Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak.

Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %. Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak, maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis.

B. RUMUSAN MASALAH 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA? Bagaimana Etiologi pada OMA? Bagaimana patofisiologi pada OMA? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA?

C. TUJUAN Tujuan Umum Tujuan khusus : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA

1. Menjelaskan definisi dari penyakit OMA 2. Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA 3. Menjelaskan patofisiologi OMA 4. Menjelaskan manifestasi klinis OMA 5. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA 6. Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA D. MANFAAT Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut 2. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. KONSEP MEDIK


A. DEFINISI Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore,2009 ) Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar, serta gejala penyerta lainnaya tergantung berat ringannya penyakit, antara lain : demam, iritabilitas, letargi, anoreksia, vomiting, bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT, edisi 3 , 2004 )

B. ETIOLOGI 1. Disfungsi atau sumbatan tuba eutachius merupakan penyebab utama dari otitis media yan menyebabkan pertahan tubuh pada silia mukosa tuba eutachius terganggu,sehingga pencegahaan invasi kuman ke dalam telingah tengah juga akan terganggu. 2. ISPA inflamasi jaringan di sekitarnya ( misalnya : sinusitis,hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi(misalkan rhitis alergia). Pada anak-anak sering terserang ISPA ,makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut. Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eutachiusnya pendek,lebar, dan letaknya agak horizontal. 3. Bakteri-bakteri umum yang ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah streptococcus pnemuniae,haemophylus influenza, moraxella catarrhalis, dan bakteri pirogenik lain,seperti streptoccus hemolyticus,staphyloccus aureus, E.colli, pnemuniae vulgaris. 4. Kebiasaan Penggunaan benda keras(jepit rambut/korek api) untuk mengeluarkan kotoran dari dalam telinga.

C. PATOFISIOLOGI Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi

pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. Otitis media akut yang berlansung selama lebih dari 2 bulan dapat berkemban menjadi otitis media supuratif kronis apabila factor higine kurang diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanya daya tahan tubuh yang kurang baik.

D. MANIFESTASI KLINIS Gejala klinis OMA secara umum : 1. Biasanya gejala awal berupa sakit telingah tengah yang berat dan menetap. 2. Biasa tergantung gangguan pendengaran yang bersifat sementara. 3. Pada anak kecil dan bayi dapat mulai muntah,dan demam sampai 39,50c, gelisah, susah tidur,kejang,memengang telinga yang sakit. 4. Gendang telinga mengalami peradangan yang menonjol. 5. Keluar cairan yang awalnya mengandung darah lalu berubah menjadi cairan jernih dan akhirnya berupah nanah(jika gendang telinga robek). 6. Membrane timpani merah,sering menonjol tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat. 7. Keluhan nyeri telinga(otalgia), atau rewel dan menarik-narik telinga pada anak yang belum dapat berbicara. 8. Anoreksia(umum). 9. Limfadonepati servikal anterior.

Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. 5. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit.

E. KOMPLIKASI Komplikasi yang serius adalah: Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler) Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) Abses Otak

Tanda-tanda terjadinya komplikasi: Sakit kepala Tuli yang terjadi secara mendadak Vertigo (perasaan berputar) Demam dan menggigil.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar 2. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpany 3. Kultur dan uji sensitifitas: dilakukan bila dilakukan timpanosesntesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani) G. PENATALAKSANAAN Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman 2. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di
5

dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 3. Stadium Supurasi Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 4. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 5. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak 3. mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 4. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut:

Usia

Diagnosis pasti

Diagnosis meragukan

< 6 bln 6 bln 2 th

Antibiotik Antibiotik

Antibiotik Antibiotik jika gejala


6

berat, observasi jika gejala ringan 2 thn Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang berat atau demam 39C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. Untuk dapat memilih observasi, followup harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi.

Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir.

WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg.

AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis
7

standar di Amerika Serikat. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik.

Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya:

Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate. Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin. Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazoletrimethoprim. Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri, memiliki risiko yang lebih besar. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. Pada usia enam tahun ke atas, pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Di Inggris, anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari.
8

Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. b.

Pemberian Analgesia/pereda nyeri Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen.

Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna.

c.

Obat lain Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak.

Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.

Cairan yang keluar harus dikultur. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup.

II. KONSEP KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN

KASUS An. K berusia 12 tahun masuk di ruang perawatan THT dengan keluhan keluar cairan putih dari telinga kanan yang disertai dengan demam dan nyeri telinga . Orang tua pasien mengatakan anaknya memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang dan dua hari terakhir tiba-tiba keluar cairan bening dari telinga kiri dengan konsistensi kenyal. berdasarkan hasil pemeriksaan fisik , didapatkan nyeri pada pergerakan aurikula , terdapat edema dan serumen kental pada MAE serta terdapat perforasi pada membrane timpani telinga kanan , tes rinne (-) ,tes weber : lateralisasi kekanan , dan pada tes bisik , pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah . TTV : 120/80mmHg , N : 110x / menit , P : 20x/menit , S : 39C. keluarga pasien mengatakan harus bebicara dengan nada tinggi pada klien , karena klien kadang tidak nyambung bila diajak berbicara dengan suara yang rendah . Klien merasa cemas, menarik dan malu pada lingkungan karena penyakitnya menimbulkan bau.

1. Biodata Nama Umur : An.K : 10 Thn

Jenis kelamin :Laki-laki 2. Keadaan Umum a. Tanda tanada Vital 1) Tekanan Darah :120/80 2) NAdi 3) Pernafasan 4) Suhu 3. Pola kesehatan a. Pola Presepsi dan Pemeliharaan Kesehatan 1) Keluhan Utama : Nyeri pada telinga 2) Riwayat penyakit sekarang : keluar cairan putih ditelinga kanan klien disertai dengan demam dan nyeri pada telinga. 3) Riwayat penyakit dahulu : orant tua pasien mengatakan anaknya memiliki riwayat batuk dan pilek yang sering berulang. : 110x/menit : 20x/menit : 39oC

10

4) Riwayat kesehatan keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita atau mengalami gangguan pengdengaran dan penyakit turunan. b. Pola Aktivitas Dan Latihan 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan sebelum sakit pasien selalu berolahraga/bermain di luar rumah bersama dengan teman-temanya dan setiap hari pasien selalu pergi ke sekolah 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan sejak sakit pasien jarang bermain diluar rumah dan jarang masuk sekolah. Pasien selalu diantar oleh orang tuanya bila ke sekolah. c. Pola Tidur dan Istirahat 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan tidur siang selama 1 jam/hari dan tidur malam 8 jam/hari. Pasien mengatakan sebelum tidur biasanya nonton televisi terlebih dahulu. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak seperti sebelumnya dikarenakan nyeri pada telinganya disertai flu dan batuk yang selalu menyerangnya. d. Pola presepsi dan Kognitif 1) Sebelum sakit Pasien mengatakan sebelum sakit tidak mengalami gangguan pendengaran maupun penglihatan 2) Sejak sakit Pasien mengatakan sejak sakit Pasien tidak mampu mendengar suara yang rendah dan sering tidak nyambung saat di ajak bicara. Tanpak ada nanah ditelinga pasien e. Pola konsep diri 1) Sejak sakit Pasien mengatakan sejak sakit pasien malu dengan orang disekitarnya dikarenakan telinga pasien mengeluarkan cairan yang berbau dan pasien tidak mampu mendengar pembicaraan yang berfrekuensi rendah.

f. Pola mekanisme koping dan stress


11

1)keadaan sejak sakit : Pasien tampak gelisah dan sedih dikarenakan nyeri pada telinganya dan pasien tampak bertanya-tanya pada orang tua dan perawat tentang penyakitnya

PEMERIKSAAN FISIK. PENDENGARAN 1) Membrane tympany : terdapat perforasi di telinga kanan 2) Tes rinne : (-) 3) Tes webber : laterisasi kanan 4) Tes bisik : pasien tidak dapat mendengarkan suara berfrekuensi rendah 5) Nyeri pada aurikula

UJI SARAF KRANIAL 1) N VIII : tidak berfungsi dengan baik

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Nyeri b/d Proses inflamasi pada jaringan telinga tengah 2) Gangguan komunikasi b/d Efek kehilangan pendengaran 3) Resiko tinggi cedera b/d vertigo 4) Cemas b/d nyeri yang semakin memberat

D. INTERVENSI DAN RASIONAL 1) Nyeri b/d Proses inflamasi pada jaringan telinga tengah Tujuan : Penurunan rasa nyeri

Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang, klien mampu melakukan metode pengalihan suasana a. Intervensi : selidiki keluhan nyeri,perhatikan lokasi, intensitas(skala 0/10 ) dan

factor pemberat atau penghilang rasional : membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi

keefektifan analgesic. b. Intervensi : Alihkan perhatian klien dengan menggunakan teknik-teknik relaksasi, relaksasi seperti menerik nafas panjang.

12

Rasional

: Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien.

c. Intervensi Rasional d. Intervensi Rasional

: Atur posisi klien : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman. : beri informasi kepada klien dan keluarga tentang nyeri yang dirasakan. : informasi yang cukup dapat menurangi kecemasan yang dirasakan oleh

klien dan keluarga

e. Intervensi : Kolaborasi, beri analgesik sesuai indikasi f. Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam. 2) Gangguan komunikasi b/d Efek kehilangan pendengaran. Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang

Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ), menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi : Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan, berbicara, bahasa isyarat. Rasional : Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien Intervensi : Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. a. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik - Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu - Dekati klien dari sisi telinga yang baik b. Jika klien dapat membaca ucapan:

13

- Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas - Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien - Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis - Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien. Intervensi : Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a. Bicara dengan jelas menghadap individu b. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat. 3) Resiko tinggi cedera b/d Vertigo Tujuan : Resiko cedera tidak terjadi
14

Kriteria hasil

: Klien bisa dari cedera yang berkaitan dengan ketidakseimbangan dan/atau jatuh.

Intervensi

: Ajarkan atau tekankan terapi vestibuler/keseimbangan sesuai ketentuan.

Rasional

: Latihan mempercepat kompensasi labirintin, yang dapat mengurangi vertigo dan gangguan cara jalan.

Intervensi

: Berikan atau ajari cara pemberian, obat antivertigo dan/atau obat penenang vestibuler; beri petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.

Rasional Intervensi

: Menghilangkan gejala akut vertigo : Dorong pasien unutk berbaring bila merasa pusing; dengan pagar tempat tidur dinaikkan.

Rasional

: Mengurangi kemungkinan jatuh dan cedera.

4) Cemas b/d nyeri yang semakin memberat Tujuan : Rasa Cemas klien akan berkurang/hilang.

Criteria hasil : klien mampu mengungkapkan ketakutan / kekawatirannya. Respon klien tampak tersenyum a. Intervensi : berikan informasi kepada klien seputar kondisinya dan gangguan yang di alaminya Rasional :menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus,sehingga dapat mengurangi cemasnya. b. Intervensi :diskusikan dengan klien mengenai kemungkinan kemajuan dan fungsi

pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi. Rasional :harapan-harapan yang tidak realistis tidak dapat mengurangi

kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakpercayaan klien terhadap perawat. c. Intervensi : berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah mengalami

gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien.

15

Rasional

: memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yang paling

tepat untuk kehidupannya sehari-hari disesuaikan dengan tingkat keterampilannya sehingga mengurangi rasa cemas dan frustasinya. d. Intervensi :berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia

yang dapat membantu klien. Rasional : dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama

akan sangat membantu klien.

E. EVALUASI Nyeri teratasi Pasien mampu berkomunikasi dengan baik Vertigo pasien teratasi Pasien mengerti dan memahami tentang penyakitnya.

F. DISCHARGE PLEANNIG Karena OMA lebih sering terjadi pada anak-anak dan sering terjadi berulang maka perawat sebagai Community Organizing memberikan penyuluhan yang berhubungan dengan penyakit OMA. Beberapa hal yang dapat megurangi risiko OMA yaitu:

Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak Pemberian ASI minimal selama 6 bulan Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring Penghindaran pajanan terhadap asap rokok. Penghindaran pengeluaran mucus (ingus) dengan paksaan/tekanan yang berlebihan. Jangan mengorek-ngorek liang telinga terlalu kasar karena dapat merobek membran timpani Jika ada benda asing yang masuk, datanglah ke dokter untuk meminimalisasi kerusakan telinga yang terjadi Jauhkan telinga dari suara keras Menonton televise dan mendengarkan musik dengan volume normal Lindungi telinga selama penerbangan Mengunyah permen karet ketika pesawat berangkat dan mendarat dapat mencegah terjadinya perforasi membran timpani

16

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Dalam kasus ini , pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis. Akan tetapi, karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media, maka pasien akan mengalami otitis meda akut. Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani.

B. SARAN Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat.

17