Lampiran

Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor Tanggal : 1158/Menkes/SK/XII/2008
: 15 Desember 2008

STANDAR PELAYANAN PEMERIKSAAN KESEHATAN
CALON TENAGA KERJA INDONESIA

I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Meningkatnya penawaran kerja ke luar negeri menyebabkan pemerintah
berupaya untuk meningkatkan perlindungan terhadap Calon Tenaga Kerja
Indonesia (CTKI). Salah satu diantaranya adalah pemeriksaan kesehatan di
sarana kesehatan yang hasil akhirnya dipergunakan keberangkatan CTKI ke luar negeri.
Kondisi kesehatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri
merupakan salah satu faktor penting berkaitan dengan kualitas dan
untuk menentukan

produktivitas TKI tersebut.

Apabila timbul masalah kesehatan TKI di negara

tujuan tempat bekerja, maka hal ini tidak hanya menyangkut tenaga kerjanya
atau perusahaan pengirim (pengerah tenaga kerja) yang menempatkannya
melainkan menyangkut pula profesi kedokteran serta martabat bangsa kita.
Permasalahan yang terjadi adalah pemulangan CTKI karena alasan kesehatan
antara lain Malaysia 4%, Timur Tengah 2% (Ascobat, G, HIPTEK).
Dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas CTKI yang akan bekerja di luar
negeri, maka kesehatan sejak awal fisik, mental serta keterampilannya haruslah
Untuk

dipersiapkan

proses

sebelum

pemberangkatannya.

mengetahui kondisi kesehatan CTKI haruslah terlebih dahulu melalui proses
pemeriksaan kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

program penempatan CTKI. Pemeriksaan kesehatan CTKI bertujuan untuk

menentukan keadaan kesehatan sebagai sehat (fit) atau tidak sehat (unfit)
serta sebagai baseline (data dasar) rekam medik seorang tenaga kerja.
Pada saat ini sarana kesehatan seperti Rumah Sakit, Praktek Berkelompok
Dokter Spesialis (PBDS) dan sarana kesehatan lain telah melaksanakan
pelayanan pemeriksaan kesehatan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI)
yang akan dikirim ke luar negeri.
Dalam rangka meningkatkan dan menjamin kualitas pemeriksaan kesehatan
bagi CTKI termasuk pemeriksaan fisik, jiwa, laboratorium, radiologi maka
Departemen Kesehatan c.q. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik perlu
menyusun Pedoman Pelayanan Sarana Kesehatan Pemeriksa CTKI.
Standar/persyaratan pelayanan sarana kesehatan pemeriksa CTKI disusun
dengan mengacu pada beberapa buku meliputi Pedoman Persyaratan Minimal
Pemeriksaan Fisik Pada Fasilitas Kesehatan Bagi Tenaga Kerja Indonesia,
Persyaratan Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa Tenaga Kerja
Indonesia, Panduan Mutu Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa
Tenaga Kerja Indonesia, Praktik Laboratorium Yang Benar (GLP), Standar
Pelayanan Radiologi Pada Sarana Kesehatan Bagi Tenaga Kerja Indonesia,

Standar Pemeriksaan Kesehatan Jiwa Bagi Tenaga Kerja, Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 364/Menkes/SK/III/2003 tentang Laboratorium Kesehatan,
parameter pemeriksaan yang diminta oleh negara penerima, Standar

Pelayanan Balai Laboratorium Kesehatan dan buku acuan peraturan lain.

B.
Tujuan
Pedoman Pelayanan Sarana Kesehatan Pemeriksa CTKI ini disusun dengan
tujuan sebagai berikut :
1. Tujuan Umum :
Sebagai acuan bagi sarana pelayanan kesehatan dalam menyelenggarakan
pemeriksaan kesehatan CTKI.
2. Tujuan Khusus :

a.

Diterapkannya persyaratan untuk pemeriksaan kesehatan fisik, jiwa,
laboratorium dan radiologi.

b.

Dilaksanakannya prosedur pemeriksaan kesehatan calon tenaga kerja
Indonesia.

c.

Diterapkannya standar penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan baik
administratif maupun teknis.

d. e.

Diterapkannya monitoring dan evaluasi.
Diterapkannya pencatatan dan pelaporan sesuai ketentuan.

C.
Pengertian dan Ruang Lingkup
Pengertian
1. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan seseorang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
2. Pemeriksaan Kesehatan adalah pemeriksaan dan penilaian terhadap
kesehatan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) yang akan bekerja di luar
negeri berupa pemeriksaan fisik, jiwa, laboratorium, radiologi dan
pemeriksaan penunjang lainnya di sarana kesehatan CTKI yang

disimpulkan dengan sehat untuk bekerja (fit to work) dan tidak sehat
untuk bekerja (unfit to work) oleh dokter penanggung jawab sarana
kesehatan CTKI.
3. Calon Tenaga Kerja Indonesia adalah setiap warganegara Indonesia yang
memenuhi syarat sebagai pencari kerja yang akan bekerja di luar negeri
dan terdaftar di instansi pemerintah kabupaten/kota yang

bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan.
4. Sehat untuk bekerja (fit to work) adalah keadaan sehat seorang calon
tenaga kerja berdasarkan fisik dari hasil pemeriksaan sehingga kesehatan, orang baik

terhadap

kondisi

maupun

jiwanya

tersebut

disimpulkan dapat bekerja sesuai dengan bidang pekerjaannya.
5. Tidak sehat untuk bekerja (unfit to work) adalah keadaan tidak sehat
seorang calon tenaga kerja berdasarkan dari hasil pemeriksaan

kesehatan, baik terhadap kondisi fisik maupun jiwanya sehingga orang
tersebut disimpulkan tidak dapat bekerja.

6.

Sarana

Pelayanan

Pemeriksaan

Kesehatan

CTKI

adalah yang

tempat

pelaksanaan Pedoman

pelayanan

pemeriksaan

kesehatan

memenuhi
CTKI serta

Pelayanan

Sarana

Pemeriksaan

Kesehatan

persyaratan yang ditentukan dan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
7. Persetujuan tindakan kedokteran (Informed consent) adalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat
penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau

kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.
8. Laporan Medik adalah catatan tentang kondisi kesehatan CTKI pada saat
diperiksa oleh dokter pemeriksa di sarana kesehatan yang memuat
pemeriksaan fisik, laboratorium, radiologi, jiwa dan pemeriksaan khusus.
9. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain
yang telah diberikan kepada pasien.
10. Praktek Berkelompok Dokter Spesialis yang selanjutnya disebut PBDS
adalah institusi yang telah mempunyai izin penyelenggaraan praktek
berkelompok beberapa dokter spesialis.
11. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang telah
mempunyai izin penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai dengan
klasifikasi dan jenisnya.
12. Upaya Pelayanan Pemeriksaan Uji Kesehatan (Medical Check Up) di luar
institusi RS adalah merupakan unit mandiri yang berada diluar institusi RS
dimana diselenggarakan pelayanan pemeriksa-an uji kesehatan (Medicalcheck-up)
13. Izin Operasional atau Penyelenggaraan adalah Izin yang diberikan untuk
suatu institusi pelayanan kesehatan yang telah berjalan sesuai ketentuan
persyaratan standar pelayanan

14.

Perizinan adalah pengakuan pihak pemerintah bahwa Sarana Kesehatan
telah memenuhi persyaratan yang ditentukan

15.

Dokumen adalah dokumen meliputi peraturan, kebijakan, referensi, cara
kerja, spesifikasi, tabel kalibrasi, referensi biologi, bagan/alur kerja,
prosedur, catatan, metode pengujian, gambar, spesifikasi alat, buku
referensi (pedoman, standar, text book)

16.

Pemantapan Mutu Internal (Internal Quality Control) adalah kegiatan
yang dilakukan secara mandiri untuk mengontrol kemungkinan terjadinya
kesalahan hasil pemeriksaan.

17.

Pemantapan Mutu Eksternal (External Quality assessment/ proficiency
test) adalah kegiatan yang dilakukan Departemen Kesehatan dengan cara
membandingkan hasil pemeriksaan satu pelayanan sarana kesehatan
dengan pelayanan sarana kesehatan yang lainnya dan sebagai alat
evaluasi kinerja.

18.

Koordinator terhadap

Laboratorium

adalah

orang

yang dari

bertanggung kegiatan

jawab

operasional

secara

menyeluruh jawab

pelayanan

laboratorium kesehatan.

Tanggung

meliputi

profesionalisme,

keilmuan, pembinaan, pengorganisasian, administratif dan kemampuan
mendidik.
19. Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah penyerasian antara kapasitas
petugas (jenis kelamin, umur, status kesehatan, gizi) dengan beban kerja
(tugas yang didapat, shift kerja) dan lingkungan kerja (fisik, kimia, biologi,
fisiologi/ergonomi, psikososial)
20. Sertifikat Kesehatan adalah surat keterangan sebagai bukti sehat untuk
bekerja yang disimpulkan dari hasil pemeriksaan kesehatan terhadap
CTKI dan ditandatangani oleh dokter penanggungjawab sarana

kesehatan.
21. Pembinaan adalah sikap kegiatan dan untuk menyiapkan, petugas mengembangkan
agar mempunyai

pengetahuan,

keterampilan

kompetensi untuk memenuhi persyaratan.

2. Laporan Akurat adalah laporan yang tepat waktu. 23.J FISIK & JIWA DOKTER (Nama + Foto) P. BAGAN STRUKTUR ORGANISASI SARANA KESEHATAN PEMERIKSA CTKI PENANGGUNG JAWAB SARKES DOKTER (Nama + Foto) Tata Usaha 1. Dokter Analis 1. bagan organisasi dan tata kerja yang meliputi garis kewenangan.J.RADIOLOGI SpRad (Nama + Foto) 1. ruang lingkup dan tanggung jawab dilengkapi foto masingmasing penanggung jawab. II. Kasir 4.J.PK (Nama + Foto) P. Dokter 2.22. Pengawasan adalah teknik pemantauan yang bertujuan untuk melihat adanya kesesuaian antara pelaksanaan suatu kegiatan/program dengan standar/ prosedur dan atau peraturan yang berlaku. 2. ORGANISASI DAN MANAJEMEN A.LABORATORIUM Sp. Struktur Organisasi 1. 2. Perawat 1. Sistem manajemen sarana kesehatan mencakup semua pekerjaan sesuai standar pelayanan dan prosedur kerja. Pengendalian adalah kegiatan yang terkoordinasi untuk mengarahkan pelaksanaan kegiatan agar memenuhi standar maupun persyaratan yang telah ditetapkan agar tidak terjadi kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan/ketentuan yang berlaku. Rekam Medik 3. 3. 24. Mempunyai struktur. Sarana Kesehatan yang berbadan hukum. Petugas kebersihan P. Administrasi Umum 2. lengkap dan sesuai dengan fakta yang ada dan terkini. Dokter Radiografer .

Merencanakan. Perawat Administrasi 3. pengendalian dan evaluasi kegiatan d. Apabila penanggung jawab teknis tidak berada di tempat secara terus menerus lebih dari 1 (satu) bulan tapi kurang dari 1 (satu) tahun. Tugas dan tanggung jawab Penanggung Jawab Teknis Laboratorium : a . Apabila penanggung jawab teknis tidak berada di tempat secara terus menerus lebih dari 1 (satu) tahun. melaksanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu f. Tugas Pokok Dan Fungsi Uraian tugas pokok dan fungsi dari semua ketenagaan di sarana kesehatan dibuat dalam bentuk Surat Keputusan dan ditandatangani oleh Penanggung Jawab Sarkes. Administrasi 3. 3. Melaksanakan laboratorium e . . 1. maka laboratorium yang bersangkutan harus mengganti penanggung jawab teknisnya dengan penanggung jawab teknis baru. 4. g.3. Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis laboratorium b. 4. Memberikan pendapat terhadap hasil pemeriksaan laboratorium Memberikan konsultasi atas dasar hasil pemeriksaan laboratorium Ketentuan untuk penanggung jawab teknis : 1. Uraian tugas dan fungsi dijelaskan di bawah ini. Memimpin pelaksanaan kegiatan laboratorium pengawasan. 2. Menentukan pola dan tata kerja c. Administrasi Petugas Kmr gelap B. maka laboratorium bersangkutan harus memiliki penanggung jawab sementara yang memenuhi persyaratan dan melaporkan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/ kota setempat. Penanggung jawab teknis hanya diperbolehkan menjadi penanggung jawab pada 1 (satu) laboratorium saja.

Pertolongan pertama terhadap pasien yang memerlukan kesehatan dan keselamatan laboratorium termasuk pencegahan pencemaran lingkungan melakukan konsultasi dengan penanggung jawab teknis atau rekan sekerja di bidang teknis kelaboratoriuman . Tugas dan tanggungjawab tenaga teknis Laboratorium a . Tenaga analis kesehatan dan tenaga teknis yang setingkat melaksanakan : kegiatan teknis sesuai pola dan tata kerja yang ditetapkan kegiatan pemantapan mutu kegiatan pencatatan dan pelaporan kesehatan dan keselamatan laboratorium termasuk pencegahan pencemaran lingkungan melakukan konsultasi dengan penanggung jawab teknis atau rekan sekerja di bidang teknis kelaboratoriuman c. Perawat kesehatan melaksanakan : Tindakan untuk pengambilan spesimen laboratorium.2. Tenaga sarjana pada laboratorium melaksanakan : supervisi terhadap tenaga analis kesehatan dan tenaga teknis lainnya mengkoordinir pemantapan mutu mengkoordinir kegiatan pencatatan dan pelaporan membimbing tenaga analis kesehatan dan tenaga teknis lainnya kegiatan teknis sesuai dengan pola dan tata kerja yang ditetapkan kesehatan dan keselamatan laboratorium termasuk pencegahan pencemaran lingkungan melakukan konsultasi dengan penanggung jawab teknis atau rekan sekerja di bidang teknis kelaboratoriuman b.

obat-obatan dan peralatan untuk kemampuan diri sesuai perkembangan IPTEK pemeriksaan dan pembuatan foto radiologi Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan Mengoperasionalkan peralatan radiologi sesuai SOP.3. Khusus untuk pemeriksaan dengan kontras dan fluoroskopi pemeriksaan dikerjakan bersama dokter spesialis radiologi. Melakukan kegiatan processing film di kamar gelap Melakukan penjaminan mutu terhadap hasil pencucian/pencetakan film . Dokter Spesialis Radiologi Menyusun dan mengevaluasi secara berkala SOP tindak medik radiodiagnostik.imejing serta melakukan revisi bila perlu Melaksanakan dan mengevaluasi tindak radiodiagnostik-imejing sesuai yang telah ditetapkan dalam SOP Melakukan radiologi Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan dilaksanakan Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap pasien Menjamin bahwa paparan pasien serendah mungkin untuk ekspertise/pembacaan terhadap hasil pemeriksaan mendapatkan citra radiografi yang seoptimal mungkin dengan mempertimbangkan tingkat panduan paparan medik Mengevaluasi kecelakaan radiasi dari sudut pandang klinis Meningkatkan Radiologi b. Radiografer Mempersiapkan pasien. Tugas pokok tenaga bidang radiologi a .

- Memberikan proteksi terhadap pasien. Tenaga Teknik Elektromedik Melakukan perawatan peralatan Radiologi diagnostik. keamanan radiasi dan kendali mutu Melakukan perhitungan dosis. terutama untuk menentukan dosis janis pada wanita hamil Jaminan bahwa spesifikasi peralatan radiologi diagnostik sesuai dengan keselamatan radiasi ”Acceptance test” dari unit yang baru Supervisi perawatan berkala peralatan radiologi diagnostik Berpartisipasi keberadaan dalam sumber meninjau daya ulang secara terus menerus dan manusia. meliputi pelaksanaan diagnosa dan terapi. peralatan. dirinya sendiri dan masyarakat di sekitar ruang pesawat sinar-X Menerapkan teknik dan prosedur yang tepat untuk meminimalkan paparan yang diterima pasien sesuai kebutuhan c. Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi Tenaga Fisika Medik/Fisikawan Medis Pengukuran dan analisa data radiasi dan menyusun tabel data radiasi untuk penggunaan klinik Pelaksanaan aspek teknis dan perencanaan radiasi Pengadaan prosedur QA dalam radiologi diagnostik. bekerjasama dengan Fisikawan Medis Melakukan perbaikan ringan Turut serta dengan supplier pada tiap pemasangan alat baru atau perbaikan besar e . Tenaga PPR Radiodiagnostik . prosedur perlengkapan proteksi radiasi Berpartisipasi dalam investigasi dan evaluasi kecelakaan radiasi Meningkatkan kemampuan sesuai perkembangan IPTEK d.

serta tindakan proteksi radiasi - Memberikan penjelasan dan menyediakan perlengkapan proteksi radiasi yang memadai kepada para pengunjung atau tamu apabila diperlukan f.- Memberikan instruksi teknis dan administratif secara lisan atau tulisan kepada pekerja radiasi tentang keselamatan kerja radiasi yang baik - Mengambil tindakan untuk menjamin agar tingkat penyinaran serendah mungkin - Mencegah dilakukannya perubahan terhadap segala hal yang dapat menimbulkan kecelakaan radiasi - Mencegah masuknya orang yang tidak berkepentingan ke dalam daerah pengendalian - Menyelenggarakan proteksi radiasi dokumentasi yang berhubungan dengan - Menyarankan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja radiasi apabila diperlukan dan melaksanakan pemonitoran radiasi. Tenaga Perawat Mempersiapkan pasien dan peralatan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan radiologi Membersihkan dan melakukan sterilisasi alat Bertanggung jawab atas keutuhan dan kelengkapan peralatan g. Tenaga administrasi Melakukan pencatatan dan pelaporan semua kegiatan pemeriksaan yang dilakukan di institusi pelayanan . Tenaga Kamar Gelap Menyiapkan kaset dan film Melakukan pemrosesan film Mengganti cairan proscessing (cairan developer dan fixer) Bertanggung jawab terhadap kebersihan ruang kamar gelap h.

dimengerti dan diterapkan oleh semua tenaga yang terkait serta tersedia di sarana kesehatan. D. Dokumentasi panduan mutu disosialisasikan. 5. jumlah keseluruhan halaman atau tanda akhir dokumen serta disahkan oleh penanggung jawab sarana kesehatan. 8. Pelayanan Sarana Kesehatan Pemeriksa CTKI harus sesuai dengan standar. dilaksanakan dan didokumentasikan. Penanggung jawab pemeriksaan fisik dan jiwa berpendidikan dokter. 2. Dokumen penerapan sistem manajemen mutu mencakup tanggal penerbitan. 6. Penanggung jawab Sarkes berpendidikan dokter yang mempunyai izin praktik yang masih berlaku di sarana kesehatan tersebut. Sarana kesehatan membuat kerjasama secara tertulis dengan sarana kesehatan lain yang lebih mampu untuk melakukan sistem rujukan E. 2. Mempunyai kebijakan dan prosedur untuk kerahasiaan informasi. 7. penomoran halaman. Mempunyai kebijakan dan prosedur untuk menjamin mutu (quality assurance) dengan quality control dan quality assessment (standar pelayanan dan prosedur kerja) yang dilaksanakan dan didokumentasikan. radiologi berpendidikan Dokter Spesialis Radiologi. Sistem Rujukan . dilaksanakan dan didokumentasikan. Laboratorium kesehatan wajib melaksanakan Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan Pemantapan Mutu Eksternal (PME). 4. Penanggung Jawab 1. Mempunyai kebijakan dan prosedur untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja. 3. laboratorium berpendidikan Dokter Spesialis Patologi Klinik. revisi. Sistem Mutu 1. yang mempunyai izin praktik yang masih berlaku di sarana kesehatan tersebut.C.

Beban Kerja Beban Kerja terutama ditentukan berdasarkan waktu kerja yang tersedia. Pengadaan Bahan/Reagen Dan Peralatan Sarana kesehatan dalam mempersiapkan penyelenggaraan laboratorium memerlukan persyaratan sebagai berikut : 1. film dan bahan habis pakai yang diterima sesuai dengan kebutuhan dan diinventaris. Peralatan. reagen. reagen. . Sarana kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek khusus dalam sistem rujukan antara lain dalam kasus skrining narkotika psikotropika. pengeluaran bahan/reagen dan peralatan. dengan waktu kerja 7-8 jam efektif per hari. lama waktu pemeriksaan dan jumlah tenaga SDM yang tersedia. Membuat prosedur penerimaan. Sarana Kesehatan menetapkan kebijakan dan prosedur pemilihan dan pengadaan bahan/reagen dan peralatan yang digunakan di sarana kesehatan dengan memperhatikan mutu hasil pemeriksaan. penyimpanan. F. Setiap dokter melakukan pemeriksaan fisik maksimal 50 orang per hari dengan perhitungan waktu pemeriksaan fisik membutuhkan sekitar 10 menit. film dan bahan habis pakai yang dibeli telah terdaftar di Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI. 4. Perhitung beban kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. HIV-AIDS dan lain-lain mengacu pada ketentuan yang berlaku. Peralatan.Sistem rujukan dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan pemeriksaan yang dirujuk hanya untuk pemeriksaan di atas standar pelayanan kesehatan CTKI yang ditentukan dengan tujuan konfirmasi. 3. 6. 2. 5. Melakukan rekapitulasi jumlah CTKI berdasarkan negara tujuan dan parameter pemeriksaan per bulan. Dokumen pembelian barang harus berisi data spesifikasinya dan faktur pembeliannya. G.

CTKI memberikan kewenangan kepada laboratorium untuk melaksanakan pemeriksaannya d.2. Prosedur pencatatan dan pelaporan. 3 dan 4 tersebut di atas melebihi batas 50 orang/hari maka tenaga yang dibutuhkan harus ditambah secara proporsional. radiologi). laboratorium. 2. jiwa. H. 3. Untuk pemeriksaan laboratorium kesehatan dengan peralatan otomatik dilakukan oleh seorang analis kesehatan maksimal 50 orang/hari. 4. Bila pemeriksaan nomor 1. dengan waktu kerja 7-8 jam efektif per hari. Bidang radiologi perlu ditambah alat otomatik. pemeriksaan fisik. . 3. Prosedur pendaftaran : verifikasi identitas dan foto CTKI yang akan diperiksa 2. Saya memberi kewenangan kepada laboratorium untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan ini. Prosedur konseling : penjelasan dan persetujuan pemeriksaan yang akan dilakukan Penjelasan Informed consent harus mencakup hal-hal sebagai berikut: a . 4. jiwa. pemeriksaan kesehatan merupakan persyaratan untuk bekerja di luar negeri b. Alur Pelayanan Alur pelayanan pemeriksaan kesehatan dapat disusun dengan cara sebagai berikut : 1. Prosedur pemeriksaan (fisik. untuk pemeriksaan HIV dan Narkotika Psikotropika. Setiap dokter melakukan pemeriksaan jiwa maksimal 50 orang per hari dengan perhitungan waktu pemeriksaan jiwa membutuhkan sekitar 10 menit. laboratorium dan radiologi merupakan bagian dari pemeriksaan kesehatan c. Bidang laboratorium perlu ditambah alat otomatik dengan kapasitas yang lebih besar. Pemeriksaan foto toraks konvensional dilakukan oleh seorang radiografer maksimal 50 orang/hari.

ALUR PELAYANAN CALON TENAGA KERJA INDONESIA DI SARANA KESEHATAN Administrasi : Konseling : CTKI  pendaftaran  foto   VCT Informed Consent Pemeriksaan Kesehatan Fisik : Jiwa : Laboratorium :  Darah Kesadara Pikiran Perasaan Perilaku  n  Urin  Feses  Sputum Radiologi :  Toraks    Verifikasi hasil Terapi/konfirmasi merujuk ke RS Cetak dokumen/ SERTIFIKAT Unfit FIT III. Anamnesis Dokter pemeriksa kesehatan menegaskan agar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dijawab oleh calon TKI dengan jelas dan benar. Alur pemeriksaan kesehatan dibuat agar CTKI dapat mengetahui tahap-tahap pemeriksaan sehingga dapat mempersiapkan diri sesuai urutan pemeriksaan. STANDAR PEMERIKSAAN A. tertib.5. Alur pelayanan pemeriksaan kesehatan CTKI terpampang di ruang pendaftaran dan dapat jelas terbaca. Standar Pemeriksaan Fisik 1. lancar dan teratur. b. Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu . a. Prosedur penerbitan sertifikat kesehatan.

kanker dll Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan menurut perincian dalam kartu pemeriksaan. teratur atau tidak. sakit atau tidak. adapun rincian pemeriksaan meliputi : a. h. b. Berat badan Tinggi badan Denyut nadi Frekuensi pernafasan Tekanan darah Pemeriksaan mata Pemeriksaan THT Pemeriksaan Gigi dan Mulut Pemeriksaan Leher Pemeriksaan Dada Pemeriksaan Jantung Pemeriksaan Paru m. keguguran dan jumlah anak. Riwayat perawatan di rumah sakit : pernah dirawat. bagi tenaga kerja wanita perlu ditanyakan kapan mulai haid. l. hipertiroid. j. k. alasan dirawat. kapan di operasi. d. Riwayat haid. d. dimana dan berapa lama perawatan pasca operasi. g. f. dirawat atau tidak. pemeriksaan fisik diselenggarakan di tempat yang penerangannya cukup dan dalam suasana tenang serta tidak tergesa-gesa. h. dimana dan berapa lama serta mengapa berhenti dari pekerjaan tersebut. Pemeriksaan Abdomen . keluarga berencana. masalah kehamilan. e. f. Riwayat operasi : pernah operasi atau tidak.c. i. c. g. Riwayat kecelakaan : pernah mendapat kecelakaan. jenis operasi. lama dan jenis penyakit yang diderita. 2. Riwayat penyakit keluarga : Diabetes Melitus. berapa lama perawatan dan menderita cacat sementara atau tetap. e. melahirkan. Riwayat pekerjaan sebelumnya : pernah bekerja atau belum.

Pemeriksaan Urogenital Pemeriksaan Kulit dan Kelamin Pemeriksaan Ekstremitas Pemeriksaan EKG Pemeriksaan fisik dilakukan secara teliti agar hasil pemeriksaan sesuai dengan di negara tujuan yang bersangkutan. p. 2. B. Standar Pemeriksaan Jiwa / Psikiatrik Pada pemeriksaan psikiatrik yang bertujuan mendapatkan data tentang fungsi kejiwaan dapat dilakukan melalui : - Kontak verbal antara dokter dengan CTKI (anamnesis) Observasi tampakan umum dan perilaku CTKI Pengamatan interaksi antara dokter dengan CTKI Pengamatan interaksi antara CTKI dengan lingkungan Pemahaman humanistik dokter mengenai CTKI. b. Audiometri dan lain-lain sesuai permintaan negara tujuan. o. 3. q. Hal-hal yang pernah dikeluhkan (dalam setahun terakhir) atau alasan CTKI pernah berobat b. Anamnesis Dokter pemeriksa kesehatan menegaskan agar pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh CTKI dengan jelas dan benar. Adapun pertanyaan yang diajukan adalah sebagai berikut : a. Penampakan Umum (kesadaran) Sikap dan perilaku motorik . Hal-hal yang pernah dialami berkaitan dengan jiwa. Selain itu bila diperlukan dapat menggunakan Spirometri. Kesimpulan hasil pemeriksaan fisik : ada/tidak ada kelainan (bila ada kelainan agar dijelaskan). Tahapan pemeriksaan psikiatrik meliputi : 1. Pemeriksaan Psikiatrik Dokter pemeriksa melakukan pengamatan yang meliputi : a.n.

Pikiran Perasaan (afek/emosi) . d.c.

MINI (Mini Neuropsychiatric Interview) MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) Pemeriksaan penunjang psikiatrik dilakukan untuk konfirmasi. Pemeriksaan kimia klinik tidak boleh memakai reagen dry chemistry. Pemeriksaan mikrobiologi dengan menggunakan mikroskop binokuler. 4. Anti HCV dan Anti HIV minimal menggunakan peralatan Elisa lengkap (mikroplate. pemeriksan Imunologi : HbsAg. sedang pemeriksaan Narkotika Psikotropika dan Tes Kehamilan dengan cara rapid. Standar Pemeriksaan Laboratorium Kemampuan pemeriksaan laboratorium kesehatan terdiri dari jenis pemeriksaan dan metode pemeriksaan yang dilaksanakan sesuai tabel 5 di bawah ini.3. Kesimpulan hasil pemeriksaan psikiatrik : ada/tidak ada gangguan neurotik berat atau psikotik C. reader dan incubator) dan dilengkapi dengan pembacaan absorbance/cut off serta ada print out. Golongan darah. Tabel 5 Kemampuan pemeriksaan laboratorium adalah sebagai berikut : No. Pemeriksaan hematologi menggunakan hematology analyzer. Pemeriksaan Penunjang Psikiatrik Dokter pemeriksa melakukan pemeriksaan penunjang psikiatrik melalui : a. 2. pemeriksaan kimia klinik menggunakan fotometer dengan reagen kimia basah (wet-chemistry). 4. 3. Rh Hitung trombosit Hitung lekosit Hitung eritrosit Hitung jenis lekosit Kadar Hb Aglutinasi Hematology analyzer Hematology analyzer Hematology analyzer Mikroskopis Hematology analyzer Metode pemeriksaan . washer. 5. b. Jenis pemeriksaan Hematologi 1. 6. ABO.

shigella Telur cacing Kimia klinik (Wet chemistry) Makroskopis Mikroskopis Kimia/ rapid test Biakan Mikroskopis 26. 16.7. 23. Test warna enzimatik Fotometris. Albumin/Globulin Fotometris. Diazo sulfanilat (Jendrassik Grof) 29. 28. konsistensi Amuba Darah samar Salmonella. 12. bau. 25. Warna. 19. 24. 20. 22. 18. kejernihan Bilirubin Benda keton Berat jenis Darah samar Glukosa pH Protein Urobilinogen Sedimen Narkotika psikotropika Tes kehamilan T i n j a Makroskopis Carik celup Carik celup Carik celup Carik celup Carik celup Carik celup Carik celup Carik celup Mikroskopis Rapid tes Rapid tes 21. 14. Glukosa Oxidase-PAP / Hexokinase . p-nitrophenyl phosphate buffer AMP/ DEA 30. 15. 10. Asam urat Bilirubin Fotometris. Glukosa Fotometris. 17. Laju endap darah Nilai hematokrit Urinalisis Westergren Hematology analyzer 9. Bromcresol Green / Purple 27. Warna. 13. Fosfatase alkali Fotometris. 8. 11.

tuberculose M. 45. 47. 39. 44. Berthelot / Enzimatik kinetik (GLDH) 36. 42. 40. Anti-HCV Anti-HIV HBsAg HBeAg Anti HBe TPHA VDRL Widal Mikrobiologi Elisa (makro/mikro) Elisa (makro/mikro) Elisa (makro/mikro) Elisa (makro/mikro) Elisa (makro/mikro) Aglutinasi Aglutinasi Aglutinasi 42. Kolesterol Total Fotometris. IFCC tanpa PLP / Opt. 45. Jaffe dengan/tanpa deproteinisasi 32. Trigliserida Imunologi Fotometris. Ureum Fotometris. 41. leprae N. 44. Kreatinin Fotometris. Cholesterol Oxidase-PAP (CHOD-PAP) 37. 43. 33.31. 46. Test warna enzimatik 38. IFCC tanpa PLP / Opt. DGKC 3 1 2 35. DGKC 3 1 2 34. SGPT Fotometris. Filaria Jamur Malaria M. 43. gonorrhoeae Mikroskopis Mikroskopis Mikroskopis Mikroskopis Mikroskopis Mikroskopis . Biuret Fotometris. Protein total SGOT Fotometris.

Perhiasan dan asesori lain di lepas. 3. Semua pakaian bagian atas dilepas dan mengenakan pakaian khusus. Persiapan a. DGKC = = = International Federation of Clinical Chemistry Piridoksal fosfat Optimized standard method menurut Deutche Geselichalt fur Klinische Chemie D.Pemeriksaan konfirmasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan. b. e. 2. pembacaan dan pelaporan hasil pemeriksaan serta kesimpulan. Pemberian label identitas dan penanda kanan atau kiri (R atau L). Rambut di ikat di atas kepala. skema interpretasi. Jenis foto yang dibuat adalah foto toraks. Posisi a. d. Perhatikan kontra indikasi pemeriksaan sinar-x pada CTKI hamil. Proyeksi PA dan tegak lurus dengan film Central ray tertuju ke kolumna spinalis pada level bagian bawah skapula . Dinding dada dan ke dua bahu kontak dengan kaset film (posisi ke dua bahu turun) c. e. posisi. Keterangan : 1. b. Standar Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan memperhatikan hal-hal meliputi persiapan. Pengambilan foto a. d. pengambilan foto. Posisi tangan bertolak pinggang dengan siku ke depan Kepala ke depan dengan dagu di atas tepi kaset film Alat reproduksi dilindungi apron 3. CTKI berdiri dengan dada menghadap ke vertical cassette stand dan sedikit condong ke depan b. c. 2. IFCC PLP Opt. 1.

Skapula tidak superposisi dengan rongga toraks. Hasil pemeriksaan radiodiagnostik menjadi tanggung jawab dokter spesialis radiologi. b. Dinding dada : Jaringan lunak dan tulang Diafragma dan pleura Mediastinum. Foto toraks mampu mendeteksi kelainan-kelainan pada: 5.c. Centering. 4. c. f. Simetris : prosesus spinosus terletak di tengah antara clavicula. Menahan napas pada inspirasi yang dalam Skema interpretasi Tipe dan kualitas radiografi : a. identifikasi tepinya d. Penanda kanan dan kiri (R atau L) pada posisi yang benar. Semua foto dibaca oleh seorang dokter spesialis radiologi. Inspirasi cukup: iga posterior 9 atau10 tidak superposisi dengan diafragma. jantung dan hila Parenkim paru Benda asing Pembacaan dan Pelaporan Hasil Pemeriksaan a. Kondisi foto baik terlihat sampai vertebra torakal 3 dan 4. Kesimpulan : normal /ada kelainan (dijelaskan). d. collimation pada permukaan kulit arkus kosta inferior. e. Identitas terbaca dengan jelas. b. 6. .

ADMINISTRASI a. d. SUMBER DAYA A. c. Pemeriksaan Fisik dan Jiwa 1) 2) b. 2. Sumber Daya Manusia Penentuan standar sumber daya manusia sarana kesehatan berdasarkan jumlah minimal dan pendidikan/kualifikasi yang dibutuhkan. Tabel 6 No. Penanggung Jawab Sarkes Tata Usaha Keuangan Kasir 1 2 1 1 dokter SLTA/sederajat SLTA/sederajat SLTA/sederajat Pendidikan/ kualifikasi TEKNIS a. Jumlah (orang) 1.IV. b. 3) Tenaga Teknis 2 Analis kesehatan AAK/SMAK 4) c. disesuaikan dengan UU Praktik Kedokteran. Perawat Kesehatan 1 SPK/D3 Keperawatan Pemeriksaan Radiologi 1) Penanggung jawab 1 Dokter Spesialis Radiologi . Pelaksana Perawat 2 2 dokter SPK/D3 Keperawatan Pemeriksaan Laboratorium 1) 2) Koordinator Laboratorium Penanggungjawab (teknis) 1 1 Dokter/analis kesehatan Dokter Klinik tidak spesialis Bagi Patologi yang dokter daerah mempunyai SpPK.

Tata letak Unit Pelayanan mempunyai hubungan koordinasi fungsional antar unit yang efektif dan efisien. telepon). . b. (lulusan Teknik dan telah pelatihan Radiasi Proteksi 3) Tenaga kamar gelap 1 Tenaga dengan SLTA dasar atau pendidikan sederajat. d. B. Lokasi yang dapat dijangkau oleh CTKI dengan mudah. listrik. Kelancaran lalu lintas pengiriman spesimen. Tersedia infra struktur dan fasilitas penunjang (jalan. c. air. Standar Umum Sarana. Jenis dan ukuran peralatan. Jumlah karyawan. 3. keamanan dan kenyamanan kerja. Persyaratan umum yang dapat digunakan dalam penyusunan standar lahan dan bangunan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut : 1. 5. tempat parkir. 2. Memenuhi persyaratan peraturan Pemerintah Daerah (tata kota yang berlaku). pasien. Faktor keselamatan.2) Radiografer 2 Radiografer Akademi Radiodiagnostik Radioterapi) mengikuti Petugas (PPR). Jenis kegiatan dan beban kerja. Prasarana Dan Peralatan Penentuan standar kebutuhan ruangan Sarana Kesehatan didasarkan atas jumlah dan jenis kegiatan masing-masing bidang pemeriksaan serta sarana penunjang lainnya. e. pengunjung dan karyawan. 4. Tata ruang dan luas bangunan didasarkan pada : a.

permukaan rata. menggunakan cat yang tidak luntur. tidak bereaksi dengan bahan kimia. warna terang. Khusus ruangan teknis seluruh dinding menggunakan cat yang tahan air. Komponen Bangunan a. mudah dibersihkan. tinggi plafon minimal 2. warna terang. Lantai : 1) Terbuat dari bahan yang kuat. Atap menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat. Tata Ruang Hal-hal penting dalam menata ruang adalah : a. tidak luntur. dapat mencegah masuknya serangga. Dinding : tembok permanen. 2) Bagian yang selalu kontak dengan air dibuat dengan kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah. mudah dibersihkan dan tidak bereaksi dengan bahan kimia. keramik setinggi 1. keamanan. tidak tembus cairan serta tahan terhadap desinfektan. e. kekuatan. Pintu : terbuat dari bahan yang kuat. Ruang pemeriksaan terpisah dengan ruang administrasi . penghematan.70 m f. Meja Laboratorium terbuat dari bahan yang kuat. b. misalnya : genteng/seng. d. permukaan rata dan tidak licin. rapat. Struktur Bangunan Persyaratan dasar keseimbangan. warna terang serta mudah dibersihkan. 7.5 m dari lantai dan nat-nya menggunakan epoxy. stabilitas.6. Plafon : terbuat dari bahan yang kuat. kedap air. 8. kegunaan. kedap air. kesehatan serta keselamatan. 3) Antara lantai dengan dinding berbentuk lengkung agar mudah dibersihkan. warna terang. c. dan binatang lainnya. Permukaan dinding harus rata agar mudah dibersihkan. kesan estetis.

k. Tersedia bak cuci tangan dengan air yang mengalir dalam setiap ruang pemeriksaan yang dekat dengan pintu keluar.b. Tersedia Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap ruangan/di setiap lantai. b. i. e. Ruang pemeriksaan radiologi 2 : 28 m : 6m 2 2 : 34 m : 12 m : 6m 2  Ruang foto  Ruang baca hasil  Ruang kamar gelap (basah dan kering)  Ruang ganti h. d. Prasarana 2 . 9. genset 10 m dan tempat parkir. Ruang tunggu Ruang administrasi Ruang pimpinan Ruang rekam medik Ruang pemeriksaan fisik dan jiwa Ruang pemeriksaan laboratorium : 50 m : 9m : 9m : 9m 2 2 2 2 : 18 m : 40 m : 6m 2 2  Ruang pengambilan spesimen  Ruang kerja teknis  Ruang administrasi g. f. c. j. Ruang makan minum karyawan WC pasien (2 buah) WC karyawan (1 buah) Gudang 2 2 : 10 m : 6m : 9m : 6m : 6m 2 2 2 2 2 : 10 m 2 Luas bangunan total : 200 m 2 Selain ruang tersebut di atas perlu disediakan kantin. c. e. Kebutuhan ruangan a. Udara dalam ruang dibuat mengalir searah dari yang bersih ke ruang yang kotor. 10. Mengikuti persyaratan K3. tempat limbah. d. tempat cuci.

Untuk karyawan 1 kloset dan 1 shower. Kebutuhan 50 L/karyawan/hari. Pencahayaan a. 4. toilet Minimal 300 Minimal 100 Warna cahaya sedang . laboratorium c. 11. koridor e. 1. 6. Listrik Genset Telepon Kamera digital TV & DVD Mesin tik Fax. Air Suhu dan kelembaban sesuai standar alat Sumber dari PDAM atau air sumur yang mengalir dengan kualitas baik. Komputer dengan printer Internet Jenis 11 KVA 5 KVA 1 (satu) 1 (satu) 1 (satu) set Sesuai kebutuhan 1 (satu) 2 (dua) unit Tersedia 1 kloset dan 1 kran air untuk CTKI. radiologi (Satuan luks) Minimal 300 Minimal 300 Minimal 300 (kecuali kamar gelap) Minimal 200 d. 8. 7. 3. administrasi f. dilengkapi dengan wastafel di ruang periksa dan laboratorium 13. 5. 2. Ventilasi dan AC 12. Lantai dan dinding bersih dan diberi Spesifikasi/Jumlah 10. Fasilitas Sanitasi (toilet dan kamar mandi) disinfektan.Tabel 7 UMUM No. 9. pemeriksaan fisik b.

JENIS FASILITAS Dinding ruangan PERSYARATAN Sesuai dengan ketentuan BATAN : .Dilapisi timah hitam (Pb) setebal 2 mm.8 gr/cm3 atau . limbah radioaktif kimia dan Sesuai standar dan aturan yang berlaku. limbah padat dan cair c. Jendela Sesuai dengan ketentuan BATAN : minimal setinggi 2 (dua) meter dari lantai ruang periksa 4. Pengelolaan limbah a .14. Safe light  sebagai pengontrol processing film b.Batu koral dengan densitas 1.Merah : untuk jenis orthocromatic X-ray film . PEMERIKSAAN RADIOLOGI Tabel 8 NO. 2. Pintu kayu termasuk kusennya Sesuai dengan ketentuan BATAN : ­ Dilapisi timah hitam tebal 2 mm ­ Pada sambungan tidak boleh ada celah 3.Beton setebal 15 cm dengan plesteran (bahan beton dari batu split dengan densitas 2. coklat : untuk film monocromatic X-ray Film .3 gr/cm3) atau . merah. Bagi sarana kesehatan yang tidak mempunyai dengan fasilitas pengelolaan instansi lain limbah. Penerangan khusus Sesuai dengan ketentuan BATAN : a .Hijau. Warna safe light : . limbah medis dan non medis b. 1. yang bekerjasama mempunyai pengelolaan limbah dengan perjanjian tertulis dan masa berlakunya dicantumkan.

identifikasi tipe. dipasang di atas pintu ruang foto dan di atas pintu kamar gelap. kedap cahaya atau bisa menggunakan exhaust fan 6.5. Kebutuhan pemeriksaan Jenis dan metode pemeriksaan Efisiensi dan efektifitas Kebutuhan penyelenggaraan pemantapan mutu Kebutuhan pelaksanaan keamanan kerja Persyaratan umum peralatan medis mempunyai syarat meliputi: 1) 2) 3) 4) Sterilisasi sederhana Penyimpanan Keamanan Pemeliharaan rutin dan kalibrasi c. Peralatan a. Pendekatan yang dipakai dalam penyediaan peralatan adalah : 1) 2) 3) 4) 5) b. telah diperbaiki) instruksi-instruksi pabrik Pemeliharaan alat dilengkapi dengan kartu status alat. . nomor seri atau identifikasi khusus lain c) d) e) f) g) petugas penghubung pabrik dan nomor telepon tanggal diterima dan tanggal ditempatkan kondisi ketika diterima (baru. Ventilasi Sesuai dengan ketentuan BATAN : Dibuat di atas plafon ke udara bebas. bekas. 11. Ketentuan lain 1) Setiap peralatan mempunyai petunjuk kerja yang memenuhi spesifikasi pemeriksaan tertentu 2) Tiap-tiap peralatan diberi kartu alat meliputi : a) b) identitas peralatan nama pabrik. Lampu indikator (merah) Menyala bila ada pemeriksaan.

7. Jiwa. 1. 2. alat pemeriksaan telinga. sonde gigi. 3. 5. bahan referensi. 8. 4.3) 4) 5) Dioperasikan oleh tenaga yang kompeten Dirawat dan dijaga keamanannya Mempunyai prosedur untuk penanganan yang aman. Tabel 9 KEBUTUHAN FURNITUR Ruang pemeriksaan Fisik. 3. piranti lunak. Laboratorium dan Radiologi 1. 2. 6. 5. reagen-reagen dan sistim analitik dilindungi dari kerusakan yang dapat menyebabkan hasil pemeriksaan tidak benar. 6) Piranti keras. 4. 7. Meja Kursi Lemari Tempat tidur pasien Lampu periksa Kursi tunggu Tempat sampah padat dan cair Tempat sampah medis dan non medis Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai standar Sesuai standar Tabel 10 PEMERIKSAAN FISIK DAN PSIKIATRI NO. bahan-bahan habis pakai. kaca mulut) NAMA ALAT JUMLAH 2 buah 2 buah 2 buah Sesuai kebutuhan 1 buah 1 buah 1 set . spekulum hidung. Stetoskop Tensimeter Lampu senter Tongue spatel Pengukur tinggi badan Timbangan Diagnostik set (headlamp. penyimpanan dan penggunaan peralatan untuk mencegah kontaminasi atau kerusakan. pengiriman. 6.

Bottle wash polythellene 12. 6 ½. 18. 7. 16. 4. 6. 10. 19. 12. 17. reflex testing Piala ginjal/nierbeken Snellen chart Tes Ishihara (tes buta warna) Tempat instrumen. Bunsen burner 13. metal Sarung tangan No. 2. 13. 8. 20. 14. cairan infus) 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 1 buah 1 set 1 set 1 set 1 set Tabel 11 PEMERIKSAAN LABORATORIUM NO 1. 7. 7 ½ Masker Kapas alkohol Oxygen delivery set Tabung Oksigen 5 L dan regulator EKG Peralatan resusitasi Alat emergensi (tiang infus. 11. infus set. Hammer. 3. 9. 9. Mikroskop binokuler 11. Botol tetes .8. 15. Peralatan Elisa Fotometer + print out (Flow Cell) Hematology analyzer Sentrifus elektrik Vortex mixer Rotator Inkubator Refrigerator Oven JENIS ALAT JUMLAH 1 set lengkap 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 2 buah 1 buah 2 buah 1 buah 2 buah 2 buah 1 buah Sesuai kebutuhan 10. 5.

25. Rak pengecatan 25. Termometer ruang 33. Termometer –10C s/d 100C 32. Tabung serologis 30. Gelas pengaduk 19. Pipet volumetrik 5 mL 18. Kalkulator 40. 1000 L 15. Tabung sentrifus kaca atau plastik 31. Tourniquet 35. Mikropipet 5. 2 dan 10 mL 17.14. Peralatan gelas 23. Rak tabung reaksi 26. Petridish diameter 10 cm 24. Mikropipet adjustable 50–200L 16. Tabung vakum dengan jarum (sekali pakai) 28. Kaca penutup 21. 100. Kaca obyek 20. Timer @ 1 buah @ 1 buah @ 1 buah @ 1 buah 2 buah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 6 buah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 1 buah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 1 buah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan 2 buah 2 buah Sesuai kebutuhan 1 buah 1 set Ada Ada Ada 1 buah 1 buah 2 buah Tabel 12 . Tips pipet (sekali pakai) 34. Wadah untuk sputum 39. Wadah urin bermulut lebar (15 – 20 mL) 37. 50. Slide holder 29. Loop/ose 22. Wadah untuk tinja 38. 200. Tabung reaksi 27. 10. Tally counter 41. Westergren apparatus 36. 500. Pipet serologis 1.

1. 2. JENIS ALAT Alat bantu pipet/bulb Alat pemadam api Desinfektan Klem tabung (tube holder) Sarung tangan Masker Jas Laboratorium Pemotong jarum & wadah pembuangan Perlengkapan PPPK JUMLAH 2 buah 1 buah Sesuai kebutuhan 1 buah Sesuai kebutuhan Sesuai jumlah petugas Sesuai jumlah petugas 1 buah 1 set 1 buah 10. 8. Eye washer 1 buah 1 buah Tabel 13 PEMERIKSAAN RADIOLOGI NO. 2. Label identitas 1 (satu) unit 5 (lima) buah 1 (satu) set 1 (satu) buah 5 (lima) buah JUMLAH 1 (satu) buah d.PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM NO 1. 5. Vertical cassete stand X Ray film Cassete : 43 x 35 cm dengan Intensifying Screen Green Sensitive b. X Ray marker set Otomatik atau manual c. Hanger 43 x 35 cm e . X Ray film 50 buah . Pipet container / tempat merendam pipet habis pakai 11. 9. 7. 3. Wastafel untuk cuci tangan 12. JENIS ALAT X Ray unit 125 KV/100 mA Accessories : a . 4. 6.

tidak diperlukan tangki Developer dan Fixer. film cutter f. 5) Reagen HBsAg. anti-HCV dan anti-HIV. Reagen Dasar-dasar Pemilihan Reagen 1) Reagen telah terdaftar di Direktorat Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. drier untuk mengeringkan film 1 buah 1 (satu) buah 1 buah 1 buah 2 buah 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah Bagi kamar gelap yang dilengkapi dengan Automatic Proccessor.5 mm Pb Film badge sesuai jumlah pekerja radiasi Screen dengan lead glass ukuran 20 cm x 30 cm tebal 2 mm Pb 1 (satu) buah Sesuai kebutuhan 2 (dua) buah 4. safe light d. double atau single viewing box h. Departemen Kesehatan RI. pilih reagen dengan sensitivitas  99% dan spesifitas  95% serta menggunakan metode Elisa. interval timer e . 3. tangki fixer dan cuci film isi 20 liter c. 2) 3) 4) Mempunyai masa kadaluwarsa yang panjang. tidak diperkenankan menggunakan metode rapid test melainkan metode Elisa. Developer & fixer Sesuai kebutuhan Perlengkapan proteksi radiasi Lead aphron sekurang-kurangnya tebal 0. Kamar gelap : a . 12. Tangki developer isi 20 liter b. exhaust fan untuk sirkulasi udara i . pass box g.43 x 35 cm Type : green sensitive f. Pilih sesuai dengan metode yang akan digunakan Khusus untuk reagen anti-HIV. .

laboratorium dan radiologi yaitu : 1.6) Reagen disimpan pada suhu yang telah ditentukan oleh pabrik (dengan melihat kit insert). . test kehamilan dan narkoba dipilih carik celup atau Rapid test. Yang dimaksud dengan audit adalah proses menilai atau memeriksa kembali secara teliti berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Adapun pelaksanaan pemantapan mutu secara keseluruhan dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek antara lain : A. Tuberkulosis harus menggunakan Ziehl Nielsen. Pelaksanaan pemantapan mutu artinya setiap tindakan/proses yang dilakukan sejak tahap pra analitik. V. sehingga untuk mendapat hasil pemeriksaan yang bermutu maka perlu semua tindakan dalam proses pemeriksaan dilaksanakan sesuai ketentuan. Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Pelaksanaan manajemen mutu pemeriksaan fisik. PEMANTAPAN MUTU Hasil pemeriksaan kesehatan CTKI merupakan salah satu dokumen penting dalam menentukan keberangkatannya. 10) Reagen pemeriksaan mikroskopik M. jiwa. Audit terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu audit internal yang dilakukan oleh petugas sendiri dan audit eksternal yang bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak lain atau pemakai jasa pelayanan. 7) Metode pemeriksaan kimia urin. analitik dan pasca analitik untuk menjamin ketepatan dan ketelitian hasil pemeriksaan kesehatan. 9) Pemeriksaan kimia klinik menggunakan reagen basah (wet chemistry) untuk pemeriksaan kimia klinik. Audit. 8) Reagen test kehamilan mempunyai sensitivitas sekurang-kurangnya 25 IU/mL.

magang di Sarana Kesehatan yang kemampuan teknisnya lebih tinggi dan pelatihan. 3) Melakukan kalibrasi alat yang digunakan secara berkala tahun sekali : setiap  Fotometer  Peralatan Elisa  Hematology analyzer . Tenaga dokter mengikuti seminar/pelatihan secara berkala sesuai ketentuan yang berlaku.2. organisasi profesi dan asosiasi 1 tahun sekali. B. Peningkatan Kompetensi Tenaga Manajerial. C. Pemantapan Mutu Internal Kegiatan pemantapan mutu internal dilakukan secara rutin setiap hari kerja dan dilakukan pencatatan : a. Akreditasi Yang dimaksud akreditasi adalah suatu pengakuan oleh badan hukum yang berwenang bahwa sarana kesehatan yang bersangkutan telah memenuhi standar manajemen mutu. Laboratorium Kegiatan pemantapan mutu bidang laboratorium dilaksanakan melalui langkahlangkah sebagai berikut : 1. b. mencakup : 1) 2) Pemantauan suhu refrigerator reagen. Penyediaan prosedur tetap tertulis untuk setiap kegiatan mulai dari kegiatan pra analitik. Pemeliharaan dan kalibrasi peralatan secara rutin sesuai dengan spesifikasinya. analitik dan pasca analitik. Peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia dilaksanakan melalui program pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Depkes. Pengecekan kebersihan mikroskop dan ketepatan optisnya setiap kali selesai dipakai. Administrasi Dan Teknis Peningkatan kemampuan dapat dilakukan dengan cara konsultasi teknis.

2. D. 3. Uji Ketelitian dan ketepatan pemeriksaan dengan menggunakan bahan kontrol yang telah diketahui rentang nilainya dan dilakukan tiap hari kerja. Kalibrasi alat ukur radiasi (AUR) dan kalibrasi keluaran radiasi dilakukan oleh laboratorium yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh BAPETEN. 2. presisi. Pipet semi otomatik  Sentrifus  Timer  Termometer Kalibrasi juga dilakukan setelah perbaikan alat atau hasil pemantapan mutu internal yang tidak baik. d. Penilaian Sumber Daya Manusia oleh laboratorium yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Pelaksanaan pemantapan mutu meliputi : 1. reproduksibilitas dari suatu metode pemeriksaan. Validasi Hasil Validasi adalah pengukuran akurasi. . 3. 2. Radiologi Pemantapan mutu dilaksanakan sesuai PP No 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion yaitu : 1. c. Uji kualitas reagen untuk mengetahui stabilitas. Kegiatan pemantapan mutu dinilai oleh pihak lain yang berwenang dan sesuai ketentuan yang berlaku dari BAPETEN. Pemantapan Mutu Eksternal Laboratorium kesehatan pemeriksaan CTKI mengikuti kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan. Pengendalian dokumen dan rekaman (misal : prosedur dan kartu dosis) Proses uji kepatuhan (compliance test) secara periodik terhadap peralatan perangkat sinar-X.

4. Pertemuan rutin Tim K3 4. Prosedur penanganan limbah medis . Mengadakan pertemuan evaluasi dan perencanaan secara berkala meliputi penyusunan program. d. biologi. psikososial) Kegiatan di sarana kesehatan yang berisiko tinggi terhadap gangguan K3 terutama di laboratorium dan radiologi. Mempunyai prosedur kerja yang aman secara tertulis a. status kesehatan. A. fisiologi/ergonomi. Tim K3 diketuai oleh penanggung jawab sarana kesehatan. jadwal pemeliharaan alat. Tim K3 paling sedikit mempunyai 4 orang anggota yg mewakili petugas dan pengusaha/manajemen. Identifikasi Perencanaan Pelaksanaan Pengawasan Melaksanakan upaya perbaikan Pertemuan Manajemen mereview kegiatan K3 secara rutin. 2. Tugas dari Tim K3 : a. Manajemen K3 Di Sarana Kesehatan 1. 6. b. radiografer. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Prinsip dari kesehatan dan keselamatan kerja adalah penyerasian antara kapasitas petugas (jenis kelamin. gizi) beban kerja (tugas yang didapat. 5. Setiap peralatan dilengkapi surat penunjukan penanggung jawab alat. teknisi) secara teratur terhadap peralatan dan kamar gelap VI. e. shift kerja) dan lingkungan kerja (fisik. kimia. c. 3. dokumentasi pemeliharaan alat. umur. Pemantapan mutu internal dilaksanakan oleh setiap petugas (dokter spesialis radiologi.

Melaksanakan inspeksi tempat kerja a. Prosedur pengambilan dan penyimpanan spesimen Metode penggunaan bahan kimia berbahaya. Hazard di tempat kerja Cara bekerja yang aman Prosedur kerja yang aman Cara mengangkat/mengangkut Cara membuang sisa bahan kimia atau bahan-bahan lain yang berbahaya 6. e. c. Mengeluarkan/menumpahkan bahan berbahaya beracun. c. 5. Tujuan dari penyelidikan kecelakaan - Menetapkan penyebab kasus kecelakaan Identifikasi faktor-faktor lain yang berperan . Inspeksi peralatan laboratorium. Melaksanakan Penyelidikan Kecelakaan di tempat kerja a. Prosedur penyaluran agen biologi yang dipergunakan Prosedur penggunaan sarana/prasarana dan alat laboratorium Melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi petugas sarana kesehatan tentang : a. ventilasi.b. e. Dilaksanakan oleh tim K3 Inspeksi khusus setelah terjadi kecelakaan atau peralatan tidak berfungsi d. d. b. APAR. pembuangan limbah. 7. pengangkutan material berbahaya d. agar kondisi yang tidak aman tidak makin berkembang b. c. Inspeksi keseluruhan tempat kerja. Penyelidikan dilakukan bila : - Terjadi kematian atau kondisi kritis dengan risiko kematian Untuk mengetahui penyebab trauma/penyakit Tidak ada kasus trauma tetapi berpotensial untuk terjadinya kecelakaan yang serius b.

Masker. 9. c. b. antara lain dengan mengganti alat/bahan. gizi kerja. Merujuk petugas yang mengalami trauma ke tempat pengobatan medis. dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sarung tangan dipakai satu kali saja. Administratif Control. Demikian juga saat melakukan desinfeksi atau pembersihan. Prosedur Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di Laboratorium 1. Medical Control. test HIV bagi yang berisiko. Mempunyai peralatan dan prosedur pertolongan pertama Sarana kesehatan menyediakan peralatan. fasilitas. Melaksanakan pencatatan serta pelaporan kesehatan dan keselamatan kerja 10. mengurangi besarnya pajanan terhadap petugas atau memperbaiki sistem. pembekalan. Masker dan Jas laboratorium Selalu mengenakan sarung tangan saat menangani atau mengambil spesimen.- Mengembangkan rencana kerja perbaikan untuk pencegahan kejadian serupa dimasa mendatang 8. menyediakan APD (Alat Perlindungan Diri) d. Legislative Control berlaku. Melaksanakan pengendalian penyakit dan kecelakaan akibat kerja a. dan petugas dalam pertolongan pertama serta pelayanan yang adekuat dan tepat untuk : a. antara lain dengan melakukan seleksi petugas dan pengaturan jam kerja. STMJ = Sarung Tangan. Pertolongan pertama pada petugas tepat pada waktunya jika mereka mengalami trauma di tempat kerja b. cairan tubuh maupun benda lain. dengan mengikuti peraturan perundangan yang B. Engineering Control (secara teknis). . imunisasi hepatitis. pelindung mata atau pelindung muka juga harus dipakai untuk melindungi membran mukosa mulut dan hidung dari percikan darah.

Setiap petugas laboratorium harus mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara berkala setahun sekali dan vaksinasi Hepatitis B. Daerah kerja bersih (tempat administrasi) dipisahkan dengan daerah kerja kotor (tempat melakukan pengujian. Dilarang makan. setelah melepas sarung tangan. setelah bekerja dan sebelum meninggalkan laboratorium. C. mengganti lensa kontak dan merokok di laboratorium.Jas laboratorium dikenakan sebagai pelindung dari percikan bahan biologis dan dilepas sebelum meninggalkan laboratorium. tempat penanganan spesimen). Refrigerator di laboratorium bukan untuk menyimpan makanan/minuman. Menggunakan sepatu tertutup. Spuit dan benda tajam lainnya diletakkan dalam wadah tahan tusuk. 10. Alat P3K tersedia di setiap ruang pemeriksaan. Peralatan gelas setelah digunakan. Mencatat dan melaporkan setiap kecelakaan dan kejadian nyaris celaka. Permukaan meja kerja harus didekontaminasi dengan disinfektan kimiawi. 14. direndam dalam larutan disinfektan Natrium hipoklorit 0. 12. 5. 15. Tidak bekerja di laboratorium bila menderita luka terbuka pada kulit. 17. 13. berdandan. Rambut panjang diikat. 3. Pakaian yang terkontaminasi harus didekontaminasi atau didisinfektan kimiawi sebelum dicuci. Dilarang masuk ke ruang pemeriksaan selain petugas laboratorium. 7. 11. Cleaning service hanya membersihkan lantai saja. 8.5% sebelum dicuci. 4. 9. 2. Cuci tangan sebelum memakai sarung tangan. Tidak memipet dengan mulut. Tata Ruang Dan Fasilitas Laboratorium Persyaratan tata ruang dan fasilitas laboratorium adalah sebagai berikut : . 6. minum. Jangan membengkokkan. menutup atau mematahkan jarum secara manual. 16.

lantai dan langit-langit rata agar mudah dibersihkan. Tepi meja dibuat melengkung. Limbah dibagi 2 jenis yaitu : 1. Tersedia Air Conditioner. Tanaman hias dan hewan peliharaan tidak diperbolehkan berada di ruang kerja laboratorium. Ada dinding pemisah antara ruang pasien dan laboratorium. 8. tidak bereaksi dengan bahan kimia dan tahan panas. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Beracun dan Berbahaya) Penanganan Limbah padat/sampah khusus . 5. Permukaan dinding. Ruang laboratorium mudah dibersihkan dan dibuat sudut tumpul pada pertemuan antara dinding dan lantai. D. kering dan tidak licin termasuk di gang/koridor/lantai. 3. 4. Lantai bersih. Tersedia ruang ganti pakaian. Tersedianya bak cuci tangan dengan air mengalir dalam setiap ruangan laboratorium dekat pintu. 6. Permukaan meja kerja tidak tembus air. 11. 9. ruang makan/minum dan kamar kecil. karena itu pengolahan limbah dilakukan dengan semestinya agar tidak menimbulkan dampak negatif. Limbah cair Limbah cair infeksius dipisahkan dari limbah cair non infeksius. sampah hasil laboratorium. Pengolahan limbah B3 mengikuti peraturan (Peraturan Pemerintah No. 2. Penerangan cukup dan tidak menyilaukan. Limbah padat Limbah padat terdiri dari limbah/sampah umum (domestik) dan sampah khusus seperti sampah medis. Tempat sampah dilengkapi dengan plastik. Penanganan Limbah Limbah laboratorium kesehatan akan berbahaya bila tidak ditangani secara benar. Untuk limbah cair infeksius ditambahkan disinfektan sebelum dibuang ke saluran pembuangan limbah (IPAL). 10. 7.1. 2.

mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup. 2. Kantong plastik yang berisi limbah diangkat dan dibuang setiap hari ke tempat pembuangan khusus. Tempat pengumpul sampah Terbuat dari bahan yang kuat. cukup ringan. tahan karat. Harus dilakukan pemeriksaan kesehatan tenaga untuk pegawai dapat baru guna mengetahui apakah kesehatan tersebut melakukan pekerjaan sebagai petugas radiasi. Tempat penampungan sampah sementara dikosongkan dan dibersihkan satu kali dalam 24 jam. Tempat pembuangan sampah akhir a. yang diletakkan pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut sampah. apabila akan digunakan kembali. E. Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Akibat Radiasi 1. Sampah infeksius dan sampah toksik dimusnahkan menggunakan incenerator atau carbonyzer b. Petugas radiasi tidak boleh berumur kurang dari 18 tahun Petugas wanita dalam masa menyusui tidak diizinkan bertugas di daerah radiasi dengan risiko keselamatan tinggi 3. Sampah non infeksius dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Tempat penampungan sementara limbah non infeksius Berupa penampungan sampah yang tidak permanen. kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya. Sampah umum (domestik) dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir yang dikelola oleh Pemda atau badan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap tempat pengumpul sampah dilapisi kantong plastik. Khusus untuk tempat pengumpul sampah kategori infeksius. 2. .1. dibersihkan dan didisinfeksi setelah dikosongkan. 3. untuk bahan infeksius warna kuning sedangkan untuk bahan umum warna hitam.

7. peralatan penanggulangan keadaan darurat. Setiap petugas radiasi sebelum bekerja dengan radiasi memakai film badge/TLD/dosimeter saku. PPR dan petugas radiasi 8. PPR bertanggung jawab atas terlaksananya tugas-tugas dalam daerah yang memungkinkan seseorang menerima dosis kurang dari 5 mSv/tahun dan dalam daerah kontaminasi 12. Perlengkapan khusus P3K radiasi tersedia di daerah kerja yang isinya tergantung pada jenis kecelakaan yang mungkin terjadi dan jenis kontaminasi pada tubuh manusia 13. . latihan dan sistem komunikasi 11. baik untuk radiasi eksternal maupun radiasi internal. Alat ukur penyinaran.4. dosis serap dan flux/aktivitas sumber radiasi perlu dikalibrasi Nilai Batas Dosis (NBD) adalah penerimaan dosis yang tidak boleh dilampaui dalam setahun tidak tergantung pada laju dosis. minimal 1 tahun/kali atau dapat lebih dari 1 kali/tahun bila terjadi kecelakaan radiasi dan penerimaan dosis tinggi 5. Kepala instalasi membuat rencana penanggulangan keadaan darurat yang sekurang-kurangnya memuat jenis/kelas kecelakaan yang mungkin terjadi. setelah itu dikirim ke pengolah film badge (BAPETEN) untuk dinilai berapa besar dosis radiasi yang diterima selama 3 bulan tersebut 10. proses penanggulangan keadaan darurat. Pemeriksaan kesehatan juga harus dilakukan secara periodik. organisasi penanggulangan keadaan darurat. 6. PPR menyimpan kartu kesehatan 30 tahun Tim Proteksi Radiasi terdiri dari penanggung jawab instalasi. Film badge hanya boleh dipakai maksimum 3 bulan. 9. Hasil pemeriksaan dicatat dalam kartu kesehatan yang juga memuat keterangan sifat pekerjaan dan alasan pemberian pemeriksaan kesehatan khusus.

Dalam hal kontaminasi radioaktif pada kulit diambil dosis rata-rata pada permukaan seluas 100 cm² d. b. F. e. Tertusuk jarum atau luka sayat:  Cuci dengan air dan sabun  Biarkan darah mengalir beberapa saat . Penyinaran seluruh tubuh 50 mSv/tahun.NBD yang dipakai sesuai dengan SK Kepala BAPETEN No. Penyinaran anggota masyarakat secara keseluruhan. Cuci segera dengan air mengalir dan sabun Jangan menggunakan natrium hipoklorit Mata. Khusus untuk : 1) 2) 3) 4) Lensa mata 150 mSv/tahun. hidung dan mulut: Bilas dengan air selama 10 menit c. khususnya harus diperkirakan dosis genetik. Kulit :   b. yaitu : a. Demikian pula untuk penyinaran lokal yaitu 50 mSv/ tahun. Tangan. lengan. Penyinaran lokal adalah 500 mSv/tahun. Apabila terjadi percikan bahan infeksius atau toksik yang mengenai : a. Penatalaksanaan Pasca Pajanan 1. Kulit 500 mSv/tahun. Wanita usia subur 13 mSv/13 minggu pada abdomen. kaki dan tungkai 500 mSv/tahun. Setiap pengusaha instalasi nuklir harus menjamin konstribusi penyinaran yang berasal dari instalasinya kepada anggota masyarakat serendah mungkin dan selalu dikaji ulang dan dilaporkan pada instansi yang berwenang. sedangkan pada wanita hamil 10 mSv c.01/1999 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi. Pembatasan dosis untuk anggota masyarakat umum untuk seluruh tubuh 50 mSv/tahun (1/10 x NBD petugas radiasi).

Mempunyai izin operasional dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan telah beroperasi selama dua tahun b.Post-exposure prophylaxis (PEP) dengan menilai risiko: a. Gunakan kasa pembalut 2. harus diberikan dalam waktu 1 – 2 jam sesudah terpajan. terciprat) Status HIV /HBV/HCV dari sumber pajanan Tes HIV pada petugas kesehatan untuk data dasar Pemeriksaan HBsAg dan anti HBs. Bila memberi pengobatan profilaksis. Persyaratan Perizinan Pemeriksaan kesehatan CTKI diselenggarakan oleh sarana kesehatan yang memenuhi persyaratan dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan. Persyaratan yang Diperlukan Dan Proses Administrasi Untuk Menjadi Sarana Kesehatan pemeriksa CTKI meliputi: a. Sarana Kesehatan mengirim kembali instrumen self assessment yang telah diisi ke Dinas Kesehatan Provinsi. Medical follow up VII. Departemen Kesehatan RI cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik mengirimkan instrumen Self Assesment ke sarana kesehatan yang bersangkutan dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi. bila perlu lakukan imunisasi Hepatitis B. PERIZINAN A. 5. c. d. Pertimbangan Pencegahan Pasca pajanan . Membuat surat permohonan kepada Departemen Kesehatan RI cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi. c. 3. 6. Sumber cairan atau benda Cara terpajan (tertusuk. 4. . b. 1.

Dinas Kesehatan Provinsi. Sarana Kesehatan Pemeriksa CTKI wajib setiap 6 bulan mengirimkan laporan hasil pemeriksaan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Audit dilakukan dua kali dengan tenggang waktu antara audit pertama dan audit final ± 3 bulan untuk memberikan kesempatan kepada sarana kesehatan melengkapi hasil audit pertama agar sesuai standar pemeriksaan CTKI h. Bila sarkes tidak beroperasi lagi atau pindah alamat. Sarkes yang sudah memenuhi kekurangan sesuai hasil audit pertama segera melapor ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik untuk selanjutnya dilaksanakan audit final. k. j.e. g. Depkes cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik. l. Dinas Kesehatan surat Provinsi melakukan yang peninjauan ke kemudian Departemen memberikan rekomendasi ditujukan Kesehatan RI cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik bersama instrumen self assessment. Sebelum SK Menkes diterbitkan. Bagi sarkes yang memenuhi persyaratan akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menkes (Sertifikat Penetapan Sarkes CTKI) dalam waktu 3 bulan. i. f. Departemen Kesehatan RI cq Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Penunjang Medik mengevaluasi dan menindaklanjuti dengan melaksanakan audit oleh tim audit pusat bersama Dinas Kesehatan Provinsi dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK)/Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi. dikeluarkan surat izin sementara oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik yang berlaku selama 6 bulan. harus melapor kepada . Izin Sarana Kesehatan berlaku untuk satu sarkes sesuai alamat.

Persyaratan lain : a. Sanksi . peralatan. c. Izin Sarana Kesehatan berlaku selama 5 tahun sesuai alamat Perpanjangan izin dilakukan dengan mengajukan permohonan kembali kepada Departemen Kesehatan RI cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik melalui Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 30 hari sebelum habis masa berlaku izinnya. 4. m. BBLK/BLK dapat melakukan pemeriksaan kesehatan CTKI dengan Pelayanan Pemeriksaan mengajukan permohonan ke Departemen Kesehatan RI cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan melengkapi terlebih dahulu sarana dan prasarana. 3. n. 2. RS Pemerintah Pusat dan Daerah kelas C ke atas dapat melakukan pemeriksaan kesehatan CTKI sesuai Standar Kesehatan CTKI. Bagi tenaga kesehatan dan tenaga administrasi wajib melampirkan : 1) 2) Surat Izin Bekerja untuk tenaga ATRO Ijazah B.Dinas Kesehatan dan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik untuk mengurus permohonan izin sesuai alamat baru. Pelayanan radiologi harus memiliki 1) 2) Izin penggunaan peralatan radiologi dari BAPETEN Izin pelayanan kesehatan dikeluarkan oleh Departemen sesuai Standar Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan b. SDM Kesehatan CTKI. Bagi Dokter 1) 2) 3) Penanggung jawab Pelaksana Konsulen Harus memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di sarkes yang bersangkutan.

nilai rujukan. cara kerja. spesifikasi alat. Bila sarkes tersebut di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maka Dinkes tersebut bertanggungjawab untuk pelaksanaan hal tersebut. Pengendalian Dokumen 1. . referensi. Bila sarkes tersebut milik Pemerintah Pusat maka Depkes bertanggungjawab untuk melakukan teguran dan pembinaan. catatan. standar.Bila ditemukan pelanggaran maka dibuat teguran tertulis I. Bila sarkes tersebut milik Pemerintah Provinsi maka Dinkes Provinsi bertanggung jawab dan teguran tertulis ditembuskan ke Departemen Kesehatan. tabel kalibrasi. PENCATATAN DAN PELAPORAN A. Dan teguran tertulis ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan. Daftar induk dokumen meliputi status revisi terakhir dan distribusinya. bagan/alur kerja. 4. 2.II dan ke III kepada sarkes yang bersangkutan sambil dilakukan pembinaan. kebijakan. spesifikasi. 4. text book). 3. 1. metode pengujian. surat pencabutan izin operasional dikirimkan ke Departemen Kesehatan dan selanjutnya Depkes mencabut SK Penetapan Sarkes sebagai Pemeriksa CTKI. Dokumen harus dikaji ulang secara berkala dan bilamana perlu direvisi serta disahkan oleh penanggung jawab sarana kesehatan. buku referensi (pedoman. gambar. 3. VIII. Setelah dilakukan teguran sampai 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan dan tidak ada perbaikan maka Dinas Kesehatan berhak mencabut izin operasional. Sarana Kesehatan menetapkan dan melaksanakan prosedur pengendalian semua dokumen dan informasi baik dari dalam maupun dari luar sarana kesehatan. prosedur. 2. Dokumen meliputi peraturan.

tenaga yang bertanggung jawab pengambilan pelaksanaan pemeriksaan. Sarana Kesehatan menyimpan rekaman dalam satu periode tertentu yang merupakan data asli hasil pemeriksaan. tidak dihapus. dokumen yang disimpan dalam waktu lebih dari 5 dapat dimusnahkan. Jika terjadi kesalahan dalam rekaman. Bentuk rekaman terdiri dari media cetak dan media elektronik. tidak dihilangkan dan nilai benar ditambahkan disisinya. rekaman kalibrasi. 2. setiap kesalahan dicoret. 4. Pengendalian Rekaman 1. Dokumen pendukung rekaman meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Formulir permintaan pemeriksaan Formulir hasil pemeriksaan Inform consent Buku registrasi Kartu stok Catatan kondisi spesimen Grafik Pemantapan Mutu Internal Laporan Hasil Pemeriksaan Sertifikat kalibrasi eksternal 10) Sertifikat Pemantapan Mutu Eksternal c.5. Rekaman teknis a. Proses dan hasil pemeriksaan spesimen direkam setelah pekerjaan dilaksanakan. B. Seluruh bentuk rekaman disimpan dan diarsipkan sesuai ketentuan yang berlaku. Sifat rekaman terdiri dari rekaman biasa dan rahasia. Dokumen disimpan di tempat dilakukannya kegiatan terkait. Rekaman hasil pemeriksaan atas mencakup identitas spesimen. d. 3. catatan yang dibuat staf dan salinan setiap laporan hasil pemeriksaan b. dan penandatanganan hasil pemeriksaan. Semua perbaikan pada rekaman ditandatangani atau diparaf oleh petugas yang melakukan koreksi .

g. Nama Sarana Kesehatan Nama CTKI Nomor KTP (tanda pengenal) CTKI Negara tujuan penempatan Waktu pemeriksaan (tanggal. e. Sertifikat kesehatan dibuat dengan persyaratan sebagai berikut : 1.Berat kertas 70-90 gram . Sekuritas Dengan menggunakan metode perforasi pada nomor seri yang terletak di ujung kiri atas. 3. C. f. Sertifikat kesehatan memuat : Pada halaman depan a. Kesimpulan hasil pemeriksaan : ’Fit” Pada halaman belakang a. bulan. tahun) Nama dan tandatangan dokter yang memeriksa CTKI tersebut sekaligus mencantumkan SIP. Pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan Nama dan tandatangan dokter yang memeriksa CTKI tersebut sekaligus mencantumkan SIP . b. Penomoran (kode) Pengkodean menunjukkan sarana kesehatan/negara penempatan/bulan pemeriksaan/tahun pemeriksaan.5. b.Warna putih 2. Spesifikasi kertas Sertifikat . d. c.Ukuran kertas legal . 4. Sertifikat Kesehatan Sertifikat Kesehatan merupakan salah satu dokumen penting dalam penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Penghapusan rekaman dilaksanakan setelah lima tahun dan dibuat berita acara penghapusan.

... ............ : …………………………………………………. menyatakan bahwa : Nama Tempat/tanggal lahir Alamat rumah Nomor KTP : ………………………………………………… : ………………………………………………….. Dokter pemeriksa Halaman belakang Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan meliputi : A. Laboratorium Radiologi Audiometri EKG Spirometri D........... 1.. kurang dapat dipertanggungjawabkan..... Pemeriksaan penunjang lain 5...... : ………………………………………………….. 2.. Pemeriksaan jiwa/psikiatri C. 2..... ………………… Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang telah kami lakukan...... Pemeriksaan penunjang 1. SERTIFIKAT KESEHATAN NO....... Proses penempatan CTKI.. .............CONTOH SERTIFIKAT KESEHATAN Halaman depan SARANA KESEHATAN ……………………………………... sejak tahap pemeriksaan kesehatan sampai diberangkatkannya CTKI memerlukan waktu 1-2 bulan untuk Asia dan untuk penempatan Asia Pasifik memerlukan waktu 5-7 bulan. secara medis......... Masa berlaku dokumen (validitas) Masa berlaku sertifikat sehat/fit adalah 14 (empat belas hari)....... Berdasarkan hal tersebut di atas. FIT TO WORK Pemeriksan kesehatan telah diselenggarakan pada tanggal.. di ..... Pemeriksaan fisik B. ......... 3..........

Selain rekam medik. E. Pencatatan Pemeriksaan Fisik Dan Kedokteran Jiwa Pencatatan meliputi pengisian identitas. Pencatatan Kegiatan Pemeriksaan Pencatatan kegiatan pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan buku register/buku catatan sebagai berikut : a. Pencatatan direkam ke dalam rekam medik sesuai ketentuan yang berlaku. Sehingga pemeriksaan kesehatan ulang menjelang keberangkatan sangatlah penting. Pencatatan Pemeriksaan Laboratorium 1. anamnesis. Jenis Hasil pemeriksaan Ket spesimen pemeriksaan yang diminta JUMLAH . informed consent juga harus disimpan.karena meningkatkan risiko terjadi penyakit dan kehamilan terhadap CTKI yang berada di penampungan. D. Contoh sertifikat dapat dilihat di lampiran (9). Buku catatan harian kegiatan pemeriksaan 1) 2) Merupakan alat bantu dalam membuat laporan Merupakan rekaman kegiatan pemeriksaan sehari-hari sehingga mencerminkan beban kerja laboratorium 3) 4) Dibuat dalam 1 (satu) buku per masing-masing parameter Harus diisi setiap hari atau setiap ada kegiatan pemeriksaan oleh petugas yang melakukan pemeriksaan 5) Berisi data-data pasien atau spesimen yang diterima Contoh : Catatan harian kegiatan pemeriksaan Bulan : ……………………… Tgl No urut Nama/Sex/ umur pasien Alamat / Nama PT No kode Jenis Tahun : …………. hasil pemeriksaan fisik dan jiwa.

Ket c. Contoh : Catatan Khusus Spesimen yang Dikonfirmasi No Tgl Jawaban Nama / sex / Kirim Tgl terima hasil umur Nama PT spesimen yang dirujuk Kode Rujukan Alamat/ Jenis Jenis parameter No Lab. b. . Buku catatan khusus spesimen yang dikonfirmasikan ke laboratorium lain. Buku catatan bulanan kegiatan pemeriksan 1) Merupakan hasil rekapitulasi dari catatan harian selama 1 (satu) bulan 2) 3) Dibuat dalam buku tersendiri Diisi pada setiap akhir bulan Contoh : Catatan Bulanan Kegiatan Pemeriksaan Tahun : Bulan No urut Pemeriksaan Jenis Jumlah Jenis spesimen Ket. 1) 2) Digunakan untuk mencatat kegiatan konfirmasi spesimen Diisi dengan jenis spesimen dan jenis pemeriksaan yang dikonfirmasi serta hasil umpan balik.Pada kolom keterangan dapat diisi tanda “ + “ pada jenis pemeriksaan yang dikonfirmasi.

4. Pencatatan Peralatan laboratorium / reagen a. Pencatatan dan pelaporan jumlah CTKI Pencatatan dan pelaporan jumlah pemeriksaan foto toraks 2. 5. Dibuat dalam buku tersendiri Berguna untuk mengetahui jenis. Film. jumlah. Reagen F.2. Peralatan 2. Pencatatan dan pelaporan keuangan Pencatatan dan pelaporan kejadian akibat kecelakaan radiasi Pencatatan keadaan / kondisi peralatan. Contoh : Catatan Peralatan Laboratorium / Reagen Tahun : ……………. Jenis Peralatan/ Reagen Tgl Jumlah Merk Pemakaia n Kondisi/Tgl kadaluwarsa Keterangan 1. 3. dan kondisi peralatan laboratorium yang ada. termasuk jumlah film yang ditolak dan diulang . b. serta jenis dan jumlah reagen yang ada. Pencatatan Pemeriksaan Radiologi Pencatatan meliputi : 1. No. termasuk jadwal kalibrasi Pencatatan pemakaian bahan dan alat yang meliputi antara lain : a.

6. Pemusnahan Dokumen Pelaksanaan pemusnahan dokumen dibuat berita acara yang berisi : 1. H. 3. Batas waktu penyimpanan arsip selama 5 (lima) tahun. 7. Penyimpanan Dan Batas Penyimpanan Seluruh data yang berkaitan dengan kegiatan sarana kesehatan pemeriksa CTKI diarsipkan dengan rapi dan tertib. Surat permintaan pemeriksaan Informed consent Hasil pemeriksaan Hasil pemantapan mutu eksternal dan internal pemeriksaan laboratorium Data dosis harian radiasi (untuk radiologi) Data hasil pemantuan lingkungan dan daerah kerja Dokumen kepegawaian masing-masing pegawai. 2. 4. disampaikan ke Dinas Kesehatan 2. 3. Tanggal. bulan dan tahun pemusnahan Penanggung jawab/otorisasi pemusnahan dokumen . Pelaporan tahunan oleh Dinas Kesehatan disampaikan ke Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan. Data-data yang perlu diarsipkan meliputi : 1. 5. Hal-hal khusus dilaporkan tersendiri.b. mutu sumber daya manusia teknis dan non teknis 8. setelah itu dapat dimusnahkan. 2. Catatan kondisi peralatan Kartu kesehatan pekerja sertifikat peningkatan I. Pelaporan hasil kegiatan Sarana kesehatan dilakukan setiap bulan dan setiap tahun dilaporkan dalam bentuk rekapitulasi. Pelaporan Ada beberapa jenis pelaporan : 1. Bahan kimia untuk procesing film G. 9.

. Pemulangan TKI karena dinyatakan unfit oleh negara penempatan. maka untuk menjaga kualitas (pengendalian mutu) pelayanan kesehatan perlu dilakukan pembinaan. Pelaksanaan pelayanan pemeriksaan kesehatan terhadap standar 2. Kesehatan Provinsi. terkait dengan pelaksanaan binwasdal sarana kesehatan pemeriksa CTKI dan melaporkan kepada Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik setiap 6 bulan sekali. Dinas mensosialisasikan. 4. Pembinaan dilakukan melalui :       Sosialisasi Advokasi Bimbingan Teknis Pertemuan Berkala/Pertemuan Koordinasi/Forum Komunikasi Pendidikan dan Pelatihan Ceramah ilmiah Hasil evaluasi binwasdal sarana kesehatan CTKI diinformasikan kepada pemilik atau penanggung jawab Sarkes. cidera dan sebagainya. dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada CTKI. menetapkan. Fungsi Binwasdal memantau proses atau produk layanan kesehatan secara efektif dan efisien. Kabupaten/Kota merencanakan. Pembinaan. Proses dan hasil pelayanan yang menyangkut teknik pelaksanaan dan ada tidaknya keluhan CTKI. pengawasan dan pengendalian (Binwasdal) yang dilakukan secara berjenjang. Pengawasan Dan Pengendalian Departemen Kesehatan. Kinerja seluruh tenaga pelaksana pelayanan baik tenaga medis maupun tenaga non medis 3. adanya kecelakaan. meliputi : 1.IX. Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab terhadap proses pengeluaran perizinan Sarana Kesehatan CTKI. melaksanakan kebijakan.

Besaran tarif pemeriksaan laboratorium kesehatan dihitung berdasarkan pada perhitungan unit cost dari setiap jenis pemeriksaan. Siti Fadilah Supari. Dr. sewa bangunan dan penyusutan alat 2. Ditetapkan di Pada tanggal 2008 : Jakarta : 15 Desember MENTERI KESEHATAN RI. 3. Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI menetapkan pola tarif pemeriksaan kesehatan CTKI sebagai berikut: Tarif terendah sesuai tarif pemeriksaan di Balai Balai Laboratorium Kesehatan (sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kesehatan). Tarif Mekanisme perhitungan tarif pemeriksaan kesehatan CTKI harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Laboratorium kesehatan pemeriksa TKI menetapkan besaran tarif pemeriksaan laboratorium sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah.Hasil evaluasi binwasdal dilaporkan secara berkala dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi kemudian ke Departemen Kesehatan cq Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik. jasa sarana. Sp.JP (K) . Tarif tertinggi merupakan perhitungan 200% dari tarif terendah.dr. jasa pelayanan. X. Unit cost dihitung dari biaya bahan dan alat.