Anda di halaman 1dari 8

KONDISI GEOLOGI UMUM KABUPATEN GROBOGAN DAN KABUPATEN BLORA

1. FISIOGRAFI KABUPATEN GROBOGAN DAN KABUPATEN BLORA


Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan sudah sejak lama dikenal sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda. Bahkan Kabupaten Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel. Secara fisiografis Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora tersusun dari daerah morfologi dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan,dari rangkaian Zona Rembang (Pegunungan Kapur Utara). Sedang di bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan. Rangkaian pegunungan ini tersusun atas sedimen laut dalam yang terlipatkan dan tersesarkan secara intensif membentuk suatu antiklinorium. Kedua pegunungan tersebut terpisahkan oleh suatu depresi yang disebut sebagai Zona Depresi Randublatung.

LOKASI EBA UKL_UPL

Fisiografi Jawa Tengah dan Jawa Timur (Bemmelen, 1949) Randublatung zone merupakan suatu depresi yang terbentuk akibat adanya tektonik diantara Kendeng zone dan Rembang zone pada Pleistosen dengan litologi berupa lempung dan lanau. Sedangkan Rembang zone sendiri merupakan suatu antiklinorium dengan kecenderungan mengarah dari barat ke timur. Zona Kendeng pada Miosen Awal merupakan zona tektonik aktif dan dalam,Kendeng zone masuk dalam Cekungan Jawa Timur. Cekungan ini mengalami gaya ekstensi pada Paleosen dan menghasilkan banyak sesar turun sehingga terbentuk morfologi perbukitan dan morfologi dataran rendah . Pada Neosen, cekungan ini mengalami gaya kompresi sehingga terjadilah reaktivasi sesar turun menjadi sesar-sesar naik dan lipatan-lipatan yang pada akhirnya menjadi antiklinorium. Litologi atau lapisan batuan/tanah yang terdapat pada zona ini terdiri dari jenis batuan sedimen yang bersifat silisiklastik, karbonat (batugamping), batu lempung dan napal laut dalam, serta jenis sedimen asal daratan,yang berupa endapan aluvial,.

2. GEOLOGI REGIONAL
Secara umum sejarah geologi dan urutan pengendapan sedimen (tektonostratigrafi) di Kabupaten Grobogan dan kabupaten Blora yang sering disebut dengan blok Cepu dan merupakan bagian dari Cekungan Jawa Timur Utara dapat dirinci sebagai berikut : Dimulai dari fase rifting yang terjadi setelah tumbukan Kapur hingga Eosen Tengah yang membentuk half graben system berupa pola tinggian dan rendahan yang merupakan dasar dari endapan sedimen yang terbentuk. Pola tinggian dan rendahan tersebut yaitu dari utara ke selatan : Pati Stable Shelf (Bawean Arch), Pati Trough, Purwodadi High, Kening Trough, Cepu High dan Ngimbang Basin. Pada Eosen Oligosen Awal mulai diendapkan Formasi Ngimbang berupa endapan klastik batupasir dan serpih. Kemudian pada akhir Oligosen Awal Miosen Awal diendapkan Formasi Kujung Bawah dan Formasi Prupuh, terdiri dari napal dan batugamping di beberapa tempat tumbuh sebagai terumbu. Pada Miosen Awal diendapkan Formasi Tuban terdiri dari batulempung gampingan dengan sisipan napal. Sampai awal dari Miosen Tengah diendapkan Formasi Tawun terdiri dari endapan klastik halus (serpih) dan sisipan tipis batugamping orbitoid. Pada umur Miosen Tengah ini dimulai terjadi fase compressional inversion yang ditunjukkan dengan adanya pengangkatan dan perlipatan serta di beberapa tempat terjadi erosional. Mulai Miosen Tengah

Miosen Akhir diendapkan Formasi Ngrayong, Bulu dan Wonocolo terdiri dari facies klastik dan batugamping yang merupakan facies regresi dan dibeberapa tempat saling silang jari. Pada akhir kala ini di beberapa tempat tidak terjadi pengendapan (hiatus). Miosen Akhir diendapkan Formasi Ledok terdiri dari batupasir dan klastik halus, serta batugamping. Selanjutnya Pliosen diendapkan Formasi Ledok dan Mundu terdiri dari napal dan klastik halus. Di beberapa tempat Formasi Ledok diendapkan secara tidak selaras. Kemudian pada Plio Pleistosen terjadi fase compresional Wrenching / thrusting yang merupakan puncak kegiatan tektonik yang membentuk lipatan dan sesar-sesar naik di selatan (Zona Kendeng) serta teraktifkannya sesar-sesar tua yang berarah N 70 E membentuk blok-blok sesar geser yang berasosiasi dengan lipatan antiklinorium dan sesar naik / turun di Zona Rembang, bersamaan pengendapan terakhir Formasi Lidah yang terdiri dari klastik halus. Kondisi geologi di kawasan kedua kabupaten tersebut sangat dipengaruhi oleh aktifitas tektonik pada kala Miosen Awal Miosen Tengah, hal ini dapat dilihat dari kondisi perlipatan yang menyebabkan terangkatnya beberapa formasi ke permukaan dan tererosi (Miosen Tengah Pleistosen), disamping itu diinterpretasikan terjadi beberapa patahan. Aktifitas tektonik di kawasan ini menjadi sangat menarik dalam kaitannya terhadap Petroleum System, karena kritikal tektonik dan preservasi hidrokarbon nampaknya tidak hanya terjadi satu kali akan tetapi kemungkinan bisa lebih. Adapun gejala tektonik tersebut adalah pada kala Miosen Tengah Miosen Atas dan Pliosen / Pleistosen, sebagai akibat banyak dijumpai beberapa perangkap stratigrafi yang kemudian diaktifkan menjadi perangkap kombinasi.

Keadaan struktur perlipatan pada Cekungan Jawa Timur bagian Utara

Keadaan struktur perlipatan pada Cekungan Jawa Timur bagian Utara pada umumnya berarah Barat Timur, sedangkan struktur patahannya umumnya berarah Timur Laut Barat Daya dan ada beberapa sesar naik berarah Timur Barat. Zona pegunungan Rembang Madura (Northern Java Hinge Belt) dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian Utara (Northern Rembang Anticlinorium) dan bagian Selatan (Middle Rembang Anticlinorium). Bagian Utara pernah mengalami pengangkatan yang lebih kuat dibandingkan dengan di bagian selatan sehingga terjadi erosi sampai Formasi Tawun, bahkan kadang kadang sampai Kujung Bawah. Di bagian selatan dari daerah ini terletak antara lain struktur struktur Banyubang, Mojokerep dan Ngrayong. Bagian Selatan (Middle Rembang Anticlinorium) ditandai oleh dua jalur positif yang jelas berdekatan dengan Cepu. Di jalur positif sebelah Utara terdapat lapangan lapangan minyak yang penting di Jawa Timur, yaitu lapangan : Kawengan, Ledok, Nglobo Semanggi, dan termasuk juga antiklin antiklin Ngronggah, Banyuasin, Metes, Kedewaan dan Tambakromo. Di dalam jalur positif sebelah selatan terdapat antiklinal-antiklinal / struktur-struktur Gabus, Trembes, Kluweh, Kedinding Mundu, Balun, Tobo, Ngasem Dander, dan Ngimbang High. Sepanjang jalur Zona Rembang membentuk struktur perlipatan yang dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu : 1. Bagian Timur, dimana arah umum poros antiklin membujur dari Barat Laut Timur Tenggara.

2.

Bagian Barat, yang masing masing porosnya mempunyai arah Barat timur dan secara umum antiklin-antiklin tersebut menunjam baik ke arah barat ataupun ke arah timur.

3. STRATIGRAFI REGIONAL
Litostratigrafi Tersier di Cekungan Jawa Timur bagian Utara secara umum dan rincian stratigrafi Cekungan Jawa Timur bagian Utara dari Zona Rembang yang disusun oleh Harsono Pringgoprawiro (1983) terbagi menjadi 15 (lima belas) satuan yaitu Batuan Pra Tersier, Formasi Ngimbang, Formasi Kujung, Formasi Prupuh, Formasi Tuban, Formasi Tawun, Formasi Ngrayong, Formasi Bulu, Formasi Wonocolo, Formasi Ledok, Formasi Mundu, Formasi Selorejo, Formasi Paciran, Formasi Lidah dan Undak Solo. Pembahasan masing masing satuan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :

Formasi Kujung Tersusun oleh serpih dengan sisipan lempung dan secara setempat berupa batugamping baik klastik maupun terumbu. Diendapkan pada lingkungan laut dalam sampai dangkal pada kala Oligosen Akhir sampai Miosen Awal. Formasi Prupuh Tersusun dari batugamping warna abu-abu, bersifat klastik sebagian nonklastik dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal sampai dalam pada kala Miosen Awal. Formasi Tuban Tersusun oleh lapisan batulempung dengan sisipan batugamping. Semakin ke selatan berubah menjadi fasies serpih dan batulempung (Soejono, 1981, dalam PanduanFieldtrip GMB 2006). Diendapkan pada lingkungan neritik sedang-neritik dalam. Formasi Tawun Tersusun oleh serpih lanauan dengan sisipan batugamping. Pada bagian atas formasi ini didominasi oleh batupasir yang terkadang lempungan dan secara setempat terdapat batugamping. Satuan di bagian atas ini sering disebut sebagai Anggota Ngrayong. Diendapkan pada laut terbuka agak dalam sampai laut dangkal di bagian atas pada Miosen Tengah (N9-N13) (Rahardjo & Wiyono, 1993, dalam Panduan Fieldtrip GMB 2006).

Formasi Ngrayong Harsono (1983), mendeskripsi Ngrayong sebagai anggota formasi Tawun, terdiri dariorbitoid limestone dan shale dalam bagian bawah dan batupasir dengan intercalation batugamping dan lignit di bagian atas. Umur dari unit ini Miosen Tengah, pada area N9-N12. Lingkungan pengendapan dari anggota ini fluvial atau submarine dalam singkapan di sebelah utara (Jatirogo, Tawun) dan menjadi lingkungan laut pada bagian selatan. Di dekat Ngampel sekuen pasir endapan laut yang mendangkal ke atas darishore face ke pantai akan terlihat anggota ini mungkin berhubungan dengan haitus di atas area mulut laut jawa. Anggota ini merupakan reservoar utama dari lapangan minyak Cepu, tetapi terlihat adanya shale yang hadir di bagian selatan dan timur dari lapangan ini. Ketebalan dari unit ini bervarian (lebih dari 300 m). Formasi Bulu Semula formasi ini disebut sebagai PlatenComplex oleh Trooster (1937). Tersusun oleh batugamping pasiran yang keras, berlapis baik, berwarna putih abu-abu, dengan sisipan napal pasiran. Kondisi litologi dan kandungan fosilnya menunjukkan bahwa Formasi ini diendapkan pada laut dangkal, terbuka pada Kala Miosen Tengah Awal Miosen Akhir (N 13 N 15). Formasi Wonocolo Tersusun dari napal kuning-coklat, mengandung glaukonit, terdapat sisipan kalkarenit dan batulempung. Menurut Purwati (1987, dalam Panduan Fieldtrip GMB 2006) lingkungan pengendapan formasi ini adalah neritik dalam hingga bathyal tengah pada Miosen Tengah-Miosen Atas (N14-N16). Singkapan dari Formasi Wonocolo dijumpai mulai dari daerah Sukolilo, barat daya Pati. Ketebalan dari Formasi ini sangat bervariasi. Ke arah utara formasi ini berubah fasies menjadi batugamping dari Formasi Paciran. Melimpahnya fauna plangtonik pada batuan penyusun formasi ini menunjukkan bahwa pengendapannya berlangsung pada laut yang relatif dalam, wilayah ambang luar hingga batial atas. Formasi Ledok Formasi Ledok secara umum tersusun oleh batupasir glaukonitan dengan sisipan kalkarenit yang berlapis bagus serta batulempung yang berumur Miosen Akhir (N 16N 17) Ketebalan dari Formasi Ledok ini sangat bervariasi. Pada lokasi tipenya, yaitu daerah antiklin Ledok, ketebalannya mencapai 230 m. Di daerah sungai Panowan mencapai 160 m, sedangkan di sungai Cegrok tinggal 50 m. Batupasirnya kaya akan kandungan glaukonit dengan kenampakan struktur silang siur. Di beberapa tempat batupasir tersebut terutama tersusun oleh hanya oleh test foraminifera plangtonik dengan sedikit mineral kuarsa.

Secara keseluruhan bagian bawah dari formasi ini cenderung tersusun oleh batuan yang berbutir lebih halus dari bagian atas, menunjukkan kecendrungan kondisi pengendapan laut yang semakin mendangkal (shallowing-upward sequence). Ke arah utara, seperti halnya Formasi Wonocolo, Formasi Ledok ini juga mengalami perubahan fasies menjadi batugamping dari formasi Paciran. Formasi Mundu Satuan stratigrafi ini semula disebut sebagai Mundu stage oleh Trosster (1937). Selanjutnya oleh Van Bemmelen (1949) disebut sebagai Globigerina Marls. Oleh Marks (1957) satuan ini diresmikan sebagai Formasi. Formasi ini tersusun oleh napal masif berwarna putih abu-abu, kaya akan fosil foraminifera plangtonik. Secara stratigrafis Formasi Mundu terletak tidak selaras di atas formasi ledok, penyebarannya luas, dengan ketebalan 200 m300 m di daerah antiklin Cepu area, ke arah selatan menebal menjadi sekitar 700 m. Formasi ini terbentuk antara Miosen Akhir hingga Pliosen (N 17N 21), pada lingkungan laut dalam (bathyial).

Formasi Selorejo Lokasi tipenya terletak di desa Selorejo dekat kota Cepu. Anggota Selorejo ini tersusun oleh perselingan antara batugamping keras dan lunak, kaya akan foraminifera planktonik serta mineral glaukonit. Penyebaran dari Anggota Selorejo ini tidak terlalu luas, terutama meliputi daerah sekitar Blora, sebelah utara Cepu (desa Gadu) dan di selatan Pati. Ketebalannya berkisar antara 0 hingga 100 meter. Berdasarkan kandungan foraminifera palngtonik, umur dari Anggota Selorejo adalah Pliosen ( N 21). Formasi Lidah Formasi ini terdiri atas batulempung kebiruan, napal berlapis dengan sisipan batupasir dengan lensa-lensa coquina. Dahulu Trooster (1937) menyebutnya sebagai Mergetton, yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Tambakromo dan TuriDomas. Harsono (1983) kemudian meresmikan satuan ini menjadi berstatus formasi, yaitu Formasi Lidah Formasi Paciran Satuan ini semula oleh Van Bemmelen (1949) disebut sebagai Karren Limestone. Secara umum penyusunnya terdiri atas batugamping pejal, dengan permukaan singkapan-singkapannya mengalami erosi membentuk apa yang disebut sebagai karren surface. Harsono (1983) secara resmi menggunakan nama Paciran dan menempatkannya pada status formasi, dengan lokasi tipenya berada di daerah bukit piramid di sekitar Paciran, kabupaten Tuban. Formasi ini dijumpai hanya dibagian utara dari Zona Rembang.

Urutan Stratigrafi daerah Zone Mandala Rembang (Harsono Pringgoprawiro, 1983).