Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, yang merupakan integrasi

Rancangan Renstra SKPD yang berisikan program dan indikasi anggaran yang berorientasi pada fungsi dan sub fungsi pembangunan serta berpedoman kepada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta mengacu pada Perda No 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah. Tahapan penyusunan RPJMD ini telah dilaksanakan melalui beberapa proses kegiatan dengan hasil yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Selanjutnya penyusunan rancangan RPJMD ini merupakan hasil dari Musrenbang Jangka Menengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2006, untuk menerima masukan dan sumbang pemikiran dari stakeholder. Terdapat beberapa masukan berarti dalam Musrenbang tersebut yang telah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ini. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ini dapat kami selesaikan.

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung Kepala,

Drs. H.R. Wahyu, G. P. SH, M.Si. PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 480 067 477

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa pemerintah daerah yang telah memiliki kepala daerah hasil pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 ( lima ) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan terpilihnya Kepala Daerah Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2010 secara demokratis yang dilakukan oleh rakyat secara langsung, dan telah dilantik Kepala Daerah pada tanggal 5 Desember 2005 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32-1040/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan H. Obar Sobarna S.Ip sebagai Bupati Bandung 2005-2010, dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.32-1041/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian Drs. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati Bandung 2000-2005 dan Pengesahan Pengangkatan H. Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Bupati Bandung 2005-2010. Sehingga kepala daerah terpilih harus menyusun RPJMD Kabupaten Bandung tahun Dokumen RPJMD

2005-2010, karena dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Kabupaten Bandung 2005-2010 ditetapkan oleh peraturan daerah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah terpilih dilantik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan bersifat iindikatif sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung tersebut mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh

BAB I Pendahuluan

I-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencananaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJPD Kabupaten

Bandung (sedang dalam penyusunan) dan memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi Jawa Barat (Renstra Pemerintah Provinsi Jawa Barat), serta sumber daya yang tersedia di daerah Kabupaten Bandung. Tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan

Pembangunan Daerah. RPJMD ini selanjutnya menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan oleh seluruh perangkat daerah, yang secara substansial memuat rencana kerja, program dan indikasi kegiatan yang bersifat terukur dan dapat dilaksanakan dengan

mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Pasal 25 Ayat (1) dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 69 Ayat (2).

1.2.

Landasan Hukum Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, landasan

hukum yang menjadi dasar pertimbangan penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

BAB I Pendahuluan

I-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penylenggaraan Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga; 11. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 13. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bandung. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 8 Penyusunan Perencanaan Pembangunaan Daerah. Tahun 2005 tentang Tata Cara

1.3. Maksud Dan Tujuan 1.3.1. Maksud Berdasarkan pertimbangan di atas, RPJMD ini disusun dengan maksud sebagai berikut: 1. Menyediakan dokumen RPJMD Tahun 2005 – 2010 sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat dalam menentukan prioritas

BAB I Pendahuluan

I-3

Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pememerintah daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu.2. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD. Arah kebijakan umum Kabupaten Bandung untuk 5 (lima) tahun kedepan. Tujuan Tujuan dari Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 adalah: Merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). terarah dan terukur. juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun Kabupaten Bandung. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan. yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 20 tahunan. serta masyarakat untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program kepala daerah selama lima tahun.3. yaitu selain memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi/ Renstrada Provinsi Jawa Barat dan dokumen RPJPD Kabupaten Bandung (dalam tahapan penyusunan). 1. 1. 2. agar dalam perencanaan maupun pelaksanaanya dapat sinkron dan sinergis dengan arah kebijakan nasional BAB I Pendahuluan I-4 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pembangunan tahunan daerah. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya.4. perlu memperhatikan arah kebijakan nasional maupun propinsi. Tata Guna Lahan. Merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih. Lingkungan Hidup dan Sumber daya yang terdapat di Kabupaten Bandung.

dan negara yang aman. BAB I Pendahuluan I-5 . Pengembangan Kebudayaan yang berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur. Dan Penanggulangan Kriminalitas. Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera Untuk mencapai agenda (1) Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai tersebut. bersatu. Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat. ditetapkan Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Agenda Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009 Berdasarkan permasalahan. Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme. Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebut ditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. Pencegahan dan Penangulangan Separatisme. 7. serta keterbatasan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. 5. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum. 4.4. 3. Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 2. rukun dan damai. tantangan. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Nasional. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk. 2. kesetaraan. bangsa. bangsa. dan hak asasi manusia. 6. dan Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2008 (RPJMD Propinsi Jawa Barat belum disusun). Ketertiban. Terwujudnya masyarakat. negara yang menjunjung tinggi hukum. 2. Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara. yaitu: 1. serta 3. Peningkatan Keamanan. 1. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1.1. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung maupun propinsi. Dan untuk mencapai agenda (2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis. Berikut ini arah kebijakan nasional yang mengacu pada RPJM Nasional tahun 2004-2009. Terwujudnya kehidupan masyarakat. yaitu : 1.

Pengakuan. Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur. 14. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. 17. 6. 7. BAB I Pendahuluan I-6 . 9. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial. 6. Berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2001 dan 2002. 16. Penghormatan. target tersebut dirasakan sulit tercapai.2 Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat Berdasarkan revisi Renstra Jawa Barat. 4. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. 5. 13. Visi Provinsi Jawa Barat. 3. 15. 12. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. 8. sosial. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pembangunan kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro. Revitalisasi Pertanian. Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1. ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80 pada tahun 2010.4. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. 1. ekonomi nasional yang belum stabil. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Selanjutnya untuk mencapai agenda (3) Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera tersebut. 5. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama. Peningkatan Pengelolaan BUMN. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. 4. 10. Kondisi politik. Percepatan Pembangunan Infrastruktur. 11. Pembangunan Perdesaan. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Kecil dan Menengah. Penanggulangan Kemisikinan. dan penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia. yaitu ” Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Provinsi termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010”. 2. Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa.

Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah 4. Hal tersebut menjadi landasan penetapan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Pengelolaan pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun ke depan. Keempat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Belum efisiennya alokasi dan penggunaan anggaran pemerintah dan dana masyarakat dalam menunjang pencapaian visi Jawa Barat. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa barat Pengembangan Struktur Peekonomian Regional yang Tangguh Pemantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah Peningkatkan Implenmentasi Pembangunan Berkelanjutan Peningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Budaya Daerah Berdasarkan visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barata tersebut disusun 5 (lima) Agenda Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004. Mengembangkan Strukturt Perekonomian Regional yang Tangguh 3.2009. Belum optimalnya keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan antar tingkat pemerintahan khususnya dalam memprioritaskan pembangunan sumberdaya manusia. yaitu : 1. Visi tersebut adalah ”Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”. Kedua. Meningkatkan Kualiktas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Daerah Budaya BAB I Pendahuluan I-7 . Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan 5. Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat 2. Ketiga. Kelima. 3. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5 (lima) misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu: Pertama.

MISI DAN PRIORITAS DAERAH Bab ini menguraikan visi dan misi kepala daerah terpilih serta prioritas pembangunan daerah selama lima tahun. BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisi menguraikan kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang kenaikan dan penurunan serta pola – pola alokasi belanja daerah.5. disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penyusunan RPJM. Selain itu bab ini berisikan tentang arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran BAB I Pendahuluan I-8 . maksud dan tujuan penyusunan. Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010. hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya dan sistematika penulisan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini berisikan tentang uraian statistik dan gambaran umum kondisi daerah saat ini dengan maksud mengetahui keadaan daerah pada saat ini pada berbagai bidang dan aspek kehidupan dan aspek kehidupan sosial ekonomi daerah dan yang akan diintervensi melalui berbagai kebijakan dan program daerah dalam jangka waktu 5 ( lima ) tahun BAB III VISI. landasan hukum penyusunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Bab ini menguraikan tentang kebijakan yang berkaitan dengan program kepala daerah terpilih sebagai arah bagi SKPD maupun lintas SKPD dalam merumuskan kegiatan guna mencapai kinerja sesuai dengan tugas dan fungsinya BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisikan tentang rincian program pembangunan daerah yang merupakan instrumen untuk melaksanakan kebijakan pembangunan yang sudah ditetapkan. Program-program tersebut selanjutnya akan diterjemahkan kedalam berbagai kegiatan oleh SKPD sesuai dengan fungsinya. BAB VIII PENUTUP Bab ini menguraikan tentang program transisi dan kaidah pelaksanaan BAB I Pendahuluan I-9 .

500 mm sampai dengan 4. kaki bukit.170 Ha yang tersebar di 26 kecamatan. serta sebagian menggunakan fasilitas dari PDAM. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -1 . Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 1070 22’- 1080 5’ Bujur Timur dan 60 41’ – 70 19’ Lintang Selatan. Dan air tanah dalam (kedalaman dari 60 sampai 200 meter) umumnya dipergunakan untuk keperluan industri. Kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54. non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga. Sumber air permukaan umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik pertanian. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Cianjur dan di bagian tengah terletak Kota Bandung dan Kota Cimahi. baik air tanah maupun air permukaan. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.429 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 307.000 mm pertahun. Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai. 3 danau buatan. terdiri dari : • Kawasan hutan produksi seluas 25. Terletak pada ketinggian 110 meter sampai 2.258 Ha. sedangkan kawasan budidaya pertanian seluas 156. di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Sumedang. Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Purwakarta. serta 172 buah sungai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.15% hingga di atas 45%.090 Ha. industri. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam. 8% . Suhu udara berkisar antara 190 C sampai 240 C dengan penyimpangan harian mencapai 500 C dan kelembaban udara beragam antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. sedangkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter). dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%.1. Kabupaten Bandung memiliki banyak sumber daya air. dan lain-lain. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.371 Ha.

9. jumlah penduduk Kabupaten Bandung 4.906 Ha. Kawasan perikanan seluas 39 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bandung terbagi atas 45 Kecamatan. 29. 17. Kawasan peternakan seluas 274 Ha. Kawasan pangan lahan kering seluas 76. 4. 24. 28. 35.431 jiwa dan Laju Pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 3. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan. 3.229. 32. Dengan demikian. 18 19 20.64%. 5. 14. lihat tabel 2. 7. 33. 8. dan 431 Desa. 16. 30.1. 13.10 % (Sumber data BPS 2005). 23. 21.274. 31. LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. 34. Pada tahun 2005.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung No 1. Kecamatan PADALARANG BATUJAJAR CIPATAT NGAMPRAH CILEUNYI CIMENYAN CILENGKRANG BOJONGSOANG MARGAHAYU MARGAASIH KATAPANG DAYEUKOLOT BANJARAN PAMEUNGPEUK PANGALENGAN ARJASARI CIMAUNG CILILIN SINDANGKERTA CIPONGKOR GUNUNGHALU RONGGA CIKALONGWETAN CIPEUDEUY CICALENGKA NAGREG CIKANCUNG RANCAEKEK CIPARAY PACET KERTASARI BALEENDAH MAJALAYA SOLOKAN JERUK PASEH Desa 10 13 12 11 6 7 6 6 5 6 10 5 11 6 13 11 9 11 11 14 9 8 13 12 12 6 9 13 14 13 7 3 11 7 12 Kelurahan 2 1 1 5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -2 . dibawah ini : Tabel 2. 22. 11.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • Kawasan pangan lahan basah seluas 34. 26.384 Ha. 6. 25. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seluas 19. 27. 12. 15. 9 Kelurahan. 2. 10.19 Ha.

43. 45. Kecamatan IBUN SOREANG PASIRJAMBU CIWIDEY RANCABALI LEMBANG CISARUA PARONGPONG CANGKUANG CIHAMPELAS Jumlah Desa 12 18 10 7 5 16 8 7 7 10 431 Kelurahan 9 Sumber : Bagian Pemerintahan Umum Sekda Kab. 40. 37. 44. 38. 41.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No 36. 39. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -3 . 42.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Gambar 2.1 Peta Administrasi BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -4 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Bandung diantaranya gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan seperti longsoran tanah/batu, longsoran sampah, banjir, penurunan muka air tanah dan kebakaran. Peta sebaran kebencanaan dapat dilihat pada peta 2.3 Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana alam dan bencana adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan masih minimnya peralatan penanggulangan bencana alam dan bencana yang dimiliki. Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan potensi aspek fisik dasar Kabupaten Bandung : 1. Cakupan luas wilayah yang cukup besar 307.371 Ha memiliki potensi ketersediaan lahan dan daya dukung lahan yang luas 2. Memiliki daerah administrasi pemerintahan yang relatif banyak ( 431 desa, 9 kelurahahan dan 45 kecamatan 3. Banyak sumber daya air, baik air tanah maupun air permukaan. 4. Luasnya kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.170 Ha sebagai pemasok air, wilayah konservasi, sumberdaya hutan, wisata konservasi dan lain-lain.

Permasalahan : o Terdapat rencana pemekaran Kabupaten Bandung Barat o Terdapatnya kemungkinan bencana gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. o Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Luas kawasan rawan banjir di Cekungan Bandung 14.480 ha Lokasi Banjir : Sapan, Andir, Rancaekek, Majalaya, Buah Batu, Ujungberung, Ciparay, Pameungpeuk, Manggahang, Baleendah, Dayeuhkolot

Gambar 2.2 Peta Daerah Rawan Banjir

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -6

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Gambar 2.3 Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Bandung

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -7

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

2.2.

Perekonomian Daerah Salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan

adalah melalui pengukuran pencapaian indikator makro ekonomi yang masing-masing indikatornya terdiri dari beberapa macam komponen. Pencapaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung akan dibahas pada uraian berikut. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 26,957 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 13,09% jika dibandingkan PDRB tahun sebelumnya sebesar Rp. 23,836 triliun. Nilai PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
PDRB KABUPATEN BANDUNG TAHUN 19952004 MENURUT HARGA BERLAKU
30,000,000 25,000,000 JUMLAH (Juta Rp) 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 TAHUN

Gambar 2.4 Secara lengkap nilai PDRB, kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Tiga sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar Rp. 14,37 triliun (53,33%), sektor Perdagangan, Hotel dan restoran sebesar Rp. 4,74 triliun (17,57%) dan sektor sektor Pertanian Rp. 2,53 triliun (9,42%). Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah digambarkan oleh besarnya kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga konstan adalah Rp. 7,108 triliun dan pada

tahun 2003 tercatat sebesar Rp. 6,755 triliun, dengan demikian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sebesar 5,23%. LPE Kabupaten

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -8

000 5. PDRB KAB.5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -9 .000.000 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bandung ini masih lebih besar jika dibandingkan dengan LPE Jawa Barat tahun 2004 yaitu sebesar 4.000 0 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 JUMLAH (Juta Rp) TAHUN Gambar 2. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga konstan dapat dilihat pada Gambar 2.000 4.000 2.000.98%.000 3.000. BANDUNG TAHUN 1995-2004 MENURUT HARGA KONSTAN 9.000.000 7.000.000 1.5.000.000.000 8.000.000.

00 10.064.920.375.00 5.31 227.98 3.75 61.942.20 1.216.25 4.091.101.552.96 450.373.66 262.790.79 44.637.19 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 2.990.289.510.353.498.00 5.669.25 22.658.155.72 9.21 0.105.83 39.46 2.46 164.277. Air Bersih 5.071.83 9.00 0.264.87 0. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1995 (Juta Rupiah) 989. Minyak dan Gas Bumi B.00 0.00 9.00 10.337.15 5.497.28 920.48 730. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.41 104.91 48.34 15.00 0. Hotel C.076.32 7.059.02 260.51 56.06 6.38 791.80 2.555.52 449.76 3.98 5.00 5.701.52 847.347.70 918.411.577. PERDAGANGAN.305.86 6.393.31 305.844.348.647.56 894.18 12.07 4.074.15 707.64 6.269.668.00 0.27 566.00 4.291.05 109.860.991.894.89 1.458.292.871.115.03 165.60 0.433.208.95 376.395.2 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha 1.40 262.1.647.00 9.416.54 609.305.873.971.76 2.469.786.625.652.718.842.92 0.58 86.37 10.56 12.609.53 354.38 67.889.63 231.84 658.00 0.723.55 0.24 29.865.62 6.182.80 9.292.882.736.21 4.571.735.497.82 547.59 17.390.00 21.184.25 2.83 196.20 556.69 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 2. Restoran 7.43 0.00 0.211.332. Sosial Kemasyarakatan B.220.62 10.23 589.590.93 341. LISTRIK GAS DAN AIR A.64 620.3.34 3.83 56.49 24.041.878.03 3.675.415.00 6.51 632.022.21 193. JASA-JASA A. Angkutan Rel A.453.604.187.53 384.30 172.42 247.21 321.196.174. Hiburan dan Rekreasi B.62 33.00 25.47 382.398.705.057.36 700.698.44 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 1.102.41 123.29 10.10 100.264.32 14.186.69 945.00 0.94 18.00 83.46 75.80 13.08 573.37 23.797.92 671.00 40.62 274.230.96 531.22 0.680.49 0.00 98.00 0.623.91 949.777.60 0.808.492.05 65.2.215.044.24 430.17 0.10 2.24 35.887.465.400.872.00 502.087.075.00 8.92 641.881.252.65 376.243.442.68 8.344.91 0.955.539.548.388.690.94 484.00 46.98 427.540.254.00 0.552.44 925.668.058.776.52 540. Jasa Perusahaan 9.00 36.50 0.59 14.968.792.81 11.240.343.00 4.86 51.18 1.00 64. Pegangkutan A.174.270.599.261.44 27.780.21 370.00 72.25 0.77 72.656.028.86 7.274.34 855.50 233.302.870.990.489.612.450.701.70 0.00 4.15 8.781.588.178.00 3.00 0.419.00 0.951.214.59 523.257.483.39 150. Kehutanan E.00 3.31 740.907.93 336.44 171.00 10.876.52 21.229.744.75 93.069.310.63 820.66 11.225.262.524.20 7.971.984.32 14.424.31 80.27 44.82 677.687. Penggalian 3.244.396.30 1.43 383.669.430.38 56.10 76.347.64 444.978.29 5.5.958.510.74 156.00 35.72 9.957.44 5.852.96 794.659.289.28 1.053.58 452.21 279.91 43.189.01 612.59 62. Peternakan D.30 1.29 0.20 461.309.31 77.65 600.233.56 3.516.82 287.00 0.847.11 1.842.25 0.79 9.339.63 1.67 261.746.301.489.73 167.57 17.258.128.523.175.57 113.13 394.807.040.93 4.523.222.74 156.68 9.448.838.965.573.533.430.47 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.71 0.296.94 249.69 8.23 326.547.137.56 364.32 3.01 0.00 0.838.82 43. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.34 1.228.520.288.00 12.409.996.269.39 82.411.511.904.232.58 916. Listrik B.236.6. Angkutan Udara A.186.84 204. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.262.239.240.00 42.684.025.245.143.627.087.679.00 18.810.486.37 19.21 8.937.044.573.86 3.84 368.896.59 728.56 11.933.637.56 8.587.567. Bank B.00 114.782.31 0.00 5.96 289.88 92.70 332.00 11.572.688.405.839. Perikanan 2.263.821.266.54 19.89 1.313.72 64.83 0.81 2.738.11 122.55 803.30 0.60 11.422.628.459.071.29 451.690.017.942.603.00 0.543.501.00 12.663.998.058.81 124.59 4.83 687.295.727.483.423.399.82 493.11 563.045.87 20.753.06 524.01 173.766.02 183.41 288.972.54 0.01 521.58 0.01 107.570.510.625.94 630.00 49.227.06 37.12 363.435.02 128.97 2.00 44.596.160.50 725.669.75 677.563.89 1. Swasta B.23 109.14 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 2.376.98 3.212.566.931.244.690.98 0.44 598.789.849.95 1.114.955.802.92 76.41 190.79 4.50 373.66 1.064.279.472.00 57.900. Perkebunan C.06 342.087.328.98 144.70 918.70 270.380.435.229.53 290. KEUANGAN.660.245.83 107.63 65.15 4.3.562.609.442.21 643.00 0.55 330.176.31 0.76 0. Pertambangan tanpa Gas C.72 5.413.012.15 1. Industri Migas B.321.81 749.032.34 1.05 203.040. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.593.535.365.234.822.111.89 1.85 700.128.232.388.00 14.489.33 332.499.375. Angkutan Jalan Raya A.46 854.483.09 1.69 402.065.351.19 72.4.597.00 13.348.33 307.40 47.89 283.73 121.034.66 157.03 1.119.64 41.128.007.2.081.274.383.00 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -10 .65 553.44 5.820.190.60 1.919.86 406.598.15 0.43 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 1.718.633.174. Perdagangan Besar dan Eceran B.864.01 264.19 516.00 11.836.82 0.921.395.94 339.086.28 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 1.270.477.81 512.454.083.00 87.47 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 1.411.08 586.075.698.191.453.213.808.742.64 634. HOTEL DAN RESTORAN A.698.357.35 4.590.621.211.47 254.26 307.38 1.899.131.1.51 158. Angkutan Laut A.968.592.355. Angkutan Sungai A.15 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 1.00 0.648.441.65 49.79 18.227.81 516.66 1.00 5.63 287.11 39.07 906.26 0.98 304.18 0.74 144.650.31 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 1.246.943.00 11.21 901. Komunikasi 8.64 231.244.00 14.46 709.10 390.085.449.08 0.45 646.132.27 325.450.00 0.46 303.320.007.118.34 410.088.10 291.097.33 594.00 60.452.17 17. Sewa Bangunan D.856.829.665.72 201.510.937.43 68. Jasa Penunjang Angkutan B.259.89 431.30 0.00 0.303.399.57 0.014.00 0.11 0.12 0.74 152.46 10.173.078.710.191.00 132.391. Pemerintahan B.570.376. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.177.59 794.22 3.36 98.76 26.250.969.125.16 629.242.43 10.00 71.15 99.33 0.348. INDUSTRI PENGOLAHAN A.718.422.703.05 582.04 129.05 371.131.988.33 9.65 345.60 939.76 1.46 0.440.69 0.524.29 634.714.900.390. PERTANIAN A.23 16.91 831.05 516.414.208.273.328.56 276.226.553.110.12 0.641.074.91 331.051.845.744.801.305.970.00 0. Gas C.27 16.563.27 57.29 21.150.341.175. Tanaman Bahan Makanan B.84 136. Industri Tanpa Migas 4.581.46 25.358.917.71 1.

23 7.31 7. koperasi.97 8. lembaga keuangan bukan bank (asuransi. Gas dan Air Bangunan/Konstruksi Perdagangan.17 10.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan harga konstan.37 6.64 6. Tingginya LPE yang dicapai sektor-sektor tersebut terkait erat dengan tingkat inflasi/kenaikan harga yang dialami. Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 12.27 10. pegadaian).87 10. sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 adalah sektor Keuangan. sewa bangunan dan jasa perusahaan (al.44 7.60 5. Secara lengkap tingkat inflasi per lapangan usaha adalah sebagai berikut : Tabel 2. disusul sektor Pertambangan dan Penggalian 7.69 5.47 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.2. transfer.48 2004 (%) 6. Mengingat perannya yang strategis dan dengan tingkat inflasi yang relatif kecil. Secara lengkap nilai PDRB.4 Tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung 2003 –2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Rata-rata 2003 (%) 3. maka sektor Keuangan yang terdiri dari kegiatan perbankan (simpanan. jual beli surat berharga dll). 2004 Tingkat inflasi Kabupaten Bandung secara makro pada tahun 2004 mencapai 7.70 12. Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2004 memiliki tingkat inflasi terkecil dibandingkan sektor lainnya. jasa hukum dan jasa konsultan) tersebut dapat meningkatkan produksi secara optimal. pinjaman.74%. Hotel dan Restaurant Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.47% dan angka tersebut relatif lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2003 dengan inflasi 6.48%.11 7.70 8.55%.17 8.55 10.58% dan sektor Pengangkutan & Komunikasi 6.39%. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -11 . sedangkan inflasi terkecil dialami sektor keuangan sebesar 3.56 3.46 6. kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2. Tingkat inflasi terbesar disumbang oleh kelompok bangunan/konstruksi sebesar 10.7%. Inflasi sektor Keuangan.

428.075.647.90 2.894.810.38 986.23 362.07 1.86 181.02 210.034.00 28.96 34.806.037.955.328.281.00 0.87 143.051.513.00 4.556.00 22.13 61.743.00 26.08 101.00 3.39 24.14 0.06 556.77 377.51 5.913.483.00 0.230.302.370. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.306.04 165.63 237.33 25. Perkebunan C.73 30.90 8.23 3.884.11 256.74 32.00 4.180.632.66 204.596.71 301.76 0.954.00 324. LISTRIK GAS DAN AIR A.72 4. Angkutan Jalan Raya A.644.919.55 127.00 53.064.51 3.92 940.95 248.86 0. INDUSTRI PENGOLAHAN A.00 3.34 158.59 242.48 896.018.188.65 343.73 330.00 29.716.536.631.251.35 0.73 0.3 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 1.61 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 725.56 234.577.00 31.48 962.29 188.787.491.500.449.440.963.14 3.12 7. PERDAGANGAN.300.11 215.15 688.777.388.209.00 53.308.92 0.53 3.19 45.168.379.00 0.00 6.23 111.49 0.564.038.00 3.542.37 31.725.59 398.980. Angkutan Udara A.491.29 998.73 104.93 240.73 0.457.633.48 0.825.64 30.08 263.22 233.53 3.10 128.190.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.20 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 703. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.73 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 743.370.05 0.14 97.02 2.012.918. Jasa Perusahaan 9.812.561.06 23.34 0. Peternakan D.017.217.2.87 120.903.90 7.593.58 6.303.28 116. Swasta B. Hotel C.71 450.710.465.13 21.73 2.670.32 45.78 54.82 686.50 37.73 325.00 3.35 803.95 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 791.00 243.26 296.3.223.375.037.864.16 385.99 7.72 33.232.91 935.79 172.6.59 31.175.34 2.577.82 372.73 54.79 94.72 723.993.325. Perdagangan Besar dan Eceran B.295.491.546.05 259.75 3.96 5.622.00 0.839.582.141.44 300.766.71 2.432. Air Bersih 5.564. Hiburan dan Rekreasi B.637.520.66 259. Industri Migas B.900. Restoran 7.52 492.234.00 4.141.23 1. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.116.75 4.00 0.72 123.96 58.00 16.50 0. Listrik B. Bank B.02 336.00 24.72 24.74 193.51 353.829.98 217.20 2.67 2.650.837.84 25.00 20.586.16 225.340.745.00 0.500.77 0.105.645.045.312.43 1.44 387.37 114.903.33 2.00 19.371.41 278.752.902.75 162.221.74 24.06 55.142.066.90 261.93 115.38 5.90 34.11 237. Gas C.148.958.97 243.16 330.797.33 6.98 3.267.32 229.602.20 244.00 30.837.963.73 578.482.25 2.3.99 39.530.00 16. KEUANGAN.058.20 54.02 126.132.79 0.306.80 302.24 472.098.021.411.69 133.95 0.722.89 325.188.587.300.020.755.00 3.478.56 28.085.785.97 91.71 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 753.00 4.197. Komunikasi 8.530.110.21 7.876. Perikanan 2.31 59.97 289.49 0.553.84 304.862.00 0.2.12 237.828.090.442.236.23 24.54 2.28 119.766.95 3.32 1.93 245.93 0.797.299.586.66 0. Kehutanan E.40 6.09 51.518.78 197.00 18.837.845.141.96 452.00 3.464.245.56 27.95 479.39 251.1.56 524.121.64 238.00 0.65 8.59 781.083.610.780.563.5.312.941.020.372.558.564.16 510.444.954.73 56.42 3.33 8.09 240.801.742.015. Pegangkutan A.95 260. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.01 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 864.00 0.03 226.16 655.443.062.567.564.612.51 244. Jasa Penunjang Angkutan B.48 36.251.00 3.31 6.647.251.21 0.57 769.021.579. Angkutan Laut A.14 6.668.500.460.922.25 8.44 5.536.666.39 130.41 134.53 0.92 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 696.47 3.375.521.63 253.852.97 0.328.762.659.65 3.90 342.825.311.501.62 361.10 1.32 276.88 246.58 474.97 219.965.00 4.771.91 247.262.454.260.29 53.374.65 263.425.588.273.762.907.652.438.33 69.361.956.465.10 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 690.795.093.90 101.709.00 0.67 456.12 481.879.96 7.84 129.332.785.490.27 39.40 241.057.148.199.873.405.352.686.34 53.771.52 4.319.534.265.122.00 0.05 306.588.09 0.14 64.496.572.85 3.658.11 537.656.262.00 0.463.900.00 0.350.00 0.815.99 35.86 189.209.64 35.80 65.049.079.58 294.76 328.11 234.57 767.10 464.80 5.86 132.523.738.491.72 185.491.299.647.095.82 127.89 149.68 955.768.443.560.49 69.00 0.35 6.52 262.49 223. Sosial Kemasyarakatan B.95 1. Industri Tanpa Migas 4.52 75.92 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 671.69 493.03 735.00 30.583.93 358.836.791.49 194.61 0.195.43 190.956.53 219.00 19.254.708.81 237.010.378.119.172.00 4.806.795.24 271.750.96 596.060.16 203.796.164.263.289.41 133. Tanaman Bahan Makanan B.335.00 36.834.47 0.828.23 4.647.04 6.429.160.00 0.696.596.28 304.21 180.62 274.91 463.777.030.381.50 254.217.520.127.06 0.592.87 96.687.78 5.00 3.894.71 5.418.19 5.596.938.90 3. Minyak dan Gas Bumi B.409.994. Penggalian 3.337.28 0.310.519.607.087.37 316.05 150.687.518.99 7.02 765.98 7.345.821.996.980.327. Angkutan Rel A.49 0.438.16 2.092.561.00 0.119.607.29 40.55 9.53 234.460.638.00 3.294. Pertambangan tanpa Gas C.015.63 323.830.199.08 273.883.00 0.94 309.008.016.541.00 0.342.578.833.570. HOTEL DAN RESTORAN A.687.43 103. Angkutan Sungai A.04 453.38 0.941.00 33.02 4.772.01 2.97 4.58 32.592.86 2.174.272.61 42.07 55.100. JASA-JASA A.46 6.54 220.01 1.548.299. Pemerintahan B.444.412.026.76 28.67 419.830.34 188.693.48 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -12 .540.868.34 3.629.242.779.00 3. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1995 (Juta Rupiah) 874.985.91 254.38 37.861.67 0.57 6.66 0.607.53 731.430.063. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.53 50.390.693.682.248.453.61 334.019.772.455.255.07 0.95 233.09 125.465.00 0.05 0.00 33.46 6.603.594.345.125.87 472.21 4.90 321.108.77 0. Sewa Bangunan D.35 51. PERTANIAN A.663.950.687.79 0.620.164.43 121.051.597.199.00 3.016.10 0.32 0.00 20.553.825.75 171.310.800.07 2.07 346.307.942.755.84 293.89 30.00 3.87 50.56 196.04 64.30 186.00 27.43 4.61 42.25 170.233.86 251.282.00 26.471.53 52.21 230.634.00 3.990.4.00 3.626.54 26.765.270.57 211.580.41 0.1.20 448.00 29.261.17 0.66 61.24 230.365.28 0.307.12 224.386.25 36.32 32.74 25.75 4.54 491.46 6.960.738.07 134.19 5.22 0.11 169.

Namun demikian.681.578. 2.6% jika dibandingkan PDRB per kapita tahun 2003 sebesar Rp. Jika dibandingkan dengan angka inflasi sebesar 7. tahun 2003 sebanyak 14 pasar (penambahan 7 pasar) dan 16 pasar pada tahun 2004 (penambahan 2 pasar).1. PDRB per kapita masyarakat Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku 2004 adalah sebesar Rp. Hal ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kabupaten Bandung pada tahun 2004 berdasarkan harga konstan hanya meningkat sebesar 2%.1 Sub Fungsi Perdagangan. dan tipe C sebanyak 7 pasar serta pasar desa sebanyak 41 buah pasar. Program-program yang dilaksanakan dalam mendukung sub fungsi ini adalah program Penataan Sarana Pasar/Renovasi dan Pembinaan SDM pengelola pasar.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.dan Rp.47% terlihat bahwa kemakmuran masyarakat sebenarnya belum mengalami kenaikan yang cukup berarti. tahun 2002 sebanyak 7 pasar (penambahan 1 pasar). Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 telah dilaksanakan penyelesaian masalah tanah Pasar Baleendah. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -13 . PDRB per kapita Kabupaten Bandung tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp. Permasalahan yang dihadapi di sub fungsi perdagangan antara lain adalah : • Belum optimalnya penataan sarana dan prasarana perdagangan yang disebabkan karena sulitnya melakukan relokasi sarana prasarana perdagangan yang sudah eksis. tipe B sebanyak 7 pasar.431 dan meningkat sebesar 9. Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung memiliki potensi di sub fungsi Perdagangan yaitu berupa pasar Kabupaten sebanyak 22 buah pasar terdiri dari tipe A sebanyak 8 pasar. • Sulitnya mempertemukan aspirasi pedagang dan investor.2. Apabila dihitung dengan menggunakan harga konstan 1993.536. Pengembangan Usaha.930.714.-. 5.146. 6. bila diteliti lebih lanjut ternyata peningkatan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku tidak menggambarkan peningkatan secara riil tetapi lebih disebabkan karena adanya pengaruh kenaikan harga/inflasi. Pada tahun 2001 telah dilaksanakan kegiatan penataan sarana pasar/renovasi sebanyak 6 pasar.1. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi perdagangan dari Tahun 2001 – 2004 secara kuantitatif adalah sebanyak 16 pasar.316.00 atau hanya meningkat 2%..

1. Koperasi Jasa 18 unit.. asset koperasi. Selanjutnya pada tahun 2004 telah berdiri 71 koperasi baru. Pada tahun 2003 telah berdiri 47 koperasi baru. UKM tersebut terdiri dari jenis usaha perdagangan 863 unit.976. Pada tahun 2001 telah berdiri 130 koperasi baru.284 orang. Adapun keberhasilan lain terlihat dari program kemitraan dengan teraksesnya permodalan dari BUMN. 799.29. 553.000. Koperasi Baitul Mall-Wattanwil 38 unit dan Koperasi Pusat 4 unit. pada tahun 2002 sebesar Rp. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 188 koperasi sehat. dan bimbingan kepada 63 UKM.050. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus relokasi pasar Baleendah dan pasar Ciwidey. dan jumlah UKM. jumlah asset Rp. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 222 koperasi sehat.452 orang.414 unit dengan total jumlah tenaga kerja yang diserap 22. jumlah modal Rp. penilaian klasifikasi koperasi.000. Koperasi Unit Desa 46 unit. volume usaha Rp.790. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 250 koperasi sehat. Koperasi Produksi 188 unit. 464.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Sulitnya melaksanakan penegakan hukum.000. penilaian kesehatan KSP/USP 185 koperasi sehat. dan bimbingan kepada 150 UKM. Koperasi Simpan Pinjam 13 unit.. pada tahun 2001 sebesar Rp.yang BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -14 . Potensi yang dimiliki pada sub fungsi Koperasi dan UKM terlihat dari Banyaknya jumlah koperasi. jasa 210 unit dan industri 2.5 milyar dan pelaku UKM sejumlah 3. Jika dilihat dari jenis usahanya. Jumlah anggota koperasi sebanyak 1. dan bimbingan kepada 174 UKM.671 unit Koperasi (unit yang aktif sebanyak 1.257.000. terdiri dari koperasi konsumsi sebanyak 1.466 unit dan yang tidak aktif 205 unit).yang diserap oleh 9 unit koperasi dan 57 unit PK. Pada tahun 2002 telah berdiri 67 koperasi baru. peningkatan klasifikasi 30 koperasi.27.500..selain itu dapat dilihat dari berdirinya koperasi baru. Koperasi Serba Usaha 141 unit. 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Perijinan Penyelenggaraan Koperasi dari target Rp. jumlah anggota. hasil-hasil yang dicapai antara lain pelaksanaan Perda No.. penilaian klasifikasi 152 koperasi.550.488 unit.tercapai Rp. bimbingan kepada 150 UKM. peningkatan klasifikasi 260 koperasi. Pada tahun 2004 di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 1.000. jumlah modal. Koperasi Pemasaran 63 unit. volume usaha. Koperasi Pondok Pesantren 148 unit.9 milyar.025 unit. penilaian klasifikasi koperasi sebanyak 100 unit. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP.2 milyar.

422.031. 2.061 ekor. sedangkan belum optimalnya peran koperasi disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki serta rendahnya kualitas SDM pengurus dan anggota koperasi.112.. sedangkan pada tahun 2004 sebesar Rp.000.86 ton yang berasal dari kolam.000.500. kentang 261. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi Pertanian. inovasi. kuda 7.586.000.dan dana lainnya terserap oleh 2 unit koperasi dan 7 unit PK.433 ton.469 ton. cabe merah 18. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -15 .886 dan itik 509.142.1.. ayam ras pedaging 4.050. produksi telur 10.000. ongkos produksi dan skala produksi.102 ekor.000. kubis 221.yang diserap oleh 1 unit koperasi (KSP Sarwa Mukti Cisarua) sebesar Rp. jaring apung dan perairan umum. kambing 62. Rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah dipengaruhi oleh faktor modal.468 ekor.. kerbau 6.583. ubi kayu 139.986 kg serta ikan sebanyak 25.685 ton. Pada sub fungsi Peternakan dan Perikanan. Pada tahun 2004 tercatat populasi sapi perah sebanyak 44.58. sapi potong 7. Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi di Bidang Pertanian.221 ton. bawang merah 40. kualitas produk. ayam ras petelur 492.050 ton.2.516 ton. kakao 747 ton.884 ton.484.032. kolam air deras.118 kg dan susu 94.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung diserap oleh 1 unit koperasi dan 182 unit PK.411 ton.119 ton. ayam buras 4. Kehutanan dan Perikanan selama tahun 2001 s/d 2004 antara lain adalah meningkatnya produksi komoditi tanaman pangan dan hortikultura. jagung 82. domba 499. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM antara lain ditemukan permasalahan : • • Belum optimalnya peran koperasi sebagai sistem ekonomi masyarakat dan Masih rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah. teh 58. Pada tahun 2004.590. tomat 91.terserap oleh 6 unit PK. kopi 540 ton dan tembakau 793 ton.500.973.2 Sub Fungsi Pertanian. sawah. Selain itu terdapat produksi daging baik dari ternak kecil dan besar sebanyak 31. Kabupaten Bandung merupakan salah satu kontributor yang cukup penting bagi pemenuhan konsumsi protein hewani di Jawa Barat.1. kelapa 1.649 kg. produksi peternakan dan perikanan. pada tahun 2003 sebesar Rp.388 ton.680 ekor.097. tercatat produksi sejumlah komoditi tanaman pangan dan hortikultura sayuran dan perkebunan adalah sebagai berikut : padi 655.

Program yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 ditujukan untuk menurunkan jumlah angka pelanggaran dalam kegiatan usaha penambangan seperti kegiatan pemantauan dan pembinaan penambangan bahan galian Golongan C di Kecamatan Padalarang dan Cipatat pada tahun 2003. batu marmer di Kecamatan Cipatat seluas 76. sedangkan untuk memanfaatkan potensi pertambangan telah dilakukan upaya identifikasi data awal sebaran bahan galian golongan C di 19 Kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2001 – 2002 dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -16 .660 ha. dan mineral emas (masih tahapan eksplorasi).971 Ha.00 per bulan dengan luas lahan yang diupayakan berkisar antara 0. rendahnya kualitas hasil produksi pertanian dan tingginya ongkos produksi. pengairan setengah teknis 7. pengairan sederhana 9.2.253 ha dan tadah hujan 10.150. Rendahnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh faktor rendahnya nilai jual produk pertanian.500.069 ha) sekitar 45 % dalam kondisi rusak dan sampai tahun 2004 baru ditangani sebanyak 10 % dari jumlah jaringan yang rusak.5 Ha per KK.725. 2. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum.000.2.63 ha dengan jumlah 19.3 s/d 0. 2. dari seluruh jaringan irigasi yang ditangani Kabupaten (seluas 19. Cicalengka dan Baleendah dengan jumlah 40.487 ha.000 m3. pengairan pedesaan 15.250 m3 dan kapur (batu gamping) di Kecamatan Padalarang dan Cipatat seluas 15 ha dengan jumlah 3.4 Sub Fungsi Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung memiliki aneka ragam potensi jenis pertambangan antara lain adalah batu andesit seluas 61.000 m3 (DLH. Empat puluh persen petani berpendapatan di bawah Rp. Cililin.723 ha.3 Sub Fungsi Pengairan Potensi Pengairan yang dimiliki Kabupaten Bandung sangat terkait erat dengan potensi di sektor Pertanian.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Permasalahan utama yang dihadapi dalam sub fungsi ini antara lain masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat petani. keterbatasan modal. Cipatat dan Cikalongwetan dengan jumlah 3 juta m3.690. potensi yang dimiliki adalah irigasi/pengairan teknis seluas 12. Batujajar. pasir seluas 26 ha di Kecamatan Padalarang.84 ha di Kecamatan Padalarang. 2004). Margaasih. air tanah (air bawah tanah dan mata air). Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung. serta panas bumi (geothermal).

Ibun Pangalengan Lembang Kamojang Wayang Windu Tangkuban Parahu Maribaya 140 110 75 100 73 135 227 250 300 460 100 25 25 25 25 4. di kabupaten bandung terdapat mineral emas yang tersebar di daerah Bandung Selatan ( dari Kecamatan Sindagkerta sampai ke kecamatan Pangalengan) yang besaran potensinya belum diketahui. dan 70% pengusaha penambangan belum mengelola K3 dan lingkungan dengan baik. Tabel 2.5.Patuha Cimanggu Ranca Walini Batununggal Kawah Putih Kawah Cibumi Kawah Ciwidey TOTAL 250 5. pada tahun 2003 terjadi 2 kasus longsor dan 4 kasus tanah longsor pada tahun 2004. 3. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -17 . Akibatnya. Rajamandala G. dan awal tahun 2006 terjadi longsoran (tanah dan pasir tras) di lokasi penambangan yang mengakibat korban jiwa yang diakibatkan penambangan tidak sesuai dengan kaidah penambangan. Selain jenis bahan galian golongan C. baik perusahaan maupun perorangan ditandai dengan pelaksanaan reklamasi yang masih di bawah 20%. Batujajar. Cipatat Saguling. baru dalam tahapan Eksplorasi dan potensi panas bumi (geothermal) yang sebarannya dan potensinya seperti terlihat di tabel 2. 2. Ciwidey 65 25 25 25 25 247 170 482 25 25 25 25 140 84 150 324 140 527 208 647 140 224 1856 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Permasalahan yang dihadapi Pertambangan dan energi antara lain adalah masih adanya penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan.5 Jumlah Potensi Panas Bumi (MWe) di Kabupaten Bandung Sumberdaya Spekulatif Terduga Kapasitas Terpasang (MWe) Hipotetik Potensi Mungkin Terbukti Sub Total No Kecamatan Lapangan 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung inventarisasi semi mikro potensi bahan galian di Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada tahun 2005.

Kabupaten Bandung memiliki potensi sebagai berikut : • Jumlah industri kecil yang dimiliki sampai dengan tahun 2004 adalah Industri Kecil Formal sebanyak 2.834 unit usaha yang terdiri dari Kelompok Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) 695 unit usaha. • Jumlah Industri Kecil Non Formal (sentra) sampai dengan tahun 2004 adalah 18. pengambilan air tanah melalui sumur bor tersebut dari kedalaman 60 meter hingga 200 meter.897 unit usaha dan IA 5.5 Sub Fungsi Industri dan Konstruksi Pada sub fungsi Industri terutama industri kecil dan menengah. jamur dan lainnya.430 unit usaha yang terdiri dari Kelompok IHPK 5. dan potensi yang terdapat di Kawasan Kamojang akan ada penambahan kapasitasnya direncanakan 60 MWe. Dalam rangka mendukung pengembangan sub fungsi Industri. Sedangkan pemanfaatan tidak langsung yaitu untuk Pembangkit Tenaga Listrik. 2. Sehingga terjadi keterlambatan dalam pembangunannya. pembinaan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -18 . dari Sub total potensi panas bumi 1856 MWe baru terpasang 250 MWe di Kawasan Kamojang dan Wayang-Windu. Industri Logam Mesin dan Kimia (ILMK) 837 unit usaha dan Industri Aneka (IA) sebanyak 1.2.302 unit usaha. Patuha akan dibangun pembangkit tenaga listriknya yang direncanakan 300 MWe secara bertahap (sudah diakukan eksplorasi dan terdapat Sumur Bor panas bumi di kawasan ini).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Jumlah pengambilan air tanah untuk keperluan industri yang telah memiliki ijin sebanyak 673 buah sumur (Sumber DLH). Permasalahan yang dihadapi dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah adalah belum terkendalinya pengambilan air tanah terutama untuk keperluan industri. Permasalahan untuk pembangunan pembangkit tenaga panas bumi ini diperlukan investasi yang besar. Potensi panas bumi digunakan untuk pemanfaatan secara langsung dan tidak langsung.609 unit usaha. serta masih belum stabilnya harga jual listrik.924 unit usaha. sehingga terjadi penurunan muka air tanah. dan kawasan G. ILMK 6. penggunaan secara langsung baru dimanfaatkan untuk parawisata (pemandian air panas dan wisata alam). dan perlu dikembangkan untuk pemanfaatan secara langsung seperti untuk pengeringan teh. beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan informasi potensi industri.

sampai dengan tahun 2005 ditargetkan hanya sekitar 73. Pembinaan sentra Industri Kecil dilaksanakan dari tahun 2001 s/d 2004 yaitu sebanyak 44 sentra (kuantitatif) yaitu sebanyak 16 sentra pada tahun 2001. 440 pengusaha pada tahun 2002 (penambahan 220 pengusaha/ pengerajin). Ketidakmampuan dalam bersaing diantaranya disebabkan oleh akses permodalan yang terbatas. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah masih sulitnya industri kecil/ menengah untuk bersaing di dalam maupun luar negeri terutama dalam menghadapi pasar bebas karena belum memenuhi persyaratan mutu/kualitas produk yang diharapkan konsumen. dan jalan desa 1. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. rendahnya inovasi produk. pengawasan standararisasi mutu. 27 sentra pada tahun 2002 (penambahan 11 sentra).455.28 km terdiri dari jalan nasional 85. baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan maka peran sub fungsi Transportasi menjadi sangat penting.869. Adapun jalan desa yang dibiayai dari Dana Bantuan Penyelenggaraan Pemerintah Desa BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -19 .42 km dengan kondisi 100 % baik. 2. 480 pengusaha pada tahun 2003 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) dan 520 pada tahun 2004 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) serta penerapan GKM dari tahun 2001 s/d 2004 sebanyak 10 perusahaan.88 km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 40% yang kondisinya baik. Potensi yang dimiliki sub fungsi Transportasi adalah panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung yaitu sepanjang 3. fasilitasi permodalan dengan pihak Perbankan. peningkatan pengetahuan bagi pengusaha mengenai SNI/Gugus Kendali Mutu (GKM). jalan kabupaten 1.6 km dengan kondisi 90 % baik. manajemen atau wawasan bisnis. dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal penguasaan teknologi. jalan propinsi 202.92 km dengan kondisi hanya sekitar 60 % baik. ongkos produksi yang tinggi.2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung industri kecil. sedangkan peningkatan pengetahuan mengenai SNI selama Tahun 2001-2004 yaitu sebanyak 520 pengusaha/pengerajin (kuantitatif) yaitu pada tahun 2001 ditujukan untuk 220 pengusaha.86% dari total panjang jalan Kabupaten atau sekitar 958 km yang dapat ditangani dan masih ada beberapa jembatan dengan kondisi buruk.6 Sub Fungsi Transportasi Dalam menunjang kegiatan perekonomian.297. 36 sentra pada tahun 2003 (penambahan 9 sentra) dan 44 sentra pada tahun 2004 (penambahan 8 sentra). mengikuti kegiatan pameran baik lingkup daerah maupun nasional.

Sub fungsi Transportasi didukung oleh kegiatan Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas serta Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum. Selain permasalahan di atas.7 Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika Pada Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Terbangunnya 24 sistem aplikasi sub SIMDA yang telah oprasional di 3 bagian (Setda). Selain itu. ini hasil-hasil yang telah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -20 . Ciwidey.2004. Dalam kurun waktu 2001 . 2. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah. minimnya minat investor. termasuk R.2. baik dari aspek pemanfaatannya oleh DIBALE maupun content/ isi dari sistem aplikasi tersebut. marka 7.Bupati.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ditambah swadaya masyarakat belum cukup mampu meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik. program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalulintas telah menyediakan rambu sebanyak 923 unit. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika adalah : • Belum optimalnya sistem aplikasi Sub SIMDA yang telah terbangun. permasalahan lainnya adalah penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. dan Rancaekek pada tahun 2005.000 m dan traffic cones sebanyak 510 buah yang dipasang di lokasi rawan kemacetan. dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi. R. Dalam pelaksanaannya. sedangkan rendahnya kualitas infrastruktur karena belum optimalnya pengelolaan infrastruktur dan belum lengkapnya ketentuan teknis pembangunan infrastruktur. dan 10 dinas • Unit kerja yang telah terkoneksi ke dalam jaringan internet SIMDA Kabupaten Bandung terdiri dari 21 unit kerja. dalam rangka Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum telah disusun buku Master Plan Jaringan Lalulintas Angkutan Barang dan jaringan trayek angkutan penumpang pada tahun 2003 dan direncanakan akan disusun perencanaan angkutan massal koridor Leuwipanjang. Cileunyi.Wakil Bupati dan Setda dengan jumlah komputer yang terkoneksi mencapai 55 buah. 2 kantor. 3 badan.

833 pada tahun 2002. meningkat menjadi 383.582 jiwa.967 jiwa terdiri dari laki-laki 2.112 orang atau 65.156 orang. 2. 1. dan 390. jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut bisa menjadi satu potensi.19% jika dibandingkan tahun 2003 yaitu sebanyak 4. penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 tersebut terdiri dari 637.026 pada tahun 2003. jumlah penganggur tahun 2001 tercatat sebanyak 376. jumlah penduduk Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 4.411 jiwa.087.858 orang atau 30. Namun demikian bisa pula menjadi permasalahan bilamana penduduk usia produktif tersebut tidak terserap oleh pasar kerja.49% penduduk usia muda (umur 0-14 tahun).145.107. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 3.369. Jika dikaitkan dengan sub fungsi Tenaga Kerja.586 orang atau 3.8 Sub Fungsi Tenaga Kerja Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) paling besar di Propinsi Jawa Barat. Apabila dilihat dari kelompok umurnya.058.Bandung sebagai media informasi dan komunikasi baik bagi kepentingan internal maupun publik. up date datanya • Masih terbatasnya sarana prasarana infrastruktur jaringan ( N/W ) sebagai pendukung operasionalsasi sistem-sistem sub SIMDA. hal tersebut dibuktikan dengan seringnya terjadi troubel/ kendala konektifitas yang disebabkan karena adanya perangkat jaringan yang hilang ( ruangan tidak dilengkapi sistem keamanan yang memadai ) ataupun terjadinya “ croded “ karena tidak tersedianya perangkat server yang memadai. dll. Berdasarkan hasil Suseda 2004.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Belum berfungsinya situs web Kab. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. baik yang tersedia di Dibale maupun yang ada di KPDE sebagai intitusi pengelolanya.93% penduduk tua (umur 65 tahun ke atas).2.58% penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) dan 80. hal tersebut lebih disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan data aktual dari Dibale dan keterbatasan SDM KPDE yang menguasai teknis pengentryan ke sistem apikasi web itu sendiri.556 jiwa dan perempuan 2. sehingga berdampak pada ketidak kontinu-an dalam proses entry. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -21 .

Penurunan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan Hak dan Kewajiban yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 untuk masing-masing 280 perusahaan. pembentukan usaha mandiri dan pelatihan kerja. tahun 2002 sebanyak 1. 10 kasus pada tahun 2003 dan selanjutnya menurun menjadi hanya 8 kasus pada tahun 2004. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui pembentukan usaha mandiri tercatat perkembangan sebagai berikut : pada tahun 2001 dilakukan untuk 1.686 orang dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -22 . masih kurangnya tingkat keterampilan/keahlian pencari kerja dan belum baiknya sistem informasi pasar kerja yang ada. Selanjutnya pada kasus-kasus ketenagakerjaan telah terjadi penurunan yang tercatat sebagai berikut yaitu 48 kasus ketenagakerjaan pada tahun 2001 menjadi 23 kasus pada tahun 2002.358 orang pada tahun 2003. tahun 2003 sebanyak 1. mengurangi kasus ketenagakerjaan serta meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan tentang Hak dan Kewajiban.07 % dalam upaya peningkatan kesejateraan pekerja. 154 orang pada tahun 2003 dan 65 orang pada tahun 2004. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tersebut.311 orang. sedangkan melalui pelatihan tenaga kerja adalah 165 orang pada tahun 2001. sub fungsi Tenaga Kerja selama tahun 2001 s/d 2004 telah melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal lokal dan ke luar negeri.532 orang. Permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi dalam sub fungsi Tenaga Kerja antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran. 580 orang pada tahun 2002. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal dan keluar negeri pada tahun 2001 tercatat sebanyak 1. Disamping itu masih rendah perlindungan tenaga kerja melalui kepastian jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) serta masih minimnya lembaga sebagai sarana hubungan industrial baru mencapai 29. 2004). 236 orang pada tahun 2003 dan 277 orang pada tahun 2004.500 orang sehingga pada tahun 2005 masih tersisa 4500 orang yang belum mendapat tempat di lapangan kerja dengan Target Renstra 2001 – 2005 (Disnaker.965 orang. Dengan demikian masih tersisa sebanyak 100 perusahaan yang belum mendapat penyuluhan.

Selain itu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 2. perlu ditunjang oleh program pengembangan listrik pedesaan. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten bandung yaitu 2 hari yang merupakan tingkat hunian yang cukup singkat jika dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di Kota Bandung.1 Pengembangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung memiliki potensi budaya dan pariwisata antara lain adalah 61 buah obyek wisata yang tersebar di zone Bandung Utara sebanyak 12 obyek di 4 Kecamatan .3 Fungsi Pariwisata dan Budaya 2. dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. monumen di 17 lokasi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -23 . Permasalahan masih rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik antara lain disebabkan oleh faktor rendahnya daya tarik obyek wisata dan kurangnya promosi. Jumlah wisatawan pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1. zone Bandung Barat 15 objek di 8 Kecamatan dan di Bandung Timur 4 obyek di 5 Kecamatan.899 KK dari 167.769 orang atau terdapat peningkatan sebesar 13.844 KK yang belum mendapat sambungan listrik. monumen bersejarah di 5 lokasi.3. Selain itu. kurangnya subsidi pemerintah dan belum adanya alternatif penyediaan energi di desa.75%. kemasan paket wisata yang kurang menarik dan manajemen pariwisata yang belum optimal.751. Walaupun terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung namun ternyata Kabupaten Bandung hanya mampu menyerap sekitar 6% dari total kunjungan wisatawan ke Jawa Barat. vila dan penginapan serta Restoran dan Rumah Makan. di zone Bandung Selatan 29 obyek di 7 Kecamatan. terdapat juga potensi kebudayaan berupa 2 buah rumah adat Sunda. peninggalan sejarah lainnya dan beragam jenis kesenian. Sampai dengan tahun 2004 telah terpasang sambungan listrik pedesaan sebanyak 1. Rendahnya daya tarik obyek wisata dipengaruhi oleh faktor sarana prasarana yang belum memadai. situs budaya dan sejarah di 17 lokasi.9 Sub Fungsi Ekonomi Lainnya Dalam rangka pengembangan ekonomi di wilayah pedesaan. untuk menunjang kepariwisataan terdapat pula hotel. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan listrik pedesaan antara lain adalah masih terbatasnya jaringan distribusi PLN.539. yang 40 diantaranya terdapat di daerah Bandung Utara (Lembang).977 orang.2.

Peningkatan dan pelayanan arus informasi dilaksanakan antara lain dengan cara penerbitan Tabloid Gema Kertaraharja. sedangkan Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan dengan pemberdayaan media elektronik. SMA/SMK masing-masing jenjang terdiri dari tiga peringkat. RSPD dan lembaga penyiaran serta pemberdayaan dan pelatihan forum komunikasi daerah.3. penyelenggaraan aubade. SMA / SMK. Pembinaan Generasi muda Pembinaan Generasi muda dilaksanakan melalui kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskribra). Peningkatan Kerjasama Kemitraan dengan Instansi/Forum Komunikasi Sentral Masyarakat Pers dan Program Pelayanan Informasi. SMP.2. Penyusunan Basis Data Pembangunan. Sub Fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran Dalam mendukung sub fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan antara lain program Peningkatan Arus Informasi. Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga A.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. penyelenggaraan pemuda produktif.3. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 / 2003 / 2004 penyelenggaraan seleksi Pasukan Pendera Pengibar (Paskibra) sebanyak 34 orang. kegiatan pemuda produktif sebanyak 25 orang • • Tahun 2003 kegiatan penanggulangan narkoba bagi pelajar SD. 2. Sosialisasi dan Informasi Hasil-hasil Pembangunan. penyelenggaraan lomba tata upacara bendera. Pemberdayaan dan Pelayanan Pers. SMP.3. Pameran Pembangunan. SD. kegiatan pemuda pelopor. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -24 . Tahun 2004 kegiatan pemuda pelopor Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan generasi muda adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penduduk. Buletin Pemerintah Daerah. penyelenggaraan upacara bendera.

2. Tantangan yang akan dihadapi tahun 2006 adalah Pekan Olah Raga Provinsi ke X di Karawang pada bulan Juli. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani Guru olahraga. penyelenggaraan lari 10K. Sub Fungsi Obat dan Perbekalan Kesehatan. penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). SMA/SMK yang terdiri dari 11 cabang olahraga. lomba senam dan kegiatan senam masal.4. Fungsi Kesehatan 2. Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan fungsi kesehatan yang terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan. Untuk BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -25 .4. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar SD. penyelenggaraan bantuan sarana dan prasarana. Tes Kesegaran Jasmani bagi SMP dan SMA. SMP/SMA/SMK. • Tahun 2003 kegiatan Porseni SD.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B.1. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani SMP dan SMA Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya olahraga bagi pelajar dan masyarakat. kegiatan POPDA SD. penyelenggaraan Pekan Olahraga SMP. SMP. SMA / SMK penyelenggaraan lari 10 K. penyelenggaraan Pekan Olahraga SD. bimbingan teknis personal. kegiatan jalan santai. penyelenggaraan pembinaan teknis personal. Kegiatan pengadaan obat-obatan yang setiap tahun dilaksanakan dalam rangka memenuhi permintaan pelayanan masyarakat dan peserta Asuransi Kesehatan yang tersebar di 92 Puskesmas DTP/TTP dan Rumah Sakit Daerah ( RSD ). penyelenggaraan TKJ • Tahun 2004. kegiatan Lomba Gerak Jalan.SMP. Serta persiapan menjadi tuan rumah PORPROV Ke XI. penyelenggaraan gerak jalan santai. yang telah dipersiapkan dari awal Tahun 2005. Pembinaan Olahraga Pembinaan olahraga dilaksanakan melalui kegiatan Pembinaan olahraga pelajar dan pembinaan olahraga masyarakat yang meliputi pengadaan sarana dan prasarana olahraga.

Hal ini kurang ideal bila dilihat dari standarisasi pelayanan sehingga diperlukan adanya peningkatan status Pustu di wilayah kecamatan yang penduduknya padat sehingga dicapai titik standar ideal perbandingan antara Puskesmas dan Penduduk yaitu 1 Puskesmas : 30. 2. Sedangkan dalam rangka pemusnahan limbah medis telah disediakan pengadaan alat pengolah limbah padat ( incenerator ) di RSD Soreang.064 orang penduduk Kabupaten Bandung.145.064 jiwa atau 1 Puskesmas diharapkan dapat melayani sebanyak 45. Begitu pula dengan hanya terdapatnya RSUD sebanyak 2 unit dan RS Swasta sebanyak 1 unit dan RSU Khusus milik pemerintah ( RSJ ) 1 unit. Selain alat pengolah limbah padat tersebut di atas.4. yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair rumah sakit dengan melakukan pengolahan limbah terlebih dahulu. Pada BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -26 .967 jiwa. tahun anggaran 2005 pembangunan tahap I IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) segera direalisasikan.000 jiwa. selain dukungan sarana yang cukup juga dari sisi kuantitas tenaga kesehatan sebaiknya bisa tercukupi. Diharapkan tahun 2006 dapat diselesaikan pembangunannya secara keseluruhan agar dapat segera dioperasikan. sedangkan penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 sebanyak 4.2 Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Perorangan. dan pemberian pelayanan laboratorium dengan tujuan dapat meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan medik.000 Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Sarana/ prasarana kesehatan merupakan hal tepenting dalam pelayanan kesehatan oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung ini terdapat 92 unit Puskesmas yang tersebar di 45 Kecamatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung penyediaan perbekalan kesehatan senantiasa diupayakan pengadaan peralatan kedokteran dan peralatan penunjang keperawatan yang sesuai standar kesehatan. Adapun perbandingan rumah sakit terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 500. hal tersebut menunjukkan bahwa ratio Puskesmas terhadap penduduk adalah 1 puskesmas : 45. Permasalahannya adalah sebagai berikut: • • Cakupan ketersediaan Obat masih belum dapat memenuhi kebutuhan Penyediaan alat-alat kedokteran dan keperawatan perlu ditingkatkan kelengkapannya dalam upaya peningkatan status baik puskesmas maupun RSD.

658 jiwa . Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan melalui.3.219 jiwa penduduk yang harus dilayani sedangkan dibandingkan dengan puskesmas yang ada pelayanan dokter umum rata-rata hanya 1 – 2 orang per Puskesmas yang tersebar di 45 kecamatan sedangkan ratio bidan praktek terhadap puskesmas menunjukan rata-rata 1–3 orang bidan dapat melaksanakan pelayanan di Puskesmas sehingga untuk mengotimalkan pelayanan kesehatan oleh pemerintah keberadaan bidan desa belum dapat memenuhi sejumlah desa/kelurahan yang ada. Permasalahan yang dihadapi antara lain masih diperlukannya peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas dan peningkatan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Daerah disamping perlu adanya optimalisasi perangkat medis. Puskesmas keliling dan keberadaan polindes perlu dukungan semua pihak dalam operasionlisasinya. 2.4. ratio dokter gigi terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 45.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung tahun 2004 jumlah tenaga Kesehatan yang bekerja pada unit kesehatan pemerintah daerah memiliki komposisi sebagai berikut : Dokter Umum Dokter Gigi Tenaga Medis lain Bidan / Bidan desa : 132 orang : 77 orang : 865 orang : 580 orang Dari data tersebut menunjukan bahwa ketersedian tenaga medis dokter masih rendah. Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Program penanggulangan penyakit dan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan lingkungan. telah dilaksanakan melalui : • • • • • Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) Pembinaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ( UKBM ) Pembinaan kesehatan masyarakat pekerja Pembinaan dan pengembangan Poskestren Penyebarluasan informasi kesehatan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -27 . diperlihatkan oleh ratio dokter umum terhadap penduduk adalah 1 : 32. Program peningkatan Budaya Hidup Bersih. Program peningkatan hidup Bersih dan sehat.

namun ternyata belum dapat mencapai sasaran yang ditentukan sehingga masih perlu adanya peningkatan yang didukung oleh ketersediaan obat-obatan dan sarana kesehatan lain. Kondisi cakupan angka kesakitan pada tahun 2004 sebagai berikut : • • • • • • • Cakupan Penyakit Kusta Cakupan Penyakit ISPA Cakupan Penyakit Diare Cakupan HIV/ AIDS Cakupan Penyakit DBD Cakupan Penyakit Rabies Cakupan TBC = 0. Campak. Suveilance. Berdasarkan Pemantauan status gizi masyarakat melalui pelaksanaan penimbangan Balita di Posyandu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung. ISPA. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Upaya perbaikan Gizi Institusi. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK).69 / 1000 penduduk = -% = -% = 85 % Disamping itu dalam program perbaikan gizi. dan Ibu Hamil setiap tahun selalu dilakukan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan. Polio. setiap tahun dilaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit kusta.000 penduduk = 43 %. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -28 . Sedangkan Cakupan Imunisasi menurut jenisnya seperti Imunisasi BCG. setiap tahun dilaksanakan kegiatan-kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangan Dan Gizi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM ) Melakukan kerjasama pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sektor industri / perusahaan swasta. Diare.01 / 10. rata-rata masih di bawah angka 80%. Demam berdarah. = 25 % = 0. Kelamin. pada tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu telah cukup baik dengan indikator bahwa jumlah proporsi Balita yang ditimbang dibanding Balita terdaftar masih di atas angka 80 % dan perkembangan status gizi masyarakatnya ada pada klasifikasi harus mendapat perhatian dimana proporsi Balita yang naik berat badanya terhadap balita yang di timbang pada setiap tahunnya. Sedangkan dalam pelaksanaan program penanggulangan penyakit. Penanggulangan GAKI. Rabies.

46 Ket 52 50 70.1 80.72 36. Desa Cakupan air bersih Cakupan pemakaian SPAL Cakupan pemakai jamban Pengawasan TTU Pengawasan RS Pengawasan Pestisida Pengawasan Residu Pestisida Pengambilan kadar Cholines terase darah Pengawasan Industri Besar Pengawasan Industri Kecil Capaian Program (%) 2003 2004 61. secara rutin telah dilakukan kegiatan pengawasan kualitas air dan lingkungan.05/100 25 40.70 - 70. Cakupan pemakaian sarana pembuangan air limbah. dan penyehatan lingkungan industri.3 Polio 1 Polio 4 Campak Hepatitis B1 Hepatitis B3 TT 1 Ibu Hamil TT 2 Ibu Hamil 2002 101.49 91.2 88. peningkatan keterampilan petugas sanitasi dan penyehatan lingkungan tempat-tempat umum. penyehatan lingkungan permukiman.17 88.23 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -29 .3 85.8 10. Cakupan pemakaian Jamban.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.7 PERKEMBANGANGAN HASIL PENGAWASAN CAKUPAN PROGRAM TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Kegiatan Pengawasan TPM Pemeriksaan Sampel Mamin .05 32.33 100 8. Pengadaan air bersih penyehatan lingkungan (PAPBL).9 90.4 98 81.00 61.4 91.70 36.01 52.61 92.44 98. Dalam menunjang penyehatan lingkungan permukiman telah dilakukan pengawasan terhadap tempat pengelolaan makanan ( TPM ).6 96. Pengawasan tempat umum.00 38.1 81.8 83.73 96.4 92.8 78.7 83.76 83. Grading Rumah makan/restoran Pemeriksaan sampel air bersih Pemeriksaan sampel tanah Temu karya PABL tk.02 61.7 KET Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Dalam pelaksanaan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkait dengan kesehatan lingkungan.7 96.69 95.0 84. Perkembangan Hasil capaian program dua tahun terakhir ( Tahun 2003 – 2004 ) sebagai berikut: Tabel 2. Cakupan air besih.84 78.05/100 18.1 96.0 Tingkat Capaian Program (%) 2003 2004 95.2 94.6 HASIL CAKUPAN PROGRAM IMUNISASI TAHUN 2002 – 2003 Jenis Imunisasi BCG DPT-1 DPT .8 92.00 32.

57 3.75 %. Diare .8 PERSENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA AIR MINUM BERDASARKAN SUMBERNYA TAHUN 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber air Ledeng Sumur Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak terlindung Mata Air Terlindung Mata Air tak telindung Kemasan Lainnya Jumlah % Rumah Tangga 7. Program/kegiatan pemberantasan penyakit masih harus ditingkatkan terutama pada masyarakat pada lingkungan yang fasilitas kesehatannya kurang. Peningkatan status gizi Balita dan cakupan imunisasinya masih perlu ditingkatkan. Tabel 2. Fasilitas air minum yang digunakan rumah tangga seperti air ledeng. sumur pompa. Sumur tak terlindung 7. Permasalahan yang dihadapi adalah: • • • • • Program PHBS baik di Institusi Kesehatan. campak dan lainnya yang disebabkan kondisi lingkungan kurang baik. walaupun nampaknya masih harus ditingkatkan agar kondisi lingkungan Kabupaten Bandung ini memenuhi standar kesehatan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya penyebaran penyakit TBC.19 0. Pendidikan maupun masyarakat umum perlu untuk ditingkatkan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -30 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dari hasil pengawasan tersebut. polio.68 38. secara umum Cakupan program penyehatan lingkungan permukiman nampaknya hampir dari semua jenis kegiatan menunjukan adanya peningkatan ke arah yang lebih baik. Masih terdapatnya penduduk yang menggunakan sumber air minum yang belum memenuhi standar kesehatan.75 3.78 18. mata air dan lainnya terlihat pada tabel di bawah ini. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan tetap harus didorong atau ditingkatkan melalui suatu kegiatan pembinaan/penyuluhan kesehatan.97% sehingga upaya pengadaan program air bersih nampaknya masih menjadi bagian yang harus dipikirkan dalam menunjang kesehatan masyarakat.89 100 KET Sumber: Suseda Tahun 2004 Dari data terakhir tahun 2004 masih menunjukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan air minum dengan kondisi yang kurang terjamin kesehatannya yaitu dengan air minum dari mata air tidak terlindung sebanyak 3.34 7.97 19. maka program/kegiatan penanggulangan air bersih masih dipandang perlu.

373 Sumber : Dinas kependudukan . melalui sub fungsi KB telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain sosialisasi kesehatan reproduksi remaja. Keluarga Berencana. Catatan Sipil dan KB Dilihat dari perkembangan setiap tahun. melalui sosialisasi JPKM Mandiri ke dunia usaha. pembentukan pusat informasi dan konsultasi keluarga dan remaja serta dilakukannya mengayomi peserta KB dari Keluarga tidak mampu yang mengalami kegagalan.318 PPM 7.615 2004 Realisasi 5.162 90 800 1. melalui siaran radio.475 66. pemutaran film.093 182 52.4.603 141 442 1.339 96.562 1.831 9. dengan menyelenggarakan Rakerkesda BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -31 .622 9.450 13.776 76 48.883 42. Permintaan Masyarakat akan pelayanan KB ternyata cukup tinggi yang setiap tahunnya ternyata belum dapat terpenuhi dengan permintaan tertinggi di capai oleh kontrasepsi Suntikan dan pelayanan Non MJP.831 9.724 57.4. pembutan poster Tb.455 2002 Realisasi 8.235 6.749 15.796 8.116 65.805 2003 Realisasi 4.713 17. dan melalui Leaflet JPKM • Penyebar luasan informasi.105 10.368 395 61.4.897 59.421 43.019 PPM 6.401 56 616 1. Dalam rangka menunjang fungsi kesehatan.178 61.9 HASIL PERKEMBANGAN CAPAIAN PESERTA KB DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kontrasepsi IUD MOP MOW IMPLAN MJP SUNTIK PIL KONDOM Non MJP Total PPM 8.653 7.148 956 2.427 395 57. Paru dan pembuatan leaflet NAPZA.607 87 805 1.330 49.578 125 150 2. 2.5.234 392 83.841 87. Disamping itu juga telah dilakukan pembinaan dan pengembangan KB Mandiri dan pengembangan pusat pelayanan KB dan pusat konsultasi remaja.050 42 76. Tabel 2. Pada Sub Fungsi kesehatan lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyebar luasan informasi kesehatan antara lain: • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan.969 18.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.872 8.732 71. • Penyusunan program kesehatan.649 39. Sub Fungsi Kesehatan Lainnya.

11 Perkembangan DO Pada Tiap Jenjang Pendidikan Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Jenjang Pendidikan SMP/MTs SMA/MA 828 604 914 779 1.347 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung 2004 2. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk Kabupaten Bandung pada setiap angkatan pendidikan adalah sebagai berikut: Tabel 2. Tabel 2.070 619 3. selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah dilaksanakan berbagai kegiatan rehabilitasi dan pembangunan SD dan SMP sebagai berikut: BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -32 .5 Fungsi Pendidikan Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan.69 34.00 35.1.923 438 SD/MI 833 3.256 2. Pendidikan Dasar Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan dasar.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.38 73.07 Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004 Kurangnya partisipasi sekolah ini dipengaruhi oleh adanya siswa sekolah yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya atau drop out (DO).05 95.07 97.5.351 1. tergambarkan dari terdapatnya penduduk yang bersekolah atau adanya proporsi penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang usia pendidikan serta penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan tepat pada waktunya yang terukur dengan angka partisipasi murni (APM). Perkembangan siswa yang DO pada setiap angkatan sekolah terlihat pada tabel dibawah ini.03 78.59 7-12 tahun 96.45 77.42 43.10 Perkembangan APS Kabupaten Bandung Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 USIA Sekolah 13-15 tahun 16-18 tahun 74.44 41.76 97.

7.490 exemplar.732 orang dan siswa kurang mampu sebanyak 500 orang serta bagi 425 siswa SMP. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. orang guru SD. pengadaan buku perpustakaan SD 692 paket. kondisi dan permasalahan pendidikan dasar di Kabupaten Bandung sebagai mana teruraikan di bawah ini. Pengadaan mebelair SMP untuk 128 lokal. pemberian beasiswa SD bagi 13. penyediaan ruang perpustakaan 3 unit. dan rehabilitasi rumah dinas guru /penjaga sekolah di 7 sekolah.888 orang guru SMP yang secara kualifikasi ternyata masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar. Pengadaan sarana meja dan kursi untuk 50 lokal SD.( Laporan disdik ) Disamping telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sekolah. pengadaan pengadaan meja dan kursi untuk 266 sekolah dasar. Jumlah guru menurut latar belakang pendidikannya di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. penyetaraan guru SMP ke kualifikasi S1 sebanyak 62 orang. serta pengadaan buku penunjang SMP sebanyak 23. Pada tahun 2004 berdasarkan basis data perencanaan pembangunan di Kabupaten Bandung terdapat sebanyak 16. Juga adanya penggabungan Sekolah Dasar sebanyak 238 SD. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -33 . • Pada tahun 2004. Juga bantuan mebelair telah diberikan untuk sebanyak 34 ruang kelas dan perbaikan rumah dinas guru/penjaga sekolah sebayak 14 unit. Kualitas Tenaga Pengajar Kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat menentukan kulitas pendidikan.287. SMP 574 paket dan buku bahasa sunda masing-masing 9976 exemplar untuk SD dan 2427 exemplar untuk SMP. pengadaan mebelair SMP. bantuan sarana pendidikan juga telah diberikan oleh pemerintah daerah antara lain : • Pada tahun 2002. • Pada tahun 2003. 1).12 PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI SEKOLAH TINGKAT DASAR TAHUN 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Pembangunan ( unit ) SD Bertingkat 2 3 SD 4 SMP 0 1 Rehabilitasi ( Unit ) SD SMP 200 228 394 0 24 17 57 16 Tambah Ruang Kelas ( lokal ) SD SMP Sumber : hasil olahan data .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.

144 126 38 D1 144 62 747 154 Pendidikan Guru D2 D3 ≥S1 8.440 453 Jumlah Murid (M) 529. 2). Program kegiatan penyetaraan guru baik bagi guru SD maupun SMP masih harus ditunjang oleh pemerintah.2 Ratio Guru (G) 16. Tabel 2.233 11497 M/S 216 342 M/G 32 25 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -34 .08 % dari jumlah total guru SD/MI. TAHUN 2004 No 1 2 3 4 Klasifikasi Mengajar SD MI SLTP MTS < D1 3.927 2. Sebagai gambaran kondisi tahun 2004 dari kecukupan guru dan sekolah yang dimanfaatkan penduduk dapat dilihat dari ratio murid per kelas.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.13 JUMLAH TENAGA GURU MENURUT LATAR BELAKANG PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN.337 220 4.561 orang atau nampaknya masih dominan bila di bandingkan dengan guru SMP yang tersedia.089 3.903 8.457 1.491 443 728 295 292 34 1. GURU DAN MURID DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2004 No 1 2 Tk. Hal ini menunjukan bahwa dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung. Pendidikan SD SMP/ MTS Sekolah (S) 2.193 orang atau 22.14 J UMLAH SARANA PENDIDIKAN. ratio murid terhadap guru dan ratio murid terhadap sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Sarana/prasana pendidikan Sarana pendidikan merupakan salah satu hal pokok disamping ketersediaan guru yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Bandung pada setiap tahun dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga diharapkan hakhak penduduk untuk menerima pendidikan akan terpenuhi.591 Jumlah 14.166 1553.405 Sumber : Profil Pendidikan Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa guru SD yang berlatar belakang pendidikan lebih rendah dari D1 ada sebanyak 3.561 327 2. sedangkan pada tingkatan SMP nampaknya juga bahwa jumlah guru SMP dengan latar belakang pendidikan lebih rendah dari D3 ada sebanyak 1.193 1.

pengadaan mebelair untuk 25 unit sekolah. Sedangkan bantuan pembangunan SMU/K telah dilaksanakan untuk 2 unit sekolah.012 eksemplar. bantuan Mebelair untuk 65 ruang kelas. yaitu SMUN 1 Cililin.5. Sub Fungsi Pendidikan Menengah. telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan sekolah menengah umum dan kejuruan melalui kegiatan/proyek atas dukungan APBD Kabupaten Bandung antara lain : • Pada tahun 2002. SMUN Margahayu. SMUN 1 Cipatat. telah dilaksanakan penyediaan buku penunjang belajar SMU sebanyak 15. • Pada tahun 2003. SMUN Baleendah. pengadaan mebelair untuk 38 ruang kelas. tambah ruang kelas bagi 10 pemberian Bea siswa bagi 677 siswa SMU dan 73 siswa SMK.57% dalam keadaan rusak berat 32. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung telah diberikan pelayanan pendidikan pada tingkat dasar rata-rata menampung penduduk usia sekolah sebanyak tingkat SMP per kelasnya 448 siswa. terlaksananya rehabilitasi berat SMU/SMK sebanyak 7 sekolah yang tersebar di tiga kecamatan. Tahun 2004) bahwa dari jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 2. bantuan penyediaan ruang perpustakaan. • Pada tahun 2004. perbaikan gedung SMU/K sebanyak 19 sekolah. 2. komputer sebanyak 23 unit dan alat peraga IPA untuk 46 sekolah.2. akreditasi 14 sekolah SMU/SMK.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel di atas menunjukan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat ratio murid terhadap sekolah sebanyak 227 orang murid per sekolah. Lomba kompetensi keterampilan siswa SMK.27% rusak ringan.175 unit pada tahun 227 siswa. baik untuk jenjang SD maupun SMP perlu mendapat perhatian serius karena berdasarkan data yang tersedia (Profil Pendidikan. SMUS Terpadu. pada 2004 ternyata 31. Dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan melalui kegiatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah baru. SMUS KP. melalui proyek pembangunan pengadaan sarana/prasarana sekolah menengah umum dan kejuruan telah dilaksanakan penambahan ruang kelas 10 unit SMU/K. rehabilitasi SMU/K sebanyak 20 unit sekolah. pemberian bantuan dana bea siswa bagi 746 siswa berprestasi. Ibun dan SLTA Textil dan SMU/SMK dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -35 . ratio murid terhadap kelas sebanyak 38 orang perkelasnya dan ratio murid terhadap guru dengan perbandingan 32 orang murid dilayani 1 orang guru. Dalam menunjang pendidikan menengah.

Lomba. kursus. Dalam penyelenggaraan Pendidikan non formal. maka dukungan pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah.43 % dan dari ratio murid persekolah menunjukan bahwa dipandang perlu adanya pemekaran sekolah karena rata-rata murid persekolah sudah lebih besar dari 300 orang murid. KF serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan Gedung baru SMUN Cikancung. dan SMUN Batujajar. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -36 . pembinaan generasi muda.lomba. SMUN 1 Cipeundeuy.3. jumlah sekolah sebanyak 164 sekolah. Sedangkan kegiatan tambah ruang kelas dilaksanakan di 6 lokasi yaitu untuk SMUN 1 Banjaran. pendidikan anak usia dini. SMUN 1 Ciparay.591 orang. SMUN Cisarua. kondisi dan permasalahan pendidikan menengah di Kabupaten Bandung adalah pada tahun 2004 kondisi pendidikan menengah di Kabupaten Bandung terdapat guru SMA/SMK/MA sebanyak 6. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar sekitar 44. Sub Pendidikan Non formal dan Informal.776 orang. SMUN I Katapang. SMUN I Cipongkor. dan lulusan S1/S2 sebanyak 2. kegiatan sanggar serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. SMUN I Sindangkerta. lulusan D3 sebanyak 434 orang.078 yang secara kualifikasi terdiri dari lulusan D1 sebanyak 24 orang. Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar paket A setara SD.5.640 orang . penyelenggaraan PPLS. pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat. murid sebanyak 54. ratio M/S = 339 orang dan M/G = 12 orang. Penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. guru sebanyak 4. SMUN 1 Cikalong Wetan. kejar paket B setara SMP dan kejar paket C setara SMA/ SMK. SMKN Terpadu Pertanian Rancaekek. lulusan D2 46 orang. Pendidikan Luar Sekolah dan Masyarakat. Sedangkan dari ketersediaan guru dan sarana/prasarana yang dimanfaatkan oleh sejumlah siswa memberikan gambaran. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. 2.

kejar paket C 220 wajib belajar setara SMU.051 orang dan guru 1. • Tahun 2003. melalui kegiatan penyelenggaraan belajar mengajar 43 buah. Bantuan Penyelenggaraan Sanggar Kegiatan Belajar. SLTP 75 orang SMU 19 orang. Hal ini menunjukan bahwa ratio murid persekolah adalah sekitar 43 orang per sekolah dan terdapat 3 – 4 orang guru per sekolahnya. bantuan kepada kursus-kursus seperti kursus menjahit. dengan jumlah murid 13. tata rias rambut. SD 43 orang. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -37 . dilaksanakannya pengembangan dan peningkatan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat bagi 8 lembaga kursus serta melaksanakan program kejar paket A PBH dengan terbentuknya 258 kelompok belajar • Tahun 2004. 2. kegiatan pendidikan luar sekolah adalah dengan melaksanakan pelatihan bagi 100 warga belajar instruktur kursus. di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan basis data PDP3D tahun 2004 tersedia sarana pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebanyak 303 sekolah yang secara total peran swasta masih dominan. penyelenggaraan kursus Diklusemas. Pemerintah Daerah telah memberikan bantuan-bantuan berupa alat bermain yang yang rata-rata setiap tahunnya terbantu antara 50 – 60 Taman Kanak-kanak. tata rias wajah.4. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pendidikan Luar Sekolah adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan kejar paket disemua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatan pengetahuan penduduk. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 240 orang peserta. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 60 kelompok belajar. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini. pelaksanaan kejar paket A PBH bagi 43 kelompok belajar dan terselenggaranya peningkatan program life skill di 55 sekolah dari semua tingkatan. • Program pendamping proyek Life Skill. Untuk menunjang terlaksananya operasional kegiatan di taman kanak-kanak .129 orang .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. sosialisasi BBE Life Skil untuk tingkat Kabupaten Bandung dengan peserta TK 20 orang.5.

dan 2004 penyelenggaraan sosialisasi. telah dilakukan berbagai kegiatan baik dalam rangka menunjang perkembangan pendidikan formal (SD. 2003. 2. SMA) maupun dalam pelaksanaan Diklat Struktural dan fungsional bagi PNS yang didukung dana APBD Kabupaten Bandung antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan formal. bantuan penyelenggaraan. melalui Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum mulok SD dan SMP. bimbingan teknis bagi penyelenggara dan guru. Pelatihan guru keterampilan 170 orang. penyelenggaraan bantuan rintisan. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan mendorong pemahaman masyarakat. pelaksanaa program penyetaraan D2 dan PGSD 810 orang .5. SMP. Dalam menunjang pendidikan kedinasan. bantuan rintisan. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain adalah pada tahun 2002. SMU/K telah dilaksanakan Pelatihan guru bahasa Ingris 170 orang. penyelenggaraan bantuan lembaga. hasilnya Pertemuan kelompok kerja Guru. Pelatihan Guru Tata Boga 170 orang. lomba kreatifitas anak. pada tahun 2002.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 terbentuknya kerjasama kelembagaan dengan sebanyak 40 lembaga pengelola TK. pembinaan teknis bagi penyelenggara dan guru.5. Penataran pengelola UT kecamatan 46 orang. Pembinaan olah raga dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maka permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggraraan Pendidikan Non formal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan Pendidikan non fomal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pencapaian angka melek hurup serta rata-rata lama sekolah (RLS). Melalui Proyek peningkatan kemampuan tenaga pengajar dan pengelola bagi pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi. Pembinaan Generasi Muda. lomba kreatifitas anak. Sub Fungsi Pendidikan Kedinasan. Berdasarkan uraian sub Pendidikan Non Formal yang meliputi 4 bidang garapan terdiri dari Pendidikan Luar Sekolah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -38 .

Lokakarya tingkat propinsi jawa barat diikuti oleh 15 guru IPA dari 5 Kecamatan sasaran SEQIP. Berdasarkan data kepegawaian tercatat bahwa struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bandung (Perda 8.363 Jumlah 472 618 691 1. 186 pejabat esselon III. Bandung Perkembangan lulusan Diklat pimpinan setiap tahun bertambah dalam periode 2002 – 2004 terdapat 418 orang yang telah lulus diklat Pim dengan komposisi sebanyak 18 orang lulus Pim II. begitu pula Pim III dan IV. 201 Pim III dan 202 lulus Pim IV sedangkan untuk pendidikan teknis dan fungsional telah diikuti oleh 1.363 orang dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan setiap tahunnya bervariasi. dan 314 pejabat esselon V. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersedian jumlah lulusan pendidikan struktural Pim II dipandang sudah memadai. lulus Diklat Pim II 2 orang. Kepala Sekolah dan Guru. Disamping melaksanakan Pendidikan formal melalui pembelajaran dalam rangka pelayanan pendidikan kepada penduduk usia sekolah. Diklat IPA bagi Pengawas SD. Perkembangan Jumlah lulusan diklat kedinasan sbb: Tabel 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Melalui Proyek penunjang Science Education Quality Impropemen Project (SEQIP). 9 dan 10 Tahun 2002) tersedia kebutuhan 28 pejabat esselon II. 927 orang pejabat esselon IV. baik Diklat Struktural maupun fungsional. Diklat kedinasan ini. namun dalam rangka mempersiapkan atau kaderisasi pejabat sebaiknya masih tetap diprogramkan. Pim III 3 orang dan Pim IV sebanyak 40 orang. Sedangkan jumlah pegawai dengan lulusan Diklat struktural pada kondisi terakhir (tahun 2004) adalah.781 Sumber : Kantor Diklat Kab. sesuai dengan perkembangan untuk terpenuhinya staf teknis dan fungsional maka diklat kedinasan lebih diarahkan kepada diklat teknis dan fungsional. Untuk pendidikan Pim BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -39 .15 JUMLAH LULUSAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2002 – 2004 Tahun 2002 2003 2004 Jumlah II 7 9 2 18 Diklat Pimpinan III IV 117 80 80 40 5 78 202 198 Jumlah 204 129 85 418 Diklat Fungsional 268 489 606 1. Pemda Kabupaten Bandung juga melaksanakan berbagai jenis Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) terutama bagi para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.

Pendidikan bagi PNS hendaknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan teknis dan fungsional. Berdasarkan uraian di atas dalam pencapaian strategi bidang pendidikan dalam rangka upaya peningkatan SDM.5. Universitas Nurtanio. terutama pada usia SMP. Dukungan pemerintah Kabupaten Bandung akan kelangsungan perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui kegiatan bantuan kepada perguruan tinggi sebagaimana yang telah dilaksanakan pemberian bantuan pembangunan kepada enam Perguruan tinggi swasta.6. STIKIP Bale Bandung. Sub Fungsi Pendidikan Tinggi Ketersediaan lembaga pendidikan tinggi di wilayah Kabupaten Bandung. Hal ini menunjukan bahwa Program/kegiatan yang mendorong kepada pencapaianan Program Wajar Dikdas 9 Tahun masih harus menjadi perhatian kita bersama. terutama bagi aparat di tingkat kecamatan untuk mengimbangi pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat. Sedangkan pada tahun 2004 telah dirintis pembentukan/pendirian Universitas Daerah yang diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan tinggi kepada penduduk Kabupaten Bandung dan meningkatkan partisipasi penduduk pada level pendidikan tinggi. STPDN dan STIKINDO Wirautama. yaitu bantuan kepada STIE Al-Giphari. 2. STIPER Bale Bandung. Demikian juga masih diperlukan peningkatan kemampuan teknis bagi aparat di lingkungan DIBALE Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. terdapat beberapa hal yang masih dominan menjadi permasalahan yaitu: • Penduduk Kabupaten Bandung yang termasuk kepada usia sekolah belum tuntas dapat mengenyam pendidikannya. • Dalam rangka menunjang pembelajaran yang baik. secara kuantitas jumlah guru di Kabupaten Bandung masih memadai namun ditinjau dari sisi kelayakan mengajar. terdapat 5 perguruan tinggi yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak swasta.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sebaiknya dilakukan kajian kebutuhan pejabat struktural yang berkualifikasi sesuai diklat Pim. Pemerintah Kabupaten Bandung masih harus dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar terutama bagi guru-guru dengan latar belakang pendidikan non keguruan dan guru-guru non pns disamping masih dominannya guru SD yang berlatar BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -40 .

• Lulusan Diklat Pimpinan (II. disamping meningkatkan kualitas guru terdapat hal pokok yang perlu mendapat sorotan yaitu tingkat kerusakan sekolah SD yang masih tinggi.498 207.78% 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung belakang pendidikan di bawah D1 dan guru SMP dengan latar belakang pendidikan di bawah D3.16 Data Jumlah Keluarga Pra KS Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 21.6.58% Sumber : Dinas Kependudukan.1) alasan ekonomi.67% 21.75% 68.92% 4.85% .1 Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 225. namun efektivitas penempatan tenaga kerja sesuai klasifikasi kelulusannya belum optimal dilaksanakan.705 202.6.17 Data Jumlah Keluarga KS.30% Sumber : Dinas Kependudukan.75% -7. • Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan. Data tersebut dapat dilihat perkembangannya dalam tabel berikut: Tabel 2.175 52.753 27.265 Prosentase Kenaikan/Penurunan -7. Casip dan KB Kab.944 214. Perlindungan Sosial Salah satu basis data perencanaan sosial di Kabupaten Bandung adalah Jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai Pra Keluarga Sejahtera (Pra KS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS.354 46. IV) maupun Diklat fungsional setiap tahunnya semakin bertambah. dan pembangunan Sekolah Baru untuk SMP dan SMA nampaknya masih harus jadi perhatian dalam rancangan pembangunan pendidikan pada tahun 2006.139 56. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -41 . 2. Casip dan KB Kab.072 Prosentase Kenaikan/Penurunan 25.643 217. Bandung Tabel 2. III.

Data tahun 2004 menunjukan jumlah PKRI sebanyak 90 jiwa dibina 90 jiwa. ditunjukan bahwa pada tahun 2003 menghasillkan terbinanya warga jompo sebanyak 25 orang dan pada tahun 2004 terbina sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukan bahwa cakupan perlindungan sosial bagi orang cacat masih belum memenuhi harapan. anak cacat 3. Perlindungan dan Pelayanan Orang Sakit Dan Cacat. Perlindungan Dan Pelayanan Lansia. WTS 250 jiwa dibina 0. 2. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan penyandang cacat ada sebanyak 4.906 orang. lanjut usia tindak kekerasan 268 jiwa dibina 0. keluarga pahlawan 40 KK dibina 0. sedangkan perlindungan pelayanan yang dilaksanakan setiap tahunnya rata-rata masih jauh di bawah angka tersebut. keluarga perintis kemerdekaan 5 jiwa dibina 5 jiwa.6.384 jiwa dibina melalui usaha ekonomi produktif/UEP 25 jiwa. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -42 . lansia terlantar luar panti 5. melalui bantuan permakanan 20 jiwa. melalui bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 jiwa/rumah/unit. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam perlindungan Lansia masih kurang. dan fakir miskin sebanyak 73.678 orang.618 jiwa dibina 0. pembinaan anggota DHC 45. eks korban narkotika 367 jiwa dibina 60 jiwa.1. penyandang cacat eks penyakit kronis 1. Perlindungan dan Pelayanan Sosial Keluarga Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Perlindungan dan pelayanan sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung berupa pelayanan sosial dan penyantunan perintis kemerdekaan yang pada tahun 2002 dilaksanakan pembentukan pengurus DHC 45 dan bantuan kesejahteraan bagi janda perintis dan warakauri sebanyak 44 orang tahun 2003 telah diberikan perlindungan sosial bagi perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang 60 orang.6.3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.6.2.534 orang sedangkan perlindungan sosial bagi orang cacat pada tahun 2004 hanya terbinanya 45 orang penyandang cacat. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Penduduk lansia berjumlah 11.052 jiwa dibina 0. eks narapidana 822 jiwa dibina 0. 2.

melalui pemberian makanan tambahan/PMT-AS 4.5. sosialisasi pengarusutamaan Gender yang diikuti 40 orang dari 20 kecamatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Perlindungan Dan Pelayanan Sosial Anak-anak Dan Keluarga Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Anak nakal 660 jiwa dibina 30 jiwa. 2003 telah terehabilitasinya 195 orang tuna sosial di 10 kecamatan.509 orang jiwa dibina melalui Kelompok bersama ekonomi (KUBE) 30 jiwa. 463 orang nak jalanan dibina 0.138 KK dibina 40 KK melalui KUBE. pada tahun terbinanya kenakalan remaja dan prostitusi di 4 kecamatan lokasi beresiko tinggi.552/66. eks korban narkoba dan penyandang cacat dipindahkan ke poin A. Anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah 169 dibina 0.709 orang.000 jiwa.290 orang wanita rawan sosial ekonomi. 2. Disamping itu terdapat penduduk korban penyalahgunaan narkotika ada 530 orang.6. dan pada tahun 2004 terbinanya anak nakal 30 orang. 25 orang remaja ditingkatkan keterampilannya serta pemantapan managemen organisasi perempuan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang dari organisasi perempuan dan PKK serta 50 orang dari unit Kecamatan. pemerintah Kabupaten Bandung setiap tahun telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan peranan wanita. seperti pada tahun 2003 telah dilatihnya wanita rawan sosial ekonomi sebanyak 20 orang. anak Balita terlantar sebanyak 1.6.4. fakir miskin 260. penyandang cacat 12. Terbinanya anak terlantar 45 orang dan terlatihnya petugas Satgasos penanggulangan bencana sebanyak 30 orang. advokasi bantuan hukum bagi 70 orang sedangkan pada tahun 2004 telah terbinanya 30 orang P2WKSS. Melalui bantuan perlengkapan sekolah 30 jiwa. orang dan 11. 45 orang remaja putri. telah dilaksanakan kegiatan pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial. anak terlantar 30 orang dan korban narkoba 60 orang. pengurus organisasi perempuan tingkat kecamatan 43 orang. Permasalahannya menunjukan bahwa penduduk yang memerlukan perlindungan dan pelayanan sosial masih cukup tinggi. penunjang operasional Orsos perempuan berjumlah 3 Orsos. anak terlantar berjumlah 4. Dalam menunjang pemberdayaan perempuan. Untuk mengatasi masalah-masalah sosial dengan memberikan pelayanan sosial.916 orang. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -43 . Pemberdayaan Perempuan.

Rehabilitasi Panti Tuna Sosial 1 unti.000 jiwa.7. Pekerja Sosial masyarakat sebanyak 170 jiwa. Bintek petugas sukarelawan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus HIV sebanyak 100 orang serta pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang masalah sosial. Bantuan K3S sebanyak 1 paket. keluarga korban bencana alam sebanyak 1. bantuan dini korban bencana alam 4. keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 6. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -44 .189 jiwa dibina melalui bantuan bahan bangunan sebanyak 20 KK. Dalam rangka menunjang kegiatan pelayanan perlindungan sosial telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan melalui pelatihan dan sosialisasi program seperti pada tahun 2003 dilaksanakan pelatihan bagi 100 petugas sukarelawan pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan tahun 2004 terlaksananya Bintek Satgasos PB 40 jiwa. Kegiatan yang pernah dilaksanakan baru pada pemberian bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 rumah pada tahun 2004.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.128 KK dibina 0. nampaknya dalam belum menjadi program/kegiatan pemerintah daerah yang serius padahal pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bandung cukup tinggi. Bintek manajemen Panti sosial untuk pengurus 30 jiwa. Permasalahan yang dihadapi adalah masih tingginya kebutuhan rumah yang diperuntukan bagi warga miskin dan penyandang tuna sosial. 2. Perlindungan Sosial lainnya. Operasional penanggulangan NAPZA/pekat melalui BKND dan pembentukan KPAD sebanyak 1 paket. Dari data tahun 2004.6.6. Pembinaan Karang Taruna sebanyak 120 jiwa.6 Bantuan Perumahan Perlindungan sosial dalam memberikan bantuan rumah tangga melalui pemenuhan biaya perumahan atau penyediaan bantuan sewa serta penyediaan rumah dengan harga terjangkau. Rehabilitasi Pusat Pordu KUBE Fakir Miskin 1 unit dan Peningkatan/pemeliharaan Taman Makam Pahlawan 5 unit.

900 m2 terletak di Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran. Katapang dan Cileunyi luas tanah fasos fasum yang digunakan berjumlah 451. Ngamprah. penataan taman kota (taman kota Ciwidey. Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan dan Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua.580 m2. pembangunan prasarana lingkungan permukiman dalam rangka P2WKSS dan TMMD Bidang Kimtawil.000 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan menjaga kualitas sarana prasaranan komunitas permukiman yang ada. taman green strip di jalur Kota Soreang dan Jalan Raya Soreang. taman dan trotoar alun-alun Cililin. taman kota segitiga Lembang). Pengembangan Perumahan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -45 . 2.7. taman kota Baleendah. sementara itu di Kecamatan Ciparay.7.540 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. Cilengkrang. taman alun-alun Ciparay.1. Pada sub fungsi pengembangan perumahan hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah terbangunnya 130 lokasi perumahan pengembang yang tersebar di 45 kecamatan dan terbangunnya rumah susun sewa Kulalet. Pada tahun 2004 luas tanah fasos fasum yang digunakan oleh 4 pengembang berjumlah 315. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman adalah masih banyaknya komunitas permukiman yang lingkungannya kumuh.7 Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum 2. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pengembangan perumahan adalah belum semua pengembang menyelenggarakan/membangun fasos-fasum yang diperlukan masyarakat.2 Sub Fungsi Pemberdayaan Komunitas Permukiman Pada sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun 2004 antara lain pembuatan kantor jaga TPBU Cikadut Kecamatan Cimenyan. pengelolaan sarana dan prasarana taman dan makam. Desa Sukamukti Kecamatan Katapang.

Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi penerangan jalan adalah keterbatasan dana sehingga belum dapat memenuhi permintaan masyarakat akan lampu Penerangan Jalan Umum. Pencapaian pada tahun 2004 adalah terbangunnya sistem jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 46 unit. sumur dangkal 6 unit.3. Pada tahun 2003 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 510 Titik Cahaya tersebar di 18 kecamatan. reservoar 1 unit. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -46 . Disamping itu juga telah terbangun jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa sumur dangkal sebanyak 5 unit di Desa Talun dan Desa Mekarwangi Kecamatan Ibun. Pada sub fungsi penerangan jalan hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2002 telah dilakukan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 150 Titik Cahaya tersebar di 8 kecamatan. 41. terminal air 25 unit tersebar di 76 desa.592.38 % dari seluruh pajak yang diterima. sambungan rumah (SR) 292 buah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 2. reservoar 23 unit.7. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi penyediaan air minum adalah belum terpenuhinya kebutuhan air bersih masyarakat.293 m.7.4 Sub Fungsi Penerangan Jalan Keberadaan lampu penerangan jalan umum sangat penting mengingat pajak yang diperoleh dari penerangan jalan umum pada tahun 2004 telah memberi kontribusi yang besar kepada penerimaan pajak yaitu Rp.810.938. BPT 25 unit.. Penyediaan Air Minum Pada sub fungsi penyediaan air minum hasil–hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2003 yaitu termanfaatkannya sistem perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 15 unit. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara fasilitas Penerangan Jalan Umum yang sudah ada. pemasangan pipa 136. sumur bor (sumur dalam) 26 unit. BPT 15 unit.atau 88.945 m tersebar di 12 desa. dan pemasangan pipa 57. Sedangkan pada tahun 2004 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sejumlah 219 Titik Cahaya tersebar di 9 kecamatan.

bangunan industri 20 kali.7.3 m2 TPSA (tersebar di tiga lokasi yaitu di Kecamatan Ciparay. 174 unit gerobak sampah. bangunan industri 21 kali. Sampai dengan tahun 2004 sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bandung adalah 57 unit kendaraan. 650 m drainase di Pasar Cikalong Wetan dan 870 m drainase di Desa Sukapura Kecamatan Dayeuhkolot. Cicalengka.640 m Sungai Cimariuk di Desa Sayati.430 m3/ bulan. Kecamatan Pasirjambu. 2. Pada tahun 2002 dicapai pembangunan drainase di Kecamatan Margahayu yaitu 30 m di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. 70 m di Desa Margahayu Selatan.280 Kepala Keluarga dan jumlah sampah yang terangkut adalah 34. dan 1200 m2 UDPK. Permasalahan yang ada pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya adalah belum seluruh wilayah memiliki sistem drainase.5 Sub Fungsi Perumahan dan Permukiman lainnya Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil-hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2001 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. 658 m di Desa Sayati.500 m di Kota Margahayu yaitu di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. 14. belum optimalnya pemilikan sarana BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -47 . dan lain-lain 13 kali. Pada tahun 2004 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 122 kali dengan rincian bangunan perumahan 58 kali. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil yang telah dicapai selain drainase adalah pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. Pada tahun 2003 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 110 kali dengan rincian bangunan perumahan 50 kali. bangunan umum 15 kali. Kecamatan Lembang). dan lain-lain 12 kali. Majalaya. bangunan umum 28 kali.000 m Sungai Cikungkurak di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu. 29 unit land container. bangunan gedung 12 kali.457 m yaitu 1. Dari keseluruhan sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki maka pada tahun 2004 baru dapat terlayani 63. Pada tahun 2003 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya masalah penanganan persampahan memegang peranan penting.080 m di Kecamatan Lembang. Lembang dan Padalarang. Juga telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan petugas pemadam kebakaran sebanyak 60 orang dan sosialisasi Perda No 25 dan No 26 tahun 2000 kepada perusahaan-perusahaan di wilayah Kecamatan Soreang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Sedangkan pencapaian pada tahun 2004 adalah pembangunan drainase perkotaan 4.

1 Sub Fungsi Pelayanan Umum Pada fungsi pelayanan umum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi berbagai jenis pelayanan umum yaitu : pelayanan kesehatan. SPM bidang pertanian. pelayanan ijin pemanfaatan tanah. Fungsi Pelayanan Umum 2. serta SPM bidang perindustrian dan perdagangan. serta masih terbatasnya lahan pengolahan persampahan.8. pelayanan ijin pemanfaatan hutan. pelayanan Ijin Gangguan (HO). pelayanan pemeriksaan hewan ternak. pelayanan pemakaman. Dalam fungsi pelayanan umum juga dilakukan upaya untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui kemandirian kecamatan/desa/kelurahan yaitu dengan pendelegasian sebagian kewenangan yang ditandai dengan disusunnya Keputusan Bupati No. pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan. Pada fungsi pelayanan umum telah dilakukan mekanisme penataan ketatalaksanaan pelayanan publik melalui penyusunan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yaitu SPM bidang pendidikan. pelayanan jasa usaha terminal. pelayanan pengujian kendaraan bermotor. pelayanan biaya cetak Akte Catatan Sipil. hasil ternak dan hasil ikutannya. dan pelayanan perijinan penyelenggaraan koperasi. pelayanan jasa usaha penjualan produksi usaha daerah. pelayanan jasa usaha penyedotan kakus.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung prasarana pemadam kebakaran. pelayanan jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga. pelayanan ijin ketenagakerjaan. pelayanan pemeriksaan alat pemadam kebakaran. pelayanan perijinan perdagangan. 21/2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Bupati ke Camat dan Keputusan Bupati No. 8/2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat. SPM bidang koperasi dan usaha kecil menengah.8. pelayanan jasa usaha kebudayaan dan pariwisata. pelayanan perijinan transportasi. pelayanan jasa usaha pemakaian kekayaan daerah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -48 . pelayanan parkir di tepi jalan umum. dan masih minimnya peralatan pengolahan persampahan yang dimiliki. pelayanan persampahan/ kebersihan. pelayanan jasa usaha RPH. pelayanan biaya cetak KTP. pelayanan perijinan industri. pelayanan pasar. pelayanan izin pembuangan limbah cair. SPM bidang kesehatan. 2.

LSM dan Aparatur Pemerintah. 3. 2. pembiayaan. FORKONKOMDA (Forum Konsultasi dan Komunikasi Daerah) tingkat Kabupaten Bandung. dengan hasil terbentuknya kepengurusan BAKOMKESBANG (Badan Komunikasi Kesatuan Bangsa). Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah.2 Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pada Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya.8. Mewujudkan pemahaman serta pendewasaan berpolitik masyarakat yang sehat dan demokratis. Masih minimnya Standar Pelayanan Minimal. bagi lancarnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. 4. Tokoh Masyarakat dan Aparatur Daerah terhadap 80 orang. Forum Konsultasi dan Komunikasi antar Tokoh Agama. Mewujudkan situasi dan kondisi yang tentram. Ormas. dengan terbentuknya KOMINDA (Komunitas Intelejen Daerah). penyaluran dana bantuan Partai terhadap Parpol yang mendapat kursi di legislatif sebagai upaya BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -49 . Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan bidang politik bagi Infra dan Supra Struktur Politik tingkat Kabupaten Bandung. Belum efektifnya pelayanan publik melalui SIMDA terpadu. telah melaksanakan kegiatan dalam rangka : 1. Forum Komunikasi dan Konsultasi Penetapan Stabilitas Daerah bagi aparat intelejen di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 60 orang. 2. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan umum adalah : 1. dan SDM yang memadai. Upaya pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke kecamatan/ desa/ kelurahan belum sepenuhnya didukung oleh sarana prasarana. yang diselenggarakan terhadap 159 orang dari Pengurus Parpol.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik juga dilaksanakan pembangunan sistem aplikasi 17 buah jumlah unit kerja yang terkoneksi pada jaringan LAN SIMDA sebanyak 14 unit kerja plus Ruang Bupati. 2. Belum optimalnya pelayanan kepada publik yang ditandai dengan masih banyaknya keluhan masyarakat tentang mekanisme dan tarif pelayanan yang tidak transparan.

2. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan lainnya yaitu terdapatnya kecenderungan pergeseran nilai budaya masyarakat yang mengarah kepada budaya kurang santun. Permasalahan semakin bertambah dengan adanya bencana longsor di TPA Leuwi Gajah yang berdampak pada pengelolaan persampahan selanjutnya di Kabupaten Bandung. 14.1% untuk wilayah perkotaan. tahun 2003 15% untuk Kabupaten dan 35% untuk wilayah Perkotaan dan pada tahun 2004 cakupan menjadi 15. 27 unit land container.45% untuk Kabupaten dan 29.8% untuk perkotaan. Sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki sampai dengan tahun 2005 adalah 57 unit kendaraan. eforia demokrasi secara berlebihan serta belum optimalnya proses demokratisasi dalam menampung aspirasi masyarakat. limbah domestik/non industri masih menjadi permasalahan yang sangat penting. 330m2 UDPK. dalam rangka tertib administrasi sesuai Permendagri Nomor 5 Tahun 1986 dan Inmendagri Nomor 8 Tahun 1990.9.3 ha TPSA.1 Manajemen Limbah Sampai saat ini. Pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung sampai saat ini belum dapat dikatakan optimal karena masih terbatasnya cakupan pelayanan dan pengelolaan sampah yang masih tradisional.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung meningkatkan kemandirian partai politik (dengan rincian: hasil Pemilu 1999 sebanyak 9 Parpol. TPSA di 3 lokasi (Kecamatan Ciparay. 164 unit gerobak sampah. Pemetaan Ormas. pada tahun 2002 meningkat menjadi 14.9 Fungsi Lingkungan Hidup 2. LSM dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan. pelatihan Ketahanan Bangsa bagi Infra dan Supra Struktur Politik sebanyak 160 orang dalam rangka peningkatan kewaspadaan Nasional. Pasirjambu dan Lembang).9% untuk Kabupaten dan 34. Pada tahun 2001. Hal tersebut karena berkaitan dengan produk limbah yang sangat besar namun tidak diimbangi dengan penanganan yang memadai. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -50 . cakupan pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung baru sekitar 12.4% untuk Kabupaten dan 36% untuk wilayah perkotaan di Kabupaten Bandung. dan Pemilu 2004 sebanyak 8 Parpol).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup. Namun hingga tahun 2003 terdapat 7% industri yang masih belum memiliki IPAL dan 10 % dari IPAL yang ada harus ditingkatkan mutunya.376 kg COD/hari dan 627. 74% diantaranya telah memenuhi baku mutu dengan efisiensi IPAL rata-rata 50%. Margahayu dan Katapang. pada tahun 2003 telah dilakukan studi kelayakan IPAL terpadu Majalaya dan pada tahun 2005 akan dilakukan penyusunan studi kelayakan IPAL Batujajar. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan bahwa beberapa parameter berada diatas baku mutu yang telah ditentukan.9.622 BOD/musim.3 Sub Fungsi Penanggulangan Polusi Adanya aktivitas industri dan non industri di Kabupaten Bandung telah mengakibatkan menurunnya kualitas udara.686 ton BOD/hari. dengan hasil pemantauan kualitas udara sebagai berikut : • Tahun 2001.2 Manajemen Air Limbah Di Kabupaten Bandung terdapat 204 buah industri yang menghasilkan limbah cair.79 kg deterjen/hari. COD dan detergen dari air limbah penduduk yaitu 136. sementara di sisi lainnya penanganan polusi udara dirasakan masih belum optimal. Rancaekek.022 ton P/hari dan 23. terdapat pula air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik/non industri.9. potensi beban dari air limbah peternakan sebesar 60. 58. 179. Selain air limbah yang dihasilkan dari proses industri. masih rendahnya penanganan limbah domestik/non industri ditandai dengan dengan tingginya kandungan BOD. Hasil pemantauan terhadap 198 industri. 29. Dari 204 buah industri seharusnya dapat dilayani oleh 170 buah Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL (karena terdapat beberapa industri yang digabung pengolahannya dan terdapat industri yang memiliki 2 buah IPAL).2 ton pestisida/musim dan dari air limbah RS sebesar 1. Padalarang. Berkaitan dengan pembangunan IPAL terpadu. Cipatat. hasil pengukuran pada 50 titik di 42 Kecamatan menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu NOx di Kecamatan Cikalongwetan.200 Mg BOD/et atau 80% dari debit air. dari limbah pertanian yaitu 330.043 ton N/musim. O3 (ozon) di Kecamatan Sindangkerta dan PM 10 di Kecamatan Cililin dan Margahayu.193 kg BOD/hari. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -51 . Ngamprah. 2.

Alun-alun Majalaya. Bojongsoang-Buahbatu. KopoSayati. Alun-alun Majalaya. Zone Industri Cisirung-Dayeuhkolot. Jl Padalarang-Cimareme. yaitu untuk kualitas udara bebas (ambient). hasil penelitian kualitas udara di zona industri kapur dan marmer Padalarang menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -52 . kualitas udara di lingkungan kerja. Kopo-Sayati dan Jl Padalarang-Cimareme. Kopo-Sayati. hasil pengukuran kualitas udara ambient pada 15 titik (2 kali pengukuran) menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu dustfall antara lain di lokasi Jl. TPA Leuwigajah dan Zone Industri Majalaya serta CO (Karbon Monoksida) di lokasi Jl. kualitas emisi sumber bergerak dan pemeriksaan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. kualitas udara emisi cerobong. Tahun 2003.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. partikulat (debu) di lokasi antara lain Jl.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Subang Sumedang Batujajar Cimahi Ujungberung Rancaekek Dayeuhkolot Cianjur Banjaran Majalaya Gn Wayang Sebaran Industri IPAL terpadu Garut : Sangat buruk (DO < 2 ppm) : Buruk (2<DO<3 ppm) : Baik (DO>3 ppm) Gambar 2.6 Kondisi Air Sungai Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -53 .

perlindungan tebing sungai serta sarana jalan dan saluran. pagar hidup. sosialisasi PP 17 dan PP no 18 tahun 1999 tentang Pengawetan dan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 dilaksanakan pendataan bidang keanekaragaman hayati. dam penahan.15 Ha yang berlokasi di 36 Kecamatan dan Kecamatan Pangalengan tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 2. dan kegiatan sipil teknis yaitu pembuatan sumur resapan. kebun pekarangan. Selain itu dilaksanakan pula kegiatan pembinaan.9. Sampai dengan tahun 2004 tercatat luas hutan rakyat menjadi 17. kebun rakyat. rehab teras dan UP-UPSA.70 Ha. waduk. tata air. yang diantaranya : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -54 .725 ha. 2.4 Sub Fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Upaya konservasi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bandung khususnya bidang kehutanan dan konservasi tanah dilakukan melalui program Rehabilitasi Lahan Kritis dan Konservasi Tanah. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa kegiatan vegetatif yaitu hutan rakyat. Upaya konservasi lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah di bidang keanekaragaman hayati berupa studi pelestarian puyuh gonggong. luas lahan kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 32. situ. pelatihan dan pemberdayaan masyarakat oleh para Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL).534. penyuluhan. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya upaya konservasi SDA yang dilakukan pemerintah yang ditandai oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam dan belum optimalnya kemitraan yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat.9. Sampai saat ini. kebun pekarangan. pasal 28 tentang kawasan budidaya pertanian dan pasal 30 tentang kawasan budidaya non pertanian. Dalam perda tersebut ditetapkan antara lain pasal 26 tentang kawasan lindung.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.919. gully plug.5 Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2001 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung tahun 2001 – 2010. danau dan DPS.

dengan luas wilayah 39. Kawasan hutan rakyat. dengan luas wilayah 324 ha.284 ha. a. dengan luas wilayah 62 ha. Kawasan peternakan/besar. g. e. b. f.943 ha.999 ha meliputi. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan. Kawasan pertambangan. c. dan Kecamatan Solokanjeruk seluas 2 ha. 5) Zona Padalarang yang meliputi Kecamatan Padalarang seluas 600 ha. d.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. 3. a. 3) Zona Rancaekek yang meliputi Kecamatan Rancaekek seluas 252 ha dan Kecamatan Cileunyi seluas 71 ha.375 ha. dengan luas wilayah 53. Kawasan hutan suaka alam. Kawasan/Zona Industri. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. dengan luas wilayah 7. Kawasan pangan lahan kering. dengan luas wilayah 57. Kawasan hutan produksi. e. Kawasan pangan lahan basah. Kawasan Budidaya Pertanian. Kawasan Lindung a. b.014 ha meliputi. dengan luas wilayah 5. Kawasan hutan pelestarian alam/THR. c.613 ha. Kecamatan Paseh seluas 60 ha.975 ha.917 ha. dengan luas wilayah 24. b. Kawasan Budidaya Non Pertanian.805 ha. f. d. dengan luas wilayah 182. Kecamatan Ciparay seluas 5 ha. dengan luas wilayah 44. Kawasan perairan. Kawasan perlindungan setempat.269 ha. dengan luas wilayah 9. 2) Zona Majalaya yang meliputi Kecamatan Majalaya seluas 403 ha. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -55 . 4) Zona Cisiung yang meliputi Kecamatan Dayeuhkolot seluas 495 ha. Kawasan perikanan. dengan luas wilayah 1. Kawasan rawan bencana. dengan luas wilayah 2. dengan luas wilayah 391 ha. 2. dengan luas wilayah 48.200 ha.385 ha yang terbagi dalam zona: 1) Zona Leuwigajah (sudah masuk dalam Kota Cimahi) kecuali Margaasih seluas 55 ha.

8) Zona Cimareme yang meliputi Kecamatan Batujajar seluas 360 ha. Kecamatan Ngamprah seluas 118 ha. Kawasan permukiman. untuk kawasan permukiman perkotaan seluas 4. yaitu sebagian wilayah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -56 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6) Zona Baleendah yang meliputi Kecamatan Baleendah seluas 137 ha dan Kecamatan Bojongsoang seluas 23 ha. dan Kecamatan Arjasari seluas 237 ha. 3) SKW Tangkuban Parahu. 5) SKW Saguling. Sistem perkotaan di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 4 (empat) hirarki yaitu : Hirarki I. Kecamatan Cileunyi 442 ha.500 ha.026 ha.719 ha. Kecamatan Solokan Jeruk 903 ha. Kawasan tertentu (pembentukan kota baru). 8) SKW Ujungberung.542 ha. dan 500 ha untuk pembuatan waduk reservoar. diperuntukan bagi pembentukan kota baru Tegalluar seluas 3. terbagi kedalam Satuan Kawasan Wisata diantaranya : 1) SKW Maribaya. Kecamatan Rancaekek 1. Sistem perkotaan di dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung diarahkan berdasarkan fungsi masing-masing hirarki dan fungsi masingmasing kota. meliputi Kecamatan Bojong-Soang 639 ha. 6) SKW Situpatenggang. e. dan Kecamatan Cililin seluas 100 ha. d. Kecamatan Pameungpeuk seluas 96 ha. c. 2) SKW Lembang. 7) Zona Banjaran yang meliputi Kecamatan Banjaran seluas 46 ha. 10) Zona Cikancung yang meliputi Kecamatan Cikancung seluas 418 ha dan Kecamatan Cicalengka seluas 121 ha. 7) SKW Pangalengan. Kota-kota yang secara fisik cenderung menyatu dengan Kota Bandung dan diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan Kota Bandung. Kawasan pariwisata. 9) Zona Katapang yang meliputi Kecamatan Katapang seluas 155 ha dan Kecamatan Soreang seluas 50 ha. dengan luas wilayah 28. 4) SKW Ciburuy.

Kota-kota hirarki I berperan sebagai penunjang rembesan pertumbuhan Kota Bandung sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan invasi pertumbuhan ke kawasan-kawasan persawahan subur sebagai sabuk hijau yang mengelilingi dan memisahkan Kota Bandung dengan kota-kota kecil di sebelah selatan. Ciparay. Cileunyi dan sebagian wilayah Kecamatan Rancaekek. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -57 . dan Cililin. Ngamprah dan Batujajar). Hirarki III. Ciwidey (sebagian wilayah Kecamatan Ciwidey dan Pasirjambu). Baleendah. Ibun dan Paseh) dan Padalarang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Padalarang. Banjaran (termasuk Kecamatan Pameungpeuk). Cipongkor. Dayeuhkolot. Bojongsoang. Sindangkerta. Rancabali. Majalaya (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Majalaya. Ibukota Kecamatan yang diarahkan berfungsi sebagai pusat pelayanan/pengembangan pedesaan. Kota-kota yang dipacu pertumbuhannya untuk menerima limpahan pertumbuhan Kota Bandung dikategorikan Hirarki III-A yaitu kota Cicalengka (termasuk sebagian wilayah Kecamatan Cikancung). Hirarki II.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kecamatan Parongpong. Gununghalu. Hirarki IV. terdiri atas Kota Soreang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Soreang dan Katapang). Kota-kota Hirarki III-B meliputi Kota Pangalengan. Kota-kota hirarki IV berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan. Kecamatan Margaasih. Rajamandala (Cipatat). Kota-kota satelit yang mengemban peran khusus dalam sistem Metropolitan Bandung atau kota-kota yang akan mengalami pertumbuhan cukup pesat. yaitu Cipeundeuy. Cikalongwetan dan Cisarua. Pacet dan Kertasari. Margahayu. Lembang. Kota-kota yang diarahkan menjadi kota menengah yang mandiri sebagai sembrani tandingan (counter magnet) Kota Bandung dan menjadi pengembangan pusat regional.

pendidikan militer. dilaksanakan pengesahan RDTRK Soreang. industri Pemukiman Pemukiman. Pemukiman Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian timur. Pariwisata Pemukiman. perangkutan ( terminal ) Pemukiman. dilaksanakan penyusunan RDTRK Majalaya. Pangalengan dan Ciwidey. Rendahnya efektivitas penataan ruang dipengaruhi oleh faktor antara lain belum optimalnya kualitas dan kuantitas produk Rencana Tata Ruang serta penegakan hukum yang masih lemah. industri Pariwisata. Industri. Pada tahun 2004 dilaksanakan review RDTRK Banjaran. Selama tahun 2001 s/d 2004 perkembangan penyediaan dokumen tata ruang adalah sebagai berikut : • • • • Pada tahun 2001 dilaksanakan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Soreang. Lembang. pemukiman Pemukiman.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. Pemukiman. agropolitan Industri rakyat/ kecil. industri. Rancaekek dan Cileunyi. Rancaekek dan Cileunyi. Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan. industri Pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. agropolitan Pariwisata. Pada tahun 2003.18 Hirarki Kota-kota di Kabupaten Bandung Kota Kecamatan Margaasih Kecamatan Margahayu Kecamatan Dayeuhkolot Kecamatan Baleendah Kecamatan Bojongsoang Kecamatan Cileunyi Kota Rancaekek Kota Soreang II Hirarki Fungsi Pemukiman Pemukiman. Ciparay dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -58 . Pada tahun 2002. Fasilitas sosial Pemukiman Pemukiman. pertambangan Agropolitan I Kota Padalarang Kota Majalaya Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cicalengka Ciparay Banjaran Lembang Cililin Pangalengan Ciwidey Cikalongwetan Rajamandala Cisarua Cipeundeuy Sindangkerta Gununghalu Cipongkor Rancabali Pacet Kertasari III IV Berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan Sumber : RTRW Kabupaten Bandung Permasalahan sub fungsi Tata Ruang adalah meningkatnya kegiatan perkotaan di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya disertai oleh penyediaan instrumen perencanaan tata ruang detail yang memadai sehingga membawa konsekuensi tersendiri pada pembangunan sub fungsi Tata Ruang. Pemukiman Pemukiman. agropolitan Pemukiman. Pariwisata. penelitian Pemukiman. Industri rumah/ kerajinan Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian barat. pendidikan militer Industri. Industri. Perangkutan dan Perdagangan.

092 buah. 3.000 seluas 3. penyelesaian perkara hukum sebanyak 11 kasus. Keputusan Bupati 853 buah. 12. surat perjanjian 29 buah. Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 2.300 ha pada tahun 2002. Permasalahan Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan terutama pada masalah : 1. Instruksi Bupati 1 buah. 19. Keputusan Bupati 545 buah. Keputusan Bupati 1. Belum optimalnya pemanfaatan ruang. 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain itu.10 Fungsi Ketertiban dan Keamanan 2. rencana pengembangan pusat-pusat wilayah dsb. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang. Instruksi Bupati 2 buah. • Pada tahun 2003 diterbitkan produk hukum berupa Perda 11 buah. Surat Perjanjian 29 buah serta BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -59 .210 ha pada tahun 2004. untuk menunjang peningkatan kualitas penataan ruang telah dilakukan penyediaan peta digital dan peta garis yaitu peta digital dan peta garis skala 1 : 5. dan operasi penertiban dan penegakan Peraturan daerah yang berhubungan dengan perijinan perusahaan. • Pada tahun 2002 diterbitkan produk hukum berupa Perda 18 buah. Belum optimalnya perencanaan tata ruang.500 ha pada tahun 2001. surat perjanjian 27 buah serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. dan 4. Instruksi Bupati 6 buah. operasi penegakan hukum melalui razia gabungan terhadap Pekerja Seks Komersial.1 Pembinaan Hukum Pada sub fungsi pembinaan hukum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 diterbitkan produk hukum berupa Perda 29 buah. terutama pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan budidaya di kawasan lindung. serta sosialisasi Peraturan Daerah ke 15 kecamatan. seperti rencana pembangunan Tegalluar.500 ha pada tahun 2003.10. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang dapat dijadikan acuan pembangunan wilayah dan kota 2. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang telah diimplementasikan dalam wujud pemanfaatan ruang. serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus.

belum optimalnya sosialisasi produk hukum dan bantuan hukum terhadap kasus hukum yang cenderung meningkat. dan penyelesian perkara hukum sebanyak 3 kasus. operasi penertiban dan penegakan Peraturan Daerah ke perusahaan. Keputusan Bupati 264 buah. dan belum optimalnya upaya pembaharuan dan penyusunan produk-produk hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pembinaan hukum adalah belum optimalnya upaya penegakan supremasi hukum yang ditandai masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda dan aturan hukum lainnya. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -60 . pembinaan keluarga sadar hukum di wilayah Kabupaten Bandung. serta sosialisasi Peraturan daerah ke 4 kecamatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pada tahun 2004 diterbitkan produk hukum berupa Perda 4 buah. Instruksi Bupati 1 buah. surat perjanjian 6 buah.

7 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -61 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004 Gambar 2.

000 -46.000 1983-1993 1993-2002 1983-2002 34.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1983 54. 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -62 .000 Perubahan Lahan (Ha) 14.8 Peta Perubahan Guna Lahan Kabupaten Bandung Sumber: Wangsaatmaja.000 -26.000 -6.000 Danau/Waduk Fasum Lahan Terbuka Pertanian/Saw ah Tegalan Perkebunan Semak/Rumput Sub Urban Belukar Industri Hutan Urban Penggunaan Lahan Jenis Tutupan Lahan % Perubahan Tutupan Lahan DAS Citarum Hulu Jenis Lahan Hutan Perkotaan Industri Belukar Lahan terbuka Pertanian 2002 1983-1993 (%) -18 105 618 45 52 -15 1993-2002 (%) -44 62 35 93 22 -47 1983-2002 (%) -54 233 868 181 86 -55 Gambar 2.

Pencapaian Indikator Makro Sosial Indikator makro sosial yang dijadikan penilaian bagi keberhasilan pembangunan antara lain adalah Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). PGOT 20 kali. prostitusi 1 kali. prostitusi 12 kali. dan Tingkat Partisipasi Sekolah. penertiban pasar 2 kali. penertiban reklame 3 kali. tawuran 7 kali. PGOT 5 kali. Pam Asset Pemda 12 kali. Angka Melek Huruf (AMH). Pam Gerakan Disiplin Daerah 5 kali. PGOT 4 kali. prostitusi 5 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. perjudian 2 kali. perjudian 5 kali. • Pada tahun 2002 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 16 kali. Rasio Ketergantungan. unjuk ras 12 kali. unjuk ras 19 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. Angka Harapan Hidup (AHH). perjudian 5 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. penertiban perijinan perusahaan 12 kali dan penertiban pasar 1 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. penertiban reklame 2 kali dan penertiban pasar 3 kali. penertiban minuman beralkohol (miras) 12 kali. perjudian 28 kali. unjuk rasa 15 kali. Prostitusi 5 kali. Keamanan dan Hukum Lainnya Pada Sub Fungsi Ketentraman dan Ketertiban serta Penegakkan Perda sampai dengan Tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 dilakukan upaya penertiban/pengamanan PKL 12 kali. penertiban minuman beralkohol ( Miras ) 2 kali. 2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). • Pada tahun 2003 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 20 kali. PGOT 5 kali. • Pada Sub Fungsi Tramtibum dan Penegakan Perda dengan dilaksanakannya pelatihan keterampilan pelaksanaan Kader Sat Pol PP sebanyak 150 orang anggota. unjuk rasa 22 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 3 kali.10. • Pada tahun 2004 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 22 kali.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.11. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -63 . penertiban/penegakan kependudukan/KTP 10 kali dan Pam Bencana Alam 12 kali.2 Sub Fungsi Ketertiban. penertiban pasar 3 kali. Angka Kematian Bayi (AKB). Pam Aset Pemkab 12 kali.

411 jiwa) dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2003 yaitu sebanyak 4. Gambar 2.500.000. Dengan demikian.145.017.500.500.000.000 3.582 2.963.11.053.675 1.9 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN BANDUNG 4.058. mengalami peningkatan jika dibandingkan AHH tahun 2003 sebesar 65.64%.11.19%.967 4. LPP tersebut dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yaitu sebanyak 4.053.000 - 4.85 tahun (dari proyeksi sebesar 66. 2.907 2003 2004 Laki-laki Perempuan Jumlah LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -64 .15 tahun).087. Kecamatan yang memiliki AHH tertinggi adalah Kecamatan Ibun sebesar 67.000 3.45 tahun dan yang terendah adalah Kecamatan Cipongkor sebesar 56.411 2.907 jiwa).500.4 tahun.000 2.017.6 tahun. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan.963.967 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.000.087.556 jiwa dan perempuan 2.000 1.145.2 Angka Harapan Hidup (AHH) Pencapaian AHH tahun 2004 adalah sebesar 65.000 500.582 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.1. Laju Pertumbuhan Penduduk LPP Kabupaten Bandung dalam kurun waktu 2003-2004 tercatat sebesar 3.000 2.556 2.000.675 jiwa dan perempuan 1.000 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.058.000 4.

2 65.8 65.50) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKB tahun 2003 sebesar 47.37 47.7. Realisasi AKB tahun 2004 tercatat sebesar 46.4 65.5 47 46.25.85 AHH (Tahun) 65.5 2003 2004 46.7 65.3 Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran. Menurut data Suseda.1 65. penolong pertama kelahiran bayi. imunisasi ibu.2 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) 65.11 AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil.5 65. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -65 . Kecamatan yang memiliki AKB tertinggi adalah Kecamatan Cipongkor yang mencapai 72. dan ANC ( Antenatal Care ).5 46 45.3 65.9 65. gizi.11.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.7 Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup Tahun Gambar 2.6 65. Semakin kecil AKB maka semakin sedikit pula bayi yang meninggal di bawah satu tahun.4 2003 2004 Tahun Gambar 2.10 2.37 jiwa per 1000 kelahiran hidup (dari proyeksi sebesar 43.96 dan yang terendah adalah Kecamatan Parongpong dengan AKB sebesar 39. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) 48 47.

03 %. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu angka yang menunjukkan tingkat penduduk yang aktif secara ekonomi atau angkatan kerja. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Rancabali. Rongga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 sebanyak 59.12 2.66%. kiranya perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuk dapat mengejar ketertinggalan tersebut.10 % PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Tenaga Medis Dukun Famili/lainnya Gambar 2.4.83. dan 1. diperoleh dengan membagi besarnya angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan) dengan jumlah penduduk usia kerja. 38.79 % relatif jauh tertinggal jika dibandingkan TPAK penduduk laki-laki yang mencapai 74. dan Cipongkor. Data Suseda menunjukkan TPAK Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat sebesar 52. Dari perspektif jender.4 Pertolongan Kelahiran Bayi Famili/lainnya. TPAK perempuan di Kabupaten Bandung yang mencapai 30. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena sebagian besar perempuan usia produktif masih berada pada posisi sebagai ibu rumah tangga. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -66 .96% oleh dukun. 38. 1.10% kelahiran bayi ditolong oleh tenaga medis. Grafik 2.96% Tenaga Medis.94% ditolong oleh famili/lainnya. yang mengalami sedikit kenaikan bila dibandingkan dengan TPAK tahun 2003 sebesar 51.11.84%.94% Dukun. Dengan melihat kondisi tersebut dan jika dikaitkan dengan pencapaian AKB rata-rata Jawa Barat yang pada tahun 2003 telah mencapai 43. 59.

84%.00% 52.00% 50.50% 51.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.84% Gambar 2. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten perlu mengantisipasi agar penduduk usia lanjut tersebut tidak menjadi beban bagi penduduk usia produktif.00% 51. yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup masyarakat Kabupaten maka akan berdampak pada bertambahnya penduduk usia tua yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio ketergantungan. Data Suseda menunjukkan angka beban ketergantungan tahun 2004 tercatat 52. Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh golongan penduduk umur produktif.11.03% TPAK 52.00% 2003 2004 51. Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0 -14 tahun ditambah penduduk berusia di atas 65 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15-64 tahun.50% 50.50% 52. Hal ini menunjukan pada tahun 2004 terdapat penurunan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif.48 % yang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2003 yaitu 55.5.5 ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) 53. Jika dikaitkan dengan keberhasilan di sektor Kesehatan.13 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -67 .

40% 98.23% Tahun Gambar 2. Apabila dibandingkan antara AMH pada penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami buta huruf dibandingkan penduduk laki-laki.11.00% 56.58%.15 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -68 .6 RASIO KETERGANTUNGAN RASIO KETERGANTUNGAN 57. Grafik 2.23% (dari proyeksi sebesar 97.20% 98.40 %) dan mengalami peningkatan jika dibandingkan AMH tahun 2003 sebesar 97.384 jiwa yang belum bisa membaca dan menulis.5%.84% Gambar 2.00% 52.7 ANGKA MELEK HURUF ANGKA MELEK HURUF (AMH) 98.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.6 Angka Melek Huruf (AMH) AMH Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat 98.80% 97.00% 51. Dengan pencapaian AMH tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bandung sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis serta hanya sekitar 1.50% AMH 98.00% 54.00% 53.00% 2003 Tahun 2004 52.40% 97. AMH pada penduduk laki-laki tercatat sekitar 99 % dan pada perempuan sekitar 97.48% Rasio Ketergantungan 55.00% 50.20% 97.60% 97.77% penduduk atau sekitar 73.00% 55.00% 2003 2004 97.00% 97.14 2.

46 thn Realisasi 2003 65.5.52 Realisasi Jawa Barat 2004 65.52 mengalami peningkatan jika dibandingkan IPM tahun 2003 sebesar 67. tercatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah 8.65 thn 530.22 54.16 30.7. Tingkat Partisipasi dan Melanjutkan Sekolah Pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD.11.60 - Sumber : BPS Kabupaten Bandung Berdasarkan pencapaian tingkat partisipasi sekolah tersebut.37 thn 554.44 34.09 97.570 68.18 65.68 thn 534.03 thn 534. diharapkan komponen AHH tersebut BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -69 .01 77.200 67.40 % 7.4 thn 97.45 - Proyeksi (%) 2004 Realisasi (%) 93.70 % 7.38 29. realisasi IPM tahun 2004 sebesar 68.060 68.09 6.23 % 8.12. Dengan demikian.85 thn 98.50 Proyeksi 2004 66.21 95. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan capaian AHH.49 thn 515. 2.95 Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 Dari semua komponen IPM.20 Pencapaian Komponen IPM Kabupaten Bandung Tahun 2003-2004 dan Capaian Jawa Barat 2004 No 1 2 3 4 Komponen Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Daya Beli (Rp) IPM Proyeksi 2003 65.19 Pencapaian APM Kabupaten Bandung Tahun 2003 dan 2004 No 1 2 3 4 Tingkat SD/MIS SLTP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi 2003 Proyeksi Realisasi (%) (%) 95. AMH.03 tahun yang mengalami peningkatan jika dibandingkan RLS tahun 2003 sebesar 7.320 68. SLTP. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Bandung telah mengenyam pendidikan sekitar 8 tahun. Tabel 2.870 70.15 thn Realisasi 2004 65. SMU dan PT tahun 2003 dan 2004 untuk berbagai level pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.65 tahun. Proyeksi dan capaian dari komponen-komponen IPM tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 2.96% 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. dalam kurun waktu 2003 – 2004 hanya komponen AHH yang belum dapat memenuhi proyeksi sehingga berpengaruh terhadap pencapaian sesuai proyeksi.53 % 7. Walaupun pencapaian belum sesuai proyeksi.36 96. RLS dan pendapatan per kapita tahun 2004 telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM).90 55.34 thn 93.72 97.44 37.

52 68.21 dan proyeksi IPM Kabupaten hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.5 68.95 71 70 69 68 67 66 65 IPM 68.22 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -70 .36 Proyeksi 2003 Realisasi 2003 Proyeksi 2004 Realisasi 2004 Realisasi Jabar 2004 Gambar 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung perlu mendapat perhatian untuk penajaman kebijakan di tahun mendatang. PENCAPAIAN IPM KABUPATEN BANDUNG 70.16 Pencapaian IPM tiap kecamatan di kabupaten dapat dilihat pada tabel 2. Apabila dikaitkan dengan target IPM Propinsi Jawa Barat tahun 2010 sebesar 80 maka diperlukan upaya yang serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung melalui penajaman program-program prioritas untuk dapat mencapai angka tersebut.72 67.

92 533.64 527.99 68.14 530.23 7.22 67.77 98.00 66.12 96.95 98.95 9.93 98.20 69.55 62.85 65.59 99.98 68.82 93.53 98.15 65.63 69.43 97.05 62.34 91.54 534.62 10.27 525.68 529.00 523.71 98.03 65.02 98.79 6.10 535.47 541.00 541.32 8.83 99.73 521.76 99.24 517.25 65.65 63.50 8.28 70.05 97.85 8.35 6.69 98.65 64.51 70.65 7.51 97.05 64.75 64.64 67.05 65.93 65.70 64.64 534.55 99.90 529.15 69.69 68.34 64.61 93.53 6.45 65.60 60.65 67.98 8.49 7.16 64.87 540.63 7.25 66.63 544.43 99.78 97.63 98.81 68.39 7.52 67.00 7.51 PPP (ribu Rp) 545.86 67.45 531.95 61.85 65.65 62.37 524.73 99.95 67.25 AMH (%) 99.62 IPM 71.61 529.15 7.65 65.71 8.25 68.00 65.36 9.14 529.20 67.11 68.81 99.83 99.81 6.21 7.55 57.70 97.06 529.72 67.10 63.61 8.03 8.71 65.85 65.15 63.60 98.39 546.88 65.29 92.10 526.00 61.30 10.07 7.22 98.58 9.47 533.08 66.91 7.23 533.80 10 CIPARAY 11 MARGAASIH 12 CILENGKRANG 13 CIMENYAN 14 NAGREG 15 KATAPANG 16 MAJALAYA 17 PARONGPONG 18 CIMAUNG 19 SOREANG 20 CANGKUANG 21 PANGALENGAN 22 BANJARAN 23 PADALARANG 24 CIHAMPELAS 25 CILILIN 26 PASIR JAMBU 27 ARJASARI 28 CIKALONG WETAN 29 CICALENGKA 30 CIPEUNDEUY 31 SOLOKAN JERUK 32 RANCABALI 33 NGAMPRAH 34 BATUJAJAR 35 CIPATAT 36 CIWIDEY 37 SINDANG KERTA 38 CISARUA 39 PASEH 40 KERTASARI 41 PACET 42 GUNUNGHALU 43 CIKANCUNG 44 CIPONGKOR 45 RONGGA Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -71 .96 97.11 6.84 99.85 8.45 64.53 97.57 68.55 64.40 65.19 523.32 66.17 64.49 99.35 66.05 60.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.35 66.14 6.31 66.25 536.51 540.26 538.70 96.40 64.65 65.45 63.40 64.56 6.58 8.37 68.75 62.86 98.25 8.72 RLS (thn) 9.80 8.90 65.92 68.88 523.80 65.11 66.55 65.22 96.35 56.25 539.43 98.58 530.91 7.05 61.60 533.29 98.55 540.17 67.39 60.83 540.02 536.59 538.44 528.10 522.94 6.29 67.56 525.61 98.11 543.02 5.51 9.37 550.66 64.37 96.83 7.60 99.02 6.65 68.39 68.89 94.10 526.60 9.10 98.94 8.95 63.88 7.54 99.60 7.00 95.01 519.55 65. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KECAMATAN CILEUNYI MARGAHAYU DAYEUH KOLOT RANCA EKEK IBUN LEMBANG BALEENDAH BOJONG SOANG PAMEUNGPEUK Komponen IPM AHH (thn) 67.05 65.65 68.21 Pencapaian IPM di Tiap Kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2004 NO.24 65.69 67.35 61.20 8.20 66.

40 97.40 7.87 85.60 98.90 98.86 561.10 95.19 51.74 43.60 93.83 99.00 517.20 65.28 66.64 74.88 55.90 52.50 75.28 72.47 30.59 73.90 8.40 56.35 99.58 99.30 53.49 49.46 67.29 48.15 69.26 555.53 72.80 78.93 81.43 96.17 54.93 98.97 59.15 8.70 Proyeksi dihitung berdasarkan hasil Suseda 20012003 Sumber Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -72 .58 97.09 539.70 96.25 93.40 56.26 64.64 51.22 66.87 83.11 530.58 34.30 95.60 78.22 Proyeksi IPM Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 NO 1 INDIKATOR 2000 2 3 2001 4 2002 5 2003 6 7 PROYEKSI PER TAHUN 2004 2005 8 2006 9 2007 10 2008 11 2009 12 2010 13 1 ANGKA HARAPAN HIDUP ( TAHUN ) INDEKS ANGKA MELEK HURUF ( %) INDEKS RATA .63 68.85 29.10 7.60 525.22 64.60 7.Rp.29 69.48 70.15 99.60 550.60 8.40 94.26 68.80 521.93 52.47 85.42 57.00 534.42 70.06 56.48 71.47 83.20 82.86 2 3 4 5 6 60.13 98.70 7.60 79.75 98.68 51.40 7.03 67.18 94.20 86.20 7.89 545.50 39.17 65.35 99.50 50.97 47.85 69.68 61.35 8.15 68.57 7 64.72 60.07 66.02 46.14 47.01 73.87 69.44 67.75 74.78 66.25 36.50 99.56 70.83 58.50 9.1000) INDEKS ANGKA KEMATIAN BAYI (PER 1000 KELAHIRAN) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 63.20 98.03 60.55 64.00 84.87 54.22 32.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.62 57.RATA LAMA SEKOLAH ( TAHUN) INDEKS INDEKS PENDIDIKAN KEMAMPUAN DAYA BELI ( X.11 65.40 567.

4. simplikasi. serta kualitas kesehatan lingkungan yang masih relatif rendah. Kualitas pendidikan masih relatif rendah disebabkan antara lain belum tercapainya target RLS. Koordinasi. Resistensi nilai-nilai religius. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 masih berada pada angka 68. serta berkurangnya kesadaran dan citra budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat.13 Isu Strategis Kabupaten Bandung Berdasar kondisi dan proyeksi mendatang Kabupaten Bandung 2010. integrasi. 3. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. sedikit diatas IPM Jawa Barat yaitu sebesar 68. menurunnya kepekaan dan solidaritas sosial. sosial dan budaya sebagai akibat dari derasnya arus perubahan dan globalisasi. rendahnya tingkat pendapatan dan tingginya LPP. seperti terminal. 2. 6. Masih rendahnya keterpaduan pemanfaatan ruang kota. kinerja birokrasi. 7. Hingga tahun 2010 diharapkan IPM Kabupaten Bandung akan mencapai atau bahkan lebih besar dari proyeksi sebesar 74. dan sarana prasarana yang belum memadai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dilihat secara makro. pasar dan sistim transportasi sehingga menyebabkan kesemrawutan kota dan kemacetan lalu lintas. kesadaran hidup bersih dan sehat. kualitas pelayanan kesehatan. munculnya berbagai penyakit masyarakat. sinkronisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayananan pendidikan. 2. Menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan ditandai dengan meningkatnya pencemaran air dan udara serta masalah lingkungan lainnya seperti banjir dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -73 . SPM. persebaran dan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum memadai. 8.36. 5. dan belum optimalnya aplikasi konsep pembangunan partisipatif. Kualitas pelayanan publik belum optimal disebabkan antara lain oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia aparatur.52 (realisasi). Isu strategis yang merupakan gambaran umum permasalahan yang dihadapi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut : 1.70 yang akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai fungsi dan sub fungsi pembangunan.

yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan. Isu yang termasuk dalam kelompok ini terkait dengan modal sosial yang terancam oleh faktor eksternal. lemahnya kelembagaan desa dan belum teralokasikannya sumber keuangan desa secara memadai. dll) o Kelompok 4: Isu-isu terkait dengan perbaikan aspek sosial. o Kelompok 2: Isu-isu terkait dengan penyediaan pelayanan umum dasar bagi masyarakat. 2. yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran. juga adanya kegagalan internal BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -74 . Isu-isu pada kelompok ini terkait dengan pembenahan internal Kabupaten Bandung. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan pelaksanaan fungsi/peran pemerintah sebagai public servant (pelayan publik). Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan menurunnya daya dukung lingkungan dan sediaan infrastruktur dasar (jalan. 9. perumahan. rendahnya efektivitas penataan ruang dan lemahnya pengawasan dan pengendalian. o Kelompok 3: Isu-isu terkait dengan perbaikan kondisi fisik keruangan kabupaten.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung longsor. Untuk melihat konfigurasi dari kesembilan isu strategis tersebut dilakukan pengelompokan isu-isu strategis ke dalam beberapa kelompok isu yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan sebagai berikut: o Kelompok 1: Isu-isu terkait dengan perbaikan kualitas pemerintahan. IPAL. Pembenahan ini dilakukan di semua lini pemerintahan. TPA.14 Konfigurasi Isu Startegis dan Kerangka Intervensi Pembangunan Dari kesembilan isu strategis di atas dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antar isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan. sarana infrastruktur perdesaan. aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Rendahnya kinerja pembangunan desa disebabkan kualitas SDM. penataan kelembagaan maupun pemekaran wilayah. mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa antara lain dengan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM). perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. pemanfaatan ruang kawasan pedesaan.

Gambar di bawah ini menjelaskan konfigurasi permasalahan tersebut. Sementara itu. K e lo m p o k 2 : PELAYAN AN D ASAR U N TU K W ARG A IS U 6 : K u a lit a s p e la y a n a n p u b lik b e lu m o p t im a l K e lo m p o k 1 : PEM ER IN T A H A N IS U 5 : < K in e r ja b iro k r a s i m a s ih re n d ah > ISU 4: J u m la h penduduk m is k in m a s ih r e la t if t in g g i IS U 3 : < K u a lit a s k e s e h a ta n m a sy ara k at m a s ih r e n d a h > IS U 2 : K u a lit a s p e n d id ik a n m a s ih r e la t if ren d a h K e lo m p o k 4 : M O D A L S O SIA L IS U 1 : R e s is t e n s i n ila in ila i r e lig iu s . Gambar di atas menunjukkan hubungan antar kelompok isu dimana isu pada kelompok pertama (pemerintahan) dianggap memberi dampak pada terjadinya permasalahan pada kelompok isu kedua (pelayanan dasar untuk warga). BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -75 . kelompok isu keempat (modal sosial) dianggap sebagai dampak dari berbagai masalah yang terjadi pada semua kelompok isu. dan kelompok isu keempat (modal sosial). s o s ia l d a n budaya IS U 9 : R endahnya k in e r j a pem bangunan desa K e lo m p o k 3 : FISIK K E R U A N G A N IS U 7 : k e s e m ra w u ta n k o ta d a n k e m a c e t a n la lu lin t a s ISU 8: M en u ru n n y a daya dukung d a n k u a lit a s lin g k u n g a n Gambar 2. kelompok isu ketiga (fisik keruangan).17 Konfigurasi Permasalahan dan Keterkaitan Antarkelompok Isu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keempat kelompok isu tersebut kemudian diletakkan dalam suatu konfigurasi permasalahan untuk melihat keterkaitan antar kelompok isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan yang akan dilakukan.

melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius. Percepatan pembangunan tersebut mengandung maksud menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi cepatnya pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bandung. kehendak dan kebutuhannya secara proporsional dan bertanggungjawab. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-1 . Kultural dan Berwawasan Lingkungan. dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa” Makna dari Visi tersebut : Repeh Rapih Kertaraharja adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang hidup dalam keadaan aman.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB III VISI. Akselerasi pembangunan atau percepatan pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat proses pembangunan lebih cepat. sejahtera dan senantiasa berada dalam lindungan. tenteram. permasalahan dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan memperhatikan nilai-nilai visi daerah. Sesuai dengan paradigma kepemerintahan yang baik bahwa kedudukan masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan sesuai dengan prakarsa. visi yang kami kedepankan adalah ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. tertib. aspirasi dan dinamika yang berkembang pada masa kepemimpinan tahun 2000-2005. pelaksanaan hingga pengawasan.1 V i s i Berdasarkan potensi. bimbingan dan rahmat Allah SWT. MISI DAN PRIORITAS DAERAH 3. dengan pengertian bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan aktif dalam keseluruhan proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan. tuntutan. damai. Partisipatif merupakan pendekatan yang diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan. sehingga manfaatannya dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa. agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang. norma. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. 7. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. dirumuskan 8 ( delapan ) misi sebagai berikut : 1. harus menjiwai.2 M i s i Untuk mewujudkan visi diatas. Pengembangan budaya Sunda tersebut dilakukan dengan tetap menghargai pluralitas kehidupan masyarakat secara proporsional. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-2 . 2. khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan identitas mayoritas Kabupaten Bandung. 3. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. mewarnai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Religius mengandung pengertian bahwa nilai-nilai. Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa mengandung pengertian. dan berkelanjutan. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik. nyaman. melekat dan menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Bandung. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. serta menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial. peningkatan kualitas kinerja pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. 8. semangat dan kaidah agama. Desa yang dalam susunan pemerintahan merupakan unit pemerintahan terendah adalah ujung tombak pembangunan daerah dan lokus yang menjadi muara seluruh aktifitas pembangunan. menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Tertib. harus tumbuh dan berkembang seiring dengan laju pembangunan. 3. 5. 4. 6. Berwawasan Lingkungan mengandung pengertian dan kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan yang didasari oleh kesadaran akan fungsi strategis lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia. Tenteram dan Dinamis. Daya dukung dan kualitas lingkungan harus menjadi acuan utama segala aktifitas pembangunan. Kultural mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya Sunda yang baik. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. bahwa pembangunan di Kabupaten Bandung harus memberikan perhatian yang besar dan sungguh–sungguh terhadap pengembangan desa. dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan hidup beragama. termasuk penyelengaraan pemerintahan dan pembangunan.

oleh karena itu. berorientasi konsesus. responsif. Proporsional dalam hal ini mengandung pengertian bahwa setiap domain pemerintahan melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki berdasarkan tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku. efisien. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik adalah peran kepemimpinan yang demokratis. efektif. kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebut bukan semata-mata merupakan tuntutan organisasi tetapi harus diyakini sebagai amanah dari allah swt. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-3 . partisipatif berlandasakan hukum.1 Misi 1 : Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab. sebagaimana firmannya dalam al-quran surah al-baqarah ayat 30 yang artinya : ” sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah ( pemimpin ) di muka bumi ini”. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tidak semata-mata disandarkan kepada pemerintah saja tetapi merupakan sinergitas dari peran pemerintah. sektor swasta dan masyarakat secara proporsional dan bertanggung jawab. Kepemimpinan harus dilandasi oleh kesadaran mengambil peran dan tanggung jawab untuk membangun demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik. adil. transparan. yaitu pemerintah. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. kesetaraan. Bertanggung jawab mengandung pengertian bahwa pelaksanaan peran dan fungsi setiap domain pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif berdasarkan prinsipprinsip kepemerintahan yang baik. organisasi dan kepemimpinan serta sistem yang berlaku di dalamnya harus dijalankan sesuai dengan tuntunan-nya dan dipertanggungjawabkan bukan saja di hadapan manusia. akuntabel dan memiliki visi strategik.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. egaliter dan mampu mengedepankan keteladanan.2. demokratis. sistem dan manajemen pemerintahan perlu dimantapkan antara lain dengan melakukan penataan wilayah dalam rangka mengefektifkan rentang kendali pengelolaan pemerintahan. tetapi juga dihadapan-nya. dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama.

kedatangan hari akhir dan mereka banyak menyebut nama allah.segala langkah yang ditempuh seorang pemimpin harus harus berpijak pada kebenaran. rasulullah saw patut dijadikan sebagai tauladan. allah swt berfirman dalam al-quran surah al-ahzab ayat 21. kepemimpinan bukan semata-mata kekuasaan tetapi merupakan kapasitas intelektual yang dikonsepsikan dan dipraktekan dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya. kebenaran inilah yang harus menjadi landasan strategi kebijakan serta acuan utama seluruh aktivitas pemerintahan dan pembangunan. selain itu. harus mampu dipenuhinya sebagaimana seharusnya. keempat : fathonah ( cerdas) : yaitu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta memiliki semangat untuk menjadikan berbagai fenomena kehidupan sebagai pelajaran yang sangat berharga. yaitu bagi mereka yang mengharapkan ridho allah. memperhatikan dan menyikapi dengan segera apa yang menjadi aspirasi masyarakatnya agar kebijakannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. termasuk kepemimpinan pemerintahan di dalamnya. ketiga : amanah ( jujur ) : seorang pemimpin harus berlaku jujur dan adil disertai dengan keikhlasan dan ketawakalan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. yaitu : pertama : siddiq ( benar ) : yaitu komitmen terhadap kebenaran. yang artinya” sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. termasuk kepemimpinan di dalamnya. dalam praktek kehidupan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-4 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pertanggungjawaban kepemimpinan ini ditegaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist. kedua : tabligh ( menyampaikan ): seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan berbagai programnya dengan baik kepada masyarakat serta mampu mendengar. bahwasannya rasulullah muhammad saw bertsabda : ”setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”.” secara garis besar terdapat 4 ( empat ) karakter kepemimpinan rasulullah saw yang harus kita teladani dalam berbagai lingkup kepemimpinan. berada dalam kebenaran dan menuju kebenaran. sekecil apapun yang menjadi hak rakyat. apa yang diucapkannya harus dapat dibuktikan dengan perbuatan yang nyata.

Oleh karena itu. disertai dengan perhatian yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan agar memiliki kesetaraan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-5 . derajat kesehatan. kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Tentram dan Dinamis. 3. ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai. tertib.3 Misi 3: Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi. faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman. Selain itu. penegakan hukum harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan adil dengan perlakukan yang sama terhadap semua orang tanpa diskriminasi. Keamanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. tenteram dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. peningkatan kemampuan intelektual. Dinamika pemerintahan.2. Kondisi yang aman. Tertib. tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama. persatuan dan kesatuan seluruh komponen pembangunan.2 Misi 2: Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yan sangat penting dalam rangka mewujudkan Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksud. keahlian. Peningkatan kualitas meliputi pemantapan moral dan mental. disertai dengan rasa kebersamaan.2. yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. pembangunan dan kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan tuntutan perubahan kehendak dan kebutuhan masyarakat berdasar asas demokrasi yang bertanggung jawab.

upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras agar masyarakat dapat hidup layak dan menjalani kehidupannya dengan baik. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.Selain itu. pengembangan potensi ekonomi daerah juga harus membuka ruang bagi terciptanya demokrasi ekonomi yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan. Penilaian kemiskinan dengan permasalahan sosial merupakan siklus masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya.2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung peran dan fungi dalam ruang pembangunan serta pemberdayaan generasi muda agar pada masa yang akan datang mampu mengambil peran dalam pembangunan.2. Dengan demikian. Sehingga paradigma pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung harus dititikberatkan pada keselarasan pengembangan pertanian yang kuat dengan industri yang maju yang bertumpu pada pengembangan potensi sumber daya lokal. Apabila potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. masalah kemiskinan dapat diminimalisir yang berarti juga akan berpengaruh pada berkurangnya masalah sosial dan semakin mantapnya keyakinan teologis masyarakat. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-6 .4 Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. Oleh karena itu. 3. konsep iman dan taqwa sebagai muatan utama masyarakat beragama harus menjadi landasan pokok yang harus dikedepankan. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. diantaranya tidak adanya pendapatan.5 Misi 5: Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Untuk mewujudkan masyarakat yang Repeh Rapih Kertaraharja di tengah –tengah masyarakat Kabupaten Bandung yang sangat religius. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi terutama pada sektor pertanian dan industri. kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap keyakinan teologis yang dapat mengakibatkan kekufuran. akan mampu meningkatkan kemampuan usaha masyarakat. membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu. 3.

dengan identitas nyantri. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. gesit binangkit. Dalam perspektif agama. Masyarakat Sunda harus mempunyai kepercayaan diri dan kemandirian untuk berperan maksimal dalam pembangunan di Kabupaten Bandung.6 Misi 6: Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda Budaya merupakan salah satu sumber nilai yang menunjukan jati diri. budaya juga merupakan modal utama pembangunan untuk mewujudkan keserasian dan keselarasan hidup manusia. nyantana. nyantika. identitas dan kepribadian suatu kominitas masyarakat. wanoh. 3. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. Budaya juga dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif untuk menghadapi dampak negatif derasnya arus perubahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. silih asah dan silih asuh. wiwaha tur wijaksana harus dikembangkan sebagai bagian dari jati diri kesundaan. Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. Selain.nyaloka dan sikap yang luhur. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. luhung. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan.2. Oleh karena itu. tetapi juga muatan sosial.Kinerja pemerintahan dan kehidupan masyarakat harus dilandasi oleh semangat silih asih. Pada sisi lain. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. karakter masyarakat Sunda anu boga wani. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-7 . sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. perigel. nyunda.

rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan.2. demi keberlangsungan kehidupan manusia dan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan. yaitu menguntungkan secara ekonomis. Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan akan mengakibatkan menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. rendahnya produktifitas tenaga kerja. pengembangan kapasitas keuangan desa.7 Misi 7: Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan Pembanguanan adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik.2. Oleh pembangunan karena harus itu. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang.8 Misi 8: Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa Sebagian besar masyarakat Kabupaten Bandung bertempat tinggal di pedesaan dicirikan antara lain dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. teknologi maupun sumber daya alam. Konsekuesi logis dari sebuah pembangunan adalah penggunaan berbagai sumber daya. Oleh karena itu. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-8 . 3. kinerja dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan desa. baik sumber daya manusia.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. yang akhirnya akan berakibat pada kerusakan alam dan bencana yang akan melanda manusia. dalam rangka pada pencapaian upaya kesejahteraan masyarakat. dana. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. masih tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. diperlukan perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan.

melalui peningkatan kesadaran budaya sehat. manusia juga merupakan sasaran yang harus menikmati hasil–hasil pembangunan. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. pada sisi yang lain. dengan tetap memandang semua bidang pembangunan dalam kedudukan yang penting. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-9 . potensi dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung.3. 4. ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut : 1. dan perbaikan gizi masyarakat. Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. Peningkatan perekonomian daerah. Berdasarkan pada kondisi. 3. Prioritas Daerah Di dalam pembangunan. melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM). permasalahan. 3. Oleh karena itu. pada hakekatnya perencanaan strategis pembangunan Kabupaten Bandung diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan – kebutuhan dasar manusia yang semuanya bermuara pada Indeks Pembangunan Manusia. peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan. manusia adalah subjek pembangunan yang bertindak sebagai pelaku ( stakeholders ). Pada satu sisi. peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator keberhasilan pembangunan yang merupakan gabungan komposit dari tiga komponen pokok. pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklim usaha yang kondusif. peningkatan sarana/prasarana kesehatan. peningkatan sarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun. manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting. Sehubungan dengan pemikiran tersebut. yaitu pendidikan. segala aktifitas pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan kualitas manusia (human development).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pedesaan. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melalui peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. 2. kesehatan dan daya beli masyarakat. revitalisasi pertanian.

peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruang kota dan pusat pertumbuhan. pengembangan ekonomi dan pembangunan kawasan perdesaan. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan.3. efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. Peningkatan kinerja pembangunan desa. selain dukungan alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD). Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui peningkatan profesionalisme.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.03 pada tahun 2010. Bidang Prioritas Pembangunan Sejalan dengan prioritas daerah diatas.50 pada tahun 2010. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dari 66. 9. kesehatan dan ekonomi (daya beli masyarakat).93 pada tahun 2005 menjadi 9.1. 7.50 pada tahun 2010 dan meningkatnya rata-rata lama sekolah dari 7. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka melek huruf (AMH) dari 98. Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. melalui peningkatan kapasitas pemerintahan desa. peningkatan keberdayaan masyarakat desa. serta peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan. perlu diupayakan pengembangan partisipasi masyarakat dan dunia usaha melalui sistem dan mekanisme yang transparan dan akuntabel.85 pada tahun 2005 menjadi 70. daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencegahan dini terhadap bencana. serta pengembangan alokasi dana desa (ADD). dan menurunnya angka BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-10 . Peningkatan kualitas. 6. Peningkatan optimalisasi pengawasan dan penegakan hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia dan prinsip keadilan. 3. 8. peningkatan gairah investasi serta aktivitas ekonomi lainnya. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan pada terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas. pelaksanaan pembangunan periode 20052010 dititikberatkan pada tiga bidang pokok yaitu pendidikan.20 pada tahun 2005 menjadi 99.

baik pelayanan dasar maupun penunjang.567.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010..25 per 1000 kelahiran menjadi 29. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat dari Rp.pada tahun 2010.3. yang akhirnya diharapkan akan berkontribusi terhadap peningkatan modal sosial berupa ketahanan masyarakat pada BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-11 . Pembangunan Bidang Ekonomi diarahkan pada terwujudnya peningkatan keberdayaan ekonomi masyarakat. Hubungan Antara Konfigurasi Permasalahan Dengan Kerangka Intervensi Kebijakan Jangka Menengah KARAKTERISTIK INTERVENSI KONFIGURASI PERMASALAHAN KERANGKA INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU Kelompok 1: PEMERINTAHAN REFORMASI TATA PEMERINTAHAN AKSELERASI PEMBANGUNAN Kelompok 2: PELAYANAN DASAR UNTUK WARGA Kelompok 3: FISIK KERUANGAN PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS PELAYANAN PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA FAKTOR PENUNJANG Kelompok 4: MODAL SOSIAL PEMELIHARAAN KARAKTER LOKAL Dari gambar kita bisa interpretasikan bahwa: kapasitas pemerintahan yang baik akan berdampak pada kemampuannya dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat. 3. juga diharapkan trwujudnya budaya hidup sehat yang dilandasi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kematian bayi (AKB) dari 39. Selain sasaran kuantitatif tersebut.880.539.. Pemberdayaan ekonomi masyarakat diupayakan melalui perhatian dan perlakuan yang dapat memenuhi aspek penggalian potensi dan kemampuan penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.680.2 Kerangka Relasi Antara Misi dengan Intervensi Kebijakan Pembangunan Konfigurasi isu strategis seperti yang diulas pada Bab II kemudian diletakkan ke dalam kerangka intervensi pembangunan yang akhirnya akan berimplikasi pada pengelompokan misi.pada tahun 2005 menjadi Rp.

o o Misi 5. Ini karena tidak mungkin pelayanan publik berjalan baik bila sistem dan pelakunya masih belum siap. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. • Intervensi pembangunan harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh pemerintah terutama masalah yang BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-12 . Tenteram dan Dinamis. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya: o Misi 3. intervensi pembangunan jangka menengah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok intervensi yaitu: • • • Kelompok Intervensi Perbaikan sistem dan pelaku (pemerintah) Kelompok Intervensi Akselerasi pembangunan Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Dari ketiga karakteristik tersebut harus dijalankan secara proporsional berdasarkan prioritas intervensinya. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. diperlukan tiga jenis intervensi yaitu: • Perbaikan Tata Pemerintahan yang mencakup: o o • Misi 1. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas. Misi 6. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Berdasarkan kerangka pikir pada gambar diatas. Tertib. Prioritas tersebut harus ditentukan secara rasional berdasarkan prinsip berikut ini: • Tidak mungkin sumberdaya publik hanya dialokasikan pada penguatan internal.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pengaruh global dan menguatnya nilai religius dan kultural dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Bandung. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. • Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal o Misi 2. Namun penguatan harus dilakukan segera pada awal pembangunan agar proses pembangunan berikutnya bertumpu pada dasar yang kuat.

Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. o o Misi 5. • Keberadaan Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal (faktor penunjang) dalam proses pembangunan merupakan bagian penting tetapi kedudukannya berada dibawah Kelompok Intervensi lainnya karena sifatnya yang tidak terkait langsung dengan permasalahan pembangunan. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Tertib. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. dan pelayanan kesehatan. Tenteram dan Dinamis. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. Dengan demikian. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. pelayanan pendidikan. Dengan demikian urutan prioritas Kelompok Intervensi adalah: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-13 . Misi 6. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh sejauhmana intervensi pada wilayah ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. Misi 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sifatnya mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya seperti ketersediaan infrastruktur.

Akselerasi peningkatan IPM dengan prioritas penataan regulasi dan fokus anggaran pada bidang pendidikan. merupakan hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh pemerintah daerah dalam jangka waktu tahunan. maka fokus kinerja pemerintah daerah dapat lebih dipertajam dan memberikan arah bagi sasaran yang akan dicapai. semesteran. efektif dan ekonomis. sasaran. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dirumuskan tujuan. kebijakan dan program. Meningkatkan pembangunan yang berfokus di desa. Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan yang merupakan penjabaran dari kebijakan. Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang merupakan rencana yang mencakup upaya-upaya menyeluruh dan terintegrasi untuk mengoperasionalkan tujuan dan sasaran melalui penetapan kebijakan dan program. maka misi. kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat. strategi. sasaran. Dengan adanya tujuan. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sederhana sehingga dapat dilihat benang merah dari seluruh strata rencana strategis ini. Tujuan adalah penjabaran dari pernyataan misi yang merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 3-5 tahun. strategi. Mewujudkan Good Governance dan Clean Goverment 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Untuk mencapai kesatuan pandang dalam rangka melaksanakan misi yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. Sasaran adalah penjabaran dari tujuan. 3. kebijakan dan program secara lengkap ditampilkan dalam bentuk matriks pada lampiran. Sasaran menggambarkan tindakan-tindakan/aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dengan memberikan penekanan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efisien. Strategi pembangunan Kabupaten Bandung dapat dikategorikan ke dalam tiga Strategi Pokok yaitu: 1. tujuan.1 . triwulanan atau bulanan.

Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. Tertib.2. yaitu: 1.40 pada tahun 2010. Dengan demikian. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Tenteram dan Dinamis. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemerataan akses layanan pendidikan. • Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pendidikan sebesar 86. o o Misi 5.1 STRATEGI UMUM PENCAPAIAN MISI Sebagaimana dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih.2 . BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .2 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI AKSELERASI PEMBANGUNAN 4. 4. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Terwujudnya Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas.1 STRATEGI MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Misi ini dijabarkan dalam 3 (tiga) tujuan. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Misi 6.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .03 tahun serta AMH sebesar 99. • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. • Terkendalinya penyebaran dan distribusi obat-obatan.50 tahun pada tahun 2010. Meningkatnya partisipasi generasi muda dalam pembangunan. serta menurunnya penyalahgunaan obat-obat-obatan terlarang. Meningkatnya kualitas manajemen olah raga. dan alat kesehatan. Terwujudnya Peningkatan Keberdayaan Perempuan.50%. pembangunan dan kemasyarakatan. Meningkatnya potensi generasi muda dalam kewirausahaan. Meningkatnya ketersediaan media aktivitas dan kreativitas generasi muda.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. • Meningkatnya kualitas dan kuantitas sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. • Menurunnya angka kematian ibu dan bayi menjadi sebesar 29. Generasi Muda dan Olah Raga. dengan Sasaran: • • • • • • • • Terjaminnya keadilan gender dalam penyelenggaraan pemerintahan. 2.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. makanan. • Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan. Meningkatnya kebugaran jasmani masyarakat dan prestasi olah raga. • Meningkatnya capaian angka partisipasi sekolah (APM) dan rata-rata lama sekolah (RLS) pada tahun 2010 sebesar 9.3 . dengan Sasaran: • Meningkatnya angka harapan hidup (AHH) menjadi sebesar 70. 3. • Meningkatnya kesadaran budaya hidup bersih dan sehat. Terwujudnya Peningkatan Derajat kesehatan Masyarakat. • Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha terhadap dunia pendidikan. Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana olah raga bagi masyarakat. kepeloporan dan kepemimpinan. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dengan laki-laki.

567. Terwujudnya Peningkatan Perekonomian Daerah. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . 4. dengan Sasaran: • • • • • • • Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. Meningkatnya daya saing industri manufaktur. Meningkatnya kemampuan penanganan bencana alam dan sosial. Meningkatkan keberdayaan generasi muda dan olah raga. Meningkatnya ketahanan sosial individu. yaitu : 1. 3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Meningkatnya keberdayaan penyandang cacat dan perlindungan anak. keluarga dan masyarakat. Terwujudnya Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. Memberdayakan sumber daya perempuan dalam seluruh aspek kehidupan. 2. 2.2 STRATEGI MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Misi meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat ini dijabarkan ke dalam 5 (lima) tujuan. dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berusaha dan meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat sebesar Rp. Meningkatnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan dan kesehatan 3. Meningkatnya kesempatan berusaha.2. dengan Sasaran: • • Meningkatnya investasi di daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan: 1. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat secara melembaga dan berkesinambungan.4 . Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. Tersedianya bantuan sosial yang optimal. Berkurangnya penyakit sosial dan penyandang masalah sosial. Terwujudnya Peningkatan Perlindungan dan kesejahteraan Sosial. 4.680 pada tahun 2010. Meningkatnya pendapatan masyarakat.

usaha mikro. Terkendalinya Pertumbuhan Penduduk dan Terwujudnya Peningkatan Kualitas Keluarga. 4. Menurunnya perkawinan usia dini. Meningkatnya kualitas dan kuantitas komoditas unggulan daerah. Terkendalinya mobilitas dan persebaran penduduk. dengan Sasaran: • • • • • Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP). Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat. Berkembangnya kemitraan usaha dan manajemen promosi produk daerah. 5. Meningkatnya akses pemasaran produk daerah. Meningkatnya pemberdayaan koperasi. Meningkatnya tertib administrasi kependudukan. Meningkatnya pengelolaan BUMD. dengan Sasaran: • • • • Menurunnya tingkat pengangguran.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • • • • Meningkatnya produktivitas pertanian dan posisi tawar produk pertanian. Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Berkembangnya sentra-sentra produk unggulan daerah. Strategi meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan: • • Meningkatkan keberdayaan sosial masyarakat. yaitu: BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .5 . Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar bagi kegiatan ekonomi daerah.2.3 STRATEGI MEMELIHARA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Misi ini dijabarkan ke dalam 2 (dua) tujuan. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembangnya anak. Tersedianya informasi pasar kerja. 4. Terwujudnya Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. kecil dan menengah.

3 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU 4. Meningkatnya percepatan pembangunan di wilayah pertumbuhan. Meningkatkan manajemen pengelolaan lingkungan. dengan Program: • • • • • • Meningkatnya manajemen penataan ruang yang efektif. Terwujudnya Keserasian Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Suatu sistem Pembangunan Yang berkelanjutan.1 STRATEGI MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Misi mewujudkan kepemerintahan yang baik dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan antara perkotaan dan perdesaan. sinergistas dan keterpaduan kebijakan dan program Strategi memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan: 1. 2. Meningkatnya pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Meningkatnya pengelolaan dan pelayananan limbah. Menurunnya pencemaran air dan udara. 4. Terkendalinya pertumbuhan wilayah perkotaan. Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Meningkatnya pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan. 3. Meningkatnya penegakan hukum lingkungan. yaitu : BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Terwujudnya sistem pemanfaatan tanah yang efisien dan efektif. Meningkatnya upaya konservasi hutan dan rehabilitasi lahan. 4.6 .3. Meningkatkan efektivitas tata ruang wilayah. 2. Meningkatkan percepatan pembangunan yang berkelanjutan. Meningkatkan penegakan hukum untuk mengurangi perusakan dan pencemaran lingkungan. Terpeliharanya • • • • • • Keseimbangan Alam. dengan Sasaran: Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya akan fungsi strategis lingkungan.

hak dan kewajiban serta tanggung jawab masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. dengan Sasaran: • Meningkatnya kualitas sumber daya aparatur secara dinamis dan berkelanjutan. dunia usaha dan masyarakat. profesional. • Meningkatnya peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan. dunia usaha dan masyarakat secara proposional dan bertanggung jawab. Memantapkan kinerja kepemimpinan yang demokratis. • Terwujudnya manajemen pengelolaan keuangan daerah yang mantap. Strategi mewujudkan kepemerintahan yang baik dilakukan dengan: 1. efektif. dengan Sasaran: • Meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah. • Terwujudnya sistem dan manajemen partisipatif yang legitimate.7 . Terwujudnya Sinergitas Interaksi Antara Pemerintah. transparan. • Terwujudnya konsistensi hukum daerah yang selaras dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. • Menurunnya praktek KKN dimulai dari tataran top manajemen. yudikatif. • Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. responsif dan akuntabel. pelaksanaan dan pengawasan. • Meningkatnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pemerintah. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemahaman dan kepedulian tentang peran. 2. • Meningkatnya akses informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . efisien. • Terwujudnya kerjasama dan keterpaduan fungsi dan peran antara eksekutif. • Meningkatnya kualitas pelayanan publik. Terwujudnya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengambilan Kebijakan Publik. 3. Terwujudnya Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaran Pemerintahan. Dunia Usaha dan Masyarakat. egaliter dan mengedepankan keteladanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. legislatif.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pembangunan. Meningkatnya ketersedian akses pemasaran bagi produk perdesaan. 2. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan daerah. Meningkatnya kemampuan lembaga ekonomi perdesaan. Meningkatnya akses kontrol dan partisipasi elemen masyarakat dalam pembangunan perdesaan. Meningkatnya ketersedian sarana dan prasarana ekonomi perdesaan. 3. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. Meningkatnya potensi unggulan desa. sektor swasta. Meningkatnya keberdayaan masyarakat perdesaan.8 . Meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan penanggulangan Korupsi. Meningkatkan kemandirian desa berdasarkan otonomi yang dimilikinya. Berkurangnya penduduk miskin di perdesaan. 4. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. dengan Sasaran: • • • • • Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. Mensinergikan interaksi konstruktif diantara pemerintah. Berkembangnya kehidupan politik yang demokratis di perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Berkembangnya layanan jasa keuangan/permodalan. Terciptanya perluasan lapangan kerja di perdesaan. Kolusi dan Nepotisme (KKN).2 STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA PEMBANGUNAN DESA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. dengan Sasaran: • • • • • • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal perdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Keberdayaan masyarakat Desa. yaitu: 1. pembangunan dan pelayanan publik secara transparan. partisipatif dan akuntabel. 4.

dengan Sasaran: • • Meningkatnya kesadaran. 4. Meningkatkan alokasi dan distribusi pembangunan keperdesaan. 2. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .4. Terciptanya tatanan politik yang demokratis yang menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban politik masyarakat. dengan Meningkatnya kesadaran politik masyarakat. Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat.1 MEMELIHARA STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG AMAN.4 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PEMELIHARAAN KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL 4. yaitu: 1. Mengembangkan potensi ekonomi perdesaan. • • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. dunia usaha dan aparatur pemerintah. Terwujudnya Sasaran: • • Pengembangan Kehidupan Yang Demokratis. dengan Sasaran: • Mantapnya peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang kredibel dan adil dalam mejaga dan memelihara keamanan. Meningkatnya penegakan hukum serta perlindungan HAM di daerah. ketertiban dan ketentraman masyarakat. Meningkatkan keberdayaan desa dan masyarakat desa dalam pembangunan. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Ketaatan dan Ketaatan Hukum. Terciptanya ketahanan masyarakat secara optimal dan terpadu. TENTRAM DAN DINAMIS Misi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman. Terpeliharanya keamanan. 3. 3. 2. TERTIB. ketaatan dan kepatuhan hukum masyarakat. tertib. tentram dan dinamis dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan.9 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kinerja pembangunan desa dilakukan dengan: 1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tentram dan dinamis dilakukan dengan: 1. Memantapkan stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat; 2. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; 3. Memantapkan budaya politik yang demokratis;

4.4.2 STRATEGI MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu : 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa, dengan Sasaran: • • Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama setiap individu, keluarga, masyarakat dan penyelenggara pemerintahan; Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat untuk membentengi diri dari krisis nilai sebagai dampak negatif perubahan dan pembangunan. 2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial dan Pengembangan Potensi Umat, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial dan budaya; Terwujudnya solidaritas dan harmonisasi sosial; Terwujudnya keteladanan dan kepedulian sosial; Meningkatnya peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pembangunan; Terwujudnya sinergitas potensi umat.

3. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Beragama, dengan Sasaran: • • • Meningkatnya kualitas pendidikan agama pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan; Meningkatnya kualitas penataan, pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana keagamaan; Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan ibadah.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi mewujudkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa dilakukan dengan: 1. Mentransformasikan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 2. Memberdayakan potensi untuk melalui optimalisasi peran dan fungsi lembaga keagamaan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama.

4.4.3 STRATEGI MENGGALI DAN MENUMBUHKEMBANGKAN BUDAYA SUNDA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan masyarakat terhadap Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • Meningkatnya apresiasi dan pengembangan nilai budaya sunda; Meningkatnya pengenalan dan kecintaan terhadap budaya sunda.

2. Terwujudnya Pengembangan dan Pelestarian Kekayaan Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya pengembangan dan pelestarian seni dan budaya sunda; Meningkatnya penerapan nilai budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari; Berkembangnya produk budaya sunda; Berkembangnya media dan sarana apresiasi budaya sunda; Meningkatnya pengelolaan keragaman budaya.

3. Terwujudnya Ketahanan Budaya Masyarakat, dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai luhur budaya sunda; Menurunnya resistensi nilai budaya; Meningkatnya kepercayaan diri dan kokohnya jati diri sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda; Meningkatnya peranan budaya sunda dalam memperkokoh budya nasional.

Strategi menggali dan menumbuhkembangkan budaya sunda dilakukan dengan: • Meningkatkan pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya sunda sejak dini mulai dari tingkat keluarga/rumah tangga dan tingkat pendidikan dasar.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 11

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

• •

Reaktualisasi nilai-nilai budaya sunda sebagai salah satu dasar etika sosial dalam kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat; Meningkatkan sarana pengembangan dan pelestarian keragaman budaya.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 12

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Keuangan daerah pada prinsipnya merupakan hak yang harus dikembalikan kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung melalui program

pembangunan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan daerah semaksimal mungkin harus diupayakan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan keuangan daerah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pendapatan adalah batas minimal yang harus dicapai oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan. 2. Penetapan terget pendapatan harus didasarkan pada data potensi yang akurat dengan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. 3. Belanja adalah batas maksimal yang dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya program-program pembangunan. 4. Pembiayaan adalah partisipasi pemerintah daerah dalam investasi di daerah yang bersifat produktif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dan kontribusi pendapatan asli daerah. 5. Hubungan anggaran dengan program pembangunan harus didasarkan pada paradigma “money follow the program”, sehingga diharapkan dapat melahirkan program yang berhasil guna dengan penggunaan anggaran yang rasional, efektif dan efisien. 6. Secara bertahap harus terwujud keseimbangan antara penggunaan anggaran yang bersifat rutin dengan anggaran yang bersifat pembangunan. 7. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945, alokasi anggaran untuk pendidikan secara bertahap harus meningkat mendekati 20% (dua puluh persen) dari jumlah anggaran. 8. Pelaksanaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel. menghasilkan produktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-1

dan c. • Pajak Reklame. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Yaitu : a) Hasil Pajak Daerah. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Belanja Daerah. • Pelayanan Kesehatan. • Pajak Parkir. C. b) Hasil Retribusi Daerah.1 Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004. • Pajak Hotel.1 Arah Pengelolaan Keuangan Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. • RSD Majalaya. 5.1. • Pajak Penerangan Jalan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. Pendapatan Asli Daerah (PAD). yang menambah ekuitas dana lancar. Pembiayaan Daerah Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. • Pajak Restoran. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-2 . • Pajak Hiburan. Pendapatan Daerah. Pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kabupaten Bandung pasal 20 (1) terdiri dari: 1. • RSD Soreang. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. • Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gol. b. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah.

dan Hasil Ikutannya. • Pelayanan Pasar. • Ijin Pemanfaatan Tanah. • Pelayanan Pemakaman. • PDAM • Bank Pembangunan Daerah. • Perijinan Transportasi. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-3 . Hasil Ternak. • Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah. • Jasa Usaha Penyedotan Kakus. • Ijin Gangguan. d. c) Bagian Laba Usaha Daerah. • Ijin Pelayanan Ketenagakerjaan. • Fatwa Pengarahan Rencana Pemanfaatan Lokasi. • Jasa Usaha Tempat Rekreasi dan OR. • Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil. • Penggantian Biaya Cetak KTP. • Izin Pembuangan Limbah Cair. • Perijinan Perdagangan. • Pemeriksaan Hewan Ternak. • Bank Karya Produksi Desa.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Pelayanan Persampahan/Kebersihan. • Jasa Usaha Terminal. • Perijinan Penyelenggaraan Koperasi. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. • Jasa Usaha RPH. • Ijin Pemanfaatan Hutan. • Parkir di Tepi Jalan Umum. • Pengujian Kendaraan Bermotor. • Jasa Ijin Usaha Kebudayaan dan Pariwisata. • Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah. • Ijin Mendirikan Bangunan. Lain-lain PAD yang Sah. • Perijinan Industri. • Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.

• Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. b) Dana Alokasi Umum (DAU). Penerimaan dari Sektor Minyak Bumi. c. f. • Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah (TP/TGR). • Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah. c. d. 2. g. Iuran Eksploitasi (Royalti). • Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-4 . b. • Penerimaan Jasa Giro. 2. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. Iuran Provisi Sumber Daya Alam. • Penerimaan Lainnya. Iuran Tetap/Landrent. • Penerimaan Pemanfaatan Hutan. Bagi Hasil Pajak. 3. • Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan. c) Dana Alokasi Khusus. Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam. Dana Perimbangan. • Penerimaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. b. a. Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Termasuk PPh 21). • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). • Bantuan Keuangan dari Propinsi. d) Dana Perimbangan dari Propinsi. 1. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. a. Terdiri atas : a) Dana Bagi Hasil. Pajak Bumi dan Bangunan. Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. e.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan. • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

000.000.00 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Tahun Proyeksi PDRB BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-5 .000. Untuk memprediksi pendapatan daerah lima tahun kedepan diperlukan suatu data pendukung yang salah satunya adalah data PDRB.000.000.00 7.000.00 8.00 1. Perkiraan PDRB Kabupaten Bandung dilakukan dengan memperhatikan Nilai PDRB Konstan tahun 1995-2004.000.000.2 Perkiraan Pendapatan Daerah Perkiraan pendapatan daerah akan memberi gambaran tentang pendapatan daerah dari tahun 2006 sampai tahun 2011.000.00 8.000.00 5. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Bandung 1995-2004 9.000.00 5.000.000.00 4.000.000.000.000.00 1.000.00 3. (persamaan regresi terlampir).000.00 2.00 6.00 0.00 2.00 6.00 9. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan Kabupaten Bandung rata-rata setelah krisis 1999-2004 sebesar 2.000.000.000.000.00 7.00 4.00 0.00 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Nilai PDRB Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Rp Juta 10.000.000.1.000.000.000.000.000.000.000.000.13 %/tahun. Proyeksi dilakukan dengan model regresi linear dengan mencari persamaan regresi masing-masing sektor.00 3.000.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.000.000.000.

67 696.037.73 6.7408 426082.20 725.572.491.73 3.43 191317.95 218014.428.6358 416673.787.596.56 8.716.29 69.64 54.941.375.524 235435.59 165.72 1.954.142.16 8.251.64 481.586.22 493.01 821897.38 56.300.32 415108.796.11 306.978 72485.48 196.53 472.499 1364701.687.903.82 193.273.61 3.299.28 3.743.564.55 162.41 362.553.59 463.955.960.16 804509.694 77645.332.71 325.91 316.199 231080.051.63 328.81 294.839.75 7.50467 81085.92 6.1 Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan Sektor Primer Tahun Pertanian Pertambangan dan Galian 50.312.496.89 404416.108.59933 79365.812.919.97 556. Hotel dan Restoran 955.41 Industri Pengolahan 3.96 864.837.709.33 58.16 304.119.20 6.28 856673.083.174.021.80 334.68 398.50 304.1566 195887.3207 388446.26 563497.593.50 61.438.533 4053810.922.883.465.16 940.889 Listrik dan Gas 259.53 1.01 7.858 218741.561.23 185.513.530.546.990.738.88333 74205.4257 397855.711 4349520.894.75 425801.570.520.78867 75925.579.52 300.861.4448 580715.261.536.92 6.82 379037.809.370.42 874061.190.15 839285.797.8969 200458.71 7.38 211.66 3.637.97 8.90 358.89 346.874 226725.875.84 385.8458 435491.064.621 Pengankutan dan Komunikasi 274.592.03 1.71 703.48 171.05 4.5983 453.260.686.560.438 1312296.15 998.93 3.61 70765.766.10 230.333.388.148.8 4497375.8318 572106.491.61 447186.255 1155081.771.549 222369.030.209.580.95 7.622 4201665.0578 589323.328.813.93 472.381.96 690.51 7.57 1.99 64.77 3610245.90 330.32 479.051.8969 615149.35 7.868.837.900.316 1207486.590.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.25 54.73 753.9508 Bangunan & Konstruksi 361.791.199.607.797.958.10 6.63 537.780.564.588.075.873.164.018.52 671.05 457878.91 215.849 239791.65 336.455.1177 214170.01 190.063.104.687.02 896.942.534.443.037.738.430.015.125.76 3.55 891449.862.78 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-6 .307.755.355 3758100.034.800.777.57 1102676.963.5099 6.6371 205029.24 324.209.63 6.35 935.99 55.56 1417106.44 158.51 377.230.3774 209600.647.795.963.174 244146.29 220.365.10 743.195.37 8.69 908837.5307 407264.2839 606540.82 986.94 393723.618.361.08 343.499 Sektor Sekunder Sektor Tertier Perdagangan.18 436493.016.847.785.233.742.73 3.12 491.755.48 PDRB Keuangan Jasa 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 874.015.72 217.64 203.56 169.483.6708 597932.58 791.242.444 3905955.465.48 150.804.07 3.92 210.377 1259891.010.310.32 419.449.90 53.

874.00 1.000.000.00 102.263.830.00 81.000.884.00 87.188.000.962.000.000.000.2006 No A 1 2 3 4 B 5 6 7 8 C Uraian Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah JUMLAH 2002 75.000.000.575.000.00 43.572.112.00 6.00 30.237.00 62.00 24.347.506.00 46.000.000.205.00 2004 119.00 1.000.927.375.00 53.637.000.316.000.000.000.000.00 2005 136.719.798.000.000.000.000.00 37.00 37.816.938.00 38.000.000.00 1.036.000.275.602.00 1.646.840.976.024.00 60.310.000.000.120.000.000.177.00 802.333.500.000.000.110.820.000.00 80.000.00 1.000.000.00 1.00 49.694.00 22.000.000.140.00 Sumber : RKPD Kabupaten Bandung 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-7 .185.00 12.045.114.00 37.500.185.00 749.000.000.00 2006 123.000.540.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain data PDRB diatas.265.000.500.254.00 726.000.597.00 11.063.000.00 10.697.410.610.000.739.000.500.000.000.00 89.115.200.00 61.935.000.000.080.000.00 16.00 18.658.000.000.890.608.00 988.646.538.000.447.00 830.093.448.500.000.505.000.318.000.833.000.00 76.004.500.000.103.000.00 929.00 101.000.000.00 94.00 1.00 1.00 7.853.240.911.000.500.241.636.598.699.168.00 52.001.00 15.00 1.500.790.000.707.919.00 757.500.2 Anggaran Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002.652.043.145.331.290.761.895.367.00 5.749.00 654.000.118.00 4.000.000.668.00 849.511.012.000.318.00 4.000.000.00 45.240.978.000.00 2003 91.000. Tabel 5.190.395.000.000.344. diperlukan pula data-data pendukung seperti data pendapatan historis Kabupaten Bandung seperti pada tabel dibawah ini.955.

69 54.63 -9.36 0.91 4.09 20.00 95.53 14.11 0.43 Sumber : Hasil analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-8 .66 34.81 Tahun Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD Perimbangan Pendapatan Daerah 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 Rata-rata 3.3 Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002 – 2006 Bagian Laba Usaha Daerah 208.28 6.81 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 53.56 1.45 7.53 31.83 7.51 6.90 -7.00 300.69 Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah 968.22 14.98 12.32 20.33 8.19 17.61 97.58 11.91 10.20 -1.53 20.39 -1.30 Dana Alokasi Umum 10.68 -2.25 2.93 27.01 45.07 25.00 352.68 29.35 9.61 27.00 163.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.11 13.33 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak -19.47 -29.25 98.03 6.32 13.50 13.56 120.56 16.37 -80.79 13.63 221.33 -22.30 39.49 16.

selain unsur PAD yang telah disebut di atas. Pendapatan Asli Daerah Berdasar pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. juga realisasi pencapaian PAD Kabupaten Bandung. Perkiraan PAD untuk hingga tahun 2011 diperoleh menggunakan metode taksiran sederhana.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung A. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi.4 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-9 . potongan. atau pun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. pasal 6(2) menjelaskan tentang lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. yaitu penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan. jasa giro. Perkiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5. dengan mengasumsikan kenaikan PAD setiap tahunnya tetap. pendapatan bunga.

895 142.50 13.347.611 71.09 12.697.680.901.840.360.000 37.000.000 22.906.265.22 5.447.687 65.500 136.000.000 37.000 10.621.247.036.63 -9.000 59.96 11.91 Sumber : Analisis 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-10 .549 158.340 54.241.554 2.916 43.833.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 40.699.500 43.000 52.000 24.784.739.000 6.556 Pertumbuhan (%) 20.728.000 16.114.310.212.000 21.200.808.218.000.4 Perkiraan PAD Kabupaten Bandung 2007-2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Pajak Daerah 37.098.266.884.318.004.333.292 6.230.684.500.500 49.109.874.000 46.542.000 15.000 91.331.000.063.000.000.200.820.653.000 131.425.012.000 53.761.205.834.965.798.344.428 Bagian Laba Usaha Daerah 1.500 119.190.000.000 27.105 79.694.505.000 46.011.705 3.610.400 60.802.870.477.230.318.976.127.000 123.67 13.94 8.190.070.801 50.000 9.768.110.853.459 178.575.233 47.000 4.452.742.594 PAD 75.000 35.53 31.000 38.453 86.613 Retribusi Daerah 30.171.667.093.962.702.919.500.000 12.466.475.240.237.739.920 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 7.907.275.853.120.003 1.254.598.507.639.637.658.109.253.196 203.

000 50.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi PAD Kabupaten Bandung Hingga 2011 250. dan Dana Perimbangan dari Provinsi.000.000 Rupiah 100. Dana Alokasi Umum (DAU).000.000 200.000. Unsur-unsur dana perimbangan terdiri atas: Bagi hasil pajak dan bukan pajak.000. B.000. dengan asumsi kenaikan dana perimbangan tiap tahunnya tetap. Lebih jelasnya perkembangan dana perimbangan tersebut adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-11 .000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Pajak Daerah Retribusi Laba Usaha Lain-lain PAD Hasil perhitungan tersebut.000.000.000 150.000.000. Dana Alokasi Khusus (DAK). berdasarkan asumsi bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan daerah berjalan dengan baik. begitu juga pencapaian realisasinya.000. Perkiraan perolehan dana perimbangan hingga Tahun 2011 disini juga menggunakan metode taksiran sederhana. Dana Perimbangan Dana perimbangan merupakan alokasi dana yang diperoleh dari pemerintah maupun provinsi yang diperoleh dari bagi hasil pajak provinsi maupun pusat yang dipungut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan formulasi pembagian yang telah ditetapkan maupun dari dana pemerataan.

774.000 114.000.000.137 182.505.000 726.5 PERKIRAAN DANA PERIMBANGAN KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2011 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 94.490.000.818.318.876.319 162.263.741.310 128.434.000.930.630 1.000 89.356 1.168.290.000 1.251.928.000.681.118.077.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000.552.480.977.209 Pertumbuhan (%) Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Perimbangan 749.205.339.890.609.608.000 26.686.575.207.03 7.535.177.000 21.223.395.086.000 1.671.185.290.661.000 849.898.000.000 19.20 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-12 .000 1.045.000 102.023 81.768.668.500 988.145.000 29.966 82.572.911.938.837.188.19 6.080.646.193.351.888.000.375.800 Keuangan dari Propinsi 45.143.000 802.51 6.284.927.103.97 7.305.712.500.000.978.000 101.800.696 83.500 80.807.776.000 929.552 Dana Alokasi Umum 654.816.636.902 1.851.646.35 9.968 84.316.646.30 39.935.118.658.000 4.644.000 18.469 1.036.401.064.078 1.572 1.396 Dana Alokasi Khusus 1.617 1.765.039 1.663.470.790.957 13.828.763.770 144.15 7.000 76.000 1.000 86.000 81.000 1.955.000.000 87.09 7.731.597.046.000 24.000.937.020.000.000.830.471.882.240.000 757.520.557.

000.800. DAU maupun DAK.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi Dana Perimbangan Hingga Tahun 2011 2.000.000.000.000.000.000 200.000.000.000. Lain-Lain Pendapatan yang Sah Pendapatan lain-lain yang sah yang merupakan dana kontingensi/penyeimbang dari pemerintah.000 1.000.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Bagi Hasil Alokasi Umum Alokasi Khusus Propinsi Perhitungan tersebut disumsikan variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan tersebut berjalan normal baik pada pembagian pajak.000.000.000 1.000 800.400.000 400. C. besaran dana tersebut sangat fluktuatif sesuai dengan realisasi aktual tahun anggaran berjalan.000.000. maka sulit untuk membuat proyek atau perkiraan item anggaran pendapatan ini. Karena sifatnya sebagai dana kontingensi.200.000. Lebih jelasnya perkiraan pendapatan lain-lain pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun Tahun 2011 adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-13 .000 1.000.000.000.600.000 600. Oleh sebab itu perkiraan besaran nominal pendapatan lain-lain pada perkiraan pendapatan ini hanya merupakan selisih dari total pendapatan dan perkiraan item pendapatan diluar pendapatan lain-lain. yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.000.000 Rupiah 1.000.000 1.000.000.

63 Pendapatan lain-lain yang sah hingga tahun 2011 tidak diproyeksikan karena variabel pendukungnya tidak tetap.500.506.890.000.834.03 6.707.986.667.49 6.895 142.196 203.853.686.459 178.367.000.000 62.000.290.000 1.115.630 1.000 60.895.000 1.141. Tabel 5.668.000.356 1.000 500.719.977.185.976.000.000.37 -80.000 60.001.927.56 1.000 123.367.000 0 2002 2004 2006 2008 2010 PAD Perimbangan Lain-lain Pendapatan BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-14 .602.7 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006*) 2007 2008 2009 2010 2011 PAD 75.37 7.851.331.609.000.594.540.410.898.000 1.447.646.112.362 1.511.374.471.512 Keterangan : *) Angka merupakan target tahun 2006 Sumber : Hasil analisis 2006 / Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 2.749.435.742.000 11.575.000.763.109.639.000.957 20.669.500 988.000 61.000.845. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bandung hingga tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.004.761.557.230.68 -2.500.403.57 7.140.902 1.000 61.000 1.938.000.000 91.000.6 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2006 Lain-lain Pendapatan yang syah 5.000 1.588 1.000 849.680.205.000 131.185.749.500 119.61 27.802.144.505.58 11.448.000.816.807.140.728.662.719.360.337.702.000 62.143.500 1.928.000 1.697.818.549 158.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.937.000 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan (%) 968.76 Pertumbuhan PAD dan Perimbangan (%) Pendapatan Lain-Lain yang Sah 5.694.237.000 Pendapatan 830.000 2.275.732.039 1.000.500 136.538.83 7.251 1.556 Perimbangan 749.043.410.000.000 1.798.718.000 11.263.826 2.115.768.000.375.024.000 929.000.000 Tahun 1.14 7.188.602.000.

Rumus yang digunakan adalah dengan menentukan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) dengan rumusan sebagai berikut: DSCR = Y C C = Besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Y = Pendapatan Daerah.000 OP APARAT MODAL APARAT OP PUBLIK 20.957.950.000 2.793.000 1.000 101.000 85.000 1.163.520.455.000. Analisa Kemampuan Pinjaman daerah Analisa kemampuan pinjaman daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana pinjaman baru.000 38.576.036.160.000 3.009. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.000 9.282.000.000 5.250.000 Jumlah 22.135.675. dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.000 31.5 .000 1.996.440.875.000 4.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D.044. DSCR > 2.000.000. DSCR < 2.850. didapat dari rumus berikut: Y = P + M – OM P M = Pendapatan Asli Daerah = Pajak Daerah.000 3.965. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.413.000 85.000 6.000 433.250.381.000 95.000 252.134. Analisa DSCR untuk Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut: BELANJA OP DAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2005* (OM) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SKPD Disdik Dinkes Dispertan Disnakan Dinkesos DKCKB Kimtawil DPU Disnaker Diskop BLKD RSD Majalaya 219.000 1.800.197.577.000 21.000.968.380.594.154.000 1.281.946.000 186.000 12. serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.5 .000 166.020. DSRC = 2.382.000.885.986.000 5.935.000 85.726.674.000 1.957.415.000 125. dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery).000 6.902.000 4.992.000 2.313.000 1.318.5 .599.094.640.790.131.804.000 21.028. dan bagian daerah lainnya OM = Belanja Operasi dan Pemeliharaan.824.000 1.000 1.074.330.594.000 67.000 13 RSD Soreang BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-15 .000 MODAL PUBLIk 2.440.236.394.000 10.640.000.000 6.000 870.000 84. penerimaan SDA.000.513.786.000 2.000 87.065.000 5.000.000.450.996.000 8.349.569. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.710.766.890. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru.000 307.105.875.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No SKPD OP APARAT 170.000.710.452.121.500.000 * = Belanja OP dan Modal yang Menunjang Langsung terhadap Akselerasi Pembangunan Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 PENDAPATAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2005* (P + M) No 1 2 3 4 5 6 PAD Bagi Hasil PBB Bagi Hasil BPHTB Bagi Hasil PPh 21 Bagi Hasil SDA Bagi Hasil Prov Jenis Pendapatan Jumlah 108.550.000 1.000 36.000 MODAL APARAT 149.876.000 1. pendidikan.000 14 Kantor Perpustakaan 15 DLH 16 Disperindag 17 Disbudpar 18 Dinas Kebersihan 19 KPMD Jumlah 853. kesehatan.000 30.489.885 10.322.215.593 104. Bandung BESARAN KEWAJIBAN PINJAMAN DITAMBAH BIAYA LAINNYA TAHUN ANGGARAN 2005 ( C ) No 1 2 Penyertaan Modal Jenis Biaya Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Jumlah 326.000. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-16 .507. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.021 * = Pendapatan Daerah diluar Bantuan dari Pusat maupun Provinsi Sumber : DPRD Kab.000 4.500.302.031.235 22.000 Jumlah 404.000.000.931.000 Jumlah Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 DSCR = Y ( P + M ) − OM = = 2.204.085.697.960.360.557.000 297.000 104.000 OP PUBLIK MODAL PUBLIk 85.000 1.725.220.931.677.000 1.646.000 419.500.312.093.050. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.982.650.000 592.209.511.904.443.000 233.304.170.000 4.000 17.344.000 127.000 3.000 42.988.000.000 30.701 57.000 37.588 9.203.864.000 555.664.360.019 Jumlah 312.078.581 (Layak memperoleh pinjaman) C C 5.500.729.000 1.990.731.000 2.2 ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.549.

e. g. f. b. Upaya pembobotan kerangka intervensi dilakukan dengan memperhatikan : 1. belanja barang dan jasa. Alokasi Anggaran pembangunan tahun-tahun sebelumnya 5. belanja pegawai. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-17 . yaitu : 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Klasifikasi belanja menurut jenis belanja sesuai PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah terdiri dari : a. hibah. Kebijakan pembangunan pemerintah pusat. d. Secara umum Misi Pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 dapat dikelompokkan menjadi 3 kerangka intervensi pembangunan. h. belanja modal. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. bantuan sosial. bunga. 5. Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Mengingat terbatasnya anggaran pembangunan daerah serta kemampuan sumberdaya pembangunan dalam mewujudkan program-program pembangunan. pendidikan 9 tahun dengan anggaran 20 % dari biaya pembangunan dan lain-lain. Visi dan Misi Bupati 2. subsidi. propinsi dan kabupaten seperti upaya peningkatan IPM. c. Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan 2.3 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN Dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 diperlukan kerangka kebijakan umum pembiayaan pembangunan untuk memprioritaskan program-program pembangunan Kabupaten Bandung. diperlukan upaya strategi pengurutan atau pembobotan prioritas program pembangunan daerah. dan i. Prioritas pembangunan 3. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 3. belanja tak terduga. Isue Strategis Pembangunan Daerah 4.

Berdasarkan pertimbangan tersebut. Kerangka Intervensi Upaya Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya memiliki alokasi APBD relatif sedang dalam awal pembangunan dan untuk selanjutnya terus meningkat dalam upaya terus terjadinya peningkatan pelayanan publik. arahan alokasi bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah. sehingga dengan bertahap pembangunan tata pemerintahan dikurangi bobotnya. Kerangka Intervensi Upaya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal memiliki alokasi rendah karena karakter tersebut sudah terbentuk dalam masyarakat dan masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan dan pemerintah memfasilitasi untuk memeliharanya. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-18 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kerangka Intervensi Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan memeiliki alokasi APBD yang cukup tinggi pada awal periode pembangunan karena merupakan landasan utama untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam upaya peningkatan pelayanan publik dan akselerasi pembangunan. Upaya perbaikan tata pemerintahan setiap tahun alokasinya terus menurun karena diasumsikan setiap tahun telah terjadi perbaikan pelayanan pemerintahan yang baik.

09% 81...09% 100.00% Sumber : Hasil Analisis dan Focus Groups Discussion 2006 Diagram Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi 90.23% 7..00% Tahun I Perbaikan Tata Pemerintahan Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-19 .00% TAHUN 3 % APBD 23.33% 100.18% 5.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel .82% 9.00% 50.75% 50..00% TAHUN 5 % APBD 9..00% 8.69% 100.00% 80.08% 69.00% 40.94% 41.00% 20..67% 75.00% 70.00% 6.88% 100.00% TAHUN 2 % APBD 43.00% 10.00% 60.00% TAHUN 4 % APBD 16.00% 0.25% 100. Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi PROPORSI ALOKASI APBD UNTUK 5 TAHUN UNTUK TIAP KATEGORI INTERVENSI PEMBANGUNAN TAHUN 1 KERANGKA INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal % APBD 52.00% 30.

.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Perkiraan belanja untuk setiap misi dan kebijakan pembangunan dilakukan dengan membobotkan kepentingan tiap misi dan prioritas pembangunan untuk setiap kelompok intervensi pembangunan.. Bobot tiap misi pembangunan adalah sebagai berikut : (Lihat Tabel ....) BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-20 .

758% 1.000% 7.667% 1.128% 0.000% 0.156% 6.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Perbaikan Tata Pemerintahan KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.156% 11.099% 1. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 52.282% 5.758% 0.282% 0.618% TAHUN 2 % APBD 43.282% TAHUN 5 % APBD 9.758% Misi 8.846% 2. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 3.758% 0.495% 1.282% 1.250% 1.091% 0.099% 1.387% 0.282% 0.396% 3.208% 5.495% 2.375% 6.375% 4.077% 1.250% TAHUN 3 % APBD 23. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 6. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) 1.941% 6.273% 0.099% 1. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 11.081% 9.208% 9. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 2.042% 1.000% 1. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1.282% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 3.758% 1.758% 2.273% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-21 .042% 1.750% 5.099% 5.081% 8. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 5.231% 1.099% 5. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 4.231% 1.198% TAHUN 4 % APBD 16.000% 6.

923% 1. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1.098% 10.282% 1. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 3.577% 1.000% 0.176% 1.000% TAHUN 3 % APBD 69.000% 1.113% 1.113% 11.113% 1.016% 10. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 2. 1.282% 1.308% 18.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya KATEGORI INTERVENSI Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Misi 3.923% 18.308% 17.282% 15.538% 11.000% TAHUN 5 % APBD 81.538% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 4.016% 1.016% 11. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 2.923% 2.881% 2.098% Misi 4.818% 10.881% 1.731% 1.098% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-22 .731% 1. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga TAHUN 2 % APBD 50.098% 2.113% 1.577% 17. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.881% 18.538% 15.731% 1.231% TAHUN 4 % APBD 75.923% 2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 41. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.577% 15.282% 1.308% 1.282% 1.731% 0.113% 1.731% 17.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.113% 2.588% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis Misi 5. 1.250% TAHUN 3 % APBD 7.731% 1. 1.588% 0.091% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-23 .294% 3. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 3. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 2. 1.282% 1.113% 1.564% 5.588% 0.882% TAHUN 2 % APBD 6.692% TAHUN 4 % APBD 8.769% 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1.339% 5.833% 0.588% 0. Tertib.909% 0.625% 0.833% 0.625% 0.769% 0.392% 1. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 3. Tenteram dan Dinamis.909% 0.923% 2.833% 0.923% 7.769% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.625% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 5. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 2.769% 6. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.769% 0.625% 0.909% 0.098% Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.128% 6.692% 8.833% 0.192% 5.333% TAHUN 5 % APBD 9.

833% 0.625% 0.769% 0.588% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahanan Budaya Masyarakat 0.833% 0.625% 0.625% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 4.625% 0. 1.909% 0.769% 0.625% 0.588% 0.769% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 3. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama Misi 6.909% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-24 . Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 3.909% 0.833% 0.588% 0.833% 0.833% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.588% 0.909% 0.769% 0.588% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.588% 0.833% 0.769% 0.769% 0.909% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 2.625% 0.

Dari hasil Proyeksi pada table 5. artinya sektor tersier merupakan potensi sumber pendapatan daerah kabupaten Bandung yang masih bisa dioptimalkan. • Bank Pembangunan Daerah. Tingginya laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Sedangkan yang lainnya merupakan potensi yang bisa langsung dikembangkan oleh pemerintah daerah walaupun penerimaannya dalam bentuk bagi hasil. • Bank Karya Produksi Desa. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. Pajak Ijin Mendirikan Bangunan. misi. 3. yang pada tujuan akhirnya adalah untuk pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. 5. kebijakan serta akselerasi pembangunan.4. 2. Bagian Laba Usaha Daerah. Dari beberapa bentuk sumber pendapatan diatas. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).1 dapat diambil kesimpulan bahwa sektor tersier mempunyai trend laju pertumbuhan yang paling baik dibanding sektor lain.4 5. 7. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). 6. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Pagu indikatif untuk tiap program pembangunan dituangkan dalam Bab VII. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan.1 Identifikasi Bentuk – Bentuk Sumber Pendapatan Baru Pengembangan Sektor Tertier Laju Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator pencapaian keberhasilan suatu pembangunan dan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Sektor tersier merupakan penyumbang pendapatan daerah melalui : 1. 8.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu indikatif tiap program pembangunan dilakukan dengan menggunakan metoda bobot tiap program dikaitkan dengan visi. ada sebagian yang berfungsi sebagai pengendalian pembangunan diantaranya: IMB yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam dalam pengembangannya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-25 .

Terdapat beberapa potensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Bandung.4. akibatnya pembangunan properti mulai bergeser dari perkotaan ke wilayah sekitarnya (perbatasan). Panas Bumi dan Bangunan/konstruksi (Properti) merupakan sektor ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi karena tingginya permintaan pasar. diantaranya : Pengelolaan • Kelompok Tani • Disbudpar • Dispertan Kegiatan Usaha • • Wisata Agrobisinis Geowisata • • • • • Kelompok Pembuat Makanan Tradisional • Diskop dan UKM • Kelompok Pengrajin • Diskop dan UKM • Produksi Makanan khas Kabupaten Bandung.2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal adalah pengembangan ekonomi setempat dengan menggunakan sumberdaya dan faktor-faktor produksi lokal. perkebunan. Peluang Pasar • Wisatawan Lokal dan Mancanegara Penyerapan Tenaga Kerja • Petani • Masyarakat Sekitar Domestik • Industri kecil Masyarakat Sekitar Domestik dan Internasional • Industri kecil Masyarakat Sekitar BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-26 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan analisis terhadap LPE per Sektor dan gambaran umum kondisi Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa sektor tersier (perdagangan dan jasa) merupakan sektor potensial. sedangkan properti merupakan kebutuhan primer manusia yang akan semakin tinggi permintaannya seiring dengan tingginya laju Pertumbuhan Penduduk dan sempitnya lahan. Lokasi Kabupaten Bandung yang mengelilingi wilayah Kota Bandung akan menjadi tujuan utama para investor di bidang properti untuk memperluas pembangunannya ke Kabupaten Bandung. kehutanan) Sektor Pariwisata Sektor industri kecil Sektor Energi (Panas Bumi) Beberapa aktivitas Perekonomian Lokal yang Potensial untuk dapat berkembang di Kabupaten Bandung. Pengembangan ekonomi lokal dapat memberikan efek multiplier perekonomian setempat dan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. Panas bumi merupakan sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Bandung. diantaranya : • • • • Sektor Agrobisnis (Pertanian. 5. peternakan. Produksi Kerajinan Tangan Permodalan Pemkab Bandung Bantuan Internasional BPD Lembaga Keuangan Daerah.

3 Pengembangan Agribisnis Secara luas telah diakui. Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang lalu membuktikan. Pembangunan pertanian kedepan harus merupakan upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh pada semua aspek ekonomi. keuntungan bagi sipengelola. bahwa pertanian merupakan sektor tangguh pendukung pembangunan sektor industri. peningkatan pendapatan petani. serta penyediaan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Sebenarnya. bertahan goncangan ekonomi nasional. yang didalamnya terkait BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-27 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pengelolaan • Kelompok Peternak • Disnakan • Kelompok Seniman • Disbudpar • DLH (Pertambangan dan Energi) • Swasta Kegiatan Usaha Pengolahan Hasil Ternak Pagelaran Seni Sunda Pengelolaan sumber daya panas bumi • • Pemkab Bandung Swasta Permodalan Peluang Pasar Domestik Penyerapan Tenaga Kerja • peternak Masyarakat Sekitar • Seniman Masyarakat Sekitar • Masyarakat Domestik dan Internasional Domestik Terdapat • • • • • • • beberapa lembaga yang dapat membantu mendorong pengembangan ekonomi lokal. Bahkan kegiatan agribisnis pertanian ini mampu meraup keuntungan memadai dan menciptakan iklim kondusif yang sangat diperlukan untuk peningkatan perekonomian nasional pada sektor lain. Usaha agribisnis umumnya mengutamakan penggunaan bahan baku lokal yang banyak tersedia di dalam negeri dan sesedikit mungkin menggunakan komponen impor. Teknologi dan keterampilan kegiatan agribisnis pertanian pada umumnya dapat dikuasai oleh para pelaku usaha serta dapat dikembangkan secara mudah sesuai kebutuhan. sektor agribisnis pertanian tetap mampu mempunyai peran dan memberikan kontribusinya terhadap terhadap devisa negara. diantaranya : LUEP BUMDES KUBE KOPERASI dan UKM USAHA POLA SYARIAH BMT Dll 5. penyerapan tenaga kerja.4. peningkatan nilai tambah komoditi pertanian. ketangguhan tersebut disebabkan oleh karakterisitik dan keunggulan dari agribisnis itu sendiri.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, serta subsistem jasa penunjang agribisnis pertanian. Ini berarti bahwa di dalam pembangunan ekonomi nasional mendatang, sektor agribisnis pertanian tidak lagi hanya sekedar ditempatkan sebagai pendukung atau pelengkap.

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-28

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB VI KEBIJAKAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan penjabaran dari kebijakan. yang merupakan

6.1 Kebijakan untuk Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik (Misi 1) Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama, yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik, efisien, efektif, partisipatif berlandasakan hukum, adil, demokratis, transparan, responsif, berorientasi konsesus, kesetaraan, akuntabel dan memiliki visi strategik. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik, peran kepemimpinan merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selain pemantapan sistem dan manajemen kepemerintahan juga perlu dimantapkan kepemimpinan yang demokratis, egaliter dan mampu

mengedepankan keteladanan. Kebijakan umum dan program yang diperlukan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik perlu ditunjang kebijakan : A. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur; dengan Program: 1) Peningkatan moral, disiplin, budaya dan etos kerja aparatur; 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum, diklat struktural dan teknis fungsional; 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan; 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah; 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen; 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif; 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan

Peningkatan

Kualitas

Penyelenggaraan

Administrasi

Pemerintahan Daerah; dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan; Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan; Penataan peraturan perundang-undangan daerah; Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah; Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat; Peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; Pembinaan dan pengelolaan pertanahan; Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan, Kelurahan dan Desa; 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan;

10) Pengembangan evaluasi kebijakan. C. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Program: 1) 2) 3) D. Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM); Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik; Penataan wilayah;

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah, dengan Program: 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah; 2) 3) 4) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah; Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa; Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah;

E.

Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan, dengan Program: 1) Pengembangan manajemen partisipatif; 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat; 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa; 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

F.

Kebijakan

Pengembangan

Sistem

Informasi

dan

Komunikasi

pembangunan, dengan Program: 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan; 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi; 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa;

6.2 Kebijakan untuk Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman, Tertib, Tentram Dan Dinamis (Misi 2) Keamanan, ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang aman, tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. Terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis perlu didukung dengan adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Hal tersebut perlu didukung dengan kebijakan umum sebagai berikut : A. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat; dengan Program: 1) Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah; 2) 3) Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat; Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas; 4) Pemamtapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan; 5) 6) B. Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib; Peningkatan kesadaran budaya tertib.

Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM, melalui Program: 1) 2) Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; Penerapan hukum secara konsekwen;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

3) 4) 5) 6) 7) 8) C.

Sosialisasi, bantuan dan perlindungan hukum; Pengembangan sistem jaringan informasi dan dukumentasi hukum; Pengembangan produk hukum daerah; Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah; Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum; Pemantapan koordinasi antar penegak hukum;

Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis; dengan Program 1) 2) Peningkatan pendidikan politik masyarakat; Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; 3) 4) 5) Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi; Fasilitasi kegiatan politik di daerah; Perlindungan hak politik masyarakat.

6.3 Kebijakan untuk mendukung Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Misi 3) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan dan program : A. Kejakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peningkatan pelayanan pendidikan; Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan; Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan; Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun; Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan; Peningkatan kualitas tenaga kependidikan; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; Pengembangan manajemen sekolah; Peningkatan kesejahteraan guru;

10) Pengembangan tingkat partisipasi sekolah; 11) Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS); 12) Pengembangan pendidikan anak dini usia.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-4

kepemimpinan dan kepeloporan. C. Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. makanan dan minuman.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. Pembinaan. 7) Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. D. 2) Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. Perlindungan ibu. 5) Pemasyarakatan olah raga. pengawasan dan pengendalian obat-obatan. pembangunan dan kemasyarakatan. 9) Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. peralatan kesehatan dan kosmetika. 10) Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. 3) Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. 7) 8) 9) Pengembangan kesehatan lingkungan. anak dan reproduksi. Perbaikan gizi. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat . dengan Program: 1) Pemberdayan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. Peningkatan budaya hidup bersih. 6) Perningkatan prestasi olah raga. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-5 . 4) Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga. Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. dengan Program: 1) 2) 3) Peningkatan keberdayaan perempuan. sehat dan berkualitas. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. Penanggulangan penyakit. 8) Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender. Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan.

Peningkatan ketahanan sosial. Penaganan masalah-masalah sosial. Peningkatan distribusi pangan. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. Kebijakan untuk menanggulagi masalah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perlu ditunjang dengan : A. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. seperti sentra tekstil. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Revitalisasi pertanian. B. Pengembangan sistem perlindungan sosial. individu. Pemberdayaan anak terlantar. 6) 7) 8) 9) Penanggulangan bencana dan pengungsi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. Meet Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. sentra agribisnis. Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. sentra konveksi. diantaranya tidak adanya pendapatan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-6 . Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Soaial. penyandang cacat. lansia dan penyandang tuna sosial.4 Kebijakan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat (Misi 4) Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. Diversivikasi pangan. Pengembangan sentra-sentra-sentra unggulan pada kawasan andalan. keluarga dan masyarakat. Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan kualitas pelayanan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. 9) Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. pertenakan dan perikanan. 10) Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Pengamanan ketersedian pangan. Pengembangan agribisnis.

Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga. Dalam perspektif agama. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. 13) Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. 11) Pengembangan industri manufaktur. 19) Pengembangan keparawisataan. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. 6. 18) Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. 17) Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan koperasi. 14) Pengembangan ekonomi syariah. kecil dan menengah. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. Pengendalian urbanisasi. 12) Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan. Pemantapan hubungan industrial. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan.5 Kebijakan untuk Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. 16) Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. tetapi juga muatan sosial. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-7 . terutama permodalan. C. Penataan administrasi kependudukan. D. Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. 15) Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. usaha mikro.

Kebijakan Pengembangan Potensi Umat. 3) Pengembangan ekonomi syari’ah. dengan Program: 1) Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. 8) Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. 3) Optimalisasi zakat. 4) Pengembangan ekonomi melalui lembaga keagamaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-8 . 6) Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. 3) Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. Kebijakan untuk mendukung misi tersebut diantaranya : A. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan. dengan Program: 1) Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. 7) Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. 2) Pengembangan manajemen potensi umat. 6) Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. 4) Peningkatan kerukunan hidup beragama. dengan Program: 1) Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. B. C. 4) Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. 5) Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. 2) Peningkatan harmonisasi sosial. 2) Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. 9) Pengembangan TPA/TKA. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial. 5) Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. infaq dan sadaqah. 5) Pemberdayaan ormas keagamaan.

4) Pengembangan ekonomi budaya. dengan B. 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D. 3) Pengembangan produk budaya. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-9 . Budaya Sunda. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. 3) Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. 2) Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. seperti tersedianya gedung kesenian. dengan Program: 1) Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. 4) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. dengan Program: 1) Pengembangan adat istiadat daerah. C. 2) Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. Kebijakan Pengembangfan dan Pelestarian Program: 1) Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. Kebijakan dan program yang diperlukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah : A. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat. Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. dengan Program: 1) 2) 3) Penggalian nilai-nilai budaya sunda. 3) Peningkatan pelayanan ibadah haji. 5) Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. Selain. 2) Pelestarian asset budaya.6 Kebijakan untuk Mendukung Upaya Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda (Misi 6) Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda.

Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. C. dengan Program: 1) Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. 3) Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage.Majalaya. 4) Penegakan hukum lingkungan. Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). 2) Pengembangan manajemen pertanahan. Pengembangan sentra tekstil. 6) Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. B. 3) Pengelolaan dan pendayagunaan limbah. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. 7) Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. 2) Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu. 8) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-10 . Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. dengan Program: 1) Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. Pengembangan daerah ibu kota Soreang. Pengembangan sentra konveksi. 5) Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Pengembangan sentra agribisnis.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. yaitu menguntungkan secara ekonomis.7 Kebijakan untuk Memelihara Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Misi 7) Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan.

LKMD. 5) Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 4) Pengembangan akses pemasaran produk desa. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. dengan B. Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa. Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Peningkatan kualitas perangkat desa. Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. RW. Kebijakan Program: 1) Pengembangan pasar desa.8 Kebijakan untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (Misi 8) Dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat desa. Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. 12) Penataan iklim investasi yang kondusif. pembangunan harus dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kinerja pembangunan desa. 2) Pengembangan produk unggulan desa. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan pedesaan. 11) Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. 3) Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). RT dan lain-lain). melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. pengembangan kapasitas keuangan desa. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. 5) 6) 7) Peningkatan sarana dan prasarana desa. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-11 . 6.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung C. Kebijakan Program: Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan. 2) Pengembangan utilitas perdesaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-12 . 3) Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. dengan 1) Peningkatan infra struktur perdesaan.

Matriks ini digunakan untuk menyusun Renstra-SKPD dan Rencana Kerja tahunan SKPD sesuai dengan fungsi dan sub fungsi serta memperhatikan sumber daya yang tersedia. pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyisihkan anggaran untuk belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja gaji pegawai/personalia. Karena sifat belanja langsung diatas. belanja modal. program.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Program pembangunan daerah lima tahun kedepan dituangkan dalam matriks program lima tahunan dan program tahunan. BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 . Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan (BHBK) dan Biaya tak Terduga. artinya besaran belanja tersebut mengikuti jenis dan banyaknya jumlah kegiatan secara berbanding lurus. Dalam perkiraan besaran pagu indikatif setiap program lima tahunan dan tahunan harus memperhatikan perkiraan belanja daerah yang merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pembangunan. belanja daerah secara garis besar terbagi menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. Jika dilihat dari jenis belanjanya. Belanja langsung adalah belanjabelanja yang timbul sebagai konsekwensi adanya program atau kegiatan pembangunan yang dibutuhkan dalam kurun satu tahun anggaran. indikator keluaran. Belanja ini timbul secara periodik dalam rangka koordinasi pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dan digunakan bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan program dan kegiatan setiap unit. fungsi dan sub fungsi pembangunan serta alokasi proporsi indikatif APBD per program baik lima tahunan maupun tahunan. Dalam matriks tersebut dijabarkan kebijakan. artinya belanja ini merupakan belanja kebutuhan minimal untuk operasional pemerintahan. maka untuk memperoleh perkiraan belanja untuk tiap program.

budaya dan etos kerja aparatur. produktif dan bertanggungjawab Terbentuknya aparatur yang profesional sesuai dengan Tupoksi Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.34622% APBD Kabupaten 0.1 MATRIKS PROGRAM LIMA TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1. bermoral.42453% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen. Terselenggaranya sistem reward dan punishment Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0.33714% APBD Kabupaten 0. Pendidikan Pendidikan Kedinasan 0. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.34096% APBD Kabupaten Pelayanan Umum 6 Terbentuknya mental aparatur yang kreatif dan inovatif Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.37678% APBD Kabupaten Terbentuknya aparatur yang kreatif. Terwujudnya budaya kerja aparatur yang berdisiplin. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 1) Peningkatan moral. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. inovatif. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan Keterangan 1. profesional. Pelayanan Umum 4 5 Terselenggaranya sistem kepegawaian yang berdasar pada aturan perundangundangan. disiplin.34860% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-2 . diklat struktural dan teknis fungsional.

Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.efektif. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.38155% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. Terselenggaranya evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan yang independent.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Tertatanya fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan supaya lebih memadai.25974% APBD Kabupaten 5 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.Terwujudnya harmonisasi peraturan daerah dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi 2. efisien dan transparan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tersedianya regulasi sesuai kebutuhan daerah Terselenggaranya proses penyelenggaraan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.24533% 4 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Indikator Keluaran Terbentuknya keteladanan setiap jiwa pimpinan satuan kerja FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 2. efektif.26999% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. proporsional. ramping dan kaya fungsi serta responsif Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelayanan publik 1. 3) Penataan peraturan perundang-undangan daerah.25558% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.27159% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-3 .

Kelurahan dan Desa.27512% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM 6) Peningkatan koordinasi. 2 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.48035% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-4 . Terwujudnya pendelegasian kewenangan sesuai dengan peraturan yang ada Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0. integrasi.Terbentuknya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada tiap SKPD 2. Indikator Keluaran Meningkatnya koordinasi.Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pelayanan Publik Terbentuknya sistem. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan. integrasi.23604% APBD Kabupaten 0. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. 1.23060% APBD Kabupaten 3.27608% APBD Kabupaten 10 Terjalinnya harmonisasi antar lembaga pemerintahan baik secara vertikal maupun horizontal Tersusunnya langkah-langkah sistematis evaluasi lebijakan Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. mekanisme dan prosedur pelayanan publik yang mudah dan sederhana Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.48804% APBD Kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. sinkronisasi dan simplikasi hubungan kerja antar lembaga Terbentuknya tertib pertanahan FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 7 Pelayanan Umum 8 9 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan. sinkronisasi dan simplikasi. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.23572% APBD Kabupaten 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).

1.Terwujudnya keseimbangan antara serapan anggaran yang bersifat pembangunan Terwujudnya alokasi dana desa yang proporsional Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Bertambahnya sumber pendapatan asli daerah 3.52068% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM 3) Penataan wilayah.79964% APBD Kabupaten 3 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.84492% APBD Kabupaten 2 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.Tersedianya dokumen datadata potensi restribusi dan pajak daerah 2.Terwujudnya rasionalitas anggaran 2.Tersedianya produk hukum mengenai penataan namanama jalan di ibukota Kabupaten Bandung 6.Terbangunnya tugu batas kecamatan 5. Terbangunnya pilar batas daerah Kabupaten Bandung 3. Indikator Keluaran 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.Terpeliharanya tugu batas Kabupaten/Kota dan gapura Kabupaten 4. Terwujudnya pemekaran Kabupaten Bandung. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.88425% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-5 . 2.Terlaksananya penataan wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung yang berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan publik FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 4.Meningkatnya pendapatan asli daerah dari sumber restribusi dan pajak daerah 1.

Meningkatnya tingkat kepuasan hasil kerja BUMD Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.25132% 0.28090% APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.38433% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-6 . Terbentunya sistem dan mekanisme yang mengatur pola partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Terbentuknya fasilitasi sistem pengawasan masyarakat Meningkatnya kinerja dalam tugas pembantuan kepada desa Meningkatnya tugas dan fungsi LSM. Tersosialisasikannya program pembangunan kepada masyarakat Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan 0. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa. Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1.24287% 6. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.79844% APBD Kabupaten 5. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 1) Peningkatan transparasi programprogram pembangunan.Meningkatnya kontribusi pendapatan dari laba BUMD 2. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 1) Pengembangan manajemen partisipatif.29033% APBD Kabupaten 2 3 4 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 4 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM dan desa.

80805% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-7 . fungsi serta kewenangan desa Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tersedianya penyelenggaraan pemerintahan desa yang mampu melaksanakan tugas.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Lainnya Keterangan 2 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.32449% APBD Kabupaten Misi 8.Tersedianya aparatur daerah yang memahami peraturan perundangundangan tentang desa 3. Tertatanya sistem dan mekanisme pengelolaan informasi dan komunikasi Terjalinnya hubungan yang sinergis dan konstruktif dengan media massa Pelayanan Umum 3 Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa.Terdapatnya badan khusus yang menangani urusan desa 2.35660% APBD Kabupaten 0.Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa baik 4. 1.

78773% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-8 .Optimalnya kinerja perangkat desa dan pelayanan kepada masyarakat 3. LKMD. RT dan lain-lain).84072% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan kualitas perangkat desa.Teroptimalisasinya penggunaan alokasi dana desa3. RW.Tertata dan terlaksananya tugas pembantuan desa 1.Tersedianya sarana dan prasarana desa 2.79038% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.79038% APBD Kabupaten 6 — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.81599% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan sarana dan prasarana desa. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terwujudnya partisipasi secara optimal lembaga desa dalam pembangunan 2.Meningaktnya kesejahteraan perangkat desa 1.Terserapnya sumbersumber keuangan desa dan meningkatnya swadaya masyarakat 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran 1.Terinventarisasinya kewenangan desa yang dapat dilaksanakan 2.Terwujudnya pengalokasian dana desa2.Terpenuhinya sarana dan prasarana seda sesuai kebutuhan 1.Meningkatnya pengetahuan (kualitas lembaga desa) FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 3 — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.Meningkatnya kualitas kerja aparat desa 2.

budaya dan lain-lain. koperasi dan UKM 0. Indikator Keluaran 1. koperasi dan UKM Perdagangan. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). Berkembangnya sarana pasar desa Ekonomi 2 3 — Pengembangan produk unggulan desa.Terbentuk dan terinventarisasinya kelompokkelompok masyarakat sesuai profesi 2.Meningkatnya kesehatan reproduksi. pengembangan usaha.14664% APBD Kabupaten Berkembang dan teroptimalkannya BUMDES Ekonomi 0. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 — Pengembangan pasar desa. koperasi dan UKM Perdagangan. pengembangan olah raga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Dilibatkannya masyarakat/kelompok masyarakat dalam perencanaan. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Teroptimalisasinya pemanfaatan sumber daya lokal Ekonomi Perdagangan. kesejahteraan keluarga. kesenian. koperasi dan UKM Perdagangan. pengembangan usaha.82571% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.Meningkatnya kemandirian kelompok masyarakat desa 4. pengembangan usaha.15064% APBD Kabupaten 0. — Pengembangan akses pemasaran produk desa. pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan 3. FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 2. pengembangan usaha.13961% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-9 .14347% APBD Kabupaten 4 Semakin luas jaringan akses pemasaran produk desa Ekonomi 0.

pengembangan usaha.48710% APBD Kabupaten Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-10 .78689% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan utilitas perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tertatanya fungsi kawasan perdesaan secara optimal Ekonomi Transportasi 1. Indikator Keluaran Berkembangnya lembaga dan jasa keuangan desa FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. Lingkungan Hidup Tata Ruang dan pertanahan 1.Tersedianya data fasilitas umum dan fasilitas sosial desa 2. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 — Peningkatan infra struktur perdesaan. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perdesaan serta meningkatnya pengetahuan dan kemampuan teknis masyarakat desa 1.tersusunya penataan fungsi ruang kawasan pedesaan dalam RDTR 2.11246% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.77900% APBD Kabupaten 3 — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. koperasi dan UKM Keterangan 3.Meningkatnya kemanfaatan dan daya guna fasilitas yang ada 1.

Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.31158% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-11 . Pendidikan Pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan Pendidikan lainnya 1.40960% APBD Kabupaten 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 3.29524% APBD Kabupaten 1. Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal Pendidikan lainnya pelayanan bantuan terhadap pendidikan 1. Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan pendidikan Terwujudnya kurikulum pendidikan yang mengandung muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan Terlaksananya pendidikan wajar dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah dari seluruhlapisan masyarakat terutama keluarga miskin Terselenggaranya pendidikan non formal dan kejuruan yang berorientasi kepada keahlian Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai Pendidikan 2 3 — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.09221% APBD Kabupaten 6 Pendidikan 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pelayanan pendidikan.33142% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan. Pendidikan Pendidikan dasar 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.27541% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.24740% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 7 Pendidikan 1. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.

— Pengembangan tingkat partisipasi sekolah. Meningkatnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan Kesehatan Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat 1. Pendidikan Pendidikan usia dini 1.53799% APBD Kabupaten 2 Kesehatan 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. sehat dan berkualitas.16339% 10 Pendidikan 1.63998% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-12 .33025% 11 Pendidikan 1.27657% APBD Kabupaten 2. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.13655% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Pengembangan manajemen sekolah.32675% 12 — Pengembangan pendidikan anak dini usia. — Peningkatan kesejahteraan guru. Indikator Keluaran Terselenggaranya KBM berbasis MBS secara optimal Meningkatnya aktivitas guru dalam KBM Berkurangnya angka putus sekolah Terlaksananya pendidikan sejak dini usia dan meningkatnya RLS Terlaksananya pendidikan pra sekolah FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan dasar Keterangan 9 Pendidikan 1. — Peningkatan budaya hidup bersih.

pengawasan dan pengendalian obatobatan. Indikator Keluaran Menurunnya angka kesakitan FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan perorangan keluarga berencana Keterangan 4 — Perbaikan gizi. makanan dan minuman.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan outline plan drainase 6.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan masterplan drainase Kesehatan kesehatan lainnya 1. — Pengembangan kesehatan lingkungan.Terlaksananya program prokasin dan terbangunannya sarana pengolahan dan sanitasi 4.53799% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Penanggulangan penyakit.Terlaksananya pembangunan prasarana dasar lingkungan pemukiman 3. anak dan reproduksi. Kesehatan Obat dan perbekalan kesehatan 1. anak dan pada masa reproduksi Terkendalinya penggunaan obat-obatan. Kesehatan 1.30954% APBD Kabupaten 7 1.53663% APBD Kabupaten 6 — Pembinaan. peralatan kesehatan dan kosmetika Kesehatan 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan data verifikasi sanitasi 2. makanan dan minuman.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama balita dan bumil Meningkatnya status kesehatan ibu.60327% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-13 .52575% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan ibu.Terbangunnya saluran drainase lingkungan perkotaan 5. peralatan kesehatan dan kosmetika.

24239% APBD Kabupaten 2 Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.24684% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-14 .Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Keterangan 9 Kesehatan 1.46592% APBD Kabupaten 10 Kesehatan 1. Indikator Keluaran Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Tersedianya SDM tenaga kesehatan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan 1.59919% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.44008% APBD Kabupaten 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. — Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 — Peningkatan keberdayaan perempuan. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan Teroptimalisasinya perlindungan dan advokasi hak perempuan Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.Tersedianya sistem jaringan pelayanan kesehatan bagi masyarakat 2.

17943% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. kepemimpinan dan kepeloporan. Tersedianya media aktifitas dan kreatifitas generasi muda yang akomodatif Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. Indikator Keluaran Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Pemberdayaan perempuan Keterangan 4. jiwa kepemimpinan dan pelopor Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Tersedianya kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pembangunan dan kemasyarakatan. Meningkatnya ketahanan moral dan mental generasi muda Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.20200% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-15 .20764% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. Terbentuknya generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha.27097% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.20595% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.

Meningkatnya prestasi olah raga Pariwisata dan Budaya 0.18112% APBD Kabupaten 7 — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.15548% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-16 . Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan. Pariwisata dan Budaya 0. 1. 1. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.17350% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.17971% APBD Kabupaten 8 Pariwisata dan Budaya 0. Pariwisata dan Budaya 0.Meningkatnya kualitas pelayanan rehabilitasi sosial 2. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga masyarakat sesuai kebutuhan Terwujudnya sistem dan mekanisme keolahragaan yang berorientasi pada prestasi Terbangunnya kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.18422% APBD Kabupaten Misi 4. Indikator Keluaran Tumbuhnya aktivitas keolahragaan FUNGSI Pariwisata dan Budaya SUB FUNGSI pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga Keterangan 6 — Peningkatan prestasi olah raga.Tersedianya sarana dan prasarana rehabilitasi sosial perlindungan sosial perlindungan sosial lainnya 0.17491% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pemasyarakatan olah raga.

— Peningkatan ketahanan sosial.15377% APBD Kabupaten 4 perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0. Tertanggulanginya masalahmasalah sosial Meningkatnya ketahanan sosial. keluarga dan masyarakat. Indikator Keluaran Tersedianya sistem dan managemen perlindungan sosial Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kesejahteraan sosial Tersedianya lembaga advokasi perlindungan anak FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 3 — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. pengetahuan dan keterampilan serta perlindungan anak terlantar.16639% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 8 0.15805% APBD Kabupaten 7 — Penaganan masalahmasalah sosial. lansia dan penyandang tuna sosial perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan orang sakit dan cacat 0. penyandang cacat. lansia dan penyandang tuna sosial. perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. penyandang cacat.15313% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Pengembangan sistem perlindungan sosial. Tersedianya prosedur penanggulangan bencana secara cepat. Meningkatnya kemampuan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.15313% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan anak terlantar. individu. — Advokasi dan perlindungan hak-hak anak.15783% APBD Kabupaten 6 — Penanggulangan bencana dan pengungsi. terarah dan terpadu ketertiban dan keamanan penanggulangan bencana 0. keluarga dan masyarakat perlindungan sosial perlindungan sosial bantuan dan jaminan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0.21387% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-17 . individu.

70797% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil.17772% APBD Kabupaten 2. Tertanggulanginya permasalahan pangan Ekonomi 0. Tertatanya sistem pendistribusian pangan secara proporsional Meningkatnya hasil panen secara optimal dan terolah dengan baik Tersedianya keragaman pangan Ekonomi 0. perikanan dan kelautan pertanian. Indikator Keluaran menurunnya tingkat penggunaan obat-obatan terlarang Terwujudnya bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Obat dan perbekalan kesehatan bantuan dan jaminan sosial Keterangan 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. — Diversifikasi pangan.kehuta nan. perikanan dan kelautan 0.kehuta nan.61725% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.kehuta nan. perikanan dan kelautan pertanian.kehuta nan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 — Pengamanan ketersedian pangan.kehuta nan. perlindungan sosial 0. perikanan dan kelautan pertanian.66642% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-18 . Terpenuhinya kebutuhan pangan Ekonomi pertanian.19911% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. Ekonomi 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.72154% APBD Kabupaten 4 Ekonomi 0.70712% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan distribusi pangan. perikanan dan kelautan pertanian.

pengembangan usaha.kehuta nan. pengembangan usaha. pengembangan usaha. pertenakan dan perikanan. Meningkatnya hasil produksi industri manufaktur Ekonomi Perdagangan. Indikator Keluaran Terwujudnya kawasan dan produk agribisnis FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.89365% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-19 . koperasi dan UKM 0. peternakan dan perikanan Ekonomi pertanian. pengembangan usaha. usaha kecil dan menengah Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM 0.85720% APBD Kabupaten 10 — Pengembangan koperasi.91739% APBD Kabupaten 9 Tersedianya sarana dan prasaran perdagangan sesuai kebutuhan Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. usaha mikro. seperti sentra tekstil. — Pengembangan sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. Meningkatnya hasil pertanian.92926% APBD Kabupaten 8 Tersedianya penampungan dan pemasaran hasil produksi Ekonomi 0.64692% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan agribisnis. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). pengembangan usaha. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan.99540% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan industri manufaktur. kecil dan menengah. perikanan dan kelautan Perdagangan. sentra konveksi. Meningkatnya peran dan fungsi koperasi. koperasi dan UKM Keterangan 7 — Revitalisasi pertanian. sentra agribisnis.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.

koperasi dan UKM Keterangan 13 — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).64608% APBD Kabupaten 14 — Pengembangan ekonomi syariah. koperasi dan UKM 0. terutama permodalan. pengembangan usaha. Meningkatnya privatibilitas BUMD Ekonomi Perdagangan.83685% APBD Kabupaten 16 — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. Meningkatnya investasi Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatankegiatan kewirausahaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. koperasi dan UKM 0. Terbentuknya iklim usaha yang profesional Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha. pengembangan usaha.77071% APBD Kabupaten 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.83346% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-20 . Terserapnya akses permodalan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya produktif Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. pengembangan usaha. Terselenggaranya kegiatan ekonomi yang berbasis syariah Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0.80293% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 12 PROGRAM — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.95300% APBD Kabupaten 15 — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha.

80378% APBD Kabupaten 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.88941% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 18 PROGRAM — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.30826% APBD Kabupaten 3 Ekonomi tenaga kerja 0. Terserapnya tenaga kerja secara optimal Ekonomi tenaga kerja 0.28569% APBD Kabupaten 5 Terjalinnya hubungan sinergis masyarakat industri Ekonomi Industri dan konstruksi 0. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.32276% APBD Kabupaten 2 Tersedianya tenaga kerja yang berkualitas dan produktif Terbentuknya lembagalembaga perlindungan tenaga kerja Menurunnya angka pengangguran Ekonomi tenaga kerja 0. Indikator Keluaran Terpenuhinya hak dasar masyarakat miskin FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI bantuan dan jaminan sosial Keterangan 19 Terwujudnya sistem dan manajemen kepariwisataan Pariwisata dan Budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. — Pemantapan hubungan industrial.28457% APBD Kabupaten 4 Ekonomi tenaga kerja 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.23552% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-21 . — Pengembangan keparawisataan.

2.29906% 5 — Pengendalian urbanisasi.25157% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 4 0.32878% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-22 . — Penataan administrasi kependudukan.25168% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Penyelesaian masalahmasalah ketenagakerjaan.38388% APBD Kabupaten 3 Tertatanya sistem pencatatan kependudukan Menurunnya tingkat keluhan terhadap pelayanan kependudukan dan transmigrasi Perlindungan sosial Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Terfasilitasinya masalahmasalah ketenagakerjaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI tenaga kerja Keterangan 4. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.42520% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.Menurunnya laju pertumbuhan penduduk. 1. Berkurangnya perpindahan penduduk dari desa ke kota Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.menurunnya tingkat angka kesakitan masa reproduksi Kesehatan keluarga berencana 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Meningkatnya keterampilan dan ketahanan keluarga Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

1.53745% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan aparat terhadap hukum lingkungan 2. Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.53680% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-23 . Lingkungan hidup perlindungan lingkungan hidup lainnya 0.Meningkatnya keseimbangan lahan. KEBIJAKAN 1.Teroptimalisasinya lahan kritis dan konservasi lahan Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi strategis lingkungan Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.63957% APBD Kabupaten 4 — Penegakan hukum lingkungan.58720% APBD Kabupaten 3 — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.Berfungsinya penegak hukum secara optimal Lingkungan hidup manajemen limbah 0. Terkelolanya limbah domestik dan limbah industri beserta pemanfaatannya 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 7. daya dukung dan kualitas lingkungan 2. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.

Meningkatnya efisiensi pemanfaatan SDA Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Adanya peran aktif dari masyarakat dan lembaga kemastarakatan dalam melestarikan lingkungan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI konsevasi sumber daya alam Keterangan 6 — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.Terlaksananya pengembangan hutan rakyat Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Terlaksananya KISS program Dibale dengan stakeholder terkait 2.54858% APBD Kabupaten 2.57804% APBD Kabupaten 8 — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.54007% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.Terlaksananya daur ulang dan pendayagunaan sampah Lingkungan hidup manajemen limbah 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-24 . Indikator Keluaran 1. 1.Tersedianya TPS dan TPA 3.54007% APBD Kabupaten 7 — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. 1.Tersedianya sistem pola dan mekanisme pengelolaan sampah terpadu 2.Meningkatnya kesadaran pelestarian hutan 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 2. 1.Terfasilitasinya masalahmasalah pertanahan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya Keterangan 2 — Pengembangan manajemen pertanahan.Teroptimalisasinya pelaksanaan penertiban penggunaan tanah sesuai peruntukannya 3.Teroptimalisasinya pengendalian dan pengawasan pembangunan Lingkungan hidup Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya 2. Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 2.04197% APBD Kabupaten 3 — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.29906% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. Indikator Keluaran Tersusunnya dokumen perencanaan.Teroptimalisasinya administrasi pertanahan 4. penataan kawasan khusus dan pemetaan melalui KISS program 1.Tersusunnya sistem pengawasan dan pengendalian pembangunan 2. RDTR. Tersedianya data-data pertanahan 2.25769% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-25 .

— Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.majalaya 1. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).14081% APBD Kabupaten 2 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.12801% APBD Kabupaten 3 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. Tersusunnya dokumen rencana terpadu.13781% APBD Kabupaten 4 Perumahan dan fasilitas umum Perumahan dan pemukiman lainnya 0.soreang dan gedebage.Majalaya. penetapan kawasan andalan dan kota mandiri Berkembangnya jaringan prasarana dasar wilayah (SRTPK) Terwujudnya pembangunan jalan tol pasir koja. — Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage.Tersedianya data verifikasi fasilitas umum. fasilitas sosial dan perumahan2.Tertata dan termanfaatkan sarana prasarana fasilitas umum Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.13560% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-26 .

Ekonomi Perdagangan.Terwujudnya sarana dan prasarana fisik penunjang dinamisasi sektor ekonomi 2.Teroptimalisasinya pengolahan hasil produksi 2.Tersedianya dokumen perencanaan teknis terpadu 2.Tersedianya pusat penampungan dan pemasaran Tersedianya pusat produksi tekstil dan pemasaran Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. koperasi dan UKM 0.14713% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-27 .Tertatanya pelaksanaan pembangunan untuk pengembangan kota soreang FUNGSI Perumahan dan fasilitas umum SUB FUNGSI litbang perumahan dan pemukiman Keterangan 6 — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan.14255% APBD Kabupaten 7 — Pengembangan sentra agribisnis. 1.Tersedianya dokumen pra feasibility dan pra design 3. 1.Eks terminal cingcin dan pengembangannya 4.Terlaksananya studi manajemen dan rekayasa lalulintas serta perhubungan Ekonomi Ekonomi lainnya 0.14856% APBD Kabupaten 8 — Pengembangan sentra tekstil. Indikator Keluaran 1.12801% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan daerah ibu kota Soreang. pengembangan usaha. pengembangan usaha.

1. listrik pedesaan. pengembangan usaha.Tersedianya sarana air bersih Ekonomi Pengairan 0. pengembangan usaha. air bawah tanah 2.Tersedianya data sebaran bahan galian dan mineral 2. Indikator Keluaran Tersedianya pusat pengembangan dan pemasaran konveksi FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.13133% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-28 .Terlaksananya pengembangan pengelolaan sumber daya air 3. pembangkit listrik alternatif dan untuk keperluan sendiri beserta pengembangannya Ekonomi bahan bakar dan energi 0. potensi geothermal. koperasi dan UKM 0.14413% APBD Kabupaten 12 — Penataan iklim investasi yang kondusif.Tersedianya peta mitigasi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Terciptanya iklim kemudahan melakukan investasi Ekonomi Perdagangan.Tersedianya dokumen rencana induk penggunaan induk data verifikasi air baku. 1.14461% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Pengembangan sentra konveksi.15994% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. bencana geologi. koperasi dan UKM Keterangan 10 — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.

dan antara masyarakat dengan pemerintah. KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 1 — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas. Tertib. keamanan dan hukum lainnya 0. Terwujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban dan keamanan 0.12583% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-29 .13000% APBD Kabupaten 3 Terantisipasinya kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas ketertiban dan keamanan ketertiban .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. keamanan dan hukum lainnya 0. Tenteram dan Dinamis.13193% APBD Kabupaten 2 — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan ketertiban dan keamanan ketertiban .

Meningkatnya ketertiban umum ketertiban dan keamanan 0.11846% APBD Kabupaten 6 — Peningkatan kesadaran budaya tertib. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Berkurangnya pelanggaran hukum ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.12279% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. keamanan dan hukum lainnya 0. — Penerapan hukum secara konsekwen.13481% APBD Kabupaten 2.09276% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-30 . Indikator Keluaran Terselesaikannya permasalahan melalui mediasi pemerintah FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI peradilan Keterangan 5 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat. keamanan dan hukum lainnya 0.10395% APBD Kabupaten 2 Terujudnya rasa keadilan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban . Terwujudnya SDM kamtrantib yang profesional ketertiban dan keamanan ketertiban .

09849% APBD Kabupaten 8 ketertiban dan keamanan 0. Indikator Keluaran Tercapainya peningkatan pengetahuan dan pemahaman hukum masyarakat 1.09289% APBD Kabupaten 7 — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.09432% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Sosialisasi. 1. keamanan dan hukum lainnya Pembinaan hukum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya peraturan daerah dan peraturan bupati sesuai kebutuhan 2.09328% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-31 .Tersusunnya kodifikasi bahan-bahan sosialisasi produk hukum pusat dan daerah ketertiban dan keamanan Litbang ketertiban. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . keamanan dan hukum 0.08977% APBD Kabupaten 6 — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum.Tertatanya dokumentasi hukum yang tertib 2.09836% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan produk hukum daerah. Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam penegakan hukum Terjalinnya kerjasama sinergis antar penegak hukum ketertiban dan keamanan 0. bantuan dan perlindungan hukum.Terciptanya sistem jaringan informasi yang tertib FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI Pembinaan hukum Keterangan 4 ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. Berkurangnya pelanggaran HAM ketertiban dan keamanan ketertiban .

— Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. keamanan dan hukum lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah. keamanan dan hukum lainnya 0.15810% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.15459% APBD Kabupaten 4 ketertiban dan keamanan ketertiban .14827% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan hak politik masyarakat.15155% APBD Kabupaten 2 ketertiban dan keamanan 0. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menyampaikan aspirasi Terwujudnya kehidupan politik yang demokratis ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.15132% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-32 . keamanan dan hukum lainnya ketertiban . Terwujudnya kebebasan dalam menentukan pilihan politik ketertiban dan keamanan 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap politik Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan berpolitik ketertiban dan keamanan ketertiban .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan Misi 5.Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.Terlaksananya KISS program Dibale/ kec dengan stakeholder terkait 3.10428% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-33 . Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. 1. 1.Meningkatnya kualitas keberfungsian lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 2.Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat 4.

Indikator Keluaran 1.09892% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. inter ummat beragama dan antar umat beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.08872% APBD Kabupaten 4 — Peningkatan kerukunan hidup beragama. adanya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum mulai sekolah dasar sampai menengah Pendidikan pendidikan keagamaan 0.06759% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-34 .meningkatnya bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 4. Menurunnya penyebaran agama tertentu pada masyarakat yang telah beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Meningkatnya kerukunan hidup beragama.Meningkatnya penarapan nilai agama dalam kehidupan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI pendidikan keagamaan Keterangan 3 — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.Terwujudnya peningkatan kualitas iman dan takwa 3.11458% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.Meningkatnya kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur nagara 2.

Meningkatnya kesejahteraan pengelola TPA dan TKA Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. 1. 1. kecamatan dan desa Pelayanan Umum Pelayanan umum 0.Terwujudnya silaturahmi antara pemerintah dengan lembaga keagamaan 2.Meningkatnya kualitas pendidikan dan pengajaran untuk siswa TPA dan TK 4.07148% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan TPA/TKA.08336% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. dan legislatif keuangan dan fiskal serta urusan bantuan luar negeri 0. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatan keagamaan yang terpadu antara pemerintah daerah dengan masyarakat FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 7 Meningkatnya kesadaran aparat untuk memakai pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama Pelayanan Umum lembaga eksekutif.07443% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-35 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya jumlah TPA dan TKA baru 2.Meningkatnya manajemen pengelolaan TPA dan TKA 3.Meningkatnya intensitas FKUU di tingkat kabupaten.06045% APBD Kabupaten 8 — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.

pengembangan usaha. Kebijakan Penerapan Nilainilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan.Terbentuknya tenaga profesional yang mengelola lembaga perbankan maupun non perbankan syariah3. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya pribadi aparatur yang iman dan takwa Pendidikan Pendidikan keagamaan 0.Adanya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah Kesejahteraan sosial Ekonomi Penyuluhan dan bimbingan sosial Perdagangan.11512% APBD Kabupaten 2 Terwujudnya kehidupan sosial yang agamis harmonis 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 2.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi syariah2.12087% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-36 . — Pengembangan ekonomi syari’ah.Adanya sosialisasi tentang pengembangan ekonomi syariah4. — Peningkatan harmonisasi sosial.12943% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 3 0.

13830% APBD Kabupaten 6 Meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Terwujudnya perilaku sosial berdasarkan nilai agama FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 5 Terwujudnya keteladanan pimpinan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terinventarisasinya potensi umat 2. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.Kokohnya ketahanan moral dan mental umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13830% APBD Kabupaten 3.17197% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-37 . 1. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 1.14003% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan manajemen potensi umat.Tersedianya sistem dan mekanisme serta pola pengembangan potensi umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Terwujudnya kebersamaan umat 2.12181% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.

Adanya kesadaran untuk mengeluarkan ZIS 2.Terwujudnya pemahaman tentang pengembangan ekonomi di lembaga keagamaan 2. 1. 1. infaq dan sadaqah.13658% APBD Kabupaten 4. Indikator Keluaran 1.13849% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Optimalisasi zakat. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-38 .Meningkatnya peran serta ormas-ormas keagamaan2.Terwujudnya pemanfaatan ZIS bagi kepentingan umat FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 4 — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.17675% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan ormas keagamaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi yang mengayomi kepentingan umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Meningkatnya kemampuan ormas keagamaan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

27438% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. 1. Terwujudnya sistem pelayanan ibadah haji Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 1.Tumbuh suburnya aktivitas keagamaan yang berorientasi pada kesadaran umat untuk beragama dan bernegara FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 2 — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. Indikator Keluaran 1. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-39 .25904% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pelayanan ibadah haji.Tersedianya sarana dan prasarana keagamaan yang memadai sebagai tempat untuk beribadah dan aktivitas umat 2.Adanya lembaga permanen yang mengelola ZIS 2.23041% APBD Kabupaten Misi 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.Terwujudnya pemahaman tentang pengelola ZIS melalui sosialisasi dan penataran caloan pengelola ZIS supaya lebih profesional Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

1. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.15053% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-40 .Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda 2.Meningkatnya kreatifitas masyarakat terhadap pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya 0.24677% APBD Kabupaten 2. 1.Meningkatnya kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.25787% APBD Kabupaten 3 — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. Tersedianya sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Meningkatnya pemahaman nilai budaya sunda pada anak usia dini dan generasi muda2. Indikator Keluaran Terinventarisasinya nilai-nilai budaya Sunda FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.25918% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. seperti tersedianya gedung kesenian.

16593% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.Meningkatnya penggunaan bahasa sunda sebagai bahasa sehari hari baik kegiatan formal maupun informal Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.14880% APBD Kabupaten 4 Pariwisata dan budaya 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-41 .15053% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. Indikator Keluaran Terakomodirnya muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Keterangan 3 — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.Ditetapkannya bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah 2. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. 1. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga seni dan budaya Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.14803% APBD Kabupaten 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.

20153% APBD Kabupaten 100.Teraksesnya produk budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional 2.19508% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan ekonomi budaya.Terpeliharanya aset budaya 1. Indikator Keluaran Terpeliharanya adat-istiadat daerah dalam kehidupan sehari-hari 1.18795% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan adat istiadat daerah.Tersedianya data aset budaya yang perlu dilestarikan 2.17927% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan produk budaya.Tersosialisasikannya budaya melalui manajemen pemasaran yang terbuka FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Pelestarian asset budaya.00000% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-42 . Pariwisata dan budaya 0. Pariwisata dan budaya 0. 1.Adanya sistem informasi terpadu tentang peta budaya 3.Terbentuknya pusat pasar seni Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Tergalinya nilai – nilai budaya2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.

667% 1. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif.758% 0.162% 0.023% TAHUN 2 % APBD 43.710% 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN 1 % APBD 52.073% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-43 . diklat struktural dan teknis fungsional.616% 0.156% 5.110% 0. 6.758% 0.135% 0.099% 1.908% 0.128% 0. 3) Penataan peraturan perundangundangan daerah.865% TAHUN 3 % APBD 23.821% 0.105% 0. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.147% 0.191% 0.175% 0. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 2 1) Peningkatan moral.2 MATRIKS PROGRAM TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.189% 0.077% 1.126% 0.768% 0.116% 0.149% 0.208% 1.695% 0.834% 0.164% 0.208% 0. 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan. 6.099% 0.650% 0.080% 0. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.123% 0.282% 0. 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.687% 0.550% 0.521% 0.156% 1.812% 0. disiplin.171% 0. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 2 3 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.174% 0.113% 2.101% 0.840% 0.145% 0.103% 0.150% 0.213% TAHUN 5 % APBD 9. budaya dan etos kerja aparatur.591% 0.919% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.076% 0.103% 6 7 0.500% 0.183% TAHUN 4 % APBD 16.112% 3 4 5 0.941% 1. 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum.750% 5.706% 0.169% 0.778% 0.282% 0.091% 0.100% 0.

118% 0.502% 1.495% 1.070% 0.068% 7 8 9 10 3.101% 0.480% 0.000% 0.290% 2.569% 0.068% 1.470% 0.618% 6. 6) Peningkatan koordinasi. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan.654% 0.182% 2 3 4 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-44 .070% 0.754% 9.584% 0.116% 0. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah. 0.189% 2.308% 0.138% 0. sinkronisasi dan simplikasi.673% 3.568% 0.812% 1.000% 4.528% 0.561% 0.101% 0. 3) Penataan wilayah.665% 0. 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.099% 0.000% 0.663% 0.308% 0. 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.118% 0.000% 0.130% 0.563% 0.341% 0.661% 1.082% 0.558% 0.112% 0.071% 2.192% 0.500% 0. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4 5 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.000% 0. 11.375% 3.081% 3. 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.138% 0.555% 0.108% 3.092% 3.587% 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 2 3 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).182% 0.000% 0.201% 0.527% 0.118% 0. 8. 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa.176% 5.198% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.000% 0.626% 0.553% 0.821% 1. Kelurahan dan Desa. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan. 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.136% 0.654% 3.081% 6 0.117% 0.000% 0.077% 0.250% 2.758% 2.119% 0.282% 0.481% 0.529% 0.326% 0.861% 0. integrasi.082% 0.

231% 1.375% 0. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 2 3 4 11.368% 0.282% 0.444% 0.317% 0.396% 3. 1. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1. — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.571% 0.646% 1.099% 1.338% 0. — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan 1.273% 0.099% 1.275% 0. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat.179% 0.325% 0. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 2 3 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan.549% 0.250% 0.396% 0.429% 0.237% 0.081% 9.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.375% 4.299% 0.412% 0.206% 0.393% 1. — Peningkatan kualitas perangkat desa.462% 0. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 2 3 4 1) Pengembangan manajemen partisipatif. 1.290% 0.173% 6.628% 0.349% 0.281% 0.290% 0.259% 0.231% Misi 8.282% 0.273% — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.302% 0.284% 0.042% 1.390% 0.376% 0.309% 1.328% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-45 .200% 0.042% 1. 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.758% 0.548% 1.349% 0.317% 0.582% 1. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.292% 0.555% 0.231% 1. 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat.352% 0.325% 0.634% 0.598% 1.758% 0. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa.336% 0.246% 0.614% 0.335% 0.846% 2.254% 0.338% 0.339% 1.653% 0.537% 0.

279% 0.000% 0. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.805% 1.176% 50. 1.265% 0.178% 1.000% 0.000% 69. RW.000% 81. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 2 0. — Pengembangan produk unggulan desa.160% 0.317% 0.387% — Peningkatan infra struktur perdesaan.153% 0.614% 0.221% 0.535% 0.818% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-46 .250% 5. LKMD.669% Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 41.537% 0. 5 6 — Peningkatan sarana dan prasarana desa. — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.273% 2.231% 75.200% 1.934% 1.157% 0. 6.813% 1.548% 1. — Pengembangan akses pemasaran produk desa.368% 0. — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.332% 7 2.228% 0.617% 1.123% 3 4 5 3.495% 5. RT dan lain-lain).000% 0.000% 0.239% 0.561% 0.128% 2.000% 0.612% 2.641% 0.612% 0.316% 0.617% 1.282% 0. — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.174% 2.601% 2. — Pengembangan utilitas perdesaan.943% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sumber keuangan desa.758% 0.165% 0. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).000% 0.309% 1. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 2 3 7.509% 0.000% — Pengembangan pasar desa.099% 0. — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.000% 0.210% 2. 0.000% 0.258% 0.839% 1.208% 0.542% 1.804% 0.800% 0.000% 0.000% 0.305% 1.271% 0.000% 1.233% 0.

— Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 3.996% 0.168% 1.309% 1. — Pengembangan manajemen sekolah.193% 1.969% 1.244% 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.648% 1.877% 0.344% 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.749% 0.294% 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).550% 1.878% 0.412% 1.454% 1.605% 1.586% 2.016% 11.511% 1. 10.011% 0.445% 1.983% 1. 0.874% 0.014% 1. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.245% 1. — Peningkatan kesejahteraan guru.360% 1.577% 1.538% 15.881% 1.016% 11.968% 1.445% 1.841% 0.864% 0.325% 1.863% 0. — Pengembangan pendidikan anak dini usia.585% 1.307% 1.854% 1.494% 1.453% 1.010% 1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) 1.654% 1.929% 0.308% 18.881% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 — Peningkatan pelayanan pendidikan.328% 1.630% 1.822% 0.421% 1.070% 0. — Peningkatan budaya hidup bersih.829% 0. — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.577% 17.279% 1.868% 1.681% 1.883% 1.841% 0.038% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-47 .365% 1.767% 0.515% 1.538% 15.947% 0.609% 0.165% 1.516% 1.364% 1.653% 1.308% 18. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 2 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.120% 1.720% 0.081% 1.911% 2.357% 1.007% 0. sehat dan berkualitas. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 10. — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.752% 1.577% 17.751% 1.475% 1.

— Pembinaan. makanan dan minuman.966% 0.750% 1.000% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 6 — Penanggulangan penyakit. — Perlindungan dan advokasi hakhak perempuan.000% 0.564% 1.013% 1.000% 0.000% 0.167% 1.282% 1.137% 0. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.752% 1.826% 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.562% 0.731% 0.738% 1.098% 0.821% 1. — Pengembangan kesehatan lingkungan.000% 0. 1.992% 1. pembangunan dan kemasyarakatan.863% 0.168% 1. 1. 1.911% 1.731% 1.503% 1.397% 0.643% 1.342% 1.821% 1.670% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 2 3 — Peningkatan keberdayaan perempuan.057% 1.093% 1.552% 0.355% 0.214% 1.994% 1.627% 7 8 9 10 1.000% 0. — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.457% 0.909% 0.217% 1.006% 1. peralatan kesehatan dan kosmetika. — Perlindungan ibu.923% 2.575% 1.987% 1.639% 1.158% 0.491% 1.409% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.113% 1. — Perbaikan gizi.282% 1.258% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-48 .236% 0.476% 1. pengawasan dan pengendalian obat-obatan.113% 1.113% — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.789% 3. kepemimpinan dan kepeloporan. anak dan reproduksi.577% 1.000% 4. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 1.054% 0.896% 1.213% 0.617% 0.158% 1.416% 0.949% 1.000% 0.014% 1.640% 1.361% 0.

178% 0.120% 0.113% 1. 1. — Pemberdayaan anak terlantar.104% 0.189% 0.227% 0.217% 0.180% 0.180% 0.118% 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan. — Advokasi dan perlindungan hakhak anak.174% 0.126% 0. — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.179% 0.119% 0. keluarga dan masyarakat. lansia dan penyandang tuna sosial.104% 0. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.114% 0.204% 0.207% 0.190% 0.153% 0.098% 0.115% 0.190% 0.131% 0.731% 1.175% 0.156% 0.199% 0.191% 0.247% 2 3 4 5 6 7 8 9 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-49 .210% 0.207% 0.118% 0.117% 0.219% 0.101% 0.116% 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.256% 0.196% 0.216% 0.196% 0.158% 0.136% 0. penyandang cacat.923% 2. — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.102% 0.184% 0.223% 3 0.198% 0.204% 0.157% 0.211% 0.133% 0. — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.157% 0.190% 0.174% 0.171% 0. — Peningkatan prestasi olah raga.162% 0.205% 0.110% 0.140% 0.101% 0.186% 0.206% 0.159% 0.223% 0.177% 0.116% 0. — Penanggulangan bencana dan pengungsi.101% 0.141% 0.132% 0.266% 0.118% 0.162% 0.193% 0. — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. 1. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.121% 0.235% 0. — Pengembangan sistem perlindungan sosial.244% 0.136% 0. — Peningkatan ketahanan sosial. — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.230% 0.162% 0.138% 0. 0.136% 0. — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. — Penaganan masalah-masalah sosial.133% 0.184% 0.251% 0.229% 4 5 6 7 8 9 Misi 4. individu.282% 1.225% 0.120% 0. — Pemasyarakatan olah raga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.151% 0.

822% 0. usaha mikro.679% 0.878% 1.085% 0.756% 0. — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.552% 0.896% 0.016% 11.914% 0.706% 0.759% 0.491% 0.045% 1.805% 0. 10.806% 0.879% 0.134% 1.823% 0.635% 0. kecil dan menengah.548% 0. — Pengembangan industri manufaktur.155% 0.663% 0.651% 0.491% 0.182% 0. — Revitalisasi pertanian.407% 0. sentra agribisnis.426% 0.683% 0. 0.740% 0.953% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.612% 0. — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.058% 0.703% 0.736% 1.117% 0.140% 9 10 11 12 13 14 15 16 0.724% 0.879% 1.202% 0. pertenakan dan perikanan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 2 3 4 5 6 7 8 — Pengamanan ketersedian pangan.565% 0.467% 0. — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.020% 0.439% 0.998% 0. — Pengembangan ekonomi syariah.953% 0.040% 0.589% 0.538% 0.737% 1. — Diversifikasi pangan.135% 0. sentra konveksi.804% 1.828% 0.065% 1. — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil.610% 0.184% 1.858% 0.916% 0.469% 0.466% 0.940% 1.697% 0. — Peningkatan distribusi pingan.628% 0. seperti sentra tekstil.976% 1.726% 0.633% 0.605% 0.529% 0.977% 0. — Pengembangan sentra-sentrasentra unggulan pada kawasan andalan.803% 1.537% 0.790% 0.476% 0. — Pengembangan koperasi.656% 0.508% 0.426% 0. — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).725% 0. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).237% 1.880% 0.308% 18.110% 0.538% 15. — Pengembangan agribisnis.958% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-50 . — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha.585% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan.221% 2.018% 0.662% 0.577% 17.881% 0.767% 0.506% 0.

915% 1.325% 0. terutama permodalan. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.383% 0.291% 0.258% 1. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.549% 0. — Penataan administrasi kependudukan.354% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.197% 0.234% 0.337% 0.368% 0.282% 1.323% 0. — Pengendalian urbanisasi.313% 4.355% 0.166% 0.372% 0.216% 0.393% 0.166% 1.436% 0.324% 0.824% 0. 0.731% 0.999% 18 19 3. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 2 3 4 5 6 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.409% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-51 .292% 0.293% 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.245% 0.293% 0.528% 0.268% 0.113% 1.098% — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.282% 0. — Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan.351% 0.731% 1. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.036% 1.250% 0.217% 0.610% 0.105% 0.437% 0. 1.258% 0.316% 0.477% 0.287% 2.949% 1.401% 0.113% 0.374% 0. — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.923% 2.098% 0.013% 0.530% 0.287% 0.586% 0.912% 0.213% 0.307% 0.241% 0.179% 0. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 2 3 4 5 1. — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.854% 0.675% 0.227% 0.155% 0.188% 0.203% 0.923% 0.191% 0.280% 0.633% 0.191% 1. — Pengembangan keparawisataan. — Pemantapan hubungan industrial.253% 0.484% 0.313% 0.331% 0.217% 0. 0.188% 0.341% 0.

093% 1. — Pengembangan manajemen pertanahan. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1 1. — Penegakan hukum lingkungan. — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.893% 0.666% 0.769% 6.691% 0.312% 0.282% 0. — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.107% 1.924% 2.145% 0.175% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-52 .128% 6.749% 0. 0. — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.619% 0.750% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7. — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.687% 0.143% 0. 1.160% 2.163% 1. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.369% 2.692% 8.676% 0.306% 0.597% 2.142% 2.144% 1.820% 0.740% 0. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 2 3 4 5 — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.412% 2.755% 2.098% 0.754% 0.688% 0.307% 0.754% 6 7 8 0.622% 0.113% 2.618% 0. — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.133% 0.158% 0.819% 0.307% 0.133% 0.135% 0.731% 0. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 1 2 3 — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.392% 1.339% 5. — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.923% 7.807% 0.334% 0.142% 1.632% 2.192% 5.564% 5.737% 0.622% 0. 1.691% 0.923% 0.752% 0.871% 3.380% 2.294% 0.680% 2.587% 1.364% 0.113% — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.632% 0. 3.305% 0.329% 0.787% 1.133% 0.766% 2.702% 0.133% 0. — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.033% 1.

137% 0.146% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-53 .909% 0. — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat.169% 0.144% 0.121% 0.131% 0.157% 0.333% 9. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas.110% 0.131% 0.141% 0.199% 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.164% 0.106% 0.095% 0.100% 0.157% 2 3 0.127% 0.108% 0.177% 0.109% 0. Tenteram dan Dinamis.882% 1.171% 0.182% 0.097% 0.168% 0.131% 0.124% 0. — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial 6.164% 0.185% 0.180% 0.097% 0.148% 0.139% 0.091% 0.168% 0.146% 0.250% 7.625% 0.769% 0.142% 0.588% 0.084% 0.105% 0. 0. — Pengembangan sentra tekstil.095% 0. — Pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja dan GedebageMajalaya.135% 0. — Pengembangan sentra konveksi.098% 0.103% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 3 — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.179% 0.159% 0.148% 0.094% 0. — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. — Pengembangan sentra agribisnis.089% 0.108% 0.163% 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan.146% 0.097% 0.692% 8.150% 4 0.112% 0.159% 0.154% 0.095% 0.165% 0. Tertib.100% 0.100% 0.162% 0. dan antara masyarakat dengan pemerintah.150% 0.084% 0.146% 0.155% 0.103% 0.833% 0. — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.152% 0. 5.134% 0.087% 0.105% 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.113% 0.151% 0.133% 0.097% 0. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).091% 0. — Penataan iklim investasi yang kondusif.183% 0.102% 0.

072% 0.159% 0.085% 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.107% 0.625% 0.076% 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 2 3 4 0.102% 0.073% 0. 0.124% 0.099% 0.071% 0.769% 0.117% 0.172% 0.119% 0.094% 0.147% 0.103% 0.107% 0.099% 0.625% 0.117% 0.111% 0. — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.077% 0. bantuan dan perlindungan hukum.072% 0.105% 0. — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah.129% 0.098% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kemasyarakatan. — Sosialisasi.141% 0.153% 0.107% 0.090% 0.165% 0. — Pengembangan produk hukum daerah.080% 0. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum. 0.101% 0. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum. — Penerapan hukum secara konsekwen.093% 0.076% 0.833% 0.110% 0.124% 0.769% 0.097% 0.076% 0.080% 0. 5 6 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.180% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis 1 2 0.104% 0.909% — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.833% 0.112% 0.111% 5 6 7 8 3.117% 0.110% 0.160% 2.081% 0.113% 0.076% 0.129% 0.588% — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.588% 0.069% 0. 0.094% 0.136% 0.188% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-54 .076% 0.101% 0.909% 0.091% 0.073% 0. — Peningkatan kesadaran budaya tertib.095% 0.122% 0.

1.094% 0. — Perlindungan hak politik masyarakat.076% 0.126% 0. — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.119% 0.066% 0. — Pengembangan TPA/TKA.833% 0.099% 0.169% 0.068% 0.588% 0.625% 0.909% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.100% 0.117% 0.072% 0.105% 0.085% 0.625% 0.115% 0.075% 0.149% 0.091% 0.126% 0.156% 0.081% 0.061% 0. — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.769% 0.180% Misi 5.114% 0.909% 0.106% 0.081% 0.116% 0. — Peningkatan kerukunan hidup beragama. — Pengembangan kegiatankegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.061% 0.072% 7 8 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.136% 0.588% — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan 0.176% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.085% 0. 0.049% 0.108% 0.047% 0.080% 3 4 5 6 0.084% 0. 0.833% 0.114% 0.162% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 0.089% 0.184% 0.064% 0.124% 0. — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.078% 0.057% 0.088% 0.165% 0.769% 0.118% 0.052% 0.089% 0.074% 0.055% 0.097% 0.055% 0.152% 0.058% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.124% 2 0.137% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-55 .068% 0.068% 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.121% 0.080% 0.073% 0.125% 0.089% 9 2.094% 0. — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.

769% 0.122% 0.165% 3. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 2 3 4 5 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.139% 0.283% 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.308% 0.165% 0.167% 0. 0.107% 0.149% 0.132% 0.105% 0.833% 0. 2 3 4 5 6 — Peningkatan harmonisasi sosial.107% 0.108% 0.100% 0.211% 0. infaq dan sadaqah.099% 0.299% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan. 0. — Pengembangan ekonomi syari’ah.151% 0.145% 0.189% 0.173% 0.123% 0.193% 0.769% 0.327% 0.261% 0.107% 0.178% 0.141% 0.113% 0.138% 0.141% 0.141% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama 1 2 3 — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.165% 0.274% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-56 .133% 0.094% 0.112% 0.909% 0.154% 0.232% 0.588% 0.136% 0. — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.909% 0.151% 0.145% 0.132% 0.251% 0. — Pengembangan manajemen potensi umat.093% 0.144% 0.106% 0.588% 0.205% 0.139% 0.210% 0.188% 0. 0. — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.115% 0.199% 0.153% 0. — Optimalisasi zakat.113% 0.163% 4.276% 0.625% 0.151% 0.113% 0. — Peningkatan pelayanan ibadah haji.177% 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.100% 0. — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.212% 0. — Pemberdayaan ormas keagamaan.139% 0.130% 0.833% 0.225% 0.625% 0.

588% 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.833% 0.260% 0.147% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 6.769% 0.625% 0.202% 0.122% 0.150% 0.138% 0.164% 0.181% 0.212% 0. 1. — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.155% 0.114% 0.269% 0.136% 0.115% 0.128% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.165% 0.769% 0. — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. — Pelestarian asset budaya.232% 0.213% 0.164% 0.625% 0. — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.162% 0. 0.176% 3 4 5 3.197% 0. seperti tersedianya gedung kesenian.203% 0.261% 0.123% 0.181% 0. — Pengembangan ekonomi budaya.167% 0.116% 0.152% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 1 2 0.307% 3 0.123% 0.200% 0.149% 0.308% 0.116% 0.189% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat 1 2 3 4 — Pengembangan adat istiadat daerah.199% 0.283% 0.909% 0.196% 0.213% 0. 0.205% 0. — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.625% 0.224% 0.249% 0.160% 0.281% 0.162% 0.179% 0.179% 2 0.909% 0.588% — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.150% 0.211% 0.145% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. — Pengembangan produk budaya.196% 0.833% 0.769% 0.240% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-57 .220% 0.154% 0.152% 0.588% 0.177% 0.190% 0. — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.294% 2.909% 0.833% 0. 0.121% 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

PROGRAM TRANSISI Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010. Untuk detailnya rancangan program tersebut dapat dilihat pada bab VII. yang merupakan : 1. dalam penyusunannya diharuskan berpedoman RPJMD Kabupaten Bandung. Dalam penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) Kabupaten Bandung yang jangka waktunya selama 1 tahun. BAB VIII Penutup VIII . maka dalam penyusunan program ditambahkan rancangan program indikatif 1 (satu) tahun ke depan setelah periode RPJM Daerah Kabupaten Bandung berakhir. RPJMD Kabupaten Bandung ini akan digunakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Bandung. Hal tersebut disebabkan agar program-program yang direncanakan dalam Renstra-SKPD dapat terintegrasi dengan baik dengan RPJMD yang sudah dibuat. sehingga diharapkan visi dan misi pada tahun 2010 tersebut dapat tercapai dengan maksimal 2.2. KAIDAH PELAKSANAAN RPJM Daerah Kabupaten Bandung ini merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah dibuat oleh Bupati terpilih tahun 2005 – 2010. berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 2005 tentang Petunjuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Untuk menjembatani kekosongan dokumen perencanaan pada masa akhir jabatan Kepala Daerah maka dibuatlah rancangan program indikatif tahun 2011. Hal tersebut dikarenakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan dan sdasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bandung. SKPD Kabupaten Bandung dalam menyusun Renstra-SKPD diharuskan untuk berpedoman kepada RPJMD Kabupaten Bandung.1. 8.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VIII PENUTUP 8.1 . Pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra-SKPD.

sehingga dapat meminimalisir pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari visi dan misi tahun 2010.2 . Penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJM Daerah. RPJMD Kabupaten Bandung merupakan dasar evaluasi dalam laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. sehingga semua stakeholder tersebut dalam pelaksanaannya dapat mensukseskan program yang telah disepakati. 4. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung ini merupakan proses penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan dalam proses penyusunannya benar-benar menampung inspirasi para stakeholder yang terdapat di Kabupaten Bandung melalui MUSRENBANG Jangka Menengah yang telah diselenggarakan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. BAB VIII Penutup VIII . RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 merupakan indikator dalam proses evaluasi laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan.