Anda di halaman 1dari 9

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

CEKUNGAN BESAR KALIMANTAN


Sampai saat ini terdapat 6 cekungan besar yang berada di Kalimantan antara lain Cekungan Kutai, Barito, Tarakan, Asem-asem, Melawi, dan Ketungau. Di bawah ini akan dijelaskan berbagai karakteristik dari masing-masing cekungan besar yang berada di Kalimantan.

Cekungan Kutai
Secara fisiografis, Cekungan Kutai berbatasan di sebelah utara dengan Tinggian Mangkalihat, Zona Sesar Bengalon, dan Sangkulirang. Di sebelah selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang yang bertindak sebagai zona sumbu cekungan sejak akhir Paleogen hingga sekarang (Moss dan Chamber, 1999). Di sebelah barat berbatasan dengan Central Kalimantan Range yang dikenal sebagai Kompleks Orogenesa Kuching, berupa metasedimen kapur yang telah terangkat dan telah terdeformasi. Di bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar. Kerangka tektonik di Kalimantan bagian timur dipengaruhi oleh perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara Lempeng Pasifik, Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia, serta dipengaruhi oleh tektonik regional di asia bagian tenggara (Biantoro et al., 1992). Bentukan struktur Cekungan Kutai didominasi oleh perlipatan dan pensesaran. Secara umum, sumbu perlipatan dan pensesarannya berarah timurlaut-baratdaya dan subparalel terhadap garis pantai timur pulau Kalimantan. Di daerah ini juga terdapat tiga jenis sesar, yaitu sesar naik, sesar turun dan sesar mendatar. Adapun struktur Cekungan Kutai dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Struktur regional Kalimantan (Satyana et al., 1999) dan Cekungan Kutai (Van de weerd dan Armin, 1992)

Batuan dasar (basement) dari Cekungan Kutai diduga sebagai karakter benua dan samudera yang dikenal sebagai transisi mengambang (rafted transitional). Batuan dasar Cekungan Kutai berkaitan dengan segmen yang lebih awal pada periode waktu Kapur Akhir Paleosen (70 60 MA). Cekungan pada bagian timur dan tenggara Kalimantan dikontrol

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

oleh adanya proses pergerakan lempeng kerak samudera dari arah tenggara yang mengarah ke baratlaut Kalimantan seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Perkembangan tektonik Cekungan Kutai (Hutchison, 1996)

Dari Gambar 2 terlihat bahwa kerak samudera yang berasal dari tenggara Kalimantan mendesak massa kerak benua Schwaner ke arah baratlaut, dikarenakan massa kerak Schwaner sangat kuat maka kerak samudera mengalami patah sehingga ada yang turun ke bawah dan naik ke atas. Karena di dorong terus dari arah Irian Jaya terjadilah obduksi yang akhirnya membentuk batuan ofiolit pada pegunungan Meratus. Ketika kerak samudera mengalami tekanan dari arah tenggara sudah sampai pada titik jenuh maka kerak tersebut patah dan karena adanya arus konveksi dari bawah kerak maka terjadilah bukaan (rifting) yang kemudian terisi sedimen sehingga menyebabkan terbentuknya cekungan-cekungan yang berarah relatif utaraselatan seperti Cekungan Kutai. Kawasan daratan pesisir Delta Mahakam memiliki seri perlipatan antiklin kuat dan sinklin yang luas yang dikenal dengan nama Antiklonorium Samarinda yang merupakan hasil proses struktur pembalikan (inversi) dari cekungan Paleogen. Stratigrafi Cekungan Kutai menurut Allen dan Chamber (1998) terdiri dari dua pengelompokan utama yaitu: 1. Seri transgresi Paleogen Zona ini dimulai dari tektonik ekstensional dan rift infill saat Eosen dan diakhiri dengan ekstensional post-rift laut dalam dan karbonat platform pada kala Oligosen Akhir. 2. Seri regresi Neogen Zona ini dimulai Miosen Akhir hingga sekarang, yang menghasilkan deltaic progradation. Sedimen regresi ini terdiri dari lapisan-lapisan sedimen klastik delta hingga paralik atau laut

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

dangkal dengan progradasi dari barat ke arah timur dan banyak dijumpai lapisan batubara (lignit). Adapun stratigrafi Cekungan Kutai dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Stratigrafi Cekungan Kutai (Satyana et al., 1999)

SISTEM PETROLEUM Batuan induk utama terdiri dari Formasi Pamaluan, Pulau Balang, dan Balikpapan.Formasi Pamaluan, kandungan material organiknya cukup (1-2%), tetapi hanya terdapat di bagian utara dari Cekungan Kutai. Pada Formasi Bebulu terdapat kandungan material organik yang cukup dengan HI di atas 300. Formasi Balikpapan merupakan batuan induk yang terbaik di Cekungan Kutai karena kandungan material organiknya tinggi dengan HI lebih besar dari 400 dan matang. Formasi ini ketebalannya mencapai lebih dari 3000 m,

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

sehingga diperkirakan mampu menghasilkan hidrokarbon dalam jumlah yang cukup banyak (Hadipandoyo, et al., 2007). Batuan reservoar terdapat pada formasi Kiham Haloq, Balikpapan, dan Kampung Baru, tetapi yang produktif hanya Formasi Balikpapan dan Kampung Baru (Hadipandoyo, et al., 2007). Porositas permukaan pasir literanitik berkisar <5% - 25% dengan permeabilitas <10 mD - 200 mD. Seal yang ada pada cekungan ini berasal dari serpih dan dijumpai hampir di semua formasi yang berumur Miosen. Kelompok Balikpapan dan Formasi Kampung Baru memiliki serpih yang sangat potensial sebagai seal. Migrasi vertikal dari dapur Paleogen matang terjadi melalui jaringan sesar-sesar menuju ke reservoar yang berumur Miosen Tengah dan Atas. Migrasi lateral dari areal dapur matang oleh reservoar lapisan kemiringan ke timur menuju trap stratigrafi ataupun struktur. Jenis perangkap didominasi oleh perangkap struktur khususnya tutupan (closure) four-way yang diikat oleh sesar. Perangkap stratigrafi menjadi perangkap yang penting namun lebih sulit diidentifikasi keberadaannya bila dibandingkan dengan perangkap struktur. Kombinasi dari perangkap struktur dan stratigrafi lebih umum ditemukan pada Cekungan Kutai.

Cekungan Barito
Secara tektonik Cekungan Barito terletak pada batas bagian tenggara dari Schwanner Shield, Kalimantan Selatan. Cekungan ini dibatasi oleh Tinggian Meratus pada bagian Timur dan pada bagian Utara terpisah dengan Cekungan Kutaioleh pelenturan berupa Sesar Adang, ke Selatan masih membuka ke Laut Jawa, dan ke Barat dibatasi oleh Paparan Sunda. Cekungan Barito merupakan cekungan asimetrik, memiliki cekungan depan (foredeep) pada bagian paling Timur dan berupa platform pada bagian Barat. Cekungan Barito mulai terbentuk pada Kapur Akhir, setelah tumbukan (collision) antara microcontinent Paternoster dan Baratdaya Kalimantan (Metcalfe, 1996; Satyana, 1996). Pada Tersier Awal terjadi deformasi ekstensional sebagai dampak dari tektonik konvergen, dan menghasilkan pola rifting Baratlaut Tenggara. Rifting ini kemudian menjadi tempat pengendapan sedimen lacustrine dan kipas aluvial (alluvial fan) dari Formasi Tanjung bagian bawah yang berasal dari wilayah horst dan mengisi bagian graben, kemudian diikuti oleh pengendapan Formasi Tanjung bagian atas dalam hubungan transgresi. Pada Awal Oligosen terjadi proses pengangkatan yang diikuti oleh pengendapan Formasi Berai bagian Bawah yang menutupi Formasi Tanjung bagian atas secara selaras dalam hubungan regresi. Pada Miosen Awal dikuti oleh pengendapan satuan batugamping masif Formasi Berai. Selama Miosen tengah terjadi proses pengangkatan kompleks Meratus yang mengakibatkan terjadinya siklus regresi bersamaan dengan diendapkannya Formasi Warukin bagian bawah, dan pada beberapa tempat menunjukkan adanya gejala ketidakselarasan lokal (hiatus) antara Formasi Warukin bagian atas dan Formasi Warukin bagian bawah. Pengangkatan ini berlanjut hingga Akhir Miosen Tengah yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya ketidakselarasan regional antara Formasi Warukin atas dengan Formasi Dahor yang berumur Miosen Atas pliosen.

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

Tektonik terakhir terjadi pada kala Plio-Pliestosen, seluruh wilayah terangkat, terlipat, dan terpatahkan. Sumbu struktur sejajar dengan Tinggian Meratus. Sesar-sesar naik terbentuk dengan kemiringan ke arah Timur, mematahkan batuan-batuan tersier, terutama daerahdaerah Tinggian Meratus. Stratigrafi Urutan stratigrafi Cekungan Barito dari tua ke muda adalah : Formasi Tanjung (Eosen Oligosen Awal)

Formasi ini disusun oleh batupasir, konglomerat, batulempung, batubara, dan basalt. Formasi ini diendapkan pada lingkungan litoral neritik. Formasi Berai (Oligosen Akhir Miosen Awal)

Formasi Berai disusun oleh batugamping berselingan dengan batulempung / serpih di bagian bawah, di bagian tengah terdiri dari batugamping masif dan pada bagian atas kembali berulang menjadi perselingan batugamping, serpih, dan batupasir. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan lagoon-neritik tengah dan menutupi secara selaras Formasi Tanjung yang terletak di bagian bawahnya. Kedua Formasi Berai, dan Tanjung memiliki ketebalan 1100 m pada dekat Tanjung. Formasi Warukin (Miosen Bawah Miosen Tengah)

Formasi Warukin diendapkan di atas Formasi Berai dan ditutupi secara tidak selaras oleh Formasi Dahor. Sebagian besar sudah tersingkap, terutama sepanjang bagian barat Tinggian Meratus, malahan di daerah Tanjung dan Kambitin telah tererosi. Hanya di sebelah selatan Tanjung yang masih dibawah permukaan. Formasi ini terbagi atas dua anggota, yaitu Warukin bagian bawah (anggota klastik), dan Warukin bagian atas (anggota batubara). Kedua anggota tersebut dibedakan berdasarkan susunan litologinya. Warukin bagian bawah (anggota klastik) berupa perselingan antara napal atau lempung gampingan dengan sisipan tipis batupasir, dan batugamping tipis di bagian bawah, sedangkan dibagian atas merupakan selang-seling batupasir, lempung, dan batubara. Batubaranya mempunyai ketebalan tidak lebih dari 5 m., sedangkan batupasir bias mencapai ketebalan lebih dari 30 m. Warukin bagian atas (anggota batubara) dengan ketebalan maksimum 500 meter, berupa perselingan batupasir, dan batulempung dengan sisipan batubara. Tebal lapisan batubara mencapai lebih dari 40 m., sedangkan batupasir tidak begitu tebal, biasanya mengandung air tawar. Formasi Warukin diendapkan pada lingkungan neritik dalam (innerneritik) deltaik dan menunjukkan fasa regresi. Formasi Dahor (Miosen Atas Pliosen)

Formasi ini terdiri atas perselingan antara batupasir, batubara, konglomerat, dan serpih yang diendapkan dalam lingkungan litoral supra litoral.

Cekungan Tarakan
Secara fisiografis Cekungan Tarakan dibagian barat dibatasi oleh lapisan sedimen Pra Tersier Tinggian Kuching dan dipisahkan dari Cekungan Kutai oleh kelurusan timur barat Tinggian Mangkalihat. Cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

kearah timur ke arah Selat Makassar/Laut Sulawesi yang meluas ke utara Sabah dan berhenti pada zona subduksi di Tinggian Samporna dan merupakan cekungan paling utara di Kalimantan, sedangkan batas selatannya adalah Pegunungan Suikerbrood dan tinggian Mangkalihat. Lingkungan pengendapan Cekungan Tarakan dimulai dari proses pengangkatan (transgresi) yang diperkirakan terjadi pada kala Eosen sampai dengan Miosen awal bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada tinggian Kuching dari barat ke timur. Pada kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan Tarakan, yang dilanjutkan dengan terjadi pengendapan progradasi ke arah timur dan membentuk endapan delta yang menutupi endapan prodelta dan batial. Cekungan Tarakan mengalami proses penurunan secara lebih aktif lagi pada kala Miosen sampai Pliosen. Proses sedimentasi delta yang tebal dengan pusat cekungan (deposentres) dan relatif bergerak ke arah timur terus berlanjut searah selaras dengan waktu (Mobil Oil Exploration, Lati Feasibility Study,1989 ). Ditinjau dari fasies dan lingkungan pengendapannya, Cekungan Tarakan terbagi menjadi empat Sub Cekungan yaitu : 1. Sub Cekungan Tidung Sub Cekungan ini terletak paling utara, meluas ke Sabah dan berkembang pada kala Eosen Akhir sampai Miosen Tengah. Dipisahkan dari anak Cekungan Berau disebelah selatannya oleh Punggungan Latong. 2. Sub Cekungan Tarakan Sub Cekungan ini berkembang terutama pada daerah lepas pantai dan terisi oleh sekuen tebal sedimen darat Akhir Miosen yang tidak selaras dengan lapisan dan struktur sebelumnya 3. Sub Cekungan Muara Sub Cekungan ini terletak di lepas pantai Tinggian Mangkalihat. Terutama mengandung terumbu dan sedimen karbonat. 4. Sub Cekungan Berau Sub Cekungan Berau terletak dibagian paling selatan Cekungan Tarakan yang berkembang dari Eosen sampai Miosen dan mempunyai sejarah pengendapan yang sama dengan Sub Cekungan Tidung.

Cekungan Melawi
Geologi daerah Cekungan Melawi tersusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan sebagian batuan terobosan yang mengintrusi semua formasi sedimen Tersier. Batuan terobosan terdapat di bagian Baratlaut daerah penyelidikan dengan kenampakan morfologi yang kontras berupa bukit-bukit terjal diantara perbukitan rendah bergelombang yang dibentuk oleh batuan sedimen Tersier Cekungan Melawi. Kegiatan pemetaan geologi permukaan dan pencarian singkapan batuan-batuan khususnya oil shale mengikuti arah dan kemiringan singkapan-singkapan yang ada. Kegiatan dilakukan dengan menyusuri S. Kayan dan S. Ingar maupun melalui jalan darat terutama pada kupasan-kupasan jalan perkebunan

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

kelapa sawit. Semua kedudukan lapisan diukur dan diplot pada peta dasar geologi skala 1 : 50.000. Morfologi Secara fisiografi daerah penyelidikan termasuk bagian dari Dataran Rendah Melawi. Bentuk bentang alamnya secara umum memperlihatkan satuan morfologi perbukitan rendah bergelombang yang mempunyai elevasi sekitar 100 - 250 m di atas muka laut (Foto 1). Kenampakan reliefnya mencerminkan litologi yang tersusun oleh perselingan antara batuan keras dan lunak atau relatif lebih resisten dan kurang resisten terhadap erosi seperti batupasir dengan batulempung atau serpih. Satuan ini ditempati oleh batuan sedimen Fm. Ingar, Fm. Payak dan Fm. Tebidah. Pola aliran sungai menunjukkan stadium tua berupa sungai-sungai bermeander, seperti ditunjukkan oleh aliran S. Kayan dan S. Ingar. Satuan morfologi perbukitan sedang memberikan kenampakan relief yang dapat dibedakan dari satuan morfologi perbukitan rendah bergelombang. Satuan ini membentuk bukit-bukit terjal yang letaknya terpencar di bagian Baratlaut daerah penyelidikan dan tersusun oleh batuan terobosan Sintang dengan elevasi antara 200 - 550 m di atas permukaan laut. Stratigrafi Stratigrafi daerah penyelidikan merupakan bagian dari Cekungan Melawi. Batuan penyusunnya terdiri dari runtunan batuan sedimen Tersier yaitu Fm. Ingar, Fm. Payak, Fm. Tebidah dan Batuan Terobosan Sintang yang berumur Eosen hingga Miosen. Peta geologi serta lokasi singkapan-singkapan batuan dan stratigrafi daerah penyelidikan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4. Formasi Ingar (Tei) tersusun oleh perselingan batulumpur karbonatan, batulanau, batupasir fragmen gunungapi. Formasi ini berumur Eosen Atas dan diendapkan di lingkungan delta hingga estuarin. Formasi Payak (Teop) terdiri dari batupasir bersisipan batulumpur dan batulanau, konglomerat alas dan lapisan tipis batubara. Satuan ini terletak tak selaras di atas Fm. Ingar, umurnya adalah Eosen Atas - Oligosen Bawah dan diendapkan di lingkungan fluviatil. Formasi Tebidah (Tot) terdiri dari perselingan antara batupasir dan batulanau pasiran, dan batulumpur bersisipan batubara. Satuan ini terletak selaras di atas Fm. Payak, berumur Oligosen Atas dan diendapkan pada lingkungan estuarin dan dataran banjir. Batuan Terobosan Sintang (Toms) terdiri atas andesit, granodiorit, dasit, granit, riolit, dan diorit kuarsa. Batuan ini menerobos hampir semua batuan yang lebih tua, umurnya diperkirakan Oligosen Miosen. Endapan aluvial (Qa) berumur Kuarter menutup tak selaras seluruh batuan di bawahnya, terdiri dari material rombakan kerikil, pasir, lempung, bahan tetumbuhan dan emas.

Cekungan Ketungau
Cekungan Ketungau yang berada di wilayah bagian utara propinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia mempunyai fungsi yang strategis dalam pengelolaan potensi sumberdaya geologi. Berdasarkan pemetaan Gaya Berat yang telah dilakukan oleh

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

Pusat Survei Geologi, cekungan ini membentang berarah barat-timur mengikuti batas wilayah antara Indonesia dan Malyasia. Sebagai cekungan yang mempunyai nilai strategis baik secara politik dan ekonomi, maka penyusunan data-data geologi dan geofisika dalam sebuah kompilasi di daerah cekungan ini merupakan hal yang sang diperlukan sebagai landasan awal dalam pemanfaatan sumberdaya geologi yang efektif dan efisien. Struktur geologi yang menonjol di Cekungan Ketungau adalah struktur sinklin yang menyebabkan perangkap struktur hidrokarbon di daerah ini kemungkinan kurang efektif. Namun keragaman distribusi lateral dari tiap fasies memberikan peluang bagi terbentuknya perangkap perangkap stratigrafi di daerah ini. Studi detil dari sebaran stratigrafi akan menghasilkan pola sebaran perangkap hidrokarbon di Cekungan Ketungau. Periode deformasi di cekungan Ketungau terdiri dari lima (5) periode deformasi yang mempunyai arah dan jenis struktur geologi tertentu yang terbentuk pada setiap periode deformasi. Kelima periode deformasi tersebut adalah:

Periode deformasi regional I (DI) terjadi pada Jura, dengan arah tegasan utama (1) yaitu N225E N045E. Pada periode ini, terjadi proses subduksi antara Pre-Cretaceous West Kalimantan Basement dan Oceanic Crust dibawahnya dan dilanjutkan tumbukan antara West Serawak Block dan Pre-Cretaceous West Kalimantan Basement, yang menyebabkan Komplek Semitau terangkat. Pada peroide ini pula, Formasi Selangkai pertama kali diendapkan dan intrusi granit dipegunungan Schwanner terjadi. Periode deformasi ini dimulai ketika Formasi Selangkai telah diendapkan, atau pada Kapur-Eosen, dengan arah tegasan utama (1) yaitu N092E N272E. Cekungan Ketungau dan Melawi terbentuk pada periode deformasi ini dengan adanya sesar-sesar yang berarah relatif barat-timur dengan pergerakan normal yang membentuk grabengraben sebagai bakal cekungan Ketungau dan Melawi. Periode ini dimulai setelah cekungan-cekungan graben mulai terisi oleh material sedimen dan kemudian diendapkan batuan-batuan sedimen di dalamnya seperti Kelompok Mandai, Formasi Haloq, Formasi Ingar, Formasi Dangkan dan Formasi Silat yang diperkirakan berumur Eosen Atas. Berdasarkan perkiraan umur Formasi-Formasi tersebut, maka periode deformasi regional ini diperkirakan berumur Oligosen-Miosen, dengan arah tegasan utama N297E N117E. Periode deformasi ini diperkirakan terjadi pada kala Pliosen, dengan arah tegasan utama (1) yaitu N145E N325E. Sesar-sesar yang terbentuk pada periode deformasi ini adalah sesar-sesar yang terbentuk pada periode deformasi I (D I) dan teraktifkan kembali pada periode deformasi IV (D IV). Periode deformasi ini diperkirakan terjadi pada kala Plistosene, dengan arah tegasan utama (1) yaitu N000E N180E. kelompok kelurusan ini adalah sesar-sesar muda minor yang memotong sesar-sesar yang lebih tua dengan arah pergerakan mendatar.

Formasi Kantu merupakan batuan Tersier yang paling tua mengisi Cekungan Ketungau. Formasi ini diendapkan pada lingkungan fluvial dan/ atau garis pantai energi menengah

I Dewa Made Raditya Margenta 12010061

sampai laut dangkal pada bagian bawahnya, sedangkan pada bagian atasnya diendapkan pada dataran limpah banjir dan "chanel". Formasi Kantu terendapakn pada Eosen Akhir. Batupasir Tutoop diendapkan secara selaras di atas Formasi Kantu diterobos oleh Terobosan Sintang; dan pada sentuh sesar dengan Komplek Semitau. Batupasir Tutoop ini berlanjut di Sarawak sebagai Batupasir dataran (Tan, 1979). Batupasir Tutoop diendapkan pada lingkungan fluvial (umumnya "chanel"), dimana pada saat tertentu kemungkinan dataran melebar ("Braided") teranyam dengan komponen volkanik yang kecil dengan arah arus purba dari timur laut. Sumber asalnya berasal dari komplek orogen ke arah utara. Batupasir Tutoop ini berumur Eosen Akhir. Formasi Ketungau diendapkan secara selaras di atas Batupasir Tutoop ditero -bos oleh Terobosan Sintang dan dinasabahkan dengan Serpih Silat di Cekungan Melawi. Fosil gastropoda dan pelecypoda banyak ditemukan di Formasi Ketungau,sedangkan fosil echinoid, foraminifera dan ostrakoda keberadaannya kurang. Formasi ini diendapkan pada lingkungan saliran fluvial dan dataran limpah banjir dengan selingan secara periodik laut dangkal. Arah arus purba dari timurlaut. Sumber asal formasi ini dari komplek orogen ke arah utara. Formasi Ketungau ini berumur Eosen Akhir. Fosil moluska yang ditemukan di Formasi Ketungau mengindikasikan lingkungan pengendapan daerah laut dangkal terbuka dengan soft substrate, berenergi arus lemah hingga sedang, sedangkan Formasi Tutoop dan Kantu tidak ditemukan adanya kandungan fosil. Tingkat diagenesis batuan sedimen di Cekungan Ketungau mengindikasikan bahwa batuan sedimen Formasi Kantu termasuk dalam tingkat diagenesis kelompok II yang setara dengan mesogenetik matang A (mature A). Proses diagenesis kelompok II terjadi pada temperatur 65C sampai 92C, dengan kedalaman 1750 sampai 2750 meter. Formasi Tutoop dan Ketungau termasuk ke dalam tingkat diagenesis awal kelompok III yang digolongkan sebagai mesogenetik awal matang B (early mature B). Proses diagenesis awal kelompok III terjadi pada temperatur 95C sampai 100C, dengan kedalaman 2750 sampai 3250 meter. Potensi yang ada di Cekungan Ketungau ini antara lain potensi batubara pada Formasi Kantu yang berada di bagian utara cekungan Ketungau yang berbatasan dengan wilayah Malaysia. Serpih dan batubara Formasi Ketungau merupakan kandidat paling ideal untuk batuan induk di Cekungan Ketungau. Potensi Hidrokarbon di Cekungan Ketungau menunjukkan bahwa batuan sedimen halus Formasi Kantu sebagian besar termasuk ke dalam kerogen tipe III yang berpotensi menghasilkan gas (gas prone) dengan tingkat kematangan lewat matang (post mature). Sedangkan batuan sedimen halus Formasi Ketungau memiliki tipe bervariasi dari kerogen tipe II dan kerogen tipe III. Kerogen tipe II merupakan tipe kerogen yang dapat menghasilkan minyak maupun gas yang memiliki tingkat kematangan belum matang (immature) hingga awal matang (early mature).