Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Trauma mata merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Meskipun termasuk kasus yang masih dapat dicegah, trauma mata tetapi menjadi salah satu penyebab mortilitas, morbiditas dan disability. Dalam kenyataannya, trauma mata menjadi kasus tertinggi penyebab kebutaan unilateral di seluruh dunia terutama pada anak dan dewasa muda. Dewasa muda terutama laki-laki merupakan kelompok yang kemungkinan besar mengalami trauma mata. Tetapi, lebih banyak usaha dan rujukan dilakukan secara klinis atau penanganan bedah suatu trauma mata dibandingkan dengan usaha pencegahannya sehinggakan penyebab trauma mata dianggap sebagai suatu kecelakaan diluar kawalan pasien dan bukan suatu masalah masyarakat. Walaupun mata mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari sunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberi penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan.

Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. Pada mata dapat terjadi trauma dalam bentuk-bentuk berikut : 1. Trauma tumpul 2. Trauma tembus bola mata 3. Trauma kimia 4. Trauma radiasi

B. Rumusan Masalah Berdasarkan hal tersebut diatas, perumusan masalah yang dapat dibuat yaitu Bagaimana pelaksanaan Asuhan Keperawatan Gawat Darurat dengan diagnosa medis Trauma Mata ?

C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi : 1. Tujuan Umum. Mengetahui dan mendapatkan gambaran mengenai Asuhan Keperawatan Gawat Darurat dengan diagnose medis Trauma Mata yang meliputi :

a. b. c. d. e. f.

Pengkajian, analisa data yang ditemukan. Menyusun diagnosa keperawatan yang muncul. Menyusun rencana Asuhan Keperawatan Melaksanakan intervensi keperawatan Melakukan evaluasi dari Asuhan Keperawatan yang diberikan. Melakukan pendokumentasian.

2. Tujuan Khusus. Memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat darurat pada program Studi S-1 Keperawatan Semester VII Stikes Mahardika Cirebon

D. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan adalah metode studi kepustakaan. Dengan cara menggunakan bahan yang ada kaitanya dengan judul makalah ini berupa bukubuku baik dari segi medis maupun dari sumber keperawatan, diklat dan lain-lain yang dapat mendukung teori yang ada.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI Trauma oftalmik / trauma mata merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan unilateral pada orang muda. Sering terjadi akibat kecelakaan did an sekitar rumah, ledakan baterai, tabrakan kendaraan bermotor atau cidera oalh raga. Trauma mata bersamaan dengan trauma multiple tidak jarang terjadi.

B. EPIDEMIOLOGI

Benda asing intraokular merupakan penyebab pada 20-40 % cedera tembus mata. Komposisi benda asing yang biasanya didapatkan adalah logam, dan menurut laporan yang ada kecenderungannya berkisar antara 86 % sampai 96
4

%. Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada 297 pasien yang terkena benda asing intraokular, 98 % pasiennya adalah laki-laki, dan 80 % dari kecelakaan yang terjadi adalah saat menggunakan palu. Menurut United States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di Amerika Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun. C. ANATOMI Lapisan bola mata, Tunicae Bulbi dibungkus oleh 3 jaringan, yaitu : 1. Lapisan mata luar, Tunika fibrosa bulbi a. b. Lapisan tanduk, cornea (sangat melengkung, jernih seperti kaca) Jaringan kulit, sklera (sedikit melengkung, tidak tembus pandang,

pada anak-anak putih kebiruan, pada orang dewasa putih kekuningan). Sklera merupakan jaringan ikat kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. 2. Lapisan mata tengah, tunica vasculosa bulbi Jaringan uvea merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki oleh darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan subrakkoroid.
5

Jaringan uvea terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar yang masuk ke dalam boila mata. Otot dilator dipersarafi oleh parasimpatis, sedang sfingter iris dan otot siliar dipersarafi parasimpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera. Lapisan pelangi iris, dengan bukaan bulat sentral, disebut pupil/ Pupilla Badan siliar, Corpus ciliare, dengan M.ciliare, Proc.ciliaris, Zonula ciliaris dengan Fibrae Zonulares dan Spatia Zonularia. Lapisan yang kaya akan pembuluh darah, Choroidea 3. Lapisan mata dalam (retina), tunica interna bulbi Lapisan ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. a. Bintik buta, Pars caeca retina (dari Margo pupillaris iridis sampai

dengan Ora serrata) b. Pars iridica retinae (satu lapis, pigmentasi kuat)

c. d.

Pars ciliaris retinae (satu lapis, tidak berpigmentasi) Bagian untuk penglihatan, Pars optica retinae (berlapis banyak)

D. ETIOLOGI Beberapa keadaan yang bisa menyebabkan terjadinya trauma mata antara lain : kecelakaan penerbangan, kekerasan dalam tindak kejahatan, ledakan, cedera olahraga, dan juga kecelakaan kendaraan bermotor. Selain itu beberapa keadaan yang juga bisa menyebabkan cedera mata antara lain : 1. Benda asing yang menempel di bawah kelopak mata atas atau pada permukaan mata, terutama pada kornea.
2.

Trauma tumpul akibat objek yang cukup kecil dan tidak menyebabkan impaksi pada pinggir orbita (kok, bola squash, sumbat botol sampanye merupakan beberapa penyebab trauma). Perubahan tekanan mendadak dan distorsi bola mata dapat menyebabkan kerusakan berat.

3.

Trauma tembus dimana struktur okular mengalami kerusakan akibat benda asing yang menembus lapisan okular dan juga tertahan dalam mata. Penggunaan sabuk pengaman dalam kendaraan menurunkan insidensi cedera tembus akibat kecelakaan lalu lintas.

4.

Trauma kimia/ luka bakar kimia dan radiasi dimana reaksi resultan jaringan okular menyebabkan kerusakan.

Masuknya benda asing (logam, debu, kayu, bahan tumbuhan, kaca, dan bahkan bulu serangga) ke dalam kornea dapat terjadi saat memukulkan logam atau batu, tertiup ke mata oleh angin dan juga lewat cara-cara lain yang tidak lazim. Biasanya ukuran benda asing itu kecil, terdapat sisi yang tajam, dan dengan kecepatan yang tinggi. Hal ini dapat terjadi saat memukulkan logam ke logam, memahat ataupun mengoperasikan bor logam. Benda kecil dengan kecepatan tinggi yang masuk ke mata biasanya mengakibatkan kerusakan minimal dari jaringan sekitar. Seringkali, luka di kornea atau antara kornea dan slera bisa menutup sendiri. Tempat akhir dari benda asing didalam mata dan juga kerusakan yang ditimbulkan olehnya ditentukan oleh beberapa faktor antara lain ukuran, bentuk dan juga momentum saat terjadi benturan, serta seberapa dalam penetrasinya di bola mata. 1. Benda Asing . Cedera mata yang paling sering mengenai sklera, kornea dan konjungtiva disebabkan oleh benda asing. Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa berakibat serius (misalnya luka tembus pada kornea atau infeksi akibat sayatan maupun cakaran pada kornea) Penyebab tersering dari cedera pada permukaan mata adalah lensa kontak. Lensa yang tidak terpasang dengan benar, lensa yang terpasang terlalu lama, lensa yang tidak dilepas ketika tidur, lensa yang tidak dibersihkan dan melepaskan lensa dengan sekuat tenaga bisa menimbulkan goresan pada permukaan mata.
8

Setiap cedera pada permukaan mata biasanya menyebabkan nyeri dan menimbulkan perasaan ada sesuatu di mata. Gejala lainnya adalah kepekaan terhadap cahaya, mata merah, perdarahan dari pembuluh darah pada permukaan mata atau pembengkakan mata dan kelopak mata. Penglihatan bisa menjadi kabur. Benda asing di mata harus dikeluarkan. Agar benda asing terlihat lebih jelas dan untuk melihat adanya goresan pada permukaan mata, bisa diberikan obat tetes mata khusus yang mengandung zat warna fluoresensi. Kemudian diberikan tetes mata yang mengandung obat bius untuk mematikan rasa di permukaan mata. Dengan menggunakan alat penerangan khusus, benda tersebut bisa dibuang oleh dokter. Benda asing seringkali bisa diambil dengan menggunakan kapas steril yang lembab atau kadang dengan mengguyur mata dengan air yang steril./ irigasi (hati-hati jangan sampai menyentuh kornea) Jika benda asing menyebabkan goresan kecil pada permukaan kornea, diberikan salep antibiotik selama beberapa hari.
2.

Luka Bakar Jika terkena panas atau bahan kimia yang kuat, kelopak mata akan segera menutup sebagai reaksi refleks untuk melindungi mata dari luka bakar. Karena itu hanya kelopak mata yang mungkin mengalami luka bakar, meskipun panas yang hebat juga bisa menyebabkan luka bakar pada mata.

Beratnya cedera, hebatnya nyeri dan gambaran kelopak mata tergantung kepada dalamnya luka bakar. Luka bakar karena bahan kimia bisa terjadi jika suatu bahan iritatif masuk ke dalam mata. Bahan iritatif ringanpun bisa menyebabkan nyeri dan kerusakan pada mata. Karena nyerinya hebat maka penderita cenderung menutup kelopak matanya sehingga bahan kimia berada lebih lama di dalam mata.

Untuk mengobati luka bakar pada kelopak mata, daerah yang terkena dicuci dengan larutan steril dan diolesi dengan salep antibiotik atau kasa yang mengandung jeli petroleum. Setelah itu luka dibungkus dengan verban steril. Luka bakar karena bahan kimia pada mata segera diatasi dengan mengucurkan air pada mata yang terkena supaya bahan kimia segera terbuang dengan bantuan aliran air. Setelah itu diberikan obat tetes mata yang mengandung obat bius dan obat untuk melebarkan pupil. Antibiotik diberikan dalam bentuk salep. Bisa juga diberikan obat pereda nyeri per-oral. Luka bakar yang hebat harus ditangani oleh spesialis mata guna mempertahankan fungsi penglihatan dan mencegah komplikasi (kerusakan iris, perforasi mata dan kelainan bentuk kelopak mata). Meskipun telah dilakukan pengobatan terbaik, luka bakar hebat pada kornea bisa menyebabkan pembentukan jaringan paru, perforasi mata dan kebutaan.
10

3.

Abrasi Kornea Abrasi Kornea adalah keadaan dimana epitel dari kornea terlepas yang bisa diakibatkan oleh trauma tumpul, trauma tajam dan trauma kimia dan juga benda asing subtarsal. Abrasi kornea bisa berulang dan menyebabkan rasa sakit yang hebat, dimana abrasi kornea merupakan suatu

kegawatdaruratan pada mata yang bisa menyebabkan ulserasi dan oedema kornea yang akan menganggu visus. Diagnosis bisa ditunjang dengan uji flourosensi dimana akan terlihat warna hijau bila terjadi kerusakan pada epitel kornea. Abrasi dapat terjadi pada berbagai lapisan, Manifestasi klinis pasien biasanya mengeluh nyeri mendadak sangat intensif, fotofobia, sensasi benda asing dan air mata berlebihan. Visus mungkin menurun, bergantung pada tempat lesinya. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah pemberian antibiotik topikal dan midriatikum untuk merelaksasi iris, dan anestesi local untuk mengurangi rasa sakit. Pastikan juga tidak terdapat benda asing yang dapat menganggu proses penyembuhan. Masa penyembuhan tergantung pada luasnya kerusakan, dan juga adakah infeksi, benda asing dan mata kering yang bisa menyebabkan kegagalan terapi. Mata kemudian di tutup dengan penutup yang membuat pasien merasa lebih nyaman, dan tirah baring selama 24 jam diindikasikan pada abrasi yang ekstensif. Bila lapisan bagian bawah

11

kornea tidak terkena, dapat terjadi penyembuhan tanpa parut biasanya bila terjadi dalam waktu 1-2 hari, sedangkan bila kerusakan sudah mencapai stroma akan terdapat jaringan parut permanen yang mengganggu visus. 4. Trauma Tumpul Mata a. Hifema Hifema adalah adanya darah di dalam kamera okuli anterior atau bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan dalam cairan aqueus humor biasanya terlihat dengan mata telanjang. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat mengumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Adanya darah yang terdapat di bilik mata depan dapat menurunkan penglihatan. Hifema dibagi menjadi beberapa grade menurut Sheppard berdasarkan tampilan klinisnya:

Grade I:

darah mengisi kurang dari sepertiga COA (58%)

Grade II: darah mengisi sepertiga hingga setengah COA (20%) Grade III: darah mengisi hampir total COA (14%) Grade IV: darah memenuhi seluruh COA (8%)

12

Hifema yang terjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekan-robekan jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. Jaringan tersebut mengandung banyak pembuluh darah, sehingga akan

menimbulkan perdarahan. Perdarahan di dalam bola mata yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. Timbunan darah ini karena gaya berat akan berada di bagian terendah. Akibat langsung terjadinya hifema adalah penurunan visus karena darah mengganggu media refraksi. Darah yang mengisi kamera okuli ini secara langsung dapat mengakibatkan tekanan intraokuler meningkat akibat bertambahnya isi kamera anterior oleh darah. Kenaikan tekanan intraokuler ini disebut glaukoma sekunder. Glaukoma sekunder juga dapat terjadi akibat massa darah yang menyumbat jaringan trabekulum yang berfungsi membuang humor aqueous yang berada di kamera anterior. Selain itu akibat darah yang lama berada di kamera anterior akan mengakibatkan pewarnaan darah pada dinding kornea dan kerusakan jaringan kornea. Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan mata yang berair. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Terdapat penumpukan darah yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan. Selain itu, dapat terjadi peningkatan tekanan intra okular,

13

sebuah keadaan yang harus diperhatikan untuk menghindari terjadinya glaukoma. Terdapat pula tanda dan gejala yang relative jarang: penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan sukar melihat dekat. Penatalaksanaan hifema tanpa komplikasi glaukoma dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 45 derajat pada kepala dan mata ditutup (bukan dibebat tekan). Pada penderita yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Biasanya hifema akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari (4-7 hari) tergantung dari banyaknya darah. Selama perawatan harus dimonitor tekanan intra okuler untuk mencegah terjadinya glaukoma. Obat-obatan untuk mengurangi tekanan intraokuler golongan penghambat anhidrase karbonat misalnya asetasolamida dapat diberikan. Prinsip penanganan adalah untuk mencegah perdarahan ulang dan mencegah tekanan intra okuler yang tinggi. Pada hifema yang telah disertai dengan glaukoma, maka penanganannya bertujuan untuk menghentikan perdarahan serta berusaha secepat mungkin menghilangkan darah yang berada di kamera anterior. Untuk menghentikan perdarahan dapat diberikan koagulansia agar darah dapat membeku dengan cepat, dapat pula dengan memperkuat dinding pembuluh darah. Mencegah perdarahan sekunder perlu pula dilakukan.

14

Perdarahan sekunder sering terjadi akibat inflamasi, sehingga pemberian obat anti inflamasi dapat membantu mencegah perdarahan sekunder. b. Ruptur Bola Mata Merupakan kelainan mata yang cukup serius dimana terjadi hilangnya integritas bola mata. Merupakan kedaruratan medis dan memerlukan intervensi bedah segera, karena bila situasinya dapat ditangani dengan segera akan dapat mengembalikan sebagian,, bila tidak seluruh fungsi penglihatan pasien dapat hilang. Manifestasi klnis, dapat jelas terlihat bila terdapat benda asing pada kornea atau struktur anterior lain, atau jelas ada laserasi, tanda lain pupil mengecil, karena iris tertarik ke tempat cidera dan sering menonjol keluar kornea atau sclera. Tampak warna hitam pada koroid akibat robekan sclera. Penatalaksanaan : 1) Jangan membuat bahaya atau cidera lain, dengan meletakkan perisai/mangkuk pada mata dan mencegah tangan pasien untuk menjangkau mata dan jangan melakukan pemeriksaan mata yang dapat memanipulasi mata, jika memang diperlukan pemeriksaan gunakan speculum. Berikan analgetik/ sedasi dan jangan mengambil benda asing yang menusuk mata. 2) Jangan memberi tetes mata, karena dapat berpengaruh kaustik dan
15

iritatif pada bagian dalam mata. 3) Tutup dan lindungi bola mata dan segera hubungi ahli oftalmologi

E. DIAGNOSIS Diagnosis trauma mata ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang. Walaupun begitu, trauma mata jarang mengancam nyawa dan penanganan haruslah diprioritaskan ke trauma lain yang lebih mengancam nyawa. 1. Anamnesis Pada anamnesis perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba-tiba. Harus dicurigai adanya benda asing apabila ada riwayat pemakaian palu, pahat, ataupun ledakan, dan harus dipertimbangkan untuk melakukan pencitraan. Pemakaian palu dan pahat dapat melepaskan serpihan-serpihan logam yang akan menembus bola mata, dan hanya meninggalkan petunjuk perdarahan subkonjungtiva yang

mengindikasikan adanya penetrasi sklera dan benda asing yang tertinggal. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma, namun gejala ringan dapat menyamarkan benda asing intraokular yang berpotensi membutakan. Anamnesis tentang ketajaman visus sebelum trauma dan riwayat penyakit mata atau operasi mata amat membantu dalam mendiagnosis suatu trauma
16

mata. Riwayat penyakit sistemik, pengambilan obat-obatan, riwayat alergi, suntikan imunisasi tetanus dan pengambilan oral terakhir perlu ditanyakan sebagai kemungkinan persetujuan tindakan operasi 2. Pemeriksaan fisis Sebisa mungkin dilakukan pemeriksaan mata lengkap termasuk

pemeriksaan visus, reaksi pupil, lapangan pandang, pergerakan otot-otot ekstraokular, tekanan intraokular, pemeriksaan slit lamp, funduskopi dan lainlain. Setiap laserasi kelopak mata yang letaknya di kantus medialis hendaknya dipertimbangkan kemungkinan terlibatnya sistem lakrimasi sehingga terbukti tidak. Bila ada kecurigaan adanya laserasi, cidera tembus, atau rupture bola mata, baik akibat mekanisme cidera ataupun adanya bukti trauma eksternal, jangan sekali-kali melakukan penekanan pada bola mata. Karena tekanan dapat mengakibatkan ekstrusi isi intra okuler dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Robeknya kelopak mata diatasi dengan meletakkan ibu jari dan jari telunjuk pada batas atas dan batas bawah orbita. Selain itu pasien diingatkan untuk tidak menutup mata. Tanda kemungkinan adanya cidera pada bola mata meliputi : a.Nyeri (meskipun luka tembus yang kecil bisa tidak nyeri)

17

b.

Perdarahan sub konjungtiva

c.Laserasi konjungtiva d. Enoftalmia ( pemindahan mata yang abnormal ke belakang atau ke bawah akibat hilangnya isi atau patah tulang orbita) e.Defek iris f. Perpindahan pupil , dapat disebabkan oleh kolapnya kamera anterior g. h. Hifema ( darah dalam kamera anterior) TIO rendah ( mata lunak) jangan sekali- kali melakukan palpasi mata i. Ekstrusi isi okuler ( iris, lensa, vitreus, retina) j. Hipopion ( bahan purulen dalam kamera anterior) tanda akhir trauma.

Pemeriksaan tulang-tulang orbita terhadap kemungkinan terjadinya fraktur harus dilakukan. Ruptur bola mata adalah segera ditentukan pada pemeriksaan fisis. Namun, biasanya ini tersembunyi. Pemeriksaan mata yang mengalami trauma harus diperiksa dengan sistematis dan hati-hati agar penatalaksanaan dapat dilakukan dengan segera dan mengurangi trauma yang lebih lanjut. 3. Pemeriksaan penunjang a. Foto polos

18

Foto polos orbita kurang membantu dalam menentukan kelainan berbanding CT-scan. Tetapi foto polos masih dapat dilakukan. Antaranya foto polos 3 posisi, proyeksi Waters, posisi Caldwell dan proyeksi lateral. Posisi-posisi ini berfungsi untuk melihat dasar orbita, atap orbita dan sinus paranasalis. b. Ultrasonografi USG membantu dalam melihat ada tidaknya benda asing di dalam bola mata dan menentukan lokasi ruptur.

c. CT-scan CT-scan adalah metode pencitraan paling sensitif untuk mendeteksi ruptur yang tersembunyi, hal-hal yang terkait dengan kerusakan saraf optic, adanya benda asing serta menampilkan anatomi dari bola mata dan orbita. d. MRI MRI sangat membantu dalam mengidentifikasi jaringan lunak bola mata dan orbita.

19

F. PENATALAKSANAAN Empat tujuan utama dalam mengatasi kasus benda asing intraokular adalah : 1. 2. 3. Memperbaiki penglihatan. Mencegah terjadinya infeksi. Mempertahankan arsitektur mata.

4. Mencegah sekuele jangka panjang. Mata ditutup untuk menghindari gesekan dengan kelopak mata. Benda asing yang telah diidentifikasi dan telah diketahui lokasinya harus dikeluarkan. Antibiotik sistemik dan topikal dapat diberikan sebelum dilakukan tindakan operasi. Untuk mengeluarkan benda asing, terlebih dahulu diberikan anestesi topikal kemudian dikeluarkan dengan menggunakan jarum yang berbentuk kait dibawah penyinaran slit lamp. Penggunaan aplikator dengan ujung ditutupi kapas sedapat mungkin dihindari, karena dapat merusak epitel dalam area yang cukup luas, dan bahkan sering benda asingnya belum dikeluarkan. Pengeluaran benda asing yang berada di dalam kamera anterior dilakukan secara parasentesis (bukan tepat di depan celah luka),dengan sudut 90-180 dari lokasi benda asing yang sebenarnya. Viskoelastik biasanya digunakan untuk menghindari kerusakan iatrogenik dari endotel kornea dan lensa. Benda asing yang masuk ke lensa tidak selalu menyebabkan katarak. Kecuali jika ada resiko terjadinya siderosis atau kerusakannya luas. Pada kasus seperti ini biasanya
20

lensanya diangkat bersama benda asing didalamnya, atau bisa juga benda asingnya terlebih dahulu dikeluarkan, kemudian lensanya dan setelah itu intraocular lens (IOL) diimplantasi. Benda asing yang berada di segmen posterior memerlukan tindakan vitrektomi kecuali bila kerusakannya minimal. Prosedur yang biasa dilakukan untuk ekstraksi benda asing besi adalah dengan menggunakan magnet intraokular. Sedangkan untuk benda asing yang bukan besi biasanya digunakan forsep. Pre operative Penatalaksanaan yang berhubungan dengan pembedahan, diperlukan pemilihan waktu operasi. Walaupun tidak ada data manapun yang menuliskan kerugian dari menunda perbaikan dari bola mata lebih dari 36 jam, intervensi idealnya secepat mungkin. Perbaikan dapat memperkecil banyaknya komplikasi :

Nyeri Proliferasi mikroba yang diproyeksikan ke dalam bola mata Perdarahan Subrachoroidal Kontaminasi mikroba Migrasi epithelium luka Inflamasi intraocular

Non Bedah Beberapa luka tembus yang sangat minimal secara spontan

menutup/memperkuat sebelum melakukan pemeriksaan ophthalmic, dengan tidak


21

ada kerusakan intraocular, prolaps, atau menempelnya benda asing. Kasus ini hanya memerlukan sistemik atau terapi antibiotic topikal dengan penutup sepanjang observasi. Jika luka kornea sudah bocor, tetapi sisa kamar membentuk, clinician dapat mencoba menghentikan kebocoran dengan supresi farmakologi dari produk yang cair ( topical atau sistemik), penambalan, dan terapeutik contact lens. Bedah Penatalaksanaan laserasi tipe corneoscleral dengan prolaps uveal biasanya memerlukan perawatan. Tujuan pertama dari perbaikan awal yang berhubungan dengan pembedahan suatu laserasi corneoscleral adalah memugar kembali

integritas bola mata. Tujuan kedua, yang mungkin terpenuhi ketika perbaikan utama atau selama prosedur yang berikut adalah untuk memugar kembali perbaikan visus melalui keduanya melalui kerusakan eksternal dan internal pada mata . Jika prognosis visus dari mata yang terluka adalah sia-sia dan pasien berisiko menderita sympathetic ophthalmic, Enukleasi harus dipertimbangkan. Enukleasi primer hanya dapat dilakukan pada luka yang tidak dapat dilakukan perbaikan dari segi anatomi, Maka dari itu pasien dianjurkan untuk memilih prosedur lain. Pada kebanyakan kasus, keuntungan menunda enukleasi untuk beberapa hari jauh lebih berat dibanding keuntungan enukleasi primer.Penundaan ini (yang mestinya tidak lebih dari 14 hari meskipun demikian mata yang terluka menimbulkan sympathetic ophthalmia), mempertimbangkan penilaian fungsi penglihatan post
22

operasi. Vitreoretina atau konsultasi plastic optalmik dan stabilisasi kondisi medis pasien. Yang terpenting, menunda enukleasi yang gagal mengikuti perbaikan dan hilangnya persepsi cahaya pada saat pasien mengetahuinya dan disertai kerusakan rupa dan untuk mempertimbangkan enukleasi dalam menentukan non emergensi. G. KOMPLIKASI Setelah terjadi ruptur dari bola mata, endoftalmitis dan infeksi struktur mata lainnya bisa terjadi dalam hitungan jam hingga minggu. Oftalmia simpatetik adalah penyakit inflamasi yang bisa terjadi pada mata yang tidak mengalami trauma beberapa bulan setelah trauma. Penyakit ini diduga suatu suatu respon imun terhadap jaringan uvea yang terpapar dengan trauma. Gejala seperti nyeri, penurunan visus dan fotofobia bisa berkurang apabila dilakukan enukleasi pada mata yang mengalami trauma

H. PROGNOSIS Prognosisnya mata dapat sembuh dengan baik setelah trauma minor dan jarang terjadi sekuele jangka panjang karena munculnya sindrom erosi berulang. Namun trauma tembus mata seringkali dikaitkan dengan kerusakan penglihatan berat dan mungkin membutuhkan pembedahan ekstensif. Retensi jangka panjang dari benda asing berupa besi dapat merusak fungsi retina dengan menghasilkan radikal bebas. Serupa dengan hal itu, trauma kimia pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat jangka panjang dan rasa tidak enak pada mata.
23

Trauma tumpul dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang tidak dapat diterapi jika terjadi lubang retina pada fovea. Penglihatan juga terganggu jika koroid pada makula rusak. Dalam jangka panjang, dapat timbul glaukoma sekunder pada mata beberapa tahun setelah cedera awal jika jalinan trabekula mengalami kerusakan. Trauma orbita juga dapat menyebabkan masalah kosmetik dan okulomotor.

BAB III
24

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA MATA

PENGKAJIAN
1. 2. Data umum: nama, umur, pekerjaan, alamat, jenis kelamin, status Kaji perubahan okuler seperti oedema, penurunan ketajaman visual, ketidaknyamanan. 3. Kaji aspek psikososial yang mendukung yang berhubungan dengan kondisi pasien terutama pada pasien yang mengalami penurunan visual. 4. 5. Kaji riwayat klien (kesehatan mata) trauma mata, DM, Hipertensi Kaji masalah yang menyebabkan klien mencari pertolongan kesehatan 6. Tanyakan riwayat nyeri pada mata, foto fobia, rasa terbakar, air mata berlebihan, diplopia. 7. 8. Kaji riwayat kesehatan keluarga tentang penyakit mata Kaji riwayat pekerjaan, hobby, rekreasional, penggunaan kaca mata pengaman 9. Kapan terakhir periksa mata, apakah klien mengenakan kaca mata

10. Kaji pengobatan yang sudah dipakai untuk menangani 11. Pemeriksaan fisik: konjungtiva , sklera, kornea, pupil, dan fundus okuli.tekanan intra okuler. 12. Hal hal yang perlu diperhatikan: Bagaimana terjadinya trauma mata

25

Tanggal, waktu dan lokasi kejadian trauma perlu dicatat. Hal ini perlu untuk mengetahui apakah trauma ini terjadi pada waktu seseorang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari. Perlu juga ditanyakan apakah alat-alat yang digunakan waktu terjadi trauma, apakah penderita waktu menggunakan kacamata pelindung atau tidak, kalau seandainya memakai kacamata, apakah kacamata itu turut pecah sewaktu terjadinya trauma. - Menentukan obyek penyebab trauma mata. Menanyakan secara terperinci komposisi alat sewaktu terjadinya trauma. Apakah alat berupa paku, pecahan besi, kawat, pisau, jenis kayu, bambo dll. Perlu juga ditanyakan apakah alat tersebut berupa benda tajam atau tumpul, atau ada kemungkinan bercampurnya dengan debu dan kotoran lain. Menentukan lokasi kerusakan intra okuler. Untuk menentukan lokasi kerusakan pada mata, perlu diketahui jarak dan arah penyebabnya trauma mata, posisi kepala, dan arah penderita melihat pada waktu terjadi trauma. Menetukan kesanggupan sebelum trauma. Pada pengkajian ditanyakan apakah ada penyakit mata

sebelumnya, atau operasi mata sebelum terjadi trauma pada kedua matanya. Perlu ditanyakan apakah perubahan visus terjadi secara

26

tiba-tiba atau secara berangsur-angsur sebagai akibat ablasio retina, atau vitrium hemorrage. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri yang berhubungan dengan cidera, inflamasi, peningkatan TIO atau intervensi bedah 2. Ketakutan dan ansietas yang berhubungan dengan gangguan penglihatan dan kehilangan otonomi 3. Perubahan sensori/ persepsi (visual ) yang berhubungan dengan trauma okuler, inflamasi, infeksi, tumor, penyakit structural atau degenerasi sel foto sensitive.
4. Kurang pengetahuan mengenai perawatan pra operasi dan pasca

operasi. 5. Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan 6. Isolasi social yang berhubungan dengan keterbatasan kemampuan untuk partisipasi dalam aktivitas pengalih dan aktivitas social sekunder akibat kerusakan penglihatan

A.

INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan :

27

1.

Nyeri yang berhubungan dengan cidera, inflamasi, peningkatan TIO atau intervensi bedah

Intervensi : Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, faktor presipitasi dan skala nyeri. Rasional : Identifikasi status dan karakteristik nyeri yang dialami memudahkan intervensi selanjutnya Observasi tanda-tanda vital Rasional : Peningkatan status nyeri dapat menyebabkan perubahan haemodinamik Ajarkan teknik manajemen nyeri dengan menarik napas dalam dan aktivitas terapetik Rasional : Tarik napas dalam dapat meningkatakan relaksasi dan mengurangi ketegangan otot klien sehingga nyeri berkurang Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik Berikan obat analgetik sesuai advis dokter Rasional :

28

Analgetik dapat mencapai pusat rasa nyeri dan menimbulkan penghilangan nyeri Instruksikan klien untuk lapor apabila nyeri bertambah hebat ( skala nyeri > 3)

Rasional : Partisipasi langsung penanganan dan deteksi dini untuk pengelolaan nyeri segera setelah di laporkan Anjurkan klien istirahat yang cukup

Rasional : Periode istirahat memberikan kesempatan terhadap organ yang mengalami cidera untuk pemulihan Monitoring penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Rasional : Identifikasi dan evaluasi tingkat keberhasilan manajemen nyeri Evaluasi penyebab yang berkaitan dengan nyeri Rasional : Nyeri dapat disebabkan karena factor fisik yaitu luka terbuka dan psikis karena stressor dan rasa takut

2.

Ketakutan dan ansietas yang berhubungan dengan gangguan penglihatan dan kehilangan otonomi

29

Intervensi : Kaji tingkat kecemasan pasien ( skala 1-4) (ringan, sedang, berat dan panik) Rasional : Identifikasi status kecemasan klien, memudahkan intervensi selanjutnya

Sediakan informasi aktual menyangkut diagnosis, perawatan, prognosis Rasional : Kejelasan informasi dapat membantu menurunkan kecemasan

Instruksikan kepada klien penggunaan teknik relaksasi Rasional : Relaksasi dapat mengurangi ketegangan otot

Jelaskan semua prosedur dan sensasi yang dirasakan dalam penunjang diagnostik dan tindakan Rasional : Kejelasan prosedur membantu meningkatkan pemahaman

Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan lingkungan yang tenang Rasional :

Lingkungan yang tenang menurunkan ketegangan dan stress Berikan penguatan positif/ pengalihan Rasional :

30

Memebrikan keyakinan pada klien akan fungsi organ lain yang dapat diandalkan dan membantu pengalihan pusat perhatian.

3.

Perubahan sensori/ persepsi (visual ) yang berhubungan dengan

trauma okuler, inflamasi, infeksi, tumor, penyakit structural atau degenerasi sel foto sensitive.

Intervensi :
-

Reorientasikan kepada pasien secara berkala terhadap realitas dan

lingkungan dan berikan jaminan penjelasan dan pemahaman Rasional : Memperkenalkan situasi lingkungan kepada klien secara berkala untuk meningkatkan respon adaptasi dan ketenangan -Orientasikan kepada setiap penunggu / pengunjung kepada klien Rasional : Memperkenalkan kepada klien setiap pengunjung untuk menghindarkan rasa terkejut

31

4.

Kurang pengetahuan mengenai perawatan pra operasi dan pasca

operasi. Intervensi Jelaskan aktivitas serta dorong klien untuk mendiskusikan

kekhawatirannya. Rasional : Mengetahui prosedur operasi dan perawatan pasca operasi dapat mengurangi rasa cemas klien.

5.

Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan

penglihatan

Intervensi : Kaji tingkat kemandirian klien terhadap aktivitas minimal Rasional : Identifikasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas minimal Dorong klien untuk mengekspresikan dan mendiskusikan masalah yang berhubungan dengan cidera dan perawatan diri Rasional :

32

Meningkatkan harga diri, identifikasi kemampuan klien dalam perawatan diri berkenaan dengan cidera Berikan bantuan sesuai kebutuhan klien Rasional : Meningkatkan kemandirian klien

6.

Isolasi sosial yang berhubungan dengan keterbatasan kemampuan

untuk partisipasi dalam aktivitas pengalih dan aktivitas sosial sekunder akibat kerusakan penglihatan. Intervensi : -Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaannya. Rasional : Dengan member kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan ini, perawat kemudian dapat mengambil langkah untuk membantu klien belajar melakukan koping dan menyesuaikan diri terhadap situasi.
-

Dorong klien untuk menerima pengunjung dan bersosialisasi

serta anjurkan klien untuk aktivitas pengalih seperti mendengarkan music bila diperbolehkan. Rasional : Menjaga fikiran klien untuk tetap sibuk.
33

B.

EVALUASI Hasil yang diharapkan

1.

Mengalami Peredaan nyeri a. Menggunakan obat yang diresepkan untuk mengatasi

iritasi, untuk mengistirahatkan mata, dan menangani atau mencegah infeksi. b.


c.

Melakukan kompres dingin atau hangat sesuai anjuran. Mengurangi aktivitas mata dengan mengenakan balutan

mata yang memadai dan mengistirahatkan mata. d. Melindungi mata dari cedera lebih lanjut dengan

menggunakan pelindung. 2. 3. Tampak tenang dan bebas dari ansietas. Menghadapi keterbatasan dalam persepsi sensori. a. Nampak berorientasi terhadap waktu, tempat, dan

lingkungan sekitar. b. Berespon terhadap orang lain sewajarnya.

4. Menerima program penanganan dan menjalankan anjuran secara aman dan tepat.
34

a.

Mencuci tangan sebelum meneteskan tetes mata dan

menggunakan obat. b. Melaporkan setiap tanda yang tak diharapkan, seperti

keluar air mata yang berlebihan dan nyeri. c. Mengurangi aktivitas mata dengan mengenakan balutan

mata bila dianjurkan. d. Mengajukan pertanyaan yang perlu dan berhubungan

selama kunjungan pada dokter. 5. Mempraktikkan aktivitas perawatan diri secara efektif. a. Memperlihatkan bagaimana melakukan penanganan

oftalmik seperti pemberian tetes mata/obat, hygiene mata. b. c. Membersihkan lensa secara efektif sesuai yang diajarkan. Menyusun upaya keamanan untuk mencegah jatuh, seperti

perbaikan atau pergantian karpet yang sudah kotor dan membereskan barang yang berserakan. d. Menerangkan pencahayaan yang memadai untuk membaca

dan mengerjakan kerajinan tangan. 6. Berpartisipasi dalam aktivitas diversional dan sosial.

35

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas SH, Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga, Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:2006.p.259-270

36

Nn, Anatomi Mata [online] [cited 2008 Agust 6th] Available from URL http://www.medicine.ukm.my/wiki/index.php/Anatomi_mata Nn, Birmingham Eye Trauma Terminology. In: American Society of Ocular Trauma [online] [cited 2008 May 20th] Available from URL

http://www.useironline.org/pdf/bett.pdf Aronson AA, Corneal Laceration [online] 2008 [cited 2008 May 20th] Available from URL http://www.emedicine.com/emerg/topic114.htm Robson J, Globe Rupture [online]2007 [cited 20 May 2008] Available from URL http://www.emedicine.com/emerg/topic218.htm Champion available from URL http://www.lasmangka.blogspot.com/2009/06/trauma-mata-perforans.html Smeltzer. Suzanne. C, Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Volume 3 hal. 2015. EGC. Jakarta

37