Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, yang merupakan integrasi

Rancangan Renstra SKPD yang berisikan program dan indikasi anggaran yang berorientasi pada fungsi dan sub fungsi pembangunan serta berpedoman kepada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah serta mengacu pada Perda No 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah. Tahapan penyusunan RPJMD ini telah dilaksanakan melalui beberapa proses kegiatan dengan hasil yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Selanjutnya penyusunan rancangan RPJMD ini merupakan hasil dari Musrenbang Jangka Menengah yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2006, untuk menerima masukan dan sumbang pemikiran dari stakeholder. Terdapat beberapa masukan berarti dalam Musrenbang tersebut yang telah diakomodasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ini. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ini dapat kami selesaikan.

Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung Kepala,

Drs. H.R. Wahyu, G. P. SH, M.Si. PEMBINA UTAMA MUDA NIP. 480 067 477

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa pemerintah daerah yang telah memiliki kepala daerah hasil pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 ( lima ) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan terpilihnya Kepala Daerah Kabupaten Bandung periode tahun 2005-2010 secara demokratis yang dilakukan oleh rakyat secara langsung, dan telah dilantik Kepala Daerah pada tanggal 5 Desember 2005 dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.32-1040/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan H. Obar Sobarna S.Ip sebagai Bupati Bandung 2005-2010, dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132.32-1041/2005 Tahun 2005 tentang Pengesahan Pemberhentian Drs. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati Bandung 2000-2005 dan Pengesahan Pengangkatan H. Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Bupati Bandung 2005-2010. Sehingga kepala daerah terpilih harus menyusun RPJMD Kabupaten Bandung tahun Dokumen RPJMD

2005-2010, karena dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Kabupaten Bandung 2005-2010 ditetapkan oleh peraturan daerah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah terpilih dilantik. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bhakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan bersifat iindikatif sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung tersebut mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh

BAB I Pendahuluan

I-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencananaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJPD Kabupaten

Bandung (sedang dalam penyusunan) dan memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi Jawa Barat (Renstra Pemerintah Provinsi Jawa Barat), serta sumber daya yang tersedia di daerah Kabupaten Bandung. Tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan

Pembangunan Daerah. RPJMD ini selanjutnya menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan oleh seluruh perangkat daerah, yang secara substansial memuat rencana kerja, program dan indikasi kegiatan yang bersifat terukur dan dapat dilaksanakan dengan

mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Pasal 25 Ayat (1) dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 69 Ayat (2).

1.2.

Landasan Hukum Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010, landasan

hukum yang menjadi dasar pertimbangan penyusunan RPJMD adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

BAB I Pendahuluan

I-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437). 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penylenggaraan Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga; 11. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 13. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Penyelenggaraan Pemerintah di Kabupaten Bandung. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 8 Penyusunan Perencanaan Pembangunaan Daerah. Tahun 2005 tentang Tata Cara

1.3. Maksud Dan Tujuan 1.3.1. Maksud Berdasarkan pertimbangan di atas, RPJMD ini disusun dengan maksud sebagai berikut: 1. Menyediakan dokumen RPJMD Tahun 2005 – 2010 sebagai acuan resmi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat dalam menentukan prioritas

BAB I Pendahuluan

I-3

terarah dan terukur. Merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih. Arah kebijakan umum Kabupaten Bandung untuk 5 (lima) tahun kedepan. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan. Tata Guna Lahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pembangunan tahunan daerah.3.2. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan lainnya. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pememerintah daerah dan DPRD dalam mencapai tujuan dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terpadu. 2. juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun Kabupaten Bandung. serta masyarakat untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program kepala daerah selama lima tahun. 1. agar dalam perencanaan maupun pelaksanaanya dapat sinkron dan sinergis dengan arah kebijakan nasional BAB I Pendahuluan I-4 .4. yaitu selain memperhatikan RPJM Nasional dan RPJMD Provinsi/ Renstrada Provinsi Jawa Barat dan dokumen RPJPD Kabupaten Bandung (dalam tahapan penyusunan). 1. perlu memperhatikan arah kebijakan nasional maupun propinsi. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dan DPRD. Tujuan Tujuan dari Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 adalah: Merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 20 tahunan. Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD. Lingkungan Hidup dan Sumber daya yang terdapat di Kabupaten Bandung.

Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme. 1. dan hak asasi manusia. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Pencegahan dan Penangulangan Separatisme. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk. yaitu: 1. ditetapkan Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. Terwujudnya kehidupan masyarakat. BAB I Pendahuluan I-5 . prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 7. kesetaraan. 3. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara. Peningkatan Keamanan. serta 3. 2. Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Nasional. bersatu. rukun dan damai. Pengembangan Kebudayaan yang berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur. Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 2. Terwujudnya masyarakat. negara yang menjunjung tinggi hukum. Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. tantangan. bangsa. 4. Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebut ditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009. 6. Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat. yaitu : 1.1. Dan Penanggulangan Kriminalitas. Ketertiban. bangsa. dan Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2008 (RPJMD Propinsi Jawa Barat belum disusun). 2. Agenda Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009 Berdasarkan permasalahan. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum. dan negara yang aman. serta keterbatasan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. 5.4. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung maupun propinsi. Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera Untuk mencapai agenda (1) Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai tersebut. Berikut ini arah kebijakan nasional yang mengacu pada RPJM Nasional tahun 2004-2009. Dan untuk mencapai agenda (2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis.

4. Pembangunan kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga. 7. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. Pengakuan. dan penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kondisi politik. yaitu ” Jawa Barat dengan Iman dan Taqwa sebagai Provinsi termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010”. 17. 12. 15. Kecil dan Menengah. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama. 8. Percepatan Pembangunan Infrastruktur. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. target tersebut dirasakan sulit tercapai. 3. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas. 13. Pembangunan Perdesaan. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur. Visi Provinsi Jawa Barat. 4. Peningkatan Pengelolaan BUMN. Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa. sosial. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas.2 Rencana Strategis Propinsi Jawa Barat Berdasarkan revisi Renstra Jawa Barat. 5. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. 2. 10. Selanjutnya untuk mencapai agenda (3) Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera tersebut. Hal ini disebabkan antara lain oleh : 1. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah. 4. Penghormatan. Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial. ukuran keberhasilan pencapaian visi Jawa Barat adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80 pada tahun 2010. 11. Penanggulangan Kemisikinan. 6. 9. 5. Berdasarkan hasil evaluasi pada tahun 2001 dan 2002. 6. 16. ekonomi nasional yang belum stabil. prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. 14. Revitalisasi Pertanian. 1. BAB I Pendahuluan I-6 .

Visi tersebut adalah ”Akselerasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa barat Pengembangan Struktur Peekonomian Regional yang Tangguh Pemantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah Peningkatkan Implenmentasi Pembangunan Berkelanjutan Peningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Budaya Daerah Berdasarkan visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barata tersebut disusun 5 (lima) Agenda Pembangunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004. Belum optimalnya keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan antar tingkat pemerintahan khususnya dalam memprioritaskan pembangunan sumberdaya manusia. Kedua. Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5 (lima) misi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu: Pertama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 3. Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah 4.2009. Hal tersebut menjadi landasan penetapan visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Pengelolaan pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama lima tahun ke depan. Meningkatkan Kualiktas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan Agama dan Daerah Budaya BAB I Pendahuluan I-7 . Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan 5. Mengembangkan Strukturt Perekonomian Regional yang Tangguh 3. Ketiga. yaitu : 1. Belum efisiennya alokasi dan penggunaan anggaran pemerintah dan dana masyarakat dalam menunjang pencapaian visi Jawa Barat. Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia Jawa Barat 2. Kelima. Keempat.

hubungan dengan dokumen perencanaan lainnya dan sistematika penulisan BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Bab ini berisikan tentang uraian statistik dan gambaran umum kondisi daerah saat ini dengan maksud mengetahui keadaan daerah pada saat ini pada berbagai bidang dan aspek kehidupan dan aspek kehidupan sosial ekonomi daerah dan yang akan diintervensi melalui berbagai kebijakan dan program daerah dalam jangka waktu 5 ( lima ) tahun BAB III VISI. maksud dan tujuan penyusunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. Selain itu bab ini berisikan tentang arah pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan kebijakan umum anggaran BAB I Pendahuluan I-8 . BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisi menguraikan kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menguraikan tentang kenaikan dan penurunan serta pola – pola alokasi belanja daerah. Sistematika Penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2005-2010. MISI DAN PRIORITAS DAERAH Bab ini menguraikan visi dan misi kepala daerah terpilih serta prioritas pembangunan daerah selama lima tahun. landasan hukum penyusunan. disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang penyusunan RPJM.5.

BAB VIII PENUTUP Bab ini menguraikan tentang program transisi dan kaidah pelaksanaan BAB I Pendahuluan I-9 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VI ARAH KEBIJAKAN UMUM Bab ini menguraikan tentang kebijakan yang berkaitan dengan program kepala daerah terpilih sebagai arah bagi SKPD maupun lintas SKPD dalam merumuskan kegiatan guna mencapai kinerja sesuai dengan tugas dan fungsinya BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Bab ini berisikan tentang rincian program pembangunan daerah yang merupakan instrumen untuk melaksanakan kebijakan pembangunan yang sudah ditetapkan. Program-program tersebut selanjutnya akan diterjemahkan kedalam berbagai kegiatan oleh SKPD sesuai dengan fungsinya.

Kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54. 8% . dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8%.258 Ha.170 Ha yang tersebar di 26 kecamatan. serta 172 buah sungai. industri.15% hingga di atas 45%. sedangkan kawasan budidaya pertanian seluas 156.000 mm pertahun. dan lain-lain.1. Sumber air permukaan umumnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik pertanian. Terletak pada ketinggian 110 meter sampai 2. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.371 Ha.500 mm sampai dengan 4. 3 danau buatan. Dan air tanah dalam (kedalaman dari 60 sampai 200 meter) umumnya dipergunakan untuk keperluan industri. Morfologi Kabupaten Bandung terdiri dari wilayah datar/landai. kaki bukit.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2. terdiri dari : • Kawasan hutan produksi seluas 25. serta sebagian menggunakan fasilitas dari PDAM. sedangkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga memanfaatkan air tanah bebas (sumur gali) dan air tanah dangkal (kedalaman 24 sampai 60 meter). Air permukaan terdiri dari 4 danau alam. Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Purwakarta. di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Sumedang.429 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 307. Suhu udara berkisar antara 190 C sampai 240 C dengan penyimpangan harian mencapai 500 C dan kelembaban udara beragam antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. baik air tanah maupun air permukaan.090 Ha. non industri dan sebagian kecil untuk rumah tangga. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 1070 22’- 1080 5’ Bujur Timur dan 60 41’ – 70 19’ Lintang Selatan. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Cianjur dan di bagian tengah terletak Kota Bandung dan Kota Cimahi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -1 . Kabupaten Bandung memiliki banyak sumber daya air.

64%. 29. 30. dibawah ini : Tabel 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • Kawasan pangan lahan basah seluas 34.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Bandung No 1. 31. 34. Kecamatan PADALARANG BATUJAJAR CIPATAT NGAMPRAH CILEUNYI CIMENYAN CILENGKRANG BOJONGSOANG MARGAHAYU MARGAASIH KATAPANG DAYEUKOLOT BANJARAN PAMEUNGPEUK PANGALENGAN ARJASARI CIMAUNG CILILIN SINDANGKERTA CIPONGKOR GUNUNGHALU RONGGA CIKALONGWETAN CIPEUDEUY CICALENGKA NAGREG CIKANCUNG RANCAEKEK CIPARAY PACET KERTASARI BALEENDAH MAJALAYA SOLOKAN JERUK PASEH Desa 10 13 12 11 6 7 6 6 5 6 10 5 11 6 13 11 9 11 11 14 9 8 13 12 12 6 9 13 14 13 7 3 11 7 12 Kelurahan 2 1 1 5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -2 . 14. 13.1. 21. 9. LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2. 5. 26. 32. 2.431 jiwa dan Laju Pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 3. 16. 10.229. Kawasan peternakan seluas 274 Ha. 3. 22. 17. Kawasan perikanan seluas 39 Ha. 12. Dengan demikian. 15. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan. 23. Pada tahun 2005. 18 19 20. 8.10 % (Sumber data BPS 2005). 6.19 Ha.274. 33. 28. 35. Secara administrasi Kabupaten Bandung terbagi atas 45 Kecamatan. jumlah penduduk Kabupaten Bandung 4. 24. dan 431 Desa.384 Ha. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seluas 19.906 Ha. Kawasan pangan lahan kering seluas 76. 25. lihat tabel 2. 4. 7. 9 Kelurahan. 11. 27.

45. 37. 40. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -3 . 39. 44. Kecamatan IBUN SOREANG PASIRJAMBU CIWIDEY RANCABALI LEMBANG CISARUA PARONGPONG CANGKUANG CIHAMPELAS Jumlah Desa 12 18 10 7 5 16 8 7 7 10 431 Kelurahan 9 Sumber : Bagian Pemerintahan Umum Sekda Kab. 41. 42. 38.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No 36. 43.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Gambar 2.1 Peta Administrasi BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -4 .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Bandung diantaranya gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan seperti longsoran tanah/batu, longsoran sampah, banjir, penurunan muka air tanah dan kebakaran. Peta sebaran kebencanaan dapat dilihat pada peta 2.3 Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana alam dan bencana adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan masih minimnya peralatan penanggulangan bencana alam dan bencana yang dimiliki. Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan potensi aspek fisik dasar Kabupaten Bandung : 1. Cakupan luas wilayah yang cukup besar 307.371 Ha memiliki potensi ketersediaan lahan dan daya dukung lahan yang luas 2. Memiliki daerah administrasi pemerintahan yang relatif banyak ( 431 desa, 9 kelurahahan dan 45 kecamatan 3. Banyak sumber daya air, baik air tanah maupun air permukaan. 4. Luasnya kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Bandung seluas 54.170 Ha sebagai pemasok air, wilayah konservasi, sumberdaya hutan, wisata konservasi dan lain-lain.

Permasalahan : o Terdapat rencana pemekaran Kabupaten Bandung Barat o Terdapatnya kemungkinan bencana gempa bumi (gempa tektonik), gerakan tanah (longsoran, amblesan), erosi, banjir, dan letusan gunungapi. o Penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Luas kawasan rawan banjir di Cekungan Bandung 14.480 ha Lokasi Banjir : Sapan, Andir, Rancaekek, Majalaya, Buah Batu, Ujungberung, Ciparay, Pameungpeuk, Manggahang, Baleendah, Dayeuhkolot

Gambar 2.2 Peta Daerah Rawan Banjir

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -6

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Gambar 2.3 Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Bandung

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -7

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

2.2.

Perekonomian Daerah Salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembangunan

adalah melalui pengukuran pencapaian indikator makro ekonomi yang masing-masing indikatornya terdiri dari beberapa macam komponen. Pencapaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung akan dibahas pada uraian berikut. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp. 26,957 triliun yang mengalami peningkatan sebesar 13,09% jika dibandingkan PDRB tahun sebelumnya sebesar Rp. 23,836 triliun. Nilai PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
PDRB KABUPATEN BANDUNG TAHUN 19952004 MENURUT HARGA BERLAKU
30,000,000 25,000,000 JUMLAH (Juta Rp) 20,000,000 15,000,000 10,000,000 5,000,000 0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 TAHUN

Gambar 2.4 Secara lengkap nilai PDRB, kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Tiga sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar Rp. 14,37 triliun (53,33%), sektor Perdagangan, Hotel dan restoran sebesar Rp. 4,74 triliun (17,57%) dan sektor sektor Pertanian Rp. 2,53 triliun (9,42%). Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah digambarkan oleh besarnya kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB Kabupaten Bandung tahun 2004 atas dasar harga konstan adalah Rp. 7,108 triliun dan pada

tahun 2003 tercatat sebesar Rp. 6,755 triliun, dengan demikian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah sebesar 5,23%. LPE Kabupaten

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

II -8

000.000.000.000 7.000 6.98%.000. PDRB KAB.000 3.000 0 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 JUMLAH (Juta Rp) TAHUN Gambar 2.000.000.000 2. Nilai PDRB Kabupaten Bandung tahun 1995 hingga tahun 2004 berdasarkan harga konstan dapat dilihat pada Gambar 2.000 8.000 4. BANDUNG TAHUN 1995-2004 MENURUT HARGA KONSTAN 9.000.5.000.000 5.5 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -9 .000.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bandung ini masih lebih besar jika dibandingkan dengan LPE Jawa Barat tahun 2004 yaitu sebesar 4.000 1.

82 677.00 0.2.82 287.483. Hiburan dan Rekreasi B.150.55 330.609.873.978.690.88 92.50 373.31 740.41 104.63 820.313.91 949.232.849.51 632.24 430.232.00 44.41 123.11 0.211.128.510.68 9.919.628.955.15 99.50 725.245.889.128.30 1. Angkutan Laut A.351.34 855.47 254.66 1.31 0.128.20 7.83 56.535.399.10 291.31 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 1.701.483.91 831.244.00 9.766.56 276.175.15 0.82 43.21 279.15 1.647.399.00 12.83 39.486.05 582.937.227.91 0.00 4.971.274.83 9.25 2.213.842.21 4.955.742.00 64.69 0.21 8.076.034.266.00 72.38 67.60 939.69 402.970.57 0.229.990.23 589.72 201.34 3.65 600.5.21 0.442.533.780.41 190.79 44.70 918.00 25.31 80.00 60.942.58 0.00 0.088.93 4.00 0.81 11.82 547.465.176. Perikanan 2.277.00 11.375.81 512.46 854. JASA-JASA A. Sewa Bangunan D.41 288.736.856. Hotel C.80 2.567.01 0.258. PERTANIAN A.416.50 0.59 62.211.43 10.450.543.00 4.70 0.00 11.714.101.98 427.79 18.118.15 707.040.802.33 594.3.230.792.12 363.931.12 0.00 3.44 171.00 21.96 794.00 83.524.65 553.433.65 376.698.289.593.668.63 1.01 612.58 86.87 20.00 10.012.00 13.05 109.52 847.00 49.390.18 12.18 1.852.990.411.396.270.215.028.102.81 516.400.182.00 14.656.590.847.01 107.64 231.701.25 22.43 68.56 11.190.310.89 1.44 27.06 37.00 18.423.292.86 406.797.273.00 0.69 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 2.309.29 634.64 41.23 326.376.264.274.86 7.81 124.279.71 1.01 173.539.57 17.02 260.442. Peternakan D.00 46.244.225.937.025.625.31 227.53 290.907.69 945.83 107.808.44 598.44 5.641.00 10.440.60 0. Gas C.301.00 40.60 1.89 1.453.175.76 26.957. Perkebunan C.00 4.810.647.292.94 484.244.00 42.96 450.520.547.51 56.125.00 3.288.64 634.344.00 87.870.064.11 39.074.46 303.777.305.30 0.00 0.570.896.332.087.93 341.62 6.860.415.865.155.489.05 371.72 64.52 540.776. Komunikasi 8.236. Industri Tanpa Migas 4.239.58 916.059.53 384.80 9.058.20 556.80 13.071.00 0.24 29.72 9.76 3.24 35.73 121.633.67 261.612.00 0.114.08 0.091.718.347.698.250.844.933.492.483.609.690.00 0.76 1.79 9.058.343.11 1.59 14.143.262.07 906.46 10.10 390.33 307.83 196.10 100.57 113.38 56.79 4.11 563.86 51.991.29 10.40 262.295.669.37 23.552.95 376.383.348.59 17.04 129.262.27 325.63 231.302.48 730.10 2. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.524.87 0.00 0.598.75 677.548.59 523.00 8.413.00 0.388.229.00 132.032.94 249.234.388.552.89 1.680.82 493.00 9.424.27 57.597.688.684.65 49.26 0.15 4.00 5.829.395.17 0.878.663. KEUANGAN.448.28 920. Angkutan Udara A.68 8.36 700.66 157.70 270.303.09 1.19 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 2.872.45 646.501.339.98 5.577.871.845.348.47 0.365.56 12.44 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 1. Pertambangan tanpa Gas C.98 3.28 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 1.84 658.572.074.132.411.25 0.03 3.46 75. Listrik B.510.053.20 461.39 150.00 0.348.069.74 152.746.02 183.119.00 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -10 .355.38 1.240.174.603.208.15 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 1.19 72.59 728.92 0.00 98.27 566.21 370.31 0.29 451.555.430.347.00 0.587.53 354.15 5.86 6.97 2.588.110.921.965.46 25. Pegangkutan A. Kehutanan E. PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.84 368.85 700.477.212.705.450.390.252.459.075.12 0.89 283.660.33 9.26 307.44 925.904.669.842.89 1.86 3.82 0.94 630.111.984.63 287.499. Air Bersih 5.191.563.75 61.196.836. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.373.131.968.057.30 0.894.42 247.91 43.62 10.263.98 0.735.690.74 144.77 72.32 7.74 156.245.411.16 629.469.887.178.208.60 0.972.33 0.00 0. Sosial Kemasyarakatan B.650.21 321.173.971.395.900.64 6.623.94 339.22 0.05 203.00 6.497.92 671.72 9.34 15.269.18 0.405.227.489.65 345.43 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 1.744.00 0.996.29 5.523.115.00 5.566.658.46 164.84 204.882.92 76.184.786.222.64 444.174.59 4.703.30 1.05 65.44 5.599.98 144.55 0.56 8.820.00 0.34 1.76 2. HOTEL DAN RESTORAN A.563.22 3.33 332.00 0.305.64 620.55 803.951.341.46 709.920. Restoran 7.790.02 128.226.007.216.4.00 57.00 502.665.968.422.05 516.590.320.511.393.801.727.29 0.38 791.668.00 0.00 11.25 4.808. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.679.60 11.422.839.81 749.254.34 1. Jasa Perusahaan 9. Pemerintahan B.01 521.045.017.414.510.022.11 122.98 304.66 1.243.687.74 156.435. Angkutan Rel A.92 641.59 794. Tanaman Bahan Makanan B.21 643.044.83 687.900.409.296.710.419.56 3.29 21.625.007. Perdagangan Besar dan Eceran B.91 48.105.01 264.065.943.83 0.00 5.47 382.753.49 0.571.56 894.087.087.23 109.391.497.472.00 35.95 1.516.214.838.32 14.54 609.398.881.81 2.50 233.659.58 452.63 65.353.675.03 165.086.718.357. Penggalian 3.807.540. LISTRIK GAS DAN AIR A.305.1.876.93 336.041.96 531.71 0.044.187.942.10 76.84 136.39 82.864.00 12.821.34 410.3.46 0.73 167.454.269.097.246. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1995 (Juta Rupiah) 989.28 1.32 3.03 1.75 93.30 172.37 10.76 0.07 4. Angkutan Sungai A.573.430.00 14.085.177.738.899.573.822.00 5.291.43 383. INDUSTRI PENGOLAHAN A.744.27 44.240.604.969.46 2.781.917.328.040.242.70 918.32 14.489.220.083. Industri Migas B.00 0.23 16.270.596.449.570.08 586.078.27 16.21 901.94 18. Jasa Penunjang Angkutan B.69 8.259.233.00 0.52 21.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.186.1.453.137.014.31 77. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.25 0.14 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 2.54 19.337.131.228.553.498.52 449.96 289.435.328.15 8.66 262. Bank B.376.358.789.064.00 10.20 1.648.189.838.988.47 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 1.6.698.375.35 4.43 0.2.523.257.380.70 332.071.081.19 516.562.321.00 114.00 5.289.62 274.06 342.06 6.174.54 0.627.36 98.66 11.17 17.637.160.261.56 364.98 3.49 24.91 331.00 36.458.40 47. Swasta B.441.075.782.00 71.37 19.452.72 5.13 394.186.723.652.00 0. Minyak dan Gas Bumi B.510. PERDAGANGAN.06 524.31 305.264.637.08 573.958.21 193.2 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha 1.51 158.581.998.592.669.62 33. Angkutan Jalan Raya A.718.89 431.621.051.191.

maka sektor Keuangan yang terdiri dari kegiatan perbankan (simpanan. 2004 Tingkat inflasi Kabupaten Bandung secara makro pada tahun 2004 mencapai 7. kontribusi per sektor dan laju pertumbuhan tahun 1995 dan 2004 atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 2.2. Gas dan Air Bangunan/Konstruksi Perdagangan.23 7.17 10. transfer. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Rata-rata 2003 (%) 3.17 8.64 6.11 7. Secara lengkap nilai PDRB.47% dan angka tersebut relatif lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2003 dengan inflasi 6.48 2004 (%) 6. Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2004 memiliki tingkat inflasi terkecil dibandingkan sektor lainnya. koperasi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -11 . Mengingat perannya yang strategis dan dengan tingkat inflasi yang relatif kecil. pegadaian).39%.58% dan sektor Pengangkutan & Komunikasi 6.37 6.47 Sumber : BPS Kabupaten Bandung.46 6. jual beli surat berharga dll).7%.31 7.74%.27 10.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan harga konstan.70 8. Tingkat inflasi terbesar disumbang oleh kelompok bangunan/konstruksi sebesar 10.70 12. Tingginya LPE yang dicapai sektor-sektor tersebut terkait erat dengan tingkat inflasi/kenaikan harga yang dialami. Secara lengkap tingkat inflasi per lapangan usaha adalah sebagai berikut : Tabel 2.97 8.87 10.55 10. lembaga keuangan bukan bank (asuransi. sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 adalah sektor Keuangan.44 7. Inflasi sektor Keuangan.56 3. jasa hukum dan jasa konsultan) tersebut dapat meningkatkan produksi secara optimal. Hotel dan Restaurant Pengangkutan & Komunikasi Keuangan.48%. sewa bangunan dan jasa perusahaan (al. pinjaman.60 5.55%.4 Tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung 2003 –2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 LAPANGAN USAHA Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. disusul sektor Pertambangan dan Penggalian 7. sedangkan inflasi terkecil dialami sektor keuangan sebesar 3.69 5. Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 12.

918.43 4.428.00 3.90 342.797.00 53.11 237.22 0.56 28.743.72 185.894.73 Tahun 2003 (Juta Rupiah) 743.941.21 180.50 0.768. Perikanan 2.77 0.35 6.057.78 5.919.188.93 115.75 171.00 27.08 263.542.582.626. HOTEL DAN RESTORAN A.39 130.55 127.955.87 143.00 4.449.300.409.61 Tahun 2002 (Juta Rupiah) 725.23 3.10 0.49 223.63 253.443.941.87 120.300.92 Tahun 2001 (Juta Rupiah) 696.32 45.37 31.110.00 0.07 1.884.588.00 3.785.38 986.160.35 51.86 2.24 230.810.76 28.75 3.02 336.25 8.255.54 491.00 29. Air Bersih 5.90 101.668.00 3. Hiburan dan Rekreasi B.29 53.121.008.020.95 3.80 302.100.10 1.57 211.03 226.199.709.74 193.119.148.39 251.00 0.026.02 126.33 69.868.73 2.96 58.125.834.687.659.86 181.19 5.148.262.31 6.142. PERTANIAN A.84 25.28 116.607.490.518.738.837. INDUSTRI PENGOLAHAN A.242.25 170.12 481.312.236.223. Sosial Kemasyarakatan B.577.81 237.00 4.00 3.29 40.954.491.71 Tahun 1997 (Juta Rupiah) 753.742.564.501.16 225.902.687.44 387.00 243.72 723.806.592.370.05 259.418.553.980.67 2.89 325. Pertambangan tanpa Gas C.375.90 321. Industri Tanpa Migas 4.954. Perkebunan C.07 55.11 256.037.61 42.32 229.34 53.164.845.596.00 22.74 24.956.25 2.48 0.942.54 220.53 3.058.579.99 35.90 3.90 2.59 781. Penggalian 3.58 294.30 186. Swasta B.43 1.00 0.306.19 45.141.852.837.051.164. Sewa Bangunan D.132.06 55.00 18.787.530.78 197.66 0.01 Tahun 1996 (Juta Rupiah) 864.016. Listrik B. Lembaga Keuangan Bukan Bank C.564.546.632.588.232.51 353.438.272.95 233.49 0.68 955.91 463.23 362.10 Tahun 1999 (Juta Rupiah) 690.96 452.873.119.696.00 0.44 300.1.381.217.73 330.141.72 24.963.345.913.41 133.74 25.141.10 128.294.87 50.00 36.52 75.00 53.00 3.94 309.021.00 24.666. Hotel C.21 230.12 224.560.08 273.91 254.35 0.990.261.755.14 64.42 3.58 6.411. Pemerintahan B.71 301.3 PDRB Kabupaten Bandung Menurut Kelompok Sektor Tahun 1995-2004 Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 1.72 123.05 0.63 323.195.523.780.750.00 19.265. Pegangkutan A.29 998.00 0.73 578.491.956.197.00 3.016.97 219.825.23 4.063.722. Tanaman Bahan Makanan B.580.53 731.65 3.587.28 304.54 2.308.32 0.018.11 537.245.64 30.903.28 0.71 2.00 4.00 20. Perorangan dan Rumah Tangga PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1995 (Juta Rupiah) 874.693.647.337. Jasa Penunjang Angkutan B.455. BANGUNAN DAN KONSTRUKSI 6.030.21 4.375.41 0.093.483.00 324.281.1.610.251.46 6.77 377.52 4.034.710.88 246.20 448.578.73 56.307.465.299.79 172.33 2.09 240.24 271.762.629.82 372.958.350.43 190.24 472.00 0.38 0.262.289.00 26.558.444.791. Perdagangan Besar dan Eceran B.64 238.16 385.812.567.53 3.12 7.453.37 316.16 330.540.79 94.06 0.765.825.00 28.49 0.43 103.994.693.98 7.00 16.251.00 0.63 237.800.586.795.430.73 104.561.596.00 30.631.57 769.471.965.319.97 289.536.32 32.84 304.27 39.500.69 133.828.50 254.06 556.365.05 0.564.00 0. Angkutan Sungai A.75 162.556.14 97.04 165.806.07 2.00 3.09 51.879.66 61.938.53 234.26 296.412.00 4.085.815.273.234.00 3.374.463.199.56 524.16 655.960.075.97 0.67 456.00 0. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN A.00 0.777.762.00 29.3.894.73 54.46 6.97 243.037.796.06 23. Industri Migas B.14 0.34 188.31 59.254.963.465.90 34.993.73 30.02 4.771.35 803.71 5.86 0.015.755.00 0.33 25.900.77 0.99 7.73 0.950.251.00 20.795.87 96.295.57 6.93 245.432.647.087.307.017.230.496.25 36.56 27.861.80 65.570.682.686.62 274. LISTRIK GAS DAN AIR A.491.454.390.72 33.5.93 358.442.825.53 219.108.32 276.864.16 510.922.21 0.16 203.34 0.86 132.91 935.541.12 237.062.00 4.14 6.425.05 150.021.772.534.82 686.092.168.99 39. Angkutan Laut A.59 398.00 16.04 64.38 37.90 7.22 233.00 19.583.388.670.637.44 5.3.79 0.98 217.50 37.86 251.74 32.996.652.833.09 125.79 0.038.91 247.34 3.43 121.405.92 Tahun 1998 (Juta Rupiah) 671.41 134.260.457.658.647.75 4.67 419.379.4.612.491.638.04 6.23 111.594.500.371.34 158.883.444.53 52.779.19 5.311. Kehutanan E.602. Angkutan Rel A.69 493.33 8.310.40 241.127.443.41 278.66 259.586.830.61 0.521.837.361.00 0.687.49 0.00 0.00 31.745.20 244.56 234.48 896.00 0.090.553.270.54 26.00 3.16 2.325.00 33.02 765.66 204.59 31.328.07 0. Gas C.634.328. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI A.47 0.577.02 2.92 940.299.82 127.233.47 3.460.079.564.060.95 1.51 3.00 3.647.14 3.217.00 0.48 962.51 244.92 0.95 Tahun 2004 (Juta Rupiah) 791.93 240.57 767.370.012.23 1.876.438. Peternakan D.97 91.48 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -12 . PERTAMBANGAN DAN GALIAN A.656.785.00 6.62 361.622.76 0.836. JASA-JASA A.51 5.20 Tahun 2000 (Juta Rupiah) 703.829.66 0.563.40 6.17 0.752.513.903.303.73 0.771.045.49 69.839.708.33 6.53 0.99 7.607.010.738.21 7.55 9.352.03 735.00 3.6.386.095. Komunikasi 8.716.663.65 263.209.985.11 234.00 0.11 169.04 453.051.299.2.93 0.725.327.083.263.53 50.64 35. Angkutan Jalan Raya A.221.00 26.65 343.29 188.536.019.440.020.52 492. Angkutan Udara A.491. PERDAGANGAN.049.05 306.00 0.00 0.597.190.267.90 261.90 8. Restoran 7. KEUANGAN.306.478.00 0.180.482.15 688.95 479.429.596.80 5.09 0.07 346.378.28 0.13 21.85 3.766.345.801.20 2.2.76 328.907.71 450.75 4.34 2.644.38 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.620.372.098.172.01 1.13 61.687.84 293.340.015.39 24.520.548.96 596.465.95 248.73 325.332.561.48 36.500.89 149.20 54.460. Bank B.797.58 32.95 260.00 33.821.67 0.777.00 30.342.312.518.00 0.23 24.84 129.572.95 0.175.96 7.01 2.828.174.61 42.00 3.645.96 34.066.11 215.105.772.530.633.592.064.46 6.603.28 119.335.980.58 474.10 464.00 3. Minyak dan Gas Bumi B.49 194.282.52 262.900.520.78 54.464.00 3.07 134.209.96 5.188.32 1.199.122.61 334. Jasa Perusahaan 9.72 4.37 114.65 8.86 189.00 4.607.650.98 3.310.862.97 4.302.08 101.766.519.830.02 210.56 196.593.59 242.89 30.87 472.116.248.

Permasalahan yang dihadapi di sub fungsi perdagangan antara lain adalah : • Belum optimalnya penataan sarana dan prasarana perdagangan yang disebabkan karena sulitnya melakukan relokasi sarana prasarana perdagangan yang sudah eksis.dan Rp. Apabila dihitung dengan menggunakan harga konstan 1993.714.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.316.1.6% jika dibandingkan PDRB per kapita tahun 2003 sebesar Rp. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi perdagangan dari Tahun 2001 – 2004 secara kuantitatif adalah sebanyak 16 pasar.930.00 atau hanya meningkat 2%. Pada tahun 2001 telah dilaksanakan kegiatan penataan sarana pasar/renovasi sebanyak 6 pasar.431 dan meningkat sebesar 9. PDRB per kapita masyarakat Kabupaten Bandung atas dasar harga berlaku 2004 adalah sebesar Rp. Hal ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kabupaten Bandung pada tahun 2004 berdasarkan harga konstan hanya meningkat sebesar 2%. tahun 2002 sebanyak 7 pasar (penambahan 1 pasar). Namun demikian. tahun 2003 sebanyak 14 pasar (penambahan 7 pasar) dan 16 pasar pada tahun 2004 (penambahan 2 pasar). dan tipe C sebanyak 7 pasar serta pasar desa sebanyak 41 buah pasar.146. Sedangkan pada tahun 2003 dan 2004 telah dilaksanakan penyelesaian masalah tanah Pasar Baleendah. Jika dibandingkan dengan angka inflasi sebesar 7.2. PDRB per kapita Kabupaten Bandung tahun 2004 dan 2003 masing-masing sebesar Rp. 6.-.681. 2.578. bila diteliti lebih lanjut ternyata peningkatan pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku tidak menggambarkan peningkatan secara riil tetapi lebih disebabkan karena adanya pengaruh kenaikan harga/inflasi.536.47% terlihat bahwa kemakmuran masyarakat sebenarnya belum mengalami kenaikan yang cukup berarti.1 Sub Fungsi Perdagangan. • Sulitnya mempertemukan aspirasi pedagang dan investor.1.. Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung memiliki potensi di sub fungsi Perdagangan yaitu berupa pasar Kabupaten sebanyak 22 buah pasar terdiri dari tipe A sebanyak 8 pasar. tipe B sebanyak 7 pasar. Program-program yang dilaksanakan dalam mendukung sub fungsi ini adalah program Penataan Sarana Pasar/Renovasi dan Pembinaan SDM pengelola pasar. 5. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -13 . Pengembangan Usaha.

500. jumlah asset Rp. 24 Tahun 2001 tentang Retribusi Perijinan Penyelenggaraan Koperasi dari target Rp. dan bimbingan kepada 174 UKM. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM.000.257. penilaian klasifikasi koperasi. Koperasi Simpan Pinjam 13 unit.selain itu dapat dilihat dari berdirinya koperasi baru.29. jumlah anggota. 799. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 188 koperasi sehat.yang diserap oleh 9 unit koperasi dan 57 unit PK. Koperasi Pondok Pesantren 148 unit.9 milyar. volume usaha. penilaian kesehatan KSP/USP 185 koperasi sehat. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 222 koperasi sehat. Potensi yang dimiliki pada sub fungsi Koperasi dan UKM terlihat dari Banyaknya jumlah koperasi.. jumlah modal.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Sulitnya melaksanakan penegakan hukum.671 unit Koperasi (unit yang aktif sebanyak 1. bimbingan kepada 150 UKM.976. jumlah modal Rp.466 unit dan yang tidak aktif 205 unit).27. Koperasi Produksi 188 unit. asset koperasi.000. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP.1. 464.000.. jasa 210 unit dan industri 2. penilaian klasifikasi 152 koperasi. Koperasi Unit Desa 46 unit. Jumlah anggota koperasi sebanyak 1. penilaian klasifikasi koperasi sebanyak 100 unit.000.414 unit dengan total jumlah tenaga kerja yang diserap 22.5 milyar dan pelaku UKM sejumlah 3.2 milyar. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus relokasi pasar Baleendah dan pasar Ciwidey. dan bimbingan kepada 63 UKM.550. volume usaha Rp. Selanjutnya pada tahun 2004 telah berdiri 71 koperasi baru. Jika dilihat dari jenis usahanya.000. Adapun keberhasilan lain terlihat dari program kemitraan dengan teraksesnya permodalan dari BUMN. hasil-hasil yang dicapai antara lain pelaksanaan Perda No.. pada tahun 2001 sebesar Rp. 553. Pada tahun 2001 telah berdiri 130 koperasi baru. Koperasi Pemasaran 63 unit. penilaian kesehatan dan pengawasan KSP/USP 250 koperasi sehat. Koperasi Jasa 18 unit.284 orang. dan jumlah UKM. terdiri dari koperasi konsumsi sebanyak 1. Pada tahun 2002 telah berdiri 67 koperasi baru.488 unit.yang BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -14 .025 unit. peningkatan klasifikasi 30 koperasi. Koperasi Baitul Mall-Wattanwil 38 unit dan Koperasi Pusat 4 unit.tercapai Rp. pada tahun 2002 sebesar Rp.. Pada tahun 2004 di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 1. dan bimbingan kepada 150 UKM. Pada tahun 2003 telah berdiri 47 koperasi baru. peningkatan klasifikasi 260 koperasi.050. UKM tersebut terdiri dari jenis usaha perdagangan 863 unit. Koperasi Serba Usaha 141 unit.452 orang.790.

422. ayam ras pedaging 4. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -15 . produksi peternakan dan perikanan. kolam air deras. Pada tahun 2004.031. sedangkan pada tahun 2004 sebesar Rp.586.583.000. kopi 540 ton dan tembakau 793 ton.680 ekor. Hasil-hasil yang telah dicapai sub fungsi Pertanian. Selain itu terdapat produksi daging baik dari ternak kecil dan besar sebanyak 31.032.102 ekor.061 ekor.221 ton. kakao 747 ton.050.973.986 kg serta ikan sebanyak 25. kubis 221. teh 58.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung diserap oleh 1 unit koperasi dan 182 unit PK. sawah.112.142.000.484.469 ton.yang diserap oleh 1 unit koperasi (KSP Sarwa Mukti Cisarua) sebesar Rp. ayam ras petelur 492. kuda 7.468 ekor.685 ton. kualitas produk. kambing 62.516 ton. Kabupaten Bandung merupakan salah satu kontributor yang cukup penting bagi pemenuhan konsumsi protein hewani di Jawa Barat. tercatat produksi sejumlah komoditi tanaman pangan dan hortikultura sayuran dan perkebunan adalah sebagai berikut : padi 655. Pada sub fungsi Koperasi dan UKM antara lain ditemukan permasalahan : • • Belum optimalnya peran koperasi sebagai sistem ekonomi masyarakat dan Masih rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah. tomat 91. domba 499. Rendahnya daya saing produk usaha kecil menengah dipengaruhi oleh faktor modal.118 kg dan susu 94. kentang 261.097. pada tahun 2003 sebesar Rp. bawang merah 40..000. Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi di Bidang Pertanian. ayam buras 4.000. Pada tahun 2004 tercatat populasi sapi perah sebanyak 44.388 ton.58. jagung 82.1.119 ton.1.dan dana lainnya terserap oleh 2 unit koperasi dan 7 unit PK. produksi telur 10.433 ton. Kehutanan dan Perikanan selama tahun 2001 s/d 2004 antara lain adalah meningkatnya produksi komoditi tanaman pangan dan hortikultura. sapi potong 7. inovasi.terserap oleh 6 unit PK.590. 2.500.2 Sub Fungsi Pertanian.050 ton. Pada sub fungsi Peternakan dan Perikanan. jaring apung dan perairan umum. ubi kayu 139. kelapa 1. cabe merah 18.2.411 ton.. ongkos produksi dan skala produksi.886 dan itik 509. kerbau 6. sedangkan belum optimalnya peran koperasi disebabkan karena terbatasnya modal yang dimiliki serta rendahnya kualitas SDM pengurus dan anggota koperasi.884 ton.86 ton yang berasal dari kolam.649 kg..500.000.

63 ha dengan jumlah 19.971 Ha.00 per bulan dengan luas lahan yang diupayakan berkisar antara 0.250 m3 dan kapur (batu gamping) di Kecamatan Padalarang dan Cipatat seluas 15 ha dengan jumlah 3. 2.500.000 m3 (DLH. Empat puluh persen petani berpendapatan di bawah Rp.723 ha.4 Sub Fungsi Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung memiliki aneka ragam potensi jenis pertambangan antara lain adalah batu andesit seluas 61. dari seluruh jaringan irigasi yang ditangani Kabupaten (seluas 19.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Permasalahan utama yang dihadapi dalam sub fungsi ini antara lain masih rendahnya tingkat pendapatan masyarakat petani. keterbatasan modal. potensi yang dimiliki adalah irigasi/pengairan teknis seluas 12. Batujajar. Cicalengka dan Baleendah dengan jumlah 40.150. Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung.487 ha. Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum.660 ha.690.000.5 Ha per KK.3 Sub Fungsi Pengairan Potensi Pengairan yang dimiliki Kabupaten Bandung sangat terkait erat dengan potensi di sektor Pertanian.725. pengairan setengah teknis 7.84 ha di Kecamatan Padalarang. batu marmer di Kecamatan Cipatat seluas 76.2. Rendahnya pendapatan petani tersebut dipengaruhi oleh faktor rendahnya nilai jual produk pertanian. pengairan sederhana 9. air tanah (air bawah tanah dan mata air). serta panas bumi (geothermal).069 ha) sekitar 45 % dalam kondisi rusak dan sampai tahun 2004 baru ditangani sebanyak 10 % dari jumlah jaringan yang rusak. pasir seluas 26 ha di Kecamatan Padalarang. Program yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 ditujukan untuk menurunkan jumlah angka pelanggaran dalam kegiatan usaha penambangan seperti kegiatan pemantauan dan pembinaan penambangan bahan galian Golongan C di Kecamatan Padalarang dan Cipatat pada tahun 2003.3 s/d 0. dan mineral emas (masih tahapan eksplorasi).253 ha dan tadah hujan 10. pengairan pedesaan 15. 2.000 m3. rendahnya kualitas hasil produksi pertanian dan tingginya ongkos produksi. Margaasih. 2004).2. sedangkan untuk memanfaatkan potensi pertambangan telah dilakukan upaya identifikasi data awal sebaran bahan galian golongan C di 19 Kecamatan yang dilaksanakan pada tahun 2001 – 2002 dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -16 . Cipatat dan Cikalongwetan dengan jumlah 3 juta m3. Cililin.

Patuha Cimanggu Ranca Walini Batununggal Kawah Putih Kawah Cibumi Kawah Ciwidey TOTAL 250 5. pada tahun 2003 terjadi 2 kasus longsor dan 4 kasus tanah longsor pada tahun 2004. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -17 .5. 2. Ibun Pangalengan Lembang Kamojang Wayang Windu Tangkuban Parahu Maribaya 140 110 75 100 73 135 227 250 300 460 100 25 25 25 25 4. dan 70% pengusaha penambangan belum mengelola K3 dan lingkungan dengan baik. Selain jenis bahan galian golongan C. baru dalam tahapan Eksplorasi dan potensi panas bumi (geothermal) yang sebarannya dan potensinya seperti terlihat di tabel 2.5 Jumlah Potensi Panas Bumi (MWe) di Kabupaten Bandung Sumberdaya Spekulatif Terduga Kapasitas Terpasang (MWe) Hipotetik Potensi Mungkin Terbukti Sub Total No Kecamatan Lapangan 1. Ciwidey 65 25 25 25 25 247 170 482 25 25 25 25 140 84 150 324 140 527 208 647 140 224 1856 Sumber: Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 Permasalahan yang dihadapi Pertambangan dan energi antara lain adalah masih adanya penambangan yang tidak mengikuti kaidah penambangan. Rajamandala G. Tabel 2. baik perusahaan maupun perorangan ditandai dengan pelaksanaan reklamasi yang masih di bawah 20%. Batujajar. 3. Akibatnya. Cipatat Saguling.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung inventarisasi semi mikro potensi bahan galian di Kabupaten Bandung yang akan dilaksanakan pada tahun 2005. dan awal tahun 2006 terjadi longsoran (tanah dan pasir tras) di lokasi penambangan yang mengakibat korban jiwa yang diakibatkan penambangan tidak sesuai dengan kaidah penambangan. di kabupaten bandung terdapat mineral emas yang tersebar di daerah Bandung Selatan ( dari Kecamatan Sindagkerta sampai ke kecamatan Pangalengan) yang besaran potensinya belum diketahui.

Sehingga terjadi keterlambatan dalam pembangunannya. pembinaan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -18 . pengambilan air tanah melalui sumur bor tersebut dari kedalaman 60 meter hingga 200 meter.897 unit usaha dan IA 5. beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain penyusunan informasi potensi industri. ILMK 6. Industri Logam Mesin dan Kimia (ILMK) 837 unit usaha dan Industri Aneka (IA) sebanyak 1. jamur dan lainnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Jumlah pengambilan air tanah untuk keperluan industri yang telah memiliki ijin sebanyak 673 buah sumur (Sumber DLH).609 unit usaha. Sedangkan pemanfaatan tidak langsung yaitu untuk Pembangkit Tenaga Listrik. penggunaan secara langsung baru dimanfaatkan untuk parawisata (pemandian air panas dan wisata alam). sehingga terjadi penurunan muka air tanah.924 unit usaha. Dalam rangka mendukung pengembangan sub fungsi Industri. 2. dan potensi yang terdapat di Kawasan Kamojang akan ada penambahan kapasitasnya direncanakan 60 MWe.834 unit usaha yang terdiri dari Kelompok Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) 695 unit usaha. dan kawasan G. dari Sub total potensi panas bumi 1856 MWe baru terpasang 250 MWe di Kawasan Kamojang dan Wayang-Windu. serta masih belum stabilnya harga jual listrik. Potensi panas bumi digunakan untuk pemanfaatan secara langsung dan tidak langsung. Patuha akan dibangun pembangkit tenaga listriknya yang direncanakan 300 MWe secara bertahap (sudah diakukan eksplorasi dan terdapat Sumur Bor panas bumi di kawasan ini).2.5 Sub Fungsi Industri dan Konstruksi Pada sub fungsi Industri terutama industri kecil dan menengah. Kabupaten Bandung memiliki potensi sebagai berikut : • Jumlah industri kecil yang dimiliki sampai dengan tahun 2004 adalah Industri Kecil Formal sebanyak 2. dan perlu dikembangkan untuk pemanfaatan secara langsung seperti untuk pengeringan teh. • Jumlah Industri Kecil Non Formal (sentra) sampai dengan tahun 2004 adalah 18. Permasalahan untuk pembangunan pembangkit tenaga panas bumi ini diperlukan investasi yang besar.302 unit usaha.430 unit usaha yang terdiri dari Kelompok IHPK 5. Permasalahan yang dihadapi dalam pengambilan dan pemanfaatan air tanah adalah belum terkendalinya pengambilan air tanah terutama untuk keperluan industri.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung industri kecil. dan masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal penguasaan teknologi. Ketidakmampuan dalam bersaing diantaranya disebabkan oleh akses permodalan yang terbatas. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah masih sulitnya industri kecil/ menengah untuk bersaing di dalam maupun luar negeri terutama dalam menghadapi pasar bebas karena belum memenuhi persyaratan mutu/kualitas produk yang diharapkan konsumen. jalan propinsi 202.297.88 km dengan kondisi rata-rata hanya sekitar 40% yang kondisinya baik. ongkos produksi yang tinggi.869. jalan kabupaten 1. 36 sentra pada tahun 2003 (penambahan 9 sentra) dan 44 sentra pada tahun 2004 (penambahan 8 sentra). mengikuti kegiatan pameran baik lingkup daerah maupun nasional. pengawasan standararisasi mutu. Potensi yang dimiliki sub fungsi Transportasi adalah panjang jalan yang terdapat di Kabupaten Bandung yaitu sepanjang 3. baik di wilayah perkotaan maupun di perdesaan maka peran sub fungsi Transportasi menjadi sangat penting. rendahnya inovasi produk. 440 pengusaha pada tahun 2002 (penambahan 220 pengusaha/ pengerajin).6 Sub Fungsi Transportasi Dalam menunjang kegiatan perekonomian. sampai dengan tahun 2005 ditargetkan hanya sekitar 73. Pembinaan sentra Industri Kecil dilaksanakan dari tahun 2001 s/d 2004 yaitu sebanyak 44 sentra (kuantitatif) yaitu sebanyak 16 sentra pada tahun 2001.86% dari total panjang jalan Kabupaten atau sekitar 958 km yang dapat ditangani dan masih ada beberapa jembatan dengan kondisi buruk. 480 pengusaha pada tahun 2003 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) dan 520 pada tahun 2004 (penambahan 40 pengusaha/pengerajin) serta penerapan GKM dari tahun 2001 s/d 2004 sebanyak 10 perusahaan.42 km dengan kondisi 100 % baik. dan jalan desa 1. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. peningkatan pengetahuan bagi pengusaha mengenai SNI/Gugus Kendali Mutu (GKM). Adapun jalan desa yang dibiayai dari Dana Bantuan Penyelenggaraan Pemerintah Desa BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -19 .2.455. manajemen atau wawasan bisnis.28 km terdiri dari jalan nasional 85. fasilitasi permodalan dengan pihak Perbankan. 27 sentra pada tahun 2002 (penambahan 11 sentra). 2. sedangkan peningkatan pengetahuan mengenai SNI selama Tahun 2001-2004 yaitu sebanyak 520 pengusaha/pengerajin (kuantitatif) yaitu pada tahun 2001 ditujukan untuk 220 pengusaha.6 km dengan kondisi 90 % baik.92 km dengan kondisi hanya sekitar 60 % baik.

termasuk R.Bupati. 2. Ciwidey. Sub fungsi Transportasi didukung oleh kegiatan Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas serta Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum.Wakil Bupati dan Setda dengan jumlah komputer yang terkoneksi mencapai 55 buah. program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalulintas telah menyediakan rambu sebanyak 923 unit.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung ditambah swadaya masyarakat belum cukup mampu meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik.7 Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika Pada Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Terbangunnya 24 sistem aplikasi sub SIMDA yang telah oprasional di 3 bagian (Setda).2. Selain itu. 2 kantor.2004. Cileunyi. permasalahan lainnya adalah penyebaran pembangunan infrastruktur yang belum merata dan masih rendahnya kualitas infrastruktur dasar wilayah. dalam rangka Pengembangan Sistem Pelayanan Angkutan Umum telah disusun buku Master Plan Jaringan Lalulintas Angkutan Barang dan jaringan trayek angkutan penumpang pada tahun 2003 dan direncanakan akan disusun perencanaan angkutan massal koridor Leuwipanjang. baik dari aspek pemanfaatannya oleh DIBALE maupun content/ isi dari sistem aplikasi tersebut. dan biaya penyediaan infrastruktur yang tinggi.000 m dan traffic cones sebanyak 510 buah yang dipasang di lokasi rawan kemacetan. Dalam kurun waktu 2001 . sedangkan rendahnya kualitas infrastruktur karena belum optimalnya pengelolaan infrastruktur dan belum lengkapnya ketentuan teknis pembangunan infrastruktur. ini hasil-hasil yang telah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -20 . dan Rancaekek pada tahun 2005. minimnya minat investor. R. Selain permasalahan di atas. dan 10 dinas • Unit kerja yang telah terkoneksi ke dalam jaringan internet SIMDA Kabupaten Bandung terdiri dari 21 unit kerja. marka 7. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Telekomunikasi dan Informatika adalah : • Belum optimalnya sistem aplikasi Sub SIMDA yang telah terbangun. Dalam pelaksanaannya. Belum meratanya penyebaran pembangunan infrastruktur disebabkan karena inkonsistensi pemerintah dalam pengembangan wilayah. 3 badan.

58% penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) dan 80. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -21 .556 jiwa dan perempuan 2.967 jiwa terdiri dari laki-laki 2.145. hal tersebut dibuktikan dengan seringnya terjadi troubel/ kendala konektifitas yang disebabkan karena adanya perangkat jaringan yang hilang ( ruangan tidak dilengkapi sistem keamanan yang memadai ) ataupun terjadinya “ croded “ karena tidak tersedianya perangkat server yang memadai. sehingga berdampak pada ketidak kontinu-an dalam proses entry.369.2. baik yang tersedia di Dibale maupun yang ada di KPDE sebagai intitusi pengelolanya.586 orang atau 3. jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut bisa menjadi satu potensi.582 jiwa. dan 390. hal tersebut lebih disebabkan karena kesulitan untuk mendapatkan data aktual dari Dibale dan keterbatasan SDM KPDE yang menguasai teknis pengentryan ke sistem apikasi web itu sendiri. 2.087. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 3.833 pada tahun 2002.93% penduduk tua (umur 65 tahun ke atas).156 orang. Jika dikaitkan dengan sub fungsi Tenaga Kerja. jumlah penganggur tahun 2001 tercatat sebanyak 376.49% penduduk usia muda (umur 0-14 tahun). Namun demikian bisa pula menjadi permasalahan bilamana penduduk usia produktif tersebut tidak terserap oleh pasar kerja. up date datanya • Masih terbatasnya sarana prasarana infrastruktur jaringan ( N/W ) sebagai pendukung operasionalsasi sistem-sistem sub SIMDA.8 Sub Fungsi Tenaga Kerja Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) paling besar di Propinsi Jawa Barat.058. Apabila dilihat dari kelompok umurnya. penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 tersebut terdiri dari 637. 1. jumlah penduduk Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Belum berfungsinya situs web Kab.112 orang atau 65.858 orang atau 30. Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.Bandung sebagai media informasi dan komunikasi baik bagi kepentingan internal maupun publik.411 jiwa. Berdasarkan hasil Suseda 2004.19% jika dibandingkan tahun 2003 yaitu sebanyak 4.107.026 pada tahun 2003. meningkat menjadi 383. dll.

Penurunan tersebut antara lain disebabkan karena meningkatnya kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan Hak dan Kewajiban yang telah dilaksanakan selama tahun 2001 s/d 2004 untuk masing-masing 280 perusahaan. 580 orang pada tahun 2002. sedangkan melalui pelatihan tenaga kerja adalah 165 orang pada tahun 2001. tahun 2002 sebanyak 1. 10 kasus pada tahun 2003 dan selanjutnya menurun menjadi hanya 8 kasus pada tahun 2004.358 orang pada tahun 2003. Selanjutnya pada kasus-kasus ketenagakerjaan telah terjadi penurunan yang tercatat sebagai berikut yaitu 48 kasus ketenagakerjaan pada tahun 2001 menjadi 23 kasus pada tahun 2002.965 orang.500 orang sehingga pada tahun 2005 masih tersisa 4500 orang yang belum mendapat tempat di lapangan kerja dengan Target Renstra 2001 – 2005 (Disnaker.686 orang dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -22 . Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui pembentukan usaha mandiri tercatat perkembangan sebagai berikut : pada tahun 2001 dilakukan untuk 1. mengurangi kasus ketenagakerjaan serta meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja melalui penyuluhan tentang Hak dan Kewajiban. Dengan demikian masih tersisa sebanyak 100 perusahaan yang belum mendapat penyuluhan. 236 orang pada tahun 2003 dan 277 orang pada tahun 2004. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berkaitan dengan tersebut. Peningkatan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal dan keluar negeri pada tahun 2001 tercatat sebanyak 1.532 orang. Permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi dalam sub fungsi Tenaga Kerja antara lain adalah masih tingginya jumlah pengangguran.07 % dalam upaya peningkatan kesejateraan pekerja.311 orang. pembentukan usaha mandiri dan pelatihan kerja. tahun 2003 sebanyak 1. 154 orang pada tahun 2003 dan 65 orang pada tahun 2004. 2004). Disamping itu masih rendah perlindungan tenaga kerja melalui kepastian jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) serta masih minimnya lembaga sebagai sarana hubungan industrial baru mencapai 29. masih kurangnya tingkat keterampilan/keahlian pencari kerja dan belum baiknya sistem informasi pasar kerja yang ada. sub fungsi Tenaga Kerja selama tahun 2001 s/d 2004 telah melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penempatan tenaga kerja pada sektor formal lokal dan ke luar negeri.

perlu ditunjang oleh program pengembangan listrik pedesaan.977 orang. dan pada tahun 2004 tercatat sebanyak 1. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan listrik pedesaan antara lain adalah masih terbatasnya jaringan distribusi PLN. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Kabupaten bandung yaitu 2 hari yang merupakan tingkat hunian yang cukup singkat jika dibandingkan dengan lama tinggal wisatawan di Kota Bandung.2. Sampai dengan tahun 2004 telah terpasang sambungan listrik pedesaan sebanyak 1.844 KK yang belum mendapat sambungan listrik. Selain itu. Walaupun terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung namun ternyata Kabupaten Bandung hanya mampu menyerap sekitar 6% dari total kunjungan wisatawan ke Jawa Barat.539. di zone Bandung Selatan 29 obyek di 7 Kecamatan. 2. vila dan penginapan serta Restoran dan Rumah Makan. Selain itu. kurangnya subsidi pemerintah dan belum adanya alternatif penyediaan energi di desa. peninggalan sejarah lainnya dan beragam jenis kesenian.899 KK dari 167. yang 40 diantaranya terdapat di daerah Bandung Utara (Lembang).751. monumen bersejarah di 5 lokasi.9 Sub Fungsi Ekonomi Lainnya Dalam rangka pengembangan ekonomi di wilayah pedesaan.1 Pengembangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bandung memiliki potensi budaya dan pariwisata antara lain adalah 61 buah obyek wisata yang tersebar di zone Bandung Utara sebanyak 12 obyek di 4 Kecamatan .769 orang atau terdapat peningkatan sebesar 13. monumen di 17 lokasi. terdapat juga potensi kebudayaan berupa 2 buah rumah adat Sunda. zone Bandung Barat 15 objek di 8 Kecamatan dan di Bandung Timur 4 obyek di 5 Kecamatan.3 Fungsi Pariwisata dan Budaya 2. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -23 . Rendahnya daya tarik obyek wisata dipengaruhi oleh faktor sarana prasarana yang belum memadai. Jumlah wisatawan pada tahun 2003 tercatat sebanyak 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.75%. kemasan paket wisata yang kurang menarik dan manajemen pariwisata yang belum optimal. Permasalahan masih rendahnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik antara lain disebabkan oleh faktor rendahnya daya tarik obyek wisata dan kurangnya promosi.3. situs budaya dan sejarah di 17 lokasi. untuk menunjang kepariwisataan terdapat pula hotel.

2. kegiatan pemuda pelopor. SMA/SMK masing-masing jenjang terdiri dari tiga peringkat.3. SMP. RSPD dan lembaga penyiaran serta pemberdayaan dan pelatihan forum komunikasi daerah. SMA / SMK.3. penyelenggaraan pemuda produktif. Pembinaan Generasi muda Pembinaan Generasi muda dilaksanakan melalui kegiatan Pasukan Pengibar Bendera (Paskribra). Peningkatan dan pelayanan arus informasi dilaksanakan antara lain dengan cara penerbitan Tabloid Gema Kertaraharja. penyelenggaraan aubade. Pemberdayaan dan Pelayanan Pers. Sosialisasi dan Informasi Hasil-hasil Pembangunan. 2. Peningkatan Kerjasama Kemitraan dengan Instansi/Forum Komunikasi Sentral Masyarakat Pers dan Program Pelayanan Informasi. Penyusunan Basis Data Pembangunan. Buletin Pemerintah Daerah. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 / 2003 / 2004 penyelenggaraan seleksi Pasukan Pendera Pengibar (Paskibra) sebanyak 34 orang. Sub Fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran Dalam mendukung sub fungsi Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan antara lain program Peningkatan Arus Informasi. Tahun 2004 kegiatan pemuda pelopor Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan generasi muda adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penduduk. penyelenggaraan upacara bendera. kegiatan pemuda produktif sebanyak 25 orang • • Tahun 2003 kegiatan penanggulangan narkoba bagi pelajar SD. SD.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. penyelenggaraan lomba tata upacara bendera. Pameran Pembangunan.3. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -24 . sedangkan Pembinaan Penerbitan dan Penyiaran dilaksanakan dengan pemberdayaan media elektronik. SMP. Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga A.

penyelenggaraan Pekan Olahraga SD. Pembinaan Olahraga Pembinaan olahraga dilaksanakan melalui kegiatan Pembinaan olahraga pelajar dan pembinaan olahraga masyarakat yang meliputi pengadaan sarana dan prasarana olahraga. penyelenggaraan gerak jalan santai.1.4. yang telah dipersiapkan dari awal Tahun 2005.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. Fungsi Kesehatan 2. SMP. Untuk BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -25 . penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani Guru olahraga. penyelenggaraan Pekan Olahraga SMP. penyelenggaraan bantuan sarana dan prasarana.4. Serta persiapan menjadi tuan rumah PORPROV Ke XI. SMA / SMK penyelenggaraan lari 10 K. Tes Kesegaran Jasmani bagi SMP dan SMA. SMP/SMA/SMK. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : • Tahun 2002 penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar SD. kegiatan Lomba Gerak Jalan. SMA/SMK yang terdiri dari 11 cabang olahraga. • Tahun 2003 kegiatan Porseni SD. penyelenggaraan TKJ • Tahun 2004. penyelenggaraan lari 10K. Ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan fungsi kesehatan yang terutama dalam memberikan pelayanan kesehatan. Sub Fungsi Obat dan Perbekalan Kesehatan.SMP. Tantangan yang akan dihadapi tahun 2006 adalah Pekan Olah Raga Provinsi ke X di Karawang pada bulan Juli. Kegiatan pengadaan obat-obatan yang setiap tahun dilaksanakan dalam rangka memenuhi permintaan pelayanan masyarakat dan peserta Asuransi Kesehatan yang tersebar di 92 Puskesmas DTP/TTP dan Rumah Sakit Daerah ( RSD ). kegiatan POPDA SD. lomba senam dan kegiatan senam masal. 2. penyelenggaraan pembinaan teknis personal. kegiatan jalan santai. penyelenggaraan Tes Kesegaran Jasmani SMP dan SMA Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya olahraga bagi pelajar dan masyarakat. penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). bimbingan teknis personal.

Diharapkan tahun 2006 dapat diselesaikan pembangunannya secara keseluruhan agar dapat segera dioperasikan.967 jiwa. Selain alat pengolah limbah padat tersebut di atas. Sedangkan dalam rangka pemusnahan limbah medis telah disediakan pengadaan alat pengolah limbah padat ( incenerator ) di RSD Soreang. 2.000 jiwa. Adapun perbandingan rumah sakit terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 500. Permasalahannya adalah sebagai berikut: • • Cakupan ketersediaan Obat masih belum dapat memenuhi kebutuhan Penyediaan alat-alat kedokteran dan keperawatan perlu ditingkatkan kelengkapannya dalam upaya peningkatan status baik puskesmas maupun RSD.064 orang penduduk Kabupaten Bandung.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung penyediaan perbekalan kesehatan senantiasa diupayakan pengadaan peralatan kedokteran dan peralatan penunjang keperawatan yang sesuai standar kesehatan. Sarana/ prasarana kesehatan merupakan hal tepenting dalam pelayanan kesehatan oleh Pemerintah maupun Pemerintah Daerah di Kabupaten Bandung ini terdapat 92 unit Puskesmas yang tersebar di 45 Kecamatan. selain dukungan sarana yang cukup juga dari sisi kuantitas tenaga kesehatan sebaiknya bisa tercukupi. yang bermanfaat untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair rumah sakit dengan melakukan pengolahan limbah terlebih dahulu.064 jiwa atau 1 Puskesmas diharapkan dapat melayani sebanyak 45.4.2 Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Perorangan. tahun anggaran 2005 pembangunan tahap I IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) segera direalisasikan. hal tersebut menunjukkan bahwa ratio Puskesmas terhadap penduduk adalah 1 puskesmas : 45. Pada BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -26 . Begitu pula dengan hanya terdapatnya RSUD sebanyak 2 unit dan RS Swasta sebanyak 1 unit dan RSU Khusus milik pemerintah ( RSJ ) 1 unit.145. Hal ini kurang ideal bila dilihat dari standarisasi pelayanan sehingga diperlukan adanya peningkatan status Pustu di wilayah kecamatan yang penduduknya padat sehingga dicapai titik standar ideal perbandingan antara Puskesmas dan Penduduk yaitu 1 Puskesmas : 30. sedangkan penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 sebanyak 4.000 Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik. dan pemberian pelayanan laboratorium dengan tujuan dapat meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan medik.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung tahun 2004 jumlah tenaga Kesehatan yang bekerja pada unit kesehatan pemerintah daerah memiliki komposisi sebagai berikut : Dokter Umum Dokter Gigi Tenaga Medis lain Bidan / Bidan desa : 132 orang : 77 orang : 865 orang : 580 orang Dari data tersebut menunjukan bahwa ketersedian tenaga medis dokter masih rendah. diperlihatkan oleh ratio dokter umum terhadap penduduk adalah 1 : 32. 2. Sub Fungsi Pelayanan Kesehatan Masyarakat.3. Program peningkatan Budaya Hidup Bersih. Puskesmas keliling dan keberadaan polindes perlu dukungan semua pihak dalam operasionlisasinya.658 jiwa . ratio dokter gigi terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 45.219 jiwa penduduk yang harus dilayani sedangkan dibandingkan dengan puskesmas yang ada pelayanan dokter umum rata-rata hanya 1 – 2 orang per Puskesmas yang tersebar di 45 kecamatan sedangkan ratio bidan praktek terhadap puskesmas menunjukan rata-rata 1–3 orang bidan dapat melaksanakan pelayanan di Puskesmas sehingga untuk mengotimalkan pelayanan kesehatan oleh pemerintah keberadaan bidan desa belum dapat memenuhi sejumlah desa/kelurahan yang ada. Program peningkatan hidup Bersih dan sehat. telah dilaksanakan melalui : • • • • • Pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat ( PHBS ) Pembinaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ( UKBM ) Pembinaan kesehatan masyarakat pekerja Pembinaan dan pengembangan Poskestren Penyebarluasan informasi kesehatan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -27 . Program penanggulangan penyakit dan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan lingkungan. Permasalahan yang dihadapi antara lain masih diperlukannya peningkatan status Pustu menjadi Puskesmas dan peningkatan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Daerah disamping perlu adanya optimalisasi perangkat medis. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.4. telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan melalui.

Sedangkan Cakupan Imunisasi menurut jenisnya seperti Imunisasi BCG. Penanggulangan GAKI. setiap tahun dilaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit kusta. Berdasarkan Pemantauan status gizi masyarakat melalui pelaksanaan penimbangan Balita di Posyandu yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung. pada tahun 2004 menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu telah cukup baik dengan indikator bahwa jumlah proporsi Balita yang ditimbang dibanding Balita terdaftar masih di atas angka 80 % dan perkembangan status gizi masyarakatnya ada pada klasifikasi harus mendapat perhatian dimana proporsi Balita yang naik berat badanya terhadap balita yang di timbang pada setiap tahunnya. Sedangkan dalam pelaksanaan program penanggulangan penyakit. Campak. Demam berdarah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -28 . namun ternyata belum dapat mencapai sasaran yang ditentukan sehingga masih perlu adanya peningkatan yang didukung oleh ketersediaan obat-obatan dan sarana kesehatan lain. Suveilance.000 penduduk = 43 %. = 25 % = 0.69 / 1000 penduduk = -% = -% = 85 % Disamping itu dalam program perbaikan gizi. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Rabies. dan Ibu Hamil setiap tahun selalu dilakukan yang difasilitasi oleh Dinas Kesehatan. setiap tahun dilaksanakan kegiatan-kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangan Dan Gizi. rata-rata masih di bawah angka 80%. Kondisi cakupan angka kesakitan pada tahun 2004 sebagai berikut : • • • • • • • Cakupan Penyakit Kusta Cakupan Penyakit ISPA Cakupan Penyakit Diare Cakupan HIV/ AIDS Cakupan Penyakit DBD Cakupan Penyakit Rabies Cakupan TBC = 0. ISPA.01 / 10.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat ( JPKM ) Melakukan kerjasama pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya sektor industri / perusahaan swasta. Diare. Kelamin. Upaya perbaikan Gizi Institusi. Polio.

7 PERKEMBANGANGAN HASIL PENGAWASAN CAKUPAN PROGRAM TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Kegiatan Pengawasan TPM Pemeriksaan Sampel Mamin . Perkembangan Hasil capaian program dua tahun terakhir ( Tahun 2003 – 2004 ) sebagai berikut: Tabel 2.05 32.7 KET Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Dalam pelaksanaan sub fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkait dengan kesehatan lingkungan. dan penyehatan lingkungan industri. Grading Rumah makan/restoran Pemeriksaan sampel air bersih Pemeriksaan sampel tanah Temu karya PABL tk.44 98.8 78.1 80.2 94.33 100 8.70 - 70.01 52.4 91.61 92. Dalam menunjang penyehatan lingkungan permukiman telah dilakukan pengawasan terhadap tempat pengelolaan makanan ( TPM ).8 92.00 32.7 83.49 91.00 38.23 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -29 . Pengawasan tempat umum.73 96. secara rutin telah dilakukan kegiatan pengawasan kualitas air dan lingkungan.6 HASIL CAKUPAN PROGRAM IMUNISASI TAHUN 2002 – 2003 Jenis Imunisasi BCG DPT-1 DPT .8 83. peningkatan keterampilan petugas sanitasi dan penyehatan lingkungan tempat-tempat umum.3 Polio 1 Polio 4 Campak Hepatitis B1 Hepatitis B3 TT 1 Ibu Hamil TT 2 Ibu Hamil 2002 101.1 96.8 10.84 78.0 Tingkat Capaian Program (%) 2003 2004 95. Pengadaan air bersih penyehatan lingkungan (PAPBL).9 90.17 88.1 81.6 96.0 84.4 92.05/100 18. Cakupan air besih. penyehatan lingkungan permukiman.46 Ket 52 50 70.00 61.69 95. Cakupan pemakaian Jamban.4 98 81.05/100 25 40.02 61. Desa Cakupan air bersih Cakupan pemakaian SPAL Cakupan pemakai jamban Pengawasan TTU Pengawasan RS Pengawasan Pestisida Pengawasan Residu Pestisida Pengambilan kadar Cholines terase darah Pengawasan Industri Besar Pengawasan Industri Kecil Capaian Program (%) 2003 2004 61.7 96. Cakupan pemakaian sarana pembuangan air limbah.70 36.76 83.3 85.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.2 88.72 36.

Sumur tak terlindung 7. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -30 .8 PERSENTASE RUMAH TANGGA PENGGUNA AIR MINUM BERDASARKAN SUMBERNYA TAHUN 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sumber air Ledeng Sumur Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak terlindung Mata Air Terlindung Mata Air tak telindung Kemasan Lainnya Jumlah % Rumah Tangga 7.75 3.19 0.57 3.34 7.89 100 KET Sumber: Suseda Tahun 2004 Dari data terakhir tahun 2004 masih menunjukan bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan air minum dengan kondisi yang kurang terjamin kesehatannya yaitu dengan air minum dari mata air tidak terlindung sebanyak 3. Diare . Masih terdapatnya penduduk yang menggunakan sumber air minum yang belum memenuhi standar kesehatan. secara umum Cakupan program penyehatan lingkungan permukiman nampaknya hampir dari semua jenis kegiatan menunjukan adanya peningkatan ke arah yang lebih baik. mata air dan lainnya terlihat pada tabel di bawah ini.78 18.97% sehingga upaya pengadaan program air bersih nampaknya masih menjadi bagian yang harus dipikirkan dalam menunjang kesehatan masyarakat. walaupun nampaknya masih harus ditingkatkan agar kondisi lingkungan Kabupaten Bandung ini memenuhi standar kesehatan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya penyebaran penyakit TBC. Permasalahan yang dihadapi adalah: • • • • • Program PHBS baik di Institusi Kesehatan. Tabel 2. Program/kegiatan pemberantasan penyakit masih harus ditingkatkan terutama pada masyarakat pada lingkungan yang fasilitas kesehatannya kurang. Peningkatan status gizi Balita dan cakupan imunisasinya masih perlu ditingkatkan. campak dan lainnya yang disebabkan kondisi lingkungan kurang baik.68 38.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dari hasil pengawasan tersebut.75 %. maka program/kegiatan penanggulangan air bersih masih dipandang perlu. sumur pompa.97 19. polio. Fasilitas air minum yang digunakan rumah tangga seperti air ledeng. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan tetap harus didorong atau ditingkatkan melalui suatu kegiatan pembinaan/penyuluhan kesehatan. Pendidikan maupun masyarakat umum perlu untuk ditingkatkan.

713 17.421 43.883 42.373 Sumber : Dinas kependudukan .116 65.455 2002 Realisasi 8. melalui siaran radio. dengan menyelenggarakan Rakerkesda BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -31 .796 8.732 71. Keluarga Berencana.622 9.872 8.4. Disamping itu juga telah dilakukan pembinaan dan pengembangan KB Mandiri dan pengembangan pusat pelayanan KB dan pusat konsultasi remaja.427 395 57.093 182 52.105 10. dan melalui Leaflet JPKM • Penyebar luasan informasi.578 125 150 2.178 61.050 42 76.4.969 18.841 87. Permintaan Masyarakat akan pelayanan KB ternyata cukup tinggi yang setiap tahunnya ternyata belum dapat terpenuhi dengan permintaan tertinggi di capai oleh kontrasepsi Suntikan dan pelayanan Non MJP.162 90 800 1. • Penyusunan program kesehatan.330 49.401 56 616 1.368 395 61. Tabel 2.235 6.805 2003 Realisasi 4.749 15.776 76 48. pembentukan pusat informasi dan konsultasi keluarga dan remaja serta dilakukannya mengayomi peserta KB dari Keluarga tidak mampu yang mengalami kegagalan. 2.4.603 141 442 1. Paru dan pembuatan leaflet NAPZA.450 13.148 956 2.318 PPM 7.5.897 59. Sub Fungsi Kesehatan Lainnya.724 57. pembutan poster Tb.234 392 83.339 96.9 HASIL PERKEMBANGAN CAPAIAN PESERTA KB DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2003 – 2004 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kontrasepsi IUD MOP MOW IMPLAN MJP SUNTIK PIL KONDOM Non MJP Total PPM 8. melalui sosialisasi JPKM Mandiri ke dunia usaha. Pada Sub Fungsi kesehatan lainnya yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyebar luasan informasi kesehatan antara lain: • Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan.649 39.831 9.831 9. Dalam rangka menunjang fungsi kesehatan. pemutaran film.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.562 1. Catatan Sipil dan KB Dilihat dari perkembangan setiap tahun.019 PPM 6. melalui sub fungsi KB telah dilakukan beberapa kegiatan antara lain sosialisasi kesehatan reproduksi remaja.615 2004 Realisasi 5.653 7.607 87 805 1.475 66.

38 73. selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah dilaksanakan berbagai kegiatan rehabilitasi dan pembangunan SD dan SMP sebagai berikut: BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -32 .45 77.070 619 3.07 Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004 Kurangnya partisipasi sekolah ini dipengaruhi oleh adanya siswa sekolah yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya atau drop out (DO).923 438 SD/MI 833 3.69 34.59 7-12 tahun 96.05 95. Pendidikan Dasar Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan dasar. tergambarkan dari terdapatnya penduduk yang bersekolah atau adanya proporsi penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang usia pendidikan serta penduduk yang bersekolah pada setiap jenjang pendidikan tepat pada waktunya yang terukur dengan angka partisipasi murni (APM).42 43.256 2.351 1.00 35.10 Perkembangan APS Kabupaten Bandung Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 USIA Sekolah 13-15 tahun 16-18 tahun 74.11 Perkembangan DO Pada Tiap Jenjang Pendidikan Tahun 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Jenjang Pendidikan SMP/MTs SMA/MA 828 604 914 779 1.76 97. Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk Kabupaten Bandung pada setiap angkatan pendidikan adalah sebagai berikut: Tabel 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.03 78. Tabel 2.07 97.5.1.5 Fungsi Pendidikan Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan.44 41. Perkembangan siswa yang DO pada setiap angkatan sekolah terlihat pada tabel dibawah ini.347 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung 2004 2.

888 orang guru SMP yang secara kualifikasi ternyata masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar. penyediaan ruang perpustakaan 3 unit. SMP 574 paket dan buku bahasa sunda masing-masing 9976 exemplar untuk SD dan 2427 exemplar untuk SMP. Juga bantuan mebelair telah diberikan untuk sebanyak 34 ruang kelas dan perbaikan rumah dinas guru/penjaga sekolah sebayak 14 unit. 7. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -33 . orang guru SD. kondisi dan permasalahan pendidikan dasar di Kabupaten Bandung sebagai mana teruraikan di bawah ini. 1). Pengadaan mebelair SMP untuk 128 lokal. pengadaan buku perpustakaan SD 692 paket.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. dan rehabilitasi rumah dinas guru /penjaga sekolah di 7 sekolah.( Laporan disdik ) Disamping telah dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi sekolah.490 exemplar. pengadaan pengadaan meja dan kursi untuk 266 sekolah dasar.12 PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI SEKOLAH TINGKAT DASAR TAHUN 2001 – 2004 Tahun 2001 2002 2003 2004 Pembangunan ( unit ) SD Bertingkat 2 3 SD 4 SMP 0 1 Rehabilitasi ( Unit ) SD SMP 200 228 394 0 24 17 57 16 Tambah Ruang Kelas ( lokal ) SD SMP Sumber : hasil olahan data .287. pemberian beasiswa SD bagi 13. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. Juga adanya penggabungan Sekolah Dasar sebanyak 238 SD. bantuan sarana pendidikan juga telah diberikan oleh pemerintah daerah antara lain : • Pada tahun 2002. Jumlah guru menurut latar belakang pendidikannya di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. • Pada tahun 2003. penyetaraan guru SMP ke kualifikasi S1 sebanyak 62 orang. Pada tahun 2004 berdasarkan basis data perencanaan pembangunan di Kabupaten Bandung terdapat sebanyak 16. pengadaan mebelair SMP. Kualitas Tenaga Pengajar Kualitas guru dalam melaksanakan pembelajaran akan sangat menentukan kulitas pendidikan. serta pengadaan buku penunjang SMP sebanyak 23. • Pada tahun 2004.732 orang dan siswa kurang mampu sebanyak 500 orang serta bagi 425 siswa SMP. Pengadaan sarana meja dan kursi untuk 50 lokal SD.

ratio murid terhadap guru dan ratio murid terhadap sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.144 126 38 D1 144 62 747 154 Pendidikan Guru D2 D3 ≥S1 8. Hal ini menunjukan bahwa dalam rangka percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bandung.089 3.337 220 4.193 1.2 Ratio Guru (G) 16.405 Sumber : Profil Pendidikan Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa guru SD yang berlatar belakang pendidikan lebih rendah dari D1 ada sebanyak 3.457 1. Sarana/prasana pendidikan Sarana pendidikan merupakan salah satu hal pokok disamping ketersediaan guru yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Bandung pada setiap tahun dalam meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga diharapkan hakhak penduduk untuk menerima pendidikan akan terpenuhi.166 1553.591 Jumlah 14.491 443 728 295 292 34 1.233 11497 M/S 216 342 M/G 32 25 Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -34 .440 453 Jumlah Murid (M) 529.13 JUMLAH TENAGA GURU MENURUT LATAR BELAKANG PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN.14 J UMLAH SARANA PENDIDIKAN. Pendidikan SD SMP/ MTS Sekolah (S) 2. Program kegiatan penyetaraan guru baik bagi guru SD maupun SMP masih harus ditunjang oleh pemerintah.08 % dari jumlah total guru SD/MI. sedangkan pada tingkatan SMP nampaknya juga bahwa jumlah guru SMP dengan latar belakang pendidikan lebih rendah dari D3 ada sebanyak 1. GURU DAN MURID DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2004 No 1 2 Tk.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.193 orang atau 22.903 8.561 orang atau nampaknya masih dominan bila di bandingkan dengan guru SMP yang tersedia.561 327 2. TAHUN 2004 No 1 2 3 4 Klasifikasi Mengajar SD MI SLTP MTS < D1 3. Sebagai gambaran kondisi tahun 2004 dari kecukupan guru dan sekolah yang dimanfaatkan penduduk dapat dilihat dari ratio murid per kelas.927 2. Tabel 2. 2).

SMUN Baleendah. baik untuk jenjang SD maupun SMP perlu mendapat perhatian serius karena berdasarkan data yang tersedia (Profil Pendidikan.5. 2. yaitu SMUN 1 Cililin. ratio murid terhadap kelas sebanyak 38 orang perkelasnya dan ratio murid terhadap guru dengan perbandingan 32 orang murid dilayani 1 orang guru. telah dilaksanakan penyediaan buku penunjang belajar SMU sebanyak 15. Tahun 2004) bahwa dari jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 2. SMUS Terpadu. • Pada tahun 2004. tambah ruang kelas bagi 10 pemberian Bea siswa bagi 677 siswa SMU dan 73 siswa SMK. • Pada tahun 2003. telah dilakukan rehabilitasi dan pembangunan sekolah menengah umum dan kejuruan melalui kegiatan/proyek atas dukungan APBD Kabupaten Bandung antara lain : • Pada tahun 2002. perbaikan gedung SMU/K sebanyak 19 sekolah. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kabupaten Bandung telah diberikan pelayanan pendidikan pada tingkat dasar rata-rata menampung penduduk usia sekolah sebanyak tingkat SMP per kelasnya 448 siswa. pada 2004 ternyata 31. Dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan melalui kegiatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah baru.012 eksemplar.175 unit pada tahun 227 siswa. Lomba kompetensi keterampilan siswa SMK. rehabilitasi SMU/K sebanyak 20 unit sekolah. bantuan Mebelair untuk 65 ruang kelas. akreditasi 14 sekolah SMU/SMK. Sub Fungsi Pendidikan Menengah. melalui proyek pembangunan pengadaan sarana/prasarana sekolah menengah umum dan kejuruan telah dilaksanakan penambahan ruang kelas 10 unit SMU/K. Ibun dan SLTA Textil dan SMU/SMK dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -35 . pengadaan mebelair untuk 38 ruang kelas. bantuan penyediaan ruang perpustakaan. komputer sebanyak 23 unit dan alat peraga IPA untuk 46 sekolah. terlaksananya rehabilitasi berat SMU/SMK sebanyak 7 sekolah yang tersebar di tiga kecamatan. pemberian bantuan dana bea siswa bagi 746 siswa berprestasi.57% dalam keadaan rusak berat 32.2. Sedangkan bantuan pembangunan SMU/K telah dilaksanakan untuk 2 unit sekolah. Dalam menunjang pendidikan menengah. SMUN Margahayu.27% rusak ringan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel di atas menunjukan bahwa pada jenjang pendidikan SD terdapat ratio murid terhadap sekolah sebanyak 227 orang murid per sekolah. SMUN 1 Cipatat. SMUS KP. pengadaan mebelair untuk 25 unit sekolah.

jumlah sekolah sebanyak 164 sekolah. Berdasarkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan. dan SMUN Batujajar. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -36 . Sedangkan kegiatan tambah ruang kelas dilaksanakan di 6 lokasi yaitu untuk SMUN 1 Banjaran.3. pembinaan olahraga pelajar dan masyarakat.5.43 % dan dari ratio murid persekolah menunjukan bahwa dipandang perlu adanya pemekaran sekolah karena rata-rata murid persekolah sudah lebih besar dari 300 orang murid. pembinaan generasi muda. Sub Pendidikan Non formal dan Informal. kejar paket B setara SMP dan kejar paket C setara SMA/ SMK. KF serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan. SMUN I Sindangkerta. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak sejumlah guru yang di bawah standar kelayakan mengajar sekitar 44. SMUN Cisarua.776 orang. kursus.lomba. Pendidikan Luar Sekolah dan Masyarakat. SMUN 1 Ciparay. kegiatan sanggar serta mendorong kegiatan berbagai kursus yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/yayasan.591 orang. pendidikan anak usia dini. 2. Sedangkan dari ketersediaan guru dan sarana/prasarana yang dimanfaatkan oleh sejumlah siswa memberikan gambaran. maka dukungan pemerintah Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui penyelenggaraan kursus pendidikan luar sekolah. kondisi dan permasalahan pendidikan menengah di Kabupaten Bandung adalah pada tahun 2004 kondisi pendidikan menengah di Kabupaten Bandung terdapat guru SMA/SMK/MA sebanyak 6. lulusan D2 46 orang. penyelenggaraan PPLS. ratio M/S = 339 orang dan M/G = 12 orang. guru sebanyak 4. lulusan D3 sebanyak 434 orang. SMUN I Cipongkor. dan lulusan S1/S2 sebanyak 2. Lomba.640 orang . Dalam penyelenggaraan Pendidikan non formal. SMUN 1 Cikalong Wetan.078 yang secara kualifikasi terdiri dari lulusan D1 sebanyak 24 orang. SMKN Terpadu Pertanian Rancaekek. Penyelenggaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan Gedung baru SMUN Cikancung. Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui penyelenggaraan kejar paket A setara SD. SMUN I Katapang. SMUN 1 Cipeundeuy. murid sebanyak 54.

Bantuan Penyelenggaraan Sanggar Kegiatan Belajar. dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -37 . Pemerintah Daerah telah memberikan bantuan-bantuan berupa alat bermain yang yang rata-rata setiap tahunnya terbantu antara 50 – 60 Taman Kanak-kanak. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) Dalam rangka menunjang fungsi pendidikan melalui pendidikan anak usia dini. penyelenggaraan kursus Diklusemas. tata rias rambut.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002.129 orang . SD 43 orang. 2. Untuk menunjang terlaksananya operasional kegiatan di taman kanak-kanak . • Program pendamping proyek Life Skill.4. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 60 kelompok belajar. • Tahun 2003. bantuan kepada kursus-kursus seperti kursus menjahit. di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan basis data PDP3D tahun 2004 tersedia sarana pembelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebanyak 303 sekolah yang secara total peran swasta masih dominan.5.051 orang dan guru 1. kejar paket C 220 wajib belajar setara SMU. pelaksanaan kejar paket A PBH bagi 43 kelompok belajar dan terselenggaranya peningkatan program life skill di 55 sekolah dari semua tingkatan. dengan jumlah murid 13. kegiatan pendidikan luar sekolah adalah dengan melaksanakan pelatihan bagi 100 warga belajar instruktur kursus. tata rias wajah. melalui kegiatan penyelenggaraan belajar mengajar 43 buah. sosialisasi BBE Life Skil untuk tingkat Kabupaten Bandung dengan peserta TK 20 orang. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan pendidikan Luar Sekolah adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan kejar paket disemua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatan pengetahuan penduduk. dilaksanakannya pengembangan dan peningkatan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat bagi 8 lembaga kursus serta melaksanakan program kejar paket A PBH dengan terbentuknya 258 kelompok belajar • Tahun 2004. SLTP 75 orang SMU 19 orang. Hal ini menunjukan bahwa ratio murid persekolah adalah sekitar 43 orang per sekolah dan terdapat 3 – 4 orang guru per sekolahnya. telah dilaksanakan program kejar paket B bagi 240 orang peserta.

Pelatihan Guru Tata Boga 170 orang. Pembinaan Generasi Muda. Pembinaan olah raga dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maka permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggraraan Pendidikan Non formal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan Pendidikan non fomal adalah rendahnya pembinaan dan pengawasan di semua tingkatan dalam rangka mendorong meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pencapaian angka melek hurup serta rata-rata lama sekolah (RLS).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 terbentuknya kerjasama kelembagaan dengan sebanyak 40 lembaga pengelola TK. telah dilakukan berbagai kegiatan baik dalam rangka menunjang perkembangan pendidikan formal (SD. pembinaan teknis bagi penyelenggara dan guru.5. Permasalahan yang masih nampak dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah masih perlu adanya peningkatan kegiatan pembinaan di semua tingkatan mendorong pemahaman masyarakat. penyelenggaraan bantuan rintisan. Sub Fungsi Pendidikan Kedinasan. Berdasarkan uraian sub Pendidikan Non Formal yang meliputi 4 bidang garapan terdiri dari Pendidikan Luar Sekolah. melalui Proyek Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum mulok SD dan SMP. 2003. Dalam menunjang pendidikan kedinasan.5. pelaksanaa program penyetaraan D2 dan PGSD 810 orang . bantuan rintisan. bimbingan teknis bagi penyelenggara dan guru. hasilnya Pertemuan kelompok kerja Guru. SMP. pada tahun 2002. SMA) maupun dalam pelaksanaan Diklat Struktural dan fungsional bagi PNS yang didukung dana APBD Kabupaten Bandung antara lain untuk peningkatan kualitas pendidikan formal. bantuan penyelenggaraan. dan 2004 penyelenggaraan sosialisasi. 2. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -38 . Penataran pengelola UT kecamatan 46 orang. Pelatihan guru keterampilan 170 orang. lomba kreatifitas anak. SMU/K telah dilaksanakan Pelatihan guru bahasa Ingris 170 orang. penyelenggaraan bantuan lembaga. lomba kreatifitas anak. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain adalah pada tahun 2002. Melalui Proyek peningkatan kemampuan tenaga pengajar dan pengelola bagi pendidikan dasar dan menengah.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa ketersedian jumlah lulusan pendidikan struktural Pim II dipandang sudah memadai. 186 pejabat esselon III. begitu pula Pim III dan IV. namun dalam rangka mempersiapkan atau kaderisasi pejabat sebaiknya masih tetap diprogramkan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Melalui Proyek penunjang Science Education Quality Impropemen Project (SEQIP). 9 dan 10 Tahun 2002) tersedia kebutuhan 28 pejabat esselon II. Diklat kedinasan ini. Bandung Perkembangan lulusan Diklat pimpinan setiap tahun bertambah dalam periode 2002 – 2004 terdapat 418 orang yang telah lulus diklat Pim dengan komposisi sebanyak 18 orang lulus Pim II. Disamping melaksanakan Pendidikan formal melalui pembelajaran dalam rangka pelayanan pendidikan kepada penduduk usia sekolah. Sedangkan jumlah pegawai dengan lulusan Diklat struktural pada kondisi terakhir (tahun 2004) adalah. sesuai dengan perkembangan untuk terpenuhinya staf teknis dan fungsional maka diklat kedinasan lebih diarahkan kepada diklat teknis dan fungsional. Kepala Sekolah dan Guru. Perkembangan Jumlah lulusan diklat kedinasan sbb: Tabel 2. Pemda Kabupaten Bandung juga melaksanakan berbagai jenis Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) terutama bagi para pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. Diklat IPA bagi Pengawas SD. Untuk pendidikan Pim BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -39 . dan 314 pejabat esselon V.15 JUMLAH LULUSAN PENDIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2002 – 2004 Tahun 2002 2003 2004 Jumlah II 7 9 2 18 Diklat Pimpinan III IV 117 80 80 40 5 78 202 198 Jumlah 204 129 85 418 Diklat Fungsional 268 489 606 1.363 orang dengan jenis pendidikan yang dilaksanakan setiap tahunnya bervariasi.781 Sumber : Kantor Diklat Kab. 927 orang pejabat esselon IV. Lokakarya tingkat propinsi jawa barat diikuti oleh 15 guru IPA dari 5 Kecamatan sasaran SEQIP. Berdasarkan data kepegawaian tercatat bahwa struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Bandung (Perda 8. baik Diklat Struktural maupun fungsional. Pim III 3 orang dan Pim IV sebanyak 40 orang.363 Jumlah 472 618 691 1. 201 Pim III dan 202 lulus Pim IV sedangkan untuk pendidikan teknis dan fungsional telah diikuti oleh 1. lulus Diklat Pim II 2 orang.

yaitu bantuan kepada STIE Al-Giphari. secara kuantitas jumlah guru di Kabupaten Bandung masih memadai namun ditinjau dari sisi kelayakan mengajar. Berdasarkan uraian di atas dalam pencapaian strategi bidang pendidikan dalam rangka upaya peningkatan SDM. Dukungan pemerintah Kabupaten Bandung akan kelangsungan perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui kegiatan bantuan kepada perguruan tinggi sebagaimana yang telah dilaksanakan pemberian bantuan pembangunan kepada enam Perguruan tinggi swasta. terutama pada usia SMP. Pendidikan bagi PNS hendaknya lebih diarahkan kepada peningkatan kemampuan teknis dan fungsional. • Dalam rangka menunjang pembelajaran yang baik.5. Demikian juga masih diperlukan peningkatan kemampuan teknis bagi aparat di lingkungan DIBALE Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. STIKIP Bale Bandung. Universitas Nurtanio. terdapat beberapa hal yang masih dominan menjadi permasalahan yaitu: • Penduduk Kabupaten Bandung yang termasuk kepada usia sekolah belum tuntas dapat mengenyam pendidikannya.6. Pemerintah Kabupaten Bandung masih harus dapat meningkatkan kualitas tenaga pengajar terutama bagi guru-guru dengan latar belakang pendidikan non keguruan dan guru-guru non pns disamping masih dominannya guru SD yang berlatar BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -40 . Sedangkan pada tahun 2004 telah dirintis pembentukan/pendirian Universitas Daerah yang diharapkan dapat memberikan layanan pendidikan tinggi kepada penduduk Kabupaten Bandung dan meningkatkan partisipasi penduduk pada level pendidikan tinggi. Sub Fungsi Pendidikan Tinggi Ketersediaan lembaga pendidikan tinggi di wilayah Kabupaten Bandung. terdapat 5 perguruan tinggi yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pihak swasta. Hal ini menunjukan bahwa Program/kegiatan yang mendorong kepada pencapaianan Program Wajar Dikdas 9 Tahun masih harus menjadi perhatian kita bersama. STIPER Bale Bandung. 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sebaiknya dilakukan kajian kebutuhan pejabat struktural yang berkualifikasi sesuai diklat Pim. terutama bagi aparat di tingkat kecamatan untuk mengimbangi pelimpahan kewenangan Bupati kepada Camat. STPDN dan STIKINDO Wirautama.

dan pembangunan Sekolah Baru untuk SMP dan SMA nampaknya masih harus jadi perhatian dalam rancangan pembangunan pendidikan pada tahun 2006.6.85% . Perlindungan Sosial Salah satu basis data perencanaan sosial di Kabupaten Bandung adalah Jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai Pra Keluarga Sejahtera (Pra KS) alasan ekonomi dan Keluarga Sejahtera I (KS.643 217.354 46.944 214. disamping meningkatkan kualitas guru terdapat hal pokok yang perlu mendapat sorotan yaitu tingkat kerusakan sekolah SD yang masih tinggi.265 Prosentase Kenaikan/Penurunan -7.75% 68.753 27.67% 21.1 Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 225.1) alasan ekonomi. Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -41 . IV) maupun Diklat fungsional setiap tahunnya semakin bertambah. Casip dan KB Kab. Bandung Tabel 2.78% 5.139 56.30% Sumber : Dinas Kependudukan. namun efektivitas penempatan tenaga kerja sesuai klasifikasi kelulusannya belum optimal dilaksanakan.6.17 Data Jumlah Keluarga KS.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung belakang pendidikan di bawah D1 dan guru SMP dengan latar belakang pendidikan di bawah D3. III. Data tersebut dapat dilihat perkembangannya dalam tabel berikut: Tabel 2. • Lulusan Diklat Pimpinan (II.92% 4.705 202. • Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan.175 52.072 Prosentase Kenaikan/Penurunan 25.498 207.16 Data Jumlah Keluarga Pra KS Alasan Ekonomi Kabupaten Bandung Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Jumlah 21. Casip dan KB Kab.58% Sumber : Dinas Kependudukan.75% -7. 2.

534 orang sedangkan perlindungan sosial bagi orang cacat pada tahun 2004 hanya terbinanya 45 orang penyandang cacat. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan penyandang cacat ada sebanyak 4.678 orang. eks narapidana 822 jiwa dibina 0. melalui bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 jiwa/rumah/unit. Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Penduduk lansia berjumlah 11. 2. melalui bantuan permakanan 20 jiwa. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam perlindungan Lansia masih kurang. lansia terlantar luar panti 5. dan fakir miskin sebanyak 73. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -42 .2.6. Perlindungan dan Pelayanan Sosial Keluarga Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Pejuang Perlindungan dan pelayanan sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung berupa pelayanan sosial dan penyantunan perintis kemerdekaan yang pada tahun 2002 dilaksanakan pembentukan pengurus DHC 45 dan bantuan kesejahteraan bagi janda perintis dan warakauri sebanyak 44 orang tahun 2003 telah diberikan perlindungan sosial bagi perintis kemerdekaan dan keluarga pejuang 60 orang. pembinaan anggota DHC 45. 2. Perlindungan Dan Pelayanan Lansia.052 jiwa dibina 0. Perlindungan dan Pelayanan Orang Sakit Dan Cacat. WTS 250 jiwa dibina 0. Hal ini menunjukan bahwa cakupan perlindungan sosial bagi orang cacat masih belum memenuhi harapan. keluarga perintis kemerdekaan 5 jiwa dibina 5 jiwa. keluarga pahlawan 40 KK dibina 0. penyandang cacat eks penyakit kronis 1. lanjut usia tindak kekerasan 268 jiwa dibina 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.384 jiwa dibina melalui usaha ekonomi produktif/UEP 25 jiwa. anak cacat 3.6. eks korban narkotika 367 jiwa dibina 60 jiwa.6. Data tahun 2004 menunjukan jumlah PKRI sebanyak 90 jiwa dibina 90 jiwa. sedangkan perlindungan pelayanan yang dilaksanakan setiap tahunnya rata-rata masih jauh di bawah angka tersebut. ditunjukan bahwa pada tahun 2003 menghasillkan terbinanya warga jompo sebanyak 25 orang dan pada tahun 2004 terbina sebanyak 30 orang.1.906 orang.618 jiwa dibina 0.3.

Untuk mengatasi masalah-masalah sosial dengan memberikan pelayanan sosial. seperti pada tahun 2003 telah dilatihnya wanita rawan sosial ekonomi sebanyak 20 orang. pengurus organisasi perempuan tingkat kecamatan 43 orang. penyandang cacat 12. melalui pemberian makanan tambahan/PMT-AS 4. Perlindungan Dan Pelayanan Sosial Anak-anak Dan Keluarga Penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yang dikatagorikan Anak nakal 660 jiwa dibina 30 jiwa. penunjang operasional Orsos perempuan berjumlah 3 Orsos. fakir miskin 260. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -43 . Melalui bantuan perlengkapan sekolah 30 jiwa.509 orang jiwa dibina melalui Kelompok bersama ekonomi (KUBE) 30 jiwa. 45 orang remaja putri. pada tahun terbinanya kenakalan remaja dan prostitusi di 4 kecamatan lokasi beresiko tinggi. Pemberdayaan Perempuan. 2003 telah terehabilitasinya 195 orang tuna sosial di 10 kecamatan. Terbinanya anak terlantar 45 orang dan terlatihnya petugas Satgasos penanggulangan bencana sebanyak 30 orang.709 orang. Disamping itu terdapat penduduk korban penyalahgunaan narkotika ada 530 orang. Permasalahannya menunjukan bahwa penduduk yang memerlukan perlindungan dan pelayanan sosial masih cukup tinggi. eks korban narkoba dan penyandang cacat dipindahkan ke poin A.000 jiwa.4.916 orang. anak Balita terlantar sebanyak 1.5. advokasi bantuan hukum bagi 70 orang sedangkan pada tahun 2004 telah terbinanya 30 orang P2WKSS.552/66.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. sosialisasi pengarusutamaan Gender yang diikuti 40 orang dari 20 kecamatan. 25 orang remaja ditingkatkan keterampilannya serta pemantapan managemen organisasi perempuan sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 orang dari organisasi perempuan dan PKK serta 50 orang dari unit Kecamatan. Dalam menunjang pemberdayaan perempuan. telah dilaksanakan kegiatan pelayanan rehabilitasi dan bantuan sosial. anak terlantar 30 orang dan korban narkoba 60 orang. anak terlantar berjumlah 4. pemerintah Kabupaten Bandung setiap tahun telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan peranan wanita. Anak korban tindak kekerasan atau perlakuan salah 169 dibina 0.6.290 orang wanita rawan sosial ekonomi.138 KK dibina 40 KK melalui KUBE. 463 orang nak jalanan dibina 0. orang dan 11. dan pada tahun 2004 terbinanya anak nakal 30 orang.6. 2.

bantuan dini korban bencana alam 4.6. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -44 . Kegiatan yang pernah dilaksanakan baru pada pemberian bantuan rehabilitasi rumah jompo 85 rumah pada tahun 2004.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 2. Rehabilitasi Pusat Pordu KUBE Fakir Miskin 1 unit dan Peningkatan/pemeliharaan Taman Makam Pahlawan 5 unit.6 Bantuan Perumahan Perlindungan sosial dalam memberikan bantuan rumah tangga melalui pemenuhan biaya perumahan atau penyediaan bantuan sewa serta penyediaan rumah dengan harga terjangkau. Rehabilitasi Panti Tuna Sosial 1 unti. Perlindungan Sosial lainnya.128 KK dibina 0. keluarga korban bencana alam sebanyak 1. Bintek manajemen Panti sosial untuk pengurus 30 jiwa. Operasional penanggulangan NAPZA/pekat melalui BKND dan pembentukan KPAD sebanyak 1 paket. Dalam rangka menunjang kegiatan pelayanan perlindungan sosial telah dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan melalui pelatihan dan sosialisasi program seperti pada tahun 2003 dilaksanakan pelatihan bagi 100 petugas sukarelawan pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan tahun 2004 terlaksananya Bintek Satgasos PB 40 jiwa.000 jiwa.7. nampaknya dalam belum menjadi program/kegiatan pemerintah daerah yang serius padahal pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bandung cukup tinggi.189 jiwa dibina melalui bantuan bahan bangunan sebanyak 20 KK. Bintek petugas sukarelawan penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus HIV sebanyak 100 orang serta pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang masalah sosial. Dari data tahun 2004.6. Permasalahan yang dihadapi adalah masih tingginya kebutuhan rumah yang diperuntukan bagi warga miskin dan penyandang tuna sosial. Bantuan K3S sebanyak 1 paket. keluarga berumah tidak layak huni sebanyak 6. Pembinaan Karang Taruna sebanyak 120 jiwa. Pekerja Sosial masyarakat sebanyak 170 jiwa.

7. Ngamprah.2 Sub Fungsi Pemberdayaan Komunitas Permukiman Pada sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman hasil-hasil yang telah dicapai pada tahun 2004 antara lain pembuatan kantor jaga TPBU Cikadut Kecamatan Cimenyan.7. pembangunan prasarana lingkungan permukiman dalam rangka P2WKSS dan TMMD Bidang Kimtawil. taman kota segitiga Lembang). Pada tahun 2004 luas tanah fasos fasum yang digunakan oleh 4 pengembang berjumlah 315. Cilengkrang. rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan menjaga kualitas sarana prasaranan komunitas permukiman yang ada. penataan taman kota (taman kota Ciwidey. 2. taman dan trotoar alun-alun Cililin. taman alun-alun Ciparay. sementara itu di Kecamatan Ciparay. Katapang dan Cileunyi luas tanah fasos fasum yang digunakan berjumlah 451. Pengembangan Perumahan.900 m2 terletak di Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -45 . Desa Sukamukti Kecamatan Katapang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. taman green strip di jalur Kota Soreang dan Jalan Raya Soreang.7 Fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum 2. taman kota Baleendah. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pengembangan perumahan adalah belum semua pengembang menyelenggarakan/membangun fasos-fasum yang diperlukan masyarakat.540 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. Pada sub fungsi pengembangan perumahan hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah terbangunnya 130 lokasi perumahan pengembang yang tersebar di 45 kecamatan dan terbangunnya rumah susun sewa Kulalet.580 m2. Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan dan Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua. pengelolaan sarana dan prasarana taman dan makam.1.000 m2 dengan TPU yang diserahkan berjumlah 5. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pemberdayaan komunitas permukiman adalah masih banyaknya komunitas permukiman yang lingkungannya kumuh.

reservoar 1 unit. pemasangan pipa 136.7. sumur bor (sumur dalam) 26 unit. 2. sambungan rumah (SR) 292 buah. Pada tahun 2003 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 510 Titik Cahaya tersebar di 18 kecamatan. Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi penyediaan air minum adalah belum terpenuhinya kebutuhan air bersih masyarakat.592.7. dan pemasangan pipa 57. sumur dangkal 6 unit. Pencapaian pada tahun 2004 adalah terbangunnya sistem jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 46 unit. Penyediaan Air Minum Pada sub fungsi penyediaan air minum hasil–hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2003 yaitu termanfaatkannya sistem perpipaan air bersih perdesaan berupa broncaptering 15 unit. Sedangkan pada tahun 2004 dilaksanakan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sejumlah 219 Titik Cahaya tersebar di 9 kecamatan. Permasalahan yang dihadapi pada sub fungsi penerangan jalan adalah keterbatasan dana sehingga belum dapat memenuhi permintaan masyarakat akan lampu Penerangan Jalan Umum.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.4 Sub Fungsi Penerangan Jalan Keberadaan lampu penerangan jalan umum sangat penting mengingat pajak yang diperoleh dari penerangan jalan umum pada tahun 2004 telah memberi kontribusi yang besar kepada penerimaan pajak yaitu Rp.945 m tersebar di 12 desa. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -46 .810. 41.3..938.38 % dari seluruh pajak yang diterima. Disamping itu juga telah terbangun jaringan perpipaan air bersih perdesaan berupa sumur dangkal sebanyak 5 unit di Desa Talun dan Desa Mekarwangi Kecamatan Ibun. dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara fasilitas Penerangan Jalan Umum yang sudah ada. reservoar 23 unit. BPT 25 unit.293 m. Pada sub fungsi penerangan jalan hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2002 telah dilakukan pengadaan lampu Penerangan Jalan Umum sebanyak 150 Titik Cahaya tersebar di 8 kecamatan. terminal air 25 unit tersebar di 76 desa.atau 88. BPT 15 unit.

658 m di Desa Sayati.5 Sub Fungsi Perumahan dan Permukiman lainnya Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil-hasil yang telah dicapai adalah pada tahun 2001 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1.080 m di Kecamatan Lembang. bangunan industri 20 kali.7.640 m Sungai Cimariuk di Desa Sayati. 14. bangunan industri 21 kali. Kecamatan Pasirjambu. 2. 29 unit land container. Cicalengka. Majalaya. Pada tahun 2003 antara lain pembangunan drainase perkotaan 1. Pada tahun 2003 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 110 kali dengan rincian bangunan perumahan 50 kali.3 m2 TPSA (tersebar di tiga lokasi yaitu di Kecamatan Ciparay. Kecamatan Lembang). Juga telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan petugas pemadam kebakaran sebanyak 60 orang dan sosialisasi Perda No 25 dan No 26 tahun 2000 kepada perusahaan-perusahaan di wilayah Kecamatan Soreang. bangunan gedung 12 kali. bangunan umum 28 kali. Permasalahan yang ada pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya adalah belum seluruh wilayah memiliki sistem drainase. Pada tahun 2004 telah dapat tertanggulangi kejadian kebakaran sebanyak 122 kali dengan rincian bangunan perumahan 58 kali. Sedangkan pencapaian pada tahun 2004 adalah pembangunan drainase perkotaan 4. 70 m di Desa Margahayu Selatan. dan lain-lain 13 kali.000 m Sungai Cikungkurak di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu. bangunan umum 15 kali. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya masalah penanganan persampahan memegang peranan penting.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. 650 m drainase di Pasar Cikalong Wetan dan 870 m drainase di Desa Sukapura Kecamatan Dayeuhkolot. Dari keseluruhan sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki maka pada tahun 2004 baru dapat terlayani 63. dan lain-lain 12 kali.500 m di Kota Margahayu yaitu di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. dan 1200 m2 UDPK.430 m3/ bulan. 174 unit gerobak sampah. Sampai dengan tahun 2004 sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bandung adalah 57 unit kendaraan. Lembang dan Padalarang.280 Kepala Keluarga dan jumlah sampah yang terangkut adalah 34. belum optimalnya pemilikan sarana BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -47 .457 m yaitu 1. Pada tahun 2002 dicapai pembangunan drainase di Kecamatan Margahayu yaitu 30 m di Desa Sukamenak dan Desa Sayati. Pada sub fungsi perumahan dan permukiman lainnya hasil yang telah dicapai selain drainase adalah pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.

pelayanan biaya cetak Akte Catatan Sipil.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung prasarana pemadam kebakaran. Fungsi Pelayanan Umum 2. pelayanan jasa usaha kebudayaan dan pariwisata. pelayanan perijinan perdagangan. pelayanan jasa usaha pemakaian kekayaan daerah. SPM bidang pertanian. Pada fungsi pelayanan umum telah dilakukan mekanisme penataan ketatalaksanaan pelayanan publik melalui penyusunan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yaitu SPM bidang pendidikan. pelayanan ijin pemanfaatan tanah. pelayanan perijinan transportasi. pelayanan izin pembuangan limbah cair. pelayanan jasa usaha penjualan produksi usaha daerah. pelayanan ijin pemanfaatan hutan. SPM bidang koperasi dan usaha kecil menengah. pelayanan jasa usaha terminal. pelayanan persampahan/ kebersihan. pelayanan pemeriksaan alat pemadam kebakaran. pelayanan parkir di tepi jalan umum. pelayanan jasa usaha RPH.1 Sub Fungsi Pelayanan Umum Pada fungsi pelayanan umum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi berbagai jenis pelayanan umum yaitu : pelayanan kesehatan. pelayanan jasa usaha tempat rekreasi dan olah raga. pelayanan ijin ketenagakerjaan. pelayanan pemakaman.8. SPM bidang kesehatan. serta masih terbatasnya lahan pengolahan persampahan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -48 . pelayanan pengujian kendaraan bermotor. pelayanan pasar. pelayanan Ijin Gangguan (HO). pelayanan biaya cetak KTP.8. pelayanan Ijin Mendirikan Bangunan. 21/2001 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Bupati ke Camat dan Keputusan Bupati No. serta SPM bidang perindustrian dan perdagangan. dan pelayanan perijinan penyelenggaraan koperasi. 2. hasil ternak dan hasil ikutannya. pelayanan pemeriksaan hewan ternak. pelayanan jasa usaha penyedotan kakus. Dalam fungsi pelayanan umum juga dilakukan upaya untuk memperpendek rentang pelayanan sebagian urusan pelayanan publik bagi masyarakat melalui kemandirian kecamatan/desa/kelurahan yaitu dengan pendelegasian sebagian kewenangan yang ditandai dengan disusunnya Keputusan Bupati No. dan masih minimnya peralatan pengolahan persampahan yang dimiliki. 8/2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat. pelayanan perijinan industri.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik juga dilaksanakan pembangunan sistem aplikasi 17 buah jumlah unit kerja yang terkoneksi pada jaringan LAN SIMDA sebanyak 14 unit kerja plus Ruang Bupati. Forum Komunikasi dan Konsultasi Penetapan Stabilitas Daerah bagi aparat intelejen di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 60 orang. bagi lancarnya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. pembiayaan. Belum efektifnya pelayanan publik melalui SIMDA terpadu. Tokoh Masyarakat dan Aparatur Daerah terhadap 80 orang. Sedangkan hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 meliputi kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan bidang politik bagi Infra dan Supra Struktur Politik tingkat Kabupaten Bandung. LSM dan Aparatur Pemerintah. dengan terbentuknya KOMINDA (Komunitas Intelejen Daerah). 2. Belum optimalnya pelayanan kepada publik yang ditandai dengan masih banyaknya keluhan masyarakat tentang mekanisme dan tarif pelayanan yang tidak transparan. dengan hasil terbentuknya kepengurusan BAKOMKESBANG (Badan Komunikasi Kesatuan Bangsa). 2. Masih minimnya Standar Pelayanan Minimal. yang diselenggarakan terhadap 159 orang dari Pengurus Parpol. telah melaksanakan kegiatan dalam rangka : 1. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan umum adalah : 1.8. dan SDM yang memadai. 2.2 Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pada Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya. Forum Konsultasi dan Komunikasi antar Tokoh Agama. FORKONKOMDA (Forum Konsultasi dan Komunikasi Daerah) tingkat Kabupaten Bandung. penyaluran dana bantuan Partai terhadap Parpol yang mendapat kursi di legislatif sebagai upaya BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -49 . Ormas. 4. Mewujudkan pemahaman serta pendewasaan berpolitik masyarakat yang sehat dan demokratis. 3. Mewujudkan situasi dan kondisi yang tentram. Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah. Upaya pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke kecamatan/ desa/ kelurahan belum sepenuhnya didukung oleh sarana prasarana.

9. cakupan pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung baru sekitar 12. Pada tahun 2001.1% untuk wilayah perkotaan. Hal tersebut karena berkaitan dengan produk limbah yang sangat besar namun tidak diimbangi dengan penanganan yang memadai.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung meningkatkan kemandirian partai politik (dengan rincian: hasil Pemilu 1999 sebanyak 9 Parpol.45% untuk Kabupaten dan 29.9% untuk Kabupaten dan 34. Pemetaan Ormas. 27 unit land container. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -50 . Permasalahan semakin bertambah dengan adanya bencana longsor di TPA Leuwi Gajah yang berdampak pada pengelolaan persampahan selanjutnya di Kabupaten Bandung. 2. 14.9 Fungsi Lingkungan Hidup 2. tahun 2003 15% untuk Kabupaten dan 35% untuk wilayah Perkotaan dan pada tahun 2004 cakupan menjadi 15. pada tahun 2002 meningkat menjadi 14. 164 unit gerobak sampah. 330m2 UDPK. LSM dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang dilaksanakan mulai tingkat kabupaten sampai tingkat desa/kelurahan. dan Pemilu 2004 sebanyak 8 Parpol). dalam rangka tertib administrasi sesuai Permendagri Nomor 5 Tahun 1986 dan Inmendagri Nomor 8 Tahun 1990. Sarana pengelolaan persampahan yang dimiliki sampai dengan tahun 2005 adalah 57 unit kendaraan. Pasirjambu dan Lembang). Pelayanan persampahan di Kabupaten Bandung sampai saat ini belum dapat dikatakan optimal karena masih terbatasnya cakupan pelayanan dan pengelolaan sampah yang masih tradisional.3 ha TPSA.1 Manajemen Limbah Sampai saat ini. pelatihan Ketahanan Bangsa bagi Infra dan Supra Struktur Politik sebanyak 160 orang dalam rangka peningkatan kewaspadaan Nasional. eforia demokrasi secara berlebihan serta belum optimalnya proses demokratisasi dalam menampung aspirasi masyarakat.8% untuk perkotaan. Permasalahan yang dihadapi dalam Sub Fungsi Pelayanan Umum Pemerintahan lainnya yaitu terdapatnya kecenderungan pergeseran nilai budaya masyarakat yang mengarah kepada budaya kurang santun. TPSA di 3 lokasi (Kecamatan Ciparay.4% untuk Kabupaten dan 36% untuk wilayah perkotaan di Kabupaten Bandung. limbah domestik/non industri masih menjadi permasalahan yang sangat penting.

2. Margahayu dan Katapang. Cipatat.9. Namun hingga tahun 2003 terdapat 7% industri yang masih belum memiliki IPAL dan 10 % dari IPAL yang ada harus ditingkatkan mutunya.2 Manajemen Air Limbah Di Kabupaten Bandung terdapat 204 buah industri yang menghasilkan limbah cair. Hasil pemantauan terhadap 198 industri. potensi beban dari air limbah peternakan sebesar 60.79 kg deterjen/hari.3 Sub Fungsi Penanggulangan Polusi Adanya aktivitas industri dan non industri di Kabupaten Bandung telah mengakibatkan menurunnya kualitas udara. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan bahwa beberapa parameter berada diatas baku mutu yang telah ditentukan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -51 .022 ton P/hari dan 23. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup.2 ton pestisida/musim dan dari air limbah RS sebesar 1. 179.200 Mg BOD/et atau 80% dari debit air. hasil pengukuran pada 50 titik di 42 Kecamatan menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu NOx di Kecamatan Cikalongwetan.686 ton BOD/hari. 58. terdapat pula air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik/non industri.9. 74% diantaranya telah memenuhi baku mutu dengan efisiensi IPAL rata-rata 50%.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Padalarang. sementara di sisi lainnya penanganan polusi udara dirasakan masih belum optimal. masih rendahnya penanganan limbah domestik/non industri ditandai dengan dengan tingginya kandungan BOD. Rancaekek.376 kg COD/hari dan 627. Selain air limbah yang dihasilkan dari proses industri. Berkaitan dengan pembangunan IPAL terpadu. pada tahun 2003 telah dilakukan studi kelayakan IPAL terpadu Majalaya dan pada tahun 2005 akan dilakukan penyusunan studi kelayakan IPAL Batujajar. Dari 204 buah industri seharusnya dapat dilayani oleh 170 buah Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL (karena terdapat beberapa industri yang digabung pengolahannya dan terdapat industri yang memiliki 2 buah IPAL). COD dan detergen dari air limbah penduduk yaitu 136. dari limbah pertanian yaitu 330.622 BOD/musim. O3 (ozon) di Kecamatan Sindangkerta dan PM 10 di Kecamatan Cililin dan Margahayu.043 ton N/musim.193 kg BOD/hari. Ngamprah. 29. dengan hasil pemantauan kualitas udara sebagai berikut : • Tahun 2001.

TPA Leuwigajah dan Zone Industri Majalaya serta CO (Karbon Monoksida) di lokasi Jl. yaitu untuk kualitas udara bebas (ambient). partikulat (debu) di lokasi antara lain Jl. kualitas udara emisi cerobong. Alun-alun Majalaya. Jl Padalarang-Cimareme. KopoSayati. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -52 . kualitas udara di lingkungan kerja. Zone Industri Cisirung-Dayeuhkolot. Alun-alun Majalaya. Kopo-Sayati. hasil pengukuran kualitas udara ambient pada 15 titik (2 kali pengukuran) menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu yaitu dustfall antara lain di lokasi Jl. Bojongsoang-Buahbatu. kualitas emisi sumber bergerak dan pemeriksaan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. hasil penelitian kualitas udara di zona industri kapur dan marmer Padalarang menunjukkan beberapa parameter di atas baku mutu. Tahun 2003.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Tahun 2002. Kopo-Sayati dan Jl Padalarang-Cimareme.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Subang Sumedang Batujajar Cimahi Ujungberung Rancaekek Dayeuhkolot Cianjur Banjaran Majalaya Gn Wayang Sebaran Industri IPAL terpadu Garut : Sangat buruk (DO < 2 ppm) : Buruk (2<DO<3 ppm) : Baik (DO>3 ppm) Gambar 2.6 Kondisi Air Sungai Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -53 .

kebun pekarangan.9.919. dan kegiatan sipil teknis yaitu pembuatan sumur resapan. waduk. kebun rakyat.70 Ha.15 Ha yang berlokasi di 36 Kecamatan dan Kecamatan Pangalengan tercatat memiliki luas lahan kritis terbesar yaitu 2. yang diantaranya : BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -54 . Sampai saat ini. Dalam perda tersebut ditetapkan antara lain pasal 26 tentang kawasan lindung. pagar hidup. danau dan DPS. Upaya konservasi lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah di bidang keanekaragaman hayati berupa studi pelestarian puyuh gonggong. pelatihan dan pemberdayaan masyarakat oleh para Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL). Sampai dengan tahun 2004 tercatat luas hutan rakyat menjadi 17. dam penahan. tata air. situ.5 Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2001 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 1 tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung tahun 2001 – 2010. gully plug.534.725 ha.9. pasal 28 tentang kawasan budidaya pertanian dan pasal 30 tentang kawasan budidaya non pertanian. Selain itu dilaksanakan pula kegiatan pembinaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.4 Sub Fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Upaya konservasi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bandung khususnya bidang kehutanan dan konservasi tanah dilakukan melalui program Rehabilitasi Lahan Kritis dan Konservasi Tanah. Permasalahan yang dihadapi antara lain adalah belum optimalnya upaya konservasi SDA yang dilakukan pemerintah yang ditandai oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam dan belum optimalnya kemitraan yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat. penyuluhan. rehab teras dan UP-UPSA. sosialisasi PP 17 dan PP no 18 tahun 1999 tentang Pengawetan dan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilaksanakan pada tahun 2003 dan pada tahun 2004 dilaksanakan pendataan bidang keanekaragaman hayati. kebun pekarangan. 2. luas lahan kritis di luar kawasan hutan di Kabupaten Bandung tercatat sebanyak 32. perlindungan tebing sungai serta sarana jalan dan saluran. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa kegiatan vegetatif yaitu hutan rakyat.

014 ha meliputi. f. dengan luas wilayah 7. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan.999 ha meliputi. dengan luas wilayah 44. Kawasan hutan pelestarian alam/THR. d. a. Kawasan Lindung a. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya. dan Kecamatan Solokanjeruk seluas 2 ha. dengan luas wilayah 48. dengan luas wilayah 39. dengan luas wilayah 2. b. Kawasan perlindungan setempat. f. Kawasan/Zona Industri.375 ha. 2) Zona Majalaya yang meliputi Kecamatan Majalaya seluas 403 ha. a. 2. Kawasan rawan bencana. d. Kawasan pertambangan. dengan luas wilayah 9. Kawasan hutan rakyat.385 ha yang terbagi dalam zona: 1) Zona Leuwigajah (sudah masuk dalam Kota Cimahi) kecuali Margaasih seluas 55 ha.975 ha. Kawasan peternakan/besar. dengan luas wilayah 182. 3. dengan luas wilayah 24. Kawasan hutan suaka alam. g. Kawasan pangan lahan kering.613 ha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. dengan luas wilayah 5. dengan luas wilayah 324 ha. dengan luas wilayah 391 ha. c. Kecamatan Paseh seluas 60 ha. b. dengan luas wilayah 53. Kawasan Budidaya Non Pertanian. Kawasan Budidaya Pertanian.917 ha. 5) Zona Padalarang yang meliputi Kecamatan Padalarang seluas 600 ha. e. b. dengan luas wilayah 62 ha.269 ha. 3) Zona Rancaekek yang meliputi Kecamatan Rancaekek seluas 252 ha dan Kecamatan Cileunyi seluas 71 ha.200 ha.943 ha. dengan luas wilayah 1. Kawasan perikanan.284 ha.805 ha. Kawasan perairan. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -55 . Kecamatan Ciparay seluas 5 ha. c. dengan luas wilayah 57. e. Kawasan pangan lahan basah. 4) Zona Cisiung yang meliputi Kecamatan Dayeuhkolot seluas 495 ha. Kawasan hutan produksi.

7) SKW Pangalengan. 8) Zona Cimareme yang meliputi Kecamatan Batujajar seluas 360 ha. 7) Zona Banjaran yang meliputi Kecamatan Banjaran seluas 46 ha. Kecamatan Rancaekek 1. untuk kawasan permukiman perkotaan seluas 4. dan Kecamatan Cililin seluas 100 ha. diperuntukan bagi pembentukan kota baru Tegalluar seluas 3. d. 4) SKW Ciburuy.719 ha. 5) SKW Saguling. terbagi kedalam Satuan Kawasan Wisata diantaranya : 1) SKW Maribaya. Kota-kota yang secara fisik cenderung menyatu dengan Kota Bandung dan diarahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan Kota Bandung. Sistem perkotaan di dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung diarahkan berdasarkan fungsi masing-masing hirarki dan fungsi masingmasing kota. 8) SKW Ujungberung. e. dan 500 ha untuk pembuatan waduk reservoar.500 ha. yaitu sebagian wilayah BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -56 . 6) SKW Situpatenggang. Kecamatan Solokan Jeruk 903 ha. Kecamatan Pameungpeuk seluas 96 ha. Kawasan pariwisata. 3) SKW Tangkuban Parahu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6) Zona Baleendah yang meliputi Kecamatan Baleendah seluas 137 ha dan Kecamatan Bojongsoang seluas 23 ha. 2) SKW Lembang. Sistem perkotaan di Kabupaten Bandung dibagi menjadi 4 (empat) hirarki yaitu : Hirarki I.026 ha. dan Kecamatan Arjasari seluas 237 ha. c. dengan luas wilayah 28. Kawasan tertentu (pembentukan kota baru). Kecamatan Ngamprah seluas 118 ha. Kawasan permukiman. 9) Zona Katapang yang meliputi Kecamatan Katapang seluas 155 ha dan Kecamatan Soreang seluas 50 ha. Kecamatan Cileunyi 442 ha.542 ha. meliputi Kecamatan Bojong-Soang 639 ha. 10) Zona Cikancung yang meliputi Kecamatan Cikancung seluas 418 ha dan Kecamatan Cicalengka seluas 121 ha.

Ciwidey (sebagian wilayah Kecamatan Ciwidey dan Pasirjambu). Kota-kota hirarki IV berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan. Kota-kota hirarki I berperan sebagai penunjang rembesan pertumbuhan Kota Bandung sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan invasi pertumbuhan ke kawasan-kawasan persawahan subur sebagai sabuk hijau yang mengelilingi dan memisahkan Kota Bandung dengan kota-kota kecil di sebelah selatan. Rajamandala (Cipatat). dan Cililin. Pacet dan Kertasari. Cileunyi dan sebagian wilayah Kecamatan Rancaekek. Margahayu. Gununghalu. Ciparay. yaitu Cipeundeuy. Kota-kota yang dipacu pertumbuhannya untuk menerima limpahan pertumbuhan Kota Bandung dikategorikan Hirarki III-A yaitu kota Cicalengka (termasuk sebagian wilayah Kecamatan Cikancung). Ibukota Kecamatan yang diarahkan berfungsi sebagai pusat pelayanan/pengembangan pedesaan. Majalaya (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Majalaya. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -57 . Cikalongwetan dan Cisarua. Ibun dan Paseh) dan Padalarang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Padalarang. Hirarki II. terdiri atas Kota Soreang (meliputi sebagian wilayah Kecamatan Soreang dan Katapang). Sindangkerta. Cipongkor.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kecamatan Parongpong. Kota-kota yang diarahkan menjadi kota menengah yang mandiri sebagai sembrani tandingan (counter magnet) Kota Bandung dan menjadi pengembangan pusat regional. Lembang. Baleendah. Kota-kota satelit yang mengemban peran khusus dalam sistem Metropolitan Bandung atau kota-kota yang akan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Hirarki III. Rancabali. Hirarki IV. Ngamprah dan Batujajar). Bojongsoang. Kota-kota Hirarki III-B meliputi Kota Pangalengan. Kecamatan Margaasih. Banjaran (termasuk Kecamatan Pameungpeuk). Dayeuhkolot.

industri Pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. pendidikan militer Industri. Pangalengan dan Ciwidey.18 Hirarki Kota-kota di Kabupaten Bandung Kota Kecamatan Margaasih Kecamatan Margahayu Kecamatan Dayeuhkolot Kecamatan Baleendah Kecamatan Bojongsoang Kecamatan Cileunyi Kota Rancaekek Kota Soreang II Hirarki Fungsi Pemukiman Pemukiman. Industri. Rancaekek dan Cileunyi. Pada tahun 2003. Industri. pertambangan Agropolitan I Kota Padalarang Kota Majalaya Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Kota Cicalengka Ciparay Banjaran Lembang Cililin Pangalengan Ciwidey Cikalongwetan Rajamandala Cisarua Cipeundeuy Sindangkerta Gununghalu Cipongkor Rancabali Pacet Kertasari III IV Berperan sebagai pusat pelayanan terdepan dalam rangka pengembangan perdesaan Sumber : RTRW Kabupaten Bandung Permasalahan sub fungsi Tata Ruang adalah meningkatnya kegiatan perkotaan di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya disertai oleh penyediaan instrumen perencanaan tata ruang detail yang memadai sehingga membawa konsekuensi tersendiri pada pembangunan sub fungsi Tata Ruang. Perangkutan dan Perdagangan. Pemukiman Pemukiman. Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan. pemukiman Pemukiman. industri. agropolitan Pariwisata. Pada tahun 2002. Pariwisata. Rendahnya efektivitas penataan ruang dipengaruhi oleh faktor antara lain belum optimalnya kualitas dan kuantitas produk Rencana Tata Ruang serta penegakan hukum yang masih lemah. pendidikan militer. agropolitan Pemukiman. perangkutan ( terminal ) Pemukiman. Pariwisata Pemukiman. Lembang. Rancaekek dan Cileunyi. Industri rumah/ kerajinan Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian barat. industri Pariwisata. agropolitan Industri rakyat/ kecil. dilaksanakan penyusunan RDTRK Majalaya. dilaksanakan pengesahan RDTRK Soreang.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2. Fasilitas sosial Pemukiman Pemukiman. Pemukiman Pusat pelayanan sosial ekonomi Wilayah Kabupaten Bandung bagian timur. Ciparay dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -58 . Pada tahun 2004 dilaksanakan review RDTRK Banjaran. Selama tahun 2001 s/d 2004 perkembangan penyediaan dokumen tata ruang adalah sebagai berikut : • • • • Pada tahun 2001 dilaksanakan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Soreang. industri Pemukiman Pemukiman. Pemukiman. penelitian Pemukiman.

10.210 ha pada tahun 2004. Keputusan Bupati 545 buah. Keputusan Bupati 1. 19. 12. Surat Perjanjian 29 buah serta BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -59 .000 seluas 3.10 Fungsi Ketertiban dan Keamanan 2.500 ha pada tahun 2001. Belum optimalnya pemanfaatan ruang. serta sosialisasi Peraturan Daerah ke 15 kecamatan. Instruksi Bupati 1 buah. rencana pengembangan pusat-pusat wilayah dsb. untuk menunjang peningkatan kualitas penataan ruang telah dilakukan penyediaan peta digital dan peta garis yaitu peta digital dan peta garis skala 1 : 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain itu. Belum optimalnya pengendalian pemanfaatan ruang. dan 4. operasi penegakan hukum melalui razia gabungan terhadap Pekerja Seks Komersial.500 ha pada tahun 2003. Keputusan Bupati 853 buah.092 buah. dan operasi penertiban dan penegakan Peraturan daerah yang berhubungan dengan perijinan perusahaan. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang telah diimplementasikan dalam wujud pemanfaatan ruang. yaitu belum sepenuhnya rencana tata ruang dapat dijadikan acuan pembangunan wilayah dan kota 2.300 ha pada tahun 2002. surat perjanjian 27 buah serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. Instruksi Bupati 2 buah. Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 2. terutama pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan budidaya di kawasan lindung.1 Pembinaan Hukum Pada sub fungsi pembinaan hukum hasil-hasil yang telah dicapai sampai dengan tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 diterbitkan produk hukum berupa Perda 29 buah. penyelesaian perkara hukum sebanyak 11 kasus. • Pada tahun 2003 diterbitkan produk hukum berupa Perda 11 buah. 4. serta penyelesaian perkara hukum sebanyak 7 kasus. surat perjanjian 29 buah. • Pada tahun 2002 diterbitkan produk hukum berupa Perda 18 buah. seperti rencana pembangunan Tegalluar. Permasalahan Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan terutama pada masalah : 1. Belum optimalnya perencanaan tata ruang. 3. Instruksi Bupati 6 buah.

Permasalahan yang dihadapi dalam sub fungsi pembinaan hukum adalah belum optimalnya upaya penegakan supremasi hukum yang ditandai masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda dan aturan hukum lainnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pada tahun 2004 diterbitkan produk hukum berupa Perda 4 buah. surat perjanjian 6 buah. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -60 . pembinaan keluarga sadar hukum di wilayah Kabupaten Bandung. belum optimalnya sosialisasi produk hukum dan bantuan hukum terhadap kasus hukum yang cenderung meningkat. dan penyelesian perkara hukum sebanyak 3 kasus. Instruksi Bupati 1 buah. dan belum optimalnya upaya pembaharuan dan penyusunan produk-produk hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. operasi penertiban dan penegakan Peraturan Daerah ke perusahaan. Keputusan Bupati 264 buah. serta sosialisasi Peraturan daerah ke 4 kecamatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Peta Penggunaan Lahan Tahun 2004 Gambar 2.7 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -61 .

000 -46.000 Danau/Waduk Fasum Lahan Terbuka Pertanian/Saw ah Tegalan Perkebunan Semak/Rumput Sub Urban Belukar Industri Hutan Urban Penggunaan Lahan Jenis Tutupan Lahan % Perubahan Tutupan Lahan DAS Citarum Hulu Jenis Lahan Hutan Perkotaan Industri Belukar Lahan terbuka Pertanian 2002 1983-1993 (%) -18 105 618 45 52 -15 1993-2002 (%) -44 62 35 93 22 -47 1983-2002 (%) -54 233 868 181 86 -55 Gambar 2.000 -6.000 Perubahan Lahan (Ha) 14. 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -62 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1983 54.000 1983-1993 1993-2002 1983-2002 34.8 Peta Perubahan Guna Lahan Kabupaten Bandung Sumber: Wangsaatmaja.000 -26.

unjuk rasa 15 kali. Angka Melek Huruf (AMH). Angka Kematian Bayi (AKB). penertiban pasar 2 kali. penertiban minuman beralkohol (miras) 12 kali.11. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).2 Sub Fungsi Ketertiban. Pam Asset Pemda 12 kali.10. Rasio Ketergantungan. Pam LPJ Bupati 1 kali. Pencapaian Indikator Makro Sosial Indikator makro sosial yang dijadikan penilaian bagi keberhasilan pembangunan antara lain adalah Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). perjudian 28 kali. Prostitusi 5 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. prostitusi 5 kali. perjudian 5 kali. penertiban perijinan perusahaan 16 kali. PGOT 4 kali. • Pada Sub Fungsi Tramtibum dan Penegakan Perda dengan dilaksanakannya pelatihan keterampilan pelaksanaan Kader Sat Pol PP sebanyak 150 orang anggota. Pam Aset Pemkab 12 kali. 2. dan Tingkat Partisipasi Sekolah. PGOT 5 kali. perjudian 5 kali. PGOT 5 kali. penertiban/penegakan kependudukan/KTP 10 kali dan Pam Bencana Alam 12 kali. penertiban minuman beralkohol ( Miras ) 2 kali. Angka Harapan Hidup (AHH). BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -63 . penertiban pasar 3 kali. • Pada tahun 2002 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 16 kali. penertiban perijinan perusahaan 12 kali dan penertiban pasar 1 kali. Pam LPJ Bupati 1 kali. penertiban reklame 2 kali dan penertiban pasar 3 kali. unjuk ras 12 kali. unjuk ras 19 kali. penertiban reklame 3 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 5 kali. Keamanan dan Hukum Lainnya Pada Sub Fungsi Ketentraman dan Ketertiban serta Penegakkan Perda sampai dengan Tahun 2004 adalah : • Pada tahun 2001 dilakukan upaya penertiban/pengamanan PKL 12 kali. prostitusi 1 kali. • Pada tahun 2004 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 22 kali. PGOT 20 kali. Pam Gerakan Disiplin Daerah 3 kali. prostitusi 12 kali. unjuk rasa 22 kali. tawuran 7 kali. Pam Aset Pemkab 12 kali. • Pada tahun 2003 dilakukan upaya penertiban/pengamanan Warung liar/PKL 20 kali.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. perjudian 2 kali.

2.967 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.053.500. LPP tersebut dilihat dari jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2004 yaitu sebanyak 4.000.000 2.145.582 jiwa (terdiri dari laki-laki 2.675 1.000 4.45 tahun dan yang terendah adalah Kecamatan Cipongkor sebesar 56.963.000.6 tahun.967 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.85 tahun (dari proyeksi sebesar 66. Gambar 2.017. Laju Pertumbuhan Penduduk LPP Kabupaten Bandung dalam kurun waktu 2003-2004 tercatat sebesar 3. mengalami peningkatan jika dibandingkan AHH tahun 2003 sebesar 65.053.11.058.500.19%.087.000 3.058. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -64 .411 jiwa) dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2003 yaitu sebanyak 4.556 2. Dengan demikian.963. Kecamatan yang memiliki AHH tertinggi adalah Kecamatan Ibun sebesar 67.145.000 1.556 jiwa dan perempuan 2.000 1.4 tahun.017.15 tahun).64%.500.500.000 2.11.675 jiwa dan perempuan 1.000 3.000.1.2 Angka Harapan Hidup (AHH) Pencapaian AHH tahun 2004 adalah sebesar 65.411 2.000.582 2.000 500.907 jiwa).000 - 4. perlu dicermati langkah-langkah untuk mengantisipasi LPP tersebut baik dari program Kependudukan/KB dan Ketenagakerjaan.087.9 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK KABUPATEN BANDUNG 4.907 2003 2004 Laki-laki Perempuan Jumlah LPP Kabupaten Bandung tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan LPP Jawa Barat yang pada tahun 2004 tercatat sebesar 2.

gizi.2 65.4 65.9 65.4 2003 2004 Tahun Gambar 2. ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) 48 47.6 65.96 dan yang terendah adalah Kecamatan Parongpong dengan AKB sebesar 39.3 65.5 46 45.5 65.3 Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi berumur di bawah satu tahun per 1000 kelahiran. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -65 .37 47.2 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH) 65. Kecamatan yang memiliki AKB tertinggi adalah Kecamatan Cipongkor yang mencapai 72.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.25.50) yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan AKB tahun 2003 sebesar 47.7 65. imunisasi ibu.5 2003 2004 46.7.1 65.37 jiwa per 1000 kelahiran hidup (dari proyeksi sebesar 43.5 47 46. penolong pertama kelahiran bayi.11 AKB dipengaruhi oleh faktor antara lain gizi ibu hamil. dan ANC ( Antenatal Care ).8 65.10 2.7 Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup Tahun Gambar 2.11. Semakin kecil AKB maka semakin sedikit pula bayi yang meninggal di bawah satu tahun. Realisasi AKB tahun 2004 tercatat sebesar 46. Menurut data Suseda.85 AHH (Tahun) 65.

11.94% Dukun.4 Pertolongan Kelahiran Bayi Famili/lainnya.79 % relatif jauh tertinggal jika dibandingkan TPAK penduduk laki-laki yang mencapai 74. Grafik 2. yang mengalami sedikit kenaikan bila dibandingkan dengan TPAK tahun 2003 sebesar 51. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu angka yang menunjukkan tingkat penduduk yang aktif secara ekonomi atau angkatan kerja. diperoleh dengan membagi besarnya angkatan kerja (penduduk usia kerja yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan) dengan jumlah penduduk usia kerja.10 % PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Tenaga Medis Dukun Famili/lainnya Gambar 2. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena sebagian besar perempuan usia produktif masih berada pada posisi sebagai ibu rumah tangga. dan 1. kiranya perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuk dapat mengejar ketertinggalan tersebut.96% Tenaga Medis.03 %. dan Cipongkor.96% oleh dukun.12 2. Dari perspektif jender.4. Rongga.10% kelahiran bayi ditolong oleh tenaga medis. 38.83. TPAK perempuan di Kabupaten Bandung yang mencapai 30. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -66 . Dengan melihat kondisi tersebut dan jika dikaitkan dengan pencapaian AKB rata-rata Jawa Barat yang pada tahun 2003 telah mencapai 43.84%. 1. 38. Data Suseda menunjukkan TPAK Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat sebesar 52.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 sebanyak 59. 59. Angka pertolongan yang tinggi oleh dukun banyak dijumpai antara lain di Kecamatan Rancabali.66%.94% ditolong oleh famili/lainnya.

5 ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) 53.00% 51.13 2.84%. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten perlu mengantisipasi agar penduduk usia lanjut tersebut tidak menjadi beban bagi penduduk usia produktif.50% 51.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2. Hal ini menunjukan pada tahun 2004 terdapat penurunan beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif. Rasio Ketergantungan (Dependency Rasio) Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berusia 0 -14 tahun ditambah penduduk berusia di atas 65 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15-64 tahun.48 % yang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2003 yaitu 55.50% 50.00% 52. Data Suseda menunjukkan angka beban ketergantungan tahun 2004 tercatat 52.50% 52.00% 50.03% TPAK 52. yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup masyarakat Kabupaten maka akan berdampak pada bertambahnya penduduk usia tua yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap rasio ketergantungan. Jika dikaitkan dengan keberhasilan di sektor Kesehatan.5.11. Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung oleh golongan penduduk umur produktif. BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -67 .84% Gambar 2.00% 2003 2004 51.

77% penduduk atau sekitar 73.00% 56. AMH pada penduduk laki-laki tercatat sekitar 99 % dan pada perempuan sekitar 97.58%.40% 98.23% (dari proyeksi sebesar 97.00% 52.20% 98.60% 97.80% 97.7 ANGKA MELEK HURUF ANGKA MELEK HURUF (AMH) 98.6 Angka Melek Huruf (AMH) AMH Kabupaten Bandung tahun 2004 tercatat 98.40 %) dan mengalami peningkatan jika dibandingkan AMH tahun 2003 sebesar 97.00% 55.84% Gambar 2. Apabila dibandingkan antara AMH pada penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang mengalami buta huruf dibandingkan penduduk laki-laki.48% Rasio Ketergantungan 55.50% AMH 98.00% 54.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Grafik 2.00% 51.5%.6 RASIO KETERGANTUNGAN RASIO KETERGANTUNGAN 57.00% 53.00% 2003 2004 97.15 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -68 .00% 97.384 jiwa yang belum bisa membaca dan menulis. Dengan pencapaian AMH tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bandung sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis serta hanya sekitar 1.14 2.20% 97.00% 50.23% Tahun Gambar 2.00% 2003 Tahun 2004 52. Grafik 2.40% 97.11.

68 thn 534. tercatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2004 adalah 8.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.85 thn 98.09 97.50 Proyeksi 2004 66.15 thn Realisasi 2004 65. Proyeksi dan capaian dari komponen-komponen IPM tahun 2003 dan 2004 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 2.20 Pencapaian Komponen IPM Kabupaten Bandung Tahun 2003-2004 dan Capaian Jawa Barat 2004 No 1 2 3 4 Komponen Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Daya Beli (Rp) IPM Proyeksi 2003 65.34 thn 93.37 thn 554. SLTP.11.19 Pencapaian APM Kabupaten Bandung Tahun 2003 dan 2004 No 1 2 3 4 Tingkat SD/MIS SLTP/MTS SMA/MA Perguruan Tinggi 2003 Proyeksi Realisasi (%) (%) 95.12. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kabupaten Bandung telah mengenyam pendidikan sekitar 8 tahun.200 67. AMH.03 tahun yang mengalami peningkatan jika dibandingkan RLS tahun 2003 sebesar 7.90 55.65 thn 530.70 % 7.44 37.72 97.21 95.870 70.03 thn 534.95 Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 Dari semua komponen IPM.49 thn 515.18 65.36 96. realisasi IPM tahun 2004 sebesar 68.5.44 34.320 68.4 thn 97. 2.52 mengalami peningkatan jika dibandingkan IPM tahun 2003 sebesar 67.060 68.16 30.570 68.09 6.53 % 7. SMU dan PT tahun 2003 dan 2004 untuk berbagai level pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.22 54. Dengan demikian. diharapkan komponen AHH tersebut BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -69 . Walaupun pencapaian belum sesuai proyeksi.52 Realisasi Jawa Barat 2004 65.23 % 8. RLS dan pendapatan per kapita tahun 2004 telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IPM).65 tahun.01 77.38 29.96% 7.40 % 7.60 - Sumber : BPS Kabupaten Bandung Berdasarkan pencapaian tingkat partisipasi sekolah tersebut. Tingkat Partisipasi dan Melanjutkan Sekolah Pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD.46 thn Realisasi 2003 65. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan capaian AHH. dalam kurun waktu 2003 – 2004 hanya komponen AHH yang belum dapat memenuhi proyeksi sehingga berpengaruh terhadap pencapaian sesuai proyeksi.7.45 - Proyeksi (%) 2004 Realisasi (%) 93. Tabel 2.

72 67.21 dan proyeksi IPM Kabupaten hingga tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.22 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -70 . Apabila dikaitkan dengan target IPM Propinsi Jawa Barat tahun 2010 sebesar 80 maka diperlukan upaya yang serius dari Pemerintah Kabupaten Bandung melalui penajaman program-program prioritas untuk dapat mencapai angka tersebut. PENCAPAIAN IPM KABUPATEN BANDUNG 70.95 71 70 69 68 67 66 65 IPM 68.5 68.16 Pencapaian IPM tiap kecamatan di kabupaten dapat dilihat pada tabel 2.36 Proyeksi 2003 Realisasi 2003 Proyeksi 2004 Realisasi 2004 Realisasi Jabar 2004 Gambar 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung perlu mendapat perhatian untuk penajaman kebijakan di tahun mendatang.52 68.

60 60.65 65.80 10 CIPARAY 11 MARGAASIH 12 CILENGKRANG 13 CIMENYAN 14 NAGREG 15 KATAPANG 16 MAJALAYA 17 PARONGPONG 18 CIMAUNG 19 SOREANG 20 CANGKUANG 21 PANGALENGAN 22 BANJARAN 23 PADALARANG 24 CIHAMPELAS 25 CILILIN 26 PASIR JAMBU 27 ARJASARI 28 CIKALONG WETAN 29 CICALENGKA 30 CIPEUNDEUY 31 SOLOKAN JERUK 32 RANCABALI 33 NGAMPRAH 34 BATUJAJAR 35 CIPATAT 36 CIWIDEY 37 SINDANG KERTA 38 CISARUA 39 PASEH 40 KERTASARI 41 PACET 42 GUNUNGHALU 43 CIKANCUNG 44 CIPONGKOR 45 RONGGA Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2004 BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -71 .14 530.02 6.92 533.71 8.49 7.45 64.22 67.00 541.99 68.47 541.70 96.51 9.44 528.83 7.76 99.11 66.10 526.08 66. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KECAMATAN CILEUNYI MARGAHAYU DAYEUH KOLOT RANCA EKEK IBUN LEMBANG BALEENDAH BOJONG SOANG PAMEUNGPEUK Komponen IPM AHH (thn) 67.35 6.66 64.14 529.23 7.60 98.55 62.15 63.15 65.88 523.35 56.26 538.00 61.69 98.45 65.39 7.60 99.82 93.05 60.60 9.73 99.59 538.81 6.70 97.69 67.69 68.81 99.43 97.40 64.88 65.45 531.71 65.54 534.15 69.40 64.05 97.52 67.61 8.83 99.17 64.24 65.80 65.84 99.10 63.58 9.53 98.02 536.25 68.70 64.95 63.29 98.61 93.10 526.55 99.03 65.62 10.30 10.58 530.20 66.37 96.37 68.00 66.91 7.00 65.47 533.25 8.96 97.59 99.25 66.57 68.72 RLS (thn) 9.25 536.21 7.35 66.39 546.19 523.21 Pencapaian IPM di Tiap Kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2004 NO.05 61.65 67.03 8.02 5.34 64.05 62.20 69.61 529.65 64.55 65.51 97.11 6.88 7.87 540.83 540.32 66.06 529.55 540.78 97.81 68.43 98.85 65.10 98.94 8.63 69.89 94.65 62.51 70.64 527.40 65.10 535.98 68.55 57.50 8.31 66.17 67.90 65.93 98.86 98.05 65.63 7.65 68.80 8.02 98.94 6.83 99.77 98.22 96.29 67.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.65 63.60 533.60 7.51 PPP (ribu Rp) 545.35 66.15 7.16 64.25 AMH (%) 99.10 522.95 61.75 62.05 64.23 533.91 7.64 534.00 523.11 543.56 6.71 98.00 7.95 9.65 7.53 6.56 525.36 9.11 68.24 517.32 8.25 65.53 97.34 91.49 99.85 8.61 98.54 99.85 8.00 95.95 98.39 60.39 68.01 519.35 61.07 7.68 529.62 IPM 71.93 65.28 70.79 6.65 65.14 6.85 65.63 544.37 524.65 68.58 8.20 67.55 65.25 539.51 540.86 67.75 64.20 8.64 67.37 550.12 96.27 525.43 99.63 98.73 521.85 65.05 65.55 64.72 67.90 529.92 68.95 67.22 98.45 63.29 92.98 8.

83 99.87 69.49 49.28 72.22 64.90 98.20 82.50 39.RATA LAMA SEKOLAH ( TAHUN) INDEKS INDEKS PENDIDIKAN KEMAMPUAN DAYA BELI ( X.68 61.17 65.22 Proyeksi IPM Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 NO 1 INDIKATOR 2000 2 3 2001 4 2002 5 2003 6 7 PROYEKSI PER TAHUN 2004 2005 8 2006 9 2007 10 2008 11 2009 12 2010 13 1 ANGKA HARAPAN HIDUP ( TAHUN ) INDEKS ANGKA MELEK HURUF ( %) INDEKS RATA .70 7.11 65.10 7.22 32.00 517.40 94.06 56.13 98.86 2 3 4 5 6 60.93 81.60 550.78 66.25 36.70 Proyeksi dihitung berdasarkan hasil Suseda 20012003 Sumber Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -72 .50 75.87 83.89 545.15 68.40 56.57 7 64.19 51.60 7.90 52.60 8.1000) INDEKS ANGKA KEMATIAN BAYI (PER 1000 KELAHIRAN) INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA 63.01 73.58 99.88 55.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 2.93 52.80 78.42 57.58 97.60 78.68 51.64 74.18 94.35 99.55 64.28 66.40 97.40 7.80 521.09 539.87 85.60 98.60 525.50 50.85 29.63 68.50 9.58 34.86 561.90 8.47 83.93 98.43 96.26 68.75 74.70 96.60 93.03 60.64 51.35 8.74 43.97 47.10 95.62 57.44 67.17 54.47 85.22 66.56 70.29 69.26 64.29 48.20 65.03 67.14 47.87 54.25 93.00 534.20 7.Rp.35 99.50 99.00 84.48 71.11 530.15 99.40 567.15 8.59 73.97 59.20 86.48 70.75 98.07 66.46 67.53 72.60 79.26 555.02 46.30 53.30 95.47 30.85 69.40 7.83 58.15 69.40 56.72 60.42 70.20 98.

6. rendahnya tingkat pendapatan dan tingginya LPP. 3. Masih rendahnya keterpaduan pemanfaatan ruang kota. 2. 4. 5. Kualitas pendidikan masih relatif rendah disebabkan antara lain belum tercapainya target RLS. Hingga tahun 2010 diharapkan IPM Kabupaten Bandung akan mencapai atau bahkan lebih besar dari proyeksi sebesar 74. serta kualitas kesehatan lingkungan yang masih relatif rendah. integrasi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung pada tahun 2004 masih berada pada angka 68. dan belum optimalnya aplikasi konsep pembangunan partisipatif. Kualitas pelayanan publik belum optimal disebabkan antara lain oleh terbatasnya kualitas sumberdaya manusia aparatur. persebaran dan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum memadai. dan sarana prasarana yang belum memadai. Koordinasi. sinkronisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. munculnya berbagai penyakit masyarakat. SPM. 2. pasar dan sistim transportasi sehingga menyebabkan kesemrawutan kota dan kemacetan lalu lintas.13 Isu Strategis Kabupaten Bandung Berdasar kondisi dan proyeksi mendatang Kabupaten Bandung 2010. kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelayananan pendidikan. Menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan ditandai dengan meningkatnya pencemaran air dan udara serta masalah lingkungan lainnya seperti banjir dan BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -73 . sosial dan budaya sebagai akibat dari derasnya arus perubahan dan globalisasi. kesadaran hidup bersih dan sehat.70 yang akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pembangunan di berbagai fungsi dan sub fungsi pembangunan. 7.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Dilihat secara makro. Resistensi nilai-nilai religius. kinerja birokrasi. 8. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi yang disebabkan oleh tingginya tingkat pengangguran. Isu strategis yang merupakan gambaran umum permasalahan yang dihadapi Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut : 1.52 (realisasi). menurunnya kepekaan dan solidaritas sosial. sedikit diatas IPM Jawa Barat yaitu sebesar 68. serta berkurangnya kesadaran dan citra budaya Sunda dalam kehidupan masyarakat. kualitas pelayanan kesehatan.36. simplikasi. seperti terminal.

lemahnya kelembagaan desa dan belum teralokasikannya sumber keuangan desa secara memadai. IPAL.14 Konfigurasi Isu Startegis dan Kerangka Intervensi Pembangunan Dari kesembilan isu strategis di atas dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antar isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan. Rendahnya kinerja pembangunan desa disebabkan kualitas SDM.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung longsor. aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Pembenahan ini dilakukan di semua lini pemerintahan. rendahnya efektivitas penataan ruang dan lemahnya pengawasan dan pengendalian. 2. yang terkait langsung dengan tujuan pembangunan. pemanfaatan ruang kawasan pedesaan. mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa antara lain dengan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM). penataan kelembagaan maupun pemekaran wilayah. perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan menurunnya daya dukung lingkungan dan sediaan infrastruktur dasar (jalan. Isu-isu pada kelompok ini terkait dengan pembenahan internal Kabupaten Bandung. TPA. o Kelompok 2: Isu-isu terkait dengan penyediaan pelayanan umum dasar bagi masyarakat. yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran. o Kelompok 3: Isu-isu terkait dengan perbaikan kondisi fisik keruangan kabupaten. dll) o Kelompok 4: Isu-isu terkait dengan perbaikan aspek sosial. Isu yang termasuk dalam kelompok ini terkait dengan modal sosial yang terancam oleh faktor eksternal. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan kepentingan masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Isu-isu dalam kelompok ini terkait dengan pelaksanaan fungsi/peran pemerintah sebagai public servant (pelayan publik). Untuk melihat konfigurasi dari kesembilan isu strategis tersebut dilakukan pengelompokan isu-isu strategis ke dalam beberapa kelompok isu yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan sebagai berikut: o Kelompok 1: Isu-isu terkait dengan perbaikan kualitas pemerintahan. sarana infrastruktur perdesaan. juga adanya kegagalan internal BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -74 . perumahan. 9.

K e lo m p o k 2 : PELAYAN AN D ASAR U N TU K W ARG A IS U 6 : K u a lit a s p e la y a n a n p u b lik b e lu m o p t im a l K e lo m p o k 1 : PEM ER IN T A H A N IS U 5 : < K in e r ja b iro k r a s i m a s ih re n d ah > ISU 4: J u m la h penduduk m is k in m a s ih r e la t if t in g g i IS U 3 : < K u a lit a s k e s e h a ta n m a sy ara k at m a s ih r e n d a h > IS U 2 : K u a lit a s p e n d id ik a n m a s ih r e la t if ren d a h K e lo m p o k 4 : M O D A L S O SIA L IS U 1 : R e s is t e n s i n ila in ila i r e lig iu s . BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah II -75 . s o s ia l d a n budaya IS U 9 : R endahnya k in e r j a pem bangunan desa K e lo m p o k 3 : FISIK K E R U A N G A N IS U 7 : k e s e m ra w u ta n k o ta d a n k e m a c e t a n la lu lin t a s ISU 8: M en u ru n n y a daya dukung d a n k u a lit a s lin g k u n g a n Gambar 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keempat kelompok isu tersebut kemudian diletakkan dalam suatu konfigurasi permasalahan untuk melihat keterkaitan antar kelompok isu dan posisinya dalam kerangka intervensi pembangunan yang akan dilakukan. kelompok isu ketiga (fisik keruangan). dan kelompok isu keempat (modal sosial). Gambar di atas menunjukkan hubungan antar kelompok isu dimana isu pada kelompok pertama (pemerintahan) dianggap memberi dampak pada terjadinya permasalahan pada kelompok isu kedua (pelayanan dasar untuk warga). kelompok isu keempat (modal sosial) dianggap sebagai dampak dari berbagai masalah yang terjadi pada semua kelompok isu. Gambar di bawah ini menjelaskan konfigurasi permasalahan tersebut. Sementara itu.17 Konfigurasi Permasalahan dan Keterkaitan Antarkelompok Isu.

Percepatan pembangunan tersebut mengandung maksud menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi cepatnya pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bandung. damai. MISI DAN PRIORITAS DAERAH 3.1 V i s i Berdasarkan potensi. dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa” Makna dari Visi tersebut : Repeh Rapih Kertaraharja adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu suatu kondisi masyarakat Kabupaten Bandung yang hidup dalam keadaan aman. tertib. pelaksanaan hingga pengawasan. dengan pengertian bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berperan aktif dalam keseluruhan proses pembangunan mulai dari tahap perencanaan. kehendak dan kebutuhannya secara proporsional dan bertanggungjawab. visi yang kami kedepankan adalah ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. bimbingan dan rahmat Allah SWT. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-1 . Partisipatif merupakan pendekatan yang diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan. Sesuai dengan paradigma kepemerintahan yang baik bahwa kedudukan masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan sesuai dengan prakarsa. aspirasi dan dinamika yang berkembang pada masa kepemimpinan tahun 2000-2005. melalui Akselerasi Pembangunan Partisipatif yang Berbasis Religius. sehingga manfaatannya dapat segera dirasakan oleh masyarakat. tuntutan. permasalahan dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung dengan memperhatikan nilai-nilai visi daerah. sejahtera dan senantiasa berada dalam lindungan. Kultural dan Berwawasan Lingkungan. tenteram. Akselerasi pembangunan atau percepatan pembangunan adalah segala upaya yang dilakukan untuk membuat proses pembangunan lebih cepat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB III VISI.

Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. dirumuskan 8 ( delapan ) misi sebagai berikut : 1. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa. Tertib. Desa yang dalam susunan pemerintahan merupakan unit pemerintahan terendah adalah ujung tombak pembangunan daerah dan lokus yang menjadi muara seluruh aktifitas pembangunan. 2. serta menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik. nyaman. termasuk penyelengaraan pemerintahan dan pembangunan. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-2 . bahwa pembangunan di Kabupaten Bandung harus memberikan perhatian yang besar dan sungguh–sungguh terhadap pengembangan desa. mewarnai. 6. Daya dukung dan kualitas lingkungan harus menjadi acuan utama segala aktifitas pembangunan. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan hidup beragama. 7. norma. dan berkelanjutan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Tenteram dan Dinamis.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Religius mengandung pengertian bahwa nilai-nilai. semangat dan kaidah agama. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. 4. agar tercipta tatanan kehidupan yang seimbang. melekat dan menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Bandung. Berwawasan Lingkungan mengandung pengertian dan kepedulian yang tinggi terhadap keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan yang didasari oleh kesadaran akan fungsi strategis lingkungan terhadap keberlangsungan hidup manusia. Kultural mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya Sunda yang baik. Pengembangan budaya Sunda tersebut dilakukan dengan tetap menghargai pluralitas kehidupan masyarakat secara proporsional.2 M i s i Untuk mewujudkan visi diatas. 3. peningkatan kualitas kinerja pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. menjadi ruh dan pedoman seluruh aktivitas kehidupan. 3. harus menjiwai. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Peningkatan Kinerja Pembangunan Desa mengandung pengertian. harus tumbuh dan berkembang seiring dengan laju pembangunan. 5. khususnya Islam yang diyakini dan dianut serta menjadi karakter dan identitas mayoritas Kabupaten Bandung. 8.

sektor swasta dan masyarakat secara proporsional dan bertanggung jawab. demokratis. efektif. egaliter dan mampu mengedepankan keteladanan. sebagaimana firmannya dalam al-quran surah al-baqarah ayat 30 yang artinya : ” sesungguhnya aku akan menjadikan manusia sebagai khalifah ( pemimpin ) di muka bumi ini”.1 Misi 1 : Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab. efisien. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tidak semata-mata disandarkan kepada pemerintah saja tetapi merupakan sinergitas dari peran pemerintah. adil.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. transparan. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. responsif. organisasi dan kepemimpinan serta sistem yang berlaku di dalamnya harus dijalankan sesuai dengan tuntunan-nya dan dipertanggungjawabkan bukan saja di hadapan manusia. kesadaran akan peran dan tanggung jawab tersebut bukan semata-mata merupakan tuntutan organisasi tetapi harus diyakini sebagai amanah dari allah swt. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik adalah peran kepemimpinan yang demokratis. kesetaraan. yaitu pemerintah. sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik. akuntabel dan memiliki visi strategik.2. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-3 . Kepemimpinan harus dilandasi oleh kesadaran mengambil peran dan tanggung jawab untuk membangun demi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. berorientasi konsesus. Bertanggung jawab mengandung pengertian bahwa pelaksanaan peran dan fungsi setiap domain pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif berdasarkan prinsipprinsip kepemerintahan yang baik. dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama. sistem dan manajemen pemerintahan perlu dimantapkan antara lain dengan melakukan penataan wilayah dalam rangka mengefektifkan rentang kendali pengelolaan pemerintahan. tetapi juga dihadapan-nya. partisipatif berlandasakan hukum. oleh karena itu. Proporsional dalam hal ini mengandung pengertian bahwa setiap domain pemerintahan melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan kapasitas yang dimiliki berdasarkan tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

yaitu : pertama : siddiq ( benar ) : yaitu komitmen terhadap kebenaran. allah swt berfirman dalam al-quran surah al-ahzab ayat 21. berada dalam kebenaran dan menuju kebenaran. apa yang diucapkannya harus dapat dibuktikan dengan perbuatan yang nyata.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pertanggungjawaban kepemimpinan ini ditegaskan lebih lanjut dalam sebuah hadist. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-4 . kebenaran inilah yang harus menjadi landasan strategi kebijakan serta acuan utama seluruh aktivitas pemerintahan dan pembangunan. termasuk kepemimpinan pemerintahan di dalamnya. harus mampu dipenuhinya sebagaimana seharusnya.segala langkah yang ditempuh seorang pemimpin harus harus berpijak pada kebenaran. memperhatikan dan menyikapi dengan segera apa yang menjadi aspirasi masyarakatnya agar kebijakannya senantiasa berorientasi pada kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. rasulullah saw patut dijadikan sebagai tauladan. kedua : tabligh ( menyampaikan ): seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan berbagai programnya dengan baik kepada masyarakat serta mampu mendengar. sekecil apapun yang menjadi hak rakyat. termasuk kepemimpinan di dalamnya. keempat : fathonah ( cerdas) : yaitu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta memiliki semangat untuk menjadikan berbagai fenomena kehidupan sebagai pelajaran yang sangat berharga. selain itu. ketiga : amanah ( jujur ) : seorang pemimpin harus berlaku jujur dan adil disertai dengan keikhlasan dan ketawakalan dalam mengemban amanah kepemimpinannya. yang artinya” sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu. bahwasannya rasulullah muhammad saw bertsabda : ”setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”. kedatangan hari akhir dan mereka banyak menyebut nama allah. kepemimpinan bukan semata-mata kekuasaan tetapi merupakan kapasitas intelektual yang dikonsepsikan dan dipraktekan dalam berbagai kebijakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya.” secara garis besar terdapat 4 ( empat ) karakter kepemimpinan rasulullah saw yang harus kita teladani dalam berbagai lingkup kepemimpinan. dalam praktek kehidupan. yaitu bagi mereka yang mengharapkan ridho allah.

disertai dengan perhatian yang lebih besar pada pemberdayaan perempuan agar memiliki kesetaraan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-5 . Tentram dan Dinamis. keahlian. Tertib.2 Misi 2: Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. perlu terus dilakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.3 Misi 3: Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Untuk mendorong terciptanya masyarakat maju dan mandiri agar mampu menjadi subjek pembangunan dalam kerangka otonomi daerah dan isu globalisasi. Dinamika pemerintahan. derajat kesehatan. Selain itu. kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. pembangunan dan kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan tuntutan perubahan kehendak dan kebutuhan masyarakat berdasar asas demokrasi yang bertanggung jawab. peningkatan kemampuan intelektual. Oleh karena itu. persatuan dan kesatuan seluruh komponen pembangunan. Peningkatan kualitas meliputi pemantapan moral dan mental. tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama. disertai dengan rasa kebersamaan. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yan sangat penting dalam rangka mewujudkan Kabupaten Bandung yang Repeh Rapih Kertaraharja. penegakan hukum harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan adil dengan perlakukan yang sama terhadap semua orang tanpa diskriminasi. tertib. tenteram dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan.2. ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai. dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Keamanan. Kondisi yang aman. 3. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dimaksud.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman.2. yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum.

3.4 Misi 4: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya.Selain itu. Penilaian kemiskinan dengan permasalahan sosial merupakan siklus masalah yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Selain itu. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-6 . Dengan demikian.2. 3. membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung peran dan fungi dalam ruang pembangunan serta pemberdayaan generasi muda agar pada masa yang akan datang mampu mengambil peran dalam pembangunan. akan mampu meningkatkan kemampuan usaha masyarakat. pengembangan potensi ekonomi daerah juga harus membuka ruang bagi terciptanya demokrasi ekonomi yang bertumpu pada ekonomi kerakyatan. Apabila potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik. masalah kemiskinan dapat diminimalisir yang berarti juga akan berpengaruh pada berkurangnya masalah sosial dan semakin mantapnya keyakinan teologis masyarakat. Sehingga paradigma pembangunan ekonomi di Kabupaten Bandung harus dititikberatkan pada keselarasan pengembangan pertanian yang kuat dengan industri yang maju yang bertumpu pada pengembangan potensi sumber daya lokal.2.5 Misi 5: Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Untuk mewujudkan masyarakat yang Repeh Rapih Kertaraharja di tengah –tengah masyarakat Kabupaten Bandung yang sangat religius. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi terutama pada sektor pertanian dan industri. upaya-upaya pengentasan kemiskinan harus terus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras agar masyarakat dapat hidup layak dan menjalani kehidupannya dengan baik. konsep iman dan taqwa sebagai muatan utama masyarakat beragama harus menjadi landasan pokok yang harus dikedepankan. Oleh karena itu. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap keyakinan teologis yang dapat mengakibatkan kekufuran. diantaranya tidak adanya pendapatan. tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha.

Budaya juga dapat menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif untuk menghadapi dampak negatif derasnya arus perubahan. Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda.nyaloka dan sikap yang luhur. wiwaha tur wijaksana harus dikembangkan sebagai bagian dari jati diri kesundaan. tetapi juga muatan sosial. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. Selain. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-7 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. identitas dan kepribadian suatu kominitas masyarakat. Oleh karena itu. nyantana. 3. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. silih asah dan silih asuh. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan. karakter masyarakat Sunda anu boga wani.Kinerja pemerintahan dan kehidupan masyarakat harus dilandasi oleh semangat silih asih. Pada sisi lain. dengan identitas nyantri. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. Dalam perspektif agama.2. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. Masyarakat Sunda harus mempunyai kepercayaan diri dan kemandirian untuk berperan maksimal dalam pembangunan di Kabupaten Bandung. gesit binangkit.6 Misi 6: Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda Budaya merupakan salah satu sumber nilai yang menunjukan jati diri. perigel. nyantika. nyunda. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. wanoh. luhung. budaya juga merupakan modal utama pembangunan untuk mewujudkan keserasian dan keselarasan hidup manusia.

Oleh pembangunan karena harus itu. yaitu menguntungkan secara ekonomis. baik sumber daya manusia. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini.2.7 Misi 7: Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan Pembanguanan adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik. rendahnya produktifitas tenaga kerja. Oleh karena itu. Pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan akan mengakibatkan menurunnya daya dukung dan kualitas lingkungan. 3. diperlukan perhatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian sumber daya alam. kinerja dititikberatkan untuk meningkatkan pembangunan desa.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. yang akhirnya akan berakibat pada kerusakan alam dan bencana yang akan melanda manusia. demi keberlangsungan kehidupan manusia dan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan. Konsekuesi logis dari sebuah pembangunan adalah penggunaan berbagai sumber daya. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan. masih tingginya tingkat kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman.8 Misi 8: Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa Sebagian besar masyarakat Kabupaten Bandung bertempat tinggal di pedesaan dicirikan antara lain dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. diterima secara sosial dan ramah lingkungan. dalam rangka pada pencapaian upaya kesejahteraan masyarakat.2. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-8 . tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. dana. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. teknologi maupun sumber daya alam. pengembangan kapasitas keuangan desa.

BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-9 . Sehubungan dengan pemikiran tersebut. 4. Prioritas Daerah Di dalam pembangunan. Oleh karena itu. yaitu pendidikan. potensi dan peluang yang dimiliki Kabupaten Bandung. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator keberhasilan pembangunan yang merupakan gabungan komposit dari tiga komponen pokok. peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. peningkatan sarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun. peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan. permasalahan. 2. Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM). ditetapkan prioritas pembangunan sebagai berikut : 1. melalui peningkatan kesadaran budaya sehat. pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklim usaha yang kondusif. manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting. Peningkatan perekonomian daerah.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pedesaan. kesehatan dan daya beli masyarakat. dengan tetap memandang semua bidang pembangunan dalam kedudukan yang penting. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melalui peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. segala aktifitas pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan kualitas manusia (human development). pada hakekatnya perencanaan strategis pembangunan Kabupaten Bandung diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan – kebutuhan dasar manusia yang semuanya bermuara pada Indeks Pembangunan Manusia. dan perbaikan gizi masyarakat. peningkatan sarana/prasarana kesehatan. Pada satu sisi. manusia juga merupakan sasaran yang harus menikmati hasil–hasil pembangunan.3. manusia adalah subjek pembangunan yang bertindak sebagai pelaku ( stakeholders ). revitalisasi pertanian. Berdasarkan pada kondisi. 3. 3. pada sisi yang lain. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah.

peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruang kota dan pusat pertumbuhan. serta pengembangan alokasi dana desa (ADD).85 pada tahun 2005 menjadi 70. 7.50 pada tahun 2010 dan meningkatnya rata-rata lama sekolah dari 7. Peningkatan kualitas. Peningkatan optimalisasi pengawasan dan penegakan hukum berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia dan prinsip keadilan. Peningkatan kinerja pembangunan desa. serta peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka melek huruf (AMH) dari 98. kesehatan dan ekonomi (daya beli masyarakat).03 pada tahun 2010. peningkatan gairah investasi serta aktivitas ekonomi lainnya. 6.50 pada tahun 2010. selain dukungan alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD). dengan sasaran kuantitatif meningkatnya angka harapan hidup (AHH) dari 66. Pembangunan Bidang Kesehatan diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Peningkatan ketersediaan dan kualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatan pembangunan.93 pada tahun 2005 menjadi 9.1. peningkatan keberdayaan masyarakat desa.3. melalui peningkatan kapasitas pemerintahan desa. Bidang Prioritas Pembangunan Sejalan dengan prioritas daerah diatas. 9. efektifitas dan efisiensi kinerja birokrasi. 3. Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui peningkatan profesionalisme.20 pada tahun 2005 menjadi 99. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan dibidang pendidikan. dan menurunnya angka BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-10 . pelaksanaan pembangunan periode 20052010 dititikberatkan pada tiga bidang pokok yaitu pendidikan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencegahan dini terhadap bencana. 8. pengembangan ekonomi dan pembangunan kawasan perdesaan. perlu diupayakan pengembangan partisipasi masyarakat dan dunia usaha melalui sistem dan mekanisme yang transparan dan akuntabel. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan pada terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas.

880.680.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010.. Hubungan Antara Konfigurasi Permasalahan Dengan Kerangka Intervensi Kebijakan Jangka Menengah KARAKTERISTIK INTERVENSI KONFIGURASI PERMASALAHAN KERANGKA INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU Kelompok 1: PEMERINTAHAN REFORMASI TATA PEMERINTAHAN AKSELERASI PEMBANGUNAN Kelompok 2: PELAYANAN DASAR UNTUK WARGA Kelompok 3: FISIK KERUANGAN PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS PELAYANAN PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA FAKTOR PENUNJANG Kelompok 4: MODAL SOSIAL PEMELIHARAAN KARAKTER LOKAL Dari gambar kita bisa interpretasikan bahwa: kapasitas pemerintahan yang baik akan berdampak pada kemampuannya dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat. juga diharapkan trwujudnya budaya hidup sehat yang dilandasi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan. baik pelayanan dasar maupun penunjang. 3.25 per 1000 kelahiran menjadi 29.567.539. Selain sasaran kuantitatif tersebut..2 Kerangka Relasi Antara Misi dengan Intervensi Kebijakan Pembangunan Konfigurasi isu strategis seperti yang diulas pada Bab II kemudian diletakkan ke dalam kerangka intervensi pembangunan yang akhirnya akan berimplikasi pada pengelompokan misi. dengan sasaran kuantitatif meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat dari Rp.pada tahun 2005 menjadi Rp. yang akhirnya diharapkan akan berkontribusi terhadap peningkatan modal sosial berupa ketahanan masyarakat pada BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-11 . Pemberdayaan ekonomi masyarakat diupayakan melalui perhatian dan perlakuan yang dapat memenuhi aspek penggalian potensi dan kemampuan penciptaan iklim yang kondusif dan perlindungan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pembangunan Bidang Ekonomi diarahkan pada terwujudnya peningkatan keberdayaan ekonomi masyarakat.pada tahun 2010.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kematian bayi (AKB) dari 39.3.

diperlukan tiga jenis intervensi yaitu: • Perbaikan Tata Pemerintahan yang mencakup: o o • Misi 1. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Tertib. • Intervensi pembangunan harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan yang sedang dihadapi oleh pemerintah terutama masalah yang BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-12 . Misi 7. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Berdasarkan kerangka pikir pada gambar diatas. Untuk mewujudkan hal tersebut diatas. Prioritas tersebut harus ditentukan secara rasional berdasarkan prinsip berikut ini: • Tidak mungkin sumberdaya publik hanya dialokasikan pada penguatan internal. Ini karena tidak mungkin pelayanan publik berjalan baik bila sistem dan pelakunya masih belum siap. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya: o Misi 3. intervensi pembangunan jangka menengah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok intervensi yaitu: • • • Kelompok Intervensi Perbaikan sistem dan pelaku (pemerintah) Kelompok Intervensi Akselerasi pembangunan Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Dari ketiga karakteristik tersebut harus dijalankan secara proporsional berdasarkan prioritas intervensinya. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. o o Misi 5. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Namun penguatan harus dilakukan segera pada awal pembangunan agar proses pembangunan berikutnya bertumpu pada dasar yang kuat. Tenteram dan Dinamis. • Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal o Misi 2. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pengaruh global dan menguatnya nilai religius dan kultural dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Bandung. Misi 6. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.

Dengan demikian. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Misi 7. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sifatnya mendasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya seperti ketersediaan infrastruktur. pelayanan pendidikan. Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh sejauhmana intervensi pada wilayah ini mendapat perhatian dan penanganan yang baik. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. dan pelayanan kesehatan. Dengan demikian urutan prioritas Kelompok Intervensi adalah: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. Misi 6. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8. Tenteram dan Dinamis. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. o o Misi 5. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Tertib. BAB III Visi Misi dan Prioritas Daerah III-13 . • Keberadaan Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal (faktor penunjang) dalam proses pembangunan merupakan bagian penting tetapi kedudukannya berada dibawah Kelompok Intervensi lainnya karena sifatnya yang tidak terkait langsung dengan permasalahan pembangunan. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda.

Dengan adanya tujuan. kebijakan dan program. triwulanan atau bulanan. 3. Mewujudkan Good Governance dan Clean Goverment 2. Strategi pembangunan Kabupaten Bandung dapat dikategorikan ke dalam tiga Strategi Pokok yaitu: 1. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan sederhana sehingga dapat dilihat benang merah dari seluruh strata rencana strategis ini. kebijakan dan program secara lengkap ditampilkan dalam bentuk matriks pada lampiran. tujuan. Strategi adalah cara mencapai tujuan dan sasaran yang merupakan rencana yang mencakup upaya-upaya menyeluruh dan terintegrasi untuk mengoperasionalkan tujuan dan sasaran melalui penetapan kebijakan dan program. kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat. efektif dan ekonomis. Sasaran menggambarkan tindakan-tindakan/aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dengan memberikan penekanan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki secara efisien. Sasaran adalah penjabaran dari tujuan. maka fokus kinerja pemerintah daerah dapat lebih dipertajam dan memberikan arah bagi sasaran yang akan dicapai.1 . Tujuan adalah penjabaran dari pernyataan misi yang merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 3-5 tahun. Akselerasi peningkatan IPM dengan prioritas penataan regulasi dan fokus anggaran pada bidang pendidikan. strategi. maka misi. merupakan hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh pemerintah daerah dalam jangka waktu tahunan. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan yang merupakan penjabaran dari kebijakan. Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dirumuskan tujuan. Meningkatkan pembangunan yang berfokus di desa. sasaran. sasaran. strategi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Untuk mencapai kesatuan pandang dalam rangka melaksanakan misi yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. semesteran.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.2 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI AKSELERASI PEMBANGUNAN 4. • Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pendidikan sebesar 86. dengan Sasaran: • Meningkatnya pemerataan akses layanan pendidikan. Dengan demikian.2.2 . Tenteram dan Dinamis. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) Urutan 3: Kelompok Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 2. berdasarkan hasil analisis di atas kita telah memperoleh pula urutan prioritas isu. Terwujudnya Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas. Yaitu: Urutan 1: Kelompok Intervensi Akselerasi Pembangunan Yang terdiri dari 3 Misi yaitu: o Misi 3. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) o o Misi 4. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) Misi 8.40 pada tahun 2010. Urutan 2: Kelompok Intervensi Perbaikan Sistem dan Pelaku Yang terdiri dari 2 Misi yaitu: o o Misi 1. Tertib. Misi 7.1 STRATEGI UMUM PENCAPAIAN MISI Sebagaimana dijelaskan pada Bab sebelumnya bahwa masing-masing Kelompok Intervensi ini adalah merupakan kumpulan dari misi-misi dari Bupati terpilih. o o Misi 5.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4.1 STRATEGI MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Misi ini dijabarkan dalam 3 (tiga) tujuan. 4. yaitu: 1. Misi 6. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda.

Generasi Muda dan Olah Raga. • Terkendalinya penyebaran dan distribusi obat-obatan. makanan. Meningkatnya partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dengan laki-laki. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV .50 tahun pada tahun 2010.3 . Terwujudnya Peningkatan Derajat kesehatan Masyarakat. dengan Sasaran: • Meningkatnya angka harapan hidup (AHH) menjadi sebesar 70.57 per 1000 kelahiran pada tahun 2010.03 tahun serta AMH sebesar 99. Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana olah raga bagi masyarakat. • Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan. • Meningkatnya kualitas dan kuantitas sistem dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. • Menurunnya angka kematian ibu dan bayi menjadi sebesar 29. 3. Meningkatnya kebugaran jasmani masyarakat dan prestasi olah raga. pembangunan dan kemasyarakatan. Meningkatnya potensi generasi muda dalam kewirausahaan.50%. • Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. dan alat kesehatan. Meningkatnya kualitas manajemen olah raga. dengan Sasaran: • • • • • • • • Terjaminnya keadilan gender dalam penyelenggaraan pemerintahan. Terwujudnya Peningkatan Keberdayaan Perempuan. kepeloporan dan kepemimpinan. Meningkatnya ketersediaan media aktivitas dan kreativitas generasi muda. serta menurunnya penyalahgunaan obat-obat-obatan terlarang. • Meningkatnya kepedulian dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha terhadap dunia pendidikan. • Meningkatnya capaian angka partisipasi sekolah (APM) dan rata-rata lama sekolah (RLS) pada tahun 2010 sebesar 9. • Meningkatnya kesadaran budaya hidup bersih dan sehat. 2.

Meningkatnya ketahanan sosial individu. dengan Sasaran: • • Meningkatnya investasi di daerah. dengan Sasaran: • • • • • • • Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. 4. Terwujudnya Peningkatan Perekonomian Daerah. Meningkatkan keberdayaan generasi muda dan olah raga.680 pada tahun 2010.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan: 1. Meningkatnya akses masyarakat miskin terhadap pendidikan dan kesehatan 3. Terwujudnya Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. Meningkatnya daya saing industri manufaktur. keluarga dan masyarakat. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas.567. Meningkatnya kesempatan berusaha. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Berkurangnya penyakit sosial dan penyandang masalah sosial. 2. Meningkatnya pendapatan masyarakat. yaitu : 1.2. Meningkatnya kemampuan penanganan bencana alam dan sosial. Tersedianya bantuan sosial yang optimal. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat secara melembaga dan berkesinambungan. 2. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatnya keberdayaan penyandang cacat dan perlindungan anak. Terwujudnya Peningkatan Perlindungan dan kesejahteraan Sosial. Memberdayakan sumber daya perempuan dalam seluruh aspek kehidupan.2 STRATEGI MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT Misi meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat ini dijabarkan ke dalam 5 (lima) tujuan. 3. dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk berusaha dan meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat sebesar Rp. 4.4 .

4. Menurunnya perkawinan usia dini. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembangnya anak. Terkendalinya Pertumbuhan Penduduk dan Terwujudnya Peningkatan Kualitas Keluarga. Terwujudnya Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. yaitu: BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . kecil dan menengah. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja. Meningkatnya tertib administrasi kependudukan. Meningkatnya pengelolaan BUMD. Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar bagi kegiatan ekonomi daerah. Berkembangnya sentra-sentra produk unggulan daerah. Meningkatnya pemberdayaan koperasi. Meningkatnya akses pemasaran produk daerah. 4. 5. Berkembangnya kemitraan usaha dan manajemen promosi produk daerah. dengan Sasaran: • • • • Menurunnya tingkat pengangguran.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • • • • • • • • Meningkatnya produktivitas pertanian dan posisi tawar produk pertanian.3 STRATEGI MEMELIHARA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Misi ini dijabarkan ke dalam 2 (dua) tujuan. Meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat. dengan Sasaran: • • • • • Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP). Terkendalinya mobilitas dan persebaran penduduk. Meningkatnya kualitas dan kuantitas komoditas unggulan daerah. Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Strategi meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan: • • Meningkatkan keberdayaan sosial masyarakat. Tersedianya informasi pasar kerja. usaha mikro.5 .2.

Meningkatnya percepatan pembangunan di wilayah pertumbuhan. Meningkatnya upaya konservasi hutan dan rehabilitasi lahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. 4. Terwujudnya Keserasian Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Suatu sistem Pembangunan Yang berkelanjutan. Terwujudnya sistem pemanfaatan tanah yang efisien dan efektif. dengan Program: • • • • • • Meningkatnya manajemen penataan ruang yang efektif. Meningkatkan efektivitas tata ruang wilayah. Meningkatkan manajemen pengelolaan lingkungan.3 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PERBAIKAN SISTEM DAN PELAKU 4.1 STRATEGI MEWUJUDKAN KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Misi mewujudkan kepemerintahan yang baik dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. dengan Sasaran: Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya akan fungsi strategis lingkungan. Meningkatnya pembangunan. sinergistas dan keterpaduan kebijakan dan program Strategi memelihara keseimbangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan: 1. Meningkatnya pengelolaan dan pelayananan limbah. 2. Meningkatnya pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan. yaitu : BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. Menurunnya pencemaran air dan udara. 2. Meningkatnya penegakan hukum lingkungan. Terkendalinya pertumbuhan wilayah perkotaan. 3.3. 4. Meningkatkan percepatan pembangunan yang berkelanjutan. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan antara perkotaan dan perdesaan. Terpeliharanya • • • • • • Keseimbangan Alam.6 . Meningkatkan penegakan hukum untuk mengurangi perusakan dan pencemaran lingkungan.

• Terwujudnya manajemen pengelolaan keuangan daerah yang mantap. Dunia Usaha dan Masyarakat. egaliter dan mengedepankan keteladanan. • Menurunnya praktek KKN dimulai dari tataran top manajemen. profesional. Terwujudnya Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaran Pemerintahan. efisien. • Meningkatnya peran dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan. 2. Strategi mewujudkan kepemerintahan yang baik dilakukan dengan: 1. yudikatif. dunia usaha dan masyarakat. • Terwujudnya sistem dan manajemen partisipatif yang legitimate. responsif dan akuntabel. transparan. pelaksanaan dan pengawasan. • Meningkatnya akses informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. • Terwujudnya konsistensi hukum daerah yang selaras dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. hak dan kewajiban serta tanggung jawab masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan. dengan Sasaran: • Meningkatnya kualitas sumber daya aparatur secara dinamis dan berkelanjutan. • Meningkatnya kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pemerintah. Terwujudnya Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengambilan Kebijakan Publik. • Terwujudnya kerjasama dan keterpaduan fungsi dan peran antara eksekutif. legislatif.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 1. • Terwujudnya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih. dunia usaha dan masyarakat secara proposional dan bertanggung jawab. dengan Sasaran: • Meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . dengan Sasaran: • Meningkatnya pemahaman dan kepedulian tentang peran.7 . Memantapkan kinerja kepemimpinan yang demokratis. 3. • Meningkatnya kualitas pelayanan publik. Terwujudnya Sinergitas Interaksi Antara Pemerintah. efektif.

yaitu: 1. Berkembangnya kehidupan politik yang demokratis di perdesaan. Berkurangnya penduduk miskin di perdesaan. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pembangunan.3. Meningkatnya akses kontrol dan partisipasi elemen masyarakat dalam pembangunan perdesaan. Meningkatkan kemandirian desa berdasarkan otonomi yang dimilikinya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2. Meningkatnya keberdayaan masyarakat perdesaan. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kolusi dan Nepotisme (KKN). BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan penanggulangan Korupsi. 4. Meningkatnya ketersedian akses pemasaran bagi produk perdesaan. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan daerah. pembangunan dan pelayanan publik secara transparan. Meningkatnya kemampuan lembaga ekonomi perdesaan. Meningkatnya potensi unggulan desa. Berkembangnya layanan jasa keuangan/permodalan. sektor swasta. 4. Mensinergikan interaksi konstruktif diantara pemerintah. 2.8 . dengan Sasaran: • • • • • Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik. dengan Sasaran: • • • • • • • • • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya lokal perdesaan. 3. Meningkatnya ketersedian sarana dan prasarana ekonomi perdesaan. Terciptanya perluasan lapangan kerja di perdesaan.2 STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA PEMBANGUNAN DESA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan. partisipatif dan akuntabel. Terwujudnya Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Keberdayaan masyarakat Desa.

Terwujudnya Sasaran: • • Pengembangan Kehidupan Yang Demokratis. tentram dan dinamis dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan.9 . Mengembangkan potensi ekonomi perdesaan. ketertiban dan ketentraman masyarakat.4. dunia usaha dan aparatur pemerintah. 3. 2. tertib. TERTIB. dengan Sasaran: • • Meningkatnya kesadaran. Terciptanya ketahanan masyarakat secara optimal dan terpadu. Meningkatkan alokasi dan distribusi pembangunan keperdesaan. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Ketaatan dan Ketaatan Hukum. Ketertiban dan Ketentraman Masyarakat. 3. 4. Meningkatnya penegakan hukum serta perlindungan HAM di daerah. ketaatan dan kepatuhan hukum masyarakat. Terpeliharanya keamanan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Strategi meningkatkan kinerja pembangunan desa dilakukan dengan: 1. Terciptanya tatanan politik yang demokratis yang menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban politik masyarakat. dengan Sasaran: • Mantapnya peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang kredibel dan adil dalam mejaga dan memelihara keamanan. dengan Meningkatnya kesadaran politik masyarakat. TENTRAM DAN DINAMIS Misi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman.4 STRATEGI KELOMPOK INTERVENSI PEMELIHARAAN KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL 4. • • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. yaitu: 1. 2. BAB IV Strategi Pembangunan Daerah IV . Meningkatkan keberdayaan desa dan masyarakat desa dalam pembangunan.1 MEMELIHARA STABILITAS KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG AMAN.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi memelihara stabilitas kehidupan masyarakat yang aman, tertib, tentram dan dinamis dilakukan dengan: 1. Memantapkan stabilitas keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat; 2. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; 3. Memantapkan budaya politik yang demokratis;

4.4.2 STRATEGI MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu : 1. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa, dengan Sasaran: • • Meningkatnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama setiap individu, keluarga, masyarakat dan penyelenggara pemerintahan; Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat untuk membentengi diri dari krisis nilai sebagai dampak negatif perubahan dan pembangunan. 2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial dan Pengembangan Potensi Umat, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan politik, ekonomi, lingkungan hidup, sosial dan budaya; Terwujudnya solidaritas dan harmonisasi sosial; Terwujudnya keteladanan dan kepedulian sosial; Meningkatnya peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pembangunan; Terwujudnya sinergitas potensi umat.

3. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Beragama, dengan Sasaran: • • • Meningkatnya kualitas pendidikan agama pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan; Meningkatnya kualitas penataan, pengelolaan dan pengembangan sarana prasarana keagamaan; Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan ibadah.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

Strategi mewujudkan kesalehan sosial berlandaskan iman dan taqwa dilakukan dengan: 1. Mentransformasikan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 2. Memberdayakan potensi untuk melalui optimalisasi peran dan fungsi lembaga keagamaan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama.

4.4.3 STRATEGI MENGGALI DAN MENUMBUHKEMBANGKAN BUDAYA SUNDA Misi ini dijabarkan ke dalam 3 (tiga) tujuan, yaitu: 1. Terwujudnya Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan masyarakat terhadap Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • Meningkatnya apresiasi dan pengembangan nilai budaya sunda; Meningkatnya pengenalan dan kecintaan terhadap budaya sunda.

2. Terwujudnya Pengembangan dan Pelestarian Kekayaan Budaya Sunda, dengan Sasaran: • • • • • Meningkatnya pengembangan dan pelestarian seni dan budaya sunda; Meningkatnya penerapan nilai budaya sunda dalam kehidupan sehari-hari; Berkembangnya produk budaya sunda; Berkembangnya media dan sarana apresiasi budaya sunda; Meningkatnya pengelolaan keragaman budaya.

3. Terwujudnya Ketahanan Budaya Masyarakat, dengan Sasaran: • • • • Meningkatnya kesadaran terhadap nilai-nilai luhur budaya sunda; Menurunnya resistensi nilai budaya; Meningkatnya kepercayaan diri dan kokohnya jati diri sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya sunda; Meningkatnya peranan budaya sunda dalam memperkokoh budya nasional.

Strategi menggali dan menumbuhkembangkan budaya sunda dilakukan dengan: • Meningkatkan pengenalan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya sunda sejak dini mulai dari tingkat keluarga/rumah tangga dan tingkat pendidikan dasar.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 11

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

• •

Reaktualisasi nilai-nilai budaya sunda sebagai salah satu dasar etika sosial dalam kehidupan berpemerintahan dan bermasyarakat; Meningkatkan sarana pengembangan dan pelestarian keragaman budaya.

BAB IV Strategi Pembangunan Daerah

IV - 12

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Keuangan daerah pada prinsipnya merupakan hak yang harus dikembalikan kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung melalui program

pembangunan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan daerah semaksimal mungkin harus diupayakan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan keuangan daerah harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Pendapatan adalah batas minimal yang harus dicapai oleh pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan. 2. Penetapan terget pendapatan harus didasarkan pada data potensi yang akurat dengan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. 3. Belanja adalah batas maksimal yang dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya program-program pembangunan. 4. Pembiayaan adalah partisipasi pemerintah daerah dalam investasi di daerah yang bersifat produktif untuk mendorong peningkatan pelayanan publik dan kontribusi pendapatan asli daerah. 5. Hubungan anggaran dengan program pembangunan harus didasarkan pada paradigma “money follow the program”, sehingga diharapkan dapat melahirkan program yang berhasil guna dengan penggunaan anggaran yang rasional, efektif dan efisien. 6. Secara bertahap harus terwujud keseimbangan antara penggunaan anggaran yang bersifat rutin dengan anggaran yang bersifat pembangunan. 7. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945, alokasi anggaran untuk pendidikan secara bertahap harus meningkat mendekati 20% (dua puluh persen) dari jumlah anggaran. 8. Pelaksanaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel. menghasilkan produktifitas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-1

• Pelayanan Kesehatan. • Pajak Hotel. Pasal 157 dan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah Kabupaten Bandung pasal 20 (1) terdiri dari: 1. Yaitu : a) Hasil Pajak Daerah. • RSD Majalaya. • Pajak Restoran. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. • Pajak Hiburan. Pembiayaan Daerah Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 5. Pendapatan Asli Daerah (PAD). Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. b.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5. • Pajak Penerangan Jalan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-2 . C. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. Pendapatan Daerah. • Pajak Parkir. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. dan c. Belanja Daerah.1 Pendapatan Daerah Penerimaan pendapatan daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004. yang menambah ekuitas dana lancar. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. • RSD Soreang.1 Arah Pengelolaan Keuangan Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. • Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gol. • Pajak Reklame.1. b) Hasil Retribusi Daerah.

• Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah. • Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil. • Jasa Ijin Usaha Kebudayaan dan Pariwisata. • Ijin Gangguan. • Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. • Perijinan Penyelenggaraan Koperasi. • Parkir di Tepi Jalan Umum. • Pemeriksaan Hewan Ternak. • PDAM • Bank Pembangunan Daerah. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-3 . • Izin Pembuangan Limbah Cair. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. • Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah. • Bank Karya Produksi Desa. Lain-lain PAD yang Sah. • Ijin Pemanfaatan Tanah. • Perijinan Transportasi. • Perijinan Perdagangan. • Fatwa Pengarahan Rencana Pemanfaatan Lokasi. • Penggantian Biaya Cetak KTP. • Pelayanan Pasar. • Ijin Pelayanan Ketenagakerjaan.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Pelayanan Persampahan/Kebersihan. • Pelayanan Pemakaman. c) Bagian Laba Usaha Daerah. • Jasa Usaha Tempat Rekreasi dan OR. • Ijin Pemanfaatan Hutan. Hasil Ternak. • Jasa Usaha RPH. • Ijin Mendirikan Bangunan. d. • Jasa Usaha Terminal. • Pengujian Kendaraan Bermotor. • Jasa Usaha Penyedotan Kakus. • Perijinan Industri. dan Hasil Ikutannya.

• Penerimaan Pemanfaatan Hutan. • Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah. b) Dana Alokasi Umum (DAU). c. c) Dana Alokasi Khusus. • Penerimaan Jasa Giro. • Penerimaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. • Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. • Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). g. • Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). e. • Penerimaan Lainnya. Pajak Bumi dan Bangunan. d) Dana Perimbangan dari Propinsi. Dana Perimbangan. Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam. • Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Penerimaan dari Sektor Minyak Bumi. • Penerimaan Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah (TP/TGR). 3. 2. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan. Iuran Tetap/Landrent. Bagi Hasil Pajak. • Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan. a.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung • Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan. f. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-4 . Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan. Iuran Eksploitasi (Royalti). a. 1. c. b. Terdiri atas : a) Dana Bagi Hasil. b. Pajak Penghasilan Orang Pribadi (Termasuk PPh 21). 2. • Bantuan Keuangan dari Propinsi. Iuran Provisi Sumber Daya Alam. d. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam.

00 3.000.00 6.00 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 Tahun Proyeksi PDRB BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-5 .00 8.000.00 4.000.000. Untuk memprediksi pendapatan daerah lima tahun kedepan diperlukan suatu data pendukung yang salah satunya adalah data PDRB.000.000.000.000.000. (persamaan regresi terlampir).000.00 1.000.000.000.000. Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Bandung 1995-2004 9.00 2.2 Perkiraan Pendapatan Daerah Perkiraan pendapatan daerah akan memberi gambaran tentang pendapatan daerah dari tahun 2006 sampai tahun 2011.000.00 1.000.00 5.00 2.000. Proyeksi dilakukan dengan model regresi linear dengan mencari persamaan regresi masing-masing sektor.000.000.000.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.000.000.00 7.00 7.00 9.000.000.000.000. Perkiraan PDRB Kabupaten Bandung dilakukan dengan memperhatikan Nilai PDRB Konstan tahun 1995-2004.00 0.000.000. Pertumbuhan PDRB Harga Konstan Kabupaten Bandung rata-rata setelah krisis 1999-2004 sebesar 2.000.000.000.000.00 0.00 5.00 4.000.13 %/tahun.000.000.000.1.00 8.00 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 Nilai PDRB Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Rp Juta 10.00 6.000.00 3.

868.590.837.5983 453.58 791.82 986.6708 597932.465.064.579.03 1.28 3.742.91 316.255 1155081.797.791.73 753.694 77645.59 165.328.960.063.56 169.43 191317.903.593.35 935.95 218014.862.71 7.28 856673.108.95 7.37 8.716.52 671.795.73 6.195.738.59933 79365.560.333.63 537.230.48 171.813.96 864.8458 435491.766.524 235435.861.978 72485.53 472.785.90 53.570.438 1312296.5099 6.307.84 385.92 6.016.92 210.29 69.015.922.199.037.444 3905955.59 463.8 4497375.534.588.76 3.787.9508 Bangunan & Konstruksi 361.083.57 1.18 436493.96 690.370.687.300.037.148.755.837.125.72 217.686.25 54.190.4448 580715.839.82 379037.919.71 703.77 3610245.299.637.796.874 226725.119.10 743.622 4201665.164.010.8969 615149.51 377.6358 416673.61 3.607.12 491.41 Industri Pengolahan 3.875.883.78 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-6 .312.174 244146.38 56.242.687.513.99 55.23 185.361.771.564.847.08 343.104.647.381.78867 75925.67 696.034.030.38 211.021.81 294.61 447186.20 6.32 479.438.365.533 4053810.24 324.316 1207486.88333 74205.10 230.618.780.11 306.10 6.963.015.1177 214170.26 563497.273.499 Sektor Sekunder Sektor Tertier Perdagangan.91 215.3207 388446.8318 572106.01 7.443.018.711 4349520.01 190.592.889 Listrik dan Gas 259.0578 589323.50467 81085.56 1417106.16 8.483.142.35 7.15 839285.465.174.954.199 231080.812.990.90 330.804.94 393723.858 218741.05 457878.894.80 334.53 1.491.051.48 196.63 328.738.355 3758100.93 3.3774 209600.61 70765.900.958.777.01 821897.800.52 300.55 162.260.75 7.561.499 1364701.44 158.72 1.29 220.797.02 896.16 940.546.16 804509.64 481.6371 205029.572.849 239791.82 193.075.430.56 8.375.491.99 64.428.1566 195887.8969 200458.73 3.955.051.2839 606540.32 419.743.809.553.755.41 362.596.449.261.496.16 304.1 Proyeksi PDRB Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan Sektor Primer Tahun Pertanian Pertambangan dan Galian 50.251.7408 426082.33 58.4257 397855.941.388.92 6.66 3.48 PDRB Keuangan Jasa 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 874.51 7.64 203.07 3.50 61.549 222369.63 6.55 891449.97 556.520.89 404416.564.586.32 415108.536.5307 407264.332.65 336.42 874061.90 358.873.05 4. Hotel dan Restoran 955.68 398.377 1259891.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.22 493.75 425801.57 1102676.71 325.310.963.209.621 Pengankutan dan Komunikasi 274.942.530.64 54.15 998.20 725.48 150.50 304.709.73 3.97 8.209.580.93 472.233.69 908837.89 346.455.

646.000.000.00 1.00 4.00 1.318.000.668.185.168. diperlukan pula data-data pendukung seperti data pendapatan historis Kabupaten Bandung seperti pada tabel dibawah ini.000.000.254.000.000.114.000.103.000.00 60.00 749.000.00 37.976.00 101.749.000.00 30.000.798.000.000.000.00 1.608.955.00 849.000.344.118.853.00 1.000.00 5.00 7.237.000.024.000.833.646.145.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Selain data PDRB diatas.000.962.00 53.036.000.447.658.00 49.00 Sumber : RKPD Kabupaten Bandung 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-7 .540.739.00 4.110.448.043.00 61.761.140. Tabel 5.000.00 62.367.790.538.00 802.012.00 37.316.00 2005 136.00 16.938.00 89.000.000.00 929.000.000.000.000.00 988.000.00 80.00 94.263.000.00 2004 119.00 43.000.874.500.000.190.00 2006 123.000.000.000.00 45.000.00 12.500.00 2003 91.00 37.602.500.000.00 24.000.00 87.2 Anggaran Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002.00 52.001.000.978.935.00 18.200.506.000.00 830.000.00 1.185.00 757.00 10.000.000.895.000.000.505.000.00 22.636.000.240.000.511.927.000.816.572.000.045.699.265.820.000.697.395.500.000.00 1.694.000.000.240.000.290.275.575.707.00 38.00 11.410.000.00 6.063.120.000.000.000.000.112.115.500.375.719.310.500.000.331.00 46.00 1.00 81.000.241.840.00 102.00 1.000.637.177.347.00 15.000.000.00 1.00 654.598.00 726.000.500.004.000.000.000.890.500.205.000.610.919.597.000.830.318.884.000.000.093.652.00 76.080.500.188.911.333.2006 No A 1 2 3 4 B 5 6 7 8 C Uraian Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba Usaha Daerah Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah JUMLAH 2002 75.

90 -7.22 14.66 34.98 12.68 29.30 39.32 13.03 6.00 95.25 98.19 17.81 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 53.91 10.63 221.68 -2.11 13.91 4.09 20.01 45.00 163.63 -9.33 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak -19.37 -80.61 97.35 9.33 -22.43 Sumber : Hasil analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-8 .3 Pertumbuhan Pendapatan Kabupaten Bandung Tahun 2002 – 2006 Bagian Laba Usaha Daerah 208.53 31.32 20.56 1.00 300.39 -1.49 16.28 6.51 6.11 0.93 27.69 54.00 352.69 Dana Alokasi Khusus Keuangan dari Propinsi Lain-lain Pendapatan yang syah 968.53 20.53 14.20 -1.07 25.50 13.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.33 8.30 Dana Alokasi Umum 10.56 16.79 13.61 27.25 2.83 7.81 Tahun Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD Perimbangan Pendapatan Daerah 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 Rata-rata 3.58 11.45 7.36 0.56 120.47 -29.

Pendapatan Asli Daerah Berdasar pada Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi. dengan mengasumsikan kenaikan PAD setiap tahunnya tetap.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung A. pendapatan bunga. pasal 6(2) menjelaskan tentang lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. potongan.4 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-9 . atau pun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. Perkiraan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5. jasa giro. Perkiraan PAD untuk hingga tahun 2011 diperoleh menggunakan metode taksiran sederhana. selain unsur PAD yang telah disebut di atas. juga realisasi pencapaian PAD Kabupaten Bandung. yaitu penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan.

254.360.784.802.347.916 43.218.240.884.834.000 53.870.000 46.500.000.237.000 16.230.000.874.91 Sumber : Analisis 2005 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-10 .425.333.808.919.200.110.011.694.098.907.127.000 27.09 12.833.820.318.575.965.554 2.000 6.4 Perkiraan PAD Kabupaten Bandung 2007-2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Pajak Daerah 37.598.000 24.000.003 1.093.906.611 71.265.000 12.500 43.594 PAD 75.500 136.768.680.840.253.190.000 15.400 60.447.761.109.639.063.070.000 131.500.344.976.667.739.895 142.920 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang syah 7.000 40.000 21.613 Retribusi Daerah 30.702.120.000 35.962.50 13.196 203.000 4.705 3.000 52.318.428 Bagian Laba Usaha Daerah 1.212.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.684.000 22.94 8.000 123.105 79.114.466.507.67 13.310.000.63 -9.004.340 54.000 46.233 47.637.621.200.000 9.036.000.012.000 10.658.331.275.22 5.000.699.000 37.000 38.459 178.96 11.241.687 65.901.266.697.475.500 49.477.190.505.556 Pertumbuhan (%) 20.739.000 59.292 6.171.653.453 86.853.000.549 158.610.000 37.247.53 31.500 119.205.542.853.230.728.801 50.742.798.000 91.109.452.

Dana Perimbangan Dana perimbangan merupakan alokasi dana yang diperoleh dari pemerintah maupun provinsi yang diperoleh dari bagi hasil pajak provinsi maupun pusat yang dipungut di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan formulasi pembagian yang telah ditetapkan maupun dari dana pemerataan.000.000. dan Dana Perimbangan dari Provinsi. Perkiraan perolehan dana perimbangan hingga Tahun 2011 disini juga menggunakan metode taksiran sederhana.000.000 200.000. begitu juga pencapaian realisasinya.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Pajak Daerah Retribusi Laba Usaha Lain-lain PAD Hasil perhitungan tersebut.000.000. Dana Alokasi Umum (DAU).Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi PAD Kabupaten Bandung Hingga 2011 250. Lebih jelasnya perkembangan dana perimbangan tersebut adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-11 . berdasarkan asumsi bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan daerah berjalan dengan baik.000 150. Unsur-unsur dana perimbangan terdiri atas: Bagi hasil pajak dan bukan pajak.000 50. Dana Alokasi Khusus (DAK).000.000 Rupiah 100.000.000. B. dengan asumsi kenaikan dana perimbangan tiap tahunnya tetap.000.

103.681.185.000 26.401.51 6.339.395.290.137 182.375.318.500 988.741.207.284.310 128.000.000.145.800.000 726.000 76.816.818.480.898.557.000 87.597.316.876.617 1.938.305.077.520.000.552 Dana Alokasi Umum 654.646.608.630 1.000.977.928.000 86.223.143.351.636.712.609.000 18.19 6.000 849.768.935.080.036.957 13.045.039 1.696 83.118.000.356 1.000 1.000 19.290.646.000 114.000.20 Sumber : Hasil Analisis 2006 BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-12 .193.5 PERKIRAAN DANA PERIMBANGAN KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2011 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 94.000 1.800 Keuangan dari Propinsi 45.000.890.966 82.572 1.888.763.911.000 29.837.830.188.97 7.000 89.644.000 802.663.668.765.000 24.000.686.319 162.35 9.000.470.15 7.434.774.168.790.000 102.251.661.000 1.469 1.731.209 Pertumbuhan (%) Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Perimbangan 749.646.000 81.30 39.572.937.535.552.000.882.500.078 1.205.09 7.500 80.807.471.086.263.927.000 1.658.490.955.968 84.000 929.902 1.575.000.000.000 21.505.177.851.023 81.978.671.000 1.000 757.828.240.118.396 Dana Alokasi Khusus 1.776.770 144.930.046.03 7.000 4.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.000 101.064.020.

000 600.000.600.000.000.000.000.000 800.000 1. C.000. Lebih jelasnya perkiraan pendapatan lain-lain pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun Tahun 2011 adalah sebagai berikut : BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-13 .000.000 400.000.000. Karena sifatnya sebagai dana kontingensi.000.000.000.000 1.000 200.000 Rupiah 1.200.000. yang dialokasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung.000 0 2002 2004 2006 Tahun 2008 2010 Bagi Hasil Alokasi Umum Alokasi Khusus Propinsi Perhitungan tersebut disumsikan variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan tersebut berjalan normal baik pada pembagian pajak.000.000.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Proyeksi Dana Perimbangan Hingga Tahun 2011 2.000.000.000.000 1. besaran dana tersebut sangat fluktuatif sesuai dengan realisasi aktual tahun anggaran berjalan.400. DAU maupun DAK.000 1.000. Lain-Lain Pendapatan yang Sah Pendapatan lain-lain yang sah yang merupakan dana kontingensi/penyeimbang dari pemerintah. maka sulit untuk membuat proyek atau perkiraan item anggaran pendapatan ini.800.000.000.000. Oleh sebab itu perkiraan besaran nominal pendapatan lain-lain pada perkiraan pendapatan ini hanya merupakan selisih dari total pendapatan dan perkiraan item pendapatan diluar pendapatan lain-lain.

557.702.000.986.834.575.768.000.49 6.000.185.749.140.816.668.000 1.000.506.000 61.556 Perimbangan 749.000 1.000 91.742.895 142.237.447.976.718.140.000.290.143.56 1.000.639.763.749.000 60.001.410.000 1.798.000.109.403.000 11.728.512 Keterangan : *) Angka merupakan target tahun 2006 Sumber : Hasil analisis 2006 / Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 2.938.890.845.000 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Pertumbuhan (%) 968.000 Pendapatan 830.000 1.68 -2.000 11.826 2.686.000.602. Tabel 5.331.000 0 2002 2004 2006 2008 2010 PAD Perimbangan Lain-lain Pendapatan BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-14 .58 11.500 119.719.505.500 136.707.448.802.602.37 7.000 2.043.609.000 62.115.500 988.500.549 158.680.435.538.251 1.112.000 1.356 1.000 Tahun 1.000.540.000.000 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 5.719.000 62.57 7.977.000 500.000. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bandung hingga tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.588 1.818.761.500.185.000.7 Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bandung Hingga Tahun 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006*) 2007 2008 2009 2010 2011 PAD 75.630 1.63 Pendapatan lain-lain yang sah hingga tahun 2011 tidak diproyeksikan karena variabel pendukungnya tidak tetap.853.000 60.697.851.375.000.039 1.024.337.14 7.511.230.927.37 -80.03 6.694.459 178.410.188.000.667.196 203.000 61.807.000.83 7.000 131.6 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG HINGGA TAHUN 2006 Lain-lain Pendapatan yang syah 5.61 27.500 1.141.895.957 20.669.000.902 1.000.000 929.144.928.898.360.374.275.367.000 849.004.594.263.471.937.367.000.362 1.76 Pertumbuhan PAD dan Perimbangan (%) Pendapatan Lain-Lain yang Sah 5.662.115.732.646.000 1.205.000 123.

875.074.996.000 3.000 2.094. dengan syarat untuk proyek/kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan (cost recovery).000 2.000 1.793.890. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.313.160.996.000 84.000 5.000 6.000.000 2.000 87.965.000 OP APARAT MODAL APARAT OP PUBLIK 20.594.000.131.000 1.000 1.000 4.135.282.000.000 6.520.569.163. penerimaan SDA.000 21.000 9.5 .992.000 433.000 95.576.250.950. serta Belanja Modal yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindarkan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.000 5.382.000 3. DSCR > 2.020.000.000 1.440.850.824.726.875.5 . Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.134.000.599.000 252.413.197.394.946.000.281.318.957.440.450. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman baru.786.000 Jumlah 22.640.800.236.250.028.000 5. DSCR < 2.000 101.885.000 21.009.000 307.105.000 13 RSD Soreang BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-15 .000 1.044.968.674.710.065.986.000. dan bagian daerah lainnya OM = Belanja Operasi dan Pemeliharaan.675.000 870. DSRC = 2.000 1.790.154.000 1.957. didapat dari rumus berikut: Y = P + M – OM P M = Pendapatan Asli Daerah = Pajak Daerah.804.935.000 85.330.349.000 1.577. Analisa DSCR untuk Kabupaten Bandung adalah sebagai berikut: BELANJA OP DAN MODAL TAHUN ANGGARAN 2005* (OM) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 SKPD Disdik Dinkes Dispertan Disnakan Dinkesos DKCKB Kimtawil DPU Disnaker Diskop BLKD RSD Majalaya 219.415.000 38. dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.000.455.000 4.000 166.000 8.640.000 67.000.000 1.902.000 31.000 12.000 85.594.036.5 .766.000 10. Rumus yang digunakan adalah dengan menentukan DSCR (Debt Service Coverage Ratio) dengan rumusan sebagai berikut: DSCR = Y C C = Besaran kewajiban pinjaman ditambah biaya lainnya Y = Pendapatan Daerah.380.000 85. Daerah dapat melakukan pinjaman baru.000 125.000 MODAL PUBLIk 2.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D.513.000 186.000 6.381.000. Analisa Kemampuan Pinjaman daerah Analisa kemampuan pinjaman daerah dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana pinjaman baru.

701 57.235 22.204.2 ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.000 592.443.452.304.000 419.000.344.677. kesehatan.000 1.093.500.664.876.000 127.650.000.511.170.000 104.549.050.990.000.960.000 * = Belanja OP dan Modal yang Menunjang Langsung terhadap Akselerasi Pembangunan Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 PENDAPATAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2005* (P + M) No 1 2 3 4 5 6 PAD Bagi Hasil PBB Bagi Hasil BPHTB Bagi Hasil PPh 21 Bagi Hasil SDA Bagi Hasil Prov Jenis Pendapatan Jumlah 108.725.500.557.078.000 MODAL APARAT 149.000 17.507.021 * = Pendapatan Daerah diluar Bantuan dari Pusat maupun Provinsi Sumber : DPRD Kab.215.000 1.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung No SKPD OP APARAT 170.000 4.121.904. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.000 2.209.000 14 Kantor Perpustakaan 15 DLH 16 Disperindag 17 Disbudpar 18 Dinas Kebersihan 19 KPMD Jumlah 853.000 OP PUBLIK MODAL PUBLIk 85.031.000 3.729.000 4.000 36. Bandung BESARAN KEWAJIBAN PINJAMAN DITAMBAH BIAYA LAINNYA TAHUN ANGGARAN 2005 ( C ) No 1 2 Penyertaan Modal Jenis Biaya Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo Jumlah 326. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-16 .000 555.864. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar.931.988.302.000 1.500.000 30.000 30.731. pendidikan.710.203.931.500.000 Jumlah 404.000 1.982.000 297.085.885 10.220.000.646.593 104.000 37.000 233.489.550.000 Jumlah Sumber : APBD Perubahan Tahun 2005 DSCR = Y ( P + M ) − OM = = 2.000.581 (Layak memperoleh pinjaman) C C 5.360.697.000 1.019 Jumlah 312.360.588 9.322.312.000 42.

dan i. 5. Upaya pembobotan kerangka intervensi dilakukan dengan memperhatikan : 1. Visi dan Misi Bupati 2. c. Alokasi Anggaran pembangunan tahun-tahun sebelumnya 5. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-17 . e.3 KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN Dalam rangka mewujudkan Visi Bupati Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 diperlukan kerangka kebijakan umum pembiayaan pembangunan untuk memprioritaskan program-program pembangunan Kabupaten Bandung. bunga. pendidikan 9 tahun dengan anggaran 20 % dari biaya pembangunan dan lain-lain. f. b. Prioritas pembangunan 3. subsidi. Isue Strategis Pembangunan Daerah 4. belanja barang dan jasa. propinsi dan kabupaten seperti upaya peningkatan IPM. Kebijakan pembangunan pemerintah pusat. g. hibah. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 3.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Klasifikasi belanja menurut jenis belanja sesuai PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah terdiri dari : a. Secara umum Misi Pemerintah Kabupaten Bandung hingga tahun 2010 dapat dikelompokkan menjadi 3 kerangka intervensi pembangunan. belanja tak terduga. Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Mengingat terbatasnya anggaran pembangunan daerah serta kemampuan sumberdaya pembangunan dalam mewujudkan program-program pembangunan. bantuan sosial. diperlukan upaya strategi pengurutan atau pembobotan prioritas program pembangunan daerah. belanja modal. belanja pegawai. h. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. d. Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan 2. yaitu : 1.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Kerangka Intervensi Upaya Perbaikan Tata Pemerintahan memeiliki alokasi APBD yang cukup tinggi pada awal periode pembangunan karena merupakan landasan utama untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dalam upaya peningkatan pelayanan publik dan akselerasi pembangunan. Kerangka Intervensi Upaya Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya memiliki alokasi APBD relatif sedang dalam awal pembangunan dan untuk selanjutnya terus meningkat dalam upaya terus terjadinya peningkatan pelayanan publik. Berdasarkan pertimbangan tersebut. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-18 . arahan alokasi bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah. Kerangka Intervensi Upaya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal memiliki alokasi rendah karena karakter tersebut sudah terbentuk dalam masyarakat dan masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan dan pemerintah memfasilitasi untuk memeliharanya. Upaya perbaikan tata pemerintahan setiap tahun alokasinya terus menurun karena diasumsikan setiap tahun telah terjadi perbaikan pelayanan pemerintahan yang baik. sehingga dengan bertahap pembangunan tata pemerintahan dikurangi bobotnya.

00% 70.75% 50.09% 81.00% TAHUN 3 % APBD 23.00% 80.69% 100.08% 69.00% 8..00% 6..94% 41.88% 100.00% 40.67% 75.33% 100.00% TAHUN 5 % APBD 9.00% 20.00% TAHUN 4 % APBD 16.25% 100.18% 5..00% Sumber : Hasil Analisis dan Focus Groups Discussion 2006 Diagram Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi 90.82% 9. Bobot alokasi pembiayaan pembangunan tiap kerangka intervensi PROPORSI ALOKASI APBD UNTUK 5 TAHUN UNTUK TIAP KATEGORI INTERVENSI PEMBANGUNAN TAHUN 1 KERANGKA INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal % APBD 52.23% 7.09% 100..00% 0..00% 10.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel .00% Tahun I Perbaikan Tata Pemerintahan Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-19 .00% 50.00% 60.00% TAHUN 2 % APBD 43..00% 30.

) BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-20 ... Bobot tiap misi pembangunan adalah sebagai berikut : (Lihat Tabel .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Perkiraan belanja untuk setiap misi dan kebijakan pembangunan dilakukan dengan membobotkan kepentingan tiap misi dan prioritas pembangunan untuk setiap kelompok intervensi pembangunan....

000% 1. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 11.091% 0.042% 1.250% TAHUN 3 % APBD 23.846% 2.273% 0.375% 4.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Perbaikan Tata Pemerintahan KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.042% 1.273% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-21 . Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 4. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 2.099% 5.208% 5. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) 1.208% 9. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 6.667% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 5.099% 1.231% 1.758% 0.750% 5.156% 6.758% 1.282% 1. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 3. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1.758% 0.282% 0.396% 3. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 2.000% 6.941% 6.282% TAHUN 5 % APBD 9.282% 0.128% 0.758% Misi 8.000% 7.282% 5.156% 11.198% TAHUN 4 % APBD 16.758% 2.099% 1.231% 1.495% 1.099% 1.495% 2.077% 1.282% 0.000% 0.099% 5.618% TAHUN 2 % APBD 43.387% 0. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 52.081% 8.250% 1.375% 6.081% 9.758% 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 3.

098% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-22 .Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya KATEGORI INTERVENSI Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya Misi 3.923% 2. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 2.308% 17.731% 1.000% TAHUN 5 % APBD 81.282% 1.577% 17.923% 2.881% 1.113% 11.016% 1.577% 1. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 4.308% 18.881% 2. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1.000% 0.577% 15. 1.000% 1. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.731% 17.000% TAHUN 3 % APBD 69. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga TAHUN 2 % APBD 50.231% TAHUN 4 % APBD 75.538% 1.282% 1.731% 1.282% 15.113% 1.923% 1.098% Misi 4.818% 10.282% 1.113% 1.016% 11.098% 2.113% 1.731% 0.113% 1.538% 15.016% 10.923% 18. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 4.282% 1.538% 11.731% 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 3.308% 1.176% 1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 41.881% 18.098% 10.

833% 0.769% 0.923% 2.882% TAHUN 2 % APBD 6.692% TAHUN 4 % APBD 8. 1.113% 2.769% 0.769% 6.588% 0.333% TAHUN 5 % APBD 9.128% 6.294% 3. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa.339% 5.769% 0.923% 7. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis Misi 5. 1.282% 1. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan KEBIJAKAN TAHUN 1 % APBD 5. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 2.392% 1. Tertib. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1.833% 0.192% 5.692% 8.909% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-23 .625% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 3. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 3.091% 0.113% 1.625% 0.909% 0.769% 0.625% 0.588% 0.731% 1.833% 0.564% 5. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 2. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.833% 0.098% Tabel Bobot Alokasi Kebijakan Pembangunan Tiap Misi Pembangunan untuk Intervensi Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan. 1. Tenteram dan Dinamis.625% 0.588% 0.909% 0.588% 0.250% TAHUN 3 % APBD 7.

Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 4.833% 0.833% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahanan Budaya Masyarakat 0.625% 0.588% 0.769% 0.625% 0.769% 0.588% 0. 1. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 2.769% 0.588% 0.909% 0.769% 0.909% BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-24 .833% 0.909% 0.909% 0.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2.625% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 3.625% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 3.909% 0.588% 0.588% 0.769% 0.769% 0.625% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama Misi 6.833% 0.625% 0.909% 0.833% 0.588% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.833% 0.

6. Pajak Ijin Mendirikan Bangunan. misi.1 dapat diambil kesimpulan bahwa sektor tersier mempunyai trend laju pertumbuhan yang paling baik dibanding sektor lain. yang pada tujuan akhirnya adalah untuk pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Bagian Laba Usaha Daerah. 3. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). • Bank Karya Produksi Desa. Tingginya laju pertumbuhan ekonomi daerah merupakan suatu potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan daerah. 2.4 5. 7. artinya sektor tersier merupakan potensi sumber pendapatan daerah kabupaten Bandung yang masih bisa dioptimalkan. Sektor tersier merupakan penyumbang pendapatan daerah melalui : 1. Sedangkan yang lainnya merupakan potensi yang bisa langsung dikembangkan oleh pemerintah daerah walaupun penerimaannya dalam bentuk bagi hasil. Penerimaan dari Sektor Pertambangan Gas Alam.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu indikatif tiap program pembangunan dilakukan dengan menggunakan metoda bobot tiap program dikaitkan dengan visi.4.1 Identifikasi Bentuk – Bentuk Sumber Pendapatan Baru Pengembangan Sektor Tertier Laju Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator pencapaian keberhasilan suatu pembangunan dan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Dari beberapa bentuk sumber pendapatan diatas. ada sebagian yang berfungsi sebagai pengendalian pembangunan diantaranya: IMB yang memerlukan pengkajian lebih lanjut dan mendalam dalam pengembangannya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. 5. • Perusahaan Daerah Tanah dan Bangunan. BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-25 . 8. kebijakan serta akselerasi pembangunan. Dari hasil Proyeksi pada table 5. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Pagu indikatif untuk tiap program pembangunan dituangkan dalam Bab VII. • Bank Pembangunan Daerah.

peternakan. Peluang Pasar • Wisatawan Lokal dan Mancanegara Penyerapan Tenaga Kerja • Petani • Masyarakat Sekitar Domestik • Industri kecil Masyarakat Sekitar Domestik dan Internasional • Industri kecil Masyarakat Sekitar BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-26 . sedangkan properti merupakan kebutuhan primer manusia yang akan semakin tinggi permintaannya seiring dengan tingginya laju Pertumbuhan Penduduk dan sempitnya lahan. 5. kehutanan) Sektor Pariwisata Sektor industri kecil Sektor Energi (Panas Bumi) Beberapa aktivitas Perekonomian Lokal yang Potensial untuk dapat berkembang di Kabupaten Bandung. Panas Bumi dan Bangunan/konstruksi (Properti) merupakan sektor ekonomi yang memiliki nilai jual tinggi karena tingginya permintaan pasar.2 Pengembangan Ekonomi Lokal Pengembangan ekonomi lokal adalah pengembangan ekonomi setempat dengan menggunakan sumberdaya dan faktor-faktor produksi lokal. Panas bumi merupakan sumber daya alam yang dimiliki kabupaten Bandung. akibatnya pembangunan properti mulai bergeser dari perkotaan ke wilayah sekitarnya (perbatasan). Lokasi Kabupaten Bandung yang mengelilingi wilayah Kota Bandung akan menjadi tujuan utama para investor di bidang properti untuk memperluas pembangunannya ke Kabupaten Bandung. Terdapat beberapa potensi pengembangan ekonomi lokal di Kabupaten Bandung. Pengembangan ekonomi lokal dapat memberikan efek multiplier perekonomian setempat dan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. perkebunan. Produksi Kerajinan Tangan Permodalan Pemkab Bandung Bantuan Internasional BPD Lembaga Keuangan Daerah. diantaranya : Pengelolaan • Kelompok Tani • Disbudpar • Dispertan Kegiatan Usaha • • Wisata Agrobisinis Geowisata • • • • • Kelompok Pembuat Makanan Tradisional • Diskop dan UKM • Kelompok Pengrajin • Diskop dan UKM • Produksi Makanan khas Kabupaten Bandung.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Berdasarkan analisis terhadap LPE per Sektor dan gambaran umum kondisi Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa sektor tersier (perdagangan dan jasa) merupakan sektor potensial. diantaranya : • • • • Sektor Agrobisnis (Pertanian.4.

Teknologi dan keterampilan kegiatan agribisnis pertanian pada umumnya dapat dikuasai oleh para pelaku usaha serta dapat dikembangkan secara mudah sesuai kebutuhan. peningkatan pendapatan petani.3 Pengembangan Agribisnis Secara luas telah diakui. diantaranya : LUEP BUMDES KUBE KOPERASI dan UKM USAHA POLA SYARIAH BMT Dll 5.Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pengelolaan • Kelompok Peternak • Disnakan • Kelompok Seniman • Disbudpar • DLH (Pertambangan dan Energi) • Swasta Kegiatan Usaha Pengolahan Hasil Ternak Pagelaran Seni Sunda Pengelolaan sumber daya panas bumi • • Pemkab Bandung Swasta Permodalan Peluang Pasar Domestik Penyerapan Tenaga Kerja • peternak Masyarakat Sekitar • Seniman Masyarakat Sekitar • Masyarakat Domestik dan Internasional Domestik Terdapat • • • • • • • beberapa lembaga yang dapat membantu mendorong pengembangan ekonomi lokal. bahwa pertanian merupakan sektor tangguh pendukung pembangunan sektor industri.4. yang didalamnya terkait BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah V-27 . penyerapan tenaga kerja. Pembangunan pertanian kedepan harus merupakan upaya pengembangan yang utuh dan menyeluruh pada semua aspek ekonomi. bertahan goncangan ekonomi nasional. peningkatan nilai tambah komoditi pertanian. Sebenarnya. sektor agribisnis pertanian tetap mampu mempunyai peran dan memberikan kontribusinya terhadap terhadap devisa negara. Usaha agribisnis umumnya mengutamakan penggunaan bahan baku lokal yang banyak tersedia di dalam negeri dan sesedikit mungkin menggunakan komponen impor. serta penyediaan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. keuntungan bagi sipengelola. Bahkan kegiatan agribisnis pertanian ini mampu meraup keuntungan memadai dan menciptakan iklim kondusif yang sangat diperlukan untuk peningkatan perekonomian nasional pada sektor lain. Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang lalu membuktikan. ketangguhan tersebut disebabkan oleh karakterisitik dan keunggulan dari agribisnis itu sendiri.

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, serta subsistem jasa penunjang agribisnis pertanian. Ini berarti bahwa di dalam pembangunan ekonomi nasional mendatang, sektor agribisnis pertanian tidak lagi hanya sekedar ditempatkan sebagai pendukung atau pelengkap.

BAB V Arah Kebijakan Keuangan Daerah

V-28

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

BAB VI KEBIJAKAN UMUM KABUPATEN BANDUNG

Kebijakan adalah keputusan yang sifatnya mendasar untuk dipergunakan sebagai landasan bertindak dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Program adalah langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan penjabaran dari kebijakan. yang merupakan

6.1 Kebijakan untuk Mewujudkan Kepemerintahan Yang Baik (Misi 1) Kepemerintahan yang baik atau populer dengan istilah good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang bersifat konstruktif diantara tiga domain utama, yaitu pemerintah, sektor swasta dan masyarakat yang memiliki karakteristik, efisien, efektif, partisipatif berlandasakan hukum, adil, demokratis, transparan, responsif, berorientasi konsesus, kesetaraan, akuntabel dan memiliki visi strategik. Dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik, peran kepemimpinan merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selain pemantapan sistem dan manajemen kepemerintahan juga perlu dimantapkan kepemimpinan yang demokratis, egaliter dan mampu

mengedepankan keteladanan. Kebijakan umum dan program yang diperlukan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik perlu ditunjang kebijakan : A. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur; dengan Program: 1) Peningkatan moral, disiplin, budaya dan etos kerja aparatur; 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum, diklat struktural dan teknis fungsional; 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan; 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah; 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen; 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif; 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan

Peningkatan

Kualitas

Penyelenggaraan

Administrasi

Pemerintahan Daerah; dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan; Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan; Penataan peraturan perundang-undangan daerah; Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah; Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat; Peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi; Pembinaan dan pengelolaan pertanahan; Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan, Kelurahan dan Desa; 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan;

10) Pengembangan evaluasi kebijakan. C. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Program: 1) 2) 3) D. Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM); Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik; Penataan wilayah;

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah, dengan Program: 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah; 2) 3) 4) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah; Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa; Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah;

E.

Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan, dengan Program: 1) Pengembangan manajemen partisipatif; 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat; 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa; 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

F.

Kebijakan

Pengembangan

Sistem

Informasi

dan

Komunikasi

pembangunan, dengan Program: 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan; 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi; 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa;

6.2 Kebijakan untuk Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman, Tertib, Tentram Dan Dinamis (Misi 2) Keamanan, ketertiban dan ketentraman merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang aman, tertib dan tenteram akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum. Terpeliharanya stabilitas kehidupan yang aman, tertib, tenteram dan dinamis perlu didukung dengan adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan. Hal tersebut perlu didukung dengan kebijakan umum sebagai berikut : A. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat; dengan Program: 1) Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat, dan antara masyarakat dengan pemerintah; 2) 3) Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat; Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas; 4) Pemamtapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan; 5) 6) B. Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib; Peningkatan kesadaran budaya tertib.

Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM, melalui Program: 1) 2) Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat; Penerapan hukum secara konsekwen;

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung

3) 4) 5) 6) 7) 8) C.

Sosialisasi, bantuan dan perlindungan hukum; Pengembangan sistem jaringan informasi dan dukumentasi hukum; Pengembangan produk hukum daerah; Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah; Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum; Pemantapan koordinasi antar penegak hukum;

Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis; dengan Program 1) 2) Peningkatan pendidikan politik masyarakat; Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara; 3) 4) 5) Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi; Fasilitasi kegiatan politik di daerah; Perlindungan hak politik masyarakat.

6.3 Kebijakan untuk mendukung Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Misi 3) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia meliputi pemantapan moral dan mental, peningkatan kemampuan intelektual, keahlian, derajat kesehatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang akan bermuara pada peningkatan produktifitas masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan dan program : A. Kejakan Peningkatan Kualitas Pendidikan, dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peningkatan pelayanan pendidikan; Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan; Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan; Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun; Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan; Peningkatan kualitas tenaga kependidikan; Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; Pengembangan manajemen sekolah; Peningkatan kesejahteraan guru;

10) Pengembangan tingkat partisipasi sekolah; 11) Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS); 12) Pengembangan pendidikan anak dini usia.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung

VI-4

peralatan kesehatan dan kosmetika. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung B. 7) 8) 9) Pengembangan kesehatan lingkungan. Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat . Perbaikan gizi. pengawasan dan pengendalian obat-obatan. 6) Perningkatan prestasi olah raga. Penanggulangan penyakit. 8) Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga. 7) Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat. Pembinaan. C. 10) Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. 4) Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda. D. Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. makanan dan minuman. kepemimpinan dan kepeloporan. 5) Pemasyarakatan olah raga. Peningkatan budaya hidup bersih. Perlindungan ibu. Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. dengan Program: 1) 2) 3) Peningkatan keberdayaan perempuan. 3) Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. 9) Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. 2) Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. pembangunan dan kemasyarakatan. dengan Program: 1) Pemberdayan potensi generasi muda dalam kewirausahaan. sehat dan berkualitas. anak dan reproduksi. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-5 .

Penaganan masalah-masalah sosial. Peningkatan distribusi pangan. individu. 6) 7) 8) 9) Penanggulangan bencana dan pengungsi. seperti sentra tekstil. Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. 10) Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial. penyandang cacat. didefinisikan sebagai ketidakmampuan mesyarakat dalam memenuhi standar minimum kebutuhan hidupnya. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-6 . tidak adanya kesempatan atau peluang usaha dan tidak adanya kemampuan usaha. Pengembangan agribisnis. Pengembangan sistem perlindungan sosial. Pemberdayaan anak terlantar. Pengembangan sentra-sentra-sentra unggulan pada kawasan andalan. Meet Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu). sentra agribisnis. Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan. Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. diantaranya tidak adanya pendapatan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Pengamanan ketersedian pangan. Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA. sentra konveksi. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. Kebijakan untuk menanggulagi masalah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat perlu ditunjang dengan : A. Masalah kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. pertenakan dan perikanan. Peningkatan ketahanan sosial. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial.4 Kebijakan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat (Misi 4) Kemiskinan yang menjadi permasalahan utama pembangunan. Diversivikasi pangan. keluarga dan masyarakat. B. Revitalisasi pertanian. 9) Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Peningkatan kualitas pelayanan. lansia dan penyandang tuna sosial.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Soaial.

terutama permodalan. 19) Pengembangan keparawisataan. C. keimanan dan ketaqwaan yang terlefleksikan BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-7 . tetapi juga muatan sosial. Peneningkatan partisipasi angkatan kerja. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Pemantapan hubungan industrial. sehingga pada prakteknya tidak saja ditunjukan dengan ketaatan ritual individu. Kesalehan sosial sebagai perwujudkan sifat masyarakat bertaqwa merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan. 14) Pengembangan ekonomi syariah. sehingga tercipta kesalehan kolektif untuk merajut kehidupan bersama. Dalam perspektif agama.5 Kebijakan untuk Mewujudkan Kesalehan Sosial Berlandasan Iman dan Taqwa Keimanan dan ketaqwaan adalah landasan moral dan etika yang tidak hanya memiliki muatan spiritual. tetapi juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan. Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. 11) Pengembangan industri manufaktur.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan koperasi. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. 15) Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. Penataan administrasi kependudukan. D. usaha mikro. 6. 13) Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). kecil dan menengah. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga. 12) Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan. sikap serta nilai-nilai yang mempengaruhi cara berfikir dan bertindak. Pengendalian urbanisasi. 16) Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. 17) Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif. 18) Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.

7) Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-8 . 3) Optimalisasi zakat. 6) Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. 9) Pengembangan TPA/TKA. infaq dan sadaqah. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial. dengan Program: 1) Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan. 5) Pemberdayaan ormas keagamaan. dengan Program: 1) Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 4) Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung dalam kesalehan sosial merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan. Kebijakan untuk mendukung misi tersebut diantaranya : A. 4) Pengembangan ekonomi melalui lembaga keagamaan. 4) Peningkatan kerukunan hidup beragama. C. 2) Peningkatan harmonisasi sosial. 3) Pengembangan ekonomi syari’ah. dengan Program: 1) Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. B. 5) Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. 3) Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum. 8) Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan. 5) Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama. 2) Pengembangan manajemen potensi umat. 6) Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan. 2) Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-9 . Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat.6 Kebijakan untuk Mendukung Upaya Menggali dan Menumbuhkembangkan Budaya Sunda (Misi 6) Budaya Sunda yang sangat kaya dengan nilai-nilai merupakan falsafah hidup yang sangat menentukan sikap dan karakter masyarakat Sunda. Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda. 3) Peningkatan pelayanan ibadah haji. agar masyarakat Sunda dapat mengambil peran sentral dalam pembangunan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung D. Kebijakan Pengembangfan dan Pelestarian Program: 1) Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya. 4) Pengembangan ekonomi budaya. 2) Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan. 4) Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda. Budaya Sunda. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda. dengan B. Kebijakan dan program yang diperlukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah : A. Selain. dengan Program: 1) Pengembangan adat istiadat daerah. 5) Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah. dengan Program: 1) 2) 3) Penggalian nilai-nilai budaya sunda. seperti tersedianya gedung kesenian. 2) Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. dengan Program: 1) Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. khazanah kebudayaan Sunda yang sangat beragam dapat dijadikan sumber produktifitas yang khas bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan daerah. 2) Pelestarian asset budaya. perlu digali dan dikembangkan nilai-nilai budaya yang baik untuk memotivasi potensi masyarakat. 3) Pengembangan produk budaya. 3) Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya. C. 6. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama.

BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-10 . Pengembangan sentra agribisnis. Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Pengembangan sentra konveksi. Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage. 6) Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Seluruh aktifitas pembangunan harus dilandasi oleh tiga pilar pembangunan secara seimbang.Majalaya. C. Pengembangan sentra tekstil. 2) Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. yaitu menguntungkan secara ekonomis. dengan Program: 1) Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. dengan Program: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. 4) Penegakan hukum lingkungan. B. 7) Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. tanpa mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. 8) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 6. diterima secara sosial dan ramah lingkungan.7 Kebijakan untuk Memelihara Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Misi 7) Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan generasi masa kini. Pengembangan daerah ibu kota Soreang. 3) Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan. Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). 3) Pengelolaan dan pendayagunaan limbah. 2) Pengembangan manajemen pertanahan. 5) Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan. dengan Program: 1) Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.

Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10) Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. Peningkatan kinerja pembangunan desa harus berorientasi pada penguatan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan desa. 5) 6) 7) Peningkatan sarana dan prasarana desa. pembangunan harus dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kinerja pembangunan desa. Kebijakan dan program untuk mendukung hal tersebut dilakukan dengan : A. Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. dengan B. dengan Program: 1) 2) 3) 4) Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 6. Desa sebagai unit wilayah terkecil harus menjadi fokus utama dan muara dari seluruh aktifitas pembangunan daerah. peningkatan ekonomi pedesaan dan pembangunan kawasan pedesaan. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa. 2) Pengembangan produk unggulan desa. pengembangan kapasitas keuangan desa. pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan partisipasi pembangunan. 5) Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. RW. RT dan lain-lain).8 Kebijakan untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (Misi 8) Dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat desa. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. 3) Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). LKMD. 12) Penataan iklim investasi yang kondusif. 11) Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi. 4) Pengembangan akses pemasaran produk desa. Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. Peningkatan kualitas perangkat desa. Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. Kebijakan Program: 1) Pengembangan pasar desa. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-11 . Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa.

3) Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan. BAB VI Kebijakan Umum Kabupaten Bandung VI-12 . Kebijakan Program: Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung C. dengan 1) Peningkatan infra struktur perdesaan. 2) Pengembangan utilitas perdesaan.

fungsi dan sub fungsi pembangunan serta alokasi proporsi indikatif APBD per program baik lima tahunan maupun tahunan. Karena sifat belanja langsung diatas. Dalam perkiraan besaran pagu indikatif setiap program lima tahunan dan tahunan harus memperhatikan perkiraan belanja daerah yang merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan kepentingan pembangunan. Belanja ini timbul secara periodik dalam rangka koordinasi pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dan digunakan bersama-sama (common cost) untuk melaksanakan program dan kegiatan setiap unit. Sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya program atau kegiatan. artinya besaran belanja tersebut mengikuti jenis dan banyaknya jumlah kegiatan secara berbanding lurus. belanja daerah secara garis besar terbagi menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung. Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan (BHBK) dan Biaya tak Terduga. Matriks ini digunakan untuk menyusun Renstra-SKPD dan Rencana Kerja tahunan SKPD sesuai dengan fungsi dan sub fungsi serta memperhatikan sumber daya yang tersedia. indikator keluaran. belanja modal. Jika dilihat dari jenis belanjanya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Program pembangunan daerah lima tahun kedepan dituangkan dalam matriks program lima tahunan dan program tahunan. BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 . Belanja langsung adalah belanjabelanja yang timbul sebagai konsekwensi adanya program atau kegiatan pembangunan yang dibutuhkan dalam kurun satu tahun anggaran. Dalam matriks tersebut dijabarkan kebijakan. pemerintah daerah terlebih dahulu harus menyisihkan anggaran untuk belanja tidak langsung yang terdiri dari belanja gaji pegawai/personalia. maka untuk memperoleh perkiraan belanja untuk tiap program. program. artinya belanja ini merupakan belanja kebutuhan minimal untuk operasional pemerintahan.

5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan Keterangan 1.37678% APBD Kabupaten Terbentuknya aparatur yang kreatif. disiplin. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 1) Peningkatan moral. Pendidikan Pendidikan Kedinasan 0. Pelayanan Umum 4 5 Terselenggaranya sistem kepegawaian yang berdasar pada aturan perundangundangan. produktif dan bertanggungjawab Terbentuknya aparatur yang profesional sesuai dengan Tupoksi Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.34860% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-2 . diklat struktural dan teknis fungsional.42453% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum.34622% APBD Kabupaten 0. Terwujudnya budaya kerja aparatur yang berdisiplin. Terselenggaranya sistem reward dan punishment Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0. bermoral.33714% APBD Kabupaten 0. budaya dan etos kerja aparatur. 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan. inovatif. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif. profesional.1 MATRIKS PROGRAM LIMA TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1.34096% APBD Kabupaten Pelayanan Umum 6 Terbentuknya mental aparatur yang kreatif dan inovatif Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.

25974% APBD Kabupaten 5 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.27159% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-3 . 3) Penataan peraturan perundang-undangan daerah. efektif.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terwujudnya harmonisasi peraturan daerah dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi 2.25558% APBD Kabupaten 2 3 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan. Terselenggaranya evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan yang independent.efektif. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.24533% 4 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. ramping dan kaya fungsi serta responsif Tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelayanan publik 1.38155% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.26999% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Tertatanya fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan supaya lebih memadai. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. Indikator Keluaran Terbentuknya keteladanan setiap jiwa pimpinan satuan kerja FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 2. efisien dan transparan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. proporsional.Tersedianya regulasi sesuai kebutuhan daerah Terselenggaranya proses penyelenggaraan kinerja instansi pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM).Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.48804% APBD Kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. 2 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.23060% APBD Kabupaten 3. sinkronisasi dan simplikasi. 1.23604% APBD Kabupaten 0.Tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Pelayanan Publik Terbentuknya sistem.48035% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-4 .27608% APBD Kabupaten 10 Terjalinnya harmonisasi antar lembaga pemerintahan baik secara vertikal maupun horizontal Tersusunnya langkah-langkah sistematis evaluasi lebijakan Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0.Terbentuknya Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada tiap SKPD 2. Indikator Keluaran Meningkatnya koordinasi. integrasi. integrasi. Terwujudnya pendelegasian kewenangan sesuai dengan peraturan yang ada Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum 0. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan.27512% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM 6) Peningkatan koordinasi. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.23572% APBD Kabupaten 0. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan. Kelurahan dan Desa. mekanisme dan prosedur pelayanan publik yang mudah dan sederhana Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1. sinkronisasi dan simplikasi hubungan kerja antar lembaga Terbentuknya tertib pertanahan FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 7 Pelayanan Umum 8 9 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.

Bertambahnya sumber pendapatan asli daerah 3.Tersedianya produk hukum mengenai penataan namanama jalan di ibukota Kabupaten Bandung 6.Terlaksananya penataan wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung yang berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan publik FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Keterangan 4.88425% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-5 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.52068% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM 3) Penataan wilayah.Terpeliharanya tugu batas Kabupaten/Kota dan gapura Kabupaten 4.Meningkatnya pendapatan asli daerah dari sumber restribusi dan pajak daerah 1.Terwujudnya keseimbangan antara serapan anggaran yang bersifat pembangunan Terwujudnya alokasi dana desa yang proporsional Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 2. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.Terbangunnya tugu batas kecamatan 5.79964% APBD Kabupaten 3 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Tersedianya dokumen datadata potensi restribusi dan pajak daerah 2. Terwujudnya pemekaran Kabupaten Bandung.Terwujudnya rasionalitas anggaran 2. Terbangunnya pilar batas daerah Kabupaten Bandung 3.84492% APBD Kabupaten 2 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah. Indikator Keluaran 1. 1.

3) Penataan tugas pembantuan kepada desa.25132% 0. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM dan desa.29033% APBD Kabupaten 2 3 4 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. 4 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.Meningkatnya tingkat kepuasan hasil kerja BUMD Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1.38433% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-6 .79844% APBD Kabupaten 5. Terbentunya sistem dan mekanisme yang mengatur pola partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Terbentuknya fasilitasi sistem pengawasan masyarakat Meningkatnya kinerja dalam tugas pembantuan kepada desa Meningkatnya tugas dan fungsi LSM. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 1) Pengembangan manajemen partisipatif. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 1) Peningkatan transparasi programprogram pembangunan.24287% 6. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat.28090% APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten 0. Tersosialisasikannya program pembangunan kepada masyarakat Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan 0.Meningkatnya kontribusi pendapatan dari laba BUMD 2.

Tertatanya sistem dan mekanisme pengelolaan informasi dan komunikasi Terjalinnya hubungan yang sinergis dan konstruktif dengan media massa Pelayanan Umum 3 Pelayanan Umum Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya Pelayanan Umum Pemerintahan Lainnya 0. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1.32449% APBD Kabupaten Misi 8. 1.80805% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-7 .Tersedianya penyelenggaraan pemerintahan desa yang mampu melaksanakan tugas.Terwujudnya sistem dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa baik 4. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa.Tersedianya aparatur daerah yang memahami peraturan perundangundangan tentang desa 3.35660% APBD Kabupaten 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Lainnya Keterangan 2 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.Terdapatnya badan khusus yang menangani urusan desa 2. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa. fungsi serta kewenangan desa Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.

Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Terwujudnya pengalokasian dana desa2. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0. Indikator Keluaran 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.Optimalnya kinerja perangkat desa dan pelayanan kepada masyarakat 3.Teroptimalisasinya penggunaan alokasi dana desa3.79038% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan sumber keuangan desa.Meningkatnya kualitas kerja aparat desa 2.Tersedianya sarana dan prasarana desa 2.Tertata dan terlaksananya tugas pembantuan desa 1.Terwujudnya partisipasi secara optimal lembaga desa dalam pembangunan 2.Terinventarisasinya kewenangan desa yang dapat dilaksanakan 2.79038% APBD Kabupaten 6 — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD. LKMD.Meningkatnya pengetahuan (kualitas lembaga desa) FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 3 — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. RT dan lain-lain). RW.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terserapnya sumbersumber keuangan desa dan meningkatnya swadaya masyarakat 1.81599% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.Meningaktnya kesejahteraan perangkat desa 1.78773% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-8 .84072% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan kualitas perangkat desa.Terpenuhinya sarana dan prasarana seda sesuai kebutuhan 1. Pelayanan Umum Pelayanan Umum 0.

pelaksanaan maupun evaluasi pembangunan 3.Meningkatnya kemandirian kelompok masyarakat desa 4. kesejahteraan keluarga.Meningkatnya kesehatan reproduksi. pengembangan olah raga. Indikator Keluaran 1. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha. — Pengembangan akses pemasaran produk desa. Berkembangnya sarana pasar desa Ekonomi 2 3 — Pengembangan produk unggulan desa. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.15064% APBD Kabupaten 0. budaya dan lain-lain. koperasi dan UKM Perdagangan. koperasi dan UKM Perdagangan.Dilibatkannya masyarakat/kelompok masyarakat dalam perencanaan. koperasi dan UKM Perdagangan.Terbentuk dan terinventarisasinya kelompokkelompok masyarakat sesuai profesi 2. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES). Teroptimalisasinya pemanfaatan sumber daya lokal Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0.13961% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-9 .14347% APBD Kabupaten 4 Semakin luas jaringan akses pemasaran produk desa Ekonomi 0. pengembangan usaha. pengembangan usaha. FUNGSI Pelayanan Umum SUB FUNGSI Pelayanan Umum Keterangan 2.82571% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 7 PROGRAM — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa. kesenian.14664% APBD Kabupaten Berkembang dan teroptimalkannya BUMDES Ekonomi 0. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 — Pengembangan pasar desa.

Pelayanan Umum Pelayanan Umum 1.tersusunya penataan fungsi ruang kawasan pedesaan dalam RDTR 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.11246% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 — Peningkatan infra struktur perdesaan. Indikator Keluaran Berkembangnya lembaga dan jasa keuangan desa FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan.48710% APBD Kabupaten Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-10 .Meningkatnya kemanfaatan dan daya guna fasilitas yang ada 1. pengembangan usaha.78689% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan utilitas perdesaan. Lingkungan Hidup Tata Ruang dan pertanahan 1.Tertatanya fungsi kawasan perdesaan secara optimal Ekonomi Transportasi 1.Tersedianya data fasilitas umum dan fasilitas sosial desa 2. koperasi dan UKM Keterangan 3. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perdesaan serta meningkatnya pengetahuan dan kemampuan teknis masyarakat desa 1.77900% APBD Kabupaten 3 — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.

— Peningkatan kualitas tenaga kependidikan. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) KEBIJAKAN 1.24740% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 7 Pendidikan 1. Terwujudnya peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan pendidikan Terwujudnya kurikulum pendidikan yang mengandung muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan Terlaksananya pendidikan wajar dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah dari seluruhlapisan masyarakat terutama keluarga miskin Terselenggaranya pendidikan non formal dan kejuruan yang berorientasi kepada keahlian Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai Pendidikan 2 3 — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.27541% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.31158% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-11 . Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pelayanan pendidikan.09221% APBD Kabupaten 6 Pendidikan 1.40960% APBD Kabupaten 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 3. Pendidikan Pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan pelayanan bantuan terhadap pendidikan Pendidikan lainnya 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan. Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal Pendidikan lainnya pelayanan bantuan terhadap pendidikan 1. Pendidikan Pendidikan dasar 1.33142% APBD Kabupaten 5 — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.29524% APBD Kabupaten 1.

13655% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Pengembangan manajemen sekolah. sehat dan berkualitas. Meningkatnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan Kesehatan Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat 1.16339% 10 Pendidikan 1.32675% 12 — Pengembangan pendidikan anak dini usia.27657% APBD Kabupaten 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Indikator Keluaran Terselenggaranya KBM berbasis MBS secara optimal Meningkatnya aktivitas guru dalam KBM Berkurangnya angka putus sekolah Terlaksananya pendidikan sejak dini usia dan meningkatnya RLS Terlaksananya pendidikan pra sekolah FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan lainnya Pendidikan dasar Keterangan 9 Pendidikan 1.53799% APBD Kabupaten 2 Kesehatan 1. — Peningkatan kesejahteraan guru. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah. — Peningkatan budaya hidup bersih.63998% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-12 . Pendidikan Pendidikan usia dini 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).33025% 11 Pendidikan 1.

Kesehatan 1.Terlaksananya pembangunan prasarana dasar lingkungan pemukiman 3.Terlaksananya program prokasin dan terbangunannya sarana pengolahan dan sanitasi 4.Terbangunnya saluran drainase lingkungan perkotaan 5.53799% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Penanggulangan penyakit. peralatan kesehatan dan kosmetika Kesehatan 1. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama balita dan bumil Meningkatnya status kesehatan ibu.52575% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan ibu. anak dan pada masa reproduksi Terkendalinya penggunaan obat-obatan. pengawasan dan pengendalian obatobatan.30954% APBD Kabupaten 7 1. makanan dan minuman.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan masterplan drainase Kesehatan kesehatan lainnya 1. Indikator Keluaran Menurunnya angka kesakitan FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan perorangan keluarga berencana Keterangan 4 — Perbaikan gizi. makanan dan minuman. Kesehatan Obat dan perbekalan kesehatan 1.Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan data verifikasi sanitasi 2.60327% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-13 .Tersedianya dokumen perencanaan teknis dan outline plan drainase 6. — Pengembangan kesehatan lingkungan.53663% APBD Kabupaten 6 — Pembinaan. anak dan reproduksi. peralatan kesehatan dan kosmetika.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1.

59919% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 8 PROGRAM — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan.24684% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-14 .24239% APBD Kabupaten 2 Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0. — Perlindungan dan advokasi hak-hak perempuan. Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan Teroptimalisasinya perlindungan dan advokasi hak perempuan Perlindungan sosial Pemberdayaan perempuan 0.46592% APBD Kabupaten 10 Kesehatan 1.Tersedianya sistem jaringan pelayanan kesehatan bagi masyarakat 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 — Peningkatan keberdayaan perempuan. Indikator Keluaran Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai Tersedianya SDM tenaga kesehatan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan 1.Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat Keterangan 9 Kesehatan 1. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.44008% APBD Kabupaten 3. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.20200% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-15 . Indikator Keluaran Meningkatnya peran serta perempuan dalam proses pembangunan FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Pemberdayaan perempuan Keterangan 4. Terbentuknya generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha. Tersedianya kesempatan generasi muda untuk berpartisipasi secara optimal dalam pembangunan Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. Meningkatnya ketahanan moral dan mental generasi muda Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.27097% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan. pembangunan dan kemasyarakatan. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.20595% APBD Kabupaten 4 — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.17943% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan. Tersedianya media aktifitas dan kreatifitas generasi muda yang akomodatif Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0.20764% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan. jiwa kepemimpinan dan pelopor Pariwisata dan Budaya pembinaan kepemudaan dan olah raga 0. kepemimpinan dan kepeloporan.

Pariwisata dan Budaya 0.15548% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-16 .17971% APBD Kabupaten 8 Pariwisata dan Budaya 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.17491% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pemasyarakatan olah raga. 1. Meningkatnya prestasi olah raga Pariwisata dan Budaya 0.18422% APBD Kabupaten Misi 4. 1. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga masyarakat sesuai kebutuhan Terwujudnya sistem dan mekanisme keolahragaan yang berorientasi pada prestasi Terbangunnya kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. Indikator Keluaran Tumbuhnya aktivitas keolahragaan FUNGSI Pariwisata dan Budaya SUB FUNGSI pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga pembinaan kepemudaan dan olah raga Keterangan 6 — Peningkatan prestasi olah raga.Tersedianya sarana dan prasarana rehabilitasi sosial perlindungan sosial perlindungan sosial lainnya 0.Meningkatnya kualitas pelayanan rehabilitasi sosial 2. Pariwisata dan Budaya 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.18112% APBD Kabupaten 7 — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.17350% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.

individu.15313% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Pengembangan sistem perlindungan sosial.15313% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan anak terlantar. penyandang cacat. Tersedianya prosedur penanggulangan bencana secara cepat.21387% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-17 .15805% APBD Kabupaten 7 — Penaganan masalahmasalah sosial.16639% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 8 0. penyandang cacat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. individu. perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran Tersedianya sistem dan managemen perlindungan sosial Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kesejahteraan sosial Tersedianya lembaga advokasi perlindungan anak FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 3 — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial. lansia dan penyandang tuna sosial perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan orang sakit dan cacat 0. lansia dan penyandang tuna sosial. Tertanggulanginya masalahmasalah sosial Meningkatnya ketahanan sosial. keluarga dan masyarakat. pengetahuan dan keterampilan serta perlindungan anak terlantar. Meningkatnya kemampuan.15783% APBD Kabupaten 6 — Penanggulangan bencana dan pengungsi. terarah dan terpadu ketertiban dan keamanan penanggulangan bencana 0. — Advokasi dan perlindungan hak-hak anak. keluarga dan masyarakat perlindungan sosial perlindungan sosial bantuan dan jaminan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0. — Peningkatan ketahanan sosial.15377% APBD Kabupaten 4 perlindungan sosial Perlindungan dan pelayanan sosial anak-anak dan keluarga 0.

perikanan dan kelautan pertanian. Terpenuhinya kebutuhan pangan Ekonomi pertanian. perikanan dan kelautan pertanian.72154% APBD Kabupaten 4 Ekonomi 0. Ekonomi 0.kehuta nan. perlindungan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.kehuta nan.66642% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-18 .70712% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan distribusi pangan. perikanan dan kelautan 0.61725% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 — Pengamanan ketersedian pangan. Tertatanya sistem pendistribusian pangan secara proporsional Meningkatnya hasil panen secara optimal dan terolah dengan baik Tersedianya keragaman pangan Ekonomi 0. Indikator Keluaran menurunnya tingkat penggunaan obat-obatan terlarang Terwujudnya bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial FUNGSI Kesehatan SUB FUNGSI Obat dan perbekalan kesehatan bantuan dan jaminan sosial Keterangan 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.70797% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. perikanan dan kelautan pertanian.kehuta nan.kehuta nan.kehuta nan.19911% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.17772% APBD Kabupaten 2. perikanan dan kelautan pertanian. Tertanggulanginya permasalahan pangan Ekonomi 0. — Diversifikasi pangan.

pengembangan usaha. Meningkatnya peran dan fungsi koperasi. pertenakan dan perikanan. koperasi dan UKM 0. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. — Pengembangan sentrasentra unggulan pada kawasan andalan. pengembangan usaha.64692% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan agribisnis. seperti sentra tekstil. koperasi dan UKM 0.89365% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-19 .91739% APBD Kabupaten 9 Tersedianya sarana dan prasaran perdagangan sesuai kebutuhan Ekonomi Perdagangan.99540% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan industri manufaktur. koperasi dan UKM Keterangan 7 — Revitalisasi pertanian. sentra agribisnis. peternakan dan perikanan Ekonomi pertanian. Meningkatnya hasil pertanian. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).kehuta nan. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya hasil produksi industri manufaktur Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. perikanan dan kelautan Perdagangan. pengembangan usaha.85720% APBD Kabupaten 10 — Pengembangan koperasi. kecil dan menengah. usaha kecil dan menengah Ekonomi Perdagangan. sentra konveksi. Indikator Keluaran Terwujudnya kawasan dan produk agribisnis FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. usaha mikro.92926% APBD Kabupaten 8 Tersedianya penampungan dan pemasaran hasil produksi Ekonomi 0.

pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. pengembangan usaha.83346% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-20 . pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0. Meningkatnya privatibilitas BUMD Ekonomi Perdagangan. Terserapnya akses permodalan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya produktif Ekonomi Perdagangan.83685% APBD Kabupaten 16 — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. pengembangan usaha. Terselenggaranya kegiatan ekonomi yang berbasis syariah Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM 0. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0.64608% APBD Kabupaten 14 — Pengembangan ekonomi syariah. koperasi dan UKM 0.95300% APBD Kabupaten 15 — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha. Terbentuknya iklim usaha yang profesional Ekonomi Perdagangan. koperasi dan UKM Keterangan 13 — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD). Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatankegiatan kewirausahaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. pengembangan usaha.77071% APBD Kabupaten 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.80293% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 12 PROGRAM — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan. Meningkatnya investasi Ekonomi Perdagangan. terutama permodalan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.32276% APBD Kabupaten 2 Tersedianya tenaga kerja yang berkualitas dan produktif Terbentuknya lembagalembaga perlindungan tenaga kerja Menurunnya angka pengangguran Ekonomi tenaga kerja 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.30826% APBD Kabupaten 3 Ekonomi tenaga kerja 0. Indikator Keluaran Terpenuhinya hak dasar masyarakat miskin FUNGSI perlindungan sosial SUB FUNGSI bantuan dan jaminan sosial Keterangan 19 Terwujudnya sistem dan manajemen kepariwisataan Pariwisata dan Budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. — Pengembangan keparawisataan.28457% APBD Kabupaten 4 Ekonomi tenaga kerja 0.80378% APBD Kabupaten 3. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.28569% APBD Kabupaten 5 Terjalinnya hubungan sinergis masyarakat industri Ekonomi Industri dan konstruksi 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.23552% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-21 .88941% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 18 PROGRAM — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin. Terserapnya tenaga kerja secara optimal Ekonomi tenaga kerja 0. — Pemantapan hubungan industrial. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.

32878% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-22 . Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.29906% 5 — Pengendalian urbanisasi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.25157% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 4 0.42520% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. 1.25168% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Penyelesaian masalahmasalah ketenagakerjaan. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi. Berkurangnya perpindahan penduduk dari desa ke kota Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Meningkatnya keterampilan dan ketahanan keluarga Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 2.38388% APBD Kabupaten 3 Tertatanya sistem pencatatan kependudukan Menurunnya tingkat keluhan terhadap pelayanan kependudukan dan transmigrasi Perlindungan sosial Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.menurunnya tingkat angka kesakitan masa reproduksi Kesehatan keluarga berencana 0. Indikator Keluaran Terfasilitasinya masalahmasalah ketenagakerjaan FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI tenaga kerja Keterangan 4. — Penataan administrasi kependudukan.Menurunnya laju pertumbuhan penduduk.

63957% APBD Kabupaten 4 — Penegakan hukum lingkungan.53745% APBD Kabupaten 2 — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan.58720% APBD Kabupaten 3 — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.Meningkatnya keseimbangan lahan. daya dukung dan kualitas lingkungan 2. 1.Meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan aparat terhadap hukum lingkungan 2.53680% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-23 .Teroptimalisasinya lahan kritis dan konservasi lahan Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi strategis lingkungan Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Misi 7.Berfungsinya penegak hukum secara optimal Lingkungan hidup manajemen limbah 0. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam. Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0. Lingkungan hidup perlindungan lingkungan hidup lainnya 0. Terkelolanya limbah domestik dan limbah industri beserta pemanfaatannya 1. KEBIJAKAN 1.

Terlaksananya daur ulang dan pendayagunaan sampah Lingkungan hidup manajemen limbah 0. Meningkatnya efisiensi pemanfaatan SDA Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.Meningkatnya kesadaran pelestarian hutan 2.Tersedianya TPS dan TPA 3.Adanya peran aktif dari masyarakat dan lembaga kemastarakatan dalam melestarikan lingkungan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI konsevasi sumber daya alam Keterangan 6 — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. 1. 1.Terlaksananya KISS program Dibale dengan stakeholder terkait 2.Tersedianya sistem pola dan mekanisme pengelolaan sampah terpadu 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.54007% APBD Kabupaten 7 — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah. Indikator Keluaran 1.54858% APBD Kabupaten 2.54007% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-24 .57804% APBD Kabupaten 8 — Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.Terlaksananya pengembangan hutan rakyat Lingkungan hidup konsevasi sumber daya alam 0.

Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 2. RDTR. Indikator Keluaran Tersusunnya dokumen perencanaan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 2.25769% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-25 .Teroptimalisasinya administrasi pertanahan 4.29906% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah. penataan kawasan khusus dan pemetaan melalui KISS program 1.Tersusunnya sistem pengawasan dan pengendalian pembangunan 2. Tersedianya data-data pertanahan 2.Teroptimalisasinya pelaksanaan penertiban penggunaan tanah sesuai peruntukannya 3. 1.04197% APBD Kabupaten 3 — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.Terfasilitasinya masalahmasalah pertanahan FUNGSI Lingkungan hidup SUB FUNGSI Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya Keterangan 2 — Pengembangan manajemen pertanahan.Teroptimalisasinya pengendalian dan pengawasan pembangunan Lingkungan hidup Perlilndungan Lingkungan hidup lainnya 2.

Tersedianya data verifikasi fasilitas umum.Tertata dan termanfaatkan sarana prasarana fasilitas umum Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0. fasilitas sosial dan perumahan2.Majalaya. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal). Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri. Tersusunnya dokumen rencana terpadu.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.soreang dan gedebage.14081% APBD Kabupaten 2 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.12801% APBD Kabupaten 3 Lingkungan hidup tata ruang dan pertanahan 0.majalaya 1. — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.13781% APBD Kabupaten 4 Perumahan dan fasilitas umum Perumahan dan pemukiman lainnya 0. penetapan kawasan andalan dan kota mandiri Berkembangnya jaringan prasarana dasar wilayah (SRTPK) Terwujudnya pembangunan jalan tol pasir koja.13560% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-26 . — Pembangunan jalan tol Soreang-Pasirkoja dan Gedebage.

Tersedianya dokumen perencanaan teknis terpadu 2.14255% APBD Kabupaten 7 — Pengembangan sentra agribisnis.Terlaksananya studi manajemen dan rekayasa lalulintas serta perhubungan Ekonomi Ekonomi lainnya 0.14856% APBD Kabupaten 8 — Pengembangan sentra tekstil. koperasi dan UKM 0. koperasi dan UKM 0.12801% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 5 PROGRAM — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.Tertatanya pelaksanaan pembangunan untuk pengembangan kota soreang FUNGSI Perumahan dan fasilitas umum SUB FUNGSI litbang perumahan dan pemukiman Keterangan 6 — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan. Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha. 1.14713% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-27 .Terwujudnya sarana dan prasarana fisik penunjang dinamisasi sektor ekonomi 2. 1.Tersedianya dokumen pra feasibility dan pra design 3.Eks terminal cingcin dan pengembangannya 4.Tersedianya pusat penampungan dan pemasaran Tersedianya pusat produksi tekstil dan pemasaran Ekonomi Perdagangan. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. Indikator Keluaran 1.Teroptimalisasinya pengolahan hasil produksi 2.

13133% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-28 .14461% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 9 PROGRAM — Pengembangan sentra konveksi.Terlaksananya pengembangan pengelolaan sumber daya air 3.Tersedianya dokumen rencana induk penggunaan induk data verifikasi air baku. pembangkit listrik alternatif dan untuk keperluan sendiri beserta pengembangannya Ekonomi bahan bakar dan energi 0. air bawah tanah 2. koperasi dan UKM Keterangan 10 — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. potensi geothermal. 1.Tersedianya sarana air bersih Ekonomi Pengairan 0. 1. bencana geologi.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.14413% APBD Kabupaten 12 — Penataan iklim investasi yang kondusif. pengembangan usaha. koperasi dan UKM 0. Indikator Keluaran Tersedianya pusat pengembangan dan pemasaran konveksi FUNGSI Ekonomi SUB FUNGSI Perdagangan. Terciptanya iklim kemudahan melakukan investasi Ekonomi Perdagangan.15994% APBD Kabupaten 11 — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.Tersedianya data sebaran bahan galian dan mineral 2. pengembangan usaha. listrik pedesaan.Tersedianya peta mitigasi.

12583% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-29 . Terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan ketertiban dan keamanan ketertiban . Terwujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban dan keamanan 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat 1 — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2. dan antara masyarakat dengan pemerintah. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas. KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1. keamanan dan hukum lainnya 0. Tenteram dan Dinamis. Tertib. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.13000% APBD Kabupaten 3 Terantisipasinya kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas ketertiban dan keamanan ketertiban .13193% APBD Kabupaten 2 — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat.

11846% APBD Kabupaten 6 — Peningkatan kesadaran budaya tertib. keamanan dan hukum lainnya 0. Meningkatnya ketertiban umum ketertiban dan keamanan 0.10395% APBD Kabupaten 2 Terujudnya rasa keadilan masyarakat ketertiban dan keamanan ketertiban . Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat. keamanan dan hukum lainnya ketertiban .12279% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan. — Penerapan hukum secara konsekwen.13481% APBD Kabupaten 2.09276% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-30 . Berkurangnya pelanggaran hukum ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0. Indikator Keluaran Terselesaikannya permasalahan melalui mediasi pemerintah FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI peradilan Keterangan 5 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. keamanan dan hukum lainnya 0. Terwujudnya SDM kamtrantib yang profesional ketertiban dan keamanan ketertiban .

Terciptanya sistem jaringan informasi yang tertib FUNGSI ketertiban dan keamanan SUB FUNGSI Pembinaan hukum Keterangan 4 ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.09328% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-31 . keamanan dan hukum 0.09432% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Sosialisasi. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.09289% APBD Kabupaten 7 — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.Tersedianya peraturan daerah dan peraturan bupati sesuai kebutuhan 2.Tertatanya dokumentasi hukum yang tertib 2. Indikator Keluaran Tercapainya peningkatan pengetahuan dan pemahaman hukum masyarakat 1. Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam penegakan hukum Terjalinnya kerjasama sinergis antar penegak hukum ketertiban dan keamanan 0.08977% APBD Kabupaten 6 — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . keamanan dan hukum lainnya Pembinaan hukum 0.09836% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan produk hukum daerah. bantuan dan perlindungan hukum. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum. Berkurangnya pelanggaran HAM ketertiban dan keamanan ketertiban .Tersusunnya kodifikasi bahan-bahan sosialisasi produk hukum pusat dan daerah ketertiban dan keamanan Litbang ketertiban.09849% APBD Kabupaten 8 ketertiban dan keamanan 0.

Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap politik Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan berpolitik ketertiban dan keamanan ketertiban .14827% APBD Kabupaten 5 — Perlindungan hak politik masyarakat. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.15459% APBD Kabupaten 4 ketertiban dan keamanan ketertiban . keamanan dan hukum lainnya ketertiban .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3.15810% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.15132% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-32 . Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 1 — Peningkatan pendidikan politik masyarakat. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah. Terwujudnya kebebasan dalam menentukan pilihan politik ketertiban dan keamanan 0. keamanan dan hukum lainnya 0. keamanan dan hukum lainnya ketertiban . keamanan dan hukum lainnya 0.15155% APBD Kabupaten 2 ketertiban dan keamanan 0. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menyampaikan aspirasi Terwujudnya kehidupan politik yang demokratis ketertiban dan keamanan Pembinaan hukum 0.

Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan Misi 5.10428% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-33 . 1.Terlaksananya KISS program Dibale/ kec dengan stakeholder terkait 3.Meningkatnya kualitas keberfungsian lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 2.Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Perlindungan sosial Perlindungan sosial lainnya 0.Meningkatnya ketahanan moral dan mental masyarakat 4.

meningkatnya bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 4. inter ummat beragama dan antar umat beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Menurunnya penyebaran agama tertentu pada masyarakat yang telah beragama Perlindungan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Meningkatnya kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur nagara 2.08872% APBD Kabupaten 4 — Peningkatan kerukunan hidup beragama.09892% APBD Kabupaten 5 — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.Terwujudnya peningkatan kualitas iman dan takwa 3.11458% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. Meningkatnya kerukunan hidup beragama.Meningkatnya penarapan nilai agama dalam kehidupan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI pendidikan keagamaan Keterangan 3 — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.06759% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-34 .Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. adanya penambahan jam pelajaran agama pada kurikulum mulai sekolah dasar sampai menengah Pendidikan pendidikan keagamaan 0. Indikator Keluaran 1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Meningkatnya kualitas pendidikan dan pengajaran untuk siswa TPA dan TK 4. 1.Terwujudnya silaturahmi antara pemerintah dengan lembaga keagamaan 2.06045% APBD Kabupaten 8 — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.07148% APBD Kabupaten 9 — Pengembangan TPA/TKA. Indikator Keluaran Terwujudnya kegiatan keagamaan yang terpadu antara pemerintah daerah dengan masyarakat FUNGSI Perlindungan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 7 Meningkatnya kesadaran aparat untuk memakai pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama Pelayanan Umum lembaga eksekutif. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.Meningkatnya jumlah TPA dan TKA baru 2.Meningkatnya intensitas FKUU di tingkat kabupaten.Meningkatnya kesejahteraan pengelola TPA dan TKA Pendidikan Pendidikan nonformal dan informal 0.08336% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 6 PROGRAM — Pengembangan kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.07443% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-35 . 1. kecamatan dan desa Pelayanan Umum Pelayanan umum 0.Meningkatnya manajemen pengelolaan TPA dan TKA 3. dan legislatif keuangan dan fiskal serta urusan bantuan luar negeri 0.

11512% APBD Kabupaten 2 Terwujudnya kehidupan sosial yang agamis harmonis 1.Adanya pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah Kesejahteraan sosial Ekonomi Penyuluhan dan bimbingan sosial Perdagangan. koperasi dan UKM 0.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi syariah2.12087% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-36 . — Pengembangan ekonomi syari’ah.Terbentuknya tenaga profesional yang mengelola lembaga perbankan maupun non perbankan syariah3.Adanya sosialisasi tentang pengembangan ekonomi syariah4.12943% APBD Kabupaten APBD Kabupaten 3 0. pengembangan usaha.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD Sumber Pedanaan KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN PROGRAM Indikator Keluaran FUNGSI SUB FUNGSI Keterangan 2. — Peningkatan harmonisasi sosial. Meningkatnya pribadi aparatur yang iman dan takwa Pendidikan Pendidikan keagamaan 0. Kebijakan Penerapan Nilainilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan pembangunan.

Kokohnya ketahanan moral dan mental umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.17197% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-37 . — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan.Terwujudnya kebersamaan umat 2.12181% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 4 PROGRAM — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama. 1.Terinventarisasinya potensi umat 2. 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan. Indikator Keluaran Terwujudnya perilaku sosial berdasarkan nilai agama FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 5 Terwujudnya keteladanan pimpinan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.14003% APBD Kabupaten 2 — Pengembangan manajemen potensi umat.Tersedianya sistem dan mekanisme serta pola pengembangan potensi umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13830% APBD Kabupaten 6 Meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.13830% APBD Kabupaten 3. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat.

Adanya kesadaran untuk mengeluarkan ZIS 2.Terbentuknya lembagalembaga ekonomi yang mengayomi kepentingan umat Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Terwujudnya pemanfaatan ZIS bagi kepentingan umat FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 4 — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan.Meningkatnya peran serta ormas-ormas keagamaan2.Terwujudnya pemahaman tentang pengembangan ekonomi di lembaga keagamaan 2.13658% APBD Kabupaten 4. 1.17675% APBD Kabupaten 5 — Pemberdayaan ormas keagamaan.13849% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 3 PROGRAM — Optimalisasi zakat. infaq dan sadaqah. Indikator Keluaran 1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-38 .Meningkatnya kemampuan ormas keagamaan Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 1.

Terwujudnya sistem pelayanan ibadah haji Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. 1.27438% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan.Terwujudnya pemahaman tentang pengelola ZIS melalui sosialisasi dan penataran caloan pengelola ZIS supaya lebih profesional Kesejahteraan sosial Penyuluhan dan bimbingan sosial 0. Indikator Keluaran 1.Adanya lembaga permanen yang mengelola ZIS 2.25904% APBD Kabupaten 3 — Peningkatan pelayanan ibadah haji.Tumbuh suburnya aktivitas keagamaan yang berorientasi pada kesadaran umat untuk beragama dan bernegara FUNGSI Kesejahteraan sosial SUB FUNGSI Penyuluhan dan bimbingan sosial Keterangan 2 — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-39 .23041% APBD Kabupaten Misi 6. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.Tersedianya sarana dan prasarana keagamaan yang memadai sebagai tempat untuk beribadah dan aktivitas umat 2. 1.

Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. 1. seperti tersedianya gedung kesenian.Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda 2. 1.24677% APBD Kabupaten 2. Tersedianya sarana dan prasarana kesenian dan kebudayaan Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.15053% APBD Kabupaten BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-40 .Meningkatnya kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Meningkatnya kreatifitas masyarakat terhadap pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya 0.25787% APBD Kabupaten 3 — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.Meningkatnya pemahaman nilai budaya sunda pada anak usia dini dan generasi muda2. Indikator Keluaran Terinventarisasinya nilai-nilai budaya Sunda FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.25918% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.

— Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.Ditetapkannya bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah 2. Indikator Keluaran Terakomodirnya muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan FUNGSI Pendidikan SUB FUNGSI Pendidikan lainnya Keterangan 3 — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.15053% APBD Kabupaten 5 — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.16593% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 2 PROGRAM — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.14880% APBD Kabupaten 4 Pariwisata dan budaya 0. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga seni dan budaya Meningkatnya partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan budaya sunda Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0.Meningkatnya penggunaan bahasa sunda sebagai bahasa sehari hari baik kegiatan formal maupun informal Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. 1. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-41 .14803% APBD Kabupaten 3.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0.

Pariwisata dan budaya 0.Adanya sistem informasi terpadu tentang peta budaya 3.Teraksesnya produk budaya lokal ke tingkat nasional maupun internasional 2.Tersosialisasikannya budaya melalui manajemen pemasaran yang terbuka FUNGSI Pariwisata dan budaya SUB FUNGSI Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya Keterangan 2 — Pelestarian asset budaya.17927% APBD Kabupaten 3 — Pengembangan produk budaya.19508% APBD Kabupaten 4 — Pengembangan ekonomi budaya.20153% APBD Kabupaten 100.18795% Sumber Pedanaan APBD Kabupaten KATEGORI INTERVENSI KEBIJAKAN 1 PROGRAM — Pengembangan adat istiadat daerah.Terbentuknya pusat pasar seni Pariwisata dan budaya Pengembangan pariwisata dan budaya 0. Indikator Keluaran Terpeliharanya adat-istiadat daerah dalam kehidupan sehari-hari 1. Pariwisata dan budaya 0.Tergalinya nilai – nilai budaya2.00000% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-42 .Tersedianya data aset budaya yang perlu dilestarikan 2.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Pagu Indikatif Lima tahunan dan Satu Tahun Transisi Alokasi % APBD 0. 1.Terpeliharanya aset budaya 1.

147% 0.908% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tabel 7.164% 0.156% 5. Kebijakan Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan Daerah 1 2 3 1) Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan.500% 0.126% 0. Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur 1 2 1) Peningkatan moral.821% 0.778% 0.941% 1.616% 0.550% 0.080% 0. 5) Peningkatan motivasi kerja melalui intensifikasi reward dan punishmen.077% 1.812% 0.695% 0.123% 0.112% 3 4 5 0.135% 0. budaya dan etos kerja aparatur. 3) Peningkatan semangat dan jiwa kewirausahaan.100% 0.099% 0.174% 0.169% 0.162% 0.113% 2.213% TAHUN 5 % APBD 9.150% 0. 2) Peningkatan kapabilitas dan kompetensi aparatur melalui pendidikan umum. diklat struktural dan teknis fungsional. Mewujudkan Kepemerintahan yang baik (sistem dan pelaku) KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN 1 % APBD 52. 6.191% 0.768% 0.591% 0.145% 0.208% 0.091% 0. 6.706% 0.116% 0.103% 0.103% 6 7 0. 2) Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan.156% 1.073% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-43 . 4) Penataan sistem dan manajemen kepegawaian daerah.2 MATRIKS PROGRAM TAHUNAN RPJMD KATEGORI INTERVENSI Perbaikan Tata Pemerintahan Misi 1. disiplin.183% TAHUN 4 % APBD 16. 6) Pengembangan mental model yang kreatif dan inovatif.175% 0.171% 0.105% 0.667% 1.149% 0.189% 0.521% 0.919% 0.758% 0.110% 0.710% 0.865% TAHUN 3 % APBD 23.099% 1.758% 0.076% 0.687% 0. 3) Penataan peraturan perundangundangan daerah.840% 0.834% 0.282% 0.650% 0.282% 0.208% 1. 7) Peningkatan kapabilitas kepemimpinan pemerintahan dengan mengedepankan keteladanan.023% TAHUN 2 % APBD 43.750% 5.101% 0.128% 0.

470% 0.071% 2.495% 1. sinkronisasi dan simplikasi. integrasi.527% 0.282% 0.673% 3. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Keuangan Daerah 1 1) Optimalisasi pendapatan asli daerah melalui intensifikasi retribusi dan pajak daerah.861% 0. 3) Perimbangan keuangan antara pemerintah kabupaten dan desa.000% 0.308% 0.481% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 4 5 4) Pengembangan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.563% 0.326% 0.290% 2.528% 0.116% 0. 5) Peningkatan pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.198% 1. 7) Pembinaan dan pengelolaan pertanahan.555% 0.568% 0. Kelurahan dan Desa.068% 1.569% 0.118% 0.101% 0.654% 3. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 1 2 3 1) Intensifikasi standar pelayanan minimal (SPM). 3) Penataan wilayah. 8.500% 0.308% 0.068% 7 8 9 10 3.112% 0.375% 3.070% 0. 11.250% 2.584% 0.618% 6. 9) Peningkatan hubungan antar lembaga pemerintahan.192% 0.587% 1.118% 0.754% 9.000% 0.529% 0.082% 0.661% 1.118% 0.182% 0.101% 0.558% 0.000% 0.176% 5.092% 3.138% 0.082% 0.119% 0.108% 3. 10) Pengembangan evaluasi kebijakan.117% 0.000% 4.812% 1.099% 0.480% 0.553% 0.081% 6 0.138% 0.182% 2 3 4 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-44 .201% 0.561% 0. 0.070% 0.189% 2.000% 0.665% 0.758% 2. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas pembiayaan daerah.081% 3.136% 0.000% 0.077% 0.663% 0.130% 0.341% 0. 2) Deregulasi dan debirokratisasi pelayanan publik.000% 0.502% 1.000% 0. 6) Peningkatan koordinasi.654% 0. 8) Optimalisasi pendelegasian kewenangan dari kabupaten ke Kecamatan.821% 1.626% 0. 4) Optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah.

325% 0.328% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-45 . 3) Penataan tugas pembantuan kepada desa.292% 0.614% 0.259% 0.376% 0.336% 0.206% 0.042% 1.273% — Pembinaan dan penguatan pemerintahan desa. 4) Pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat. — Peningkatan kualitas perangkat desa. Meningkatkan Kinerja Pembangunan Desa (otonomi desa) 1.179% 0.549% 0.325% 0.338% 0.758% 0.396% 0.462% 0.338% 0.254% 0.628% 0.571% 0.282% 0.555% 0.646% 1.231% Misi 8. organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan lainnnya.250% 0.634% 0.200% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 5.352% 0.339% 1.368% 0. 1.317% 0.081% 9.237% 0. 2) Pengembangan sistem pengawasan masyarakat.598% 1.846% 2.349% 0.302% 0.548% 1.282% 0.653% 0.231% 1. — Pengembangan alokasi dana desa (ADD) dan pengelolaan 1. 3) Pengembangan kemitraan dengan media massa. 1.429% 0.582% 1.284% 0.042% 1. 2) Pengembangan manajemen informasi dan komunikasi.275% 0.375% 4.375% 0. Kebijakan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat dan Sektor Swasta Dalam Pembangunan 1 2 3 4 1) Pengembangan manajemen partisipatif.273% 0.412% 0.758% 0.231% 1.299% 0.309% 1.290% 0.099% 1.335% 0.246% 0.537% 0.349% 0.396% 3.393% 1.281% 0.444% 0. — Pengembangan tugas pembantuan kepada desa. Kebijakan Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Ketahanan Masyarakat Desa 1 2 3 4 11.099% 1.317% 0.290% 0.173% 6.390% 0. Kebijakan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi pembangunan 1 2 3 1) Peningkatan transparasi program-program pembangunan.

000% 81.943% 1.228% 0.174% 2.233% 0.617% 1. LKMD.000% 0.271% 0.160% 0.279% 0.332% 7 2.669% Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan infrastruktur pendukungnya 41.157% 0.282% 0.239% 0.210% 2. 0.000% — Pengembangan pasar desa.537% 0.368% 0.273% 2. — Pemberdayaan kelompok massyarakat desa.535% 0. — Pengembangan utilitas perdesaan.000% 0.641% 0.265% 0.176% 50.231% 75.178% 1. RW.317% 0.000% 1. RT dan lain-lain).818% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-46 .000% 0.316% 0.495% 5. 1.839% 1. — Pengembangan badan usaha milik desa (BUMDES).601% 2.000% 69.128% 2. — Pengembangan akses pemasaran produk desa.123% 3 4 5 3.309% 1.153% 0. 6.805% 1.617% 1.099% 0.250% 5.813% 1.612% 0.208% 0. Kebijakan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan 1 2 0. — Pemberdayaan kelembagan masyarakat (BPD.200% 1. — Penataan fungsi ruang kawasan perdesaan.934% 1.000% 0.305% 1.804% 0.800% 0. — Pengembangan lembaga dan jasa keuangan desa.542% 1.000% 0.000% 0.165% 0.000% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung sumber keuangan desa. Kebijakan Meningkatkan Pembangunan Kawasan Perdesaan 1 2 3 7.758% 0. — Pengembangan produk unggulan desa.221% 0.561% 0.614% 0. melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.000% 0.387% — Peningkatan infra struktur perdesaan.000% 0. 5 6 — Peningkatan sarana dan prasarana desa.000% 0.509% 0.258% 0.548% 1.612% 2.

577% 17.120% 1.016% 11.308% 18.749% 0.881% 1.863% 0. 10. — Pengembangan pendidikan anak dini usia.883% 1.038% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-47 . Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan 10.720% 0. — Pemantapan Wajar Dikdas 9 tahun.841% 0.605% 1.294% 1. — Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan dunia usaha terhadap pendidikan.365% 1.453% 1.648% 1. — Peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS).864% 0.360% 1.586% 2. — Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.364% 1.412% 1.822% 0.538% 15. — Pengembangan manajemen sekolah.070% 0.996% 0.168% 1.511% 1. — Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.011% 0.609% 0.681% 1.308% 18.421% 1.010% 1.344% 1.454% 1.244% 1.007% 0.516% 1.868% 1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 3.279% 1.854% 1.538% 15. — Peningkatan dan pembinaan lembaga pendidikan non formal dan kejuruan.165% 1. sehat dan berkualitas. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (difokuskan pada masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan) 1.983% 1.841% 0.829% 0.929% 0.767% 0.577% 1.968% 1. — Peningkatan budaya hidup bersih. — Peningkatan kesejahteraan guru.328% 1. 0.654% 1.081% 1.494% 1. — Pengembangan tingkat partisipasi sekolah.653% 1.881% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 — Peningkatan pelayanan pendidikan.016% 11.577% 17.445% 1.874% 0.357% 1. — Pengkayaan muatan lokal kebudayaan daerah dan keagamaan.585% 1.969% 1.550% 1.307% 1.193% 1.752% 1.751% 1.911% 2.309% 1.878% 0.515% 1.947% 0.325% 1.475% 1. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Kesadaran Hidup Sehat dan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1 2 — Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.445% 1.245% 1.877% 0.014% 1.630% 1.

966% 0.158% 1.750% 1.000% 0. anak dan reproduksi.054% 0.113% 1.000% 0. — Pengembangan kesehatan lingkungan. 1.000% 0.923% 2.752% 1. Kebijakan Pemantapan Pengarusutamaan Kesetaraan Gender 1 2 3 — Peningkatan keberdayaan perempuan.503% 1.409% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan. — Pengembangan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. — Perlindungan dan advokasi hakhak perempuan.909% 0.821% 1.826% 1.093% 1. — Perbaikan gizi.994% 1.476% 1.000% 0.217% 1.617% 0.397% 0.213% 0. kepemimpinan dan kepeloporan.355% 0. pembangunan dan kemasyarakatan. makanan dan minuman. peralatan kesehatan dan kosmetika.562% 0. — Peningkatan ruang partisipasi perempuan dalam penyelenggaraan pemerintahan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 6 — Penanggulangan penyakit.342% 1.627% 7 8 9 10 1.000% 0.014% 1.896% 1.738% 1.821% 1.158% 0.168% 1.416% 0.491% 1.577% 1.640% 1.670% 1.167% 1.137% 0.282% 1. 1.057% 1.643% 1.863% 0.000% 0.098% 0.992% 1.236% 0.006% 1. 1.575% 1. — Pengembangan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.789% 3.000% 4.113% 1.987% 1.282% 1. — Perlindungan ibu.639% 1. — Pembinaan.113% — Pemberdayaan potensi generasi muda dalam kewirausahaan.564% 1.911% 1.552% 0.731% 1.361% 0.949% 1.457% 0.731% 0.258% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-48 . pengawasan dan pengendalian obat-obatan. Kebijakan Peningkatan Keberdayan Generasi Muda dan Olah Raga 1 1.013% 1.000% 0.214% 1.

114% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana olah raga masyarakat.101% 0. — Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.923% 2.158% 0.204% 0.256% 0. — Advokasi dan perlindungan hakhak anak.219% 0. keluarga dan masyarakat. — Peningkatan ketahanan sosial.157% 0. 1.191% 0.174% 0.113% 1. 0.177% 0. — Penanggulangan peyalahgunaan NAPZA.117% 0.230% 0.244% 0.189% 0. Kebijakan Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1 — Peningkatan kualitas pelayanan.138% 0.140% 0.190% 0.133% 0.179% 0.223% 0.102% 0.180% 0.207% 0. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Ekonomi Masyarakat.235% 0. — Pemberdayaan anak terlantar.136% 0.196% 0.196% 0.120% 0.126% 0.204% 0.098% 0.159% 0.216% 0.198% 0.223% 3 0. individu.206% 0. lansia dan penyandang tuna sosial. — Pembinaan dan peningkatan manajemen olah raga.282% 1.205% 0.118% 0.251% 0.151% 0.136% 0.180% 0.132% 0.157% 0.110% 0.136% 0.116% 0.120% 0.207% 0. — Penanggulangan bencana dan pengungsi.178% 0.104% 0.199% 0.141% 0.225% 0. — Pemasyarakatan olah raga.116% 0. — Pengembangan kawasan olah raga terpadu Si Jalak Harupat.162% 0.227% 0.115% 0.153% 0.186% 0.101% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 — Pengembangan media aktivitas dan kreativitas generasi muda dalam pembangunan.104% 0. — Penaganan masalah-masalah sosial. — Peningkatan ruang partisipasi generasi muda dalam pembangunan.190% 0.247% 2 3 4 5 6 7 8 9 BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-49 .210% 0. — Pengembangan sistem perlindungan sosial.175% 0.229% 4 5 6 7 8 9 Misi 4.171% 0.162% 0.133% 0. sarana dan prasarana rehabiltasi sosial. penyandang cacat. — Peningkatan prestasi olah raga. 1.131% 0.184% 0.118% 0.184% 0.121% 0.266% 0.211% 0.190% 0.217% 0.119% 0.162% 0.118% 0.101% 0.731% 1. — Pemantapan ketahanan moral dan mental generasi muda.193% 0.174% 0.156% 0.

736% 1.565% 0.759% 0. — Peningkatan promosi dan pengembangan iklim investasi. 10.805% 0.467% 0.548% 0.879% 0.058% 0. — Pengembangan koperasi.407% 0. seperti sentra tekstil.706% 0.469% 0.803% 1.879% 1. — Pengembangan semangat dan jiwa kewirausahaan.237% 1.065% 1.202% 0.878% 1.552% 0.476% 0.940% 1.538% 0.828% 0.135% 0. — Pengembangan ekonomi syariah.020% 0.977% 0.018% 0.117% 0. — Pengembangan badan usaha milik daerah (BUMD).605% 0.916% 0.998% 0.822% 0. pertenakan dan perikanan.756% 0.976% 1.628% 0.466% 0.529% 0. — Pencegahan serta penanggulangan masalah pangan.589% 0.914% 0.134% 1. — Pengembangan sentra-sentrasentra unggulan pada kawasan andalan.958% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-50 .491% 0.426% 0.610% 0.045% 1.804% 1.221% 2.426% 0.663% 0.577% 17.656% 0.308% 18.858% 0.506% 0. Meat Bussines Centre (Pusat Perdagangan Daging Terpadu).612% 0.790% 0.140% 9 10 11 12 13 14 15 16 0. — Peningkatan pasca panen dan pengolahan hasil. — Pengembangan agribisnis.725% 0.184% 1.880% 0. — Pengembangan sistem dan kemampuan manajemen usaha.767% 0. kecil dan menengah.740% 0.679% 0.110% 0.662% 0.651% 0.881% 0.703% 0. Kebijakan Peningkatan Potensi Perekonomian Daerah dan Penanggulangan Kemiskinan 1 2 3 4 5 6 7 8 — Pengamanan ketersedian pangan. sentra konveksi.633% 0. — Pengembangan industri manufaktur.953% 0. — Diversifikasi pangan.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 10 — Bantuan dan jaminan kesejahteraan sosial.491% 0. usaha mikro.635% 0.538% 15.585% 0. 0.737% 1.016% 11.724% 0. — Peningkatan sarana dan prasarana perdagangan. — Revitalisasi pertanian.823% 0.182% 0.953% 0.896% 0.040% 0.683% 0.508% 0.726% 0.155% 0.439% 0.806% 0.537% 0.085% 0. — Peningkatan distribusi pingan.697% 0. sentra agribisnis.

155% 0.287% 2. 1. — Penataan administrasi kependudukan.013% 0.331% 0.437% 0. — Pengendalian urbanisasi.098% — Keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.234% 0.923% 0.337% 0.191% 1.912% 0.610% 0.191% 0. — Perlindungan dan pengembangan ketenagakerjaan.477% 0.282% 1.307% 0.293% 0.203% 0. — Peneningkatan partisipasi angkatan kerja.217% 0.166% 0. Kebijakan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 1 2 3 4 5 6 — Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja.354% 0.280% 0.268% 0. Kebijakan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dan Peningkatan kualitas Keluarga 1 2 3 4 5 1. — Penyelesaian masalah-masalah ketenagakerjaan. — Peningkatan pelayanan kependudukan dan transmigrasi.227% 0.374% 0. terutama permodalan.325% 0.949% 1.915% 1. 0.372% 0. — Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.731% 0.113% 0.530% 0.351% 0.250% 0. — Peningkatan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 17 — Pengembangan akses terhadap sumber daya produktif.098% 0.188% 0.731% 1.258% 1.409% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-51 .549% 0.484% 0.213% 0.245% 0.282% 0.179% 0. — Peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga.197% 0.355% 0.291% 0.633% 0.675% 0.586% 0.241% 0.113% 1.105% 0.368% 0.323% 0.258% 0.324% 0.316% 0.313% 0.253% 0.287% 0.293% 0.401% 0. — Pemantapan hubungan industrial.313% 4.217% 0. 0.216% 0.528% 0.923% 2.999% 18 19 3.383% 0.854% 0. — Pengembangan keparawisataan.188% 0.292% 0.166% 1.341% 0.436% 0.393% 0.824% 0.036% 1.

— Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.312% 0.871% 3.142% 2.133% 0.306% 0.158% 0.622% 0.692% 8.702% 0.135% 0.175% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-52 . 0.412% 2.107% 1.163% 1. Kebijakan Meningkatkan daya Dukung dan Kualitas Lingkungan 1 2 3 4 5 — Peningkatan rehabilitasi lahan kritis dan konservasi alam.618% 0. 3. — Peningkatan kesadaran dan wawasan lingkungan. — Pengelolaan dan pendayagunaan sampah.369% 2.820% 0.282% 0. 1.666% 0.752% 0.392% 1. Memelihara Keseimbangan Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan.676% 0.749% 0. — Pengawasan dan pengendalian aktivitas pembangunan.133% 0.893% 0.924% 2.923% 7.294% 0.923% 0.687% 0.632% 0.128% 6. — Peningkatan peran serta masyarakat dan lembaga kemasyarakatan dalam usaha pelestarian lingkungan.564% 5.597% 2.329% 0. — Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.033% 1.305% 0.133% 0.339% 5. — Pengelolaan dan pendayagunaan limbah.819% 0.093% 1.691% 0. Kebijakan Percepatan Pembangunan Yang berkelanjutan 1 1.192% 5.307% 0.144% 1.754% 6 7 8 0.622% 0.307% 0.787% 1.766% 2.807% 0. Kebijakan Menyerasikan Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang Dalam Sistem Tata Ruang Yang Terpadu 1 2 3 — Pengembangan perencanaan tata ruang wilayah.632% 2.364% 0.750% 0.755% 2.145% 0.143% 0. 1.740% 0.380% 2.754% 0.098% 0.113% 2.334% 0.587% 1.113% — Pengembangan kawasan andalan dan kota mandiri.691% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 7.160% 2.769% 6.133% 0.688% 0. — Penegakan hukum lingkungan.731% 0.680% 2.142% 1.619% 0.737% 0. — Pengembangan manajemen pertanahan.

146% 0.250% 7.159% 0.179% 0.100% 0. — Pemantapan pemerintah sebagai fasilitator dan mediator penyelesaian masalah sosial 6.098% 0.833% 0.084% 0.625% 0.087% 0.769% 0.141% 0.909% 0.164% 0.100% 0.183% 0.131% 0.146% 0. — Pengembangan sentra tekstil.100% 0.108% 0.134% 0.102% 0.095% 0. — Pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air.333% 9.121% 0. — Pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja dan GedebageMajalaya.154% 0.097% 0.882% 1.097% 0. — Pengembangan utilitas umum (pasar dan terminal).127% 0.157% 0.150% 4 0. — Pengembangan dan pengelolaan pertambangan dan energi.182% 0.108% 0.133% 0.692% 8.159% 0.155% 0.105% 0.112% 0.091% 0. — Penataan iklim investasi yang kondusif.137% 0. dan antara masyarakat dengan pemerintah.084% 0.157% 2 3 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 2 3 — Pengembangan Jaringan prasarana dasar wilayah.146% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-53 .588% 0.171% 0.103% 0.110% 0. — Pengembangan sentra konveksi.177% 0. Tenteram dan Dinamis.139% 0.095% 0.163% 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pemeliharaan karakter dan kearifan lokal Misi 2.168% 0. — Pengembangan daerah ibu kota Soreang.180% 0.152% 0.105% 0.148% 0.091% 0.131% 0. — Pembinaan kesatuan dan persatuan masyarakat. Memelihara Stabilitas Kehidupan Masyarakat yang Aman.148% 0.103% 0.109% 0. Tertib.097% 0.089% 0. — Peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap kemungkinan ancaman gangguan Kamtibmas.142% 0.151% 0.124% 0. — Pengembangan sentra agribisnis.164% 0.168% 0.199% 0.113% 0.095% 0.169% 0.165% 0.162% 0. 0.131% 0.146% 0.150% 0.185% 0.106% 0. 5.094% 0.135% 0.097% 0. Kebijakan Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Instabilitas Kehidupan Masyarakat — Peningkatan rasa saling percaya antar komponen masyarakat.144% 0. — Pengembangan dan penataan pusat-pusat pertumbuhan.

113% 0.111% 5 6 7 8 3.095% 0.147% 0.099% 0.073% 0.103% 0.769% 0. — Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara.076% 0.833% 0.117% 0.090% 0.909% — Peningkatan pendidikan politik masyarakat. — Perlindungan Hak Azasi Manusia di daerah.129% 0.101% 0.117% 0.069% 0.188% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-54 . — Pemberdayaan aparatur dalam penegakan hukum.153% 0. 0.085% 0.136% 0. — Sosialisasi.102% 0.107% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung kemasyarakatan.077% 0.909% 0. — Pengembangan sistem jaringan informasi dan dokumentasi hukum.159% 0.105% 0.107% 0.093% 0. 0.141% 0. 5 6 — Peningkatan kualitas SDM Kamtramtib. Kebijakan Penegakan Supremasi Hukum dan Perlindungan HAM 1 2 3 4 0.124% 0.110% 0.076% 0. — Penerapan hukum secara konsekwen.101% 0.129% 0.072% 0.073% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran Politik Masyarakat dan Pengembangan Tatanan Kehidupan Politik yang Dermokratis 1 2 0.094% 0.097% 0.588% 0.117% 0.165% 0.172% 0.107% 0.098% 0.625% 0. — Peningkatan kesadaran budaya tertib.099% 0.091% 0.833% 0. — Pengembangan produk hukum daerah. 0.080% 0.071% 0. — Pemantapan koordinasi antar penegak hukum.124% 0.072% 0. bantuan dan perlindungan hukum.104% 0.110% 0.625% 0.588% — Peningkatan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat.076% 0.112% 0.180% 0.769% 0.122% 0.080% 0.081% 0.076% 0.160% 2.094% 0.119% 0.111% 0.076% 0.

169% 0.769% 0.094% 0.055% 0.149% 0.066% 0.625% 0. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Keimanan dan Ketaqwaan Dalam Kehidupan Sosial 1 0. — Peningkatan pendidikan agama pada kurikulum pendidikan umum.184% 0.118% 0.108% 0.119% 0.165% 0.061% 0.769% 0.588% — Peningkatan penerapan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam aktivitas pemerintahan dan 0.625% 0.136% 0. — Peningkatan intensitas komunikasi dan kerjasama pemerintah dengan lembaga keagamaan.833% 0.064% 0.162% 0.081% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3 4 5 — Pengembangan kebebasan berpendapat dan berorganisasi.106% 0.121% 0.080% 3 4 5 6 0.055% 0.094% 0.137% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-55 . — Pengembangan TPA/TKA.115% 0. 0.085% 0.176% 0.068% 0. — Penataan pakaian dinas sesuai dengan nilai-nilai agama.152% 0.058% 0. 0.047% 0.126% 0.073% 0.057% 0.117% 0.114% 0.100% 0. — Perlindungan hak politik masyarakat.052% 0.072% 7 8 0.089% 0.180% Misi 5.081% 0.833% 0.076% 0.068% 0.091% 0.072% 0.074% 0.075% 0.078% 0.089% 0. Kebijakan Peningkatan Intensitas Pembinaan Agama dan Kehidupan Keagamaan 1 — Optimalisasi peran dan fungsi lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.085% 0.089% 9 2.116% 0.126% 0.105% 0.049% 0. — Pengembangan kegiatankegiatan keagamaan masyarakat dan aparatur pemerintah.909% 0.124% 2 0.080% 0.909% 0. 1.588% 0.084% 0.061% 0. — Peningkatan kerukunan hidup beragama.088% 0.125% 0. — Fasilitasi kegiatan politik di daerah.156% 0.068% 0.114% 0.124% 0. Mamantapkan Kesalehan Sosial Berlandaskan Iman dan Taqwa. — Peningkatan bimbingan agama bagi aparatur pemerintah dan masyarakat. — Pencegahan penyebaran agama tertentu bagi masyarakat yang telah beragama.099% 0.097% 0.

— Pengembangan manajemen potensi umat. — Peningkatan pelayanan ibadah haji. 0. — Pengembangan ekonomi syari’ah.133% 0.189% 0.151% 0.261% 0.276% 0.833% 0.141% 0.100% 0. — Peningkatan transparasi dan kejujuran berpemerintahan. Kebijakan Pengembangan Potensi Umat 1 2 3 4 5 — Peningkatan persatuan dan kesatuan umat. 0.145% 0.210% 0.154% 0.193% 0.327% 0. — Pengembangan etika sosial berbasis nilai-nilai agama.093% 0.123% 0.274% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-56 .625% 0.132% 0.122% 0.173% 0.177% 0.769% 0.105% 0.107% 0.299% 0.151% 0. — Optimalisasi zakat.141% 0. — Peningkatan manajemen pengeloalaan ZIS.108% 0.151% 0.115% 0.165% 0.138% 0.107% 0.833% 0. — Pengembangan ekonomi mulai lembaga keagamaan. 0.283% 0.165% 0.308% 0.225% 0.178% 0.139% 0.199% 0.251% 0.141% 0.165% 3.153% 0.188% 0.112% 0. — Pemberdayaan ormas keagamaan.769% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung pembangunan.145% 0.205% 0. — Pengembangan keteladanan dalam kepemimpinan.211% 0.136% 0.100% 0.132% 0.139% 0.163% 4.139% 0.588% 0.130% 0.212% 0.107% 0.149% 0.232% 0.625% 0. 2 3 4 5 6 — Peningkatan harmonisasi sosial.094% 0.099% 0.909% 0. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama 1 2 3 — Pengembangan sarana dan prasarana keagamaan. infaq dan sadaqah.144% 0.113% 0.106% 0.113% 0.113% 0.909% 0.588% 0.167% 0.

138% 0.769% 0.197% 0.588% 0. Kebijakan Pemantapan Ketahana Budaya Masyarakat 1 2 3 4 — Pengembangan adat istiadat daerah.769% 0. — Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha bagi pengembangan budaya sunda.179% 2 0.212% 0.121% 0.213% 0.261% 0.281% 0.114% 0. seperti tersedianya gedung kesenian. — Penanaman nilai budaya sunda pada anak dini usia dan generasi muda.152% 0.145% 0.176% 3 4 5 3.162% 0.240% BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-57 .165% 0. Kebijakan Pengembangan dan Pelestarian Budaya Sunda 1 — Peningkatan sarana dan prasarana seni dan budaya. — Peningkatan muatan lokal budaya sunda dalam kurikulum pendidikan.150% 0.224% 0.162% 0.833% 0.181% 0.155% 0. 0.189% 0.249% 0.625% 0.136% 0.160% 0.115% 0. Menggali dan Menumbuh kembangkan Budaya Sunda. — Pengembangan produk budaya.122% 0.164% 0.625% 0. — Peningkatan keberdayaan lembaga seni dan budaya.220% 0.769% 0.154% 0.294% 2.909% 0.625% 0.149% 0.588% — Penggalian nilai-nilai budaya sunda.177% 0.588% 0.196% 0. — Pengembangan bahasa sunda sebagai bahasa ibu daerah.150% 0.269% 0.260% 0.152% 0. Kebijakan Peningkatan Kesadaran dan Kecintaan Terhadap Budaya Sunda 1 2 0.123% 0.196% 0.205% 0.213% 0.909% 0.190% 0.308% 0.128% 0.116% 0. — Pengembangan ekonomi budaya. 0.833% 0.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Misi 6.833% 0.167% 0. 1. — Pelestarian asset budaya.164% 0.283% 0. 0.307% 3 0.232% 0.199% 0.200% 0.909% 0.202% 0.181% 0.211% 0.116% 0.203% 0. — Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan sunda.147% 0.179% 0.123% 0.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VII Program Pembangunan Daerah VII-1 .

Dalam penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) Kabupaten Bandung yang jangka waktunya selama 1 tahun. Hal tersebut disebabkan agar program-program yang direncanakan dalam Renstra-SKPD dapat terintegrasi dengan baik dengan RPJMD yang sudah dibuat. sehingga diharapkan visi dan misi pada tahun 2010 tersebut dapat tercapai dengan maksimal 2. yang merupakan : 1.1.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung BAB VIII PENUTUP 8. Untuk menjembatani kekosongan dokumen perencanaan pada masa akhir jabatan Kepala Daerah maka dibuatlah rancangan program indikatif tahun 2011. berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Tahun 2005 tentang Petunjuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Untuk detailnya rancangan program tersebut dapat dilihat pada bab VII. SKPD Kabupaten Bandung dalam menyusun Renstra-SKPD diharuskan untuk berpedoman kepada RPJMD Kabupaten Bandung. Pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra-SKPD.1 . PROGRAM TRANSISI Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010. 8. maka dalam penyusunan program ditambahkan rancangan program indikatif 1 (satu) tahun ke depan setelah periode RPJM Daerah Kabupaten Bandung berakhir. RPJMD Kabupaten Bandung ini akan digunakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Bandung.2. KAIDAH PELAKSANAAN RPJM Daerah Kabupaten Bandung ini merupakan penjabaran dari Visi dan Misi yang telah dibuat oleh Bupati terpilih tahun 2005 – 2010. dalam penyusunannya diharuskan berpedoman RPJMD Kabupaten Bandung. Hal tersebut dikarenakan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah tersebut dapat mendukung tercapainya tujuan dan sdasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bandung. BAB VIII Penutup VIII .

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung 3. RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2005 – 2010 merupakan indikator dalam proses evaluasi laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. RPJMD Kabupaten Bandung merupakan dasar evaluasi dalam laporan pelaksanaan atas kinerja lima tahunan dan tahunan. Penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung ini merupakan proses penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJMD Kabupaten Bandung hal ini dikarenakan dalam proses penyusunannya benar-benar menampung inspirasi para stakeholder yang terdapat di Kabupaten Bandung melalui MUSRENBANG Jangka Menengah yang telah diselenggarakan. sehingga semua stakeholder tersebut dalam pelaksanaannya dapat mensukseskan program yang telah disepakati. sehingga dapat meminimalisir pelaksanaan kegiatan yang menyimpang dari visi dan misi tahun 2010. BAB VIII Penutup VIII . 4. Penguatan peran para stakeholder/pelaku dalam pelaksanaan RPJM Daerah.2 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful