Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, yang merupakan integrasi

Rancangan Renstra SKPD yang berisikan program dan indikasi anggaran yang berorientasi pada fungsi dan sub fungsi pembangunan serta berpedoman kepada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta mengacu pada Perda No 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah. Tahapan penyusunan RPJMD ini telah dilaksanakan melalui beberapa proses kegiatan dengan hasil yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Selanjutnya penyusunan rancangan RPJMD ini merupakan hasil dari Musrenbang Jangka Menengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2006, untuk menerima masukan dan sumbang pemikiran dari stakeholder. Terdapat beberapa masukan berarti dalam Musrenbang tersebut yang telah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ini. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ini dapat kami selesaikan.

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung Kepala,

Drs. H.R. Wahyu, G. P. SH, M.Si. PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 480 067 477

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa pemerintah daerah yang telah memiliki kepala daerah hasil pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 ( lima ) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan terpilihnya Kepala Daerah Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2010 secara demokratis yang dilakukan oleh rakyat secara langsung, dan telah dilantik Kepala Daerah pada tanggal 5 Desember 2005 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32-1040/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan H. Obar Sobarna S.Ip sebagai Bupati Bandung 2005-2010, dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.32-1041/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian Drs. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati Bandung 2000-2005 dan Pengesahan Pengangkatan H. Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Bupati Bandung 2005-2010. Sehingga kepala daerah terpilih harus menyusun RPJMD Kabupaten Bandung tahun Dokumen RPJMD

2005-2010, karena dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Kabupaten Bandung 2005-2010 ditetapkan oleh peraturan daerah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah terpilih dilantik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan bersifat iindikatif sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung tersebut mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh

BAB I Pendahuluan

I-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencananaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJPD Kabupaten

Bandung (sedang dalam penyusunan) dan memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi Jawa Barat (Renstra Pemerintah Provinsi Jawa Barat), serta sumber daya yang tersedia di daerah Kabupaten Bandung. Tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan

Pembangunan Daerah. RPJMD ini selanjutnya menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan oleh seluruh perangkat daerah, yang secara substansial memuat rencana kerja, program dan indikasi kegiatan yang bersifat terukur dan dapat dilaksanakan dengan

mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Pasal 25 Ayat (1) dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 69 Ayat (2).

1.2.

Landasan Hukum Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, landasan

hukum yang menjadi dasar pertimbangan penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

BAB I Pendahuluan

I-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penylenggaraan Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga; 11. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 13. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bandung. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 8 Penyusunan Perencanaan Pembangunaan Daerah. Tahun 2005 tentang Tata Cara

1.3. Maksud Dan Tujuan 1.3.1. Maksud Berdasarkan pertimbangan di atas, RPJMD ini disusun dengan maksud sebagai berikut: 1. Menyediakan dokumen RPJMD Tahun 2005 – 2010 sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat dalam menentukan prioritas

BAB I Pendahuluan

I-3

1. perlu memperhatikan arah kebijakan nasional maupun propinsi. Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD.2. yaitu selain memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi/ Renstrada Provinsi Jawa Barat dan dokumen RPJPD Kabupaten Bandung (dalam tahapan penyusunan).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pembangunan tahunan daerah. juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun Kabupaten Bandung. serta masyarakat untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program kepala daerah selama lima tahun. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD. yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 20 tahunan. Tata Guna Lahan. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan. terarah dan terukur. Lingkungan Hidup dan Sumber daya yang terdapat di Kabupaten Bandung. Arah kebijakan umum Kabupaten Bandung untuk 5 (lima) tahun kedepan. agar dalam perencanaan maupun pelaksanaanya dapat sinkron dan sinergis dengan arah kebijakan nasional BAB I Pendahuluan I-4 .3.4. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya. 1. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pememerintah daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu. Tujuan Tujuan dari Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 adalah: Merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). 2. Merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih.

5. negara yang menjunjung tinggi hukum. dan Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2008 (RPJMD Propinsi Jawa Barat belum disusun). 2. Dan untuk mencapai agenda (2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis. Terwujudnya kehidupan masyarakat. 3. dan negara yang aman. Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Nasional. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Dan Penanggulangan Kriminalitas.1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung maupun propinsi. 1. yaitu: 1. BAB I Pendahuluan I-5 . Berikut ini arah kebijakan nasional yang mengacu pada RPJM Nasional tahun 2004-2009. Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme. serta keterbatasan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Pencegahan dan Penangulangan Separatisme. ditetapkan Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009.4. Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera Untuk mencapai agenda (1) Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai tersebut. 4. dan hak asasi manusia. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum. kesetaraan. Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 2. Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat. Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. bangsa. rukun dan damai. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Pengembangan Kebudayaan yang berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara. bersatu. Peningkatan Keamanan. tantangan. Terwujudnya masyarakat. 7. 2. 2. serta 3. Agenda Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009 Berdasarkan permasalahan. 6. bangsa. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebut ditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. Ketertiban. yaitu : 1.

Percepatan Pembangunan Infrastruktur. ekonomi nasional yang belum stabil. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. Pembangunan kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga. Penghormatan. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 6. 7. 10. Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. 14. 1.2 Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat Berdasarkan revisi Renstra Jawa Barat. 8. Visi Provinsi Jawa Barat. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 15. sosial. Kondisi politik. Revitalisasi Pertanian. 16. 9. Pembangunan Perdesaan. 4. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Kecil dan Menengah. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak.4. 17. Pengakuan. yaitu ” Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Provinsi termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010”. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama. ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80 pada tahun 2010. Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Peningkatan Pengelolaan BUMN. dan penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia. 4. 6. 2. Selanjutnya untuk mencapai agenda (3) Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera tersebut. BAB I Pendahuluan I-6 . 5. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. 12. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur. 5. Berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2001 dan 2002. target tersebut dirasakan sulit tercapai. Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1. 3. 11. 13. Penanggulangan Kemisikinan.

Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan 5. Visi tersebut adalah ”Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”. Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Hal tersebut menjadi landasan penetapan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Pengelolaan pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun ke depan. Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat 2. Belum optimalnya keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan antar tingkat pemerintahan khususnya dalam memprioritaskan pembangunan sumberdaya manusia. 3. Kelima. Keempat. Ketiga. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa barat Pengembangan Struktur Peekonomian Regional yang Tangguh Pemantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah Peningkatkan Implenmentasi Pembangunan Berkelanjutan Peningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Budaya Daerah Berdasarkan visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barata tersebut disusun 5 (lima) Agenda Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004. Belum efisiennya alokasi dan penggunaan anggaran pemerintah dan dana masyarakat dalam menunjang pencapaian visi Jawa Barat. yaitu : 1. Kedua. Mengembangkan Strukturt Perekonomian Regional yang Tangguh 3.2009. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5 (lima) misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu: Pertama. Meningkatkan Kualiktas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Daerah Budaya BAB I Pendahuluan I-7 .

MISI DAN PRIORITAS DAERAH Bab ini menguraikan visi dan misi kepala daerah terpilih serta prioritas pembangunan daerah selama lima tahun. BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisi menguraikan kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang kenaikan dan penurunan serta pola – pola alokasi belanja daerah. Selain itu bab ini berisikan tentang arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran BAB I Pendahuluan I-8 .5. maksud dan tujuan penyusunan. disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penyusunan RPJM. Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. landasan hukum penyusunan. hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya dan sistematika penulisan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini berisikan tentang uraian statistik dan gambaran umum kondisi daerah saat ini dengan maksud mengetahui keadaan daerah pada saat ini pada berbagai bidang dan aspek kehidupan dan aspek kehidupan sosial ekonomi daerah dan yang akan diintervensi melalui berbagai kebijakan dan program daerah dalam jangka waktu 5 ( lima ) tahun BAB III VISI.

BAB VIII PENUTUP Bab ini menguraikan tentang program transisi dan kaidah pelaksanaan BAB I Pendahuluan I-9 . Program-program tersebut selanjutnya akan diterjemahkan kedalam berbagai kegiatan oleh SKPD sesuai dengan fungsinya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Bab ini menguraikan tentang kebijakan yang berkaitan dengan program kepala daerah terpilih sebagai arah bagi SKPD maupun lintas SKPD dalam merumuskan kegiatan guna mencapai kinerja sesuai dengan tugas dan fungsinya BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisikan tentang rincian program pembangunan daerah yang merupakan instrumen untuk melaksanakan kebijakan pembangunan yang sudah ditetapkan.

Dan air tanah dalam (kedalaman dari 60 sampai 200 meter) umumnya dipergunakan untuk keperluan industri. 8% . di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Sumedang. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. serta sebagian menggunakan fasilitas dari PDAM. Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai. sedangkan kawasan budidaya pertanian seluas 156. industri.090 Ha. terdiri dari : • Kawasan hutan produksi seluas 25. Sumber air permukaan umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik pertanian. non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga.170 Ha yang tersebar di 26 kecamatan.371 Ha. Kabupaten Bandung memiliki banyak sumber daya air. Suhu udara berkisar antara 190 C sampai 240 C dengan penyimpangan harian mencapai 500 C dan kelembaban udara beragam antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau.258 Ha.15% hingga di atas 45%. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.429 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 307. kaki bukit. dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%.000 mm pertahun.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2. baik air tanah maupun air permukaan. dan lain-lain. Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Purwakarta. serta 172 buah sungai. Terletak pada ketinggian 110 meter sampai 2.1. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam. 3 danau buatan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -1 .500 mm sampai dengan 4. sedangkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter). Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 1070 22’- 1080 5’ Bujur Timur dan 60 41’ – 70 19’ Lintang Selatan. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Cianjur dan di bagian tengah terletak Kota Bandung dan Kota Cimahi. Kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.

31. 4.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung No 1. 30. Kawasan pangan lahan kering seluas 76. 9 Kelurahan. 8. 23.384 Ha. 22.10 % (Sumber data BPS 2005). perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan.1. 11. 13. 3. dan 431 Desa. 12.906 Ha. Kawasan peternakan seluas 274 Ha. 6. jumlah penduduk Kabupaten Bandung 4. 21.431 jiwa dan Laju Pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 3. Dengan demikian. 32. dibawah ini : Tabel 2. 26. LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. 2.229. 17. 27. Kawasan perikanan seluas 39 Ha.19 Ha. 7. 28. Secara administrasi Kabupaten Bandung terbagi atas 45 Kecamatan.64%. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seluas 19.274.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • Kawasan pangan lahan basah seluas 34. 14. 35. 9. 29. 25. 16. 33. Pada tahun 2005. 24. lihat tabel 2. 34. 18 19 20. 15. 10. 5. Kecamatan PADALARANG BATUJAJAR CIPATAT NGAMPRAH CILEUNYI CIMENYAN CILENGKRANG BOJONGSOANG MARGAHAYU MARGAASIH KATAPANG DAYEUKOLOT BANJARAN PAMEUNGPEUK PANGALENGAN ARJASARI CIMAUNG CILILIN SINDANGKERTA CIPONGKOR GUNUNGHALU RONGGA CIKALONGWETAN CIPEUDEUY CICALENGKA NAGREG CIKANCUNG RANCAEKEK CIPARAY PACET KERTASARI BALEENDAH MAJALAYA SOLOKAN JERUK PASEH Desa 10 13 12 11 6 7 6 6 5 6 10 5 11 6 13 11 9 11 11 14 9 8 13 12 12 6 9 13 14 13 7 3 11 7 12 Kelurahan 2 1 1 5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -2 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No 36. 37. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -3 . 45. 41. Kecamatan IBUN SOREANG PASIRJAMBU CIWIDEY RANCABALI LEMBANG CISARUA PARONGPONG CANGKUANG CIHAMPELAS Jumlah Desa 12 18 10 7 5 16 8 7 7 10 431 Kelurahan 9 Sumber : Bagian Pemerintahan Umum Sekda Kab. 42. 38. 43. 40. 39. 44.

1 Peta Administrasi BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -4 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Gambar 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Bandung diantaranya gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan seperti longsoran tanah/batu, longsoran sampah, banjir, penurunan muka air tanah dan kebakaran. Peta sebaran kebencanaan dapat dilihat pada peta 2.3 Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana alam dan bencana adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan masih minimnya peralatan penanggulangan bencana alam dan bencana yang dimiliki. Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan potensi aspek fisik dasar Kabupaten Bandung : 1. Cakupan luas wilayah yang cukup besar 307.371 Ha memiliki potensi ketersediaan lahan dan daya dukung lahan yang luas 2. Memiliki daerah administrasi pemerintahan yang relatif banyak ( 431 desa, 9 kelurahahan dan 45 kecamatan 3. Banyak sumber daya air, baik air tanah maupun air permukaan. 4. Luasnya kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.170 Ha sebagai pemasok air, wilayah konservasi, sumberdaya hutan, wisata konservasi dan lain-lain.

Permasalahan : o Terdapat rencana pemekaran Kabupaten Bandung Barat o Terdapatnya kemungkinan bencana gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. o Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Luas kawasan rawan banjir di Cekungan Bandung 14.480 ha Lokasi Banjir : Sapan, Andir, Rancaekek, Majalaya, Buah Batu, Ujungberung, Ciparay, Pameungpeuk, Manggahang, Baleendah, Dayeuhkolot

Gambar 2.2 Peta Daerah Rawan Banjir

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -6

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Gambar 2.3 Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Bandung

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -7

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

2.2.

Perekonomian Daerah Salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan

adalah melalui pengukuran pencapaian indikator makro ekonomi yang masing-masing indikatornya terdiri dari beberapa macam komponen. Pencapaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung akan dibahas pada uraian berikut. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 26,957 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 13,09% jika dibandingkan PDRB tahun sebelumnya sebesar Rp. 23,836 triliun. Nilai PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
PDRB KABUPATEN BANDUNG TAHUN 19952004 MENURUT HARGA BERLAKU
30,000,000 25,000,000 JUMLAH (Juta Rp) 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 TAHUN

Gambar 2.4 Secara lengkap nilai PDRB, kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Tiga sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar Rp. 14,37 triliun (53,33%), sektor Perdagangan, Hotel dan restoran sebesar Rp. 4,74 triliun (17,57%) dan sektor sektor Pertanian Rp. 2,53 triliun (9,42%). Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah digambarkan oleh besarnya kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga konstan adalah Rp. 7,108 triliun dan pada

tahun 2003 tercatat sebesar Rp. 6,755 triliun, dengan demikian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sebesar 5,23%. LPE Kabupaten

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -8

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bandung ini masih lebih besar jika dibandingkan dengan LPE Jawa Barat tahun 2004 yaitu sebesar 4.000.000 7.000 6.000 4.000.000.000.000.000 3.98%.000.000. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga konstan dapat dilihat pada Gambar 2.000.5.5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -9 . BANDUNG TAHUN 1995-2004 MENURUT HARGA KONSTAN 9.000 0 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 JUMLAH (Juta Rp) TAHUN Gambar 2.000 8.000.000 5.000 2.000 1. PDRB KAB.

22 0.81 749.942.27 16. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.573.49 24.435.177.701. INDUSTRI PENGOLAHAN A.269.132.86 6.899.225.609.54 609.08 586.00 0.00 0.105.15 0.05 582.11 0.469.29 5.20 7.566.820.900.08 0. Angkutan Laut A.302.718.355.63 231.58 916.348.971.60 1.18 1.66 1.190.744.21 193.264. Pemerintahan B.669.74 144.27 325. Perdagangan Besar dan Eceran B.33 0.414.27 566.55 0. Lembaga Keuangan Bukan Bank C. KEUANGAN.29 21.12 363. LISTRIK GAS DAN AIR A.186.08 573.581.94 249.836.882.81 2.00 0.269.06 6.790.34 1.587.64 6.00 10.059.44 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 1.738.458.358. Gas C.00 57.332.668.79 44.56 8. Air Bersih 5.609.658.01 612.46 854.904.085.766.60 0.00 0.00 0.191.75 61.435.604.057.16 629.553.577.440.10 76.240.28 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 1.00 11.12 0.244.00 132.228.727.548.64 231.77 72.313.00 14.189.23 109.72 64.38 791. Kehutanan E.399.2.70 918.598.143.29 634.00 9.33 9.66 262.864.571.00 5.15 5.690.625.70 918.041.03 3. Jasa Penunjang Angkutan B.951.05 203.150.058.114.690.810.347.012.227.87 0.31 740.208.305.400.25 0.399.211.20 556.852.411.259.00 98.46 709.69 945.55 330.320.289.637.552.173.92 641.328.81 124.82 493.31 0.64 634.00 0. Hiburan dan Rekreasi B.31 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 1.442.47 0.47 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 1.18 0. Restoran 7.66 11.21 321.57 0.088.365.845.996. Listrik B.89 1.15 4.449.15 707.15 1.74 156.081.684.17 17.710.62 10.01 264.390.570.648.292.254.58 86.00 4.647.44 598.984.510.246.89 1.398.839.176.81 516.1. Penggalian 3.45 646.344. Bank B.233.222.409.00 3.34 15.3.44 925.991.83 687.051.34 855.65 345.15 8.442.52 21.590. Sosial Kemasyarakatan B.82 677.968.19 72.37 10.00 0.00 9.680.01 173.477.087.69 402.119.70 0.489.390.703.54 19.53 384.196.59 17.22 3.266.871.040.212.32 7.59 4.6.57 113.82 0.93 4.395.510.00 83.339.416.555.98 3.229.523.64 620.00 114. PERDAGANGAN.00 0.06 37.497.30 1.10 291.20 461.07 4.971.972.27 44.21 8.72 9.501.045.844.65 553.383.567.723.82 43.454.86 3.00 0.215.780.472.797. Industri Tanpa Migas 4.58 0.98 144.4.00 0.12 0.214.230.792.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.239.102.245.669.465.69 8.01 521.56 11.453.295.523.25 0.776.96 531.50 725.191.842.184.393. HOTEL DAN RESTORAN A. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.175.118.84 136.52 540.11 39.896.058.014.59 728.348.69 0.31 305.62 6.75 677.75 93.309.00 0.220.86 406.46 303.43 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 1.73 167.625.98 0.51 632.652.663. Pegangkutan A.301.20 1.79 18.539.76 1.258.33 332.84 204.04 129.73 121.96 450.87 20.870.21 901.229.155.822.782.174.94 484.86 7.00 46.375.373.23 589.872.596.453.274.291. Peternakan D.375.101.48 730.10 2.00 64.21 370.881.72 5.076.627.24 29.211.91 949.452.448. Industri Migas B.30 1.865.423.978.74 156.62 33.781.244.79 4.41 190.92 671.022.15 99.990. Hotel C.071.00 10. JASA-JASA A.35 4.842.39 82.111.097.633.91 331.00 87.00 11.078.68 8.808.46 25.63 65.053.411.628.97 2.28 1.873.690.00 21.00 49.46 10.27 57.232.05 371.11 122.698.41 288.087.552.277.53 290.00 42. Jasa Perusahaan 9.226.279.590.419.00 72.422.017.15 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 1.376.216.968.94 630.91 0.64 41.395.62 274.075.240.264.483.128.091.01 107.29 0.990.55 803.89 1.069.47 382.025.273.511.76 3.00 3. PERTANIAN A.669.612.43 68.821.919.05 516.58 452.969.957.232.88 92.289.44 171.31 77.00 11.00 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -10 . Komunikasi 8. Sewa Bangunan D. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.786.84 368.60 11.125.040.51 158.80 13.34 1.396.2.00 6.563.955.838.23 326.603.76 26.808.11 1.498.746.621.227.376.71 0.93 341.00 12.083.213.60 939.92 0.82 547.450.543. Perkebunan C.98 3.52 847.21 643.937.516.296.94 339.623.718.178.46 164.305.32 14.847.76 2.492.83 56.174.25 22.31 0.49 0.937.034.00 0. Tanaman Bahan Makanan B.59 794.02 183.955.95 1.510.67 261.592.23 16.64 444.98 427.59 523.26 307.422.208. Perikanan 2.807.98 304.137.744.91 831.68 9. Angkutan Sungai A.637.63 1.856.29 10.38 56.93 336.829.064. Swasta B.310.742.09 1.44 5.597.656.433.086.028.00 14.80 2.95 376. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.958.074.36 700.2 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha 1.718.91 48.128.96 794.687.802.82 287.244.02 128.00 40. Minyak dan Gas Bumi B.65 600.47 254.933.89 431.547.380.89 1.234.486.570.44 5.262.10 390.007.37 19.044.424.00 4.921.245.19 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 2.70 270.94 18.00 13.044.00 25.007.965.50 0.00 0.160.06 342.30 172.262.391.00 0.00 0.736.02 260.186.920.175.907.343.72 201.540.33 594.59 62.650.00 0.66 1.305.41 104.777.00 0.25 2.28 920.51 56.900.292.065.675.562.81 11.894.236.405.701.46 75.00 0. Pertambangan tanpa Gas C.270.520.19 516.42 247.599.270.00 18.087.688.388.00 8.801.860.1.32 3.00 4.38 1.43 0.064.659.00 5.65 49.81 512.59 14.00 44. Angkutan Rel A.56 364.5.37 23.075.07 906.257.69 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 2.29 451.83 107.34 3.10 100.174.54 0.252.85 700.328.56 276.26 0.698.705.92 76.39 150.998.970.353.80 9.660.40 47.588.182.57 17.698.66 157.46 0.849.01 0.187.33 307.74 152.00 36.91 43.348.98 5.128.415.76 0.878.38 67.83 39.17 0.31 80. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1995 (Juta Rupiah) 989.679. Angkutan Udara A.43 383.00 12.70 332.263.40 262.83 9.36 98.25 4.21 279.288.714.917.00 0.00 5.942.131.535.647.347. Angkutan Jalan Raya A.274.83 0.00 71.24 430.50 373.357.00 502.06 524.351.533.321.3.89 283.21 4.63 820.250.489.46 2.889.05 65.30 0.63 287.411.499.56 12.483.72 9.71 1.86 51.665.56 894.441.563.24 35.60 0.00 10.84 658.13 394.074.32 14.341.450.115.572.31 227.510.735.789.261.388.11 563.337.14 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 2.838.21 0.943.03 165.65 376.83 196.753.524.43 10.931.988.430.34 410.887.44 27.05 109.00 60.03 1.459.50 233.430.18 12.483.56 3.668.131.52 449.79 9.96 289.413.573.30 0.00 5.243.110.242.593.489.00 35.497.00 5.071.00 0.303.032.876.41 123.524.53 354.641.

disusul sektor Pertambangan dan Penggalian 7. Secara lengkap nilai PDRB.56 3.47% dan angka tersebut relatif lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2003 dengan inflasi 6.17 10.47 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.74%.70 8. transfer. koperasi. Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2004 memiliki tingkat inflasi terkecil dibandingkan sektor lainnya. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -11 . sedangkan inflasi terkecil dialami sektor keuangan sebesar 3.4 Tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung 2003 –2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.37 6.97 8. Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 12. jasa hukum dan jasa konsultan) tersebut dapat meningkatkan produksi secara optimal.31 7.70 12. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Rata-rata 2003 (%) 3.48 2004 (%) 6. jual beli surat berharga dll).17 8. pegadaian). Secara lengkap tingkat inflasi per lapangan usaha adalah sebagai berikut : Tabel 2. sewa bangunan dan jasa perusahaan (al. Tingginya LPE yang dicapai sektor-sektor tersebut terkait erat dengan tingkat inflasi/kenaikan harga yang dialami.39%.2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan harga konstan. lembaga keuangan bukan bank (asuransi. Tingkat inflasi terbesar disumbang oleh kelompok bangunan/konstruksi sebesar 10.60 5.55%. sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 adalah sektor Keuangan.27 10. Hotel dan Restaurant Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.58% dan sektor Pengangkutan & Komunikasi 6.23 7.55 10. maka sektor Keuangan yang terdiri dari kegiatan perbankan (simpanan.11 7. Gas dan Air Bangunan/Konstruksi Perdagangan. Inflasi sektor Keuangan.44 7.69 5.48%. 2004 Tingkat inflasi Kabupaten Bandung secara makro pada tahun 2004 mencapai 7.46 6.64 6. kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2. pinjaman.7%.87 10. Mengingat perannya yang strategis dan dengan tingkat inflasi yang relatif kecil.

28 304.88 246.825.84 293.72 33.521.919.72 723.519.491.644.73 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 743.766.2.48 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -12 .471.034.087.570.015.370. INDUSTRI PENGOLAHAN A.90 321.73 30.018.39 24.00 0.00 0.465.00 30.92 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 671.942.536. JASA-JASA A.08 273. Hotel C.86 189.32 32.28 116.96 5.160.148.97 243.837.95 3.666.00 19.374.108.99 35.425.76 328.00 0.199.311.830.00 18.907.693.795.990.520.56 28.561.806.48 36.335.96 34.883.491.051.73 0. Peternakan D.251.86 132.54 491. Kehutanan E.37 114.34 53. LISTRIK GAS DAN AIR A.716.97 91.659.73 325.46 6. Tanaman Bahan Makanan B.771.787.482.350.941.11 169.90 7.491.47 3.579.66 204.93 245.941.72 24.14 97.53 52.209.381.11 256.530.21 7.602.02 210.262. Industri Migas B.82 372. Jasa Penunjang Angkutan B.96 596.00 33.12 481.61 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 725.01 2.626.251.12 7.25 36.563.520.41 0. Perdagangan Besar dan Eceran B.092.119.35 0.96 7.56 524.34 2.66 0.55 127.752.87 96.996.97 4.00 20.29 40.25 8.74 32.464.00 0.010.19 45.00 4.71 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 753.90 3.86 251.340.80 5.61 334.98 7.894.308.295.04 64.41 134.65 3.876.64 238.00 4.830.845.09 51.14 6.20 448.33 2.00 0.79 172.53 50.491.44 387.428.141.412.375.861.57 769.312.16 510.75 4.74 24. Angkutan Sungai A.175.221.500.223.199.24 230.00 4.647.43 4.530.71 2.306.32 0.00 3.02 2. Industri Tanpa Migas 4.586.686.00 3.71 5.444.95 260.28 0.251.51 5.632.828.07 1.638.587.577.463.174. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.02 4.34 3.46 6.236.11 537.594.52 75.272.465.69 133.1.418.67 419. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.64 30.281.27 39.564.345.00 6.13 21.261. Minyak dan Gas Bumi B.43 190.300.588.647.586.762. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1995 (Juta Rupiah) 874.00 28.496.00 3.217.05 150.141.16 203.23 362.607.693.079.42 3.82 686.03 226.956.59 31.89 30.00 3.299.29 188.722.14 64.00 0.3.596.97 0.00 3.23 1.71 450.00 26.04 453.779.25 2.77 377.73 330.43 103.43 121.52 262.958.53 234.405.918.11 234.10 464.04 165.67 456.902.772.82 127.3 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 1.365.01 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 864.77 0.164.43 1.438.950.75 171.03 735. Angkutan Udara A.168.234.92 940.51 3.44 5.127.99 7.440.938.73 578.29 53.30 186.00 31.199.371.12 237.652.500.518.00 3.07 134.017.300. Komunikasi 8.54 26.449.90 261.687.386.74 25.955.65 263.59 781.110.20 2.119.09 0.090.49 0.12 224.560.294.564.815.596.810.38 37.86 0.098.345.10 128.58 474.839.523.217.438.960.647.31 59.91 247.37 31.310.10 1.23 24.588.72 185.00 4.00 30.05 0.388.085.6.00 4.64 35.164.37 316.306.270.037.00 3.378.245.15 688.063.46 6.263.612.828.100.00 243.629.012.771.541. Pertambangan tanpa Gas C.833.28 119.379.553.00 3.90 2.31 6.352.501.90 101.75 3.5.465.16 225.980.254.08 101.738.87 472.310.370. Angkutan Laut A.564.864.687.98 3.265.20 54.00 19.453.806.038.06 23. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.90 34.00 3.105.80 302.460.23 111.66 259.513. HOTEL DAN RESTORAN A.738.325.913.33 69.04 6.282.67 0.00 3.07 0.922.021.85 3.631.500.172.095.546.61 0.65 8.772.542.230.900.11 237.963.668.457.75 162.742.80 65.596.682.22 0.93 115.020.312.49 0.84 304.993.68 955.837.95 0.825.454.954. Pemerintahan B.390.14 0.852.97 289.836.96 58.47 0.71 301.59 398.299.965.16 655.61 42.75 4.049.00 26.332.35 51.95 1.548.255.093.026.52 492.78 197. Gas C.190.39 130.633.075.00 53.23 4.00 0.05 259.07 55.289.491.00 0.375.20 244.267.015.037.32 229.650.78 54.1.53 3. Hiburan dan Rekreasi B.132.188.561.49 223.39 251.57 211.73 0.578.49 0. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.10 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 690.79 0.812.593. KEUANGAN.260.91 935.478.00 27.558.00 0.242. Swasta B.32 45.483.307. Bank B.95 248.02 765.411.963.610.045.062.06 0.24 472.91 463.409.687. Sewa Bangunan D.00 0.95 233.00 22.603.262.057.553.016.87 50.89 325.248.328.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.319.342.87 120.862.97 219.73 54.656.019.020.63 323.696.19 5.19 5.709.743.05 0. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.443.060.051.834.116.755. Perikanan 2.33 25.53 0.066.750.577.78 5.777.86 2.801.49 69.17 0.064.00 3.09 240.00 24.518.00 3.443.00 0.670.58 6.57 6.94 309. Air Bersih 5.444.59 242.74 193.48 896.33 8.11 215.84 25.429.797.77 0.44 300.745.607.884.00 4.62 274.90 342.985.620.430.63 253.55 9.61 42.873.72 4.780.634.328.34 158.725.48 0.09 125.030.25 170.58 32.777.540.62 361.821.34 0.00 3.93 358.28 0.23 3.00 0.34 188.93 0.008.16 330.755. Angkutan Jalan Raya A.06 55.40 6.21 0.956.592.273.95 479.00 0.209.89 149.791.567.4.38 0.58 294.92 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 696. Jasa Perusahaan 9.800.607.490.38 986.99 7.597.00 0.93 240.90 8.08 263.79 94. Restoran 7.083.837.52 4.536.460.622.26 296.29 998.53 731.92 0.762.327.766.69 493.195.141.021.302.40 241.24 271.48 962.663.058.016.57 767. Sosial Kemasyarakatan B. Listrik B.233.56 196.05 306.303.00 29.903.00 324.00 36.125.35 6. Perkebunan C.572.54 220.232.51 244.580.142.797.432.21 4.87 143.16 385.337.76 0.708.829.442.00 33.980.00 29.687.20 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 703.13 61.637.50 0.14 3.188.564.35 803.56 27.73 56.00 0.02 126. Pegangkutan A.180.38 5.879.00 0.91 254.868.765.556.99 39.903.2.96 452.32 1.307.710.658.583.22 233.795.79 0.01 1.53 219. Angkutan Rel A.00 16.65 343.00 0.121.372. Penggalian 3.07 2.455.16 2.00 0.900.3.21 180.95 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 791.50 37.10 0.592.81 237.41 278.00 0.785.06 556.00 16.49 194.32 276.84 129.41 133.07 346.122.21 230.534.954.361.54 2. PERTANIAN A.00 53.50 254.73 104.73 2.00 3.647. PERDAGANGAN.148.56 234.00 20.63 237.197.299.796.86 181.66 0.894.33 6.72 123.768.51 353.02 336.66 61.98 217.994.825.582.785.645.76 28.67 2.53 3.00 0.

dan tipe C sebanyak 7 pasar serta pasar desa sebanyak 41 buah pasar.6% jika dibandingkan PDRB per kapita tahun 2003 sebesar Rp. • Sulitnya mempertemukan aspirasi pedagang dan investor.930. PDRB per kapita masyarakat Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku 2004 adalah sebesar Rp.dan Rp. Program-program yang dilaksanakan dalam mendukung sub fungsi ini adalah program Penataan Sarana Pasar/Renovasi dan Pembinaan SDM pengelola pasar.1. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -13 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kabupaten Bandung pada tahun 2004 berdasarkan harga konstan hanya meningkat sebesar 2%.-.47% terlihat bahwa kemakmuran masyarakat sebenarnya belum mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada tahun 2001 telah dilaksanakan kegiatan penataan sarana pasar/renovasi sebanyak 6 pasar.1.00 atau hanya meningkat 2%. Jika dibandingkan dengan angka inflasi sebesar 7. 6. Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung memiliki potensi di sub fungsi Perdagangan yaitu berupa pasar Kabupaten sebanyak 22 buah pasar terdiri dari tipe A sebanyak 8 pasar.681. Permasalahan yang dihadapi di sub fungsi perdagangan antara lain adalah : • Belum optimalnya penataan sarana dan prasarana perdagangan yang disebabkan karena sulitnya melakukan relokasi sarana prasarana perdagangan yang sudah eksis. 5. Apabila dihitung dengan menggunakan harga konstan 1993. Namun demikian. 2. PDRB per kapita Kabupaten Bandung tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp.714.2.. bila diteliti lebih lanjut ternyata peningkatan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku tidak menggambarkan peningkatan secara riil tetapi lebih disebabkan karena adanya pengaruh kenaikan harga/inflasi. tahun 2002 sebanyak 7 pasar (penambahan 1 pasar). tahun 2003 sebanyak 14 pasar (penambahan 7 pasar) dan 16 pasar pada tahun 2004 (penambahan 2 pasar).316.578. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi perdagangan dari Tahun 2001 – 2004 secara kuantitatif adalah sebanyak 16 pasar.1 Sub Fungsi Perdagangan.536. tipe B sebanyak 7 pasar. Pengembangan Usaha. Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 telah dilaksanakan penyelesaian masalah tanah Pasar Baleendah.431 dan meningkat sebesar 9.146.

.452 orang..29. penilaian kesehatan KSP/USP 185 koperasi sehat.5 milyar dan pelaku UKM sejumlah 3. jumlah modal. Adapun keberhasilan lain terlihat dari program kemitraan dengan teraksesnya permodalan dari BUMN. UKM tersebut terdiri dari jenis usaha perdagangan 863 unit. Jika dilihat dari jenis usahanya. jasa 210 unit dan industri 2. dan jumlah UKM. 553. 464. Pada tahun 2002 telah berdiri 67 koperasi baru.000. Selanjutnya pada tahun 2004 telah berdiri 71 koperasi baru.27.550... jumlah asset Rp.1. Koperasi Jasa 18 unit. Pada tahun 2003 telah berdiri 47 koperasi baru.050.976. jumlah modal Rp.025 unit. 799. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 222 koperasi sehat. asset koperasi. Koperasi Serba Usaha 141 unit.000. penilaian klasifikasi 152 koperasi. Koperasi Baitul Mall-Wattanwil 38 unit dan Koperasi Pusat 4 unit.790. dan bimbingan kepada 150 UKM.284 orang. 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Perijinan Penyelenggaraan Koperasi dari target Rp. Pada tahun 2001 telah berdiri 130 koperasi baru.000.671 unit Koperasi (unit yang aktif sebanyak 1. Koperasi Pondok Pesantren 148 unit.414 unit dengan total jumlah tenaga kerja yang diserap 22. hasil-hasil yang dicapai antara lain pelaksanaan Perda No.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Sulitnya melaksanakan penegakan hukum. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 188 koperasi sehat.2 milyar.000. Koperasi Pemasaran 63 unit.488 unit.500.9 milyar. Koperasi Simpan Pinjam 13 unit. pada tahun 2002 sebesar Rp. bimbingan kepada 150 UKM.257.yang diserap oleh 9 unit koperasi dan 57 unit PK. peningkatan klasifikasi 30 koperasi.tercapai Rp. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP. Koperasi Produksi 188 unit. volume usaha Rp. penilaian klasifikasi koperasi sebanyak 100 unit. Koperasi Unit Desa 46 unit. Jumlah anggota koperasi sebanyak 1. dan bimbingan kepada 63 UKM. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM. Potensi yang dimiliki pada sub fungsi Koperasi dan UKM terlihat dari Banyaknya jumlah koperasi. penilaian klasifikasi koperasi. Pada tahun 2004 di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 1. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus relokasi pasar Baleendah dan pasar Ciwidey.yang BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -14 . dan bimbingan kepada 174 UKM. jumlah anggota.000. pada tahun 2001 sebesar Rp. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 250 koperasi sehat. volume usaha.selain itu dapat dilihat dari berdirinya koperasi baru. terdiri dari koperasi konsumsi sebanyak 1. peningkatan klasifikasi 260 koperasi.466 unit dan yang tidak aktif 205 unit).

000.433 ton.422.000.484.86 ton yang berasal dari kolam.. Kehutanan dan Perikanan selama tahun 2001 s/d 2004 antara lain adalah meningkatnya produksi komoditi tanaman pangan dan hortikultura... inovasi. cabe merah 18.469 ton.031. kakao 747 ton.1. Pada tahun 2004 tercatat populasi sapi perah sebanyak 44. domba 499. Pada tahun 2004.388 ton.terserap oleh 6 unit PK.000. bawang merah 40. produksi telur 10.000.500.yang diserap oleh 1 unit koperasi (KSP Sarwa Mukti Cisarua) sebesar Rp.468 ekor.886 dan itik 509. kopi 540 ton dan tembakau 793 ton. Kabupaten Bandung merupakan salah satu kontributor yang cukup penting bagi pemenuhan konsumsi protein hewani di Jawa Barat.590.050.102 ekor.680 ekor. kualitas produk. produksi peternakan dan perikanan. sapi potong 7. ayam ras pedaging 4.000.061 ekor. teh 58. Rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah dipengaruhi oleh faktor modal. kentang 261.500. kelapa 1. kolam air deras. ongkos produksi dan skala produksi. kuda 7. jaring apung dan perairan umum.118 kg dan susu 94. ayam ras petelur 492.973. Pada sub fungsi Peternakan dan Perikanan.884 ton. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi Pertanian.2. tercatat produksi sejumlah komoditi tanaman pangan dan hortikultura sayuran dan perkebunan adalah sebagai berikut : padi 655.649 kg.097.986 kg serta ikan sebanyak 25.112. sawah.050 ton. tomat 91.1. sedangkan pada tahun 2004 sebesar Rp. Selain itu terdapat produksi daging baik dari ternak kecil dan besar sebanyak 31.dan dana lainnya terserap oleh 2 unit koperasi dan 7 unit PK. Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi di Bidang Pertanian. kerbau 6. ayam buras 4.2 Sub Fungsi Pertanian.032. sedangkan belum optimalnya peran koperasi disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki serta rendahnya kualitas SDM pengurus dan anggota koperasi. jagung 82.58. kambing 62. kubis 221.685 ton. 2.142.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung diserap oleh 1 unit koperasi dan 182 unit PK. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM antara lain ditemukan permasalahan : • • Belum optimalnya peran koperasi sebagai sistem ekonomi masyarakat dan Masih rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -15 . ubi kayu 139.119 ton.516 ton.411 ton.221 ton.583.586. pada tahun 2003 sebesar Rp.

5 Ha per KK.250 m3 dan kapur (batu gamping) di Kecamatan Padalarang dan Cipatat seluas 15 ha dengan jumlah 3. Rendahnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh faktor rendahnya nilai jual produk pertanian. potensi yang dimiliki adalah irigasi/pengairan teknis seluas 12. Cicalengka dan Baleendah dengan jumlah 40. rendahnya kualitas hasil produksi pertanian dan tingginya ongkos produksi. serta panas bumi (geothermal). dan mineral emas (masih tahapan eksplorasi).2.4 Sub Fungsi Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung memiliki aneka ragam potensi jenis pertambangan antara lain adalah batu andesit seluas 61. pengairan pedesaan 15.069 ha) sekitar 45 % dalam kondisi rusak dan sampai tahun 2004 baru ditangani sebanyak 10 % dari jumlah jaringan yang rusak.2. 2. dari seluruh jaringan irigasi yang ditangani Kabupaten (seluas 19. Program yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 ditujukan untuk menurunkan jumlah angka pelanggaran dalam kegiatan usaha penambangan seperti kegiatan pemantauan dan pembinaan penambangan bahan galian Golongan C di Kecamatan Padalarang dan Cipatat pada tahun 2003.3 s/d 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Permasalahan utama yang dihadapi dalam sub fungsi ini antara lain masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat petani. Batujajar.253 ha dan tadah hujan 10.723 ha.00 per bulan dengan luas lahan yang diupayakan berkisar antara 0.660 ha. batu marmer di Kecamatan Cipatat seluas 76. Cililin.690. keterbatasan modal.971 Ha. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum.84 ha di Kecamatan Padalarang.000. Cipatat dan Cikalongwetan dengan jumlah 3 juta m3.63 ha dengan jumlah 19.000 m3 (DLH. pasir seluas 26 ha di Kecamatan Padalarang.500.725. sedangkan untuk memanfaatkan potensi pertambangan telah dilakukan upaya identifikasi data awal sebaran bahan galian golongan C di 19 Kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2001 – 2002 dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -16 . Margaasih. pengairan setengah teknis 7. 2004). Empat puluh persen petani berpendapatan di bawah Rp.150.000 m3. 2. pengairan sederhana 9. air tanah (air bawah tanah dan mata air). Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung.487 ha.3 Sub Fungsi Pengairan Potensi Pengairan yang dimiliki Kabupaten Bandung sangat terkait erat dengan potensi di sektor Pertanian.

baru dalam tahapan Eksplorasi dan potensi panas bumi (geothermal) yang sebarannya dan potensinya seperti terlihat di tabel 2.5 Jumlah Potensi Panas Bumi (MWe) di Kabupaten Bandung Sumberdaya Spekulatif Terduga Kapasitas Terpasang (MWe) Hipotetik Potensi Mungkin Terbukti Sub Total No Kecamatan Lapangan 1. Ciwidey 65 25 25 25 25 247 170 482 25 25 25 25 140 84 150 324 140 527 208 647 140 224 1856 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Permasalahan yang dihadapi Pertambangan dan energi antara lain adalah masih adanya penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan. dan 70% pengusaha penambangan belum mengelola K3 dan lingkungan dengan baik.5. Selain jenis bahan galian golongan C. baik perusahaan maupun perorangan ditandai dengan pelaksanaan reklamasi yang masih di bawah 20%.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung inventarisasi semi mikro potensi bahan galian di Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada tahun 2005. Rajamandala G. Batujajar. 2. di kabupaten bandung terdapat mineral emas yang tersebar di daerah Bandung Selatan ( dari Kecamatan Sindagkerta sampai ke kecamatan Pangalengan) yang besaran potensinya belum diketahui. Ibun Pangalengan Lembang Kamojang Wayang Windu Tangkuban Parahu Maribaya 140 110 75 100 73 135 227 250 300 460 100 25 25 25 25 4. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -17 . Akibatnya.Patuha Cimanggu Ranca Walini Batununggal Kawah Putih Kawah Cibumi Kawah Ciwidey TOTAL 250 5. dan awal tahun 2006 terjadi longsoran (tanah dan pasir tras) di lokasi penambangan yang mengakibat korban jiwa yang diakibatkan penambangan tidak sesuai dengan kaidah penambangan. 3. Cipatat Saguling. Tabel 2. pada tahun 2003 terjadi 2 kasus longsor dan 4 kasus tanah longsor pada tahun 2004.

Potensi panas bumi digunakan untuk pemanfaatan secara langsung dan tidak langsung. dan potensi yang terdapat di Kawasan Kamojang akan ada penambahan kapasitasnya direncanakan 60 MWe. pengambilan air tanah melalui sumur bor tersebut dari kedalaman 60 meter hingga 200 meter.897 unit usaha dan IA 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Jumlah pengambilan air tanah untuk keperluan industri yang telah memiliki ijin sebanyak 673 buah sumur (Sumber DLH). Sedangkan pemanfaatan tidak langsung yaitu untuk Pembangkit Tenaga Listrik.834 unit usaha yang terdiri dari Kelompok Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) 695 unit usaha. Patuha akan dibangun pembangkit tenaga listriknya yang direncanakan 300 MWe secara bertahap (sudah diakukan eksplorasi dan terdapat Sumur Bor panas bumi di kawasan ini). beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan informasi potensi industri. pembinaan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -18 . ILMK 6.430 unit usaha yang terdiri dari Kelompok IHPK 5.2. Dalam rangka mendukung pengembangan sub fungsi Industri. dan kawasan G. Sehingga terjadi keterlambatan dalam pembangunannya.924 unit usaha. dan perlu dikembangkan untuk pemanfaatan secara langsung seperti untuk pengeringan teh.609 unit usaha. jamur dan lainnya. sehingga terjadi penurunan muka air tanah.5 Sub Fungsi Industri dan Konstruksi Pada sub fungsi Industri terutama industri kecil dan menengah.302 unit usaha. Kabupaten Bandung memiliki potensi sebagai berikut : • Jumlah industri kecil yang dimiliki sampai dengan tahun 2004 adalah Industri Kecil Formal sebanyak 2. Permasalahan untuk pembangunan pembangkit tenaga panas bumi ini diperlukan investasi yang besar. Industri Logam Mesin dan Kimia (ILMK) 837 unit usaha dan Industri Aneka (IA) sebanyak 1. Permasalahan yang dihadapi dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah adalah belum terkendalinya pengambilan air tanah terutama untuk keperluan industri. 2. dari Sub total potensi panas bumi 1856 MWe baru terpasang 250 MWe di Kawasan Kamojang dan Wayang-Windu. penggunaan secara langsung baru dimanfaatkan untuk parawisata (pemandian air panas dan wisata alam). serta masih belum stabilnya harga jual listrik. • Jumlah Industri Kecil Non Formal (sentra) sampai dengan tahun 2004 adalah 18.

27 sentra pada tahun 2002 (penambahan 11 sentra). sampai dengan tahun 2005 ditargetkan hanya sekitar 73.297. manajemen atau wawasan bisnis.2. 2. rendahnya inovasi produk. 480 pengusaha pada tahun 2003 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) dan 520 pada tahun 2004 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) serta penerapan GKM dari tahun 2001 s/d 2004 sebanyak 10 perusahaan.92 km dengan kondisi hanya sekitar 60 % baik.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung industri kecil. dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal penguasaan teknologi. 440 pengusaha pada tahun 2002 (penambahan 220 pengusaha/ pengerajin).86% dari total panjang jalan Kabupaten atau sekitar 958 km yang dapat ditangani dan masih ada beberapa jembatan dengan kondisi buruk. dan jalan desa 1. pengawasan standararisasi mutu. baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan maka peran sub fungsi Transportasi menjadi sangat penting. peningkatan pengetahuan bagi pengusaha mengenai SNI/Gugus Kendali Mutu (GKM).6 km dengan kondisi 90 % baik. Adapun jalan desa yang dibiayai dari Dana Bantuan Penyelenggaraan Pemerintah Desa BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -19 . jalan propinsi 202.6 Sub Fungsi Transportasi Dalam menunjang kegiatan perekonomian. jalan kabupaten 1.42 km dengan kondisi 100 % baik. Ketidakmampuan dalam bersaing diantaranya disebabkan oleh akses permodalan yang terbatas. ongkos produksi yang tinggi.869.455. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah masih sulitnya industri kecil/ menengah untuk bersaing di dalam maupun luar negeri terutama dalam menghadapi pasar bebas karena belum memenuhi persyaratan mutu/kualitas produk yang diharapkan konsumen. Potensi yang dimiliki sub fungsi Transportasi adalah panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung yaitu sepanjang 3. mengikuti kegiatan pameran baik lingkup daerah maupun nasional. Pembinaan sentra Industri Kecil dilaksanakan dari tahun 2001 s/d 2004 yaitu sebanyak 44 sentra (kuantitatif) yaitu sebanyak 16 sentra pada tahun 2001.88 km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 40% yang kondisinya baik. sedangkan peningkatan pengetahuan mengenai SNI selama Tahun 2001-2004 yaitu sebanyak 520 pengusaha/pengerajin (kuantitatif) yaitu pada tahun 2001 ditujukan untuk 220 pengusaha. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki.28 km terdiri dari jalan nasional 85. 36 sentra pada tahun 2003 (penambahan 9 sentra) dan 44 sentra pada tahun 2004 (penambahan 8 sentra). fasilitasi permodalan dengan pihak Perbankan.

minimnya minat investor. permasalahan lainnya adalah penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. R. dan Rancaekek pada tahun 2005. sedangkan rendahnya kualitas infrastruktur karena belum optimalnya pengelolaan infrastruktur dan belum lengkapnya ketentuan teknis pembangunan infrastruktur. Cileunyi. Ciwidey.2004. dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi.Bupati. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah. termasuk R. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika adalah : • Belum optimalnya sistem aplikasi Sub SIMDA yang telah terbangun. marka 7. Sub fungsi Transportasi didukung oleh kegiatan Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas serta Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum. Selain itu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ditambah swadaya masyarakat belum cukup mampu meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik. Dalam pelaksanaannya. ini hasil-hasil yang telah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -20 .2. dalam rangka Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum telah disusun buku Master Plan Jaringan Lalulintas Angkutan Barang dan jaringan trayek angkutan penumpang pada tahun 2003 dan direncanakan akan disusun perencanaan angkutan massal koridor Leuwipanjang. 3 badan. 2 kantor.000 m dan traffic cones sebanyak 510 buah yang dipasang di lokasi rawan kemacetan. dan 10 dinas • Unit kerja yang telah terkoneksi ke dalam jaringan internet SIMDA Kabupaten Bandung terdiri dari 21 unit kerja. baik dari aspek pemanfaatannya oleh DIBALE maupun content/ isi dari sistem aplikasi tersebut. 2. Selain permasalahan di atas.Wakil Bupati dan Setda dengan jumlah komputer yang terkoneksi mencapai 55 buah. Dalam kurun waktu 2001 . program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalulintas telah menyediakan rambu sebanyak 923 unit.7 Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika Pada Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Terbangunnya 24 sistem aplikasi sub SIMDA yang telah oprasional di 3 bagian (Setda).

baik yang tersedia di Dibale maupun yang ada di KPDE sebagai intitusi pengelolanya.967 jiwa terdiri dari laki-laki 2. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 3. Apabila dilihat dari kelompok umurnya.93% penduduk tua (umur 65 tahun ke atas). sehingga berdampak pada ketidak kontinu-an dalam proses entry. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.369. 1. penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 tersebut terdiri dari 637. jumlah penduduk Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 4.107. meningkat menjadi 383.58% penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) dan 80. dll.833 pada tahun 2002. hal tersebut lebih disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan data aktual dari Dibale dan keterbatasan SDM KPDE yang menguasai teknis pengentryan ke sistem apikasi web itu sendiri.586 orang atau 3.49% penduduk usia muda (umur 0-14 tahun). jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut bisa menjadi satu potensi.858 orang atau 30.156 orang.19% jika dibandingkan tahun 2003 yaitu sebanyak 4. hal tersebut dibuktikan dengan seringnya terjadi troubel/ kendala konektifitas yang disebabkan karena adanya perangkat jaringan yang hilang ( ruangan tidak dilengkapi sistem keamanan yang memadai ) ataupun terjadinya “ croded “ karena tidak tersedianya perangkat server yang memadai. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -21 . jumlah penganggur tahun 2001 tercatat sebanyak 376. dan 390.556 jiwa dan perempuan 2.026 pada tahun 2003. up date datanya • Masih terbatasnya sarana prasarana infrastruktur jaringan ( N/W ) sebagai pendukung operasionalsasi sistem-sistem sub SIMDA.582 jiwa.058.2. 2.087. Berdasarkan hasil Suseda 2004.8 Sub Fungsi Tenaga Kerja Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) paling besar di Propinsi Jawa Barat.145. Jika dikaitkan dengan sub fungsi Tenaga Kerja.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Belum berfungsinya situs web Kab. Namun demikian bisa pula menjadi permasalahan bilamana penduduk usia produktif tersebut tidak terserap oleh pasar kerja.112 orang atau 65.411 jiwa.Bandung sebagai media informasi dan komunikasi baik bagi kepentingan internal maupun publik.

Dengan demikian masih tersisa sebanyak 100 perusahaan yang belum mendapat penyuluhan. sedangkan melalui pelatihan tenaga kerja adalah 165 orang pada tahun 2001.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tersebut. Selanjutnya pada kasus-kasus ketenagakerjaan telah terjadi penurunan yang tercatat sebagai berikut yaitu 48 kasus ketenagakerjaan pada tahun 2001 menjadi 23 kasus pada tahun 2002. tahun 2002 sebanyak 1. 154 orang pada tahun 2003 dan 65 orang pada tahun 2004. 10 kasus pada tahun 2003 dan selanjutnya menurun menjadi hanya 8 kasus pada tahun 2004. sub fungsi Tenaga Kerja selama tahun 2001 s/d 2004 telah melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal lokal dan ke luar negeri. pembentukan usaha mandiri dan pelatihan kerja. Disamping itu masih rendah perlindungan tenaga kerja melalui kepastian jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) serta masih minimnya lembaga sebagai sarana hubungan industrial baru mencapai 29. mengurangi kasus ketenagakerjaan serta meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan tentang Hak dan Kewajiban. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal dan keluar negeri pada tahun 2001 tercatat sebanyak 1.500 orang sehingga pada tahun 2005 masih tersisa 4500 orang yang belum mendapat tempat di lapangan kerja dengan Target Renstra 2001 – 2005 (Disnaker. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -22 . 236 orang pada tahun 2003 dan 277 orang pada tahun 2004.358 orang pada tahun 2003. Permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi dalam sub fungsi Tenaga Kerja antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran.965 orang.532 orang. Penurunan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan Hak dan Kewajiban yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 untuk masing-masing 280 perusahaan.07 % dalam upaya peningkatan kesejateraan pekerja.686 orang dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui pembentukan usaha mandiri tercatat perkembangan sebagai berikut : pada tahun 2001 dilakukan untuk 1. 2004).311 orang. masih kurangnya tingkat keterampilan/keahlian pencari kerja dan belum baiknya sistem informasi pasar kerja yang ada. 1. 580 orang pada tahun 2002. tahun 2003 sebanyak 1.

Selain itu.9 Sub Fungsi Ekonomi Lainnya Dalam rangka pengembangan ekonomi di wilayah pedesaan.844 KK yang belum mendapat sambungan listrik.75%. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten bandung yaitu 2 hari yang merupakan tingkat hunian yang cukup singkat jika dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di Kota Bandung. situs budaya dan sejarah di 17 lokasi.769 orang atau terdapat peningkatan sebesar 13. Jumlah wisatawan pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1. yang 40 diantaranya terdapat di daerah Bandung Utara (Lembang). Rendahnya daya tarik obyek wisata dipengaruhi oleh faktor sarana prasarana yang belum memadai.977 orang. kemasan paket wisata yang kurang menarik dan manajemen pariwisata yang belum optimal. kurangnya subsidi pemerintah dan belum adanya alternatif penyediaan energi di desa.1 Pengembangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung memiliki potensi budaya dan pariwisata antara lain adalah 61 buah obyek wisata yang tersebar di zone Bandung Utara sebanyak 12 obyek di 4 Kecamatan .751. 2. di zone Bandung Selatan 29 obyek di 7 Kecamatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. perlu ditunjang oleh program pengembangan listrik pedesaan.2. terdapat juga potensi kebudayaan berupa 2 buah rumah adat Sunda.539. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -23 .3. Selain itu. Sampai dengan tahun 2004 telah terpasang sambungan listrik pedesaan sebanyak 1. Permasalahan masih rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik antara lain disebabkan oleh faktor rendahnya daya tarik obyek wisata dan kurangnya promosi. monumen di 17 lokasi. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan listrik pedesaan antara lain adalah masih terbatasnya jaringan distribusi PLN. Walaupun terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung namun ternyata Kabupaten Bandung hanya mampu menyerap sekitar 6% dari total kunjungan wisatawan ke Jawa Barat. monumen bersejarah di 5 lokasi. untuk menunjang kepariwisataan terdapat pula hotel.3 Fungsi Pariwisata dan Budaya 2. dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. vila dan penginapan serta Restoran dan Rumah Makan. zone Bandung Barat 15 objek di 8 Kecamatan dan di Bandung Timur 4 obyek di 5 Kecamatan. peninggalan sejarah lainnya dan beragam jenis kesenian.899 KK dari 167.

3. Pembinaan Generasi muda Pembinaan Generasi muda dilaksanakan melalui kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskribra). Penyusunan Basis Data Pembangunan. 2. SMP. penyelenggaraan aubade. sedangkan Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan dengan pemberdayaan media elektronik. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -24 . penyelenggaraan pemuda produktif. penyelenggaraan lomba tata upacara bendera. kegiatan pemuda pelopor. SMA / SMK. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 / 2003 / 2004 penyelenggaraan seleksi Pasukan Pendera Pengibar (Paskibra) sebanyak 34 orang. SMA/SMK masing-masing jenjang terdiri dari tiga peringkat. Buletin Pemerintah Daerah. penyelenggaraan upacara bendera. Peningkatan dan pelayanan arus informasi dilaksanakan antara lain dengan cara penerbitan Tabloid Gema Kertaraharja.3. Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga A. SD.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. SMP. RSPD dan lembaga penyiaran serta pemberdayaan dan pelatihan forum komunikasi daerah. Pameran Pembangunan.2.3. kegiatan pemuda produktif sebanyak 25 orang • • Tahun 2003 kegiatan penanggulangan narkoba bagi pelajar SD. Sub Fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran Dalam mendukung sub fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan antara lain program Peningkatan Arus Informasi. Tahun 2004 kegiatan pemuda pelopor Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan generasi muda adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penduduk. Sosialisasi dan Informasi Hasil-hasil Pembangunan. Pemberdayaan dan Pelayanan Pers. Peningkatan Kerjasama Kemitraan dengan Instansi/Forum Komunikasi Sentral Masyarakat Pers dan Program Pelayanan Informasi.

penyelenggaraan lari 10K. 2.1. bimbingan teknis personal. kegiatan POPDA SD.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B.SMP. Tes Kesegaran Jasmani bagi SMP dan SMA. Untuk BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -25 . penyelenggaraan Pekan Olahraga SD. penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). kegiatan jalan santai. penyelenggaraan Pekan Olahraga SMP. lomba senam dan kegiatan senam masal. Tantangan yang akan dihadapi tahun 2006 adalah Pekan Olah Raga Provinsi ke X di Karawang pada bulan Juli. penyelenggaraan bantuan sarana dan prasarana. penyelenggaraan gerak jalan santai. SMA / SMK penyelenggaraan lari 10 K.4. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani SMP dan SMA Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya olahraga bagi pelajar dan masyarakat. Pembinaan Olahraga Pembinaan olahraga dilaksanakan melalui kegiatan Pembinaan olahraga pelajar dan pembinaan olahraga masyarakat yang meliputi pengadaan sarana dan prasarana olahraga. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar SD.4. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani Guru olahraga. Fungsi Kesehatan 2. Serta persiapan menjadi tuan rumah PORPROV Ke XI. Kegiatan pengadaan obat-obatan yang setiap tahun dilaksanakan dalam rangka memenuhi permintaan pelayanan masyarakat dan peserta Asuransi Kesehatan yang tersebar di 92 Puskesmas DTP/TTP dan Rumah Sakit Daerah ( RSD ). • Tahun 2003 kegiatan Porseni SD. yang telah dipersiapkan dari awal Tahun 2005. SMA/SMK yang terdiri dari 11 cabang olahraga. SMP/SMA/SMK. penyelenggaraan TKJ • Tahun 2004. Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan fungsi kesehatan yang terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan. SMP. penyelenggaraan pembinaan teknis personal. Sub Fungsi Obat dan Perbekalan Kesehatan. kegiatan Lomba Gerak Jalan.

Selain alat pengolah limbah padat tersebut di atas. hal tersebut menunjukkan bahwa ratio Puskesmas terhadap penduduk adalah 1 puskesmas : 45.064 orang penduduk Kabupaten Bandung.000 Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung penyediaan perbekalan kesehatan senantiasa diupayakan pengadaan peralatan kedokteran dan peralatan penunjang keperawatan yang sesuai standar kesehatan. Sedangkan dalam rangka pemusnahan limbah medis telah disediakan pengadaan alat pengolah limbah padat ( incenerator ) di RSD Soreang. 2. Sarana/ prasarana kesehatan merupakan hal tepenting dalam pelayanan kesehatan oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung ini terdapat 92 unit Puskesmas yang tersebar di 45 Kecamatan. selain dukungan sarana yang cukup juga dari sisi kuantitas tenaga kesehatan sebaiknya bisa tercukupi. sedangkan penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 sebanyak 4.000 jiwa. tahun anggaran 2005 pembangunan tahap I IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) segera direalisasikan. Hal ini kurang ideal bila dilihat dari standarisasi pelayanan sehingga diperlukan adanya peningkatan status Pustu di wilayah kecamatan yang penduduknya padat sehingga dicapai titik standar ideal perbandingan antara Puskesmas dan Penduduk yaitu 1 Puskesmas : 30. dan pemberian pelayanan laboratorium dengan tujuan dapat meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan medik. Diharapkan tahun 2006 dapat diselesaikan pembangunannya secara keseluruhan agar dapat segera dioperasikan.2 Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Perorangan.064 jiwa atau 1 Puskesmas diharapkan dapat melayani sebanyak 45. Begitu pula dengan hanya terdapatnya RSUD sebanyak 2 unit dan RS Swasta sebanyak 1 unit dan RSU Khusus milik pemerintah ( RSJ ) 1 unit. yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair rumah sakit dengan melakukan pengolahan limbah terlebih dahulu. Permasalahannya adalah sebagai berikut: • • Cakupan ketersediaan Obat masih belum dapat memenuhi kebutuhan Penyediaan alat-alat kedokteran dan keperawatan perlu ditingkatkan kelengkapannya dalam upaya peningkatan status baik puskesmas maupun RSD.4. Adapun perbandingan rumah sakit terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 500.145.967 jiwa. Pada BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -26 .

ratio dokter gigi terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 45. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan melalui. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung tahun 2004 jumlah tenaga Kesehatan yang bekerja pada unit kesehatan pemerintah daerah memiliki komposisi sebagai berikut : Dokter Umum Dokter Gigi Tenaga Medis lain Bidan / Bidan desa : 132 orang : 77 orang : 865 orang : 580 orang Dari data tersebut menunjukan bahwa ketersedian tenaga medis dokter masih rendah. Program peningkatan hidup Bersih dan sehat. Puskesmas keliling dan keberadaan polindes perlu dukungan semua pihak dalam operasionlisasinya.3. 2.4. Permasalahan yang dihadapi antara lain masih diperlukannya peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas dan peningkatan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Daerah disamping perlu adanya optimalisasi perangkat medis. Program penanggulangan penyakit dan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan lingkungan. Program peningkatan Budaya Hidup Bersih.219 jiwa penduduk yang harus dilayani sedangkan dibandingkan dengan puskesmas yang ada pelayanan dokter umum rata-rata hanya 1 – 2 orang per Puskesmas yang tersebar di 45 kecamatan sedangkan ratio bidan praktek terhadap puskesmas menunjukan rata-rata 1–3 orang bidan dapat melaksanakan pelayanan di Puskesmas sehingga untuk mengotimalkan pelayanan kesehatan oleh pemerintah keberadaan bidan desa belum dapat memenuhi sejumlah desa/kelurahan yang ada.658 jiwa . telah dilaksanakan melalui : • • • • • Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) Pembinaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ( UKBM ) Pembinaan kesehatan masyarakat pekerja Pembinaan dan pengembangan Poskestren Penyebarluasan informasi kesehatan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -27 . Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Masyarakat. diperlihatkan oleh ratio dokter umum terhadap penduduk adalah 1 : 32.

01 / 10. ISPA. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. pada tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu telah cukup baik dengan indikator bahwa jumlah proporsi Balita yang ditimbang dibanding Balita terdaftar masih di atas angka 80 % dan perkembangan status gizi masyarakatnya ada pada klasifikasi harus mendapat perhatian dimana proporsi Balita yang naik berat badanya terhadap balita yang di timbang pada setiap tahunnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM ) Melakukan kerjasama pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sektor industri / perusahaan swasta. Kelamin. Kondisi cakupan angka kesakitan pada tahun 2004 sebagai berikut : • • • • • • • Cakupan Penyakit Kusta Cakupan Penyakit ISPA Cakupan Penyakit Diare Cakupan HIV/ AIDS Cakupan Penyakit DBD Cakupan Penyakit Rabies Cakupan TBC = 0. setiap tahun dilaksanakan kegiatan-kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangan Dan Gizi. Diare. Sedangkan dalam pelaksanaan program penanggulangan penyakit. Polio. Campak.69 / 1000 penduduk = -% = -% = 85 % Disamping itu dalam program perbaikan gizi. Sedangkan Cakupan Imunisasi menurut jenisnya seperti Imunisasi BCG. Demam berdarah. Penanggulangan GAKI. Suveilance. Rabies. namun ternyata belum dapat mencapai sasaran yang ditentukan sehingga masih perlu adanya peningkatan yang didukung oleh ketersediaan obat-obatan dan sarana kesehatan lain. setiap tahun dilaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit kusta.000 penduduk = 43 %. rata-rata masih di bawah angka 80%. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -28 . Berdasarkan Pemantauan status gizi masyarakat melalui pelaksanaan penimbangan Balita di Posyandu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung. dan Ibu Hamil setiap tahun selalu dilakukan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan. = 25 % = 0. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Upaya perbaikan Gizi Institusi.

peningkatan keterampilan petugas sanitasi dan penyehatan lingkungan tempat-tempat umum. Grading Rumah makan/restoran Pemeriksaan sampel air bersih Pemeriksaan sampel tanah Temu karya PABL tk.00 61. Pengadaan air bersih penyehatan lingkungan (PAPBL).44 98.61 92. Pengawasan tempat umum.01 52.0 Tingkat Capaian Program (%) 2003 2004 95.3 85. Cakupan air besih. secara rutin telah dilakukan kegiatan pengawasan kualitas air dan lingkungan.4 91. Perkembangan Hasil capaian program dua tahun terakhir ( Tahun 2003 – 2004 ) sebagai berikut: Tabel 2.7 PERKEMBANGANGAN HASIL PENGAWASAN CAKUPAN PROGRAM TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Kegiatan Pengawasan TPM Pemeriksaan Sampel Mamin . Cakupan pemakaian sarana pembuangan air limbah.84 78.7 96.8 92.1 96.05/100 18.1 80.1 81.8 10. Cakupan pemakaian Jamban.76 83.46 Ket 52 50 70.7 KET Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Dalam pelaksanaan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkait dengan kesehatan lingkungan.33 100 8.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.23 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -29 .70 36.6 HASIL CAKUPAN PROGRAM IMUNISASI TAHUN 2002 – 2003 Jenis Imunisasi BCG DPT-1 DPT .8 78.4 98 81.49 91.72 36.4 92. dan penyehatan lingkungan industri.2 94.3 Polio 1 Polio 4 Campak Hepatitis B1 Hepatitis B3 TT 1 Ibu Hamil TT 2 Ibu Hamil 2002 101. Desa Cakupan air bersih Cakupan pemakaian SPAL Cakupan pemakai jamban Pengawasan TTU Pengawasan RS Pengawasan Pestisida Pengawasan Residu Pestisida Pengambilan kadar Cholines terase darah Pengawasan Industri Besar Pengawasan Industri Kecil Capaian Program (%) 2003 2004 61.70 - 70. penyehatan lingkungan permukiman.05 32.17 88.00 38. Dalam menunjang penyehatan lingkungan permukiman telah dilakukan pengawasan terhadap tempat pengelolaan makanan ( TPM ).69 95.02 61.0 84.7 83.8 83.2 88.05/100 25 40.9 90.00 32.6 96.73 96.

68 38.78 18. Permasalahan yang dihadapi adalah: • • • • • Program PHBS baik di Institusi Kesehatan. Sumur tak terlindung 7. sumur pompa. campak dan lainnya yang disebabkan kondisi lingkungan kurang baik. Peningkatan status gizi Balita dan cakupan imunisasinya masih perlu ditingkatkan. polio.57 3. Fasilitas air minum yang digunakan rumah tangga seperti air ledeng. mata air dan lainnya terlihat pada tabel di bawah ini. Pendidikan maupun masyarakat umum perlu untuk ditingkatkan. Diare . Program/kegiatan pemberantasan penyakit masih harus ditingkatkan terutama pada masyarakat pada lingkungan yang fasilitas kesehatannya kurang.89 100 KET Sumber: Suseda Tahun 2004 Dari data terakhir tahun 2004 masih menunjukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan air minum dengan kondisi yang kurang terjamin kesehatannya yaitu dengan air minum dari mata air tidak terlindung sebanyak 3.34 7.75 %. secara umum Cakupan program penyehatan lingkungan permukiman nampaknya hampir dari semua jenis kegiatan menunjukan adanya peningkatan ke arah yang lebih baik.97% sehingga upaya pengadaan program air bersih nampaknya masih menjadi bagian yang harus dipikirkan dalam menunjang kesehatan masyarakat. walaupun nampaknya masih harus ditingkatkan agar kondisi lingkungan Kabupaten Bandung ini memenuhi standar kesehatan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya penyebaran penyakit TBC. maka program/kegiatan penanggulangan air bersih masih dipandang perlu. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan tetap harus didorong atau ditingkatkan melalui suatu kegiatan pembinaan/penyuluhan kesehatan.8 PERSENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA AIR MINUM BERDASARKAN SUMBERNYA TAHUN 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber air Ledeng Sumur Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak terlindung Mata Air Terlindung Mata Air tak telindung Kemasan Lainnya Jumlah % Rumah Tangga 7.75 3.19 0. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -30 .97 19. Tabel 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dari hasil pengawasan tersebut. Masih terdapatnya penduduk yang menggunakan sumber air minum yang belum memenuhi standar kesehatan.

Disamping itu juga telah dilakukan pembinaan dan pengembangan KB Mandiri dan pengembangan pusat pelayanan KB dan pusat konsultasi remaja.841 87. Keluarga Berencana.105 10.019 PPM 6.234 392 83.148 956 2. 2.615 2004 Realisasi 5.622 9.455 2002 Realisasi 8.562 1.4.883 42.796 8. Catatan Sipil dan KB Dilihat dari perkembangan setiap tahun.649 39.4.9 HASIL PERKEMBANGAN CAPAIAN PESERTA KB DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kontrasepsi IUD MOP MOW IMPLAN MJP SUNTIK PIL KONDOM Non MJP Total PPM 8. Pada Sub Fungsi kesehatan lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyebar luasan informasi kesehatan antara lain: • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan. dan melalui Leaflet JPKM • Penyebar luasan informasi.373 Sumber : Dinas kependudukan .607 87 805 1. pembutan poster Tb. pemutaran film.339 96.724 57.5.368 395 61. melalui siaran radio. pembentukan pusat informasi dan konsultasi keluarga dan remaja serta dilakukannya mengayomi peserta KB dari Keluarga tidak mampu yang mengalami kegagalan.749 15. Sub Fungsi Kesehatan Lainnya.178 61.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.475 66.4. melalui sosialisasi JPKM Mandiri ke dunia usaha.401 56 616 1.050 42 76.969 18.653 7. Dalam rangka menunjang fungsi kesehatan. Permintaan Masyarakat akan pelayanan KB ternyata cukup tinggi yang setiap tahunnya ternyata belum dapat terpenuhi dengan permintaan tertinggi di capai oleh kontrasepsi Suntikan dan pelayanan Non MJP. dengan menyelenggarakan Rakerkesda BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -31 .603 141 442 1.805 2003 Realisasi 4.318 PPM 7.872 8.116 65.421 43.831 9. Tabel 2.162 90 800 1.450 13.093 182 52.427 395 57. Paru dan pembuatan leaflet NAPZA.897 59.732 71. melalui sub fungsi KB telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain sosialisasi kesehatan reproduksi remaja.330 49.831 9.776 76 48. • Penyusunan program kesehatan.578 125 150 2.235 6.713 17.

69 34.10 Perkembangan APS Kabupaten Bandung Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 USIA Sekolah 13-15 tahun 16-18 tahun 74.347 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung 2004 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.76 97.923 438 SD/MI 833 3. selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah dilaksanakan berbagai kegiatan rehabilitasi dan pembangunan SD dan SMP sebagai berikut: BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -32 .59 7-12 tahun 96.11 Perkembangan DO Pada Tiap Jenjang Pendidikan Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Jenjang Pendidikan SMP/MTs SMA/MA 828 604 914 779 1.5.44 41.38 73. Tabel 2.070 619 3.07 Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004 Kurangnya partisipasi sekolah ini dipengaruhi oleh adanya siswa sekolah yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya atau drop out (DO).03 78. Perkembangan siswa yang DO pada setiap angkatan sekolah terlihat pada tabel dibawah ini. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk Kabupaten Bandung pada setiap angkatan pendidikan adalah sebagai berikut: Tabel 2.07 97.5 Fungsi Pendidikan Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan.42 43.351 1. Pendidikan Dasar Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan dasar.45 77.256 2.00 35. tergambarkan dari terdapatnya penduduk yang bersekolah atau adanya proporsi penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang usia pendidikan serta penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan tepat pada waktunya yang terukur dengan angka partisipasi murni (APM).05 95.1.

Juga bantuan mebelair telah diberikan untuk sebanyak 34 ruang kelas dan perbaikan rumah dinas guru/penjaga sekolah sebayak 14 unit. Jumlah guru menurut latar belakang pendidikannya di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. dan rehabilitasi rumah dinas guru /penjaga sekolah di 7 sekolah. SMP 574 paket dan buku bahasa sunda masing-masing 9976 exemplar untuk SD dan 2427 exemplar untuk SMP. bantuan sarana pendidikan juga telah diberikan oleh pemerintah daerah antara lain : • Pada tahun 2002. penyediaan ruang perpustakaan 3 unit. • Pada tahun 2003. pengadaan pengadaan meja dan kursi untuk 266 sekolah dasar. serta pengadaan buku penunjang SMP sebanyak 23. Juga adanya penggabungan Sekolah Dasar sebanyak 238 SD. penyetaraan guru SMP ke kualifikasi S1 sebanyak 62 orang.732 orang dan siswa kurang mampu sebanyak 500 orang serta bagi 425 siswa SMP. Pengadaan mebelair SMP untuk 128 lokal. pemberian beasiswa SD bagi 13. • Pada tahun 2004. Kualitas Tenaga Pengajar Kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat menentukan kulitas pendidikan.12 PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI SEKOLAH TINGKAT DASAR TAHUN 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Pembangunan ( unit ) SD Bertingkat 2 3 SD 4 SMP 0 1 Rehabilitasi ( Unit ) SD SMP 200 228 394 0 24 17 57 16 Tambah Ruang Kelas ( lokal ) SD SMP Sumber : hasil olahan data .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. Pengadaan sarana meja dan kursi untuk 50 lokal SD. orang guru SD. 1). Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan.287. pengadaan buku perpustakaan SD 692 paket.490 exemplar.( Laporan disdik ) Disamping telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sekolah. Pada tahun 2004 berdasarkan basis data perencanaan pembangunan di Kabupaten Bandung terdapat sebanyak 16. kondisi dan permasalahan pendidikan dasar di Kabupaten Bandung sebagai mana teruraikan di bawah ini. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -33 .888 orang guru SMP yang secara kualifikasi ternyata masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar. pengadaan mebelair SMP. 7.

Sarana/prasana pendidikan Sarana pendidikan merupakan salah satu hal pokok disamping ketersediaan guru yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Bandung pada setiap tahun dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga diharapkan hakhak penduduk untuk menerima pendidikan akan terpenuhi.561 327 2.08 % dari jumlah total guru SD/MI.337 220 4.591 Jumlah 14.144 126 38 D1 144 62 747 154 Pendidikan Guru D2 D3 ≥S1 8.491 443 728 295 292 34 1. Pendidikan SD SMP/ MTS Sekolah (S) 2.193 orang atau 22.405 Sumber : Profil Pendidikan Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa guru SD yang berlatar belakang pendidikan lebih rendah dari D1 ada sebanyak 3. Hal ini menunjukan bahwa dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung.089 3.166 1553.440 453 Jumlah Murid (M) 529. ratio murid terhadap guru dan ratio murid terhadap sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.193 1. Program kegiatan penyetaraan guru baik bagi guru SD maupun SMP masih harus ditunjang oleh pemerintah. GURU DAN MURID DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2004 No 1 2 Tk. sedangkan pada tingkatan SMP nampaknya juga bahwa jumlah guru SMP dengan latar belakang pendidikan lebih rendah dari D3 ada sebanyak 1.927 2.561 orang atau nampaknya masih dominan bila di bandingkan dengan guru SMP yang tersedia. TAHUN 2004 No 1 2 3 4 Klasifikasi Mengajar SD MI SLTP MTS < D1 3.14 J UMLAH SARANA PENDIDIKAN.13 JUMLAH TENAGA GURU MENURUT LATAR BELAKANG PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN.2 Ratio Guru (G) 16. Sebagai gambaran kondisi tahun 2004 dari kecukupan guru dan sekolah yang dimanfaatkan penduduk dapat dilihat dari ratio murid per kelas.903 8. Tabel 2. 2).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.233 11497 M/S 216 342 M/G 32 25 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -34 .457 1.

baik untuk jenjang SD maupun SMP perlu mendapat perhatian serius karena berdasarkan data yang tersedia (Profil Pendidikan. pengadaan mebelair untuk 25 unit sekolah. SMUN Margahayu. • Pada tahun 2004.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel di atas menunjukan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat ratio murid terhadap sekolah sebanyak 227 orang murid per sekolah. telah dilaksanakan penyediaan buku penunjang belajar SMU sebanyak 15.012 eksemplar.2. komputer sebanyak 23 unit dan alat peraga IPA untuk 46 sekolah. SMUN Baleendah. • Pada tahun 2003. pada 2004 ternyata 31. Tahun 2004) bahwa dari jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 2. akreditasi 14 sekolah SMU/SMK.175 unit pada tahun 227 siswa. 2. yaitu SMUN 1 Cililin. ratio murid terhadap kelas sebanyak 38 orang perkelasnya dan ratio murid terhadap guru dengan perbandingan 32 orang murid dilayani 1 orang guru. melalui proyek pembangunan pengadaan sarana/prasarana sekolah menengah umum dan kejuruan telah dilaksanakan penambahan ruang kelas 10 unit SMU/K. terlaksananya rehabilitasi berat SMU/SMK sebanyak 7 sekolah yang tersebar di tiga kecamatan. Sedangkan bantuan pembangunan SMU/K telah dilaksanakan untuk 2 unit sekolah. Dalam menunjang pendidikan menengah. perbaikan gedung SMU/K sebanyak 19 sekolah. bantuan Mebelair untuk 65 ruang kelas. tambah ruang kelas bagi 10 pemberian Bea siswa bagi 677 siswa SMU dan 73 siswa SMK. SMUS KP. bantuan penyediaan ruang perpustakaan. pemberian bantuan dana bea siswa bagi 746 siswa berprestasi. Lomba kompetensi keterampilan siswa SMK. pengadaan mebelair untuk 38 ruang kelas. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung telah diberikan pelayanan pendidikan pada tingkat dasar rata-rata menampung penduduk usia sekolah sebanyak tingkat SMP per kelasnya 448 siswa. Sub Fungsi Pendidikan Menengah. Dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan melalui kegiatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah baru.57% dalam keadaan rusak berat 32. telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan sekolah menengah umum dan kejuruan melalui kegiatan/proyek atas dukungan APBD Kabupaten Bandung antara lain : • Pada tahun 2002. SMUS Terpadu.5. Ibun dan SLTA Textil dan SMU/SMK dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -35 . SMUN 1 Cipatat. rehabilitasi SMU/K sebanyak 20 unit sekolah.27% rusak ringan.

5. murid sebanyak 54. SMUN 1 Cikalong Wetan. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -36 . guru sebanyak 4. dan SMUN Batujajar. lulusan D2 46 orang. ratio M/S = 339 orang dan M/G = 12 orang. Sub Pendidikan Non formal dan Informal. Dalam penyelenggaraan Pendidikan non formal.640 orang . SMUN 1 Ciparay. Lomba. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan Gedung baru SMUN Cikancung. Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar paket A setara SD. kondisi dan permasalahan pendidikan menengah di Kabupaten Bandung adalah pada tahun 2004 kondisi pendidikan menengah di Kabupaten Bandung terdapat guru SMA/SMK/MA sebanyak 6. SMUN I Cipongkor.776 orang. pembinaan generasi muda.078 yang secara kualifikasi terdiri dari lulusan D1 sebanyak 24 orang.43 % dan dari ratio murid persekolah menunjukan bahwa dipandang perlu adanya pemekaran sekolah karena rata-rata murid persekolah sudah lebih besar dari 300 orang murid. SMUN Cisarua. penyelenggaraan PPLS. kursus. lulusan D3 sebanyak 434 orang. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar sekitar 44. kejar paket B setara SMP dan kejar paket C setara SMA/ SMK. Penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.lomba. Sedangkan kegiatan tambah ruang kelas dilaksanakan di 6 lokasi yaitu untuk SMUN 1 Banjaran. dan lulusan S1/S2 sebanyak 2. maka dukungan pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah. kegiatan sanggar serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. Pendidikan Luar Sekolah dan Masyarakat.591 orang. pendidikan anak usia dini. KF serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. SMUN 1 Cipeundeuy. jumlah sekolah sebanyak 164 sekolah. SMKN Terpadu Pertanian Rancaekek. SMUN I Sindangkerta. pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat. SMUN I Katapang. Sedangkan dari ketersediaan guru dan sarana/prasarana yang dimanfaatkan oleh sejumlah siswa memberikan gambaran.3.

SLTP 75 orang SMU 19 orang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. penyelenggaraan kursus Diklusemas.5. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pendidikan Luar Sekolah adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan kejar paket disemua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatan pengetahuan penduduk.051 orang dan guru 1. di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan basis data PDP3D tahun 2004 tersedia sarana pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebanyak 303 sekolah yang secara total peran swasta masih dominan. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -37 . Bantuan Penyelenggaraan Sanggar Kegiatan Belajar. kejar paket C 220 wajib belajar setara SMU. 2. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 240 orang peserta. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 60 kelompok belajar.129 orang . melalui kegiatan penyelenggaraan belajar mengajar 43 buah. sosialisasi BBE Life Skil untuk tingkat Kabupaten Bandung dengan peserta TK 20 orang. Hal ini menunjukan bahwa ratio murid persekolah adalah sekitar 43 orang per sekolah dan terdapat 3 – 4 orang guru per sekolahnya. Pemerintah Daerah telah memberikan bantuan-bantuan berupa alat bermain yang yang rata-rata setiap tahunnya terbantu antara 50 – 60 Taman Kanak-kanak. Untuk menunjang terlaksananya operasional kegiatan di taman kanak-kanak . • Tahun 2003. bantuan kepada kursus-kursus seperti kursus menjahit. dilaksanakannya pengembangan dan peningkatan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat bagi 8 lembaga kursus serta melaksanakan program kejar paket A PBH dengan terbentuknya 258 kelompok belajar • Tahun 2004. • Program pendamping proyek Life Skill. tata rias rambut.4. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini. pelaksanaan kejar paket A PBH bagi 43 kelompok belajar dan terselenggaranya peningkatan program life skill di 55 sekolah dari semua tingkatan. kegiatan pendidikan luar sekolah adalah dengan melaksanakan pelatihan bagi 100 warga belajar instruktur kursus. dengan jumlah murid 13. SD 43 orang. tata rias wajah.

Pembinaan olah raga dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maka permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggraraan Pendidikan Non formal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan Pendidikan non fomal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pencapaian angka melek hurup serta rata-rata lama sekolah (RLS). 2. Pelatihan guru keterampilan 170 orang. Pelatihan Guru Tata Boga 170 orang. telah dilakukan berbagai kegiatan baik dalam rangka menunjang perkembangan pendidikan formal (SD. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan mendorong pemahaman masyarakat. bimbingan teknis bagi penyelenggara dan guru.5. Pembinaan Generasi Muda. bantuan rintisan. lomba kreatifitas anak. 2003. Penataran pengelola UT kecamatan 46 orang. SMP. Berdasarkan uraian sub Pendidikan Non Formal yang meliputi 4 bidang garapan terdiri dari Pendidikan Luar Sekolah. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain adalah pada tahun 2002.5. penyelenggaraan bantuan rintisan. lomba kreatifitas anak. hasilnya Pertemuan kelompok kerja Guru. melalui Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum mulok SD dan SMP. pembinaan teknis bagi penyelenggara dan guru.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 terbentuknya kerjasama kelembagaan dengan sebanyak 40 lembaga pengelola TK. Melalui Proyek peningkatan kemampuan tenaga pengajar dan pengelola bagi pendidikan dasar dan menengah. bantuan penyelenggaraan. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi. Sub Fungsi Pendidikan Kedinasan. pelaksanaa program penyetaraan D2 dan PGSD 810 orang . SMA) maupun dalam pelaksanaan Diklat Struktural dan fungsional bagi PNS yang didukung dana APBD Kabupaten Bandung antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan formal. SMU/K telah dilaksanakan Pelatihan guru bahasa Ingris 170 orang. pada tahun 2002. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -38 . Dalam menunjang pendidikan kedinasan. penyelenggaraan bantuan lembaga. dan 2004 penyelenggaraan sosialisasi.

186 pejabat esselon III. Disamping melaksanakan Pendidikan formal melalui pembelajaran dalam rangka pelayanan pendidikan kepada penduduk usia sekolah. 9 dan 10 Tahun 2002) tersedia kebutuhan 28 pejabat esselon II. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersedian jumlah lulusan pendidikan struktural Pim II dipandang sudah memadai. Bandung Perkembangan lulusan Diklat pimpinan setiap tahun bertambah dalam periode 2002 – 2004 terdapat 418 orang yang telah lulus diklat Pim dengan komposisi sebanyak 18 orang lulus Pim II.781 Sumber : Kantor Diklat Kab. dan 314 pejabat esselon V. Perkembangan Jumlah lulusan diklat kedinasan sbb: Tabel 2. Lokakarya tingkat propinsi jawa barat diikuti oleh 15 guru IPA dari 5 Kecamatan sasaran SEQIP.363 orang dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan setiap tahunnya bervariasi. Diklat kedinasan ini.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Melalui Proyek penunjang Science Education Quality Impropemen Project (SEQIP).363 Jumlah 472 618 691 1. Sedangkan jumlah pegawai dengan lulusan Diklat struktural pada kondisi terakhir (tahun 2004) adalah. 201 Pim III dan 202 lulus Pim IV sedangkan untuk pendidikan teknis dan fungsional telah diikuti oleh 1. namun dalam rangka mempersiapkan atau kaderisasi pejabat sebaiknya masih tetap diprogramkan. Untuk pendidikan Pim BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -39 . lulus Diklat Pim II 2 orang. begitu pula Pim III dan IV. baik Diklat Struktural maupun fungsional. Pemda Kabupaten Bandung juga melaksanakan berbagai jenis Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) terutama bagi para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. sesuai dengan perkembangan untuk terpenuhinya staf teknis dan fungsional maka diklat kedinasan lebih diarahkan kepada diklat teknis dan fungsional. Berdasarkan data kepegawaian tercatat bahwa struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bandung (Perda 8. Pim III 3 orang dan Pim IV sebanyak 40 orang. 927 orang pejabat esselon IV. Diklat IPA bagi Pengawas SD.15 JUMLAH LULUSAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2002 – 2004 Tahun 2002 2003 2004 Jumlah II 7 9 2 18 Diklat Pimpinan III IV 117 80 80 40 5 78 202 198 Jumlah 204 129 85 418 Diklat Fungsional 268 489 606 1. Kepala Sekolah dan Guru.

terutama pada usia SMP. Dukungan pemerintah Kabupaten Bandung akan kelangsungan perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui kegiatan bantuan kepada perguruan tinggi sebagaimana yang telah dilaksanakan pemberian bantuan pembangunan kepada enam Perguruan tinggi swasta. terutama bagi aparat di tingkat kecamatan untuk mengimbangi pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat. • Dalam rangka menunjang pembelajaran yang baik. secara kuantitas jumlah guru di Kabupaten Bandung masih memadai namun ditinjau dari sisi kelayakan mengajar. Sedangkan pada tahun 2004 telah dirintis pembentukan/pendirian Universitas Daerah yang diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan tinggi kepada penduduk Kabupaten Bandung dan meningkatkan partisipasi penduduk pada level pendidikan tinggi.6. terdapat 5 perguruan tinggi yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak swasta. Demikian juga masih diperlukan peningkatan kemampuan teknis bagi aparat di lingkungan DIBALE Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Universitas Nurtanio.5. yaitu bantuan kepada STIE Al-Giphari. STPDN dan STIKINDO Wirautama. STIKIP Bale Bandung. terdapat beberapa hal yang masih dominan menjadi permasalahan yaitu: • Penduduk Kabupaten Bandung yang termasuk kepada usia sekolah belum tuntas dapat mengenyam pendidikannya. Sub Fungsi Pendidikan Tinggi Ketersediaan lembaga pendidikan tinggi di wilayah Kabupaten Bandung. Berdasarkan uraian di atas dalam pencapaian strategi bidang pendidikan dalam rangka upaya peningkatan SDM. 2. Pendidikan bagi PNS hendaknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan teknis dan fungsional. Pemerintah Kabupaten Bandung masih harus dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar terutama bagi guru-guru dengan latar belakang pendidikan non keguruan dan guru-guru non pns disamping masih dominannya guru SD yang berlatar BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -40 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sebaiknya dilakukan kajian kebutuhan pejabat struktural yang berkualifikasi sesuai diklat Pim. Hal ini menunjukan bahwa Program/kegiatan yang mendorong kepada pencapaianan Program Wajar Dikdas 9 Tahun masih harus menjadi perhatian kita bersama. STIPER Bale Bandung.

705 202.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung belakang pendidikan di bawah D1 dan guru SMP dengan latar belakang pendidikan di bawah D3. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -41 . Casip dan KB Kab. Casip dan KB Kab.6.75% 68.944 214.072 Prosentase Kenaikan/Penurunan 25. • Lulusan Diklat Pimpinan (II. • Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan.498 207. Data tersebut dapat dilihat perkembangannya dalam tabel berikut: Tabel 2.30% Sumber : Dinas Kependudukan.85% . namun efektivitas penempatan tenaga kerja sesuai klasifikasi kelulusannya belum optimal dilaksanakan. dan pembangunan Sekolah Baru untuk SMP dan SMA nampaknya masih harus jadi perhatian dalam rancangan pembangunan pendidikan pada tahun 2006.67% 21.753 27.265 Prosentase Kenaikan/Penurunan -7.175 52.139 56.17 Data Jumlah Keluarga KS. IV) maupun Diklat fungsional setiap tahunnya semakin bertambah.1) alasan ekonomi. Bandung Tabel 2. III. Perlindungan Sosial Salah satu basis data perencanaan sosial di Kabupaten Bandung adalah Jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai Pra Keluarga Sejahtera (Pra KS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS.92% 4. 2.58% Sumber : Dinas Kependudukan.1 Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 225.16 Data Jumlah Keluarga Pra KS Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 21.643 217.78% 5.75% -7.354 46. disamping meningkatkan kualitas guru terdapat hal pokok yang perlu mendapat sorotan yaitu tingkat kerusakan sekolah SD yang masih tinggi.6.

lanjut usia tindak kekerasan 268 jiwa dibina 0.618 jiwa dibina 0. anak cacat 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.052 jiwa dibina 0. pembinaan anggota DHC 45.1. keluarga pahlawan 40 KK dibina 0. Perlindungan dan Pelayanan Sosial Keluarga Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Perlindungan dan pelayanan sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung berupa pelayanan sosial dan penyantunan perintis kemerdekaan yang pada tahun 2002 dilaksanakan pembentukan pengurus DHC 45 dan bantuan kesejahteraan bagi janda perintis dan warakauri sebanyak 44 orang tahun 2003 telah diberikan perlindungan sosial bagi perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang 60 orang. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan penyandang cacat ada sebanyak 4.6. sedangkan perlindungan pelayanan yang dilaksanakan setiap tahunnya rata-rata masih jauh di bawah angka tersebut. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam perlindungan Lansia masih kurang. 2. keluarga perintis kemerdekaan 5 jiwa dibina 5 jiwa. 2.534 orang sedangkan perlindungan sosial bagi orang cacat pada tahun 2004 hanya terbinanya 45 orang penyandang cacat. ditunjukan bahwa pada tahun 2003 menghasillkan terbinanya warga jompo sebanyak 25 orang dan pada tahun 2004 terbina sebanyak 30 orang.6. melalui bantuan permakanan 20 jiwa.6.384 jiwa dibina melalui usaha ekonomi produktif/UEP 25 jiwa.678 orang. eks narapidana 822 jiwa dibina 0. melalui bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 jiwa/rumah/unit. lansia terlantar luar panti 5. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -42 . Data tahun 2004 menunjukan jumlah PKRI sebanyak 90 jiwa dibina 90 jiwa. WTS 250 jiwa dibina 0.3. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Penduduk lansia berjumlah 11. eks korban narkotika 367 jiwa dibina 60 jiwa. penyandang cacat eks penyakit kronis 1.2. Perlindungan Dan Pelayanan Lansia. Hal ini menunjukan bahwa cakupan perlindungan sosial bagi orang cacat masih belum memenuhi harapan.906 orang. dan fakir miskin sebanyak 73. Perlindungan dan Pelayanan Orang Sakit Dan Cacat.

509 orang jiwa dibina melalui Kelompok bersama ekonomi (KUBE) 30 jiwa. fakir miskin 260. advokasi bantuan hukum bagi 70 orang sedangkan pada tahun 2004 telah terbinanya 30 orang P2WKSS.6. telah dilaksanakan kegiatan pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial.916 orang. Untuk mengatasi masalah-masalah sosial dengan memberikan pelayanan sosial. 45 orang remaja putri.6. Terbinanya anak terlantar 45 orang dan terlatihnya petugas Satgasos penanggulangan bencana sebanyak 30 orang.290 orang wanita rawan sosial ekonomi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.4. pada tahun terbinanya kenakalan remaja dan prostitusi di 4 kecamatan lokasi beresiko tinggi. Permasalahannya menunjukan bahwa penduduk yang memerlukan perlindungan dan pelayanan sosial masih cukup tinggi. 463 orang nak jalanan dibina 0. Dalam menunjang pemberdayaan perempuan. Melalui bantuan perlengkapan sekolah 30 jiwa.138 KK dibina 40 KK melalui KUBE.000 jiwa. anak Balita terlantar sebanyak 1. pengurus organisasi perempuan tingkat kecamatan 43 orang. anak terlantar 30 orang dan korban narkoba 60 orang. seperti pada tahun 2003 telah dilatihnya wanita rawan sosial ekonomi sebanyak 20 orang. orang dan 11. penunjang operasional Orsos perempuan berjumlah 3 Orsos.5.552/66. Disamping itu terdapat penduduk korban penyalahgunaan narkotika ada 530 orang. dan pada tahun 2004 terbinanya anak nakal 30 orang. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -43 . melalui pemberian makanan tambahan/PMT-AS 4. 2003 telah terehabilitasinya 195 orang tuna sosial di 10 kecamatan. Pemberdayaan Perempuan. anak terlantar berjumlah 4. 2. eks korban narkoba dan penyandang cacat dipindahkan ke poin A. Anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah 169 dibina 0. Perlindungan Dan Pelayanan Sosial Anak-anak Dan Keluarga Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Anak nakal 660 jiwa dibina 30 jiwa. penyandang cacat 12. sosialisasi pengarusutamaan Gender yang diikuti 40 orang dari 20 kecamatan. pemerintah Kabupaten Bandung setiap tahun telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan peranan wanita. 25 orang remaja ditingkatkan keterampilannya serta pemantapan managemen organisasi perempuan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang dari organisasi perempuan dan PKK serta 50 orang dari unit Kecamatan.709 orang.

Bintek manajemen Panti sosial untuk pengurus 30 jiwa. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -44 . Permasalahan yang dihadapi adalah masih tingginya kebutuhan rumah yang diperuntukan bagi warga miskin dan penyandang tuna sosial. Pekerja Sosial masyarakat sebanyak 170 jiwa. 2. Perlindungan Sosial lainnya.189 jiwa dibina melalui bantuan bahan bangunan sebanyak 20 KK.6 Bantuan Perumahan Perlindungan sosial dalam memberikan bantuan rumah tangga melalui pemenuhan biaya perumahan atau penyediaan bantuan sewa serta penyediaan rumah dengan harga terjangkau. Kegiatan yang pernah dilaksanakan baru pada pemberian bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 rumah pada tahun 2004.000 jiwa. Dari data tahun 2004. Bantuan K3S sebanyak 1 paket.128 KK dibina 0. Pembinaan Karang Taruna sebanyak 120 jiwa.7. Rehabilitasi Pusat Pordu KUBE Fakir Miskin 1 unit dan Peningkatan/pemeliharaan Taman Makam Pahlawan 5 unit. Bintek petugas sukarelawan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus HIV sebanyak 100 orang serta pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang masalah sosial. Operasional penanggulangan NAPZA/pekat melalui BKND dan pembentukan KPAD sebanyak 1 paket.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 6.6. keluarga korban bencana alam sebanyak 1. Rehabilitasi Panti Tuna Sosial 1 unti. bantuan dini korban bencana alam 4.6. nampaknya dalam belum menjadi program/kegiatan pemerintah daerah yang serius padahal pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bandung cukup tinggi. Dalam rangka menunjang kegiatan pelayanan perlindungan sosial telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan melalui pelatihan dan sosialisasi program seperti pada tahun 2003 dilaksanakan pelatihan bagi 100 petugas sukarelawan pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan tahun 2004 terlaksananya Bintek Satgasos PB 40 jiwa.

taman kota Baleendah.900 m2 terletak di Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran. sementara itu di Kecamatan Ciparay. Desa Sukamukti Kecamatan Katapang. Pengembangan Perumahan. pengelolaan sarana dan prasarana taman dan makam. taman dan trotoar alun-alun Cililin.7 Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum 2. rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan menjaga kualitas sarana prasaranan komunitas permukiman yang ada. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -45 .2 Sub Fungsi Pemberdayaan Komunitas Permukiman Pada sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun 2004 antara lain pembuatan kantor jaga TPBU Cikadut Kecamatan Cimenyan. Pada tahun 2004 luas tanah fasos fasum yang digunakan oleh 4 pengembang berjumlah 315. taman kota segitiga Lembang). taman green strip di jalur Kota Soreang dan Jalan Raya Soreang. Cilengkrang. penataan taman kota (taman kota Ciwidey.7. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman adalah masih banyaknya komunitas permukiman yang lingkungannya kumuh.1. Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan dan Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua. Pada sub fungsi pengembangan perumahan hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah terbangunnya 130 lokasi perumahan pengembang yang tersebar di 45 kecamatan dan terbangunnya rumah susun sewa Kulalet.540 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5.000 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. taman alun-alun Ciparay. 2. Ngamprah.580 m2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Katapang dan Cileunyi luas tanah fasos fasum yang digunakan berjumlah 451. pembangunan prasarana lingkungan permukiman dalam rangka P2WKSS dan TMMD Bidang Kimtawil.7. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pengembangan perumahan adalah belum semua pengembang menyelenggarakan/membangun fasos-fasum yang diperlukan masyarakat.

Penyediaan Air Minum Pada sub fungsi penyediaan air minum hasil–hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2003 yaitu termanfaatkannya sistem perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 15 unit. 2. Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi penerangan jalan adalah keterbatasan dana sehingga belum dapat memenuhi permintaan masyarakat akan lampu Penerangan Jalan Umum. 41. BPT 15 unit.938. Sedangkan pada tahun 2004 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sejumlah 219 Titik Cahaya tersebar di 9 kecamatan. BPT 25 unit.293 m.810.945 m tersebar di 12 desa. Pencapaian pada tahun 2004 adalah terbangunnya sistem jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 46 unit. pemasangan pipa 136.3. sumur bor (sumur dalam) 26 unit. sumur dangkal 6 unit. dan pemasangan pipa 57.592. Pada sub fungsi penerangan jalan hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2002 telah dilakukan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 150 Titik Cahaya tersebar di 8 kecamatan. reservoar 23 unit. sambungan rumah (SR) 292 buah. terminal air 25 unit tersebar di 76 desa.7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi penyediaan air minum adalah belum terpenuhinya kebutuhan air bersih masyarakat. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -46 . Pada tahun 2003 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 510 Titik Cahaya tersebar di 18 kecamatan. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara fasilitas Penerangan Jalan Umum yang sudah ada. Disamping itu juga telah terbangun jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa sumur dangkal sebanyak 5 unit di Desa Talun dan Desa Mekarwangi Kecamatan Ibun.7..4 Sub Fungsi Penerangan Jalan Keberadaan lampu penerangan jalan umum sangat penting mengingat pajak yang diperoleh dari penerangan jalan umum pada tahun 2004 telah memberi kontribusi yang besar kepada penerimaan pajak yaitu Rp.atau 88.38 % dari seluruh pajak yang diterima. reservoar 1 unit.

Sampai dengan tahun 2004 sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bandung adalah 57 unit kendaraan. Cicalengka. Dari keseluruhan sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki maka pada tahun 2004 baru dapat terlayani 63. 70 m di Desa Margahayu Selatan. Pada tahun 2003 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. bangunan umum 28 kali. 174 unit gerobak sampah.430 m3/ bulan. dan lain-lain 12 kali. bangunan industri 21 kali.280 Kepala Keluarga dan jumlah sampah yang terangkut adalah 34. Kecamatan Lembang).3 m2 TPSA (tersebar di tiga lokasi yaitu di Kecamatan Ciparay. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil yang telah dicapai selain drainase adalah pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. 29 unit land container. 14. Pada tahun 2002 dicapai pembangunan drainase di Kecamatan Margahayu yaitu 30 m di Desa Sukamenak dan Desa Sayati.000 m Sungai Cikungkurak di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu. dan lain-lain 13 kali.457 m yaitu 1. 2.080 m di Kecamatan Lembang. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya masalah penanganan persampahan memegang peranan penting. belum optimalnya pemilikan sarana BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -47 . Pada tahun 2003 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 110 kali dengan rincian bangunan perumahan 50 kali. Sedangkan pencapaian pada tahun 2004 adalah pembangunan drainase perkotaan 4. Permasalahan yang ada pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya adalah belum seluruh wilayah memiliki sistem drainase.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Juga telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan petugas pemadam kebakaran sebanyak 60 orang dan sosialisasi Perda No 25 dan No 26 tahun 2000 kepada perusahaan-perusahaan di wilayah Kecamatan Soreang.640 m Sungai Cimariuk di Desa Sayati. Pada tahun 2004 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 122 kali dengan rincian bangunan perumahan 58 kali.7. Majalaya. 658 m di Desa Sayati. bangunan umum 15 kali. Kecamatan Pasirjambu.5 Sub Fungsi Perumahan dan Permukiman lainnya Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil-hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2001 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. bangunan industri 20 kali. bangunan gedung 12 kali. dan 1200 m2 UDPK. 650 m drainase di Pasar Cikalong Wetan dan 870 m drainase di Desa Sukapura Kecamatan Dayeuhkolot.500 m di Kota Margahayu yaitu di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. Lembang dan Padalarang.

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -48 . Pada fungsi pelayanan umum telah dilakukan mekanisme penataan ketatalaksanaan pelayanan publik melalui penyusunan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yaitu SPM bidang pendidikan. pelayanan pemakaman. pelayanan perijinan perdagangan. dan masih minimnya peralatan pengolahan persampahan yang dimiliki. pelayanan Ijin Gangguan (HO). pelayanan biaya cetak KTP.1 Sub Fungsi Pelayanan Umum Pada fungsi pelayanan umum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi berbagai jenis pelayanan umum yaitu : pelayanan kesehatan. pelayanan jasa usaha kebudayaan dan pariwisata. pelayanan persampahan/ kebersihan. serta SPM bidang perindustrian dan perdagangan. pelayanan jasa usaha RPH. Dalam fungsi pelayanan umum juga dilakukan upaya untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui kemandirian kecamatan/desa/kelurahan yaitu dengan pendelegasian sebagian kewenangan yang ditandai dengan disusunnya Keputusan Bupati No. 8/2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat. pelayanan perijinan transportasi. SPM bidang pertanian. pelayanan ijin ketenagakerjaan. hasil ternak dan hasil ikutannya. pelayanan biaya cetak Akte Catatan Sipil. pelayanan jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga. serta masih terbatasnya lahan pengolahan persampahan. pelayanan jasa usaha terminal. 21/2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Bupati ke Camat dan Keputusan Bupati No. pelayanan pemeriksaan hewan ternak. dan pelayanan perijinan penyelenggaraan koperasi. pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan. pelayanan pemeriksaan alat pemadam kebakaran.8. pelayanan izin pembuangan limbah cair. pelayanan ijin pemanfaatan tanah. pelayanan pengujian kendaraan bermotor. pelayanan ijin pemanfaatan hutan. pelayanan parkir di tepi jalan umum. 2. SPM bidang koperasi dan usaha kecil menengah. pelayanan jasa usaha penyedotan kakus. pelayanan perijinan industri. pelayanan jasa usaha penjualan produksi usaha daerah. Fungsi Pelayanan Umum 2. pelayanan jasa usaha pemakaian kekayaan daerah. SPM bidang kesehatan.8.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung prasarana pemadam kebakaran. pelayanan pasar.

Mewujudkan pemahaman serta pendewasaan berpolitik masyarakat yang sehat dan demokratis. Masih minimnya Standar Pelayanan Minimal. Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan umum adalah : 1. 2. dan SDM yang memadai. LSM dan Aparatur Pemerintah. Forum Konsultasi dan Komunikasi antar Tokoh Agama. pembiayaan. 3. 2. Upaya pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke kecamatan/ desa/ kelurahan belum sepenuhnya didukung oleh sarana prasarana. Belum optimalnya pelayanan kepada publik yang ditandai dengan masih banyaknya keluhan masyarakat tentang mekanisme dan tarif pelayanan yang tidak transparan. Tokoh Masyarakat dan Aparatur Daerah terhadap 80 orang.8. FORKONKOMDA (Forum Konsultasi dan Komunikasi Daerah) tingkat Kabupaten Bandung. dengan terbentuknya KOMINDA (Komunitas Intelejen Daerah). dengan hasil terbentuknya kepengurusan BAKOMKESBANG (Badan Komunikasi Kesatuan Bangsa). Belum efektifnya pelayanan publik melalui SIMDA terpadu. Forum Komunikasi dan Konsultasi Penetapan Stabilitas Daerah bagi aparat intelejen di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 60 orang. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan bidang politik bagi Infra dan Supra Struktur Politik tingkat Kabupaten Bandung. Ormas. Mewujudkan situasi dan kondisi yang tentram. bagi lancarnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. yang diselenggarakan terhadap 159 orang dari Pengurus Parpol. 4.2 Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pada Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya. penyaluran dana bantuan Partai terhadap Parpol yang mendapat kursi di legislatif sebagai upaya BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -49 . 2. telah melaksanakan kegiatan dalam rangka : 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik juga dilaksanakan pembangunan sistem aplikasi 17 buah jumlah unit kerja yang terkoneksi pada jaringan LAN SIMDA sebanyak 14 unit kerja plus Ruang Bupati.

Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan lainnya yaitu terdapatnya kecenderungan pergeseran nilai budaya masyarakat yang mengarah kepada budaya kurang santun. Permasalahan semakin bertambah dengan adanya bencana longsor di TPA Leuwi Gajah yang berdampak pada pengelolaan persampahan selanjutnya di Kabupaten Bandung. 14. 330m2 UDPK.45% untuk Kabupaten dan 29. 164 unit gerobak sampah. TPSA di 3 lokasi (Kecamatan Ciparay. 27 unit land container.9 Fungsi Lingkungan Hidup 2. eforia demokrasi secara berlebihan serta belum optimalnya proses demokratisasi dalam menampung aspirasi masyarakat. pelatihan Ketahanan Bangsa bagi Infra dan Supra Struktur Politik sebanyak 160 orang dalam rangka peningkatan kewaspadaan Nasional.8% untuk perkotaan. limbah domestik/non industri masih menjadi permasalahan yang sangat penting.1 Manajemen Limbah Sampai saat ini. tahun 2003 15% untuk Kabupaten dan 35% untuk wilayah Perkotaan dan pada tahun 2004 cakupan menjadi 15.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung meningkatkan kemandirian partai politik (dengan rincian: hasil Pemilu 1999 sebanyak 9 Parpol.9.4% untuk Kabupaten dan 36% untuk wilayah perkotaan di Kabupaten Bandung. dan Pemilu 2004 sebanyak 8 Parpol).3 ha TPSA. Hal tersebut karena berkaitan dengan produk limbah yang sangat besar namun tidak diimbangi dengan penanganan yang memadai. Pada tahun 2001. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -50 . Pemetaan Ormas. LSM dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan. 2. Sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki sampai dengan tahun 2005 adalah 57 unit kendaraan. cakupan pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung baru sekitar 12. Pasirjambu dan Lembang).9% untuk Kabupaten dan 34. pada tahun 2002 meningkat menjadi 14. Pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung sampai saat ini belum dapat dikatakan optimal karena masih terbatasnya cakupan pelayanan dan pengelolaan sampah yang masih tradisional. dalam rangka tertib administrasi sesuai Permendagri Nomor 5 Tahun 1986 dan Inmendagri Nomor 8 Tahun 1990.1% untuk wilayah perkotaan.

terdapat pula air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik/non industri. masih rendahnya penanganan limbah domestik/non industri ditandai dengan dengan tingginya kandungan BOD.9. Namun hingga tahun 2003 terdapat 7% industri yang masih belum memiliki IPAL dan 10 % dari IPAL yang ada harus ditingkatkan mutunya. hasil pengukuran pada 50 titik di 42 Kecamatan menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu NOx di Kecamatan Cikalongwetan.79 kg deterjen/hari. Rancaekek. 29. Padalarang. Selain air limbah yang dihasilkan dari proses industri.622 BOD/musim. Hasil pemantauan terhadap 198 industri. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -51 .686 ton BOD/hari. dengan hasil pemantauan kualitas udara sebagai berikut : • Tahun 2001.022 ton P/hari dan 23. dari limbah pertanian yaitu 330.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.376 kg COD/hari dan 627. 58.9.2 ton pestisida/musim dan dari air limbah RS sebesar 1.2 Manajemen Air Limbah Di Kabupaten Bandung terdapat 204 buah industri yang menghasilkan limbah cair. 2. O3 (ozon) di Kecamatan Sindangkerta dan PM 10 di Kecamatan Cililin dan Margahayu. sementara di sisi lainnya penanganan polusi udara dirasakan masih belum optimal. Cipatat. Margahayu dan Katapang. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan bahwa beberapa parameter berada diatas baku mutu yang telah ditentukan. Ngamprah.200 Mg BOD/et atau 80% dari debit air.043 ton N/musim.193 kg BOD/hari. Berkaitan dengan pembangunan IPAL terpadu.3 Sub Fungsi Penanggulangan Polusi Adanya aktivitas industri dan non industri di Kabupaten Bandung telah mengakibatkan menurunnya kualitas udara. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup. Dari 204 buah industri seharusnya dapat dilayani oleh 170 buah Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL (karena terdapat beberapa industri yang digabung pengolahannya dan terdapat industri yang memiliki 2 buah IPAL). potensi beban dari air limbah peternakan sebesar 60. pada tahun 2003 telah dilakukan studi kelayakan IPAL terpadu Majalaya dan pada tahun 2005 akan dilakukan penyusunan studi kelayakan IPAL Batujajar. 74% diantaranya telah memenuhi baku mutu dengan efisiensi IPAL rata-rata 50%. COD dan detergen dari air limbah penduduk yaitu 136. 179.

partikulat (debu) di lokasi antara lain Jl. kualitas udara di lingkungan kerja. Bojongsoang-Buahbatu. TPA Leuwigajah dan Zone Industri Majalaya serta CO (Karbon Monoksida) di lokasi Jl. kualitas emisi sumber bergerak dan pemeriksaan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. KopoSayati. Alun-alun Majalaya. Tahun 2003. Jl Padalarang-Cimareme. Zone Industri Cisirung-Dayeuhkolot. kualitas udara emisi cerobong. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -52 . yaitu untuk kualitas udara bebas (ambient). Alun-alun Majalaya. hasil pengukuran kualitas udara ambient pada 15 titik (2 kali pengukuran) menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu dustfall antara lain di lokasi Jl. hasil penelitian kualitas udara di zona industri kapur dan marmer Padalarang menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu. Kopo-Sayati dan Jl Padalarang-Cimareme.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. Kopo-Sayati.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Subang Sumedang Batujajar Cimahi Ujungberung Rancaekek Dayeuhkolot Cianjur Banjaran Majalaya Gn Wayang Sebaran Industri IPAL terpadu Garut : Sangat buruk (DO < 2 ppm) : Buruk (2<DO<3 ppm) : Baik (DO>3 ppm) Gambar 2.6 Kondisi Air Sungai Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -53 .

pelatihan dan pemberdayaan masyarakat oleh para Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL). kebun pekarangan.70 Ha. kebun pekarangan. kebun rakyat. Dalam perda tersebut ditetapkan antara lain pasal 26 tentang kawasan lindung. 2.534.919. Sampai saat ini. tata air.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. penyuluhan. danau dan DPS. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya upaya konservasi SDA yang dilakukan pemerintah yang ditandai oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam dan belum optimalnya kemitraan yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat. luas lahan kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 32.5 Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2001 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung tahun 2001 – 2010. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa kegiatan vegetatif yaitu hutan rakyat.9. rehab teras dan UP-UPSA. Upaya konservasi lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah di bidang keanekaragaman hayati berupa studi pelestarian puyuh gonggong. situ.4 Sub Fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Upaya konservasi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bandung khususnya bidang kehutanan dan konservasi tanah dilakukan melalui program Rehabilitasi Lahan Kritis dan Konservasi Tanah. Selain itu dilaksanakan pula kegiatan pembinaan. pasal 28 tentang kawasan budidaya pertanian dan pasal 30 tentang kawasan budidaya non pertanian. dan kegiatan sipil teknis yaitu pembuatan sumur resapan. pagar hidup. sosialisasi PP 17 dan PP no 18 tahun 1999 tentang Pengawetan dan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 dilaksanakan pendataan bidang keanekaragaman hayati. Sampai dengan tahun 2004 tercatat luas hutan rakyat menjadi 17. perlindungan tebing sungai serta sarana jalan dan saluran.9. dam penahan.15 Ha yang berlokasi di 36 Kecamatan dan Kecamatan Pangalengan tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 2. waduk. gully plug. yang diantaranya : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -54 .725 ha.

Kawasan pangan lahan kering. dengan luas wilayah 391 ha. d. dengan luas wilayah 24.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Kecamatan Ciparay seluas 5 ha. dengan luas wilayah 48. e.943 ha. Kawasan pangan lahan basah. dengan luas wilayah 57. dengan luas wilayah 44. b.999 ha meliputi. Kawasan hutan rakyat. d. dengan luas wilayah 7. Kecamatan Paseh seluas 60 ha. Kawasan Budidaya Non Pertanian. 3. g.269 ha. 3) Zona Rancaekek yang meliputi Kecamatan Rancaekek seluas 252 ha dan Kecamatan Cileunyi seluas 71 ha. Kawasan/Zona Industri. Kawasan perlindungan setempat. Kawasan Lindung a. dengan luas wilayah 5. Kawasan rawan bencana. dengan luas wilayah 62 ha. Kawasan perikanan. dengan luas wilayah 9.805 ha. c. c.917 ha. Kawasan hutan suaka alam. f. b. dengan luas wilayah 1. dengan luas wilayah 182. Kawasan pertambangan. dengan luas wilayah 324 ha.200 ha.375 ha. Kawasan Budidaya Pertanian. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. 5) Zona Padalarang yang meliputi Kecamatan Padalarang seluas 600 ha. a. 2) Zona Majalaya yang meliputi Kecamatan Majalaya seluas 403 ha. dengan luas wilayah 39. b. a. f.284 ha.613 ha.385 ha yang terbagi dalam zona: 1) Zona Leuwigajah (sudah masuk dalam Kota Cimahi) kecuali Margaasih seluas 55 ha. Kawasan perairan. dan Kecamatan Solokanjeruk seluas 2 ha. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan. Kawasan peternakan/besar. 4) Zona Cisiung yang meliputi Kecamatan Dayeuhkolot seluas 495 ha. Kawasan hutan pelestarian alam/THR. Kawasan hutan produksi. 2. dengan luas wilayah 2. e.975 ha.014 ha meliputi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -55 . dengan luas wilayah 53.

dan 500 ha untuk pembuatan waduk reservoar. 3) SKW Tangkuban Parahu. dan Kecamatan Cililin seluas 100 ha. Kawasan permukiman. 5) SKW Saguling. e. Sistem perkotaan di dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung diarahkan berdasarkan fungsi masing-masing hirarki dan fungsi masingmasing kota. 6) SKW Situpatenggang.026 ha. 8) Zona Cimareme yang meliputi Kecamatan Batujajar seluas 360 ha. 9) Zona Katapang yang meliputi Kecamatan Katapang seluas 155 ha dan Kecamatan Soreang seluas 50 ha. terbagi kedalam Satuan Kawasan Wisata diantaranya : 1) SKW Maribaya. 2) SKW Lembang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6) Zona Baleendah yang meliputi Kecamatan Baleendah seluas 137 ha dan Kecamatan Bojongsoang seluas 23 ha.542 ha. d. Kecamatan Ngamprah seluas 118 ha. 7) Zona Banjaran yang meliputi Kecamatan Banjaran seluas 46 ha. c.719 ha. 7) SKW Pangalengan. Kawasan tertentu (pembentukan kota baru). meliputi Kecamatan Bojong-Soang 639 ha. diperuntukan bagi pembentukan kota baru Tegalluar seluas 3. Kecamatan Pameungpeuk seluas 96 ha. Kecamatan Rancaekek 1. Kota-kota yang secara fisik cenderung menyatu dengan Kota Bandung dan diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan Kota Bandung. 4) SKW Ciburuy. 8) SKW Ujungberung. Sistem perkotaan di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 4 (empat) hirarki yaitu : Hirarki I. dan Kecamatan Arjasari seluas 237 ha. 10) Zona Cikancung yang meliputi Kecamatan Cikancung seluas 418 ha dan Kecamatan Cicalengka seluas 121 ha. Kawasan pariwisata. yaitu sebagian wilayah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -56 . Kecamatan Solokan Jeruk 903 ha.500 ha. Kecamatan Cileunyi 442 ha. dengan luas wilayah 28. untuk kawasan permukiman perkotaan seluas 4.

Cipongkor. Kota-kota hirarki IV berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan. Kecamatan Margaasih. Dayeuhkolot. Gununghalu. Ibukota Kecamatan yang diarahkan berfungsi sebagai pusat pelayanan/pengembangan pedesaan. Hirarki II. Hirarki III. Rancabali. Bojongsoang. Kota-kota Hirarki III-B meliputi Kota Pangalengan. Rajamandala (Cipatat). dan Cililin. Majalaya (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Majalaya. terdiri atas Kota Soreang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Soreang dan Katapang). Kota-kota satelit yang mengemban peran khusus dalam sistem Metropolitan Bandung atau kota-kota yang akan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Ibun dan Paseh) dan Padalarang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Padalarang. Margahayu. Kota-kota yang diarahkan menjadi kota menengah yang mandiri sebagai sembrani tandingan (counter magnet) Kota Bandung dan menjadi pengembangan pusat regional. Kota-kota yang dipacu pertumbuhannya untuk menerima limpahan pertumbuhan Kota Bandung dikategorikan Hirarki III-A yaitu kota Cicalengka (termasuk sebagian wilayah Kecamatan Cikancung). Hirarki IV. Lembang. Banjaran (termasuk Kecamatan Pameungpeuk). Pacet dan Kertasari. Cileunyi dan sebagian wilayah Kecamatan Rancaekek. Ciwidey (sebagian wilayah Kecamatan Ciwidey dan Pasirjambu). Cikalongwetan dan Cisarua. Baleendah. Ciparay. yaitu Cipeundeuy. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -57 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kecamatan Parongpong. Ngamprah dan Batujajar). Sindangkerta. Kota-kota hirarki I berperan sebagai penunjang rembesan pertumbuhan Kota Bandung sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan invasi pertumbuhan ke kawasan-kawasan persawahan subur sebagai sabuk hijau yang mengelilingi dan memisahkan Kota Bandung dengan kota-kota kecil di sebelah selatan.

perangkutan ( terminal ) Pemukiman. agropolitan Pemukiman. Pada tahun 2002. Pemukiman Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian timur. dilaksanakan penyusunan RDTRK Majalaya. pertambangan Agropolitan I Kota Padalarang Kota Majalaya Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cicalengka Ciparay Banjaran Lembang Cililin Pangalengan Ciwidey Cikalongwetan Rajamandala Cisarua Cipeundeuy Sindangkerta Gununghalu Cipongkor Rancabali Pacet Kertasari III IV Berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan Sumber : RTRW Kabupaten Bandung Permasalahan sub fungsi Tata Ruang adalah meningkatnya kegiatan perkotaan di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya disertai oleh penyediaan instrumen perencanaan tata ruang detail yang memadai sehingga membawa konsekuensi tersendiri pada pembangunan sub fungsi Tata Ruang. Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan. Industri rumah/ kerajinan Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian barat. pendidikan militer. Selama tahun 2001 s/d 2004 perkembangan penyediaan dokumen tata ruang adalah sebagai berikut : • • • • Pada tahun 2001 dilaksanakan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Soreang. industri Pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. agropolitan Pariwisata. dilaksanakan pengesahan RDTRK Soreang. Pada tahun 2004 dilaksanakan review RDTRK Banjaran. Pangalengan dan Ciwidey.18 Hirarki Kota-kota di Kabupaten Bandung Kota Kecamatan Margaasih Kecamatan Margahayu Kecamatan Dayeuhkolot Kecamatan Baleendah Kecamatan Bojongsoang Kecamatan Cileunyi Kota Rancaekek Kota Soreang II Hirarki Fungsi Pemukiman Pemukiman. industri. penelitian Pemukiman. Rancaekek dan Cileunyi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. Perangkutan dan Perdagangan. Pada tahun 2003. Rancaekek dan Cileunyi. Lembang. Industri. pendidikan militer Industri. Pariwisata Pemukiman. Rendahnya efektivitas penataan ruang dipengaruhi oleh faktor antara lain belum optimalnya kualitas dan kuantitas produk Rencana Tata Ruang serta penegakan hukum yang masih lemah. Fasilitas sosial Pemukiman Pemukiman. industri Pemukiman Pemukiman. Pemukiman. Industri. Ciparay dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -58 . agropolitan Industri rakyat/ kecil. industri Pariwisata. Pariwisata. pemukiman Pemukiman. Pemukiman Pemukiman.

12. surat perjanjian 29 buah. Belum optimalnya perencanaan tata ruang.092 buah. • Pada tahun 2003 diterbitkan produk hukum berupa Perda 11 buah.300 ha pada tahun 2002. Instruksi Bupati 6 buah.10 Fungsi Ketertiban dan Keamanan 2. Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 2. surat perjanjian 27 buah serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. Keputusan Bupati 1. untuk menunjang peningkatan kualitas penataan ruang telah dilakukan penyediaan peta digital dan peta garis yaitu peta digital dan peta garis skala 1 : 5. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang dapat dijadikan acuan pembangunan wilayah dan kota 2. Belum optimalnya pemanfaatan ruang. 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain itu.1 Pembinaan Hukum Pada sub fungsi pembinaan hukum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 diterbitkan produk hukum berupa Perda 29 buah. penyelesaian perkara hukum sebanyak 11 kasus. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang telah diimplementasikan dalam wujud pemanfaatan ruang. 4. Keputusan Bupati 545 buah.210 ha pada tahun 2004. Permasalahan Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan terutama pada masalah : 1. dan 4. seperti rencana pembangunan Tegalluar. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang. rencana pengembangan pusat-pusat wilayah dsb.500 ha pada tahun 2003. Keputusan Bupati 853 buah.10. dan operasi penertiban dan penegakan Peraturan daerah yang berhubungan dengan perijinan perusahaan. operasi penegakan hukum melalui razia gabungan terhadap Pekerja Seks Komersial. 19. terutama pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan budidaya di kawasan lindung.500 ha pada tahun 2001. Surat Perjanjian 29 buah serta BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -59 . Instruksi Bupati 2 buah.000 seluas 3. Instruksi Bupati 1 buah. • Pada tahun 2002 diterbitkan produk hukum berupa Perda 18 buah. serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. serta sosialisasi Peraturan Daerah ke 15 kecamatan.

Instruksi Bupati 1 buah. pembinaan keluarga sadar hukum di wilayah Kabupaten Bandung. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pembinaan hukum adalah belum optimalnya upaya penegakan supremasi hukum yang ditandai masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda dan aturan hukum lainnya. operasi penertiban dan penegakan Peraturan Daerah ke perusahaan. serta sosialisasi Peraturan daerah ke 4 kecamatan. belum optimalnya sosialisasi produk hukum dan bantuan hukum terhadap kasus hukum yang cenderung meningkat. Keputusan Bupati 264 buah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pada tahun 2004 diterbitkan produk hukum berupa Perda 4 buah. surat perjanjian 6 buah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -60 . dan belum optimalnya upaya pembaharuan dan penyusunan produk-produk hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. dan penyelesian perkara hukum sebanyak 3 kasus.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004 Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -61 .

000 1983-1993 1993-2002 1983-2002 34.000 Perubahan Lahan (Ha) 14.000 -26. 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -62 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1983 54.000 -6.8 Peta Perubahan Guna Lahan Kabupaten Bandung Sumber: Wangsaatmaja.000 -46.000 Danau/Waduk Fasum Lahan Terbuka Pertanian/Saw ah Tegalan Perkebunan Semak/Rumput Sub Urban Belukar Industri Hutan Urban Penggunaan Lahan Jenis Tutupan Lahan % Perubahan Tutupan Lahan DAS Citarum Hulu Jenis Lahan Hutan Perkotaan Industri Belukar Lahan terbuka Pertanian 2002 1983-1993 (%) -18 105 618 45 52 -15 1993-2002 (%) -44 62 35 93 22 -47 1983-2002 (%) -54 233 868 181 86 -55 Gambar 2.

Pam Gerakan Disiplin Daerah 3 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. Prostitusi 5 kali. penertiban pasar 2 kali. PGOT 5 kali. penertiban reklame 2 kali dan penertiban pasar 3 kali. • Pada tahun 2002 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 16 kali. penertiban reklame 3 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 5 kali. prostitusi 1 kali. PGOT 20 kali. tawuran 7 kali.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. penertiban perijinan perusahaan 12 kali dan penertiban pasar 1 kali. unjuk ras 12 kali. penertiban minuman beralkohol ( Miras ) 2 kali. Angka Kematian Bayi (AKB). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). unjuk rasa 22 kali. penertiban pasar 3 kali. perjudian 28 kali. dan Tingkat Partisipasi Sekolah. perjudian 5 kali. prostitusi 5 kali. perjudian 2 kali. PGOT 4 kali. PGOT 5 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali.10. 2. Keamanan dan Hukum Lainnya Pada Sub Fungsi Ketentraman dan Ketertiban serta Penegakkan Perda sampai dengan Tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 dilakukan upaya penertiban/pengamanan PKL 12 kali. prostitusi 12 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. Pencapaian Indikator Makro Sosial Indikator makro sosial yang dijadikan penilaian bagi keberhasilan pembangunan antara lain adalah Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). unjuk ras 19 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -63 . penertiban/penegakan kependudukan/KTP 10 kali dan Pam Bencana Alam 12 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. • Pada Sub Fungsi Tramtibum dan Penegakan Perda dengan dilaksanakannya pelatihan keterampilan pelaksanaan Kader Sat Pol PP sebanyak 150 orang anggota. perjudian 5 kali. • Pada tahun 2004 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 22 kali. Angka Harapan Hidup (AHH). Pam LPJ Bupati 1 kali.11. Angka Melek Huruf (AMH). unjuk rasa 15 kali. Rasio Ketergantungan.2 Sub Fungsi Ketertiban. penertiban minuman beralkohol (miras) 12 kali. • Pada tahun 2003 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 20 kali. Pam Asset Pemda 12 kali.

Laju Pertumbuhan Penduduk LPP Kabupaten Bandung dalam kurun waktu 2003-2004 tercatat sebesar 3.500.963.500.000 3.4 tahun.963.907 2003 2004 Laki-laki Perempuan Jumlah LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2.000.1.411 jiwa) dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2003 yaitu sebanyak 4.145.45 tahun dan yang terendah adalah Kecamatan Cipongkor sebesar 56.582 jiwa (terdiri dari laki-laki 2. mengalami peningkatan jika dibandingkan AHH tahun 2003 sebesar 65.500.145.058.500.411 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.19%.058.967 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.675 1.000 2.053.017.053.087. LPP tersebut dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yaitu sebanyak 4. Gambar 2.11.64%.15 tahun).000.2 Angka Harapan Hidup (AHH) Pencapaian AHH tahun 2004 adalah sebesar 65.000.087.556 jiwa dan perempuan 2.000 500.6 tahun.000 4.9 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN BANDUNG 4.000 2.85 tahun (dari proyeksi sebesar 66. Kecamatan yang memiliki AHH tertinggi adalah Kecamatan Ibun sebesar 67.675 jiwa dan perempuan 1.556 2.907 jiwa).582 2.000. Dengan demikian.000 1.000 3. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan. 2.967 4.11.017. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -64 .000 - 4.000 1.

37 47.5 47 46.37 jiwa per 1000 kelahiran hidup (dari proyeksi sebesar 43.5 46 45.7 Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup Tahun Gambar 2.1 65. Realisasi AKB tahun 2004 tercatat sebesar 46.11 AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil.10 2.2 65.4 2003 2004 Tahun Gambar 2.9 65.25.4 65. penolong pertama kelahiran bayi.5 2003 2004 46. gizi.5 65. Kecamatan yang memiliki AKB tertinggi adalah Kecamatan Cipongkor yang mencapai 72.50) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKB tahun 2003 sebesar 47.96 dan yang terendah adalah Kecamatan Parongpong dengan AKB sebesar 39.3 Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran. dan ANC ( Antenatal Care ).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) 48 47.3 65.2 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) 65.7. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -65 .8 65.11.6 65. Menurut data Suseda. Semakin kecil AKB maka semakin sedikit pula bayi yang meninggal di bawah satu tahun.85 AHH (Tahun) 65. imunisasi ibu.7 65.

dan 1.4 Pertolongan Kelahiran Bayi Famili/lainnya. Dari perspektif jender. dan Cipongkor.66%.10 % PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Tenaga Medis Dukun Famili/lainnya Gambar 2.96% Tenaga Medis.4. 59. Rongga.84%.96% oleh dukun.10% kelahiran bayi ditolong oleh tenaga medis. diperoleh dengan membagi besarnya angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan) dengan jumlah penduduk usia kerja.79 % relatif jauh tertinggal jika dibandingkan TPAK penduduk laki-laki yang mencapai 74. Dengan melihat kondisi tersebut dan jika dikaitkan dengan pencapaian AKB rata-rata Jawa Barat yang pada tahun 2003 telah mencapai 43.11. yang mengalami sedikit kenaikan bila dibandingkan dengan TPAK tahun 2003 sebesar 51. TPAK perempuan di Kabupaten Bandung yang mencapai 30.94% ditolong oleh famili/lainnya. 1.03 %.12 2. 38. 38.94% Dukun. kiranya perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuk dapat mengejar ketertinggalan tersebut. Data Suseda menunjukkan TPAK Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat sebesar 52. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Rancabali. Grafik 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 sebanyak 59.83. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena sebagian besar perempuan usia produktif masih berada pada posisi sebagai ibu rumah tangga. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -66 . Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu angka yang menunjukkan tingkat penduduk yang aktif secara ekonomi atau angkatan kerja.

00% 51. yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup masyarakat Kabupaten maka akan berdampak pada bertambahnya penduduk usia tua yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio ketergantungan. Jika dikaitkan dengan keberhasilan di sektor Kesehatan.5 ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) 53.50% 51. Hal ini menunjukan pada tahun 2004 terdapat penurunan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif.03% TPAK 52.00% 50.13 2.84% Gambar 2.11. Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh golongan penduduk umur produktif. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -67 . Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0 -14 tahun ditambah penduduk berusia di atas 65 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15-64 tahun.84%. Data Suseda menunjukkan angka beban ketergantungan tahun 2004 tercatat 52.5. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten perlu mengantisipasi agar penduduk usia lanjut tersebut tidak menjadi beban bagi penduduk usia produktif.00% 2003 2004 51.50% 52.50% 50.48 % yang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2003 yaitu 55.00% 52.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.

11.23% (dari proyeksi sebesar 97.00% 54.00% 50.58%.00% 97.00% 52.20% 97.84% Gambar 2.50% AMH 98. Apabila dibandingkan antara AMH pada penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami buta huruf dibandingkan penduduk laki-laki.23% Tahun Gambar 2.77% penduduk atau sekitar 73.00% 2003 Tahun 2004 52.60% 97.48% Rasio Ketergantungan 55.00% 51.00% 56.00% 53.6 Angka Melek Huruf (AMH) AMH Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat 98.6 RASIO KETERGANTUNGAN RASIO KETERGANTUNGAN 57. AMH pada penduduk laki-laki tercatat sekitar 99 % dan pada perempuan sekitar 97.00% 55.40% 97. Grafik 2.20% 98.14 2.80% 97.5%. Dengan pencapaian AMH tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bandung sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis serta hanya sekitar 1.384 jiwa yang belum bisa membaca dan menulis.40 %) dan mengalami peningkatan jika dibandingkan AMH tahun 2003 sebesar 97.40% 98.00% 2003 2004 97.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.7 ANGKA MELEK HURUF ANGKA MELEK HURUF (AMH) 98.15 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -68 .

09 6.01 77.4 thn 97.52 mengalami peningkatan jika dibandingkan IPM tahun 2003 sebesar 67.320 68. Proyeksi dan capaian dari komponen-komponen IPM tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 2.16 30.72 97. SLTP.49 thn 515.46 thn Realisasi 2003 65.5.68 thn 534.45 - Proyeksi (%) 2004 Realisasi (%) 93.20 Pencapaian Komponen IPM Kabupaten Bandung Tahun 2003-2004 dan Capaian Jawa Barat 2004 No 1 2 3 4 Komponen Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Daya Beli (Rp) IPM Proyeksi 2003 65.570 68.34 thn 93.85 thn 98.7.53 % 7.09 97.50 Proyeksi 2004 66.96% 7. Dengan demikian.03 tahun yang mengalami peningkatan jika dibandingkan RLS tahun 2003 sebesar 7. tercatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah 8. diharapkan komponen AHH tersebut BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -69 .22 54.03 thn 534.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Tabel 2.40 % 7.18 65.12.44 34. AMH.37 thn 554.36 96.15 thn Realisasi 2004 65. dalam kurun waktu 2003 – 2004 hanya komponen AHH yang belum dapat memenuhi proyeksi sehingga berpengaruh terhadap pencapaian sesuai proyeksi. 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Bandung telah mengenyam pendidikan sekitar 8 tahun.95 Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 Dari semua komponen IPM.60 - Sumber : BPS Kabupaten Bandung Berdasarkan pencapaian tingkat partisipasi sekolah tersebut.52 Realisasi Jawa Barat 2004 65. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan capaian AHH.38 29.65 tahun.200 67.44 37. SMU dan PT tahun 2003 dan 2004 untuk berbagai level pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.23 % 8.65 thn 530.060 68.90 55.21 95. Tingkat Partisipasi dan Melanjutkan Sekolah Pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD.19 Pencapaian APM Kabupaten Bandung Tahun 2003 dan 2004 No 1 2 3 4 Tingkat SD/MIS SLTP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi 2003 Proyeksi Realisasi (%) (%) 95.11. Walaupun pencapaian belum sesuai proyeksi.70 % 7. RLS dan pendapatan per kapita tahun 2004 telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM). realisasi IPM tahun 2004 sebesar 68.870 70.

Apabila dikaitkan dengan target IPM Propinsi Jawa Barat tahun 2010 sebesar 80 maka diperlukan upaya yang serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung melalui penajaman program-program prioritas untuk dapat mencapai angka tersebut.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung perlu mendapat perhatian untuk penajaman kebijakan di tahun mendatang.52 68.5 68.95 71 70 69 68 67 66 65 IPM 68.16 Pencapaian IPM tiap kecamatan di kabupaten dapat dilihat pada tabel 2.36 Proyeksi 2003 Realisasi 2003 Proyeksi 2004 Realisasi 2004 Realisasi Jabar 2004 Gambar 2.21 dan proyeksi IPM Kabupaten hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.22 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -70 . PENCAPAIAN IPM KABUPATEN BANDUNG 70.72 67.

39 60.17 67.82 93.60 60.39 7.59 99.63 98.78 97.32 66.05 60.60 98.23 7.95 63.02 98.56 525.63 544.61 8.20 66.32 8.22 98.21 7.55 99.45 531.21 Pencapaian IPM di Tiap Kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2004 NO.55 64.86 98.43 97.08 66.45 65.06 529.94 8.25 68.58 8.29 67.02 6.10 98.65 68.64 67.85 8.15 7.35 66.91 7.61 98.39 546.60 533.57 68.35 56.58 9.49 99.73 521.45 64.24 517.37 96.96 97.98 8.00 541.11 6.45 63.37 68.35 66.51 PPP (ribu Rp) 545.88 523.65 7.95 61.70 97.80 10 CIPARAY 11 MARGAASIH 12 CILENGKRANG 13 CIMENYAN 14 NAGREG 15 KATAPANG 16 MAJALAYA 17 PARONGPONG 18 CIMAUNG 19 SOREANG 20 CANGKUANG 21 PANGALENGAN 22 BANJARAN 23 PADALARANG 24 CIHAMPELAS 25 CILILIN 26 PASIR JAMBU 27 ARJASARI 28 CIKALONG WETAN 29 CICALENGKA 30 CIPEUNDEUY 31 SOLOKAN JERUK 32 RANCABALI 33 NGAMPRAH 34 BATUJAJAR 35 CIPATAT 36 CIWIDEY 37 SINDANG KERTA 38 CISARUA 39 PASEH 40 KERTASARI 41 PACET 42 GUNUNGHALU 43 CIKANCUNG 44 CIPONGKOR 45 RONGGA Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -71 .98 68.00 65.00 61.58 530.83 99.95 98.25 66.25 536.63 7.00 7.02 536.89 94.65 67.55 62.62 10.99 68.20 69.26 538.86 67.92 533.53 98.00 95.10 522.85 65.52 67.40 65.15 65.95 67.87 540.25 65.72 67.43 98.61 529.75 64.40 64.54 99.31 66. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KECAMATAN CILEUNYI MARGAHAYU DAYEUH KOLOT RANCA EKEK IBUN LEMBANG BALEENDAH BOJONG SOANG PAMEUNGPEUK Komponen IPM AHH (thn) 67.65 64.61 93.64 534.37 550.00 66.59 538.65 68.10 526.44 528.34 64.55 540.23 533.47 541.29 98.75 62.81 68.22 96.83 540.91 7.51 540.80 8.84 99.69 68.60 9.10 526.51 70.65 63.12 96.54 534.70 64.39 68.85 65.93 98.11 543.55 65.00 523.93 65.20 8.01 519.30 10.25 539.47 533.53 97.55 57.64 527.10 63.14 529.05 64.37 524.14 530.11 66.20 67.88 65.90 529.77 98.71 65.69 67.05 97.76 99.16 64.65 65.65 62.65 65.62 IPM 71.68 529.05 65.73 99.53 6.35 61.05 62.40 64.71 98.19 523.81 6.36 9.03 8.50 8.55 65.15 69.81 99.51 97.29 92.27 525.25 8.85 8.24 65.88 7.56 6.03 65.66 64.60 7.34 91.83 99.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.25 AMH (%) 99.05 65.35 6.11 68.10 535.70 96.85 65.05 61.43 99.63 69.71 8.80 65.02 5.94 6.28 70.49 7.51 9.90 65.60 99.22 67.83 7.14 6.17 64.72 RLS (thn) 9.07 7.92 68.79 6.95 9.69 98.15 63.

68 51.48 70.40 7.70 Proyeksi dihitung berdasarkan hasil Suseda 20012003 Sumber Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -72 .83 58.64 51.43 96.48 71.17 54.10 95.30 53.35 8.80 521.15 99.40 567.58 99.01 73.50 9.22 66.64 74.18 94.47 85.07 66.60 78.60 8.03 60.26 68.20 86.70 96.87 69.56 70.86 561.42 70.22 Proyeksi IPM Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 NO 1 INDIKATOR 2000 2 3 2001 4 2002 5 2003 6 7 PROYEKSI PER TAHUN 2004 2005 8 2006 9 2007 10 2008 11 2009 12 2010 13 1 ANGKA HARAPAN HIDUP ( TAHUN ) INDEKS ANGKA MELEK HURUF ( %) INDEKS RATA .74 43.86 2 3 4 5 6 60.42 57.20 98.15 68.06 56.30 95.68 61.97 47.75 74.Rp.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.44 67.02 46.28 72.35 99.29 48.15 8.RATA LAMA SEKOLAH ( TAHUN) INDEKS INDEKS PENDIDIKAN KEMAMPUAN DAYA BELI ( X.60 7.22 64.50 39.57 7 64.00 517.50 50.87 85.40 56.40 56.60 550.26 555.11 65.53 72.25 93.40 97.50 75.1000) INDEKS ANGKA KEMATIAN BAYI (PER 1000 KELAHIRAN) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 63.62 57.46 67.63 68.13 98.26 64.40 7.85 69.35 99.20 82.25 36.28 66.89 545.20 7.09 539.93 81.47 30.03 67.19 51.93 98.60 98.60 525.83 99.90 8.80 78.58 97.75 98.60 93.90 98.78 66.20 65.87 54.58 34.85 29.00 84.97 59.60 79.70 7.50 99.29 69.15 69.14 47.88 55.17 65.10 7.11 530.00 534.59 73.87 83.47 83.49 49.72 60.93 52.90 52.40 94.55 64.22 32.

6. integrasi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 masih berada pada angka 68. SPM. persebaran dan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum memadai. munculnya berbagai penyakit masyarakat. Kualitas pelayanan publik belum optimal disebabkan antara lain oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia aparatur. 4. Kualitas pendidikan masih relatif rendah disebabkan antara lain belum tercapainya target RLS. kesadaran hidup bersih dan sehat. serta berkurangnya kesadaran dan citra budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat.36. 3. 2. dan sarana prasarana yang belum memadai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dilihat secara makro.52 (realisasi). 2. kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayananan pendidikan. pasar dan sistim transportasi sehingga menyebabkan kesemrawutan kota dan kemacetan lalu lintas. Menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan ditandai dengan meningkatnya pencemaran air dan udara serta masalah lingkungan lainnya seperti banjir dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -73 . seperti terminal. sedikit diatas IPM Jawa Barat yaitu sebesar 68. 7. dan belum optimalnya aplikasi konsep pembangunan partisipatif. Resistensi nilai-nilai religius. Hingga tahun 2010 diharapkan IPM Kabupaten Bandung akan mencapai atau bahkan lebih besar dari proyeksi sebesar 74. serta kualitas kesehatan lingkungan yang masih relatif rendah. rendahnya tingkat pendapatan dan tingginya LPP.70 yang akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai fungsi dan sub fungsi pembangunan. sosial dan budaya sebagai akibat dari derasnya arus perubahan dan globalisasi. sinkronisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.13 Isu Strategis Kabupaten Bandung Berdasar kondisi dan proyeksi mendatang Kabupaten Bandung 2010. Masih rendahnya keterpaduan pemanfaatan ruang kota. kualitas pelayanan kesehatan. 5. kinerja birokrasi. Koordinasi. simplikasi. Isu strategis yang merupakan gambaran umum permasalahan yang dihadapi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut : 1. 8. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. menurunnya kepekaan dan solidaritas sosial.

aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa antara lain dengan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM). rendahnya efektivitas penataan ruang dan lemahnya pengawasan dan pengendalian. IPAL. o Kelompok 2: Isu-isu terkait dengan penyediaan pelayanan umum dasar bagi masyarakat. 9.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung longsor.14 Konfigurasi Isu Startegis dan Kerangka Intervensi Pembangunan Dari kesembilan isu strategis di atas dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antar isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan. penataan kelembagaan maupun pemekaran wilayah. TPA. dll) o Kelompok 4: Isu-isu terkait dengan perbaikan aspek sosial. juga adanya kegagalan internal BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -74 . Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan pelaksanaan fungsi/peran pemerintah sebagai public servant (pelayan publik). Isu yang termasuk dalam kelompok ini terkait dengan modal sosial yang terancam oleh faktor eksternal. perumahan. yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan menurunnya daya dukung lingkungan dan sediaan infrastruktur dasar (jalan. yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran. Untuk melihat konfigurasi dari kesembilan isu strategis tersebut dilakukan pengelompokan isu-isu strategis ke dalam beberapa kelompok isu yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan sebagai berikut: o Kelompok 1: Isu-isu terkait dengan perbaikan kualitas pemerintahan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Rendahnya kinerja pembangunan desa disebabkan kualitas SDM. o Kelompok 3: Isu-isu terkait dengan perbaikan kondisi fisik keruangan kabupaten. pemanfaatan ruang kawasan pedesaan. 2. Pembenahan ini dilakukan di semua lini pemerintahan. Isu-isu pada kelompok ini terkait dengan pembenahan internal Kabupaten Bandung. perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. lemahnya kelembagaan desa dan belum teralokasikannya sumber keuangan desa secara memadai. sarana infrastruktur perdesaan.

Gambar di atas menunjukkan hubungan antar kelompok isu dimana isu pada kelompok pertama (pemerintahan) dianggap memberi dampak pada terjadinya permasalahan pada kelompok isu kedua (pelayanan dasar untuk warga). kelompok isu keempat (modal sosial) dianggap sebagai dampak dari berbagai masalah yang terjadi pada semua kelompok isu. K e lo m p o k 2 : PELAYAN AN D ASAR U N TU K W ARG A IS U 6 : K u a lit a s p e la y a n a n p u b lik b e lu m o p t im a l K e lo m p o k 1 : PEM ER IN T A H A N IS U 5 : < K in e r ja b iro k r a s i m a s ih re n d ah > ISU 4: J u m la h penduduk m is k in m a s ih r e la t if t in g g i IS U 3 : < K u a lit a s k e s e h a ta n m a sy ara k at m a s ih r e n d a h > IS U 2 : K u a lit a s p e n d id ik a n m a s ih r e la t if ren d a h K e lo m p o k 4 : M O D A L S O SIA L IS U 1 : R e s is t e n s i n ila in ila i r e lig iu s . dan kelompok isu keempat (modal sosial). BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -75 . s o s ia l d a n budaya IS U 9 : R endahnya k in e r j a pem bangunan desa K e lo m p o k 3 : FISIK K E R U A N G A N IS U 7 : k e s e m ra w u ta n k o ta d a n k e m a c e t a n la lu lin t a s ISU 8: M en u ru n n y a daya dukung d a n k u a lit a s lin g k u n g a n Gambar 2.17 Konfigurasi Permasalahan dan Keterkaitan Antarkelompok Isu. Gambar di bawah ini menjelaskan konfigurasi permasalahan tersebut. Sementara itu. kelompok isu ketiga (fisik keruangan).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keempat kelompok isu tersebut kemudian diletakkan dalam suatu konfigurasi permasalahan untuk melihat keterkaitan antar kelompok isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan yang akan dilakukan.

kehendak dan kebutuhannya secara proporsional dan bertanggungjawab. tertib.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB III VISI. dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa” Makna dari Visi tersebut : Repeh Rapih Kertaraharja adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang hidup dalam keadaan aman. tenteram. Partisipatif merupakan pendekatan yang diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan. Percepatan pembangunan tersebut mengandung maksud menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi cepatnya pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bandung. Kultural dan Berwawasan Lingkungan. tuntutan. sehingga manfaatannya dapat segera dirasakan oleh masyarakat. dengan pengertian bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan aktif dalam keseluruhan proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan. visi yang kami kedepankan adalah ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. sejahtera dan senantiasa berada dalam lindungan. Akselerasi pembangunan atau percepatan pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat proses pembangunan lebih cepat. Sesuai dengan paradigma kepemerintahan yang baik bahwa kedudukan masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan sesuai dengan prakarsa. damai.1 V i s i Berdasarkan potensi. pelaksanaan hingga pengawasan. MISI DAN PRIORITAS DAERAH 3. aspirasi dan dinamika yang berkembang pada masa kepemimpinan tahun 2000-2005. melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-1 . permasalahan dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan memperhatikan nilai-nilai visi daerah. bimbingan dan rahmat Allah SWT.

dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan hidup beragama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Religius mengandung pengertian bahwa nilai-nilai. 8. nyaman. dan berkelanjutan. menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan. peningkatan kualitas kinerja pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. 2. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-2 . harus menjiwai. Tenteram dan Dinamis. 4. semangat dan kaidah agama. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Pengembangan budaya Sunda tersebut dilakukan dengan tetap menghargai pluralitas kehidupan masyarakat secara proporsional. termasuk penyelengaraan pemerintahan dan pembangunan. melekat dan menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Bandung. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. serta menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial. Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa mengandung pengertian. bahwa pembangunan di Kabupaten Bandung harus memberikan perhatian yang besar dan sungguh–sungguh terhadap pengembangan desa. khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan identitas mayoritas Kabupaten Bandung. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. 6. Tertib. Kultural mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya Sunda yang baik. 5. 3. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Berwawasan Lingkungan mengandung pengertian dan kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan yang didasari oleh kesadaran akan fungsi strategis lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia. 7. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik. dirumuskan 8 ( delapan ) misi sebagai berikut : 1.2 M i s i Untuk mewujudkan visi diatas. agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang. norma. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Desa yang dalam susunan pemerintahan merupakan unit pemerintahan terendah adalah ujung tombak pembangunan daerah dan lokus yang menjadi muara seluruh aktifitas pembangunan. harus tumbuh dan berkembang seiring dengan laju pembangunan. mewarnai. Daya dukung dan kualitas lingkungan harus menjadi acuan utama segala aktifitas pembangunan. 3.

transparan. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik adalah peran kepemimpinan yang demokratis. oleh karena itu. Proporsional dalam hal ini mengandung pengertian bahwa setiap domain pemerintahan melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki berdasarkan tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sistem dan manajemen pemerintahan perlu dimantapkan antara lain dengan melakukan penataan wilayah dalam rangka mengefektifkan rentang kendali pengelolaan pemerintahan. sebagaimana firmannya dalam al-quran surah al-baqarah ayat 30 yang artinya : ” sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah ( pemimpin ) di muka bumi ini”. yaitu pemerintah. tetapi juga dihadapan-nya. dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. responsif. partisipatif berlandasakan hukum. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tidak semata-mata disandarkan kepada pemerintah saja tetapi merupakan sinergitas dari peran pemerintah. efektif. berorientasi konsesus. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-3 . organisasi dan kepemimpinan serta sistem yang berlaku di dalamnya harus dijalankan sesuai dengan tuntunan-nya dan dipertanggungjawabkan bukan saja di hadapan manusia. sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik. Kepemimpinan harus dilandasi oleh kesadaran mengambil peran dan tanggung jawab untuk membangun demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebut bukan semata-mata merupakan tuntutan organisasi tetapi harus diyakini sebagai amanah dari allah swt.2. efisien.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Bertanggung jawab mengandung pengertian bahwa pelaksanaan peran dan fungsi setiap domain pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif berdasarkan prinsipprinsip kepemerintahan yang baik. demokratis. kesetaraan. egaliter dan mampu mengedepankan keteladanan. adil. sektor swasta dan masyarakat secara proporsional dan bertanggung jawab. akuntabel dan memiliki visi strategik.1 Misi 1 : Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab.

harus mampu dipenuhinya sebagaimana seharusnya. kepemimpinan bukan semata-mata kekuasaan tetapi merupakan kapasitas intelektual yang dikonsepsikan dan dipraktekan dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya. berada dalam kebenaran dan menuju kebenaran. yang artinya” sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.segala langkah yang ditempuh seorang pemimpin harus harus berpijak pada kebenaran. kedatangan hari akhir dan mereka banyak menyebut nama allah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pertanggungjawaban kepemimpinan ini ditegaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist. keempat : fathonah ( cerdas) : yaitu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta memiliki semangat untuk menjadikan berbagai fenomena kehidupan sebagai pelajaran yang sangat berharga. yaitu : pertama : siddiq ( benar ) : yaitu komitmen terhadap kebenaran. rasulullah saw patut dijadikan sebagai tauladan. apa yang diucapkannya harus dapat dibuktikan dengan perbuatan yang nyata. kedua : tabligh ( menyampaikan ): seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan berbagai programnya dengan baik kepada masyarakat serta mampu mendengar. bahwasannya rasulullah muhammad saw bertsabda : ”setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”. termasuk kepemimpinan pemerintahan di dalamnya. termasuk kepemimpinan di dalamnya. kebenaran inilah yang harus menjadi landasan strategi kebijakan serta acuan utama seluruh aktivitas pemerintahan dan pembangunan.” secara garis besar terdapat 4 ( empat ) karakter kepemimpinan rasulullah saw yang harus kita teladani dalam berbagai lingkup kepemimpinan. ketiga : amanah ( jujur ) : seorang pemimpin harus berlaku jujur dan adil disertai dengan keikhlasan dan ketawakalan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. yaitu bagi mereka yang mengharapkan ridho allah. selain itu. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-4 . sekecil apapun yang menjadi hak rakyat. dalam praktek kehidupan. memperhatikan dan menyikapi dengan segera apa yang menjadi aspirasi masyarakatnya agar kebijakannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. allah swt berfirman dalam al-quran surah al-ahzab ayat 21.

persatuan dan kesatuan seluruh komponen pembangunan. perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksud. yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum.2. Tertib. Peningkatan kualitas meliputi pemantapan moral dan mental. tenteram dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan.2. derajat kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. disertai dengan perhatian yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan agar memiliki kesetaraan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-5 . ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai. keahlian. pembangunan dan kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan tuntutan perubahan kehendak dan kebutuhan masyarakat berdasar asas demokrasi yang bertanggung jawab. Kondisi yang aman. Tentram dan Dinamis.2 Misi 2: Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Selain itu. penegakan hukum harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan adil dengan perlakukan yang sama terhadap semua orang tanpa diskriminasi. 3. dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. tertib. peningkatan kemampuan intelektual. Keamanan. disertai dengan rasa kebersamaan. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yan sangat penting dalam rangka mewujudkan Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman. tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama. kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Dinamika pemerintahan. Oleh karena itu.3 Misi 3: Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi.

konsep iman dan taqwa sebagai muatan utama masyarakat beragama harus menjadi landasan pokok yang harus dikedepankan. Sehingga paradigma pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung harus dititikberatkan pada keselarasan pengembangan pertanian yang kuat dengan industri yang maju yang bertumpu pada pengembangan potensi sumber daya lokal. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-6 . kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap keyakinan teologis yang dapat mengakibatkan kekufuran. membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.4 Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan.2. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.5 Misi 5: Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Untuk mewujudkan masyarakat yang Repeh Rapih Kertaraharja di tengah –tengah masyarakat Kabupaten Bandung yang sangat religius. Selain itu. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Apabila potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik. Dengan demikian. pengembangan potensi ekonomi daerah juga harus membuka ruang bagi terciptanya demokrasi ekonomi yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. 3. Oleh karena itu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung peran dan fungi dalam ruang pembangunan serta pemberdayaan generasi muda agar pada masa yang akan datang mampu mengambil peran dalam pembangunan. Penilaian kemiskinan dengan permasalahan sosial merupakan siklus masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi terutama pada sektor pertanian dan industri. diantaranya tidak adanya pendapatan. upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras agar masyarakat dapat hidup layak dan menjalani kehidupannya dengan baik. 3.Selain itu. akan mampu meningkatkan kemampuan usaha masyarakat.2. masalah kemiskinan dapat diminimalisir yang berarti juga akan berpengaruh pada berkurangnya masalah sosial dan semakin mantapnya keyakinan teologis masyarakat.

budaya juga merupakan modal utama pembangunan untuk mewujudkan keserasian dan keselarasan hidup manusia.nyaloka dan sikap yang luhur. Masyarakat Sunda harus mempunyai kepercayaan diri dan kemandirian untuk berperan maksimal dalam pembangunan di Kabupaten Bandung. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. dengan identitas nyantri.6 Misi 6: Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda Budaya merupakan salah satu sumber nilai yang menunjukan jati diri. Dalam perspektif agama. Pada sisi lain. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-7 . perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. gesit binangkit. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. silih asah dan silih asuh.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. wanoh. identitas dan kepribadian suatu kominitas masyarakat. perigel. tetapi juga muatan sosial.Kinerja pemerintahan dan kehidupan masyarakat harus dilandasi oleh semangat silih asih. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. karakter masyarakat Sunda anu boga wani. 3. nyunda. nyantana. nyantika. luhung. wiwaha tur wijaksana harus dikembangkan sebagai bagian dari jati diri kesundaan. Budaya juga dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif untuk menghadapi dampak negatif derasnya arus perubahan. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. Oleh karena itu. Selain.2.

7 Misi 7: Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan Pembanguanan adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. dana. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang.2.8 Misi 8: Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa Sebagian besar masyarakat Kabupaten Bandung bertempat tinggal di pedesaan dicirikan antara lain dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. demi keberlangsungan kehidupan manusia dan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan. Konsekuesi logis dari sebuah pembangunan adalah penggunaan berbagai sumber daya. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-8 . Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu. teknologi maupun sumber daya alam. pengembangan kapasitas keuangan desa.2. masih tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman. dalam rangka pada pencapaian upaya kesejahteraan masyarakat. yang akhirnya akan berakibat pada kerusakan alam dan bencana yang akan melanda manusia. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. diperlukan perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam. yaitu menguntungkan secara ekonomis. baik sumber daya manusia. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. kinerja dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan desa. Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan akan mengakibatkan menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan. 3. Oleh pembangunan karena harus itu. rendahnya produktifitas tenaga kerja.

potensi dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung. manusia adalah subjek pembangunan yang bertindak sebagai pelaku ( stakeholders ). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator keberhasilan pembangunan yang merupakan gabungan komposit dari tiga komponen pokok. peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat. permasalahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pedesaan. manusia juga merupakan sasaran yang harus menikmati hasil–hasil pembangunan. 4. peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan. Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. pada sisi yang lain.3. Berdasarkan pada kondisi. peningkatan sarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun. Peningkatan perekonomian daerah. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melalui peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-9 . Oleh karena itu. 3. melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM). Pada satu sisi. dan perbaikan gizi masyarakat. kesehatan dan daya beli masyarakat. yaitu pendidikan. Prioritas Daerah Di dalam pembangunan. Sehubungan dengan pemikiran tersebut. segala aktifitas pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan kualitas manusia (human development). pada hakekatnya perencanaan strategis pembangunan Kabupaten Bandung diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan – kebutuhan dasar manusia yang semuanya bermuara pada Indeks Pembangunan Manusia. ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut : 1. melalui peningkatan kesadaran budaya sehat. pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklim usaha yang kondusif. 3. dengan tetap memandang semua bidang pembangunan dalam kedudukan yang penting. 2. peningkatan sarana/prasarana kesehatan. revitalisasi pertanian. manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting.

Peningkatan kinerja pembangunan desa.93 pada tahun 2005 menjadi 9. Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 8. serta pengembangan alokasi dana desa (ADD).20 pada tahun 2005 menjadi 99. 3. pengembangan ekonomi dan pembangunan kawasan perdesaan. dan menurunnya angka BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-10 . peningkatan gairah investasi serta aktivitas ekonomi lainnya. peningkatan keberdayaan masyarakat desa.50 pada tahun 2010 dan meningkatnya rata-rata lama sekolah dari 7. perlu diupayakan pengembangan partisipasi masyarakat dan dunia usaha melalui sistem dan mekanisme yang transparan dan akuntabel. Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui peningkatan profesionalisme. kesehatan dan ekonomi (daya beli masyarakat). dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka melek huruf (AMH) dari 98. Bidang Prioritas Pembangunan Sejalan dengan prioritas daerah diatas.03 pada tahun 2010. peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruang kota dan pusat pertumbuhan. 6.85 pada tahun 2005 menjadi 70. melalui peningkatan kapasitas pemerintahan desa.3. daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencegahan dini terhadap bencana. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan pada terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas. efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan. 9.1. pelaksanaan pembangunan periode 20052010 dititikberatkan pada tiga bidang pokok yaitu pendidikan. Peningkatan kualitas. Peningkatan optimalisasi pengawasan dan penegakan hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia dan prinsip keadilan. selain dukungan alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD). Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.50 pada tahun 2010. serta peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. 7. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dari 66.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat diupayakan melalui perhatian dan perlakuan yang dapat memenuhi aspek penggalian potensi dan kemampuan penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. juga diharapkan trwujudnya budaya hidup sehat yang dilandasi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.25 per 1000 kelahiran menjadi 29.. Hubungan Antara Konfigurasi Permasalahan Dengan Kerangka Intervensi Kebijakan Jangka Menengah KARAKTERISTIK INTERVENSI KONFIGURASI PERMASALAHAN KERANGKA INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU Kelompok 1: PEMERINTAHAN REFORMASI TATA PEMERINTAHAN AKSELERASI PEMBANGUNAN Kelompok 2: PELAYANAN DASAR UNTUK WARGA Kelompok 3: FISIK KERUANGAN PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS PELAYANAN PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA FAKTOR PENUNJANG Kelompok 4: MODAL SOSIAL PEMELIHARAAN KARAKTER LOKAL Dari gambar kita bisa interpretasikan bahwa: kapasitas pemerintahan yang baik akan berdampak pada kemampuannya dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat.567. Pembangunan Bidang Ekonomi diarahkan pada terwujudnya peningkatan keberdayaan ekonomi masyarakat.539.. yang akhirnya diharapkan akan berkontribusi terhadap peningkatan modal sosial berupa ketahanan masyarakat pada BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-11 . dengan sasaran kuantitatif meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat dari Rp.2 Kerangka Relasi Antara Misi dengan Intervensi Kebijakan Pembangunan Konfigurasi isu strategis seperti yang diulas pada Bab II kemudian diletakkan ke dalam kerangka intervensi pembangunan yang akhirnya akan berimplikasi pada pengelompokan misi. 3. Selain sasaran kuantitatif tersebut.pada tahun 2010.880.3.pada tahun 2005 menjadi Rp.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kematian bayi (AKB) dari 39.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. baik pelayanan dasar maupun penunjang.680.

Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. o o Misi 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pengaruh global dan menguatnya nilai religius dan kultural dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Bandung. intervensi pembangunan jangka menengah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok intervensi yaitu: • • • Kelompok Intervensi Perbaikan sistem dan pelaku (pemerintah) Kelompok Intervensi Akselerasi pembangunan Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Dari ketiga karakteristik tersebut harus dijalankan secara proporsional berdasarkan prioritas intervensinya. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Tenteram dan Dinamis. • Intervensi pembangunan harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh pemerintah terutama masalah yang BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-12 . Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. diperlukan tiga jenis intervensi yaitu: • Perbaikan Tata Pemerintahan yang mencakup: o o • Misi 1. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Misi 7. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Ini karena tidak mungkin pelayanan publik berjalan baik bila sistem dan pelakunya masih belum siap. • Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal o Misi 2. Berdasarkan kerangka pikir pada gambar diatas. Misi 6. Namun penguatan harus dilakukan segera pada awal pembangunan agar proses pembangunan berikutnya bertumpu pada dasar yang kuat. Prioritas tersebut harus ditentukan secara rasional berdasarkan prinsip berikut ini: • Tidak mungkin sumberdaya publik hanya dialokasikan pada penguatan internal. Tertib. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya: o Misi 3.

o o Misi 5. dan pelayanan kesehatan. Misi 6. Dengan demikian urutan prioritas Kelompok Intervensi adalah: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Misi 7. Tenteram dan Dinamis. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sifatnya mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya seperti ketersediaan infrastruktur. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-13 . berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. • Keberadaan Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal (faktor penunjang) dalam proses pembangunan merupakan bagian penting tetapi kedudukannya berada dibawah Kelompok Intervensi lainnya karena sifatnya yang tidak terkait langsung dengan permasalahan pembangunan. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Dengan demikian. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Tertib. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh sejauhmana intervensi pada wilayah ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik. pelayanan pendidikan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4.

kebijakan dan program. Dengan adanya tujuan. kebijakan dan program secara lengkap ditampilkan dalam bentuk matriks pada lampiran. sasaran. Akselerasi peningkatan IPM dengan prioritas penataan regulasi dan fokus anggaran pada bidang pendidikan. Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. triwulanan atau bulanan. dirumuskan tujuan. Mewujudkan Good Governance dan Clean Goverment 2. strategi. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sederhana sehingga dapat dilihat benang merah dari seluruh strata rencana strategis ini. Strategi pembangunan Kabupaten Bandung dapat dikategorikan ke dalam tiga Strategi Pokok yaitu: 1. Sasaran menggambarkan tindakan-tindakan/aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dengan memberikan penekanan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efisien. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Untuk mencapai kesatuan pandang dalam rangka melaksanakan misi yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat. maka misi. Sasaran adalah penjabaran dari tujuan. merupakan hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh pemerintah daerah dalam jangka waktu tahunan. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan yang merupakan penjabaran dari kebijakan. Tujuan adalah penjabaran dari pernyataan misi yang merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 3-5 tahun.1 . Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang merupakan rencana yang mencakup upaya-upaya menyeluruh dan terintegrasi untuk mengoperasionalkan tujuan dan sasaran melalui penetapan kebijakan dan program. maka fokus kinerja pemerintah daerah dapat lebih dipertajam dan memberikan arah bagi sasaran yang akan dicapai. 3. strategi. semesteran. tujuan. sasaran. efektif dan ekonomis. Meningkatkan pembangunan yang berfokus di desa.

berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. 4. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Terwujudnya Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas. o o Misi 5. Dengan demikian.2 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI AKSELERASI PEMBANGUNAN 4. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. yaitu: 1.2 . Misi 6.40 pada tahun 2010. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Tertib. Tenteram dan Dinamis. Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8.2.1 STRATEGI UMUM PENCAPAIAN MISI Sebagaimana dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemerataan akses layanan pendidikan. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. • Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pendidikan sebesar 86.1 STRATEGI MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Misi ini dijabarkan dalam 3 (tiga) tujuan.

dan alat kesehatan. Terwujudnya Peningkatan Keberdayaan Perempuan. • Terkendalinya penyebaran dan distribusi obat-obatan. Meningkatnya potensi generasi muda dalam kewirausahaan. • Meningkatnya capaian angka partisipasi sekolah (APM) dan rata-rata lama sekolah (RLS) pada tahun 2010 sebesar 9.50 tahun pada tahun 2010. Meningkatnya ketersediaan media aktivitas dan kreativitas generasi muda. serta menurunnya penyalahgunaan obat-obat-obatan terlarang. Meningkatnya kebugaran jasmani masyarakat dan prestasi olah raga.3 . BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .50%. 3. 2. • Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan. • Meningkatnya kesadaran budaya hidup bersih dan sehat. • Menurunnya angka kematian ibu dan bayi menjadi sebesar 29. dengan Sasaran: • • • • • • • • Terjaminnya keadilan gender dalam penyelenggaraan pemerintahan. pembangunan dan kemasyarakatan.03 tahun serta AMH sebesar 99. • Meningkatnya kualitas dan kuantitas sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. dengan Sasaran: • Meningkatnya angka harapan hidup (AHH) menjadi sebesar 70. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dengan laki-laki. Meningkatnya kualitas manajemen olah raga. • Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha terhadap dunia pendidikan. Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana olah raga bagi masyarakat.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. Generasi Muda dan Olah Raga. Meningkatnya partisipasi generasi muda dalam pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. kepeloporan dan kepemimpinan. makanan. Terwujudnya Peningkatan Derajat kesehatan Masyarakat.

680 pada tahun 2010. 4.4 .2. 2. Terwujudnya Peningkatan Perlindungan dan kesejahteraan Sosial. Terwujudnya Peningkatan Perekonomian Daerah. 2. Meningkatnya keberdayaan penyandang cacat dan perlindungan anak. Meningkatkan keberdayaan generasi muda dan olah raga.2 STRATEGI MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Misi meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat ini dijabarkan ke dalam 5 (lima) tujuan. yaitu : 1. 4. dengan Sasaran: • • Meningkatnya investasi di daerah. dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berusaha dan meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat sebesar Rp. Memberdayakan sumber daya perempuan dalam seluruh aspek kehidupan. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat secara melembaga dan berkesinambungan. Meningkatnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan dan kesehatan 3. Meningkatnya ketahanan sosial individu. Terwujudnya Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. Meningkatnya kesempatan berusaha. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatnya pendapatan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan: 1. Meningkatnya kemampuan penanganan bencana alam dan sosial. 3.567. dengan Sasaran: • • • • • • • Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. Berkurangnya penyakit sosial dan penyandang masalah sosial. Tersedianya bantuan sosial yang optimal. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. keluarga dan masyarakat. Meningkatnya daya saing industri manufaktur.

Meningkatnya akses pemasaran produk daerah. Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Meningkatnya kualitas dan kuantitas komoditas unggulan daerah. dengan Sasaran: • • • • Menurunnya tingkat pengangguran. Meningkatnya tertib administrasi kependudukan. dengan Sasaran: • • • • • Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP). Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat. Berkembangnya kemitraan usaha dan manajemen promosi produk daerah. Menurunnya perkawinan usia dini.5 . 4. 4. Terkendalinya mobilitas dan persebaran penduduk. Terkendalinya Pertumbuhan Penduduk dan Terwujudnya Peningkatan Kualitas Keluarga. yaitu: BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . kecil dan menengah. Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar bagi kegiatan ekonomi daerah. Berkembangnya sentra-sentra produk unggulan daerah.3 STRATEGI MEMELIHARA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Misi ini dijabarkan ke dalam 2 (dua) tujuan. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembangnya anak. Terwujudnya Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • • • • Meningkatnya produktivitas pertanian dan posisi tawar produk pertanian. 5. usaha mikro. Meningkatnya pemberdayaan koperasi.2. Tersedianya informasi pasar kerja. Strategi meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan: • • Meningkatkan keberdayaan sosial masyarakat. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja. Meningkatnya pengelolaan BUMD.

dengan Program: • • • • • • Meningkatnya manajemen penataan ruang yang efektif. Meningkatnya percepatan pembangunan di wilayah pertumbuhan. 3. Menurunnya pencemaran air dan udara.3. Meningkatkan manajemen pengelolaan lingkungan. Meningkatkan penegakan hukum untuk mengurangi perusakan dan pencemaran lingkungan. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Meningkatnya penegakan hukum lingkungan.1 STRATEGI MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Misi mewujudkan kepemerintahan yang baik dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Terpeliharanya • • • • • • Keseimbangan Alam. Terwujudnya sistem pemanfaatan tanah yang efisien dan efektif. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan antara perkotaan dan perdesaan. 4. Terwujudnya Keserasian Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Suatu sistem Pembangunan Yang berkelanjutan. Meningkatnya pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan. sinergistas dan keterpaduan kebijakan dan program Strategi memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan: 1. Meningkatkan percepatan pembangunan yang berkelanjutan. Terkendalinya pertumbuhan wilayah perkotaan.3 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU 4. Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Meningkatnya pembangunan. Meningkatnya upaya konservasi hutan dan rehabilitasi lahan. yaitu : BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatnya pengelolaan dan pelayananan limbah. Meningkatkan efektivitas tata ruang wilayah. dengan Sasaran: Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya akan fungsi strategis lingkungan.6 . 4. 2.

responsif dan akuntabel. dengan Sasaran: • Meningkatnya kualitas sumber daya aparatur secara dinamis dan berkelanjutan. pelaksanaan dan pengawasan. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemahaman dan kepedulian tentang peran. legislatif. profesional. • Meningkatnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pemerintah. 2. hak dan kewajiban serta tanggung jawab masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. Memantapkan kinerja kepemimpinan yang demokratis. yudikatif. Terwujudnya Sinergitas Interaksi Antara Pemerintah. Strategi mewujudkan kepemerintahan yang baik dilakukan dengan: 1. • Terwujudnya konsistensi hukum daerah yang selaras dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. 3. Terwujudnya Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaran Pemerintahan. • Terwujudnya kerjasama dan keterpaduan fungsi dan peran antara eksekutif. efektif. • Terwujudnya sistem dan manajemen partisipatif yang legitimate. Terwujudnya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengambilan Kebijakan Publik. egaliter dan mengedepankan keteladanan. • Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. • Terwujudnya manajemen pengelolaan keuangan daerah yang mantap.7 . • Menurunnya praktek KKN dimulai dari tataran top manajemen. efisien. dunia usaha dan masyarakat secara proposional dan bertanggung jawab. • Meningkatnya peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. • Meningkatnya akses informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. dengan Sasaran: • Meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah. • Meningkatnya kualitas pelayanan publik. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dunia usaha dan masyarakat. transparan. Dunia Usaha dan Masyarakat.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatnya ketersedian sarana dan prasarana ekonomi perdesaan.3. Meningkatnya kemampuan lembaga ekonomi perdesaan. 4. dengan Sasaran: • • • • • • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal perdesaan. Meningkatnya ketersedian akses pemasaran bagi produk perdesaan. Meningkatnya keberdayaan masyarakat perdesaan. 3. Meningkatkan kemandirian desa berdasarkan otonomi yang dimilikinya. Meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan penanggulangan Korupsi. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan daerah. Meningkatnya potensi unggulan desa. sektor swasta. Berkembangnya kehidupan politik yang demokratis di perdesaan. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pembangunan. Mensinergikan interaksi konstruktif diantara pemerintah. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Berkurangnya penduduk miskin di perdesaan.8 . dengan Sasaran: • • • • • Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. partisipatif dan akuntabel. Terciptanya perluasan lapangan kerja di perdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Keberdayaan masyarakat Desa.2 STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA PEMBANGUNAN DESA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Berkembangnya layanan jasa keuangan/permodalan. pembangunan dan pelayanan publik secara transparan. Meningkatnya akses kontrol dan partisipasi elemen masyarakat dalam pembangunan perdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. 2. 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. yaitu: 1.

4. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dengan Sasaran: • • Meningkatnya kesadaran. dengan Sasaran: • Mantapnya peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang kredibel dan adil dalam mejaga dan memelihara keamanan. • • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. Meningkatnya penegakan hukum serta perlindungan HAM di daerah. tentram dan dinamis dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan.1 MEMELIHARA STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG AMAN. Meningkatkan keberdayaan desa dan masyarakat desa dalam pembangunan. Terciptanya ketahanan masyarakat secara optimal dan terpadu. tertib. Terpeliharanya keamanan. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Ketaatan dan Ketaatan Hukum. 3. dunia usaha dan aparatur pemerintah. ketaatan dan kepatuhan hukum masyarakat.9 . Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat.4 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PEMELIHARAAN KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL 4. ketertiban dan ketentraman masyarakat. TERTIB. yaitu: 1. 2. Meningkatkan alokasi dan distribusi pembangunan keperdesaan. Mengembangkan potensi ekonomi perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kinerja pembangunan desa dilakukan dengan: 1. Terciptanya tatanan politik yang demokratis yang menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban politik masyarakat. Terwujudnya Sasaran: • • Pengembangan Kehidupan Yang Demokratis. dengan Meningkatnya kesadaran politik masyarakat. 3. 2.4. TENTRAM DAN DINAMIS Misi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tentram dan dinamis dilakukan dengan: 1. Memantapkan stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat; 2. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; 3. Memantapkan budaya politik yang demokratis;

4.4.2 STRATEGI MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu : 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa, dengan Sasaran: • • Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama setiap individu, keluarga, masyarakat dan penyelenggara pemerintahan; Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat untuk membentengi diri dari krisis nilai sebagai dampak negatif perubahan dan pembangunan. 2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial dan Pengembangan Potensi Umat, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial dan budaya; Terwujudnya solidaritas dan harmonisasi sosial; Terwujudnya keteladanan dan kepedulian sosial; Meningkatnya peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pembangunan; Terwujudnya sinergitas potensi umat.

3. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Beragama, dengan Sasaran: • • • Meningkatnya kualitas pendidikan agama pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan; Meningkatnya kualitas penataan, pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana keagamaan; Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan ibadah.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi mewujudkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa dilakukan dengan: 1. Mentransformasikan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 2. Memberdayakan potensi untuk melalui optimalisasi peran dan fungsi lembaga keagamaan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama.

4.4.3 STRATEGI MENGGALI DAN MENUMBUHKEMBANGKAN BUDAYA SUNDA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan masyarakat terhadap Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • Meningkatnya apresiasi dan pengembangan nilai budaya sunda; Meningkatnya pengenalan dan kecintaan terhadap budaya sunda.

2. Terwujudnya Pengembangan dan Pelestarian Kekayaan Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya pengembangan dan pelestarian seni dan budaya sunda; Meningkatnya penerapan nilai budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari; Berkembangnya produk budaya sunda; Berkembangnya media dan sarana apresiasi budaya sunda; Meningkatnya pengelolaan keragaman budaya.

3. Terwujudnya Ketahanan Budaya Masyarakat, dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai luhur budaya sunda; Menurunnya resistensi nilai budaya; Meningkatnya kepercayaan diri dan kokohnya jati diri sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda; Meningkatnya peranan budaya sunda dalam memperkokoh budya nasional.

Strategi menggali dan menumbuhkembangkan budaya sunda dilakukan dengan: • Meningkatkan pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya sunda sejak dini mulai dari tingkat keluarga/rumah tangga dan tingkat pendidikan dasar.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 11

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

• •

Reaktualisasi nilai-nilai budaya sunda sebagai salah satu dasar etika sosial dalam kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat; Meningkatkan sarana pengembangan dan pelestarian keragaman budaya.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 12

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Keuangan daerah pada prinsipnya merupakan hak yang harus dikembalikan kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung melalui program

pembangunan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan daerah semaksimal mungkin harus diupayakan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan keuangan daerah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pendapatan adalah batas minimal yang harus dicapai oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan. 2. Penetapan terget pendapatan harus didasarkan pada data potensi yang akurat dengan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. 3. Belanja adalah batas maksimal yang dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya program-program pembangunan. 4. Pembiayaan adalah partisipasi pemerintah daerah dalam investasi di daerah yang bersifat produktif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dan kontribusi pendapatan asli daerah. 5. Hubungan anggaran dengan program pembangunan harus didasarkan pada paradigma “money follow the program”, sehingga diharapkan dapat melahirkan program yang berhasil guna dengan penggunaan anggaran yang rasional, efektif dan efisien. 6. Secara bertahap harus terwujud keseimbangan antara penggunaan anggaran yang bersifat rutin dengan anggaran yang bersifat pembangunan. 7. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945, alokasi anggaran untuk pendidikan secara bertahap harus meningkat mendekati 20% (dua puluh persen) dari jumlah anggaran. 8. Pelaksanaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel. menghasilkan produktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-1

yang menambah ekuitas dana lancar.1 Arah Pengelolaan Keuangan Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. b. • Pajak Penerangan Jalan. b) Hasil Retribusi Daerah. • Pelayanan Kesehatan. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kabupaten Bandung pasal 20 (1) terdiri dari: 1. Pembiayaan Daerah Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. • RSD Majalaya. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. Belanja Daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD). • Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gol.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. • RSD Soreang. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. 5.1 Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Yaitu : a) Hasil Pajak Daerah. • Pajak Hotel. • Pajak Parkir.1. C. dan c. • Pajak Reklame. Pendapatan Daerah. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-2 . yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. • Pajak Hiburan. • Pajak Restoran.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Pelayanan Persampahan/Kebersihan. • Pelayanan Pemakaman. • Ijin Pemanfaatan Hutan. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. • Perijinan Perdagangan. • Pelayanan Pasar. • Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah. • Ijin Pemanfaatan Tanah. • Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah. dan Hasil Ikutannya. d. c) Bagian Laba Usaha Daerah. • Jasa Usaha Tempat Rekreasi dan OR. • Ijin Gangguan. Lain-lain PAD yang Sah. • Fatwa Pengarahan Rencana Pemanfaatan Lokasi. • Perijinan Penyelenggaraan Koperasi. • Jasa Usaha Terminal. Hasil Ternak. • Pemeriksaan Hewan Ternak. • Bank Karya Produksi Desa. • PDAM • Bank Pembangunan Daerah. • Ijin Mendirikan Bangunan. • Perijinan Transportasi. • Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil. • Jasa Usaha RPH. • Pengujian Kendaraan Bermotor. • Perijinan Industri. • Jasa Usaha Penyedotan Kakus. • Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. • Parkir di Tepi Jalan Umum. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-3 . • Izin Pembuangan Limbah Cair. • Ijin Pelayanan Ketenagakerjaan. • Jasa Ijin Usaha Kebudayaan dan Pariwisata. • Penggantian Biaya Cetak KTP.

• Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). 2. c) Dana Alokasi Khusus. c. Bagi Hasil Pajak. b. Iuran Provisi Sumber Daya Alam. a. f. Dana Perimbangan. a. Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Termasuk PPh 21). • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Penerimaan dari Sektor Minyak Bumi. e.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan. 2. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. Pajak Bumi dan Bangunan. • Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah. • Penerimaan Lainnya. Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. b. • Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah (TP/TGR). 3. b) Dana Alokasi Umum (DAU). d. Terdiri atas : a) Dana Bagi Hasil. • Bantuan Keuangan dari Propinsi. • Penerimaan Jasa Giro. g. c. • Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Iuran Eksploitasi (Royalti). BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-4 . Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam. • Penerimaan Pemanfaatan Hutan. 1. • Penerimaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. d) Dana Perimbangan dari Propinsi. • Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). • Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. Iuran Tetap/Landrent.

000.000.000.00 1.000.00 8.00 8.000.000.00 2.00 6.00 4.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.000.00 7.000.000.000.000.000.00 5.00 7.00 3.000.00 1.000.000.000. (persamaan regresi terlampir).000.000.000.00 5.00 4.000.000.000.000.00 0.000.000.00 6.00 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Nilai PDRB Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Rp Juta 10.00 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Tahun Proyeksi PDRB BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-5 .000.000.000. Untuk memprediksi pendapatan daerah lima tahun kedepan diperlukan suatu data pendukung yang salah satunya adalah data PDRB.000.00 0.00 3.00 9.13 %/tahun.000. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan Kabupaten Bandung rata-rata setelah krisis 1999-2004 sebesar 2.000.000.00 2. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Bandung 1995-2004 9.000. Perkiraan PDRB Kabupaten Bandung dilakukan dengan memperhatikan Nilai PDRB Konstan tahun 1995-2004. Proyeksi dilakukan dengan model regresi linear dengan mencari persamaan regresi masing-masing sektor.000.000.000.2 Perkiraan Pendapatan Daerah Perkiraan pendapatan daerah akan memberi gambaran tentang pendapatan daerah dari tahun 2006 sampai tahun 2011.000.000.1.

32 419.72 1.958.579.889 Listrik dan Gas 259.92 6.42 874061.777.94 393723.438.388.9508 Bangunan & Konstruksi 361.68 398.18 436493.230.8969 615149.233.954.564.5983 453.365.6371 205029.553.037.01 190.66 3.8 4497375.76 3.8458 435491.377 1259891.686.48 196.48 171. Hotel dan Restoran 955.61 70765.57 1.73 3.491.637.755.91 316.55 891449.524 235435.1566 195887.23 185.960.255 1155081.78867 75925.2839 606540.015.491.572.922.868.273.549 222369.622 4201665.260.797.037.755.261.73 6.328.875.300.63 328.50467 81085.89 346.24 324.310.41 362.52 300.99 64.51 7.26 563497.15 839285.978 72485.95 218014.53 472.82 193.030.874 226725.05 457878.536.063.883.20 725.78 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-6 .97 8.687.61 447186.3207 388446.96 864.15 998.174 244146.861.148.71 325.8318 572106.61 3.164.8969 200458.064.963.800.58 791.361.862.29 69.80 334.142.051.900.849 239791.64 54.90 358.63 6.57 1102676.791.942.3774 209600.796.586.16 8.7408 426082.43 191317.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.333.33 58.428.119.92 6.11 306.08 343.709.10 6.108.5099 6.51 377.195.955.91 215.29 220.4448 580715.742.48 PDRB Keuangan Jasa 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 874.618.55 162.53 1.67 696.694 77645.22 493.174.010.90 53.12 491.209.307.465.05 4.71 703.01 821897.455.65 336.513.483.785.766.596.209.6708 597932.10 743.69 908837.332.787.381.018.465.16 940.804.59933 79365.64 203.496.520.560.5307 407264.199.73 3.01 7.81 294.438 1312296.56 1417106.82 379037.607.77 3610245.588.93 472.592.93 3.963.355 3758100.533 4053810.738.546.919.1177 214170.48 150.370.71 7.873.738.90 330.16 804509.858 218741.6358 416673.530.59 165.28 3.430.32 415108.564.52 671.015.99 55.711 4349520.375.839.50 61.88333 74205.894.35 935.75 7.28 856673.570.56 8.813.716.312.02 896.075.499 1364701.444 3905955.07 3.1 Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan Sektor Primer Tahun Pertanian Pertambangan dan Galian 50.95 7.903.89 404416.63 537.190.316 1207486.82 986.4257 397855.38 56.92 210.75 425801.59 463.64 481.37 8.41 Industri Pengolahan 3.021.16 304.251.687.56 169.03 1.561.847.812.795.199 231080.97 556.621 Pengankutan dan Komunikasi 274.990.443.034.0578 589323.083.941.780.016.72 217.44 158.242.50 304.96 690.20 6.104.580.534.125.449.32 479.499 Sektor Sekunder Sektor Tertier Perdagangan.837.647.809.590.84 385.299.593.837.771.10 230.743.797.051.38 211.25 54.73 753.35 7.

00 37.00 89.00 60.410.00 2006 123.000.00 49.000.694.265.597.00 87.000.00 757.00 62.853.000.000.000.699.00 1.000. diperlukan pula data-data pendukung seperti data pendapatan historis Kabupaten Bandung seperti pada tabel dibawah ini.00 22.000.00 988.000.000.000.00 61.646.168.000.000.000.00 1.000.575.000.145.00 53.004.448.000.043.500.140.241.500.395.798.240.333.816.00 1.911.00 1.000.112.080.00 46.00 43.00 81. Tabel 5.00 37.347.511.000.00 11.00 4.00 5.000.000.000.000.000.000.00 830.830.205.00 749.602.000.500.115.000.962.120.177.500.000.188.697.103.000.739.254.063.820.00 6.707.00 4.00 94.000.000.447.00 76.000.00 12.000.840.652.000.00 1.00 2005 136.500.000.000.000.00 10.000.237.00 802.344.610.646.500.000.275.00 726.000.000.00 18.874.00 929.000.00 1.637.000.00 102.505.012.884.938.976.093.000.608.367.375.00 15.00 52.240.000.538.000.110.00 80.036.290.00 37.000.263.895.000.310.000.185.833.000.636.00 30.318.00 45.978.598.00 Sumber : RKPD Kabupaten Bandung 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-7 .927.000.00 16.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain data PDRB diatas.500.000.118.000.000.500.000.000.000.000.668.316.000.2006 No A 1 2 3 4 B 5 6 7 8 C Uraian Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah JUMLAH 2002 75.00 101.114.00 2004 119.024.00 38.500.749.000.000.719.001.00 24.00 2003 91.000.000.00 1.761.000.045.000.572.000.935.331.000.919.00 1.2 Anggaran Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002.318.000.955.000.190.000.540.00 7.000.000.00 654.658.790.00 849.890.000.506.200.00 1.185.

90 -7.51 6.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.3 Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002 – 2006 Bagian Laba Usaha Daerah 208.56 1.61 27.93 27.91 10.58 11.33 -22.00 352.68 -2.37 -80.53 31.39 -1.07 25.68 29.25 98.03 6.45 7.61 97.20 -1.25 2.33 8.50 13.69 Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah 968.53 20.32 13.66 34.49 16.81 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 53.56 120.32 20.56 16.01 45.69 54.63 221.83 7.00 163.81 Tahun Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD Perimbangan Pendapatan Daerah 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 Rata-rata 3.22 14.35 9.33 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak -19.30 39.11 13.98 12.91 4.28 6.43 Sumber : Hasil analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-8 .36 0.00 95.63 -9.79 13.47 -29.19 17.11 0.30 Dana Alokasi Umum 10.00 300.53 14.09 20.

keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi. Perkiraan PAD untuk hingga tahun 2011 diperoleh menggunakan metode taksiran sederhana.4 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-9 . Pendapatan Asli Daerah Berdasar pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. pendapatan bunga.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung A. jasa giro. selain unsur PAD yang telah disebut di atas. pasal 6(2) menjelaskan tentang lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Perkiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5. potongan. atau pun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. dengan mengasumsikan kenaikan PAD setiap tahunnya tetap. yaitu penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan. juga realisasi pencapaian PAD Kabupaten Bandung.

542.466.67 13.000 59.884.003 1.976.000 46.699.425.196 203.575.453 86.000 35.109.237.000 12.500 136.4 Perkiraan PAD Kabupaten Bandung 2007-2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Pajak Daerah 37.428 Bagian Laba Usaha Daerah 1.920 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 7.200.801 50.808.09 12.190.784.739.000.000 24.459 178.265.000 52.906.000 40.333.110.247.171.500 43.347.190.000 10.254.000.63 -9.070.253.554 2.266.000 15.000 123.063.500 49.331.965.556 Pertumbuhan (%) 20.94 8.705 3.96 11.53 31.452.684.212.205.594 PAD 75.310.505.318.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 46.639.000.739.000 22.91 Sumber : Analisis 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-10 .22 5.000.680.549 158.000 38.000 4.105 79.241.500.687 65.000 16.901.093.761.667.447.500.120.853.114.507.344.870.340 54.318.697.500 119.853.000 9.611 71.036.50 13.011.874.240.477.798.820.275.610.098.840.000 6.000 27.000.127.475.230.919.012.962.000 91.916 43.400 60.653.694.702.895 142.000 21.000.658.834.802.000.613 Retribusi Daerah 30.109.907.000 37.637.004.598.218.000 53.728.742.360.292 6.833.000 131.230.768.233 47.621.000 37.200.

000 150.000 Rupiah 100.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Pajak Daerah Retribusi Laba Usaha Lain-lain PAD Hasil perhitungan tersebut.000. dengan asumsi kenaikan dana perimbangan tiap tahunnya tetap. Dana Alokasi Khusus (DAK). begitu juga pencapaian realisasinya. Dana Perimbangan Dana perimbangan merupakan alokasi dana yang diperoleh dari pemerintah maupun provinsi yang diperoleh dari bagi hasil pajak provinsi maupun pusat yang dipungut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan formulasi pembagian yang telah ditetapkan maupun dari dana pemerataan.000.000. Perkiraan perolehan dana perimbangan hingga Tahun 2011 disini juga menggunakan metode taksiran sederhana.000. B.000.000. dan Dana Perimbangan dari Provinsi. Lebih jelasnya perkembangan dana perimbangan tersebut adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-11 .000. Unsur-unsur dana perimbangan terdiri atas: Bagi hasil pajak dan bukan pajak.000.000.000 50. Dana Alokasi Umum (DAU).000 200.000. berdasarkan asumsi bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan daerah berjalan dengan baik.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi PAD Kabupaten Bandung Hingga 2011 250.

375.617 1.185.000.774.000.646.168.575.086.636.000 757.646.977.080.000.681.876.290.000 1.209 Pertumbuhan (%) Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Perimbangan 749.000 24.000 21.000 802.552 Dana Alokasi Umum 654.490.000.316.765.000 4.000 86.023 81.118.000.776.137 182.351.193.118.935.000 18.851.890.968 84.319 162.938.658.396 Dana Alokasi Khusus 1.800.000 89.000 1.000 101.078 1.19 6.955.911.686.039 1.768.000 81.731.177.15 7.000.401.800 Keuangan dari Propinsi 45.966 82.928.223.103.572.064.630 1.143.046.609.000 1.000.663.000 87.505.000.263.661.000 726.284.469 1.434.240.552.000 76.671.000 102.930.818.036.500 80.5 PERKIRAAN DANA PERIMBANGAN KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2011 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 94.557.000 29.608.290.898.000 929.902 1.51 6.644.000.077.500 988.20 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-12 .045.712.000.816.305.310 128.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.356 1.339.207.520.837.471.318.828.000 114.000.763.807.000 1.020.790.000.09 7.000.500.937.978.927.597.000 26.888.000 1.03 7.188.668.830.30 39.145.480.882.205.000 849.572 1.535.770 144.251.97 7.741.646.696 83.000 19.395.470.957 13.35 9.

000.000 400.000.000.000 Rupiah 1.600.000.000. maka sulit untuk membuat proyek atau perkiraan item anggaran pendapatan ini. Karena sifatnya sebagai dana kontingensi.000.000.000 200.000. Lebih jelasnya perkiraan pendapatan lain-lain pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun Tahun 2011 adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-13 .000 1.000. C.000. yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.000.000 800.000.000.000 1.000. DAU maupun DAK.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi Dana Perimbangan Hingga Tahun 2011 2.000.400.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Bagi Hasil Alokasi Umum Alokasi Khusus Propinsi Perhitungan tersebut disumsikan variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan tersebut berjalan normal baik pada pembagian pajak.000 600.000.000.000.200.800. Oleh sebab itu perkiraan besaran nominal pendapatan lain-lain pada perkiraan pendapatan ini hanya merupakan selisih dari total pendapatan dan perkiraan item pendapatan diluar pendapatan lain-lain.000.000.000.000 1. Lain-Lain Pendapatan yang Sah Pendapatan lain-lain yang sah yang merupakan dana kontingensi/penyeimbang dari pemerintah.000 1. besaran dana tersebut sangat fluktuatif sesuai dengan realisasi aktual tahun anggaran berjalan.

367.000 2.61 27.001.83 7.004.185.37 7.000 Tahun 1.500 136.669.56 1.000.447.000 0 2002 2004 2006 2008 2010 PAD Perimbangan Lain-lain Pendapatan BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-14 .977.043.403.538.500 988.000.000 1.000 1.185.902 1. Tabel 5.718.000 60.602.471.000.000.435.367.928.000 929.6 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2006 Lain-lain Pendapatan yang syah 5.702.588 1.895.76 Pertumbuhan PAD dan Perimbangan (%) Pendapatan Lain-Lain yang Sah 5.697.49 6.732.448.826 2.749.719.140.000.798.686.976.768.707.000 1.337.895 142.938.668.818.549 158.853.000.141.680.609.7 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006*) 2007 2008 2009 2010 2011 PAD 75.742.360.143.000.639.000 1.03 6.927.594.115.000 1.230.290.986.761.263.63 Pendapatan lain-lain yang sah hingga tahun 2011 tidak diproyeksikan karena variabel pendukungnya tidak tetap.000.000.557.000 500.14 7.000.505.834.000.807.275.375.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 61.816.957 20.356 1.500 119.500 1.763.937.646.000 11. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bandung hingga tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.000.898.024.000 1.506.140.000 91.205.511.890.728.500.37 -80.749.112.602.802.196 203.109.188.512 Keterangan : *) Angka merupakan target tahun 2006 Sumber : Hasil analisis 2006 / Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 2.144.374.410.851.000.000 61.237.251 1.000 Pendapatan 830.362 1.719.331.000 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan (%) 968.662.500.000 60.000.115.57 7.000 849.000 131.630 1.000 123.68 -2.000.845.667.000 1.000 62.410.000 62.459 178.58 11.000.000.039 1.556 Perimbangan 749.540.575.000 11.000.694.

381.000 21.382.000 870.5 .000 125.000 101.000. DSCR < 2.000.576.000 13 RSD Soreang BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-15 .160.236.000 1.675.674.992.957.885.000 4.036.000 307. dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery).134.020.594.000 85.000 5.044.250.5 .000 MODAL PUBLIk 2.000 85. Analisa Kemampuan Pinjaman daerah Analisa kemampuan pinjaman daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana pinjaman baru.000 1.000 186.282.577. serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.875.440.968.850.000 3.569.000 1.000 252.450.415.000 5.000 6.154.000 38.000 1.640. Rumus yang digunakan adalah dengan menentukan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) dengan rumusan sebagai berikut: DSCR = Y C C = Besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Y = Pendapatan Daerah.000 3. penerimaan SDA.599. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru.824.330. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.000 OP APARAT MODAL APARAT OP PUBLIK 20.000.000 10.250.000.000.440.000 6.394.163.281.000 2.000 95.804.000 12.793.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D.890.902.800.197.965.5 .950.000 31.000 67. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.996.640.000 4.000 166.074.000.000 8.000 1.000 5.105.986.766.594. dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.131.000 1.946.318.455.000 84.000 2.935.790. dan bagian daerah lainnya OM = Belanja Operasi dan Pemeliharaan.000 1. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.957.726.000.000 85.875.094.996. Analisa DSCR untuk Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut: BELANJA OP DAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2005* (OM) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SKPD Disdik Dinkes Dispertan Disnakan Dinkesos DKCKB Kimtawil DPU Disnaker Diskop BLKD RSD Majalaya 219.710.065.520. DSRC = 2.000 21.000 1.000 433.009.000 Jumlah 22.000 87. DSCR > 2.000 6.380.349.000 1.513. didapat dari rumus berikut: Y = P + M – OM P M = Pendapatan Asli Daerah = Pajak Daerah.786.135.000 9.000 2.000.413.000.000.313.028.

000.000 36.000 555.000 2.000 297.000 4.588 9.019 Jumlah 312.511.000 104.000 37.000 3.121. Bandung BESARAN KEWAJIBAN PINJAMAN DITAMBAH BIAYA LAINNYA TAHUN ANGGARAN 2005 ( C ) No 1 2 Penyertaan Modal Jenis Biaya Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Jumlah 326.235 22.876.000 * = Belanja OP dan Modal yang Menunjang Langsung terhadap Akselerasi Pembangunan Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 PENDAPATAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2005* (P + M) No 1 2 3 4 5 6 PAD Bagi Hasil PBB Bagi Hasil BPHTB Bagi Hasil PPh 21 Bagi Hasil SDA Bagi Hasil Prov Jenis Pendapatan Jumlah 108.203.646.000 MODAL APARAT 149.701 57.021 * = Pendapatan Daerah diluar Bantuan dari Pusat maupun Provinsi Sumber : DPRD Kab.209.000 Jumlah 404.204.650.000 OP PUBLIK MODAL PUBLIk 85.000 233.960.000 419.220.500.360.731.549.2 ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.931.550.000. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.982.360.904.078.729.093.000 592.710.864.697.581 (Layak memperoleh pinjaman) C C 5.312.000 Jumlah Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 DSCR = Y ( P + M ) − OM = = 2.664.000.677. kesehatan.215.000.557.931.000.507.000 30.304.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No SKPD OP APARAT 170.443.000 127.000 4.000 14 Kantor Perpustakaan 15 DLH 16 Disperindag 17 Disbudpar 18 Dinas Kebersihan 19 KPMD Jumlah 853.500.000 1.725.170.000 1.050.452. pendidikan.000 30.344.085.500.990.000 42. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.000 17.000 1.302.031.489. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-16 .000 1.988.322.593 104.885 10.000 1.500.

belanja pegawai. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-17 . d. belanja modal. b. 5. bunga. Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan 2. h. propinsi dan kabupaten seperti upaya peningkatan IPM.3 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN Dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 diperlukan kerangka kebijakan umum pembiayaan pembangunan untuk memprioritaskan program-program pembangunan Kabupaten Bandung. bantuan sosial. Kebijakan pembangunan pemerintah pusat.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Klasifikasi belanja menurut jenis belanja sesuai PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah terdiri dari : a. diperlukan upaya strategi pengurutan atau pembobotan prioritas program pembangunan daerah. g. Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Mengingat terbatasnya anggaran pembangunan daerah serta kemampuan sumberdaya pembangunan dalam mewujudkan program-program pembangunan. dan i. Prioritas pembangunan 3. c. hibah. belanja barang dan jasa. Upaya pembobotan kerangka intervensi dilakukan dengan memperhatikan : 1. subsidi. f. belanja tak terduga. yaitu : 1. Alokasi Anggaran pembangunan tahun-tahun sebelumnya 5. Isue Strategis Pembangunan Daerah 4. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 3. e. pendidikan 9 tahun dengan anggaran 20 % dari biaya pembangunan dan lain-lain. Secara umum Misi Pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 dapat dikelompokkan menjadi 3 kerangka intervensi pembangunan. Visi dan Misi Bupati 2. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan.

Upaya perbaikan tata pemerintahan setiap tahun alokasinya terus menurun karena diasumsikan setiap tahun telah terjadi perbaikan pelayanan pemerintahan yang baik. Berdasarkan pertimbangan tersebut. sehingga dengan bertahap pembangunan tata pemerintahan dikurangi bobotnya.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kerangka Intervensi Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan memeiliki alokasi APBD yang cukup tinggi pada awal periode pembangunan karena merupakan landasan utama untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam upaya peningkatan pelayanan publik dan akselerasi pembangunan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-18 . arahan alokasi bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah. Kerangka Intervensi Upaya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal memiliki alokasi rendah karena karakter tersebut sudah terbentuk dalam masyarakat dan masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan dan pemerintah memfasilitasi untuk memeliharanya. Kerangka Intervensi Upaya Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya memiliki alokasi APBD relatif sedang dalam awal pembangunan dan untuk selanjutnya terus meningkat dalam upaya terus terjadinya peningkatan pelayanan publik.

00% TAHUN 5 % APBD 9.00% TAHUN 4 % APBD 16.18% 5.00% TAHUN 2 % APBD 43.00% TAHUN 3 % APBD 23.08% 69..25% 100.94% 41..23% 7.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel .00% Sumber : Hasil Analisis dan Focus Groups Discussion 2006 Diagram Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi 90.88% 100.00% 10.00% Tahun I Perbaikan Tata Pemerintahan Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-19 .00% 6.33% 100.00% 30..09% 100. Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi PROPORSI ALOKASI APBD UNTUK 5 TAHUN UNTUK TIAP KATEGORI INTERVENSI PEMBANGUNAN TAHUN 1 KERANGKA INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal % APBD 52.00% 20.82% 9.00% 0.00% 8.09% 81.00% 80.75% 50.69% 100..00% 60.00% 40.00% 70.00% 50.67% 75...

..Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Perkiraan belanja untuk setiap misi dan kebijakan pembangunan dilakukan dengan membobotkan kepentingan tiap misi dan prioritas pembangunan untuk setiap kelompok intervensi pembangunan.. Bobot tiap misi pembangunan adalah sebagai berikut : (Lihat Tabel ..) BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-20 ..

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 5.250% 1.758% 1.941% 6.000% 7. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 3.758% Misi 8.495% 2.387% 0.042% 1.758% 2.208% 5.099% 1.282% 1.081% 9.282% 0.250% TAHUN 3 % APBD 23.099% 5.273% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-21 . Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) 1.099% 1.042% 1.099% 5.208% 9.846% 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Perbaikan Tata Pemerintahan KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.099% 1.758% 0.091% 0.231% 1.758% 0.282% 0.282% 0.000% 0.282% TAHUN 5 % APBD 9.198% TAHUN 4 % APBD 16.758% 1.000% 6.156% 6.495% 1.282% 5.273% 0. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 52. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2.081% 8.375% 6. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 11.000% 1.128% 0.750% 5. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1.231% 1.077% 1. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 2. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 6.618% TAHUN 2 % APBD 43.375% 4. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 3.667% 1.156% 11. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 4.396% 3.

Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga TAHUN 2 % APBD 50.731% 17.577% 1. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 2. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 4.000% 1.881% 18.923% 2.538% 15.923% 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 3.282% 1.098% Misi 4.538% 1. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4.577% 15.577% 17.282% 1.308% 17. 1.113% 1.731% 1.881% 2.098% 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya KATEGORI INTERVENSI Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Misi 3.113% 1.113% 1.923% 2.016% 10.731% 0.538% 11. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1.731% 1.731% 1.098% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-22 .282% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.308% 1.881% 1.000% TAHUN 5 % APBD 81.016% 11.113% 1.113% 11. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 41.308% 18.016% 1.282% 1.923% 18.098% 10.000% 0.176% 1.818% 10.231% TAHUN 4 % APBD 75.000% TAHUN 3 % APBD 69.282% 15.

692% TAHUN 4 % APBD 8.588% 0.833% 0.923% 7.625% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis Misi 5.091% 0.769% 0.882% TAHUN 2 % APBD 6.113% 2. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.625% 0.588% 0.625% 0. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 2.909% 0.282% 1.250% TAHUN 3 % APBD 7.294% 3. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 2.923% 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-23 .731% 1. Tertib. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 3.833% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 5. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.769% 0.909% 0.769% 6.588% 0.625% 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 3.692% 8.392% 1.564% 5.192% 5.833% 0.113% 1.333% TAHUN 5 % APBD 9. 1.098% Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. 1.769% 0.769% 0.909% 0.588% 0. Tenteram dan Dinamis. 1.339% 5.833% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.128% 6.

833% 0.625% 0.769% 0.833% 0.833% 0.769% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 3.909% 0.625% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.909% 0.769% 0.909% 0.769% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama Misi 6.833% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 4.769% 0.588% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-24 .769% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahanan Budaya Masyarakat 0.625% 0.833% 0.625% 0.833% 0.909% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 3.588% 0.588% 0.588% 0.588% 0. 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.909% 0.588% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 2.625% 0.625% 0.

Dari beberapa bentuk sumber pendapatan diatas.1 Identifikasi Bentuk – Bentuk Sumber Pendapatan Baru Pengembangan Sektor Tertier Laju Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator pencapaian keberhasilan suatu pembangunan dan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Pajak Ijin Mendirikan Bangunan. 6. 8. ada sebagian yang berfungsi sebagai pengendalian pembangunan diantaranya: IMB yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam dalam pengembangannya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Bagian Laba Usaha Daerah. 7. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-25 . Pagu indikatif untuk tiap program pembangunan dituangkan dalam Bab VII. Sedangkan yang lainnya merupakan potensi yang bisa langsung dikembangkan oleh pemerintah daerah walaupun penerimaannya dalam bentuk bagi hasil. artinya sektor tersier merupakan potensi sumber pendapatan daerah kabupaten Bandung yang masih bisa dioptimalkan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu indikatif tiap program pembangunan dilakukan dengan menggunakan metoda bobot tiap program dikaitkan dengan visi. • Bank Karya Produksi Desa.1 dapat diambil kesimpulan bahwa sektor tersier mempunyai trend laju pertumbuhan yang paling baik dibanding sektor lain.4. kebijakan serta akselerasi pembangunan. Tingginya laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. • Bank Pembangunan Daerah. 2. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). misi. yang pada tujuan akhirnya adalah untuk pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. 3. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. Sektor tersier merupakan penyumbang pendapatan daerah melalui : 1.4 5. 5. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Dari hasil Proyeksi pada table 5.

2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal adalah pengembangan ekonomi setempat dengan menggunakan sumberdaya dan faktor-faktor produksi lokal. diantaranya : Pengelolaan • Kelompok Tani • Disbudpar • Dispertan Kegiatan Usaha • • Wisata Agrobisinis Geowisata • • • • • Kelompok Pembuat Makanan Tradisional • Diskop dan UKM • Kelompok Pengrajin • Diskop dan UKM • Produksi Makanan khas Kabupaten Bandung. Produksi Kerajinan Tangan Permodalan Pemkab Bandung Bantuan Internasional BPD Lembaga Keuangan Daerah. Lokasi Kabupaten Bandung yang mengelilingi wilayah Kota Bandung akan menjadi tujuan utama para investor di bidang properti untuk memperluas pembangunannya ke Kabupaten Bandung. Panas bumi merupakan sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Bandung. diantaranya : • • • • Sektor Agrobisnis (Pertanian. 5.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan analisis terhadap LPE per Sektor dan gambaran umum kondisi Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa sektor tersier (perdagangan dan jasa) merupakan sektor potensial. Pengembangan ekonomi lokal dapat memberikan efek multiplier perekonomian setempat dan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. peternakan.4. akibatnya pembangunan properti mulai bergeser dari perkotaan ke wilayah sekitarnya (perbatasan). Panas Bumi dan Bangunan/konstruksi (Properti) merupakan sektor ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi karena tingginya permintaan pasar. sedangkan properti merupakan kebutuhan primer manusia yang akan semakin tinggi permintaannya seiring dengan tingginya laju Pertumbuhan Penduduk dan sempitnya lahan. Peluang Pasar • Wisatawan Lokal dan Mancanegara Penyerapan Tenaga Kerja • Petani • Masyarakat Sekitar Domestik • Industri kecil Masyarakat Sekitar Domestik dan Internasional • Industri kecil Masyarakat Sekitar BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-26 . perkebunan. Terdapat beberapa potensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Bandung. kehutanan) Sektor Pariwisata Sektor industri kecil Sektor Energi (Panas Bumi) Beberapa aktivitas Perekonomian Lokal yang Potensial untuk dapat berkembang di Kabupaten Bandung.

ketangguhan tersebut disebabkan oleh karakterisitik dan keunggulan dari agribisnis itu sendiri. peningkatan pendapatan petani. keuntungan bagi sipengelola.3 Pengembangan Agribisnis Secara luas telah diakui. penyerapan tenaga kerja.4. Bahkan kegiatan agribisnis pertanian ini mampu meraup keuntungan memadai dan menciptakan iklim kondusif yang sangat diperlukan untuk peningkatan perekonomian nasional pada sektor lain. Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang lalu membuktikan. serta penyediaan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Teknologi dan keterampilan kegiatan agribisnis pertanian pada umumnya dapat dikuasai oleh para pelaku usaha serta dapat dikembangkan secara mudah sesuai kebutuhan. bahwa pertanian merupakan sektor tangguh pendukung pembangunan sektor industri. Sebenarnya. yang didalamnya terkait BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-27 . peningkatan nilai tambah komoditi pertanian. diantaranya : LUEP BUMDES KUBE KOPERASI dan UKM USAHA POLA SYARIAH BMT Dll 5.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pengelolaan • Kelompok Peternak • Disnakan • Kelompok Seniman • Disbudpar • DLH (Pertambangan dan Energi) • Swasta Kegiatan Usaha Pengolahan Hasil Ternak Pagelaran Seni Sunda Pengelolaan sumber daya panas bumi • • Pemkab Bandung Swasta Permodalan Peluang Pasar Domestik Penyerapan Tenaga Kerja • peternak Masyarakat Sekitar • Seniman Masyarakat Sekitar • Masyarakat Domestik dan Internasional Domestik Terdapat • • • • • • • beberapa lembaga yang dapat membantu mendorong pengembangan ekonomi lokal. Usaha agribisnis umumnya mengutamakan penggunaan bahan baku lokal yang banyak tersedia di dalam negeri dan sesedikit mungkin menggunakan komponen impor. sektor agribisnis pertanian tetap mampu mempunyai peran dan memberikan kontribusinya terhadap terhadap devisa negara. Pembangunan pertanian kedepan harus merupakan upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh pada semua aspek ekonomi. bertahan goncangan ekonomi nasional.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, serta subsistem jasa penunjang agribisnis pertanian. Ini berarti bahwa di dalam pembangunan ekonomi nasional mendatang, sektor agribisnis pertanian tidak lagi hanya sekedar ditempatkan sebagai pendukung atau pelengkap.

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-28

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB VI KEBIJAKAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan penjabaran dari kebijakan. yang merupakan

6.1 Kebijakan untuk Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik (Misi 1) Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama, yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik, efisien, efektif, partisipatif berlandasakan hukum, adil, demokratis, transparan, responsif, berorientasi konsesus, kesetaraan, akuntabel dan memiliki visi strategik. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik, peran kepemimpinan merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selain pemantapan sistem dan manajemen kepemerintahan juga perlu dimantapkan kepemimpinan yang demokratis, egaliter dan mampu

mengedepankan keteladanan. Kebijakan umum dan program yang diperlukan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik perlu ditunjang kebijakan : A. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur; dengan Program: 1) Peningkatan moral, disiplin, budaya dan etos kerja aparatur; 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum, diklat struktural dan teknis fungsional; 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan; 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah; 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen; 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif; 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan

Peningkatan

Kualitas

Penyelenggaraan

Administrasi

Pemerintahan Daerah; dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan; Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan; Penataan peraturan perundang-undangan daerah; Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah; Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat; Peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; Pembinaan dan pengelolaan pertanahan; Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan, Kelurahan dan Desa; 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan;

10) Pengembangan evaluasi kebijakan. C. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Program: 1) 2) 3) D. Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM); Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik; Penataan wilayah;

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah, dengan Program: 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah; 2) 3) 4) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah; Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa; Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah;

E.

Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan, dengan Program: 1) Pengembangan manajemen partisipatif; 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat; 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa; 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

F.

Kebijakan

Pengembangan

Sistem

Informasi

dan

Komunikasi

pembangunan, dengan Program: 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan; 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi; 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa;

6.2 Kebijakan untuk Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman, Tertib, Tentram Dan Dinamis (Misi 2) Keamanan, ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang aman, tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. Terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis perlu didukung dengan adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Hal tersebut perlu didukung dengan kebijakan umum sebagai berikut : A. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat; dengan Program: 1) Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah; 2) 3) Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat; Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas; 4) Pemamtapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan; 5) 6) B. Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib; Peningkatan kesadaran budaya tertib.

Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM, melalui Program: 1) 2) Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; Penerapan hukum secara konsekwen;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

3) 4) 5) 6) 7) 8) C.

Sosialisasi, bantuan dan perlindungan hukum; Pengembangan sistem jaringan informasi dan dukumentasi hukum; Pengembangan produk hukum daerah; Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah; Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum; Pemantapan koordinasi antar penegak hukum;

Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis; dengan Program 1) 2) Peningkatan pendidikan politik masyarakat; Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; 3) 4) 5) Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi; Fasilitasi kegiatan politik di daerah; Perlindungan hak politik masyarakat.

6.3 Kebijakan untuk mendukung Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Misi 3) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan dan program : A. Kejakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peningkatan pelayanan pendidikan; Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan; Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan; Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun; Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan; Peningkatan kualitas tenaga kependidikan; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; Pengembangan manajemen sekolah; Peningkatan kesejahteraan guru;

10) Pengembangan tingkat partisipasi sekolah; 11) Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS); 12) Pengembangan pendidikan anak dini usia.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-4

6) Perningkatan prestasi olah raga. dengan Program: 1) 2) 3) Peningkatan keberdayaan perempuan. Perlindungan ibu. Penanggulangan penyakit.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. 2) Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. 9) Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga. Pembinaan. anak dan reproduksi. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat . makanan dan minuman. Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. sehat dan berkualitas. 5) Pemasyarakatan olah raga. dengan Program: 1) Pemberdayan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. 10) Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. Peningkatan budaya hidup bersih. 4) Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. C. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. 7) Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. D. Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. peralatan kesehatan dan kosmetika. Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. 7) 8) 9) Pengembangan kesehatan lingkungan. Perbaikan gizi. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender. 8) Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. pengawasan dan pengendalian obat-obatan. pembangunan dan kemasyarakatan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-5 . kepemimpinan dan kepeloporan. 3) Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.

sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. diantaranya tidak adanya pendapatan.4 Kebijakan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat (Misi 4) Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. sentra agribisnis. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Soaial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. B. Peningkatan distribusi pangan. seperti sentra tekstil. 10) Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. 6) 7) 8) 9) Penanggulangan bencana dan pengungsi. Meet Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-6 . Pengembangan sentra-sentra-sentra unggulan pada kawasan andalan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Pengamanan ketersedian pangan. Pemberdayaan anak terlantar. Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. sentra konveksi. Penaganan masalah-masalah sosial. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Revitalisasi pertanian. Pengembangan sistem perlindungan sosial. Pengembangan agribisnis. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Kebijakan untuk menanggulagi masalah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perlu ditunjang dengan : A. Diversivikasi pangan. penyandang cacat. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan kualitas pelayanan. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. Peningkatan ketahanan sosial. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan. keluarga dan masyarakat. lansia dan penyandang tuna sosial. Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. individu. pertenakan dan perikanan. 9) Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. Advokasi dan perlindungan hak-hak anak.

D. usaha mikro. Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan koperasi. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. 11) Pengembangan industri manufaktur. Pengendalian urbanisasi. Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.5 Kebijakan untuk Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. C. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-7 . Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. 12) Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. 14) Pengembangan ekonomi syariah. 16) Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. 19) Pengembangan keparawisataan. 18) Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. 15) Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. tetapi juga muatan sosial. Pemantapan hubungan industrial. terutama permodalan. kecil dan menengah. Dalam perspektif agama. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. Penataan administrasi kependudukan. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. 17) Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. 13) Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-8 . dengan Program: 1) Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 6) Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. 5) Pemberdayaan ormas keagamaan. 6) Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. dengan Program: 1) Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan. 4) Peningkatan kerukunan hidup beragama. 7) Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. Kebijakan untuk mendukung misi tersebut diantaranya : A.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. dengan Program: 1) Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 9) Pengembangan TPA/TKA. 3) Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. 5) Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. 4) Pengembangan ekonomi melalui lembaga keagamaan. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat. 4) Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. 2) Pengembangan manajemen potensi umat. infaq dan sadaqah. 8) Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. 2) Peningkatan harmonisasi sosial. C. B. 3) Pengembangan ekonomi syari’ah. 2) Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. 5) Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. 3) Optimalisasi zakat.

seperti tersedianya gedung kesenian. dengan B. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda. C. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. Kebijakan Pengembangfan dan Pelestarian Program: 1) Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya. 4) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. 5) Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. Kebijakan dan program yang diperlukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah : A. 6. 2) Pelestarian asset budaya. 3) Pengembangan produk budaya. dengan Program: 1) Pengembangan adat istiadat daerah. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. dengan Program: 1) 2) 3) Penggalian nilai-nilai budaya sunda.6 Kebijakan untuk Mendukung Upaya Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda (Misi 6) Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. 3) Peningkatan pelayanan ibadah haji. Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D. Selain. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-9 . khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. 2) Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat. 4) Pengembangan ekonomi budaya. Budaya Sunda. 3) Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. dengan Program: 1) Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. 2) Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.

dengan Program: 1) Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. 2) Pengembangan manajemen pertanahan. Pengembangan sentra agribisnis. Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. 3) Pengelolaan dan pendayagunaan limbah. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-10 . dengan Program: 1) Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan. Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. 8) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. Pengembangan daerah ibu kota Soreang. 6) Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang.7 Kebijakan untuk Memelihara Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Misi 7) Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini.Majalaya. Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. 4) Penegakan hukum lingkungan. C. 2) Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. 7) Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. Pengembangan sentra tekstil. 3) Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. yaitu menguntungkan secara ekonomis. B. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu. Pengembangan sentra konveksi. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. 5) Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.

Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. Peningkatan kualitas perangkat desa. 5) Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. dengan Program: 1) 2) 3) 4) Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. Kebijakan Program: 1) Pengembangan pasar desa. 11) Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. RT dan lain-lain). RW. dengan B.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.8 Kebijakan untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (Misi 8) Dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat desa. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. 12) Penataan iklim investasi yang kondusif. Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-11 . LKMD. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa. pembangunan harus dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kinerja pembangunan desa. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan pedesaan. Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. 2) Pengembangan produk unggulan desa. 3) Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). 4) Pengembangan akses pemasaran produk desa. pengembangan kapasitas keuangan desa. 6. Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa. 5) 6) 7) Peningkatan sarana dan prasarana desa.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung C. 2) Pengembangan utilitas perdesaan. dengan 1) Peningkatan infra struktur perdesaan. 3) Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. Kebijakan Program: Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-12 .

Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan (BHBK) dan Biaya tak Terduga. Dalam perkiraan besaran pagu indikatif setiap program lima tahunan dan tahunan harus memperhatikan perkiraan belanja daerah yang merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pembangunan. fungsi dan sub fungsi pembangunan serta alokasi proporsi indikatif APBD per program baik lima tahunan maupun tahunan. Dalam matriks tersebut dijabarkan kebijakan. belanja daerah secara garis besar terbagi menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja ini timbul secara periodik dalam rangka koordinasi pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dan digunakan bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan program dan kegiatan setiap unit. artinya besaran belanja tersebut mengikuti jenis dan banyaknya jumlah kegiatan secara berbanding lurus. indikator keluaran. Matriks ini digunakan untuk menyusun Renstra-SKPD dan Rencana Kerja tahunan SKPD sesuai dengan fungsi dan sub fungsi serta memperhatikan sumber daya yang tersedia. Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. Karena sifat belanja langsung diatas. Jika dilihat dari jenis belanjanya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Program pembangunan daerah lima tahun kedepan dituangkan dalam matriks program lima tahunan dan program tahunan. maka untuk memperoleh perkiraan belanja untuk tiap program. belanja modal. pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyisihkan anggaran untuk belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja gaji pegawai/personalia. artinya belanja ini merupakan belanja kebutuhan minimal untuk operasional pemerintahan. program. Belanja langsung adalah belanjabelanja yang timbul sebagai konsekwensi adanya program atau kegiatan pembangunan yang dibutuhkan dalam kurun satu tahun anggaran. BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 1) Peningkatan moral. inovatif.34096% APBD Kabupaten Pelayanan Umum 6 Terbentuknya mental aparatur yang kreatif dan inovatif Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan Keterangan 1. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah. bermoral. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. produktif dan bertanggungjawab Terbentuknya aparatur yang profesional sesuai dengan Tupoksi Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pendidikan Pendidikan Kedinasan 0.37678% APBD Kabupaten Terbentuknya aparatur yang kreatif. Terwujudnya budaya kerja aparatur yang berdisiplin. Terselenggaranya sistem reward dan punishment Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0. diklat struktural dan teknis fungsional.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7. disiplin. profesional.34860% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-2 .42453% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.34622% APBD Kabupaten 0.1 MATRIKS PROGRAM LIMA TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1. budaya dan etos kerja aparatur.33714% APBD Kabupaten 0. Pelayanan Umum 4 5 Terselenggaranya sistem kepegawaian yang berdasar pada aturan perundangundangan.

efektif. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. ramping dan kaya fungsi serta responsif Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelayanan publik 1.24533% 4 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. 3) Penataan peraturan perundang-undangan daerah. proporsional. Terselenggaranya evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan yang independent. Tertatanya fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan supaya lebih memadai.38155% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan. efektif.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.26999% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.25974% APBD Kabupaten 5 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat. efisien dan transparan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tersedianya regulasi sesuai kebutuhan daerah Terselenggaranya proses penyelenggaraan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Terwujudnya harmonisasi peraturan daerah dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi 2.25558% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.27159% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-3 . Indikator Keluaran Terbentuknya keteladanan setiap jiwa pimpinan satuan kerja FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 2.

sinkronisasi dan simplikasi hubungan kerja antar lembaga Terbentuknya tertib pertanahan FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 7 Pelayanan Umum 8 9 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.48804% APBD Kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.Terbentuknya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada tiap SKPD 2. Terwujudnya pendelegasian kewenangan sesuai dengan peraturan yang ada Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0.Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pelayanan Publik Terbentuknya sistem. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan.23572% APBD Kabupaten 0. Indikator Keluaran Meningkatnya koordinasi.23060% APBD Kabupaten 3. integrasi.27512% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM 6) Peningkatan koordinasi. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. 1. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan. 2 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.23604% APBD Kabupaten 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM). mekanisme dan prosedur pelayanan publik yang mudah dan sederhana Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Kelurahan dan Desa. sinkronisasi dan simplikasi.27608% APBD Kabupaten 10 Terjalinnya harmonisasi antar lembaga pemerintahan baik secara vertikal maupun horizontal Tersusunnya langkah-langkah sistematis evaluasi lebijakan Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. integrasi.48035% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-4 .

Terlaksananya penataan wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung yang berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan publik FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 4.Tersedianya dokumen datadata potensi restribusi dan pajak daerah 2.88425% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-5 . 1. Terbangunnya pilar batas daerah Kabupaten Bandung 3.79964% APBD Kabupaten 3 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Meningkatnya pendapatan asli daerah dari sumber restribusi dan pajak daerah 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.Terbangunnya tugu batas kecamatan 5.Bertambahnya sumber pendapatan asli daerah 3.Terwujudnya keseimbangan antara serapan anggaran yang bersifat pembangunan Terwujudnya alokasi dana desa yang proporsional Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.52068% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM 3) Penataan wilayah.Terpeliharanya tugu batas Kabupaten/Kota dan gapura Kabupaten 4. Terwujudnya pemekaran Kabupaten Bandung. 2.84492% APBD Kabupaten 2 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah. Indikator Keluaran 1.Terwujudnya rasionalitas anggaran 2.Tersedianya produk hukum mengenai penataan namanama jalan di ibukota Kabupaten Bandung 6.

Meningkatnya tingkat kepuasan hasil kerja BUMD Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 1) Pengembangan manajemen partisipatif.28090% APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. 4 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.38433% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-6 .29033% APBD Kabupaten 2 3 4 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM dan desa.25132% 0. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1.79844% APBD Kabupaten 5.Meningkatnya kontribusi pendapatan dari laba BUMD 2.24287% 6. Tersosialisasikannya program pembangunan kepada masyarakat Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan 0. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 1) Peningkatan transparasi programprogram pembangunan. Terbentunya sistem dan mekanisme yang mengatur pola partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Terbentuknya fasilitasi sistem pengawasan masyarakat Meningkatnya kinerja dalam tugas pembantuan kepada desa Meningkatnya tugas dan fungsi LSM. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.

Tersedianya aparatur daerah yang memahami peraturan perundangundangan tentang desa 3.80805% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-7 .Terdapatnya badan khusus yang menangani urusan desa 2. Tertatanya sistem dan mekanisme pengelolaan informasi dan komunikasi Terjalinnya hubungan yang sinergis dan konstruktif dengan media massa Pelayanan Umum 3 Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. 1.32449% APBD Kabupaten Misi 8. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1.35660% APBD Kabupaten 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Lainnya Keterangan 2 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.Tersedianya penyelenggaraan pemerintahan desa yang mampu melaksanakan tugas.Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa baik 4. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa. fungsi serta kewenangan desa Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.

Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. RW.Tertata dan terlaksananya tugas pembantuan desa 1.Terwujudnya pengalokasian dana desa2. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.78773% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-8 .84072% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan kualitas perangkat desa.Terinventarisasinya kewenangan desa yang dapat dilaksanakan 2.Terwujudnya partisipasi secara optimal lembaga desa dalam pembangunan 2. Indikator Keluaran 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Meningkatnya kualitas kerja aparat desa 2.Meningaktnya kesejahteraan perangkat desa 1.Optimalnya kinerja perangkat desa dan pelayanan kepada masyarakat 3.Tersedianya sarana dan prasarana desa 2. LKMD.79038% APBD Kabupaten 6 — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Meningkatnya pengetahuan (kualitas lembaga desa) FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 3 — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.79038% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terpenuhinya sarana dan prasarana seda sesuai kebutuhan 1.81599% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan sarana dan prasarana desa. RT dan lain-lain).Teroptimalisasinya penggunaan alokasi dana desa3.Terserapnya sumbersumber keuangan desa dan meningkatnya swadaya masyarakat 1.

14347% APBD Kabupaten 4 Semakin luas jaringan akses pemasaran produk desa Ekonomi 0. pengembangan usaha. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 — Pengembangan pasar desa. koperasi dan UKM Perdagangan. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). Teroptimalisasinya pemanfaatan sumber daya lokal Ekonomi Perdagangan. pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan 3. FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 2. Indikator Keluaran 1. koperasi dan UKM Perdagangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.13961% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-9 . — Pengembangan akses pemasaran produk desa. Berkembangnya sarana pasar desa Ekonomi 2 3 — Pengembangan produk unggulan desa. pengembangan usaha.15064% APBD Kabupaten 0.Meningkatnya kesehatan reproduksi.Dilibatkannya masyarakat/kelompok masyarakat dalam perencanaan. pengembangan usaha.Terbentuk dan terinventarisasinya kelompokkelompok masyarakat sesuai profesi 2.82571% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. koperasi dan UKM 0. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.14664% APBD Kabupaten Berkembang dan teroptimalkannya BUMDES Ekonomi 0. koperasi dan UKM Perdagangan. budaya dan lain-lain. kesejahteraan keluarga.Meningkatnya kemandirian kelompok masyarakat desa 4. kesenian. pengembangan usaha. pengembangan olah raga.

Lingkungan Hidup Tata Ruang dan pertanahan 1.Tertatanya fungsi kawasan perdesaan secara optimal Ekonomi Transportasi 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.78689% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan utilitas perdesaan. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 — Peningkatan infra struktur perdesaan. pengembangan usaha.tersusunya penataan fungsi ruang kawasan pedesaan dalam RDTR 2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perdesaan serta meningkatnya pengetahuan dan kemampuan teknis masyarakat desa 1. koperasi dan UKM Keterangan 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.48710% APBD Kabupaten Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-10 .Tersedianya data fasilitas umum dan fasilitas sosial desa 2.Meningkatnya kemanfaatan dan daya guna fasilitas yang ada 1. Indikator Keluaran Berkembangnya lembaga dan jasa keuangan desa FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.77900% APBD Kabupaten 3 — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.11246% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.

24740% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 7 Pendidikan 1. Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan pendidikan Terwujudnya kurikulum pendidikan yang mengandung muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan Terlaksananya pendidikan wajar dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah dari seluruhlapisan masyarakat terutama keluarga miskin Terselenggaranya pendidikan non formal dan kejuruan yang berorientasi kepada keahlian Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai Pendidikan 2 3 — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan. Pendidikan Pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan Pendidikan lainnya 1. Pendidikan Pendidikan dasar 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pelayanan pendidikan.40960% APBD Kabupaten 1.31158% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-11 . Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.29524% APBD Kabupaten 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 3. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan. Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal Pendidikan lainnya pelayanan bantuan terhadap pendidikan 1.33142% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.27541% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.09221% APBD Kabupaten 6 Pendidikan 1.

32675% 12 — Pengembangan pendidikan anak dini usia. Indikator Keluaran Terselenggaranya KBM berbasis MBS secara optimal Meningkatnya aktivitas guru dalam KBM Berkurangnya angka putus sekolah Terlaksananya pendidikan sejak dini usia dan meningkatnya RLS Terlaksananya pendidikan pra sekolah FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan dasar Keterangan 9 Pendidikan 1.53799% APBD Kabupaten 2 Kesehatan 1.13655% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Pengembangan manajemen sekolah. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah. Meningkatnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan Kesehatan Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.27657% APBD Kabupaten 2. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS). Pendidikan Pendidikan usia dini 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.63998% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-12 . — Peningkatan kesejahteraan guru. — Peningkatan budaya hidup bersih.16339% 10 Pendidikan 1.33025% 11 Pendidikan 1. sehat dan berkualitas.

pengawasan dan pengendalian obatobatan. — Pengembangan kesehatan lingkungan. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama balita dan bumil Meningkatnya status kesehatan ibu.53799% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Penanggulangan penyakit. Indikator Keluaran Menurunnya angka kesakitan FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan perorangan keluarga berencana Keterangan 4 — Perbaikan gizi.30954% APBD Kabupaten 7 1. peralatan kesehatan dan kosmetika Kesehatan 1.53663% APBD Kabupaten 6 — Pembinaan.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan data verifikasi sanitasi 2.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan masterplan drainase Kesehatan kesehatan lainnya 1. peralatan kesehatan dan kosmetika. anak dan reproduksi.Terlaksananya program prokasin dan terbangunannya sarana pengolahan dan sanitasi 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan outline plan drainase 6.52575% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan ibu. Kesehatan Obat dan perbekalan kesehatan 1.Terlaksananya pembangunan prasarana dasar lingkungan pemukiman 3.60327% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-13 . makanan dan minuman. Kesehatan 1. anak dan pada masa reproduksi Terkendalinya penggunaan obat-obatan. makanan dan minuman.Terbangunnya saluran drainase lingkungan perkotaan 5.

24684% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-14 .46592% APBD Kabupaten 10 Kesehatan 1.24239% APBD Kabupaten 2 Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.44008% APBD Kabupaten 3.Tersedianya sistem jaringan pelayanan kesehatan bagi masyarakat 2. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan Teroptimalisasinya perlindungan dan advokasi hak perempuan Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0. — Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 — Peningkatan keberdayaan perempuan. Indikator Keluaran Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Tersedianya SDM tenaga kesehatan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.59919% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Keterangan 9 Kesehatan 1.

Meningkatnya ketahanan moral dan mental generasi muda Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. jiwa kepemimpinan dan pelopor Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.20764% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.20200% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-15 . pembangunan dan kemasyarakatan. kepemimpinan dan kepeloporan. Tersedianya kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. Tersedianya media aktifitas dan kreatifitas generasi muda yang akomodatif Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.20595% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. Terbentuknya generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha.27097% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Indikator Keluaran Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Pemberdayaan perempuan Keterangan 4.17943% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.

1.15548% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-16 . Pariwisata dan Budaya 0.Meningkatnya kualitas pelayanan rehabilitasi sosial 2. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Indikator Keluaran Tumbuhnya aktivitas keolahragaan FUNGSI Pariwisata dan Budaya SUB FUNGSI pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga Keterangan 6 — Peningkatan prestasi olah raga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.17491% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pemasyarakatan olah raga.18112% APBD Kabupaten 7 — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.Tersedianya sarana dan prasarana rehabilitasi sosial perlindungan sosial perlindungan sosial lainnya 0. Pariwisata dan Budaya 0. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga masyarakat sesuai kebutuhan Terwujudnya sistem dan mekanisme keolahragaan yang berorientasi pada prestasi Terbangunnya kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.17971% APBD Kabupaten 8 Pariwisata dan Budaya 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan. Meningkatnya prestasi olah raga Pariwisata dan Budaya 0.17350% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.18422% APBD Kabupaten Misi 4. 1.

lansia dan penyandang tuna sosial perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan orang sakit dan cacat 0. lansia dan penyandang tuna sosial. individu. individu. Meningkatnya kemampuan. terarah dan terpadu ketertiban dan keamanan penanggulangan bencana 0.16639% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 8 0.15313% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan anak terlantar. — Peningkatan ketahanan sosial. keluarga dan masyarakat. Tertanggulanginya masalahmasalah sosial Meningkatnya ketahanan sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.15377% APBD Kabupaten 4 perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0.21387% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-17 . perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.15313% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Pengembangan sistem perlindungan sosial. penyandang cacat. penyandang cacat.15783% APBD Kabupaten 6 — Penanggulangan bencana dan pengungsi.15805% APBD Kabupaten 7 — Penaganan masalahmasalah sosial. Tersedianya prosedur penanggulangan bencana secara cepat. keluarga dan masyarakat perlindungan sosial perlindungan sosial bantuan dan jaminan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0. pengetahuan dan keterampilan serta perlindungan anak terlantar. — Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. Indikator Keluaran Tersedianya sistem dan managemen perlindungan sosial Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kesejahteraan sosial Tersedianya lembaga advokasi perlindungan anak FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 3 — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.

kehuta nan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran menurunnya tingkat penggunaan obat-obatan terlarang Terwujudnya bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Obat dan perbekalan kesehatan bantuan dan jaminan sosial Keterangan 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.72154% APBD Kabupaten 4 Ekonomi 0. perikanan dan kelautan pertanian. perikanan dan kelautan pertanian. — Diversifikasi pangan.70797% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. perikanan dan kelautan 0.kehuta nan.66642% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-18 .kehuta nan. Tertatanya sistem pendistribusian pangan secara proporsional Meningkatnya hasil panen secara optimal dan terolah dengan baik Tersedianya keragaman pangan Ekonomi 0. Ekonomi 0. Tertanggulanginya permasalahan pangan Ekonomi 0. Terpenuhinya kebutuhan pangan Ekonomi pertanian.61725% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.17772% APBD Kabupaten 2.70712% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan distribusi pangan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 — Pengamanan ketersedian pangan.19911% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.kehuta nan.kehuta nan. perikanan dan kelautan pertanian. perlindungan sosial 0. perikanan dan kelautan pertanian.

91739% APBD Kabupaten 9 Tersedianya sarana dan prasaran perdagangan sesuai kebutuhan Ekonomi Perdagangan.99540% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan industri manufaktur. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya hasil pertanian.kehuta nan. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). usaha kecil dan menengah Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan.89365% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-19 . Meningkatnya hasil produksi industri manufaktur Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. peternakan dan perikanan Ekonomi pertanian.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. usaha mikro. koperasi dan UKM 0.64692% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan agribisnis. pengembangan usaha. Meningkatnya peran dan fungsi koperasi. sentra konveksi. seperti sentra tekstil.92926% APBD Kabupaten 8 Tersedianya penampungan dan pemasaran hasil produksi Ekonomi 0. kecil dan menengah. sentra agribisnis. koperasi dan UKM Keterangan 7 — Revitalisasi pertanian. — Pengembangan sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. perikanan dan kelautan Perdagangan. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0. pertenakan dan perikanan.85720% APBD Kabupaten 10 — Pengembangan koperasi. pengembangan usaha. Indikator Keluaran Terwujudnya kawasan dan produk agribisnis FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.

83346% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-20 .77071% APBD Kabupaten 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. koperasi dan UKM 0. Terselenggaranya kegiatan ekonomi yang berbasis syariah Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. terutama permodalan. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya privatibilitas BUMD Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0. Terbentuknya iklim usaha yang profesional Ekonomi Perdagangan.83685% APBD Kabupaten 16 — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. Terserapnya akses permodalan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya produktif Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatankegiatan kewirausahaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Meningkatnya investasi Ekonomi Perdagangan.95300% APBD Kabupaten 15 — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. pengembangan usaha.64608% APBD Kabupaten 14 — Pengembangan ekonomi syariah. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM Keterangan 13 — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).80293% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 12 PROGRAM — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. pengembangan usaha.

28569% APBD Kabupaten 5 Terjalinnya hubungan sinergis masyarakat industri Ekonomi Industri dan konstruksi 0.28457% APBD Kabupaten 4 Ekonomi tenaga kerja 0. — Pemantapan hubungan industrial. — Pengembangan keparawisataan.88941% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 18 PROGRAM — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.80378% APBD Kabupaten 3.23552% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-21 . — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.32276% APBD Kabupaten 2 Tersedianya tenaga kerja yang berkualitas dan produktif Terbentuknya lembagalembaga perlindungan tenaga kerja Menurunnya angka pengangguran Ekonomi tenaga kerja 0. Indikator Keluaran Terpenuhinya hak dasar masyarakat miskin FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI bantuan dan jaminan sosial Keterangan 19 Terwujudnya sistem dan manajemen kepariwisataan Pariwisata dan Budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.30826% APBD Kabupaten 3 Ekonomi tenaga kerja 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Terserapnya tenaga kerja secara optimal Ekonomi tenaga kerja 0. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.

Berkurangnya perpindahan penduduk dari desa ke kota Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.25168% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Penyelesaian masalahmasalah ketenagakerjaan. — Penataan administrasi kependudukan.Menurunnya laju pertumbuhan penduduk. 2.menurunnya tingkat angka kesakitan masa reproduksi Kesehatan keluarga berencana 0.38388% APBD Kabupaten 3 Tertatanya sistem pencatatan kependudukan Menurunnya tingkat keluhan terhadap pelayanan kependudukan dan transmigrasi Perlindungan sosial Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.25157% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 4 0. Indikator Keluaran Terfasilitasinya masalahmasalah ketenagakerjaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI tenaga kerja Keterangan 4. 1.32878% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-22 .29906% 5 — Pengendalian urbanisasi. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. Meningkatnya keterampilan dan ketahanan keluarga Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.42520% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.

KEBIJAKAN 1.63957% APBD Kabupaten 4 — Penegakan hukum lingkungan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 7.58720% APBD Kabupaten 3 — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.53745% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan aparat terhadap hukum lingkungan 2.Teroptimalisasinya lahan kritis dan konservasi lahan Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi strategis lingkungan Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. 1. Lingkungan hidup perlindungan lingkungan hidup lainnya 0. Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Terkelolanya limbah domestik dan limbah industri beserta pemanfaatannya 1.Berfungsinya penegak hukum secara optimal Lingkungan hidup manajemen limbah 0.53680% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-23 .Meningkatnya keseimbangan lahan. daya dukung dan kualitas lingkungan 2.

Terlaksananya daur ulang dan pendayagunaan sampah Lingkungan hidup manajemen limbah 0. 1.Terlaksananya pengembangan hutan rakyat Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.54007% APBD Kabupaten 7 — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan SDA Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.54858% APBD Kabupaten 2.Adanya peran aktif dari masyarakat dan lembaga kemastarakatan dalam melestarikan lingkungan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI konsevasi sumber daya alam Keterangan 6 — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.54007% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. Indikator Keluaran 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya TPS dan TPA 3.57804% APBD Kabupaten 8 — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.Terlaksananya KISS program Dibale dengan stakeholder terkait 2.Tersedianya sistem pola dan mekanisme pengelolaan sampah terpadu 2. 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-24 .Meningkatnya kesadaran pelestarian hutan 2.

Indikator Keluaran Tersusunnya dokumen perencanaan.Teroptimalisasinya pengendalian dan pengawasan pembangunan Lingkungan hidup Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 2. penataan kawasan khusus dan pemetaan melalui KISS program 1.29906% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 2.Teroptimalisasinya pelaksanaan penertiban penggunaan tanah sesuai peruntukannya 3. RDTR. Tersedianya data-data pertanahan 2.04197% APBD Kabupaten 3 — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.25769% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-25 .Tersusunnya sistem pengawasan dan pengendalian pembangunan 2.Teroptimalisasinya administrasi pertanahan 4. 1.Terfasilitasinya masalahmasalah pertanahan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya Keterangan 2 — Pengembangan manajemen pertanahan.

fasilitas sosial dan perumahan2. penetapan kawasan andalan dan kota mandiri Berkembangnya jaringan prasarana dasar wilayah (SRTPK) Terwujudnya pembangunan jalan tol pasir koja. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.soreang dan gedebage.Tersedianya data verifikasi fasilitas umum. Tersusunnya dokumen rencana terpadu.majalaya 1.13781% APBD Kabupaten 4 Perumahan dan fasilitas umum Perumahan dan pemukiman lainnya 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.Majalaya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3. — Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage.14081% APBD Kabupaten 2 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.12801% APBD Kabupaten 3 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.13560% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-26 .Tertata dan termanfaatkan sarana prasarana fasilitas umum Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.

Ekonomi Perdagangan.Tersedianya dokumen pra feasibility dan pra design 3. pengembangan usaha.14255% APBD Kabupaten 7 — Pengembangan sentra agribisnis.Tersedianya dokumen perencanaan teknis terpadu 2.Tertatanya pelaksanaan pembangunan untuk pengembangan kota soreang FUNGSI Perumahan dan fasilitas umum SUB FUNGSI litbang perumahan dan pemukiman Keterangan 6 — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. koperasi dan UKM 0.Teroptimalisasinya pengolahan hasil produksi 2.12801% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.Tersedianya pusat penampungan dan pemasaran Tersedianya pusat produksi tekstil dan pemasaran Ekonomi Perdagangan. 1.14856% APBD Kabupaten 8 — Pengembangan sentra tekstil. koperasi dan UKM 0.Eks terminal cingcin dan pengembangannya 4. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.14713% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-27 . Indikator Keluaran 1. pengembangan usaha.Terwujudnya sarana dan prasarana fisik penunjang dinamisasi sektor ekonomi 2.Terlaksananya studi manajemen dan rekayasa lalulintas serta perhubungan Ekonomi Ekonomi lainnya 0.

Terlaksananya pengembangan pengelolaan sumber daya air 3. listrik pedesaan. Terciptanya iklim kemudahan melakukan investasi Ekonomi Perdagangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. koperasi dan UKM 0. 1. 1. bencana geologi.13133% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-28 . Indikator Keluaran Tersedianya pusat pengembangan dan pemasaran konveksi FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.14461% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Pengembangan sentra konveksi.Tersedianya dokumen rencana induk penggunaan induk data verifikasi air baku.Tersedianya data sebaran bahan galian dan mineral 2. air bawah tanah 2.15994% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. koperasi dan UKM Keterangan 10 — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.Tersedianya peta mitigasi. potensi geothermal.14413% APBD Kabupaten 12 — Penataan iklim investasi yang kondusif.Tersedianya sarana air bersih Ekonomi Pengairan 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha. pembangkit listrik alternatif dan untuk keperluan sendiri beserta pengembangannya Ekonomi bahan bakar dan energi 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. Tenteram dan Dinamis. Terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan ketertiban dan keamanan ketertiban . dan antara masyarakat dengan pemerintah. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Terwujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban dan keamanan 0.13193% APBD Kabupaten 2 — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas. keamanan dan hukum lainnya 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 1 — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.12583% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-29 . KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. Tertib.13000% APBD Kabupaten 3 Terantisipasinya kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas ketertiban dan keamanan ketertiban .

11846% APBD Kabupaten 6 — Peningkatan kesadaran budaya tertib. Indikator Keluaran Terselesaikannya permasalahan melalui mediasi pemerintah FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI peradilan Keterangan 5 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib. Meningkatnya ketertiban umum ketertiban dan keamanan 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .12279% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.09276% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-30 . keamanan dan hukum lainnya 0. Berkurangnya pelanggaran hukum ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.10395% APBD Kabupaten 2 Terujudnya rasa keadilan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban . keamanan dan hukum lainnya 0. — Penerapan hukum secara konsekwen. Terwujudnya SDM kamtrantib yang profesional ketertiban dan keamanan ketertiban .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.13481% APBD Kabupaten 2.

09328% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-31 . 1.Tersusunnya kodifikasi bahan-bahan sosialisasi produk hukum pusat dan daerah ketertiban dan keamanan Litbang ketertiban.09836% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan produk hukum daerah.08977% APBD Kabupaten 6 — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.Tersedianya peraturan daerah dan peraturan bupati sesuai kebutuhan 2. Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam penegakan hukum Terjalinnya kerjasama sinergis antar penegak hukum ketertiban dan keamanan 0.09432% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Sosialisasi. Indikator Keluaran Tercapainya peningkatan pengetahuan dan pemahaman hukum masyarakat 1. keamanan dan hukum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum.09849% APBD Kabupaten 8 ketertiban dan keamanan 0.Tertatanya dokumentasi hukum yang tertib 2. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .09289% APBD Kabupaten 7 — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum. bantuan dan perlindungan hukum. keamanan dan hukum lainnya Pembinaan hukum 0. Berkurangnya pelanggaran HAM ketertiban dan keamanan ketertiban .Terciptanya sistem jaringan informasi yang tertib FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI Pembinaan hukum Keterangan 4 ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.15155% APBD Kabupaten 2 ketertiban dan keamanan 0. Terwujudnya kebebasan dalam menentukan pilihan politik ketertiban dan keamanan 0. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap politik Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan berpolitik ketertiban dan keamanan ketertiban . Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pendidikan politik masyarakat. keamanan dan hukum lainnya 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menyampaikan aspirasi Terwujudnya kehidupan politik yang demokratis ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.14827% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan hak politik masyarakat.15810% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.15459% APBD Kabupaten 4 ketertiban dan keamanan ketertiban .15132% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-32 . keamanan dan hukum lainnya 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .

Terlaksananya KISS program Dibale/ kec dengan stakeholder terkait 3.10428% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-33 . 1. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. 1.Meningkatnya kualitas keberfungsian lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan Misi 5. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya 0.Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat 4.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya penarapan nilai agama dalam kehidupan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI pendidikan keagamaan Keterangan 3 — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.06759% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-34 .08872% APBD Kabupaten 4 — Peningkatan kerukunan hidup beragama. Menurunnya penyebaran agama tertentu pada masyarakat yang telah beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran 1.11458% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.09892% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. adanya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum mulai sekolah dasar sampai menengah Pendidikan pendidikan keagamaan 0. Meningkatnya kerukunan hidup beragama.Meningkatnya kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur nagara 2.meningkatnya bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 4.Terwujudnya peningkatan kualitas iman dan takwa 3. inter ummat beragama dan antar umat beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

08336% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.07443% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-35 .Meningkatnya jumlah TPA dan TKA baru 2.Meningkatnya kualitas pendidikan dan pengajaran untuk siswa TPA dan TK 4. 1.Terwujudnya silaturahmi antara pemerintah dengan lembaga keagamaan 2.Meningkatnya kesejahteraan pengelola TPA dan TKA Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal 0. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatan keagamaan yang terpadu antara pemerintah daerah dengan masyarakat FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 7 Meningkatnya kesadaran aparat untuk memakai pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama Pelayanan Umum lembaga eksekutif. dan legislatif keuangan dan fiskal serta urusan bantuan luar negeri 0. kecamatan dan desa Pelayanan Umum Pelayanan umum 0. 1.Meningkatnya intensitas FKUU di tingkat kabupaten.07148% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan TPA/TKA.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.06045% APBD Kabupaten 8 — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.Meningkatnya manajemen pengelolaan TPA dan TKA 3.

Adanya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah Kesejahteraan sosial Ekonomi Penyuluhan dan bimbingan sosial Perdagangan.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi syariah2. koperasi dan UKM 0.11512% APBD Kabupaten 2 Terwujudnya kehidupan sosial yang agamis harmonis 1.12943% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 3 0. — Peningkatan harmonisasi sosial. Kebijakan Penerapan Nilainilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. Meningkatnya pribadi aparatur yang iman dan takwa Pendidikan Pendidikan keagamaan 0.Adanya sosialisasi tentang pengembangan ekonomi syariah4.Terbentuknya tenaga profesional yang mengelola lembaga perbankan maupun non perbankan syariah3.12087% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-36 . — Pengembangan ekonomi syari’ah. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 2.

13830% APBD Kabupaten 6 Meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 1. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.Terwujudnya kebersamaan umat 2.17197% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-37 .Kokohnya ketahanan moral dan mental umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.14003% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan manajemen potensi umat.13830% APBD Kabupaten 3. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.12181% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya sistem dan mekanisme serta pola pengembangan potensi umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Terinventarisasinya potensi umat 2. 1. Indikator Keluaran Terwujudnya perilaku sosial berdasarkan nilai agama FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 5 Terwujudnya keteladanan pimpinan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

13658% APBD Kabupaten 4.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi yang mengayomi kepentingan umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Adanya kesadaran untuk mengeluarkan ZIS 2.Terwujudnya pemahaman tentang pengembangan ekonomi di lembaga keagamaan 2.13849% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Optimalisasi zakat. 1.17675% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan ormas keagamaan. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-38 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya kemampuan ormas keagamaan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. infaq dan sadaqah.Meningkatnya peran serta ormas-ormas keagamaan2. Indikator Keluaran 1. 1.Terwujudnya pemanfaatan ZIS bagi kepentingan umat FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 4 — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.

27438% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. 1. Terwujudnya sistem pelayanan ibadah haji Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya sarana dan prasarana keagamaan yang memadai sebagai tempat untuk beribadah dan aktivitas umat 2. 1.25904% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pelayanan ibadah haji. Indikator Keluaran 1.Adanya lembaga permanen yang mengelola ZIS 2.Terwujudnya pemahaman tentang pengelola ZIS melalui sosialisasi dan penataran caloan pengelola ZIS supaya lebih profesional Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-39 .23041% APBD Kabupaten Misi 6.Tumbuh suburnya aktivitas keagamaan yang berorientasi pada kesadaran umat untuk beragama dan bernegara FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 2 — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.

Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.Meningkatnya kreatifitas masyarakat terhadap pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya 0.25787% APBD Kabupaten 3 — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. 1. seperti tersedianya gedung kesenian. Indikator Keluaran Terinventarisasinya nilai-nilai budaya Sunda FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.25918% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.15053% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-40 . Tersedianya sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya pemahaman nilai budaya sunda pada anak usia dini dan generasi muda2. 1.Meningkatnya kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.24677% APBD Kabupaten 2.Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terakomodirnya muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Keterangan 3 — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.14803% APBD Kabupaten 3.Ditetapkannya bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah 2. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-41 . 1.14880% APBD Kabupaten 4 Pariwisata dan budaya 0.16593% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.Meningkatnya penggunaan bahasa sunda sebagai bahasa sehari hari baik kegiatan formal maupun informal Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.15053% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga seni dan budaya Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.

1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersosialisasikannya budaya melalui manajemen pemasaran yang terbuka FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Pelestarian asset budaya.Terpeliharanya aset budaya 1.18795% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan adat istiadat daerah.Tersedianya data aset budaya yang perlu dilestarikan 2. Pariwisata dan budaya 0. Pariwisata dan budaya 0.20153% APBD Kabupaten 100.17927% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan produk budaya. Indikator Keluaran Terpeliharanya adat-istiadat daerah dalam kehidupan sehari-hari 1.00000% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-42 .19508% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan ekonomi budaya.Adanya sistem informasi terpadu tentang peta budaya 3.Tergalinya nilai – nilai budaya2.Teraksesnya produk budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional 2.Terbentuknya pusat pasar seni Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.

4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah. 6.189% 0.147% 0.113% 2.099% 1.191% 0.149% 0.175% 0.2 MATRIKS PROGRAM TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.550% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 2 3 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.171% 0.500% 0.758% 0.213% TAHUN 5 % APBD 9.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.821% 0.169% 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN 1 % APBD 52. diklat struktural dan teknis fungsional. 6. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 2 1) Peningkatan moral.834% 0.145% 0.103% 6 7 0.667% 1.591% 0.174% 0.282% 0.687% 0.110% 0.076% 0. 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.941% 1.183% TAHUN 4 % APBD 16.080% 0.758% 0.706% 0.128% 0.156% 5.156% 1. budaya dan etos kerja aparatur.616% 0.208% 1.126% 0.919% 0.103% 0.695% 0. 3) Penataan peraturan perundangundangan daerah.768% 0.123% 0.073% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-43 .812% 0.521% 0.840% 0.150% 0.099% 0.282% 0.164% 0.101% 0.710% 0. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.865% TAHUN 3 % APBD 23.778% 0.112% 3 4 5 0. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen.077% 1.023% TAHUN 2 % APBD 43.650% 0.116% 0.162% 0.135% 0. disiplin.105% 0.750% 5. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif.091% 0. 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.100% 0.908% 0.208% 0. 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum.

070% 0.118% 0.861% 0.071% 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 2 3 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).665% 0.112% 0.375% 3.282% 0.626% 0.116% 0. 8.119% 0.201% 0.584% 0.000% 4.569% 0.118% 0.138% 0.470% 0.182% 0.528% 0.250% 2.561% 0.480% 0.654% 0.563% 0.290% 2.555% 0.176% 5.000% 0.758% 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah. 3) Penataan wilayah.108% 3. 0. 6) Peningkatan koordinasi.663% 0.661% 1. 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa. 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.136% 0.481% 0.308% 0. 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.189% 2. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan. integrasi.081% 3.308% 0.118% 0.130% 0.068% 7 8 9 10 3. 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.068% 1.341% 0. 11. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.082% 0.000% 0. Kelurahan dan Desa.138% 0.117% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4 5 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.077% 0.000% 0.558% 0.000% 0.000% 0. sinkronisasi dan simplikasi.500% 0.092% 3.529% 0.812% 1.198% 1.502% 1.553% 0.000% 0.101% 0.000% 0.192% 0.326% 0.081% 6 0.527% 0. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.182% 2 3 4 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-44 .587% 1. 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.082% 0.070% 0.754% 9.654% 3.821% 1.099% 0.101% 0.618% 6.673% 3.495% 1.568% 0.

Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 2 3 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan.231% 1.628% 0.099% 1.237% 0.368% 0. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.325% 0. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1.292% 0. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa.537% 0.375% 0.393% 1.336% 0.206% 0.231% 1.598% 1. — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.299% 0.200% 0.273% — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 2 3 4 11.396% 3.846% 2.614% 0.758% 0.179% 0.273% 0.582% 1.339% 1.328% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-45 . — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan 1.549% 0.250% 0.429% 0.290% 0.275% 0.396% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.309% 1.042% 1.548% 1.376% 0.758% 0.349% 0.571% 0. 1. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa.646% 1.254% 0. 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat.173% 6.290% 0.444% 0.302% 0.653% 0.338% 0.555% 0.412% 0.282% 0.099% 1.231% Misi 8. 1.081% 9.282% 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 2 3 4 1) Pengembangan manajemen partisipatif.281% 0.042% 1.325% 0.317% 0. — Peningkatan kualitas perangkat desa.338% 0. 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.390% 0.317% 0.462% 0.375% 4.352% 0.246% 0.634% 0.335% 0.259% 0.284% 0.349% 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sumber keuangan desa. 6. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.641% 0.239% 0.617% 1.818% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-46 .000% 0. — Pengembangan produk unggulan desa.669% Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 41.282% 0.561% 0.839% 1.221% 0.317% 0.271% 0.258% 0.617% 1.000% 81.231% 75. — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.316% 0.000% 0. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 2 3 7.305% 1.309% 1.157% 0.548% 1. RW.495% 5.800% 0.542% 1.537% 0.535% 0.000% — Pengembangan pasar desa.265% 0.200% 1.368% 0.000% 0.174% 2.160% 0. — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.208% 0.099% 0.000% 1.805% 1.804% 0.153% 0.813% 1.758% 0.000% 0.000% 0.943% 1.332% 7 2. — Pengembangan akses pemasaran produk desa.000% 0.233% 0.509% 0. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 2 0.000% 0.165% 0. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).000% 0.210% 2.601% 2.000% 69. — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. — Pengembangan utilitas perdesaan.273% 2.612% 0.128% 2.000% 0.123% 3 4 5 3. 5 6 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.178% 1. 1.000% 0. 0.934% 1. RT dan lain-lain).279% 0.614% 0.176% 50.228% 0.387% — Peningkatan infra struktur perdesaan. LKMD.250% 5.612% 2.

0.767% 0.193% 1.365% 1.475% 1.969% 1.585% 1.720% 0.883% 1.308% 18.841% 0.294% 1.309% 1. — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.245% 1.515% 1.168% 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 10.445% 1.605% 1.120% 1.749% 0.538% 15.996% 0.494% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 2 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.016% 11.911% 2.751% 1.864% 0. — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.308% 18.081% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 3.007% 0.364% 1. — Pengembangan manajemen sekolah.360% 1.577% 1.609% 0.357% 1.648% 1.244% 1. — Peningkatan kesejahteraan guru.421% 1.877% 0.630% 1.577% 17. — Peningkatan budaya hidup bersih.881% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 — Peningkatan pelayanan pendidikan.325% 1.829% 0.014% 1.328% 1.454% 1.841% 0.550% 1.344% 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.653% 1.822% 0.863% 0. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) 1.279% 1.854% 1.445% 1. 10.868% 1.586% 2.516% 1.752% 1. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.038% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-47 .016% 11.307% 1.511% 1.412% 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.881% 1.538% 15.983% 1.968% 1. sehat dan berkualitas. — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.947% 0.929% 0.165% 1.878% 0.453% 1.010% 1.577% 17.874% 0.654% 1.070% 0.011% 0. — Pengembangan pendidikan anak dini usia. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).681% 1.

966% 0.258% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-48 .397% 0.670% 1.355% 0.000% 0.491% 1.994% 1.137% 0.789% 3.158% 0.639% 1.821% 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.863% 0.750% 1. 1.577% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 2 3 — Peningkatan keberdayaan perempuan. — Perbaikan gizi.562% 0.627% 7 8 9 10 1.409% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.214% 1. peralatan kesehatan dan kosmetika.098% 0.564% 1. — Pembinaan.731% 1.158% 1. 1.113% 1.168% 1.113% 1.217% 1.476% 1. makanan dan minuman.416% 0.013% 1. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 1. anak dan reproduksi. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. 1.643% 1. — Perlindungan dan advokasi hakhak perempuan.731% 0.014% 1. — Perlindungan ibu.503% 1.617% 0.826% 1.992% 1.949% 1.923% 2.006% 1.054% 0.000% 4.000% 0.000% 0.640% 1.282% 1.896% 1.457% 0.282% 1.361% 0.909% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 6 — Penanggulangan penyakit.552% 0. pembangunan dan kemasyarakatan.911% 1.236% 0.342% 1.213% 0.752% 1. pengawasan dan pengendalian obat-obatan.000% 0.821% 1.167% 1.057% 1. — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. — Pengembangan kesehatan lingkungan. kepemimpinan dan kepeloporan.575% 1.987% 1.738% 1.000% 0.000% 0.000% 0.113% — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.093% 1.

115% 0.120% 0.193% 0.151% 0.206% 0.211% 0.235% 0.121% 0. 1.153% 0.189% 0.131% 0.101% 0.207% 0.196% 0.117% 0.225% 0.230% 0. 0.136% 0. — Pemberdayaan anak terlantar.180% 0.118% 0. — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.216% 0.110% 0.116% 0.186% 0.923% 2.210% 0. — Peningkatan ketahanan sosial.101% 0.196% 0.120% 0.162% 0. — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. — Penaganan masalah-masalah sosial.177% 0.116% 0.190% 0.118% 0.126% 0.158% 0. penyandang cacat.251% 0.118% 0. — Advokasi dan perlindungan hakhak anak.113% 1.136% 0.156% 0.119% 0.180% 0.140% 0.141% 0. keluarga dan masyarakat. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.174% 0.104% 0.266% 0.191% 0. — Peningkatan prestasi olah raga.190% 0.247% 2 3 4 5 6 7 8 9 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-49 .282% 1. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.133% 0.179% 0.162% 0.223% 3 0.244% 0.157% 0.184% 0.174% 0.204% 0.098% 0.132% 0.138% 0.256% 0. individu. 1.104% 0.133% 0. lansia dan penyandang tuna sosial.198% 0. — Pemasyarakatan olah raga. — Penanggulangan bencana dan pengungsi.175% 0.178% 0.227% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.204% 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.157% 0.229% 4 5 6 7 8 9 Misi 4. — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.136% 0.217% 0.184% 0.171% 0. — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.223% 0.205% 0.731% 1.190% 0.101% 0.159% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.162% 0.207% 0.219% 0.114% 0. — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.102% 0.199% 0. — Pengembangan sistem perlindungan sosial.

— Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil.506% 0.697% 0.610% 0. — Pengembangan agribisnis.683% 0. — Peningkatan distribusi pingan.538% 0. seperti sentra tekstil.804% 1.466% 0.651% 0.018% 0.407% 0.221% 2.633% 0.140% 9 10 11 12 13 14 15 16 0.880% 0.040% 0. — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.759% 0.858% 0.117% 0.828% 0.805% 0.045% 1.577% 17. 0.065% 1.822% 0.767% 0.976% 1. — Revitalisasi pertanian.881% 0. usaha mikro.491% 0. — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.585% 0.552% 0.878% 1.740% 0.628% 0. — Pengembangan sentra-sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. sentra agribisnis.879% 0.182% 0. — Diversifikasi pangan.612% 0.589% 0.953% 0.790% 0.896% 0. — Pengembangan koperasi.914% 0.663% 0.016% 11.184% 1.806% 0. — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.756% 0. — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).737% 1.679% 0. — Pengembangan industri manufaktur.467% 0.537% 0.953% 0. sentra konveksi.726% 0.565% 0.548% 0.958% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-50 .879% 1.656% 0.538% 15.803% 1.058% 0. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).134% 1. pertenakan dan perikanan.724% 0.135% 0.940% 1. kecil dan menengah.426% 0.110% 0.085% 0.237% 1.725% 0.823% 0.020% 0.977% 0.998% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan.202% 0.703% 0.916% 0.605% 0. 10.491% 0.508% 0.308% 18.529% 0.476% 0. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 2 3 4 5 6 7 8 — Pengamanan ketersedian pangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.426% 0.439% 0.635% 0.736% 1.469% 0.662% 0.155% 0. — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. — Pengembangan ekonomi syariah.706% 0.

949% 1.323% 0.528% 0. — Pengendalian urbanisasi.227% 0.013% 0. 1.291% 0.324% 0.216% 0.401% 0.036% 1.098% — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.105% 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.586% 0.372% 0.675% 0. — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.912% 0.999% 18 19 3. terutama permodalan. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.203% 0.731% 1. 0. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.234% 0.191% 1.313% 4.293% 0.250% 0.213% 0. — Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.316% 0.854% 0.280% 0.915% 1.351% 0.383% 0.368% 0.731% 0.268% 0.325% 0.166% 1.331% 0.166% 0.258% 1.437% 0. — Penataan administrasi kependudukan.282% 1.113% 1.923% 2.217% 0.258% 0.374% 0.337% 0.633% 0.155% 0. 0.188% 0.355% 0.245% 0.188% 0.313% 0.477% 0.282% 0.549% 0.824% 0.530% 0.287% 2.341% 0.191% 0.393% 0.354% 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 2 3 4 5 6 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.436% 0.217% 0.292% 0. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 2 3 4 5 1.484% 0.287% 0.197% 0. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.923% 0. — Pemantapan hubungan industrial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.610% 0.253% 0.113% 0.307% 0.098% 0.179% 0.241% 0.409% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-51 . — Pengembangan keparawisataan.293% 0.

Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1 1.282% 0.871% 3.752% 0.158% 0.750% 0.133% 0.098% 0. — Penegakan hukum lingkungan.680% 2.113% — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.144% 1. — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.597% 2.622% 0.307% 0.923% 7.133% 0.688% 0.632% 0.787% 1. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 2 3 4 5 — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.142% 1.618% 0.740% 0. — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.133% 0. — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.294% 0.192% 5.691% 0.334% 0.924% 2.412% 2. — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.093% 1.587% 1.766% 2.692% 8.754% 6 7 8 0.307% 0.754% 0.175% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-52 .622% 0.305% 0.128% 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7.632% 2.702% 0. 0. — Pengembangan manajemen pertanahan.113% 2.312% 0.339% 5.380% 2.691% 0.135% 0.564% 5.329% 0.755% 2.687% 0.731% 0.769% 6. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 1 2 3 — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.160% 2.133% 0.107% 1. — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. 1.619% 0.145% 0.143% 0. 1.306% 0.364% 0. — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.666% 0.820% 0.749% 0.033% 1.369% 2. — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.392% 1.807% 0.893% 0.923% 0.737% 0. 3.142% 2.163% 1.676% 0.819% 0.

159% 0. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas. — Pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja dan GedebageMajalaya.155% 0.164% 0.121% 0.135% 0.109% 0.131% 0.084% 0.625% 0.171% 0.183% 0.102% 0.157% 2 3 0.110% 0.134% 0.164% 0.769% 0.103% 0.100% 0.150% 4 0.151% 0.097% 0.095% 0.909% 0.103% 0.095% 0.146% 0.094% 0.588% 0.146% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-53 . Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.097% 0.163% 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.182% 0.882% 1.087% 0.112% 0. — Pengembangan sentra konveksi.139% 0. — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat.146% 0. — Penataan iklim investasi yang kondusif.157% 0.165% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 3 — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.177% 0.169% 0.148% 0.144% 0.148% 0.084% 0.131% 0.108% 0.124% 0.168% 0.159% 0.150% 0.097% 0. — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.091% 0.152% 0.250% 7. — Pengembangan daerah ibu kota Soreang. — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial 6. — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.833% 0. Tertib.100% 0. — Pengembangan sentra agribisnis. 0.137% 0. 5.133% 0. — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan.091% 0.127% 0.113% 0.141% 0.142% 0.333% 9.131% 0.692% 8.106% 0.108% 0.162% 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. dan antara masyarakat dengan pemerintah. — Pengembangan sentra tekstil. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).146% 0.105% 0.168% 0.105% 0.185% 0.097% 0.098% 0.199% 0.095% 0.154% 0.180% 0. Tenteram dan Dinamis.100% 0.179% 0.089% 0.

105% 0.124% 0.076% 0.076% 0.076% 0.099% 0. 0.117% 0.113% 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 2 3 4 0.159% 0.110% 0.081% 0.073% 0.102% 0.107% 0.104% 0.095% 0.136% 0.101% 0.099% 0. — Sosialisasi.069% 0.625% 0.625% 0. — Peningkatan kesadaran budaya tertib.141% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis 1 2 0.080% 0. 0.833% 0.124% 0.588% — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.090% 0.091% 0.112% 0.769% 0. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum. — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.076% 0.588% 0.072% 0.101% 0.111% 0. 0.117% 0.122% 0.076% 0.098% 0.103% 0.073% 0.129% 0.085% 0.072% 0.107% 0.107% 0. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.071% 0.077% 0.129% 0.160% 2.117% 0. — Penerapan hukum secara konsekwen.097% 0. 5 6 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.769% 0.111% 5 6 7 8 3. — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah.147% 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.094% 0.833% 0.080% 0.180% 0.093% 0.153% 0.909% — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.172% 0.909% 0.165% 0.188% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-54 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kemasyarakatan.119% 0.094% 0. bantuan dan perlindungan hukum.110% 0. — Pengembangan produk hukum daerah.

055% 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.072% 0.052% 0. — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.100% 0.117% 0.137% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-55 .047% 0.625% 0.058% 0.184% 0.909% 0.156% 0.080% 0.061% 0.588% 0. — Pengembangan kegiatankegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.094% 0. — Peningkatan kerukunan hidup beragama.162% 0.094% 0.124% 0.085% 0.064% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.081% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. — Perlindungan hak politik masyarakat.114% 0.833% 0.121% 0.049% 0.909% 0. 1.091% 0. — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.108% 0.588% — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan 0.084% 0.099% 0. 0.119% 0.152% 0.149% 0.097% 0.061% 0.089% 9 2.076% 0.068% 0.180% Misi 5.106% 0.057% 0.078% 0.073% 0.169% 0.072% 7 8 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.124% 2 0.081% 0.066% 0.085% 0. 0. — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.136% 0.116% 0.833% 0.074% 0.114% 0.089% 0.105% 0.068% 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.075% 0.115% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 0.769% 0.126% 0.165% 0.125% 0.055% 0. — Pengembangan TPA/TKA.068% 0.176% 0.080% 3 4 5 6 0.769% 0.089% 0.118% 0.126% 0.625% 0. — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.088% 0.

232% 0. — Pengembangan ekonomi syari’ah.145% 0. 0.833% 0.173% 0.122% 0.151% 0.132% 0.625% 0.113% 0.588% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama 1 2 3 — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.212% 0. 0.189% 0.165% 0.138% 0.099% 0.113% 0.193% 0.299% 0.139% 0.107% 0.188% 0.107% 0.833% 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan.308% 0.144% 0.283% 0. — Peningkatan pelayanan ibadah haji.141% 0.105% 0.100% 0.107% 0.769% 0. infaq dan sadaqah.205% 0.100% 0. — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.274% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-56 .136% 0.165% 0.588% 0.153% 0.108% 0. — Pemberdayaan ormas keagamaan.225% 0.094% 0.145% 0. — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.261% 0. — Pengembangan manajemen potensi umat. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 2 3 4 5 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 2 3 4 5 6 — Peningkatan harmonisasi sosial.625% 0.151% 0.909% 0.199% 0.112% 0.167% 0.115% 0.251% 0.178% 0. — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.163% 4.093% 0.139% 0.130% 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.276% 0.123% 0.106% 0.149% 0.165% 3.154% 0.909% 0.141% 0.133% 0. — Optimalisasi zakat.769% 0.210% 0.177% 0.132% 0.151% 0.113% 0.211% 0. 0.141% 0.327% 0.139% 0.

307% 3 0.213% 0. — Pengembangan ekonomi budaya.155% 0.232% 0.269% 0.833% 0.164% 0.833% 0.122% 0.167% 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.152% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.281% 0.116% 0. — Pengembangan produk budaya.145% 0.147% 0.220% 0.308% 0.769% 0.249% 0.213% 0.160% 0.123% 0. — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat 1 2 3 4 — Pengembangan adat istiadat daerah.149% 0.116% 0.224% 0.114% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.138% 0.121% 0.179% 0.625% 0.588% — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.769% 0.154% 0.261% 0.181% 0.205% 0.181% 0.909% 0.136% 0. — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 6.128% 0. — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. 1.625% 0.625% 0.179% 2 0.202% 0.212% 0.260% 0.164% 0. 0.588% 0.176% 3 4 5 3.196% 0.909% 0.162% 0.199% 0.769% 0.203% 0.211% 0. 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 1 2 0.115% 0. 0. seperti tersedianya gedung kesenian.240% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-57 .294% 2.165% 0.162% 0.190% 0.197% 0.283% 0.196% 0.909% 0.152% 0.200% 0.588% 0.189% 0.833% 0.123% 0.150% 0.150% 0.177% 0. — Pelestarian asset budaya. — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

dalam penyusunannya diharuskan berpedoman RPJMD Kabupaten Bandung. SKPD Kabupaten Bandung dalam menyusun Renstra-SKPD diharuskan untuk berpedoman kepada RPJMD Kabupaten Bandung.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VIII PENUTUP 8.2. sehingga diharapkan visi dan misi pada tahun 2010 tersebut dapat tercapai dengan maksimal 2. maka dalam penyusunan program ditambahkan rancangan program indikatif 1 (satu) tahun ke depan setelah periode RPJM Daerah Kabupaten Bandung berakhir. RPJMD Kabupaten Bandung ini akan digunakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Bandung. Hal tersebut disebabkan agar program-program yang direncanakan dalam Renstra-SKPD dapat terintegrasi dengan baik dengan RPJMD yang sudah dibuat. Dalam penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) Kabupaten Bandung yang jangka waktunya selama 1 tahun.1 . Untuk menjembatani kekosongan dokumen perencanaan pada masa akhir jabatan Kepala Daerah maka dibuatlah rancangan program indikatif tahun 2011. PROGRAM TRANSISI Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010. Hal tersebut dikarenakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan dan sdasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bandung. BAB VIII Penutup VIII . Untuk detailnya rancangan program tersebut dapat dilihat pada bab VII. 8. Pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra-SKPD. yang merupakan : 1. KAIDAH PELAKSANAAN RPJM Daerah Kabupaten Bandung ini merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah dibuat oleh Bupati terpilih tahun 2005 – 2010.1. berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 2005 tentang Petunjuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

2 . 4. RPJMD Kabupaten Bandung merupakan dasar evaluasi dalam laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. sehingga semua stakeholder tersebut dalam pelaksanaannya dapat mensukseskan program yang telah disepakati. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung ini merupakan proses penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan dalam proses penyusunannya benar-benar menampung inspirasi para stakeholder yang terdapat di Kabupaten Bandung melalui MUSRENBANG Jangka Menengah yang telah diselenggarakan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJM Daerah. RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 merupakan indikator dalam proses evaluasi laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. BAB VIII Penutup VIII . sehingga dapat meminimalisir pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari visi dan misi tahun 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful