Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, yang merupakan integrasi

Rancangan Renstra SKPD yang berisikan program dan indikasi anggaran yang berorientasi pada fungsi dan sub fungsi pembangunan serta berpedoman kepada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta mengacu pada Perda No 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah. Tahapan penyusunan RPJMD ini telah dilaksanakan melalui beberapa proses kegiatan dengan hasil yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Selanjutnya penyusunan rancangan RPJMD ini merupakan hasil dari Musrenbang Jangka Menengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2006, untuk menerima masukan dan sumbang pemikiran dari stakeholder. Terdapat beberapa masukan berarti dalam Musrenbang tersebut yang telah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ini. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ini dapat kami selesaikan.

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung Kepala,

Drs. H.R. Wahyu, G. P. SH, M.Si. PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 480 067 477

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa pemerintah daerah yang telah memiliki kepala daerah hasil pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 ( lima ) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan terpilihnya Kepala Daerah Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2010 secara demokratis yang dilakukan oleh rakyat secara langsung, dan telah dilantik Kepala Daerah pada tanggal 5 Desember 2005 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32-1040/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan H. Obar Sobarna S.Ip sebagai Bupati Bandung 2005-2010, dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.32-1041/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian Drs. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati Bandung 2000-2005 dan Pengesahan Pengangkatan H. Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Bupati Bandung 2005-2010. Sehingga kepala daerah terpilih harus menyusun RPJMD Kabupaten Bandung tahun Dokumen RPJMD

2005-2010, karena dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Kabupaten Bandung 2005-2010 ditetapkan oleh peraturan daerah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah terpilih dilantik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan bersifat iindikatif sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung tersebut mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh

BAB I Pendahuluan

I-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencananaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJPD Kabupaten

Bandung (sedang dalam penyusunan) dan memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi Jawa Barat (Renstra Pemerintah Provinsi Jawa Barat), serta sumber daya yang tersedia di daerah Kabupaten Bandung. Tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan

Pembangunan Daerah. RPJMD ini selanjutnya menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan oleh seluruh perangkat daerah, yang secara substansial memuat rencana kerja, program dan indikasi kegiatan yang bersifat terukur dan dapat dilaksanakan dengan

mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Pasal 25 Ayat (1) dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 69 Ayat (2).

1.2.

Landasan Hukum Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, landasan

hukum yang menjadi dasar pertimbangan penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

BAB I Pendahuluan

I-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penylenggaraan Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga; 11. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 13. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bandung. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 8 Penyusunan Perencanaan Pembangunaan Daerah. Tahun 2005 tentang Tata Cara

1.3. Maksud Dan Tujuan 1.3.1. Maksud Berdasarkan pertimbangan di atas, RPJMD ini disusun dengan maksud sebagai berikut: 1. Menyediakan dokumen RPJMD Tahun 2005 – 2010 sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat dalam menentukan prioritas

BAB I Pendahuluan

I-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pembangunan tahunan daerah. Tata Guna Lahan. terarah dan terukur. 2. Tujuan Tujuan dari Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 adalah: Merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya. Arah kebijakan umum Kabupaten Bandung untuk 5 (lima) tahun kedepan. 1.4. Merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih. Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD. Lingkungan Hidup dan Sumber daya yang terdapat di Kabupaten Bandung. juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun Kabupaten Bandung. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD. yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 20 tahunan. 1. serta masyarakat untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program kepala daerah selama lima tahun. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan. perlu memperhatikan arah kebijakan nasional maupun propinsi. yaitu selain memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi/ Renstrada Provinsi Jawa Barat dan dokumen RPJPD Kabupaten Bandung (dalam tahapan penyusunan).3.2. agar dalam perencanaan maupun pelaksanaanya dapat sinkron dan sinergis dengan arah kebijakan nasional BAB I Pendahuluan I-4 . Memudahkan seluruh jajaran aparatur pememerintah daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu.

Agenda Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009 Berdasarkan permasalahan. Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme. tantangan. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk. yaitu: 1. Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. Terwujudnya masyarakat. 5. dan hak asasi manusia. kesetaraan. serta keterbatasan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara. 3. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum. dan negara yang aman. Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Nasional. Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat. Pengembangan Kebudayaan yang berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur. yaitu : 1. 6. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. dan Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2008 (RPJMD Propinsi Jawa Barat belum disusun). prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 4. 2.4. bersatu. ditetapkan Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. serta 3.1. Terwujudnya kehidupan masyarakat. 7. Dan Penanggulangan Kriminalitas. Peningkatan Keamanan. Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebut ditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung maupun propinsi. Pencegahan dan Penangulangan Separatisme. Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 2. 2. rukun dan damai. Berikut ini arah kebijakan nasional yang mengacu pada RPJM Nasional tahun 2004-2009. bangsa. bangsa. Dan untuk mencapai agenda (2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis. Ketertiban. Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera Untuk mencapai agenda (1) Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai tersebut. 2. negara yang menjunjung tinggi hukum. BAB I Pendahuluan I-5 . Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.

4. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial. 7. 16. Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1. 2. Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur.4. 5. Selanjutnya untuk mencapai agenda (3) Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera tersebut. 9. Revitalisasi Pertanian. yaitu ” Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Provinsi termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010”. 10. 4. 17. Peningkatan Pengelolaan BUMN. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro. 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama.2 Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat Berdasarkan revisi Renstra Jawa Barat. Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. sosial. 11. 3. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah. 13. 6. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80 pada tahun 2010. target tersebut dirasakan sulit tercapai. Penanggulangan Kemisikinan. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. 12. Kondisi politik. Kecil dan Menengah. Penghormatan. dan penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas. Berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2001 dan 2002. 8. Visi Provinsi Jawa Barat. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. 6. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 1. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Pengakuan. 15. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. Pembangunan kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga. ekonomi nasional yang belum stabil. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. Pembangunan Perdesaan. BAB I Pendahuluan I-6 . Percepatan Pembangunan Infrastruktur. 14.

Ketiga. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5 (lima) misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu: Pertama. Belum efisiennya alokasi dan penggunaan anggaran pemerintah dan dana masyarakat dalam menunjang pencapaian visi Jawa Barat. yaitu : 1. Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan 5. 3. Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Hal tersebut menjadi landasan penetapan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Pengelolaan pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun ke depan. Visi tersebut adalah ”Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”. Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah 4. Meningkatkan Kualiktas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Daerah Budaya BAB I Pendahuluan I-7 . Belum optimalnya keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan antar tingkat pemerintahan khususnya dalam memprioritaskan pembangunan sumberdaya manusia.2009. Kelima. Kedua. Keempat. Mengembangkan Strukturt Perekonomian Regional yang Tangguh 3. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa barat Pengembangan Struktur Peekonomian Regional yang Tangguh Pemantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah Peningkatkan Implenmentasi Pembangunan Berkelanjutan Peningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Budaya Daerah Berdasarkan visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barata tersebut disusun 5 (lima) Agenda Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004.

disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penyusunan RPJM. landasan hukum penyusunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. maksud dan tujuan penyusunan.5. MISI DAN PRIORITAS DAERAH Bab ini menguraikan visi dan misi kepala daerah terpilih serta prioritas pembangunan daerah selama lima tahun. Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010. Selain itu bab ini berisikan tentang arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran BAB I Pendahuluan I-8 . BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisi menguraikan kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang kenaikan dan penurunan serta pola – pola alokasi belanja daerah. hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya dan sistematika penulisan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini berisikan tentang uraian statistik dan gambaran umum kondisi daerah saat ini dengan maksud mengetahui keadaan daerah pada saat ini pada berbagai bidang dan aspek kehidupan dan aspek kehidupan sosial ekonomi daerah dan yang akan diintervensi melalui berbagai kebijakan dan program daerah dalam jangka waktu 5 ( lima ) tahun BAB III VISI.

BAB VIII PENUTUP Bab ini menguraikan tentang program transisi dan kaidah pelaksanaan BAB I Pendahuluan I-9 . Program-program tersebut selanjutnya akan diterjemahkan kedalam berbagai kegiatan oleh SKPD sesuai dengan fungsinya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Bab ini menguraikan tentang kebijakan yang berkaitan dengan program kepala daerah terpilih sebagai arah bagi SKPD maupun lintas SKPD dalam merumuskan kegiatan guna mencapai kinerja sesuai dengan tugas dan fungsinya BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisikan tentang rincian program pembangunan daerah yang merupakan instrumen untuk melaksanakan kebijakan pembangunan yang sudah ditetapkan.

Sumber air permukaan umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik pertanian. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 1070 22’- 1080 5’ Bujur Timur dan 60 41’ – 70 19’ Lintang Selatan.429 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 307. industri. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1. serta sebagian menggunakan fasilitas dari PDAM.170 Ha yang tersebar di 26 kecamatan.500 mm sampai dengan 4. di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Sumedang. Kabupaten Bandung memiliki banyak sumber daya air. 8% . Terletak pada ketinggian 110 meter sampai 2. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. dan lain-lain. Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Purwakarta.000 mm pertahun. dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%. non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga. sedangkan kawasan budidaya pertanian seluas 156. baik air tanah maupun air permukaan. kaki bukit. Suhu udara berkisar antara 190 C sampai 240 C dengan penyimpangan harian mencapai 500 C dan kelembaban udara beragam antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. sedangkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter). Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.15% hingga di atas 45%.090 Ha. Air permukaan terdiri dari 4 danau alam. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -1 . terdiri dari : • Kawasan hutan produksi seluas 25.1. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Cianjur dan di bagian tengah terletak Kota Bandung dan Kota Cimahi.371 Ha. Kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54. Dan air tanah dalam (kedalaman dari 60 sampai 200 meter) umumnya dipergunakan untuk keperluan industri. serta 172 buah sungai. 3 danau buatan.258 Ha.

Pada tahun 2005. 26. 21. 28. 23. 17. 13. dibawah ini : Tabel 2. 9. 16.19 Ha.10 % (Sumber data BPS 2005). Kawasan peternakan seluas 274 Ha. 7. Kawasan perikanan seluas 39 Ha.906 Ha.64%. LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. 4. 6.274. Kawasan pangan lahan kering seluas 76.1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • Kawasan pangan lahan basah seluas 34. 14. 27.384 Ha. Dengan demikian. 35.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung No 1. 29. 33.229. 25. 24. 30. 31. 18 19 20. 32. 3. 5. dan 431 Desa. 15. Kecamatan PADALARANG BATUJAJAR CIPATAT NGAMPRAH CILEUNYI CIMENYAN CILENGKRANG BOJONGSOANG MARGAHAYU MARGAASIH KATAPANG DAYEUKOLOT BANJARAN PAMEUNGPEUK PANGALENGAN ARJASARI CIMAUNG CILILIN SINDANGKERTA CIPONGKOR GUNUNGHALU RONGGA CIKALONGWETAN CIPEUDEUY CICALENGKA NAGREG CIKANCUNG RANCAEKEK CIPARAY PACET KERTASARI BALEENDAH MAJALAYA SOLOKAN JERUK PASEH Desa 10 13 12 11 6 7 6 6 5 6 10 5 11 6 13 11 9 11 11 14 9 8 13 12 12 6 9 13 14 13 7 3 11 7 12 Kelurahan 2 1 1 5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -2 . 22. 11. 2.431 jiwa dan Laju Pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 3. 8. 12. 10. jumlah penduduk Kabupaten Bandung 4. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan. lihat tabel 2. Secara administrasi Kabupaten Bandung terbagi atas 45 Kecamatan. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seluas 19. 34. 9 Kelurahan.

42. 39. 37.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No 36. 41. 44. 45. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -3 . 38. Kecamatan IBUN SOREANG PASIRJAMBU CIWIDEY RANCABALI LEMBANG CISARUA PARONGPONG CANGKUANG CIHAMPELAS Jumlah Desa 12 18 10 7 5 16 8 7 7 10 431 Kelurahan 9 Sumber : Bagian Pemerintahan Umum Sekda Kab. 43. 40.

1 Peta Administrasi BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -4 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Gambar 2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Bandung diantaranya gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan seperti longsoran tanah/batu, longsoran sampah, banjir, penurunan muka air tanah dan kebakaran. Peta sebaran kebencanaan dapat dilihat pada peta 2.3 Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana alam dan bencana adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan masih minimnya peralatan penanggulangan bencana alam dan bencana yang dimiliki. Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan potensi aspek fisik dasar Kabupaten Bandung : 1. Cakupan luas wilayah yang cukup besar 307.371 Ha memiliki potensi ketersediaan lahan dan daya dukung lahan yang luas 2. Memiliki daerah administrasi pemerintahan yang relatif banyak ( 431 desa, 9 kelurahahan dan 45 kecamatan 3. Banyak sumber daya air, baik air tanah maupun air permukaan. 4. Luasnya kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.170 Ha sebagai pemasok air, wilayah konservasi, sumberdaya hutan, wisata konservasi dan lain-lain.

Permasalahan : o Terdapat rencana pemekaran Kabupaten Bandung Barat o Terdapatnya kemungkinan bencana gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. o Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Luas kawasan rawan banjir di Cekungan Bandung 14.480 ha Lokasi Banjir : Sapan, Andir, Rancaekek, Majalaya, Buah Batu, Ujungberung, Ciparay, Pameungpeuk, Manggahang, Baleendah, Dayeuhkolot

Gambar 2.2 Peta Daerah Rawan Banjir

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -6

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Gambar 2.3 Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Bandung

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -7

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

2.2.

Perekonomian Daerah Salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan

adalah melalui pengukuran pencapaian indikator makro ekonomi yang masing-masing indikatornya terdiri dari beberapa macam komponen. Pencapaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung akan dibahas pada uraian berikut. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 26,957 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 13,09% jika dibandingkan PDRB tahun sebelumnya sebesar Rp. 23,836 triliun. Nilai PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
PDRB KABUPATEN BANDUNG TAHUN 19952004 MENURUT HARGA BERLAKU
30,000,000 25,000,000 JUMLAH (Juta Rp) 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 TAHUN

Gambar 2.4 Secara lengkap nilai PDRB, kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Tiga sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar Rp. 14,37 triliun (53,33%), sektor Perdagangan, Hotel dan restoran sebesar Rp. 4,74 triliun (17,57%) dan sektor sektor Pertanian Rp. 2,53 triliun (9,42%). Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah digambarkan oleh besarnya kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga konstan adalah Rp. 7,108 triliun dan pada

tahun 2003 tercatat sebesar Rp. 6,755 triliun, dengan demikian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sebesar 5,23%. LPE Kabupaten

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -8

000 0 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 JUMLAH (Juta Rp) TAHUN Gambar 2.000 2.000 5.000.000.000.98%.000 3. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga konstan dapat dilihat pada Gambar 2.5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -9 .000 6. BANDUNG TAHUN 1995-2004 MENURUT HARGA KONSTAN 9.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bandung ini masih lebih besar jika dibandingkan dengan LPE Jawa Barat tahun 2004 yaitu sebesar 4.000.000 7.000 8.5. PDRB KAB.000.000.000.000.000 1.000 4.000.

01 0.087.21 901.214.25 2.254.688.66 157.63 287.328. Hiburan dan Rekreasi B.15 707.596.21 4.143.305.660.516.942.208.24 29.990.459.46 709.543.82 493.00 0.797. Air Bersih 5.54 19.539.302. Perkebunan C.896.971. Minyak dan Gas Bumi B.31 77.492.388.184.10 76.11 563.587.499.59 523.577.38 67.353.838.365.56 8.242.46 0.00 42.621.274.19 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 2.31 305. Tanaman Bahan Makanan B.790.00 12.424.00 57.258.453.59 4.49 0.641.808.065.23 16.074.044.665. Angkutan Udara A.00 0.430.548.357.177. HOTEL DAN RESTORAN A.56 11.31 80.43 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 1.341.291. Sewa Bangunan D.968.535.524.82 547.878.996.68 8.477.870.234.87 20.69 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 2.213.89 1.450.36 700.225.637.465.59 728.84 204.684.58 916. Angkutan Jalan Raya A.56 276.483.06 342.187.00 0.957.842.871.00 4.20 1. Listrik B.087.744.351.62 274.57 17.05 203.075.74 156.32 14.51 158.15 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 1.70 918.00 5.00 4.486.81 2.087.236.15 1.262. PERDAGANGAN. Pemerintahan B. JASA-JASA A.71 0.65 600.598.083.00 14.69 0.08 586.15 4.09 1.984. Perikanan 2.520.18 1.951.623. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.766.31 740. Angkutan Laut A.79 4.00 44.48 730.37 19.80 9.227.040.3.074.882. Penggalian 3.701.63 231.70 0.264.05 371.590.86 406.30 0.593.00 5.211.943.13 394.547.91 331.842.781.301.714.064.03 1.27 16.98 5.81 124. Sosial Kemasyarakatan B.31 0.233.46 75.571.3.59 794.44 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 1.55 803.74 152.00 5.746.041.95 1.2.792. Angkutan Rel A.85 700.39 150.705.497.856.289.422.00 0.72 201.174.430.44 598.98 304.081.11 0.01 173.663.00 60.990.00 87.348.058.5.687.289.553. KEUANGAN.668.097.1.533.21 0.00 0.245.270.60 939.244.00 11.00 0.680.33 9.942.191.06 6.801.82 0.86 3.58 86.566.79 18.860.52 21.380.232.83 107. Komunikasi 8.00 0. Industri Tanpa Migas 4.900.648.690.802.637.00 0.84 368.230.41 104.00 12.808.76 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.05 582.131.19 72.058.958.523.91 831.00 98.34 1.573.628.75 677.31 0.391.93 4.735.83 56.679.91 48.128.452.34 410.21 643.55 0.88 92.252.10 2.50 233.00 13.137.72 9.718.84 136.822.955.34 855.00 0.00 114.00 11.63 65.690. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1995 (Juta Rupiah) 989.01 612.216.288.965.96 794.28 1.174.00 64.313.46 10.563.119.02 128.442.80 13.337.229.76 26.27 44.98 3. Jasa Penunjang Angkutan B.00 4.50 0.00 10.007.321.94 630.75 61.189.442.588.101.07 4.4.110.274.15 8.52 449.246.931.243.56 3.59 17.11 39.36 98.64 634.46 2.690.54 609.659.876.105.191.00 0.723.040.675.348.96 450.65 49.38 1.244.273.269.00 9.625.071.250.20 461.81 516.071.00 46.24 35.50 373.400.609.71 1.497.64 6.014.05 65.261. Gas C.38 791.33 0.25 4.44 27.572.89 283.045.56 364.245.051.399.441.79 9.08 0.186.411.454.66 11.02 183.658.44 5.086.405.292.599.10 390.47 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 1.900.753.555.86 51.415.232.76 2.710.32 3.46 25.65 553.847.604.30 0.064. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.844.510.60 11.376.42 247.592.173.28 920.625.076.227.81 512.226.83 687.920.069.98 427.078.73 167.022.65 376.970.703.02 260.395.396.440.448.31 227.393.83 196.00 6.03 165.22 0.69 402.50 725.92 671.00 36.72 5.29 10.059.383.244.30 1.00 83.32 7.56 894.411.00 3. Industri Migas B.358.00 0.305.27 325.25 0.458.30 172.390.603.174.29 21.12 0.647.355.26 307.93 341.971.399. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.98 3.25 22.609.955.40 47.044.00 0.12 363.40 262.11 122.72 9. Swasta B. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.21 193.64 41.228.12 0.31 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 1.887.83 9.75 93.332.96 289.08 573.873.46 164.894.47 254.06 37.00 14.652.59 14.419.423.00 40.128.83 39.266.007.60 0.344.91 43.00 0.6.37 10.220.29 451.570.821.343.76 1.742.398.43 68.20 7. Bank B.075.92 0.698.81 749.81 11.416.68 9.33 332.376.15 5.2.00 0.53 290.60 0.00 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -10 .017.269.92 76.62 10.33 594.34 3.264.489.1.58 0.37 23.47 0.00 0.310.899.919.933.489.114.921.18 12.53 354.647.279.20 556.524.160.328. INDUSTRI PENGOLAHAN A.786.94 18.669.650.510.00 9. Pegangkutan A.34 1.89 1.00 10.736.118.612.49 24.57 0.969. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.72 64.83 0.25 0.21 321.44 925.088.889.32 14.87 0.28 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 1.67 261.00 11.433.98 144.563.29 634. Pertambangan tanpa Gas C.00 35.373.776.820.10 291.51 56.38 56.523.94 249.64 231.58 452.872. Angkutan Sungai A.04 129.44 171.852.27 57.501.212.881.510.738.69 8.00 0.552.15 0.012. Restoran 7.23 109.511.98 0.56 12.215.64 620.150.669.125.01 107.032.94 339. Perdagangan Besar dan Eceran B.66 262.849.43 10.388.77 72.69 945.034.570.00 132.14 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 2.348.573.00 21.240.82 677.131.79 44.668.05 109.93 336.63 820.597.128.86 7.00 49.94 484.208.41 123.489.845. Jasa Perusahaan 9.807.06 524.053.66 1.2 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha 1.552.562.701.52 540.864.62 33.028.00 0.91 949.347.718.483.21 370.375.17 17. LISTRIK GAS DAN AIR A.22 3.839.01 521.95 376.35 4. Kehutanan E.45 646.937.34 15.39 82.239.97 2.656.132.29 5.498.057.41 288.43 0.259.483.698.74 144.10 100.375.449.025.89 1.810.222.96 531.277.257.450.303.00 3.64 444.57 113.44 5.435.115.00 25.829.26 0.00 72.89 1.422.01 264.390.836.182.05 516.567.178.296.510.435.47 382.62 6.66 1.03 3.627.111.339.33 307.229.16 629.11 1.472.091.865.07 906.76 0. PERTANIAN A.55 330.978.581.80 2.91 0. Hotel C.782.789.00 71.17 0.590.155.65 345.211.263.968.00 0.92 641.175.21 279.00 5.60 1.102.24 430.52 847.00 502.409.51 632.00 0.23 589.15 99.240.988.998.73 121.262.469.43 383.59 62.29 0.176.86 6.54 0.395.917.46 303.23 326.292.633.718.18 0.270.838.309.698.82 43.085.540.46 854.19 516. Peternakan D.744.196.780.00 5.30 1.453.320.89 431.904.991.53 384.00 8.27 566.70 270.777.70 332.972.186.21 8.00 18.414.82 287.63 1.41 190.84 658.295.175.347.70 918.413.669.937.305.74 156.411.907.727.00 0.00 10.190.

transfer.70 8.2. lembaga keuangan bukan bank (asuransi. Mengingat perannya yang strategis dan dengan tingkat inflasi yang relatif kecil. pinjaman. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Rata-rata 2003 (%) 3. 2004 Tingkat inflasi Kabupaten Bandung secara makro pada tahun 2004 mencapai 7. jasa hukum dan jasa konsultan) tersebut dapat meningkatkan produksi secara optimal. jual beli surat berharga dll).39%.44 7.74%.23 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan harga konstan.47 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.17 10.97 8. Tingkat inflasi terbesar disumbang oleh kelompok bangunan/konstruksi sebesar 10.47% dan angka tersebut relatif lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2003 dengan inflasi 6. Secara lengkap tingkat inflasi per lapangan usaha adalah sebagai berikut : Tabel 2. sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 adalah sektor Keuangan.70 12. disusul sektor Pertambangan dan Penggalian 7.17 8.7%.37 6. Secara lengkap nilai PDRB. Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2004 memiliki tingkat inflasi terkecil dibandingkan sektor lainnya.60 5.56 3. Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 12.46 6.48%. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -11 . sedangkan inflasi terkecil dialami sektor keuangan sebesar 3.48 2004 (%) 6.55%.55 10. koperasi. sewa bangunan dan jasa perusahaan (al.11 7. kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.64 6.69 5.31 7.58% dan sektor Pengangkutan & Komunikasi 6.4 Tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung 2003 –2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Hotel dan Restaurant Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Gas dan Air Bangunan/Konstruksi Perdagangan. maka sektor Keuangan yang terdiri dari kegiatan perbankan (simpanan. pegadaian).27 10. Inflasi sektor Keuangan. Tingginya LPE yang dicapai sektor-sektor tersebut terkait erat dengan tingkat inflasi/kenaikan harga yang dialami.87 10.

696.164.87 96.577.96 596.438.00 30. Penggalian 3.308.05 0.40 241.71 5.82 686.632.52 75.603.051.77 0.295.41 278.00 3.00 28.00 4.232.59 242.119. JASA-JASA A.132.125.058.879.010.580.607.24 230.93 240.65 8.251.00 36.54 2.43 4.372. KEUANGAN.386.478.99 35.682.00 4. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.72 123.59 31.496.10 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 690.13 61.596.588.62 274. Peternakan D.963.00 16.307.796.32 32.564.41 0.777.75 4.629.00 4.55 9.78 54.00 0.092.839.84 293.482.903.381.941.785.49 0.64 35.81 237.558.015.31 6.379.51 5.862.23 111.017.772.43 190.907.465.520.13 21.579.20 448.41 133.299.72 24. Hotel C. Angkutan Sungai A.15 688.141.199.586.38 986.1.954.58 474.00 0.48 962.026.852.785. Angkutan Udara A.663.876.465.374.541. Perdagangan Besar dan Eceran B.491.563.04 165.637.518.500.834.02 4.883.52 262.607.65 263.05 306.00 0.903.87 143. Angkutan Laut A.43 121.00 0. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.00 19.902.00 3.05 0.098.91 247.307.020.00 53.787.405.622.00 0.766.72 4.00 0.27 39. Restoran 7.37 31.3.64 30.016.57 211.37 114.440.00 30.48 896.30 186.33 8.795.564.73 578.993.23 1.44 387.262.716.71 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 753.100.84 25.075.71 2.21 180.00 4.755.77 0.61 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 725.457.87 472.00 0.00 24.464.35 803.652.306.23 362.582.217.095.327.56 28.61 334.593.572.521.900.74 25.97 219.5.95 248.14 97.57 767.821.607.04 6.168.00 0.53 3.90 7.00 33.049.037.95 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 791.172.90 101.00 3.996.75 4. Air Bersih 5.16 655.92 940.980.190.586.015.38 0.56 196.00 0.10 128.66 61.00 0.828.3. Jasa Perusahaan 9. HOTEL DAN RESTORAN A.16 203.10 464.588.647.300.797.35 6.722.77 377. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.10 1.59 398.762.771.04 453.39 24.00 0.2.037.48 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -12 .28 304.771.44 5.14 6.61 0. Sosial Kemasyarakatan B.272.922.425.90 342.267.00 3.900.108.66 259.80 5.73 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 743.01 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 864.884.53 0.553.19 45.50 0.80 65. Listrik B.411.460.745.41 134.894.37 316.93 358.560.73 30.265.39 251.491.766.738.84 129.34 2.00 33.97 0.038.53 50.01 1.221.22 0.82 372.50 254.16 2.55 127.261.650. Minyak dan Gas Bumi B.030.46 6.328.28 0.54 220.918.23 3.428.38 37.14 0.90 321.602.95 233.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.742.248.00 4.68 955.12 224.00 3.08 101.127.09 0.00 18.1.49 0. Komunikasi 8.63 237.610.812.25 36.634.523.018.79 94. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.830.00 0.62 361.56 234.33 25.587.021.16 510.78 197.85 3.84 304.73 325.432.06 556.626.00 6.051.11 169.02 765.518.195.90 8.90 261.03 226.00 3.32 1.20 244.00 4.89 30.950.00 0.58 294.801.063.25 2.16 385.148.09 240.710.63 253.07 134.955.306.20 54.090.20 2.592.07 0.513.845.825.93 245.00 27.465.67 0.00 3.994.620.86 251.95 260.19 5.755.54 491. Tanaman Bahan Makanan B.86 0.73 330.956.79 0.35 0.500.14 64.708.00 243.752.90 2. Gas C.768. Industri Migas B.99 7.093.54 26.67 2.80 302.92 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 671.837.87 120.520.328.06 23.299.47 0.197.11 234.69 133.07 346.960.49 69.76 328.43 1.825. Sewa Bangunan D.00 3.556.687.209.72 723.453.332.116.825.251.958.490. Pegangkutan A.873.40 6.48 36.23 4.29 53.28 0.319.98 217.12 7.00 22.800.24 472.064.491.209.570.21 7.57 6.300.938.083.553.82 127.370. Perikanan 2. Jasa Penunjang Angkutan B.11 237.281.779.412.51 244.00 0.88 246.806.444.00 26.583.687.06 55.34 53.658.86 132.73 104.02 2.337.11 537. INDUSTRI PENGOLAHAN A.160.00 0.39 130.98 7.577.66 204.26 296.060.057.61 42. Bank B.388.647.2.00 3.199.289.174.00 53.066.062.98 3.00 3.370.687.438.95 0. Angkutan Rel A.21 4.780.546.6. PERTANIAN A.868.86 181.536.299.836.34 0.797.12 237.74 24. Kehutanan E.530.335.141.29 40.709.340.361.32 45.429.687.74 32.378.223.96 452.638.122.325. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.963.00 3.09 125.97 289.01 2.236.012. PERDAGANGAN.90 3.693.00 3.53 52.42 3.73 54.00 16.375.46 6.92 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 696.38 5.164.97 243.08 273.53 219.596.686.89 149.540.53 3.449.91 935.05 259.791.99 7.65 3.631.78 5.96 58.633.07 1.311.175.021.07 2.47 3.87 50.409.25 170.3 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 1.95 479.919.188.345.750.772.501.02 210.561.67 419.342.24 271.93 0.110.079.00 3.23 24.00 324.390.00 29.500.07 55.828.345.942.941.087.63 323.00 19.350.260.454.302.956.32 276.11 256.11 215.148.471.33 69.75 171.00 20.90 34.51 353.542.99 39. Pertambangan tanpa Gas C.491.65 343.21 0.16 330.310.578.00 0.28 119.34 158.35 51.463.00 29.21 230.020.91 463.242.96 7.72 185.72 33.29 188.564.234.86 189.32 229.965.74 193.085.837.644.180.303.61 42.31 59.567.019.00 0.32 0.647.263.02 126.58 32.592.34 188.121.22 233.548.97 91.141.25 8.352.96 5.594.44 300.73 0.443.536.00 20.491.71 301.34 3.53 731.455.725.48 0.49 194.188.596.76 28.43 103.59 781.815.49 0. LISTRIK GAS DAN AIR A.97 4.75 162.52 4.17 0.693.534.254.56 27.837.913.806.00 0.217.765.738.73 0.251.530.233.20 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 703.19 5.830. Hiburan dan Rekreasi B.73 56.57 769.430.743.08 263.00 26. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1995 (Juta Rupiah) 874.00 31.00 0.58 6.71 450.93 115.443.119.76 0.33 2.861.50 37. Angkutan Jalan Raya A.05 150.519.89 325.371.230.659.64 238.95 1.273.04 64. Perkebunan C.045.777.833.09 51.795.365.00 0.561.16 225.034.312.668.255.94 309.142.46 6.294.79 172.762.00 3.954.990.666.53 234.56 524.92 0.66 0.612.03 735.262.442.96 34.483.79 0.12 481.06 0.02 336.66 0.985.4. Industri Tanpa Migas 4.597.91 254.49 223.67 456.33 6.10 0.810.28 116.647.282.73 2.270.418.69 493.864.444.14 3.310.829.95 3.312.375.016.199.245.86 2.008.52 492. Pemerintahan B.564.29 998.51 3.105.894.670.980.645.656. Swasta B.460.75 3.

Namun demikian.dan Rp.930. tahun 2002 sebanyak 7 pasar (penambahan 1 pasar).00 atau hanya meningkat 2%.316.714. 5. Pada tahun 2001 telah dilaksanakan kegiatan penataan sarana pasar/renovasi sebanyak 6 pasar.146. • Sulitnya mempertemukan aspirasi pedagang dan investor. bila diteliti lebih lanjut ternyata peningkatan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku tidak menggambarkan peningkatan secara riil tetapi lebih disebabkan karena adanya pengaruh kenaikan harga/inflasi.578. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -13 .1. 2. Hal ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kabupaten Bandung pada tahun 2004 berdasarkan harga konstan hanya meningkat sebesar 2%.47% terlihat bahwa kemakmuran masyarakat sebenarnya belum mengalami kenaikan yang cukup berarti.536. 6.6% jika dibandingkan PDRB per kapita tahun 2003 sebesar Rp. tipe B sebanyak 7 pasar. dan tipe C sebanyak 7 pasar serta pasar desa sebanyak 41 buah pasar. Permasalahan yang dihadapi di sub fungsi perdagangan antara lain adalah : • Belum optimalnya penataan sarana dan prasarana perdagangan yang disebabkan karena sulitnya melakukan relokasi sarana prasarana perdagangan yang sudah eksis.2. Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 telah dilaksanakan penyelesaian masalah tanah Pasar Baleendah.-. Apabila dihitung dengan menggunakan harga konstan 1993. PDRB per kapita masyarakat Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku 2004 adalah sebesar Rp. tahun 2003 sebanyak 14 pasar (penambahan 7 pasar) dan 16 pasar pada tahun 2004 (penambahan 2 pasar). Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung memiliki potensi di sub fungsi Perdagangan yaitu berupa pasar Kabupaten sebanyak 22 buah pasar terdiri dari tipe A sebanyak 8 pasar.1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.. Pengembangan Usaha. Program-program yang dilaksanakan dalam mendukung sub fungsi ini adalah program Penataan Sarana Pasar/Renovasi dan Pembinaan SDM pengelola pasar.681.1 Sub Fungsi Perdagangan.431 dan meningkat sebesar 9. Jika dibandingkan dengan angka inflasi sebesar 7. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi perdagangan dari Tahun 2001 – 2004 secara kuantitatif adalah sebanyak 16 pasar. PDRB per kapita Kabupaten Bandung tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp.

Pada tahun 2002 telah berdiri 67 koperasi baru. Pada tahun 2004 di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 1. jumlah anggota.050. 464. UKM tersebut terdiri dari jenis usaha perdagangan 863 unit. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM. Koperasi Baitul Mall-Wattanwil 38 unit dan Koperasi Pusat 4 unit.selain itu dapat dilihat dari berdirinya koperasi baru. penilaian klasifikasi 152 koperasi. Adapun keberhasilan lain terlihat dari program kemitraan dengan teraksesnya permodalan dari BUMN..976. Pada tahun 2003 telah berdiri 47 koperasi baru. jumlah modal Rp.452 orang. peningkatan klasifikasi 260 koperasi. jumlah modal.27. bimbingan kepada 150 UKM.466 unit dan yang tidak aktif 205 unit).000. 799. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus relokasi pasar Baleendah dan pasar Ciwidey. Potensi yang dimiliki pada sub fungsi Koperasi dan UKM terlihat dari Banyaknya jumlah koperasi. jasa 210 unit dan industri 2. pada tahun 2002 sebesar Rp. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 250 koperasi sehat. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP.000. Pada tahun 2001 telah berdiri 130 koperasi baru. volume usaha.414 unit dengan total jumlah tenaga kerja yang diserap 22.1.2 milyar.000.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Sulitnya melaksanakan penegakan hukum.550.671 unit Koperasi (unit yang aktif sebanyak 1. Koperasi Pemasaran 63 unit. volume usaha Rp. Koperasi Pondok Pesantren 148 unit. Koperasi Produksi 188 unit. asset koperasi. dan bimbingan kepada 63 UKM. terdiri dari koperasi konsumsi sebanyak 1.284 orang. Selanjutnya pada tahun 2004 telah berdiri 71 koperasi baru.yang diserap oleh 9 unit koperasi dan 57 unit PK. dan bimbingan kepada 174 UKM. pada tahun 2001 sebesar Rp. penilaian klasifikasi koperasi sebanyak 100 unit. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 188 koperasi sehat.tercapai Rp. jumlah asset Rp. Jika dilihat dari jenis usahanya. hasil-hasil yang dicapai antara lain pelaksanaan Perda No.257. Koperasi Unit Desa 46 unit.29.025 unit.000. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 222 koperasi sehat. peningkatan klasifikasi 30 koperasi. 553. Koperasi Serba Usaha 141 unit. penilaian klasifikasi koperasi.790. Jumlah anggota koperasi sebanyak 1. dan bimbingan kepada 150 UKM.... Koperasi Jasa 18 unit. dan jumlah UKM.yang BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -14 .9 milyar. 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Perijinan Penyelenggaraan Koperasi dari target Rp. penilaian kesehatan KSP/USP 185 koperasi sehat.5 milyar dan pelaku UKM sejumlah 3.500. Koperasi Simpan Pinjam 13 unit.000.488 unit.

142. kerbau 6.097. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi Pertanian.000. kolam air deras.031. kambing 62.685 ton. Pada tahun 2004 tercatat populasi sapi perah sebanyak 44. tercatat produksi sejumlah komoditi tanaman pangan dan hortikultura sayuran dan perkebunan adalah sebagai berikut : padi 655.221 ton. produksi peternakan dan perikanan.433 ton.586.102 ekor.500.112. Kehutanan dan Perikanan selama tahun 2001 s/d 2004 antara lain adalah meningkatnya produksi komoditi tanaman pangan dan hortikultura.986 kg serta ikan sebanyak 25.86 ton yang berasal dari kolam. ayam buras 4.119 ton. kentang 261.2. tomat 91.terserap oleh 6 unit PK.dan dana lainnya terserap oleh 2 unit koperasi dan 7 unit PK.884 ton. sedangkan belum optimalnya peran koperasi disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki serta rendahnya kualitas SDM pengurus dan anggota koperasi.680 ekor.58.516 ton.118 kg dan susu 94.1. pada tahun 2003 sebesar Rp.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung diserap oleh 1 unit koperasi dan 182 unit PK.061 ekor. jaring apung dan perairan umum.000.484. Pada tahun 2004. 2. ayam ras pedaging 4. sawah. Rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah dipengaruhi oleh faktor modal. inovasi.000.032. sedangkan pada tahun 2004 sebesar Rp. kopi 540 ton dan tembakau 793 ton.1. kuda 7.050 ton. kubis 221.yang diserap oleh 1 unit koperasi (KSP Sarwa Mukti Cisarua) sebesar Rp. jagung 82...388 ton.2 Sub Fungsi Pertanian. ubi kayu 139.050. domba 499. kelapa 1. teh 58. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -15 .000.411 ton.590. Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi di Bidang Pertanian.886 dan itik 509. Pada sub fungsi Peternakan dan Perikanan. Selain itu terdapat produksi daging baik dari ternak kecil dan besar sebanyak 31.000.649 kg. Kabupaten Bandung merupakan salah satu kontributor yang cukup penting bagi pemenuhan konsumsi protein hewani di Jawa Barat.469 ton.973.. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM antara lain ditemukan permasalahan : • • Belum optimalnya peran koperasi sebagai sistem ekonomi masyarakat dan Masih rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah. ongkos produksi dan skala produksi. cabe merah 18. ayam ras petelur 492. produksi telur 10.583.422. kakao 747 ton. bawang merah 40. sapi potong 7.468 ekor. kualitas produk.500.

sedangkan untuk memanfaatkan potensi pertambangan telah dilakukan upaya identifikasi data awal sebaran bahan galian golongan C di 19 Kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2001 – 2002 dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -16 .00 per bulan dengan luas lahan yang diupayakan berkisar antara 0.500. air tanah (air bawah tanah dan mata air). Batujajar.150. pengairan sederhana 9. Empat puluh persen petani berpendapatan di bawah Rp. 2.000 m3 (DLH.4 Sub Fungsi Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung memiliki aneka ragam potensi jenis pertambangan antara lain adalah batu andesit seluas 61.971 Ha. dan mineral emas (masih tahapan eksplorasi).63 ha dengan jumlah 19.660 ha.5 Ha per KK. serta panas bumi (geothermal).069 ha) sekitar 45 % dalam kondisi rusak dan sampai tahun 2004 baru ditangani sebanyak 10 % dari jumlah jaringan yang rusak. 2. potensi yang dimiliki adalah irigasi/pengairan teknis seluas 12. 2004). keterbatasan modal. Cicalengka dan Baleendah dengan jumlah 40. Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung. Margaasih. batu marmer di Kecamatan Cipatat seluas 76.2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Permasalahan utama yang dihadapi dalam sub fungsi ini antara lain masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat petani.3 s/d 0.253 ha dan tadah hujan 10.725.487 ha.84 ha di Kecamatan Padalarang. pengairan pedesaan 15. Program yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 ditujukan untuk menurunkan jumlah angka pelanggaran dalam kegiatan usaha penambangan seperti kegiatan pemantauan dan pembinaan penambangan bahan galian Golongan C di Kecamatan Padalarang dan Cipatat pada tahun 2003.3 Sub Fungsi Pengairan Potensi Pengairan yang dimiliki Kabupaten Bandung sangat terkait erat dengan potensi di sektor Pertanian. Cipatat dan Cikalongwetan dengan jumlah 3 juta m3. dari seluruh jaringan irigasi yang ditangani Kabupaten (seluas 19. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum. rendahnya kualitas hasil produksi pertanian dan tingginya ongkos produksi.000.250 m3 dan kapur (batu gamping) di Kecamatan Padalarang dan Cipatat seluas 15 ha dengan jumlah 3. pasir seluas 26 ha di Kecamatan Padalarang. pengairan setengah teknis 7.690.2.723 ha. Rendahnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh faktor rendahnya nilai jual produk pertanian.000 m3. Cililin.

5 Jumlah Potensi Panas Bumi (MWe) di Kabupaten Bandung Sumberdaya Spekulatif Terduga Kapasitas Terpasang (MWe) Hipotetik Potensi Mungkin Terbukti Sub Total No Kecamatan Lapangan 1.Patuha Cimanggu Ranca Walini Batununggal Kawah Putih Kawah Cibumi Kawah Ciwidey TOTAL 250 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung inventarisasi semi mikro potensi bahan galian di Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada tahun 2005. baik perusahaan maupun perorangan ditandai dengan pelaksanaan reklamasi yang masih di bawah 20%. Ciwidey 65 25 25 25 25 247 170 482 25 25 25 25 140 84 150 324 140 527 208 647 140 224 1856 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Permasalahan yang dihadapi Pertambangan dan energi antara lain adalah masih adanya penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan. baru dalam tahapan Eksplorasi dan potensi panas bumi (geothermal) yang sebarannya dan potensinya seperti terlihat di tabel 2.5. Tabel 2. dan awal tahun 2006 terjadi longsoran (tanah dan pasir tras) di lokasi penambangan yang mengakibat korban jiwa yang diakibatkan penambangan tidak sesuai dengan kaidah penambangan. di kabupaten bandung terdapat mineral emas yang tersebar di daerah Bandung Selatan ( dari Kecamatan Sindagkerta sampai ke kecamatan Pangalengan) yang besaran potensinya belum diketahui. 2. Selain jenis bahan galian golongan C. 3. Batujajar. dan 70% pengusaha penambangan belum mengelola K3 dan lingkungan dengan baik. Rajamandala G. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -17 . Akibatnya. pada tahun 2003 terjadi 2 kasus longsor dan 4 kasus tanah longsor pada tahun 2004. Ibun Pangalengan Lembang Kamojang Wayang Windu Tangkuban Parahu Maribaya 140 110 75 100 73 135 227 250 300 460 100 25 25 25 25 4. Cipatat Saguling.

Sedangkan pemanfaatan tidak langsung yaitu untuk Pembangkit Tenaga Listrik. dan perlu dikembangkan untuk pemanfaatan secara langsung seperti untuk pengeringan teh. Sehingga terjadi keterlambatan dalam pembangunannya. jamur dan lainnya. sehingga terjadi penurunan muka air tanah. Potensi panas bumi digunakan untuk pemanfaatan secara langsung dan tidak langsung.302 unit usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Jumlah pengambilan air tanah untuk keperluan industri yang telah memiliki ijin sebanyak 673 buah sumur (Sumber DLH).2. 2.924 unit usaha.897 unit usaha dan IA 5. Permasalahan yang dihadapi dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah adalah belum terkendalinya pengambilan air tanah terutama untuk keperluan industri. dan potensi yang terdapat di Kawasan Kamojang akan ada penambahan kapasitasnya direncanakan 60 MWe. Dalam rangka mendukung pengembangan sub fungsi Industri. Patuha akan dibangun pembangkit tenaga listriknya yang direncanakan 300 MWe secara bertahap (sudah diakukan eksplorasi dan terdapat Sumur Bor panas bumi di kawasan ini). • Jumlah Industri Kecil Non Formal (sentra) sampai dengan tahun 2004 adalah 18. ILMK 6.5 Sub Fungsi Industri dan Konstruksi Pada sub fungsi Industri terutama industri kecil dan menengah.834 unit usaha yang terdiri dari Kelompok Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) 695 unit usaha. Permasalahan untuk pembangunan pembangkit tenaga panas bumi ini diperlukan investasi yang besar.609 unit usaha. beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan informasi potensi industri. dari Sub total potensi panas bumi 1856 MWe baru terpasang 250 MWe di Kawasan Kamojang dan Wayang-Windu. serta masih belum stabilnya harga jual listrik. Kabupaten Bandung memiliki potensi sebagai berikut : • Jumlah industri kecil yang dimiliki sampai dengan tahun 2004 adalah Industri Kecil Formal sebanyak 2. pembinaan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -18 . dan kawasan G. penggunaan secara langsung baru dimanfaatkan untuk parawisata (pemandian air panas dan wisata alam). Industri Logam Mesin dan Kimia (ILMK) 837 unit usaha dan Industri Aneka (IA) sebanyak 1. pengambilan air tanah melalui sumur bor tersebut dari kedalaman 60 meter hingga 200 meter.430 unit usaha yang terdiri dari Kelompok IHPK 5.

86% dari total panjang jalan Kabupaten atau sekitar 958 km yang dapat ditangani dan masih ada beberapa jembatan dengan kondisi buruk. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah masih sulitnya industri kecil/ menengah untuk bersaing di dalam maupun luar negeri terutama dalam menghadapi pasar bebas karena belum memenuhi persyaratan mutu/kualitas produk yang diharapkan konsumen.869. sedangkan peningkatan pengetahuan mengenai SNI selama Tahun 2001-2004 yaitu sebanyak 520 pengusaha/pengerajin (kuantitatif) yaitu pada tahun 2001 ditujukan untuk 220 pengusaha. pengawasan standararisasi mutu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung industri kecil. peningkatan pengetahuan bagi pengusaha mengenai SNI/Gugus Kendali Mutu (GKM).297. jalan propinsi 202. mengikuti kegiatan pameran baik lingkup daerah maupun nasional. 36 sentra pada tahun 2003 (penambahan 9 sentra) dan 44 sentra pada tahun 2004 (penambahan 8 sentra). 27 sentra pada tahun 2002 (penambahan 11 sentra). Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. Pembinaan sentra Industri Kecil dilaksanakan dari tahun 2001 s/d 2004 yaitu sebanyak 44 sentra (kuantitatif) yaitu sebanyak 16 sentra pada tahun 2001. dan jalan desa 1. Ketidakmampuan dalam bersaing diantaranya disebabkan oleh akses permodalan yang terbatas. dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal penguasaan teknologi. 2. manajemen atau wawasan bisnis. fasilitasi permodalan dengan pihak Perbankan. 480 pengusaha pada tahun 2003 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) dan 520 pada tahun 2004 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) serta penerapan GKM dari tahun 2001 s/d 2004 sebanyak 10 perusahaan. baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan maka peran sub fungsi Transportasi menjadi sangat penting.6 km dengan kondisi 90 % baik.6 Sub Fungsi Transportasi Dalam menunjang kegiatan perekonomian. jalan kabupaten 1.42 km dengan kondisi 100 % baik. 440 pengusaha pada tahun 2002 (penambahan 220 pengusaha/ pengerajin).88 km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 40% yang kondisinya baik.28 km terdiri dari jalan nasional 85. ongkos produksi yang tinggi. sampai dengan tahun 2005 ditargetkan hanya sekitar 73. rendahnya inovasi produk.2. Adapun jalan desa yang dibiayai dari Dana Bantuan Penyelenggaraan Pemerintah Desa BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -19 .92 km dengan kondisi hanya sekitar 60 % baik.455. Potensi yang dimiliki sub fungsi Transportasi adalah panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung yaitu sepanjang 3.

3 badan.2004. termasuk R. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika adalah : • Belum optimalnya sistem aplikasi Sub SIMDA yang telah terbangun.000 m dan traffic cones sebanyak 510 buah yang dipasang di lokasi rawan kemacetan.Bupati. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah.7 Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika Pada Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Terbangunnya 24 sistem aplikasi sub SIMDA yang telah oprasional di 3 bagian (Setda). Sub fungsi Transportasi didukung oleh kegiatan Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas serta Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum. dalam rangka Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum telah disusun buku Master Plan Jaringan Lalulintas Angkutan Barang dan jaringan trayek angkutan penumpang pada tahun 2003 dan direncanakan akan disusun perencanaan angkutan massal koridor Leuwipanjang. baik dari aspek pemanfaatannya oleh DIBALE maupun content/ isi dari sistem aplikasi tersebut. program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalulintas telah menyediakan rambu sebanyak 923 unit.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ditambah swadaya masyarakat belum cukup mampu meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik. ini hasil-hasil yang telah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -20 .Wakil Bupati dan Setda dengan jumlah komputer yang terkoneksi mencapai 55 buah. Selain permasalahan di atas. dan 10 dinas • Unit kerja yang telah terkoneksi ke dalam jaringan internet SIMDA Kabupaten Bandung terdiri dari 21 unit kerja. permasalahan lainnya adalah penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. dan Rancaekek pada tahun 2005. Selain itu. dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi. Cileunyi. R. minimnya minat investor. 2 kantor. sedangkan rendahnya kualitas infrastruktur karena belum optimalnya pengelolaan infrastruktur dan belum lengkapnya ketentuan teknis pembangunan infrastruktur. marka 7.2. Dalam kurun waktu 2001 . 2. Ciwidey. Dalam pelaksanaannya.

penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 tersebut terdiri dari 637. baik yang tersedia di Dibale maupun yang ada di KPDE sebagai intitusi pengelolanya. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 3. up date datanya • Masih terbatasnya sarana prasarana infrastruktur jaringan ( N/W ) sebagai pendukung operasionalsasi sistem-sistem sub SIMDA.156 orang.967 jiwa terdiri dari laki-laki 2.2.833 pada tahun 2002. dan 390. sehingga berdampak pada ketidak kontinu-an dalam proses entry. Apabila dilihat dari kelompok umurnya. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.582 jiwa.411 jiwa.112 orang atau 65.93% penduduk tua (umur 65 tahun ke atas). jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut bisa menjadi satu potensi.369. meningkat menjadi 383.107.8 Sub Fungsi Tenaga Kerja Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) paling besar di Propinsi Jawa Barat.19% jika dibandingkan tahun 2003 yaitu sebanyak 4. hal tersebut lebih disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan data aktual dari Dibale dan keterbatasan SDM KPDE yang menguasai teknis pengentryan ke sistem apikasi web itu sendiri.858 orang atau 30.58% penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) dan 80.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Belum berfungsinya situs web Kab.49% penduduk usia muda (umur 0-14 tahun).087. 1. Jika dikaitkan dengan sub fungsi Tenaga Kerja.145.Bandung sebagai media informasi dan komunikasi baik bagi kepentingan internal maupun publik.586 orang atau 3. jumlah penganggur tahun 2001 tercatat sebanyak 376. jumlah penduduk Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 4. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -21 .058. dll.556 jiwa dan perempuan 2. Berdasarkan hasil Suseda 2004.026 pada tahun 2003. 2. Namun demikian bisa pula menjadi permasalahan bilamana penduduk usia produktif tersebut tidak terserap oleh pasar kerja. hal tersebut dibuktikan dengan seringnya terjadi troubel/ kendala konektifitas yang disebabkan karena adanya perangkat jaringan yang hilang ( ruangan tidak dilengkapi sistem keamanan yang memadai ) ataupun terjadinya “ croded “ karena tidak tersedianya perangkat server yang memadai.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal dan keluar negeri pada tahun 2001 tercatat sebanyak 1. Dengan demikian masih tersisa sebanyak 100 perusahaan yang belum mendapat penyuluhan. 1. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -22 . Selanjutnya pada kasus-kasus ketenagakerjaan telah terjadi penurunan yang tercatat sebagai berikut yaitu 48 kasus ketenagakerjaan pada tahun 2001 menjadi 23 kasus pada tahun 2002. 580 orang pada tahun 2002. 236 orang pada tahun 2003 dan 277 orang pada tahun 2004. Permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi dalam sub fungsi Tenaga Kerja antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tersebut. masih kurangnya tingkat keterampilan/keahlian pencari kerja dan belum baiknya sistem informasi pasar kerja yang ada.686 orang dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. 154 orang pada tahun 2003 dan 65 orang pada tahun 2004.532 orang.965 orang. sub fungsi Tenaga Kerja selama tahun 2001 s/d 2004 telah melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal lokal dan ke luar negeri. pembentukan usaha mandiri dan pelatihan kerja.500 orang sehingga pada tahun 2005 masih tersisa 4500 orang yang belum mendapat tempat di lapangan kerja dengan Target Renstra 2001 – 2005 (Disnaker. tahun 2002 sebanyak 1. 2004). tahun 2003 sebanyak 1.07 % dalam upaya peningkatan kesejateraan pekerja. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui pembentukan usaha mandiri tercatat perkembangan sebagai berikut : pada tahun 2001 dilakukan untuk 1. sedangkan melalui pelatihan tenaga kerja adalah 165 orang pada tahun 2001. mengurangi kasus ketenagakerjaan serta meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan tentang Hak dan Kewajiban. Penurunan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan Hak dan Kewajiban yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 untuk masing-masing 280 perusahaan.358 orang pada tahun 2003.311 orang. Disamping itu masih rendah perlindungan tenaga kerja melalui kepastian jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) serta masih minimnya lembaga sebagai sarana hubungan industrial baru mencapai 29. 10 kasus pada tahun 2003 dan selanjutnya menurun menjadi hanya 8 kasus pada tahun 2004.

kurangnya subsidi pemerintah dan belum adanya alternatif penyediaan energi di desa. monumen bersejarah di 5 lokasi. dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1.769 orang atau terdapat peningkatan sebesar 13. di zone Bandung Selatan 29 obyek di 7 Kecamatan. Selain itu.9 Sub Fungsi Ekonomi Lainnya Dalam rangka pengembangan ekonomi di wilayah pedesaan. Walaupun terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung namun ternyata Kabupaten Bandung hanya mampu menyerap sekitar 6% dari total kunjungan wisatawan ke Jawa Barat. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten bandung yaitu 2 hari yang merupakan tingkat hunian yang cukup singkat jika dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di Kota Bandung. Permasalahan masih rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik antara lain disebabkan oleh faktor rendahnya daya tarik obyek wisata dan kurangnya promosi. Jumlah wisatawan pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1. situs budaya dan sejarah di 17 lokasi. Selain itu.539.1 Pengembangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung memiliki potensi budaya dan pariwisata antara lain adalah 61 buah obyek wisata yang tersebar di zone Bandung Utara sebanyak 12 obyek di 4 Kecamatan . untuk menunjang kepariwisataan terdapat pula hotel. 2. yang 40 diantaranya terdapat di daerah Bandung Utara (Lembang).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Sampai dengan tahun 2004 telah terpasang sambungan listrik pedesaan sebanyak 1. terdapat juga potensi kebudayaan berupa 2 buah rumah adat Sunda. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -23 .751.3.3 Fungsi Pariwisata dan Budaya 2. vila dan penginapan serta Restoran dan Rumah Makan. kemasan paket wisata yang kurang menarik dan manajemen pariwisata yang belum optimal. zone Bandung Barat 15 objek di 8 Kecamatan dan di Bandung Timur 4 obyek di 5 Kecamatan. peninggalan sejarah lainnya dan beragam jenis kesenian.2. monumen di 17 lokasi.844 KK yang belum mendapat sambungan listrik.899 KK dari 167. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan listrik pedesaan antara lain adalah masih terbatasnya jaringan distribusi PLN. perlu ditunjang oleh program pengembangan listrik pedesaan.75%.977 orang. Rendahnya daya tarik obyek wisata dipengaruhi oleh faktor sarana prasarana yang belum memadai.

SMP. Pameran Pembangunan. Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga A. Sosialisasi dan Informasi Hasil-hasil Pembangunan. Penyusunan Basis Data Pembangunan. Peningkatan Kerjasama Kemitraan dengan Instansi/Forum Komunikasi Sentral Masyarakat Pers dan Program Pelayanan Informasi. Pembinaan Generasi muda Pembinaan Generasi muda dilaksanakan melalui kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskribra). SD. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -24 . SMA / SMK. penyelenggaraan aubade. sedangkan Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan dengan pemberdayaan media elektronik. RSPD dan lembaga penyiaran serta pemberdayaan dan pelatihan forum komunikasi daerah. penyelenggaraan upacara bendera. SMP.2. kegiatan pemuda produktif sebanyak 25 orang • • Tahun 2003 kegiatan penanggulangan narkoba bagi pelajar SD. kegiatan pemuda pelopor.3. Sub Fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran Dalam mendukung sub fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan antara lain program Peningkatan Arus Informasi. penyelenggaraan pemuda produktif. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 / 2003 / 2004 penyelenggaraan seleksi Pasukan Pendera Pengibar (Paskibra) sebanyak 34 orang. Tahun 2004 kegiatan pemuda pelopor Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan generasi muda adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penduduk. Buletin Pemerintah Daerah.3. penyelenggaraan lomba tata upacara bendera. SMA/SMK masing-masing jenjang terdiri dari tiga peringkat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.3. Peningkatan dan pelayanan arus informasi dilaksanakan antara lain dengan cara penerbitan Tabloid Gema Kertaraharja. Pemberdayaan dan Pelayanan Pers. 2.

SMA / SMK penyelenggaraan lari 10 K. Tes Kesegaran Jasmani bagi SMP dan SMA. kegiatan POPDA SD. penyelenggaraan lari 10K. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani SMP dan SMA Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya olahraga bagi pelajar dan masyarakat. yang telah dipersiapkan dari awal Tahun 2005.4. kegiatan Lomba Gerak Jalan. penyelenggaraan pembinaan teknis personal. penyelenggaraan Pekan Olahraga SD. penyelenggaraan TKJ • Tahun 2004. penyelenggaraan gerak jalan santai. Serta persiapan menjadi tuan rumah PORPROV Ke XI. penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA).1. 2. Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan fungsi kesehatan yang terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan. lomba senam dan kegiatan senam masal. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar SD. Sub Fungsi Obat dan Perbekalan Kesehatan. Untuk BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -25 .4. penyelenggaraan Pekan Olahraga SMP. Pembinaan Olahraga Pembinaan olahraga dilaksanakan melalui kegiatan Pembinaan olahraga pelajar dan pembinaan olahraga masyarakat yang meliputi pengadaan sarana dan prasarana olahraga. bimbingan teknis personal. penyelenggaraan bantuan sarana dan prasarana. kegiatan jalan santai. Tantangan yang akan dihadapi tahun 2006 adalah Pekan Olah Raga Provinsi ke X di Karawang pada bulan Juli.SMP. SMP. • Tahun 2003 kegiatan Porseni SD. SMA/SMK yang terdiri dari 11 cabang olahraga. SMP/SMA/SMK. Kegiatan pengadaan obat-obatan yang setiap tahun dilaksanakan dalam rangka memenuhi permintaan pelayanan masyarakat dan peserta Asuransi Kesehatan yang tersebar di 92 Puskesmas DTP/TTP dan Rumah Sakit Daerah ( RSD ). penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani Guru olahraga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. Fungsi Kesehatan 2.

064 orang penduduk Kabupaten Bandung. yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair rumah sakit dengan melakukan pengolahan limbah terlebih dahulu.2 Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Perorangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung penyediaan perbekalan kesehatan senantiasa diupayakan pengadaan peralatan kedokteran dan peralatan penunjang keperawatan yang sesuai standar kesehatan.000 Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik. 2. Sarana/ prasarana kesehatan merupakan hal tepenting dalam pelayanan kesehatan oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung ini terdapat 92 unit Puskesmas yang tersebar di 45 Kecamatan. Adapun perbandingan rumah sakit terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 500. selain dukungan sarana yang cukup juga dari sisi kuantitas tenaga kesehatan sebaiknya bisa tercukupi.064 jiwa atau 1 Puskesmas diharapkan dapat melayani sebanyak 45.000 jiwa.145. Pada BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -26 .967 jiwa. Permasalahannya adalah sebagai berikut: • • Cakupan ketersediaan Obat masih belum dapat memenuhi kebutuhan Penyediaan alat-alat kedokteran dan keperawatan perlu ditingkatkan kelengkapannya dalam upaya peningkatan status baik puskesmas maupun RSD. Sedangkan dalam rangka pemusnahan limbah medis telah disediakan pengadaan alat pengolah limbah padat ( incenerator ) di RSD Soreang. Diharapkan tahun 2006 dapat diselesaikan pembangunannya secara keseluruhan agar dapat segera dioperasikan. Begitu pula dengan hanya terdapatnya RSUD sebanyak 2 unit dan RS Swasta sebanyak 1 unit dan RSU Khusus milik pemerintah ( RSJ ) 1 unit. Hal ini kurang ideal bila dilihat dari standarisasi pelayanan sehingga diperlukan adanya peningkatan status Pustu di wilayah kecamatan yang penduduknya padat sehingga dicapai titik standar ideal perbandingan antara Puskesmas dan Penduduk yaitu 1 Puskesmas : 30. hal tersebut menunjukkan bahwa ratio Puskesmas terhadap penduduk adalah 1 puskesmas : 45. tahun anggaran 2005 pembangunan tahap I IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) segera direalisasikan. sedangkan penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 sebanyak 4. Selain alat pengolah limbah padat tersebut di atas.4. dan pemberian pelayanan laboratorium dengan tujuan dapat meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan medik.

Program peningkatan hidup Bersih dan sehat.219 jiwa penduduk yang harus dilayani sedangkan dibandingkan dengan puskesmas yang ada pelayanan dokter umum rata-rata hanya 1 – 2 orang per Puskesmas yang tersebar di 45 kecamatan sedangkan ratio bidan praktek terhadap puskesmas menunjukan rata-rata 1–3 orang bidan dapat melaksanakan pelayanan di Puskesmas sehingga untuk mengotimalkan pelayanan kesehatan oleh pemerintah keberadaan bidan desa belum dapat memenuhi sejumlah desa/kelurahan yang ada. diperlihatkan oleh ratio dokter umum terhadap penduduk adalah 1 : 32. 2.658 jiwa . Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung tahun 2004 jumlah tenaga Kesehatan yang bekerja pada unit kesehatan pemerintah daerah memiliki komposisi sebagai berikut : Dokter Umum Dokter Gigi Tenaga Medis lain Bidan / Bidan desa : 132 orang : 77 orang : 865 orang : 580 orang Dari data tersebut menunjukan bahwa ketersedian tenaga medis dokter masih rendah.3. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Program penanggulangan penyakit dan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan lingkungan. Permasalahan yang dihadapi antara lain masih diperlukannya peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas dan peningkatan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Daerah disamping perlu adanya optimalisasi perangkat medis. Program peningkatan Budaya Hidup Bersih. Puskesmas keliling dan keberadaan polindes perlu dukungan semua pihak dalam operasionlisasinya. ratio dokter gigi terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 45. telah dilaksanakan melalui : • • • • • Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) Pembinaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ( UKBM ) Pembinaan kesehatan masyarakat pekerja Pembinaan dan pengembangan Poskestren Penyebarluasan informasi kesehatan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -27 .4. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan melalui.

Kelamin. Penanggulangan GAKI. pada tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu telah cukup baik dengan indikator bahwa jumlah proporsi Balita yang ditimbang dibanding Balita terdaftar masih di atas angka 80 % dan perkembangan status gizi masyarakatnya ada pada klasifikasi harus mendapat perhatian dimana proporsi Balita yang naik berat badanya terhadap balita yang di timbang pada setiap tahunnya. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Upaya perbaikan Gizi Institusi. Berdasarkan Pemantauan status gizi masyarakat melalui pelaksanaan penimbangan Balita di Posyandu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung. Diare. rata-rata masih di bawah angka 80%.000 penduduk = 43 %. Kondisi cakupan angka kesakitan pada tahun 2004 sebagai berikut : • • • • • • • Cakupan Penyakit Kusta Cakupan Penyakit ISPA Cakupan Penyakit Diare Cakupan HIV/ AIDS Cakupan Penyakit DBD Cakupan Penyakit Rabies Cakupan TBC = 0. Polio. Campak. = 25 % = 0. Suveilance. Sedangkan Cakupan Imunisasi menurut jenisnya seperti Imunisasi BCG. Sedangkan dalam pelaksanaan program penanggulangan penyakit.01 / 10. Rabies.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM ) Melakukan kerjasama pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sektor industri / perusahaan swasta. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). setiap tahun dilaksanakan kegiatan-kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangan Dan Gizi. ISPA. Demam berdarah.69 / 1000 penduduk = -% = -% = 85 % Disamping itu dalam program perbaikan gizi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -28 . namun ternyata belum dapat mencapai sasaran yang ditentukan sehingga masih perlu adanya peningkatan yang didukung oleh ketersediaan obat-obatan dan sarana kesehatan lain. setiap tahun dilaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit kusta. dan Ibu Hamil setiap tahun selalu dilakukan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan.

2 88.00 38. penyehatan lingkungan permukiman.7 83.05 32. Cakupan pemakaian Jamban.61 92. Dalam menunjang penyehatan lingkungan permukiman telah dilakukan pengawasan terhadap tempat pengelolaan makanan ( TPM ).70 36.00 61.05/100 25 40.33 100 8.8 92.02 61. peningkatan keterampilan petugas sanitasi dan penyehatan lingkungan tempat-tempat umum.3 85. Cakupan pemakaian sarana pembuangan air limbah.76 83.6 96.3 Polio 1 Polio 4 Campak Hepatitis B1 Hepatitis B3 TT 1 Ibu Hamil TT 2 Ibu Hamil 2002 101.17 88.44 98.72 36. Grading Rumah makan/restoran Pemeriksaan sampel air bersih Pemeriksaan sampel tanah Temu karya PABL tk.9 90.70 - 70.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.0 Tingkat Capaian Program (%) 2003 2004 95. Pengadaan air bersih penyehatan lingkungan (PAPBL).4 92.00 32.05/100 18.49 91.73 96.23 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -29 .01 52.46 Ket 52 50 70. Pengawasan tempat umum.0 84. secara rutin telah dilakukan kegiatan pengawasan kualitas air dan lingkungan.69 95.8 78.7 96.6 HASIL CAKUPAN PROGRAM IMUNISASI TAHUN 2002 – 2003 Jenis Imunisasi BCG DPT-1 DPT .2 94.7 KET Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Dalam pelaksanaan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkait dengan kesehatan lingkungan.4 91.1 80.8 10.1 81.8 83. Perkembangan Hasil capaian program dua tahun terakhir ( Tahun 2003 – 2004 ) sebagai berikut: Tabel 2.4 98 81.7 PERKEMBANGANGAN HASIL PENGAWASAN CAKUPAN PROGRAM TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Kegiatan Pengawasan TPM Pemeriksaan Sampel Mamin . Desa Cakupan air bersih Cakupan pemakaian SPAL Cakupan pemakai jamban Pengawasan TTU Pengawasan RS Pengawasan Pestisida Pengawasan Residu Pestisida Pengambilan kadar Cholines terase darah Pengawasan Industri Besar Pengawasan Industri Kecil Capaian Program (%) 2003 2004 61. Cakupan air besih.1 96.84 78. dan penyehatan lingkungan industri.

Sumur tak terlindung 7. Diare .75 %. walaupun nampaknya masih harus ditingkatkan agar kondisi lingkungan Kabupaten Bandung ini memenuhi standar kesehatan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya penyebaran penyakit TBC. Peningkatan status gizi Balita dan cakupan imunisasinya masih perlu ditingkatkan.57 3. Masih terdapatnya penduduk yang menggunakan sumber air minum yang belum memenuhi standar kesehatan.97 19.34 7. secara umum Cakupan program penyehatan lingkungan permukiman nampaknya hampir dari semua jenis kegiatan menunjukan adanya peningkatan ke arah yang lebih baik. Tabel 2.8 PERSENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA AIR MINUM BERDASARKAN SUMBERNYA TAHUN 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber air Ledeng Sumur Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak terlindung Mata Air Terlindung Mata Air tak telindung Kemasan Lainnya Jumlah % Rumah Tangga 7. polio. campak dan lainnya yang disebabkan kondisi lingkungan kurang baik. Program/kegiatan pemberantasan penyakit masih harus ditingkatkan terutama pada masyarakat pada lingkungan yang fasilitas kesehatannya kurang. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan tetap harus didorong atau ditingkatkan melalui suatu kegiatan pembinaan/penyuluhan kesehatan.75 3. mata air dan lainnya terlihat pada tabel di bawah ini. Pendidikan maupun masyarakat umum perlu untuk ditingkatkan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -30 . maka program/kegiatan penanggulangan air bersih masih dipandang perlu. Permasalahan yang dihadapi adalah: • • • • • Program PHBS baik di Institusi Kesehatan.89 100 KET Sumber: Suseda Tahun 2004 Dari data terakhir tahun 2004 masih menunjukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan air minum dengan kondisi yang kurang terjamin kesehatannya yaitu dengan air minum dari mata air tidak terlindung sebanyak 3.68 38.19 0.97% sehingga upaya pengadaan program air bersih nampaknya masih menjadi bagian yang harus dipikirkan dalam menunjang kesehatan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dari hasil pengawasan tersebut. sumur pompa. Fasilitas air minum yang digunakan rumah tangga seperti air ledeng.78 18.

562 1. Keluarga Berencana.776 76 48.4. pembentukan pusat informasi dan konsultasi keluarga dan remaja serta dilakukannya mengayomi peserta KB dari Keluarga tidak mampu yang mengalami kegagalan.4. Catatan Sipil dan KB Dilihat dari perkembangan setiap tahun. Tabel 2. melalui sub fungsi KB telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain sosialisasi kesehatan reproduksi remaja.162 90 800 1.615 2004 Realisasi 5. Paru dan pembuatan leaflet NAPZA. Disamping itu juga telah dilakukan pembinaan dan pengembangan KB Mandiri dan pengembangan pusat pelayanan KB dan pusat konsultasi remaja.749 15.450 13.578 125 150 2.178 61. melalui siaran radio.475 66.649 39. dan melalui Leaflet JPKM • Penyebar luasan informasi.713 17.368 395 61.5.969 18.872 8. melalui sosialisasi JPKM Mandiri ke dunia usaha. Dalam rangka menunjang fungsi kesehatan.831 9.421 43.105 10. 2.883 42.148 956 2.234 392 83.373 Sumber : Dinas kependudukan . pembutan poster Tb. Pada Sub Fungsi kesehatan lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyebar luasan informasi kesehatan antara lain: • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan.622 9.116 65.831 9.732 71.401 56 616 1. Permintaan Masyarakat akan pelayanan KB ternyata cukup tinggi yang setiap tahunnya ternyata belum dapat terpenuhi dengan permintaan tertinggi di capai oleh kontrasepsi Suntikan dan pelayanan Non MJP. dengan menyelenggarakan Rakerkesda BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -31 .318 PPM 7.607 87 805 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.653 7.9 HASIL PERKEMBANGAN CAPAIAN PESERTA KB DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kontrasepsi IUD MOP MOW IMPLAN MJP SUNTIK PIL KONDOM Non MJP Total PPM 8.4. pemutaran film.897 59.050 42 76.805 2003 Realisasi 4.455 2002 Realisasi 8.019 PPM 6.796 8.235 6.841 87.427 395 57. • Penyusunan program kesehatan.724 57.339 96.603 141 442 1.330 49. Sub Fungsi Kesehatan Lainnya.093 182 52.

03 78.070 619 3.07 Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004 Kurangnya partisipasi sekolah ini dipengaruhi oleh adanya siswa sekolah yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya atau drop out (DO).11 Perkembangan DO Pada Tiap Jenjang Pendidikan Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Jenjang Pendidikan SMP/MTs SMA/MA 828 604 914 779 1.351 1.76 97.45 77.69 34.10 Perkembangan APS Kabupaten Bandung Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 USIA Sekolah 13-15 tahun 16-18 tahun 74.44 41.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.5 Fungsi Pendidikan Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan. tergambarkan dari terdapatnya penduduk yang bersekolah atau adanya proporsi penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang usia pendidikan serta penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan tepat pada waktunya yang terukur dengan angka partisipasi murni (APM).00 35. Tabel 2.42 43.05 95.347 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung 2004 2. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk Kabupaten Bandung pada setiap angkatan pendidikan adalah sebagai berikut: Tabel 2.256 2. selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah dilaksanakan berbagai kegiatan rehabilitasi dan pembangunan SD dan SMP sebagai berikut: BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -32 .1.923 438 SD/MI 833 3.38 73. Pendidikan Dasar Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan dasar.59 7-12 tahun 96. Perkembangan siswa yang DO pada setiap angkatan sekolah terlihat pada tabel dibawah ini.5.07 97.

732 orang dan siswa kurang mampu sebanyak 500 orang serta bagi 425 siswa SMP. Kualitas Tenaga Pengajar Kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat menentukan kulitas pendidikan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -33 . Juga adanya penggabungan Sekolah Dasar sebanyak 238 SD.( Laporan disdik ) Disamping telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sekolah. Juga bantuan mebelair telah diberikan untuk sebanyak 34 ruang kelas dan perbaikan rumah dinas guru/penjaga sekolah sebayak 14 unit. pemberian beasiswa SD bagi 13. pengadaan mebelair SMP. dan rehabilitasi rumah dinas guru /penjaga sekolah di 7 sekolah.287. Jumlah guru menurut latar belakang pendidikannya di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. pengadaan pengadaan meja dan kursi untuk 266 sekolah dasar. orang guru SD. Pada tahun 2004 berdasarkan basis data perencanaan pembangunan di Kabupaten Bandung terdapat sebanyak 16. SMP 574 paket dan buku bahasa sunda masing-masing 9976 exemplar untuk SD dan 2427 exemplar untuk SMP. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. penyediaan ruang perpustakaan 3 unit. kondisi dan permasalahan pendidikan dasar di Kabupaten Bandung sebagai mana teruraikan di bawah ini. penyetaraan guru SMP ke kualifikasi S1 sebanyak 62 orang.490 exemplar. Pengadaan sarana meja dan kursi untuk 50 lokal SD. serta pengadaan buku penunjang SMP sebanyak 23. Pengadaan mebelair SMP untuk 128 lokal. 1). bantuan sarana pendidikan juga telah diberikan oleh pemerintah daerah antara lain : • Pada tahun 2002. • Pada tahun 2004.888 orang guru SMP yang secara kualifikasi ternyata masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar. • Pada tahun 2003. pengadaan buku perpustakaan SD 692 paket.12 PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI SEKOLAH TINGKAT DASAR TAHUN 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Pembangunan ( unit ) SD Bertingkat 2 3 SD 4 SMP 0 1 Rehabilitasi ( Unit ) SD SMP 200 228 394 0 24 17 57 16 Tambah Ruang Kelas ( lokal ) SD SMP Sumber : hasil olahan data .

491 443 728 295 292 34 1.166 1553. Hal ini menunjukan bahwa dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung. Sebagai gambaran kondisi tahun 2004 dari kecukupan guru dan sekolah yang dimanfaatkan penduduk dapat dilihat dari ratio murid per kelas. Tabel 2. Program kegiatan penyetaraan guru baik bagi guru SD maupun SMP masih harus ditunjang oleh pemerintah. Sarana/prasana pendidikan Sarana pendidikan merupakan salah satu hal pokok disamping ketersediaan guru yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Bandung pada setiap tahun dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga diharapkan hakhak penduduk untuk menerima pendidikan akan terpenuhi.591 Jumlah 14.13 JUMLAH TENAGA GURU MENURUT LATAR BELAKANG PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN.561 orang atau nampaknya masih dominan bila di bandingkan dengan guru SMP yang tersedia.08 % dari jumlah total guru SD/MI. 2).193 1.144 126 38 D1 144 62 747 154 Pendidikan Guru D2 D3 ≥S1 8.233 11497 M/S 216 342 M/G 32 25 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -34 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. ratio murid terhadap guru dan ratio murid terhadap sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.337 220 4. sedangkan pada tingkatan SMP nampaknya juga bahwa jumlah guru SMP dengan latar belakang pendidikan lebih rendah dari D3 ada sebanyak 1.089 3. Pendidikan SD SMP/ MTS Sekolah (S) 2.193 orang atau 22.440 453 Jumlah Murid (M) 529.14 J UMLAH SARANA PENDIDIKAN.561 327 2. GURU DAN MURID DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2004 No 1 2 Tk.903 8.2 Ratio Guru (G) 16.927 2.405 Sumber : Profil Pendidikan Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa guru SD yang berlatar belakang pendidikan lebih rendah dari D1 ada sebanyak 3.457 1. TAHUN 2004 No 1 2 3 4 Klasifikasi Mengajar SD MI SLTP MTS < D1 3.

SMUN Baleendah. Lomba kompetensi keterampilan siswa SMK. • Pada tahun 2004.175 unit pada tahun 227 siswa. telah dilaksanakan penyediaan buku penunjang belajar SMU sebanyak 15. rehabilitasi SMU/K sebanyak 20 unit sekolah.012 eksemplar. SMUN 1 Cipatat. Sedangkan bantuan pembangunan SMU/K telah dilaksanakan untuk 2 unit sekolah. SMUS Terpadu. Sub Fungsi Pendidikan Menengah. bantuan penyediaan ruang perpustakaan. SMUS KP. baik untuk jenjang SD maupun SMP perlu mendapat perhatian serius karena berdasarkan data yang tersedia (Profil Pendidikan. terlaksananya rehabilitasi berat SMU/SMK sebanyak 7 sekolah yang tersebar di tiga kecamatan. yaitu SMUN 1 Cililin. tambah ruang kelas bagi 10 pemberian Bea siswa bagi 677 siswa SMU dan 73 siswa SMK. • Pada tahun 2003. Ibun dan SLTA Textil dan SMU/SMK dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -35 . Dalam menunjang pendidikan menengah. Tahun 2004) bahwa dari jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 2.27% rusak ringan. Dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan melalui kegiatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah baru. pada 2004 ternyata 31. pengadaan mebelair untuk 25 unit sekolah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel di atas menunjukan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat ratio murid terhadap sekolah sebanyak 227 orang murid per sekolah.5.2. melalui proyek pembangunan pengadaan sarana/prasarana sekolah menengah umum dan kejuruan telah dilaksanakan penambahan ruang kelas 10 unit SMU/K. akreditasi 14 sekolah SMU/SMK.57% dalam keadaan rusak berat 32. telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan sekolah menengah umum dan kejuruan melalui kegiatan/proyek atas dukungan APBD Kabupaten Bandung antara lain : • Pada tahun 2002. pemberian bantuan dana bea siswa bagi 746 siswa berprestasi. ratio murid terhadap kelas sebanyak 38 orang perkelasnya dan ratio murid terhadap guru dengan perbandingan 32 orang murid dilayani 1 orang guru. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung telah diberikan pelayanan pendidikan pada tingkat dasar rata-rata menampung penduduk usia sekolah sebanyak tingkat SMP per kelasnya 448 siswa. pengadaan mebelair untuk 38 ruang kelas. komputer sebanyak 23 unit dan alat peraga IPA untuk 46 sekolah. bantuan Mebelair untuk 65 ruang kelas. 2. perbaikan gedung SMU/K sebanyak 19 sekolah. SMUN Margahayu.

Sedangkan kegiatan tambah ruang kelas dilaksanakan di 6 lokasi yaitu untuk SMUN 1 Banjaran. Sub Pendidikan Non formal dan Informal. SMUN 1 Ciparay. Penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. dan lulusan S1/S2 sebanyak 2. ratio M/S = 339 orang dan M/G = 12 orang. KF serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. maka dukungan pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah.lomba.591 orang. Dalam penyelenggaraan Pendidikan non formal. guru sebanyak 4. Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar paket A setara SD. pembinaan generasi muda. lulusan D3 sebanyak 434 orang.776 orang. pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat. Pendidikan Luar Sekolah dan Masyarakat. Sedangkan dari ketersediaan guru dan sarana/prasarana yang dimanfaatkan oleh sejumlah siswa memberikan gambaran. SMUN 1 Cikalong Wetan. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar sekitar 44. jumlah sekolah sebanyak 164 sekolah. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -36 . kursus.5.640 orang . dan SMUN Batujajar. SMUN I Sindangkerta. 2. kegiatan sanggar serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan.3. lulusan D2 46 orang. SMKN Terpadu Pertanian Rancaekek. kejar paket B setara SMP dan kejar paket C setara SMA/ SMK.43 % dan dari ratio murid persekolah menunjukan bahwa dipandang perlu adanya pemekaran sekolah karena rata-rata murid persekolah sudah lebih besar dari 300 orang murid. murid sebanyak 54. SMUN I Katapang. SMUN I Cipongkor. Lomba. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. pendidikan anak usia dini.078 yang secara kualifikasi terdiri dari lulusan D1 sebanyak 24 orang. SMUN Cisarua. penyelenggaraan PPLS.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan Gedung baru SMUN Cikancung. SMUN 1 Cipeundeuy. kondisi dan permasalahan pendidikan menengah di Kabupaten Bandung adalah pada tahun 2004 kondisi pendidikan menengah di Kabupaten Bandung terdapat guru SMA/SMK/MA sebanyak 6.

kegiatan pendidikan luar sekolah adalah dengan melaksanakan pelatihan bagi 100 warga belajar instruktur kursus. dengan jumlah murid 13. kejar paket C 220 wajib belajar setara SMU. penyelenggaraan kursus Diklusemas. tata rias rambut. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 60 kelompok belajar. dilaksanakannya pengembangan dan peningkatan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat bagi 8 lembaga kursus serta melaksanakan program kejar paket A PBH dengan terbentuknya 258 kelompok belajar • Tahun 2004. Pemerintah Daerah telah memberikan bantuan-bantuan berupa alat bermain yang yang rata-rata setiap tahunnya terbantu antara 50 – 60 Taman Kanak-kanak.4. melalui kegiatan penyelenggaraan belajar mengajar 43 buah. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini. pelaksanaan kejar paket A PBH bagi 43 kelompok belajar dan terselenggaranya peningkatan program life skill di 55 sekolah dari semua tingkatan. Hal ini menunjukan bahwa ratio murid persekolah adalah sekitar 43 orang per sekolah dan terdapat 3 – 4 orang guru per sekolahnya. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 240 orang peserta. sosialisasi BBE Life Skil untuk tingkat Kabupaten Bandung dengan peserta TK 20 orang. bantuan kepada kursus-kursus seperti kursus menjahit. SD 43 orang. di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan basis data PDP3D tahun 2004 tersedia sarana pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebanyak 303 sekolah yang secara total peran swasta masih dominan.5. SLTP 75 orang SMU 19 orang.129 orang . Untuk menunjang terlaksananya operasional kegiatan di taman kanak-kanak . 2.051 orang dan guru 1. • Program pendamping proyek Life Skill. tata rias wajah. • Tahun 2003. Bantuan Penyelenggaraan Sanggar Kegiatan Belajar. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -37 . Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pendidikan Luar Sekolah adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan kejar paket disemua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatan pengetahuan penduduk.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002.

Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi. lomba kreatifitas anak. bantuan rintisan.5. dan 2004 penyelenggaraan sosialisasi. telah dilakukan berbagai kegiatan baik dalam rangka menunjang perkembangan pendidikan formal (SD. Dalam menunjang pendidikan kedinasan. 2003. penyelenggaraan bantuan rintisan. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan mendorong pemahaman masyarakat. Berdasarkan uraian sub Pendidikan Non Formal yang meliputi 4 bidang garapan terdiri dari Pendidikan Luar Sekolah. bantuan penyelenggaraan. penyelenggaraan bantuan lembaga. Penataran pengelola UT kecamatan 46 orang. SMP. lomba kreatifitas anak. Pembinaan Generasi Muda. pada tahun 2002. melalui Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum mulok SD dan SMP.5. 2. Pelatihan Guru Tata Boga 170 orang. pelaksanaa program penyetaraan D2 dan PGSD 810 orang . SMU/K telah dilaksanakan Pelatihan guru bahasa Ingris 170 orang. pembinaan teknis bagi penyelenggara dan guru. Melalui Proyek peningkatan kemampuan tenaga pengajar dan pengelola bagi pendidikan dasar dan menengah. SMA) maupun dalam pelaksanaan Diklat Struktural dan fungsional bagi PNS yang didukung dana APBD Kabupaten Bandung antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan formal. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -38 . Pembinaan olah raga dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maka permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggraraan Pendidikan Non formal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan Pendidikan non fomal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pencapaian angka melek hurup serta rata-rata lama sekolah (RLS). hasilnya Pertemuan kelompok kerja Guru. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain adalah pada tahun 2002. bimbingan teknis bagi penyelenggara dan guru.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 terbentuknya kerjasama kelembagaan dengan sebanyak 40 lembaga pengelola TK. Pelatihan guru keterampilan 170 orang. Sub Fungsi Pendidikan Kedinasan.

Pemda Kabupaten Bandung juga melaksanakan berbagai jenis Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) terutama bagi para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. lulus Diklat Pim II 2 orang. dan 314 pejabat esselon V. Perkembangan Jumlah lulusan diklat kedinasan sbb: Tabel 2. Kepala Sekolah dan Guru.15 JUMLAH LULUSAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2002 – 2004 Tahun 2002 2003 2004 Jumlah II 7 9 2 18 Diklat Pimpinan III IV 117 80 80 40 5 78 202 198 Jumlah 204 129 85 418 Diklat Fungsional 268 489 606 1. 9 dan 10 Tahun 2002) tersedia kebutuhan 28 pejabat esselon II.363 Jumlah 472 618 691 1. Berdasarkan data kepegawaian tercatat bahwa struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bandung (Perda 8.781 Sumber : Kantor Diklat Kab. begitu pula Pim III dan IV. 201 Pim III dan 202 lulus Pim IV sedangkan untuk pendidikan teknis dan fungsional telah diikuti oleh 1. 186 pejabat esselon III. Diklat IPA bagi Pengawas SD. Disamping melaksanakan Pendidikan formal melalui pembelajaran dalam rangka pelayanan pendidikan kepada penduduk usia sekolah. Diklat kedinasan ini. Sedangkan jumlah pegawai dengan lulusan Diklat struktural pada kondisi terakhir (tahun 2004) adalah. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersedian jumlah lulusan pendidikan struktural Pim II dipandang sudah memadai. Untuk pendidikan Pim BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -39 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Melalui Proyek penunjang Science Education Quality Impropemen Project (SEQIP). sesuai dengan perkembangan untuk terpenuhinya staf teknis dan fungsional maka diklat kedinasan lebih diarahkan kepada diklat teknis dan fungsional. 927 orang pejabat esselon IV. namun dalam rangka mempersiapkan atau kaderisasi pejabat sebaiknya masih tetap diprogramkan.363 orang dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan setiap tahunnya bervariasi. Bandung Perkembangan lulusan Diklat pimpinan setiap tahun bertambah dalam periode 2002 – 2004 terdapat 418 orang yang telah lulus diklat Pim dengan komposisi sebanyak 18 orang lulus Pim II. Lokakarya tingkat propinsi jawa barat diikuti oleh 15 guru IPA dari 5 Kecamatan sasaran SEQIP. baik Diklat Struktural maupun fungsional. Pim III 3 orang dan Pim IV sebanyak 40 orang.

terdapat 5 perguruan tinggi yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak swasta. Sedangkan pada tahun 2004 telah dirintis pembentukan/pendirian Universitas Daerah yang diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan tinggi kepada penduduk Kabupaten Bandung dan meningkatkan partisipasi penduduk pada level pendidikan tinggi. Universitas Nurtanio. Berdasarkan uraian di atas dalam pencapaian strategi bidang pendidikan dalam rangka upaya peningkatan SDM. Pemerintah Kabupaten Bandung masih harus dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar terutama bagi guru-guru dengan latar belakang pendidikan non keguruan dan guru-guru non pns disamping masih dominannya guru SD yang berlatar BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -40 . terutama bagi aparat di tingkat kecamatan untuk mengimbangi pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat.5. Hal ini menunjukan bahwa Program/kegiatan yang mendorong kepada pencapaianan Program Wajar Dikdas 9 Tahun masih harus menjadi perhatian kita bersama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sebaiknya dilakukan kajian kebutuhan pejabat struktural yang berkualifikasi sesuai diklat Pim. terutama pada usia SMP. yaitu bantuan kepada STIE Al-Giphari. 2.6. secara kuantitas jumlah guru di Kabupaten Bandung masih memadai namun ditinjau dari sisi kelayakan mengajar. Pendidikan bagi PNS hendaknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan teknis dan fungsional. terdapat beberapa hal yang masih dominan menjadi permasalahan yaitu: • Penduduk Kabupaten Bandung yang termasuk kepada usia sekolah belum tuntas dapat mengenyam pendidikannya. Dukungan pemerintah Kabupaten Bandung akan kelangsungan perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui kegiatan bantuan kepada perguruan tinggi sebagaimana yang telah dilaksanakan pemberian bantuan pembangunan kepada enam Perguruan tinggi swasta. STIKIP Bale Bandung. STPDN dan STIKINDO Wirautama. STIPER Bale Bandung. • Dalam rangka menunjang pembelajaran yang baik. Sub Fungsi Pendidikan Tinggi Ketersediaan lembaga pendidikan tinggi di wilayah Kabupaten Bandung. Demikian juga masih diperlukan peningkatan kemampuan teknis bagi aparat di lingkungan DIBALE Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bandung Tabel 2.75% 68.705 202. disamping meningkatkan kualitas guru terdapat hal pokok yang perlu mendapat sorotan yaitu tingkat kerusakan sekolah SD yang masih tinggi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung belakang pendidikan di bawah D1 dan guru SMP dengan latar belakang pendidikan di bawah D3.30% Sumber : Dinas Kependudukan.75% -7.6. • Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan.498 207.944 214.78% 5. Casip dan KB Kab.753 27. Data tersebut dapat dilihat perkembangannya dalam tabel berikut: Tabel 2.354 46. dan pembangunan Sekolah Baru untuk SMP dan SMA nampaknya masih harus jadi perhatian dalam rancangan pembangunan pendidikan pada tahun 2006. III.67% 21.139 56.072 Prosentase Kenaikan/Penurunan 25.1 Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 225.16 Data Jumlah Keluarga Pra KS Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 21.265 Prosentase Kenaikan/Penurunan -7. • Lulusan Diklat Pimpinan (II.6.643 217. Casip dan KB Kab. 2.175 52. IV) maupun Diklat fungsional setiap tahunnya semakin bertambah.1) alasan ekonomi.92% 4. Perlindungan Sosial Salah satu basis data perencanaan sosial di Kabupaten Bandung adalah Jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai Pra Keluarga Sejahtera (Pra KS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS.17 Data Jumlah Keluarga KS.85% .58% Sumber : Dinas Kependudukan. namun efektivitas penempatan tenaga kerja sesuai klasifikasi kelulusannya belum optimal dilaksanakan. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -41 .

keluarga pahlawan 40 KK dibina 0. Data tahun 2004 menunjukan jumlah PKRI sebanyak 90 jiwa dibina 90 jiwa. Perlindungan dan Pelayanan Orang Sakit Dan Cacat. 2. WTS 250 jiwa dibina 0. eks narapidana 822 jiwa dibina 0.906 orang. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Penduduk lansia berjumlah 11.6. keluarga perintis kemerdekaan 5 jiwa dibina 5 jiwa. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -42 . Hal ini menunjukan bahwa cakupan perlindungan sosial bagi orang cacat masih belum memenuhi harapan. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan penyandang cacat ada sebanyak 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. melalui bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 jiwa/rumah/unit.6. eks korban narkotika 367 jiwa dibina 60 jiwa. anak cacat 3.2. Perlindungan dan Pelayanan Sosial Keluarga Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Perlindungan dan pelayanan sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung berupa pelayanan sosial dan penyantunan perintis kemerdekaan yang pada tahun 2002 dilaksanakan pembentukan pengurus DHC 45 dan bantuan kesejahteraan bagi janda perintis dan warakauri sebanyak 44 orang tahun 2003 telah diberikan perlindungan sosial bagi perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang 60 orang.678 orang. lanjut usia tindak kekerasan 268 jiwa dibina 0.618 jiwa dibina 0.1. lansia terlantar luar panti 5.384 jiwa dibina melalui usaha ekonomi produktif/UEP 25 jiwa.052 jiwa dibina 0.6.3. dan fakir miskin sebanyak 73. 2. penyandang cacat eks penyakit kronis 1.534 orang sedangkan perlindungan sosial bagi orang cacat pada tahun 2004 hanya terbinanya 45 orang penyandang cacat. Perlindungan Dan Pelayanan Lansia. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam perlindungan Lansia masih kurang. melalui bantuan permakanan 20 jiwa. ditunjukan bahwa pada tahun 2003 menghasillkan terbinanya warga jompo sebanyak 25 orang dan pada tahun 2004 terbina sebanyak 30 orang. sedangkan perlindungan pelayanan yang dilaksanakan setiap tahunnya rata-rata masih jauh di bawah angka tersebut. pembinaan anggota DHC 45.

penunjang operasional Orsos perempuan berjumlah 3 Orsos. Dalam menunjang pemberdayaan perempuan. 2003 telah terehabilitasinya 195 orang tuna sosial di 10 kecamatan. eks korban narkoba dan penyandang cacat dipindahkan ke poin A. Disamping itu terdapat penduduk korban penyalahgunaan narkotika ada 530 orang.138 KK dibina 40 KK melalui KUBE. penyandang cacat 12. pemerintah Kabupaten Bandung setiap tahun telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan peranan wanita. Perlindungan Dan Pelayanan Sosial Anak-anak Dan Keluarga Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Anak nakal 660 jiwa dibina 30 jiwa. Untuk mengatasi masalah-masalah sosial dengan memberikan pelayanan sosial. 463 orang nak jalanan dibina 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.4. seperti pada tahun 2003 telah dilatihnya wanita rawan sosial ekonomi sebanyak 20 orang. sosialisasi pengarusutamaan Gender yang diikuti 40 orang dari 20 kecamatan. Melalui bantuan perlengkapan sekolah 30 jiwa. dan pada tahun 2004 terbinanya anak nakal 30 orang.552/66. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -43 . pengurus organisasi perempuan tingkat kecamatan 43 orang. Pemberdayaan Perempuan.5.290 orang wanita rawan sosial ekonomi. pada tahun terbinanya kenakalan remaja dan prostitusi di 4 kecamatan lokasi beresiko tinggi.6. melalui pemberian makanan tambahan/PMT-AS 4.6. Anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah 169 dibina 0. anak terlantar berjumlah 4. fakir miskin 260. 45 orang remaja putri. 25 orang remaja ditingkatkan keterampilannya serta pemantapan managemen organisasi perempuan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang dari organisasi perempuan dan PKK serta 50 orang dari unit Kecamatan.509 orang jiwa dibina melalui Kelompok bersama ekonomi (KUBE) 30 jiwa. Terbinanya anak terlantar 45 orang dan terlatihnya petugas Satgasos penanggulangan bencana sebanyak 30 orang. telah dilaksanakan kegiatan pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial. 2.916 orang. orang dan 11. anak terlantar 30 orang dan korban narkoba 60 orang. Permasalahannya menunjukan bahwa penduduk yang memerlukan perlindungan dan pelayanan sosial masih cukup tinggi.000 jiwa.709 orang. advokasi bantuan hukum bagi 70 orang sedangkan pada tahun 2004 telah terbinanya 30 orang P2WKSS. anak Balita terlantar sebanyak 1.

nampaknya dalam belum menjadi program/kegiatan pemerintah daerah yang serius padahal pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bandung cukup tinggi. Permasalahan yang dihadapi adalah masih tingginya kebutuhan rumah yang diperuntukan bagi warga miskin dan penyandang tuna sosial. Perlindungan Sosial lainnya.189 jiwa dibina melalui bantuan bahan bangunan sebanyak 20 KK.7. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.128 KK dibina 0. Pekerja Sosial masyarakat sebanyak 170 jiwa. Kegiatan yang pernah dilaksanakan baru pada pemberian bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 rumah pada tahun 2004.000 jiwa.6. Dalam rangka menunjang kegiatan pelayanan perlindungan sosial telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan melalui pelatihan dan sosialisasi program seperti pada tahun 2003 dilaksanakan pelatihan bagi 100 petugas sukarelawan pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan tahun 2004 terlaksananya Bintek Satgasos PB 40 jiwa. Bintek petugas sukarelawan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus HIV sebanyak 100 orang serta pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang masalah sosial. Bintek manajemen Panti sosial untuk pengurus 30 jiwa.6. Rehabilitasi Pusat Pordu KUBE Fakir Miskin 1 unit dan Peningkatan/pemeliharaan Taman Makam Pahlawan 5 unit. Bantuan K3S sebanyak 1 paket. Operasional penanggulangan NAPZA/pekat melalui BKND dan pembentukan KPAD sebanyak 1 paket. Rehabilitasi Panti Tuna Sosial 1 unti. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -44 . Pembinaan Karang Taruna sebanyak 120 jiwa. keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 6.6 Bantuan Perumahan Perlindungan sosial dalam memberikan bantuan rumah tangga melalui pemenuhan biaya perumahan atau penyediaan bantuan sewa serta penyediaan rumah dengan harga terjangkau. Dari data tahun 2004. keluarga korban bencana alam sebanyak 1. bantuan dini korban bencana alam 4.

7. sementara itu di Kecamatan Ciparay. Pengembangan Perumahan. taman kota Baleendah.000 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. taman alun-alun Ciparay.540 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. taman kota segitiga Lembang). Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pengembangan perumahan adalah belum semua pengembang menyelenggarakan/membangun fasos-fasum yang diperlukan masyarakat. Cilengkrang. pengelolaan sarana dan prasarana taman dan makam. Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan dan Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua. Pada sub fungsi pengembangan perumahan hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah terbangunnya 130 lokasi perumahan pengembang yang tersebar di 45 kecamatan dan terbangunnya rumah susun sewa Kulalet.2 Sub Fungsi Pemberdayaan Komunitas Permukiman Pada sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun 2004 antara lain pembuatan kantor jaga TPBU Cikadut Kecamatan Cimenyan. Katapang dan Cileunyi luas tanah fasos fasum yang digunakan berjumlah 451. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman adalah masih banyaknya komunitas permukiman yang lingkungannya kumuh.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.7 Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum 2. 2. penataan taman kota (taman kota Ciwidey.900 m2 terletak di Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran. taman green strip di jalur Kota Soreang dan Jalan Raya Soreang.7.580 m2.1. Desa Sukamukti Kecamatan Katapang. Pada tahun 2004 luas tanah fasos fasum yang digunakan oleh 4 pengembang berjumlah 315. taman dan trotoar alun-alun Cililin. rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan menjaga kualitas sarana prasaranan komunitas permukiman yang ada. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -45 . Ngamprah. pembangunan prasarana lingkungan permukiman dalam rangka P2WKSS dan TMMD Bidang Kimtawil.

945 m tersebar di 12 desa. Pada tahun 2003 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 510 Titik Cahaya tersebar di 18 kecamatan. sambungan rumah (SR) 292 buah.7. terminal air 25 unit tersebar di 76 desa. reservoar 1 unit.592.3. sumur dangkal 6 unit. Penyediaan Air Minum Pada sub fungsi penyediaan air minum hasil–hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2003 yaitu termanfaatkannya sistem perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 15 unit. sumur bor (sumur dalam) 26 unit. Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi penerangan jalan adalah keterbatasan dana sehingga belum dapat memenuhi permintaan masyarakat akan lampu Penerangan Jalan Umum.293 m.38 % dari seluruh pajak yang diterima. pemasangan pipa 136. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara fasilitas Penerangan Jalan Umum yang sudah ada. Pada sub fungsi penerangan jalan hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2002 telah dilakukan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 150 Titik Cahaya tersebar di 8 kecamatan.atau 88.. BPT 25 unit. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -46 . Sedangkan pada tahun 2004 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sejumlah 219 Titik Cahaya tersebar di 9 kecamatan. reservoar 23 unit. BPT 15 unit. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi penyediaan air minum adalah belum terpenuhinya kebutuhan air bersih masyarakat.4 Sub Fungsi Penerangan Jalan Keberadaan lampu penerangan jalan umum sangat penting mengingat pajak yang diperoleh dari penerangan jalan umum pada tahun 2004 telah memberi kontribusi yang besar kepada penerimaan pajak yaitu Rp. dan pemasangan pipa 57.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Pencapaian pada tahun 2004 adalah terbangunnya sistem jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 46 unit.810.938. 2. Disamping itu juga telah terbangun jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa sumur dangkal sebanyak 5 unit di Desa Talun dan Desa Mekarwangi Kecamatan Ibun.7. 41.

Dari keseluruhan sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki maka pada tahun 2004 baru dapat terlayani 63. 29 unit land container. 650 m drainase di Pasar Cikalong Wetan dan 870 m drainase di Desa Sukapura Kecamatan Dayeuhkolot. Pada tahun 2002 dicapai pembangunan drainase di Kecamatan Margahayu yaitu 30 m di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. 2. dan lain-lain 13 kali.500 m di Kota Margahayu yaitu di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. belum optimalnya pemilikan sarana BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -47 . Lembang dan Padalarang.5 Sub Fungsi Perumahan dan Permukiman lainnya Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil-hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2001 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil yang telah dicapai selain drainase adalah pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.430 m3/ bulan. Permasalahan yang ada pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya adalah belum seluruh wilayah memiliki sistem drainase.280 Kepala Keluarga dan jumlah sampah yang terangkut adalah 34. dan lain-lain 12 kali. Sedangkan pencapaian pada tahun 2004 adalah pembangunan drainase perkotaan 4.457 m yaitu 1. 174 unit gerobak sampah. 14. 70 m di Desa Margahayu Selatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Cicalengka. bangunan industri 20 kali. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya masalah penanganan persampahan memegang peranan penting. bangunan umum 28 kali. Pada tahun 2003 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. bangunan gedung 12 kali.3 m2 TPSA (tersebar di tiga lokasi yaitu di Kecamatan Ciparay. Pada tahun 2003 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 110 kali dengan rincian bangunan perumahan 50 kali. bangunan umum 15 kali. Kecamatan Pasirjambu.000 m Sungai Cikungkurak di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu. Pada tahun 2004 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 122 kali dengan rincian bangunan perumahan 58 kali.080 m di Kecamatan Lembang. bangunan industri 21 kali. 658 m di Desa Sayati. Juga telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan petugas pemadam kebakaran sebanyak 60 orang dan sosialisasi Perda No 25 dan No 26 tahun 2000 kepada perusahaan-perusahaan di wilayah Kecamatan Soreang. dan 1200 m2 UDPK.7. Majalaya.640 m Sungai Cimariuk di Desa Sayati. Kecamatan Lembang). Sampai dengan tahun 2004 sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bandung adalah 57 unit kendaraan.

pelayanan izin pembuangan limbah cair.8. pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan. pelayanan perijinan transportasi. pelayanan jasa usaha RPH. pelayanan jasa usaha penyedotan kakus. pelayanan biaya cetak Akte Catatan Sipil.8. pelayanan pemakaman. pelayanan pasar. 21/2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Bupati ke Camat dan Keputusan Bupati No. Dalam fungsi pelayanan umum juga dilakukan upaya untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui kemandirian kecamatan/desa/kelurahan yaitu dengan pendelegasian sebagian kewenangan yang ditandai dengan disusunnya Keputusan Bupati No. hasil ternak dan hasil ikutannya. pelayanan parkir di tepi jalan umum.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung prasarana pemadam kebakaran. SPM bidang pertanian. pelayanan pemeriksaan hewan ternak. Pada fungsi pelayanan umum telah dilakukan mekanisme penataan ketatalaksanaan pelayanan publik melalui penyusunan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yaitu SPM bidang pendidikan. pelayanan perijinan industri. pelayanan jasa usaha pemakaian kekayaan daerah. pelayanan perijinan perdagangan. pelayanan persampahan/ kebersihan. pelayanan ijin pemanfaatan hutan. 2. serta SPM bidang perindustrian dan perdagangan. pelayanan ijin ketenagakerjaan. SPM bidang koperasi dan usaha kecil menengah. SPM bidang kesehatan. pelayanan ijin pemanfaatan tanah. pelayanan biaya cetak KTP. 8/2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat. pelayanan jasa usaha kebudayaan dan pariwisata. dan masih minimnya peralatan pengolahan persampahan yang dimiliki. serta masih terbatasnya lahan pengolahan persampahan. pelayanan pemeriksaan alat pemadam kebakaran. pelayanan jasa usaha penjualan produksi usaha daerah. pelayanan pengujian kendaraan bermotor.1 Sub Fungsi Pelayanan Umum Pada fungsi pelayanan umum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi berbagai jenis pelayanan umum yaitu : pelayanan kesehatan. Fungsi Pelayanan Umum 2. dan pelayanan perijinan penyelenggaraan koperasi. pelayanan jasa usaha terminal. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -48 . pelayanan Ijin Gangguan (HO). pelayanan jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga.

Mewujudkan pemahaman serta pendewasaan berpolitik masyarakat yang sehat dan demokratis. bagi lancarnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. penyaluran dana bantuan Partai terhadap Parpol yang mendapat kursi di legislatif sebagai upaya BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -49 . 2. 4. Belum optimalnya pelayanan kepada publik yang ditandai dengan masih banyaknya keluhan masyarakat tentang mekanisme dan tarif pelayanan yang tidak transparan. 2. Tokoh Masyarakat dan Aparatur Daerah terhadap 80 orang. dengan hasil terbentuknya kepengurusan BAKOMKESBANG (Badan Komunikasi Kesatuan Bangsa). FORKONKOMDA (Forum Konsultasi dan Komunikasi Daerah) tingkat Kabupaten Bandung. 3. pembiayaan. Forum Konsultasi dan Komunikasi antar Tokoh Agama. Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah. 2. Ormas. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan bidang politik bagi Infra dan Supra Struktur Politik tingkat Kabupaten Bandung. Mewujudkan situasi dan kondisi yang tentram.8. Upaya pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke kecamatan/ desa/ kelurahan belum sepenuhnya didukung oleh sarana prasarana. Masih minimnya Standar Pelayanan Minimal. yang diselenggarakan terhadap 159 orang dari Pengurus Parpol. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan umum adalah : 1. LSM dan Aparatur Pemerintah. Forum Komunikasi dan Konsultasi Penetapan Stabilitas Daerah bagi aparat intelejen di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 60 orang. telah melaksanakan kegiatan dalam rangka : 1. Belum efektifnya pelayanan publik melalui SIMDA terpadu. dan SDM yang memadai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik juga dilaksanakan pembangunan sistem aplikasi 17 buah jumlah unit kerja yang terkoneksi pada jaringan LAN SIMDA sebanyak 14 unit kerja plus Ruang Bupati. dengan terbentuknya KOMINDA (Komunitas Intelejen Daerah).2 Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pada Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya.

Pemetaan Ormas.3 ha TPSA. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -50 . 164 unit gerobak sampah. eforia demokrasi secara berlebihan serta belum optimalnya proses demokratisasi dalam menampung aspirasi masyarakat. pada tahun 2002 meningkat menjadi 14.1 Manajemen Limbah Sampai saat ini.45% untuk Kabupaten dan 29. Hal tersebut karena berkaitan dengan produk limbah yang sangat besar namun tidak diimbangi dengan penanganan yang memadai. Pasirjambu dan Lembang). Pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung sampai saat ini belum dapat dikatakan optimal karena masih terbatasnya cakupan pelayanan dan pengelolaan sampah yang masih tradisional.9. dan Pemilu 2004 sebanyak 8 Parpol).4% untuk Kabupaten dan 36% untuk wilayah perkotaan di Kabupaten Bandung. dalam rangka tertib administrasi sesuai Permendagri Nomor 5 Tahun 1986 dan Inmendagri Nomor 8 Tahun 1990.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung meningkatkan kemandirian partai politik (dengan rincian: hasil Pemilu 1999 sebanyak 9 Parpol. 2. 14. Permasalahan semakin bertambah dengan adanya bencana longsor di TPA Leuwi Gajah yang berdampak pada pengelolaan persampahan selanjutnya di Kabupaten Bandung. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan lainnya yaitu terdapatnya kecenderungan pergeseran nilai budaya masyarakat yang mengarah kepada budaya kurang santun. cakupan pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung baru sekitar 12. Pada tahun 2001.8% untuk perkotaan. limbah domestik/non industri masih menjadi permasalahan yang sangat penting.1% untuk wilayah perkotaan. 330m2 UDPK. 27 unit land container.9 Fungsi Lingkungan Hidup 2.9% untuk Kabupaten dan 34. TPSA di 3 lokasi (Kecamatan Ciparay. tahun 2003 15% untuk Kabupaten dan 35% untuk wilayah Perkotaan dan pada tahun 2004 cakupan menjadi 15. Sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki sampai dengan tahun 2005 adalah 57 unit kendaraan. pelatihan Ketahanan Bangsa bagi Infra dan Supra Struktur Politik sebanyak 160 orang dalam rangka peningkatan kewaspadaan Nasional. LSM dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan.

193 kg BOD/hari.2 Manajemen Air Limbah Di Kabupaten Bandung terdapat 204 buah industri yang menghasilkan limbah cair. O3 (ozon) di Kecamatan Sindangkerta dan PM 10 di Kecamatan Cililin dan Margahayu. 179. potensi beban dari air limbah peternakan sebesar 60. Cipatat. Dari 204 buah industri seharusnya dapat dilayani oleh 170 buah Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL (karena terdapat beberapa industri yang digabung pengolahannya dan terdapat industri yang memiliki 2 buah IPAL). dari limbah pertanian yaitu 330. Padalarang. Ngamprah. terdapat pula air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik/non industri. 58.622 BOD/musim.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. masih rendahnya penanganan limbah domestik/non industri ditandai dengan dengan tingginya kandungan BOD. Hasil pemantauan terhadap 198 industri. Namun hingga tahun 2003 terdapat 7% industri yang masih belum memiliki IPAL dan 10 % dari IPAL yang ada harus ditingkatkan mutunya. dengan hasil pemantauan kualitas udara sebagai berikut : • Tahun 2001. 2.022 ton P/hari dan 23. Berkaitan dengan pembangunan IPAL terpadu.686 ton BOD/hari.9.043 ton N/musim.3 Sub Fungsi Penanggulangan Polusi Adanya aktivitas industri dan non industri di Kabupaten Bandung telah mengakibatkan menurunnya kualitas udara. Rancaekek.200 Mg BOD/et atau 80% dari debit air. hasil pengukuran pada 50 titik di 42 Kecamatan menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu NOx di Kecamatan Cikalongwetan. Selain air limbah yang dihasilkan dari proses industri. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -51 . COD dan detergen dari air limbah penduduk yaitu 136. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan bahwa beberapa parameter berada diatas baku mutu yang telah ditentukan. 74% diantaranya telah memenuhi baku mutu dengan efisiensi IPAL rata-rata 50%.376 kg COD/hari dan 627. sementara di sisi lainnya penanganan polusi udara dirasakan masih belum optimal.79 kg deterjen/hari. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup. 29.2 ton pestisida/musim dan dari air limbah RS sebesar 1. pada tahun 2003 telah dilakukan studi kelayakan IPAL terpadu Majalaya dan pada tahun 2005 akan dilakukan penyusunan studi kelayakan IPAL Batujajar. Margahayu dan Katapang.9.

kualitas udara emisi cerobong. partikulat (debu) di lokasi antara lain Jl. kualitas udara di lingkungan kerja.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. Kopo-Sayati. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -52 . Alun-alun Majalaya. KopoSayati. kualitas emisi sumber bergerak dan pemeriksaan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. TPA Leuwigajah dan Zone Industri Majalaya serta CO (Karbon Monoksida) di lokasi Jl. Alun-alun Majalaya. hasil pengukuran kualitas udara ambient pada 15 titik (2 kali pengukuran) menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu dustfall antara lain di lokasi Jl. Zone Industri Cisirung-Dayeuhkolot. Bojongsoang-Buahbatu. Kopo-Sayati dan Jl Padalarang-Cimareme. Jl Padalarang-Cimareme. yaitu untuk kualitas udara bebas (ambient). hasil penelitian kualitas udara di zona industri kapur dan marmer Padalarang menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu. Tahun 2003.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Subang Sumedang Batujajar Cimahi Ujungberung Rancaekek Dayeuhkolot Cianjur Banjaran Majalaya Gn Wayang Sebaran Industri IPAL terpadu Garut : Sangat buruk (DO < 2 ppm) : Buruk (2<DO<3 ppm) : Baik (DO>3 ppm) Gambar 2.6 Kondisi Air Sungai Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -53 .

Sampai saat ini. danau dan DPS. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa kegiatan vegetatif yaitu hutan rakyat. pelatihan dan pemberdayaan masyarakat oleh para Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL). sosialisasi PP 17 dan PP no 18 tahun 1999 tentang Pengawetan dan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 dilaksanakan pendataan bidang keanekaragaman hayati.9. penyuluhan. dam penahan. waduk. gully plug.5 Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2001 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung tahun 2001 – 2010.9. Selain itu dilaksanakan pula kegiatan pembinaan. kebun pekarangan.725 ha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.15 Ha yang berlokasi di 36 Kecamatan dan Kecamatan Pangalengan tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 2. situ. perlindungan tebing sungai serta sarana jalan dan saluran.4 Sub Fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Upaya konservasi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bandung khususnya bidang kehutanan dan konservasi tanah dilakukan melalui program Rehabilitasi Lahan Kritis dan Konservasi Tanah. kebun rakyat. dan kegiatan sipil teknis yaitu pembuatan sumur resapan.534. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya upaya konservasi SDA yang dilakukan pemerintah yang ditandai oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam dan belum optimalnya kemitraan yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat. Sampai dengan tahun 2004 tercatat luas hutan rakyat menjadi 17. luas lahan kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 32. tata air. rehab teras dan UP-UPSA. kebun pekarangan. Upaya konservasi lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah di bidang keanekaragaman hayati berupa studi pelestarian puyuh gonggong. yang diantaranya : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -54 .70 Ha. 2. Dalam perda tersebut ditetapkan antara lain pasal 26 tentang kawasan lindung. pagar hidup. pasal 28 tentang kawasan budidaya pertanian dan pasal 30 tentang kawasan budidaya non pertanian.919.

385 ha yang terbagi dalam zona: 1) Zona Leuwigajah (sudah masuk dalam Kota Cimahi) kecuali Margaasih seluas 55 ha. a.200 ha.014 ha meliputi. dengan luas wilayah 324 ha. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -55 . dengan luas wilayah 62 ha. 5) Zona Padalarang yang meliputi Kecamatan Padalarang seluas 600 ha. dengan luas wilayah 44. 2.943 ha. Kawasan rawan bencana.375 ha. Kawasan Budidaya Pertanian. Kawasan hutan rakyat.284 ha. b. dengan luas wilayah 1. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan. e. 2) Zona Majalaya yang meliputi Kecamatan Majalaya seluas 403 ha. dengan luas wilayah 2. Kecamatan Ciparay seluas 5 ha. Kawasan hutan pelestarian alam/THR.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1.269 ha. Kawasan hutan produksi. Kawasan perairan. dengan luas wilayah 9. Kawasan Lindung a.613 ha. d.805 ha. Kawasan perikanan. Kawasan pertambangan. Kawasan pangan lahan kering. d. 3. b. dengan luas wilayah 53. c. Kawasan peternakan/besar. Kawasan pangan lahan basah. dengan luas wilayah 24. g. dengan luas wilayah 5. Kawasan Budidaya Non Pertanian. c.917 ha. 3) Zona Rancaekek yang meliputi Kecamatan Rancaekek seluas 252 ha dan Kecamatan Cileunyi seluas 71 ha. dengan luas wilayah 39. dengan luas wilayah 7. dengan luas wilayah 57. Kawasan/Zona Industri. Kawasan perlindungan setempat. dengan luas wilayah 391 ha. e. f. dan Kecamatan Solokanjeruk seluas 2 ha. f. 4) Zona Cisiung yang meliputi Kecamatan Dayeuhkolot seluas 495 ha. Kecamatan Paseh seluas 60 ha.975 ha. b. Kawasan hutan suaka alam. dengan luas wilayah 182. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya.999 ha meliputi. a. dengan luas wilayah 48.

500 ha. untuk kawasan permukiman perkotaan seluas 4. 9) Zona Katapang yang meliputi Kecamatan Katapang seluas 155 ha dan Kecamatan Soreang seluas 50 ha. dan Kecamatan Arjasari seluas 237 ha. Kecamatan Cileunyi 442 ha. e. d. 3) SKW Tangkuban Parahu. 2) SKW Lembang. 7) Zona Banjaran yang meliputi Kecamatan Banjaran seluas 46 ha. dan Kecamatan Cililin seluas 100 ha. 8) Zona Cimareme yang meliputi Kecamatan Batujajar seluas 360 ha. meliputi Kecamatan Bojong-Soang 639 ha. dan 500 ha untuk pembuatan waduk reservoar. Kecamatan Solokan Jeruk 903 ha. Sistem perkotaan di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 4 (empat) hirarki yaitu : Hirarki I. c. terbagi kedalam Satuan Kawasan Wisata diantaranya : 1) SKW Maribaya. 5) SKW Saguling. Kecamatan Ngamprah seluas 118 ha. Sistem perkotaan di dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung diarahkan berdasarkan fungsi masing-masing hirarki dan fungsi masingmasing kota. 8) SKW Ujungberung.719 ha. 7) SKW Pangalengan. Kawasan tertentu (pembentukan kota baru). Kawasan pariwisata. 10) Zona Cikancung yang meliputi Kecamatan Cikancung seluas 418 ha dan Kecamatan Cicalengka seluas 121 ha. Kota-kota yang secara fisik cenderung menyatu dengan Kota Bandung dan diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan Kota Bandung. Kecamatan Rancaekek 1.542 ha. yaitu sebagian wilayah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -56 . Kecamatan Pameungpeuk seluas 96 ha. dengan luas wilayah 28. diperuntukan bagi pembentukan kota baru Tegalluar seluas 3. 4) SKW Ciburuy. 6) SKW Situpatenggang.026 ha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6) Zona Baleendah yang meliputi Kecamatan Baleendah seluas 137 ha dan Kecamatan Bojongsoang seluas 23 ha. Kawasan permukiman.

Ciparay. Baleendah. Gununghalu. Banjaran (termasuk Kecamatan Pameungpeuk). Cileunyi dan sebagian wilayah Kecamatan Rancaekek. terdiri atas Kota Soreang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Soreang dan Katapang). Rajamandala (Cipatat). Lembang. Sindangkerta. Majalaya (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Majalaya. Kota-kota hirarki I berperan sebagai penunjang rembesan pertumbuhan Kota Bandung sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan invasi pertumbuhan ke kawasan-kawasan persawahan subur sebagai sabuk hijau yang mengelilingi dan memisahkan Kota Bandung dengan kota-kota kecil di sebelah selatan. Bojongsoang. Kota-kota yang dipacu pertumbuhannya untuk menerima limpahan pertumbuhan Kota Bandung dikategorikan Hirarki III-A yaitu kota Cicalengka (termasuk sebagian wilayah Kecamatan Cikancung). Kota-kota hirarki IV berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan. yaitu Cipeundeuy. Dayeuhkolot. Kota-kota yang diarahkan menjadi kota menengah yang mandiri sebagai sembrani tandingan (counter magnet) Kota Bandung dan menjadi pengembangan pusat regional. Pacet dan Kertasari. Ciwidey (sebagian wilayah Kecamatan Ciwidey dan Pasirjambu). dan Cililin. Hirarki IV. Cipongkor. Margahayu. Ibukota Kecamatan yang diarahkan berfungsi sebagai pusat pelayanan/pengembangan pedesaan. Cikalongwetan dan Cisarua. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -57 . Ngamprah dan Batujajar). Hirarki III.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kecamatan Parongpong. Rancabali. Hirarki II. Kota-kota satelit yang mengemban peran khusus dalam sistem Metropolitan Bandung atau kota-kota yang akan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Kota-kota Hirarki III-B meliputi Kota Pangalengan. Kecamatan Margaasih. Ibun dan Paseh) dan Padalarang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Padalarang.

Pariwisata. Rancaekek dan Cileunyi. industri. Pada tahun 2004 dilaksanakan review RDTRK Banjaran. dilaksanakan penyusunan RDTRK Majalaya.18 Hirarki Kota-kota di Kabupaten Bandung Kota Kecamatan Margaasih Kecamatan Margahayu Kecamatan Dayeuhkolot Kecamatan Baleendah Kecamatan Bojongsoang Kecamatan Cileunyi Kota Rancaekek Kota Soreang II Hirarki Fungsi Pemukiman Pemukiman. penelitian Pemukiman. Lembang. pendidikan militer. perangkutan ( terminal ) Pemukiman. Fasilitas sosial Pemukiman Pemukiman. Industri rumah/ kerajinan Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian barat. Pemukiman Pemukiman. industri Pariwisata. dilaksanakan pengesahan RDTRK Soreang. Selama tahun 2001 s/d 2004 perkembangan penyediaan dokumen tata ruang adalah sebagai berikut : • • • • Pada tahun 2001 dilaksanakan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Soreang. Ciparay dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -58 . industri Pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Rancaekek dan Cileunyi. Pemukiman Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian timur. agropolitan Pariwisata. Pemukiman. pemukiman Pemukiman. industri Pemukiman Pemukiman. Industri. Perangkutan dan Perdagangan. Pada tahun 2002. Pariwisata Pemukiman. agropolitan Industri rakyat/ kecil. Industri.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. pertambangan Agropolitan I Kota Padalarang Kota Majalaya Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cicalengka Ciparay Banjaran Lembang Cililin Pangalengan Ciwidey Cikalongwetan Rajamandala Cisarua Cipeundeuy Sindangkerta Gununghalu Cipongkor Rancabali Pacet Kertasari III IV Berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan Sumber : RTRW Kabupaten Bandung Permasalahan sub fungsi Tata Ruang adalah meningkatnya kegiatan perkotaan di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya disertai oleh penyediaan instrumen perencanaan tata ruang detail yang memadai sehingga membawa konsekuensi tersendiri pada pembangunan sub fungsi Tata Ruang. Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan. Rendahnya efektivitas penataan ruang dipengaruhi oleh faktor antara lain belum optimalnya kualitas dan kuantitas produk Rencana Tata Ruang serta penegakan hukum yang masih lemah. Pangalengan dan Ciwidey. agropolitan Pemukiman. pendidikan militer Industri. Pada tahun 2003.

Instruksi Bupati 6 buah.1 Pembinaan Hukum Pada sub fungsi pembinaan hukum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 diterbitkan produk hukum berupa Perda 29 buah. operasi penegakan hukum melalui razia gabungan terhadap Pekerja Seks Komersial. • Pada tahun 2002 diterbitkan produk hukum berupa Perda 18 buah. surat perjanjian 29 buah. dan operasi penertiban dan penegakan Peraturan daerah yang berhubungan dengan perijinan perusahaan. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang dapat dijadikan acuan pembangunan wilayah dan kota 2.10 Fungsi Ketertiban dan Keamanan 2. Belum optimalnya pemanfaatan ruang. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang. penyelesaian perkara hukum sebanyak 11 kasus. serta sosialisasi Peraturan Daerah ke 15 kecamatan. surat perjanjian 27 buah serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. 4. terutama pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan budidaya di kawasan lindung.300 ha pada tahun 2002. 3. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang telah diimplementasikan dalam wujud pemanfaatan ruang. Instruksi Bupati 1 buah.10. 12.500 ha pada tahun 2003. Instruksi Bupati 2 buah. seperti rencana pembangunan Tegalluar. untuk menunjang peningkatan kualitas penataan ruang telah dilakukan penyediaan peta digital dan peta garis yaitu peta digital dan peta garis skala 1 : 5. dan 4. Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 2. Surat Perjanjian 29 buah serta BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -59 .000 seluas 3.210 ha pada tahun 2004.092 buah. serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. 19. • Pada tahun 2003 diterbitkan produk hukum berupa Perda 11 buah. Permasalahan Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan terutama pada masalah : 1. Keputusan Bupati 545 buah. Keputusan Bupati 853 buah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain itu. Belum optimalnya perencanaan tata ruang. Keputusan Bupati 1.500 ha pada tahun 2001. rencana pengembangan pusat-pusat wilayah dsb.

operasi penertiban dan penegakan Peraturan Daerah ke perusahaan. pembinaan keluarga sadar hukum di wilayah Kabupaten Bandung. Keputusan Bupati 264 buah. Instruksi Bupati 1 buah. surat perjanjian 6 buah. belum optimalnya sosialisasi produk hukum dan bantuan hukum terhadap kasus hukum yang cenderung meningkat. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pembinaan hukum adalah belum optimalnya upaya penegakan supremasi hukum yang ditandai masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda dan aturan hukum lainnya. serta sosialisasi Peraturan daerah ke 4 kecamatan. dan penyelesian perkara hukum sebanyak 3 kasus. dan belum optimalnya upaya pembaharuan dan penyusunan produk-produk hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pada tahun 2004 diterbitkan produk hukum berupa Perda 4 buah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -60 .

7 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -61 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004 Gambar 2.

2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -62 .000 Perubahan Lahan (Ha) 14.000 -26.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1983 54.000 Danau/Waduk Fasum Lahan Terbuka Pertanian/Saw ah Tegalan Perkebunan Semak/Rumput Sub Urban Belukar Industri Hutan Urban Penggunaan Lahan Jenis Tutupan Lahan % Perubahan Tutupan Lahan DAS Citarum Hulu Jenis Lahan Hutan Perkotaan Industri Belukar Lahan terbuka Pertanian 2002 1983-1993 (%) -18 105 618 45 52 -15 1993-2002 (%) -44 62 35 93 22 -47 1983-2002 (%) -54 233 868 181 86 -55 Gambar 2.000 -6.8 Peta Perubahan Guna Lahan Kabupaten Bandung Sumber: Wangsaatmaja.000 1983-1993 1993-2002 1983-2002 34.000 -46.

perjudian 5 kali. unjuk ras 19 kali. Angka Kematian Bayi (AKB). • Pada tahun 2002 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 16 kali. Prostitusi 5 kali. 2. unjuk ras 12 kali. Angka Melek Huruf (AMH). prostitusi 5 kali. prostitusi 1 kali. perjudian 5 kali. • Pada tahun 2003 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 20 kali. penertiban/penegakan kependudukan/KTP 10 kali dan Pam Bencana Alam 12 kali. penertiban minuman beralkohol (miras) 12 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 5 kali. penertiban reklame 3 kali. PGOT 4 kali. penertiban perijinan perusahaan 12 kali dan penertiban pasar 1 kali. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). prostitusi 12 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 3 kali.2 Sub Fungsi Ketertiban. perjudian 2 kali. • Pada tahun 2004 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 22 kali. PGOT 5 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. unjuk rasa 22 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -63 . penertiban pasar 3 kali. penertiban reklame 2 kali dan penertiban pasar 3 kali. Angka Harapan Hidup (AHH). penertiban minuman beralkohol ( Miras ) 2 kali. • Pada Sub Fungsi Tramtibum dan Penegakan Perda dengan dilaksanakannya pelatihan keterampilan pelaksanaan Kader Sat Pol PP sebanyak 150 orang anggota. Keamanan dan Hukum Lainnya Pada Sub Fungsi Ketentraman dan Ketertiban serta Penegakkan Perda sampai dengan Tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 dilakukan upaya penertiban/pengamanan PKL 12 kali. Rasio Ketergantungan. tawuran 7 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali.10. PGOT 5 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. PGOT 20 kali.11. Pencapaian Indikator Makro Sosial Indikator makro sosial yang dijadikan penilaian bagi keberhasilan pembangunan antara lain adalah Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). Pam Asset Pemda 12 kali. dan Tingkat Partisipasi Sekolah. unjuk rasa 15 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. perjudian 28 kali. penertiban pasar 2 kali.

053.053. Gambar 2.45 tahun dan yang terendah adalah Kecamatan Cipongkor sebesar 56.582 2.000 500.9 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN BANDUNG 4.64%.000. Kecamatan yang memiliki AHH tertinggi adalah Kecamatan Ibun sebesar 67.967 jiwa (terdiri dari laki-laki 2. mengalami peningkatan jika dibandingkan AHH tahun 2003 sebesar 65.000 2.058.500.000 3.675 1.19%.15 tahun).500.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.11.145.087.058.4 tahun.907 2003 2004 Laki-laki Perempuan Jumlah LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2.145.556 2.967 4.11. Laju Pertumbuhan Penduduk LPP Kabupaten Bandung dalam kurun waktu 2003-2004 tercatat sebesar 3. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan.500.556 jiwa dan perempuan 2.411 jiwa) dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2003 yaitu sebanyak 4.582 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.000.411 2.6 tahun. LPP tersebut dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yaitu sebanyak 4.000 1.907 jiwa).1.500.000 - 4.000.000.000 4.85 tahun (dari proyeksi sebesar 66.963.000 1.675 jiwa dan perempuan 1.000 3. 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -64 .000 2.017. Dengan demikian.2 Angka Harapan Hidup (AHH) Pencapaian AHH tahun 2004 adalah sebesar 65.087.963.017.

2 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) 65. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -65 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2. dan ANC ( Antenatal Care ). imunisasi ibu.4 2003 2004 Tahun Gambar 2.37 jiwa per 1000 kelahiran hidup (dari proyeksi sebesar 43.9 65.3 Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran.11 AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil.7 65.5 46 45.50) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKB tahun 2003 sebesar 47.1 65.8 65.7 Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup Tahun Gambar 2. Menurut data Suseda. gizi.10 2.6 65. Realisasi AKB tahun 2004 tercatat sebesar 46.4 65.5 65.2 65.3 65.5 47 46.7. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) 48 47. penolong pertama kelahiran bayi.11.96 dan yang terendah adalah Kecamatan Parongpong dengan AKB sebesar 39.37 47.85 AHH (Tahun) 65. Semakin kecil AKB maka semakin sedikit pula bayi yang meninggal di bawah satu tahun. Kecamatan yang memiliki AKB tertinggi adalah Kecamatan Cipongkor yang mencapai 72.25.5 2003 2004 46.

59.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 sebanyak 59. diperoleh dengan membagi besarnya angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan) dengan jumlah penduduk usia kerja. Grafik 2.94% ditolong oleh famili/lainnya. 38.84%.11.12 2. TPAK perempuan di Kabupaten Bandung yang mencapai 30. 38.10% kelahiran bayi ditolong oleh tenaga medis.79 % relatif jauh tertinggal jika dibandingkan TPAK penduduk laki-laki yang mencapai 74.03 %. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu angka yang menunjukkan tingkat penduduk yang aktif secara ekonomi atau angkatan kerja. dan 1. Data Suseda menunjukkan TPAK Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat sebesar 52.4. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Rancabali.94% Dukun. Dengan melihat kondisi tersebut dan jika dikaitkan dengan pencapaian AKB rata-rata Jawa Barat yang pada tahun 2003 telah mencapai 43.66%. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -66 .4 Pertolongan Kelahiran Bayi Famili/lainnya. Rongga.83.10 % PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Tenaga Medis Dukun Famili/lainnya Gambar 2. Dari perspektif jender. dan Cipongkor.96% Tenaga Medis. yang mengalami sedikit kenaikan bila dibandingkan dengan TPAK tahun 2003 sebesar 51. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena sebagian besar perempuan usia produktif masih berada pada posisi sebagai ibu rumah tangga. 1. kiranya perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuk dapat mengejar ketertinggalan tersebut.96% oleh dukun.

00% 51.84%. Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh golongan penduduk umur produktif. Hal ini menunjukan pada tahun 2004 terdapat penurunan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif.00% 50.00% 52.48 % yang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2003 yaitu 55.50% 51. Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0 -14 tahun ditambah penduduk berusia di atas 65 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15-64 tahun. Jika dikaitkan dengan keberhasilan di sektor Kesehatan.13 2.50% 50.11.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2. Data Suseda menunjukkan angka beban ketergantungan tahun 2004 tercatat 52.5.5 ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) 53. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten perlu mengantisipasi agar penduduk usia lanjut tersebut tidak menjadi beban bagi penduduk usia produktif.50% 52. yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup masyarakat Kabupaten maka akan berdampak pada bertambahnya penduduk usia tua yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio ketergantungan.03% TPAK 52.84% Gambar 2.00% 2003 2004 51. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -67 .

AMH pada penduduk laki-laki tercatat sekitar 99 % dan pada perempuan sekitar 97.00% 2003 2004 97.58%.20% 98.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.23% (dari proyeksi sebesar 97.00% 55.23% Tahun Gambar 2.00% 97.77% penduduk atau sekitar 73.48% Rasio Ketergantungan 55.14 2.5%. Grafik 2.00% 56.00% 52. Apabila dibandingkan antara AMH pada penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami buta huruf dibandingkan penduduk laki-laki.00% 2003 Tahun 2004 52.7 ANGKA MELEK HURUF ANGKA MELEK HURUF (AMH) 98.11.6 Angka Melek Huruf (AMH) AMH Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat 98.00% 50.80% 97.6 RASIO KETERGANTUNGAN RASIO KETERGANTUNGAN 57.50% AMH 98.00% 51.15 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -68 .84% Gambar 2.384 jiwa yang belum bisa membaca dan menulis.00% 53.40% 98. Dengan pencapaian AMH tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bandung sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis serta hanya sekitar 1.40 %) dan mengalami peningkatan jika dibandingkan AMH tahun 2003 sebesar 97.40% 97.20% 97.60% 97.00% 54.

2. SLTP.20 Pencapaian Komponen IPM Kabupaten Bandung Tahun 2003-2004 dan Capaian Jawa Barat 2004 No 1 2 3 4 Komponen Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Daya Beli (Rp) IPM Proyeksi 2003 65.96% 7.09 97. SMU dan PT tahun 2003 dan 2004 untuk berbagai level pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.23 % 8.01 77.18 65.44 34.40 % 7.52 Realisasi Jawa Barat 2004 65.570 68.22 54.19 Pencapaian APM Kabupaten Bandung Tahun 2003 dan 2004 No 1 2 3 4 Tingkat SD/MIS SLTP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi 2003 Proyeksi Realisasi (%) (%) 95.7.37 thn 554.70 % 7.21 95.15 thn Realisasi 2004 65.95 Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 Dari semua komponen IPM.34 thn 93.09 6.72 97. dalam kurun waktu 2003 – 2004 hanya komponen AHH yang belum dapat memenuhi proyeksi sehingga berpengaruh terhadap pencapaian sesuai proyeksi. tercatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah 8.060 68.50 Proyeksi 2004 66. Walaupun pencapaian belum sesuai proyeksi.46 thn Realisasi 2003 65. Proyeksi dan capaian dari komponen-komponen IPM tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 2. realisasi IPM tahun 2004 sebesar 68. AMH.36 96.16 30.4 thn 97. RLS dan pendapatan per kapita tahun 2004 telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM).85 thn 98.44 37.68 thn 534.65 thn 530.60 - Sumber : BPS Kabupaten Bandung Berdasarkan pencapaian tingkat partisipasi sekolah tersebut.90 55.38 29. Dengan demikian.03 thn 534.45 - Proyeksi (%) 2004 Realisasi (%) 93. Tingkat Partisipasi dan Melanjutkan Sekolah Pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD.53 % 7.03 tahun yang mengalami peningkatan jika dibandingkan RLS tahun 2003 sebesar 7.52 mengalami peningkatan jika dibandingkan IPM tahun 2003 sebesar 67.11.12. Tabel 2.5.49 thn 515. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan capaian AHH. diharapkan komponen AHH tersebut BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -69 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.870 70.200 67. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Bandung telah mengenyam pendidikan sekitar 8 tahun.65 tahun.320 68.

95 71 70 69 68 67 66 65 IPM 68.52 68. Apabila dikaitkan dengan target IPM Propinsi Jawa Barat tahun 2010 sebesar 80 maka diperlukan upaya yang serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung melalui penajaman program-program prioritas untuk dapat mencapai angka tersebut.5 68.21 dan proyeksi IPM Kabupaten hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.16 Pencapaian IPM tiap kecamatan di kabupaten dapat dilihat pada tabel 2.36 Proyeksi 2003 Realisasi 2003 Proyeksi 2004 Realisasi 2004 Realisasi Jabar 2004 Gambar 2.22 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -70 .72 67. PENCAPAIAN IPM KABUPATEN BANDUNG 70.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung perlu mendapat perhatian untuk penajaman kebijakan di tahun mendatang.

44 528.56 525.65 68.10 526.14 6.05 64.10 98.57 68.70 64.81 99.39 546.00 61.47 533.25 66.61 8.91 7.90 65.60 533.92 533.58 530.20 67.66 64.35 66.24 517.84 99.29 67.95 63.02 98.73 99.35 66.70 97.43 97.71 98.05 62.20 8.85 65.11 68.96 97.00 65.32 8.59 99.10 526.05 97.25 539.94 6.50 8.10 535.55 540.60 98.25 68.40 64.25 65.98 8.37 96.27 525.90 529.72 RLS (thn) 9.05 61.75 62.31 66.51 97.83 99.89 94.29 98.58 9.02 5.55 99.03 8.85 8.14 529.15 7.70 96.16 64.68 529.95 98.00 66.65 63.03 65.95 67.32 66.88 65.55 65.65 65.37 524.10 522.12 96.15 63.43 99.19 523.25 536.85 8.61 529.23 533.95 61.29 92.83 99.30 10.80 8.60 99.78 97.80 65.35 6.69 67.77 98.14 530.25 8.05 65.83 7.35 56.40 64.00 541.79 6.64 534.51 70.23 7.08 66.45 64.63 544.20 69.62 IPM 71.95 9.26 538.75 64.65 68.63 69.64 67.85 65.28 70.51 9.83 540.35 61.37 68.54 99.88 7.20 66.43 98.45 531.71 65.63 98.01 519.51 540.86 67.54 534.91 7.22 96.07 7.94 8.98 68.85 65.21 Pencapaian IPM di Tiap Kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2004 NO.34 91.88 523.86 98.69 68.25 AMH (%) 99.49 99.55 64.65 65.52 67.45 63.56 6.53 6.24 65.61 93.00 7.22 98.65 64.80 10 CIPARAY 11 MARGAASIH 12 CILENGKRANG 13 CIMENYAN 14 NAGREG 15 KATAPANG 16 MAJALAYA 17 PARONGPONG 18 CIMAUNG 19 SOREANG 20 CANGKUANG 21 PANGALENGAN 22 BANJARAN 23 PADALARANG 24 CIHAMPELAS 25 CILILIN 26 PASIR JAMBU 27 ARJASARI 28 CIKALONG WETAN 29 CICALENGKA 30 CIPEUNDEUY 31 SOLOKAN JERUK 32 RANCABALI 33 NGAMPRAH 34 BATUJAJAR 35 CIPATAT 36 CIWIDEY 37 SINDANG KERTA 38 CISARUA 39 PASEH 40 KERTASARI 41 PACET 42 GUNUNGHALU 43 CIKANCUNG 44 CIPONGKOR 45 RONGGA Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -71 .92 68.55 65.65 7.06 529.61 98.55 57.37 550.05 60.60 9.49 7.10 63.55 62.53 97.47 541.65 67.17 64.02 6.53 98.40 65.62 10.15 69.21 7.59 538.71 8.15 65.51 PPP (ribu Rp) 545.72 67.22 67.00 523.45 65.58 8.81 6.17 67.81 68.60 7.64 527.39 7.39 60.05 65.76 99.00 95.39 68.36 9.11 6.11 543.93 98.63 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KECAMATAN CILEUNYI MARGAHAYU DAYEUH KOLOT RANCA EKEK IBUN LEMBANG BALEENDAH BOJONG SOANG PAMEUNGPEUK Komponen IPM AHH (thn) 67.11 66.65 62.34 64.73 521.87 540.60 60.82 93.99 68.69 98.02 536.93 65.

93 81.49 49.89 545.58 34.20 65.72 60.19 51.47 30.11 530.70 7.40 97.10 7.25 36.22 66.64 74.93 98.75 98.13 98.68 61.60 550.03 60.29 48.15 99.30 53.15 68.02 46.60 98.78 66.10 95.85 69.22 32.26 555.17 65.85 29.83 58.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.06 56.17 54.15 8.20 98.42 70.60 525.50 9.40 567.15 69.47 85.09 539.20 82.48 71.57 7 64.07 66.97 47.64 51.62 57.88 55.29 69.1000) INDEKS ANGKA KEMATIAN BAYI (PER 1000 KELAHIRAN) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 63.22 64.00 517.50 39.60 8.70 96.40 7.63 68.40 56.86 2 3 4 5 6 60.55 64.68 51.53 72.74 43.58 97.44 67.00 534.47 83.87 83.RATA LAMA SEKOLAH ( TAHUN) INDEKS INDEKS PENDIDIKAN KEMAMPUAN DAYA BELI ( X.50 50.60 93.35 99.46 67.01 73.18 94.50 75.83 99.40 7.90 52.90 98.35 8.60 79.97 59.03 67.40 56.86 561.50 99.28 66.60 78.40 94.87 54.30 95.26 64.93 52.22 Proyeksi IPM Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 NO 1 INDIKATOR 2000 2 3 2001 4 2002 5 2003 6 7 PROYEKSI PER TAHUN 2004 2005 8 2006 9 2007 10 2008 11 2009 12 2010 13 1 ANGKA HARAPAN HIDUP ( TAHUN ) INDEKS ANGKA MELEK HURUF ( %) INDEKS RATA .56 70.00 84.26 68.43 96.28 72.70 Proyeksi dihitung berdasarkan hasil Suseda 20012003 Sumber Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -72 .14 47.90 8.11 65.20 7.48 70.80 521.87 85.60 7.42 57.25 93.75 74.58 99.80 78.59 73.35 99.87 69.Rp.20 86.

Isu strategis yang merupakan gambaran umum permasalahan yang dihadapi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut : 1. munculnya berbagai penyakit masyarakat. Resistensi nilai-nilai religius. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 masih berada pada angka 68. seperti terminal.13 Isu Strategis Kabupaten Bandung Berdasar kondisi dan proyeksi mendatang Kabupaten Bandung 2010. pasar dan sistim transportasi sehingga menyebabkan kesemrawutan kota dan kemacetan lalu lintas. menurunnya kepekaan dan solidaritas sosial. serta kualitas kesehatan lingkungan yang masih relatif rendah. 8. 2.70 yang akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai fungsi dan sub fungsi pembangunan. kinerja birokrasi. simplikasi. kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayananan pendidikan. 5. sinkronisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Hingga tahun 2010 diharapkan IPM Kabupaten Bandung akan mencapai atau bahkan lebih besar dari proyeksi sebesar 74. Menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan ditandai dengan meningkatnya pencemaran air dan udara serta masalah lingkungan lainnya seperti banjir dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -73 . kualitas pelayanan kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dilihat secara makro. rendahnya tingkat pendapatan dan tingginya LPP. serta berkurangnya kesadaran dan citra budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat. kesadaran hidup bersih dan sehat. Kualitas pelayanan publik belum optimal disebabkan antara lain oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia aparatur. sedikit diatas IPM Jawa Barat yaitu sebesar 68. Masih rendahnya keterpaduan pemanfaatan ruang kota. persebaran dan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum memadai. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. dan sarana prasarana yang belum memadai. 7. dan belum optimalnya aplikasi konsep pembangunan partisipatif. Koordinasi.52 (realisasi). sosial dan budaya sebagai akibat dari derasnya arus perubahan dan globalisasi. Kualitas pendidikan masih relatif rendah disebabkan antara lain belum tercapainya target RLS. 2. 6. 4. SPM. 3. integrasi.36.

rendahnya efektivitas penataan ruang dan lemahnya pengawasan dan pengendalian. sarana infrastruktur perdesaan. mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa antara lain dengan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM). perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. TPA. Untuk melihat konfigurasi dari kesembilan isu strategis tersebut dilakukan pengelompokan isu-isu strategis ke dalam beberapa kelompok isu yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan sebagai berikut: o Kelompok 1: Isu-isu terkait dengan perbaikan kualitas pemerintahan. dll) o Kelompok 4: Isu-isu terkait dengan perbaikan aspek sosial. o Kelompok 3: Isu-isu terkait dengan perbaikan kondisi fisik keruangan kabupaten.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung longsor. 2.14 Konfigurasi Isu Startegis dan Kerangka Intervensi Pembangunan Dari kesembilan isu strategis di atas dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antar isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan. aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Rendahnya kinerja pembangunan desa disebabkan kualitas SDM. penataan kelembagaan maupun pemekaran wilayah. Isu-isu pada kelompok ini terkait dengan pembenahan internal Kabupaten Bandung. Pembenahan ini dilakukan di semua lini pemerintahan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Isu yang termasuk dalam kelompok ini terkait dengan modal sosial yang terancam oleh faktor eksternal. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan pelaksanaan fungsi/peran pemerintah sebagai public servant (pelayan publik). pemanfaatan ruang kawasan pedesaan. yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran. yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan menurunnya daya dukung lingkungan dan sediaan infrastruktur dasar (jalan. juga adanya kegagalan internal BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -74 . perumahan. 9. o Kelompok 2: Isu-isu terkait dengan penyediaan pelayanan umum dasar bagi masyarakat. IPAL. lemahnya kelembagaan desa dan belum teralokasikannya sumber keuangan desa secara memadai.

Sementara itu. dan kelompok isu keempat (modal sosial). kelompok isu keempat (modal sosial) dianggap sebagai dampak dari berbagai masalah yang terjadi pada semua kelompok isu. K e lo m p o k 2 : PELAYAN AN D ASAR U N TU K W ARG A IS U 6 : K u a lit a s p e la y a n a n p u b lik b e lu m o p t im a l K e lo m p o k 1 : PEM ER IN T A H A N IS U 5 : < K in e r ja b iro k r a s i m a s ih re n d ah > ISU 4: J u m la h penduduk m is k in m a s ih r e la t if t in g g i IS U 3 : < K u a lit a s k e s e h a ta n m a sy ara k at m a s ih r e n d a h > IS U 2 : K u a lit a s p e n d id ik a n m a s ih r e la t if ren d a h K e lo m p o k 4 : M O D A L S O SIA L IS U 1 : R e s is t e n s i n ila in ila i r e lig iu s .17 Konfigurasi Permasalahan dan Keterkaitan Antarkelompok Isu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keempat kelompok isu tersebut kemudian diletakkan dalam suatu konfigurasi permasalahan untuk melihat keterkaitan antar kelompok isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan yang akan dilakukan. kelompok isu ketiga (fisik keruangan). s o s ia l d a n budaya IS U 9 : R endahnya k in e r j a pem bangunan desa K e lo m p o k 3 : FISIK K E R U A N G A N IS U 7 : k e s e m ra w u ta n k o ta d a n k e m a c e t a n la lu lin t a s ISU 8: M en u ru n n y a daya dukung d a n k u a lit a s lin g k u n g a n Gambar 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -75 . Gambar di atas menunjukkan hubungan antar kelompok isu dimana isu pada kelompok pertama (pemerintahan) dianggap memberi dampak pada terjadinya permasalahan pada kelompok isu kedua (pelayanan dasar untuk warga). Gambar di bawah ini menjelaskan konfigurasi permasalahan tersebut.

Sesuai dengan paradigma kepemerintahan yang baik bahwa kedudukan masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan sesuai dengan prakarsa. Kultural dan Berwawasan Lingkungan. aspirasi dan dinamika yang berkembang pada masa kepemimpinan tahun 2000-2005. melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius. damai. permasalahan dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan memperhatikan nilai-nilai visi daerah. bimbingan dan rahmat Allah SWT. sejahtera dan senantiasa berada dalam lindungan. dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa” Makna dari Visi tersebut : Repeh Rapih Kertaraharja adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang hidup dalam keadaan aman. tenteram. MISI DAN PRIORITAS DAERAH 3. dengan pengertian bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan aktif dalam keseluruhan proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan. visi yang kami kedepankan adalah ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja.1 V i s i Berdasarkan potensi. Percepatan pembangunan tersebut mengandung maksud menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi cepatnya pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bandung. Partisipatif merupakan pendekatan yang diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan. sehingga manfaatannya dapat segera dirasakan oleh masyarakat. kehendak dan kebutuhannya secara proporsional dan bertanggungjawab. tertib. tuntutan. pelaksanaan hingga pengawasan. Akselerasi pembangunan atau percepatan pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat proses pembangunan lebih cepat. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-1 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB III VISI.

Daya dukung dan kualitas lingkungan harus menjadi acuan utama segala aktifitas pembangunan. 2. Tertib. Kultural mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya Sunda yang baik. bahwa pembangunan di Kabupaten Bandung harus memberikan perhatian yang besar dan sungguh–sungguh terhadap pengembangan desa. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik. agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang. Desa yang dalam susunan pemerintahan merupakan unit pemerintahan terendah adalah ujung tombak pembangunan daerah dan lokus yang menjadi muara seluruh aktifitas pembangunan.2 M i s i Untuk mewujudkan visi diatas. 8. 3. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. nyaman. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa. 6. Berwawasan Lingkungan mengandung pengertian dan kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan yang didasari oleh kesadaran akan fungsi strategis lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. semangat dan kaidah agama. dan berkelanjutan. Tenteram dan Dinamis. serta menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Religius mengandung pengertian bahwa nilai-nilai. termasuk penyelengaraan pemerintahan dan pembangunan. harus tumbuh dan berkembang seiring dengan laju pembangunan. 3. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. dirumuskan 8 ( delapan ) misi sebagai berikut : 1. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-2 . menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan. mewarnai. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. 5. dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan hidup beragama. 7. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. 4. peningkatan kualitas kinerja pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan identitas mayoritas Kabupaten Bandung. melekat dan menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Bandung. norma. Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa mengandung pengertian. Pengembangan budaya Sunda tersebut dilakukan dengan tetap menghargai pluralitas kehidupan masyarakat secara proporsional. harus menjiwai.

tetapi juga dihadapan-nya. akuntabel dan memiliki visi strategik.1 Misi 1 : Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab. responsif. sektor swasta dan masyarakat secara proporsional dan bertanggung jawab. berorientasi konsesus. Proporsional dalam hal ini mengandung pengertian bahwa setiap domain pemerintahan melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki berdasarkan tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku. demokratis. partisipatif berlandasakan hukum. dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama.2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. oleh karena itu. sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik. kesetaraan. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-3 . sistem dan manajemen pemerintahan perlu dimantapkan antara lain dengan melakukan penataan wilayah dalam rangka mengefektifkan rentang kendali pengelolaan pemerintahan. yaitu pemerintah. efektif. Kepemimpinan harus dilandasi oleh kesadaran mengambil peran dan tanggung jawab untuk membangun demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. efisien. Bertanggung jawab mengandung pengertian bahwa pelaksanaan peran dan fungsi setiap domain pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif berdasarkan prinsipprinsip kepemerintahan yang baik. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tidak semata-mata disandarkan kepada pemerintah saja tetapi merupakan sinergitas dari peran pemerintah. organisasi dan kepemimpinan serta sistem yang berlaku di dalamnya harus dijalankan sesuai dengan tuntunan-nya dan dipertanggungjawabkan bukan saja di hadapan manusia. sebagaimana firmannya dalam al-quran surah al-baqarah ayat 30 yang artinya : ” sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah ( pemimpin ) di muka bumi ini”. adil. egaliter dan mampu mengedepankan keteladanan. transparan. kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebut bukan semata-mata merupakan tuntutan organisasi tetapi harus diyakini sebagai amanah dari allah swt. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik adalah peran kepemimpinan yang demokratis.

dalam praktek kehidupan. berada dalam kebenaran dan menuju kebenaran. bahwasannya rasulullah muhammad saw bertsabda : ”setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”. selain itu. sekecil apapun yang menjadi hak rakyat.” secara garis besar terdapat 4 ( empat ) karakter kepemimpinan rasulullah saw yang harus kita teladani dalam berbagai lingkup kepemimpinan. keempat : fathonah ( cerdas) : yaitu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta memiliki semangat untuk menjadikan berbagai fenomena kehidupan sebagai pelajaran yang sangat berharga. memperhatikan dan menyikapi dengan segera apa yang menjadi aspirasi masyarakatnya agar kebijakannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. yaitu : pertama : siddiq ( benar ) : yaitu komitmen terhadap kebenaran. termasuk kepemimpinan di dalamnya. yaitu bagi mereka yang mengharapkan ridho allah. ketiga : amanah ( jujur ) : seorang pemimpin harus berlaku jujur dan adil disertai dengan keikhlasan dan ketawakalan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-4 . kedatangan hari akhir dan mereka banyak menyebut nama allah. rasulullah saw patut dijadikan sebagai tauladan. apa yang diucapkannya harus dapat dibuktikan dengan perbuatan yang nyata. yang artinya” sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. allah swt berfirman dalam al-quran surah al-ahzab ayat 21.segala langkah yang ditempuh seorang pemimpin harus harus berpijak pada kebenaran. kepemimpinan bukan semata-mata kekuasaan tetapi merupakan kapasitas intelektual yang dikonsepsikan dan dipraktekan dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya. harus mampu dipenuhinya sebagaimana seharusnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pertanggungjawaban kepemimpinan ini ditegaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist. kebenaran inilah yang harus menjadi landasan strategi kebijakan serta acuan utama seluruh aktivitas pemerintahan dan pembangunan. termasuk kepemimpinan pemerintahan di dalamnya. kedua : tabligh ( menyampaikan ): seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan berbagai programnya dengan baik kepada masyarakat serta mampu mendengar.

Kondisi yang aman. Selain itu. Peningkatan kualitas meliputi pemantapan moral dan mental. dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. tertib. Tentram dan Dinamis. derajat kesehatan. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yan sangat penting dalam rangka mewujudkan Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. persatuan dan kesatuan seluruh komponen pembangunan. 3. Dinamika pemerintahan.3 Misi 3: Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Tertib. ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksud. perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu. faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman.2. penegakan hukum harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan adil dengan perlakukan yang sama terhadap semua orang tanpa diskriminasi. tenteram dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. keahlian. tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama. disertai dengan perhatian yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan agar memiliki kesetaraan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-5 . Keamanan.2 Misi 2: Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. peningkatan kemampuan intelektual. kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. pembangunan dan kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan tuntutan perubahan kehendak dan kebutuhan masyarakat berdasar asas demokrasi yang bertanggung jawab.2. disertai dengan rasa kebersamaan.

membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat. 3.4 Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan.2. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. akan mampu meningkatkan kemampuan usaha masyarakat. pengembangan potensi ekonomi daerah juga harus membuka ruang bagi terciptanya demokrasi ekonomi yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu.5 Misi 5: Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Untuk mewujudkan masyarakat yang Repeh Rapih Kertaraharja di tengah –tengah masyarakat Kabupaten Bandung yang sangat religius. Apabila potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik. 3. Selain itu. Dengan demikian. upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras agar masyarakat dapat hidup layak dan menjalani kehidupannya dengan baik. Sehingga paradigma pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung harus dititikberatkan pada keselarasan pengembangan pertanian yang kuat dengan industri yang maju yang bertumpu pada pengembangan potensi sumber daya lokal. diantaranya tidak adanya pendapatan.2. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi terutama pada sektor pertanian dan industri. kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap keyakinan teologis yang dapat mengakibatkan kekufuran. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-6 . Penilaian kemiskinan dengan permasalahan sosial merupakan siklus masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung peran dan fungi dalam ruang pembangunan serta pemberdayaan generasi muda agar pada masa yang akan datang mampu mengambil peran dalam pembangunan. masalah kemiskinan dapat diminimalisir yang berarti juga akan berpengaruh pada berkurangnya masalah sosial dan semakin mantapnya keyakinan teologis masyarakat.Selain itu. konsep iman dan taqwa sebagai muatan utama masyarakat beragama harus menjadi landasan pokok yang harus dikedepankan.

budaya juga merupakan modal utama pembangunan untuk mewujudkan keserasian dan keselarasan hidup manusia. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. Selain. Pada sisi lain. Budaya juga dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif untuk menghadapi dampak negatif derasnya arus perubahan. Oleh karena itu. Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. wiwaha tur wijaksana harus dikembangkan sebagai bagian dari jati diri kesundaan.nyaloka dan sikap yang luhur. nyunda. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. luhung. nyantana. 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. perigel. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-7 . nyantika. karakter masyarakat Sunda anu boga wani.2.Kinerja pemerintahan dan kehidupan masyarakat harus dilandasi oleh semangat silih asih. Dalam perspektif agama. tetapi juga muatan sosial. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. dengan identitas nyantri. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. wanoh. gesit binangkit. identitas dan kepribadian suatu kominitas masyarakat.6 Misi 6: Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda Budaya merupakan salah satu sumber nilai yang menunjukan jati diri. Masyarakat Sunda harus mempunyai kepercayaan diri dan kemandirian untuk berperan maksimal dalam pembangunan di Kabupaten Bandung. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. silih asah dan silih asuh. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial.

Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan akan mengakibatkan menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan.7 Misi 7: Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan Pembanguanan adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. dana. rendahnya produktifitas tenaga kerja. masih tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman. kinerja dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan desa. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-8 . yaitu menguntungkan secara ekonomis. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. dalam rangka pada pencapaian upaya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu.2. diperlukan perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam. Konsekuesi logis dari sebuah pembangunan adalah penggunaan berbagai sumber daya. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. Oleh pembangunan karena harus itu. rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan. yang akhirnya akan berakibat pada kerusakan alam dan bencana yang akan melanda manusia. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. diterima secara sosial dan ramah lingkungan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. demi keberlangsungan kehidupan manusia dan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan.2. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. pengembangan kapasitas keuangan desa. baik sumber daya manusia. teknologi maupun sumber daya alam.8 Misi 8: Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa Sebagian besar masyarakat Kabupaten Bandung bertempat tinggal di pedesaan dicirikan antara lain dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. 3.

yaitu pendidikan. dengan tetap memandang semua bidang pembangunan dalam kedudukan yang penting. pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklim usaha yang kondusif. manusia juga merupakan sasaran yang harus menikmati hasil–hasil pembangunan. pada hakekatnya perencanaan strategis pembangunan Kabupaten Bandung diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan – kebutuhan dasar manusia yang semuanya bermuara pada Indeks Pembangunan Manusia. Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. 3. Sehubungan dengan pemikiran tersebut. peningkatan sarana/prasarana kesehatan. melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pedesaan. Pada satu sisi. dan perbaikan gizi masyarakat. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melalui peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. manusia adalah subjek pembangunan yang bertindak sebagai pelaku ( stakeholders ). revitalisasi pertanian. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-9 . peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan. Berdasarkan pada kondisi. segala aktifitas pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan kualitas manusia (human development). melalui peningkatan kesadaran budaya sehat. pada sisi yang lain. kesehatan dan daya beli masyarakat. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut : 1. Peningkatan perekonomian daerah. peningkatan sarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator keberhasilan pembangunan yang merupakan gabungan komposit dari tiga komponen pokok. 2. manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat.3. Prioritas Daerah Di dalam pembangunan. 4. permasalahan. 3. potensi dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung. Oleh karena itu.

pelaksanaan pembangunan periode 20052010 dititikberatkan pada tiga bidang pokok yaitu pendidikan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. Peningkatan kualitas. 6. 3. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dari 66. Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. melalui peningkatan kapasitas pemerintahan desa. dan menurunnya angka BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-10 . kesehatan dan ekonomi (daya beli masyarakat). Pembangunan bidang pendidikan diarahkan pada terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas.85 pada tahun 2005 menjadi 70. Peningkatan optimalisasi pengawasan dan penegakan hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia dan prinsip keadilan. peningkatan gairah investasi serta aktivitas ekonomi lainnya. daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencegahan dini terhadap bencana. Peningkatan kinerja pembangunan desa. serta peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan.1. Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan.93 pada tahun 2005 menjadi 9. perlu diupayakan pengembangan partisipasi masyarakat dan dunia usaha melalui sistem dan mekanisme yang transparan dan akuntabel. peningkatan keberdayaan masyarakat desa.50 pada tahun 2010 dan meningkatnya rata-rata lama sekolah dari 7. Bidang Prioritas Pembangunan Sejalan dengan prioritas daerah diatas. selain dukungan alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD).20 pada tahun 2005 menjadi 99. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka melek huruf (AMH) dari 98. pengembangan ekonomi dan pembangunan kawasan perdesaan.03 pada tahun 2010.50 pada tahun 2010. 8.3. serta pengembangan alokasi dana desa (ADD). Untuk menunjang keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan. peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruang kota dan pusat pertumbuhan. 9. Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui peningkatan profesionalisme. 7.

baik pelayanan dasar maupun penunjang.680..pada tahun 2010. Pemberdayaan ekonomi masyarakat diupayakan melalui perhatian dan perlakuan yang dapat memenuhi aspek penggalian potensi dan kemampuan penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.567.25 per 1000 kelahiran menjadi 29.2 Kerangka Relasi Antara Misi dengan Intervensi Kebijakan Pembangunan Konfigurasi isu strategis seperti yang diulas pada Bab II kemudian diletakkan ke dalam kerangka intervensi pembangunan yang akhirnya akan berimplikasi pada pengelompokan misi. 3. yang akhirnya diharapkan akan berkontribusi terhadap peningkatan modal sosial berupa ketahanan masyarakat pada BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-11 .pada tahun 2005 menjadi Rp. juga diharapkan trwujudnya budaya hidup sehat yang dilandasi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan..3.539. Pembangunan Bidang Ekonomi diarahkan pada terwujudnya peningkatan keberdayaan ekonomi masyarakat.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat dari Rp. Selain sasaran kuantitatif tersebut.880. Hubungan Antara Konfigurasi Permasalahan Dengan Kerangka Intervensi Kebijakan Jangka Menengah KARAKTERISTIK INTERVENSI KONFIGURASI PERMASALAHAN KERANGKA INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU Kelompok 1: PEMERINTAHAN REFORMASI TATA PEMERINTAHAN AKSELERASI PEMBANGUNAN Kelompok 2: PELAYANAN DASAR UNTUK WARGA Kelompok 3: FISIK KERUANGAN PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS PELAYANAN PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA FAKTOR PENUNJANG Kelompok 4: MODAL SOSIAL PEMELIHARAAN KARAKTER LOKAL Dari gambar kita bisa interpretasikan bahwa: kapasitas pemerintahan yang baik akan berdampak pada kemampuannya dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kematian bayi (AKB) dari 39.

• Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal o Misi 2. Berdasarkan kerangka pikir pada gambar diatas. • Intervensi pembangunan harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh pemerintah terutama masalah yang BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-12 . Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Prioritas tersebut harus ditentukan secara rasional berdasarkan prinsip berikut ini: • Tidak mungkin sumberdaya publik hanya dialokasikan pada penguatan internal. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Misi 6. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Namun penguatan harus dilakukan segera pada awal pembangunan agar proses pembangunan berikutnya bertumpu pada dasar yang kuat. Tertib.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pengaruh global dan menguatnya nilai religius dan kultural dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Bandung. o o Misi 5. Ini karena tidak mungkin pelayanan publik berjalan baik bila sistem dan pelakunya masih belum siap. Tenteram dan Dinamis. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. diperlukan tiga jenis intervensi yaitu: • Perbaikan Tata Pemerintahan yang mencakup: o o • Misi 1. Misi 7. intervensi pembangunan jangka menengah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok intervensi yaitu: • • • Kelompok Intervensi Perbaikan sistem dan pelaku (pemerintah) Kelompok Intervensi Akselerasi pembangunan Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Dari ketiga karakteristik tersebut harus dijalankan secara proporsional berdasarkan prioritas intervensinya. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya: o Misi 3.

berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Tertib. pelayanan pendidikan. o o Misi 5. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. • Keberadaan Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal (faktor penunjang) dalam proses pembangunan merupakan bagian penting tetapi kedudukannya berada dibawah Kelompok Intervensi lainnya karena sifatnya yang tidak terkait langsung dengan permasalahan pembangunan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh sejauhmana intervensi pada wilayah ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. Misi 7. Tenteram dan Dinamis. Misi 6.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sifatnya mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya seperti ketersediaan infrastruktur. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Dengan demikian urutan prioritas Kelompok Intervensi adalah: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-13 . Dengan demikian. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. dan pelayanan kesehatan.

strategi. efektif dan ekonomis. tujuan. semesteran. Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Strategi pembangunan Kabupaten Bandung dapat dikategorikan ke dalam tiga Strategi Pokok yaitu: 1. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang merupakan rencana yang mencakup upaya-upaya menyeluruh dan terintegrasi untuk mengoperasionalkan tujuan dan sasaran melalui penetapan kebijakan dan program. Sasaran menggambarkan tindakan-tindakan/aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dengan memberikan penekanan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efisien. maka misi. maka fokus kinerja pemerintah daerah dapat lebih dipertajam dan memberikan arah bagi sasaran yang akan dicapai. triwulanan atau bulanan. sasaran. kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat. kebijakan dan program. dirumuskan tujuan. kebijakan dan program secara lengkap ditampilkan dalam bentuk matriks pada lampiran.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Untuk mencapai kesatuan pandang dalam rangka melaksanakan misi yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. 3. Tujuan adalah penjabaran dari pernyataan misi yang merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 3-5 tahun. merupakan hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh pemerintah daerah dalam jangka waktu tahunan. Sasaran adalah penjabaran dari tujuan. sasaran. Dengan adanya tujuan. Akselerasi peningkatan IPM dengan prioritas penataan regulasi dan fokus anggaran pada bidang pendidikan. strategi. Meningkatkan pembangunan yang berfokus di desa. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sederhana sehingga dapat dilihat benang merah dari seluruh strata rencana strategis ini. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan yang merupakan penjabaran dari kebijakan.1 . Mewujudkan Good Governance dan Clean Goverment 2.

Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemerataan akses layanan pendidikan. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. o o Misi 5. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. yaitu: 1.2. Tertib. Terwujudnya Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas.2 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI AKSELERASI PEMBANGUNAN 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4.1 STRATEGI UMUM PENCAPAIAN MISI Sebagaimana dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2.2 . Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. • Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pendidikan sebesar 86. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Dengan demikian. 4. Tenteram dan Dinamis. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.40 pada tahun 2010. Misi 6. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1.1 STRATEGI MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Misi ini dijabarkan dalam 3 (tiga) tujuan. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Misi 7. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.

makanan. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . serta menurunnya penyalahgunaan obat-obat-obatan terlarang. 3. • Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha terhadap dunia pendidikan.50%. Meningkatnya partisipasi generasi muda dalam pembangunan. 2. Meningkatnya kualitas manajemen olah raga.3 . Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dengan laki-laki. dengan Sasaran: • Meningkatnya angka harapan hidup (AHH) menjadi sebesar 70.50 tahun pada tahun 2010. pembangunan dan kemasyarakatan. Meningkatnya kebugaran jasmani masyarakat dan prestasi olah raga. Meningkatnya potensi generasi muda dalam kewirausahaan. • Meningkatnya kualitas dan kuantitas sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. dengan Sasaran: • • • • • • • • Terjaminnya keadilan gender dalam penyelenggaraan pemerintahan. dan alat kesehatan.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010. • Menurunnya angka kematian ibu dan bayi menjadi sebesar 29. Terwujudnya Peningkatan Derajat kesehatan Masyarakat. • Terkendalinya penyebaran dan distribusi obat-obatan.03 tahun serta AMH sebesar 99. • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. kepeloporan dan kepemimpinan. Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana olah raga bagi masyarakat. • Meningkatnya capaian angka partisipasi sekolah (APM) dan rata-rata lama sekolah (RLS) pada tahun 2010 sebesar 9.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. • Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan. • Meningkatnya kesadaran budaya hidup bersih dan sehat. Terwujudnya Peningkatan Keberdayaan Perempuan. Meningkatnya ketersediaan media aktivitas dan kreativitas generasi muda. Generasi Muda dan Olah Raga.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan keberdayaan generasi muda dan olah raga. Meningkatnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan dan kesehatan 3. Terwujudnya Peningkatan Perekonomian Daerah.567. Meningkatnya kemampuan penanganan bencana alam dan sosial. Terwujudnya Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. 2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. keluarga dan masyarakat. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat secara melembaga dan berkesinambungan. Memberdayakan sumber daya perempuan dalam seluruh aspek kehidupan. 4. 3. dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berusaha dan meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat sebesar Rp. dengan Sasaran: • • Meningkatnya investasi di daerah. dengan Sasaran: • • • • • • • Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. Meningkatnya keberdayaan penyandang cacat dan perlindungan anak.4 . Meningkatnya pendapatan masyarakat. Meningkatnya ketahanan sosial individu. 4.2. 2. Tersedianya bantuan sosial yang optimal.680 pada tahun 2010. Berkurangnya penyakit sosial dan penyandang masalah sosial. Terwujudnya Peningkatan Perlindungan dan kesejahteraan Sosial.2 STRATEGI MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Misi meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat ini dijabarkan ke dalam 5 (lima) tujuan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan: 1. yaitu : 1. Meningkatnya kesempatan berusaha. Meningkatnya daya saing industri manufaktur. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Meningkatnya tertib administrasi kependudukan. Terkendalinya Pertumbuhan Penduduk dan Terwujudnya Peningkatan Kualitas Keluarga. kecil dan menengah. Tersedianya informasi pasar kerja. Strategi meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan: • • Meningkatkan keberdayaan sosial masyarakat. Meningkatnya pengelolaan BUMD. Berkembangnya kemitraan usaha dan manajemen promosi produk daerah. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja. yaitu: BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatnya akses pemasaran produk daerah. 5. 4. dengan Sasaran: • • • • • Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP). Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar bagi kegiatan ekonomi daerah. dengan Sasaran: • • • • Menurunnya tingkat pengangguran. Meningkatnya pemberdayaan koperasi. Menurunnya perkawinan usia dini. Terwujudnya Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Meningkatnya kualitas dan kuantitas komoditas unggulan daerah. Berkembangnya sentra-sentra produk unggulan daerah. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembangnya anak.5 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • • • • Meningkatnya produktivitas pertanian dan posisi tawar produk pertanian. 4. Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat. usaha mikro. Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja.2.3 STRATEGI MEMELIHARA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Misi ini dijabarkan ke dalam 2 (dua) tujuan. Terkendalinya mobilitas dan persebaran penduduk.

Terpeliharanya • • • • • • Keseimbangan Alam. sinergistas dan keterpaduan kebijakan dan program Strategi memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan: 1. Meningkatnya pembangunan.3 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU 4. Menurunnya pencemaran air dan udara. 3. yaitu : BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .3. dengan Program: • • • • • • Meningkatnya manajemen penataan ruang yang efektif. dengan Sasaran: Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya akan fungsi strategis lingkungan. Meningkatnya pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan. 2.1 STRATEGI MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Misi mewujudkan kepemerintahan yang baik dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. 2. Meningkatkan efektivitas tata ruang wilayah. Meningkatnya pengelolaan dan pelayananan limbah. Meningkatkan percepatan pembangunan yang berkelanjutan. Meningkatnya penegakan hukum lingkungan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Meningkatnya percepatan pembangunan di wilayah pertumbuhan. Terwujudnya Keserasian Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Suatu sistem Pembangunan Yang berkelanjutan.6 . Terkendalinya pertumbuhan wilayah perkotaan. Meningkatkan penegakan hukum untuk mengurangi perusakan dan pencemaran lingkungan. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan antara perkotaan dan perdesaan. Terwujudnya sistem pemanfaatan tanah yang efisien dan efektif. Meningkatnya upaya konservasi hutan dan rehabilitasi lahan. Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Meningkatkan manajemen pengelolaan lingkungan. 4. 4.

• Meningkatnya akses informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. • Meningkatnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pemerintah. • Meningkatnya kualitas pelayanan publik.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. • Meningkatnya peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan. dengan Sasaran: • Meningkatnya kualitas sumber daya aparatur secara dinamis dan berkelanjutan. legislatif. • Menurunnya praktek KKN dimulai dari tataran top manajemen. dunia usaha dan masyarakat secara proposional dan bertanggung jawab. 3. • Terwujudnya sistem dan manajemen partisipatif yang legitimate. efisien. Dunia Usaha dan Masyarakat. hak dan kewajiban serta tanggung jawab masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. Terwujudnya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengambilan Kebijakan Publik.7 . dengan Sasaran: • Meningkatnya pemahaman dan kepedulian tentang peran. responsif dan akuntabel. • Terwujudnya manajemen pengelolaan keuangan daerah yang mantap. 2. Memantapkan kinerja kepemimpinan yang demokratis. Terwujudnya Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaran Pemerintahan. dengan Sasaran: • Meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah. transparan. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . profesional. egaliter dan mengedepankan keteladanan. Terwujudnya Sinergitas Interaksi Antara Pemerintah. • Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. • Terwujudnya kerjasama dan keterpaduan fungsi dan peran antara eksekutif. dunia usaha dan masyarakat. yudikatif. pelaksanaan dan pengawasan. efektif. • Terwujudnya konsistensi hukum daerah yang selaras dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. Strategi mewujudkan kepemerintahan yang baik dilakukan dengan: 1.

Meningkatnya kemampuan lembaga ekonomi perdesaan. 4.8 . Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Keberdayaan masyarakat Desa. Berkembangnya layanan jasa keuangan/permodalan. 2. Meningkatnya akses kontrol dan partisipasi elemen masyarakat dalam pembangunan perdesaan. dengan Sasaran: • • • • • • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal perdesaan. Meningkatkan kemandirian desa berdasarkan otonomi yang dimilikinya. Meningkatnya ketersedian sarana dan prasarana ekonomi perdesaan. Berkurangnya penduduk miskin di perdesaan. Meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan penanggulangan Korupsi. partisipatif dan akuntabel.3. Kolusi dan Nepotisme (KKN). sektor swasta. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Meningkatnya keberdayaan masyarakat perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan daerah. Terciptanya perluasan lapangan kerja di perdesaan. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pembangunan. Meningkatnya ketersedian akses pemasaran bagi produk perdesaan. 3. pembangunan dan pelayanan publik secara transparan.2 STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA PEMBANGUNAN DESA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. dengan Sasaran: • • • • • Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. Meningkatnya potensi unggulan desa. yaitu: 1. 4. Berkembangnya kehidupan politik yang demokratis di perdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Mensinergikan interaksi konstruktif diantara pemerintah.

Terciptanya tatanan politik yang demokratis yang menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban politik masyarakat. 3. TENTRAM DAN DINAMIS Misi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman. yaitu: 1. Terpeliharanya keamanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kinerja pembangunan desa dilakukan dengan: 1. ketaatan dan kepatuhan hukum masyarakat. Terciptanya ketahanan masyarakat secara optimal dan terpadu. Meningkatkan keberdayaan desa dan masyarakat desa dalam pembangunan.4 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PEMELIHARAAN KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL 4. dengan Sasaran: • • Meningkatnya kesadaran. Meningkatkan alokasi dan distribusi pembangunan keperdesaan. dunia usaha dan aparatur pemerintah. 2. 2. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat. • • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. tentram dan dinamis dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. 4. Meningkatnya penegakan hukum serta perlindungan HAM di daerah. tertib. 3. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Ketaatan dan Ketaatan Hukum.1 MEMELIHARA STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG AMAN. dengan Sasaran: • Mantapnya peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang kredibel dan adil dalam mejaga dan memelihara keamanan. Mengembangkan potensi ekonomi perdesaan. TERTIB. ketertiban dan ketentraman masyarakat. dengan Meningkatnya kesadaran politik masyarakat.4. Terwujudnya Sasaran: • • Pengembangan Kehidupan Yang Demokratis.9 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tentram dan dinamis dilakukan dengan: 1. Memantapkan stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat; 2. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; 3. Memantapkan budaya politik yang demokratis;

4.4.2 STRATEGI MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu : 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa, dengan Sasaran: • • Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama setiap individu, keluarga, masyarakat dan penyelenggara pemerintahan; Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat untuk membentengi diri dari krisis nilai sebagai dampak negatif perubahan dan pembangunan. 2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial dan Pengembangan Potensi Umat, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial dan budaya; Terwujudnya solidaritas dan harmonisasi sosial; Terwujudnya keteladanan dan kepedulian sosial; Meningkatnya peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pembangunan; Terwujudnya sinergitas potensi umat.

3. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Beragama, dengan Sasaran: • • • Meningkatnya kualitas pendidikan agama pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan; Meningkatnya kualitas penataan, pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana keagamaan; Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan ibadah.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi mewujudkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa dilakukan dengan: 1. Mentransformasikan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 2. Memberdayakan potensi untuk melalui optimalisasi peran dan fungsi lembaga keagamaan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama.

4.4.3 STRATEGI MENGGALI DAN MENUMBUHKEMBANGKAN BUDAYA SUNDA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan masyarakat terhadap Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • Meningkatnya apresiasi dan pengembangan nilai budaya sunda; Meningkatnya pengenalan dan kecintaan terhadap budaya sunda.

2. Terwujudnya Pengembangan dan Pelestarian Kekayaan Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya pengembangan dan pelestarian seni dan budaya sunda; Meningkatnya penerapan nilai budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari; Berkembangnya produk budaya sunda; Berkembangnya media dan sarana apresiasi budaya sunda; Meningkatnya pengelolaan keragaman budaya.

3. Terwujudnya Ketahanan Budaya Masyarakat, dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai luhur budaya sunda; Menurunnya resistensi nilai budaya; Meningkatnya kepercayaan diri dan kokohnya jati diri sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda; Meningkatnya peranan budaya sunda dalam memperkokoh budya nasional.

Strategi menggali dan menumbuhkembangkan budaya sunda dilakukan dengan: • Meningkatkan pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya sunda sejak dini mulai dari tingkat keluarga/rumah tangga dan tingkat pendidikan dasar.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 11

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

• •

Reaktualisasi nilai-nilai budaya sunda sebagai salah satu dasar etika sosial dalam kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat; Meningkatkan sarana pengembangan dan pelestarian keragaman budaya.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 12

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Keuangan daerah pada prinsipnya merupakan hak yang harus dikembalikan kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung melalui program

pembangunan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan daerah semaksimal mungkin harus diupayakan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan keuangan daerah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pendapatan adalah batas minimal yang harus dicapai oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan. 2. Penetapan terget pendapatan harus didasarkan pada data potensi yang akurat dengan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. 3. Belanja adalah batas maksimal yang dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya program-program pembangunan. 4. Pembiayaan adalah partisipasi pemerintah daerah dalam investasi di daerah yang bersifat produktif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dan kontribusi pendapatan asli daerah. 5. Hubungan anggaran dengan program pembangunan harus didasarkan pada paradigma “money follow the program”, sehingga diharapkan dapat melahirkan program yang berhasil guna dengan penggunaan anggaran yang rasional, efektif dan efisien. 6. Secara bertahap harus terwujud keseimbangan antara penggunaan anggaran yang bersifat rutin dengan anggaran yang bersifat pembangunan. 7. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945, alokasi anggaran untuk pendidikan secara bertahap harus meningkat mendekati 20% (dua puluh persen) dari jumlah anggaran. 8. Pelaksanaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel. menghasilkan produktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-1

• Pelayanan Kesehatan. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. • RSD Soreang. yang menambah ekuitas dana lancar. dan c. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-2 . • RSD Majalaya. • Pajak Hiburan. • Pajak Parkir.1. • Pajak Penerangan Jalan. • Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gol. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. C. 5. • Pajak Reklame. Pendapatan Asli Daerah (PAD). b. • Pajak Restoran. Yaitu : a) Hasil Pajak Daerah. • Pajak Hotel. Pembiayaan Daerah Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah.1 Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. Pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kabupaten Bandung pasal 20 (1) terdiri dari: 1.1 Arah Pengelolaan Keuangan Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pendapatan Daerah.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. b) Hasil Retribusi Daerah. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Belanja Daerah.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Pelayanan Persampahan/Kebersihan. • Penggantian Biaya Cetak KTP. • Pelayanan Pemakaman. • Jasa Usaha Tempat Rekreasi dan OR. • Parkir di Tepi Jalan Umum. • Pelayanan Pasar. • Perijinan Transportasi. • Ijin Mendirikan Bangunan. • Jasa Usaha Penyedotan Kakus. • Jasa Usaha Terminal. • Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. • Perijinan Perdagangan. • Fatwa Pengarahan Rencana Pemanfaatan Lokasi. • PDAM • Bank Pembangunan Daerah. • Ijin Gangguan. • Bank Karya Produksi Desa. • Pengujian Kendaraan Bermotor. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. • Jasa Ijin Usaha Kebudayaan dan Pariwisata. • Perijinan Penyelenggaraan Koperasi. • Pemeriksaan Hewan Ternak. • Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah. • Perijinan Industri. • Ijin Pelayanan Ketenagakerjaan. c) Bagian Laba Usaha Daerah. • Jasa Usaha RPH. d. • Izin Pembuangan Limbah Cair. Lain-lain PAD yang Sah. • Ijin Pemanfaatan Hutan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-3 . Hasil Ternak. • Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil. • Ijin Pemanfaatan Tanah. • Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah. dan Hasil Ikutannya.

a. • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). b. Dana Perimbangan. g. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam. • Penerimaan Pemanfaatan Hutan. d) Dana Perimbangan dari Propinsi. c) Dana Alokasi Khusus. • Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah. b) Dana Alokasi Umum (DAU). Iuran Eksploitasi (Royalti). Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. 2. • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Iuran Tetap/Landrent. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-4 . Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Termasuk PPh 21). c. • Penerimaan Lainnya. • Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. • Penerimaan Jasa Giro. Terdiri atas : a) Dana Bagi Hasil. • Penerimaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam. Iuran Provisi Sumber Daya Alam. Bagi Hasil Pajak. b. c. a. Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan. Penerimaan dari Sektor Minyak Bumi. • Bantuan Keuangan dari Propinsi. • Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah (TP/TGR). Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. • Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). e.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan. Pajak Bumi dan Bangunan. 3. d. f. • Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. 2. 1.

00 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Tahun Proyeksi PDRB BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-5 .00 0.00 2.00 6.00 1.000.000.000.00 9.000.000.000.000.00 3.000.000. Untuk memprediksi pendapatan daerah lima tahun kedepan diperlukan suatu data pendukung yang salah satunya adalah data PDRB.000.00 4.000.00 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Nilai PDRB Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Rp Juta 10. Perkiraan PDRB Kabupaten Bandung dilakukan dengan memperhatikan Nilai PDRB Konstan tahun 1995-2004.00 0.000.000.000.000.000.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.000.000.00 1.000.000.1.000. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan Kabupaten Bandung rata-rata setelah krisis 1999-2004 sebesar 2.00 5. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Bandung 1995-2004 9.00 5.000.000.000.2 Perkiraan Pendapatan Daerah Perkiraan pendapatan daerah akan memberi gambaran tentang pendapatan daerah dari tahun 2006 sampai tahun 2011.00 7.000.000.000.000.000.000.000.00 7.000.00 6.13 %/tahun. Proyeksi dilakukan dengan model regresi linear dengan mencari persamaan regresi masing-masing sektor.000.00 3.000.000.000.00 8.00 8.000. (persamaan regresi terlampir).00 2.00 4.

742.96 864.174.310.73 3.92 6.73 753.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.22 493.199.11 306.3774 209600.015.687.44 158.307.82 986.10 6.536.90 53.89 346.233.711 4349520.73 6.51 7.32 419.312.29 69.622 4201665.438.8318 572106.797.903.6708 597932.48 150.55 891449.960.465.596.32 479.560.273.52 671.010.051.889 Listrik dan Gas 259.251.455.5983 453.78 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-6 .57 1102676.41 Industri Pengolahan 3.955.465.59 165.4257 397855.23 185.82 379037.755.377 1259891.858 218741.449.9508 Bangunan & Konstruksi 361.586.95 218014.809.8969 615149.766.63 328.593.015.50 304.63 537.590.51 377.6358 416673.791.483.93 3.230.847.71 325.64 203.71 7.72 217.93 472.443.99 64.95 7.76 3.260.837.037.56 8.72 1.42 874061.28 3.300.18 436493.50467 81085.148.66 3.05 457878.164.35 7.01 821897.242.496.91 316.58 791.20 6.29 220.1177 214170.5099 6.64 54.28 856673.941.71 703.10 743.73 3.77 3610245.48 171.958.142.0578 589323.63 6.520.777.1566 195887.97 556.868.8 4497375.56 1417106.873.119.20 725.1 Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan Sektor Primer Tahun Pertanian Pertambangan dan Galian 50.580.738.15 998.570.90 330.10 230.804.862.67 696.12 491.579.771.35 935.5307 407264.954.64 481.82 193.428.88333 74205.97 8.328.94 393723.3207 388446.839.812.55 162.195.61 3.561.299.034.16 8.41 362.037.69 908837.78867 75925.03 1.694 77645.875.687.990.50 61.2839 606540.647.333.621 Pengankutan dan Komunikasi 274.083.016.030.797.7408 426082.07 3.874 226725.80 334.963.90 358.8969 200458.375.780.592.24 324.255 1155081.92 6.942.75 7.26 563497.813.91 215.978 72485.209.381.59 463.190.021.37 8.922.33 58.438 1312296.32 415108.125.499 1364701.52 300.16 304.59933 79365.607.785.800.199 231080.38 56.572.104.530.02 896.018.738.787.796.92 210. Hotel dan Restoran 955.883.75 425801.48 196.051.534.16 940.388.919.837.499 Sektor Sekunder Sektor Tertier Perdagangan.48 PDRB Keuangan Jasa 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 874.716.01 7.89 404416.56 169.38 211.491.108.61 70765.755.491.553.743.064.355 3758100.361.709.686.25 54.65 336.99 55.963.08 343.546.96 690.513.61 447186.174 244146.549 222369.332.849 239791.430.4448 580715.365.53 472.81 294.6371 205029.900.795.57 1.261.43 191317.524 235435.564.53 1.316 1207486.588.861.8458 435491.564.68 398.637.370.444 3905955.075.894.063.15 839285.01 190.84 385.209.05 4.618.533 4053810.16 804509.

00 18.00 4.798.500.761.500.00 94.00 89.004.00 43.200.538.000.000.00 802.646.000.500.000.110.205.000.00 849.505.572.310.00 22.00 87.000.448.275.500.00 52.919.000.637.000.00 30.177.000.063.506.115.000.000.000.000.120.00 6.000.500.118.000.2006 No A 1 2 3 4 B 5 6 7 8 C Uraian Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah JUMLAH 2002 75.00 830.00 37.00 81.000.190.00 1.318.000.395.955.000.000.000.874.000.694.168.000.598.000.000.000.00 46.103.2 Anggaran Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002.140.347.00 2006 123.000.00 7.697.000.000.012.000.978.00 1.240.000.000.000.00 80.000.000.290.911.658.000.00 45.00 12.610.00 4.602.000.00 60.036.540.00 10.00 16.367.935.890.000.254.000.043.00 37.000.00 Sumber : RKPD Kabupaten Bandung 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-7 .447.344.000.263.045.114.000.00 726.652.000.000.000.00 2004 119.112.093.00 76.816.000.00 38.000.00 1.241.00 24.938.000.500.840.597.316.265.00 988.000.000.719.668.00 1.927.575.00 2005 136.820.00 749.000.895.511.00 757.830.699.000.00 654.646.331.240.00 37.000.636.000.00 101.00 1.00 5.500.00 1.00 1.000.000.375.00 1.145.608.237.000.884.500.000.976.000.000.00 2003 91.00 1.707.00 11.333.00 102.790.00 53.000.000.185.080. diperlukan pula data-data pendukung seperti data pendapatan historis Kabupaten Bandung seperti pada tabel dibawah ini.001.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain data PDRB diatas.00 49.000.188.500.739.000.749.000.00 929.833.00 61.000.000.000.000.000.000.000. Tabel 5.024.962.00 15.410.853.00 62.000.318.185.

83 7.00 163.56 1.63 221.33 8.53 31.69 Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah 968.19 17.61 27.30 Dana Alokasi Umum 10.37 -80.00 95.56 16.56 120.43 Sumber : Hasil analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-8 .91 10.22 14.28 6.39 -1.03 6.00 300.53 14.09 20.50 13.69 54.11 0.11 13.3 Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002 – 2006 Bagian Laba Usaha Daerah 208.20 -1.47 -29.81 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 53.98 12.91 4.07 25.00 352.66 34.51 6.45 7.63 -9.49 16.68 29.32 13.33 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak -19.33 -22.53 20.61 97.79 13.90 -7.93 27.36 0.35 9.25 2.68 -2.32 20.81 Tahun Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD Perimbangan Pendapatan Daerah 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 Rata-rata 3.25 98.30 39.01 45.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.58 11.

potongan. yaitu penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan. dengan mengasumsikan kenaikan PAD setiap tahunnya tetap. selain unsur PAD yang telah disebut di atas. juga realisasi pencapaian PAD Kabupaten Bandung. jasa giro. pendapatan bunga. pasal 6(2) menjelaskan tentang lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.4 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-9 . Pendapatan Asli Daerah Berdasar pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. Perkiraan PAD untuk hingga tahun 2011 diperoleh menggunakan metode taksiran sederhana.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung A. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi. atau pun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. Perkiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5.

680.820.000.976.687 65.639.853.000.240.114.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 35.453 86.96 11.965.310.63 -9.000 6.808.459 178.000 53.003 1.218.063.594 PAD 75.344.447.549 158.507.190.000 59.428 Bagian Laba Usaha Daerah 1.212.22 5.895 142.556 Pertumbuhan (%) 20.230.190.318.333.275.801 50.347.613 Retribusi Daerah 30.230.000 21.000 16.761.340 54.000 123.621.500.000 131.200.000 9.653.50 13.919.237.266.466.500 43.000 46.000 4.000 91.768.000 37.036.684.870.500 49.94 8.53 31.331.241.91 Sumber : Analisis 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-10 .110.127.739.798.011.702.000 27.4 Perkiraan PAD Kabupaten Bandung 2007-2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Pajak Daerah 37.120.452.658.000.000.000.575.611 71.739.874.105 79.012.000 37.400 60.840.477.196 203.554 2.004.000 52.253.598.000 10.916 43.500.802.000 24.000 38.728.318.098.109.000 46.505.906.784.500 119.667.09 12.962.920 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 7.265.697.254.475.425.000 22.834.247.000.500 136.907.109.705 3.610.000.171.901.742.637.200.292 6.833.093.67 13.853.000 15.360.233 47.000 12.699.000 40.070.694.205.542.884.

000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi PAD Kabupaten Bandung Hingga 2011 250.000 150. dan Dana Perimbangan dari Provinsi.000. berdasarkan asumsi bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan daerah berjalan dengan baik.000.000. Perkiraan perolehan dana perimbangan hingga Tahun 2011 disini juga menggunakan metode taksiran sederhana.000.000. B. Dana Alokasi Khusus (DAK). dengan asumsi kenaikan dana perimbangan tiap tahunnya tetap.000. Lebih jelasnya perkembangan dana perimbangan tersebut adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-11 . Dana Perimbangan Dana perimbangan merupakan alokasi dana yang diperoleh dari pemerintah maupun provinsi yang diperoleh dari bagi hasil pajak provinsi maupun pusat yang dipungut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan formulasi pembagian yang telah ditetapkan maupun dari dana pemerataan.000 50.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Pajak Daerah Retribusi Laba Usaha Lain-lain PAD Hasil perhitungan tersebut. begitu juga pencapaian realisasinya.000.000. Dana Alokasi Umum (DAU).000 200.000.000 Rupiah 100. Unsur-unsur dana perimbangan terdiri atas: Bagi hasil pajak dan bukan pajak.

316.51 6.000 81.023 81.03 7.290.000.20 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-12 .902 1.658.480.351.500 988.30 39.470.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.505.000.938.882.35 9.955.763.930.000.000.078 1.968 84.935.800.5 PERKIRAAN DANA PERIMBANGAN KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2011 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 94.000 802.851.898.731.978.741.118.036.774.000 1.168.830.712.000 757.000 26.661.776.319 162.696 83.000 89.500 80.770 144.818.290.145.039 1.000 76.000 86.137 182.490.765.000 24.000 1.520.876.790.928.000 21.000 101.535.15 7.663.575.000 18.000 114.434.500.251.000.552.207.646.305.646.000 29.020.240.686.086.000 849.188.356 1.617 1.09 7.557.339.469 1.927.046.816.064.957 13.572.890.977.646.000.681.000.000 929.630 1.597.000.668.000 726.000 4.000.310 128.375.396 Dana Alokasi Khusus 1.205.671.807.609.000.118.471.209 Pertumbuhan (%) Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Perimbangan 749.888.608.966 82.768.644.000.318.395.000 1.401.223.284.077.000 1.97 7.552 Dana Alokasi Umum 654.000.000 87.000 102.572 1.800 Keuangan dari Propinsi 45.103.000.080.045.636.937.19 6.828.000 1.263.911.000 19.177.143.837.193.185.

000.000.000 1.000 Rupiah 1.000. Lain-Lain Pendapatan yang Sah Pendapatan lain-lain yang sah yang merupakan dana kontingensi/penyeimbang dari pemerintah.000.400.000.000.000 200.000.000 1.000. besaran dana tersebut sangat fluktuatif sesuai dengan realisasi aktual tahun anggaran berjalan.000. DAU maupun DAK.000. Oleh sebab itu perkiraan besaran nominal pendapatan lain-lain pada perkiraan pendapatan ini hanya merupakan selisih dari total pendapatan dan perkiraan item pendapatan diluar pendapatan lain-lain.000.000.000.000.200.000. maka sulit untuk membuat proyek atau perkiraan item anggaran pendapatan ini. C.000.000 800. Karena sifatnya sebagai dana kontingensi. yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.000.000 1.000 600.000.000 1.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Bagi Hasil Alokasi Umum Alokasi Khusus Propinsi Perhitungan tersebut disumsikan variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan tersebut berjalan normal baik pada pembagian pajak.000.000.000 400. Lebih jelasnya perkiraan pendapatan lain-lain pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun Tahun 2011 adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-13 .800.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi Dana Perimbangan Hingga Tahun 2011 2.000.600.

471.000.000.410.609.000.000 Pendapatan 830.927.000 91.57 7.662.749.337.895.039 1.000 500.938.196 203.237.500 1.448.540.000 2.000.890.000 61.505.49 6.602.000 849.140.000.834.000.694.000 1.374.000 11.000.500 136.000 Tahun 1.000.140.749.141.58 11.185.639.14 7.290.000 61.001.728.594.898.83 7.000 11.63 Pendapatan lain-lain yang sah hingga tahun 2011 tidak diproyeksikan karena variabel pendukungnya tidak tetap.500.000.000 62.000 1.37 7.000 1.000 131.000 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.356 1.697.798.761. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bandung hingga tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.680.802.000.575.37 -80.506.851.375.000 62.588 1.188.115.742.000 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan (%) 968.000 1.511.500.719.331.000 1.367.76 Pertumbuhan PAD dan Perimbangan (%) Pendapatan Lain-Lain yang Sah 5.000.68 -2.816.000.360.556 Perimbangan 749.115.000 0 2002 2004 2006 2008 2010 PAD Perimbangan Lain-lain Pendapatan BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-14 .669.957 20.004.000 123.043.56 1.000 1.719.668.435.000 60.500 988.557.732.275.251 1.000.902 1.937.000.000 929.03 6.895 142.263.112.000.702.362 1.7 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006*) 2007 2008 2009 2010 2011 PAD 75.367.707.826 2.686.630 1.6 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2006 Lain-lain Pendapatan yang syah 5.500 119.000.845.185.143.459 178.205.403.410.928.61 27.667.000.602.000.646.768.512 Keterangan : *) Angka merupakan target tahun 2006 Sumber : Hasil analisis 2006 / Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 2.807.976.718.818.977. Tabel 5.549 158.853.538.024.763.144.986.447.109.000 60.230.

000 6.766.318.000 84.000 1.000 5.044.569. penerimaan SDA.000 MODAL PUBLIk 2.450.000.163. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.455.065.000.000 12.000 870.000 4.577. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru.000 6.413. Analisa Kemampuan Pinjaman daerah Analisa kemampuan pinjaman daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana pinjaman baru.804.000.000 13 RSD Soreang BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-15 .946. dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.000 166.599.000 8.986.131.382.000 2.020.000 1.236.000 10.726.000 252.000. DSRC = 2.957.957.800.074.824.000 87.000 85.028.380.000 186. DSCR < 2.000 5.675.890.000 67.000.000 433.000 1.000 125. Analisa DSCR untuk Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut: BELANJA OP DAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2005* (OM) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SKPD Disdik Dinkes Dispertan Disnakan Dinkesos DKCKB Kimtawil DPU Disnaker Diskop BLKD RSD Majalaya 219.000 5.313.902.786. dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery). didapat dari rumus berikut: Y = P + M – OM P M = Pendapatan Asli Daerah = Pajak Daerah.000 21.5 .885.000 21.000 38.935.000 2.282.105.000.000.000 2.250.000 31.000. DSCR > 2. Rumus yang digunakan adalah dengan menentukan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) dengan rumusan sebagai berikut: DSCR = Y C C = Besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Y = Pendapatan Daerah.394.950.793.330.875.000 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D.000 1.000.000 6.850.5 .440.594.968.000 101.009.594.513.790.000 1.349.250.5 .197.674.415.875.160.000 1.000 4.000 3.134.000 1.036.520.000.000 85.996.094. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.135.000 OP APARAT MODAL APARAT OP PUBLIK 20.640.000 95.000 Jumlah 22.381.000 1.281.000 85. serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.000 9. dan bagian daerah lainnya OM = Belanja Operasi dan Pemeliharaan.154.710.992.440.000 307. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.576.640.996.965.000 3.

078.019 Jumlah 312.581 (Layak memperoleh pinjaman) C C 5.500. Bandung BESARAN KEWAJIBAN PINJAMAN DITAMBAH BIAYA LAINNYA TAHUN ANGGARAN 2005 ( C ) No 1 2 Penyertaan Modal Jenis Biaya Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Jumlah 326.443.710.2 ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.904.500. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.209.000 14 Kantor Perpustakaan 15 DLH 16 Disperindag 17 Disbudpar 18 Dinas Kebersihan 19 KPMD Jumlah 853.557.000 592.000 36.990.588 9.000 Jumlah 404.360.000 1.215.507.360.864. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.000 1.646.000 OP PUBLIK MODAL PUBLIk 85.170.988.000 MODAL APARAT 149.500.000 30.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No SKPD OP APARAT 170.322.000 104. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-16 .000 37.050.000.489.000 30.000 1.220.593 104.000 2.000 555.031.000 17.500.000 1.725.000 419.729.000 233.344.731.000.931.204.000 * = Belanja OP dan Modal yang Menunjang Langsung terhadap Akselerasi Pembangunan Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 PENDAPATAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2005* (P + M) No 1 2 3 4 5 6 PAD Bagi Hasil PBB Bagi Hasil BPHTB Bagi Hasil PPh 21 Bagi Hasil SDA Bagi Hasil Prov Jenis Pendapatan Jumlah 108.697.000 127.677.121.000 1.000 3. kesehatan.549.550.302.000.000 Jumlah Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 DSCR = Y ( P + M ) − OM = = 2.511.876.000 4.312.000. pendidikan.203.000 42.021 * = Pendapatan Daerah diluar Bantuan dari Pusat maupun Provinsi Sumber : DPRD Kab.885 10.000 4.982.664.304.650.452.960.085.093.931.000 297.701 57.235 22.

hibah. e. Prioritas pembangunan 3. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 3. yaitu : 1.3 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN Dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 diperlukan kerangka kebijakan umum pembiayaan pembangunan untuk memprioritaskan program-program pembangunan Kabupaten Bandung. d.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Klasifikasi belanja menurut jenis belanja sesuai PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah terdiri dari : a. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. Isue Strategis Pembangunan Daerah 4. Secara umum Misi Pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 dapat dikelompokkan menjadi 3 kerangka intervensi pembangunan. belanja pegawai. pendidikan 9 tahun dengan anggaran 20 % dari biaya pembangunan dan lain-lain. f. h. bantuan sosial. Upaya pembobotan kerangka intervensi dilakukan dengan memperhatikan : 1. c. belanja tak terduga. 5. propinsi dan kabupaten seperti upaya peningkatan IPM. subsidi. diperlukan upaya strategi pengurutan atau pembobotan prioritas program pembangunan daerah. belanja barang dan jasa. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-17 . b. belanja modal. Visi dan Misi Bupati 2. bunga. Kebijakan pembangunan pemerintah pusat. g. Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Mengingat terbatasnya anggaran pembangunan daerah serta kemampuan sumberdaya pembangunan dalam mewujudkan program-program pembangunan. dan i. Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan 2. Alokasi Anggaran pembangunan tahun-tahun sebelumnya 5.

Kerangka Intervensi Upaya Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya memiliki alokasi APBD relatif sedang dalam awal pembangunan dan untuk selanjutnya terus meningkat dalam upaya terus terjadinya peningkatan pelayanan publik. sehingga dengan bertahap pembangunan tata pemerintahan dikurangi bobotnya. Upaya perbaikan tata pemerintahan setiap tahun alokasinya terus menurun karena diasumsikan setiap tahun telah terjadi perbaikan pelayanan pemerintahan yang baik. Berdasarkan pertimbangan tersebut. Kerangka Intervensi Upaya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal memiliki alokasi rendah karena karakter tersebut sudah terbentuk dalam masyarakat dan masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan dan pemerintah memfasilitasi untuk memeliharanya. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-18 . arahan alokasi bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kerangka Intervensi Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan memeiliki alokasi APBD yang cukup tinggi pada awal periode pembangunan karena merupakan landasan utama untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam upaya peningkatan pelayanan publik dan akselerasi pembangunan.

18% 5...94% 41.33% 100.00% 70.23% 7..00% 8.00% 20.00% Tahun I Perbaikan Tata Pemerintahan Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-19 .09% 81.00% 0.67% 75..00% TAHUN 3 % APBD 23.00% 40.09% 100.88% 100.25% 100.00% 6.00% 30.00% 60.00% 10..00% TAHUN 4 % APBD 16.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel .00% 80.75% 50.00% Sumber : Hasil Analisis dan Focus Groups Discussion 2006 Diagram Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi 90.00% 50.08% 69.82% 9.69% 100..00% TAHUN 2 % APBD 43. Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi PROPORSI ALOKASI APBD UNTUK 5 TAHUN UNTUK TIAP KATEGORI INTERVENSI PEMBANGUNAN TAHUN 1 KERANGKA INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal % APBD 52.00% TAHUN 5 % APBD 9.

..) BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-20 . Bobot tiap misi pembangunan adalah sebagai berikut : (Lihat Tabel .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Perkiraan belanja untuk setiap misi dan kebijakan pembangunan dilakukan dengan membobotkan kepentingan tiap misi dan prioritas pembangunan untuk setiap kelompok intervensi pembangunan....

156% 6.099% 1.099% 5.282% 0.231% 1.758% 1.758% 2.198% TAHUN 4 % APBD 16.375% 4.250% TAHUN 3 % APBD 23.618% TAHUN 2 % APBD 43. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 3.667% 1. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1.758% 1.846% 2. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 5.273% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-21 .042% 1. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 11. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 4. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 52.282% 1.941% 6.208% 9.091% 0.099% 5.077% 1.758% Misi 8.128% 0.000% 7.000% 6.495% 1.396% 3. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2.282% 0.099% 1.099% 1.000% 1.750% 5.208% 5.081% 8.495% 2.000% 0.375% 6.273% 0.156% 11.282% 5.282% 0.042% 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 3.758% 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) 1. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 6.250% 1.758% 0.231% 1.081% 9.387% 0.282% TAHUN 5 % APBD 9.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Perbaikan Tata Pemerintahan KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.

731% 1.113% 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya KATEGORI INTERVENSI Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Misi 3.923% 1.731% 0.016% 10.113% 1.113% 1. 1.881% 1.000% TAHUN 3 % APBD 69.577% 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.577% 15. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 2.538% 1.098% 2.176% 1.016% 11.282% 1.282% 1.731% 17.098% 10.098% Misi 4. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 3.881% 18. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 4.016% 1.538% 11.000% TAHUN 5 % APBD 81.731% 1. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga TAHUN 2 % APBD 50. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 2.282% 1.000% 0.923% 18.308% 18. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 41.308% 17. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1.923% 2.113% 11.923% 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.577% 17.098% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-22 .731% 1.000% 1.282% 15.881% 2.818% 10.308% 1.538% 15. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4.282% 1.113% 1.231% TAHUN 4 % APBD 75.

909% 0.091% 0.769% 6.588% 0.625% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 2.923% 7.192% 5. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis Misi 5.564% 5.128% 6.625% 0.731% 1.923% 2.692% 8. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 2.588% 0.333% TAHUN 5 % APBD 9.588% 0.692% TAHUN 4 % APBD 8.833% 0.282% 1.769% 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Tertib.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-23 .098% Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.294% 3.769% 0. Tenteram dan Dinamis.833% 0.909% 0.339% 5.250% TAHUN 3 % APBD 7.833% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 5.625% 0.909% 0. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 3. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.113% 1. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.769% 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 3.833% 0.769% 0. 1. 1.113% 2. 1.882% TAHUN 2 % APBD 6.625% 0.392% 1.588% 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1.

833% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.588% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 4.909% 0.588% 0.769% 0.769% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.833% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 3.625% 0.909% 0.769% 0.625% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 2.625% 0.625% 0.769% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-24 .833% 0.588% 0. 1.909% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama Misi 6.588% 0.769% 0.588% 0.833% 0.625% 0.588% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 3.833% 0.909% 0.625% 0.833% 0.769% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahanan Budaya Masyarakat 0.909% 0.

misi. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam.4 5. yang pada tujuan akhirnya adalah untuk pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. 5. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Dari beberapa bentuk sumber pendapatan diatas.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu indikatif tiap program pembangunan dilakukan dengan menggunakan metoda bobot tiap program dikaitkan dengan visi. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. Sektor tersier merupakan penyumbang pendapatan daerah melalui : 1. 8. Bagian Laba Usaha Daerah. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). 2. kebijakan serta akselerasi pembangunan.1 dapat diambil kesimpulan bahwa sektor tersier mempunyai trend laju pertumbuhan yang paling baik dibanding sektor lain. Dari hasil Proyeksi pada table 5. 3.1 Identifikasi Bentuk – Bentuk Sumber Pendapatan Baru Pengembangan Sektor Tertier Laju Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator pencapaian keberhasilan suatu pembangunan dan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Sedangkan yang lainnya merupakan potensi yang bisa langsung dikembangkan oleh pemerintah daerah walaupun penerimaannya dalam bentuk bagi hasil. • Bank Pembangunan Daerah. • Bank Karya Produksi Desa. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-25 . Tingginya laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pajak Ijin Mendirikan Bangunan. Pagu indikatif untuk tiap program pembangunan dituangkan dalam Bab VII. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). artinya sektor tersier merupakan potensi sumber pendapatan daerah kabupaten Bandung yang masih bisa dioptimalkan.4. ada sebagian yang berfungsi sebagai pengendalian pembangunan diantaranya: IMB yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam dalam pengembangannya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. 7. 6.

Produksi Kerajinan Tangan Permodalan Pemkab Bandung Bantuan Internasional BPD Lembaga Keuangan Daerah. Panas Bumi dan Bangunan/konstruksi (Properti) merupakan sektor ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi karena tingginya permintaan pasar. diantaranya : • • • • Sektor Agrobisnis (Pertanian. diantaranya : Pengelolaan • Kelompok Tani • Disbudpar • Dispertan Kegiatan Usaha • • Wisata Agrobisinis Geowisata • • • • • Kelompok Pembuat Makanan Tradisional • Diskop dan UKM • Kelompok Pengrajin • Diskop dan UKM • Produksi Makanan khas Kabupaten Bandung. kehutanan) Sektor Pariwisata Sektor industri kecil Sektor Energi (Panas Bumi) Beberapa aktivitas Perekonomian Lokal yang Potensial untuk dapat berkembang di Kabupaten Bandung. perkebunan. 5. Panas bumi merupakan sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Bandung. Lokasi Kabupaten Bandung yang mengelilingi wilayah Kota Bandung akan menjadi tujuan utama para investor di bidang properti untuk memperluas pembangunannya ke Kabupaten Bandung. peternakan.4. akibatnya pembangunan properti mulai bergeser dari perkotaan ke wilayah sekitarnya (perbatasan). Peluang Pasar • Wisatawan Lokal dan Mancanegara Penyerapan Tenaga Kerja • Petani • Masyarakat Sekitar Domestik • Industri kecil Masyarakat Sekitar Domestik dan Internasional • Industri kecil Masyarakat Sekitar BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-26 .2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal adalah pengembangan ekonomi setempat dengan menggunakan sumberdaya dan faktor-faktor produksi lokal. sedangkan properti merupakan kebutuhan primer manusia yang akan semakin tinggi permintaannya seiring dengan tingginya laju Pertumbuhan Penduduk dan sempitnya lahan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan analisis terhadap LPE per Sektor dan gambaran umum kondisi Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa sektor tersier (perdagangan dan jasa) merupakan sektor potensial. Terdapat beberapa potensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Bandung. Pengembangan ekonomi lokal dapat memberikan efek multiplier perekonomian setempat dan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja lokal.

serta penyediaan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Pembangunan pertanian kedepan harus merupakan upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh pada semua aspek ekonomi. Bahkan kegiatan agribisnis pertanian ini mampu meraup keuntungan memadai dan menciptakan iklim kondusif yang sangat diperlukan untuk peningkatan perekonomian nasional pada sektor lain. diantaranya : LUEP BUMDES KUBE KOPERASI dan UKM USAHA POLA SYARIAH BMT Dll 5. peningkatan pendapatan petani. Usaha agribisnis umumnya mengutamakan penggunaan bahan baku lokal yang banyak tersedia di dalam negeri dan sesedikit mungkin menggunakan komponen impor. Sebenarnya.4. peningkatan nilai tambah komoditi pertanian. bahwa pertanian merupakan sektor tangguh pendukung pembangunan sektor industri. bertahan goncangan ekonomi nasional. Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang lalu membuktikan.3 Pengembangan Agribisnis Secara luas telah diakui. sektor agribisnis pertanian tetap mampu mempunyai peran dan memberikan kontribusinya terhadap terhadap devisa negara. yang didalamnya terkait BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-27 . penyerapan tenaga kerja.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pengelolaan • Kelompok Peternak • Disnakan • Kelompok Seniman • Disbudpar • DLH (Pertambangan dan Energi) • Swasta Kegiatan Usaha Pengolahan Hasil Ternak Pagelaran Seni Sunda Pengelolaan sumber daya panas bumi • • Pemkab Bandung Swasta Permodalan Peluang Pasar Domestik Penyerapan Tenaga Kerja • peternak Masyarakat Sekitar • Seniman Masyarakat Sekitar • Masyarakat Domestik dan Internasional Domestik Terdapat • • • • • • • beberapa lembaga yang dapat membantu mendorong pengembangan ekonomi lokal. Teknologi dan keterampilan kegiatan agribisnis pertanian pada umumnya dapat dikuasai oleh para pelaku usaha serta dapat dikembangkan secara mudah sesuai kebutuhan. ketangguhan tersebut disebabkan oleh karakterisitik dan keunggulan dari agribisnis itu sendiri. keuntungan bagi sipengelola.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, serta subsistem jasa penunjang agribisnis pertanian. Ini berarti bahwa di dalam pembangunan ekonomi nasional mendatang, sektor agribisnis pertanian tidak lagi hanya sekedar ditempatkan sebagai pendukung atau pelengkap.

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-28

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB VI KEBIJAKAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan penjabaran dari kebijakan. yang merupakan

6.1 Kebijakan untuk Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik (Misi 1) Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama, yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik, efisien, efektif, partisipatif berlandasakan hukum, adil, demokratis, transparan, responsif, berorientasi konsesus, kesetaraan, akuntabel dan memiliki visi strategik. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik, peran kepemimpinan merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selain pemantapan sistem dan manajemen kepemerintahan juga perlu dimantapkan kepemimpinan yang demokratis, egaliter dan mampu

mengedepankan keteladanan. Kebijakan umum dan program yang diperlukan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik perlu ditunjang kebijakan : A. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur; dengan Program: 1) Peningkatan moral, disiplin, budaya dan etos kerja aparatur; 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum, diklat struktural dan teknis fungsional; 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan; 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah; 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen; 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif; 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan

Peningkatan

Kualitas

Penyelenggaraan

Administrasi

Pemerintahan Daerah; dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan; Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan; Penataan peraturan perundang-undangan daerah; Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah; Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat; Peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; Pembinaan dan pengelolaan pertanahan; Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan, Kelurahan dan Desa; 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan;

10) Pengembangan evaluasi kebijakan. C. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Program: 1) 2) 3) D. Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM); Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik; Penataan wilayah;

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah, dengan Program: 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah; 2) 3) 4) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah; Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa; Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah;

E.

Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan, dengan Program: 1) Pengembangan manajemen partisipatif; 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat; 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa; 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

F.

Kebijakan

Pengembangan

Sistem

Informasi

dan

Komunikasi

pembangunan, dengan Program: 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan; 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi; 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa;

6.2 Kebijakan untuk Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman, Tertib, Tentram Dan Dinamis (Misi 2) Keamanan, ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang aman, tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. Terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis perlu didukung dengan adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Hal tersebut perlu didukung dengan kebijakan umum sebagai berikut : A. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat; dengan Program: 1) Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah; 2) 3) Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat; Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas; 4) Pemamtapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan; 5) 6) B. Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib; Peningkatan kesadaran budaya tertib.

Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM, melalui Program: 1) 2) Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; Penerapan hukum secara konsekwen;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

3) 4) 5) 6) 7) 8) C.

Sosialisasi, bantuan dan perlindungan hukum; Pengembangan sistem jaringan informasi dan dukumentasi hukum; Pengembangan produk hukum daerah; Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah; Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum; Pemantapan koordinasi antar penegak hukum;

Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis; dengan Program 1) 2) Peningkatan pendidikan politik masyarakat; Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; 3) 4) 5) Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi; Fasilitasi kegiatan politik di daerah; Perlindungan hak politik masyarakat.

6.3 Kebijakan untuk mendukung Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Misi 3) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan dan program : A. Kejakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peningkatan pelayanan pendidikan; Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan; Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan; Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun; Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan; Peningkatan kualitas tenaga kependidikan; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; Pengembangan manajemen sekolah; Peningkatan kesejahteraan guru;

10) Pengembangan tingkat partisipasi sekolah; 11) Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS); 12) Pengembangan pendidikan anak dini usia.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-4

C. dengan Program: 1) 2) 3) Peningkatan keberdayaan perempuan. makanan dan minuman. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga. 5) Pemasyarakatan olah raga. Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. 7) Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. peralatan kesehatan dan kosmetika. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat . 6) Perningkatan prestasi olah raga. sehat dan berkualitas. anak dan reproduksi. Perbaikan gizi. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. Pembinaan. Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. 9) Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender. 2) Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. 7) 8) 9) Pengembangan kesehatan lingkungan. Perlindungan ibu. 8) Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. 3) Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Penanggulangan penyakit. pembangunan dan kemasyarakatan. 10) Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. D. Peningkatan budaya hidup bersih. pengawasan dan pengendalian obat-obatan. 4) Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. dengan Program: 1) Pemberdayan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-5 . kepemimpinan dan kepeloporan.

Penaganan masalah-masalah sosial. Pengembangan agribisnis. sentra agribisnis. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan kualitas pelayanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. individu. Revitalisasi pertanian. Peningkatan ketahanan sosial. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. Peningkatan distribusi pangan. sentra konveksi. B. keluarga dan masyarakat. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Pengamanan ketersedian pangan. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-6 . Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Soaial. Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.4 Kebijakan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat (Misi 4) Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. penyandang cacat. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. Pemberdayaan anak terlantar. Pengembangan sistem perlindungan sosial. 9) Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan. 10) Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. Diversivikasi pangan. Pengembangan sentra-sentra-sentra unggulan pada kawasan andalan. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. lansia dan penyandang tuna sosial. seperti sentra tekstil. 6) 7) 8) 9) Penanggulangan bencana dan pengungsi. Kebijakan untuk menanggulagi masalah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perlu ditunjang dengan : A. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Meet Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). pertenakan dan perikanan. diantaranya tidak adanya pendapatan.

dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. 18) Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. tetapi juga muatan sosial. 11) Pengembangan industri manufaktur.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan koperasi. 6. C. Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.5 Kebijakan untuk Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. 14) Pengembangan ekonomi syariah. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-7 . Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga. Pengendalian urbanisasi. Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan. Penataan administrasi kependudukan. 19) Pengembangan keparawisataan. D. 15) Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. Dalam perspektif agama. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. 17) Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. Pemantapan hubungan industrial. 16) Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. terutama permodalan. 13) Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). 12) Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. kecil dan menengah. usaha mikro. Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.

dengan Program: 1) Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. 8) Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-8 . B. dengan Program: 1) Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 6) Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. 2) Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial. 2) Peningkatan harmonisasi sosial. dengan Program: 1) Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 5) Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. 3) Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. 6) Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. 7) Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. 5) Pemberdayaan ormas keagamaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. 3) Pengembangan ekonomi syari’ah. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat. 4) Pengembangan ekonomi melalui lembaga keagamaan. 4) Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. 2) Pengembangan manajemen potensi umat. Kebijakan untuk mendukung misi tersebut diantaranya : A. 4) Peningkatan kerukunan hidup beragama. infaq dan sadaqah. 3) Optimalisasi zakat. 9) Pengembangan TPA/TKA. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan. 5) Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. C.

4) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. 3) Pengembangan produk budaya. 2) Pelestarian asset budaya. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama. 4) Pengembangan ekonomi budaya. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. 3) Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. C. 2) Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. 5) Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. dengan Program: 1) Pengembangan adat istiadat daerah. Kebijakan dan program yang diperlukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah : A. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat. dengan Program: 1) 2) 3) Penggalian nilai-nilai budaya sunda. 2) Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. seperti tersedianya gedung kesenian. 6. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. dengan B. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-9 . Kebijakan Pengembangfan dan Pelestarian Program: 1) Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D. 3) Peningkatan pelayanan ibadah haji.6 Kebijakan untuk Mendukung Upaya Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda (Misi 6) Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. Selain. Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. Budaya Sunda. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. dengan Program: 1) Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.

Pengembangan sentra konveksi. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-10 . 3) Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan. Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage. C. 2) Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. 6) Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. 5) Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. 7) Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. 4) Penegakan hukum lingkungan. Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan.7 Kebijakan untuk Memelihara Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Misi 7) Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. dengan Program: 1) Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. 8) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. B. 3) Pengelolaan dan pendayagunaan limbah. Pengembangan sentra tekstil. Pengembangan daerah ibu kota Soreang.Majalaya. yaitu menguntungkan secara ekonomis. 2) Pengembangan manajemen pertanahan. dengan Program: 1) Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). Pengembangan sentra agribisnis.

Peningkatan kualitas perangkat desa. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan pedesaan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 5) Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. 3) Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).8 Kebijakan untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (Misi 8) Dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat desa. pembangunan harus dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kinerja pembangunan desa. LKMD. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-11 . pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. RW. Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. 6. 4) Pengembangan akses pemasaran produk desa. Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. 2) Pengembangan produk unggulan desa. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa. Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa. 11) Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. RT dan lain-lain). melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Kebijakan Program: 1) Pengembangan pasar desa. pengembangan kapasitas keuangan desa. dengan B.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. 5) 6) 7) Peningkatan sarana dan prasarana desa. 12) Penataan iklim investasi yang kondusif.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung C. 2) Pengembangan utilitas perdesaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-12 . dengan 1) Peningkatan infra struktur perdesaan. 3) Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. Kebijakan Program: Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan.

program.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Program pembangunan daerah lima tahun kedepan dituangkan dalam matriks program lima tahunan dan program tahunan. maka untuk memperoleh perkiraan belanja untuk tiap program. Karena sifat belanja langsung diatas. Dalam matriks tersebut dijabarkan kebijakan. fungsi dan sub fungsi pembangunan serta alokasi proporsi indikatif APBD per program baik lima tahunan maupun tahunan. artinya belanja ini merupakan belanja kebutuhan minimal untuk operasional pemerintahan. Belanja ini timbul secara periodik dalam rangka koordinasi pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dan digunakan bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan program dan kegiatan setiap unit. BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 . Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan (BHBK) dan Biaya tak Terduga. Jika dilihat dari jenis belanjanya. artinya besaran belanja tersebut mengikuti jenis dan banyaknya jumlah kegiatan secara berbanding lurus. belanja modal. Belanja langsung adalah belanjabelanja yang timbul sebagai konsekwensi adanya program atau kegiatan pembangunan yang dibutuhkan dalam kurun satu tahun anggaran. Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. Matriks ini digunakan untuk menyusun Renstra-SKPD dan Rencana Kerja tahunan SKPD sesuai dengan fungsi dan sub fungsi serta memperhatikan sumber daya yang tersedia. Dalam perkiraan besaran pagu indikatif setiap program lima tahunan dan tahunan harus memperhatikan perkiraan belanja daerah yang merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pembangunan. pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyisihkan anggaran untuk belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja gaji pegawai/personalia. belanja daerah secara garis besar terbagi menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. indikator keluaran.

Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan Keterangan 1. Terwujudnya budaya kerja aparatur yang berdisiplin. budaya dan etos kerja aparatur.34096% APBD Kabupaten Pelayanan Umum 6 Terbentuknya mental aparatur yang kreatif dan inovatif Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. diklat struktural dan teknis fungsional. Pendidikan Pendidikan Kedinasan 0. produktif dan bertanggungjawab Terbentuknya aparatur yang profesional sesuai dengan Tupoksi Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7. bermoral. profesional. inovatif. Pelayanan Umum 4 5 Terselenggaranya sistem kepegawaian yang berdasar pada aturan perundangundangan.34860% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-2 . disiplin. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.34622% APBD Kabupaten 0. Terselenggaranya sistem reward dan punishment Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0.37678% APBD Kabupaten Terbentuknya aparatur yang kreatif.42453% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 1) Peningkatan moral.33714% APBD Kabupaten 0.1 MATRIKS PROGRAM LIMA TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen.

38155% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan. proporsional.efektif. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.24533% 4 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.25974% APBD Kabupaten 5 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat. ramping dan kaya fungsi serta responsif Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelayanan publik 1. 3) Penataan peraturan perundang-undangan daerah. Tertatanya fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan supaya lebih memadai.Terwujudnya harmonisasi peraturan daerah dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi 2. efisien dan transparan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tersedianya regulasi sesuai kebutuhan daerah Terselenggaranya proses penyelenggaraan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.27159% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-3 . Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.25558% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan. efektif. Terselenggaranya evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan yang independent.26999% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terbentuknya keteladanan setiap jiwa pimpinan satuan kerja FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.

Terwujudnya pendelegasian kewenangan sesuai dengan peraturan yang ada Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0.Terbentuknya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada tiap SKPD 2.27608% APBD Kabupaten 10 Terjalinnya harmonisasi antar lembaga pemerintahan baik secara vertikal maupun horizontal Tersusunnya langkah-langkah sistematis evaluasi lebijakan Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. sinkronisasi dan simplikasi. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan. mekanisme dan prosedur pelayanan publik yang mudah dan sederhana Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. integrasi. 1.Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pelayanan Publik Terbentuknya sistem.48804% APBD Kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.27512% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM 6) Peningkatan koordinasi. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.23604% APBD Kabupaten 0. integrasi. Kelurahan dan Desa. Indikator Keluaran Meningkatnya koordinasi.23572% APBD Kabupaten 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).48035% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-4 .23060% APBD Kabupaten 3. sinkronisasi dan simplikasi hubungan kerja antar lembaga Terbentuknya tertib pertanahan FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 7 Pelayanan Umum 8 9 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan. 2 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.

Tersedianya produk hukum mengenai penataan namanama jalan di ibukota Kabupaten Bandung 6.84492% APBD Kabupaten 2 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.Terbangunnya tugu batas kecamatan 5.Terlaksananya penataan wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung yang berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan publik FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 4.Bertambahnya sumber pendapatan asli daerah 3. Terwujudnya pemekaran Kabupaten Bandung. 1.Terwujudnya rasionalitas anggaran 2.79964% APBD Kabupaten 3 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terpeliharanya tugu batas Kabupaten/Kota dan gapura Kabupaten 4.Terwujudnya keseimbangan antara serapan anggaran yang bersifat pembangunan Terwujudnya alokasi dana desa yang proporsional Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran 1.88425% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-5 . Terbangunnya pilar batas daerah Kabupaten Bandung 3.52068% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM 3) Penataan wilayah.Meningkatnya pendapatan asli daerah dari sumber restribusi dan pajak daerah 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.Tersedianya dokumen datadata potensi restribusi dan pajak daerah 2.

24287% 6.Meningkatnya tingkat kepuasan hasil kerja BUMD Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat.29033% APBD Kabupaten 2 3 4 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 1) Peningkatan transparasi programprogram pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM dan desa. Tersosialisasikannya program pembangunan kepada masyarakat Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan 0.Meningkatnya kontribusi pendapatan dari laba BUMD 2.28090% APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0.79844% APBD Kabupaten 5. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Terbentunya sistem dan mekanisme yang mengatur pola partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Terbentuknya fasilitasi sistem pengawasan masyarakat Meningkatnya kinerja dalam tugas pembantuan kepada desa Meningkatnya tugas dan fungsi LSM. Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 4 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 1) Pengembangan manajemen partisipatif.25132% 0.38433% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-6 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Lainnya Keterangan 2 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.Tersedianya aparatur daerah yang memahami peraturan perundangundangan tentang desa 3.Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa baik 4.Tersedianya penyelenggaraan pemerintahan desa yang mampu melaksanakan tugas.Terdapatnya badan khusus yang menangani urusan desa 2. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa.80805% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-7 . fungsi serta kewenangan desa Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Tertatanya sistem dan mekanisme pengelolaan informasi dan komunikasi Terjalinnya hubungan yang sinergis dan konstruktif dengan media massa Pelayanan Umum 3 Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.32449% APBD Kabupaten Misi 8. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1. 1. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.35660% APBD Kabupaten 0.

LKMD. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terwujudnya pengalokasian dana desa2.Meningkatnya pengetahuan (kualitas lembaga desa) FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 3 — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.Tersedianya sarana dan prasarana desa 2.Terwujudnya partisipasi secara optimal lembaga desa dalam pembangunan 2. Indikator Keluaran 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Teroptimalisasinya penggunaan alokasi dana desa3. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tertata dan terlaksananya tugas pembantuan desa 1.Optimalnya kinerja perangkat desa dan pelayanan kepada masyarakat 3.79038% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa.Meningaktnya kesejahteraan perangkat desa 1.Terpenuhinya sarana dan prasarana seda sesuai kebutuhan 1.Meningkatnya kualitas kerja aparat desa 2.Terinventarisasinya kewenangan desa yang dapat dilaksanakan 2.81599% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan sarana dan prasarana desa. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. RT dan lain-lain).84072% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan kualitas perangkat desa.Terserapnya sumbersumber keuangan desa dan meningkatnya swadaya masyarakat 1.78773% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-8 . RW.79038% APBD Kabupaten 6 — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.

82571% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. kesejahteraan keluarga. pengembangan usaha. budaya dan lain-lain. koperasi dan UKM Perdagangan. kesenian.13961% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-9 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. koperasi dan UKM Perdagangan. Teroptimalisasinya pemanfaatan sumber daya lokal Ekonomi Perdagangan.Meningkatnya kemandirian kelompok masyarakat desa 4.Dilibatkannya masyarakat/kelompok masyarakat dalam perencanaan.Terbentuk dan terinventarisasinya kelompokkelompok masyarakat sesuai profesi 2.14664% APBD Kabupaten Berkembang dan teroptimalkannya BUMDES Ekonomi 0. koperasi dan UKM Perdagangan. Berkembangnya sarana pasar desa Ekonomi 2 3 — Pengembangan produk unggulan desa. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 — Pengembangan pasar desa. pengembangan usaha.Meningkatnya kesehatan reproduksi. — Pengembangan akses pemasaran produk desa. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).15064% APBD Kabupaten 0.14347% APBD Kabupaten 4 Semakin luas jaringan akses pemasaran produk desa Ekonomi 0. pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan 3. pengembangan usaha. pengembangan olah raga. FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 2. Indikator Keluaran 1.

tersusunya penataan fungsi ruang kawasan pedesaan dalam RDTR 2. pengembangan usaha.Tersedianya data fasilitas umum dan fasilitas sosial desa 2. Indikator Keluaran Berkembangnya lembaga dan jasa keuangan desa FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.Tertatanya fungsi kawasan perdesaan secara optimal Ekonomi Transportasi 1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perdesaan serta meningkatnya pengetahuan dan kemampuan teknis masyarakat desa 1.77900% APBD Kabupaten 3 — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.48710% APBD Kabupaten Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-10 . Lingkungan Hidup Tata Ruang dan pertanahan 1.11246% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 — Peningkatan infra struktur perdesaan.Meningkatnya kemanfaatan dan daya guna fasilitas yang ada 1.78689% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan utilitas perdesaan. koperasi dan UKM Keterangan 3.

31158% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-11 .33142% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 3.40960% APBD Kabupaten 1.29524% APBD Kabupaten 1.24740% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 7 Pendidikan 1. Pendidikan Pendidikan dasar 1. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan. Pendidikan Pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan Pendidikan lainnya 1.09221% APBD Kabupaten 6 Pendidikan 1. Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan pendidikan Terwujudnya kurikulum pendidikan yang mengandung muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan Terlaksananya pendidikan wajar dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah dari seluruhlapisan masyarakat terutama keluarga miskin Terselenggaranya pendidikan non formal dan kejuruan yang berorientasi kepada keahlian Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai Pendidikan 2 3 — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pelayanan pendidikan.27541% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun. Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal Pendidikan lainnya pelayanan bantuan terhadap pendidikan 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

13655% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Pengembangan manajemen sekolah. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. — Peningkatan kesejahteraan guru.16339% 10 Pendidikan 1. sehat dan berkualitas.63998% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-12 . Pendidikan Pendidikan usia dini 1.32675% 12 — Pengembangan pendidikan anak dini usia.33025% 11 Pendidikan 1.53799% APBD Kabupaten 2 Kesehatan 1.27657% APBD Kabupaten 2. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS). Meningkatnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan Kesehatan Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat 1. — Peningkatan budaya hidup bersih. Indikator Keluaran Terselenggaranya KBM berbasis MBS secara optimal Meningkatnya aktivitas guru dalam KBM Berkurangnya angka putus sekolah Terlaksananya pendidikan sejak dini usia dan meningkatnya RLS Terlaksananya pendidikan pra sekolah FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan dasar Keterangan 9 Pendidikan 1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. anak dan pada masa reproduksi Terkendalinya penggunaan obat-obatan. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama balita dan bumil Meningkatnya status kesehatan ibu.53663% APBD Kabupaten 6 — Pembinaan. anak dan reproduksi. Kesehatan 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan masterplan drainase Kesehatan kesehatan lainnya 1. pengawasan dan pengendalian obatobatan. makanan dan minuman.30954% APBD Kabupaten 7 1. makanan dan minuman. peralatan kesehatan dan kosmetika. peralatan kesehatan dan kosmetika Kesehatan 1.Terlaksananya pembangunan prasarana dasar lingkungan pemukiman 3.Terbangunnya saluran drainase lingkungan perkotaan 5. Kesehatan Obat dan perbekalan kesehatan 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan data verifikasi sanitasi 2.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan outline plan drainase 6. Indikator Keluaran Menurunnya angka kesakitan FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan perorangan keluarga berencana Keterangan 4 — Perbaikan gizi.60327% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-13 . — Pengembangan kesehatan lingkungan.53799% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Penanggulangan penyakit.52575% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan ibu.Terlaksananya program prokasin dan terbangunannya sarana pengolahan dan sanitasi 4.

— Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. — Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan.Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Keterangan 9 Kesehatan 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 — Peningkatan keberdayaan perempuan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.59919% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.46592% APBD Kabupaten 10 Kesehatan 1.24684% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-14 .44008% APBD Kabupaten 3. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Tersedianya sistem jaringan pelayanan kesehatan bagi masyarakat 2. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan Teroptimalisasinya perlindungan dan advokasi hak perempuan Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.24239% APBD Kabupaten 2 Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0. Indikator Keluaran Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Tersedianya SDM tenaga kesehatan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan 1.

Terbentuknya generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha.27097% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. jiwa kepemimpinan dan pelopor Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Indikator Keluaran Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Pemberdayaan perempuan Keterangan 4.20200% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-15 . Tersedianya media aktifitas dan kreatifitas generasi muda yang akomodatif Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Meningkatnya ketahanan moral dan mental generasi muda Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. kepemimpinan dan kepeloporan. Tersedianya kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.17943% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.20595% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pembangunan dan kemasyarakatan. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.20764% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.

Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga masyarakat sesuai kebutuhan Terwujudnya sistem dan mekanisme keolahragaan yang berorientasi pada prestasi Terbangunnya kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.17350% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.Tersedianya sarana dan prasarana rehabilitasi sosial perlindungan sosial perlindungan sosial lainnya 0. Indikator Keluaran Tumbuhnya aktivitas keolahragaan FUNGSI Pariwisata dan Budaya SUB FUNGSI pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga Keterangan 6 — Peningkatan prestasi olah raga.15548% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-16 .Meningkatnya kualitas pelayanan rehabilitasi sosial 2. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Pariwisata dan Budaya 0.18422% APBD Kabupaten Misi 4. Meningkatnya prestasi olah raga Pariwisata dan Budaya 0. 1.17491% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pemasyarakatan olah raga. Pariwisata dan Budaya 0.17971% APBD Kabupaten 8 Pariwisata dan Budaya 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. 1.18112% APBD Kabupaten 7 — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.

lansia dan penyandang tuna sosial perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan orang sakit dan cacat 0.15377% APBD Kabupaten 4 perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0. Tersedianya prosedur penanggulangan bencana secara cepat.16639% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 8 0. penyandang cacat. Tertanggulanginya masalahmasalah sosial Meningkatnya ketahanan sosial.15783% APBD Kabupaten 6 — Penanggulangan bencana dan pengungsi. — Peningkatan ketahanan sosial. lansia dan penyandang tuna sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. penyandang cacat. Meningkatnya kemampuan. keluarga dan masyarakat perlindungan sosial perlindungan sosial bantuan dan jaminan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0.15313% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Pengembangan sistem perlindungan sosial. — Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. Indikator Keluaran Tersedianya sistem dan managemen perlindungan sosial Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kesejahteraan sosial Tersedianya lembaga advokasi perlindungan anak FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 3 — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. pengetahuan dan keterampilan serta perlindungan anak terlantar. keluarga dan masyarakat.15313% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan anak terlantar. terarah dan terpadu ketertiban dan keamanan penanggulangan bencana 0.21387% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-17 . perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.15805% APBD Kabupaten 7 — Penaganan masalahmasalah sosial. individu. individu.

perikanan dan kelautan pertanian.17772% APBD Kabupaten 2.66642% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-18 . Tertanggulanginya permasalahan pangan Ekonomi 0.kehuta nan. perikanan dan kelautan pertanian. Tertatanya sistem pendistribusian pangan secara proporsional Meningkatnya hasil panen secara optimal dan terolah dengan baik Tersedianya keragaman pangan Ekonomi 0. Indikator Keluaran menurunnya tingkat penggunaan obat-obatan terlarang Terwujudnya bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Obat dan perbekalan kesehatan bantuan dan jaminan sosial Keterangan 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.kehuta nan. perikanan dan kelautan pertanian.70712% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan distribusi pangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 — Pengamanan ketersedian pangan.kehuta nan. — Diversifikasi pangan.19911% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.70797% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. perikanan dan kelautan pertanian. perlindungan sosial 0.kehuta nan. Terpenuhinya kebutuhan pangan Ekonomi pertanian. Ekonomi 0.kehuta nan.61725% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.72154% APBD Kabupaten 4 Ekonomi 0. perikanan dan kelautan 0.

89365% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-19 . pengembangan usaha.91739% APBD Kabupaten 9 Tersedianya sarana dan prasaran perdagangan sesuai kebutuhan Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. pengembangan usaha. sentra konveksi. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya peran dan fungsi koperasi. — Pengembangan sentrasentra unggulan pada kawasan andalan.85720% APBD Kabupaten 10 — Pengembangan koperasi. pengembangan usaha. pertenakan dan perikanan. kecil dan menengah. Indikator Keluaran Terwujudnya kawasan dan produk agribisnis FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. sentra agribisnis.64692% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan agribisnis. usaha kecil dan menengah Ekonomi Perdagangan. perikanan dan kelautan Perdagangan. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. Meningkatnya hasil produksi industri manufaktur Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Meningkatnya hasil pertanian. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). peternakan dan perikanan Ekonomi pertanian. koperasi dan UKM Keterangan 7 — Revitalisasi pertanian.92926% APBD Kabupaten 8 Tersedianya penampungan dan pemasaran hasil produksi Ekonomi 0.99540% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan industri manufaktur. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. seperti sentra tekstil. koperasi dan UKM 0. usaha mikro.kehuta nan.

koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. koperasi dan UKM Keterangan 13 — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). Meningkatnya privatibilitas BUMD Ekonomi Perdagangan. terutama permodalan. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM 0. Terselenggaranya kegiatan ekonomi yang berbasis syariah Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. pengembangan usaha.83346% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-20 .80293% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 12 PROGRAM — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatankegiatan kewirausahaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. Meningkatnya investasi Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. pengembangan usaha. Terserapnya akses permodalan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya produktif Ekonomi Perdagangan.95300% APBD Kabupaten 15 — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha.77071% APBD Kabupaten 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. Terbentuknya iklim usaha yang profesional Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM 0.64608% APBD Kabupaten 14 — Pengembangan ekonomi syariah.83685% APBD Kabupaten 16 — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. pengembangan usaha.

— Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Terserapnya tenaga kerja secara optimal Ekonomi tenaga kerja 0.30826% APBD Kabupaten 3 Ekonomi tenaga kerja 0.28569% APBD Kabupaten 5 Terjalinnya hubungan sinergis masyarakat industri Ekonomi Industri dan konstruksi 0.32276% APBD Kabupaten 2 Tersedianya tenaga kerja yang berkualitas dan produktif Terbentuknya lembagalembaga perlindungan tenaga kerja Menurunnya angka pengangguran Ekonomi tenaga kerja 0. Indikator Keluaran Terpenuhinya hak dasar masyarakat miskin FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI bantuan dan jaminan sosial Keterangan 19 Terwujudnya sistem dan manajemen kepariwisataan Pariwisata dan Budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.28457% APBD Kabupaten 4 Ekonomi tenaga kerja 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Pengembangan keparawisataan. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.80378% APBD Kabupaten 3.88941% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 18 PROGRAM — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. — Pemantapan hubungan industrial.23552% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-21 . — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.

32878% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-22 .25157% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 4 0. Berkurangnya perpindahan penduduk dari desa ke kota Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.38388% APBD Kabupaten 3 Tertatanya sistem pencatatan kependudukan Menurunnya tingkat keluhan terhadap pelayanan kependudukan dan transmigrasi Perlindungan sosial Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Terfasilitasinya masalahmasalah ketenagakerjaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI tenaga kerja Keterangan 4.25168% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Penyelesaian masalahmasalah ketenagakerjaan.Menurunnya laju pertumbuhan penduduk. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.42520% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.menurunnya tingkat angka kesakitan masa reproduksi Kesehatan keluarga berencana 0. Meningkatnya keterampilan dan ketahanan keluarga Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 2.29906% 5 — Pengendalian urbanisasi. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. — Penataan administrasi kependudukan.

Berfungsinya penegak hukum secara optimal Lingkungan hidup manajemen limbah 0. Lingkungan hidup perlindungan lingkungan hidup lainnya 0. daya dukung dan kualitas lingkungan 2.58720% APBD Kabupaten 3 — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan aparat terhadap hukum lingkungan 2. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 7. Terkelolanya limbah domestik dan limbah industri beserta pemanfaatannya 1. Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.63957% APBD Kabupaten 4 — Penegakan hukum lingkungan.53680% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-23 .53745% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. 1.Teroptimalisasinya lahan kritis dan konservasi lahan Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi strategis lingkungan Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.Meningkatnya keseimbangan lahan. KEBIJAKAN 1.

Terlaksananya KISS program Dibale dengan stakeholder terkait 2.Meningkatnya kesadaran pelestarian hutan 2.Adanya peran aktif dari masyarakat dan lembaga kemastarakatan dalam melestarikan lingkungan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI konsevasi sumber daya alam Keterangan 6 — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.Terlaksananya pengembangan hutan rakyat Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.54858% APBD Kabupaten 2.54007% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.Terlaksananya daur ulang dan pendayagunaan sampah Lingkungan hidup manajemen limbah 0.Tersedianya sistem pola dan mekanisme pengelolaan sampah terpadu 2. 1. Indikator Keluaran 1. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan SDA Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.54007% APBD Kabupaten 7 — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.Tersedianya TPS dan TPA 3.57804% APBD Kabupaten 8 — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-24 .

Tersusunnya sistem pengawasan dan pengendalian pembangunan 2. penataan kawasan khusus dan pemetaan melalui KISS program 1.25769% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-25 . RDTR.29906% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.04197% APBD Kabupaten 3 — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.Teroptimalisasinya administrasi pertanahan 4.Teroptimalisasinya pelaksanaan penertiban penggunaan tanah sesuai peruntukannya 3. Indikator Keluaran Tersusunnya dokumen perencanaan. Tersedianya data-data pertanahan 2.Teroptimalisasinya pengendalian dan pengawasan pembangunan Lingkungan hidup Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 2. 1. Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 2.Terfasilitasinya masalahmasalah pertanahan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya Keterangan 2 — Pengembangan manajemen pertanahan.

— Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.Majalaya.12801% APBD Kabupaten 3 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. fasilitas sosial dan perumahan2.13781% APBD Kabupaten 4 Perumahan dan fasilitas umum Perumahan dan pemukiman lainnya 0. penetapan kawasan andalan dan kota mandiri Berkembangnya jaringan prasarana dasar wilayah (SRTPK) Terwujudnya pembangunan jalan tol pasir koja.14081% APBD Kabupaten 2 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.soreang dan gedebage.Tertata dan termanfaatkan sarana prasarana fasilitas umum Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.majalaya 1.13560% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-26 . — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). Tersusunnya dokumen rencana terpadu.Tersedianya data verifikasi fasilitas umum.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.

Eks terminal cingcin dan pengembangannya 4.12801% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan daerah ibu kota Soreang. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha.14856% APBD Kabupaten 8 — Pengembangan sentra tekstil.14255% APBD Kabupaten 7 — Pengembangan sentra agribisnis.Tertatanya pelaksanaan pembangunan untuk pengembangan kota soreang FUNGSI Perumahan dan fasilitas umum SUB FUNGSI litbang perumahan dan pemukiman Keterangan 6 — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. 1.Terlaksananya studi manajemen dan rekayasa lalulintas serta perhubungan Ekonomi Ekonomi lainnya 0.Terwujudnya sarana dan prasarana fisik penunjang dinamisasi sektor ekonomi 2. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya dokumen pra feasibility dan pra design 3. Ekonomi Perdagangan.Tersedianya dokumen perencanaan teknis terpadu 2. Indikator Keluaran 1.Teroptimalisasinya pengolahan hasil produksi 2.14713% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-27 .Tersedianya pusat penampungan dan pemasaran Tersedianya pusat produksi tekstil dan pemasaran Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. 1.

Tersedianya dokumen rencana induk penggunaan induk data verifikasi air baku.Tersedianya peta mitigasi. koperasi dan UKM 0.14461% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Pengembangan sentra konveksi. Indikator Keluaran Tersedianya pusat pengembangan dan pemasaran konveksi FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.13133% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-28 . pengembangan usaha. potensi geothermal.Terlaksananya pengembangan pengelolaan sumber daya air 3. koperasi dan UKM Keterangan 10 — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.Tersedianya sarana air bersih Ekonomi Pengairan 0. air bawah tanah 2. bencana geologi.Tersedianya data sebaran bahan galian dan mineral 2. 1. Terciptanya iklim kemudahan melakukan investasi Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. listrik pedesaan.14413% APBD Kabupaten 12 — Penataan iklim investasi yang kondusif. 1.15994% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pembangkit listrik alternatif dan untuk keperluan sendiri beserta pengembangannya Ekonomi bahan bakar dan energi 0.

— Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas. Tertib. dan antara masyarakat dengan pemerintah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 1 — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat. Tenteram dan Dinamis. keamanan dan hukum lainnya 0.13193% APBD Kabupaten 2 — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat.13000% APBD Kabupaten 3 Terantisipasinya kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas ketertiban dan keamanan ketertiban . KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1.12583% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-29 . keamanan dan hukum lainnya 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan ketertiban dan keamanan ketertiban . Terwujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban dan keamanan 0.

— Penerapan hukum secara konsekwen.13481% APBD Kabupaten 2.10395% APBD Kabupaten 2 Terujudnya rasa keadilan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban . keamanan dan hukum lainnya ketertiban . Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Terwujudnya SDM kamtrantib yang profesional ketertiban dan keamanan ketertiban . Berkurangnya pelanggaran hukum ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.11846% APBD Kabupaten 6 — Peningkatan kesadaran budaya tertib. Meningkatnya ketertiban umum ketertiban dan keamanan 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Indikator Keluaran Terselesaikannya permasalahan melalui mediasi pemerintah FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI peradilan Keterangan 5 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.12279% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.09276% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-30 .

Tersusunnya kodifikasi bahan-bahan sosialisasi produk hukum pusat dan daerah ketertiban dan keamanan Litbang ketertiban. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam penegakan hukum Terjalinnya kerjasama sinergis antar penegak hukum ketertiban dan keamanan 0.09432% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Sosialisasi.Terciptanya sistem jaringan informasi yang tertib FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI Pembinaan hukum Keterangan 4 ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.09289% APBD Kabupaten 7 — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.09849% APBD Kabupaten 8 ketertiban dan keamanan 0. Indikator Keluaran Tercapainya peningkatan pengetahuan dan pemahaman hukum masyarakat 1.09328% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-31 .Tersedianya peraturan daerah dan peraturan bupati sesuai kebutuhan 2.08977% APBD Kabupaten 6 — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. keamanan dan hukum 0.Tertatanya dokumentasi hukum yang tertib 2. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum. Berkurangnya pelanggaran HAM ketertiban dan keamanan ketertiban . bantuan dan perlindungan hukum. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.09836% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan produk hukum daerah. keamanan dan hukum lainnya Pembinaan hukum 0.

Terwujudnya kebebasan dalam menentukan pilihan politik ketertiban dan keamanan 0. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap politik Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan berpolitik ketertiban dan keamanan ketertiban . keamanan dan hukum lainnya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.15810% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.15132% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-32 . keamanan dan hukum lainnya 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .15155% APBD Kabupaten 2 ketertiban dan keamanan 0.15459% APBD Kabupaten 4 ketertiban dan keamanan ketertiban . keamanan dan hukum lainnya ketertiban .14827% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan hak politik masyarakat. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menyampaikan aspirasi Terwujudnya kehidupan politik yang demokratis ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.

Terlaksananya KISS program Dibale/ kec dengan stakeholder terkait 3. 1.Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat 4.Meningkatnya kualitas keberfungsian lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 2. 1.Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.10428% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-33 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan Misi 5.

06759% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-34 .08872% APBD Kabupaten 4 — Peningkatan kerukunan hidup beragama. inter ummat beragama dan antar umat beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Meningkatnya kerukunan hidup beragama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya penarapan nilai agama dalam kehidupan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI pendidikan keagamaan Keterangan 3 — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.09892% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. Indikator Keluaran 1.11458% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. Menurunnya penyebaran agama tertentu pada masyarakat yang telah beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Terwujudnya peningkatan kualitas iman dan takwa 3. adanya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum mulai sekolah dasar sampai menengah Pendidikan pendidikan keagamaan 0.Meningkatnya kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur nagara 2.meningkatnya bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 4.

1. dan legislatif keuangan dan fiskal serta urusan bantuan luar negeri 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya intensitas FKUU di tingkat kabupaten.08336% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.Meningkatnya kesejahteraan pengelola TPA dan TKA Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal 0.06045% APBD Kabupaten 8 — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.Meningkatnya jumlah TPA dan TKA baru 2.Terwujudnya silaturahmi antara pemerintah dengan lembaga keagamaan 2.07443% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-35 . kecamatan dan desa Pelayanan Umum Pelayanan umum 0. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatan keagamaan yang terpadu antara pemerintah daerah dengan masyarakat FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 7 Meningkatnya kesadaran aparat untuk memakai pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama Pelayanan Umum lembaga eksekutif.Meningkatnya manajemen pengelolaan TPA dan TKA 3.07148% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan TPA/TKA.Meningkatnya kualitas pendidikan dan pengajaran untuk siswa TPA dan TK 4. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. 1.

Terbentuknya tenaga profesional yang mengelola lembaga perbankan maupun non perbankan syariah3. Meningkatnya pribadi aparatur yang iman dan takwa Pendidikan Pendidikan keagamaan 0. Kebijakan Penerapan Nilainilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan.12087% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-36 . — Pengembangan ekonomi syari’ah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 2.Adanya sosialisasi tentang pengembangan ekonomi syariah4.12943% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 3 0. koperasi dan UKM 0.11512% APBD Kabupaten 2 Terwujudnya kehidupan sosial yang agamis harmonis 1. — Peningkatan harmonisasi sosial.Adanya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah Kesejahteraan sosial Ekonomi Penyuluhan dan bimbingan sosial Perdagangan. pengembangan usaha.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi syariah2.

Terinventarisasinya potensi umat 2. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.17197% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-37 . 1.Tersedianya sistem dan mekanisme serta pola pengembangan potensi umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Terwujudnya perilaku sosial berdasarkan nilai agama FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 5 Terwujudnya keteladanan pimpinan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.14003% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan manajemen potensi umat.13830% APBD Kabupaten 6 Meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.12181% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.Kokohnya ketahanan moral dan mental umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13830% APBD Kabupaten 3. 1.Terwujudnya kebersamaan umat 2. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.

1.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi yang mengayomi kepentingan umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13849% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Optimalisasi zakat.13658% APBD Kabupaten 4.Terwujudnya pemahaman tentang pengembangan ekonomi di lembaga keagamaan 2.17675% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan ormas keagamaan. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-38 . infaq dan sadaqah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya kemampuan ormas keagamaan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 1.Adanya kesadaran untuk mengeluarkan ZIS 2.Meningkatnya peran serta ormas-ormas keagamaan2.Terwujudnya pemanfaatan ZIS bagi kepentingan umat FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 4 — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan. Indikator Keluaran 1.

25904% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pelayanan ibadah haji. Terwujudnya sistem pelayanan ibadah haji Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.27438% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-39 .Adanya lembaga permanen yang mengelola ZIS 2.Tumbuh suburnya aktivitas keagamaan yang berorientasi pada kesadaran umat untuk beragama dan bernegara FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 2 — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.23041% APBD Kabupaten Misi 6. 1.Tersedianya sarana dan prasarana keagamaan yang memadai sebagai tempat untuk beribadah dan aktivitas umat 2. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. Indikator Keluaran 1. 1.Terwujudnya pemahaman tentang pengelola ZIS melalui sosialisasi dan penataran caloan pengelola ZIS supaya lebih profesional Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.

1.Meningkatnya kreatifitas masyarakat terhadap pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya 0. seperti tersedianya gedung kesenian. Tersedianya sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.24677% APBD Kabupaten 2. Indikator Keluaran Terinventarisasinya nilai-nilai budaya Sunda FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.25918% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.Meningkatnya pemahaman nilai budaya sunda pada anak usia dini dan generasi muda2.15053% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-40 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda 2.Meningkatnya kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. 1.25787% APBD Kabupaten 3 — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.

— Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. 1. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-41 .14880% APBD Kabupaten 4 Pariwisata dan budaya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran Terakomodirnya muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Keterangan 3 — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.16593% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga seni dan budaya Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.14803% APBD Kabupaten 3.Ditetapkannya bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah 2.Meningkatnya penggunaan bahasa sunda sebagai bahasa sehari hari baik kegiatan formal maupun informal Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.15053% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.

Adanya sistem informasi terpadu tentang peta budaya 3.19508% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan ekonomi budaya.Teraksesnya produk budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional 2. Pariwisata dan budaya 0.18795% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan adat istiadat daerah. Pariwisata dan budaya 0.Terbentuknya pusat pasar seni Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Tergalinya nilai – nilai budaya2. 1.20153% APBD Kabupaten 100.00000% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-42 .Tersosialisasikannya budaya melalui manajemen pemasaran yang terbuka FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Pelestarian asset budaya. Indikator Keluaran Terpeliharanya adat-istiadat daerah dalam kehidupan sehari-hari 1.17927% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan produk budaya.Tersedianya data aset budaya yang perlu dilestarikan 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terpeliharanya aset budaya 1.

521% 0.2 MATRIKS PROGRAM TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.840% 0.145% 0.768% 0.834% 0. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.174% 0.616% 0.758% 0.189% 0.213% TAHUN 5 % APBD 9.149% 0.080% 0.169% 0.099% 0.865% TAHUN 3 % APBD 23.116% 0.706% 0. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.105% 0.282% 0. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN 1 % APBD 52.687% 0.591% 0.073% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-43 .023% TAHUN 2 % APBD 43.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.164% 0.550% 0. 6.156% 1.156% 5.941% 1.812% 0. 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.500% 0.123% 0.112% 3 4 5 0.147% 0.695% 0. 6.113% 2.778% 0.821% 0.175% 0.135% 0.191% 0. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 2 1) Peningkatan moral.183% TAHUN 4 % APBD 16.150% 0.103% 0. 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum.162% 0.110% 0.710% 0.758% 0. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen.650% 0.100% 0.128% 0.103% 6 7 0.126% 0.208% 0.091% 0.908% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 2 3 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.282% 0.101% 0.099% 1. diklat struktural dan teknis fungsional. 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.919% 0.667% 1.171% 0. budaya dan etos kerja aparatur.750% 5.077% 1. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. disiplin.208% 1.076% 0. 3) Penataan peraturan perundangundangan daerah.

481% 0.561% 0. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.555% 0.558% 0.000% 0.663% 0.117% 0.758% 2.569% 0.192% 0.500% 0.587% 1. 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa.821% 1.068% 1.068% 7 8 9 10 3.070% 0. integrasi.000% 0.077% 0.000% 0.130% 0.198% 1. 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan.182% 0.665% 0.136% 0.082% 0.118% 0. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan.138% 0. 8.070% 0.673% 3.092% 3. 0.112% 0.375% 3.290% 2.553% 0.654% 3.119% 0. 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.000% 4.341% 0.101% 0.118% 0.529% 0.754% 9.495% 1.812% 1.308% 0. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.308% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 2 3 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4 5 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.201% 0.182% 2 3 4 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-44 .563% 0.654% 0.081% 3.138% 0.470% 0.250% 2.176% 5.000% 0.000% 0.626% 0.528% 0.099% 0.527% 0. 11.189% 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.326% 0.502% 1. sinkronisasi dan simplikasi.081% 6 0. 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.861% 0. 6) Peningkatan koordinasi.116% 0.480% 0. 3) Penataan wilayah.108% 3.071% 2.618% 6.101% 0.000% 0.584% 0. 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.661% 1. Kelurahan dan Desa.282% 0.082% 0.000% 0.568% 0.118% 0.

099% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.412% 0.281% 0. 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat.328% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-45 .231% 1.336% 0. 1.231% Misi 8.758% 0.042% 1.179% 0. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 2 3 4 11.375% 0.282% 0.349% 0.250% 0.292% 0.846% 2.042% 1.614% 0.335% 0.368% 0.246% 0.317% 0.338% 0.299% 0.537% 0.352% 0. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat.598% 1.237% 0.173% 6.555% 0.290% 0.429% 0.099% 1.462% 0.259% 0.325% 0.325% 0. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1. — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan 1.582% 1.309% 1.758% 0.284% 0.628% 0.206% 0.339% 1.273% — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa. — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa.390% 0. 1.081% 9.376% 0.646% 1.338% 0.571% 0.275% 0.231% 1.653% 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 2 3 4 1) Pengembangan manajemen partisipatif.634% 0.444% 0.549% 0.200% 0.375% 4. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 2 3 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan.548% 1. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.396% 3.393% 1.317% 0.302% 0.396% 0.282% 0.254% 0. 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa. — Peningkatan kualitas perangkat desa.290% 0.349% 0. 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.273% 0.

— Pengembangan utilitas perdesaan. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 2 3 7. — Pengembangan akses pemasaran produk desa.641% 0.317% 0.160% 0.943% 1.601% 2. RT dan lain-lain).495% 5.000% 81.000% 0.804% 0.258% 0.332% 7 2.000% 0. — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.265% 0.537% 0.000% 0.561% 0.542% 1.000% — Pengembangan pasar desa.228% 0. 6.758% 0.612% 0.157% 0. RW. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 2 0.316% 0.617% 1.000% 69. 1.273% 2.239% 0.099% 0.669% Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 41.612% 2.000% 0.309% 1.250% 5.176% 50.208% 0. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.800% 0.271% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sumber keuangan desa.368% 0.153% 0. LKMD.387% — Peningkatan infra struktur perdesaan.305% 1.614% 0. — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.000% 0.178% 1. 5 6 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.535% 0.000% 0.123% 3 4 5 3.617% 1.282% 0.839% 1.000% 0.221% 0.128% 2.000% 0.210% 2.279% 0.509% 0.000% 1.231% 75. — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.174% 2. — Pengembangan produk unggulan desa. — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.000% 0.233% 0.813% 1.000% 0. 0.165% 0. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).200% 1.934% 1.818% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-46 .805% 1.548% 1.

421% 1.630% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 3. — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.038% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-47 .585% 1.653% 1.822% 0.881% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 — Peningkatan pelayanan pendidikan.874% 0.360% 1.309% 1.364% 1.308% 18.307% 1.881% 1.841% 0.877% 0.454% 1.511% 1.325% 1.863% 0.841% 0.605% 1.751% 1.609% 0. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.011% 0.344% 1.654% 1.969% 1.538% 15. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS). — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan. sehat dan berkualitas.168% 1.883% 1.864% 0.911% 2.767% 0.070% 0.752% 1.577% 1.494% 1.357% 1.279% 1.929% 0.681% 1.586% 2.010% 1.007% 0. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 2 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.577% 17.016% 11.648% 1. — Pengembangan pendidikan anak dini usia.878% 0.244% 1. 0.829% 0.996% 0.749% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 10.165% 1.550% 1.453% 1.475% 1. 10.193% 1.412% 1.081% 1.328% 1.854% 1.947% 0. — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) 1. — Peningkatan kesejahteraan guru.245% 1. — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.120% 1.294% 1.515% 1.014% 1.365% 1. — Peningkatan budaya hidup bersih.868% 1.308% 18.983% 1.445% 1.968% 1.516% 1. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.720% 0.445% 1.538% 15.577% 17.016% 11. — Pengembangan manajemen sekolah. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

236% 0. peralatan kesehatan dan kosmetika.789% 3. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 1.987% 1.361% 0. makanan dan minuman.821% 1.750% 1.992% 1.113% 1.476% 1.000% 0.643% 1.006% 1.457% 0.000% 0.911% 1. — Pembinaan.627% 7 8 9 10 1.000% 0.093% 1. — Perlindungan dan advokasi hakhak perempuan.949% 1.826% 1. — Pengembangan kesehatan lingkungan.057% 1. 1.617% 0.966% 0.577% 1.752% 1. 1.355% 0.000% 0. 1.167% 1.158% 0.000% 4.564% 1.731% 0.491% 1.113% — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.137% 0.213% 0.416% 0.994% 1.409% 0.282% 1.000% 0.282% 1. — Perlindungan ibu. — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.575% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 2 3 — Peningkatan keberdayaan perempuan.503% 1. — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.054% 0.214% 1.397% 0. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.639% 1.821% 1. pembangunan dan kemasyarakatan. anak dan reproduksi.158% 1.168% 1.014% 1.640% 1. pengawasan dan pengendalian obat-obatan.923% 2.098% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 6 — Penanggulangan penyakit.738% 1.896% 1.909% 0.113% 1.552% 0.731% 1.000% 0.000% 0.342% 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.562% 0.258% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-48 .670% 1.863% 0. kepemimpinan dan kepeloporan.217% 1.013% 1. — Perbaikan gizi.

— Peningkatan ketahanan sosial.101% 0.136% 0.190% 0.174% 0.196% 0. 0.247% 2 3 4 5 6 7 8 9 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-49 . Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.207% 0.132% 0.118% 0.138% 0. — Penanggulangan bencana dan pengungsi.193% 0. — Pemberdayaan anak terlantar. — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.204% 0.210% 0. lansia dan penyandang tuna sosial.180% 0.101% 0.219% 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.120% 0.156% 0.119% 0.251% 0. — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.205% 0.196% 0.175% 0. individu.113% 1.206% 0.204% 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.121% 0.198% 0. — Penaganan masalah-masalah sosial.115% 0.133% 0.117% 0.141% 0.157% 0.118% 0.230% 0.151% 0.189% 0.178% 0.104% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.140% 0.136% 0.162% 0.136% 0.118% 0.223% 0.179% 0.116% 0.244% 0.256% 0.102% 0.126% 0.133% 0.101% 0.153% 0. 1. keluarga dan masyarakat.216% 0.282% 1.211% 0.229% 4 5 6 7 8 9 Misi 4.184% 0. penyandang cacat.184% 0.158% 0. — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. — Advokasi dan perlindungan hakhak anak.223% 3 0.217% 0.266% 0.162% 0.098% 0.120% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. — Pengembangan sistem perlindungan sosial.207% 0.191% 0.190% 0.177% 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.159% 0.157% 0.171% 0. — Pemasyarakatan olah raga.227% 0.116% 0.186% 0. — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.104% 0.190% 0.110% 0.731% 1.174% 0.131% 0.114% 0. — Peningkatan prestasi olah raga.162% 0. 1.235% 0. — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.199% 0.180% 0.923% 2.225% 0.

806% 0.117% 0.697% 0.633% 0.756% 0.651% 0.628% 0.308% 18.858% 0. — Pengembangan ekonomi syariah.467% 0.407% 0.740% 0.726% 0. — Pengembangan agribisnis.426% 0.134% 1.662% 0. — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. 0.529% 0.977% 0.491% 0.940% 1. usaha mikro.914% 0. — Revitalisasi pertanian. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).976% 1.663% 0.896% 0.998% 0.538% 15.155% 0.476% 0.577% 17.506% 0.040% 0.767% 0. — Peningkatan distribusi pingan.679% 0.508% 0.466% 0.548% 0.085% 0. sentra agribisnis.823% 0.736% 1. — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi.879% 1.953% 0.491% 0. — Pengembangan sentra-sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. — Pengembangan industri manufaktur.182% 0.878% 1.538% 0.605% 0.822% 0.656% 0.958% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-50 .790% 0.552% 0.110% 0.221% 2. kecil dan menengah. — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.635% 0.724% 0. — Pengembangan koperasi. seperti sentra tekstil.469% 0.140% 9 10 11 12 13 14 15 16 0. — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).805% 0. pertenakan dan perikanan.804% 1.135% 0.020% 0.565% 0.439% 0.703% 0.803% 1. sentra konveksi. — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil.916% 0.759% 0.880% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.016% 11.881% 0.828% 0.058% 0.045% 1.589% 0.612% 0.585% 0.202% 0.706% 0.426% 0.683% 0.237% 1.879% 0.065% 1. 10.018% 0.537% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan.610% 0.725% 0. — Diversifikasi pangan.953% 0.184% 1. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 2 3 4 5 6 7 8 — Pengamanan ketersedian pangan.737% 1.

113% 1.287% 0.633% 0. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.341% 0.258% 1.316% 0.923% 2.999% 18 19 3.549% 0. — Pengembangan keparawisataan.949% 1.036% 1.105% 0.313% 0. — Pengendalian urbanisasi.586% 0.374% 0.331% 0.250% 0.354% 0.368% 0.530% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.282% 0.824% 0. — Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan.113% 0.409% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-51 .401% 0.437% 0.854% 0.731% 0.383% 0. 1.325% 0.217% 0.293% 0. — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.197% 0.098% — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.280% 0.216% 0. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 2 3 4 5 1. 0.203% 0.313% 4.731% 1.393% 0.217% 0.436% 0.923% 0.234% 0.188% 0.291% 0. terutama permodalan. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 2 3 4 5 6 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.287% 2.355% 0.191% 1.323% 0.372% 0.912% 0. — Penataan administrasi kependudukan.268% 0.241% 0.477% 0.307% 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.098% 0.258% 0.166% 0.166% 1. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.253% 0.191% 0.351% 0.484% 0.915% 1.293% 0.282% 1.188% 0. 0. — Pemantapan hubungan industrial.213% 0.292% 0. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.227% 0.155% 0. — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.324% 0.610% 0.528% 0.675% 0.337% 0.179% 0.245% 0.013% 0.

369% 2.923% 0. 1.113% 2.632% 0.160% 2.754% 6 7 8 0.622% 0.750% 0.807% 0.871% 3. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.294% 0.128% 6.680% 2.098% 0.306% 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1 1.334% 0. — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.924% 2.754% 0.702% 0.740% 0.691% 0. — Pengembangan manajemen pertanahan.307% 0.163% 1. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 1 2 3 — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.135% 0. — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 2 3 4 5 — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.731% 0.305% 0.133% 0.133% 0.282% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7.666% 0. — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.329% 0.923% 7.691% 0.787% 1.676% 0.142% 1. 1. — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.752% 0.113% — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.312% 0. — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.688% 0.145% 0.564% 5.364% 0.144% 1.619% 0.587% 1.618% 0.737% 0.819% 0. 3.392% 1. — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. — Penegakan hukum lingkungan.597% 2.133% 0.192% 5.749% 0.893% 0.687% 0.158% 0.107% 1.769% 6.632% 2.175% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-52 .033% 1.380% 2.143% 0. — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.766% 2.622% 0.133% 0.755% 2.820% 0.093% 1.142% 2.307% 0. 0.692% 8.412% 2.339% 5.

108% 0.250% 7.155% 0. — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. 5. Tenteram dan Dinamis.112% 0.154% 0.108% 0. — Pengembangan sentra tekstil. — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.171% 0.165% 0.131% 0. — Pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja dan GedebageMajalaya.157% 2 3 0.151% 0.199% 0. — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat.157% 0.148% 0.179% 0.087% 0.141% 0.133% 0.180% 0.121% 0.177% 0. Tertib.105% 0.100% 0. — Pengembangan sentra konveksi.159% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 3 — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.131% 0.100% 0.168% 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.091% 0. — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.169% 0.909% 0.134% 0.097% 0.084% 0.162% 0.769% 0.098% 0.103% 0. dan antara masyarakat dengan pemerintah.833% 0.148% 0.110% 0.152% 0.097% 0.625% 0.135% 0.124% 0.150% 0.100% 0. — Pengembangan sentra agribisnis. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas.142% 0.159% 0.146% 0.146% 0.105% 0. — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial 6.103% 0. 0. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.113% 0.333% 9.588% 0.185% 0.091% 0.095% 0.150% 4 0.106% 0.882% 1.137% 0.139% 0.095% 0.097% 0.127% 0.131% 0.146% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-53 . — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.692% 8.095% 0. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).163% 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.164% 0.146% 0.109% 0.094% 0.182% 0. — Penataan iklim investasi yang kondusif.164% 0.168% 0.102% 0.084% 0.097% 0.089% 0.144% 0.183% 0.

076% 0.085% 0.107% 0.076% 0.090% 0. 5 6 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis 1 2 0.091% 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. 0.107% 0.069% 0.172% 0.105% 0. 0.093% 0. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 2 3 4 0.094% 0.098% 0.094% 0.099% 0.188% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-54 .107% 0.113% 0.147% 0.112% 0.129% 0.110% 0.588% 0.136% 0.111% 5 6 7 8 3.099% 0.769% 0.080% 0.909% — Peningkatan pendidikan politik masyarakat.080% 0.625% 0.081% 0.129% 0. — Penerapan hukum secara konsekwen.103% 0. bantuan dan perlindungan hukum.625% 0.071% 0.072% 0.153% 0.124% 0. — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum. — Sosialisasi.110% 0.077% 0.095% 0.833% 0.076% 0.101% 0.141% 0.073% 0.833% 0. — Pengembangan produk hukum daerah.117% 0.159% 0.909% 0. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum.769% 0.160% 2.097% 0.180% 0. — Peningkatan kesadaran budaya tertib.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kemasyarakatan.076% 0.588% — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.101% 0.122% 0.117% 0.119% 0.072% 0.102% 0.111% 0.124% 0.104% 0. — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah.117% 0. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.073% 0.076% 0.165% 0. 0.

058% 0.124% 0.068% 0.084% 0.769% 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.091% 0.909% 0.088% 0.149% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.075% 0. 0.117% 0.047% 0.909% 0. — Pengembangan kegiatankegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. — Peningkatan kerukunan hidup beragama.072% 7 8 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.064% 0.061% 0.085% 0.105% 0.115% 0.089% 9 2.057% 0.066% 0.080% 0.076% 0. 0.055% 0.061% 0.106% 0.052% 0.833% 0.126% 0.089% 0.588% — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan 0.074% 0.078% 0.118% 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.136% 0.180% Misi 5.625% 0.184% 0. — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.116% 0.114% 0. — Perlindungan hak politik masyarakat.114% 0.833% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 0. — Pengembangan TPA/TKA.094% 0.119% 0.588% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.124% 2 0.073% 0.108% 0.089% 0.137% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-55 .081% 0.085% 0.165% 0.068% 0.162% 0.080% 3 4 5 6 0.094% 0.126% 0.156% 0.152% 0.072% 0.121% 0.125% 0.100% 0.625% 0.169% 0.081% 0.055% 0.099% 0. — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.176% 0. — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.049% 0. 1.769% 0.097% 0.068% 0.

0.139% 0.149% 0.588% 0.212% 0. — Pengembangan ekonomi syari’ah.299% 0.165% 3.283% 0.173% 0.105% 0. — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.145% 0.130% 0.144% 0.769% 0.165% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama 1 2 3 — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan.141% 0.833% 0. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 2 3 4 5 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.163% 4. infaq dan sadaqah. — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.122% 0.113% 0.165% 0.139% 0.909% 0.327% 0.123% 0.276% 0. — Peningkatan pelayanan ibadah haji.251% 0.178% 0.625% 0.261% 0.769% 0.153% 0. 0.145% 0. — Optimalisasi zakat.094% 0.225% 0.588% 0.136% 0.141% 0. 2 3 4 5 6 — Peningkatan harmonisasi sosial.132% 0.189% 0.115% 0.100% 0.132% 0.093% 0.107% 0.106% 0. — Pemberdayaan ormas keagamaan.232% 0.199% 0.188% 0.133% 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.210% 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.113% 0.274% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-56 .151% 0.909% 0.151% 0.625% 0.107% 0.100% 0.138% 0.308% 0.139% 0.833% 0.113% 0.154% 0. — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.099% 0.112% 0.205% 0.167% 0.211% 0.107% 0.108% 0. — Pengembangan manajemen potensi umat.193% 0.151% 0. 0.177% 0.141% 0.

308% 0. seperti tersedianya gedung kesenian.164% 0.149% 0.179% 2 0.588% 0.162% 0. — Pelestarian asset budaya.181% 0.181% 0.625% 0.116% 0.224% 0.128% 0. 0.232% 0.190% 0.152% 0.909% 0. — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.212% 0.625% 0.909% 0.202% 0.625% 0.213% 0.160% 0.122% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 1 2 0.123% 0.833% 0.283% 0.167% 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.196% 0.213% 0.147% 0. — Pengembangan ekonomi budaya.164% 0. 0.220% 0.150% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 6.162% 0.205% 0. — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.150% 0.294% 2.179% 0.155% 0.281% 0.199% 0.833% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat 1 2 3 4 — Pengembangan adat istiadat daerah.769% 0.249% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.833% 0.114% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.177% 0.269% 0.196% 0.165% 0. 1.260% 0. — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.115% 0.588% 0.145% 0. — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.138% 0.136% 0.769% 0.154% 0.203% 0.261% 0.588% — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.116% 0. 0.197% 0.189% 0.240% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-57 .211% 0.307% 3 0.200% 0.769% 0.123% 0.152% 0. — Pengembangan produk budaya. — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.121% 0.176% 3 4 5 3.909% 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

KAIDAH PELAKSANAAN RPJM Daerah Kabupaten Bandung ini merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah dibuat oleh Bupati terpilih tahun 2005 – 2010. Untuk menjembatani kekosongan dokumen perencanaan pada masa akhir jabatan Kepala Daerah maka dibuatlah rancangan program indikatif tahun 2011.1. Hal tersebut dikarenakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan dan sdasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bandung. sehingga diharapkan visi dan misi pada tahun 2010 tersebut dapat tercapai dengan maksimal 2. Hal tersebut disebabkan agar program-program yang direncanakan dalam Renstra-SKPD dapat terintegrasi dengan baik dengan RPJMD yang sudah dibuat. RPJMD Kabupaten Bandung ini akan digunakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Bandung. dalam penyusunannya diharuskan berpedoman RPJMD Kabupaten Bandung. PROGRAM TRANSISI Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010.2. 8.1 . SKPD Kabupaten Bandung dalam menyusun Renstra-SKPD diharuskan untuk berpedoman kepada RPJMD Kabupaten Bandung. Untuk detailnya rancangan program tersebut dapat dilihat pada bab VII. BAB VIII Penutup VIII . Dalam penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) Kabupaten Bandung yang jangka waktunya selama 1 tahun. maka dalam penyusunan program ditambahkan rancangan program indikatif 1 (satu) tahun ke depan setelah periode RPJM Daerah Kabupaten Bandung berakhir.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VIII PENUTUP 8. Pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra-SKPD. berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 2005 tentang Petunjuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yang merupakan : 1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. RPJMD Kabupaten Bandung merupakan dasar evaluasi dalam laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung ini merupakan proses penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan dalam proses penyusunannya benar-benar menampung inspirasi para stakeholder yang terdapat di Kabupaten Bandung melalui MUSRENBANG Jangka Menengah yang telah diselenggarakan. sehingga semua stakeholder tersebut dalam pelaksanaannya dapat mensukseskan program yang telah disepakati. 4. Penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJM Daerah. sehingga dapat meminimalisir pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari visi dan misi tahun 2010.2 . RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 merupakan indikator dalam proses evaluasi laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. BAB VIII Penutup VIII .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful