keluaran Terwujudnya kawasan dan produk agribisnis FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. pengembangan usaha. kecil dan menengah. pertenakan dan perikanan. Meningkatnya peran dan fungsi koperasi.92926% APBD Kabupaten 8 Tersedianya penampungan dan pemasaran hasil produksi Ekonomi 0. perikanan dan kelautan Perdagangan. peternakan dan perikanan Ekonomi pertanian. koperasi dan UKM 0.kehuta nan. Meningkatnya hasil produksi industri manufaktur Ekonomi Perdagangan. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). usaha mikro. Meningkatnya hasil pertanian.99540% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan industri manufaktur. usaha kecil dan menengah Ekonomi Perdagangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. koperasi dan UKM Keterangan 7 — Revitalisasi pertanian. seperti sentra tekstil. pengembangan usaha. — Pengembangan sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. sentra konveksi. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha.

Terserapnya akses permodalan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya produktif Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM Keterangan 13 — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha.64608% APBD Kabupaten 14 — Pengembangan ekonomi syariah. terutama permodalan. Terbentuknya iklim usaha yang profesional Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0.80293% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 12 PROGRAM — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. Meningkatnya investasi Ekonomi Perdagangan.83685% APBD Kabupaten 16 — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.83346% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-20 . Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatankegiatan kewirausahaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.77071% APBD Kabupaten 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. koperasi dan UKM 0.95300% APBD Kabupaten 15 — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. Terselenggaranya kegiatan ekonomi yang berbasis syariah Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha. Meningkatnya privatibilitas BUMD Ekonomi Perdagangan.

— Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.28569% APBD Kabupaten 5 Terjalinnya hubungan sinergis masyarakat industri Ekonomi Industri dan konstruksi 0.30826% APBD Kabupaten 3 Ekonomi tenaga kerja 0. — Pemantapan hubungan industrial.88941% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 18 PROGRAM — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.32276% APBD Kabupaten 2 Tersedianya tenaga kerja yang berkualitas dan produktif Terbentuknya lembagalembaga perlindungan tenaga kerja Menurunnya angka pengangguran Ekonomi tenaga kerja 0.80378% APBD Kabupaten 3.28457% APBD Kabupaten 4 Ekonomi tenaga kerja 0.23552% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-21 . Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Terserapnya tenaga kerja secara optimal Ekonomi tenaga kerja 0. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. — Pengembangan keparawisataan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terpenuhinya hak dasar masyarakat miskin FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI bantuan dan jaminan sosial Keterangan 19 Terwujudnya sistem dan manajemen kepariwisataan Pariwisata dan Budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.

Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.32878% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-22 . Meningkatnya keterampilan dan ketahanan keluarga Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.25168% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Penyelesaian masalahmasalah ketenagakerjaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.42520% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.Menurunnya laju pertumbuhan penduduk. — Penataan administrasi kependudukan. Berkurangnya perpindahan penduduk dari desa ke kota Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Terfasilitasinya masalahmasalah ketenagakerjaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI tenaga kerja Keterangan 4. 2.29906% 5 — Pengendalian urbanisasi. 1. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.menurunnya tingkat angka kesakitan masa reproduksi Kesehatan keluarga berencana 0.25157% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 4 0.38388% APBD Kabupaten 3 Tertatanya sistem pencatatan kependudukan Menurunnya tingkat keluhan terhadap pelayanan kependudukan dan transmigrasi Perlindungan sosial Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

Berfungsinya penegak hukum secara optimal Lingkungan hidup manajemen limbah 0. 1. daya dukung dan kualitas lingkungan 2. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Lingkungan hidup perlindungan lingkungan hidup lainnya 0. KEBIJAKAN 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 7.53745% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.63957% APBD Kabupaten 4 — Penegakan hukum lingkungan. Terkelolanya limbah domestik dan limbah industri beserta pemanfaatannya 1. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.Teroptimalisasinya lahan kritis dan konservasi lahan Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi strategis lingkungan Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.Meningkatnya keseimbangan lahan.Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan aparat terhadap hukum lingkungan 2. Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.58720% APBD Kabupaten 3 — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.53680% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-23 .

Terlaksananya pengembangan hutan rakyat Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Terlaksananya daur ulang dan pendayagunaan sampah Lingkungan hidup manajemen limbah 0.54007% APBD Kabupaten 7 — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.Tersedianya TPS dan TPA 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.54007% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. 1.Meningkatnya kesadaran pelestarian hutan 2.Tersedianya sistem pola dan mekanisme pengelolaan sampah terpadu 2.57804% APBD Kabupaten 8 — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. Indikator Keluaran 1.54858% APBD Kabupaten 2.Adanya peran aktif dari masyarakat dan lembaga kemastarakatan dalam melestarikan lingkungan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI konsevasi sumber daya alam Keterangan 6 — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan SDA Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Terlaksananya KISS program Dibale dengan stakeholder terkait 2. 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-24 .

penataan kawasan khusus dan pemetaan melalui KISS program 1. Indikator Keluaran Tersusunnya dokumen perencanaan. RDTR.Terfasilitasinya masalahmasalah pertanahan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya Keterangan 2 — Pengembangan manajemen pertanahan. 1.Tersusunnya sistem pengawasan dan pengendalian pembangunan 2.29906% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.Teroptimalisasinya administrasi pertanahan 4.Teroptimalisasinya pengendalian dan pengawasan pembangunan Lingkungan hidup Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya 2.04197% APBD Kabupaten 3 — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 2. Tersedianya data-data pertanahan 2.25769% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-25 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 2.Teroptimalisasinya pelaksanaan penertiban penggunaan tanah sesuai peruntukannya 3.

13781% APBD Kabupaten 4 Perumahan dan fasilitas umum Perumahan dan pemukiman lainnya 0.12801% APBD Kabupaten 3 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.14081% APBD Kabupaten 2 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.Tersedianya data verifikasi fasilitas umum. fasilitas sosial dan perumahan2.Majalaya.Tertata dan termanfaatkan sarana prasarana fasilitas umum Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.soreang dan gedebage.majalaya 1. Tersusunnya dokumen rencana terpadu. — Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage. penetapan kawasan andalan dan kota mandiri Berkembangnya jaringan prasarana dasar wilayah (SRTPK) Terwujudnya pembangunan jalan tol pasir koja.13560% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-26 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.

koperasi dan UKM 0. Indikator Keluaran 1.Eks terminal cingcin dan pengembangannya 4. pengembangan usaha.14255% APBD Kabupaten 7 — Pengembangan sentra agribisnis.12801% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.Tersedianya dokumen pra feasibility dan pra design 3.Tersedianya pusat penampungan dan pemasaran Tersedianya pusat produksi tekstil dan pemasaran Ekonomi Perdagangan.14713% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-27 .Tertatanya pelaksanaan pembangunan untuk pengembangan kota soreang FUNGSI Perumahan dan fasilitas umum SUB FUNGSI litbang perumahan dan pemukiman Keterangan 6 — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. 1.Terwujudnya sarana dan prasarana fisik penunjang dinamisasi sektor ekonomi 2.Teroptimalisasinya pengolahan hasil produksi 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya dokumen perencanaan teknis terpadu 2. 1.14856% APBD Kabupaten 8 — Pengembangan sentra tekstil. pengembangan usaha.Terlaksananya studi manajemen dan rekayasa lalulintas serta perhubungan Ekonomi Ekonomi lainnya 0.

Tersedianya dokumen rencana induk penggunaan induk data verifikasi air baku.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha. potensi geothermal. Terciptanya iklim kemudahan melakukan investasi Ekonomi Perdagangan.Tersedianya data sebaran bahan galian dan mineral 2.14413% APBD Kabupaten 12 — Penataan iklim investasi yang kondusif. 1. pembangkit listrik alternatif dan untuk keperluan sendiri beserta pengembangannya Ekonomi bahan bakar dan energi 0. 1.14461% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Pengembangan sentra konveksi. air bawah tanah 2.15994% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.Tersedianya sarana air bersih Ekonomi Pengairan 0. bencana geologi. Indikator Keluaran Tersedianya pusat pengembangan dan pemasaran konveksi FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. koperasi dan UKM Keterangan 10 — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. listrik pedesaan. pengembangan usaha.13133% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-28 . koperasi dan UKM 0.Terlaksananya pengembangan pengelolaan sumber daya air 3.Tersedianya peta mitigasi.

13193% APBD Kabupaten 2 — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat. keamanan dan hukum lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 1 — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat. dan antara masyarakat dengan pemerintah. KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. Tenteram dan Dinamis.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas.12583% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-29 .13000% APBD Kabupaten 3 Terantisipasinya kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas ketertiban dan keamanan ketertiban . Tertib. Terwujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban dan keamanan 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan ketertiban dan keamanan ketertiban .

keamanan dan hukum lainnya 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat. Berkurangnya pelanggaran hukum ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . Terwujudnya SDM kamtrantib yang profesional ketertiban dan keamanan ketertiban .09276% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-30 . Indikator Keluaran Terselesaikannya permasalahan melalui mediasi pemerintah FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI peradilan Keterangan 5 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.10395% APBD Kabupaten 2 Terujudnya rasa keadilan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban .12279% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.13481% APBD Kabupaten 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.11846% APBD Kabupaten 6 — Peningkatan kesadaran budaya tertib. — Penerapan hukum secara konsekwen. Meningkatnya ketertiban umum ketertiban dan keamanan 0.

Tersusunnya kodifikasi bahan-bahan sosialisasi produk hukum pusat dan daerah ketertiban dan keamanan Litbang ketertiban. keamanan dan hukum lainnya Pembinaan hukum 0.08977% APBD Kabupaten 6 — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.09836% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan produk hukum daerah.09328% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-31 .Tersedianya peraturan daerah dan peraturan bupati sesuai kebutuhan 2. keamanan dan hukum 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum. Indikator Keluaran Tercapainya peningkatan pengetahuan dan pemahaman hukum masyarakat 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tertatanya dokumentasi hukum yang tertib 2.09432% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Sosialisasi. Berkurangnya pelanggaran HAM ketertiban dan keamanan ketertiban .09289% APBD Kabupaten 7 — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum. Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam penegakan hukum Terjalinnya kerjasama sinergis antar penegak hukum ketertiban dan keamanan 0.09849% APBD Kabupaten 8 ketertiban dan keamanan 0.Terciptanya sistem jaringan informasi yang tertib FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI Pembinaan hukum Keterangan 4 ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. 1. bantuan dan perlindungan hukum.

15132% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-32 .14827% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan hak politik masyarakat. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap politik Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan berpolitik ketertiban dan keamanan ketertiban .15810% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Terwujudnya kebebasan dalam menentukan pilihan politik ketertiban dan keamanan 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pendidikan politik masyarakat. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. keamanan dan hukum lainnya 0.15155% APBD Kabupaten 2 ketertiban dan keamanan 0. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menyampaikan aspirasi Terwujudnya kehidupan politik yang demokratis ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. keamanan dan hukum lainnya 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .15459% APBD Kabupaten 4 ketertiban dan keamanan ketertiban . — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.

Meningkatnya kualitas keberfungsian lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 2. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. 1. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.Terlaksananya KISS program Dibale/ kec dengan stakeholder terkait 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan Misi 5.Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya 0. 1.Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat 4.10428% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-33 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Meningkatnya kerukunan hidup beragama.meningkatnya bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 4.11458% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.Meningkatnya kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur nagara 2. Indikator Keluaran 1.08872% APBD Kabupaten 4 — Peningkatan kerukunan hidup beragama.Meningkatnya penarapan nilai agama dalam kehidupan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI pendidikan keagamaan Keterangan 3 — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. adanya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum mulai sekolah dasar sampai menengah Pendidikan pendidikan keagamaan 0.Terwujudnya peningkatan kualitas iman dan takwa 3. Menurunnya penyebaran agama tertentu pada masyarakat yang telah beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.09892% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. inter ummat beragama dan antar umat beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.06759% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-34 .

08336% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. dan legislatif keuangan dan fiskal serta urusan bantuan luar negeri 0.Meningkatnya manajemen pengelolaan TPA dan TKA 3. 1.Meningkatnya kesejahteraan pengelola TPA dan TKA Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya jumlah TPA dan TKA baru 2.07443% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-35 . 1. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatan keagamaan yang terpadu antara pemerintah daerah dengan masyarakat FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 7 Meningkatnya kesadaran aparat untuk memakai pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama Pelayanan Umum lembaga eksekutif.07148% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan TPA/TKA.Terwujudnya silaturahmi antara pemerintah dengan lembaga keagamaan 2.06045% APBD Kabupaten 8 — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.Meningkatnya intensitas FKUU di tingkat kabupaten.Meningkatnya kualitas pendidikan dan pengajaran untuk siswa TPA dan TK 4. kecamatan dan desa Pelayanan Umum Pelayanan umum 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.

Terbentuknya lembagalembaga ekonomi syariah2. koperasi dan UKM 0.Adanya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah Kesejahteraan sosial Ekonomi Penyuluhan dan bimbingan sosial Perdagangan. pengembangan usaha.12087% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-36 .12943% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 3 0.11512% APBD Kabupaten 2 Terwujudnya kehidupan sosial yang agamis harmonis 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 2. Meningkatnya pribadi aparatur yang iman dan takwa Pendidikan Pendidikan keagamaan 0. Kebijakan Penerapan Nilainilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. — Pengembangan ekonomi syari’ah.Terbentuknya tenaga profesional yang mengelola lembaga perbankan maupun non perbankan syariah3. — Peningkatan harmonisasi sosial.Adanya sosialisasi tentang pengembangan ekonomi syariah4.

Kokohnya ketahanan moral dan mental umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.13830% APBD Kabupaten 3. 1.Terwujudnya kebersamaan umat 2.Terinventarisasinya potensi umat 2. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.14003% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan manajemen potensi umat. Indikator Keluaran Terwujudnya perilaku sosial berdasarkan nilai agama FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 5 Terwujudnya keteladanan pimpinan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13830% APBD Kabupaten 6 Meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Tersedianya sistem dan mekanisme serta pola pengembangan potensi umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.17197% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-37 .12181% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.

Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-38 .Terwujudnya pemahaman tentang pengembangan ekonomi di lembaga keagamaan 2.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi yang mengayomi kepentingan umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya kemampuan ormas keagamaan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.17675% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan ormas keagamaan.Meningkatnya peran serta ormas-ormas keagamaan2. 1.13658% APBD Kabupaten 4.Terwujudnya pemanfaatan ZIS bagi kepentingan umat FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 4 — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.13849% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Optimalisasi zakat. infaq dan sadaqah.Adanya kesadaran untuk mengeluarkan ZIS 2. Indikator Keluaran 1. 1.

27438% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. 1. 1.Tumbuh suburnya aktivitas keagamaan yang berorientasi pada kesadaran umat untuk beragama dan bernegara FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 2 — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.Tersedianya sarana dan prasarana keagamaan yang memadai sebagai tempat untuk beribadah dan aktivitas umat 2.23041% APBD Kabupaten Misi 6. Terwujudnya sistem pelayanan ibadah haji Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. Indikator Keluaran 1. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-39 .25904% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pelayanan ibadah haji.Terwujudnya pemahaman tentang pengelola ZIS melalui sosialisasi dan penataran caloan pengelola ZIS supaya lebih profesional Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Adanya lembaga permanen yang mengelola ZIS 2.

seperti tersedianya gedung kesenian. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.Meningkatnya kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.25918% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.24677% APBD Kabupaten 2. Indikator Keluaran Terinventarisasinya nilai-nilai budaya Sunda FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.25787% APBD Kabupaten 3 — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.15053% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-40 . 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. 1.Meningkatnya pemahaman nilai budaya sunda pada anak usia dini dan generasi muda2.Meningkatnya kreatifitas masyarakat terhadap pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya 0. Tersedianya sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda 2.

16593% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga seni dan budaya Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-41 .14880% APBD Kabupaten 4 Pariwisata dan budaya 0.15053% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Ditetapkannya bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah 2.14803% APBD Kabupaten 3. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. Indikator Keluaran Terakomodirnya muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Keterangan 3 — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. 1.Meningkatnya penggunaan bahasa sunda sebagai bahasa sehari hari baik kegiatan formal maupun informal Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.

Teraksesnya produk budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional 2. Indikator Keluaran Terpeliharanya adat-istiadat daerah dalam kehidupan sehari-hari 1.Terbentuknya pusat pasar seni Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.00000% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-42 . 1.17927% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan produk budaya.Tersosialisasikannya budaya melalui manajemen pemasaran yang terbuka FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Pelestarian asset budaya.19508% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan ekonomi budaya.Tersedianya data aset budaya yang perlu dilestarikan 2.Adanya sistem informasi terpadu tentang peta budaya 3. Pariwisata dan budaya 0.Tergalinya nilai – nilai budaya2.Terpeliharanya aset budaya 1.18795% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan adat istiadat daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Pariwisata dan budaya 0.20153% APBD Kabupaten 100.

521% 0.834% 0.758% 0.126% 0.550% 0.100% 0.171% 0. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 2 1) Peningkatan moral. disiplin. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.023% TAHUN 2 % APBD 43.768% 0.103% 6 7 0.687% 0.076% 0.156% 1. 3) Penataan peraturan perundangundangan daerah.213% TAHUN 5 % APBD 9.145% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7. 6.175% 0.080% 0.812% 0.758% 0.164% 0.208% 1.073% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-43 .778% 0.650% 0.282% 0. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen.591% 0.105% 0.750% 5.183% TAHUN 4 % APBD 16.865% TAHUN 3 % APBD 23.113% 2.282% 0. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.908% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 2 3 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.162% 0.149% 0.135% 0.147% 0.150% 0. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif.101% 0. diklat struktural dan teknis fungsional.099% 1.500% 0.123% 0.840% 0. 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. 6.191% 0.077% 1.099% 0.941% 1.208% 0. budaya dan etos kerja aparatur.156% 5.919% 0.706% 0. 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.821% 0.710% 0.695% 0.667% 1. 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.110% 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN 1 % APBD 52.091% 0.2 MATRIKS PROGRAM TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.116% 0.174% 0.103% 0.189% 0.616% 0.128% 0.112% 3 4 5 0.169% 0.

663% 0.182% 2 3 4 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-44 .861% 0.116% 0. 0. 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.082% 0.201% 0.081% 3.108% 3.758% 2.568% 0.326% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4 5 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.529% 0.250% 2. 3) Penataan wilayah.495% 1. sinkronisasi dan simplikasi. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.500% 0.077% 0.099% 0.480% 0.118% 0.068% 7 8 9 10 3.070% 0. integrasi.561% 0. 11.626% 0.130% 0.119% 0.555% 0. 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.082% 0. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.000% 0.528% 0.654% 3. Kelurahan dan Desa.136% 0.118% 0.081% 6 0.665% 0. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan.000% 0.812% 1.654% 0.558% 0.553% 0.587% 1.502% 1.189% 2.092% 3.527% 0.618% 6.192% 0. 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa.000% 0. 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.000% 0.068% 1. 8.754% 9.000% 4.821% 1.117% 0.112% 0.071% 2.118% 0.375% 3.000% 0.341% 0.308% 0. 6) Peningkatan koordinasi.673% 3.569% 0.182% 0.000% 0.138% 0.584% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 2 3 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).563% 0.470% 0.101% 0.176% 5.138% 0.198% 1.308% 0. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.661% 1.481% 0.290% 2.070% 0.101% 0.282% 0.000% 0.

375% 0.614% 0.653% 0.290% 0.231% 1.290% 0.349% 0.548% 1.349% 0.555% 0.309% 1.299% 0. 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat. 1.179% 0. 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.231% 1.292% 0. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1.081% 9.628% 0.338% 0.462% 0. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 2 3 4 11.429% 0.246% 0. — Peningkatan kualitas perangkat desa.328% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-45 .099% 1.259% 0.634% 0.237% 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 2 3 4 1) Pengembangan manajemen partisipatif.275% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa.335% 0.444% 0.250% 0. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 2 3 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.200% 0.375% 4.042% 1.206% 0.317% 0.758% 0.390% 0. — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa.282% 0.758% 0.582% 1.231% Misi 8.396% 0.368% 0.396% 3. — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan 1.846% 2.338% 0.099% 1.412% 0.042% 1.302% 0.549% 0.281% 0.173% 6.352% 0.325% 0.376% 0.571% 0.336% 0.282% 0. 1.393% 1.598% 1.325% 0.646% 1.284% 0.273% 0.537% 0.317% 0.254% 0.273% — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.339% 1.

641% 0.601% 2.316% 0.250% 5. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 2 0.535% 0. — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.271% 0.000% 0.000% 0.123% 3 4 5 3.800% 0. RW. — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.839% 1.818% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-46 .813% 1.000% 0.000% 0.099% 0.495% 5.279% 0. 1.210% 2.387% — Peningkatan infra struktur perdesaan. RT dan lain-lain).200% 1.561% 0.000% 0.000% 69. — Pengembangan akses pemasaran produk desa. 0.174% 2.332% 7 2.128% 2.239% 0.000% 81.305% 1.273% 2. — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.758% 0.317% 0. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 2 3 7.231% 75.228% 0.157% 0.805% 1.176% 50.000% 0.165% 0.000% 0. 6.000% 0.548% 1. — Pengembangan produk unggulan desa.509% 0.208% 0. — Pengembangan utilitas perdesaan.178% 1.000% 0.537% 0.000% — Pengembangan pasar desa.614% 0.221% 0.000% 1.612% 2. 5 6 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.943% 1.309% 1. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.000% 0.934% 1. LKMD.612% 0.153% 0.160% 0.617% 1. — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.258% 0.233% 0.542% 1.669% Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 41.368% 0.265% 0.617% 1.282% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sumber keuangan desa. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).804% 0.

878% 0.929% 0.165% 1.168% 1.365% 1.120% 1.829% 0.577% 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).357% 1.453% 1.010% 1.538% 15.454% 1.364% 1.605% 1.947% 0.081% 1.016% 11.070% 0.309% 1.577% 17.720% 0.538% 15.841% 0.511% 1.445% 1.881% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 — Peningkatan pelayanan pendidikan.325% 1.007% 0.011% 0.244% 1.585% 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.308% 18.445% 1.609% 0.767% 0. — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.294% 1.874% 0.969% 1.038% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-47 . 0.653% 1.516% 1. — Pengembangan pendidikan anak dini usia.911% 2. — Peningkatan kesejahteraan guru.586% 2.752% 1.193% 1.854% 1.681% 1.648% 1.749% 0.822% 0. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 2 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.868% 1.307% 1.577% 17.421% 1.016% 11.863% 0.983% 1.996% 0.494% 1.245% 1.328% 1.412% 1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) 1.630% 1.881% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 3.475% 1. — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.751% 1. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.014% 1. sehat dan berkualitas.654% 1. — Peningkatan budaya hidup bersih.279% 1.344% 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan. 10. — Pengembangan manajemen sekolah.841% 0.360% 1.968% 1.308% 18.864% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 10.877% 0.883% 1.515% 1.550% 1.

057% 1.113% 1.000% 0.282% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 2 3 — Peningkatan keberdayaan perempuan.137% 0. pengawasan dan pengendalian obat-obatan.113% 1. makanan dan minuman.006% 1. 1.167% 1.158% 1.896% 1.640% 1. kepemimpinan dan kepeloporan.564% 1.000% 0.863% 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 1.670% 1.217% 1. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 6 — Penanggulangan penyakit.643% 1.000% 0.966% 0.911% 1.575% 1.000% 4.409% 0. — Perbaikan gizi.000% 0. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. — Perlindungan dan advokasi hakhak perempuan.562% 0.750% 1.355% 0.397% 0. peralatan kesehatan dan kosmetika.113% — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.909% 0.821% 1.503% 1.014% 1.416% 0.821% 1. — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.000% 0.994% 1. — Pembinaan.639% 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.213% 0.987% 1.093% 1.992% 1.054% 0.826% 1.342% 1. anak dan reproduksi.923% 2.000% 0.577% 1. — Perlindungan ibu.168% 1.789% 3.282% 1. pembangunan dan kemasyarakatan.214% 1. — Pengembangan kesehatan lingkungan.457% 0.627% 7 8 9 10 1.731% 1.552% 0.476% 1.158% 0.738% 1.731% 0.949% 1.098% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.000% 0.013% 1.617% 0.258% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-48 .491% 1.361% 0. 1.752% 1.236% 0.

110% 0.101% 0.190% 0. — Advokasi dan perlindungan hakhak anak. — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.235% 0.119% 0. penyandang cacat.113% 1.227% 0.133% 0.196% 0.199% 0.114% 0.204% 0. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.229% 4 5 6 7 8 9 Misi 4.731% 1. — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.196% 0.174% 0. lansia dan penyandang tuna sosial.116% 0.225% 0.223% 3 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.133% 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.101% 0.171% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. — Penanggulangan bencana dan pengungsi. 1.180% 0.198% 0.189% 0.104% 0.153% 0.191% 0.156% 0.184% 0.136% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. — Pemasyarakatan olah raga.207% 0.102% 0.184% 0. — Peningkatan ketahanan sosial.098% 0. individu.923% 2. — Peningkatan prestasi olah raga.206% 0.118% 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.180% 0.101% 0.207% 0.247% 2 3 4 5 6 7 8 9 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-49 .193% 0.136% 0.140% 0.136% 0.121% 0. 0.151% 0.118% 0.219% 0.205% 0.120% 0.116% 0. — Pengembangan sistem perlindungan sosial.157% 0.256% 0.177% 0.223% 0.162% 0. — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.126% 0.104% 0.117% 0.162% 0.190% 0.131% 0.138% 0. keluarga dan masyarakat.118% 0.230% 0.174% 0. — Pemberdayaan anak terlantar.178% 0.186% 0.141% 0.190% 0.179% 0.120% 0.204% 0.115% 0.157% 0.251% 0. — Penaganan masalah-masalah sosial.162% 0. — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.211% 0.132% 0.210% 0. — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.216% 0.266% 0.244% 0. 1.175% 0.158% 0.159% 0.217% 0.282% 1.

537% 0.407% 0. sentra agribisnis. seperti sentra tekstil.466% 0. — Revitalisasi pertanian.140% 9 10 11 12 13 14 15 16 0.612% 0. — Pengembangan koperasi. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. 10.085% 0.117% 0.628% 0.585% 0.725% 0.538% 0. — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil.822% 0.058% 0.589% 0.683% 0.237% 1.135% 0.045% 1.953% 0.308% 18.823% 0.506% 0.491% 0. — Pengembangan ekonomi syariah.605% 0.182% 0.184% 1.508% 0.916% 0.656% 0.110% 0.879% 0.703% 0.724% 0.651% 0.426% 0.202% 0. kecil dan menengah.958% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-50 .736% 1.134% 1.610% 0. — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.914% 0. — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.020% 0.804% 1.635% 0.552% 0.828% 0. — Pengembangan industri manufaktur.805% 0.756% 0.529% 0.940% 1. 0.879% 1.679% 0. — Pengembangan sentra-sentrasentra unggulan pada kawasan andalan.977% 0. usaha mikro.155% 0.221% 2.476% 0. — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha.469% 0.662% 0. — Diversifikasi pangan.697% 0.759% 0.726% 0.040% 0.880% 0. sentra konveksi.633% 0.976% 1. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 2 3 4 5 6 7 8 — Pengamanan ketersedian pangan.806% 0.878% 1.018% 0.790% 0.538% 15.065% 1. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).426% 0. — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).467% 0. — Peningkatan distribusi pingan.881% 0.565% 0.706% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. — Pengembangan agribisnis. — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.896% 0.767% 0.016% 11.740% 0.548% 0.737% 1.663% 0.858% 0.439% 0.953% 0.491% 0.577% 17.998% 0.803% 1. pertenakan dan perikanan.

— Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.337% 0. 0.383% 0.374% 0.188% 0.824% 0.313% 4.227% 0.217% 0.999% 18 19 3.234% 0.610% 0.282% 1.105% 0.331% 0.258% 1.253% 0. 1.325% 0.316% 0.393% 0.351% 0.098% 0.166% 1.268% 0.098% — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.113% 0.241% 0.354% 0. — Penataan administrasi kependudukan.179% 0.313% 0.307% 0.949% 1.372% 0.484% 0.854% 0.731% 0.549% 0.197% 0. — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.923% 0.013% 0.287% 2.912% 0.530% 0.915% 1.155% 0.675% 0.731% 1.250% 0.477% 0.036% 1.355% 0. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.401% 0.528% 0.341% 0.324% 0.923% 2.409% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-51 .437% 0. 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.287% 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.191% 0.323% 0.258% 0. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 2 3 4 5 1.166% 0.213% 0.191% 1.188% 0.291% 0.586% 0.293% 0.633% 0. — Pemantapan hubungan industrial. terutama permodalan. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.217% 0.282% 0. — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.436% 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 2 3 4 5 6 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.292% 0.113% 1. — Pengembangan keparawisataan.293% 0.203% 0.245% 0. — Pengendalian urbanisasi. — Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan.280% 0.216% 0.368% 0.

750% 0. — Pengembangan manajemen pertanahan. — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.597% 2.893% 0. 1.133% 0.666% 0.688% 0.752% 0.769% 6.737% 0.364% 0.135% 0.691% 0. 0.113% 2.143% 0.158% 0.369% 2.113% — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.687% 0. — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.692% 8. — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.412% 2.175% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-52 .923% 7.820% 0.145% 0.192% 5.680% 2.282% 0.754% 6 7 8 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1 1.133% 0.924% 2.622% 0.142% 1.305% 0.632% 2.329% 0. — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.306% 0. — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.334% 0.163% 1.307% 0.619% 0.033% 1.807% 0.107% 1.160% 2.819% 0. 1.392% 1.787% 1.294% 0.339% 5.133% 0.676% 0.622% 0.766% 2.312% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7.133% 0.587% 1. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 2 3 4 5 — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.923% 0. — Penegakan hukum lingkungan.142% 2.564% 5.755% 2.144% 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 1 2 3 — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.098% 0.731% 0.740% 0.702% 0.307% 0.618% 0.754% 0.749% 0. 3.380% 2.691% 0. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.093% 1.871% 3.632% 0. — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.128% 6.

110% 0.588% 0.882% 1.162% 0.909% 0.692% 8.097% 0.164% 0. — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat. — Penataan iklim investasi yang kondusif.179% 0.155% 0.103% 0.169% 0.250% 7.168% 0.154% 0.151% 0.146% 0.103% 0. — Pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja dan GedebageMajalaya.157% 0.148% 0.095% 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.100% 0.124% 0.097% 0.105% 0.106% 0.095% 0.137% 0.102% 0.185% 0. — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial 6.089% 0.133% 0.098% 0.152% 0.134% 0. 0.112% 0.094% 0.091% 0.146% 0.199% 0.131% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 3 — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.625% 0.769% 0.159% 0.087% 0.097% 0.333% 9.095% 0. dan antara masyarakat dengan pemerintah.121% 0.084% 0. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).163% 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.183% 0.100% 0.141% 0.150% 0.146% 0.139% 0.833% 0.100% 0. — Pengembangan sentra konveksi. 5. — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.131% 0.157% 2 3 0.105% 0.144% 0.177% 0.180% 0. — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. Tertib. — Pengembangan sentra agribisnis.109% 0.097% 0. — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.165% 0.135% 0.091% 0.142% 0.148% 0.108% 0. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas.164% 0.131% 0.171% 0.150% 4 0. — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.168% 0.127% 0.108% 0.146% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-53 . — Pengembangan sentra tekstil.084% 0. Tenteram dan Dinamis.182% 0.113% 0.159% 0.

124% 0.102% 0.105% 0.099% 0.117% 0.076% 0. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.076% 0. — Sosialisasi. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum.909% 0.095% 0.093% 0.124% 0.094% 0.076% 0. 0.113% 0.588% 0.099% 0.172% 0.129% 0. bantuan dan perlindungan hukum.080% 0.101% 0.085% 0. — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah.110% 0.111% 5 6 7 8 3.122% 0.111% 0.160% 2.188% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-54 . Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 2 3 4 0.107% 0.625% 0.147% 0.101% 0.153% 0.769% 0.090% 0.588% — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.159% 0. 0.833% 0.103% 0.107% 0. — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum. — Penerapan hukum secara konsekwen.081% 0.076% 0.136% 0.165% 0.076% 0.119% 0.094% 0.117% 0.072% 0.129% 0.091% 0.077% 0.073% 0.072% 0. — Peningkatan kesadaran budaya tertib. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis 1 2 0.117% 0. 0.769% 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.180% 0.112% 0.080% 0.073% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kemasyarakatan.141% 0.097% 0.069% 0.107% 0.625% 0.110% 0. 5 6 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.104% 0. — Pengembangan produk hukum daerah.098% 0.071% 0.909% — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.833% 0.

105% 0. 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. 0.108% 0.089% 0. — Pengembangan TPA/TKA.099% 0.769% 0.072% 0.080% 0.085% 0.909% 0. — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.833% 0.055% 0.119% 0. — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.136% 0.064% 0.114% 0.076% 0.106% 0.115% 0.152% 0.165% 0.116% 0.126% 0.084% 0.588% 0.068% 0.100% 0.047% 0.068% 0.833% 0.080% 3 4 5 6 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.162% 0.117% 0.097% 0.061% 0.055% 0.137% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-55 . 1.058% 0.124% 0.072% 7 8 0.089% 0.769% 0.149% 0.124% 2 0.081% 0.094% 0.088% 0.075% 0.066% 0.118% 0.126% 0.588% — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan 0.049% 0.081% 0.156% 0.625% 0.091% 0.169% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.125% 0.068% 0.061% 0.073% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.114% 0.121% 0.184% 0.057% 0.074% 0.052% 0.625% 0. — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.176% 0.085% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.078% 0.909% 0. — Perlindungan hak politik masyarakat.089% 9 2.180% Misi 5.094% 0. — Pengembangan kegiatankegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. — Peningkatan kerukunan hidup beragama.

833% 0. — Pemberdayaan ormas keagamaan. — Optimalisasi zakat.115% 0.178% 0.151% 0. — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. 0.136% 0. 2 3 4 5 6 — Peningkatan harmonisasi sosial.210% 0.276% 0.141% 0.151% 0. — Peningkatan pelayanan ibadah haji.145% 0.108% 0.173% 0.149% 0.139% 0.211% 0.132% 0.122% 0.299% 0.145% 0.188% 0.112% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan.094% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 2 3 4 5 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.113% 0.133% 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. 0.625% 0.212% 0. infaq dan sadaqah. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama 1 2 3 — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.189% 0.308% 0.093% 0.327% 0.123% 0.588% 0.274% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-56 .130% 0. — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.141% 0.769% 0.251% 0. — Pengembangan manajemen potensi umat.588% 0.100% 0.165% 0.107% 0.833% 0.141% 0.165% 0.139% 0.193% 0.625% 0.151% 0.199% 0.100% 0.177% 0. — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.139% 0. — Pengembangan ekonomi syari’ah.144% 0.113% 0.154% 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.205% 0.909% 0.225% 0.132% 0.163% 4.165% 3.283% 0.138% 0.107% 0.113% 0.105% 0.909% 0.153% 0. 0.232% 0.261% 0.107% 0.099% 0.106% 0.769% 0.167% 0.

176% 3 4 5 3.121% 0.203% 0.196% 0.152% 0. 0.179% 2 0.167% 0. — Pengembangan produk budaya.123% 0.211% 0.588% 0.150% 0.115% 0.281% 0.149% 0.152% 0.294% 2.177% 0.114% 0.833% 0.224% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat 1 2 3 4 — Pengembangan adat istiadat daerah.190% 0.307% 3 0.909% 0.260% 0.588% 0.181% 0. — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.147% 0.283% 0.769% 0.220% 0. — Pelestarian asset budaya.588% — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.212% 0. 0.240% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-57 .200% 0.196% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. 1.138% 0.249% 0.128% 0. — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.769% 0.269% 0.116% 0.833% 0.179% 0.625% 0.150% 0.202% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 6.625% 0.123% 0.232% 0.308% 0.909% 0.833% 0.909% 0.165% 0.164% 0. — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.769% 0.213% 0.155% 0.160% 0. — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. — Pengembangan ekonomi budaya. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 1 2 0.145% 0.162% 0.213% 0.122% 0.181% 0.199% 0.625% 0.154% 0. seperti tersedianya gedung kesenian.205% 0.261% 0.164% 0.162% 0. — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.116% 0.189% 0.136% 0.197% 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

dalam penyusunannya diharuskan berpedoman RPJMD Kabupaten Bandung. KAIDAH PELAKSANAAN RPJM Daerah Kabupaten Bandung ini merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah dibuat oleh Bupati terpilih tahun 2005 – 2010. BAB VIII Penutup VIII . maka dalam penyusunan program ditambahkan rancangan program indikatif 1 (satu) tahun ke depan setelah periode RPJM Daerah Kabupaten Bandung berakhir. 8. Untuk detailnya rancangan program tersebut dapat dilihat pada bab VII. Pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra-SKPD. RPJMD Kabupaten Bandung ini akan digunakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Bandung.1 . Untuk menjembatani kekosongan dokumen perencanaan pada masa akhir jabatan Kepala Daerah maka dibuatlah rancangan program indikatif tahun 2011.1. SKPD Kabupaten Bandung dalam menyusun Renstra-SKPD diharuskan untuk berpedoman kepada RPJMD Kabupaten Bandung. PROGRAM TRANSISI Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VIII PENUTUP 8. sehingga diharapkan visi dan misi pada tahun 2010 tersebut dapat tercapai dengan maksimal 2. berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 2005 tentang Petunjuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).2. Dalam penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) Kabupaten Bandung yang jangka waktunya selama 1 tahun. Hal tersebut dikarenakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan dan sdasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bandung. yang merupakan : 1. Hal tersebut disebabkan agar program-program yang direncanakan dalam Renstra-SKPD dapat terintegrasi dengan baik dengan RPJMD yang sudah dibuat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. 4. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung ini merupakan proses penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan dalam proses penyusunannya benar-benar menampung inspirasi para stakeholder yang terdapat di Kabupaten Bandung melalui MUSRENBANG Jangka Menengah yang telah diselenggarakan. RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 merupakan indikator dalam proses evaluasi laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. BAB VIII Penutup VIII . Penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJM Daerah.2 . sehingga semua stakeholder tersebut dalam pelaksanaannya dapat mensukseskan program yang telah disepakati. sehingga dapat meminimalisir pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari visi dan misi tahun 2010. RPJMD Kabupaten Bandung merupakan dasar evaluasi dalam laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful