Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

Fasilitas pelabuhan secara umum terdiri dari 2 macam fasilitas yaitu: fasilitas bergerak dan fasilitas tidak bergerak. Fasilitas bergerak meliputi kapal dan peralatan bongkar muat, sedangkan fasilitas tidak bergerak meliputi dermaga, terminal penumpang, gedung, lapangan penumpukan, gudang, alur pelayaran, menara pengawas, dan sebagainya. Barang yang diangkut oleh kapal terdiri dari : Barang potongan, barang curah dan peti kemas. Barang potongan terdiri dari barang satuan seperti mobil, mesin-mesin, material yang ditempatkan dalam bungkusan, karung atau peti. Barang-barang ini memerlukan perlakuan khusus dalam pengangkutannya untuk menghindari kerusakan. Barang curah terdiri dari barang lepas dan tidak dibungkus, yang dapat dituangkan ke dalam kapal. Barang ini dapat berupa biji-bijian (jagung, beras, gandum, dsb), butiran atau batu bara; atau juga bisa berbentuk cairan seperti minyak. Sedangkan Peti kemas adalah peti yang besar yang diisi dengan barang. Biasanya peti kemas di angkut dengan kapal khusus yang disebut kapal peti kemas, sedang didarat diangkut dengan truk triler. Terminal merupakan tempat untuk memindahkan muatan di antara sistem pengangkutan yang berbeda yaitu dari angkutan darat ke angkutan laut atau sebaliknya, berikut ini merupakan gambar dari terminal pelabuhan secara umum:

Untuk mendukung penanganan muatan di pelabuhan, selain fasilitas pelabuhan yang berada di perairan seperti alur pelayaran, pemecah gelombang, dermaga, alat penambat dan sebagainya, diperlukan pula fasilitas yang ada di darat seperti gudang laut, gudang, bangunan, bangunan pendinginan, gedung administrasi, gedung pabean, kantor polisi, kantor keamanan, ruang untuk buruh/pekerja pelabuhan, bengkel reparasi, rumah pemadam kebakaran, dan rumah tenaga.

Untuk terminal pengiriman barang curah harus dilengkapi dengan elevator, silo, tangki penyimpanan, gudang-gudang untuk gula, pupuk dan sebagainya. Sedangkan untuk terminal peti kemas diperlukan gudang penyortiran, garasi perawatan dan menara kontrol. Dari beberapa fasilitas yang ada diatas yang dapat berada dalam satu bangunan adalah gudang laut dengan kantor pabean, kantor administrasi dengan perusahaan pelayaran. Untuk pelabuhan-pelabuhan besar diperlukan kantor-kantor pusat dari berbagai fasilitas yang ada dalam satu bangunan. Kantor pusat ini merupakan tempat kedudukan kepala pelabuhan, kepala pemeriksa pabean, kepala polisi, kepala gudang, departemen akuntansi. Semua kegiatan yang ada di pelabuhan dikendalikan oleh kantor pusat ini.

BAB II TERMINAL BARANG POTONGAN (GENERAL CARGO TERMINAL)


Karena semua fasilitas yang ada dalam terminal dikendalikan oleh kantor pusat maka kantor pusatpun menyediakan fasilitas untuk terminal barang potongan. Fasilitas-fasilitas yang ada dalam terminal barang potongan dapat dilihat dari gambar dibawah ini. Adapun penjelasan dari beberapa fasilitas yang terdapat di terminal barang potongan yaitu :

Gambar Terminal Barang Potongan 1) Apron Apron adalah halaman di atas dermaga yang terbentang dari sisi muka dermaga sampai gudang laut atau lapangan penumpukan terbuka. Apron digunakan untuk menempatkan barang yang akan di naikkan ke kapal atau barang yang baru diturunkan dari kapal. Muatan-muatan yang ada di atas apron harus disesuaikan dengan lebar apron, tergantung dari fasilitas yang ditempatkan di atasnya, seperti jalan untuk truk dan/atau kereta api, kran dan alat pengangkut lainnya seperti forklift, kran mobil, gerobag yang ditarik traktor dan sebagainya. Lebar apron tersebut biasanya berkisar antara 15 meter dan 25 meter. Contohnya yang terdapat di Pelabuhan Tanjung Mas dan Tanjung Priok yang mempunyai lebar terminal barang potongan sebesar 25 m. 2) Gudang Laut dan Lapangan Penumpukan Terbuka Gudang laut (gudang line I, gudang transit, gudang pabean) adalah gudang yang berhadapan dengan laut sehingga memudahkan gerakan barang dari kapal ke gudang atau sebaliknya. Lapangan penumpukkan terbuka menyimpan barang-barang yang tidak 3

perlu dilindungi atau tidak perlu diperlakukan secara khusus berbeda halnya dengan gudang laut yang menyimpan barang-barang transit untuk mencapai tempat tujuan terakhir. Untuk peredaran barang bebas masa penyimpanan dalam gudang laut maximal 15 hari dan untuk barang-barang yang akan diteruskan ke pelabuhan lain maximal 30 hari. Apabila sampai batas waktu tersebut barang belum bisa dikirim ke tempat tujuan akhir maka barang harus dipindahkan ke gudang lini ke II (warehouse). Fasilitas penyimpanan barang dalam gudang laut biasanya tidak dipungut biaya selama waktu pemakaian antara 3 sampai 5 hari namun bila melebihi dari waktu yang sudah ditetapkan maka akan dikenakan biaya. Ukuran gudang laut tergantung dari jumlah muatan yang dimasukkan/dikeluarkan dari kapal. Luas gudang dan lapangan penumpukan dapat dihitung dengan :

dengan: A T TrT Sf

: luas gudang (m2) : throughput per tahun (muatan yang lewat tiap tahun, ton) : transit time/dwelling time (waktu transit, hari) : storage factor (rata-rata volume untuk setiap satuan berat komoditi, m3/ton; misalkan tiap 1 m3 muatan mempunyai berat 1,5 ton; berarti Sf = 1/1,5 = 0,6667) Sth : stacking height (tinggi tumpukan muatan, m) BS : broken stwage of cargo (volume ruang yang hilang di antara tumpukan muatan dan ruangan yang diperlukan untuk lalu lintas alat pengangkut seperti forklift atau peralatan lain untuk menyortir, menumpuk dan memindahkan muatan, %) 365 : jumlah hari dalam satu tahun

Gudang laut harus mempunyai ruangan yang diperlukan bagi lalu lintas alat pengangkut seperti forklift, kran mobil atau peralatan lainnya untuk menyortir, menumpuk dan memindahkan muatan. Panjang gudang laut minimum adalah sama dengan jarak antara palka (hatch) depan (terletak pada haluan kapal) dan palka belakang (terletak pada buritan kapal), cara kerjanya menggunakan container crane (cc) tapi kalau kapal barang atau kapal cargo, cara kerjanya menggunakan derek kapal. Pada dermaga tipe jari, gudang lautnya dibuat bertingkat. Konstruksi gudang bertingkat ini mahal karena : 1. Fondasi bangunan berat 2. Struktur bangunan berat mengingat beban yang didukung sangat besar 3. Diperlukan peralatan untuk menaik-turunkan barang seperti lift, kerekan/katrol, dsb. 3) Gudang Gudang (warehouse) adalah bangunan yang digunakan untuk menyimpan barang dalam waktu yang lama yang berasal dari kapal atau yang akan dimuat ke kapal. Gudang ini dibuat agak jauh dari dermaga mengingat beberapa hal, yaitu :

Ruangan yang tersedia di dermaga biasanya terbatas dan hanya dipergunakan untuk keperluan bongkar muat dari/atau ke kapal. Pengoperasian gudang laut sangat berbeda dengan gudang. Gudang laut memerlukan gang yang lebih besar untuk penanganan secara cepat dengan menggunakan peralatan pengangkut (fork lift). Ditinjau dari segi ekonomis pembuatan gudang di dermaga tidak menguntungkan, karena konstruksi gudang lebih berat dari gudang laut, dimana kondisi tanah didaerah tersebut kurang baik sehingga diperlukan pondasi tiang pancang yang mahal.

4) Bangunan Pendingin (Cold Storage) Cold Storage adalah unit penyimpanan pembeku dengan kapasitas besar dan membutuhkan pendinginan dengan waktu pendinginan sangat cepat maupun lambat sesuai dengan kebutuhan. Bahan makanan yang memerlukan pendinginan adalah daging, ikan, buah-buahan, sayur-sayuran. Bangunan pendingin tidak tersedia pada pelabuhan Makassar namun yang ada hanya milik swasta, pelabuhan Makassar hanya memiliki bangunan api yang berguna khusus untuk barang yang mudah terbakar. 5) Fasilitas Penanganan Barang Potongan. Ada beberapa macam alat yang digunakan untuk melakukan bongkar muat barang potongan, yaitu : Derek Kapal (ships derricks) Alat ini digunakan untuk mengangkat muatan yang tidak terlalu berat dan pengangkatan berlaku untuk radius kecil, yaitu sekitar 6 meter dari lambung kapal. Derek kapal terdiri dari lengan, kerekan (katrol) dan kabel baja yang digerakkan (dilepas atau ditarik) dengan bantuan mesin penggerek atau yang disebut juga winch. Biasanya pada sebuah kapal ada beberapa buah derek yang beda kapasitasnya contohnya yang berkapasitas 0,5 ton; 2,5 ton dan 5 ton itupun tergantung dari besar atau kecilnya kapal tersebut. Kapal-kapal besar biasanya mempunyai satu atau lebih derek berat (heavy derrick) yang berkapasitas 10 ton sampai dengan 70 ton. Radius pengangkatan derek kapal ini biasanya kecil karena apabila terlalu panjang maka akan mengganggu stabilitas kapal. Kran Darat (shore crane) Kran darat adalah pesawat bongkar muat barang dengan lengan cukup panjang yang ditempatkan di atas dermaga pelabuhan, tepatnya berada dipinggir permukaan perairan pelabuhan. Kran ini mempunyai roda sepanjang rel kereta api dan dapat berpindah-pindah. Daya angkat kran darat bermacam-macam, bisa antara 2,5 ton sampai 20 ton atau lebih, sesuai dengan besar atau kecilnya daya angkat dan jangkauan lengan kran yang juga dapat diatur. Jarak yang dapat dijangkau lengan cukup panjang sehingga dapat meletakkan muatan pada lantai kedua dari gudang yang bertingkat atau dapat pula meletakkan muatan pada radius 20 m dari lambung kapal.

Selain kran darat yang dapat bertumpu pada rel kereta api ada pula kran yang bertumpu pada roda truk dan mengingat besarnya beban yang timbul akibat kran ini, maka dalam perencanaan dermaga harus pula diperhitungkan beban kran tersebut. Kran Terapung (floating crane) Kran terapung adalah pesawat bongkar muat yang mempunyai mesin sendiri untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun ada pula jenis dari pesawat ini yang tidak dilengkapi dengan mesin sendiri sehingga untuk berpindah tempat dilakukan dengan ditarik oleh kapal tunda. Pesawat yang tidak dilengkapi dengan mesin sendiri lengannya dipasang mati dan tidak dapat diatur panjang jangkauannya seperti pada kran darat. Kran terapung mempunyai besar kapasitas mulai dari 10 ton, 25 ton, 50 ton, 200 ton atau bahkan lebih. Dengan pengangkutan muatan berat tersebut dilakukan dengan menggunakan derek kapal dapat menyebabkan bahaya akan stabilitas kapal, sedang jika dengan menggunkan kran darat dapat menimbulkan tekanan yang terlalu besar pada lantai dermaga. Untuk kran terapung tidak tersedia di Pelabuhan Makassar. Alat Pengangkat Muatan di Atas Dermaga Macam-macam alat untuk mengangkat dan mengangkut barang di atas dermaga yaitu antara lain : Fork lift Kran mobil Gerobag yang ditarik traktor Fork lift telah banyak digunakan untuk mengangkat barang dari apron ke gudang laut, serta bisa menumpuknya sampai pada ketinggian 6 m. Penumpukan barang dapat memungkinkan penggunaan ruangan lebih efisien. Selain fork lift, kran mobil dengan roda dari ban mobil/truk yang telah dilengkapi dengan derek yang bisa diatur panjang lengannya secara hidrolis banyak digunakan pada dermaga dan dapat beroperasi pada ruang yang sempit. Gerobak yang ditarik traktor berguna untuk mengangkut barang campuran yang terdiri dari bungkusanbungkusan kecil yang dikirim ke alamat yang berbeda. Sabuk berjalan digunakan untuk mengangkut barang dalam bentuk satuan secara horisontal untuk jarak yang pendek. Gerobag digunakan apabila jarak antara tempat penyimpanan barang dari kapal ke gudang cukup jauh.

BAB III TERMINAL BARANG CURAH (BULK CARGO TERMINAL)


Yang merupakan muatan barang curah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : Muatan barang lepas berupa hasil tambang, contohnya seperti batu bara, biji besi, bouxit, dan hasil pertanian seperti beras, gula, jagung, dan sebagainya. Muatan cairan yang diangkut oleh kapal tangki, contohnya seperti minyak bumi, minyak kelapa sawit, bahan kimia cair dan sebagainya. Pada terminal muatan curah harus dilengkapi dengan tempat penyimpanan barang karena barang muatannya berupa cairan dan biji-bijian serta hasil tambang. Fasilitas penyimpanan barang tergantung dari jenis barang muatannya, untuk itu tempat penyimpanannya bisa berupa lapangan terbuka untuk menimbun batu bara, biji-biji besi dan bouxit, ada juga berupa tangki-tangki untuk minyak, silo atau gudang untuk material yang memerlukan perlindungan terhadap cuaca. Untuk lebih ekonomis barang curah harus ditangani dengan menggunakan belt conveyor atau bucket elevator atau kombinasi dari kedua alat tersebut. Barang cair dapat diangkut dengan menggunakan pompa. Sedangkan barang bubuk diangkut dengan mengunakan alat penghisap. Namun pada pelabuhan Makassar fasilitas untuk barang curah tidak ada atau tidak tersedia. Belt conveyor adalah alat paling serbaguna yang dapat mengangkut berbagai jenis barang berbentuk bubuk, butiran, dan kental. Alat tersebut dapat mengangkat material dalam jumlah banyak untuk jarak yang cukup jauh. Bucket elevator mengangkut material secara vertikal atau yang mempunyai kemiringan besar. Pengunanan bucket elevator biasanya untuk mengisi gudang. Kran yang bergerak di sepanjang dermaga dengan menggunakan rel banyak juga digunakan untuk bongkar muat barang curah. Pada kran ini digantungkan ember yang dapat digerakan naik turun, ke depan dan ke belakang. Terminal barang tambang (batu bara, biji besi, bouxit) Terminal untuk barang curah hasil tambang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu terminal untuk pemuatan dan pembongkaran. Operasi pemuatan curah ke kepal (eksport) berbeda dengan pemuatan dari kapal (import). Terminal pemuatan berada di daerah penghasil barang tambang yang mengirim muatan ke daerah yang membutuhkan. Terminal muatan curah untuk kapal-kapal besar dibuat tanpa mengunakan dermaga. Dalam hal ini kapal ditambatkan di lepas pantai dengan menggunakan pelampung penambat atau jangkar, dan bongkar muat dilakukan dengan penggunaan pipa atau alat pembawa lainnya seperti belt conveyor. Untuk terminal pembongkaran dilengkapi dengan kran yang terletak sepanjang dermaga dengan menggunakan rel. Pada kran tersebut akan digantungkan ember yang dapat dinaik 7

turunkan di kapal untuk mengeruk muatan. Kemudian hasil dari ember tersebut akan dituangkan ke lapangan penimbunan,atau langsung ke alat pengangkut di darat. Terminal muatan biji-bijian Untuk biji-bijian seperti beras, tepung, gula dan sebagainya, bongkar muat barang dapat dilakukan dengan menggunakan alat khusus yakni berupa suatu penghisap atau dengan elevator. Muatan tersebut kemudian disimpan di dalam silo, yaitu suatu tabung besar yang tinggi dan terbuat dari beton. Silo ini kemudian dihubungkan dengan peralatan yang ada di dermaga dengan menggunakan belt conveyor atau bucket elevator. Dari silo ini muatan akan dipindahkan ke truk atau gerbong kereta api. Terminal minyak Pada umumnya fasilitas penambatan berupa jetty menjorok ke laut yang dilengkapi dengan dolphin penahan dan dolphin penambat. Bongkar muat banyak dilakukan dengan menggunakan tenaga pompa melalui pipa-pipa yang sudah dipasang pada jetty, dan menghubungkan kapal dengan tangki penyimpanan. Tangki ini terbuat dari baja dan dapat di bangun diatas tanah, maupun di bawah tanah. Untuk kapal tangker raksasa yang mempunyai draft besar sehingga tidak bisa masuk ke pelabuhan yang ada,maka penambatan dilakukan di lepas pantai. Bongkar muat muatan dilakukan dengan menggunakan pipa bawah laut dan memindahkan muatan ke dalam kapal yang lebih kecil, kemudian membawanya ke pelabuhan.

BAB IV TERMINAL PETI KEMAS


Telah banyak jasa pengiriman yang telah menggunakan peti kemas untuk memuat barang-barang yang tidak dapat dikirim dengan jasa pengiriman yang lain, sehingga volume untuk pengguna peti kemas dari tahun ke tahun terus meningkat. Ada beberapa pelabuhan terkemuka sudah mempunyai fasilitas-fasilitas pendukung seperti mempunyai terminal untuk peti kemas, antara lain; Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Mas, Tanjung PeraK, Belawan dan Makassar. Pengangkutan dengan menggunakan peti kemas memungkinkan agar barang yang digabung dalam satu peti kemas dapat di bongkar secara bersamaan sehingga aktivitas bongkar muat bisa menjadi lebih mudah dan menghemat waktu pengerjaan. Macam-macam jenis peti kemas tergantung dari tipe muatan yang diangkut, seperti Dry cargo container digunakan untuk mengangkut barang potongan kering yang tidak memerlukan perlakuan khusus dan khusus melayani barang eksport, sedangkan untuk Reefer container digunakan untuk mengangkut barang yang dikapalkan dalam keadaan dingin atau beku seperti daging atau ikan sehingga peti kemas dilengkapi dengan mesin pendingin, sedangkan untuk Bulk container digunakan untuk mengangkut muatan curah seperti beras, gandum, dll. Bukan saja jenis peti kemas yang mempunyai tipe tetapi pengiriman dengan menggunakan peti kemas juga dibedakan menjadi dua macam yaitu : Full Container Load (FCL) dan Less than Container Load (LCL). Pada FCL seluruh isi peti kemas milik seorang pengirim atau penerima muatan, sedangkan dalam LCL peti kemas berisi beberapa pengiriman yang masing-masing pengiriman terdiri dari sejumlah muatan yang volumenya kurang dari satu peti kemas. Pengangkutan dengan peti kemas memungkinkan diterapkannya pengangkutan intermodal dari pintu ke pintu (door to door), yaitu pengangkutan yang berlangsung dari pintu gudang. Eksportir dan importir hanya berhubungan dengan satu perusahaan tanpa mengingat bahwa pengangkutan barang yang dilakukan oleh lebih dari satu perusahaan pelayaran. Di negara yang sudah mengalami kemajuan, pemeriksaan pabean dilakukan pada saat barang dimasukkan dalam peti kemas di gudang eksportir dan pada waktu pembongkaran barang di gudang importir, sehingga proses pengangkutan peti kemas menjadi lancar dan cepat namun beda halnya dengan negara Indonesia hal seperti itu belum bisa dilakukan karena berbagai hambatan administratif, psikologis dan mental, oleh karena itu pengiriman door to door dari Indonesia dan ke Indonesia tetap mengalami pemeriksaan pabean di pelabuhan.

Penanganan Peti Kemas


Penanganan bongkar muat di terminal peti kemas di bedakan menjadi 2 macam yaitu : Metode lift on/lift off dan metode roll on/roll off. Penanganan dengan menggunakan metode lift on / lift off adalah : 9

Bongkar muat dilakukan menggunakan peralatan (gantry crane) yang berupa crane raksasa dan dipasang diatas rel disepanjang dermaga untuk bongkar muat peti kemas dari dan ke kapal. Ada 3 macam komponen kegiatan yang sangat penting yang berkaitan dengan terminal peti kemas, yaitu : Stevedoring adalah kegiatan pembongkaran barang dari kapal dan ke kapal dengan menggunakan peralatan mekanis, non mekanis dan moda transportasi pendukungnya. Cargodoring adalah kegiatan mengeluarkan barang dari dermaga dan mengangkut dari dermaga kelapangan penumpukan barang di gudang / lapangan penumpukan dan sebaliknya. Delivery adalah kegiatan yang dilakukan dari lapangan penumpukan ke luar yang meliputi penerimaan kwitansi pembayaran dan pemberian surat jalan keluar dari pelabuhan kepada shipper / consignee. Pada umumnya penanganan peti kemas di lapangan penumpukan (contrainer yard) dapat dilakukan dengan menggunakan sistem berikut ini : 1. Forklift truck, reach stacker dan side loader yang dapat mengangkat peti kemas dan menumpuknya sampai enam tingkat; 2. Straddle carrier yang dapat menumpuk peti kemas dalam dua atau tiga tingkat; 3. Rubber tyre gantry (RTG) atau transteiner yaitu kran peti kemas yang berbentuk portal beroda karet atau yang dapat berjalan pada rel, yang dapat menumpuk peti kemas sampat empat atau enam tingkat dan dapat mengambil peti tersebut dan menempatkannya di atas gerbong kereta api atau truck trailer; 4. Gabungan dari beberapa sistem tersebut di atas. Sedangkan kalau menggunakan metode roll on / roll off adalah : Peti kemas berada di atas chasis atau trailer yang di tarik dengan traktor untuk masuk ke kapal. Trailer dan peti kemas tersebut kemudian dilepaskan dari traktor dan ditempatkan di atas geladak kapal. Operasi bongkar muat barang tersebut dilakukan secara simultan. Kapal yang mempunyai geladak yang bertingkat biasanya menggunakan metode roll on/roll off dikarenakan truck atau trailer bisa dengan mudahnya masuk-keluar kapal melalui jembatan yang disebut rampa namun pemuatan dengan metode roll on/roll off ini biasanya meyisakan banyak ruang yang kosong dan tidak dimanfaatkan, namun pengoperasian dengan metode ini dapat memuat jenis muatan yang lain seperti tangkitangki besar, mobil dan truck. Kelebihan pengoperasian Ro/Ro adalah dapat memuat jenis muatan lain seperti pipa dan baja dengan ukuran panjang, tangki-tangki besar, mobil, truk, dan sebagainya. Selain itu juga mempunyai tingkat pembongkaran dan pemuatan yang tinggi, serta tidak diperlukan kran-kran darat yang mahal. Kekurangan dari metode Ro/Ro adalah banyaknya ruang kosong yang tidak dimanfaatkan, mengingat peti kemas berada di atas chasis, sehingga mengurangi kapasitas kapal.

10

Fasilitas pada terminal peti kemas


Pada terminal peti kemas ada beberapa fasilitas yang tersedia yang terdapat pada terminal peti kemas dan dapat dilihat dari gambar dibawah ini, adalah :

1. Dermaga Dermaga adalah suatu bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapat dan menambatkan kapal yang melakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang. Dikarenakan terminal peti kemas sangat memerlukan halaman yang luas (biasanyan 10 ha untuk tiap satu tambatan), maka dermaga diharuskan bertipe wharf (dermaga) bukan tipe yang berbentuk pier atau jari. Kapal peti kemas berukuran besar maka dermaga yang dibuatpun harus cukup panjang dan dalam. Panjang dermaga antara 250 m dan 350 m, sedangkan untuk kedalamannya dari 12 m sampai 15 m dan tergantung dari ukuran kapal tersebut. Container crane Transtainer Reach Stacker Top Loader Head TruckChassis (Truck) 2. Apron Apron untuk terminal peti kemas lebih lebar dibandingkan apron untuk terminal lain. Apron pada terminal peti kemas biasanya berukuran 20 meter sampai 50 meter. Pada apron ini ditempatkan peralatan bongkar muat peti kemas seperti gantry crane, rel-rel kereta api, dan jalan truk trailer, serta pengoperasian perlatan bongkar muat peti kemas lainnya. Fasilitas-fasilitas tersebut memberikan beban yang sangat berat, sehingga perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan dermaga.

11

3. Marshaling yard (lapangan penumpukan sementara) Marshaling yard adalah lapangan yang digunakan untuk menempatkan peti kemas dan akan dimuat ke dalam kapal. Lapangan ini letaknya berada didekat apron untuk memudahkan pengangkatan peti kemas. 4. Container yard (lapangan penumpukan peti kemas) Container yard adalah lapangan penumpukan peti kemas yang berisi muatan barang yang akan dikirim atau diterima oleh suatu badan usaha, baik yang kosong maupun terisi dengan barang muatan FCL. Penumpukan peti kemas dapat dilakukan sampai tiga tingkat namun akibat dari penumpukan itu adanya penambahan waktu penanganan muatan peti kemas dan juga akan mengurangi luas penggunaan dari container yard. Container yard harus memiliki gang-gang baik memanjang maupun melintang untuk beroperasinya peralatan penanganan peti kemas. 5. Container freight station (stasiun peti kemas) Container freight station sama dengan gudang yang disediakan khusus untuk bongkar muat barang-barang import dan diangkut secara LCL. Muatan barang tersebut dikeluarkan dan ditimbun dalam gudang perusahaan pelayaran yang bersangkutan dan peti kemasnya akan dikembalikan ke kapal. 6. Menara Pengawas Menara pengawas gunanya untuk mengawasi, mengatur dan mengarahkan semua kegiatan di dermaga termasuk dalam alur pelayaran melalui sistim navigasinya. 7. Bengkel Pemeliharaan Bengkel pemeliharaan harus dilakukan setelah bongkar muat barang untuk melakukan perawatan dan reparasi peralatan yang digunakan serta memperbaiki peti kemas kosong yang dikembalikan agar tidak cepat rusak. Apabila terjadi kerusakan serta kelambatan perbaikan peralatan dapat mengakibatkan semua kegiatan yang sedang berlangsung dapat tertunda. Bengkel pemeliharaan ini khusus untuk terminal peti kemas. 8. Fasilitas Lain Di terminal peti kemas diperlukan pula beberapa fasilitas umum seperti : tenaga listrik khusus untuk peti kemas berpendingin, suplai bahan bakar, suplai air tawar, instalasi listrik untuk membersihkan peti kemas kosong dan peralatan bongkar muat, listrik bertegangan tinggi untuk mengoperasikan kran.

Sistem penanganan peti kemas di container yard


Berdasarkan mesin penanganan peti kemas yang digunakan pada lapangan penumpukan peti kemas (container yard), sistem penanganan peti kemasnya pun dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu :

12

Sistem chasis Pada sistem ini peti kemas ditaruh diatas chasis dan ditempatkan menuju marshalling yard. Peti kemas dan chasisnya ditarik oleh traktor menuju ke dermaga,dan kemudian gantry crane mengangkat peti kemas dari chasis dan memasukkannya ke dalam kapal. Setelah itu gantry crane mengambil peti kemas yang ada di kapal,lalu meletakkannya diatas chasis yang masih berada di dermaga. Sistem ini baik untuk pengiriman door to door, karena dapat mengurangi kerusakan pada jumlah muatan dan tidak sering diangkat. Namun sistem ini memerlukan lapangan penumpukan yang sangat luas. Sistem fork lift truck Pada sistem ini peti kemas dimuat ke atas tractor-trailer dan dibawa ke dermaga, yang kemudian diangkat oleh quai gantry crane dari tractor-trailer dan dimasukkan ke dalam kapal. Selanjutnya quai gantry crane mengambil peti kemas dari kapal dan menempatkannya di atas tracktor trailer yang masih berada di dermaga, dan membawanya ke contrainer yard. Sistem straddle carrier Pada sistem ini peti kemas ditempatkan diatas tanah yang sudah diberi perkerasan pada marshalling yard. Pengangkatan atau pemindahan dilakukan oleh straddle carrier. Pada saat peti kemas ekspor datang, peti kemas tersebut akan diterima di marshalling yard, dan straddle carrier akan memindahkan dari chasisnya menuju ke tempat penyimpanan diatas tanah atau diatas peti kemas lainnya. Apabila peti kemas akan dikapalkan, straddle carrier akan memindahkan peti kemas pada chasis yang ditarik traktor dan membawanya ke dermaga untuk dinaikkan ke kapal oleh gantry crane Sedangkan apabila peti kemas import yang dibongkar dari dalam kapal, ditempatkan diatas chasis yang selanjutnya ditarik oleh traktor menuju marshalling yard. Apabila peti kemas telah siap untuk dikirim straddle carrier akan menempatkannya diatas truk trailer yang akan membawanya keluar dari pelabuhan. Kelebihan dari sistim ini adalah penyimpanan peti kemas dapat megurangi luas lapangan, sedangkan kekurangan dari sistim ini adalah peti kemas harus diangkut kembali ke trailer sehingga frekuensi pemuatan lebih tinggi. Sistem Transteiner Pada sistim ini transteiner merupakan alat untuk penanganan peti kemas di lapangan penumpukan peti kemas. Pemakaian transteiner memudahkan penyusunan peti kemas dalam enam sampai sembilan baris (plot) dan penumpukan sampai enam tingkat, gang digunakan agar pemakaian lapangan lebih efektif.

13

Standar ukuran peti kemas, standar yang digunakan ditampilkan dalam tabel berikut:

14

LAMPIRAN-LAMPIRAN GAMBAR

15

Gbr.1 Top Loader

Gbr.2 Container Crane

16

Gbr.3 Reach Staker

Gbr. 4 Headtruck dan Chassis

17

Gbr. 5 Side Loader

Gbr. 6 Belt Conveyor

18

Gbr. 7 Derek Kapal

Gbr. 8 Silo Semen

19

Gbr. 9 Transteiner

Gbr. 10 Straddle Carrier

20

Gbr. 11 Container Pendingin

Gbr. 12 Fork lift Battery 2t

21

Gbr. 13 Fork lift 5t

Gbr.14 Clold Storage

22

Gbr.15 Kran Darat

Gbr.16 Kran Terapung

23